Biografi Bung Tomo.

Alhirnya Gelar Pahlawan Nasional Diterima

Bung Tomo yang lahir pada 3 Oktober 1920 merupakan ikon Hari Pahlawan. Pria asal Blauran, Surabaya, itu menjadi tokoh penting dalam Pertempuran 10 November 1945, saat tentara NICA masuk ke Surabaya. Tapi baru tahun ini (2008) pengakuan sebagai pahlawan nasional didapatnya.

“Saudara-saudara. Kita pemuda-pemuda rakyat Indonesia disuruh datang membawa senjata kita kepada Inggris dengan membawa bendera putih, tanda bahwa kita menyerah dan takluk kepada Inggris….”

“Inilah jawaban kita, jawaban pemuda-pemuda rakyat Indonesia: Hai Inggris, selama banteng-banteng, pemuda- pemuda Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membuat secarik kain putih menjadi merah dan putih, selama itu kita tidak akan menyerah….”

“Teman-temanku seperjuangan, terutama pemuda- pemuda Indonesia, kita terus berjuang, kita usir kaum penjajah dari bumi kita Indonesia yang kita cintai ini. Sudah lama kita menderita, diperas, diinjak-injak….”

“Sekarang adalah saatnya kita rebut kemerdekaan kita. Kita bersemboyan: Kita Merdeka atau Mati. Allohu Akbar… Allohu Akbar…. Allohu Akbar…. Merdeka    !”

Itulah pidato yang selama ini dikenal masyarakat sebagai simbol kepahlawanan Bung Tomo dalam menggelorakan semangat juang Arek-arek Suroboyo untuk menghadapi NICA pada 10 November 1945.Tak mengherankan bila Bung Tomo menjadi ikon dalam setiap peringatan hari pahlawan. Sayangnya gelar pahlawan, baru didapatnya pada peringatan hari pahlawan tahun ini.

Gelar pahlawan untuk Bung Tomo sebetulnya sudah pernah diajukan yaitu pada 1990 dan 1995, tapi semuanya ditolak. Alasannya karena ada persyaratan administrasi yang belum dipenuhi yaitu karena belum diseminarkan didaerah. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui apakah ada pihak yang keberatan dengan pengangkatan Bung Tomo menjadi pahlawan nasional atau tidak. Setelah diseminarkan kemudian akan diteliti oleh Badan Penelitian Pahlawan Pusat.

Perjalanan memang cukup berliku untuk mendapatkan gelar pahlawan nasional. Salah satunya upaya yang telah dilakukan Tim Pengusul Jasa Pahlawan Besar Bung Tomo sebagai Pahlawan Nasional.Tim pengusul tersebut terdiri atas akademisi, tokoh masyarakat, pemerintah dan swasta.Tim ini menggalang sejuta tanda tangan sebagai desakan kepada pemerintah dengan menggelar kain putih berukuran 1 X 4 meter sebanyak tiga lembar. Kain tersebut dibeber selama 2 hari di Jl Pemuda.

Penggalangan sejuta tanda tangan dilakukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dukungan pada pemerintah pusat agar menetapkan Bung Tomo sebagai pahlawan nasional. Sebelumnya, tim pengusul ini juga telah menggelar serangkaian seminar sebanyak tiga kali menyangkut ketokohan Bung Tomo.

Berbagai upaya tersebut nampaknya telah membuahkan hasil dengan ditetapkannya Bung Tomo sebagai Pahlawan Nasionl pada tahun ini. Gelar Pahlawan Nasional itupun diserahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada keluarga Bung Tomo pada 9 Nopember. Penyerahan gelar kepahlawanan tersebut dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 2008.

Tapi sebelumnya sempat muncul kontroversi. Karena saat itu muncul spekulasi diantara 11 nama yang diusulkan oleh Depsos tidakterdapatnama Bung Tomo. Tapi kemudian pada awal Nopember, Menkominfo, Mohammad Nuh menganulir berita tesebut dan menyatakan nama Bung Tomo telah ada diantara 11 nama yang diajukan. Dan Bung Tomo termasuk4 nama yang telah disetujui. “Presiden sudah sampaikan ke saya bahwa Bung Tomo akan diresmikan sebagai pahlawan nasional,”tegasnya.

Sikap Bung Tomo

Pria bernama asli Sutomo itu meninggal di Makkah pada 7 Oktober 1981. Salah satu wasiat Bung Tomo kepada keluarga adalah tidak mau dimakamkan di taman makam pahlawan. Sikap itulah yang kemungkinan membuat pemerintah tersinggung sehingga 27 tahun setelah Bung Tomo meninggal baru diakui sebagai pahlawan nasional.

Sosok Sutomo, arek Blauran Surabaya ini memang dikenal konsisten dalam sikap dan kritis dalam pemikirannya. Bahkan karena kekritisannya tersebut ia pernah mendekam di penjara Kramatjati, Jakarta Timur, selama setahun (11 April 1978 -11 April 1979). Sikap kritis BungTomo itu terekam dalam dokumen tentang pemikiran, surat, dan artikel politiknya yang tertuang dalam buku Bung Tomo Menggugat.

Buku ini mengungkapkan sebagian kecil pemikiran Bung Tomo, baik yang berupa artikel dan surat yang sudah dipublikasikan maupun belum, yang ditulis dari tahun 1955—1980, setahun sebelum meninggal. Ada dua kesan mendalam yang bisa dipetik setelah membaca seluruh tulisan Bung Tomo ini. Pertama, kita seolah-olah dibawa kembali ke masa silam untuk mengikuti alur sejarah bangsa ketika tulisan

itu ditulis. Kedua, kita akan mengetahui dan memahami semangat dan konsistensi Bung Tomo sebagai pejuang yang benar-benar ingin membebaskan bangsanya dari belenggu penjajahan dan kemiskinan.

Dari sana kita bisa melihat keberanian, kejujuran, dan kepolosan Bung Tomo dalam menghadapi situasi dan kondisi zamannya. Betapa tidak? Dia tanpa tedeng aling- aling, tanpa sungkan, dan tanpa ewuh pakewuh dengan beraninya mengkritik kebijakan Bung Karno, Soeharto, serta para pejuang, baik kaum politisi maupun militer pada zamannya. Kritik yang tidak sekadar njeplak atau asbun (asal bunyi), tetapi kritik yang didasari fakta dan disertai solusi yang bijak.

Dalam salah satu surat terbuka kepada Bung Karno, BungTomo menulis,”Bung Karno, betapa saya tidak gelisah, mengingat bahwa kepala pemerintahan dewasa ini adalah penggali Pancasila, sedangkan rakyat jelata rata-rata belum merasakan kemanfaatan dan kemaslahatan Pancasila…”

“Kedaulatan rakyat telah lama diinjak-injak oleh pembantu-pembantu Bapak Presiden yang terdekat pada masa lampau, keadaan sosial tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Pada saat rakyat jelata hidup menderita merana, orang-orang yang terdekat dengan Bapak Presiden menyusun mahligai kemewahan….”

“Yang lebih seram lagi adalah isteri-isteri para penguasa tertinggi yang secara sendiri menguras kekayaan negara untuk memuaskan nafsu pribadinya, berfoya-foya di luar negeri, menimbun kekayaan di dalam negeri! Sedangkan para penguasa berbuat seolah-olah (pura-pura) tidak tahu semuanya itu…”

Sedang kritik pada Soeharto terkait dengan kedekatan “Cendana” pada salah satu konglomerat. Kedekatan itulah yang dikatakan telah membuyarkan cita-cita orde baru dan menggerogoti kewibawaan presiden. Digesernya Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo dari Mentri Perdagangan salah satu akibat dari kedekatan tersebut “….Secara diam-diam, rakyat mulai tidak senang pada kepemimpinan kawan.

Bung Tomo juga bersurat kepada Presiden AS terkait dengan masalah GAM. Dalam suratnya kepada Presiden AS Eissenhower, BungTomo mempertanyakan sikap AS terhadap RMS, Hasan Tiro (GAM), dan negara-negara di kawasan Asia- Afrika yang dapat mendorong tumbuhnya perdamaian di dunia, (berbagai sumber/gt)

kami Soeharto, tetapi tidak berani.” Bunyi surat Bung Tomo.

 

Nama Sutomo (Bung Tomo)
Lahir Surabaya, 3 Oktober 1920
Wafat Makkah, 7 Oktober 1981
Ayah Kartawan Tjiptowidjojo
Jabatan Penting Menteri Negara Kabinet Burhanuddin Harahap
(12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956
)—————————————————————————————————————————– dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : 341 Kontak Sosial, Edisi Semester II, 2008

Danudirja Setiabudi (Douwes Dekker )

Ernest-Douwes-DekkerErnest François Eugène Douwes Dekker dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi lahir tanggal 8 Oktober 1879 di Pasuruan, Jawa Timur. Beliau adalah tokoh politik dan patriot Indonesia, pembangkit semangat kebangsaan Indonesia, penentang penjajahan yang gigih, wartawan dan sastrawan. Di tubuhnya mengalir darah Belanda, Prancis, Jerman, dan Jawa, tapi semangat kebangsaan Douwes Dekker lebih membara dibanding penduduk bumiputra. Douwes Dekker adalah kemenakan dari Eduard Douwes Dekker alias Multatuli, penulis buku Max Havelaar yang terkenal.
Setelah lulus sekolah HBS di Betawi untuk beberapa waktu bekerja sebagai “sinder” perkebunan kopi dan chemiker pabrik gula. Kemudian dalam usia muda melawat ke Afrika Selatan dan ikut berperang di pihak orang Boer melawan Inggris (1900 – 1901). Douwes Dekker tertawan dan diasingkan di Ceylon (Srilangka).
Tahun 1902 Douwes Dekker kembali di tanah air (Indonesia), bekerja sebagai wartawan harian Belanda De Locomotief dan kemudian duduk dalam redaksi harian Belanda Soerabaiaasch Handelsblad dan Bataviaasch Nieusblad. Pada 1909 Douwes Dekker berangkat ke Eropa. Untuk majalah mingguan Jong Indie yang terbit di Betawi ia menulis rangkaian “Surat-surat seorang biadab dari dunia beradab”.
Pada akhir 1910 kembali dari Eropa, Douwes Dekker menetap di Bandung dan menerbitkan majalah setengah bulanan Het Tijdschrift, disusul dengan harian De Express (Maret 1912). Dalam penerbitan tersebut Douwes Dekker menuangkan keyakinan dan program politiknya untuk melancarkan jalan bagi pembentukan Indische Partij-nya. Untuk keperluan pembentukan partai ini, tiga serangkai (Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, dan Cipto Mangunkusumo) mengadakan perjalanan propaganda keliling pulau Jawa (September 1912) yang berhasil gemilang dengan berdirinya Indische Partij pada tanggal 25 Desember 1912. Sebelum meninggalkan Bandung, Douwes Dekker sempat berorasi di sebuah gerbong sebelum peluit berbunyi dan kereta meluncur ke Yogyakarta:
“Saudara, kita umumnya dianggap malas, makhluk apatis yang menderita banyak kebiasaan buruk. Tapi saya melihat Anda semua telah bangun sepagi ini menentang tuduhan para dokter Belanda yang begitu parah bahwa kita Indier rendahan.”
Pada tahun 1913 Douwes Dekker bersama Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo dikenakan exorbitante rechten (hak istimewa Gubernur Jenderal Hindia Belanda) berupa pengasingan (interneering). Mereka ditangkap akibat munculnya tulisan terkenal Suwardi Suryaningrat di De Expres, “Als Ik Een Nederlander Was” (Andaikata Aku Seorang Belanda). Atas permintaan sendiri ketiganya diperkenankan meninggalkan Indonesia, berangkat ke negeri Belanda. Douwes Dekker mencapai gelar sarjana (dokter) di Universitas Zurich, Swiss (1915).
Ketika kembali ke Indonesia dalam tahun 1918, Douwes Dekker melihat keadaan di tanah air sudah jauh berbeda dengan waktu keberangkatannya. Semangat kebangsaan kaum Indo yang dalam tahun 1912 menggelora di bawah pimpinannya kini sudah redup. Tetapi hal itu tidak mengurangi aktivitas politik nasionalnya. Dia menerbitkan majalah De Beweging dan menghidupkan kembali harian De Express. Selain politik, Douwes Dekker giat dalam bidang pendidikan (Direktur Institut Ksatrian di Bandung).
Dalam bulan Januari 1941, Douwes Dekker ditangkap kembali sehubungan dengan peristiwa penggeledahan rumah M.H. Thamrin dan diasingkan di Suriname. Setelah Indonesia merdeka, Douwes Dekker pulang ke Indonesia (3 Januari 1947) dan berganti nama Danudirja Setiabudi. Beliau menjabat sebagai Menteri Negara dalam Kabinet Syahrir (1947) dan pada tahun 1948 diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung di Yogyakarta. Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudi meninggal di Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 1950 pada umur 70 tahun.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
Shadily, Hassan. 1973. Ensiklopedia Umum. Yogyakarta: Yayasan Kanisius

