Batik Mojokerto

Mojokerto merupakan salah satu kota di provinsi Jawa Timur yang terletak 50 km arah barat daya dari Surabaya. Mojokerto merupakan kota yang istimewa dalam sejarah Indonesia karena kota ini dulunya merupakan ibukota dari Kerajaan Majapahit, yang merupakan salah satu kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Indonesia. Kerajaan Majapahit meninggalkan banyak peninggalan bersejarah, salah satunya adalah seni membatik.  Batik Mojokerto adalah batik khas dari Kota Mojokerto yang memiliki keunikan yaitu memiliki motif yang digali dari tradisi kebudayaan Kerajaan Majapahit, mengadaptasi elemen-elemen yang ada dalam Kerajaan Majapahit diantaranya adalah Surya Majapahit, bunga Teratai, buah Maja, dan masih banyak lagi. Selain itu, motif dari batik ini mengambil tema dari kehidupan sekitar Kota Mojokerto. Sangat disayangkan keberadaan batik Mojokerto kurang atau bahkan tidak diketahui oleh masyarakat sekitar baik yang berasal dari Kota Mojokerto maupun luar Kota Mojokerto. Hanya sebagian orang yang mengetahui keberadaan dari batik ini dan menyebarkannya dari mulut ke mulut.

Batik Mojokerto sempat dipamerkan di Australia pada tahun 2007 dan mulai berkembang dengan sederet nama motif yang unik dan khas seperti Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Pring Sedapur, Surya Majapahit, dan masih banyak lagi. Batik ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai identitas atau ciri khas dari Kota Mojokerto Beberapa nama motif batik Mojokerto memiliki kesamaan nama motif dengan batik yang berasal dari daerah lain seperti motif Pring Sedapur ditemukan juga pada batik motif batik lain. Namun terdapat perbedaan antara motif Pring Sedapur dari daerah Mojokerto dengan motif Pring Sedapur daerah lain. Dari warna dasarnya, untuk motif Pring Sedapur Mojokerto menggunakan warna dasar putih dan dominasi warna cokelat pada motifnya sehingga memiliki kesan klasik sedangkan pada motif Pring Sedapur daerah lain memiliki warna dasar jingga dengan dominasi warna hitam pada motifnya. Selain itu, dalam setiap bentukan motif yang ada pada motif Pring Sedapur Mojokerto kaya akan ornamen dan sudah dimodifikasi untuk menghilangkan kesan kaku berbeda dengan motif Pring Sedapur Magetan yang masih menggambarkan bentukan motif menyerupai bentuk aslinya. Kini Pemerintah mulai memperhatikan keberadaan batik ini dan mulai mengenalkan batik ini kepada masyarakat sekitar melalui pengadaan pelajaran membatik dan pelatihan membatik untuk anak-anak dan ibu rumah tangga.
Batik Mojokerto merupakan salah satu batik Indonesia, yang konon terlahir di Majapahit, awalnya adalah batik keraton. Namun seiring runtuhnya kerajaan Hindu batik keraton Majapahit    menyingkir dari wilayah pusat kerajaan terbesar di Nusantara ini. Mojokerto sendiri yang merupakan petilasan Majapahit, ditinggalkan oleh para nenek moyang mereka para empu batik.

Belakangan seni membatik mulai muncul lagi di Mojokerto yang dihidupkan oleh generasi baru. Dari literatur lama diperoleh catatan bahwa pada tahun 1920-an di daerah Mojowarno, ada seorang Nyonya berkebangsaan Belanda (tertulis sebagai Mevrouw Kats) yang membuka kursus batik cap di kalangan masyarakat setempat. Namun batik cap ini setelah ditelusuri hingga kini berkembangnya justru ke arah Jombang.

Munculnya kembali seni membatik di Mojokerto justru berangkat dari berkembangnya seni kerajinan (craft) di wilayah ini. Pembatik Mojokerto sendiri banyak yang tidak tahu apakah batik yang mereka kerjakan itu adalah asli digali dari Mojokerto atau justru motif-motif yang mereka kerjakan berdasarkan pesanan konsumen sejak bertahun-tahun yang lalu. Oleh karenanya sulit untuk mengetahui asal usul motif yang berkembang dan populer di situ. Masalah ini bukan hanya terjadi di Mojokerto saja, tetapi juga merupakan kendala yang dihadapi di daerah lain.

Namun demikian yang patut diapresiasi kalangan Batik Mojokerto saat ini sedang berkembang sederet nama motif batik seperti Gedheg Rubuh, Mrico Bolong, Gringsing, Surya Majapahit, Alas Majapahit, Lerek Kali, Bunga Matahari (kadang hanya disebut Matahari), Koro Kenteng, Rawan Inggek, Bunga Sepatu, Kawung Cemprot, dan Pring Sedapur.

