MASJID JAMI’ BAITURRAHMAN NGRONGGI KABUPATEN NGAWI

Masjid Jami’ Ngngronggi-ngawironggi merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Ngawi yang didirikan oleh Kyai H. Nguzair pada tahun 1875  dengan kondisi yang amat sederhana dengan ukuran 8 x10 m, didinding dari gedek/sesek, atap dari sirap, lantai dari tanah, diatas lahan/tanah milik pribadi Kyai H. Nguzair di Dusun Ngronggi Desa Grudo, Kec. Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Indonesia, atau tepatnya di Jalan Harjono RT 01/02 Ngronggi Grudo Ngawi.

Kyai H. Nguzair mendirikan Masjid jami’ Ngronggi ini mempunyai makdsud dan tujuan untuk memberikan pengertian ajaran – ajaran Aga

 

ma Islam kepada masyarakat lingkungan setempat yang kurang bahkan jauh dari pengetahuan Agama Islam. Dengan keberadaan Masjid Jami’ di Ngronggi, syiar Agama Islam berkembang semakin luas, diawali dari lingkungan masjid sampai pada Desa-Desa sekitarnya seperti di Desa Beran, Ngale, Tempuran dan sekitarnya, selain itu karena Ngronggi berada dalam wilayah Kota Ngawi akhirnya oleh Pengulu kota Ngawi sekitar tahun 1900 Masjid Jami’ Ngronggi ditunjuk sebagai tempat kantor Pengulu dan urusan-urusan Agama Islam seperti masalah Perkawinan dan lain-lain.

Kyai H. Nguzair dalam mengelola Masjid tersebut dibantu para putranya Kyai H.  Abdullah, Kyai H.  Abdurrahman, serta Kyai Tohir. Pada tahun 1900 K.H. Nguzair wafat, selanjutnya dikelola oleh Putranya yaitu Kyai H. Abdullah dibantu oleh Kyai H. Abdurrahman. Pada masa pengelolaan Kyai H.  Abdullah, banyak perubahan-perubahan, mulai dari fisik bangunan masjid ada perbaikan yaitu dengan mengganti dinding gedek diganti papan, atap diganti genteng, tiang diganti kayu Jati dengan ukuran tinggi 7 m, lebar ditambah menjadi 12 x 12 m, kuncungan dibuat bentuk bulat kecil lancip dan dilengkapi mimbar ukiran serta ditambah bangunan Pondok Pesantren, sehingga syiar Agama Islam juga semakin meningkat.

Pada masa itu Pemerintahan masih dikuasai oleh Belanda sehingga syiar Agama Islam tidak mudah, hal ini tidak menyurutkan niat dan tekad Kyai H Abdullah, beliau mengembangkan ajaran-ajaran Agama Islam melalui perorangan, kelompok-kelompok kecil, maupun melalui keluarga.

Dikarenakan santri mulai bertambah sehingga th. 1912 Kyai H. Adullah mendirikan pondok pesantren berlokasi di sebelah utara masjid, pengajarnya selain Kyai H. Abdullah dibantu Kyai H.  Abdurrahman dan Kyai H. Tohir.   Setelah Kyai H. Abdullah wafat, pengelolaan masjid dilanjutkan oleh Kyai H. Abdurrahman dan Kyai H. Tohir sampai th. 1930.

Setelah K.H. Abdurrahman dan K.H. Tohir wafat pengelolaan masjid dilanjutkan oleh K.H. Hasbullah, antara th. 1930 sampai dengan tahun 1945. Pada periode ini difokuskan pada perbaikan serta pemeliharaan bangunan masjid yang dibiayai Swadaya murni. Tahun 1945 masa pemerintahan RI, syiar Agama Islam mendapat kebebasan penuh sehingga peningkatannya semakin meluas.

Tahun 1945, pengelolaan masjid diteruskan oleh K.H. Adnan yang dibantu K.H. Zaenuri, pada th. 1959 dilengkapi dengan Madrasah dengan guru ngajinya adalah Sdr Suroso, Kusaeri, Sudarno. Selanjutnya sarana bangunan masjid dilengkapi dengan gedung Madrasah yang didirikan secara swadaya murni oleh K.H. Adnan th. 1945 sd. 1974 serta dilengkapi bangunan untuk wudhu yang ditempatkan di sebelah utara Masjid, sekarang digunakan untuk gedung MI.

Semenjak Masjid Jami’ Ngronggi dilengkapi dengan sarana pondok pesantren dan Madrsah, Dusun Ngronggi menjadi sentral kegiatan syiar Agama Islam. Setelah wafatnya K.H. Adnan kemudian pengelolaan dilanjutkan oleh K.H. Masruh Hasbullah. Pada periode ini pengelolaan Masjid bertambah baik, yayasan serta takmir masjid telah terbentuk, hal ini merupakan upaya untuk memakmurkan masjid jami’ Baiturrahman Ngronggi, dengan maksud tujuan untuk:

  • Meningkatkan syiar Agama Islam
  • Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
  • Menumbuh kembangkan kreatifitas umat Islam khususnya Generasi Muda Islam
  • Sebagai pusat Informasi, Komunikasi dan Edukasi
  • Sebagai tempat pertemuan/rapat
  • Tempat memperingati Hari-Hari Besar Islam
  • Sebagai tempat Majelis Taklim
  • Tempat Kegiatan Sosial, dsb.

Perbaikan perubahan (renofasi) bangunan yang dialami Masjid Jami’ Ngronggi mulai th. 1974, antara lain:

  1. 1978 Penambahan bangunan untuk serambi depan ukuran 12 x 7 m, lantai Masjid induk semula dari batu kerek dan diplester, diganti dengan tegel abu-abu, semua biaya swadaya sebesar Rp.500.000,-, mendapat bantuan dari Pemerintah Daerah Kab. Ngawi sebesar Rp.50.000,-.
  2. 1994 Masjid Jami’ Ngronggi mengalami rehap dengan biaya sebesar Rp.25.000.000,- bantuan dana didapat dari Putra Daerah setempat yang bekerja di Jakarta yaitu Bapak H. Subandi putra dari Alm. Bpk.H. Ibrahim (Kasun Dusun Ngronggi) serta ditambah swadaya/partisipasi masyarakat yang berupa tenaga maupun material, rehap meliputi:
  • Dinding papan diganti tembok,
  • Genteng diganti genteng pres,
  • Menambah ruang Kantor,
  • Menambah ruang alat-alat Masjid,
  • Menambah ruang untuk serambi wanita,
  • Langit-langit (Pyan) diganti dari Eternit ,
  • Teras depan ditambah dan dibuat model lingkaran,
  • Lantai diganti tegel kembang,
  • Pengecetan seluruh bangunan masjid.

Rehab selesai dandiresmikan oleh Keluarga H. Ibrahim pada tanggal 3 Maret 1995. Untuk memperlancar kegiatan-kegiatan, Masjid Jami’ Baiturrahman telah dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana antara lain:

  • Papan nama Masjid ukuran 100 x 6 cm
  • Papan tanah wakaf ukuran 75 x 40 cm
  • Papan TPQ ukuran 75 x 40 cm
  • Kantor Ta’mir ukuran 3 x 6 m
  • Papan pengumuman ukuran 1 x 2 m
  • Papan jadwal khotib, imam, muadzin ukuran 75×40 cm
  • Papan jadwal petugas shalat rowatib ukuran 75×40 cm
  • Perlengkapan kantor; Meja, kursi, almari, dan ATK
  • Papan penunjuk waktu shalat
  • Program kerja tahunan

Kegiatan – kegiatan yang diselenggarakan di dalam maupun di luar Masjid antara lain tentang      :

  • pelaksanaan shalat Rowatib,
  • Penyelenggaraan Pendidikan Al-Qur’an dikelola oleh remaja masjid bersama Ta’mir Masjid,
  • Penyelenggaraan pendidikan meliputi MIN dan Taman Kanak – Kanak (R.A.).
  • Kelompok Majelis Ta’lim dengan kegiatan Yasinan keliling, Pengajian keliling, serta Mujahadah keliling, dsb.
  • Pembinaan remaja melalui pengajian, mengadakan santapan rohani, pelatihan da’wah.
  • Kegiatan Perpustakaan, pengelolanya REMAS Baiturrahman Ngronggi.
  • Kegiatan sosial meliputi Bazis, Khitanan masal, santunan Yatim Piatu.

Kyai Karismatik Pengelola Masjid

  1. Tahun 1875 – 1900 : Bpk. KH. NGUZAIR
  2. Tahun 1900 – 1912 : Bpk. KH. ABDULLAH

Bpk. KH. ABDURRAHMAN

Bpk. KH. TOHIR

  1. Tahun 1912 – 1930 : Bpk. KH. TOHIR
  2. Tahun 1930 – 1945 : Bpk. KH. HASBULLAH
  3. Tahun 1945 – 1974 : Bpk. KH. ADNAN

Bpk. KH. ZAENURI

  1. Tahun 1974 sd… : Bpk. KH. MASRUCH HASBULLAH

Bpk. KH. MAHFUD ABDUL SYUKUR

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
oleh: DIAN K. ; Tim Pustaka Jawatimuran
dari: Remaja Masjid Masjid Jami’ Baiturrahman Ngronggi Ngawi
Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur 

MASJID AGUNG BAITUR-RAHMAN, Kabupaten Ngawi

masjid-agung-baiturrahman-ngawi-102Masjid Agung Baiturrahman Kota Ngawi, salah satu ikon religius yang menarik,  terletak di Jl. Imam Bonjol No.8, Margomulyo, Kec. Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, lebih tepatnya Masjid Agung Baiturrahman berdiri pada sebelah barat alun –alun  Kota Ngawi.

 Sejarah Masjid Agung Baiturrahman

Masjid Agung Baitu-rahman Kabupaten Ngawi didirikan oleh Bupati Ngawi ke-6, Raden Mas Tumenggung Brotodiningrat , pada hari Selasa Kliwon tanggal 25 Nopember 1879 M atau tanggal 10 Besar Tahun Be atau tanggal 10 Dzulhijjah 1296 H. Pada saat itu masjid belum ada namanya, masyarakat akrab dengan sebutan “Masjid Gedhe”. Data-data tersebut dibuktikan dengan adanya prasasti yang terukir dalam tulisan huruf Arab berbahasa Jawa dan Bahasa Arab pada papan kayu jati yang tebal berukuran panjang 238 cm dan lebar 60 cm, terletak di atas pintu masuk dari ruang serambi ke ruang induk, menghadap ke timur. Tulisan yang berbahasa Jawa berbunyi “Ingkang yasa Masjid Kanjeng Brotodiningrat”. (Yang membuat masjid Kanjeng Brotodiningrat)

Sedang yang berbahasa Arab – berbunyi “Wakaana Qiyaamuhu Masjidu fii yaumi tsalaatsa kaliiwan syahrul-hajji hilal 10 sanatul baak” (Didirikan masjid pada hari Selasa Kliwon bulan Haji tanggal 10 Tahun Be). Walaupun dalam prasasti tersebut tidak tercantum angka tahun pembuatannya selain hanya ditulis “sanatul baak” yang artinya “tahun Be”, tetapi dikarenakan terdapat tulisan “Ingkang yasa masjid Kanjeng Brotodiningrat”, maka setelah dihubungkan dengan masa jabatan Kanjeng Brotodiningrat menjadi Bupati Ngawi dari tanggal 10 Mei 1877 s/d 28 Agustus 1885. (Regeerings Almanak Voor Nederlandsch Indie”, Batavia, tahun 1878, hlm. 203 dan tahun 1886, hlm. 203). Dalam masa jabatan Bupati Raden Mas Tumenggung Brotodiningrat tersebut, bisa diketahui dengan pasti bahwa tahun jawa Be hari Selasa Kliwon tanggal 10 bulan Haji (atau bulan Besar) itu adalah hanya tahun 1808. Yang setelah dicocokkan bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah tahun 1296 Hijriah atau tanggal 25 Nopember tahun 1879 Masehi.