Raden Panji Soeroso

SoerosoRaden Pandji Soeroso adalah mantan Gubernur Jawa Tengah, mantan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, dan mantan anggota BPUPKI/PPKI. Ia juga bertugas sebagai wakil ketua BPUPKI yang dipimpin oleh K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat. Ia lahir di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 3 November 1893 – meninggal di Indonesia, 16 Mei 1981 pada umur 87 tahun.

Soeroso adalah salah satu Pahlawan Nasional yang pernah memperjuangkan kesejahteraan pegawai negeri dalam hal ini para pegawai negeri dapat membeli rumah dinas dengan cara mengangsur. Ia juga dikenal sebagai Pendiri Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia, sehingga ia juga dijuluki Bapak Koperasi Pegawai Negeri Republik Indonesia.

Raden Pandji Soeroso menjabat sebagai gubernur Jawa Tengah di tahun 1945 setelah keputusan PPKI dalam sidang pleno tanggal 19 Agustus 1945 yang menghasilkan keputusan penting yaitu menteri dan pembagian wilayah menjadi delapan provinsi yang salah satunya adalah provinsi Jawa Tengah.

Pernah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia ke-4 pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno dengan masa jabatan periode 6 September 1950–3 April 1951, kemudian menjabat sebagai Menteri Sosial Republik Indonesia ke-10 dan masih pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno dengan masa jabatan 30 Juli 1953–12 Agustus 1955, di lanjutkan dengan menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia ke-12 dengan masa jabatan 12 Agustus 1955–24 Maret 1956 di era kepemimpinan Presiden Soekarno juga.

Raden Pandji Soeroso meninggal pada 16 mei 1981, pemerintah Indonesia telah mengangkat Raden Pandji Soeroso sebagai salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 23 Oktober 1986, melalui Surat Keputusan Presiden No. 81/TK/1986.

Keluarga

Salah seorang putranya adalah Raden Panji Soejono (1926 – sekarang) seorang ahli purbakala atau arkeolog senior di Indonesia. Soejono adalah mahaguru arkeologi khususnya bidang prasejarah di beberapa universitas di Indonesia. Antara lain: UI, UGM dan Universitas Udayana. Sempat menjadi Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (1974 – 1989).
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/02/rp-soeroso-menteri-pekerjaan -umum.html

Dr. Sutomo

Dr. SoetomoSuatu hari di akhir tahun 1907 dokter pensiunan Wahidin Sudirohusodo singgah di Jakarta, beliau sedang melakukan perjalanan ke berbagai daerah dalam rangka mempropagandakan gagasannya tentang pembentukan sebuah badan yang akan menyediakan bea siswa untuk anak-anak Indonesia yang cerdas tetapi tidak mampu membiayai sekolahnya.

Gagasan Wahidin itu sudah tersebar agak luas, juga di kalangan pelajar STOV1A (School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen). Dua orang di antara para pelajar itu mendapat kesempatan bertemu dan berbicara dengan Wahidin.

Mereka sangat tertarik mendengar cita-cita Wahidin, salah seorang di antara pelajar itu mengatakan kepada Wa¬hidin, ”Punika satunggiling pedamelan sae sarta nelakaken budi utama” (itu suatu perbuatan baik dan menunjukkan budi yang utama).Pelajar STOVIA yang mengucapkan kata-kata itu adalah Sutomo yang kemudian terkenal dengan nama dokter Sutomo. la lahir pada tanggal 30 Juli 1888 di desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur.