Ciri Khas Batik Mojokerto Menurut Ernawati, salah satu pengrajin batik Mojokerto, motif batik Mojokerto mengambil corak atau motif dari alam sekitar kehidupan manusia yang mampu memberikan gambaran mengenai ciri daerah Mojokerto. Beberapa corak atau motif yang digunakan antara lain motif berbentuk bunga teratai yang merupakan lambang Kerajaan Majapahit, motif berbentuk Surya Majapahit yang merupakan logo atau lambang dari Kerajaan Majapahit, motif berbentuk buah maja yang merupakan buah khas Majapahit yang menjadi asal kata Majapahit sendiri, tempat duduk sembilan dewa pada saat bersemedi, tempat duduk dewa-dewi saat turun ke bumi, dan masih banyak lagi. Untuk ciri khas motifnya adalah motif Sisik Gringsing dan motif Mrico Bolong. Dalam satu motif batik Mojokerto, isen-isen yang biasa digunakan adalah cecek, sawutan, kembang pacar, kembang suruh, dan ukel.

Motif Batik Mojokerto

 

  1. batik-mojokerto-motif-mrico-bolongMotif Mrico Bolong; Motif ini diberi nama Mrico Bolong karena memiliki latar berupa bulatan-bulatan kecil seperti merica yang tampak berlubang. Yang menjadi motif utama adalah burung dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan berwarna cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  2. batik-mojokerto-motif-sisik-gringsingMotif Sisik Gringsing; Motif ini diberi nama Sisik Gringsing karena memiliki latar berbentuk seperti sisik ikan. Yang menjadi motif utama adalah burung dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini memiliki kesamaan dengan motif Mrico Bolong dari segi motif utama dan motif pelengkapnya namun yang membedakan keduanya adalah latar dari kedua motif ini. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  3. batik-mojokerto-motif-pring-sedapurMotif Pring Sedapur; Motif ini diberi nama Pring Sedapur yang diambil dari rumpun bambu yang menjadi motif utama sedangkan motif pelengkapnya adalah burung merak yang bertengger di rumpun bambu tersebut. Latar dalam motif ini dibuat dengan cara meremukkan malam yang digunakan untuk menutup latar kain sehingga warna lain bisa dimasukkan dan menimbulkan kesan retak-retak. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  4. batik-mojokerto-motif-rawan-inggekMotif Rawan Inggek; Motif ini diberi nama Rawan Inggek karena memiliki latar berupa garis yang berkelok-kelok. Garis yang berkelok-kelok ini disebut rawan, yang berasal dari kata “rawa” yang mendapat imbuhan “an”. Yang menjadi motif utama adalah burung dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu dan surya majapahit.
  5. batik-mojokerto-motif-kawung_rambutanMotif Kawung Rambutan; Motif ini diberi nama Kawung Rambutan sesuai dengan latarnya, kawung cenderung berbentuk kotak dengan ujung yang agak membulat. Kawung tampak pada motif garis-garis berbentuk kotak yang terdapat bulatan dengan srungut-srungut. Dengan adanya srungut-srungut itu maka diberi nama Kawung Rambutan. Yang menjadi motif utama adalah rangkaian bunga beserta daun-daunnya sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu.
  6. Motif Teratai Surya Majapahit; Motif ini diberi nama Teratai Surya Majapahit karena menampilkan elemen-elemen yang merupakan lambang dari Kerajaan Majapahit yang didominasi oleh bunga teratai dan surya majapahit. Yang menjadi motif utamanya adalah ayam bekisar, bunga teratai, tempat duduk dewa-dewi serta surya majapahit sedangkan motif pelengkapnya adalah buah maja. Motif ini menggunakan isen-isen cecek pada latarnya.
  7. Motif Kembang Dilem; Motif ini diberi nama Kembang Dilem karena terinspirasi dari tanaman dilem, berupa daun dan tidak berbunga, yang digunakan untuk pewangi pada batik sedangkan kembang berasal dari bunga-bunga kecil yang tampak dari motif ini. Bunga-bunga kecil itu merupakan motif pelengkap dan motif utamanya adalah daun dilem.
  8. Motif Matahari; Motif ini diberi nama Matahari karena didominasi oleh motif berbentuk bunga matahari. Motif bunga matahari itu merupakan motif utama sedangkan kupukupu di sini menjadi motif pelengkap saja. Untuk latarnya berupa warna hitam polos tanpa adanya isenisen.
  9. Motif Merak Ngigel; Motif ini diberi nama Merak Ngigel karena motif utamanya adalah burung merak yang saling berhadaphadapan. Untuk motif pelengkapnya berupa kupukupu dan bunga-bunga. Latar dari motif ini didominasi oleh isen-isen kembang pacar dan cecek dengan warna biru.
