MASJID AGUNG ASY- SYUHADA’ Kabupaten Pamekasan

pamekasanMasjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan bermula dibangun di tempat yang sama yaitu tempat  Masêghit Rato atau masjid raja karena yang mendirikan masjid yang mula-mula tersebut adalah Raja Ronggosukowati. Raja Ronggosukowati memang merupakan raja Pamekasan yang pertama beragama Islam. Dengan demikian masjid yang ada saat ini merupakan pengembangan dari Masêghit Rato  tersebut. (masèghit Rato sebutan masjid yang dibangun oleh raja). Hal tersebut karena raja membuat tempat syujud atau masjide, pemberi nama ini datang dari kelompok keturunan langsung Ronggosukowati antara lain marga Adikara. Namun setelah Madura dikuasai Mataram yang kemudian oleh Mataram diterimakan kepada Belanda, semua yang berbau Madura dikecilkan dan pada hakikatnya Stigma bagi Madura mulai terasa. Sebutan langgar adalah pantas bagi Madura menurut mereka bahkan Raden Pratanupun disebutnya sebagai Pangeran Langgar, karena itu sejarawan di Jawa hanya mengenal seorang  pangeran di Madura yaitu Pangeran Langgar yang tertulis di makam Sunan Kalinyamat di Jawa Tengah. Karena itu pula setelah jaman berikutnya terutama setelah Bupati Hindia Belanda yang Pertama di Pamekasan (1804) Masèghit Rato disebut juga dengan sebutan Langghâr Rato.

LOKASI  MASJID
Hampir seluruhnya langgar yang dibangun masyarakat Islam saat itu di Madura dibuat dari kayu dan beratapkan rumbia. Bangunan Masjid Rato berdiri di atas tanah (yang tentunya milik raja) tepat berada di tepi sungai. Penempatan di tepi sungai Kampung Masèghit yang lokasinya di sisi barat sungai dekat masjid raja hingga kiri-kanan masjid merupakan tempat pekerja/pemelihara masjid. Pada bagian sisi utara masjid di dibuat taman, maka kampong masèghit menjadi ciut dan yang tersisa di bagian sisi barat sungai, sampai saat ini masih bernama Kampung Masèghit. Sedangkan bagian kampong Masèghit dibagian sisi utara masjid lalu menjadi Kampung Taman dan di kanan mesjid berubah pula namanya dari kampong Masèghit menjadi Kampung Barat Pos setelah Pemerintah Jajahan mendirikan kantor yang berfungsi Jasa Pos, di ujung Jalan Masigit yang sekarang. Namun perubahan pekerja /pemelihara masjid terus berlangsung. Setelah dynasti Ronggosukowati yaitu pewaris sebagai pemilik lokasi mesjid / sebagai pewaris dari raja yang memndirikan masjid rato satu demi satu tidak lagi berkuasa di Pamekasan, Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1804 mengangkat saudara Sultan Bangkalan menjadi Bupati Pamekasan, dan pengurusan masjid diangkat pegawai dari kerabat kaum bangsawan dengan pangkat panggilan Tumenggung, yang ditempatkan di perkampungan yang namanya Kampung Tumenggungan yang hingga saat ini diteruskan oleh pelanjut keturunannya.
 PEMUGARAN DAN PERLUASAN MASJID
Perkembangan Masjid Raja kemudian selalu mengikuti jaman para penguasa di Pamekasan yang terus berlangsung dari masa ke masa yang tidak terlepas dari perkembangan arsitektur masjid yang ada di Jawa Timur, sebagaimana yang terlihat kemudian sampai saat ini seperti. Langgar masjid zaman wali, langgar masjid zaman penjajahan dan langgar masjid zaman kemerdekaan. Masjid Raja ini kemudian direnovasi oleh para Bupati / penguasa setelah masa-masa berikutnya. Setelah Madura ditaklukkan Mataram, Sultan Agung memerintahkan penggusuran Masjid Raja dan di atas lokasinya tersebut dibangun kembali bentuk mesjid yang umum di Pulau Jawa saat itu yaitu Mesjid Langgar Mataram dan telah disetujui Sultan Agung yaitu bangunan tajung tumpang tiga bagaikan bangunan meru tempat peribadatan masyarakat agama Budha. Perubahan ini dilaksanakan ketika pemerintahan Adipati yang  bernama Raden Gunungsari bergelar Adikoro I. Pada saat VOC jatuh pada Tahun 1799, semua daerah koloninya diserahkan kepada Pemerintah Belanda di Negeri Belanda  termasuk  daerah Madura. Kemudian jajahan VOC tersebut oleh Belanda dinamakan Hindia Belanda dan Madura termasuk di dalamnya. Selama itu hingga tahun jatuhnya VOC Masjid Pamekasan belum direnovasi baik fisik dan tatanan pemeliharaannya atau ketip-ketipnya. Namun semula Masjid Raja (1530) atau masjid renovasi tahun 1672 dilakukan cuma sekedar untuk syahnya shalat Jum’at untuk menampung jamaah sebanyak 40 orang menurut mazhab As-Syafii. Pada  pemerintahan Bupati R. Abd Jabbar gelar R. Adipati Ario Kertoamiprojo, yang memerintah dari tahun 1922 s/d 1934’ Masjid rehap tahun 1672 tersebut diperluas ke samping dan ke depan yang demikian karena makin banyaknya jamaah khususnya saat mendirikan shalat Jum’at dan pada hakikatnya masjid sedang diarahkan untuk menjadi masjid jamik Kota Pamekasan.

Pada tahun 1804 Pemerintah Penjajahan Hindia Belanda mengangkat saudara dari Sultan Bangkalan yang bernama Abdul Latif Palgunadi sebagai Bupati Pertama Hindia Belanda  di Pamekasan. Tepatnya pada tanggal 10 Nopember 1804 yang kemudian dikukuhkan dengan SK Tanggal, 27 Juli 1819 sebagai Panembahan Pamekasan dengan gelar Panembahan Mangkuadiningrat. Sejalan dengan pengukuhan tersebut Pemelihara masjid atau ketip masjid dipercayakan kepada Pejabat yang diangkat oleh Pemerintah Panembahan Pamekasan dengan pangkat Tumenggung yang ditempatkan di tanah milik Pemerintah Panembahan Pamekasan di sekitar masjid sebagai perluasan dari Kampung Masèghit (kampung Masjid)  yang sudah ada yang saat ini masih berbekas di Kampung Tumenggungan.

Namun kemudian pada tahun 1939, saat Pamekasan diperintah oleh Bupati R. A. Asiz (R. Abd Azis (SIS)  berkuasa dari tahun 1939-1942) atas anjuran Gubernur Jawa Timur saat itu yaitu van derPlaas, masjid rato yang telah beberapa kali mengalami renovasi tersebut dirombak total dan di atasnya di bangun mesjid styel Walisongo yaitu segi empat beratap tajung tumpang tiga. Tetapi  masjid yang dibangun masa pemerintahan Bupati R. A. Abdul Azis ini tidak sepenuhnya menurut styel walisongo, sebab tidak memiliki serambi. Bahkan Tiang agungnya terdiri dari 16 batang tiang bukan empat. Tiang sebanyak itu untuk menunjukkan bahwa masjid ini dibangun di atas tanah masjid yang mula-mula yaitu Masêghit Rato yang dibangun pada abad Ke-16. Setelah renovasi pada tahun 1939 yang diresmikan pada tanggal 25 Agustus 1940 masjid ini lalu dinamakan Masjid Jamik Kota Pamekasan dengan dua buah menara kembar di kanan-kiri masjid, menara setinggi 20 meter. Nama masjid jamik ini bertahan hingga tahun 1980, bahkan tidak sedikit penduduk Pamekasan yang menyebutkan demikian hingga saat ini.

Pada tahun 1980 masjid ini diperluas ke depan sejauh lima meter, tambahan ini merupakan serambi. Penambahan ini dilakukan atas perintah Bupati Pamekasan, Mohammad Toha yang memerintah pada tahun 1976 sampai dengan tahun 1982. Dengan demikian hasil Renovasi ini membuahkan masjid ini memiliki serambi yang tertutup dan perubahan ini bisa diterima karena masjid-masjid di jaman walisongo semuanya memiliki serambi.