Waktu lahir beliau diberi nama Subroto. Pergantian namanya menjadi Sutomo mempunyai sejarahnya sendiri.Ayahnya R. Suwaji bekerja sebagai wedana di Maospati, Madiun, kemu¬dian pindah bekerja menjadi ajun jaksa di Madiun. Anaknya tersebut disekolahkan pada Sekolah Rendah Bumiputera, kemudian dipindahkan ke Bangil, Jawa Timur agar dapat masuk Sekolah Rendah Belanda (ELS = Europeesche Lagere School) Anak itu ikut pada pamannya, Harjodipuro. Putera pamannya, Sahit, berhasil masuk ELS, tetapi Subroto tidak diterima. Pamannya tidak putus asa, esok harinya keponakannya yang ditolak masuk ELS itu dibawanya lagi ke sekolah itu. Tidak dengan nama Subroto, tetapi diganti nama men¬jadi Sutomo. Dengan nama itu beliau diterima di ELS. Setelah tamat pada ELS, beliau mengikuti keinginan ayahnya melanjutkan ke STOVIA.Di STOVIA pada mulanya beliau tidak begitu memperhatikan pelajarannya. Kesenangannya ialah menonton dan makan enak bersama teman-temannya. Barulah pada tahun ketiga sikapnya berubah dan beliau pun belajar dengan sungguh-sungguh. Beliau lulus dari STOVIA pada tahun 1911.Tetapi sebelum itu, Sutomo telah melakukan sesuatu yang membuat namanya akan tercatat dalam sejarah bangsanya. Kurang lebih empat bulan sesudah bertemu dengan dokter Wahidin, beliau memimpin pertemuan yang dihadiri oleh para pelajar STOVIA.
Sutomo berpidato dengan tenang tanpa emosi, menjelaskan gagasannya secara singkat, terang dan jelas. Pertemuan yang bersejarah itu dilangsungkan di salah satu ruang STOVIA pada tanggal 20 Mei 1908. Dalam pertemuan itu mereka sepakat membentuk sebuah organisasi yang diberi nama ”Budi Utomo”. Sutomo dipilih sebagai ketuanya. Organisasi itu adalah organisasi modern pertama yang didirikan di Indonesia. Hari lahirnya, 20 Mei, kini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karena ternyata Budi Utomo telah mendorong berdirinya organisasi-organisasi bahkan partai-partai politik di kemudian hari. Gedung STOVIA di mana Budi Utomo lahir sekarang menjadi ”Gedung Kebangkitan Nasional”.
Budi Utomo tidak lahir begitu saja dan Sutomo tidak bekerja seorang diri. Bersama Sutomo terdapat nama-nama lain seperti Suraji, yang ikut bersama Sutomo menemui dr. Wahidin, Moh. Saleh, Sarwono, Gunawan, Gumbrek dan Angka yang kelak semuaya menjadi dokter. Berbulan-bulan lamanya mereka merencanakan pembentukan sebuah organisasi. Mereka pergi dari ruang kelas yang satu ke ruang kelas yang lain di STOVIA untuk memperkenalkan gagasan mendirikan organisasi, dalam kegiatan itu Sutomo lah yang banyak berbicara.
Berdirinya Budi Utomo dapat dianggap sebagai realisasi gagasan Wahi¬din . Tetapi jangkauan organisasi itu melebihi dari apa yang dimaksud oleh Wahidin. Budi Utomo tidak hanya ingin memajukan pelajaran, tetapi juga pertanian, pertukangan kayu, kulit dan lain-lain, disamping memajukan kebudayaan Jawa serta mempererat persahabatan penduduk Jawa dan Madura. Di bidang pendidikan Budi Utomo bertujuan untuk mendirikan sekolah-sekolah, rumah-rumah sewaan untuk anak-anak sekolah/asrama dan mendirikan perpustakaan-perpustakaan.
Untuk merealisasi maksud dan tujuan itu, Sutomo dan kawan-kawannya mengadakan hubungan dengan pelajar-pelajar dari kota-kota lain. Dengan cara demikian berdirilah cabang-cabang Budi Utomo di Bogor, Bandung dan Magelang. Hubungan diadakan pula dengan orang-orang Indonesia yang menduduki jabatan dalam pemerintahan di daerah-daerah untuk menarik simpati mereka, antara lain dengan Bupati Temanggung, Bupati Japara, Banten, dan P.A.A. Kusumojudo yang tinggal di Jakarta.
Organisasi yang semula dipimpin oleh anak-anak muda yang idealis ini akhirnya dipimpin oleh golongan tua, sebagai hasil keputusan Kongres yang pertama pada awal Oktober 1908 di Yogyakarta. Dalam kongres itu sudah nampak perbedaan pendapat antara golongan muda yang radikal dengan golo¬ngan tua yang terlalu berhati-hati, karena itu gerak organisasi menjadi lamban.
Dalam Kongresnya yang kedua pada bulan Oktober 1909 Sutomo masih nampak hadir, tetapi setelah itu namanya hampir-hampir tidak disebut-sebut lagi di dalam Budi Utomo. Agaknya beliau merasa kecewa melihat perkembangan Budi Utomo, karena itu beliau lebih memusatkan perhatian kepada pelajaran. Dalam tahun 1911 Sutomo berhasil menyelesaikan pendidikannya di STOVIA dan sejak saat itu pula beliau berhak memakai gelar dokter, maka mulailah tugasnya sebagai dokter. Mula-mula beliau ditempatkan di Semarang, tetapi kemudian berpindah-pindah ke tempat-tempat lain seperti Tuban, Lubuk Pakam (Sumatera Timur), Malang, Blora dan Baturaja (Sumatera Selatan). Dalam tahun 1919 beliau mendapat kesempatan belajar di Negeri Belanda. ke¬mudian di Jerman Barat dan Austria.
Sewaktu di Negeri Belanda Sutomo menggabungkan diri ke dalam ”Indische Vereeniging”’, perkumpulan pelajar-pelajar Indonesia yang kemudian berganti nama menjadi ”Indonesische Vereniging” dan akhirnya menjadi Perhimpunan Indonesia. Beliaupun pernah menjadi ketua organisasi ini, yakni tahun 1920-1921.
Sekembalinya dari Negeri Belanda, Sutomo bekerja sebagai dosen di NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) di Surabaya. Budi Utomo tidak lagi menarik perhatiannya, walaupun pernah diancam akan dikeluarkan dari STOVIA gara-gara mendirikan organisasi tersebut. Tetapi perhatiannya terhadap perkembangan masyarakat tidak pernah surut. Hanya;cara yang ditempuhnya sekarang berbeda. Beliau bermaksud menghimpun golongan terpelajar dan bersama-sama dengan mereka melakukan usaha-usaha yang berguna bagi ma¬syarakat. Untuk maksud itu pada tanggal 11 Juli 1924 Sutomo mendirikan ”Indonesische Studie Club ” (ISC). Tujuan ISC ialah mempelajari dan memperhatikan kebutuhan rakyat. Organisasi ini ternyata menarik perhatian kaum terpelajar, bukan saja cendekiawan Indonesia, tetapi juga cendekiawan Belan¬da, yakni Koch dan Tilleman yang terkenal berpendirian progresif.
Kegiatan dan kedudukan Sutomo dalam masyarakat membawa beliau ke jenjang politik praktis. la diangkat menjadi anggota Dewan Kota (Gemeen-teraad) Surabaya. Dalam dewan ini beliau memperjuangkan nasib rakyat antara lain mengusulkan perbaikan kesehatan dan nasib mereka, tetapi usul-usulnya selalu dikalahkan oleh suara terbanyak yang tidak berorientasi kepada rakyat, tetapi kepada pemerintah kolonial. Ketika usulnya mengenai perbaikan kampung ditolak, sedangkan usul menambah kebersihan dan perbaikan tempat kediaman orang-orang Belanda diterima, dr. Sutomo langsung meminta berhenti dari keanggotaan Dewan Kota. la berpikir tidak ada gunanya bekerja di dewan yang hanya menjadi alat kolonial itu. Langkah dr. Sutomo diikuti pula teman-temannya, RH.M. Suyono, M. Sunjoto, dan Asmowinangun.
Perhatiannya terhadap ISC tidak pernah ditinggalkannya. Berkat pimpinannya, organisasi ini giat melakukan usaha-usaha yang berguna di bidang ekonomi dan sosial. Bersama teman-teman lain, dr. Sutomo memprakarsai berdirinya Bank Bumiputera yang dalam tahun 1929 menjadi Bank Nasional. Selain itu didirikan pula Yayasan Gedung Nasional (GNI) yang langsung dipimpin oleh dr. Sutomo. Gedung ini didirikan secara gotong royong berupa bantuan dari segala lapisan masyarakat, pegawai negeri, swasta, buruh, pedagang, petani, nelayan, bahkan seniman dan seniwati yang tergabung dalam ludruk Cak Durasin pun ikut menyumbangkan tenaga.
Pada tanggal 11 Oktober 1930 ISC berkembang menjadi partai, yakni ”Persatuan Bangsa Indonesia” (PBI) yang langsung diketuai oleh dr. Sutomo, partai ini berhaluan moderat dan cepat sekali berkembang, terutama di daerah Jawa Timur. Dengan terbentuknya partai ini maka kegiatan di bidang sosial ekonomi semakin menonjol. Hasil-hasilnya dapat dilihat dengan berdiri¬nya Rukun Tani, Rukun Pelayaran, Serikat Buruh, Koperasi, Bank Kredit, Pemeliharaan yatim-piatu. Pemberantasan Pengangguran dan lain-lain. Di bi¬dang pengajaran: merencanakan Sekolah Taman Kanak-kanak, mengusahakan bacaan untuk anak-anak SD, pemberantasan buta huruf dan lain-lain. Di bi¬dang politik dan pers: memberikan kursus-kursus politik, kursus kader dan lam-lain, menerbitkan surat kabar harian (Soeara Oemoem) dan mingguan (Penyebar Semangat). Dapat dikatakan kegiatan PBI meliputi semua kebutuhan manusia Indonesia, lahir dan batin untuk dapat menjadi bangsa yang mampu berdikari dalam mencapai tujuan memuliakan nusa dan bangsa Indo¬nesia. Pedomannya. ”Kebenaran dan Keadilan dengan bekerja atas dasar cinta kepada nusa dan bangsa Indonesia”.
Sebelum berkembang menjadi PBI, terlebih dahulu ISC sudah menggabungkan diri ke dalam PPPKI (Permufakatan Perhimpunan-perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) yang dibentuk pada langgal 17 Desember 1927. Didalam Kongres PPPKI yang pertama tanggal 30 Agustus – 2 September 1930, dr. Sutomo dipilih menjadi ketua dengan sekretaris Ir. Anwari. Kemudian dalam kongresnya bulan Maret 1932 ketua/sekretaris di Surabaya dipindahkan ke Jakarta dengan ketua M.H. Thamrin dan sekretaris Otto Iskandardinata. Pada bulan Desember 1933 Kongres Indonesia Raya di Sala yang diselenggarakan oleh PPPKI dilarang, karena Partindo pimpinan Ir. Sukarno dan Mr. Sartono yang dinyatakan sebagai partai terlarang adalah anggota PPPKI. Pembatalan itu diberikan oleh penguasa hanya beberapa hari sebelum kongres. Pemimpin-pemimpin partai sudah hadir di Sala, termasuk dr. Sutomo. Kesempatan itu oleh dr. Sutomo dimanfaatkan dengan mengadakan penjajagan kepada ”Budi Utomo” pimpinan K.R.M.H. Wuryaningrat untuk berfusi dengan Persatuan Bangsa Indonesia-Fusi Budi Utomo-Persatuan Bangsa Indonesia terlaksana dalam bulan Desember 1935 dan berganti nama menjadi ”Partai Indonesia Raya” (Parindra). Dokter Sutomo terpilih menjadi ketua dengan wakil ketuanya K.R.M.H. Wuryaningrat.
Kegiatan dr. Sutomo di dalam Parindra meningkat, baik di bidang politik maupun di bidang sosial ekonomi. Haluan partai tetap moderat dan membenarkan anggota-anggotanya duduk di dalam Dewan-dewan. M.H. Thamrin, Sukarjo Wiryopranoto, Otto Iskandardinata, RJP, Suroso adalah anggota Parindra yang duduk di dalam Volksraad (Dewan Rakyat).
Sebagai dokter, Sutomo penuh perikemanusiaan, beliau tidak menetapkan tarif pembayaran penderita, kecuali mempersilahkan siapa saja yang berobat untuk mengisi kotak yang sudah tersedia. Rakyat kecil yang tidak mampu di bebaskan dari pembayaran, bahkan seringkali diberinya uang untuk ongkos pulang. Dalam hal perikemanusiaan beliau tidak membeda-bedakan bangsa apa saja, sedang dalam tugas politiknya beliau gigih berjuang mencapai kemuliaan tanah air dan bangsanya dengan tidak segan-segan menentang penguasa kolonial.
Sutomo mempunyai banyak kawan di segala golongan dan lapisan masyarakat. Kawan dekatnya di golongan agama adalah Kyai Haji Mas Mansur. Karena persahabatan itu Sutomo banyak membantu Muhammadiyah Jawa Timur yang dipimpin oleh K.H. Mas Mansur dengan mendirikan poliklinik dan sebagainya.
Isterinya, seorang wanita Belanda, dicintai sepenuh jiwanya. Karena isteri itu sakit-sakitan, maka didirikanlah rumah untuknya di Claket di lereng pegunungan Penanggungan, daerah Malang. Segala sesuatu dilakukannya untuk menyembuhkan isterinya, namun tidak berhasil. Pada tanggal 17 Februari 1934 Sutomo mendapat musibah; isterinya meninggal dunia. Musibah itu dirasakan berat oleh dr. Sutomo seperti beliau lukiskan dalam bukunya ”Kenang-kenangan”. Empat tahun kemudian, Sutomo jatuh sakit dan baru sekali itu beliau sakit sejak masa dewasanya. Sakitnya makin hari makin parah dan jiwa¬nya tidak tertolong. Pada tanggal 30 Mei 1938 pukul 16.15 dr. Sutomo pu¬lang ke rahmatullah. Jenazahnya dikebumikan di belakang ”Gedung Nasional Indonesia”, Bubutan Surabaya, atas permintaannya sendiri.
Seorang yang berjiwa besar dan banyak sekali jasanya kepada bangsa dan tanah air Indonesia serta prikemanusiaan, dr. Sutomo telah pergi untuk selama-lamanya.
Pemerintah RI menghargai jasa-jasa Sutomo, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Rl No.657 Tahun 1961 tanggal 27 Desember 1961 dr. Suto¬mo dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1536

