BATIK LOROG PACITAN

Sejarah Batik Lorog Pacitan

Kabupaten Pacitan merupakan salah satu daerah penghasil batik tulis yang terkenal akibat karya dari dua orang wanita bersaudara keturunan Belanda yang bernama E. Coenraad dan M. Coenraad. Dua saudara ini datang dari Surakarta dan menetap di Pacitan. Mereka mendirikan perusahaan batik di Pacitan dengan tenaga kerja banyak dan berpengalaman. Produk dari Coenraad bersaudara umumnya banyak menggunakan warna batik tradisional gaya Jogja dan Solo, yaitu biru nilo dan cokelat soga. Motif yang digunakan juga sebagian besar ialah motif Eropa dan sedikit mencampurkan dengan motif Jawa. Motif yang diproduksi pada umumnya adalah motif bunga.

Sejauh ini bukti peninggalan nyata dari batik Coenraad bersaudara di Pacitan belum ditemukan sama sekali, misalnya seperti tepatnya dimana dibangunnya perusahaan batik Coenraad pada saat itu di Pacitan. Selain itu tidak banyak masyarakat yang mengetahui tentang sejarah batik di Pacitan yang dibawa oleh Coenraad bersaudara. Hal senada juga dituturkan oleh Ibu Retno Toni: “Batik Coenraad dulu yang pernah berjaya di Pacitan sampai sekarang belum ditemukan peninggalannya, Mbak. Sangat disayangkan sekali ya. Seharusnya jadi peer pemerintah untuk melestarikan peninggalan budaya.”

Selain itu masih sangat jarang literatur yang membahas secara detail dan lengkap tentang sejarah batik Pacitan yang dipelopori oleh Coenraad bersaudara. Kurangnya perhatian dari masyarakat akan peninggalan budaya yang sangat penting menjadikan salah satu alasan hilangnya pengetahuan tentang batik Coenraad bersaudara. Diharapkan dengan adanya hal ini, pemerintah menyediakan sarana untuk lebih menggali kembali tentang Coenraad bersaudara yang telah mengenalkan batik ke Kabupaten Pacitan.

Perkembangan Batik Lorog Pacitan Tahun 1980-2010

Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 1980 sedikit mengalami perubahan, perubahan yang menonjol adalah fungsi batik-batik yang diproduksi pada masa itu. Bergesernya penggunaan batik yang semula untuk kain panjang menjadi bahan baju baik pria maupun wanita. Motif , corak dan warna yang dibuat mengarah pada motif-motif tektil yang ada di pasaran. Detail pada batik belum seberapa diperhatikan , hal ini disebabkan permintaan pasar pada waktu itu menginginkan batik yang berharga murah dan cepat pembuatannya. Pemerintah pada saat itu juga berperan dalam melatih dan mengembangkan batik Lorok, mulai dari pelatihan pewarnaan sampai pada kegiatan pameran.Permintaan batik untuk bahan baju semakin meningkat,utamanya permintaan dari pulau Bali.Namun pemasaran ke Bali surut drastis setelah pulau Bali diguncang bom.

img_3400Kabupaten Pacitan yang terletak di serangkaian Pegunungan Kidul juga mempengaruhi tentang keadaan masyarakat dan kebudayaannya. Batik Lorog Pacitan salah satu produk batik petani yang terus berkembang sejalan dengan arus perkembangan jaman. Sepeti halnya kebudayaan, motif pada batik Lorog berkembang secara bebas dan sangat beragam dengan mendapatkan pengaruh-pengaruh dari berbagai ragam hias yang berasal dari luar daerah Pacitan sebagai proses adanya interaksi antar daerah pembatikan.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1980-anPada awalnya para pengrajin batik Lorog memang membuat batik dengan motif-motif tradisional seperti motif Kawung, Sidoluhur, Parang Kusumo, dsb. Akan tetapi dalam perkembangan batik Lorog, motif-motif tradisional tersebut dibuat dan dipadukan dengan motif asli dari batik Pacitan dan untuk penamaannya tidak ada keterikatan sama sekali karena memang memberikan nuansa yang berbeda. Mengikuti perkembangan jaman akhirnya motif batik Lorog juga megikuti alur tren motif batik ke arah kontemporer tanpa menghilangkan ciri khasnya, yaitu tetap menggunakan proses-proses tradisional dan dengan proses pewarnaan menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan.

Perkembangan motif batik Lorog dapat diklasifikasikan menjadi beberapa fase periode, yaitu pada era 1980-1990, era 1990-2000 dan era 2000-2010. Perkembangan pada motif ini tentunya tidak bisa dihindari dari pengaruh daerah-daerah lain diluar Pacitan, yang lebih dulu mengalami perubahan pada segi pewarnaan warna-warni seperti Madura, Pekalongan, dan Tuban. Akibat dari adanya pengaruh daerah lain, tidak hanya segi pewarnaan saja yang mengalami perubahan akan tetapi motif dan juga pada saat teknik pembuatan.