Bangunan kantor Takmir Masjid Agung Asy-Syuhda’ Kabupaten Pamekasan tahun 1939 bertahan hingga renovasi tahun 1995. Namun kolam bundar untuk mengambil air wudhu sudah tergusur dan pengambilan air wudhu ditempatkan di bagian utara depan menara.  Selain itu untuk mengenang para Syuhada’ yang syahid pada waktu Serangan Umum pada tanggal 16 Agustus 1947, yang dilakukan oleh para pejuang Republik Indonesia di Madura terhadap pendudukan serdadu Belanda di kota Pamekasan. Mereka yang gugur, semuanya dikubur di depan Masjid Jamik sebelah sisi utara dan kemudian di situ didirikan monumen Taman Makam Pahlawan(TMP). Namun kemudian di tahun 1974 para Syuhada yang terkubur di Taman Makam Pahlawan tersebut seluruhnya dipindah ke Taman Makam Pahlawan di Jalan Panglegur seperti adanya saat ini. Sebagian bekas taman makam pahlawan di depan masjid tersebut bagian tepi barat sudah menjadi Jalan Masigit setelah  ada pelebaran jalan depan masjid pada tahun 2004. Serangan Umum tanggal 16 Agustus 1947 tersebut oleh seorang wartawan perang Belanda, Wim Horman,  menyebutkan  dalam ungkapannya :

Renovasi tahun 1980-1985
Pada tahun 1985 oleh Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan, Masjid  kembali mendapat renovasi berupa pelebaran ke samping kanan dan kiri sejauh lima meter dengan jalan menggusur tempat untuk berwudhu’ yang kemudian tempat air wudhu’ tersebut dipindah ke bagian depan sebelah utara. Nama masjid kemudian ditambah dari Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan menjadi Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan.

Pada September tahun 1995 di jaman pemerintahan Bupati Drs. H. Subagio, M.Si Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan direnovasi total kembali. Secara total Masjid dibangun dengan seluruhnya cor beton . Karena berada di tepi sungai yang rawan longsor  maka digunakan pasak bumi yaitu paku beton sepanjang 22 meter tertancap di bumi dasar mesjid sebanyak 360 batang dan setiap pasak dihubungkan dengan cor beton pula sehingga Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan renovasi 1995 ini terkesan bagaikan sangkar beton yang tertancap di bumi sebagai fondasinya. Masjid ini memiliki 3 lantai. Lantai pertama sebagian digunakan sebagai Gudang, Kantor Takmir, Ruang Pertemuan, Perpustakaan, Balai Pengobatan, sanitasi dan tempat ambil air wudhu’. Sebagian lagi tepatnya di bagian ke arah barat tertutup ditimbuni tanah. Lantai 2 sebagai ruang inti / haram dengan ukuran 50X50  meter dan samping kanan-kiri.  Bagian depan dibatasi dinding sebagai serambi masjid. Tiang utama 4 (empat) buah dengan demikian kembali ke styl masjid Mataram yang memiliki empat pilar tiang agung yang tertancap di dasar bangunan tembus ke lantai tiga. Lantai tiga juga dipersiapkan sebagai tempat sholat, dari lantai tiga ini  para jamaah dapat melihat imam shalat di lantai dua. Materi bangunan masjid banyak didatangkan dari luar Madura seperti marmar untuk lantai dari Tulungagung dan Lampung. Tembok dinding dilapisi dengan ukiran, juga pintu dari kayu berukir dan ukiran ini didatangkan dari Jepara di Jawa Tengah dan Karduluk di Sumenep. Secara keseluruhan masjid renovasi 1995 masih dalam bentuk masjid tradisional, berserambi, bertiang utama (tiang agung) empat buah, tetapi atapnya tidak lagi atap tajung tumpang tiga melainkan bergaya Timur Tengah, bentuk segi empat dan berkubah cor pasir dan semen. Nama masjid tetap Masjid Agung Asy-Syuhada’Kabupaten Pamekasan dengan daya muat sebanyak 4000 jamaah.

Renovasi total Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan berlanjut hingga pemerintahan Bupati Drs. H. Dwiatmo Hadiyanto, M.Si. Rehap dalam tahap akhir pemberian pagar dan gerbang masjid serta pelebaran Jalan Masigit khususnya di depan Masjid Agung Asy-Syuhada’Kabupaten Pamekasan dilaksanakan dalam pemerintahan bersama Bupati Drs. H. Ahmad Syafi’i, M.Si dan Wakilnya Drs. H. Kadarisman Sastrodiwirjo, M.Si yang memerintah dari tahun  2003 s/d 2008 sekaligus merestui Takmir Masjid Agung Asy-Syahada’ Kabupaten Pamekasan yang baru yaitu Drs. H.R. Abd. Mukti, M.Si sebagai Ketua Umum  Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan dan Drs. KH.M. Baidowi Ghazali, MM sebagai Ketua Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan. Pada saat tulisan ini disusun renovasi Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasanmemang sudah selesai  sesuai dengan konsep semula. Namun Wajah Masjid Agung Asy-Syuhada’Kabupaten Pamekasan terus-menerus dipercantik sebatas yang diperbolehkan agama, dan ragam rias ini selalu dalam pengamatan dan bimbingan langsung dari Bupati Kabupaten Pamekasan  Drs. KH. Kholilurrahman, SH.,M.Si dan Wakilnya Drs. H. Kadarisman Sastrodiwirjo, M.Si yang keduanya mulai menjabat dari tahun 2008 s/d 2013. Pada tahun 2011 tepatnya pada tanggal, 24 Mei 2011 Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten dan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan di lebur menjadi satu dengan nama Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan yang di ketuai oleh Drs. H. RP. Abd. Mukti, M.Si.

KIBLAT
Dalam masalah kiblat ini Pamekasan yang termasuk daerah khatulistiwa, sebagaimana umumnya negeri kita, Indonesia. Apa yang mereka kerjakan.” ( Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat : 144 ).   Untuk daerah kita, telah diperhitungkan menurut azimuth yang sudah digunakan bagi seluruh tempat di tanah air dan bagi Pamekasan yaitu arah barat-barat daya atau kearah barat dan serong ke arah utara sebesar 23º, sehingga mengarah ke Masjidil Haram di Makkah. Dengan demikian Jhâlân Sè Jhimat yang mengarah dari simpang monumen Lancor di renovasi untuk disesuaikan sebab jalan tersebut dahulu dibuat dengan tujuan mengarah ke mihrab mesjid Rato dengan maksud si pejalan kaki merupakan sosok yang berjalan di jalan Allah menuju tempat untuk sujud kepada AllahNamun saat ini jalan Sè Jhimat tersebut sudah menjadi tempat parkir.  Wa Allâhu a’lam bi al sawhâb.

RUANG, INTERIOR DAN SARANA DI MASJID AGUNG ASY-SYUHADA
Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupten Pamekasan yang berlantai tiga ini mempunyai  banyak ruang  dengan fungsi yang berbeda seperti :

  • Ruang liwan, ruang inti tempat jamaah masjid melakukan sholat berjamaah, terdapat di lantai dua, juga terdapat di lantai tiga 30 X 1,20 m
  • Ruang Haram  / Liwan di lantai 2
  • Ruang Haram / Liwan di lantai 3
  • Serambi, serambi depan 9 X 55 m dan serambi samping kiri – kanan dengan ukuran  masing – masing 4,5 X 20,7 M di lantai dua,
  • Serambi samping kanan / utara , lantai 2,
  • Serambi  depan di lantai 2,
  • Serambi samping kiri / ruang liwan wanita di lantai 2,
  • Ruang istirahat Imam sejajar dengan ruang-ruang  mihrab dan mimbar dan ruang muadzin sekaligus sebagai ruang alat-alat elektronik. Masing-masing berukuran 5 X 3 m di lantai 2,
  • Ruang Mihrab dan mimbar,
  • Kantor Takmir, terletak di lantai satu berukuran  4 X 20 m.
  • Ruang Pertemuan, terletak di lantai satu dengan ukuran  8 X 21 m

Di samping ruang-ruang ini masih tersedia ruang-ruang lain seperti gudang tempat penyimpanan alat kelengkapan masjid seperti terpal, permadani dan lain-lain. Juga di sekitar atau bagian sisi utara dan barat masjid dibangun beberapa bangunan untuk tempat pendidikan dan kesenian. Walaupun tempat seperti terpisah tapi masih merupakan satu komplek dalam makna masih mencerminkan adanya hubungan orientasi antara komplek dan bangunan induk masjid.