Papan prasasti ini juga dimasudkan sebagai hiasan, melihat gaya simetris yang tertuang dalam pahatan berlubang untuk lafadz “Bismillahirrahmanirrahiim” berupa unggas di kanan dan kiri bagian pinggir yang tentu saja menjadikan tulisannya yang satu terbalik, begitu juga halnya dengan tulisan “Muhammad” pada bagian tengah kanan dan kiri. Meskipun pintu asalnya semua yang merupakan bagian yang seolah menyatu dengan prasasti ini ikut dipugar, namun untuk pelestarian sejarah, prasasti tersebut tetap dalam ukuran aslinya dikembalikan pada tempatnya, yakni “direkatkan” pada tembok atau di pintu yang baru.

Selain itu terdapat pula prasasti lain yang terukir pada papan tebal kayu jati di atas lengkung gawang masuk ke Mimbar yang juga berukir dan terbuat dari kayu jati,  bertuliskan huruf Arab dan menghadap ke timur ini berbunyi “Pengetawit pandalemipun mimbar Setu Pon tanggal 17 Jumadil awal 1810” (Pengingatan pembuatan mimbar Sabtu Pon tanggal 17 Jumadil awal 1810). Atau bertepatan dengan tanggal 16 April 1881 Masehi atau tanggal 16 Jumadil awal 1298 Hijriah. Pada mimbar di bagian belakang menghadap ke barat di belakang tempat duduk, juga tertulis ukiran prasasti dengan huruf Arab berbahasa Jawa “Penget pembabaripun mimbar nalika dinten Setu Pahing tanggal 18 wulan Romadhon tahun Jimakhir 1298-kaping 12/13 Agustus 1881” (Pengingatan penyelesaian pembuatan mimbar pada hari Sabtu Pahing tanggal 18 bulan Romadhon tahun Jimakhir 1298 tanggal 12/13 Agustus 1881). Atau secara lengkapnya berdasarkan pencocokan kalender, 13 Agustus 1881 Masehi; 17 Romadhon 1298; 18 Pasa 1810 Jimakir. Masih ada satu prasasti lagi pada logam tembaga, prasasti ini sempat terkaji dan tercatat sewaktu dalam pemugaran dan diturunkan di bawah ketika akan diservis karena mengalami sedikit keretakan. Dan karena retak itulah ada beberapa tulisan yang kurang dan tidak terbaca, dalam arti kurang bisa dipahami maksudnya.

Pada bagian dalam dari Mustaka (puncak atap bagunan pokok/induk), juga terdapat tulisan yang juga merupakan ukiran dengan huruf Arab dan berbahasa Jawa,  mustakanya telah diperbaiki keretakannya sudah dikembalikan ke tempatnya semula. Tulisan itu berbunyi “Pengeta munggahe mustaka dinten Jumah Kliwon wanci jam 4 sonten tanggal 1 Syawal tahun Jimakhir 1298 utawi kaping 26 Agustus 1881. Ingkang yasa mustaka Kanjeng Brotodiningrat. Urunan saking parandawa (?) 1421 kirang (?) saking 155” (Pengingatan dinaikannya mustaka hari Jumat Kliwon saat jam 4 sore tanggal 1 Syawal tahun Jimakhir 1298 atau tanggal 26 Agustus 1881. Yang membuat mustaka Kanjeng Brotodiningrat. Urunan dari parandawa (?) 1421 kurang (?) dari 155). Lengkapnya tanggal/bulan dan tahunnya adalah 26 Agustus 1881 Masehi; 30 Romadhon 1298 H; 1 Syawal 1810 tahun Jawa Jimakir.

Masjid Agung Kabupaten Ngawi, telah mengalami beberapa kali perbaikan dan pemugaran antara lain:

  • Tahun 1924, oleh Bupati Ngawi ke 10, Pangeran Ariyo Sosro Busono (Menjabat Bupati Ngawi 30 September 1905 – 1943), atap sirap bangunan induk diganti seng gelombang.
  • Tahun 1977, oleh Bupati Soewojo (Menjabat Bupati Ngawi 2 Nopember 1967 –  8 April 1970), dibangun serambi depan dan gapura.
  • Tahun 1981, oleh Bupati Panoedjoe (Menjabat Bupati Ngawi 8 April 1978 – 7 Juni 1983), dibangun ruang Jamaah wanita (pawastren) yang sekarang untuk ruang perpustakaan dan tempat wudhu wanita, serta pemasangan karpet hijau direkatkan pada tegel asli di ruang induk dan sebagian di ruang serambi tanpa dilem (tanpa direkatkan).
  • Tahun 1986, oleh Bupati Soelardjo (Menjabat Bupati Ngawi 7 Juni 1983 – 1988), diadakan pemugaran/perbaikan secara besar-besaran yang dimulai pada hari Jumat Legi tanggal 18 Juli 1986 M atau tanggal 11 Dzulqa’dah 1406 H atau tanggal 11 Selo tahun Je dan selesai hari Jumat tanggal 15 April 1988 M, atau tanggal 27 Sya’ban 1408 H atau tanggal 27 Ruwah 1920 Be, yang peresmiannya dilakukan oleh H. Zahid Hussein. Dalam pemugaran tersebut menelan beaya Rp 360.000.000,- (tiga ratus enam puluh juta rupiah) yang berasal dari Swadaya Masyarakat sebesar Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan bantuan Presiden Rp 160.000.000,- (seratus enam puluh juta rupiah).
  • Selanjutnya oleh Bupati Soelardjo, dengan Surat Keputusan Nomor 68 Tahun 1988 tanggal 7 April 1988, Masjid Agung Kabupaten Ngawi tersebut diberi nama “BAITUR-RAHMAN” yang berarti Rumah yang Penuh Kasih Sayang. Dan setelah pemugaran tersebut ditaksir masjid dapat menampung 3000 orang.
  • Masjid ini mengalami pembangunan kembali pada 2007 s/d 2009. Setelah dibangun menjadi bentuk yang sekarang ini, masjid ini diresmikan pemakaiannya oleh Gubernur Jawa Timur H. Sukarwo pada 26 Oktober 2010.

Adapaun yang bertindak selaku Kyai (Imamul A’dlom) di Masjid Agung Baiur Rahman adalah sebagai berikut :

  • IMAM DIPURO
  • ABDUL QODIR
  • ABDUL ROSYID
  • TUKHFATUL BARI
  • HANGUDIPURO
  • H. YUSUF
  • H. ASY’ARY
  • H. ISKANDAR
  • H. MUNAWAR
  • H. MARKUM SIROJUL MUNIR
  • H. ABDUL ROCHIM
  • H. R. MOH. DIMYATI

Dalam kaitannya dengan Perjuangan Bangsa dan Umat Islam Masjid Agung Baitur Rahman pernah berfungsi sebagai tempat penampungan dan perlindungan tokoh-tokoh umat Islam dari keganasan PKI pada waktu terjadinya Pemberontakan PKI akhir bulan September – awal bulan Oktober 1948. Demikianlah sejarah singkat Masjid Agung Baiturrahman yang sekarang berdiri megah dan terus berkembang mengikuti derap langkah pembangunan yang semakin melaju. Mudah-mudahan Allah SWT selalu memberikan bimbingan dan pertolongan. Aamiin.

Eksterior Masjid

Menara berdiri di sisi kiri masjid, bagian bawah menara tersebut terdapat ruangan yang digunakan untuk kantor takmir masjid. Terdapat pula dua buah kubah, Arsitektur jawa terlihat jelas pada kedua kubah.

Lantai serambi masjid ini berbahan marmer membuatnya menjadi nyaman, karena serambi merupakan tempat untuk istirahat atau berinteraksi setelah selesai sholat fardlu jamaah. Di sisi selatan serambi terdapat bedug dan kentongan. Sementara di sisi utara terdapat majalah dinding. Pintu utama ada di sisi serambi depan. Terdapat sebuah maket masjid terpajang di sana.

Ruang wudlu masjid ini berada di kedua sisinya. Di sisi selatan untuk jamaah pria dan utara untuk jamaah wanita. Dari kedua sisi tersebut terdapat pintu untuk menuju ke ruang sholat utama.

Pada bagian beranda terdapat dua anak tangga yang menuju ke ruang sholat lantai atas, di sana terdapat pintu, yang tampaknya hanya dibuka pada waktu sholat jumat atau ketika jamaahnya tidak tertampung di ruang sholat utama.

Interior Masjid

Ruang sholat utama masjid, berlantai marmer pada seluruh areanya, menyajikan kenyamanan bagi para jamaah yang  sholat di sini. Garis-garis shoff tampak membelah marmer dengan posisi menyerong untuk menyesuaikan dengan arah kiblat.

Nuansa putih mendominasi dinding dan atap, enam tiang utama masjid berdiri kokoh berwarna coklat kehitaman variasi putih di beberapa bagiannya, empat buah kaligrafi berwarna emas menghiasi masing-masing tiang utama tersebut di setiap sisinya, ditemani enam tiang putih kecil lainnya.

Bagian atas ruang sholat berhias bentuk bintang sembilan, kecuali di bagian kubah dalam. Kombinasi beberapa warna dalam berbagai bentuk menghias di langit-langit kubah bagian dalam, paduannya dengan warna putih, menjadikan hiasan itu terlihat anggun. Dan sebuah lampu besar menggantung di sana.

Mihrab masjid ini berhias oranmen cantik dan tiga buah kaligrafi dalam satu deret. Di sebelah sisinya tampak mimbar yang terbuat dari ukiran kayu jati.

SEJARAH SINGKAT MASJID AGUNG BAITUR-RAHMAN NGAWI

Ngawi, September 1993, Ta’mir Masjid Agung Baitur Rahman Ngawi

Trimarjono

TrimaryonoTrimarjono Lahir di Ngawi, 14 April 1933, beragama Islam.
Pendidikan:
Tahun 1944, Menamatkan pendidikan dasar di Lumajang,
Tahun 1947, Menamatkan pendidikan SMP di Probolinggo,
Tahun 1950, Menamatkan pendidikan Sekolah Guru B di Madiun,
tahun 1955,  Menamatkan pendidikan SMA di Madiun,
Tahun 1962, Memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Universitas Gajah Mada
Karirnya diawali dengan menjadi perwira Angkatan Laut dengan pangkat letnan, sambil menjadi Sekretaris Wakil Ketua DPRGR (1963), Wakil Ketua OPRGR (1964), Kepala Kejaksaan KODAMAR VIII Semarang, Sekwilda Tk. I Jawa Timur hingga tahun 1967-1985, Wakil Gubernur Jawa Timur (1985-1990). Sekarang menjabat sebagai Ketua DPRD Tk. I Jawa Timur dengan pangkat Laksamana Pertama TNI AL (Purnawirawafi).
Selain itu ia menjadi anggota kehormatan PWI Jawa Timur, Dewan Penyantun IKIP Negeri Surabaya, Ketua Umum KAGAMA dan Ketua Umum KONI Jawa Timur, Ketua Umum Perkumpulan Epilepsi indonesia Cabang Jawa Timur Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, Rektor Univer­sitas Wijaya Kusuma Surabaya dan Iain-Iain.
Bersama istrinya, Harnani dikaruiai tiga orang anak. Masing-masing Astini, Andriyanto dan Avianti. Sekarang tinggal di Jl. Jemursari Selatan 1/30 A Surabaya, telepon 814130. Sehari-hari berkantor di Gedung DPRD Tingkat I Jawa Timur Jl. Indrapuri No. 1 Surabaya, telepon 338750.

