Museum Huruf (Font Museum): Jember Punya Destinasi Wisata Literasi dan Sejarah Baru

Penulis:  Prita Hw
-September 5, 2017

Museum Huruf lahir atas dasar persamaan mimpi, kegelisahan, keinginan, dan asa ingin memberikan setitik sumbangsih. Juga kebanggaan bagi tempat dimana kami lahir dan tumbuh. Kami sebagai pemuda Jember mencoba untuk memberikan ruang media dialektika bagi generasi penerus bangsa dalam bentuk museum… – Ade Sidiq Permana

Sepenggal pembuka yang terkesan heroik dan menyimpan semangat luar biasa itu bisa dibaca pada lembar undangan pembukaan (grand opening) Museum Huruf (Font Museum) yang terintegrasi dengan Perpustakaan yang dibuka untuk publik. Pembukaan itu diadakan tepat sehari sebelum malam takbir Idul Adha 1438 H bergema, yaitu pada Rabu, 30 Agustus 2017.

Museum Huruf dan perpustakaan ini sendiri berada tepat di kawasan Semanggi, Jl. Bengawan Solo 27 Jember. Tak hanya museum dan perpustakaan saja, di tempat ini juga terdapat cafe, studio tattoo, souvenir shop Buncis Room, juga homebase sebuah creative advertising bernama MIxmedia yang dimotori oleh Erik, yang juga si empunya tempat.

Lengkaplah sudah tempat ini menjadi ruang publik yang bisa dikunjungi kapan saja. Jika arek lokal ingin menikmati suasana yang nyaman senyaman di rumah sendiri dengan teras yang asri, tempat ini bisa menjadi pilihan.

Terlebih, Museum Huruf dan Perpustakaannya bisa jadi rujukan baru untuk tempat mengenal sejarah bermulanya aksara yang saat ini diakumulasi dan dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis untuk pengentar percakapan kita sehari-hari. Meski ukurannya tidak bisa dikatakan besar, sebuah ruang display utama yang kira-kira berukuran 3 x 5 cm itu cukup padat memuat berbagai koleksi museum.

Berbagai koleksi Museum Huruf yang bisa dinikmati itu terdiri dari koleksi pra aksara, koleksi aksara tertua di Indonesia, koleksi aksara nusantara (Jawa, Bugis, dan lain-lain), koleksi braille, dan koleksi aksara dunia (Jepang, Korea, India, dan lain-lain).

Koleksi-koleksi yang sebagian besar dibuat sendiri serta mendapatkan donasi itu nantinya tidak akan stagnan loh arek lokal, tapi akan terus berkembang. Bahkan, publik juga bisa mendonasikan aksara yang dimilikinya dalam bentuk media cetak, atau yang lainnya.

“Museum ini telah resmi terdaftar di Asosiasi Museum Daerah Jawa Timur dan Direktori Museum Seluruh Indonesia. Kami juga sudah mengirimkan perwakilan untuk pertemuan nasional di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Teman-teman relawan juga dilatih untuk memiliki kemampuan guiding dengan baik.”, begitu ungkap Ade Sidiq Permana, inisiator gagasan pendirian museum yang sekaligus bertindak sebagai Direktur Museum.

Ade meyakini bahwa hidupnya selalu bertalian dengan museum. Laki-laki yang sehari-harinya juga berjibaku dengan permuseuman di Probolinggo ini merasa belum memberikan sesuatu yang berarti untuk kota asalnya sendiri, Jember tercinta. Karena itu, ia berharap, ada museum dan perpustakaan ini menjadi ikon baru sekaligus semangat untuk melestarikan budaya literasi, khususnya aksara, serta membuka wawasan mengenai sejarah, dan perkembangan aksara dan budaya.

Niat tulusnya itu didukung penuh oleh Erik, sahabat sekaligus pemilik tempat yang merasa memiliki visi sama dengan Ade. Meski baginya bukan soal Jembernya yang utama, tapi soal memberikan suatu alternatif ruang publik yang bisa dimaksimalkan untuk kegiatan positif secara komunal.