  • Ruang Unit Radio “ Swara Gerbangsalam 88,6 FM “hasil kerja sama Majelis Ulama’ Indonesia Kab. Pamekasan, Lembaga Pengkajian dan Penerapan Syariat Islam Kab. Pamekasan, FOKUS Kab. Pamekasan dan Yayasan Takmir Masjid Asy-Syuhada’ Kab. Pamekasan dengan ukuran 3X3 M dan juga ada ruang tempat penyelenggaraan rekaman, relay / TV. Dan sekarang dikelola oleh Badan Pengelola Radiop Gerbang Salam 88,6 FM.
  • Ruang Wanita, ditempatkan terpisah dari jamaah pria yaitu di serambi bagian kiri di lantai 2 (selatan) Pemisahan tempat ini untuk menjaga agar tidak tergaggunya kekhusyukan, dari dua jamaah yang berbeda jenis kelamin, wanita-pria. Untuk hari-hari biasa, pada hari Jum’at tidak disediakan tempat Jamaah wanita hal ini karena bagi wanita shalat Jum’at merupakan  sunat (boleh melaksanakan boleh tidak) tetapi untuk hari-hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha disediakan di lantai tiga. Walaupun terjadi pemisahan seperti tersebut di atas, para jamaah wanita masih dengan sempurna hubungan pandangan  secara langsung ke ruangan pria yang demikian dimaksudkan agar herak-gerik imam atau khatib dapat diikuti secara langsung dari ruang wanita.
  • Tempat ruang sesuci / Wudhu’ dan Sanitasi,terdapat di lantai satu di kiri (Selatan)- kanan (Utara).Untuk wanita di bagian kiri, terdapat 6 (enam) sanitasi dan 27 kran untuk mengambil air wudhu. Sedangkan di bagian kanan untuk pria, terdapat 10 tempat sanitasi, 4 tempat kencing dan kran untuk mengambil air wudhu’ sebanyak 26 buah. Pemisahan kedua ruang sesuci antara pria dan wanita ini sudah sesuai dengan tuntunan ajaran Agama Islam bahwa manakala sesudah bersuci untuk sholat apabila terjadi persinggungan kulit antara dua jenis kelamin dan bukan termasuk muhrim maka ia menjadi batal, karena ia diharuskan mengambil wudhu’ kembali. Air yang digunakan  untuk air wudhu di Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan adalah air dari mata air yang ada di Pamekasan  melalui jasa PDAM Pamekasan. Pengambilan air wudhu’ disediakan kran sebagaimana tersebut di atas, hal ini untuk menjaga  agar air wudhu’ tetap hygienis. Demikian pula  kamar mandi dan WC yang  ruangnya tertutup  dan sopan sehingga menjamin tingkat privacy jamaah yang menggunakan.
  • Gedung Taman Pendidikan Al-Qur’an Asy-Syuhada’ Terletak di samping belakang bagian utara Komplek Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan,
  • Jam gantung 3 buah, papan publikasi 3 buah, mimbar 1 buahdan beduk 1 buah dan penitipan sandal.
  • Ruang alat elektro dan  pengeras suara.
  • Pertamanan terdapat di halaman masjid bagian tepi kiri – kanan,  Halaman bagian utara,  Halaman bagian selatan.
  • Ragam RiasMasjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan juga dihias dengan kaligrafi, dan beberapa gambar motif  bangunan masjid dan geometris.
    Menara , Masjid berujung berbentuk peluru (sesuai dengan penjelasan dari Arsitek Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan kepada beberapa orang jamaah di tahun 1996 ).
  • Tempat penitipan kendaraan jamaah di pusatkan di jalan Sè Jhimatyang sudah ditutup, di area Monumen Lancor

MENARA KEMBAR Tinggi 37 M

Menara oleh Islam difungsikan sebagai tempat muadzin mengumandangkan adzan agar adzan lebih jauh lagi didengar orang karena adzan  merupakan panggilan atau ajakan untuk melakukan sholat. Saat ini muadzin tidak perlu naik-turun menara yang tinggi dan melelahkan itu. Hal ini karena Islam juga telah menggunakan teknologi yang ada. Muadzin tidak perlu naik-turun menara. tetapi cukup menempatkan  pengeras suara di puncak menara dan muadzin cukup mengumandangkan panggilan shalat tersebut di ruang muadzin sebab dari tempat tersebut dihubungkan ke pengeras suara di puncak  menara menggnakan alat elektro.

Menara Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan tetap dua buah dan merupakan menara kembar sebagaimana menara masjid Jamik Pamekasan buatan tahun 1939 yang telah dibongkar, tetapi menara yang sekarang ujung atasnya berbentuk peluru, bentuk ini sebagai ungkapan bahwa Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan pernah menyaksikan serangan umum yang disebutkan di atas pada tanggal 16 Agustus 1947, saat itu Masjid Jamik Pamekasan dipenuhi lubang bekas peluru yang ditembakkan oleh tentara pendudukan Belanda ke arah masjid sebab di masjid banyak pejuang berlindung.

FUNGSI MASJID

Kegiatan dalam Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan sudah terlihat demikian kompleks. Bahkan dapat dikatakan makmur, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang yang dicakup juga cukup banyak yakni peribadatan,  pendidikan keagamaan, sosial keagamaan dan sebagainya. Justru dengan semakin makmurnya  kegiatan ini maka pihak pembina masjid yaitu Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan dirangsang untuk semakin dapatnya menyediakan sarana dan prasarana yang layak. Ketua Umum Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan selain mengawasi perkembangan fisik masjid juga membawahi unit-unit usaha, pendidikan, (Taman Pendidikan Al-Qur’an / TPA), badan dakwah, remaja masjid, keamanan, pemeliharaan fisik kompleks masjid, Unit Radio Swara Gerbangsalam sedangkan sekretaris membawahi  pembukuan, keuangan dan urusan material. Sedangkan pemeliharaan gedung ditangani oleh seksi tehnik dan karyawan masjid.

Selain dari yang telah melembaga seperti yang disebutkan di atas masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti Panitia Amaliyah Zakat Fitrah dan Mall, Panitia Amaliyah Idul Qurban, Panitia Santunan Anak Yatim, Panitia Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw, Panitia Maulid Nabi Muhammad saw. Di samping itu pendidikan non formal juga tidak dilupakan seperti kuliah subuh, kuliah pada malam nisfu sya’ban dan hari-hari besar Islam yang dirayakan di Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan, ceramah dan dialog interaktif Radio Swara Gerbangsalam 88,6 FM, akad nikah dan doa bersama seperti Istighatsah oleh berbagai golongan organisasi Islam. Juga dalam program pengembangannya Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan pada tahun Ajaran 2011 akan membuka Play Group, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Madrasah Diniyah dan Belajar Sampoa, belajar mengaji bagi Lansia.

Semua tercakup dalam pengelompokan, religi, pendidikan, sosial budaya dan ekonomi, kemasyarakatan dan kepemudaan.   Dengan demikian fungsi Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan sudah secara estafet, meneruskan budaya Islami yang selaras dengan budaya lokal, walaupun demikian warna kultur Islam masih dapat terlihat jelas, hal ini karena kultur Islam memiliki warna khas tersendiri.

——————————————————————————————-Oleh: Dian K ; dari Koleksi Muatan Lokal, Deposit, Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur; SEJARAH MASJID ANGUNG ASY-SYUHADA`  PAMEKASAN, A.Sulaiman Sadik. 
Pamekasan: Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada Pamekasan,  2011
CB.D13/1991-01[3]

Panembahan Ronggo Sukowati, Pa­mekasan

Panembahan Ronggo Sukowati dikenal sebaqai pembangun Kota Pamekasan. Saat ini makamnya banyak dikunjungi peziarah, teratoma mereka yang sedang berburu jabatan.

Panembahan Ronqgo Sukowati0001Membicarakan sejarah Pa­mekasan, tentu tak bisa dilepaskan dari riwayat Panembahan Ronggo Su­kowati. Raja inilah yang membuat nama Pame­kasan dikenal kemudian hari menyu- sul kebijakannya waktu itu. Yaitu keberhasilannya membuat perubahan pada pemerintahan dan melakukan pembangunan di wilayah kekuasaannya. Salah satu perubahan yang paling fundamental adalah di- pindahkannya pusat pemerintahan dari dari Kraton Labangan Daja ke Kraton Mandilaras.

Panembahan Ronggo Sukowati juga disebut-sebut sebagai raja pertama di Pamekasan yang secara te- rang-terangan mengembangkan Aga- ma Islam di kraton dan rakyatnya. Jalan Sejimat di Alun-Alun Kota dan Masjid Jamik Pamekasan yang konon didirikannya menjadi bukti.

Panembahan Ronqgo Sukowati0002Sayang, pada beberapa situs pen- inggalannya sampai saat ini belum ditemukan adanya inskripsi atau prasasti yang bisa menjelaskan ke- pastian waktu dia memerintah Pame­kasan. Para ahli hanya memerkira- kan, Ronggo Sukowati memerintah Pamekasan sekitar paruh kedua abad XVI, ketika pengaruh Mataram mulai masuk Madura.