  10. btmo-koro-rentengMotif Koro Renteng; Motif ini diberi nama Koro Renteng karena motif utamanya adalah buah koro yang ditunjukkan oleh bulatan-bulatan kecil bewarna cokelat yang di dalamnya terdapat isen-isen cecek sebanyak tiga cecek sedangkan renteng menunjuk pada daun yang di-renteng (disusun berjajar). Motif ini memiliki latar polos bewarna putih yang terlihat seperti didominasi oleh isen-isen sawutan yang terdapat pada tepian setiap bentukan motif.
  11. Motif Rantai Kapal Kandas; Motif ini diberi nama Rantai Kapal Kandas karena motif utamanya adalah rantai dan motif pelengkapnya berupa bagian-bagian kapal yang sudah hancur (kandas). Motif ini memiliki latar polos dengan warna putih tanpa adanya isen-isen.
  12. daun_talas_batik_tulis_bahan_cotton_size_225m_x_110mMotif Daun Talas; Motif ini diberi nama Daun Talas karena motif utamanya berupa daun talas. Daun talas sendiri merupakan daun dari tanaman umbi-umbian yang berdaun lebar yang sering dijumpai di Kota Mojokerto. Motif pelengkap dari motif ini adalah buah talas. Untuk latarnya menggunakan warna biru dengan isen-isen cecek.
  13. Motif Gerbang Mahkota Raja Motif ini diberi nama Gerbang Mahkota Raja karena terdapat bentukan gerbang dan mahkota raja yang menjadi motif utama sedangkan motif pelengkapnya adalah bunga teratai, buah maja, ayam bekisar, dan kupu-kupu. Gerbang disini merupakan pintu masuk ke Kerajaan Majapahit yang di dalamnya terdapat beragam budaya, mahkota raja sebagai tanda kebesaran yang dipakai oleh raja-raja Majapahit. Bentukan motif yang ada di dalam kain batik ini merupakan elemen-elemen dari Kerajaan Majapahit. Untuk latarnya didominasi oleh isen-isen kembang pacar dan cecek.
  14. Motif Surya Majapahit; Motif ini diberi nama Surya Majapahit karena motif utamanya berupa surya majapahit yang merupakan lambang dari Kerajaan Majapahit yang sering dijumpai pada candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit. Surya Majapahit berbentuk cakra segi delapan ini merupakan gambaran dari 9 dewa yang dipuja oleh penduduk Majapahit. Untuk motif pelengkapnya berupa buah maja. Latar dari motif ini berwarna hitam polos tanpa adanya isen-isen.
  15. Motif Rawan Klasa; Motif ini diberi nama Rawan Klasa karena latarnya berbentuk menyerupai anyaman tikar (klasa). Yang menjadi motif utama adalah sepasang sawat yang menyerupai sayap burung garuda yang memberi kesan gagah sedangkan motif pelengkapnya berupa daun dan bunga-bunga kecil di sekitarnya. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  16. Motif Alas Majapahit; Motif ini diberi nama Alas Majapahit karena menggambarkan keadaan atau suasana hutan (alas) di mana di dalam hutan terdapat berbagai hewan dan tumbuhan. Yang menjadi motif utama adalah motif yang berbentuk hewan dan bunga sedangkan motif pelengkapnya adalah buah maja, kupu-kupu kecil, dan bunga-bunga kecil. Motif ini memiliki latar dengan isen-isen cecek.
  17. Motif Bin Pecah; Motif ini diberi nama Bin Pecah karena memiliki latar dengan bentukan seperti ubin dalam keadaan pecah (berbentuk seperti segitiga). Yang menjadi motif utama adalah rangkaian daun kelapa, burung, dan bunga teratai sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  18. Motif Merak Gelatik; Motif ini diberi nama Merak Gelatik karena motif utama berbentuk burung gelatik yang kecil namun memiliki ekor panjang seperti burung merak. Motif pelengkapnya adalah bunga-bunga dan daun-daun. Latar motif ini berwarna putih polos tanpa adanya isen-isen. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  19. Motif Kembang Suruh; Motif ini diberi nama Kembang Suruh karena motif ini memiliki latar yang didominasi oleh isen-isen kembang suruh. Motif utamanya adalah bunga dan daun-daun sedangkan motif pelengkapnya adalah kupu-kupu. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  20. Motif Ukel Cambah; Motif ini diberi nama Ukel Cambah karena motif ini didominasi oleh latar dengan isen-isen ukel yang menyerupai bentuk kecambah. Motif ini hampir serupa dengan motif Kembang Suruh, hanya terdapat perbedaan pada isen-isen yang mendominasi latarnya. Motif ini diberi warna sogan (dominan cokelat) sehingga menimbulkan kesan klasik.
  21. Motif Sekar Jagad Mojokerto; Motif ini diberi nama Sekar Jagad Mojokerto karena motif utamanya berupa bunga teratai, buah maja, dan surya majapahit yang kesemuanya merupakan elemen dari Kota Mojokerto. Motif pelengkapnya adalah motif di luar dari elemen-elemen Kota Mojokerto yang sudah ada. Motif ini terkesan padat dan ramai seperti kondisi alam semesta (jagad raya).
  22. kembang_mojo_Motif Kembang Maja; Motif ini diberi nama Kembang Maja karena motif utamanya adalah kembang yang diwakili oleh bunga matahari (bunga yang tidak diberi warna) dan buah maja yang merupakan buah yang menjadi asal nama Majapahit.

