Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit Kabupaten Mojokerto  

batik-mojokerto-motif-matahari-merahMojokerto adalah kota yang pernah menjadi ibukota Majapahit, di kota ini banyak sekali peninggalan bersejarah. “Pusat Batik Majapahit” merupakan penerus kebudayaan tradisi masyarakat, di mana secara turun temurun membuat karya-karya berupa kain batik yang bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk busana tetapi menjadi berbagai macam barang sesuai dengan keperluan pemakainya. Khususnya masyarakat Mojokerto dengan ciri khas batik daerahnya. “Pusat Batik Majapahit” perlu dikembangkan, pengembangan sangat diperlukan untuk  memperbaharui apa yang telah ada, dengan tujuan agar lebih bervariasi dan memberi gambaran yang  fresh sesuai dengan perkembangan zaman.

Sejarah perkembangan pembatikan di Mojokerto termasuk muda usianya. Batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto adalah pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan aneh ditelinga sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau suryamajapait. Batik Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni pring sedapur, mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan matahari. Penulisan ini memaparkan tentang motif batik di “Pusat Batik Majapahit” dan proses pengembangan motif batik dengan menggunakan sumber ide motif batik di ‘Pusat Batik Majapahit” Kabupaten Mojokerto.

Sejarah Perusahaan

“Pusat Batik Majapahit” merupakan perusahaan kerajinan batik yang berada di Jalan RA Basuni DusunDaleman Desa Japan Kecamatan Sooko KabupatenMojokerto. Merupakan salah satu tempat produksi danpenjual batik khas Mojokerto. Sebagian besar sumber idedalam penciptaan pembuatan motif berasal dariMajapahit seperti candi-candi dan tumbuhan, sebabMojokerto pernah menjadi pusat Ibukota Majapahit makapeninggalan-peninggalannya bisa dijadikan icon motif  “Pusat Batik Majapahit” yang bertujuan untuk mengingatkan bahwa di Kabupaten Mojokertomempunyai berbagai macam sejarah dan sekaligus saksisejarah yang masih ada dan tetap harus dilestarikan.

 Sumber Ide Dalam penciptaan Motif batik yang diterapkan pada kain di “Pusat Batik Majapahit”“Batik Paduraksa Bajangratu”

Ada berbagai macam jenis bangunan yang tak terhitung banyaknya, mempunyai macam perbedaan baik dari segi bentuk, manfaat serta latar belakang berdirinya bangunan yang dibuat oleh manusia. Dari berbagaimacam bangunan yang ada selain difungsikan sebagaitempat berlindung dapat pula dijadikan sumber inspirasi dalam penciptaan berbagai macam ragam  hias. “Pusat Batik Majapahit” memanfaatkan bangunan yang ada di Kabupaten Mojokerto salah satunya adalah gapura Paduraksa Bajangratu sebagai sumber ide dalam penciptaan motif. Banyak kriteria dan latar belakang yang dijadikan pertimbangan dalam pengambilan jenisbangunan yang dipakai yaitu mempunyai sejarah yangkuat, sehingga dalam pemilihan ragam hias atau motif bangunan mempunyai tujuan masing-masing. Motif  utama pada “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah gapura Paduraksa Bajangratu, motif pengisi 2 bunga Cempaka, motif pengisi 2 Surya Majapahit dan motif pinggiran Stupika.

Batik Kupu -kupu

Batik Kupu-kupu merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, motif utamanya yaitu hewanKupu-kupu, jenis hewan untuk dijadikan sumber idehanya yang dapat ditemui didaerah lingkungan sekitarkhususnya di Kabupaten Mojokerto. Salah satu motif kebanggaan “Pusat Batik Majapahit” selain candi- candi.

Pengembangan Motif Batik pada “Pusat Batik Majapahit”, yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit salah satunya adalah motif kupu-kupu dan bunga yang banyak diminati pelanggan, motif yang cenderung feminim banyak menarik minat dari kalangan wanita (Ibu Wiwin, Maret 2014). Sumber ide “Batik Kupu- kupu” dengan motif utama yaitu hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 Bunga Matahari, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif pinggiran Bata Berelief.

Batik Daun Mrico Bolong

Batik Mrico Bolong merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif non geometris, motif utamanya yaitu daun dari bunga matahari yang dipadukan dengan isen-isen Mrico Bolong. Mrico Bolong adalah salah satu motif khas Mojokerto yang sudah dipatenkan.Tujuan isen-isenuntuk memperindah pola secara keseluruhan, baik ornamen pokok maupun ornamen pengisi diberi isian atau hiasan. Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni Pring Sedapur, Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Koro Renteng, Rawan Indek dan Matahari (bunga matahari). Sumber ide “Batik Daun Mrico Bolong” motif utama yaitu daun bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 batik Parang, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif isen-isen latar yaitu mrico bolong

Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan salah satu batik yang dimiliki “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, batik ke 4 yang peneliti kembangakan desain motifnya. Disebut “Batik Bunga Matahari” karena sumber ide utamanya adalah bunga Matahari, bunga Matahari memang salah satu tumbuhan yang sangat indah tidak salah apabila “Pusat Batik Majapahit” sering menggunakan jenis tumbuhan inisebagai sumber idenya.

Motif utama “Batik Bunga Matahari” adalah bunga Matahari yang dipadukan dengan hewan Kupu-kupu sebagai motif pendukung, motif ini muncul sekitar 1 tahun lalu didesain oleh karyawan “Pusat Batik Majapahit”, yang menyukainya kebanyakan kaum Ibu-ibu, memang motif dengan pola tumbuh-tumbuhanbanyak mencerminkan kewanitaan, banyak yangmewakili kepada sifat – sifat yang feminim. Sumber ide  penciptaan “Batik Bunga Matahari” motif  utama yaitu bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 awan dan motif pengisi 3 Surya Majapahit.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan salah satu jenis batik yangdimiliki “Pusat Batik Majapahit” yang merupakan batik dengan golongan non geometris, “Batik Ukel” adalah  jenis  batik  ke 5  yang dikembangkan. Ukel biasa disebut juga dengan ulir, banyak sebutan yang diberikan pada bentuk – bentuk detail merupakan jenis ukiran di Jawa, maka dari itu disebut “Batik Ukel” sebab hampir semua motif ukel yang mendominasi. Sumber ide penciptaan yaitu motif utama ukelan atau sulur, motif pengisi 1 bunga Teratai dan motif pengisi 2 SuryaMajapahit.

 Proses Pengembagan Desain Motif Batik “Batik Paduraksa Bajangratu”

Pada pengembangan motif batik yang pertama yaitu “Batik Paduraksa Bajangratu” motif utama gapura Paduraksa Bajangratu mengalami sedikit perubahan desain namun masih jelas terlihat bahwa gapura Paduraksa Bajangratu yang indah. Motif hasil pengembangan digambarkan lebih menjulang tinggi sebab pada kenyataannya gapura Paduraksa Bajang ratu tingginya 16 meter.Pola dasar motif gapura Paduraksa Bajang ratu tersusun dari beberapa bentuk segitiga, persegi panjang, dan bentuk lainnya, dibawah desain gapura diberikan gambar rumput kiri dan kanan yang memberikan kesanbahwa gapura Paduraksa Bajangratu sangat menyatudengan alam tidak monoton hanya sekedar bangunan, diatas gapura Paduraksa Bajangratu ditambahkan Matahari dan Awan yang bertujuan untuk memperindahdan pelengkap gapura Paduraksa Bajangratu sehinggamembuat gapura Paduraksa Bajangratu nampak tidak simetris ketika dikombinasikan dengan alam yang berupa Awan dan Matahari.

Bunga Cempaka merupakan motif pengisi 1, padahasil pengembangan motif bunga Cempaka mengalami stilasi meskipun subjek berasal dari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya mengambil intinya saja sehingga memberikan beberapa segi  yang  menguntungkan. Surya Majapahit merupakan motif pengisi 2 yaitu sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” hasil dalam pengembangan motif Surya Majapahit tidak banyak mengalami perubahan bentuk,hanya saja bagian luar kontur Surya Majapahit tidak diberikan garis-garis lurus hal ini bertujuan agar lebih simpel tanpa menghilangkan ciri khas Surya Majapahit, komposisi peletakan motif pengisi 2 ini diletakkanditengah motif pengisi 1 yaitu bunga Cempaka.Isen- isen pada “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelumnya tidak menggunakan isen-isen, pada hasil  pengembangan  motif  “Batik Paduraksa Bajangratu” ditambahan isen-isen yaitu berupa cecek atau titik yang dipadukan dengan garis lengkung atau rambutan rawan (seperti rambut) sehingga “Batik Paduraksa Bajangratu” lengkap dengan isen-isen.

Motif pinggiran “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah Stupika, dalam hasil pengembangan motif pinggiran stupika masih jelasterlihat tidak mengalami banyak perubahan bentuk darimotif sebelumnya, garis-garis lurus yang menghubungan Stupika dikembangkan menjadi garis-garis lengkung yang diisi dengan garis-garis lurus, posisi Stupika membentuk pola segitiga dilanjutkan Stupika yang saling berhadapan yang pada bagian atas diberikan symbol “Pusat Batik Majapahit” yaitu Surya Majapahit hal ini bertujuan untuk menyatukan antara Stupika dan Surya Majapahit yang keduanya merupakan peninggalan kerajaan Majapahit yang masih ada sampai sekarang.

Warna dalam “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelum dikembangkan yaitu warna hijau muda yang dirasa kurang menarik minat remaja kemudian dikembangkan menjadi warna ungu yang dipadukan dengan warnalainnya sehingga menimbulkan kesan yang cerah.Dari hasil penilaian Validator terhadap pengembangan “Batik Paduraksa Bajangratu” komposisi yang baik keseimbangan antara motif utama dan motif lainnya, begitu juga dengan center of interest, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif sehingga pengembangan ini layak untuk digunakan.

“Batik Kupu – kupu” Pada pengembangan motif batik yang kedua “Batik Kupu- kupu” motif utama pada batik ini adalah Kupu-kupu yakni hewan mempunyai sayap yang indah,sebelum dikembangkan Kupu-kupu digambarkan secara jelas dengan bentuk Kupu-kupu yang saling berhadapan dengan sedikit mengalami stilasi atau perubahan bentuk, kemudian motif Kupu-kupu dikembangkan menjadi hewan Kupu-kupu yang utuh tidak hanya saling berhadapan yang terlihat dari samping saja sehingga terkesan lebih indah dengan kedua sayapnya. Ada 5 jenisstilasi Kupu-kupu yang digambarkan, di posisi tengah digambarkan Kupu-kupu ukuran besar dengan arah tegak,di kelilingi 4 Kupu-kupu yang berukuran kecil denganarah miring yang memberikan maksud bahwa apapun ukuran Kupu-kupu tetap seimbang sehingga tidak akan berpengaruh pada segi keindahan. Bunga Matahari merupakan motif pengisi 1, pada “Batik Kupu – kupu” hasil pengembangan motif Bunga Matahari mengalamistilasi atau perubahan bentuk yang begitu signifikan darimotif sebelumnya namun masih terlihat jelas bentuk dari bunga Matahari sesungguhnya meskipun subjek berasaldari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya diambil intinya saja. Bunga Matahari digambarkan mulai dari kuncup sampai bunga yang sudah bermekaran dipadukan dengan daun dariberbagai arah.