Riwayat Ronggo Sukowati lebih banyak dikenal lewat legenda mau- pun cerita-cerita tutur tentang kehe- batannya. Dia disebut berkuasa di Pamekasan menggantikan ayahnya, Bonorogo alias Pangeran Nugeroho. Saat Ronggo Sukawati mulai meme- gang kekuasaan, wilayah Pamekasan masih terbagi dalam beberapa kera- jaan kecil. Misalnya, wilayah Blim- bingan diperintah oleh Pangerah Nu- goro, adiknya, dan daerah Jamburi- ngin diperintah Pangeran Suhra dari keturunan Palakaran, Arosbaya.

Suatu hari, saat baru dilantik menjadi raja, dia mendapatkan per- sembahan satu landian keris dari seseorang. Hari berikutnya, dia memeroleh hadiah sebuah rangka keris dari tamu yang berbeda. Beberapa hari kemudian, datang pula orang lain membawakan untuknya isi keris. Setelah dibawa ke seorang mpu, ternyata landian, rangka, dan isi keris itu cocok satu sama lain.

Keris tersebut kemudian dia beri nama Jokopiturun, yang kelak kemu­dian hari menewaskan Panembahan Lemah Duwur dari Arosbaya. Kejadi- an ini bermula saat Panembahan Le­mah Duwur berkunjung ke Pame- kasan untuk bersilahturahmi. Sambutan ramah Ronggo Sukowati dibarengi dengan acara menangkap ikan tamunya di Rawa Si Ko’ol.

Para pengiring Panembahan Le­mah Duwur turun ke rawa untuk menangkap ikan dengan bertelan- jang dada. Demikian pula dengan para pengawal Ronggo Sukowati, diperintahkan terjun ke rawa untuk membantu. Namun berbeda dengan para pengiring Lemah Duwur, pengawal-pengawal Ronggo Sukowati tidak membuka pakainnya sama sekali. Mungkin karena hal ini, tiba- tiba Panembahan Lemah Duwur tanpa minta diri langsung pulang ke Arosbaya diiringi menteri-menterinya.

Melihat ada yang tidak beres, Penembahan Ronggo Sukowati pun mengejarnya. Sampai di Sampang, dia mendapat penjelasan dari saudaranya, Adipati Sampang. Bahwa Panembahan Lemah Duwur sempat berhenti dan bersandar di sebuah pohon di Desa Larangan. Seketika itu, Ronggo Sukowati menghunus keris Jokopiturun, menusukkannya di pohon tersebut, dan kembali ke Pamekasan.

Selang beberapa hari, dia menda­pat surat dari istri Panembahan Le­mah Duwur yang mengabarkan bah­wa sang suami telah meninggal dunia akibat bisul besar di pinggangnya. Mengetahui berita ini, Ronggo Suko­wati marah pada dirinya dan membuang keris Jokopiturun di Rawa Si Ko’ol. Tiba-tiba, begitu keris itu jatuh ke rawa, terdengar suara; “umpama keris Jokopiturun tidak dibuang, Jawa dan Madura hanya selebar daun kelor”.

Demi mendengar suara itu, Rong­go Sukowati sangat menyesal, dan memerintahkan pengawal-pengawal- nya mencari Jokopiturun. Tapi sayang, keris itu tidak dapat ditemukannya lagi.

Saat Panembahan Ronggo Suko­wati berkuasa, konon pernah 2 tahunlamanya tidak turun hujan di Pamekasan. Hingga rakyat tida  dapat bercocok tanam dan mengakibatkan kelaparan di mana-mana. Kemudian, Ronggo Sukowati

bermimpi melihat seorang wali berdiam tanpa rumah di sebuah hutan tak jauh dari Pamekasan. Benar, prajurit-prajurit yang di­perintahkan mencari, menemukan sang wali bernama Kyai Agung Raba itu.

Mendengar laporan dari pengawalnya, Ronggo Suko­wati kemudian menggerakkan Makam tenaga rakyat untuk membantu  banyak membangun rumah bagi sang kyai. Ajaib, begitu rumah terse­but selesai dibangun, hujan men- dadak turun di seluruh Pamekasan.

Menurut sebuah sumber, pernah Madura diserang oleh orang-orang Bali dan berhasil menewaskan Pange- ran Lor I dari Sumenep. Namun di perbatasan Pamekasan, tepatnya di daerah Jungcangcang, prajurit-prajurit Ronggo Sukowati melawan dengan gagah berani dan berhasil menghancur-leburkan pasukan Bali. Dari peristiwa ini, kedudukan Ronggo Suko­wati bertambah kuat dan semakin terkenal di seantero Madura.

Keharuman nama Ronggo Suko­wati bahkan terus dikenang ratusan tahun kemudian saat jati dirinya hanya bisa dikenal lewat makamnya. Makam yang terletak di Kelurahan Kolpajung, Kota Pamekasan ini, seti- ap hari tak pernah nihil diziarahi orang. Terutama pada malam Jum’at, orang yang datang semakin banyak dengan berbagai permohonan.

“Kebanyakan yang datang ke sini, orang-orang yang sedang berhajat dengan jabatan tertentu. Mungkinkarena riwayat Panembahan Suko­wati yang seorang raja,” kata Hanafi, juru kunci makam. Menurut laki-laki 72 tahun ini, agar hajat yang ingin dicapai bisa terkabul, ada 3 syarat yang harus dilakukan sewaktu ziarah di makam ini.

Pertama, hajat atau keinginan itu harus yang baik. Kedua, berani da­tang sendiri ke makam. Ketiga, kuat terhadap godaan. “Kalau keinginan- nya tidak baik, pasti tidak akan di- kabulkan. Juga harus sendiri, baik datangnya maupun saat lelaku di sini. Terus harus tahan godaan, kare­na bagi yang akan direstui, godaan itu pasti ada bermacam rupa,” jelas Hanafi.

Di komplek makam yang terletak sekitar 1 km sebelah utara alun-alun Kota Pamekasan ini, dimakamkan pula Ratu Inten, istri Ronggo Suko­wati. Juga Pangeran Jimat, putranya, yang nisan makamnya terlihat unik layaknya makam-makam kuno. Ma­kam Panembahan Ronggo Sukowati sendiri, seiain berupa nisan kuno, ju­ga dihiasi ukir-ukiran antik di cungkupnya•HK

LIBERTY, September 2009, hlm. 76

Pamekasan Membatik

BATIK Madura2SEDANGKAN buku’Pamekasan Memba­tik’adalah bukti nyata perkembangan batik di daerah tersebut. “Saya kira buku ini layak untuk dimiliki oleh khalayak umum yang memiliki rasa kecintaan terhadap pelestarian budaya bangsa In­donesia, terutama kerajinan batik,” tutur Bude Karwo.

Lebih dari itu, lanjut dia, buku ini mampu memberikan inspirasi bagi pera­jin, desainer dan pecinta batik untuk terus menggali, mengembangkan dan melestarikannya sebagai budaya bangsa Indonesia.

Penulis buku’Pamekasan Membatik’ edisi kedua, Kadarisman Sastrodiwirjo, mengatakan, edisi kedua dirilis bermula dari saran Bude Karwo yang meminta buku ‘Pamekasan Membatik’ yang telah dicetak dalam jumlah terbatas, diberi edisi Bahasa Inggris.

“Oleh karenanya, atas usaha dan upaya teman-teman, jadilah buku edisi kedua ini,” ujar Kadarisman yang juga menjabat Wakil Bupati Pamekasan.

la mengatakan, buku’Pamekasan Membatik’ini awalnya berupa buku ke­cil yang disiapkan saat Gubernur Jatim, Soekarwo, mendeklarasikan Pamekasan sebagai ‘Kabupaten Batik’ pada 24 Juni 2009 silam.

Ternyata buku kecil itu banyak dijadi­kan acuan, kecuali itu sangat jarang buku atau tulisan tentang batik Madura. “Itulah antara lain yang mendorong kami untuk mengembangkannya menjadi buku,” kata Kadarisman.

Sedangkan Bupati Pamekasan, Drs KH Kholilurrahman, SH, MSi, mengatakan, batik dapat dilihat dari dua sisi. Pada satu sisi, batik merupakan ekspresi ikon buda­ya kebanggaan bangsa pada umumnya, dan orang Madura pada khususnya.

Sisi yang lain, batik merupakan komodi­tas yang potensial bagi pengembangan perekonomian masyarakat. Karena itu perlu ada upaya yang serius dan berkelan­jutan untuk mengembangkannya.

Bupati sangat salut, bangga serta memberikan apresiasi yang sangat tinggi pada penulis buku ‘Pamekasan Memba­tik’. “Saya berharap, buku ini memerkaya khazanah pengetahuan masyarakat ten­tang batik Madura,” ujarnya.