 

Batik Mojokerto konon telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit, namu seiring runtuhnya kerajaan ini, keberadaan batik Mojokerto mulai tersingkir keberadaannya. Belakangan seni membatik muncul  dan berkembang lagi di Mojokerto yang diawali oleh generasi baru yang mewarisi tradisi turun temurun dari generasi sebelumnya.

Sebagai tradisi yang dimiliki oleh Mojokerto ini patut untuk dijaga kelestariannya sehingga kelak batik Mojokerto lebih dikenal oleh masyarakat luas.  Hadirnya wacana baru untuk mengenalkan batik Mojokerto kepada masyarakat secara luas khususnya para pecinta batik. Diharapkan mampu menarik perhatian sasaran kawulamuda sehingga mereka mengenal dan ikut melestarikan batik Mojokerto.

 

—————————————————————————————————————–Perancangan Buku Tentang Batik Mojokerto./ Fransisca Luciana Santoso, Bramantya, Ryan Pratama Sutanto.
Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra, Surabaya – STK Wilwatikta Surabaya

Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto

Masjid-Agung-Al-Fattah

Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto terletak di jalan KH Hasyim As’ary 1, Kauman, Kota Mojokerto ini merupakan tempat ibadah umat Muslim tertua, dperkirakan berusia lebih dari satu abad. Masjid yang terletak persis di sisi barat Alun-alun  kota Mojokerto. Masjid Agung Al-Fattah didirikan oleh pada saat kepemimpinan Bupati Mojokerto RAA Kromojoyo Adinegoro. pembuktian tersebut dikuatkan dari catatan surat almarhum Mohammad Thohar, Panitera Pengadilan Negeri  yang sekaligus Pengurus Kas Masjid. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid ini dilakukan pada Ahad Pon 7 Mei 1877 atau 1294 Hijriyah. Pembangunan masjid ini memakan waktu yang cukup lama, hampir satu tahun. Karena mulai dari peletakan batu pertama seperti tersebut diatas baru bisa dipakai kali pertama salat pada 12 April 1878 M/1295 H.

Arsitektural pada bagian dalam interior Masjid terdapat Empat soko guru atau tiang penyangga setinggi 20 meter tanpa Sambungan sampai sekarang masih kokoh berdiri sebagai saksi sejarah, kayunya didapatkan dari Hutan Jabung. Soko Guru di sebelah barat daya merupakan wakaf dari Mbok Rondo Dadapan yang tinggal di Kecamatan Jetis. Seorang pengusaha perempuan pada waktu itu. Tampilan eksterior berupa kubah Stupa Limasan merupakan ide dari Raden Aeresedan putra dari Raden Bagus Anom Kromojoyo Adinegoro II dalam melakukan syi’ar agama Islam. Saat itu beliau memegang wilayah Kabupaten Lamongan, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang. Sehingga bentukan atap Stupa Limasan masjid pada tiga wilayah tersebut, memiliki bentuk kubah yang serupa. Hali ini dibuktikan dengan peninggalan prasasti yang masih bertahan, terdapat di masjid Baitul Amin yang berada di Perak-Jombang, serta masjid di Gemek Sooko-Mojokerto, berupa papan dengan aksara jawa, arab, latin juga di Masjid Al Mustofa di Losari Terusan-Mojokerto, dan Kubah Masjid Agung Kota Lamongan sampai sekarang masih dipertahankan.

Tanggal 1 Mei 1932, pertama kalinya masjid ini direnovasi oleh panitia pemugaran yang terdiri dari Bupati Kromojoyo Adinegoro dan diresmikan pada 7 Oktober 1934 oleh M.Ng Reksoamiprojo, pada masa bupati IV – V. Tanggal 11 Oktober 1966, masjid ini diperluas oleh R Sudibyo dan diresmikan pada 17 Agustus 1968. Setahun kemudian, tepatnya 15 Juni 1969 Bupati Mojokerto RA Basuni juga melakukan perluasan lagi, peresmian dilakukan bertepatan dengan moment peringatan 17 Agustus 1969. Perjalanan sejarah berdirinya masjid hingga setelah hampir 100 tahun berdiri, ternyata masjid ini masih belum memiliki nama. Kemudian melalui seorang Ulama terkenal ialah KH Achyat Chalimy pengasuh Ponpes Sabilul Muttaqin memberi nama masjid ini dengan nama Masjid Jami’ Al Fattah.