  1. Era 1980-1990

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1990-an-bEra 1980-an, teknik pembuatan batik yang digunakan pembatik Lorog dari teknik kerikan beralih menggunakan teknik lorodan: proses menghilangkan lilin dengan air mendidih lalu kemudian dijemur.20 Selain proses pembuatan yang cukup rumit sehingga membutuhkan kesabaran yang lebih tinggi dibandingkan teknik lorodan, tidak mudahnya menemukan generasi penerus yang memiliki minat khusus dan ketekunan yang diperlukan untuk melestarikan batik Lorog dengan teknik kerikan, menjadi alasan tergantikannya teknik kerikan dengan teknik lorodan. Disisi lain, aspek pasar yang terbatas akan pengetahuan dan apresiasi konsumen umum terhadap batik dengan teknik kerikan menjadikannya sulit laku, apalagi jika dijual dengan harga yang sangat tinggi.

Perubahan lain batik Lorog pada era 1980-an ialah bergesernya fungsi batik yang semula untuk kain panjang menjadi bahan baju yang digunakan baik pria maupun wanita. Motif dan warna yang dibuat mengarah pada motif-motif tekstil seperti yang ada di pasaran. Lebih disayangkan lagi ialah detail motif batik tidak lagi menjadi tuntutan, mengingat permintaan pasar pada waktu itu menginginkan batik dengan harga murah dan cepat pembuatannya.21 Berikut penuturan Ibu Retno Toni :

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-1990-an-a“Dulu sebelum 1980-an batik lorog ini dipakai untuk kain panjang seperti kemben, dan motifnya itu motif-motif kain panjang sehingga kalau dibuat baju itu tidak nyambung. Seiring dengan berjalan waktu pada tahun 1980-an ini masyarakat sudah jarang yang memakai kain panjang, lalu dibuatlah pada proses perwarnaan yang tidak lagi hitam putih tapi motifnya itu masih menggunakan motif kain panjang. Kemudian 1990-an mulai ada sedikit-sedikit motif sederhana yang sepertinya diambil dari motif-motif batik Madura. Dan juga permintaan pasar yang marak dengan batik tekstil yang proses pembuatannya cepat dan harganya murah mbak.”

Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 1990 an , masih seperti diera tahun 1980an . Motif sederhana, pembuatan relatif cepat, belum seberapa memperhatikan kwalitas batikan.Variasi motif sudah mulai berkembang hal ini disebabkan pengaruh dari batik-batik lain daerah.

Kemudian pada era 1990-an, batik Lorog sedikit mengalami perubahan dengan era sebelumnya, yaitu era 1980-an.  Perubahan desain batik Lorog yang mulai menggunakan warna batik pesisiran, seperti warna merah, hijau, kuning, orange, ungu dan coklat muda mulai marak terjadi di era 1990-an. Meskipun dengan desain batik yang bermotif sederhana dengan proses pembuatan yang cepat, motif dan warna batik yang mulai berkembang akibat pengaruh batik dari daerah lain seperti Madura. Perubahan tersebut diikuti setelah Ibu Puri mendapatkan pelatihan dari pembatik Madura. Selain itu juga menyesuaikan dengan selera pasar pada saat itu dengan maraknya batik berwarna-warni. Pengaruh dari batik-batik dari daerah lain tentunya tidak menghilangkan dari gaya khas Pacitan sendiri, yaitu batik petani.22

  1. Era 1990-2000

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-aBatik Lorok Pacitan Indonesia di era 2000 an , sudah mulai menampakkan eksistensinya, pengrajin muda dan baru mulai bermunculan. Mereka rata-rata para lulusan perguruan tinggi yang bersedia kembali kedaerah dan ikut berpartisipasi dalam mengembangkan batik Lorok. Motif dan variasi batikan sudah mulai muncul dan beragam. Para seniman-seniman dengan senanghati mulai mendesain motif-motif batik yang baru. Salah satu even penting tahun 2002 diselenggarakannya lomba desain batik khas Pacitan dan tahun 2003diselenggarakannya acara batik kolosal sepanjang 400 meter yang berhasil mencatat rekor MURI. Batik Lorok hingga kini terus berkembang, menjadikan daerah Lorok yang semula tidak pernah terdengar oleh daerah luar sekarang sudah mulai diperhitungkan.Batik-batik yang bernuansa alamidengan detail yang halus sudah mulai bermunculan, seniman ( pendesain ), pembatik, berusaha keras untuk menyamakan mutu dan kwalitas batik Lorok dengan batik-batik dari lain daerah. Ditunjang dengan masuknya saran informasi yang mudah sehingga para pembeli tidak repot datang ke Lorok, mereka bisa mengakses lewat internet.