GALERÍA; MEDIA DEKRANASOA JAWA TIMUR, EDISI, 09 , NOVEMBER – DESEMBER 2012, hlm.

Sejuta Inspirasi dari Pamekasan

BATIK011Batik Madura memang telah memasyarakat. Pada 13 November 2012 digelar totalitas Gebyar Batik Pamekasan 2012 yang bertitel’Setetes Malam, Sejuta Inspirasi’. Even itu dibeber dalam rangka memeringati Hari Jadi Ke-482 Kabupaten Pamekasan.

YA, batik Pamekasan merupakan salah satu dari sekian potensi batik Madura yang dimiliki Jawa Timur. Provinsi yang dipimpin Gubernur Soekarwo ini terus menggeliat menunjukkan eksistensinya di bidang batik.

Bahkan batik Pamekasan kian berani melebar­kan sayapnya hingga menggelar even di Surabaya. Tepatnya di Isyana Ballroom, Hotel Bumi Surabaya. Tujuannya agar batik Madura, terutama Pamekasan lebih dikenal masyarakat.

Di even itu juga d\-lauching sekaligus dilakukan bedah buku’Pamekasan Membatik’edisi kedua karya Kadarisman Sastrodiwirjo (Wakil Bupati Pame­kasan), dan fesyen karya-karya pembatik Pameka­san sebanyak 40 motif.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekra-nasda) Jawa Timur, Dra Hj Nina Soekarwo, Msi, yang membuka acara, mengatakan, potensi batik Jawa Timur memang luar biasa dan ragam atau motifnya juga sangat banyak.

Sekadar mengingatkan, lanjut dia, beberapa waktu lalu telah dilakukan pecah Rekor Muri (Mu­seum Rekor Dunia Indonesia) dengan 1.120 motif batik dari 22 kabupaten/kota se-Jatim. “Padahal be­lum seluruh 38 kabupaten/kota yang ambil bagian pada Rekor Muri itu,” kata Bude Karwo—sapaan akrab Nina Soekarwo.

la mengatakan, saat ini batik di Jawa Timur se­dang booming, diikuti kekayaan kreasi masing-ma­sing daerah. Bude juga tak khawatir ketika booming batik itu berefek pada serapan pasar.

Dikatakan, setiap kali batik muncul setidaknya sudah dipikirkan motif-motif khas yang juga masih diminati. “Saya nggak khawatir, karena kekayaan motif batik Jawa Timur yang masih tinggi dan pasar pun masih bisa menerima,” tutur dia.

Justru yang perlu dipikirkan adalah bagaimana membuat kemasan yang lebih menarik agar batik benar-benar semakin eksis dan bertahan dalam persaingan dengan usaha tekstil dari luar negeri.

Ciri Khas Batik Gentongan

Batik Pamekasan, katanya, memiliki banyak ciri khas dan motif, termasuk batik gentongan yang proses pembuatannya memakan waktu lama. Pada­hal peminat batik gentongan itu tidak sedikit, tetapi proses membatiknya yang lama. Berbeda dengan proses batik-batik lainnya.

“Bu Ani Yudhoyono (istri Presiden SBY, Red) pe”rnah menegur saya. Bu apa batik gentongan Pamekasan prosesnya bisa lebih dipercepat, karena peminatnya juga relatif banyak. Makanya, perlu dipikirkan solusinya,” lanjut Bude Karwo.

Soal penerbitan buka’Pamekasan Membatik’, Bude Karwo, menyampaikan apresiasi yang tinggi, karena batik sebagai warisan budaya menjadi simbol dan kebanggaan masyarakat Indonesia. Kekayaan dan warisan budaya leluhur ini sudah seha­rusnya mendapat tempat yang sangat tinggi, sehingga batik harus dilestarikan. “Karena pengaruh dan peranannya besar dalam peningkatan ekono­

mi masyarakat Indonesia,” lanjutnya. Lebih jauh Bude Karwo mengatakan, seluruh kabupaten dan kota di Jatim memunyai batik khas. “Dari keaneka­ragaman motif batik yang mencer­minkan karakter masing-masing dae­ rah itu, dapat disatukan menjadi satu motif batik khas Jawa Timur, yaitu motif batik yang menampilkan ayam bekisar dan bunga teratai,” ujar Bude Karwo.

Ayam bekisar merupakan fauna khas Jatim, yang melambangkan karakter khas masyarakat Jatim, sedangkan bunga teratai adalah bunga     yang melambangkan kedamaian. Hal ini sesuai dengan keinginan masyarakat Jatim yang men-dambakan kedamaian dan kebersamaan untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan. “Seperti diketahui, Kabupaten Pamekasan sejak 2009 telah dinobatkan sebagai’Kabupaten Batik’. Keberanian warna, corak serta keanekaragaman motif menjadikan batik Pamekasan memiliki kekhasan yang tinggi,” kata dia.*

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Galeria; Media Dekranasda Jawa Timur, Edisi 09, November-Desember 2012, hlm. 11-13.

 

Didik Junaidi Rachbini, Kabupaten Pamekasan

Didik J R2 September 1960, Ahmad Junaidi, lahir dari pasangan Rachbini yang seorang guru dan Djumaatijah di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Indonesia.

Ahmad Junaidi, dengan panggilan Didik. Namun kemudian dalam ijazah SD, gurunya menulis nama Didik Junaidi Rachbini. Tanpa tertulis nama Ahmad, hanya nama panggilan Didik dan di belakang ditambah nama ayahnya, Rachbini. Maka untuk menyesuaikan dengan ijazah, nama Didik Junaidi Rachbini itulah yang dipakai.

Didik,mengawali pendidikannya di Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Pamekasan, Madura.

Tahun 1983, Didik, menyelesaikan S1 di Institut Pertanian Bogor IPB.

Tahun 1982-1983, Didik menjadi Asisten dosen di almamaternya IPB.

Tahun 1982-1983, Didik menjadi Ketua HMI Cabang Bogor

Tahun 1983-1985, menjadi Dosen di almamaternya IPB.

Tahun 1984-1985, Didik menjadi Ketua Pengurus besar HMI

Tahun 1985-1994, Didik menjadi Peneliti LP3ES, Jakarta.

Tahun 1986, pendidikan non-gelar lainnya adalah kursus Summer bidang ekonomi pada UPLB (University of the Philippines at Los Banos,), kursus ekonomi budaya (economic culture), Boston University; Kepemimpinan (Islamic University, Islamabad).

Tahun 1988), Studi Pembangunan S2 Msc. Central Luzon State University Filipina.

Tahun 1990, Didik menghasilkan karya Buku “Politik Pembangunan: Pemikiran ke Arah Demokrasi Ekonomi”, LP3ES, Jakarta.

Tahun 1990-sekarang, Didik menjadi Anggota ISEI

Tahun 1990-1991, Didik menjadi Konsultan FAO.

Tahun 1991, Studi Pembangunan, S3 Ph.D Central Luzon State University Filipina.

Tahun 1991-1992, Didik menjadi Kepala Program Peneliti LP3ES.

Tahun 1992-1994, Didik menjabat Wakil Direktur LP3ES.

Tahun 1993-1995, Didik menjadi Konsultan UNDP.

Tahun 1993-1994, Didik menjadi Dosen Universitas Nasional.

Tahun 1993-sekarang, Didik menjadi Dosen Pascasarjana Universitas Indonesia.

Tahun 1994, Didik menghasilkan karya Buku “Politik Deregulasi dan Agenda Kebijakan Ekonomi”, Infobank, Jakarta.

Tahun 1995, Didik menghasilkan karya Buku “Risiko Pembangunan yang Dibimbing Utang”, Grasindo, Jakarta dan “Employment and Income Distribution in Rural West Java”, LP3ES, Jakarta.

Tahun 1995-2000, Didik sebagai Pengurus Pusat ICMI

Tahun 1995, Didik sebagai Pendiri dan Pengajar di Universitas Paramadina Mulya.

Tahun 1995-1997, Didik dipercaya untuk menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana.

Tahun 1995-2000, Didik sebagai Direktur  Institute for Development of Economics and Finance INDEF.

Tahun 1996, Didik menghasilkan karya Buku “Politik Ekonomi: Paradigma, Teori, dan Perspektif Baru”, CIDES-INDEF, Jakarta.

Tahun 1997-2001, Didik menjadi Pengurus Pusat PERHEPI.

Tahun 1997, Didik ditunjuk untuk menjabat sebagai Pembantu Rektor I, Universitas Mercu Buana Jakarta.

Tahun 1997-2004, Didik menjabat Wakil Rektor Universitas Mercu Buana.