Tanggal 4 April 1986, pada masa jabatan Wali Kota Mojokerto Moh. Samiuddin bangunan masjid Jami’ Al Fattah mengalami pemugaran lagi, pemugaran tahap I. dilanjutkan pemugaran tahap II di lokasi sebelah timur atau depan masjid.  Pada masa pemerintahan walikota ini pulalah istilah Masjid Jami’ diganti dengan Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto.

Masjid Agung Al Fattah yang merupakan Masjid Waqaf  Kota Mojokerto tersebut, di kuatkan dalam Surat Sertifikat Waqaf  No. 559 diserahkan waqaf dari Haji Achmad Rifa’i Kepada Nadzir dengan susunan kepengurusan Haji Achmad Rifai sebagai Ketua Nadzir, Moch. Soeparlin sebagai sekretaris, H. Mas’ud sebagai Bendahara   yang diterbitkan pada 10 Juni 1994, selanjutnya Nadzir menunujuk Ta’mir Masjid Agung Al Fattah sebagai pelaksana kegiatan, dan untuk selanjutnya akan diperbaharui sesuai masa kepengurusan organisasi Takmir Masjid Agung Al Fattah selanjutnya. Selain itu Masjid Agung Al-Fattah Kota Mojokerto mengemban VISI dan MISI sebagai berikut.

VISI DAN MISI

MASJID AGUNG ‘’AL FATTAH ’’

Visi

Terwujudnya Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto sebagai tempat ibadah, pengembangan berbagai ilmu Pengetahuan  dan Pembangunan sosial keagamaan yang berasaskan Islam ahlus sunnah waljamaah

Misi

  1. Meningkatkan fungsi dan aktifitas masjid sebagai tempat peribadatan, dakwah, pendidikan, pengembangan kebudayaan, tempat musyawarah dan kegiatan sosial.
  2. Membangun suatu system pembinaan keilmuan yang mampu menghasilkan intelektual muslim yang berakhlakul karimah dan sanggup menghadapi tantangan
  3. Menjadikan Masjid sebagai media dakwah serta menjadi filter terhadap munculnya aliran Islam yang mengarah pada faham sekulerisme serta terjadinya pendangkalan agama dariberbagai sudut dan
  4. Menggali dan mengembangkan potensi jamaah masjid, sebagai upaya meningkatkan kwualitas kehidupan sosial ummat Islam serta sebagai upaya memakmurkan
  5. Memberikan pelayanan terbaik bagi ummat atas bernagai problema kehidupan yang mereka hadapai, sehingga mereka mendapat keamanan, kenyamanan, kemudahan serta ketentraman.

Setiap Rabu, diselenggarakan pengajian di tempat ini. Salah satu khotibnya adalah KH Masud Yunus yang lebih dikenal dengan panggilan Yai Ud (menjadi walikota Mojokerto  periode 20..-20..). , beliau sering memberi tauziyah saat pengajian Rebu, Orang nomer satu di Pemkot ini mempunyai jamaah pengajian yang dinamakan Al Umahaj. Hampir 10 ribu jamaah aktif.

Masjid Al-Fattah saat ini telah dilengkapi dengan fasilitas yang meliputi:

  • Perpustakaan,
  • taman pendidikan Al-Quran,
  • poliklinik,
  • koperasi,
  • tempat melaksanakan akad nikah.

Masjid Agung Al Fattah berusia lebih dari satu abad ini mulai 28 Mei 2015 di rehab dan direncanakan rampung akhir tahun 2018 mendatang, dalam rehabilitasi nantinya akan dilengkapi dengan empat kuba. Warna hijau akan mendominasi bangunan peribadatan yang berstatus waqaf,

Dari desain terlihat rehabilitasi akan mengubah drastis penampilan luar, Masjid Agung Al Fattah yang semula hanya memiliki satu menara itu akan dirombak menjadi bangunan baru lengkap dengan dua menara megah di sudut belakang. Nantinya masjid ini berlantai dua dengan empat kuba, dengan satu kuba utama. Rehabilitasi itu melibatkan arsitek yang memahami lanskap sejarah budaya masjid agung agar nilai historisnya tetap terjaga.

Meskipun terhitung rehab berat, namun nilai historis masjid tetap dijaga.  Rehabilitasi masjid agung masjid seluas 2.874 meterpersegi ini, mengembalikan khazanahnya sebagai ikon Kota Mojokerto. Zona inti masjid tetap dipertahankan, soko guru atau tiang penyangga akan tetap dipertahankan.  Panitiaan rehab dikawal 46 anggota kepanitiaan dari berbagai unsur dan elemen masyarakat, antara lain Wakil Gubernur Jawa Timur, Walikota Mojokerto dan unsur Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), para kyai dan tokoh masyarakat proaktif melakukan penggalangan dana. Diantaranya, membuka rekening donasi dan kupon donasi infaq dan sodaqoh.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi Dian K: Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2013

dari:
Profil Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto
Brosur  Panitia Rehab Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto
Nara sumber:
Bpk. Choirul Anwar / Pertengahan 2015.