Dari hasil penilaian Validator terhadap  pengembangan “Batik Kupu – kupu” komposisi antara motif utama dan motif lainnya sangat baik sehingga bisa sangat mudah mengenali antara masing-masing motif, sehingga pengembangan “Batik Kupu – kupu” layak digunakan adalah daun dari bunga matahari dari desain motif sebelumnya motif utama hanya sedikit mengalami stilasinamun masih jelas terlihat bentuk dari sumber idenya,setelah dikembangkan motif utama daun bunga matahari juga masih nampak bentuk aslinya namun di berikan sentuhan ragam hias sehingga membuat daun bunga matahari lebih cantik dengan paduan bunga matahariyang bermekaran sehingga tidak monoton hanya daunsaja. Di tengah – tengah motif utama diberikan tambahan motif Surya Majapahit yang memisahkan kedua desainmotif utama yang di mirror agar memdapatkan iramayang harmonis.Komposisi peletakan motif utamadiletakkan pada bagian bawah dan atas yang bersebelahan dengan motif pinggiran karena motif utama tidak hanya diletakkan ditengah saja sebab motif pengisi1 dan 2 merupakan motif pendukung yang tujuan untuk memperindah pola keseluruhan jadi dimanapun letak motif utama dimaksdunya agar saling memperindah satusama lain antar motif. Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, termasuk batik karena warna dapat mempengaruhi secara psikologis bagi  seseorang. Warna “Batik Batik Daun Mrico Bolong” sebelum dikembangkan terdiri dari berbagai unsur warna setelah dikembangkan “Batik  Batik Daun Mrico Bolong” diberikan baground hijau yang dipadukan dengan warna merah untuk motif pengisi akan memberikan kesan penuh kepercayaan dan keberanian.Dari penilaian Validator komposisi, center of interest, peletekan bidang gambar, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif cukup baik sehinggamotif yang dikembangkan layak digunakan.

 Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan jenis batik yang keempat yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Bunga Matahari” adalah bunga matahari yangmerupakan tumbuhan yang sering dijumpai dimana saja,pada motif batik sebelumnya motif utama bunga matahari digambarkan dengan bentuk motif stilasi yang hanya sedikit mengalami perubahan bentuk sepertimenghilangkan tumpuk bunga matahari. Namun motif batik sebelumnya kurang begitu menampilkan ragamhiasnya setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada bagian atas dan bawah berdekatandengan motif pinggiran, motif bunga mataharidigambarkan dari kuncup sampai bunga yang bermekaran dengan bentuk stilasi yang menarik sehingga terkesanlebih cantik.

Motif pengisi 1 pada “Batik Bunga Matahari” adalah Kupu-kupu Tanaecia Trigerta diletakkan padaposisi tengah dengan arah tegak dan miring yang terdiridari 3 Kupu-kupu dalam satu kelompok satu Kupu-kupuyang terlihat kedua sayapnya dan dua Kupu-kupu terlihat dari samping atau hanya terlihat satu sayap saja. Motif pengisi 2 dengan sumber ide awan tidak dimunculkandalam pengembangan yang dilakukan penulis sebabmotif pengisi 2 hanya motif tambahan saja sehingga tidak akan berpengaruh. Motif pengisi 3 Surya Majapahit sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” posisi peletakan motif pengisi 3 diletakkan di tengah antara motif utama,dan di atas motif utama.Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, setelah dikembangkan “Batik Bunga Matahari” menggunakan warna merah yang memberikan artikekuatan dan paling menarik perhatian, warna merah diasosiasikan darah dan berani yang merupakan warna  primer maka dari itu “Batik Bunga Matahari” akan memberikan kesan kekuatan dengan perpaduan bunga Matahari yang indah berwarna  pink atau merah muda dan Kupu-kupu berwarna kuning karena merah dan kuning mempunyai makna yang ceria. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisi pengembangan “Batik Bunga Mata hari” sangat baik, center of interest, peletakanbidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing-masing motif baik sehingga motif   pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan jenis batik yang terakhir yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Ukel” adalah motif ukel yang didapatkan dari ukiran kayu pada masyarakat Jawa yang indah yang sebenarnyaberasal dari tumbuhan yang mengalami stilasi perubahanbentuk, pada motif sebelumnya motif utama ukelanhanya sedikit mengalami stilasi dari sumber ide motif ukel sebelumnya sehingga belum begitu menampilanragam hiasnya. Setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada posisi tengah berbentuk elips, Surya Majapahit diletakkan pada posisidi tengah lengkungan elips dipadukan bunga Teratai serta daunnya yang sudah distilasi terkesan lebih harmonis dan cantik, setelah dikembangkan “Batik Ukel” diberikan baground warna hitam yang dipadukan dengan warna orange untuk motif pinggiran dan motif pengisi 3 yaitu Surya Majapahit akan memberikan kesan misterius yang cocok digunakan dari usia anak-anak, remaja sampai orangdewasa. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisidan center of interest   pengembangan “Batik Bunga Matahari” sangat baik, pellet akan bidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing – masing motif baik sehingga motif pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

——————————————————————————————-Lutfiana Cahyani, Dra. Indah Chrysanti A, M.Sn (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit” Di Kabupaten Mojokerto.  Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 2 Nomor2Tahun 2014,116-122

Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit Kabupaten Mojokerto  

batik-mojokerto-motif-matahari-merahMojokerto adalah kota yang pernah menjadi ibukota Majapahit, di kota ini banyak sekali peninggalan bersejarah. “Pusat Batik Majapahit” merupakan penerus kebudayaan tradisi masyarakat, di mana secara turun temurun membuat karya-karya berupa kain batik yang bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk busana tetapi menjadi berbagai macam barang sesuai dengan keperluan pemakainya. Khususnya masyarakat Mojokerto dengan ciri khas batik daerahnya. “Pusat Batik Majapahit” perlu dikembangkan, pengembangan sangat diperlukan untuk  memperbaharui apa yang telah ada, dengan tujuan agar lebih bervariasi dan memberi gambaran yang  fresh sesuai dengan perkembangan zaman.

Sejarah perkembangan pembatikan di Mojokerto termasuk muda usianya. Batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto adalah pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan aneh ditelinga sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau suryamajapait. Batik Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni pring sedapur, mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan matahari. Penulisan ini memaparkan tentang motif batik di “Pusat Batik Majapahit” dan proses pengembangan motif batik dengan menggunakan sumber ide motif batik di ‘Pusat Batik Majapahit” Kabupaten Mojokerto.

Sejarah Perusahaan

“Pusat Batik Majapahit” merupakan perusahaan kerajinan batik yang berada di Jalan RA Basuni DusunDaleman Desa Japan Kecamatan Sooko KabupatenMojokerto. Merupakan salah satu tempat produksi danpenjual batik khas Mojokerto. Sebagian besar sumber idedalam penciptaan pembuatan motif berasal dariMajapahit seperti candi-candi dan tumbuhan, sebabMojokerto pernah menjadi pusat Ibukota Majapahit makapeninggalan-peninggalannya bisa dijadikan icon motif  “Pusat Batik Majapahit” yang bertujuan untuk mengingatkan bahwa di Kabupaten Mojokertomempunyai berbagai macam sejarah dan sekaligus saksisejarah yang masih ada dan tetap harus dilestarikan.

 Sumber Ide Dalam penciptaan Motif batik yang diterapkan pada kain di “Pusat Batik Majapahit”“Batik Paduraksa Bajangratu”

Ada berbagai macam jenis bangunan yang tak terhitung banyaknya, mempunyai macam perbedaan baik dari segi bentuk, manfaat serta latar belakang berdirinya bangunan yang dibuat oleh manusia. Dari berbagaimacam bangunan yang ada selain difungsikan sebagaitempat berlindung dapat pula dijadikan sumber inspirasi dalam penciptaan berbagai macam ragam  hias. “Pusat Batik Majapahit” memanfaatkan bangunan yang ada di Kabupaten Mojokerto salah satunya adalah gapura Paduraksa Bajangratu sebagai sumber ide dalam penciptaan motif. Banyak kriteria dan latar belakang yang dijadikan pertimbangan dalam pengambilan jenisbangunan yang dipakai yaitu mempunyai sejarah yangkuat, sehingga dalam pemilihan ragam hias atau motif bangunan mempunyai tujuan masing-masing. Motif  utama pada “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah gapura Paduraksa Bajangratu, motif pengisi 2 bunga Cempaka, motif pengisi 2 Surya Majapahit dan motif pinggiran Stupika.

Batik Kupu -kupu

Batik Kupu-kupu merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, motif utamanya yaitu hewanKupu-kupu, jenis hewan untuk dijadikan sumber idehanya yang dapat ditemui didaerah lingkungan sekitarkhususnya di Kabupaten Mojokerto. Salah satu motif kebanggaan “Pusat Batik Majapahit” selain candi- candi.

Pengembangan Motif Batik pada “Pusat Batik Majapahit”, yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit salah satunya adalah motif kupu-kupu dan bunga yang banyak diminati pelanggan, motif yang cenderung feminim banyak menarik minat dari kalangan wanita (Ibu Wiwin, Maret 2014). Sumber ide “Batik Kupu- kupu” dengan motif utama yaitu hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 Bunga Matahari, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif pinggiran Bata Berelief.

Batik Daun Mrico Bolong

Batik Mrico Bolong merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif non geometris, motif utamanya yaitu daun dari bunga matahari yang dipadukan dengan isen-isen Mrico Bolong. Mrico Bolong adalah salah satu motif khas Mojokerto yang sudah dipatenkan.Tujuan isen-isenuntuk memperindah pola secara keseluruhan, baik ornamen pokok maupun ornamen pengisi diberi isian atau hiasan. Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni Pring Sedapur, Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Koro Renteng, Rawan Indek dan Matahari (bunga matahari). Sumber ide “Batik Daun Mrico Bolong” motif utama yaitu daun bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 batik Parang, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif isen-isen latar yaitu mrico bolong

Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan salah satu batik yang dimiliki “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, batik ke 4 yang peneliti kembangakan desain motifnya. Disebut “Batik Bunga Matahari” karena sumber ide utamanya adalah bunga Matahari, bunga Matahari memang salah satu tumbuhan yang sangat indah tidak salah apabila “Pusat Batik Majapahit” sering menggunakan jenis tumbuhan inisebagai sumber idenya.

Motif utama “Batik Bunga Matahari” adalah bunga Matahari yang dipadukan dengan hewan Kupu-kupu sebagai motif pendukung, motif ini muncul sekitar 1 tahun lalu didesain oleh karyawan “Pusat Batik Majapahit”, yang menyukainya kebanyakan kaum Ibu-ibu, memang motif dengan pola tumbuh-tumbuhanbanyak mencerminkan kewanitaan, banyak yangmewakili kepada sifat – sifat yang feminim. Sumber ide  penciptaan “Batik Bunga Matahari” motif  utama yaitu bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 awan dan motif pengisi 3 Surya Majapahit.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan salah satu jenis batik yangdimiliki “Pusat Batik Majapahit” yang merupakan batik dengan golongan non geometris, “Batik Ukel” adalah  jenis  batik  ke 5  yang dikembangkan. Ukel biasa disebut juga dengan ulir, banyak sebutan yang diberikan pada bentuk – bentuk detail merupakan jenis ukiran di Jawa, maka dari itu disebut “Batik Ukel” sebab hampir semua motif ukel yang mendominasi. Sumber ide penciptaan yaitu motif utama ukelan atau sulur, motif pengisi 1 bunga Teratai dan motif pengisi 2 SuryaMajapahit.