Tahun 1998, Didik mulai memasuki dunia politik ketika dia diangkat menjadi Anggota MPR Utusan Golongan. Kala itu, Didik mewakili Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Tahun 1998-2003, Didik menjadi Anggota Majelis Pendidikan Tinggi Nasional.

Tahun 1998-2003, Didik menjadi Pengurus Pusat HA IPB

Tahun 1998-sekarang, Didik menjadi Dosen Program Magister Manajemen UI dan MPKP UI.

Tahun 1999, Didik menghasilkan karya Buku “Diagnosa Ekonomi dan Kebijakan Publik”, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

Tahun 1999, setelah terpilihnya sebagai anggota MPR, Didik memutuskan untuk bergabung dengan Partai Amanat Nasional. Dia bergabung sebagai anggota Majelis Pertimbangan Partai (MPP).

Tahun 1999-2004, Tim Ahli MPR RI untuk Amandemen UUD 1945 bidang ekonomi.

Tahun 1999-2003, Didik menjadi Anggota KKPU.

Tahun 2000 – 2005, Didik menjadi Ketua DPP Partai Amanat Nasional.

Tahun 2001, Didik menghasilkan karya Buku “Ekonomi Politik Utang”, INDEF, Jakarta.

Tahun 2004, Didik terpilih menjadi anggota DPR RI mewakili daerah pemilihan Batu dan Malang, Jawa Timur. Dia menjadi anggota DPR RI hingga tahun 2009.

Tahun 2004-2008,  Didik menjadi Ketua Komisi VI DPR RI bidang Industri, Perdagangan, BUMN dan Penanaman Modal, dari Fraksi PAN.

Tahun 2005-2009, Didik menjabat Wakil Ketua Yayasan Menara Bhakti (Universitas Mercu Buana).

Tahun 2006-2011, Didik menjadi Ketua Yayasan Paramadina (Universitas).

Tahun 2007-2012, Didik menjadi Ketua Majelis Wali Amanat Institut Pertanian Bogor.

Tahun 2008-2009,  Didik menjabat Wakil Ketua Komisi X DPR RI bidang Pendidikan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga.

Tahun 2011-sekarang, Didik menjadi Ketua LP3E Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Ekonomi di Kamar Dagang dan IndustriKADIN

Tahun 2012 ini, Didik kembali muncul di dunia politik dengan turut meramaikan bursa pemilihan kepala daerah. Bersama dengan Hidayat Nur Wahid dari Partai Keadilan Sosial, Didik mencalonkan dirinya untuk maju sebagai Gubernur kota Jakarta.

Prof. Dr. Didik Junaidi Rachbini berIstrikan: Dr Ir Yuli Retnani dan dikaruniai tiga ana: Eisha Maghfiruha Rachbini; Fitri Nurinsani Rachbini; Imam Maulana Rachbini.=S1Wh0T0=

Vihara Sejarah dan Kekhasan Avalokitesvara, Kabupaten Pamekasan

Sekitar abad ke-14, berdiri sebuah Kerajaan Jamburingin di daerah Proppo sebelah barat Pamekasan, yang menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto. Sebagai kerajaan, Raja-raja Jamburingin berkeingin membangun candi sebagai tempat pemujaan atau beribadah. Bahan-bahan untuk; keperluan pembangunan candi seperti patung dan arca didatangkan dari Majapahit melalui Pantai Talangsari.

Namun, setelah tiba di Pantai Talangsari, kiriman patung dan arca tidak terangkat karena tidak tersedianya sarana angkutan yang memadai dan akhirnya terlantar di tepi pantai, Namun, akhirnya, penguasa Kraton Jamburingin memutuskan untuk membangun candi di sekitar pantai. Tempat candi yang tidak terwujud itu, sekarang dikenal dengan Desa Candi Burung merupakan salah satu desa di Kecamatan Proppo, yang lokasinya berdekatan dengan Desa Jamburingin.

Burung dalam bahasa Madura berarti gagal (tidak jadi). Rencana pembangunan candi di Pantai Talangsari pun tidak terlaksana seiring perkembangan kejayaan Kerajaan Majapahit yang mulai pudar serta penyebaran agama Islam mulai masuk dan mendapat sambutan baik dari penduduk di Pulau Madura, termasuk daerah Pamekasan. Akhirnya, patung- patung kiriman dari Majapahit pun dilupakan penduduk, serta lenyap terbenam dalam tanah.

Sekitar tahun 1800, seorang petani bernama Pak Burung tidak sengaja menemukan patung-patung peninggalan dari Majapahit di ladangnya. Kabar penemuan itu menarik perhatian Pemerintah Hindia Belanda dan meminta Bupati Pamekasan Raden Abdul Latif Palgunadi alias Panembahan Mangkudiningrat I (1804-1842) untuk mengangkat dan memindahkan patung-patung tersebut ke Kadipaten Pamekasan. Tetapi, karena keterbatasan peralatan saat itu, proses pemindahan patung-patung tersebut gagal  juga. Patung-patung tersebut tetap berada di lokasi ketika ditemukan.

Kurang lebih 100 tahun kemudian, sebuah keluarga Tionghoa membeli ladang tempat penemuan patung-patung tersebut. Setelah dibersihkan, diketahui bahwa patung-patung tersebut bukan sembarang patung. Patung-patung tersebut memiliki khas Buddha beraliran Mahayana yang punya banyak penganut di daratan Tiongkok.

Salah satu patung itu ternyata patung Kwan Im Po Sat alias Avalokitesvara. Tingginya 155 sentimeter, tebal tengah: 36 cm dan tebal bawah: 59 cm . Kabar ini pun tersebar luas di kalangan orang Tionghoa di Pamekasan dan Pulau Madura umumnya. Sejak itulah dibangun sebuah kelenteng untuk menampung patung Kwan Im Po Sat, Dewi Welas Asih yang sangat dihormati di kalangan masyarakat Tionghoa.

Kelenteng Kwan Im Kiong Vihara Avalokitesvara Madura Kelenteng Kwan Im Kiong Vihara Avalokitesvara Madura mempunyai sejarah dan kekhasan inilah sejak dulu menjadi tujuan warga Tionghoa. Tidak hanya pengunjung dari Jawa Timur, dari luar Pulau Jawa bahkan luar negeri pun kerap memanfaatkan kesempatan untuk datang bersembahyang di kelenteng Kwan Im Kiong.

Kini, setelah adanya Jembatan Suramadu, kunjungan wisatawan, khususnya warga Tionghoa, ke kelenteng Kwan Im Kiong meningkat pesat. Hampir setiap hari ada warga yang mampir ke Vihara Avalokitesvara di sekitar kawasan pantai wisata Talangsiring ini, baik sekedar melihat maupun khusus bersembahyang. Kwan Im Kiong memang termasuk salah satu kelenteng yang sangat dikenal umat Tridharma Indonesia.

Menyusuri Vihara
Begitu memasuki halaman Vihara Avalokitesvara suasana terasa khidmatan sunyi dan damai. Pekarangan vihara sangat besar yang didalamnya terdapat seperangkat gamelan untuk pagelaran wayang kulit. Gamelan dan pertunjukan watang kulit sering di tampilkan jika para peziarah melaksanakan hajat. Selain itu terdapat gedung untuk pertunjukan wayang orang dan ludruk yang dilengkapi dengan panggung pertunjukan. “Jika hari biasa, gedung digunakan untuk latihan bulutangkis bagi warga sekitar, tanpa dipungut biaya,” kata Kosala Mahinda, ketua Yayasan Vihara Avalokitesvara (T.I.T.D Kwan Im Kiong), Candi Pamekasan, Madura.

Vihara Avalokitesvara kerap kali dilakukan perayaan seperti hari kelahiran Dewi Kwan Im pada tanggal 19 bulan dua tanggalan Imlek, hari Dewi Kwan Im Mencapai Kesempurnaan pada tanggal 19| bulan enam dan hari Dewi Kuan Im naik ke nirwana tanggal 19 bulan sembilan. “Perayaan Dewi Kwan Im naik ke nirwana dirayakan pada tanggal 1 November 2012. Saat inilah pengunjung datang secara berkelompok dari penjuru tanah air,.” tambah Kosala Mahinda, Sebagai sebuah kelenteng atau tempat ibadah Tridharma, tentu saja Kwan Im Kiong punya fasilitas peribadatan untuk agama Samkauw: Buddha, Khonghucu, Taoisme.

Namun, yang unik di Kwan Im Kiong adalah keberadaan pura dan musala. Bagi Kosala Mahinda, Bhinneka Tunggal Ika tak sekadar slogan atau basa-basi belaka. Penghormatan terhadap keberagaman, kemajemukan, masyarakat Indonesia tercermin di dalam kompleks Kwan Im Kiong. Tak heran, tahun lalu Muri memberikan anugerah khusus kepada pengelola Kelenteng Kwan Im Kiong sebagai simbol kerukunan antarumat beragama.