Pria yang pernah menjadi guru sekolah Dasar pada tahun 1950-1953 ini memang sebagai pekerja keras. Tanggung jawab dalam mengemban tugas dan kegi- gihan serta keuletannya dalam menjalankan prinsip-prinsipnya selalu dipadukan de­ngan gayanyayang blakblakan. “Semua itu harus dipadukan, baru dijadikan gerakan,” tandasnya.
Konsep itu digali berdasarkan pengalaman-pengalamannya jauh sebelum men­jabat sebagai Ketua DPRD. Semenjak menjalani pendidikannya sudah hidup di lingkungan para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan aspriasi rakyat kecil. “Maklum saya ini orang desa, jadi harus berani mengadakan terobosoan-terobosan,” katanya. Maka tak heran kalau di usia senja ini ia masih tetap eksis dan konsisten terhadap apa yang men­jadi kebijaksanaannya. Sehingga tenaga dan pikirannya masih saja dimanfaatkan di berbagai tempat.
“Sebenarnya resepnya mudah saja. Kita harus menyenangi tugas yang dipercaya- kan dan menjalankannya dengan penuh ra­sa tanggung jawab. Kepercayaan harus disyukuri disertai rasa pengabdian,” tambah- nya.

Meski begitu ia menyadari setiap lem- baga apapun pasti ada saja permasalahan- nya. Hanya saja sejauh mana permasalahan dapat segera diredam, ini yang menjadi tanggung jawab pemimpin yang bersangkutan. Untuk itu, menurutnya pemimpin ha­rus berani mengambil resiko. Permasalahan di saring sedemikian rupa sehingga bisa dengan mudah mengambil keputusan. Makanya seorang pemimpin harus selalu me-ngontrol anak buahnya.
Dalam hal ini Trimarjono lebih senang memakai manajemen by beras kencur. Artinya harus diubleg, di bolak-balik sehingga tidak menep dan rasanyapun tidak berubah. “Jadi apa yang saya pimpin itu selalu saya ubleg, saya gerakkan terus melalui kontak ataupun komunikasi. Dengan begitu banyak hal yang akan bisa diketahui. “Suatu contoh kalau ada kunjungan kerja komisi saya selalu ikut, tapi bukan sebagai ketua melainkan sebagai pengikut. Lha yang memimpinya ketua komisi itu sendiri,” katanya.
Malah ia juga pernah menghadap sekaligus memberikan laporan kepada Komisi E Bidang Kesejahteraan Rakyat. “Selaku ke­tua yayasan orang tua, kusta juga epilepsi saya menghadap komisi yang bersangkutan bersama para ahli kusta, psikologi dan pakar-pakar lainnya, hampir sehari pe- nuh. Padahal Ketua DPRD nya juga saya. Ini bukan show, tapi benar-benar saya lakukan dan saya tak merasa canggung, biasa saja,” jelasnya.
Nampaknya Jawa Timur yang semakin pesat pembangunannya ini membutuhkan figur sepertinya. Terbukti sudah enam kali pergantian gubernur namun ia masih tetap difungsikan di pos-pos penting Pemerintahan Daerah Tingkat I Jawa Timur. “Memang kepemimpinan itu harus terbuka, meskipun tidak seluruhnya. Dengan memberitahu tugas dan kewajiban anak buah, beban pimpinan akan berkurang. Sehingga kalau sudah menjadi sistem kita tinggal mengontrol,” tambahnnya.
Menurut peraih bintang kehormatan Jalasena Nararnya dan Satya Lencana Kesetiaan XXIV tahun ini, pimpinan itu ibarat barang dagangan harus dijaga bagaimana agar tetap laku. Tidak usah ikul kroyokan, memberi kesempatan pada stafyang lain, bersikap bijak, berani mengambil keputusan dan Iain-Iain. Dan dalam posisi yang terjepit, seorang pemimpin harus memiliki tempat bertahan. “Seperti cerita kucing yang dikejar macan. Pada keadaan ke- pepet kucing memanjat pohon. Lha si- macan nggak bisa mengejar, Cuma melihat dari bawah. Ini ilmu perlambang. Menafsirkannya terserah,” lanjutnya.
Yang tak kalah menariknya dari pria asli Jawa Timur ini adalah konsepnya dalam menangkal pendapat sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa wakil rakyat (DPR) biasanya hanya duduk, diam dan dapat duit.” Itu masih sayatambah dengan dengkur dan dableg,” tandasnya.
Selanjutnya dijelaskan, sebagai waikil rakyat, mereka seharusnya memumpuk diri agar bisa memenuhi konsep ABCD (Aspiratif, Berani bicara, Control dan Demokratis). “Bagaimanapun juga sekarang ini masyarakat cenderung lebih kritis menilai tugas dan tanggung jawab para wakil rakyat,” ungkapnya. (AS-8)

Dr. KRT. RADJIMAN WEDIODININGRAT

Dr. KRT. RADJIMAN WEDIODININGRATDr. KRT. Radjiman Wediodiningrat lahir di Kampung Glondongan, Desa Mlati – Sleman, Yogyakarta tanggal 21 April 1879, anaka dari Ayah Sutodrono (Mbah Talo) Ibu……(keturunan trah Kajoran)

RIWAYAT HIDUP DAN PERJUANGAN
Dokter Radjiman Wediodiningrat lahir pada tanggal 21 April 1879 di Desa Mlati, Yogyakarta. Ayahnya, Sutodrono, adalah seorang kopral pribumi yang berasal dari keturunan Gorontalo-Bugis, sedangkan ibunya wanita jawa. Radjiman memperoleh pendidikan umum di Europese Lagere School (ELS) di Yogyakarta yang diselesaikannya pada tahun 1893. Sesudah itu ia mengikuti pendidikan khusus, yakni kedokteran, baik di dalam maupun di luar negeri. Di dalam negeri, mula-mula ia memasuki Sekolah Dokter Jawa , kemudian School Tot Opleiding voor Inlandsche Arts (STOVIA). Pendidikan di luar negeri diikutinya di Amsterdam, Berlin dan Paris untuk mengambil spesialisasi obstetrie gynaecologie, rontgenologi dan bedan indoscopie urinaire. Spesialisasi terakhir ini diambilnya ketika ia sudah berumur 51 tahun, pada tahun 1930.
1. Setelah tamat dari Sekolah Dokter Jawa, Radjiman bekerja sebagai dokter pemerintah di Rumah Sakit Weltevreden (sekarang Rumah Sakit Angkatan Darat) di Jakarta, kemudian berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tugas terakhir sebagai dokter pemerintah dijalaninya di Rumah Sakit Jiwa di Lawang. Periode bertugas sebagai dokter pemerintah ini diselingi dengan tugas sebagai Asisten Leraar di STOVIA. Kesempatan itu dimanfaatkan Radjiman untuk melanjutkan studinya, sehingga pada tahun 1904 ia memperoleh ijazah Inlandsche Art.

2. Tugas sebagai dokter pemerintah dijalaninya Radjiman selama tujuh tahun, dari tahun 1899 sampai 1906. Sesudah itu ia bekerja sebagai dokter di Kraton Surakarta Hadiningrat selama tiga puluh tahun (1906-1936). Dari segi profesi, ia berjasa antara lain mendirikan Apotek Panti Rapih dan Rumah Sakit Panti Rogo. Akan tetapi, yang lebih penting dalam periode ini ialah keikutsertaannya dalam organisasi bercirikan nasionalisme, khususnya Budi Utomo. Ia sudah tercatat sebagai anggota sejak organisasi ini didirikan pada tahun 1908. Enam tahun kemudian, 1914, ia sudah menduduki posisi sebagai Ketua Budi Utomo.

3. Sejak memegang jabatan sebagai Ketua Budi Utomo, Radjiman mulai memperlihatkan secara terbuka keterlibatannya dalam gelanggang politik. Ia mengubah haluan Budi Utomo dari hanya gerakan budaya dan sosial dengan keanggotaan yang terbatas hanya suku bangsa yang berbasis budaya Jawa, menjadi gerakan politik. Dalam pertemuan dengan berbagai organisasi di Semarang pada bulan September 1914, Radjiman menyampaikan gagasan tentang perlu diadakan milisi bumi putra. Gagasan itu dikemukakannya sehubungan dengan meletusnya Perang Dunia I dan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan negara lain terhadap Hindia Belanda (Indonesia). Gagasan itu diperkuat dalam kongres Budi Utomo di Bandung pada bulan Agustus 1915 dengan mengeluarkan mosi yang dikenal sebagai mosi Indie Weerbar (Ketahanan Hindia). Dengan keluarnya mosi itu, beberapa pihak menuding bahwa Budi Utomo, dan tentu saja Radjiman), sudah menjadi alat pemerintah kolonial. Tudingan itu dibalas Radjiman dengan mengatakan bahwa kepentingan pemerintah, khususnya untuk menghadapi serangan dari luar, sama dengan kepentingan rakyat pribumi. Untuk merealisasikan gagasan milisi itu, perlu didengar pendapat rakyat. Oleh karena itu, perlu dibentuk badan perwakilan. Untuk memperjuangkan milisi itu, sebuah komisi yang disebut Commite Indie Werbaar, dikirim ke Negeri Belanda. Pemerintah Belanda menolak usul milisi, tetapi menyetujui pembentukan sebuah badan perwakilan yang akhirnya direalisasikan dengan dibentuknya Volksraad.

4. Radjiman Wediodiningrat duduk sebagai anggota Volksraad selama tiga tahun, dari tahun 1918 sampai tahun 1921. Dalam Volksraad, ia antara lain mengusulkan agar golongan pengusaha juga diwakili dalam lembaga tersebut. Sesudah meninggalkan Volksraad, Radjiman berkiprah dalam berbagai organisasi, antara lain dalam Committee van da Javasche Ontwikkeling yang kemudian berkembang menjadi Java Instituut dan dalam Indonesiasche Studie Club. Selain itu, ia juga menerbitkan majalah Timbul yang digunakannya sebagai tempat menyampaikan aspirasi politiknya secara halus. Di bidang kepertaian, pada tahun 1935 ia ikut mendirikan Partai Indonesia Raya (Parindra) yang merupakan fusi Budi Utomo dengan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) pimpinan dr. Sutomo. Dalam Parindra, ia berkedudukan sebagai penasihat.

5. Pada masa pendudukan Jepang, Radjiman diangkat sebagai anggota Tyuo Sangsi-In merangkap Ketua Tyuo Sangi Kai Madiun. Namun, yang terpenting pada masa ini ialah jabatannya sebagai Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Badan ini dibentuk sebagai realisasi janji Perdana Menteri Jepang Koiso, yang diucapkannya bulan September 1944 bahwa Indonesia akan diberi kemerdekaan kelak di kemudian hari. Anggota BPUPKI terdiri atas wakil berbagai golongan dalam masyarakat dengan aspirasi politik yang berbeda. Oleh karena itu, sidang-sidang BPUPKI sering diwarnai dengan perdebatan yang cukup tajam, khususnya antara kelompok nasionalis Islam dan nasionalis netral agama. Sebagai yang tertua di antara anggota BPUPKI, dengan kadar intelektual yang cukup tinggi dan berpaham moderat, Radjiman berhasil mengendalikan perbedaan pendapat tersebut, sehingga keputusan yang diambil menjadi keputusan bersama.

6. Sidang-sidang BPUPKI berlangsung dalam dua masa sidang. Pertama, dari tanggal 28 Mei sampai 1 Juni; kedua, dari tanggal 10 sampai 17 Juli 1945. BPUPKI menyelesaikan tugasnya dengan menghailkan beberapa keputusan, antara lain mengenai dasar negara, luas wilayah negara, pertahanan, dan sistem pemerintahan. Sebagai ganti BPUPKI, dibentuk badan baru, yakni Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang diketuai oleh Ir. Sukarno dengan Drs. Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Pembentukan PPKI ini disampaikan oleh Marsekal Terauchi, panglima pasukan Jepang untuk wilayah Asia Tenggara, dalam pertemuan dengan Radjiman, Sukarno, dan Hatta di Dalat, dekat Saigon.