Loro Pangkon

Sangat beragam adat pengantin di Jawa Timur salah satunya adalah upacara adat temu temanten di Kota Mojokerto, yang selalu dilaksanakan secara tradisional secara turun temurun.
Upacara tersebut dilengkapi dengan berbagai persyaratan yang harus dipatuhi oleh semua pihak baik kedua mempelai maupun semua pelaksana upacara tradisi tersebut.
Sebelum mempelai pria dipertemukan, terlebih dulu diarak mengelilingi desa, membawa perlengkapan, berupa 2 buah kembar mayang, 2 pucuk tombak, pelarang, jodhang, lara pangkon, dan pengiring secukupnya.
Lara pangkon sebagai akronim dari lara sadurunge kelakon. Lara pangkon diperagakan oleh 2 orang membawa jago-jagoan yang dihias sedemikian rupa, dan dilengkapi sebuah bokor berisi beras kuning.
Peragaan itu diawali gending Jula-Juli Surabayan. Salah seorang pelaku menggendong jago-jagoan dan menari tari Remo. Sementara itu datang seorang pelaku lain menyambutnya.
Isi percakapan dua orang pelaku ialah serah terima pengantin laki-laki kepada pihak keluarga pengantin perempuan.

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya, Surabaya Intelektual Club (SIC), Surabaya, 2008, hlm. 263

Busana Pengantin Mojokerto

Terdapat versi lain mengenai busana pengantin Mojokerto. Busana pengantin Mojokerto terdiri dari elemen-elemen masa kejayaan Majapahit dan modifikasi busana tempo dulu. Penutup kepala berbentuk blangkon meruncing ke depan/ke atas (model serban), bagian belakang terdapat dua pelipitan yang posisinya menjorok ke bawah (samping kiri-kanan) dengan dasar motif gringsing.

Baju takwa dengan potongan leher tegak berlengan panjang dan bersaku tiga, dihias kancing emas berlambang surya Majapahit.Celana panjang model potongan biasa/kolor (dari mata kaki sampai pinggang). Kain sinjang batik gringsing yang digunakan sebagai pelengkap busana khas pria, dipakai dari pinggang sampai di atas lutut, dilipat tanpa diulur ke bawah dan lipatannya agak’dilebihkan ke kanan serta memakai sabuk otok. Alas kaki berupa selop/cripu (sepatu polos).

 

Busana pengantin Pria

Busana pengantin pria adalah tutup kepala berupa kulukdengan motif garudha mungkur warna dasar kuning emas, dihiasi perrru (putih, hijau, kuning), sumping motif bunga cempaka, kalung bersusun  kelat bahu dengan motif ceplok bunga teratai atau simbar dengan war kuning emas. Cincin 2 buah salah satu dipakai di jari telunjuk, kain penuti badan berupa baju beskap lengan panjang dengan potongan kerah berd dibagian tengah terbuka dihiasi benang emas, berkancing dinar berlambai suiya Majapahit.

Celana panjang agak komprang dipakai di bagian dalam dc ditutup dengan kain kampuh/dodot terdiri dua lapis dengan motif bat gringsing yang diprada warna emas dengan motif bunga-bunga sebag, ciri khas Mojokerto. Wastra atau bebed motif sulur bunga cempak dengan warna emas, dapat dikombinasi warna hijau pradan. Ikatpinggang/sabuk pendhing motif gringsing dari kain sutra atau liner bagian tepi diberi warna kuning emas. Senjata berupa keris disesuaika: warna kuning pada sarung kerisnya, dipakai di bagian depan, lilitai bulat di bagian depan dan panjang di sisi samping kanan/kiri dihias benang/monte warna emas. Alas kaki, selop dengan warna disesuaikan dan dihias dengan monte/benang warna emas.

Busana Pengantin Wanita

Berikut ini deskripsi mengenai buasana pengantin wanita Mojokerto. Pada bagian kepala dibentuk sanggul keling yang mengepal ke atas dan diulur lepas ke bawah sampai di pinggul dan dililit dengan untaian bunga melati serta diberi rangkaian karang melok pada sisi kanan-kiri dan dilengkapi cucuk mentul motif bunga cempaka serta motif ronyok yang diberi permata warna- wami (kuning, hijau dan merah). Hiasan kepala bagian depan berupa jamang, kancing gelung motif garudha mungkur yang pada garis bawahnya diberi untaian permata (wama hijau, kuning dan merah/putih) atau dihiasi dengan kain beludru lima lengkung, subang/giwang motif ronyok dengan hiasan permata (kuning, hijau dan merah), Sumping motif bunga cempaka wama disesuaikan, penutup badan berupa baju panjang sampai batas lutut, dihiasi benang/manik wama emas dengan motif sulur bunga campaka dan motif surya Majapahit, dilengkapi dengan bros/paniti renteng (ceplok bunga anggrek).