 Proses Pengembagan Desain Motif Batik “Batik Paduraksa Bajangratu”

Pada pengembangan motif batik yang pertama yaitu “Batik Paduraksa Bajangratu” motif utama gapura Paduraksa Bajangratu mengalami sedikit perubahan desain namun masih jelas terlihat bahwa gapura Paduraksa Bajangratu yang indah. Motif hasil pengembangan digambarkan lebih menjulang tinggi sebab pada kenyataannya gapura Paduraksa Bajang ratu tingginya 16 meter.Pola dasar motif gapura Paduraksa Bajang ratu tersusun dari beberapa bentuk segitiga, persegi panjang, dan bentuk lainnya, dibawah desain gapura diberikan gambar rumput kiri dan kanan yang memberikan kesanbahwa gapura Paduraksa Bajangratu sangat menyatudengan alam tidak monoton hanya sekedar bangunan, diatas gapura Paduraksa Bajangratu ditambahkan Matahari dan Awan yang bertujuan untuk memperindahdan pelengkap gapura Paduraksa Bajangratu sehinggamembuat gapura Paduraksa Bajangratu nampak tidak simetris ketika dikombinasikan dengan alam yang berupa Awan dan Matahari.

Bunga Cempaka merupakan motif pengisi 1, padahasil pengembangan motif bunga Cempaka mengalami stilasi meskipun subjek berasal dari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya mengambil intinya saja sehingga memberikan beberapa segi  yang  menguntungkan. Surya Majapahit merupakan motif pengisi 2 yaitu sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” hasil dalam pengembangan motif Surya Majapahit tidak banyak mengalami perubahan bentuk,hanya saja bagian luar kontur Surya Majapahit tidak diberikan garis-garis lurus hal ini bertujuan agar lebih simpel tanpa menghilangkan ciri khas Surya Majapahit, komposisi peletakan motif pengisi 2 ini diletakkanditengah motif pengisi 1 yaitu bunga Cempaka.Isen- isen pada “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelumnya tidak menggunakan isen-isen, pada hasil  pengembangan  motif  “Batik Paduraksa Bajangratu” ditambahan isen-isen yaitu berupa cecek atau titik yang dipadukan dengan garis lengkung atau rambutan rawan (seperti rambut) sehingga “Batik Paduraksa Bajangratu” lengkap dengan isen-isen.

Motif pinggiran “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah Stupika, dalam hasil pengembangan motif pinggiran stupika masih jelasterlihat tidak mengalami banyak perubahan bentuk darimotif sebelumnya, garis-garis lurus yang menghubungan Stupika dikembangkan menjadi garis-garis lengkung yang diisi dengan garis-garis lurus, posisi Stupika membentuk pola segitiga dilanjutkan Stupika yang saling berhadapan yang pada bagian atas diberikan symbol “Pusat Batik Majapahit” yaitu Surya Majapahit hal ini bertujuan untuk menyatukan antara Stupika dan Surya Majapahit yang keduanya merupakan peninggalan kerajaan Majapahit yang masih ada sampai sekarang.

Warna dalam “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelum dikembangkan yaitu warna hijau muda yang dirasa kurang menarik minat remaja kemudian dikembangkan menjadi warna ungu yang dipadukan dengan warnalainnya sehingga menimbulkan kesan yang cerah.Dari hasil penilaian Validator terhadap pengembangan “Batik Paduraksa Bajangratu” komposisi yang baik keseimbangan antara motif utama dan motif lainnya, begitu juga dengan center of interest, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif sehingga pengembangan ini layak untuk digunakan.

“Batik Kupu – kupu” Pada pengembangan motif batik yang kedua “Batik Kupu- kupu” motif utama pada batik ini adalah Kupu-kupu yakni hewan mempunyai sayap yang indah,sebelum dikembangkan Kupu-kupu digambarkan secara jelas dengan bentuk Kupu-kupu yang saling berhadapan dengan sedikit mengalami stilasi atau perubahan bentuk, kemudian motif Kupu-kupu dikembangkan menjadi hewan Kupu-kupu yang utuh tidak hanya saling berhadapan yang terlihat dari samping saja sehingga terkesan lebih indah dengan kedua sayapnya. Ada 5 jenisstilasi Kupu-kupu yang digambarkan, di posisi tengah digambarkan Kupu-kupu ukuran besar dengan arah tegak,di kelilingi 4 Kupu-kupu yang berukuran kecil denganarah miring yang memberikan maksud bahwa apapun ukuran Kupu-kupu tetap seimbang sehingga tidak akan berpengaruh pada segi keindahan. Bunga Matahari merupakan motif pengisi 1, pada “Batik Kupu – kupu” hasil pengembangan motif Bunga Matahari mengalamistilasi atau perubahan bentuk yang begitu signifikan darimotif sebelumnya namun masih terlihat jelas bentuk dari bunga Matahari sesungguhnya meskipun subjek berasaldari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya diambil intinya saja. Bunga Matahari digambarkan mulai dari kuncup sampai bunga yang sudah bermekaran dipadukan dengan daun dariberbagai arah.

Dari hasil penilaian Validator terhadap  pengembangan “Batik Kupu – kupu” komposisi antara motif utama dan motif lainnya sangat baik sehingga bisa sangat mudah mengenali antara masing-masing motif, sehingga pengembangan “Batik Kupu – kupu” layak digunakan adalah daun dari bunga matahari dari desain motif sebelumnya motif utama hanya sedikit mengalami stilasinamun masih jelas terlihat bentuk dari sumber idenya,setelah dikembangkan motif utama daun bunga matahari juga masih nampak bentuk aslinya namun di berikan sentuhan ragam hias sehingga membuat daun bunga matahari lebih cantik dengan paduan bunga matahariyang bermekaran sehingga tidak monoton hanya daunsaja. Di tengah – tengah motif utama diberikan tambahan motif Surya Majapahit yang memisahkan kedua desainmotif utama yang di mirror agar memdapatkan iramayang harmonis.Komposisi peletakan motif utamadiletakkan pada bagian bawah dan atas yang bersebelahan dengan motif pinggiran karena motif utama tidak hanya diletakkan ditengah saja sebab motif pengisi1 dan 2 merupakan motif pendukung yang tujuan untuk memperindah pola keseluruhan jadi dimanapun letak motif utama dimaksdunya agar saling memperindah satusama lain antar motif. Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, termasuk batik karena warna dapat mempengaruhi secara psikologis bagi  seseorang. Warna “Batik Batik Daun Mrico Bolong” sebelum dikembangkan terdiri dari berbagai unsur warna setelah dikembangkan “Batik  Batik Daun Mrico Bolong” diberikan baground hijau yang dipadukan dengan warna merah untuk motif pengisi akan memberikan kesan penuh kepercayaan dan keberanian.Dari penilaian Validator komposisi, center of interest, peletekan bidang gambar, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif cukup baik sehinggamotif yang dikembangkan layak digunakan.

 Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan jenis batik yang keempat yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Bunga Matahari” adalah bunga matahari yangmerupakan tumbuhan yang sering dijumpai dimana saja,pada motif batik sebelumnya motif utama bunga matahari digambarkan dengan bentuk motif stilasi yang hanya sedikit mengalami perubahan bentuk sepertimenghilangkan tumpuk bunga matahari. Namun motif batik sebelumnya kurang begitu menampilkan ragamhiasnya setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada bagian atas dan bawah berdekatandengan motif pinggiran, motif bunga mataharidigambarkan dari kuncup sampai bunga yang bermekaran dengan bentuk stilasi yang menarik sehingga terkesanlebih cantik.

Motif pengisi 1 pada “Batik Bunga Matahari” adalah Kupu-kupu Tanaecia Trigerta diletakkan padaposisi tengah dengan arah tegak dan miring yang terdiridari 3 Kupu-kupu dalam satu kelompok satu Kupu-kupuyang terlihat kedua sayapnya dan dua Kupu-kupu terlihat dari samping atau hanya terlihat satu sayap saja. Motif pengisi 2 dengan sumber ide awan tidak dimunculkandalam pengembangan yang dilakukan penulis sebabmotif pengisi 2 hanya motif tambahan saja sehingga tidak akan berpengaruh. Motif pengisi 3 Surya Majapahit sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” posisi peletakan motif pengisi 3 diletakkan di tengah antara motif utama,dan di atas motif utama.Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, setelah dikembangkan “Batik Bunga Matahari” menggunakan warna merah yang memberikan artikekuatan dan paling menarik perhatian, warna merah diasosiasikan darah dan berani yang merupakan warna  primer maka dari itu “Batik Bunga Matahari” akan memberikan kesan kekuatan dengan perpaduan bunga Matahari yang indah berwarna  pink atau merah muda dan Kupu-kupu berwarna kuning karena merah dan kuning mempunyai makna yang ceria. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisi pengembangan “Batik Bunga Mata hari” sangat baik, center of interest, peletakanbidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing-masing motif baik sehingga motif   pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan jenis batik yang terakhir yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Ukel” adalah motif ukel yang didapatkan dari ukiran kayu pada masyarakat Jawa yang indah yang sebenarnyaberasal dari tumbuhan yang mengalami stilasi perubahanbentuk, pada motif sebelumnya motif utama ukelanhanya sedikit mengalami stilasi dari sumber ide motif ukel sebelumnya sehingga belum begitu menampilanragam hiasnya. Setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada posisi tengah berbentuk elips, Surya Majapahit diletakkan pada posisidi tengah lengkungan elips dipadukan bunga Teratai serta daunnya yang sudah distilasi terkesan lebih harmonis dan cantik, setelah dikembangkan “Batik Ukel” diberikan baground warna hitam yang dipadukan dengan warna orange untuk motif pinggiran dan motif pengisi 3 yaitu Surya Majapahit akan memberikan kesan misterius yang cocok digunakan dari usia anak-anak, remaja sampai orangdewasa. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisidan center of interest   pengembangan “Batik Bunga Matahari” sangat baik, pellet akan bidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing – masing motif baik sehingga motif pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

——————————————————————————————-Lutfiana Cahyani, Dra. Indah Chrysanti A, M.Sn (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit” Di Kabupaten Mojokerto.  Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 2 Nomor2Tahun 2014,116-122

Batik Mojokerto

Mojokerto merupakan salah satu kota di provinsi Jawa Timur yang terletak 50 km arah barat daya dari Surabaya. Mojokerto merupakan kota yang istimewa dalam sejarah Indonesia karena kota ini dulunya merupakan ibukota dari Kerajaan Majapahit, yang merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Indonesia. Kerajaan Majapahit meninggalkan banyak peninggalan bersejarah, salah satunya adalah seni membatik.  Batik Mojokerto adalah batik khas dari Kota Mojokerto yang memiliki keunikan yaitu memiliki motif yang digali dari tradisi kebudayaan Kerajaan Majapahit, mengadaptasi elemen-elemen yang ada dalam Kerajaan Majapahit diantaranya adalah Surya Majapahit, bunga Teratai, buah Maja, dan masih banyak lagi. Selain itu, motif dari batik ini mengambil tema dari kehidupan sekitar Kota Mojokerto. Sangat disayangkan keberadaan batik Mojokerto kurang atau bahkan tidak diketahui oleh masyarakat sekitar baik yang berasal dari Kota Mojokerto maupun luar Kota Mojokerto. Hanya sebagian orang yang mengetahui keberadaan dari batik ini dan menyebarkannya dari mulut ke mulut.