Ke depan, Museum Huruf dan Perpustakaan ini akan diusahakan untuk dinaungi dalam suatu yayasan yang direncanakan bernama Institut Museum dan Cagar Budaya Nusantara yang sedang dirintis badan hukumnya. Maka dari itu, malam itu juga dibuka public fundraising bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi. Juga akan dikembangkan museum shop yang juga akan menjadi sumber pemasukan lainnya.

Malam itu hadir pula perwakilan Bupati Hj. Faida (Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Jember), Ibu Desak (Kepala Museum dan Perpustakaan Tembakau Kabupaten Jember), juga  Bapak Haryanto (Direktur Kopi Kahyangan PDP Kabupaten Jember). Semua mengatakan rasa bangga dan kesiapannya untuk bersinergi bersama untuk mendukung keberadaan Museum Huruf dan Perpustakaan ini.

Pun dengan berbagai komunitas kreatif Jember yang juga menambah semarak malam pembukaan yang dilanjutkan dengan tur keliling museum dan dipandu relawan guide. Berbagai komunitas kreatif seperti Kampoeng Batja, Berbagi Happy, Blogger Jember Sueger, Youtuber Jember, Genbi, Komunitas Perupa Jember, Pena Hitam, dan sebagainya menyambut Museum Huruf dan Perpustakaan ini dengan semangat.

Buat arek lokal yang belum sempat berkunjung di malam pembukaan, tenang saja. Masih ada beberapa agenda menarik dalam waktu dekat yang bisa dipilih. Setelah sukses dengan workshopcetak saring dan sosialisasi program Museum Huruf dan Perpustakaan pada 2 September kemarin, pada 8 September pukul 19.00 juga akan ada launching koleksi aksara Sunda dan Seminar Sejarah Aksara Sunda. Dilanjutkan pada 9 Septembernya di waktu yang sama, akan diadakan apresiasi seni dan workshop penulisan aksara Sunda.

Jangan sampai ketinggalan ya rek! Catat juga jam buka dan official account nya :
Jam buka museum : 09.00 – 15.00