Jenderal. TNI. ANM. Basuki Rachmat

Jenderal. TNI. ANM. Basuki Rachmat1. Surat Perintah 11 Maret 1966.
Hari Jum’at 11 Maret 1966, sidang Kabinet Dwikora yang dipimpin oleh Presiden Soekarno dengan mendadak diskor, Presiden memerintahkan Wakil Perdana Menteri III (Waperdam III) Dr. Leimena untuk memimpin sidang. Setelah Waperdam menerima laporan dari Brigjen Amir Machmud Panglima Daerah Militer V/ Jakarta Raya, bahwa Presiden telah meninggalkan istana menuju Bogor, sidang dibuka kembali, Leimena berbicara singkat, sidang kabinet ditutup. Suasana kalut di luar istana ada demonstrasi mahasiswa. Ribuan mahasiswa mengepung istana, konon mereka didukung pasukan yang tanpa mengenakan identitas. Dalam suasana kalut itu Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi Mayjen Basuki Rachmat, memanggil Brigjen M. Jusuf, Menteri Perindustrian Dasar Mayjen Mursid Deputy II Men/ Pangad dan Brigjen Amir Machmud Pangdam V (Jayakarta) untuk membahas peristiwa yang baru terjadi. Presiden tergesa-gesa meninggalkan istana atas laporan ajudan senior dan komandan Pasukan Tjakrabirawa Brigjen Sabar. Beliau menilai strategi tidak kondusif dan keselamatan Presiden terancam oleh demonstrans dan pasukan tanpa identitas. Para perwira tinggi berkesimpulan bahwa situasi politik dan keamanan sangat labil yang menyebabkan Presiden merasa terancam keselamatannya dan dalam ketakutan yang luar biasa.
Peristiwa ini bisa menimbulkan kesan bahwa Angkatan Darat telah meninggalkan Presiden, Basuki Rachmat mengajak ketiga perwira itu untuk menemani Presiden di Bogor, dengan terlebih dulu memohon izin Menteri/ Panglima Angkatan Darat Letjen Soeharto yang tidak hadir dalam sidang kabinet, dalam pembicaraan dengan Jenderal Soeharto, panglima mengizinkan mereka pergi ke Bogor dengan pesan singkat, ”sampaikan salam hormat saya kepada Bapak Presiden dan sampaikan kesanggupan saya mengatasi keadaan, apakah Presiden memberikan kepercayaan kepada saya”.
Setelah mereka diterima oleh Presiden akhirnya Presiden memerintahkan untuk menyusun draf surat perintah kepada Jenderal Soeharto. Basuki Rachmat, M. Jusuf, Amir Machmud dan Sabar bekerja menyusun draf surat perintah Presiden. Sabar bertindak sebagai sekretaris menuliskan draf dan sekaligus mengetiknya, draf ini disampaikan kepada Presiden, yang sebelumnya telah memanggil para Wakil Perdana Menteri untuk hadir di Paviliun Presiden. Presiden memberikan draf tersebut kepada para Waperdam, dipersilahkan menanggapinya, hampir tidak ada tanggapan, Soebandrio mengatakan: ”kalau Presiden setuju, kami tidak bisa berbuat apa-apa”, bahkan Waperdam Leimena menyarankan agar ditanda tangani saja. Akhirnya Presiden Soekarno menandatangani draf surat perintah yang di ketik tanpa prosedur administrasi kepresidenan menjadi surat perintah resmi.
Peristiwa bersejarah ini tidak dapat dipisahkan dengan peran Basuki Rachmat, seorang Jenderal yang sangat dikenal oleh Presiden. Beliau mempercayai sebagai Sekretaris Penguasa Perang Pusat (Peperta) yang dipimpin oleh Presiden. Surat Perintah 11 Maret yang akronim populernya Super Semar, adalah kunci pembuka pintu perubahan tata kehidupan berbangsa dan bernegara dalam pelbagai bidang, melalui Surat Perintah 11 Maret 1966, Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta organisasi pendukungnya dalang kudeta 1965 di bubarkan.
Itulah peran utama Basuki Rachmat, sebagai pelaku utama lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1966.
2. Masa kanak-kanak dan pendidikan.
Basuki Rachmat lahir dari lingkungan priyayi pamong praja, buah hati keluarga dari R. Soedarsono Somodihardjo, Camat Senori (Tuban) dan Suratin pendampingnya. Beliau lahir pada hari Senin Legi tanggal 14 November 1921, di tempat ayahnya berdinas Senori, sejak usia empat tahun ia telah menjadi piatu. Pada usia tujuh tahun ia masuk ke Sekolah Dasar H.I.S. (Hollands Inlands School) yaitu sekolah dasar khusus untuk para anak ambtenaan (Pegawai Negeri) di Tuban, ibu kota Kabupaten. Takdir telah tersurat, pada usia 14 tahun tatkala ia duduk di kelas empat H.I.S, ayahnya meninggal dunia pada tahun 1935, ia diboyong oleh bibinya Ibu Surowinoto ke Bojonegoro. Setamat H.I.S. ia melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebrig Lager Onderwijs, pendidikan rendah yang lebih diperluas) di Surabaya dan tamat pada tahun 1939, dari Surabaya melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru Hollands Inlands Kweekschool (H.I.K.) Muhammadyah Yogyakarta tamat pada tahun 1942. Satu bulan tentara Jepang menduduki Indonesia, pada awal pendudukan Jepang hampir semua sekolah masih ditutup, Basuki Rachmat belum sempat berdiri di depan kelas.
3. Propaganda mobilisasi.
Propaganda mobilisasi semula untuk dilatih menjadi militer demikian hebat. Basuki Rachmat tertarik, ia mendaftarkan diri dan mengikuti pendidikan militer di depo pendidikan prajurit (Renslitdi) di Magelang ia diangkat sebagai Lecho (pembantu prajurit) balalon Jepang, hampir selama dua tahun sebagai Lecho, dia terpilih untuk masuk sekolah perwira Tentara Pembela Tanah Air (PETA) setelah tentunya Osama Suirei No.44, Oktober 1943, pada tahun 1944 beliau masuk pendidikan calon Shodanco (komandan peleton) di Bogor, diangkat sebagai Shodanco dari Daidan (batalyon) Tentara PETA di Pacitan tugas pertamanya sebagai masuk calon prajurit tentara Peta, setelah Daidan terbentuk beliau ditugasi menjadi Shodanco Heiki Gakan (perwira bagian persenjataan dan peralatan), setelah proklamasi Peta dibubarkan, mantan Shodanco Basuki Rachmat berada di Maospati, sebuah kota kawedanan yang berada di jalan silang Surabaya – Surakarta dan Magetan, kota kecil ini penting karena disana ada pangkalan udara militer. Pemuda Basuki melatih pemuda-pemuda Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan diangkat sebagai pimpinannya. BKR Maospati adalah bagian dari BKR keresidenan Madiun dibawah pimpinan Sumantri mantan Shodanco Peta. Setelah terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945, Basuki Rachmat membentuk batalyon TKR di Ngawi, kota kabupaten Maospati dan menjadi komandannya dengan pangkat Mayor, Batalyon Basuki Rachmat adalah satu batalyon dari Dwisir VI Narotama, di bawah pimpinan Kolonel Sungkono yang bermarkas di Surabaya. Sejak terjadinya awal pergolakan sampai pecahnya pertempuran Surabaya pada bulan November 1945, Basuki Rachmat memperkuat barisan pejuang, kompi demi kompi secara bergilir dilibatkan dalam pertempuran dikirim ke Surabaya. Setelah aksi militer Belanda I, tanggal 21 Juli 1947 Basuki Rachmat memindahkan batalyonnya ke daerah Bojonegoro, berkedudukan di Temoyang sebuah desa strategis yang terletak di jalan Surabaya – Bojonegoro dan Jombang – Babad, beberapa kali pihak Belanda berusaha merebut desa ini namun selalu gagal.
Setelah Reorganisasi dan Rasionalisasi TNI tahun 1948, batalyon Basuki Rachmat masuk jajaran Divisi I, Brigade I dibawah pimpinan Letkol Moh. Sudirman pada bulan September 1948, Basuki Rachmat sebagai komandan batalyon diperintahkan ke Magelang bersama-sama sejumlah para komandan batalyon dari Brigade untuk mengikuti briefing orientasi strategi baru TNI dalam mengantisipasi agresi militer Belanda yang kemudian dikenal dengan strategi atuisi, briefing ini dipimpin sendiri oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman. Seusai briefing, terdengar PKI melakukan pemberontakan di Madiun, beberapa daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur telah dikuasai oleh pasukan PKI. Bagi Basuki Rachmat dan kawan-kawannya yang berasal dari Jawa Timur, bagaimana mereka kembali ke kesatuan masing-masing. Perjalanan sangat riskan setiba di Ngawi bertemu dengan Sentot Iskandardinata, komandan batalyon sentot. Kota telah dikuasai oleh TNI, perjalanan dilanjutkan sampai di Cepu yang telah di rebut oleh kompi Subandono, sekalipun dalam perjalanannya dari Cepu, mobil nya di tembak pesawat Belanda akhirnya Basuki Rachmat tiba di markas komandannya di Temoyang. Setelah di umumkan oleh Presiden pada tanggal 15 Agustus 1949, Mayor Basuki Rachmat, Mayor Rukmito Hendraningrat, Kapten Sutarto Sigit ditunjuk sebagai anggota Local Joint Committee yang dipimpin Mayor Rukmito mengadakan perundingan dengan pihak Belanda di Bojonegoro. Setelah pengakuan kedaulatan pada bulan Juni 1950 Basuki Rachmat ditetapkan sebagai Kepala Staf dan Pejabat Brigade II/ Narotama Divisi I selanjutnya pada tahun 1953 diangkat sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorium V/ Brawijaya yang juga merangkap panglima dengan pangkat Letnan Kolonel, karena Panglimanya Kolonel Sudirman mantan komandan brigadenya di Bojonegoro diangkat sebagai Panglima Komando Daerah Pengamanan Sulawesi Selatan dan Tenggara (KPMSST) dari jabatan staf, KSAD Mayor Jenderal Bambang Sugeng, menunjuknya sebagai Atase Militer di Australia yang di jalaninya selama tiga tahun (1956-1959). Sekembali dari Australia Basuki Rachmat ditunjuk sebagai Asisten IV/ Logistik KSAD dan merangkap Sekretaris Penguasa Perguruan Tertinggi (Peperti) satu komando darurat militer yang di pimpin langsung oleh Presiden Soekarno, jabatan rangkap rupanya tidak mampu dipikulnya, kesehatan Basuki Rachmat merosot, akhirnya beliau dibebas-tugaskan dari jabatan Asisten IV/ Logistik Men/ Pangad, jabatan sebagai Sekretaris Peperti berakhir pada tahun 1961 setelah Peperti berubah menjadi KOTI Pemibar (Komando Operasi Tertinggi Pembebasan Irian Barat) setelah reorganisasi TNI tahun 1962, tepat pada saat perjuangan pembebasan Irian Barat, Basuki Rachmat diangkat sebagai Panglima Komando Daerah Militer VIII (KODAM VIII/ Brawijaya). Pada saat menjabat Pangdam VIII, banyak masalah sosial-politik yang dihadapinya Ofensif Revolusioner yang dilancarkan oleh PKI, seperti aksi sepihak yaitu penyerobotan tanah milik petani dan sejumlah demonstrasi yang menuntut Kabinet Nasakom dan pelbagai kampanye politik yang bernada anti TNI dan anti Pemerintah Daerah. Pada tanggal 27 September 1965, tatkala Basuki Rachmat sedang meninjau latihan Pos Komando (Posko) di Saradan (Madiun) di Surabaya terjadi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh ormas PKI. Kediaman Gubernur, pada waktu yang menjabat Gubernur Kolonel Wiyono, dikepung oleh masa PKI, demonstrasi di pelopori oleh Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Para demonstrans yang ternyata tidak hanya wanita, menyerbu masuk rumah Gubernur. Benda-benda yang ada didalam gedung seperti meja, kursi, lukisan dirusaknya, mereka mencari Gubernur Wiyono dengan maksud akan diadili di depan masa mereka. Situasi Surabaya sangat menegangkan, Basuki Rachmat setelah menerima laporan peristiwa tersebut bergegas kembali ke Surabaya. Peristiwa ini dinilai sebagai peristiwa yang serius harus segera dilaporkan kepada Men/ Pangad Letjen. A. Yani. Kadar politiknya sangat tinggi, yang dinilai sebagai test case untuk menaksir kekuatan lawan PKI. Basuki Rachmat dikawal oleh Kapten Sugianto, Ajudan Gubernur Wiyono diterima Men/ Pangad pada tanggal 30 September malam, untuk melaporkan situasi politik yang mutakhiri di Jawa Timur. Men Pangad akan meneruskan laporan tersebut kepada Presiden, beliau memerintahkan supaya besok tanggal 01 Oktober 1965 menggunakan PDUK untuk menghadap Presiden.
Tanggal 01 Oktober 1965, setelah mendengar berita tentang kudeta Gerakan 30 S/ PKI langsung datang ke markas Kostrad dan melakukan kontak dengan staf Kodam memerintahkan agar komando diselamatkan dari situasi yang kritis. Tatkala menyaksikan sendiri satu batalyon dari jajaran Kodam VIII/ Brawijaya terlibat dalam peristiwa itu.
Basuki Rachmat berusaha menghubungi Komandan Batalyon 530 Mayor Bambang Supeno tidak berhasil, kontak berhasil dilakukan dengan Kapten Sukarbi, Wakil Komandan Batalyon II. Akhirnya pada sore hari Kapten Sukarbi membawa pasukannya masuk Makostrad, batalyon 530 minus 1 Kompi yang masuk jajaran tim.
Sementara itu Panglima Kostrad memerintahkan Brigjen Sabirin Muchtar sesepuh Batalyon tersebut menghubungi mereka. Sesudah Pangkostrad Mayor Jend. Soeharto dilantik sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat pada tanggal 16 Oktober 1965 dengan pangkat Letnan Jenderal, Basuki Rachmat ditunjuk sebagai Deputy Khusus (Desus) Pangad merangkap jabatan Pangdam VIII/ Brawijaya. Tatkala Presiden Soekarno mereshuffle kabinet, menjadi Kabinet Dwikora yang disempurnakan pada Bulan Februari 1966, Basuki Rachmat diangkat sebagai Menteri Veteran dan Demobilisasi. Pada saat menjabat Menteri inilah Basuki Rachmat berperan dalam lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar). Tugas baru telah menanti Basuki Rachmat, Presiden Soeharto menunjuk Basuki Rachmat sebagai Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Pembangunan I (1968-1973). Tugas utama Departemen Dalam Negeri pada saat itu mempersiapkan Penentuan Pendapat Rakyat Irian Barat (Get & Free Choice) yang akan diselenggarakan pada tanggal 14 Juli 1969. Basuki Rachmat tidak menyaksikan hasil perjuangan Bangsa Indonesia yang berat dan lama yaitu utuhnya wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau meninggal dunia ketika memimpin rapat staf di Departemen Dalam Negeri. Pangkat Militernya dinaikkan secara Anumerta menjadi Jenderal TNI.
Atas jasa dan perjuangannya terhadap bangsa dan negara, Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 1/TK/1969 tanggal 9 Januari 1969.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1847