Keberadaan dari batik Lorog kian diminati oleh masyarakat pada era 1990-an meskipun dengan motif yang sederhana dengan proses pembuatan yang relatif cepat. Pembuatan batik Lorog menggunakan beberapa jenis kain sebagai bahan untuk membatik. Kain putih yang digunakan untuk membatik lebih dikenal dengan istilah mori atau cambric.23 Mori berasal dari bombyx mori, yaitu ulat sutera yang menghasilkan kain sutera putih. Istilah cambric artinya fine linen yaitu kain putih. Mori berasal dari kain katun, sutera asli maupun sutera tiruan. Mori dibagi menjadi empat golongan, yaitu:

  1. Mori Primissima,
  2. Mori Prima,
  3. Mori Biru,
  4. Mori Blaco.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-bPada pembuatan batik Lorog, ada beberapa jenis kain yang digunakan, yaitu: kain sanpolis primis (mori primissima), dan kain sanpolis prima (mori prima).24 Semakin maraknya batik di pasaran kala itu, juga membuat jenis kain yang digunakan oleh pembatik batik Lorog mengalami peningkatan kualitas, hal ini terlihat mulai digunakannya kain sutra sebagai bahan jenis kain untuk membatik. Akan tetapi, ketersediaan bahan baku kain untuk pembuatan batik tulis masih mengandalkan pasokan dari luar kota Pacitan, yaitu Kota Solo dan Jogja. Hanya pewarna alami yang dapat diperoleh dan menjadi stok sangat berlimpah karena terdapat di lingkungan sekitar para pembatik.

batik-lorok-pacitan-indonesia-di-era-2000-an-cMeningkatnya jenis kain dengan bahan sutra pada era 1990-an dan juga proses pewarnaan alami membuat tampilan batik Lorog terkesan lembut. Jenis kain yang digunakan dan proses pewarnaan alami ini tentu saja berpengaruh pada tingkat harga, semakin mahal kain yang digunakan untuk bahan batik maka harganya juga semakin tinggi. Batik bahan sutra dan pewarnaan alami ini sekarang dapat dijumpai hampir di seluruh industri batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo. Masuk pada millenium baru, pada era 2000-an batik Lorog Pacitan mulai muncul dengan wajah baru. Hal ini dikarenakan beberapa pengrajin muda bermunculan. Pengrajin muda tersebut rata-rata para lulusan perguruan tinggi yang bersedia kembali ke daerah dan ikut pula berpartisipasi dan mengembangkan batik Lorog.

  1. Era 2000-2010Batik Lorok Pacitan Indonesia di era tahun 2010 sudah mulai menampakkan keindahan. Para pembatik muda ( ibu-ibu muda, remaja lulusan SLTA ) sudah mulai trampil membatik.Ada dua jenis batik yang dibuat di era tahun ini yaitu, batik pewarna alam dan batik klasik modern yang seperti pada gambar diatas. Batik klasik modern dibuat seperti layaknya batik Lorok tempo dulu, yaitu dengan cara pewarnaan menggunakan wedel ( nilo ) lalu dilorot , dibatik lagi, di soga lalu dilorot lagi. sentuhan modernnya berupa coletan warna merah ( rapid )dan pemberian warna kuning ( sol )pada bagian obyek tertentu. Desain batik juga dibuat lebih kontemporer mengikuti perkembangan jaman, namun tidak meninggalkan ciri khas batik lorok yang berupa motif flora dan fauna yang berada di lingkungan daerah Lorok Pacitan.Batik ini diproduksi oleh Batik Tengah Sawah Ngadirojo Pacitan, lokasi di Kec Ngadirojo 32 km kearah timur Pacitan.

    dscn1338

Berlanjut pada era 2000-an, pengaruh motif dan warna batik pesisiran dari Madura ditambah dengan pengaruh dari daerah lain, seperti Pekalongan dan Tuban menjadi dominan. Secara tidak langsung menjadikan batik Lorog mulai menampakkan keeksistensinya dan juga keistimewaannya yang tidak dimiliki oleh batikbatik daerah lain. Hal inilah yang menjadikan kesempatan batik Lorog lebih dikenal di daerah lain di luar Pacitan. Selain itu perubahan secara drastis dari selera konsumen untuk menggunakan batik warna-warni sebagai pakaian sehari-hari menjadikan batik bermotif bebas dan berwarna aneka rupa semakin dicari-cari oleh konsumen.

dscn1343Batik Lorog Pacitan pada era 2000-2010-an memiliki dua jenis batik, yakni batik klasik modern dan batik pewarna alam. Yang lebih menonjol diantara dua jenis batik tersebut adalah batik klasik modern dimana batik tersebut dibuat mirip seperti batik Lorog tempo dulu pada tahun 1980-an. Pewarnaan yang dilakukan pada batik ini menggunakan wedel atau zat pewarna yang kemudian di lorod. Hal ini diulang beberapa kali sehingga memberikan sentuhan modern dengan warna merah dan kuning pada bagian tertentu.

dscn1554Beberapa pembatik muda mulai muncul seperti Ibu Retno Toni dan Bapak Budi Raharjo, dengan kreasi dan inovasi yang mereka ciptakan untuk meramaikan dan tanpa disadari mereka ikut memajukan motif dan variasi yang beragam untuk batik Lorog. Selain itu, industri-industri baru juga mulai banyak yang bermunculan dan dapat dilihat dengan pesat industri batik Lorog mulai menampakkan keeksistensinya. Apreasiasi untuk motif-motif yang mulai bermunculan ini dengan ditunjang semangat para pembatik diwujudkan dengan adanya acara batik kolosal sepanjang 400 meter yang berhasil mencatat rekor MURI.