Batik Mojokerto sempat dipamerkan di Australia pada tahun 2007 dan mulai berkembang dengan sederet nama motif yang unik dan khas seperti Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Pring Sedapur, Surya Majapahit, dan masih banyak lagi. Batik ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai identitas atau ciri khas dari Kota Mojokerto Beberapa nama motif batik Mojokerto memiliki kesamaan nama motif dengan batik yang berasal dari daerah lain seperti motif Pring Sedapur ditemukan juga pada batik motif batik lain. Namun terdapat perbedaan antara motif Pring Sedapur dari daerah Mojokerto dengan motif Pring Sedapur daerah lain. Dari warna dasarnya, untuk motif Pring Sedapur Mojokerto menggunakan warna dasar putih dan dominasi warna cokelat pada motifnya sehingga memiliki kesan klasik sedangkan pada motif Pring Sedapur daerah lain memiliki warna dasar jingga dengan dominasi warna hitam pada motifnya. Selain itu, dalam setiap bentukan motif yang ada pada motif Pring Sedapur Mojokerto kaya akan ornamen dan sudah dimodifikasi untuk menghilangkan kesan kaku berbeda dengan motif Pring Sedapur Magetan yang masih menggambarkan bentukan motif menyerupai bentuk aslinya. Kini Pemerintah mulai memperhatikan keberadaan batik ini dan mulai mengenalkan batik ini kepada masyarakat sekitar melalui pengadaan pelajaran membatik dan pelatihan membatik untuk anak-anak dan ibu rumah tangga.
Batik Mojokerto merupakan salah satu batik Indonesia, yang konon terlahir di Majapahit, awalnya adalah batik keraton. Namun seiring runtuhnya kerajaan Hindu batik keraton Majapahit    menyingkir dari wilayah pusat kerajaan terbesar di Nusantara ini. Mojokerto sendiri yang merupakan petilasan Majapahit, ditinggalkan oleh para nenek moyang mereka para empu batik.

Belakangan seni membatik mulai muncul lagi di Mojokerto yang dihidupkan oleh generasi baru. Dari literatur lama diperoleh catatan bahwa pada tahun 1920-an di daerah Mojowarno, ada seorang Nyonya berkebangsaan Belanda (tertulis sebagai Mevrouw Kats) yang membuka kursus batik cap di kalangan masyarakat setempat. Namun batik cap ini setelah ditelusuri hingga kini berkembangnya justru ke arah Jombang.

Munculnya kembali seni membatik di Mojokerto justru berangkat dari berkembangnya seni kerajinan (craft) di wilayah ini. Pembatik Mojokerto sendiri banyak yang tidak tahu apakah batik yang mereka kerjakan itu adalah asli digali dari Mojokerto atau justru motif-motif yang mereka kerjakan berdasarkan pesanan konsumen sejak bertahun-tahun yang lalu. Oleh karenanya sulit untuk mengetahui asal usul motif yang berkembang dan populer di situ. Masalah ini bukan hanya terjadi di Mojokerto saja, tetapi juga merupakan kendala yang dihadapi di daerah lain.

Namun demikian yang patut diapresiasi kalangan Batik Mojokerto saat ini sedang berkembang sederet nama motif batik seperti Gedheg Rubuh, Mrico Bolong, Gringsing, Surya Majapahit, Alas Majapahit, Lerek Kali, Bunga Matahari (kadang hanya disebut Matahari), Koro Kenteng, Rawan Inggek, Bunga Sepatu, Kawung Cemprot, dan Pring Sedapur.

Ciri Khas Batik Mojokerto Menurut Ernawati, salah satu pengrajin batik Mojokerto, motif batik Mojokerto mengambil corak atau motif dari alam sekitar kehidupan manusia yang mampu memberikan gambaran mengenai ciri daerah Mojokerto. Beberapa corak atau motif yang digunakan antara lain motif berbentuk bunga teratai yang merupakan lambang Kerajaan Majapahit, motif berbentuk Surya Majapahit yang merupakan logo atau lambang dari Kerajaan Majapahit, motif berbentuk buah maja yang merupakan buah khas Majapahit yang menjadi asal kata Majapahit sendiri, tempat duduk sembilan dewa pada saat bersemedi, tempat duduk dewa-dewi saat turun ke bumi, dan masih banyak lagi. Untuk ciri khas motifnya adalah motif Sisik Gringsing dan motif Mrico Bolong. Dalam satu motif batik Mojokerto, isen-isen yang biasa digunakan adalah cecek, sawutan, kembang pacar, kembang suruh, dan ukel.

Motif Batik Mojokerto

 

  1. batik-mojokerto-motif-mrico-bolongMotif Mrico Bolong; Motif ini diberi nama Mrico Bolong karena memiliki latar berupa bulatan-bulatan kecil seperti merica yang tampak berlubang. Yang menjadi motif utama adalah burung dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan berwarna cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  2. batik-mojokerto-motif-sisik-gringsingMotif Sisik Gringsing; Motif ini diberi nama Sisik Gringsing karena memiliki latar berbentuk seperti sisik ikan. Yang menjadi motif utama adalah burung dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini memiliki kesamaan dengan motif Mrico Bolong dari segi motif utama dan motif pelengkapnya namun yang membedakan keduanya adalah latar dari kedua motif ini. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  3. batik-mojokerto-motif-pring-sedapurMotif Pring Sedapur; Motif ini diberi nama Pring Sedapur yang diambil dari rumpun bambu yang menjadi motif utama sedangkan motif pelengkapnya adalah burung merak yang bertengger di rumpun bambu tersebut. Latar dalam motif ini dibuat dengan cara meremukkan malam yang digunakan untuk menutup latar kain sehingga warna lain bisa dimasukkan dan menimbulkan kesan retak-retak. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  4. batik-mojokerto-motif-rawan-inggekMotif Rawan Inggek; Motif ini diberi nama Rawan Inggek karena memiliki latar berupa garis yang berkelok-kelok. Garis yang berkelok-kelok ini disebut rawan, yang berasal dari kata “rawa” yang mendapat imbuhan “an”. Yang menjadi motif utama adalah burung dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu dan surya majapahit.
  5. batik-mojokerto-motif-kawung_rambutanMotif Kawung Rambutan; Motif ini diberi nama Kawung Rambutan sesuai dengan latarnya, kawung cenderung berbentuk kotak dengan ujung yang agak membulat. Kawung tampak pada motif garis-garis berbentuk kotak yang terdapat bulatan dengan srungut-srungut. Dengan adanya srungut-srungut itu maka diberi nama Kawung Rambutan. Yang menjadi motif utama adalah rangkaian bunga beserta daun-daunnya sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu.
  6. Motif Teratai Surya Majapahit; Motif ini diberi nama Teratai Surya Majapahit karena menampilkan elemen-elemen yang merupakan lambang dari Kerajaan Majapahit yang didominasi oleh bunga teratai dan surya majapahit. Yang menjadi motif utamanya adalah ayam bekisar, bunga teratai, tempat duduk dewa-dewi serta surya majapahit sedangkan motif pelengkapnya adalah buah maja. Motif ini menggunakan isen-isen cecek pada latarnya.
  7. Motif Kembang Dilem; Motif ini diberi nama Kembang Dilem karena terinspirasi dari tanaman dilem, berupa daun dan tidak berbunga, yang digunakan untuk pewangi pada batik sedangkan kembang berasal dari bunga-bunga kecil yang tampak dari motif ini. Bunga-bunga kecil itu merupakan motif pelengkap dan motif utamanya adalah daun dilem.
  8. Motif Matahari; Motif ini diberi nama Matahari karena didominasi oleh motif berbentuk bunga matahari. Motif bunga matahari itu merupakan motif utama sedangkan kupukupu di sini menjadi motif pelengkap saja. Untuk latarnya berupa warna hitam polos tanpa adanya isenisen.
  9. Motif Merak Ngigel; Motif ini diberi nama Merak Ngigel karena motif utamanya adalah burung merak yang saling berhadaphadapan. Untuk motif pelengkapnya berupa kupukupu dan bunga-bunga. Latar dari motif ini didominasi oleh isen-isen kembang pacar dan cecek dengan warna biru.
  10. btmo-koro-rentengMotif Koro Renteng; Motif ini diberi nama Koro Renteng karena motif utamanya adalah buah koro yang ditunjukkan oleh bulatan-bulatan kecil bewarna cokelat yang di dalamnya terdapat isen-isen cecek sebanyak tiga cecek sedangkan renteng menunjuk pada daun yang di-renteng (disusun berjajar). Motif ini memiliki latar polos bewarna putih yang terlihat seperti didominasi oleh isen-isen sawutan yang terdapat pada tepian setiap bentukan motif.
  11. Motif Rantai Kapal Kandas; Motif ini diberi nama Rantai Kapal Kandas karena motif utamanya adalah rantai dan motif pelengkapnya berupa bagian-bagian kapal yang sudah hancur (kandas). Motif ini memiliki latar polos dengan warna putih tanpa adanya isen-isen.
  12. daun_talas_batik_tulis_bahan_cotton_size_225m_x_110mMotif Daun Talas; Motif ini diberi nama Daun Talas karena motif utamanya berupa daun talas. Daun talas sendiri merupakan daun dari tanaman umbi-umbian yang berdaun lebar yang sering dijumpai di Kota Mojokerto. Motif pelengkap dari motif ini adalah buah talas. Untuk latarnya menggunakan warna biru dengan isen-isen cecek.
  13. Motif Gerbang Mahkota Raja Motif ini diberi nama Gerbang Mahkota Raja karena terdapat bentukan gerbang dan mahkota raja yang menjadi motif utama sedangkan motif pelengkapnya adalah bunga teratai, buah maja, ayam bekisar, dan kupu-kupu. Gerbang disini merupakan pintu masuk ke Kerajaan Majapahit yang di dalamnya terdapat beragam budaya, mahkota raja sebagai tanda kebesaran yang dipakai oleh raja-raja Majapahit. Bentukan motif yang ada di dalam kain batik ini merupakan elemen-elemen dari Kerajaan Majapahit. Untuk latarnya didominasi oleh isen-isen kembang pacar dan cecek.
  14. Motif Surya Majapahit; Motif ini diberi nama Surya Majapahit karena motif utamanya berupa surya majapahit yang merupakan lambang dari Kerajaan Majapahit yang sering dijumpai pada candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit. Surya Majapahit berbentuk cakra segi delapan ini merupakan gambaran dari 9 dewa yang dipuja oleh penduduk Majapahit. Untuk motif pelengkapnya berupa buah maja. Latar dari motif ini berwarna hitam polos tanpa adanya isen-isen.
  15. Motif Rawan Klasa; Motif ini diberi nama Rawan Klasa karena latarnya berbentuk menyerupai anyaman tikar (klasa). Yang menjadi motif utama adalah sepasang sawat yang menyerupai sayap burung garuda yang memberi kesan gagah sedangkan motif pelengkapnya berupa daun dan bunga-bunga kecil di sekitarnya. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  16. Motif Alas Majapahit; Motif ini diberi nama Alas Majapahit karena menggambarkan keadaan atau suasana hutan (alas) di mana di dalam hutan terdapat berbagai hewan dan tumbuhan. Yang menjadi motif utama adalah motif yang berbentuk hewan dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah buah maja, kupu-kupu kecil, dan bunga-bunga kecil. Motif ini memiliki latar dengan isen-isen cecek.
  17. Motif Bin Pecah; Motif ini diberi nama Bin Pecah karena memiliki latar dengan bentukan seperti ubin dalam keadaan pecah (berbentuk seperti segitiga). Yang menjadi motif utama adalah rangkaian daun kelapa, burung, dan bunga teratai sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  18. Motif Merak Gelatik; Motif ini diberi nama Merak Gelatik karena motif utama berbentuk burung gelatik yang kecil namun memiliki ekor panjang seperti burung merak. Motif pelengkapnya adalah bunga-bunga dan daun-daun. Latar motif ini berwarna putih polos tanpa adanya isen-isen. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  19. Motif Kembang Suruh; Motif ini diberi nama Kembang Suruh karena motif ini memiliki latar yang didominasi oleh isen-isen kembang suruh. Motif utamanya adalah bunga dan daun-daun sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  20. Motif Ukel Cambah; Motif ini diberi nama Ukel Cambah karena motif ini didominasi oleh latar dengan isen-isen ukel yang menyerupai bentuk kecambah. Motif ini hampir serupa dengan motif Kembang Suruh, hanya terdapat perbedaan pada isen-isen yang mendominasi latarnya. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  21. Motif Sekar Jagad Mojokerto; Motif ini diberi nama Sekar Jagad Mojokerto karena motif utamanya berupa bunga teratai, buah maja, dan surya majapahit yang kesemuanya merupakan elemen dari Kota Mojokerto. Motif pelengkapnya adalah motif di luar dari elemen-elemen Kota Mojokerto yang sudah ada. Motif ini terkesan padat dan ramai seperti kondisi alam semesta (jagad raya).
  22. kembang_mojo_Motif Kembang Maja; Motif ini diberi nama Kembang Maja karena motif utamanya adalah kembang yang diwakili oleh bunga matahari (bunga yang tidak diberi warna) dan buah maja yang merupakan buah yang menjadi asal nama Majapahit.