Marsda TNI. ANM. Abdul Halim Perdanakusuma

080Sejak zaman Majapahit, bahkan sebelumnya hingga zaman Mataram pulau Madura merupakan unsur penting dalam kerajaan di pulau Jawa. Sekarang pulau madura termasuk wilayah Jawa Timur dan terkenal dengan karapan sapinya. Di kota kabupaten Sampang di pulau Madura Trunajaya dilahirkan sebagai seorang pejuang yang berani melawan kekuasaan Belanda pada abad ke-17. Di kota Sampang ini pulalah dilahirkan pada tanggal 18 Nopem,ber 1922 Abdul Halim Perdanakusuma, Laksamana Muda TNI Angkatan Udara.
Abdul Halim Perdanakusuma adalah putera Patih Sampang sebelum menunaikan ibadah haji, beliau bernama Raden Mohammad Siwa. Sekembalinya dari tanah suci berganti nama menjadi Raden Haji Mohammad Bahauddin Wongsotaruno. Ibu Abdul Halim bernama Raden Ayu Asyah, puteri Raden Ngabehi Notosubroto, Wedana Gresik Jawa Timur.
Abdul Halim adalah anak keempat dari sembilan bersaudara sekandung sedangkan seluruhnya saudaranya lain ibu berjumlah 27 orang. Pada tahun 1928 Abdul Halim Perdanakusuma mulai masuk Sekolah Dasar (Hollandsch Inlandsche School/HIS) di kota Sampang. la termasuk anak yang cerdas dapat menamatkan sekolah dengan lancar.
Sejak kecil ia tidak suka banyak bicara. la termasuk anak pendiam. Kalau bicara selalu bersungguh-sungguh atau serius. Meskipun demikian ia cukup ramah dan suka bergaul. Ia pun mempunyai sifat rendah hati. Hingga dewasa sifat-sifat itu dibawa terus. Tindakannya selalu dilakukan dengan hati-hati dan diperhitungkan dengan masak-masak oleh karenanya apa yang direncanakannya banyak yang berhasil.
Ia pandai bergaul dengan segala golongan tanpa membedakan antara yang ningrat dan yang bukan. Sebagai hobby atau kegemaran ia bermain biola dan melukis. Di sekolahnya ia berhasil membentuk sebuah band yang dipimpinnya.
Sesudah tamat ELS pada tahun 1935, ia melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Menengah Pertama (MULO). Sementara ia masih duduk di bangku SMP, ayahnya meninggal dunia selanjutnya ia mengikuti kakaknya yang tertua, yaitu Abdulhadi di Surabaya. Sewaktu di MULO ia mengembangkan bakatnya melukis. Hasil karyanya berupa lukisan yang diserahkan kepada kakaknya untuk dijual di pasar Tunjungan, Surabaya. Dengan hasil karyanya itu Abdul Halim dapat memperingan biaya sekolahnya. Kegiatan lainnya ialah bermain musik seperti telah diuraikan di atas.
Sesudah tamat dari MULO ia melanjutkan ke MOSVIA, yaitu Sekolah Pamong Praja di kota Magelang, untuk meneruskan jejak ayahnya yang semasa hidupnya bekerja di Pamong Praja. Setelah lulus dari MOSVIA Abdul Halim bekerja sebagai calon mantri polisi dikantor Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Sementara itu keadaan dunia makin gawat. Pada bulan September 1939 pec’ah Perang Dunia II. Beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Mei 1940, negeri Belanda diduduki pasukan Nazi Jerman. Hubungan antara Hindia Belanda dengan negara Belanda putus, dan pasukan Jepang dapat menyerbu Hindia Belanda setiap waktu. Dengan terbum-buru pemerintah Hindia Belanda menyiapkan kekuatan pertahanan untuk menangkis pertahanan Jepang. Menjelang masa yang gawat itu pemerintah Hindia Belanda memberi sedikit kesempatan kepada para pemuda Indonesia untuk memasuki pendidikan perwira pada angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara.
Abdul Halim yang sedang bekerja di kantor Kabupaten Probolinggo, ditunjuk oleh bupati untuk mengikuti pendidikan perwira Angkatan Laut. Sesudah lulus dari tes ia ditempatkan di bagian pendidikan calon perwira kapal torpedo. Dengan demikian ia masuk Angkatan Laut Hindia Belanda.
Pada bulan Maret 1942 pasukan Jepang mendarat di pulau Jawa. Angkatan Laut Hindia Belanda berusaha melawan Jepang, tetapi sia-sia belaka. Banyak kapal Hindia Belanda yang tenggelam dan terkubur di dasar lautan. Sisanya berlayar menuju Cilacap dalam rangka persiapan mengungsi ke Australia dan India. Dalam iring-iringan kapal Belanda itu termasuk pula kapal torpedo tempat Abdul Halim bertugas.
Di kota pelabuhan Cilacap, kapal torpedo itu diserang oleh pesawat terbang Jepang sehingga tenggelam. Abdul Halim Perdanakusuma terjun ke laut dan beruntunglah ia diselamatkan oleh kapal perang Inggris. Bersama mereka yang selamat Abdul Halim dibawa ke Australia dan kemudian diangkut ke India.
Di India Abdul Halim Perdanakusuma tetap berada dalam lingkungan Angkatan Laut. Kegemaran melukisnya masih tetap ditekuninya. Pada suatu hari yang luang, rupanya ia melukis potret Laksamana Mountbatten. Panglima Armada Inggris di India. Lukisan itu digantungkannya dikamarnya. .
Suatu ketika, Laksamana Mountbatten mengadakan inspeksi. Semua kamar anak buah di asrama itu diperiksa. Dikamar Abdul Halim, Laksamana Mountbatten melihatnya lukisan wajahnya tergantung di dinding. Ia lalu bertanya, siapa yang melukis itu? Abdul Halim menjawab singkat, bahwa dialah yang melukis.
Sejah itu terjadilah hubungan pribadi antara Laksamana Mountbatten dengan Abdul Halim. Apalagi sesudah mengetahui bahwa Abdul Halim itu putera Indonesia, Laksamana Mountbatten lalu menawarkan kepada Abdul Halim apakah suka menambah pendidikan di negara Inggris ? Abdul Halim menyetujui tetapi mohon agar diperkenankah pindah bidang, yaitu Angkatan Udara. Permintaan itu dikabulkan. Sesudah itu Abdul Halim diterbangkan ke Jibraltar dan selanjutnya ke London. Kemudian iamengikuti pendidikan juru terbang di Kanada. Di Kanada ia berlatih di Royal Canadian Air Forte jurusan navigasi. Sejak itu mulailah pengabdiannya di Angkatan Udara.
Sesudah selesai dengan pendidikannya, Abdul Halim ditempatkan di Inggris sebagai perwira navigasi Angkatan Udara Inggris. Sebagai manusia biasa tentu ia sangat rindu tanah air, bangsa dan keluarganya. Selama berkecamuknya peperangan itu, ia sama sekali tidak mendengar kabar tentag nasib keluarganya. Sedangkan keluarganya ditanah air sudah menganggap, bahwa Abdul Halim tentu sudah gugur dan tenggelam di lautan ketika kapal torpedo yang ditumpanginya dibom Jepang di perairan Cilacap pada awal Perang Pasifik itu.
Tentulah Abdul Halim dapat juga mengirim surat melalui Palang merah Internasional memberitahukan keadaannya kepada keluarganya di Surabaya dan Sampang, tetapi Abdul Halim juga menyadari resikonya. kalau Jepang mengetahui dia perwira Inggris, niscaya akan menangkap dan menganiaya seluruh keluarga Abdul Halim. Karena itu Abdul Halim tetap menahan dan menyabarkan diri. Satu-satunya harapan ialah agar perang dapat lekas selesai.
Abdul Halim makin memusatkan pekerjaannya pada bidang Angkatan Udara. Berkali-kali ia mengikuti pemboman ke Jerman. Ia mengalami berbagai pertempuran sengit di udara, berupa duel-duel antara kapal-kapal terbang Inggris dengan kapal-kapal terbang Jerman. Abdul Halim masuk dalam skuadron tempur yang terdiri dari pesawat Lancaster dan Liberator. Waktu itu ia berpangkat kapten Penerbangan dan merupakan salah seorang perwira Angkatan Udara berkulit berwarna yang tidak banyak jumlahnya.
Dalam operasi serangan pemboman ke Jerman, Kapten Abdul Halim tercatat 42 kali mengikutinya. Sasaran utamanya ialah pusat-pusat industri Jerman. Serangan-serangan itu dilakukan pada siang dan malam hari. Pernah terjadi dalam penerbangan kembali ke pangkalannya di Inggris, skuadronnya dicegat oleh pesawat-pesawat Fockewulf yang membawa senjata roket. Terjadilah duel di udara yang seru. Pihak Sekutu kehilangan tiga buah pesawat pembom B-17 karena tembakan roket Jerman.
Setiap kali mendarat di pangkalan dengan selamat. kawan-kawannya selalu membicarakan pengalaman-pengalaman di medan pertempuran, sesudah itu tidak jarang mereka mengambil pena dan menulis pengalamannya kapada keluarganya di rumah. Alangkah sedihnya bagi Abdul Halim karena ia tidak dapat menceritakan pengalamannya atau menulis surat kapada keluarganya. Ia tetap menahan diri demi keselamatan keluarganya. Karena itu hidupnya di tanah Inggris itu bagaikan seorang anak yatim piatu.
Satu hal yang mengherankan setiap kali Abdul Halim ikut dalam serangan udara di atas kota-kota Jerman dan Perancis, maka pastilah seluruh pesawat dalam skuadron itu kembali dengan selamat ke pangkalannya. Karena itu Angkatan Udara Inggris memberi sebutan The Black Mascot atau Si Jimat Hitam kepadanya. Para perwira senior pun menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Tentu hal-hal tersebut menggembirakan hatinya.