Sumber: https://lokalkarya.com/museum-huruf-jember.html

Perpustakaan Tebuireng

PERPUSTAKAAN TEBUIRENG...Perpustakaan Tebuireng berdiri pada tahun 1936, berkat inisiatif KH. Wahid Hasyim bersama Kiai Muhammad Ilyas. Awalnya, dua tokoh yang sama-sama pernah menjadi Menteri Agama itu, mendirikan Ikatan Pelajar Islam (IPI) yang berkompeten di bidang pengembangan intelektual dan pengabdian sosial kemasyarakatan.
Untuk mendukung kegiatan IPI, keduanya berinisiatif mendirikan taman bacaan (perpustakaan), yang—saat itu—menyediakan sekitar 500 judul buku. Dalam perkembangan selanjutnya, perpustakaan tersebut juga berlangganan Koran dan majalah, seperti Panji Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatoel Oelama\ Islam Bergerak, Adil, Nurul Iman, Penjebar Semangat, Pandji Poestaka, Pudjangga Baru, Shout Al Hijaz, Al Munawwarah, dan lain sebagainya. Langkah ini merupakan terobosan besar yang saat itu belum pernah dilakukan oleh pesantren manapun di Indonesia.
Di masa kepemimpinan Pak Ud, atas prakarsa Sekretaris Pondok, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pada tanggal 15 Agustus 1974 perpustakaan tersebut diberi nama Perpustakaan A. Wahid Hasyim, diambil dari nama Kiai Wahid Hasyim yang merupakan perintis berdirinya perpustakaan di lingkungan pesantren. Saat itu, perpustakaan A. Wahid Hasyim juga ditingkatkan mutunya dengan menambah koleksi buku dan kitab. Selain diperoleh melalui bantuan keuangan pondok, koleksi buku dan kitab tersebut juga didapat dari bantuan LP3S serta beberapa lembaga amal lainnya.
Pada masa ini pula, sejumlah surat kabar, majalah, tabloid, dan jurnal ilmiah menambah kekayaan perpustakaan A. Wahid Hasyim, seperti Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, Surabaya Post, Berita Buana, Kompas, ]awa Pos, Suara Pembaruan, Republika, Surya, Terbit, Gatra, Ummat, Forum Keadilan, Panji Masyarakat, Kiblat, Trubus, Time, Budaya ]aya, Sinar Islam, News Week, Ekspres, Amanah, Aula, Mimbar Ulama, Suara Mubammadiyab, Adil, Warta NU, Prisma, jurnal Ilmu Politik, dan sebagainya.
Kini, perpustakaan A. Wahid Hasyim sudah memiliki lebih dari 8.000 judul buku, yang terdiri dari buku umum, agama, kitab kuning, serta berbagai jenis koran dan majalah, ditambah koleksi kaset-kaset dakwah, dokumen pendiri pesantren Tebuireng yang masih berupa manuskrip, disamping juga paper, skripsi, tesis, hasil survey mahasiswa, dan hasil penelitian para peneliti di Tebuireng. Buku-buku berbahasa Arab dan Inggris juga tersedia di sini.
Pengelola perpustakaan A. Wahid Hasyim terdiri dari Kepala Perpustakaan dan beberapa orang pembantu. Perpustakaan dibuka setiap hari, kecuali hari-hari besar dan hari Jumat. Para pengunjung perpustakaan umumnya berasal dari kalangan mahasiswa, santri, dan siswa di sekitar Tebuireng. Dalam satu hari, perpustakaan A. Wahid Hasyim rata-rata didatangi oleh 100-an orang pengunjung.
Menurut rencana, sejak tahun 2008 Perpustakaan A. Wahid Hasyim akan melibatkan seorang pustakawan yang akan mengelola manajemen perpustakaan secara sistematis dan profesional, sehingga diharapkan akan meningkatkan minat baca santri dan siswa secara terarah. Selain itu, gedung perpustakaan tidak akan lagi bersifat sentralistik, karena di setiap unit sekolah (SMP, SMA, MTs, dan MA) akan dibangun ruang perpustakaan. Ini merupakan rencana untuk menunjang program yang mewajibkan para siswa/santri untuk membaca minimal satu buku setiap minggu dan membuat ringkasan isi buku yang dibacanya.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 196-197