Sinjang motif gringsing warna cerah dan hijau, wastra wama merah cerah dengan hiasan benang/monte warna emas. Kampuh motif ceplok bunga cempaka/ anggrek diprada warna emas. Koncer motif cawuto berwarna hitam dapat digunakan kain sutra. Kemer/punding diberi perhiasan tiruan permata (warna kuning, hijau dan merah). Manggala dari kain kasa tipis/kain sutra warna disesuaikan. Gelang tangan motif kuno/sigar menjalin dihiasi dangan permata tiruan (kuning, hijau dan merah). Kelat bahu motif
tridhatu yaitu untaian tiga warna/tiga unsur. Cincin dapat dibuat motif ganda, memakai kalung dangan motif kebon raja dan untaian bunga melati dangan motif cengkehan. Alas kaki, selop dihiasi manik/monte/benang warna emas.

 

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 79-81

Kota Mojokerto 1918-1999

Tahun 1918, Pemerintahan Kota Mojokerto berstatus sebagai staadsgemente, berdasarkan keputusan Gubernur Jendral Hindia Belanda Nomor 324, tanggal 20 Juni 1918.

8 Mei 1942 – 15 Agustus 1945, Pada masa Pemerintahan Penduduk Jepang berstatus Sidan diperintah oleh seorang Si Ku Cho.

Tahun 1945 – 1950,  zaman revolusi Pemerintah Kota Mojokerto di dalam pelaksanaan Pemerintah menjadi bagian dari Pemerintah Kabupaten Mojokerto dan diperintah oleh seorang Wakil Walikota disamping  Komite Nasional Daerah.

14 Agustus 1950,  Daerah Otonomi Kota Kecil Mojokerto berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1950.

Tahun 1957-1965, menurut Undang-Undang Nomor 1, Tahun 1957 . berubah status sebagai Kota Praja Mojokerto

Tahun 1965-1974, berubah menjadi Kotamadya Mojokerto Setelah dikeluarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965.

Tahun 1974-1999, berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Mojokerto berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.

Tahun 1999, dengan adanya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah, berubah Nomenklatur menjadi Pemerintah Kota Mojokerto.
=S1WhoT0=

Mbah Surip, Kota Mojokerto

mbahsurip6 Mei 1957, Urip Achmad Rijanto lahir di Mojokerto, Jawa Timur.  Selanjutnya lebih populer dengan panggilan Mbah Surip. anak keempat dari tujuh bersaudara dari Sukotjo (alm.) dan Rasminah (alm.) tinggal di Jalan Magersari Gang Buntu, kelurahan Magersari, Mojokerto, Jawa Timur. beserta keluarga besarnya.

Tahun 1970, Urip menyelesaikan sekolahnya di SD Negeri Purwotengah II , kehidupan masa kecilnya tergolong sulit dia harus bekerja membantu orang tuanya yang berjualan kikil sejak kecil. Dia sempat bekerja sebagai pedagang asongan.

Tahun 1974, Urip lulus Sekolah Teknik Pasna Wiyata.

Tahun 1977, Urip kemudian lulus STM Brawijaya.

Tahun 1979, Urip kuliah di Fakultas Teknik Mesin Universitas Sunan Giri Cabang Mojokerto (sekarang lokasi SMK Raden Patah).

Urip menikah dengan Minuk Sulistyowati Setelah lulus kuliah, dan dikaruniai empat anak, antara lain Tita, Farid (yang kemudian menjadi manajer Urip di Jakarta), Krisna, dan Ivo Winda. juga sebagai kakek dengan empat cucu. Meski sudah memiliki empat anak, saat itu Urip masih belum memiliki pekerjaan tetap. Urip sempat bekerja sebagai tukang sobek karcis di bioskop Indra di daerah alun-alun kota Mojokerto.

Mbah Surip pernah mendapatkan penghargaan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) untuk kategori menyanyi terlama. Ia pernah ikut membintangi beberapa film dan beberapa kali tampil di televisi.

Sebelum menjadi seniman, Mbah Surip mengaku pernah menjalani berbagai macam profesi. pernah bekerja di pengeboran minyak serta tambang berlian. Juga mengklaim memiliki gelar Doktorandus, Insinyur, dan MBA, serta pernah mengadu nasib di luar negeri seperti Kanada, Texas, Yordania, dan California, menciptakan lagu Tak Gendong saat berada di Amerika Serikat.

Tahun 80-an, Urip merantau ke Jakarta. Diduga karena merantau terlalu lama, istrinya yang berada di Mojokerto akhirnya memutuskan untuk bercerai. Setelah perceraian tersebut, Urip tetap menduda, tidak menikah lagi hingga ia menghembuskan napasnya yang terakhir.