Sesudah perang di Eropa berakhir, maka selesai pula tugas Abdul Halim. Ia kini tinggal menunggu waktu untuk pulang kembali ke tanah air. Tetapi untuk sementara waktu ia harus bersabar, karena Jepang masih menduduki Indonesia.
Untunglah pasukan Jepang segera menyerah kepada Sekutu sehingga Abdul Halim dapat segera pulang ke tanah air. Kapten Abdul Halim ikut bersama pasukan Inggris yang mendarat di Jakarta pada bulan September – Oktober 1945. Pasukan Inggris itu atas nama Sekutu bertugas melucuti tentara Jepang dan memulangkan ke negerinya. Begitu mendarat di Jakarta ia lebih dulu menelpon gadis, Kussadalina yang bekerja di Rumah Sakit Bersalin Budi Kemulyaan Tanah Abang, Jakarta.
Gadis berasal Madiun itu dikenalnya waktu ia bertugas dalam Angkatan Laut Hindia Belanda di Surabaya. Alangkah terkejutnya Kussadalina menjumpai Abdul Halim dalam keadaan hidup dan segar bugar. Kussadalina dan seluruh keluarga di Surabaya dan juga keluarga Abdul Halim di Sampang sudah bertahun-tahun menduga bahwa Abdul Halim sudah gugur di perairan Cilacap.
Dengan tabah dan penuh haru Kussadalina berkata lirih ”Saya mau menerimamu, asal jangan memakai seragam penerbang Angkatan Udara kerajaan Inggris. Pakaian seragam itu akan menyulitimu dan diriku. Sekarang Indonesia sudah merdeka. Semua yang bercorak kebelandaan tentu dimusuhi” Abdul Halim menjawab, ”Saya tidak mempunyai pakaian lain kecuali piyama untuk tidur. Apakah saya harus ganti dengan piyama”. Kussadalina menjawab, ”Piyama lebih baik dari pada seragam RAF (Royal Air Force, Angkatan Udara Kerajaan Inggris)”.
Keesokan harinya Abdul Halim dengan surat dari Perdana Menteri Syahrir pergi menengok keluarganya ke Kediri. Tetapi di Kediri ia ditahan oleh pasukan Republik Indonesia dan dimasukkan ke dalam penjara karena dicurigai sebagai tentara NICA (Belanda).
Sementara itu Residen Kediri, yaitu Pratalikrama adalah termasuk kakak Abdul Halim sendiri. Residen Kediri sesudah mendengar adiknya ditahan, segera memberi kabar ibu Abdul Halim, yaitu Ibu Wongsotaruno. Sang ibu pun lalu pergi ke Kediri tetapi alangkah kecewa hatinya, karena yang berwajib hanya mengizinkan Ibu Wongsotaruno selama sepuluh menit saja untuk menjenguk putranya yang sudah tiga setengah tahun tidak dijumpainya.
Di penjara itu Abdul Halim berbaur dengan tahanan lainnya. Ia pun menulis perjalanan hidupnya di tembok rumah tahanan Kediri, sehingga menarik perhatian para petugas penjara, siapakah gerangan sebenarnya orang yang ditahan ini.
Sesudah beberapa waktu dan sesudah jelas semuanya. Pemerintah segera membebaskan Abdul Halim. Ia lalu pulang ke Sumenep. Kepala Staf Angkatan Udara RI Suryadi Suryadarma segera memanggil Abdul Halim Perdanakusuma ke Yogyakarta untuk memperkuat Angkatan Udara RI yang baru saja didirikan. Tentara Keamanan Rakyat atau TKR Jawatan Penerbangan yang kemudian menjadi AURI dan TNI Angkatan Udara, mulai giat membangun dengan menggunakan pesawat terbang tua Jepang jenis Cureng dan Ciukyu. Dengan pesawat rongsokan itu pula Abdul Halim melatih pemuda-pemuda untuk menjadi penerbang Angkatan Udara RI. Pada tanggal 23 April 1946 jam 12.30 tiga buah pesawat AURI bermotor satu terbang di udara Jakarta dan mendarat di Kemayoran. Dalam penerbangan percobaan itu ikut serta Abdul Halim Perdanakusuma.
Selanjutnya Abdul Halim juga terbang ke arah timur dan mendarat di lapangan pegaraman di Sumenep, Madura. Ia juga memimpin penerbangan formasi ke Malang.
Waktu itu ia berpangkat Komodor yang selalu mendampingi Kepala Staf AURI Suryadarma dan sering pula berkonsultasi dengan Panglima Besar Jendral Sudirman. Komodor Halim Perdanakusuma juga melatih pasukan penerjun payung yang menggunakan pesawat Dakota.
Dengan gugurnya komodor Agustinus Adisutjipto di Maguwo yang menjabat Wakil Kepala Staf AURI, maka Komodar Halim Perdanakusuma diangkat sebagai penggantinya.
Dengan keberanian yang luar biasa, Komodor Halim Perdanakusuma memimpin operasi pemboman ke kota-kota Ambarawa, Salatiga dan Semarang yang waktu itu diduduki Belanda. Mereka membom kota-kota tersebut dengan pesawat-pesawat Cureng yang sebenarnya bukan pesawat pembom. Sungguh luar biasa. Bom-bom itu diikat pada bagian bawah sayap pesawat untuk kemudian dilepaskan dan jatuh ke tanah.
Baru saja dua bulan Komodor Halim Perdanakusuma menikah dengan Kussadalina, ia sudah diperintahkan berangkat ke Bukittinggi bersama Opsir I lswahyudi untuk membangun AUR1. Pekerjaan itu sungguh berat, karena mereka harus mampu menembus blokade Belanda untuk berhubungan dengan luar negeri gunamembeli perlengkapan, persenjataan dan obat-obatan. Sering pula ia menerbangkan para pejabat negara untuk berbagai tugas. Komodor Halim Perdanakusuma juga memimpin penerjun pasukan payung di daerah Kalimantan pada tanggal 17 Oktober 1947. Pada waktu isterinya mengandung empat bulan Komodor Halim Perdanakusuma ditugaskan untuk menerbangkan pesawat terbang Auro Anson RI-003 dari Muangthai ke Indonesia. Tugasnya itu dilakukan bersama Opsir lswahyudi melakukan penerbangan tersebut dari Muangthai menuju Singapura untuk mengambil obat-obatan. Di sekitar Tanjung Hantu, Malaysia, udara sangat buruk. Ketika pesawat akan melakukan pendaratan darurat, terjadi kecelakaan. Sayap pesawat melanggar pohon dan patah, kemudian meledak. Malapetaka itu tepatnya terjadi di Labuhan Bilik Besar, antara Tanjung Hantu dan Teluk Senangin di Pantai Lumut, Malaysia. Komodor Halim Perdanakusuma dan Opsir lswahyudi gugur dalam malapetaka itu.
Selama bertahun-tahun jenazah Laksamana Muda TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma dimakamkan di Tanjung Hantu, Malaysia. Kemudian kerangka jenazahnya dipindahkan ke Indonesia, ke makam Pahlawan Kalibata pada tanggal l0 November 1975.
Laksamana Muda Halim Perdanakusuma besar sekali jasanya dalam membina dan mengembangkan Angkatan Udara Republik Indonesia. Segala pikiran, kemampuan, serta pengalamannya, baik berupa teknik penerbangan, taktik perang udara, penguasaan navigasi pesawat terbang dan sebagainya telah dimanfaatkan dan disumbangkan untuk membina Angkatan Udara Republik Indonesia.
Atas jasa-jasanya bagi Negara dan Bangsa itu pemerintah RI dengan SK Presiden No. 063/TK/Th. 1975 tertanggal 9 Agustus 1975 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsekal Muda TNI. Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1875

Dr. KRT. RADJIMAN WEDIODININGRAT

Dr. KRT. RADJIMAN WEDIODININGRATDr. KRT. Radjiman Wediodiningrat lahir di Kampung Glondongan, Desa Mlati – Sleman, Yogyakarta tanggal 21 April 1879, anaka dari Ayah Sutodrono (Mbah Talo) Ibu……(keturunan trah Kajoran)

RIWAYAT HIDUP DAN PERJUANGAN
Dokter Radjiman Wediodiningrat lahir pada tanggal 21 April 1879 di Desa Mlati, Yogyakarta. Ayahnya, Sutodrono, adalah seorang kopral pribumi yang berasal dari keturunan Gorontalo-Bugis, sedangkan ibunya wanita jawa. Radjiman memperoleh pendidikan umum di Europese Lagere School (ELS) di Yogyakarta yang diselesaikannya pada tahun 1893. Sesudah itu ia mengikuti pendidikan khusus, yakni kedokteran, baik di dalam maupun di luar negeri. Di dalam negeri, mula-mula ia memasuki Sekolah Dokter Jawa , kemudian School Tot Opleiding voor Inlandsche Arts (STOVIA). Pendidikan di luar negeri diikutinya di Amsterdam, Berlin dan Paris untuk mengambil spesialisasi obstetrie gynaecologie, rontgenologi dan bedan indoscopie urinaire. Spesialisasi terakhir ini diambilnya ketika ia sudah berumur 51 tahun, pada tahun 1930.
1. Setelah tamat dari Sekolah Dokter Jawa, Radjiman bekerja sebagai dokter pemerintah di Rumah Sakit Weltevreden (sekarang Rumah Sakit Angkatan Darat) di Jakarta, kemudian berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Tugas terakhir sebagai dokter pemerintah dijalaninya di Rumah Sakit Jiwa di Lawang. Periode bertugas sebagai dokter pemerintah ini diselingi dengan tugas sebagai Asisten Leraar di STOVIA. Kesempatan itu dimanfaatkan Radjiman untuk melanjutkan studinya, sehingga pada tahun 1904 ia memperoleh ijazah Inlandsche Art.