Kesuksesan batik Lorog pada tahun 2000-an, ternyata terus berkembang hingga dasawarsa 2010an. Pada tahun 2010 batik Lorog berhasil meraih dua prestasi pada ajang Lomba Desain Batik Tulis Khas Jawa Timur yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Batik dengan motif baru yang didesain oleh Bapak Budi Raharjo dan diproduksi oleh Ibu Retno Toni yang bernama motif Sawung Gerong berhasil menjadi juara 2 dan motif Peksi Gisik Lorog merebut juara 9.26 Hal tersebut merupakan suatu kebanggaan yang tersendiri untuk masyarakat Pacitan karena kini batik dari daerah mereka sudah diakui oleh daerah lain bahkan mungkin hingga nasional.

Perkembangan Industri Batik Lorog Pacitan Tahun 1980-2010

Pada dasawarsa 1980-an, industri batik Lorog kian menyusut karena adanya derasnya produksi tektil bermotif batik yang lebih murah masuk ke Kabupaten Pacitan. Berubah fungsi batik yang dulunya sebagai kain panjang untuk para wanita maupun pria kecuali bilamana ada acara hajatan saja juga mempengaruhi surutnya industri batik Lorog pada saat itu. Selain itu kerajinan batik Lorog tidak seluruhnya mengalami alih tradisi secara mulus dari satu generasi ke generasi lain selanjutnya. Hal ini disebabkan beberapa faktor diantara adalah; terputusnya tradisi di lingkungan masyarakat pembatik, kurangnya kecintaan dan kesadaran untuk menjunjung nilai budaya luhur serta tersainginya batik dengan berbagai bentuk motif yang bervariasi dengan latar warna yang cerah.

Pengrajin batik yang masih bertahan bekerja keras untuk memenuhi permintaan pasar dengan melakukan perubahan untuk mencoba menarik minat dari para pembeli, dengan melakukan inovasi pada motif batik karena fungsi batik pada saat itu dibuat untuk baju baik wanita maupun pria, maka corak dan warna batik disesuaikan selera pasar dengan memilih warna-warna yang cenderung lebih cerah. Batik Lorog mulai intensif menggunakan warna batik pesisiran yang terkenal akan kebebasannya berekspresi yaitu: merah, hijau, kuning, orange, ungu dan coklat muda. Kondisi ini terjadi berlanjut pada tahun 1990-an.

Kondisi industri batik Lorog pada dasawarsa 1990-2000-an tidak jauh berbeda pada era sebelumnya. Hal ini dikarenakan permintaan pasar yang saat itu mengalami penurunan drastis akibat adanya batik cap dengan proses pembuatan yang cepat dan lebih diminati oleh para konsumen.

Pengaruh selera konsumen dan kondisi pasar pada saat itu sangat mempengaruhi pasang surutnya industri batik Lorog Pacitan. Perhatian dari pengrajin pada saat itu pula masih minim akibat kurangnya rasa semangat untuk melestarikan batik Lorog. Pada era pula hanya sedikit ditemukannya keterangan-keterangan yang menjelaskan secara detail bagaimana kondisi industri batik Lorog pada saat itu. Beberapa sumber juga menyebutkan bahwa industri batik Lorog yang selama kurang lebih dari 30 tahun dari era 1980-2000, masih mengalami ketertinggalan pasar daripada industriindustri di daerah lain.

Pada hakekatnya pembatik adalah seniman, sebagai seoerang seniman sedikit banyak memiliki sifat egois yang artinya ingin menciptakan sesuatu yang berbeda dengan hasil karya orang lain. Sifat inilah yang mendorong para inovator batik Lorog seperti Ibu Puri, Ibu Retno Toni dan Bapak Budi Raharjo untuk terus mengembangkan daya kreasinya tak sebatas kemampuan yang dimilikinya. Mereka tidak pernah puas dengan apa yang telah dihasilkannya, dan mereka terus berupaya berlomba menciptakan hal-hal yang baru. Perkembangan batik merupakan suatu usaha yang dapat diandalkan dan dikembangkan dengan tenaga kerja yang cukup potenisal. Lalu setelah di tahun 2000-2010, batik kemudian di produksi secara massal, industri batik mulai menampakkan eksistensinya dengan munculnya pengrajin muda dan mulai banyaknya industri-indsutri batik yang baru dibuka untuk meramaikan industri batik Lorog yang ada di Kecamatan Ngadirojo.

Ketersediaan modal merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pasang surut industri batik tulis Lorog Pacitan. Pada awal berdirinya pengrajin industri batik hanya menggunakan modal dari tabungannya sendiri, akan tetapi seiring semakin berkembangnya usaha tren batik yang sedang meningkat, pengrajin bisa mendapatkan   pendanaan dari pinjaman bank. Sementara itu ditinjau dari segi administrasi, sistem administrasi pada industri-industri batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan masih bersifat tradisional dilakukan secara sederhana dengan hanya melakukan pencatatan hasil pemasukan dan pengeluaran keuangan sendiri. Hal ini disebabkan sebagian besar industri belum memiliki struktur organisasi yang sudah tertata seperti adanya pimpinan, bagian administrasi, bagian produksi, dsb.