7. Sesudah Indonesia merdeka, Radjiman masih sempat menyumbangkan tenaganya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ia meninggal dunia pada tanggal 20 September 1952. Jenazahnya dikebumikan Ngawi. Atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara, pemerintah menganugerahinya tanda jasa berupa Bintang Mahaputera Tingkat II dan Bintang Republik Indonesia Utama.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/dr-krt-radjiman-wediodiningrat/

Ny. Djohar Insiyah Suharso

11 Desember 1920, Djohar Insiyah lahir di Ngawi, Ia adalah puteri dr. R. Agusdjam yang. Ibunya bernama RA Sudjarah yang berasal dari Magelang. R. Agusdjam adalah lulusan Indisch Art STOVIA Batavia tahun 1913 ia mula-mula bertugas di RS Tepra Plentungan Kendal kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Mata di Ngawi.

Djohar Insiyah adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara,hubungan Djohar dengan orang tua dan saudara-saudaranya tampak serasi dan bahagia. Sebagai kanak-kanak ia hidup senang dan berkecukupan. Mereka tujuh orang bersaudara hidup rukun dibawah asuhan orang tua yang disegani masyarakat Di samping sekolah mereka diharuskan belajar mengaji dengan mendatangkan seorang guru wanita. Dalam waktu dua tahun Djohar sudah lancar membaca Al-Qur’an.

Tahun 1925, Djohar mulai masuk sekolah saat itu ia berumur empat setengah tahun. Ia masuk Frobelschool (SekolahTaman Kanak-kanak) di Susteran Kotholik Pontianak.

Tahun 1926 dalam usia lima setengah tahun ia pindah ke Europese Lagere School (ELS). Ia senang belajar ilmu bumi dan sejarah di samping pelajaran kepandaian puteri. Setamat E.L.S. Djohar masuk Van Deventer School di Semarang pada tahun 1934. Sekolah ini mendidik gadis-gadis menjadi guru sekolah kepandaian putri dan guru sekolah Taman Kanak-Kanak. Di sekolah Djohar menjadi kapten kelas baik dalam belajar maupun olahraga. Ia juga gemar membaca buku-buku di perpustakaan sekolah sehingga ilmu pengetahuannya bertambah luas.

Tahun 1937, Djohar lulus dari Van Deventer School saat itu ia berumur 17 tahun. Ia merasa masih terlalu muda untuk terjun ke masyarakat. Ia kemudian minta izin untuk memperpanjang masa belajarnya. Ternyata permintaannya dikabulkan. Ia bergabung dengan saudara-saudara kandungnya di Jakarta. Di sini ia mengambil kursus- kursus di Institut Schaver, yaitu program bahasa Inggris dan Perancis. Kecuali itu juga mengambil kursus stenografi, Bond A dan mengetik. Di Jakarta kegiatannya beralih ke dunia bisnis dan pergaulannyapun makin luas. Bersama teman-temannya seperti Rusiah (Saijono), Hurustiati (Subandrio), (Prof. Dr.) Soelianti dan lain-lain mereka membentuk perkumpulan wanita “Huise Vrouwen Vereniging”.

Tahun 1939, setelah cukup dengan berbagai kursus Djohar kembali ke Pontianak. Ia membantu lbunya yang aktif dalam kegiatan ma­syarakat muslim. lbunya menjadi Ketua Aisiah Pontianak yang bertugas menghimpun dana untuk menyelenggarakan sekolah Taman Kanak- kanak, pengajian dan organisasi sosial yang lain. Disinilah Djohar mulai belajar berorganisasi dan teijun secara aktif dalam kegiatan.

7 September 1941 Djohar menikah dengan dr. Suharso seorang dokter muda lulusan NIAS (Nederlands Indische Artsen School) Surabaya yang bertugas di rumah Sakit Ketapang. Setelah menikah Djohar mendampingi suami bertugas sebagai dokter ahli bedah. Djohar mencoba membimbing muda-mudi Ketapang dalam cara berpakaian dan masak-memasak. Mereka kemudian dikaruniai tiga orang anak yaitu TunjungSulaksono. Tunjung Wijayanto dan Tunjung Hamurdoyo; dua diantaranya dokter dan satu insinyur.

27 Desember 1941 kota-kota di Kalimantan Barat diduduki Jepang, didahului dengan serangan pesawat-pesawat udara Jepang terhadap Kota Pontianak Dalam pendudukan Jepang, keluarga dr. Suharso merasakan tekanan dan tindakan keras Jepang.

Tahun 1943, Djohar bersama suami menjalani cuti ke Jawa (Solo), untuk mengurangi ketegangan dan kecurigaan Jepang.

Tahun 1944, terjadi musibah atas diri dr. R. Agusdjam. Ayah Djohar bersama tokoh- tokoh masyarakat dan kaum pergerakan Pontianak dibunuh oleh Jepang. Kedukaan Djohar tidak dapat terobati begitu saja apalagi dr. Suharso yang bertugas di Solo juga diintai oleh Kempetai. Pada masa perang kemerdekaan , Djohar kembali ke Surakarta. Di Solo ia aktif membantu P.M.I, di Purbayan dan menyelenggarakan dapur umum bersama-sama Ny. Margohutomo dan Ny. Sugondo Notodisuijo. Sehingga praktis kegiatan beroganisasinya sudah tumbuh sejak ia masih remaja.

Tahun 1942, ia menjadi anggota Fu Jin Kai Ketapang,

Tahun 1944, kegiatan beroganisasinya berlanjut menjadi anggota Fu Jin Ki Solo.

Tahun 1949-1952,  menjadi anggota Perwari ranting Jebres kemudian pindah ke jalan Slamet Riyadi 240. Setelah terbentuk Ikatan Istri Dokter Indonesia.

Tahun 1950, Djohar menjadi anggota IIDI cabang Surakarta.

Tahun 1963-1964. menjabat sebagai Ketua IIDI cabang Surakarta.

5 Februari 1953, Djohar ikut merintis terbentuknya Yayasan Pemeliharaan Anak anak Cacat. Yayasan Pemeliharaan Anak-anak Cacat (YPAC) adalah suatu organisasi sosial untuk merehabilitasi anak-anak cacat yang berumur 3 sampai 18 tahun, sehingga mereka masih mendapat kesempatan untuk menjadi orang yang berguna dikemudian hari. Melalui YPAC anak-anak penderita cacat memperoleh pertolongan sehingga mereka dapat ikut merasakan hidup yang layak seperti halnya anak-anak yang sehat. Mereka merasa tidak canggung dan rendah diri dalam menghadapi pergaulan dengan anak-anak lain.Dalam Yayasan tersebut Djohar mula-mula menjadi sekretaris I.

Tahun 1954, ia terpilih menjadi ketua umum YPAC. Djohar dan kawan-kawannya mulai membina YPAC dari awal sekali dengan bekal sedikit pengalaman, beberapa petunjuk dari dr. Suharso, serta sedikit literatur dan majalah tentang rehabilitasi. Di samping itu banyak belajar dan melihat dari panti-panti semacam YPAC di luar negari. Dalam mengunjungi kongres-kongres dan pertemuan lainnya di luar negeri ia pergunakan untuk belajar dan melihat lalu diterapkan di Indonesia. Ia memang selalu mempergunakan kesempatan untuk belejar dan melihat. Hal itu ia lakukan untuk mengimbangi pendidikannya, yang tidak sampai memperoleh gelar. Dahulu orang mengira, bahwa dengan meninggalnya dr. Sukar SD YPAC akan mati. Dugaan tersebut ternyata tidak benar. YPAC bahkan semakin berkembang. Ny. Suharso tidak sekedar berada di bawah bayangan-bayangan suaminya, tetapi mampu ia bergerak sendiri.

Keberhasilannya membawa YPAC ke tingkat yang sekarang ini tidak lepas dari sifat-sifat pribadinya. Kepribadiannya cukup kuat untuk menunjang semua cita-citanya.Ia memang seorang yang cerdas, tekun, tegas disiplin dan berpendirian teguh.Bila ia sudah mengambil suatu keputusan tidak akan mudah untuk digoyahkan. Tetapi sebelum ia mengambil keputusan, ia telah membicarakan dengan beberapa stafnya. Sebagai pemimpin ia sangat memperhatikan anak buahnya. Ia suka bergaul dan sangat terbuka. Bila seorang anak buahnya berbuat salah , ia akan langsung memarahinya, tetapi kemarahan itu akan cepat hilang dan segera melupakannya. Ia memang bukan seorang pendendam.

Bila ia menyerahkan suatu tugas pada seorang anak buahnya, ia akan sepenuhnya mempercayai orang tersebut. Dengan demikian yang diserahi tugaspun akan bertindak sebaik mungkin, karena sadar akan tanggung jawabnya. Di samping itu sebagai pimpinan ia menghendaki segala sesuatunya hitam diatas putih. Misalnya, bila seorang melapor tentang suatu alat yang rusak haruslah disertai buktinya. Hal ini ia lakukan untuk menjaga kedisiplinan anak buahnya. Ia juga seorang yang mau mengakui kekurangannya. Misalnya saja, karena merasa tidak mampu mendalami semua masalah satu persatu, ia selalu melihat bagan atau skema. Sebagai imbangan ia menguasai beberapa bahasa asing dan pengetahuanya tentang medis cukup luas , sehingga ia tidak mudah ditipu perawat atau bahkan dokter.

Selain hal-hal tersebut di atas, ia adalah seorang yang sangat mencintai penca (penderita cacat), penuh inisiatif dan dedikasinya besar pada YPAC. Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diambilnya bisa diterima oleh semua pihak. Antara lain ia memutuskan agar pengurus yayasan tidak menjadi pegawai YPAC. Hal ini dimaksudkan agar pengurus dapat mengontrol pegawai

Keberhasilannya Ny. D.I. Suharso tidak hanya diakui di Indonesia saja, tetapi juga oleh dunia mternasional. Ia memang seorang yang memiliki kemampuan bertaraf internasional. Sejak YPAC menjadi anggota Rehabilitation International (RI) ia hampir tidak pernah absen duduk dalam kepengurusan badan dunia tersebut. Dalam kongres-kongres yang dikunjunginya ia tidak hanya sebagai peserta saja, tetapi juga sebagai pemrasaran Ia banyak menulis tentang rehabilitasi di berbagai konferensi/kongres baik ditingkat nasional, Asia maupun dunia.

Dalam kongres Rehabilitation Internasional ke-XII di Sydney, Aus­tralia, salah seorang pengurus YPAC Australia mengatakan kekagumannya atas besarnya dan sistimatisnya organisasi sosial YPAC Indonesia. Adapun peserta kongres dari Asia merasa heran dan kagum atas kemajuan yang di capai YPAC Indonesia melebihi YPAC mereka, sekalipun keadaan masing-masing negara umumnya tidak berbeda dalam perawatannya. Sistem non panti yang diterapkan Ny. Djohar Insiyah Suharso belum dapat diterapkan di negara mereka.

Sebagi wanita karir yang berhasil Ny. Djohar Insiyah Suharso tidak pernah meninggalkan sifat kewanitaannya Ia tetap memiliki keluwesan seperti layaknya seorang ibu Dari wajahnya yang lembut terpancar keramahan dan kecerdasannya. Ia selalu hati-hati dalam berceritera, tegas tetapi tetap lembut, alami dan pembicaraan tidak kosong. Pantaslah ia menjadi lambang wanita Indonesia masa kini

Dengan keberhasilan yang dicapainya sekarang terwujudlah sebagian dari cita-citanya semasa kecil, yaitu menjadi Raden Ayu, yang menurut pengertian Ny. Djohar Insiyah Suharso adalah seorang puteri sejati yang mempunyai kedudukan dalam masyarakat. Seorang wanitayang luhur budinya, yang dapat dipandang dan disegani masyarakat karena pertolongan dan kelakuan baik.