2. Tugas sebagai dokter pemerintah dijalaninya Radjiman selama tujuh tahun, dari tahun 1899 sampai 1906. Sesudah itu ia bekerja sebagai dokter di Kraton Surakarta Hadiningrat selama tiga puluh tahun (1906-1936). Dari segi profesi, ia berjasa antara lain mendirikan Apotek Panti Rapih dan Rumah Sakit Panti Rogo. Akan tetapi, yang lebih penting dalam periode ini ialah keikutsertaannya dalam organisasi bercirikan nasionalisme, khususnya Budi Utomo. Ia sudah tercatat sebagai anggota sejak organisasi ini didirikan pada tahun 1908. Enam tahun kemudian, 1914, ia sudah menduduki posisi sebagai Ketua Budi Utomo.

3. Sejak memegang jabatan sebagai Ketua Budi Utomo, Radjiman mulai memperlihatkan secara terbuka keterlibatannya dalam gelanggang politik. Ia mengubah haluan Budi Utomo dari hanya gerakan budaya dan sosial dengan keanggotaan yang terbatas hanya suku bangsa yang berbasis budaya Jawa, menjadi gerakan politik. Dalam pertemuan dengan berbagai organisasi di Semarang pada bulan September 1914, Radjiman menyampaikan gagasan tentang perlu diadakan milisi bumi putra. Gagasan itu dikemukakannya sehubungan dengan meletusnya Perang Dunia I dan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan negara lain terhadap Hindia Belanda (Indonesia). Gagasan itu diperkuat dalam kongres Budi Utomo di Bandung pada bulan Agustus 1915 dengan mengeluarkan mosi yang dikenal sebagai mosi Indie Weerbar (Ketahanan Hindia). Dengan keluarnya mosi itu, beberapa pihak menuding bahwa Budi Utomo, dan tentu saja Radjiman), sudah menjadi alat pemerintah kolonial. Tudingan itu dibalas Radjiman dengan mengatakan bahwa kepentingan pemerintah, khususnya untuk menghadapi serangan dari luar, sama dengan kepentingan rakyat pribumi. Untuk merealisasikan gagasan milisi itu, perlu didengar pendapat rakyat. Oleh karena itu, perlu dibentuk badan perwakilan. Untuk memperjuangkan milisi itu, sebuah komisi yang disebut Commite Indie Werbaar, dikirim ke Negeri Belanda. Pemerintah Belanda menolak usul milisi, tetapi menyetujui pembentukan sebuah badan perwakilan yang akhirnya direalisasikan dengan dibentuknya Volksraad.

4. Radjiman Wediodiningrat duduk sebagai anggota Volksraad selama tiga tahun, dari tahun 1918 sampai tahun 1921. Dalam Volksraad, ia antara lain mengusulkan agar golongan pengusaha juga diwakili dalam lembaga tersebut. Sesudah meninggalkan Volksraad, Radjiman berkiprah dalam berbagai organisasi, antara lain dalam Committee van da Javasche Ontwikkeling yang kemudian berkembang menjadi Java Instituut dan dalam Indonesiasche Studie Club. Selain itu, ia juga menerbitkan majalah Timbul yang digunakannya sebagai tempat menyampaikan aspirasi politiknya secara halus. Di bidang kepertaian, pada tahun 1935 ia ikut mendirikan Partai Indonesia Raya (Parindra) yang merupakan fusi Budi Utomo dengan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) pimpinan dr. Sutomo. Dalam Parindra, ia berkedudukan sebagai penasihat.

5. Pada masa pendudukan Jepang, Radjiman diangkat sebagai anggota Tyuo Sangsi-In merangkap Ketua Tyuo Sangi Kai Madiun. Namun, yang terpenting pada masa ini ialah jabatannya sebagai Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Badan ini dibentuk sebagai realisasi janji Perdana Menteri Jepang Koiso, yang diucapkannya bulan September 1944 bahwa Indonesia akan diberi kemerdekaan kelak di kemudian hari. Anggota BPUPKI terdiri atas wakil berbagai golongan dalam masyarakat dengan aspirasi politik yang berbeda. Oleh karena itu, sidang-sidang BPUPKI sering diwarnai dengan perdebatan yang cukup tajam, khususnya antara kelompok nasionalis Islam dan nasionalis netral agama. Sebagai yang tertua di antara anggota BPUPKI, dengan kadar intelektual yang cukup tinggi dan berpaham moderat, Radjiman berhasil mengendalikan perbedaan pendapat tersebut, sehingga keputusan yang diambil menjadi keputusan bersama.

6. Sidang-sidang BPUPKI berlangsung dalam dua masa sidang. Pertama, dari tanggal 28 Mei sampai 1 Juni; kedua, dari tanggal 10 sampai 17 Juli 1945. BPUPKI menyelesaikan tugasnya dengan menghailkan beberapa keputusan, antara lain mengenai dasar negara, luas wilayah negara, pertahanan, dan sistem pemerintahan. Sebagai ganti BPUPKI, dibentuk badan baru, yakni Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yang diketuai oleh Ir. Sukarno dengan Drs. Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua. Pembentukan PPKI ini disampaikan oleh Marsekal Terauchi, panglima pasukan Jepang untuk wilayah Asia Tenggara, dalam pertemuan dengan Radjiman, Sukarno, dan Hatta di Dalat, dekat Saigon.

7. Sesudah Indonesia merdeka, Radjiman masih sempat menyumbangkan tenaganya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Ia meninggal dunia pada tanggal 20 September 1952. Jenazahnya dikebumikan Ngawi. Atas jasa-jasanya terhadap bangsa dan negara, pemerintah menganugerahinya tanda jasa berupa Bintang Mahaputera Tingkat II dan Bintang Republik Indonesia Utama.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/dr-krt-radjiman-wediodiningrat/

MAYJEN TNI (PURN) Prof. Dr. Moestopo

Moestopo
R. Moestopo lahir di Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur pada tanggal 13 Juni 1913. Pendidikan tertinggi yang ditempuh pada masa Belanda ialah STOVIT (Sekolah Dokter Gigi) yang diselesaikannya pada tahun 1937. Sesudah itu ia membuka prakatik sambil bekerja di STOVIT, bahkan pernah diangkat sebagai Wakil Direktur STOVIT.
Pada masa pendudukan Jepang, Moestopo mengikuti pelatihan tentara Pembela Tanah Air (Peta) angkatan kedua di Bogor, Jawa Barat. Selesai pelatihan, ia diangkat sebagai shudanco (komandan kompi) di Sidoarjo. Akan tetapi, kemampuan Moestopo melebihi kemampuan seorang shudanco. Oleh karena itu kemudian ia diangkat sebagai daidanco (komandan batalion) di Gresik.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari sesudah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Jepang membubarkan kesatuan Peta, termasuk kesatuan Moestopo, dan senjata mereka dilucuti. Moestopo kemudian membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jawa Timur yang langsung dipimpinnya. Ia juga mengangkat dirinya sebagai Menteri Pertahanan At Interim Republik Indonesia. Tindakan itu dilakukannya agar dapat berunding dengan Komandan Tentara Sekutu dan Pimpinan Militer Jepang, yang oleh Jaksa Agung dikukuhkan dengan surat tertanggal 13 Oktober 1945, agar drg. Moestopo bertindak secara Menteri Pertahanan dan pelaksana tugas-tugas Menteri Pertahanan. Tindakan drg. Moestopo tersebut sangat menguntungkan bagi tetap tegaknya kedaulatan Republik Indonesia, karena sebagai Menteri Pertahanan ia menerima penyerahan kekuasaan Militer dan senjata dari Jepang.
Moestopo mempunyai andil yang besar dalam merebut senjata dari pasukan Jepang. Pada tanggal 1 Oktober 1945 para pemuda mengepung markas besar Jepang untuk merebut senjata. Moestopo meminta mereka menunda serangan sebab Jepang pasti akan membalas yang akan menyebabkan banyaknya jatuh korban. Ia segera menemui Mayor Jenderal Iwabe dan meminta senjata secara baik-baik. Iwabe menolak sebab ia pasti akan dipersalahkan oleh Sekutu. Hanya kepada Sekutulah Jepang harus menyerahkan senjata. Moestopo menegaskan bahwa ialah yang kelak akan mempertanggungjawabkan kepada Sekutu. Akhirnya Iwabe bersedia menandatangani surat penyerahan tersebut.
Moestopo menentang pendaratan pasukan Inggris yang mewakili Sekutu di Surabaya, walaupun Presiden Soekarno sudah menyampaikan pesan agar pendaratan itu tidak dihalang-halangi. Sambil berdiri dalam mobil dengan kap terbuka, ia berkeliling kota menyerukan rakyat agar melawan Inggris. Sebelum pasukan Inggris mendarat, Moestopo mengadakan perundingan dengan komandan Inggris, Brigjen Mallaby. Perundingan juga diadakan antara pihak Inggris dan pemerintah Jawa Timur. Inggris diizinkan menempati daerah pelabuhan. Akan tetapi, pada tanggal 27 Oktober, sehari sesudah kesepakatan itu dicapai, Inggris memasuki kota tanpa izin dan menduduki beberapa gedung. Akibatnya, pada tanggal 28 dan 29 Oktober berkobar pertempuran. Pasukan Inggris terdesak dan hampir hancur. Mereka meminta bantuan Presiden Soekarno untuk menghentikan pertempuran.
Sementara itu, Moestopo dan beberapa orang pasukannya berangkat ke Mojokerto untuk menyiapkan basis gerilya. Mereka ditangkap oleh pasukan Mayor Sabaruddin, bekas anak Moestopo dalam Peta. Moestopo dibebaskan, bahkan ia diantarkan ke Surabaya, tetapi yang lainnya dibunuh Sabaruddin. Moestopo langsung pergi ke tempat Presiden Soekarno sedang berunding dengan pihak Inggris. Ia dipensiunkan oleh Presiden dan diangkat sebagai Penasihat Agung Republik Indonesia.
Moestopo kemudian diserahi tugas sebagai Panglima Markas Besar Pertempuran Jawa Timur berkedudukan di Madiun. Pada waktu Angkatan Perang melaksanakan reorganisasi dan rasionalisasi, tahun 1948, Moestopo yang ketika itu berpangkat kolonel, diangkat sebagai Komandan Kesatuan Reserve Umum (KRU). Ia membawahi tiga KRU, salah satu di antaranya ialah KRU yang terdiri atas pasukan hijrah Siliwangi. Pada waktu PKI melancarkan pemberontakan di Madiun, Moestopo mengerahkan pasukan Siliwangi ini untuk menumpasnya.
Pada waktu agresi militer kedua Belanda, Moestopo bergabung dengan Panglima Tentara dan Teritorium Djawa (PTTD) Kolonel Nasution. Dalam pemerintahan militer yang dibentuk oleh Nasution, Moestopo diserahi tugas untuk urusan kesehatan.
Sesudah Perang Kemerdekaan berakhir, Moestopo diangkat menjadi Kepala Kesehatan Gigi Angkatan Darat. Pada tahun 1958 ia dikaryakan dalam jabatan Pembantu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan pada tahun 1961 dengan pangkat mayor jenderal, dikaryakan lagi sebagai Pembantu Menteri Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP). Pada tahun 1962 Moestopo mendirikan Yayasan Universitas Prof. Dr. Moestopo yang menaungi Universitas Prof. Dr. Moetopo (Beragama) di Jakarta yang di kenal sebagai Kampus Merah Putih. Selain memimpin dan membina universitas tersebut, ia juga ikut mendirikan universitas/fakultas sebagai berikut :
a. Universitas Gajah Mada dan Fakultas Kedokteran Giginya.

b. Universitas Padjajaran (Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Publisistik dan Fakultas FIPPIA)

c. Universitas Indonesia (Fakultas Kedokteran Gigi)

d. Universitas Trisakti (Fakultas Kedokteran Gigi dan Fakultas lain-lain)

e. Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) Jakarta dengan 4 Fakultas yaitu, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Ilmu Komunikasi.

f. Universitas Sumatera Utara (Fakultas Kedokteran Gigi)

g. Turut membina Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Stovit)

h. Pendiri Pendidikan Berkelanjutan Ilmu Kedokteran Gigi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), dengan 5 jurusan: Ortho, Opdent, Oral Surgery, Paedodontic, Prosthodontic.

i. Turut mendirikan dan memimpin Sekolah Lanjutan Oral Surgery Universitas Padjajaran Bandung.

j. Mendirikan Akademi Perawatan Gigi, Akademi Pertanian, Sekolah Teknik Gigi Menengah, Kursus Chair Side Assistence/Technik Gigi/Dental Hygienis, Yayasan Pendidikan Prof. Dr. Moestopo Bandung.