Perpustakaan Tebuireng

PERPUSTAKAAN TEBUIRENG...Perpustakaan Tebuireng berdiri pada tahun 1936, berkat inisiatif KH. Wahid Hasyim bersama Kiai Muhammad Ilyas. Awalnya, dua tokoh yang sama-sama pernah menjadi Menteri Agama itu, mendirikan Ikatan Pelajar Islam (IPI) yang berkompeten di bidang pengembangan intelektual dan pengabdian sosial kemasyarakatan.
Untuk mendukung kegiatan IPI, keduanya berinisiatif mendirikan taman bacaan (perpustakaan), yang—saat itu—menyediakan sekitar 500 judul buku. Dalam perkembangan selanjutnya, perpustakaan tersebut juga berlangganan Koran dan majalah, seperti Panji Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatoel Oelama\ Islam Bergerak, Adil, Nurul Iman, Penjebar Semangat, Pandji Poestaka, Pudjangga Baru, Shout Al Hijaz, Al Munawwarah, dan lain sebagainya. Langkah ini merupakan terobosan besar yang saat itu belum pernah dilakukan oleh pesantren manapun di Indonesia.
Di masa kepemimpinan Pak Ud, atas prakarsa Sekretaris Pondok, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), pada tanggal 15 Agustus 1974 perpustakaan tersebut diberi nama Perpustakaan A. Wahid Hasyim, diambil dari nama Kiai Wahid Hasyim yang merupakan perintis berdirinya perpustakaan di lingkungan pesantren. Saat itu, perpustakaan A. Wahid Hasyim juga ditingkatkan mutunya dengan menambah koleksi buku dan kitab. Selain diperoleh melalui bantuan keuangan pondok, koleksi buku dan kitab tersebut juga didapat dari bantuan LP3S serta beberapa lembaga amal lainnya.
Pada masa ini pula, sejumlah surat kabar, majalah, tabloid, dan jurnal ilmiah menambah kekayaan perpustakaan A. Wahid Hasyim, seperti Sinar Harapan, Merdeka, Pelita, Surabaya Post, Berita Buana, Kompas, ]awa Pos, Suara Pembaruan, Republika, Surya, Terbit, Gatra, Ummat, Forum Keadilan, Panji Masyarakat, Kiblat, Trubus, Time, Budaya ]aya, Sinar Islam, News Week, Ekspres, Amanah, Aula, Mimbar Ulama, Suara Mubammadiyab, Adil, Warta NU, Prisma, jurnal Ilmu Politik, dan sebagainya.
Kini, perpustakaan A. Wahid Hasyim sudah memiliki lebih dari 8.000 judul buku, yang terdiri dari buku umum, agama, kitab kuning, serta berbagai jenis koran dan majalah, ditambah koleksi kaset-kaset dakwah, dokumen pendiri pesantren Tebuireng yang masih berupa manuskrip, disamping juga paper, skripsi, tesis, hasil survey mahasiswa, dan hasil penelitian para peneliti di Tebuireng. Buku-buku berbahasa Arab dan Inggris juga tersedia di sini.
Pengelola perpustakaan A. Wahid Hasyim terdiri dari Kepala Perpustakaan dan beberapa orang pembantu. Perpustakaan dibuka setiap hari, kecuali hari-hari besar dan hari Jumat. Para pengunjung perpustakaan umumnya berasal dari kalangan mahasiswa, santri, dan siswa di sekitar Tebuireng. Dalam satu hari, perpustakaan A. Wahid Hasyim rata-rata didatangi oleh 100-an orang pengunjung.
Menurut rencana, sejak tahun 2008 Perpustakaan A. Wahid Hasyim akan melibatkan seorang pustakawan yang akan mengelola manajemen perpustakaan secara sistematis dan profesional, sehingga diharapkan akan meningkatkan minat baca santri dan siswa secara terarah. Selain itu, gedung perpustakaan tidak akan lagi bersifat sentralistik, karena di setiap unit sekolah (SMP, SMA, MTs, dan MA) akan dibangun ruang perpustakaan. Ini merupakan rencana untuk menunjang program yang mewajibkan para siswa/santri untuk membaca minimal satu buku setiap minggu dan membuat ringkasan isi buku yang dibacanya.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 196-197