Keberhasilan Ny. Djohar Insiyah Suharso dapat juga dilihat dari penghargaan-penghargaan yang di perolehnya. Ia dapat beberapa penghargaan baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Tahun 1954, mendapat penghargaan World Veterans Federation Award di Vienna.

20-12-1961, mendapat penghargaanSatya Lencana Kebaktian Sosial dari Presiden RI.

19 September 1969, mendapat penghargaanAlbert Lasker Award yang diberikan oleh Albert and Mery Lasker Foundation pada Kongres Dunia ISRD yang ke XII di Dublin Ireland.

2 Mei 1977,  Ny. Djohar Insiyah Suharso menerima Piagam Hadiah Pendidikan dari Menteri P dan K Sjarif Thajeb sebagi Perintis Pembinaan Pendidikan Luar Biasa (Anak Cacat).

Maret 1981, ia memperoleh “Kartini Group Medalle” sebagai Ibu Sosial dari Kartini Group.

Di samping penghargaan-penghargaan tersebut, masih ada beberapa sertificat,

Tahun 1954,  ia memperolehyaitu sertificat sebagai National Secretary.

Septem­ber 1969, ia memperoleh sertificat sebagai Vise Chairman (1969-1972).

Tahun 1978, ia memperolehsertificat sebagai member of the Council,

Di rumah tangga pun ia merupakan seorang ibu yang berhasil dalam mendidik anak-anak. Ia berhasil mengantarkan tiga orang anak laki- lakinya menjadi “orang”. Anak sulungnya meneruskan karir ayahnya sebagai dokter bedah di R.C. Surakarta. Anaknya kedua seorang insinyur yang saat ini bertempat tinggal di Surabaya. Sedang anak bungsunya juga seorang dokter, kini tinggal di Medan.

Daftar Pustaka

  1. Bahan Angket Ny. Djohar Insiyah Suharso, naskah ketikan, Surakarta 4 Juli 1977.
  2. Daftar Riwayat Hidup Ny. Djohar Insyiah Suharso Ketua Umum Y.P.A.C. Pusat Surakarta, naskah ketikan.
  3. Ny. Djohar Insiyah Suharso, Sejarah dan Proses Rehabilitasi Para Penderita Cacat Anak-anak di Y.P.A.C. naskah ketikan.
  4. Ny. Djohar Insiyah SuharsoKompas Minggu, 1 Maret 1981.
  5. Riwayat Singkat Yayasan Pemeliharaan Anak-anak Cacat, Pengurus Besar Y.P.A.C. Surakarta.

Ensiklopedi Tokoh Budaya,  Departemen Pendidikan Dan KebudayaanDirektorat Jenderal Kebudayaan Direktoratsejarah Dan Nila1tradisional Proyekinventar1sasi Dan Dokumentasisejarah Nasional, Jakarta 1994, hlm. 81-87


Aroma Purba Batik Ngawi

Batik NgawiBATIK Ngawi menjadi salah seragam wajib bagi pegawai Pemkab Ngawi pada hari Kamis, sebagai upaya mengangkat batik Ngawi di kancah nasional dan dunia. Batik Ngawi sudah ada sejak zaman nenek moyang dan sempat mati suri selama beberapa waktu hingga pemerintah menggiatkan kampanye batik sebagai identitas nasional, perajin batik Ngawi mulai menggeliat lagi.

Pada mulanya membatik hanya menjadi pekerjaan sampingan. Seiring waktu, batik Ngawi mulai menemukan jati dirinya dan perajin pun menjadikannya sebagai mata pencaharian utama. Batik gringsing Ngawi misalnya, batik yang wajib dikenakan pe­gawai Pemkab Ngawi ini adalah batik tulis dengan ciri khas Kota Ngawi, bermotif padi, bambu, dan manusia purba (palu purba).

Motif padi menandai Ngawi sebagai lumbung padi Jawa Timur. Sementara motif bambu menandakan tanaman ulet ini menjadi salah satu kekayaan alam di Ngawi. Motif paling menyolok dalam batik Ngawi adalah palu purba, indetitas Ngawi terkait dengan penemuan manusia purba pertama kali oleh Eugene Dubois di Trinil.

Meski harus bersaing dengan batik dari daerah lain yang sudah lebih dulu dikenal masyarakat, pemerintah daerah Ngawi terus mempromosikan batik Ngawi ke penjuru negeri. Beberapa kendala seperti kurangnya modal mem- buat produksi batik Ngawi tersendat. Namun, tekad mengenalkan batikNgawi ke masyrakat luas sebagai identitas budaya bangsa membuat pemerintah setempat terus berusaha.

Kebijakan pemerintah mewajibkan pegawai pemkab untuk mengenakan batik Ngawi men­jadi salah satu terobosan yang patut diacungi jempol. Memang, upaya apapun tidak akan berhasil kalau tidak dimulai dari dalam diri sendiri. Dengan kebijakan itu diharapkan akan lebih mempercepat perkembangan batik Ngawi baik di tingkat nasional maupun internasional.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: AYU RATNANING KURNIAT:  SURYA, Jumat, 4 Oktober 2013, hlm. 13

Batik Banyubiru

Ingat batik khas Kabupaten Ngawi ingat Sidomulyo Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren. Banyubiru dikenal sebagai desa batik khas Ngawi yang berusaha terus bertahan di tengah arus persaingan hebat batik-batik dari daerah lain. Salah satu pemilik usaha batik Sidomulyo, Suwandi, mengatakan, meski ordernya tidak sebesar pengusaha di sentra batik daerah lain tapi kerajinan batik Ngawi terus berkembang. “Ada saja yang memesan batik saya. Kebanyakan dari para pecinta batik di wilayah Ngawi dan sekitarnya,” kata Suwandi.

Menurut dia, awalnya hanya pekerjaan sampingan tapi sekarang membatik mulai menjadi pekerjaan utama bagi kaum ibu di desanya. Selain melestarikan budaya bangsa, membatik juga memberikan penghasilan tambahan yang lumayan guna membantu perekonomian warga. Hal ini pula yang membuatnya tetap mempertahankan usaha batik. Beberapa ibu di desa ini bekerja kepada saya. Mereka saya upah berdasarkan berapa lembar kain batik yang dapat mereka kerjakan dalam seharinya,” tuturnya.

Suwandi mengakui modal masih menjadi kendala utama. Idealnya, untuk berkembang lebih baik lagi, usaha yang dia geluti sejak bertahun-tahun ini membutuhkan modal hingga Rp50 juta setiap bulannya. Namun, karena minim dana, dia hanya hampu bertahan seadanya dari omzet penjualan kain batiknya.”Pernah ada bantuan dari Dinas Perindustrian Ngawi beberapa waktu lalu. Yakni bantuan berupa peralatan membatik,” terang Suwandi. Motif yang biasa dibuat oleh pembatik Desa Banyu­biru adalah Gringsing, Bokor Kencono, dan Sido Mukti. Harga jualnya pun bermacam-macam, mulai dari ratu­san ribu rupiah hingga jutaan rupiah bagi yang berba­han dasar kain sutera. “Motif andalan batik Ngawi adalah Batik Gringsing. Rencananya, sebentar lagi kami ingin membuat motif baru yang diberi nama Batik Wahyu Ngawiat. Motifnya masih dirancang,”
papar Suwandi.

Salah satu pembatik, Rina, mengatakan, untuk membuat batik tulis sangat membutuhkan ketelatenan dan konsentrasi tinggi. Hal ini karena motif yang dibuat sangat bervariasi dan mempunyai karakter berbeda-beda. “Kalau pas motifnya susah ya lama, tapi kalau pas motifnya gampang, pasti cepat selesai. Lumayan, dari membatik saya bisa membantu suami sedikit-sedikit buat tambah uang jajan anak saya,” kata dia.

Dia mengatakan, dalam sehari dirinya bisa membatik hingga 10 lembar kain batik berukuran kecil dengan upah Rp1.500,00 per lembarnya. Sedangkan untuk ukuran batik besar, dia mampu mengerjakan hingga lima lembar dengan upah Rp3.000,00 per lembarnya. Suasana para ibu membatik membuat Banyubiru yang berada di kaki Gunung Lawu semakin sejuk. Untuk menuju desa ini, dari jalan raya Solo-Madiun, pas di pertigaan Gendingan belok ke selatan. Kira-kira 8 km jaraknya. Jalan ke Banyubiru merupakan jalan menuju pabrik karet Tretes.

Saat ini batik Ngawi, khususnya Banyubiru, semakin disuka para remaja. Hal itu karena para perajin berusaha mengakomodir selera remaja. Lihat saja pada acara fashion show batik tingkat pelajar SMP maupun SMA pada Rabu (31/10) lalu, di mana pesertanya membludak. Suasana Pendopo Wedya Graha Kabupaten Ngawi yang jadi lokasi acara dipenuhi remaja mengenakan pakaian batik khas Ngawi yang bernuansa modern dengan sentuhan apik. Para remaja itu tanpa canggung berpose di atas catwalk.

Kepala Dinas Perekonomian dan UMKM Kabupaten Ngawi, Sofyan SH.M.Hum, mengatakan, fashion show batik itu diikuti sekitar 49 remaja dari pelajar SMP dan 56 pelajar SMA. “Even tersebut sebagai inovasi untuk lebih memperkenalkan batik ke kalangan remaja sehingga harapan kita potensi pasar ke depannya cukup terbuka lebar dan untuk penganekaragaman dan pengembangan industri batik khas Ngawi, agar menembus pasar dengan memenuhi selera konsumen,” terangnya. Batik-batik yang ditampilkan karya perajin batik yang tersebar di wilayah Ngawi seperti dari Desa Banyubiru, Munggut, Jenggrik, dan Gentong, (gus)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  SUARA DESA
, Edisi 08, Januari-Februari 2013, hlm. 38