Mayor Jenderal Pur. Prof. Dr. Moestopo meninggal dunia pada tanggal 29 September 1986 di Bandung. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Ia menerima berbagai penghargaan; yang tertinggi ialah Bintang Mahaputra Utama RI dan Atas jasa-jasanya Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor : 068/TK/Tahun 2007 tanggal 6 November 2007.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=2049

Ke’ Lesap

Diceriterakan bahwa Pak Lesap adalah putera Madura keturunan Panembahan Cakraningrat dengan isteri selir; karena itu pada umumnya ia kurang mendapat kedudukan kalau dibandingkan dengan putera-puteranya dari isteri Padmi. Pada suatu waktu ia (Lesap) diberi tahu oleh ibunya, siapa sebenarnja ayahnya.

Sebagai seorang pemuda, ia merasa kesal dan berusaha untuk tampil kedepan dengan macam – macam keahliannya. Ia suka sekali bertapa digunung-gunung dan dikuburan-kuburan yang keramat. Pada suatu waktu ia bertapa digunung Geger (di Bangkalan) sampai cukup lamanya. Sekembalinya dari bertapa tersebut, ia mempunyai beberapa macam keahlian dan terutama ia menjadi dukun untuk menjyembuhkan macam – macampenyakit.

Hal itu terdengar oleh raja Bangkalan, lalu ia dipanggil dan diperkenankan untuk tetap tinggal dikota Bangkalan, dengan diberinya rumah didesa Pejagan.

Selain dari pada itu Raja djuga mengizinkan ia menjalankan praktek sebagai dukun, ialah memberinja obat- obat  kepada siapapun yang menderita sakit. Meskipun sudah mendapat kehormatan dan penghargaan semacam itu Ke’Lesap masih merasa tidak puas, karena ia merasa selalu diawasi oleh Raja. Yang tersembunyi dibalik itu, ia rupanya mempunyai ambisi untuk memegang Pemerintahan di Madura. Karena itu Ke’Lesap meninggalkan kota Bangkalan, terus menuju ketimur dan akhirnya ia sam­pai digua gunung Pajudan “didaerah Guluk-Guluk. Digua itulah ia bertapa untuk beberapa tahun lamanya.

Nama Ke’ Lesap makin lama makin terkenal.

Diceriterakan bahwa Ke’ Lesap memiliki sebuah golok dan dapat disuruh untuk mengamuk sendiri tanpa ada orang yang memegangnya. Kare­na kesaktian – kesaktian yang ia miliki, ia makin lama makin menjadi terkenal sam­pai diseluruh pelosok Madura.

Akhirnja Ke’ Lesap merasa yakin pada dirinya sendiri, bahwa ia sudah cukup mampu untuk mulai mengobarkan api pemberontakan. Keahlian dan kemasyurannya, banyak membawa simpati kepada rakyat, sehingga pa­da saat ia turun dari pertapaannya (Gunung Payudan) dengan sangat mudah ia dapat menaklukkan desa- desa yang ia datangi. Pemberontakan Ke’ Lesap mulai dari timur.

Dengan bantuan pengikut – pengikutnja, Ke’ Lesap mulai menyerang kerajaan Sumenep. Pertempuran terjadi dimana-mana, dan tak lama kemudian, Sumenep dapat diduduki. Pangeran Tjokronegoro IV (Raden Alza), sebagai Bupati Sumenep merasa sangat ketakutan dan ia melarikan diri bersama-sama keluarganya ke Surabaya dan ia melaporkan adanya pemberontakan tersebut kepada Kompeni.

Setelah keraton Sumenep diduduki, Pak Lesap menuju ke Pamekasan melalui jalan sebelah selatan, ialah Bluto, Prenduan, Kadura dan seterusnya. Ditempat-tempat dimana ia lalui, disambut oleh rakyat dengan penuh simpati dan terus mereka menggabungkan diri masuk pasukan pemberontak. Pamekasan dengan mudah pula dapat dikalahkan, karena pada waktu itu Bupati Pamekasan yang bernama Tumenggung Ario Adikoro IV (R. Ismail) tidak ada ditempat, ia sedang bepergian ke Semarang.

Ke’ Lesap melawan Adikoro IV.

Adikoro IV adalah menantu dari Cakraningrat V di Bangkalan. Sewaktu Adikoro IV kembali dari Semarang dan singgah di Bangkalan, ia lalu mendengar dari mertuanya bahwa Ke’ Lesap melancarkan pemberontakan. Setelah mendengar peristiwa itu, Adikoro IV terus minta diri kepada ayah mertuanya untuk terus berangkat berperang menghadapi Ke’ Lesap. Ia sa­ngat marah, karena memikirkan bagaimana nasib rakyat Pamekasan yang tentunya kocar-kacir, karena ditinggalkan pemimpinnya. Adikoro IV naik kuda dari Bangkalan menuju Blega. Di Blega ia berjumpa dengan orang- orang dari Pamekasan yang dipimpin oleh Wongsodirejo, Penghulu Bagandan. Dengan diiringi oleh pengikut pengikutnya yang masih setia, Adikoro IV terus menuju ke Sampang. Dikota ini ia berhenti un­tuk istirahat sebentar. Pada saat makan siang datanglah seorang utusan dari Pak Lesap dengan mcmbawa sepucuk surat yang isinya menantang untuk berperang. Adikoro IV sangat marah dan nasinya tidak terus dimakan, bahkan ia terus berdiri dan menanyakan kepada orang – orang banyak siapa yang sanggup mengikuti dirinya untuk berperang dengan Pak Lesap. Penghulu Bagandan tidak menyetujui untuk berangkat segera, karena hari itu adalah hari naas dan. menasehatkan untuk berangkat besok paginya saja. Tetapi Adikoro IV tidak sabar untuk menunggu semalam saja. Ia menanyakan lagi, siapa yang berani mati bersama-sama dengan dirinya. Penghulu Bagandan menyahut, bahwa dirinyalah yang per-tama bersedia untuk mati bersama-sama pemimpinnja. Karena itu, tanpa di-tunda- tundalagi, Adikoro IV berangkat dengan diikuti oleh Penghulu Bagandan dan pengiring-pengiringnya menuju ke Pamekasan.

Adikoro IV beserta pasukannya mengamuk sedemikian rupa, sehingga musuhnya dapat dipukul mundur sampai di Pegantenan, daerah Pamekasan Akan tetapi, karena pasukan Adikoro IV jumlahnya hanya sedikit dan ia sendiri sudah sangat lelah, maka tidak lama kemudian perutnya kena senjata dan ususnya sampai keluar. Tetapi semangatnya tidak padam, ia melilitkan ususnya kepada tangkai kerisnya dan ia terus mengamuk dengan tombaknya. Akhirnya ia kehabisan tenaga juga dan terus jatuh meninggal dunia. Demikianlah pula Penghulu Bagandan gugur dimedan pertempuran bersama-sama Adikoro IV.

Pertempuran di Bangkalan dan berakhirnya pemberontakan Pak Lesap (tahun 1750). Setelah Adikoro IV dapat dikalahkan, maka Pak Lesap beserta pasukannya terus menuju ke Bangkalan. Pertempuran dimulai sebab pasukan Cakraningrat V mengadakan perlawanan yang cukup hebat. Tetapi lama ke- lamaan pasukan kerajaan Bangkalan dapat dipukul mundur. Bantuan dari Kompeni didatangkan dari Surabaya. Pertempuran terus berkobar kembali.

Bantuan Kompenipun tidak dapat bertahan dan terpaksa mundur pula. Karena Cakraningrat V merasa hampir kalah, ia mengungsi ke Melaja, sedangkan Benteng dipertahankan oleh pasukan Kompeni. Waktu itu Pak Lesap membuat pesanggrahan didesa Tonjung. Pada suatu malam Cakraningrat V bermimpi supaya Pak Lesap dikirimi seorang perempuan dengan disuruh memegang bendera putih, yang maksudnya, bahwa Bangkalan akan menyerah. Tipu muslihat tersebut keesokan harinya dijalankan. Seorang perempuan ronggeng diberinya pakaian keraton serta disuruh memegang bendera putih dan terus dikirimkan kepada Pak Lesap. Pak Lesap menerima pemberian itu dan wanita itu dibawa kepesanggrahannya, dengan keyakinan bahwa Bangkalan sudah menyerah. Pada waktu Cakraningrat V dengan pengikutnja sedang menunggu reaksi Pak Lesap dengan dikiriminya seorang wanita yang memegang bendera putih, tiba – tiba terlihatlah tombak pusaka Bangkalan yang bernama SiNenggolo gemetar dan bersinar seolah-olah  mengeluarkan api. Cakraningrat bangkit dari duduknya dan terus mengabil tombak itu.

Ia lalu mengajak pasukannya untuk berangkat berperang guna menumpas pemberontakan Pak Lesap.

Sesampainya didesa Tonjung, Pak Lesap sangat terkejut, karena Cakraningrat V datang menyerang dengan tiba – tiba. Dengan tidak menunggu lama lagi, Cakraningrat V mendatangi pemimpin pemberontak itu dan terus tombaknya ditancapkan. Pak Lesap, pada seketika itu pula rebah dan te­rus meninggal. Rakyat Bangkalan yang mengikuti Rajanya bersama – sama berteriak : „Bangka-la’an”, jang artinja „sudah matilah”. Karena itu sebagian orang Bangkalan mengatakan, bahwa nama Bang­kalan asalnja dari kalimat itu.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 31-33