Salah satu kendala yang dialami pada industri batik Lorog ini adalah upaya promosi yang kurang dilakukan. Hal ini dikarenakan belum seluruh pengrajin dapat melakukan upaya promosi ke daerah-daerah lain di luar Kabupaten Pacitan. Kebanyakan pengrajin batik masih menggunakan motode getok tular atau dari mulut ke mulut. Sulitnya infrastruktur untuk menjangkau lokasi sentra batik Lorog yang terletak sekitar 40 km sebelah timur dari pusat Kota Pacitan juga mempengaruhi konsumen jika ingin langsung datang ke sentra batik Lorog di Kecamatan Ngadirojo, Pacitan. Selain upaya promosi yang minim dilakukan para pengrajin, kendala pemasaran ini menyebabkan batik Lorog belum mampu menjangkau pasar yang jauh lebih luas. Gedung galeri yang dulunya berfungsi untuk mempromosikan berbagai macam produk-produk unggulan di Kabupaten Pacitan sebagai tempat promosi dan sentra oleh-oleh khas Pacitan termasuk batik Lorog, tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini sangat disayangkan karena perhatian pemerintah yang kurang untuk melakukan upaya melestarikan produk-produk unggulan khas Kabupaten Pacitan.
——————————————————————————————-

Unduh dari:
AVATARA, e-Journal Pendidikan Sejarah 
Volume 3, No. 2,   Juli  2015

Suber Gambar: http://batiklorok.blogspot.co.id/

Upacara Adat Perkawinan, Kabupaten Pacitan Jawa Timur

Upacara Adat Perkawinan masyarakat desa Sawoo dan Grogol

Perkawinan, Dalam rangkaian upacara di sekitar hidup individu, perkawinan merupakan peristiwa yang menandai peralihan dari masa remaja kepada golongan orang tua, Perkawin­an merupakan peristiwa yang terpenting dalam lingkaran hidup individu, Rangkaian peristiwa perkawinan didahuli dengan pe­milihan jodoSti, hal ini juga berlaku di kalangan masyarakat desa Sawoo dan Grogol, Pada jaman dahulu pemilihan jodoh di desa Sawoo dan Grogol sama seperti yang berlaku pada masya­rakat desa di Jawa pada umumnya, yaitu tergantung kepada orang tua.

Namun demikian pada saat sekarang telah berobah, pemilihan jodoh terserah kepada pemuda/pemudi dan orang tua tinggal menyetujui, Namun demikian pemuda/pemudi itu juga harus mentaati ketentuan-ketentuan adat yang berlaku di daerah tersebut, misalnya adanya larangan perkawinan dengan sa udara pancer wali yaitu antara dua orang yang mempunyai hubungan sedemikian rupa sehingga pengantin laki-laki berhak menjadi wali penganten wanita, penganten laki-laki adalah generasi yang lebih muda dari pada penganten wanita, (misalnya kemenakan laki-laki dengan bibi).

Disamping itu juga perkawinan yang hari lahir penganten laki-laki dan wani­ta menurut perhitungan adat tidak cocok, Telah dikemukakan bahwa perkawinan merupakan peristiwa yang terpenting di sekitar lingkaran hidup individu, oleh sebab itu upacara perkawinan telah dipersiapkan dan direncana- kan secara matang beberapa bulan sebelumnya, Menurut keperca yaan bulan yang baik untuk melaksanakan perkawinan jatuh pa­da bulan Rejeb, Ruwah dan Besar, Menurut kepercayaan tiap pasangan yang kawin pada bulan tersebut akan mendapat kebahagiaan.

Rangkaian upacara:

Bagi muda-mudi yang orang tuanya telah mengikuti kemajuan, sebelum peminangan secara resmi dilakukan, mereka biasanya te­lah saling mengenal dan telah sepakat untuk mengadakan perkawinan, Setelah mereka saling cinta-mencintai dan telah sepa­kat untuk mengadakan perkawinan, maka diadakan upacara lamaran (pinangaan). Adat pinangan di desa Grogol sama seperti orang Jawa pada umumnya, tetapi di desa Sawoo mungkin berbeda dengan desa—desa lain di Jawa Timur, karena di desa tersebut pinangan datang dari pihak wanita, Adapun jalannya upacara pinangan adalah sebagai berikut pada hari yang telah ditentukan, wakil dari keluarga calon pengantin Puteri datang berkunjung ke rumah orang tua calon pengantin Pria untuk meminang (melamar), Setelah pinangan diterima, kemudian diterus- kan dengan masa pertunangan, Masa pertunangan kadang-kadang sangat singkat, bahkan adakalanya tidak diadakan, kemudian diteruskan dengan gethetan dino, yaitu penentuan hari untuk melaksanakan Upacara Perkawinan.