Museum Trinil

Menelusuri Kehidupan Manusia Purba di Museum Trinil TRINIL0003
Mengunjungi Museum Trinil, mengajak kita kembali ke dalam kehidupan jutaan tahun yang lalu. Melihat lamanya waktu, sejarah ini pasti menceriterakan tentang kepurbakalaan. Satu-satunya situs kepurbakalaan berada di Ngawi Jawa Timur adalah Museum Trinil Di museum ini banyak sekali tersimpan fosil-fosil purba, mulai dari tengkorak manusia, gajah serta peralatan yang digunakan untuk mempertahankan diri pada zaman itu.Museum Kepurbakalaan Trinil terletak di Dukuh Pilang, Desa Kawu, Kec. Kedunggalar, Kabupaten Ngawi dengan jarak tempuh sekitar 14 km ke arah barat dari pusat kota Ngawi.Sepanjang perjalanan menuju museum kita bisa menikmati indahnya pemandangan desa yang sangat rimbun yang dipenuhi pohon bambu serta rumah penduduk yang memiliki ciri khas pedesaan terbuat dari bambu.TRINIL0004Pintu gerbang museum yang sangat sederhana terlihat setelah masuk ke dalam, sekitar satu kilometer dari jalan raya utama. Memasuki wilayah museum kita harus melapor ke pos penjagaan. Situs Trinil, menurut penelitian, merupakan salah satu tempat hunian kehidupan purba pada zaman Pleistosen Tengahsekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Situs Trinil ini amat penting sebab di situs ini selain ditemukan data manusia purba juga menyimpan bukti konkrit tentang lingkungannya, baik flora maupun faunanya. Museum ini dikelola bersama oleh Pemda Kabupaten Ngawi dan Dirjen Kebudayaan, Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jatim yang berada di Trowulan, Mojokerto. Isi Museum Trinil Menginjakkan kaki di halaman museum, wisatawan disambut dengan bangunan gapura museum dengan latar belakang patung gajah purba. Patung gajah ini cukup besar untuk ukuran gajah sekarang, dengan gading yang sangat panjang, dan anatominya lebih mirip Mammoth tetapi tanpa bulu. Selain patung gajah, juga terdapat monumen penemuan Pithecan­thropus erectus yang dibuat oleh Dubois. Pada mo­numen, tertulis: P.e. 175m (gambar anak panah), ONO serta di bawahnya tertera 1891/95. Artinya Pithecanthropus erectus (P.e.) dite­mukan sekitar 175 meter dari monu­men itu, mengikuti arah tanda panah (arah barat daya), pada ekskavasi yang dilakukan dari tahun 1891 hingga 1895. Begitu masuk museum jajaran redaksi Prasetya menemui Pak Sujono juru kunci yang juga cucu dari Wirodihardjo atau Wiro Balung, tokoh yang peduli pada fosil pada jaman Belanda. Setelah cukup menikmati patung gajah dan monumen, wisatawan bisa menggali informasi lebih jauh dengan melihat koleksi museum yang jumlahnya mencapai 1.200 fosil terdiri dari 130 jenis. Di dalam Museum dipamerkan beberapa replika fosil manusia purba berupa replika Phitecantropus Erectus yang ditemukan di Karang Tengah (Ngawi), Phitecantropus Erectus yang ditemukan di Trinil (Ngawi), serta fosil-fosil yang berasal dari Afrika dan Jerman, yakni Australopithecus Afrinacus dan Homo Neanderthalensis. Kendati hanya berupa replika, namun fosil tersebut dibuat mendekati bentuk aslinya. Sementara fosil-fosil yang asli disimpan di beberapa museum di Belanda dan Jerman.Di dalam museum pengunjung bisa menyaksikan diorama manusia purba serta tulang-tulang manusia purba seperti fosil tengkorak manusia purba (Phite­cantropus Erectus Cranium Karang Tengah Ngawi), fosil tengkorak manusia purba (Pithecantropus Erectus Cranium Trinil – Trinil Area), fosil gigi geraham atas gajah (Stegodon Trigonocephalus Upper Molar Trinil Area), fosil tulang paha manusia purba (Phitecantropus Erectus Femur Trinil Area), fosil tanduk kerbau (Bubalus Palaeokerabau Horn Trinil Area), fosil tanduk banteng (Bibos Palaeosondaicus Horn Trinil Area) dan fosil gading gajah purba (Stegodon Trigonocephalus Ivory Trinil Area). Selain itu terdapat beberapa fosil tengkorak beserta peta sebarannya di seluruh dunia dilengkapi dengan lampu-lampu kecil seperti : Australopithecus Afrinacus Cranium Taung Bostwana Afrika Selatan, Homo Neanderthalensis Cranium Neander Dusseldorf Jerman dan Homo Sapiens Cranium. Yang tak kalah menarikny adalah adanya sebuah tugu tempat penemuan manusia purba. Selain fosil manusia. Di dalam museum juga dipamerkan fosil tulang rahang bawah macan (Felis Tigris), fosil gigi geraham atas gajah (Ste­godon Trigonocephalus), fosil tanduk kerbau (Bubalus Palaeokerabau), fosil tanduk banteng (Bibos Palaeosondaicus), serta fosil gading gajah purba (Stegodon Trigonocephalus). Fosil-fosil hewan ini umumnya lebih besar dan panjang daripada ukuran hewan sekarang. Misalnya saja fosil gading gajah purba yang panjangnya mencapai 3,15 meter—bandingkan dengan gajah sekarang yang panjang gadingnya tak lebih dari 1,5 meter. Cikal-bakal Museum Trinil Wirodihardjo atau Wiro Balung (60 tahun) dari Kelurahan Kawu Adalah seorang sukarelawan yang menyadari bahwa tugu itu mempunyai makna besar dan sangat berguna bagi penelitian selanjutnya. Wajar jika dia berpendapat begitu, karena ia telah ikut ekspedisi yang dilakukan oleh ilmuwan Eugene Dubois dan Salenka. Kedatangan orang asing tersebut adalah mahasiswa yang datang silih berganti untuk melakukan ekspedisi dengan biaya yang mahal. Oleh karena itu, sebagai putra daerah, ia merasa ikut bertanggungjawab atas kelestarian tempat itu, dan melanjutkan eksplorasi. Kehadiran Wirodiharjo di Trinil sangat berarti, karena ia menjadi tempat untuk bertanya bagi para pengunjung tentang fosil di Trinil. Pada awalnya, walaupun tempat tersebut sekarang terkenal sebagai daerah fosil, namun waktu itu tidak satupun fosil ia temukan di Trinil. Untuk itu ia mengumpulkan setiap fosil yang ditemukan warga di Sungai Bengawan Solo dengan cara membeli atau ditukar dengan barang atau beras sesuai permintaan warga. Dari hari ke hari, fosil yang dikumpulkan dari tiga desa, sebelah barat Desa Kawu, sebelah utara Desa Gemarang dan sebelah timur Desa Ngancar semakin bertambah banyak. Setelah ditinjau oleh Kepala Seksi Kebudayaan Depdikbud Ngawi, Mukiyo, ia mendapat bantuan tiga almari untuk menyimpan fosil-fosil yang terkumpul. Sejak saat itulah, Wirodiharjo terkenal dengan sebutan Wiro Balung, yang berarti Pak Wiro yang suka mengumpulkan tulang (balung-balung). Pada tahun 1980/1981 Pemprov Jatim mendirikan museum untuk menampung fosil-fosil di atas lahan Wiro Balung yang peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Jatim “Soelarso” pada 20 Nopember 1991. Namun sayang, Wiro Balung tidak bisa menyaksikan peiesmian karena dia telah meninggal dunia pada 1 April 1990 akibat kecelakaan. Setelah Wiro Balung meninggal dunia, keahliannya diteruskan anaknya. Wajah Museum MendatangTRINIL0002 Nama museum Trinil telah dikenal oleh dunia kepurbakalaan. Tapi sayang, masyarakat Ngawi yang notabene sebagai tuan rumah sangat jarang berkunjung ke museum ini. Hal ini terlihat saat tim Prasetya berbincang dengan siswa Sekolah Kesehatan Ngawi, bernama Siska mengungkapkan, Museum ini sangat berguna bagi ilmu pengetahuan, agar kita tahu kehidupan jaman purba. Namun sayang, kondisinya kurang terawat. “Saya berharap museum ini mempunyai fasilitas pendukung yang lain agar lebih banyak masyarakat yang mau berkunjung,” ujarnya. Untuk kembali menarik pengunjung, pihak pengelola telah menata secara rapi taman-taman di sekitar areal museum terlihat bersih, indah, dan asri. Di depan museum juga terdapat pendopo yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat. Untuk wisata sejarah, yang mengurus bukan Pemkab tapi Pemprov. Jadi pemkab hanya menvediakan lahan dan kemudian Pemprov membangunnya,” pintanya. Kita semua pasti berharap, Museum Trinil bisa segera dibenahi, dan menjadi tempat favorit wisata agar wilayah museum menjadi ramai dan geliat ekonomi masyarakat setempat dapat dapat terangkat. ❖

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾ Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Prasetya, Volume V, No. 53, Mei 2013

Prijanto, Ngawi, Jawa Timur

Prijanto26 Mei 1951, Prijanto lahir di Ngawi, Jawa Timur , merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara lahir dari pasangan Sumantri Wignjowijandjono dan Sumirah. Prijanto beristri Widyastuti Endang S dan mempunyai dua anak yaitu Whisnu Putro dan Putri.

Tahun 1963, Prijanto menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar.

Tahun 1966, Prijanto menyelesaikan pendidikan SMP

Tahun 1969, Prijanto menyelesaikan pendidikan SMA

Tahun 1970, selepas SMA, Prijanto melanjutkan kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang Fakultas Keguruan Eksakta.

Tahun 1972,  belum tuntas menyelesaikan pendidikan di kampus calon guru itu, Prijanto pindah ke AKABRI dan lulus pada tahun 1975.

01-12-1975, Prijanto Lulus dari AKABRI

Tahun 1976, Sussargab , ditahun yang sama Prijanto sebagai Danton

Tahun 1978, Prijanto terlibat aktif dalam Operasi Seroja di Timor Timur.

Tahun 1979, Danrai

Tahun 1980, Sus Pa Turbak Arhanud

Tahun 1981, Susjurpal.70

Tahun 1983, Kasi-2/Ops Yonarhanudri

Tahun 1985, Sussarpur

Tahun 1987, Gumil Akmil

Tahun 1989, Wadanyon Demon Akmil

Tahun 1990, Seskoad. Ditahun ini pula Prijanto sebagai Ps. Kabagbinsat Arh Pusenart

1991, Kabagbinsat Arh Pussenart

1992, Danyon Arhanudse-6 Dam Jaya

1993, Padyalat Sopsdam Jaya

1995, Kaspri Pangdam Jaya

1995, Kasmen Arhanudsedam Jaya

Tahun 1997, Sesko ABRI, pada tahun yang sama menjadi Pamen Dam Jaya dan Danmen Dam Jaya

Tahun 1998, Koorspri

Tahun 1999, Danrem Jayakarya Dam Jaya.

Tahun 2000, Pamen Ahli Kasad Bid Sosbud

Tahun 2002, Dandenma Mabesad

Tahun 2003, Kasgartap Jakarta

Tahun 2005, Kasdam Jaya

Tahun 2006, Lemhanas 2006, Aster Kasad

2007, Pensiun dini atas permintaan pribadi untuk mengikuti Pilkada DKI Jakarta. Jabatan terakhirnya pada karir di TNI adalah Aster KASAD dengan pangkat Mayor Jenderal.

Tahun 2007, Mayjen TNI (Purn.) Prijanto (Partai politik PDI Perjuangan) terpilih sebagai Wakil Gubernur mendampingi Fauzi Bowo pada Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah DKI Jakarta2007, periode7 Oktober 2007 sampai 7 Oktober 2012.

26 Desember 2011, Sebelum tuntas masa jabatannya Prijanto mengundurkan diri sebagai Wakil Gubernur. Prijanto mengajukan surat penguduran diri ke Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi yang ditujukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan tembusan Gubernur Fauzi Bowo dan Ketua DPRD DKI, Ferial Sofyan.

6 Maret 2012, pengunduran diri  Prijanto ditolak oleh DPRD DKI Jakarta pada.

Penghargaan/ Satya Lencana yang pernah didapatkan:

  1. Satya Lencana Kesetiaan VIII
  2. Satya Lencana Kesetiaan XVI
  3. Satya Lencana Kesetiaan XXII
  4. BY. Kepnarya
  5. BY. Yudha Dharma Nararya
  6. Satya Lencana Dwijasista

Klanthung, Kabupaten Ngawi

KLANTUNGDari ibukota kabupaten Ngawi ke barat, menyusuri jalan pro­pinsi yang beraspal yang menghubungkan kota Madiun dengan Sura­karta (Jawa Tengah), kemudian melewati ibukota kecamatan Mantingan membelok ke selatan memasuki jalan desa yang menerobos hutan jati, membelok sana membelok sini, akhirnya sampai kita ke sebuah desa bernama Kedhungarja, terletak di kaki gunung Lawu. Kita telah menempuh jarak kurang lebih 40 kilometer, cukup jauh memasuki daerah pedalaman. Dua tiga kilometer jauh lagi terletak desa Pakah. Di kedua desa itulah terdapat suatu permainan rakyat yang oleh masyarakat setempat disebut Klanthung.

Peristiwa Permainan.