Ma'had Aly Hasyim Asy'ari, Tebuireng

Ma'had Aly Hasyim Asy'ari.0001Ma’had Aly Hasyim Asy’ari merupakan lembaga pendidikan tinggi setingkat S1, setara dengan perguruan tinggi yang diselenggarakan Departemen Agama. Didirikan pada 6 September 2006 atas prakarsa (aim) KH. Muhammad Yusuf Hasyim dan dilestarikan oleh Gus Solah. Dengan prinsip melahirkan generasi Khairu Ummah, Ma’had Aly Hasyim Asy’ari menyelenggarakan studi-studi agama secara mendalam melalui perpaduan sistem pendidikan pondok pesantren dan perguruan tinggi modern. Dari sini diharapkan akan lahir para intelektual muslim yang memiliki akhlaqul karimah dengan kadar intelektualitas global.
Program studi dijalani selama 4 (empat) tahun. Setiap tahun terdiri dari 2 (dua) semester. Kurikulum disusun sesuai dengan 5 program kekhususan ilmu keagamaan. Yaitu (1) Program pendalaman tafsir, (2) Hadits, (3) Fiqih dan Ushul Fiqih, (4) Gramatika Arab dan Inggris, (5) Akhlaq dan Tasawuf
Proses belajar-mengajar seluruhnya disampaikan dalam Bahasa Arab dan Inggris. Program belajar meliputi dirasah yaumiyyah (kuliah harian) dengan metode ceramah dan dialog interaktif, studi kepustakaan literatur klasik, muhadatsah/speaking, penugasan penulisan ilmiah, kegiatan extra, mudzakarah, bahtsul masail fiqhiyyah-maudluiyyah- waqi’iyah, dan kajian khusus terhadap kitab-kitab tertentu untuk penguasaan bidang studi dengan bimbingan dosen bidang studi. Rata- rata dosen Ma’had Aly adalah lulusan Timur Tengah dengan stratifikasi S-2 (Magister) dan S-3 (Doktoral).
Para calon mahasiswa diharuskan memenuhi persyaratan- persyaratan tertentu untuk dapat diterima sebagai mahasiwa Ma’had Aly, diantaranya telah lulus pendidikan serendah-rendahnya Madrasah
Aliyah, memiliki kemampuan dasar dalam bidang ilmu yang akan menjadi pilihan spesialisasinya, memiliki wawasan yang luas tentang khazanah keilmuan Islam, dan lulus tes.
Jumlah mahasiswa yang diterima dibatasi sebanyak 30 orang, dibebaskan dari uang SPP, uang ujian semester, dan uang asrama. Selama masa studi, mahasiswa diharuskan tinggal di asrama Ma’had Aly.
Ma'had Aly Hasyim Asy'ari.0002Untuk menunjang keberhasilan program studinya, Ma’had Aly menyediakan sarana dan fasilitas, antara lain asrama mahasiswa, gedung perkuliahan, perpustakaan, komputer analisis data, televisi channel luar negeri dengan perangkat parabola, dan lain-lain.
Selain kegiatan rutin perkuliahan, para mahasiswa Ma’had Aly juga dibekali dengan berbagai kegiatan ekstra seperti diskusi mingguan yang diselenggarakan BEM, kemudian stadium general yang diadakan setiap tahun, juga kegiatan temporal seperti seminar, lokakarya, dan workshop dengan pembicara tokoh-tokoh nasional, juga penerbitan buletin, website, khataman al-Qur’an, kegiatan diba’iyyah, dan sebagainya.
Sebagian besar mahasiswa Ma’had Aly aktif mengajar di beberapa lembaga pendidikan, baik di Tebuireng maupun di sekitar Tebuireng. Sebagian lagi menjadi Pembina santri (putra-putri), pengajar al-Qur’an (■qoritutor Bahasa Arab, Redaktur Majalah, penulis buku, aktivis LSM, dan sebagainya. Secara umum, keberadaan mahasiswa Ma’had Aly memberi pengaruh yang cukup positif bagi pengembangan keilmuan di berbagai lembaga yang mereka tempati. Di sana, mereka mampu memberi warna dan corak khas pesantren; berilmu dan berakhlak. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 180-183

Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi'iyyah (MASS), Tebuireng

Madrasah Aliyah Tebuireng.Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Tebuireng merupakan unit pendidikan formal tertua nomor dua (setelah MTs) yang berada di bawah naungan Yayasan Hasyim Asy’ari. Ide awal pendirian madrasah ini sudah dimulai sejak masa kepemimpinan KH. Hasyim Asy’ari, lalu disempurnakan pada masa KH. Wahid Hasyim dengan nama Madrasah Nidzamiyah, dan diformalkan pada masa kepemimpinan
KH. Kholik Hasyim (tahun 1962) dengan nama Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS).
Hingga kini, MASS Tebuireng sudah banyak melahirkan lulusan- lulusan berprestasi di berbagai bidang, dan tersebar luas di seluruh pelosok nusantara. Para siswa MASS Tebuireng berasal dari berbagai daerah dengan dasar pendidikan Tsanawiyah maupun SLTP. Tenaga pengajar MASS sebagian besar bersertifikasi sarjana strata satu (S-l) dan magister (S-2) berbasic pesantren. Dengan aset berupa sumber daya manusia yang besar, MASS Tebuireng terus berupaya meningkatkan kualitasnya sesuai perkembangan zaman, dengan harapan akan mampu melahirkan generasi intelektual muslim yang berkualitas, berwawasan global, berdedikasi tinggi, dan berakhlakul karimah.
Sejak tahun pelajaran 1997-1998, MASS Tebuireng mendapat status Disamakan, berdasarkan SK Dirjen Binbaga Depag RI No. 25/E IV. PP.03.2/KEP/III/97 dan Terakreditasi “A” pada tahun 2005. Pada tahun 1997-1998 meraih juara pertama MA Swasta Teladan tingkat propinsi Jawa Timur.
Sejak tahun ajaran 1993-1994, MASS Tebuireng yang sebelumnya telah memiliki dua jurusan (IPA dan IPS), membuka dua jurusan baru yaitu Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) dan Jurusan Salaf. Jurusan
MAK difokuskan pada pendalaman dan keterampilan berbahasa Arab dan Inggris secara aktif. Menggunakan kurikulum Depag dan takhassus pesantren dengan komposisi pelajaran agama 70% dan pelajaran umum 30%. Lulusannya diproyeksikan mampu melanjutkan ke perguruan tinggi di Timur Tengah maupun perguruan tinggi di dalam negeri.
Sedangkan jurusan Salaf dititiktekankan pada penguasaan gramatika Arab seperti Nahwu, Shorof, Balaghah, dan pendalaman kitab-kitab fiqh klasik-kontemporer melalui kegiatan bahtsul masail, tutorial, sorogan, dan lain sebagainya. Kurikulumnya 60% pelajaran agama dan 40% pelajaran umum. Jurusan ini diproyeksikan dapat melanjutkan ke perguruan-perguruan tinggi Islam baik di dalam maupun luar negeri.
Kemudian program IPA dan IPS diproyeksikan bagi mereka yang memiliki minat mendalami ilmu-ilmu sosial-humaniora dan ilmu-ilmu eksakta, didukung dengan ilmu-ilmu keagamaan yang memadai. Kurikulumnya 60% pelajaran agama dan 40% pelajaran umum.
Hingga kini, keempat jurusan tersebut (MAK, Salaf, IPA, IPS), menjadi ikon utama keberadaan MASS Tebuireng.
Untuk meningkatkan kualitas siswa di berbagai bidang, MASS Tebuireng menambah kegiatan-kegiatan ekstra, seperti pengajian kitab- kitab Islam klasik (kitab kuning), Komputerisasi kitab kuning (CD Program), pelatihan Keorganisasian, Kepemimpinan, Pelatihan Dakwah, pers, olah raga, pramuka, seni bela diri dan musik, forum kajian ilmiah santri, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Tebuireng English and Arabic Club (TEAC, khusus siswa MAK), Forum Diskusi Santri Salaf (FORDISAF, khusus siswa Salaf).
Sarana penunjang yang kini dimiliki MASS Tebuireng antara lain Laboratorium Bahasa, Laboratorium Komputer, Aula, sarana Olah Raga dan Kesehatan.
Pada tanggal 9 Agustus 2008, Perpustakaan KH. Muhammad Ilyas diresmikan penggunannya. Perpustakaan berlantai dua sumbangan keluarga besar mantan Menteri Agama KH Muhammad Ilyas itu, menambah lengkapnya sarana penunjang proses belajar-mengajar di MASS Aliyah Tebuireng.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 165-170

Orkes Gambus el-Fataa, Tebuireng

El-Fataa...
Untuk menunjang tumbuhnya kreatifitas seni santri, terutama di bidang seni musik islami, maka Pesantren Tebuireng mendirikan sebuah Group Orkes Gambus yang diberi nama El-Fataa. Personel Group Gambus yang berdiri tahun 2003 ini, terdiri dari para santri senior, pengurus, santri, mahasiswa, dan masyarakat sekitar. Personel El-Fataa berjumlah 20-an orang.
Suguhan musik cantik yang bernuansa islami dari el-Fataa seringkali membuat para hadirin terdecak kagum. Olah vokal musisinya dan aransment yang memadukan alat musik tradisional dan modern, membuat alunan lagu el-Fataa terasa merdu di telinga dan syahdu di dada. Selain untuk mengembangkan bakat seni, tujuan pendirian group musik ini adalah untuk menjalin silaturrahim dengan masyarakat serta
memperkenalkan kesenian Pesantren Tebuireng kepada mereka. Tahun 2010, el-Fataa meluncurkan album perdana.
Sejak awal berdirinya hingga sekarang, El-Fataa sering tampil dalam berbagai kegiatan baik di Pesantren Tebuireng maupun di daerah-daerah lain. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 148