 

Batik Mojokerto konon telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, namu seiring runtuhnya kerajaan ini, keberadaan batik Mojokerto mulai tersingkir keberadaannya. Belakangan seni membatik muncul  dan berkembang lagi di Mojokerto yang diawali oleh generasi baru yang mewarisi tradisi turun temurun dari generasi sebelumnya.

Sebagai tradisi yang dimiliki oleh Mojokerto ini patut untuk dijaga kelestariannya sehingga kelak batik Mojokerto lebih dikenal oleh masyarakat luas.  Hadirnya wacana baru untuk mengenalkan batik Mojokerto kepada masyarakat secara luas khususnya para pecinta batik. Diharapkan mampu menarik perhatian sasaran kawulamuda sehingga mereka mengenal dan ikut melestarikan batik Mojokerto.

 

—————————————————————————————————————–Perancangan Buku Tentang Batik Mojokerto./ Fransisca Luciana Santoso, Bramantya, Ryan Pratama Sutanto.
Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra, Surabaya – STK Wilwatikta Surabaya

Masjid Tiban Dalam Tanah, Kabupaten Mojokerto

Sampaikan Pesan Kematian Tempat Bertuah Untuk Nadzar

Pada hari-hari tertentu masjid ini banyak didatangi orang. Selain memenuhi rasa penasaran tentang keberadaan masjid yang berada di dalam tanah, tak sedikit pula yang melakukan ritual dengan harapan mendapatkan sesuatu.

Masjid Tiban Dalam Tanah1Padepokan Mayangkoro, Desa Pekukuhan, Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur. Banyak tamu pengunjung bersilahturahmi dan beramahtamah dengan Kiai Abdul Malik, selaku pemilik pondok pesanten Mayangkoro, para tamu itu kemudian diajak masuk ke dalam ruangan dalam tanah yang biasa disebut orangorang dengan masjid di dalam tanah yang lokasinya persis di bawah rumah Kiai Abdul Malik.

“Kami dari Sidoarjo. Kami ke sini memang sengaja untuk melihat-lihat masjid ini dari dekat. Karena selama ini kami sering mendengar dari orang lain tentang keistimewaan masjid ini,” ujar salah seorang dari mereka kepada LIBERTY.

Usai berwudhu, satu persatu para pengunjung itu memasuki masjid terpendam itu. Di dalam masjid itu suasana cukup gelap. Tak ada penerangan dari lampu listrik atau cahaya yang masuk dari luar sedikit pun. Dua buah lampu senter yang dibawa seorang santri Kiai Abdul Malik dan seo­rang pengunjung tak juga bisa membuat suasana di dalam ruangan itu bisa terlihat dengan sejelas-jelasnya Masjid di dalam tanah itu memiliki beberapa ruangan. Ada ruang utama sebagai tempat sholat, ruang semedi, serta ruangan yang biasa digunakan untuk gemblengan yang dilakukan Kiai Abdul Malik terhadap para pengikutnya. Selain ruangan-ruangan itu, di dalam masjid di dalam itu juga terdapat dua buah sendang atau mata air yang diper- caya airnya mengandung keistimewaan.

“Usai digembleng, para santri Kiai Abdul Malik biasanya juga dimandikan di salah satu sendang ini,” ujar Toha, santri Kiai Abul Malik.

Masjid Tiban Dalam Tanah2Karena dianggap istimewa, tidak sedikit dari pengunjung yang kemudian membawa pulang air atau bahkan mandi di air sendang itu. Kepercayaan lain, melakukan doa atau bernadzar di dalam masjid itu juga katanya mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Tentang hal ini, Kiai Abdul Malik hanya mengatakan bahwa itu tetap saja tergantung manusianya yang berdoa atau meminta sesuatu. Jika memang niat tulus, pasti keinginannya itu akan terkabulkan.

“Di samping itu, karena berada di dalam tanah dan tempatnya sangat tenang, tentu orang akan mudah berkonsentrasi untuk melakukan doa atau permohonan kepada Allah SWT. Mungkin karena itulah maka banyak keinginan para pendatang yang dikabulkan usai berdoa di masjid ini,” ujar Kiai Nyeleneh yang selalu mengenakan udeng ini. Selain suka mengenakan udeng, Kiai Malik juga suka mengunakan training atau baju-baju lain yang sederhana.

SATU SANTRI

Dari mulai berdiri hingga sekarang ini, Padepokan Mayangkoro tak pernah banyak memiliki santri. Paling banter katanya cuma sampai 10 orang. Sekarang ini, bahkan hanya seorang santri yang memilih nyantri di tempat ini. Namun, meski begitu, santri yang berasal dari sekitar lingkungan cukup banyak dan mereka tidak tinggal dalam padepokan. Jika sudah berkumpul dalam acara khusus, misalnya, santri-santri yang dulu pernah mon- dok di tempat ini juga tak ketinggalan untuk datang lagi.

Memasuki masjid yang berada di dalam tanah ini, jika tidak hafal betul lokasi di dalamnya, niscaya ia akan tersesat dan tidak bisa keluar lagi. Sebab, selain tempatnya yang gelap gulita, di dalam masjid ini juga banyak terdapat lorong-lorong yang sangat membinggungkan dan terkadang hanya bisa dilewati dengan membungkukkan badan agar kepala tidak membentur dinding ruangan di dalam masjid tersebut.

Selain bertujuan untuk membangun tempat ibadah yang nyaman dan agar jauh dari kebisingan dunia luar, pembangunan masjid ini menurut Kiai Malik juga bertujuan mengingatkan manusia tentang hari kematian. Dengan memasuki masjid ini, orang diharapkan akan berpikir tentang hari kematian dengan mengatakan dalam hatinya bagaimana seandainya dirinya terkubur dalam tanah suatu hari nanti. Karena pesan kematian itulah Kiai Malik berharap orang akan semakin mempertebal rasa keimanannya terhadap Allah SWT.

Meski tidak mengunakan penyangga beton untuk menopang bangunan yang berada di atasnya, namun masjid ini nyatanya cukup kuat dan terbebas dari longsor atau ambles. Tentang hal itu, Kiai Malik mengatakan bahwa itu merupakan hidayah dari Allah SWT. Jika Allah SWT berkehendak, katanya apa saja bisa dik­abulkan meski hal itu sungguh-sungguh tidak masuk akal.

“Saya tidak memiliki ilmu apa-apa atau semacam kesaktian yang sering dibilang orangorang terhadap diri saya. Semua itu merupakan barokah dari Allah SWT,” ujar Kiai yang pernah akrab den­gan almarhum Gus Maksum Lirboyo, Kediri ini.

MENGHEBOHKAN

Sebelum 1996, Kiai Abdul Malik hanya. memiliki sebuah bangunan terbuat dari bambu yang biasa digunakan untuk mengajari santri-santrinya mengaji dan juga tempat melakukan sholat secara berjamaah. Pada saat itulah ia berkeingian membangun sebuah masjid di tanah berawa yang berada di sebelah rumahnya. Ide itupun sebenarnya tidak murni dari keinginannya sendiri, melainkan mendapatkan petunjuk. Iseng-iseng ia lantas menulisi tanah rawa itu de­ngan papan yang berbunyi akan dibanguan sebuah masjid.

Namun, bukannya banyak yang membantu atau mendukungnya, malah ada saja orang yang sinis den­gan niatan itu. Mereka beranggapan, dari mana Kiai Abdul akan memiliki uang untuk mewujudkan keinginannya itu? Namun, seiring dengan waktu, tanpa banyak diketahui orang lain, tanpa kenal lelah Kiai Abdul Malik dan para santrinya membuat ruangan dalam tanah yang tanah kedukannya dibuat menguruk tanah rawa-rawa yang berada di sebelah rumahnya.

Praktis perbuatan Kiai Malik dan para santrinya itu tidak menjadi perhatian lingkungannya. Karena bekas urukannya itu sedikit demi sedikit telah menjadikan tanah berawa di sebelah rumahnya menjadi rata. Pada 1996, entah siapa yang menyebarkannya, ruangan yang berada di dalam tanah diketahui banyak orang dan dianggap sebagai masjid tiban yang muncul dari dalam tanah.