Menjelang upacara perkawin­an, beberapa orang utusan dari keluarga pengantin pria datang ke pihak pengantin wanita untuk mengantarkan hadiah perkawin an yang disebut srah – srahan yang biasanya terdiri dari uang, bahan makanan, dan lain sebagainya. Untuk keperluan upacara perkawinan itu 2 (dua) hari atau sehari sebelumnya di rumah orang yang mempunyai haj-ad (biasa- nya di rumah pihak wanita) memaeang tarub, yaitu Janur kuning dan daun-daun tertentu (tuwuhan), pada serambi rianah. Tuwuhan tersebut antara lain: daun beringin, daun kluwih, daun ilalang, daun Opo-opo, daun andong, bunga jambe (mayang), pahon tebu, pohon pisang raja dengan buahnya kelapa muda (Jawa: cengkir). Kemudian pada malam hari menjelang pesta perkawinan dia­dakan Upacara midodareni, Pada saat itu orang-orang tua dan sanak saudara orang yang punya hajad, mengadakan tirakatan hingga larut malam, bahkan ada kalanya

sampai pagi hari, Menurut kepercayaan, pada malam itu para bidadari turun dari kah- yangan, memberikan doa restu kepada mempelai, Pada malam itu juga perlengkapan upacara temu yaitu kembar mayang dan sadak, telah dipersiapkan.

Selanjutnya pada keesokan harinya, pada saat yang telah ditentukan berdasar perhitimgan adat Jawa, dilangsungkan upa­cara Ijab, Ijab ini dapat dilakukan di Kantor Urusan Agama S£ tempat, atau dapat juga dilaksanakan di rumah pengantin wani­ta, dengan mendatangkan PenghuflLu atau naib, Setelah ijab selesai, upacara selanjutnya ialah upacara temu yakni pertemuan pengantin Putera dengan pengantin Puteri, Kemudian kedua mempelai itu didudukkan di Pelaminan yang pada umumnya terletak di depan Senthoag tengah (petanen), Di muka petanen ini diada kan Upacara kacar.-kucur atau tampa kaya. Upacara ini mewujudkan pemberian nafkah mempelai Putera kepada isterinya.

Sebagai rangkaian upacara yang terakhir di dalam upacara temu ialah upacara dhadar kembul, di mana kedua mempelai ter­sebut saling menyuap nasi praiar (nasi kuning). Upacara ini mengandung suatu harapan, agar di kelak kemudian antara suami dan isteri dalam kehidupan sehari-hari selalu saling bantu-membantu di dalam kesulitan maupun kebahagiaan (Dharma, 1958)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur :Sistim Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah JawaTimur; Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1983/1984, hlm. 31-34

Asal-Usul Desa Sawoo, Kabupaten Pacitan

Mengenai asal-usul desa Sawoo  ini erat hubungannya dengan Pangeran Kalipo Kusumo yang menurut kepercayaan masyarakat de­sa Sawoo dan sekitarnya dimakamkan di Gunung Bayangkaki yang letaknya tak jauh dari desa tersebut.

Siapakah sebenarnya Pangeran Kalipo Kusumo itu ?. Menurut ceritera masyarakat desa Sawoo dan sekitarnya, Panger­an Kalipo Kusumo adalah put era Paku Buwono: I dari Kartosurcj. Beliau tidak menginginkan kebahagiaan duniawi, tetapi ingin mencari ketenteraman lahir dan bathin, Wntuk itu beliau mening ga-lkan kerajaan, berjalan ke arah timur dan akhirnya sampai di suatu bukit yang sekarang oernama Gunung – Bayangkaki. Gunung ter sebut terletak di wilayah Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo-. Setelah berada di tempat tersebut, pada siang hari beliau mela kmkan semedi di puncak gunung, jika malam hari telah tiba, pin dah di suatu Gua yang terletak di gunung itu juga,

Semenjak Pangeran Kalipo. Kusumo. ber.tapa di puncak Gunung Bayangkaki, keadaan masyarakat di sekitarnya kelihatan tente- ram dan damai. Bahkan sawah ladangnya pun terhindar dari serangan hama, sehingga hasilnya berlipat ganda. Pangeran Kalipo Kusumo bersifat pengasih dan penyayang kepada sesama manusia , khususnya kepada orang-orang di sekitar pertapaannya. Oleh sebab itu beliau sangat disegani dan dihormati oleh penduduk di sekitar pertapaannya.

Setelah beberapa tahun Pangeran Kalipo Kusumo bertapa di Gunung Bayangkaki, di kraton Kartosuro terjadi peperangan yang dikenal dengan istilah Perang Cina Cperang candu yang terjadi di sekitar. tahun 17^2, Pada saat perang meletus Kartosuro ti­dak diperintah oleh Paku Buwono I, tetapi telah diganti oleh Paku Buwono II, yaitu adik Pangeran Kalipo; Kusumo. Pada peperangan itu Sunan Paku Buwono II terdesak dan akhirnya meninggalkan kraton, Dalam perjalanannya beliau menuju ke arah timur, bermaksud mencari kakaknya.

Setelah beberapa hari dalam perjalanan akhirnya Sunan Paku Buwono II dapat bertemu dengan Pangeran Kalipo Kusumo. Di dalam perjumpaan itu Paku Buwono II menceriterakan keadaan yang menimpa kraton Kartosuro. Mendengar. ceritera adiknya itu Pangeran Kalipo Kusumo sangat sedih. Beliau segera mengheningkan cipta, memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa. Setelah selesai semedinya, Pangeran Kalipo Kusumo memberi petunjuk kepada adiknya agar turun dari gunung tempat pertapaannya, supaya berjalan menuju ke arah selatan, jika di dalam perjalanan itu telah menemukan 2 (dua) batang pohon sawo (sawo  kembar) atau (Jawa Sawo  sakembaran), Paku Buwono II disuruh berhenti dan bertapa di bawah pohon tersebut.