Menurut Kosala Mahinda, sejak dulu para pengelola kelenteng ini memang punya wawasan Bhinneka Tunggal Ika. Semua agama atau aliran diberi tempat yang layak. “Kami hanya ingin perdamaian dan cinta kasih di antara umat manusia,” ujarnya. Karena itu, jangan heran ketika pengunjung melakukan kunjungan ke Kwan Im Kiong, dapat melihat kesib para peziarah dengan cara beribadahr? yang khas.

Umat Khonghucu langsung mengambil posisi di lithang yang luas, dekat pintu masuk. Ada lukisan jumbo menggambarkan Nabi Kongzi bersama pengikut-pengikutnya. Para konfusian pun berdoa dengan khusyuk di Lithang itu. Kesibukan serupa diperlihatkan peziarah yang Buddhis dan Taois. Mereka langsung menuju ke rumah ibadah mereka, lengkap dengan altar dan rupang-rupangnya.

Umat Hindu pun punya pura yang cukup asri. Hanya saja, pura ini biasanya lebih sepi ketimbang lithang, kelenteng, vihara, atau musala. “Tapi tetap saja ada orang Hindu yang datang beribadah di pura,” kata Kosala. Sampai sekarang, di Pulau Madura yang terdiri dari empat kabupaten (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep) hanya ada satu tempat ibadah untuk umat Hindu.

Yakni, pura kecil yang dibangun di dalam kompleks Kwan Im Kiong. Pihak Muri Semarang pun terkagum-kagum melihat kenyataan ini. Lokasi Pura paling dekat dengan Vihara. Ukuran Pura lebih kecil dari mushala, yakni hanya 3 >< 3 meter. Pembangunan Pura sendiri, sebenarnya atas prakarsa Kapolwil Madura saat itu, yang berasal dari Bali dan menganut Agama Hindu yang menyarankan membangun Pura.

Lantas, bagaimana dengan musholla? Nah, tempat ibadah untuk umat Islam ini juga sangat penting mengingat tak sedikit pengunjung yang beragama Islam. Selain pelajar, mahasiswa, atau rombongan wisatawan, banyak pula sopir maupun tim pendukung group seni budaya yang beragama Islam.

Mereka tentu membutuhkan musholla yang layak untuk menjalankan ibadah salat lima waktu. Dibandingkan dengan Vihara sendiri, mushola yang ada ada di lingkungan Vihara Avalokisvara Candi Pamekasan, memang tidak terlalu besar, hanya berukuran 4×4 meter dan pihak Vihara, menyediakan perlengkapan ibadah di musholla ini. Tempat berwudlu, sajadah, mukena dan tasbih.

Jarak musholla dengan Vihara hanya 10 meter yang dibatasi sebuah dinding. “Saat ini kami masih merencanakan pembangunan gereja, sehingga lebih lengkap lagi,” harapnya. Bagi para pengunjung yang kebanyakan dari luar kota bahkan luar pulau, pihak vihara menyediakanpenginapan kurang lebih 50 kamar.

Kami menyediakan penginapan bagi tamu dari luar kota, meski dengan model barak. Jadi satu penginapan bisa menampung satu kelompok Selain penginapan, terdapat kantin yang menyediakan aneka menu dan souvenir, Untuk menjaga kebersihan kawasan pihaknya dengan para pekerja yang jumlahnya 15 orang bahu membahu melakukannya.” katanya.

Kesenian rakyat yang paling digemari adalah wayang kulit. Yang paling mengesankan saat diselenggarkan festival wayang kulit semalam suntuk yang melibatkan 10 negara bahkan penyelenggaraannya dinilai sukses . “Idenya saat dia melihat di keraton Solo banyak pemainnya baik sinden, dalang dan penabuh gamelan orang luar negeri,” paparnya.

Harapan ke depan agar tetap eksis dan dapat berkembang. Pemerintah juga haru: memberikan dukungan pada kesenian agar tidak punah. Mengingat saat ini kaum muda banyak yang enggan untuk mempelajari kesenian utamanya wayang kulit. “Orang asing saja bisa dan senang untuk memainkan, masa kita kalah. Apalagi masyarakat kota,” keluhnya.

Disperindag dan Pariwisata akan bersinergi
Kabid Pemberdayaan Pariwisata, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata Kabupaten. Pamekasan, Halifaturrahman menambahkan setelah adanya Jembatan Suramadu, Pamekasan mendapatkan dampak yang positif, salah satunya adalah bidang pariwisata. Mengingat salah satu tujuan pariwisata yang banyak dikunjungi adalah Batu Ampar sebagai wisata religi yang berada di Propoh (kurang lebih 10 km dari kota).

“Biasanya peziarah setelah ke Batu Ampar mereka mampir ke wisata alam yaitu Api Tak Kunjung Padam,” kata Mamang panggilan akrabnya. Mengenai Vihara Avalokitesvar, Mamang mengatakan, sebagai vihara yang terbesar setelah vihara yang ada di Mojokerto.

Selain untuk beribadah, Vihara ini pernah digunakan untuk acara yang berskala nasional dan internasional. Seperti Pagelaran wayang internasional yang melibatkan kurang iebih 10 negara. Keberadaan Vihara adalah sebagai mitra dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Kami tidak bisa intervensi terlalu dalam, mengingat tempat wisata yang ada di Pamekasan mayoritas dimilik dan dikelola secara kekeluargaan. Dia menyontohkan, wisata Batu Ampar adalah milik keluarga Batu Ampar. B

egitu juga Vihara dikelola oleh yayasan. Namun pihaknya tetap bersinergi dengan pengelola jika ada kegiatan yang bersifat wisata dan budaya untuk membantu memberikan sarana dan prasarana. “Karena bagaimana pun mereka adalah tamu kami,” pungkasnya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Prasetya, Volume IV, No. 46, Oktober 2012, hlm. 31-33

Batik Tulis Madura, Kabupaten Pameksan

Batik Tulis Madura, kerajianan PP Miftahul Ulum Pamekasan

Siapa sangka kerajinan batik bisa diproduksi dari pondok pesantren? Tapi itulah yang dilakukan PP. Miftahul Ulum Kebun Baru Pamekasan. merambah sampai ke Malaysia dan Arab Saudi

Kerajinan batik tersebut tak begitu sulit dilakukan insan- insan pesantren. Sebab tradisi batik se­cara turun temurun telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kultur masya­rakat Madura khususnya masyarakat Pamekasan. Latar sosial yang demikian itulah, yang mendorong usaha batik di pesantren ini menjadi sangat menonjol.

Memang cukup banyak sentra kerajinan batik di pulau Madura. Seperti sentra batik tulis Tanjung Bumi di Bang­kalan, sentra batik tulis Banyumas Klampar di Pamekasan, dan sentra batik tulis Pekandangan di Sumenep. Kebanyakan sentra batik Madura merupakan usaha kecil menengah, yang dikeijakan di ru­mah-rumah. Kegiatan membatik sudah menjadi kegiatan mengisi waktu luang bagi ibu-ibu di sana.

Di Pamekasan sendiri, banyak peng­rajin dan pengusaha batik bermukim dan mengembangkan usahanya di wilayah tersebut. Bahkan daerah ini dikenal se­bagai salah satu sentra industri kerajinan batik yang paling banyak dihuni para pengrajin dan pengusaha batik.

Tradisi batik yang tertanam cukup kuat di kalang­an masyarakat, telah membuat budaya membatik dan memakai kain batik terpe­lihara dengan baik di daerah tersebut. Kian waktu para pengrajin dan pe­ngusaha batik di pulau garam semakin bergairah memproduksi kain batik. Kegai­rahan itulah yang mendorong PP. Mifta­hul Ulum  yang lebih dikenal dengan pesantren Kebun Baru bertambah giat dalam memproduksi batik.

Produk ter­sebut kerap menghadirkan motif-motif terbaru dan batik tulis Madura, yang mu­dah didapat dan dijangkau oleh lapisan masyarakat manapun. Tangan-tangan terampil dari insan-insan pesantren itu sangat kreatif. Itulah yang membuat masyarakat merasa senang dan kian akrab dengan kerajinan batik
hasil karyanya. Produk mereka tak 3aja terdistribusi ke pasar-pasar di wilayah Madura, melainkan juga menyebar di ber-bagai agen di Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, serta di kota-kota met-ropolitan di penjuru tanah air.