Tak hanya warga sekitar, orang- orang dari luar kampung pun berduyun-duyun ingin melihatnya. Bahkan, kemudian berkembang ke luar kota hingga pada waktu itu yang datang sampai ada yang mengunakan mobil atau bus dalam setiap harinya. Praktis tempat Kiai Abdul Malik menjadi heboh. Merasa prihatin dengan keadaan pesantren yang serba sederhana, tak sedikit pula yang kemudian mengulurkan tangan hingga sebuah masjid yang berada di atasnya berdiri pula.

“Ya, semua ini merupakan kehendak Allah SWT Tentang kekuatan gaib masjid di dalam tanah ini, orang boleh percaya boleh tidak. Namun, tentang hal itu lebih baik tanyakan sendiri pada orangorang yang pernah memasuki dan me­lakukan lelaku di tempat ini,” pungkasnya. RUD

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 48-50

Masjid Tiban Dalam Tanah, Kabupaten Mojokerto

Sampaikan Pesan Kematian Tempat Bertuah Untuk Nadzar

Pada hari-hari tertentu masjid ini banyak didatangi orang. Selain memenuhi rasa penasaran tentang keberadaan masjid yang berada di dalam tanah, tak sedikit pula yang melakukan ritual dengan harapan mendapatkan sesuatu.

Masjid Tiban Dalam Tanah1Padepokan Mayangkoro, Desa Pekukuhan, Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur. Banyak tamu pengunjung bersilahturahmi dan beramahtamah dengan Kiai Abdul Malik, selaku pemilik pondok pesanten Mayangkoro, para tamu itu kemudian diajak masuk ke dalam ruangan dalam tanah yang biasa disebut orangorang dengan masjid di dalam tanah yang lokasinya persis di bawah rumah Kiai Abdul Malik.

“Kami dari Sidoarjo. Kami ke sini memang sengaja untuk melihat-lihat masjid ini dari dekat. Karena selama ini kami sering mendengar dari orang lain tentang keistimewaan masjid ini,” ujar salah seorang dari mereka kepada LIBERTY.

Usai berwudhu, satu persatu para pengunjung itu memasuki masjid terpendam itu. Di dalam masjid itu suasana cukup gelap. Tak ada penerangan dari lampu listrik atau cahaya yang masuk dari luar sedikit pun. Dua buah lampu senter yang dibawa seorang santri Kiai Abdul Malik dan seo­rang pengunjung tak juga bisa membuat suasana di dalam ruangan itu bisa terlihat dengan sejelas-jelasnya Masjid di dalam tanah itu memiliki beberapa ruangan. Ada ruang utama sebagai tempat sholat, ruang semedi, serta ruangan yang biasa digunakan untuk gemblengan yang dilakukan Kiai Abdul Malik terhadap para pengikutnya. Selain ruangan-ruangan itu, di dalam masjid di dalam itu juga terdapat dua buah sendang atau mata air yang diper- caya airnya mengandung keistimewaan.

“Usai digembleng, para santri Kiai Abdul Malik biasanya juga dimandikan di salah satu sendang ini,” ujar Toha, santri Kiai Abul Malik.

Masjid Tiban Dalam Tanah2Karena dianggap istimewa, tidak sedikit dari pengunjung yang kemudian membawa pulang air atau bahkan mandi di air sendang itu. Kepercayaan lain, melakukan doa atau bernadzar di dalam masjid itu juga katanya mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Tentang hal ini, Kiai Abdul Malik hanya mengatakan bahwa itu tetap saja tergantung manusianya yang berdoa atau meminta sesuatu. Jika memang niat tulus, pasti keinginannya itu akan terkabulkan.

“Di samping itu, karena berada di dalam tanah dan tempatnya sangat tenang, tentu orang akan mudah berkonsentrasi untuk melakukan doa atau permohonan kepada Allah SWT. Mungkin karena itulah maka banyak keinginan para pendatang yang dikabulkan usai berdoa di masjid ini,” ujar Kiai Nyeleneh yang selalu mengenakan udeng ini. Selain suka mengenakan udeng, Kiai Malik juga suka mengunakan training atau baju-baju lain yang sederhana.

SATU SANTRI

Dari mulai berdiri hingga sekarang ini, Padepokan Mayangkoro tak pernah banyak memiliki santri. Paling banter katanya cuma sampai 10 orang. Sekarang ini, bahkan hanya seorang santri yang memilih nyantri di tempat ini. Namun, meski begitu, santri yang berasal dari sekitar lingkungan cukup banyak dan mereka tidak tinggal dalam padepokan. Jika sudah berkumpul dalam acara khusus, misalnya, santri-santri yang dulu pernah mon- dok di tempat ini juga tak ketinggalan untuk datang lagi.

Memasuki masjid yang berada di dalam tanah ini, jika tidak hafal betul lokasi di dalamnya, niscaya ia akan tersesat dan tidak bisa keluar lagi. Sebab, selain tempatnya yang gelap gulita, di dalam masjid ini juga banyak terdapat lorong-lorong yang sangat membinggungkan dan terkadang hanya bisa dilewati dengan membungkukkan badan agar kepala tidak membentur dinding ruangan di dalam masjid tersebut.

Selain bertujuan untuk membangun tempat ibadah yang nyaman dan agar jauh dari kebisingan dunia luar, pembangunan masjid ini menurut Kiai Malik juga bertujuan mengingatkan manusia tentang hari kematian. Dengan memasuki masjid ini, orang diharapkan akan berpikir tentang hari kematian dengan mengatakan dalam hatinya bagaimana seandainya dirinya terkubur dalam tanah suatu hari nanti. Karena pesan kematian itulah Kiai Malik berharap orang akan semakin mempertebal rasa keimanannya terhadap Allah SWT.

Meski tidak mengunakan penyangga beton untuk menopang bangunan yang berada di atasnya, namun masjid ini nyatanya cukup kuat dan terbebas dari longsor atau ambles. Tentang hal itu, Kiai Malik mengatakan bahwa itu merupakan hidayah dari Allah SWT. Jika Allah SWT berkehendak, katanya apa saja bisa dik­abulkan meski hal itu sungguh-sungguh tidak masuk akal.

“Saya tidak memiliki ilmu apa-apa atau semacam kesaktian yang sering dibilang orangorang terhadap diri saya. Semua itu merupakan barokah dari Allah SWT,” ujar Kiai yang pernah akrab den­gan almarhum Gus Maksum Lirboyo, Kediri ini.

MENGHEBOHKAN

Sebelum 1996, Kiai Abdul Malik hanya. memiliki sebuah bangunan terbuat dari bambu yang biasa digunakan untuk mengajari santri-santrinya mengaji dan juga tempat melakukan sholat secara berjamaah. Pada saat itulah ia berkeingian membangun sebuah masjid di tanah berawa yang berada di sebelah rumahnya. Ide itupun sebenarnya tidak murni dari keinginannya sendiri, melainkan mendapatkan petunjuk. Iseng-iseng ia lantas menulisi tanah rawa itu de­ngan papan yang berbunyi akan dibanguan sebuah masjid.

Namun, bukannya banyak yang membantu atau mendukungnya, malah ada saja orang yang sinis den­gan niatan itu. Mereka beranggapan, dari mana Kiai Abdul akan memiliki uang untuk mewujudkan keinginannya itu? Namun, seiring dengan waktu, tanpa banyak diketahui orang lain, tanpa kenal lelah Kiai Abdul Malik dan para santrinya membuat ruangan dalam tanah yang tanah kedukannya dibuat menguruk tanah rawa-rawa yang berada di sebelah rumahnya.

Praktis perbuatan Kiai Malik dan para santrinya itu tidak menjadi perhatian lingkungannya. Karena bekas urukannya itu sedikit demi sedikit telah menjadikan tanah berawa di sebelah rumahnya menjadi rata. Pada 1996, entah siapa yang menyebarkannya, ruangan yang berada di dalam tanah diketahui banyak orang dan dianggap sebagai masjid tiban yang muncul dari dalam tanah.

Tak hanya warga sekitar, orang- orang dari luar kampung pun berduyun-duyun ingin melihatnya. Bahkan, kemudian berkembang ke luar kota hingga pada waktu itu yang datang sampai ada yang mengunakan mobil atau bus dalam setiap harinya. Praktis tempat Kiai Abdul Malik menjadi heboh. Merasa prihatin dengan keadaan pesantren yang serba sederhana, tak sedikit pula yang kemudian mengulurkan tangan hingga sebuah masjid yang berada di atasnya berdiri pula.

“Ya, semua ini merupakan kehendak Allah SWT Tentang kekuatan gaib masjid di dalam tanah ini, orang boleh percaya boleh tidak. Namun, tentang hal itu lebih baik tanyakan sendiri pada orangorang yang pernah memasuki dan me­lakukan lelaku di tempat ini,” pungkasnya. RUD