Setelah beberapa saat lamanya bertapa (menurut keterangan selama 40 hari), Paku Buwono II naik ke Gunung Bayangkaki bermaksud minta diri kepada kakaknya untuk pulang ke Kartosuro. Setelah mendapat petunjuk-petunjuk dari kakaknya Sunan Paku Bu wono II segera meninggalkan Gunung Bayangkaki.

Dalam perialanannya kembali ke Kartosuro, Sunan Paku Buwono II singgah di desa Tegalsari di rumah Kyai Ageng Kasan Basari I. Di tempat ini beliau dijamu oleh Kyai Ageng. Sunan Pa­ku Buwono II sangat berkenan di hati atas segala kebaikan Kyai Ageng Kasan Basari. Oleh sebab itu, maka desa Tegalsari tempat tinggal Kyai Ageng Kasan Basari I dijadikan desa perdikan yang bebas dari pajak.

Kemudian Sunan Paku Buwono; II melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke kraton Kartosuro. Setelah sampai di sebuah de­sa, beliau merasa haus. Pada saat itu beliau bertemu dengan se orang nenek, lalu berkenalan dan berceritera, sehingga dalam waktu yang singkat sudah kelihatan sangat akrab. Oleh karena itu si nenek tidak segan-segan untuk memohon Sunan Paku Buwono II singgah di tempat tinggalnya. Sesampainya di rumah, si nenek segera memasak bubur (jenang Jawa). Setelah bubur itu masak segera disuguhkannya. Melihat bubur yang masih mengepul itu Sunan segera ingin menyantapnya, tetapi si nenek segera mencegahnya. Kemudian si nenek memberitahukan jika makan bubur

sebaiknya dari pinggir, jangan dari tengah. Karena kalau dari pinggir pasti tidak terasa panas dan segera habis. Anjuran si nenek ini ditaatinya oleh Sunan Paku Buwono II dan ternyata memang benar. Pada saat makan itu Sunan Paku Buwono II seperti mendapat firasat, bahwa cara makan bubur yang dimulai dari pinggir. itu dapat dipakai sebagai taktik untuk mengadakan perlawanan terhadap musuh yang telah menguasai Kraton Kartosuro. Maka dari itu beliau segera mencoba taktik yang baru ditemukannya, yakni menyerang pertahanan musuh dari tepi kemudian ke tengah dan akhirnya ke pusat pertahanan. Dengan taktik tersebut ternyata membawa hasil yang gemilang, pertahanan musuh dapat dihancurkan, sehingga Sunan Paku Buwono II dapat menduduki tahta kraton Kartosuro lagi. Untuk mengenang jasa nenek yang telah memberikan jalan terang bagi Sunan Paku Buwono II, maka desa tempat tinggal si nenek tersebut dijadikan perdikan yang kemu­dian dinamakan desa Menang.

Dengan adanya peristiwa kemenangan Sunan Paku Buwono II, di dalam melawan musuh yang menguasai kerajaan Kartosuro, maka Sunan Paku Buwono II lalu diberi julukan Pangeran Kumbul. Desa tempat Sunan Paku Buwono bertapa hingga sekarang dinamakan de­sa Sawoo dan tempat untuk bertapa dinamakan patilasan Sunan Kum­bul. Patilasan Sunan Kumbul hingga sekarang dikeramatkan oleh masyarakat desa Sawoo dan sekitarnya. Tiap-tiap hari tertentu, terutama malam Jum’at banyak orang yang berjiarah di tempat itu. Para pejiarah itu bukan hanya orang dari desa Sawoo saja, teta­pi juga dari daerah lain. Para pendatang itu pada umumnya mem puinyai rnaksud  tertentu, misalnya ingin agar usahanya maju, ingin agar naik kelas, agar sembuh dari penyakitnya, agar mendapat kedudukan di dalam tempat kerjanya dan lain sebagainya.

Pada saat Sunan Paku Buwono II mengadakan perlawanan ter­hadap musuh yang menduduki tahtanya, Pangeran Kalipo Kusumo tidak dapat ikut berjuang, tetapi berdoa di tempat pertapaannya. Hal ini disebabkan karena Pangeran Kalipo Kusumo telah bersumpah tidak akan meninggalkan tempat pertapaannya hingga akhir hayatnya. Setelah Pangeran Kalipo Kusumo tua dan merasa ajalnya sudah hampir tiba, tanpa diketahui siapapun juga, beliau membuat liang kubur yang kelak akan dipakainya sendiri. Setelah liang kubur itu jadi, maka beliau berpesan kepada para pengikutnya, agar kelak kalau beliau meninggal supaya dimakamkan di liang kubur yang telah dibuatnya sendiri. Liang kubur tersebut dibuat di puncak gunung Bayangkaki (tempat pertapaannya). Oleh sebab itu setelah Pangeran Kalipo Kusumoi wafat, oleh para pengikutnya dimakamkan di puncak gunung tempat pertapaannya.