Yang lebih membanggakan lagi, kreativitas tangan-tangan halus me­reka sudah bisa dinikmati oleh pecinta batik tulis di luar negeri, karena batik tulis produksi pondok Kebun Baru sudah me­rambah ke Malaysia dan Arab Saudi. Di pesantren ini, batik tulis bahkan telah menjadi kurikulum muatan lokal yang diajarkan pada sekolah-sekolah di lingkungan pondok Kebun Baru.

Menu­rut Abdul Aziz, S.Pd.I, seorang guru ke­terampilan yang mengajarkan batik tulis di sana, pelajaran keterampilan membatik sudah diajarkan sejak tahun 1970. “Seba­gai bentuk seni budaya, batik tulis Ma­dura memang banyak diminati konsumen baik lokal maupun internasional,” tan­dasnya.

Kepopuleran batik tulis Madura, dikarenakan motifnya memiliki keunikan tersendiri; warna-warnanya terkesan sa­ngat berani – yang itu tak dimiliki batik tulis dari daerah lain. Gaya dan modelnya juga sangat bebas, serta mempunyai ka­rakter yang kuat. Dengan lebih dari seribu motif, wajar jika batik tulis Madura men­jadi terkemuka di pasaran. Namun de­mikian, para pengusaha batik di sana ma­sih mempertahankan produksi tradisio­nal, yang ditulis dan diolah dengan cara tradisional.

Itulah pasalnya, kenapa pesantren Kebun Baru juga mempertahankan hal yang sama. Meski pondok ini pernah memperoleh bantuan alat pengecapan batik dan disain komputer dari Dinas Per­industrian, agar dapat membantu produk­tivitasnya secara lebih efektif dan efisien, namun bantuan tersebut tidak terpakai. Alasannya, karena mereka tetap mempertahankan batik tulis trdisional.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Mimbar Pembangunan Agama,
  314, November 2012, hlm. 27

Kerapan Sapi: Bertahap Hentikan Perjudian dan Penyiksaan

-25 Oktober 2011-
Penyelenggaraan Kerapan Sapi yang masih diwarnai tindakan kekerasan/penyiksaan terhadap sapi kerapan juga menjadi perhatian serius Kepala Bakorwil Pamekasan Eddy Santoso.

Menurut Eddy pihaknya sangat memahami adanya seruan MUI dan LSM yang mendesak agar praktik penyiksaan terhadap hewan ketika menyelenggarakan Kerapan Sapi dihentikan. Namun demikian, pihaknya tentu tidak bisa serta merta melakukan hal tersebut.

“Penyelenggaraan kerapan sapi ini melibatkan banyak stakeholder, untuk itu tentu kami harus mendengar suara mereka semua,” tuturnya. Sikap tersebut bukan berarti pihaknya ingin mengabaikan desakan berbagai pihak yang memprotes penyiksaan terhadap sapi kerapan.

“Secara pribadi saya sangat menentang praktik penyiksaan kerapan sapi ini,” tegasnya. Melukai pantat sapi dengan menggunakan paku, kata Eddy Santoso memang banyak menuai protes berbagai pihak dan kalangan ulama di Madura karena menunjukkan perilaku yang tidak manusiawi. Bahkan, sambung Eddy, praktik semacam itu juga bisa merusak citra Indonesia di tingkat internasional.

“Kalau ada pendaftaran untuk mendukung penyelenggaran Kerapan Sapi yang tanpa kekerasan, maka saya akan mendaftar yang pertama kali,” tegasnya. Itu artinya, dirinya pun sangat mendukung niat baik MUI dan LSM yang peduli dengan hak asasi kehewanan tersebut. Namun demikian pihaknya berharap agar desakan itu tidak menjadikan budaya kerapan sapi ini punah.

“Ini adalah budaya khas Madura yang harus tetap dipertahankan. Bukan hanya sebagai produk budaya tetapi juga menjadi pengungkit bagi perekonomian masyarakat Madura,” tegasnya. Kalau semua pihak duduk bersama, lanjut Eddy pasti akan ditemukan jalan penyelesaian.

“Secara bertahap akan kita lakukan pembenahan dengan mengurangi ekses-ekses negatif yang muncul dari kerapan sapi ini,” lanjutnya. Sebagai contoh, untuk menekan praktik perjudian yang selalu marak saat penyelenggaraan kerapan sapi, panitia sudah memasang imbauan dan larangan melakukan praktik perjudian tersebut.

Sebelumnya, dalam surat nomor 073/DPK-MUII X/2011, tertanggal18 Oktober 2011 itu, MUI sebelumnya telah meminta agar segala jenis penyelenggaran pesta budaya, seperti Kerapan dan Sapi Sonok harus terbebas dari unsur penyiksaan binatang, praktik perjudian, pengabaian melaksanakan kewajiban salat serta unsur lain yang bertentangan dengan syariat Islam.

Surat yang ditujukan kepada Kepala Badan, Koordinator Wilayah IV Madura itu ditandatangani oleh tiga perwakilan Ormas Islam Pamekasan, yakni Ketua MUI, KH. Ali Rahbini; Ketua Fokus, KH. Abd. Ghaffar serta Ketua LP2SI, H. Moh. Zahid, M.Ag. din

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Harian Bhirawa, Mata Rakyat Mitra birokrat, Selasa Legi 25 Oktober 2011 hal. 12

Kerapan Sapi, Budaya Nenek Moyang

-25 Oktober 2011-
Kerapan Sapi tradisi masyarakat Madura muncul dipenghujung abad 13 dan 14 masehi. Yakni, versi yang diprakarsai Pangeran Katandur seorang Raja di Kabupaten Sumenep, dan versi diprakarsai Adi Poday, anak Panembahan Walingi yang berkuasa di daerah kepulauan Sepudi, Sumenep.

Dari versi berbeda yang muncul tentang Kerapan Sapi, tidak perlu diperdebatkan. Namun secara jelas Kerapan Sapi bahasa krend-nya Bull Race menjadi kesenian yang paling populer dan paling diminati masyarakat Madura.

Walau ada warga Madura di luar Madura mempopulerkan Kerapan Sapi tetapi tidak semeriah maupun tidak sesakral bila Kerapan Sapi itu digelar di Tanah Madura pada Empat kabupaten ini (Sumenep, Pamekasan, Sampang dan Bangkalan).

Sepintas, secara kasat mata memang kita hanya melihat pasangan sapi pejantan melaju pesat dari garis start menuju garis finish yang dipandu oleh seorang Panongkek (Penunggang, red). Dari majang Sapi Kerapan diadu dengan lawan pasangannya itu, terlihat trik-trik yang membuat masyarakat penghujung terhibur. Dan tanpa dikomando mereka secara serentak berteriak mendukung si pemenang, bila salah satu pasangan sapi lebih dulu menginjakkan kaki di garis finish.

“Teriakan Hoooyyyyy. Dilontarkan para penonton dan penggemar Sapi Kerapan berulang kali setiap salah satu pasangan sapi menginjakkan kaki di garis finish ,” kata Abdul Hakim, seorang penggemar Sapi Kerapan asal Sumenep ini.

Sejarah  Singkat
Awal munculnya budaya Sapi Kerapan, karena kehidupan masyarakat di Pulau Sapudi adalah dengan bercocok tanam dan membajak sawahnya dengan menggunakan tenaga Sapi atas izin dan dukungan Adi Poday. Di Sumenep dia mengajak masyarakat membajak sawahnya dengan tenaga sapi dan diikuti semua masyarakatnya. Lambat laun, mereka (petani) balapan atau beradu cepat dalam setiap membajak sawahnya.

Atas dasar semangat itu, kemudian diadakan perlombaan balapan sapi, yang kini dikenal dengan tradisi Kerapan Sapi. Kedua tradisi membajak sawah dengan tenaga Sapi dan Karapan Sapi masih terus dilestarikan masyarakat Madura hingga sekarang ini. Seksi Publikasi dan Dokumentasi, Dewanto Harimurti, menuturkan, kerapan sapi mengadung nilai tradisi yang sangat tinggi terutama bagi masyarakat. Hal ini menjadi munculnya semangat kerja keras orang Madura pantang menyerah.

Filosofi orang Madura “asapo’ angin selanjengah” artinya berselimut angin sepanjang masa. Yaitu semangat pantang menyerah sebelum mencapai tujuan. “Nilai semangat juang ini tercermin dalam setiap prosesi kerapan sapi. Dan nilai-nilai itu patut dijadikan pedoman menjalani kehidupan. Yakni Kerja keras, Kerja sama, Persaingan dan Kejujuran,” ucapnya.. din

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Harian Bhirawa, Mata Rakyat Mitra birokrat, Selasa Legi 25 Oktober 2011 hal. 12