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 48-50

KERAJAAN MAJAPAHIT

Sejarah Kerajaan masa Hindu-Budha di daerah Jawa Timur dapat dibagi menjadi 3 periode. Periode pertama adalah raja-raja dari kerajaan Kediri yang memerintah sejak abad ke 10 M hingga tahun 1222 M. Periode kedua dilanjutkan oleh pemerintahan raja-raja dari masa Singosari yang memerintah dari tahun 1222 M hingga tahun 1293 M. Periode ketiga adalah masa pemerintahan raja-raja Majapahit yang berlangsung dari tahun 1293 M hingga awal abadke 6 M.
Pendiri kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya. Ia merupakan raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Pada awalnya, pusat pemerintahan kerajaan Majapahit berada di daerah Tarik. Karena di wilayah tersebut banyak ditemui pohon maja yang buahnya terasa pahit, maka kerajaan Raden Wijaya kemudian dinamakan Majapahit. Raden Wijaya memerintah dari tahun 1293 M hingga 1309 M.
Tampuk pemerintahan kemudian digantikan oleh Kaligemet yang merupakan putra Raden Wijaya dengan Parameswari. Pada saat itu, usia Kaligemet masih relatif muda. la kemudian bergelar Jayanegara. Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi pemberontakan. Pada akhirnya, pada tahun 1328 M Jayanegara terbunuh oleh tabib pribadinya yang bernama Tanca.
Roda kekuasaan kemudian diambil alih oleh Raja Patni, yaitu istri Raden Wijaya yang merupakan salah satu putri Raja Kertanegara dari Singosari. Bersama patihnya yang bernama Gajah Mada, ia berhasil menegakkan kembali wibawa Majapahit dengan menumpas pemberontakan yang banyak terjadi. Raja Patni kemudian mengundurkan diri sebagai raja dan menjadi pendeta Budha. Tampuk pemerintahan kemudian diserahkan kepada anaknya yang bernama Tribhuana Wijaya Tunggadewi. Dalam menjalankan pemerintahannya, ia dibantu oleh patih Gajah Mada. Majapahit kemudian tumbuh menjadi negara yang besar dan termashur, baik di kepulauan nusantara maupun luar negeri.
Pada tahun 1350 M, Tribhuana Tunggadewi kemudian mengundurkan diri. Tampuk kekuasaan kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit kemudian mencapai masa keemasan hingga patih Gajah Mada meninggal pada tahun 1365 M. Terlebih ketika Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389 M, negara Majapahit mengalami kegoncangan akibat konflik saudara yang saling berebut kekuasaan.
Pengganti Hayam Wuruk adalah putrinya yang bernama Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana. Sementara itu, Wirabhumi, yaitu putra Hayam Wuruk dari selir menuntut juga tahta kerajaan. Untuk mengatasi konflik tersebut, Majapahit kemudian dibagi menjadi dua bagian, yaitu : wilayah timur dikuasai oleh Wirabhumi dan wilayah barat diperintah oleh Wikramawardhana bersama Kusumawardhani. Namun ketegangan di antara keduanya masih berlanjut hingga kemudian terjadi perang saudara yang disebut dengan “Paragreg” yang berlangsung dari tahun 1403 M hingga 1406 M.
Perang tersebut dimenangkan oleh Wikramawardhana yang kemudian menyatukan kembali wilayah Majapahit, la kemudian memerintah hingga tahun 1429 M.
Wikramawardhana kemudian digantikan oleh putrinya yang bernama Suhita yang memerintah dari tahun 1429 M hingga 1447 M. Suhita adalah anak kedua Wikramawardhana dari selir. Selir tersebut merupakan putri Wirabhumi. Diharapkan dengan diangkatnya Suhita menjadi raja akan meredakan persengketaan. Ketika
Suhita wafat, tampuk kekuasaan kemudian digantikan oleh Kertawijaya yang merupakan putra Wikramawardhana. Pemerintahannya berlangsung singkat hingga tahun 1451 M. Sepeninggalnya Kertawijaya, Bhre Pamotan kemudian menjadi raja dengan gelar Sri Raja Sawardhana dan berkedudukan di Kahuripan. Masa pemerintahannya sangat singkat hingga tahun 1453 M. Kemudian selama tiga tahun Majapahit mengalami “Interregnum” yang mengakibatkan lemahnya pemerintahan baik di pusat maupun di daerah. Pada tahun 1456 M, Bhre Wengker kemudian tampil memegang pemerintahan. Ia adalah putra Raja Kertawijaya. Pada tahun 1466 M, ia meninggal dan kemudian digantikan oleh Bhre Pandan Salas yang bergelar Singhawikramawardhana. Namun pada tahun 1468 lyl, Kertabumi menyatakan dirinya sebagai penguasa Majapahit yang memerintah di Tumapel, sedangkan Singhawikramawardhana kemudian menyingkir ke Daha. Pemerintahan Singhawikramawardhana digantikan oleh putranya yang bernama Rana Wijaya yang memerintah dari tahun 1447 M hingga 1519 M. Pada tahun 1478 M, ia mengadakan serangan terhadap Kertabumi dan berhasil mempersatukan kembali kerajaan Majapahit yang terpecah-pecah karena perang saudara. Rana Wijaya bergelar Grindrawardhana.
Kondisi kerajaan Majapahit yang telah rapuh dari dalam dan disertai munculnya perkembangan baru pengaruh Islam di daerah pesisir utara Jawa, pada akhirnya menyebabkan kekuasaan Majapahit tidak dapat dipertahankan lagi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: I Made Kusumajaya [dkk]. Mengenal Kepurbakalaan Majapahity Di Daerah Trowulan, [2014…?] hlm. 5-8. (CB-D13/2014-126)

Loro Pangkon

Sangat beragam adat pengantin di Jawa Timur salah satunya adalah upacara adat temu temanten di Kota Mojokerto, yang selalu dilaksanakan secara tradisional secara turun temurun.
Upacara tersebut dilengkapi dengan berbagai persyaratan yang harus dipatuhi oleh semua pihak baik kedua mempelai maupun semua pelaksana upacara tradisi tersebut.
Sebelum mempelai pria dipertemukan, terlebih dulu diarak mengelilingi desa, membawa perlengkapan, berupa 2 buah kembar mayang, 2 pucuk tombak, pelarang, jodhang, lara pangkon, dan pengiring secukupnya.
Lara pangkon sebagai akronim dari lara sadurunge kelakon. Lara pangkon diperagakan oleh 2 orang membawa jago-jagoan yang dihias sedemikian rupa, dan dilengkapi sebuah bokor berisi beras kuning.
Peragaan itu diawali gending Jula-Juli Surabayan. Salah seorang pelaku menggendong jago-jagoan dan menari tari Remo. Sementara itu datang seorang pelaku lain menyambutnya.
Isi percakapan dua orang pelaku ialah serah terima pengantin laki-laki kepada pihak keluarga pengantin perempuan.

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya, Surabaya Intelektual Club (SIC), Surabaya, 2008, hlm. 263

Busana Pengantin Mojokerto

Terdapat versi lain mengenai busana pengantin Mojokerto. Busana pengantin Mojokerto terdiri dari elemen-elemen masa kejayaan Majapahit dan modifikasi busana tempo dulu. Penutup kepala berbentuk blangkon meruncing ke depan/ke atas (model serban), bagian belakang terdapat dua pelipitan yang posisinya menjorok ke bawah (samping kiri-kanan) dengan dasar motif gringsing.

Baju takwa dengan potongan leher tegak berlengan panjang dan bersaku tiga, dihias kancing emas berlambang surya Majapahit.Celana panjang model potongan biasa/kolor (dari mata kaki sampai pinggang). Kain sinjang batik gringsing yang digunakan sebagai pelengkap busana khas pria, dipakai dari pinggang sampai di atas lutut, dilipat tanpa diulur ke bawah dan lipatannya agak’dilebihkan ke kanan serta memakai sabuk otok. Alas kaki berupa selop/cripu (sepatu polos).

 

Busana pengantin Pria

Busana pengantin pria adalah tutup kepala berupa kulukdengan motif garudha mungkur warna dasar kuning emas, dihiasi perrru (putih, hijau, kuning), sumping motif bunga cempaka, kalung bersusun  kelat bahu dengan motif ceplok bunga teratai atau simbar dengan war kuning emas. Cincin 2 buah salah satu dipakai di jari telunjuk, kain penuti badan berupa baju beskap lengan panjang dengan potongan kerah berd dibagian tengah terbuka dihiasi benang emas, berkancing dinar berlambai suiya Majapahit.

Celana panjang agak komprang dipakai di bagian dalam dc ditutup dengan kain kampuh/dodot terdiri dua lapis dengan motif bat gringsing yang diprada warna emas dengan motif bunga-bunga sebag, ciri khas Mojokerto. Wastra atau bebed motif sulur bunga cempak dengan warna emas, dapat dikombinasi warna hijau pradan. Ikatpinggang/sabuk pendhing motif gringsing dari kain sutra atau liner bagian tepi diberi warna kuning emas. Senjata berupa keris disesuaika: warna kuning pada sarung kerisnya, dipakai di bagian depan, lilitai bulat di bagian depan dan panjang di sisi samping kanan/kiri dihias benang/monte warna emas. Alas kaki, selop dengan warna disesuaikan dan dihias dengan monte/benang warna emas.

Busana Pengantin Wanita

Berikut ini deskripsi mengenai buasana pengantin wanita Mojokerto. Pada bagian kepala dibentuk sanggul keling yang mengepal ke atas dan diulur lepas ke bawah sampai di pinggul dan dililit dengan untaian bunga melati serta diberi rangkaian karang melok pada sisi kanan-kiri dan dilengkapi cucuk mentul motif bunga cempaka serta motif ronyok yang diberi permata warna- wami (kuning, hijau dan merah). Hiasan kepala bagian depan berupa jamang, kancing gelung motif garudha mungkur yang pada garis bawahnya diberi untaian permata (wama hijau, kuning dan merah/putih) atau dihiasi dengan kain beludru lima lengkung, subang/giwang motif ronyok dengan hiasan permata (kuning, hijau dan merah), Sumping motif bunga cempaka wama disesuaikan, penutup badan berupa baju panjang sampai batas lutut, dihiasi benang/manik wama emas dengan motif sulur bunga campaka dan motif surya Majapahit, dilengkapi dengan bros/paniti renteng (ceplok bunga anggrek).

Sinjang motif gringsing warna cerah dan hijau, wastra wama merah cerah dengan hiasan benang/monte warna emas. Kampuh motif ceplok bunga cempaka/ anggrek diprada warna emas. Koncer motif cawuto berwarna hitam dapat digunakan kain sutra. Kemer/punding diberi perhiasan tiruan permata (warna kuning, hijau dan merah). Manggala dari kain kasa tipis/kain sutra warna disesuaikan. Gelang tangan motif kuno/sigar menjalin dihiasi dangan permata tiruan (kuning, hijau dan merah). Kelat bahu motif
tridhatu yaitu untaian tiga warna/tiga unsur. Cincin dapat dibuat motif ganda, memakai kalung dangan motif kebon raja dan untaian bunga melati dangan motif cengkehan. Alas kaki, selop dihiasi manik/monte/benang warna emas.

 

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 79-81

Kusbini, Kabupaten Mojokerto

1 Januari 1910, Kusbini lahirdi  desa Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur. Ayahnya bemama Koesnio seorang manteri kehutanan (bosch hoofsiner boswessen), sedangkan lbunya bersama Moesinah asal Trenggalek, Jawa Timur. Sebagai seorang anak manteri kehutanan, masa kecil Kusbini bersama keluarganya sering berpindah-pindah tempat dari satu rumah dinas ke rumah dinas yang lain yang terletak di kawasan hutan di Pojok, Kertosono, caruban, dan saradan Madiun Karena pengaruh lingkungannya pada masa kecil itulah yang menyebabkan Kusbini begitu hirau dengan nasib sesamanya, nasib bangsanya yang tertindas oleh kaum penjajah. Kusbini melihat sendiri bagaiman kesengsaraan hidup yang dialami bangsanya disekitar tempat tinggalnya.Keadaan demikian menimbulkan rasa kebangsaan dalam dirinya.

Tahun 1926, kala Kusbini sedang bersekolah di HIS, di Jombang Rasa kebangsaannya berkembang lagi pada waktu la melanjutkan pendidikannya di MULO dan bahkan di sekolah dagang S de Senerpont Domis di Surabaya, di mana Kusbini banyak berkenalan dengan rakyat biasa sampai kepada para cendikiawan yang aktif digaris depan. Akhirnya Kusbini menemukan jalan yang cocok baginya untuk menuangkan semangat perjuangannya melalui dunia musik yang memang ia cintai sejak kecil.Pada mulanya Kusbini belajar musik sendiri tanpa guru (autodi dakt) bersama dengan kakaknya Kusbini Ia bermain musik dalam orkes “YISTO” (Yong Indisce Stnjk Tekkel Orkest) di Surabaya dan mengumpulkan lagu-lagu keroncong serta stambul guna kepentingan orkesnya.

Tahun 1927—1930 Kusbini baru mengikuti pendidikan musik umum (Algemene Muziekleer) pada sekolah musik “Apollo” di Malang di bawah pimpinan Kitty Ament dan M. Mirop. Ia belajar bermain biola + 3 tahun lamanya.