Tahun 1997, mengeluarkan album Ijo Royo-Royo.

Tahun 1998, menyusul album Indonesia I dan Reformasi.,

Tahun 2003, album lagu Tak Gendong,  melejitkan Urip  dengan  gaya dan tertawanya yang unik. Lagu ini diciptakan pada tahun 1983, sewaktu di negara Paman Sam.

Tahun 2004, Barang Baru

Tahun 2009, Tak Gendong Bangun Tidur – Kompilasi

Tahun 2009, album singgel Dielus-elus

Selasa 4 Agustus 2009 pukul 10.30 WIB pagi, Mbah Surip tutup usia pada umur 52 tahun. Jenazah dimakamkan di pemakaman keluarga W.S. Rendra, di Depok, Jawa Barat yang lokasinya berdekatan dengan lokasi Bengkel Teater Rendra di Kampung Rawa RT 002/05 Cipayung Jaya, Cipayung, Depok, Jawa Barat.

=S1Wh0T0=

Kerajinan Clay, Mojokerto

Suparlik, Kades Tanjungan, Mojokerto, Tularkan Bikin Kerajinan

Suparlik, Kades Tanjungan, Kecamatan Kemlagi Mojokerto, getol menularkannya membuat kerajinan kepada ibu-ibu PKK dan karang taruna di desanya. Selain itu mengisi waktu, juga untuk tambahan menutup kebutuhan dapur “Hasil kerajinan tersebut dapat dijual mulai harga *Rp 1.500 sampai dengan Rp 20 ribu, “kata Suparlik, sambil menunjukkan karyanya.

Kerajinan clay berasal dari bahan tepung beras, tepung maizena, bensoat, dan lem sebagai perekat ini. Dari bahan-bahan itu dapat dibuat berbagai jenis kerajinan tangan, seperti gantungan kunci, tempat pensil, bros, jepit dan pigura. Menurut Suparlik, pembuatannya dilakukan secara berkelompok maupun perorangan, bisa dikerjakan di balai desa atau dibawa pulang ke rumah.

Hasil kerajinan kita jual melalui pameran baik di Mo­jokerto maupun di luar wilayah Mojokerto. Jika ada pesanan banyak maka akan dibuat bersama-sama. Namun j iga tidak ada, cukup menitipkan hasil kerajinan ke koperasi,” kata Suparlik, beberapa waktu lalu. Menurutnya, pembuatan kerajinan clay sangat mudah. Selain semua bahan mudah di­cari juga mudah membuatnya dan tidak membu­tuhkan waktu yang lama. Semua bahan dicampur kemudian dibentuk sesuai keinginan dan diberi warna. Kemudian hasilnya dikeringkan dengan cara diangin-angin selama dua jam.

“Setelah kering, kemudian dipernis agar hasil­nya bagus dan terhindar dari jamur. Satu jenis , hasil kerajinan tidak membutuhkan waktu hingga satu hari cukup beberapa jam saja, hanya menung­gu kering saja yang lama. Untuk jenis dan bentuk, dari kreasi kita sendiri. Biasanya kita cari dari gambar-gambar yang ada di sekitar,” kata Kades yang murah senyum ini.

Desa Tanjungan terletak di wilayah Utara Sun­gai Brantas dan dikenal memiliki obyek wisata Waduk Tanjungan. Selain menjadi kepala desa, ia aktif membina ibu-ibu tim pengerak PPK dan rem­aja Karang Taruna di desanya. Pembuatan keraji­nan clay dilakukan sejak tahun 2009 lalu. (bdh)

Taman Brantas Indah (TBI), Kota Mojokerto

Obyek wisata ini terletak di tepi “pantai” Kali Brantas, sekitar 1 kilometer dari alun-alun Kota Mojokerto.

Pada awalnya kawasan ini dimaksudkan sebagai sarana pendidikan air, namun setelahnya pada perkembangannya kemudian menjadi obyek wisata baru yang murah dan mudah dijangkau.

Secara resmi sampai saat ini masih berstatus di bawah pengelolaan Bappedalda Kabupaten Mojokerto.

Pengunjung bisa bersantai lesehan di pinggiran Kali Brantas, menikmati lalu lalang perahu pengangkut pasir, sambil menikmati sajian makanan dari warung/kios dengan layanan antar.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kota Mojokerto: 24 hours city tour, [Brosur], Surabaya: Bagian Perekonomian Pemerintah Kota Mojokerto, (2011).

Onde-onde, Kota Mojokerto

Onde-onde merupakan jajanan khas Mojokerto. Sejak dahulu  Mojokerto dikenal sebagai “kota onde-onde”. Hampir semua toko kue di Kota Mojokerto menyediakan jajanan ini. Yang paling terkenal adalah Onde-onde Boliem yang terletak di Jalan Niaga. Ke Kota Mojokerto tidak lengkap rasanya kalau belum mencicipi onde-onde.