Jenis permainan rakyat Klanthung ini hanya ditampilkan malam hari pada setiap bulan Suro. Pada bulan-bulan lain tidak. Hal demikian adalah menurut naluri tradisi masyarakat setempat, tradisi kajawen (orang Jawa) umumnya, yang menganggap, bahwa bulan Suro adalah bulan baik, bulan Suci, untuk “sesuci” (menyu­cikan diri dari segala noda) dengan melakukan semedi, berpuasa, mengurangi tidur, lebih-lebih di malam hari, sehingga seluruh desa dalam bulan-bulan Suro setiap malam bersuasanakan “berjaga-jaga” sampai larut malam, bahkan pun sampai semalam suntuk.

Istilah “berjaga-jaga” di sini selain mengandung arti melek (tidak tidur), pun mengandung maksud “bersiap-waspada” terhadap gangguan-gangguan yang mungkin gangguan halus. Yang dimaksud­kan dengan gangguan kasar, ialah sebangsa pencurian, perampokan dan segala gangguan fisik lainnya, sedang dengan gangguan halus, ialah sebangsa wabah penyakit, hama, bencana alam dan lain-lain.

Terutama untuk menghadapi gangguan halus inilah “malam- malam tirakatan” sepanjang bulan Suro itu dilakukan. Untuk meng­hadapi gangguan pencurian, perampokan, dan sebagainya, desa telah menyelenggarakan .penjagaan keamanan sepanjang tahun secara rutin, dilakukan oleh warga desa secara bergiliran.

Khusus di bulan Suro, maka “malam tirakatan” tersebut di­maksudkan sebagai penolak bala, mengusir “roh-roh jahat” yang membawa malapetaka bagi desa dan warga penduduknya. Dan prak­tis seluruh warga desa mengalami kesibukan. Para lelaki yang tua-tua biasanya berkumpul berkelompok-kelompok di rumah-rumah warga yang berpencaran, dan membaca buku-buku kidungan atau weda, yang isinya pasti sesuai dengan maksud “malam tirakatan”. Para Perempuannya sibuk menyiapkan air kopi dan jajan-jajan penganan, atau mendengarkan bacaan kidungan tersebut.

Yang paling unik dalam cara mereka berusaha mengusir roh Jahat tersebut, ialah dengan menampilkan permainan Klanthung yang agak berbau religius magis itu. Dikatakan agak berbau religius magis karena nafas religius magisnya sudah banyak memudar karena tiada- nya upacara-upacara ritus khusus yang menyertainya. sebagai “penolak bala”. Kalau toh ada semacam lapal atau mantra, mantra itu pun dilakukan oleh satu dua orang yang kebetulan per­caya benar akan tuahnya, tetapi selebihnya tidak dilakukan orang lagi. Biasanya lapal atau mantra tersebut, diucapkan oleh pemimpin Klanthung yang sudah setengah baya atau berusia lanjut.

 

Latar Belakang Sosial Budaya.

Satu hal yang menarik pada permairan Klanthung desa Pakah ini ialah, sifatnya yang tak serius, namun sengaja atau tidak, lebih mendekati keasliannya di masa silam. Menurut salah seorang informan, asal mula permainan Klan­thung memanglah permainan anak-anak, dalam hal ini anak-anak penggembala ternak seperti kerbau, sapi atau kambing. Mereka lazim disebut bocah angon, atau sering disingkat dengan cah angon, baik se­bagai buruh angon atau pun angon ternak milik orang tuanya sendiri, maka dapat dibayangkan betapa besar kiranya jumlah bocah angon itu.

Mereka menggembala ternak kadang-kadang jauh dari rumah halaman sendiri, berkumpul di sebuah padang rumput yang luas, yang disebut ara-ara, di tepi hutan, atau yang di sana sini ditumbuhi belukar atau pepohonan tempat mereka berteduh mengaso setelah capai bermain-main. Biasanya tidak jauh dari situ terdapat telaga, atau blumbang, atau anak sungai tempat mereka mengguyang sapi atau membiarkan kerbau mereka berendam. Karena mereka tidak bersekolah, (pada masa itu belum atau masih jarang ada sekolah), maka mereka kerap kali menghabiskan waktu mereka sehari-harian di pangonan tempat-tempat penggem­balaan.

Mereka isi waktu mereka dengan bermain-main, dengan mengobrol, mendongeng, wayangan dengan boneka wayang yang me­reka buat sendiri dari bahan rumput, atau dengan ura-ura mengidung, atau mandi. Makan pun mereka lakukan di tempat dari bekal yang sengaja mereka bawa dari rumah, atau membakar ubi-ubian. Menje­lang sore hari baru mereka berbondong-bondong mengiringi ternak mereka pulang ke rumah masing-masing. Dengan demikian lambat laun mereka merupakan suatu kelompok masyarakat sendiri, masya­rakat bocah angon, yang agaknya memiliki karismanya yang khas, sehingga pada masa itu predikat bocah angon membawakan pengertian yang legendaries. Dalam banyak cerita rakyat tokoh bocah angon sering ditampilkan, meskipun tidak menduduki peran utama. Pun dalam lelagon dolanan Jawa Ilir-ilir yang populer itu ada disebut pula bocah angon.

 

Latar Belakang Sejarah Perkembangan Permainan.

Dulukala, desa-desa di bagian barat kabupaten Ngawi masih sangat jarang. Jarak antara desa satu dengan yang lain sangat jauh, dan harus menemtus hutan yang lebat. Hubungan sangat sulit, dan hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki atau naik kuda. Keamanan pun tidak terjamin. Sering terjadi pembegalan yang disertai dengan penganiayaan atau pembunuhan. Desa-desa pur tidak jarang meng­alami gangguan keamanan oleh para penjahat yang berani dan nekad. Karena persenjataan untuk menanggulangi keamanan dulu itu tidak sesempurna sekarang, juga dalam sistim pemberantasan kejahatan, maka andalan penduduk untuk menghadapi dan melawan kawanan penjahat itu adalah kekuatan dalam yang diperoleh dengan ilmu-ilmu kanoragan kekebalan atau kesaktian disertai dengan mantram-man- tram segala. Karena kepercayaan dan keyakinan masyarakat umum akan kekuatan-kekuatan dalam yang demikian itu masih tebal sekali, maka effeknya pun juga positif. Si penjahat tidak berani dengan ge­gabah melakukan kejahatannya tanpa andalan kekuatan dalam. Penjahat adalah penjahat, dan desa beserta penduduknya tetap ber­jaga-jaga menghadapi kejahatannya itu.

Di antara kawanan penjahat seperti brandal, kampak, kecu, rampok, maling dan sebagainya, terdapat kawanan yang mengkhu­suskan obyek kejahatannya dengan mencuri ternak, kerbau, sapi, atau kambing. Kawanan itu terkenal dengan sebutan genthc. Biasa­nya kejahatannya itu dilakukan pada musim kemarau, untuk mudah menghilangkan jejak. Di musim penghujan hal demikian sukar dilaku­kan, karena tanah yang basah dan lunak karena hujan, mudah jejak Pencuri ditelusuri.

Sesuai dengan kebiasaan kawanan gentho tersebut, maka penduduk mengambil langkah-langkah untuk mengamankan ternak mereka. Maka pada musim-musim kemarau semua ternak desa dikum- Pu kan di beberapa tempat tertentu yang cukup luas, diberi berpagar m u berduri yang lazim carang, sedemikian kuat untuk melindungi ternak dari serbuan kawanan gentho. Di samping pagar carang yang uat itu pun dilakukan penjagaan dan perondaan semalam suntuk Bcara bergantian. Dalam perondaan itulah bocah angon ikut meng- mbil bagian sambil membunyikan thethekan dan thonthongan yang srbuat dari bambu, yang menimbulkan suara yang melodius ritmis cionoton. Pemimpin kelompok peronda bocah angon tersebut di- iluki “Klanthung”.

Apelkah dalam perondaan mereka pada masa itu juga disertai lengan tari-tarian, ataupun dengan menggunakan topeng atau coreng- noreng pada muka dan badan mereka, informan tidak menceritakan. Tetapi hal demikian mungkin saja terjadi. Sebab, merfgingat kebiasa- in mereka, bocah angon, yang menghabiskan waktu hampir sehari- larian penuh dengan bermain di pangonan, lalu mendengar irama )unyi-bunyian yang mereka tabuh sendiri, agaknya tidak masuk akal talau hati mereka tidak tergerak untuk mengikutinya dengan menari­lah. Mungkin gerak tarian itu datang dengan sendirinya, secara in- itingtif. Dalam pada itu alam kepercayaan masyarakat waktu itu ma- ;ih kuat diliputi “gugon tukon” tahayul masih mengandalkan ke­kuatan magis (kesaktian) melalui mantra-mantra, ajimat, pusaka, dan iebagainya, untuk menolak gangguan kekuatan dari luar. Tidak ter­kecuali tentunya kawanan pencuri ternak, para gentho, mereka pun menggunakan kesaktian untuk mensukseskan operasi kejahatannya, nisalnya dengan aji-aji penyirepan “mantra untuk menidur nyenyak- itan lawan”, sebagai mana kita dengar dalam kisah-kisah lama. Dengan demikian tidak mustahil pula, bahwa bocah-bocah angon yang meronda tersebut pun menggunakan topeng atau coreng mo- reng yang menyeramkan, dengan keyakinan, bahwa dengan demikian dapat memperoleh kekuatan magis yang akan mampu melawan dan melumpuhkan kesaktian kawanan gentho. Kelak kemudian hari naluri itu diwarisi dan diteruskan oleh anak cucu mereka turun te- murun, mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan per­kembangan jaman, dan akhirnya menjadi permainan Klanthung yang sekarang ini.

Dalam hal ini sekarang sudah ada sistim keamanan yang jauh lebih efisien, sehingga permainan ini dialihkan untuk menolak bala secara tradisional. Para pemainnya pun diganti dengan orang-orang dewasa atau tua-tua, mungkin untuk memberikan tekanan pada sifat religius magisnya yang ingin dipertahankan. Tiadanya upacara upacara ritus yang khusus yang biasanya menyertai tiap kegiatan semacam itu, kenduri, sesaji, dan sebagainya, mungkin didasarkan atas pertimbangan ekonomis atau kepraktisan. Bukankah penampilan Klanthung itu sendiri sudah merupakan upacara ritus ?.

Sebaliknya Klanthung desa Pakah lebih menitikberatkan pada penampilan anak-anak sebagai pengganti bocah angon. Anak-anak itu sendiri sebenarnya juga bocah angon, sebagai mana lazimnya anak-anak desa, tetapi sekarang tidak lagi bersifat legenda-ris seperti pendahulunya dimasa silam. Jamannya sudah berubah. Bocah angon jaman dulu peka terhadap kekuatan-kekuatan magis, karena menurut ucapan informan bocah angon jaman dulu banyak prihatinnya. Anak-anak sekarang sudah wajar menghayati dunia kanak-kanaknya, sehingga dengan demikian, unsur permainan lebih dominan mewarnai Klanthung Pakah. Hanya oleh wujud penampil-an penari yang menyeramkan serta monotonnya tetabuhan yang mengiringinya aspek religius magisnya secara tidak langsung terwakili. Suasana bulan Suro pun banyak membantu mewarnai sifat-sifat kereligio-magisan tersebut. Namun bagaimanapun, kecenderungan bermain-main nampak menonjol sekali.

 

Peserta Pelaksana.

Menyinggung masalah peserta pelaksananya, di muka telah dipaparkan, bahwa semuanya terdiri atas laki-laki dengan jumlah yang tidak dibatasi. Umurnya pun tidak ditentukan secara mutlak, ternyata pada Klanthung Kedungarja – yang didukung oleh orang-orang dewasa sampai tua sekalipun dan pada Klanthung desa Pakah yang terdiri atas anak-anak umur belasan. Mereka membagi diri dalam kelompok penari, kelompok pengiring tetabuhan dan kelompok pembawa obor. Kebanyakan mereka adalah petani dan anak petani penduduk desa-desa tersebut, yang umumnya memeluk agama Islam, yang diwarnai dengan rasa kejawen dengan alam pikiran dan kepercayaan tradisionalnya. Ini dibuktikan oleh permainan Klanthung itu sendiri pada bulan-bulaan Suro, yang merupakan sisa-sisa peninggalan tata cara tradisional Jawa lama.