Tahun 1935—1939,nama Kusbini mulai dikenal sebagai penyanyi dan pemain biola pada siaran radio “NIROM” (Nederlands Indisce Radio Omreep), memimpm studio Orkes Surabaya (SOS) merangkap penyanyi keroncong bersama S. Abdullah, Miss Netty dan Soelami. Di samping itu Kusbini juga merangkap pembantu penyiar “CIRVO” (Chines Inheemse Radio Luisteraars Vereniging Oest java) dan bekeija juga sebagai penggubah lagu di pabrik piringan hitam “Hoo Sun Hoo”.

Tahun 1941,bersama dengan pertumbuhan perfilman di Indonesia, Kusbini bekerja pada Majestic Film Company yang berpusat di Malang di bawah pimpinan Freed Young. Dan studio dan piringan hitam Kusbini beranjak ke layar putih. karena kegiatan dan pembuatan film oleh Ma­jestic Film Company banyak dilakukan di Jakarta, maka Kusbini pindah ke Jakarta.

Di sini Kusbini banyak mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakat dan menunjukan prestasinya. Kemudian dia juga mencipta lagu-lagu khusus untuk cerita-centa film pada waktu itu, antara lain dikenal dengan cerita “Jantung Hati” dan Air Mata Ibu” dengan syair Nyoo Cheng Seng (Monsieur d’Amor). Di sinilah ia menciptakan lagu langgam keroncong “Jantung Hati” yang kemudian diorkestasikan dengan 60 orang pemain yang dipimpin oleh Kusbini sendiri. Dengan lagu Kusbini ingin mempertebal semangat nasional yang dipegangnya dengan teguh, karena sejak awal memang telah diyakininya sebagai sumbangsih dalam ikut mempeijuangkan nasib bangsanya yang teijajah. Lahirlah lagu keroncongnya,” Kewajiban Manusia”, lagu yang syairnya benntikan ajakan menggalang persatuan bangsa.

Di zaman Jepang Kusbini tetap bekega di Jakarta yaitu pada siaran radio (Hoso Kenn Kyoku) yang dipimpin oleh Utoyo Ramelan SH Bersama dengan Ibu Sud, Kusbini mencipta lagu-lagu yang membangkitkan gairah, semangat dan kesadaran anak-anak Indonesia yang mencita-citakan kebebasan tanah air dan bangsanya. Kedua tokoh ini berhasil dengan baik. Pada kesempatan ini Kusbini mencipta lagu- lagu Indonesia yang dimainkan oleh orkes pimpinannya sendiri Di samping lagu Indonesia.

Beberapa lagu yang diciptakannya antara lainBagimu Negeri (1942), Bersatu (1942), Nyanyian Bunga (1944), Cinta Tanah Air (1945), Pembangunan (1945), dan lain-lain dari sekian banyak lagu kanak-kanak ciptaan Kusbini, Lagu Bagimu Negeri terpilih menjadi lagu wajib di sekolah-sekolah mulai dari SD sampai tingkat perguruan tinggi dan juga sudah sejak lama Lagu Bagimu Negeri ini dialunkan di RRI maupun TVRI sebagai lagu penutup siaran. Lagu Bagimu Negeriinilah karya terkenal dari Kusbini

Tahun 1942 1945,lagu-lagu yang diciptakan Kusbini dimaksudkan untuk mengimbangi lagu-lagu Jepang yang membanjir ke Inddonesia. karena itu lagu-lagunya jelas mengandung semangat perjuangan nasional.Sebagai ahli musik Kusbini diakui oleh masyarakat luas, sehingga Bung Karno mengangkatnya sebagai anggota Panitia Lagu Kebangsaan Indonesia Raya bersama dengan Ki Hadjar Dewantara, Muh. Yamin,  Ibu Sud, C. Simanjutak, Sanusi Pane dan lain-lain dibawah pimpinan Bung Karno. Pekerjaannya dimulai di zaman Jepang, kemudian dilanjutkan di zaman kemerdekaan di Yogyakarta sampai sekarang. Sebelum ke Yogyakarta ia bekeija pada ALRI di Lawang Jawa Timur dan kemudian pada Badan Penerima Kesatria I (Angkatan Darat) di Madiun, semuanya sebagai ahli musik.

Di Yogyakarta Kusbini berkarya terus, mencatat berbagai lagu, termasuk lagu-lagu daerah, mengaransir dan mencipta lagu serta bekeija sama dengan pengarang yang lain. Bertolak dari ciptaanva keroncong, menghilangkan ciri-cirinya yang kampungan, Si Buaya keroncong itu telah berhasil mengumpulkan berbagai lagu untuk dipelajari, diteliti dan dicatat kemudian menjadi “dokumentasi keroncong” yang berharga untuk bahan sejarah musik Indonesia.

1 April 1943, berdirinya Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shideshe), yang berkantor di Jalan Noordewijk (sekarang Jalan Ir. H. Djuanda) Jakarta, Kusbini terpilih sebagai wakil ketua Bagian Musik.

19 Maret 1943, berdirinya PUTRA (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh Bung Karno, para seniman dan seniwati mendapat peluang yang lebih luas Dengan pergaulan yang erat antara seniman-seniman, sastrawan dan pimpinan-pimpinan bangsa, Kusbini banyak mendapat ilmu dan gagasan-gagasan di dalam menciptakan lagu-lagunya. Ia tidak saja mencipta lagu dengan syair, tetapi tidak sedikit pula syairnya ditulis oleh kawan-kawan seniman dan sastrawan, antara lain Padi Menguning (syair Armin Pane), Ronce melati (syair Akhdiat kartamihardja), Laguku atau Lagu Kasihku (syair Kardjomuljo) dan Suka Rayu, Smara Turun, Ratapan Ibu (syair Kama Djaya).

Tahun1953, menulis buku Kamus Musik, penerbit, UP. Indonesia, Yogyakarta.

Tahun 1963,  Tujuh Lagu Wajib, terbitan PN Balai Pustaka.

Tahun 1965, Merdu dan Gembira, penerbit PT. Pembangunan Jakarta.

Tahun 1965, Lagu Wajib, penerbit UP Indonesia, Yogyakarta.

17 Agustus 1972, buah ketekunan dan keahlian Kusbini dalam hal keroncong telah diakui terbukti dengan diperolehnya Anugrah Seni dari Departemen P dan K.

Tahun 1973, sebagai pegawai pada Departemen P dan K, menjabat sebagai kepala Seksi Seni Suara Urusan pension, khusus di bidang keroncong.

Tahun 1975, terlah terbit buku Indonesia Yang Kucinta. penghimpun M. Pardosi Siagian, penerbit Penyebar Musik Indonesia, Yogyakarta.

Januari 1977, memperoleh Piagam penghargaan atas segala bantuan dan pengabdiannva pada Sekolah Menengah Musik di Yogyakarta dikeluarkan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan dan ditandatangani oleh Drs Sunaijo M.Sc.

Tahun 1978, Kusbini telah menulis naskah Keroncong Indonesia : Sejarah dan Perkembangannva yang disusun sejak tahun 1924 sampai tahun 1978.

Tahun 1978, Mengenai lagu “Bagimu Negeri” ciptaan Kusbini ini pernah terjadi kesalahpahaman di dalam masyarakat baik mengenai notasinya, maupun judulnya, pernah dihebohkan tentang penciptanya antara Kusbini atau J. Semedi. Namun demikian Kusbini tetap bertahan berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta tahun 1912 yang tetap masih berlaku sampai sekarang, maka jelas Kusbinilah yang memiliki “Hak Cipta” atas lagu “Bagimu Negeri” (1942) dan juga lagu- lagu lain ciptaannya.

4 April 1979, memperoleh Piagam penghargaan atas pengabdiannva pada bidang seni suara keroncong dalam rangka Ketahanan Nasional dikeluarkan oleh Panglima Komando Wilayah Pertahanan II, Letjen Widodo.

Tahun 1979 UP (Urusan Penerbitan) Indonesia Yogyakarta mulai menerbitkan himpunan lagu- lagu bersama kawan-kawan.

Pada usia lanjut ini Kusbini tidak lagi tampak mencipta lagu-lagu baru, tetapi masih tetap bekerja menyusun berbagai sistem dan metode bermain musik disanggar Olah Seni Indonesia. Ia telah menemukan sistemnya sendiri dalam bermain gitar dan biola dan diajarkan di sanggamya dengan berhasil. Ia juga menekuni sistem bermain kelintang dan angklung untuk tenaga pengajar maupun untuk para murid-muridnya.

Tahun 1951, Kusbini mendirikan Sanggar Olah Seni Indonesia (OSI), dalam masa pensiunnyaKusbini tidak pernah lelah atau capek karena musik, tanpa memaksakan diri Kusbini masih tetap tegar membimbing murid-muridnya di bidang pendidikan musik di sanggar OSI di rumahnya sendiri yang sederhana di Jalan Pengok Yogyakarta.

40 tahun di sana Kusbini bersama istrinva tercinta bernama Ngadiyem dan sebelas orang putra-putrinya menerapkan konsep pendidikan musik yang aartistik, idiil, religis, histens dan pelitis Dengan prinsip itu pendidikan-pendidikan tidak hanva diarahkan untuk menjadi instrumentalis atau vokalis saja, tetapi juga ke arah bangsa yang kuat dalam membawakan kebudayaannya.

Banyak sudah yang telah diperbuat oleh si buaya keroncong ini, yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk meningkatkan citra seni di Indonesia. Dari membangkitkan semangat patnotisme, cinta tanah air, sampai kepada tanggung jawab yang besar dalam mempertahankan mutu dan nilai kepribadian Indonesia dalam budaya seni musik kita.

Hasil dari gemblengan Kusbini melalui sanggar OSI-nya, lahirlah seniman-seniman musik yang tangguh dan berpengaruh, antara lain MP. Siagian, Ketua Komponis Nasional Indonesia, penyanyi seriosa Prawaningrum, penyanyi keroncong Subardjo HS dan banyak lagi yang lain-lain.

Daftar Pustaka

1.          Kamajaya, Sejarah Bagimu Negeri, Lagu Nasional, Penerbit U.P Indonesia,Yogyakarta, 1979.

2.          Kusbini, 16 Lagu wajib, Penerbit U.P Indonesia, Yogyakarta, 1966.

3.          Kamajaya, Riwayat Hidup Kusbini, U.P Indonesia, Yogyakarta, 1965. 4 Harian Kompas Minggu, 30 Desember 1979, Kusbini.

4.          Dibukukan, Siapa Pencipta Lagu Bagimu Negeri, Sinar Harapan Minggu, 8 April 1979.

5.          Tim Penulis, Butet Kartaredjasa dkk, 33 Profil Bu day a wan Indonesia. Penerbit Direktorat Televisi c/q Televisi RI Stasiun Yogyakarta, PT. Pustaka Sinar Harapan, PT. MTU Harian Suara Pembaharuan, PT. Gramedia-Devisi Penerbitan Buku, Percetakan PT. Intermasa, Jakarta. 1990.

6.          S. Sumardi, Drs. Sarijah Bintang Sudibyo (Ibu Sud) karya dan pengabdiannva, Depdikbud, Ditjarahnitra, Proyekl SDN, Jakarta, 1984.

Ensiklopedi Tokoh Budaya,  Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktoratsejarah Dan Nila1tradisional Proyekinventar1sasi Dan Dokumentasisejarah Nasional, Jakarta 1994, hlm. 159-164