Pada saat beliau meninggal, yang mengusung jenasahnya adalah arang laki-laki yang telah lanjut usia (Jawa: kaki-kaki) sehingga cara mengusung jenasah tersebut diangkat bersama de­ngan sangat hati-hati (Jawa: dibayang-bayang). Oleh sebab itu Gunung tempat Pangeran Kalipo Kusumo bertapa dan dimakamkan ini kemudian dinamakan Bayangkaki.(Balai Penelitian Sejarah dan Budaya Yogyakarta, 1981-1982).

Pada periode penjajahan Belanda, daerah Sawoo dan sekitar nya merupakan daerah yang aman. Saat itu Kepala desa yang memerintah di desa Sawoo adalah Bapak Ibrahim, setelah beliau wafat, diganti Bapak Sardjon© dan pada akhir penjajahan Belan­da hingga awal Kemerdekaan, Kepala desa Sawoo dipegang oleh Ba pak Supono, Pada saat itu masyarakat Sawoo keadaannya sangat menyedihkan.

Pada periode penjajahan Jepang, desa Sawoo juga merupakan desa yang aman. Pada saat itu Kepala desa dipegang oleh Bapak Supono. Menurut informasi dari Bapak Supono pen duduk desa Sa­woo, pada saat  itu sangat menyedihkan. Saat  itu penduduk dilarang masak nasi (beras), mereka dianjurkan untuk makan na­si tiwul. Semua hasil padi, harus diserahkan kepada Pemerintah Jepang, dengan alasan untuk memberimakan tentara kita. Disanping kekurangan makan, penduduk Sawoo dan sekitarnya juga kekurangan pakaian. Pada saat itu jarang kita jumpai penduduk yang memakai kain, mereka menutup anggata badannya dengan goni, bahkan di daerah pelosok ada yang tidak berpakaian sama sekali.

Walaupun daerah Sawoo merupakan daerah yang aman, namun tak luput dari semua peraturan-peraturan pemerintah Jepang yang diterapkan di seluruh Indonesia, Pada saat itu Jepang memerlukan tenaga kasar yang dikenal dengan istilah Romusya, Pada mulanya perlakuan Jepang terhadap Romusya cukup baik, tetapi lama kelamaan para romusya diperlakukan sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Para romusya banyak yang tidak kembali (mati), jika ada yang pulang tinggai kulit pembalut tulang saja,

Menurut informasi dari bapak Supono yang menjabat Kepala Desa pada saat itu penduduknya juga banyak yang menjadi korban romusya, Mereka ada yang dapat melarikan diri dalam perjalanan sehingga pulang dengan selamat, Bagi mereka yang ti­dak dapat meloloskan diri, sebagian besar banyak yang tidak pulang lagi. Mereka yang tidak pulang itu kemungkinan besar meninggal dalam melaksanakan tugas,

Pada periode kemerdekaan, khususnya pada waktu gerilya Jendral Sudirman daerah Sawoo termasuk didalam route perjalanannya, menurut inforraasi dari bapak Supono (bekas lurah desa Sa­woo). pada saat para gerilya berada di desa Ngindeng dan Tumpak Pelem bapak Sudirman sempat beristirahat di desa Sawoo selama sehari. Pada saat itu penduduk desa Sawoo ikut aktif di dapur umum, menyediakan makanan pasukan anak buah Jendral Sudirman,

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sistim Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah JawaTimur; Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1983/1984, hlm. 20-25

Labuh, Upacara Tradisional Jawa Timur

Penduduk desa Sawoo dan Grogol hampir seluruhnya petani, oleh karena itu menganggap upacara adat yang berhubungan dengan pertanian merupakan suatu peristiwa yang amat sangat penting bagi mereka, dan tidak boleh dilupakan.

Mereka percaya jika melalaikan hal tersebut, Akan banyak musibah yang menimpa, utamanya yang berhubungan dengan pertanian, misalnya, lahan pertanian/sawah diserang hama,  sawah kebanjiran dan lain sebagainya, yang membuat gagal panen.

Jenis upacara yang berkaitan dengan pertanian tersebut yang hingga sekarang masih dilaksanakan dan dipercaya, salah satunya adalah upacara labuh.

Upacara labuh yaitu upacara adat yang dilaksakan, pada saat akan mengerjakan sawahnya. Upacara ini diadakan di pintu air yang  disebut DAM.

Upacara labuh dilaksanakan oleh para pemilik sawah yang memanfaatkan air dari dam tersebut.

Pada saat selamatan labuhan para pengikut upacara membawa sajian nasi asahan. Disamping itu di dam tersebut mereka menyembelih kambing, yang dimasak dan dimakan bersama-sama di tempat itu juga.

Adapun maksud upacara tersebut ialah agar di dalam mengerjakan sawah tidak mendapat halangan.

Setelah upacara labuh sawah mulai dikerjakan, pada saat mengerjakan sawah ini tidak ada selamatan.