Peralatan/Perlengkapan Permainan

Tentang peralatan dan perlengkapan permainan pun telah di­singgung di muka secara sepintas. Yang utama ialah topeng, khusus untuk Klanthung Kedhungarja. Jumlahnya menurut keadaan, semua melukiskan roman mahluk-mahluk yang menyeramkan : gendruwon, setan-setanan, hantu-hantuan, binatang, yang dikerjakan menurut selera dan fantasi mereka masing-masing secara primitif pula. Tetapi justru keprimitifannya itu malahan yang lebih kuat mengekspresikan sifat religius magisnya.

Bahan dan proses pembuatan topeng itupun sederhana pula. Pelepah bambu, biasa disebut slumpring dipilih yang lebar-lebar dan kering. Dengan pisau tajam dibuat beberapa lobang yang memben­tuk mata, hidung dan mulut. Kemudian dilukis menurut kehendak si pembuat, dengan menggunakan sejenis cat bubukan dicampur de­ngan minyak. Warna yang digunakan biasanya tiga macam : merah, putih, hitam.

Di samping slumpring, kadang kala bahan lain juga digunakan, yaitu pelepah kelapa, diambil bagian pangkalnya, dipilih yang sudah kering dan mempunyai bentuk yang sedikit banyak menyerupai ben­tuk yang diinginkan, tinggal membuat lubang-lubang matanya, dan kemudian dilukis. Bahan yang sudah dibeli sudah jadi.

Mengenai busana mereka, pemain menggunakan pekaiannya sehari-hari, dengan warna kelam dan lusuh. Yang menarik pada Klanthung Kedhungarja ialah, bahwa diantara para penari itu terdapat dua yang terasa asing karena dan­danannya. Dua penari ini berbusana seperti wayang wong, lengkap dengan atribut-atributnya seperti jamang, sumping, kalung kaceh, penutup leher, kelat bahu, setagen, sabuk epek timangan, sampur, kain batik, yang gemerlapan. Penampilan mereka amat kontras dengan lingkungannya.

Klanthung Pakah tidak memerlukan topeng. Busana pun ti­dak, karena anak-anak penari itu hampir telanjang, hanya mengena­kan celana pendek, kadang-kadang cawat, sekujur badannya; kepala; lengan, tangan dan badan sampai kaki, dilabur dan dicoreng morengi dengan warna hitam, putih, merah. Untuk bahan pewarna digunakan serbuk jelaga, kapur (bedak), dan meni.

Untuk bahan pewarna ini diguna­kan Peralatan tetabuhannya tidak memerlukan perbedaan pokok antara Klanthung Kedhungarja dan Pakah. Gong (yang sebenarnya kempul), kethuk, kenong, beberapa macam thonthongan dan the- thekan menurut ukuran besar kecilnya, yang karenanya memberikan nada suara besar kecil pula. Krincing atau triangle adalah instrumen yang menyusul kemudian. Kendhang pun digunakan untuk mengatur Irama.

Tidak termasuk peralatan pokok, namun mutlak diperlukan ialah obor, atau dengan istilah setempat disebut oncor. Bahannya dari bambu, sepotong bumbung panjang 1 ,meter, garis tengah 5 senti­meter. Ruas paling atas diisi dengan minyak dan diberi bersumbu. Jumlah obor menurut keperluan, tergantung besar kecilnya jumlah peserta.

Iringan Permainan.

Permainan diiringi dengan bunyi-bunyian dari alat-alat tabuh seperti : kenong, kempul, kethuk dan thethekan.

Jalan Permainan.

a. Bentuk Permainan

Adapun bentuk permainan Klanthung itu semacam karnaval terdiri atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah sebarisan pe­nari, semua laki-laki bertopeng hantu-hantuan atau binatang-bina­tangan. Ada pula yang berupa tengkorak manusia, tetapi dengan ram­but berumbai-umbai, pendek kata semua melukiskan mahluk aneh yang serba menyeramkan dan menakutkan.

Atau ada yang tidak menggunakan topeng. Kepala dan sekujur badan mereka yang hanya menggunakan celana pendek atau setengah telanjang, dilabur hitam dengan diberi coreng moreng putih dan merah. Kelompok kedua ialah barisan penabuh gamelan, yang terdiri atas beberapa orang dengan instrumennya masing-masing : ked­ang, kempul, kenong, thonthongan besar kecil terbuat dari bahan bambu atau kayu. Kadang pun di tambah dengan kerincing.

Di samping kedua kelompok inti tersebut, sebenarnya masih terdapa kelompok ketiga sebagai pelengkap, yang bertugas sebagai pengiring dan  membawa obor untuk menerangi jalan dan arena.  Demikianlah kelompok-kelompok itu menyatu merupakan iring-iring an yang bergerak menyusuri lorong-lorong dan jalan-jalan desa sem- baru berjogedan dalam tingkahan irama tetabuhan yang monoton.

Diterangi cahaya obor yang selalu bergerak, dengan tetabuhan yang monoton namun mengasyikkan, dan penarinya yang berjoget dengan dandanan yang menyeramkan, maka iringan permainan Klanthung memang mampu menciptakan kesan dan suasana yang menakutkan, sehingga bulu kuduk kita bisa berdiri. Tetapi justru efek yang me­nakutkan itulah yang sengaja mereka buat, menurut kepercayaan masyarakat setempat, agar roh-roh jahat menjadi takut dan terusir dari desa.

b. Perbedaan Penampilan

Desa Kedhungarja terbagi dalam beberapa dukuh, dan tiap- tiap dukuh mempunyai kelompok Klanthungnya sendiri, dengan de­mikian terdapat beberapa kelompok Klanthung dalam satu desa. Desa Pakah pun terbagi pula dalam beberapa dukuh dengan kelom­pok Klanthungnya masing-masing. Menarik, ialah terdapatnya perbedaan yang agak fundamen­tal antara kelompok Klanthung desa Kedhungarja dan kelompok desa Pakah, walaupun jarak antara kedua desa itu tidak jauh.

Pemain kelompok Klanthung Kedhungarja terdiri atas orang-orang dewasa, di antaranya terdapat yang tua-tua. Penarinya menggunakan topeng semua, dan dalam memainkan peranannya masing-masing nampak serius. Hal ini disebabkan karena usia mereka, yang mempengaruhi citra mereka tentang permainan Klanthung. Mereka beranggapan, bahwa Klanthung bukan permainan biasa, atau sama sekali bukan permainan, melainkan upacara yang sudah men­tradisi turun temurun untuk mengusir roh-roh jahat, sesuai dengan alam kepercayaan masyarakat lingkungan mereka. Permainan Klan­thung pun oleh karenanya dilakukan semalam suntuk, setidak-tidak­nya sampai dinihari.

Lain halnya dengan kelompok Klanthung desa Pakah, yang pemainnya terdiri atas anak-anak semua. Kalaupun terdapat satu dua orang dewasa di antara mereka, maka yang satu dua itu bertindak selaku pimpinan atau pamong. Penarinya tidak bertopeng, hanya mu­kanya diberikan coreng moreng hitam putih, merah. Tidak hanya mukanya, bahkan seluruh tubuhnya. Dalam melakukan “tarian” mereka, mereka nampak santai sekali, tidak serius. Hal yang wajar saja, karena mereka anak-anak. Sesuai dengan jiwa anak-anak, mereka bermain-main dalam arti yang murni. Kalau mereka mengenakan “make up” yang menyeramkan, itulah karena tiru-tiru saja. Dalam benak mereka tidak sedikitpun terlintas niatan untuk mengusir roh- roh jahat. Mereka merasa senang kalau dengan mukanya yang seram itu dapat menakuti anak lain sebaya mereka.

Permainan Klanthung desa Pakah ini tidak berjalan semalam suntuk, hanya sampai tengah malam, mengingat esok paginya mereka harus bersekolah. Bagi anak- anak desa Pakah, mungkin bulan Suro merupakan bulan yang paling menyenangkan sepanjang tahun, sebab mereka beroleh kesempatan berjaga sampai tengah malam, yang biasanya sudah tidur pada jam delapan atau sembilan. Lebih-lebih kalau dapat bermain Klanthung, setidak-tidaknya ikut mengiringkan. Keluar rumah malam-malam secara bergerombol dengan kawan-kawan merupakan kesenangan sendiri bagi anak-anak.

c. Pelaksanaan Permainan

Biasanya permainan Klanthung dimulai jam delapan malam. Para pelaku pelaksananya berkumpul di satu tempat yang sudah di tentukan semula. Mereka membawa persiapan dan perbekalan ma­sing-masing. Pembawa obor dengan obornya, pengiring tetabuhan dengan instrumennya masing-masing, para penarinya dengan atribut- atribut yang diperlukan. Iringan Klanthung mulai bergerak, kalau segala sesuatunya sudah lengkap dan siap.Tetabuhan mulai bergema, penari-penari yang paling depan berjoged dengan gaya masing-masing, para peme­gang obor merupakan barisan pengapit berada disisi kanan dan kiri sepanjang iring-iringan.

Demikianlah iring-iringan perlahan bergerak maju, menyusuri lorong-lorong dan jalan-jalan desa. Keheningan yang biasanya meliputi desa di malam hari, kini suasana tidak seperti malam. Desa menjadi hidup dan semarak oleh kesibukan. Tidak se­dikit anak-anak remaja tanggung dan dewasa yang berbondong-bon­dong ikut mengiringkan barisan Klanthung, berkeliling dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Orang tua-tua laki perempuan, gadis- gadis, dan anak-anak kecil biasanya  hanya mancegat di halaman rumah masing-masing.

Di perempatan jalan iringan Klanthung berhenti sebentar, tetapi penari-penarinya tetap menari, dan tetabuhan pun tetap ber- talu. Kalau dirasa sudah cukup, bergerak lagi iringan meneruskan per­jalanan berkeliling sampai kemput semua tersinggahi, maka kembali iringan ke pos semula untuk mengaso, untuk kemudian mulai keliling lagi, sampai berakhir  pada tengah malam (Pakah), atau dinihari (Kedhungarja). Permainan Klanthung benar-benar mengasyikkan.

Peranannya Masa Kini.

Klanthung Kedhungarja sejauh ini masih mempertahankan unsur religius magisnya., hanya berbeda sekarang tidak lagi dituju­kan semata-mata untuk menanggulangi pencurian ternak.

Tanggapan Masyarakat.

Permainan Klanthung adalah naluri tradisional yang tetap di­pelihara oleh penduduk desa Kedungarja dan Pakah, atas dasar pra­karsa, spontanitas, dan kerukunan masyarakat setempat. Citra umum akan keagungan bulan Suro, yang cenderung dikeramatkan itu, membantu terpeliharanya permainan Klanthung yang religius magis, sekalipun sifatnya di sana sini itu agak memudar oleh peng­aruh keadaan jaman.

Juga lokasi desa yang relatif terpencil itu pula menyebabkan penduduk setempat mungkin tidak mengenal hiburan lain, sehingga Klanthung merupakan satu-satunya hiburan bagi me­reka, itu pun kalau Klanthung dianggap hiburan. Tetapi yang jelas, hiburan atau bagian dari tata cara adat, Klanthung saat ini masih menjadi milik yang masih dibanggakan oleh masyarakat penduduk Kedhungarja dan Pakah. Dan yang lebih penting lagi, masyarakat melibatkan diri ke dalam permainan tersebut, pasif ataupun aktif.

PERMAINAN RAKYAT DAERAH JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH, Tahun  1983 – 1984, hlm.42-52