Unit Penerbit Tebuireng

Unit Penerbitan didirikan pada tanggal 1 Januari 2007, merupakan lembaga yang berkompeten di bidang pengembangan intelektual santri melalui penerbitan majalah, bulletin, dan buku.
Pustaka Tebuireng.0001Pada awalnya, Unit Penerbitan hanya menerbitkan (kembali) Majalah Tebuireng; majalah yang pernah eksis di tahun 1980-an dan berhenti terbit akibat kendala teknis. Pada masa kepemimpinan Gus Solah, majalah tersebut diterbitkan kembali secara berkala dan edisi perdananya mulai terbit pada bulan Juli 2007.

Personil pertama Majalah Tebuireng berjumlah tujuh orang dengan latar belakang yang beragam; mahasiswa, guru, pembina. Para penulis buku juga berasal berbagai kalangan, baik dari dalam maupun luar Pesantren.
Kini, Unit Penerbitan telah mengelola tiga divisi di bawahnya, yaitu Divisi Majalah, Divisi Buletin, dan Divisi Penerbit Buku. Pada pertengahan 2007, Unit Penerbitan juga mengelola Divisi SMS Dakwah, yang menangani pengiriman sms dakwah Gus Solah, bekerjasama dengan PT. Benang Komunikasi Infotama (B-comm) dan PT. Telkomsel Indonesia Tbk.

Pustaka Tebuireng.0003Sedangkan Divisi Penerbit Buku yang diberi nama Pustaka Tebuireng, kini telah menerbitkan puluhan judul buku bertema sosial, pendidikan, dan keagamaan. Buku yang sedang berada di tangan Anda ini, merupakan salah satu produk Pustaka Tebuireng.
Para penulis yang berkeinginan menerbitkan tulisan di Majalah Tebuireng, atau menerbitkan buku melalui Pustaka Tebuireng, bisa datang langsung ke kantor atau menghubungi lewat email majalahtebuireng@yahoo.co.id dan pustakatebuireng@yahoo.co.id.

Pustaka Tebuireng..

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. Halaman 190-191

Madrasah Mu'allimin Hasyim Asy'ari, Tebuireng

Madarasah MualiminMadrasah Mu’allimin merupakan unit sekolah terbaru yang dimiliki Pesantren Tebuireng. Didirikan pada pertengahan tahun 2008 oleh pengasuh Tebuireng bersama para alumni senior dan para kiai. Sebagai lembaga tafaqquh fiddin, diharapkan Madrasah Mu’allimin mampu melahirkan kader-kader handal penerus perjuangan agama.
Dibentuknya Madrasah Mu’allimin merupakan respon atas usulan para alumni dan tokoh masyarakat, yang menginginkan Pesantren Tebu¬ireng menghidupkan kembali sistem pendidikan salaf yang telah terbukti mampu mengantarkan para alumninya menggapai sukses dalam berbagai bidang.
Pada awalnya, usulan tersebut ditindaklajuti oleh Gus Solah dengan membentuk Tim Sebelas yang terdiri dari 11 anggota sidang bertugas menyusun kurikulum, jenjang kelas, dan jadwal kegiatan belajar-mengajar Madrasah Mu’allimin. Hasil rancangan Tim 11 kemudian dirapatkan bersama para pengasuh pesantren, guru senior dan alumni. Undangan yang hadir dalam rapat tersebut antara lain; KH Abdul Aziz Manshur (Paculgowang), KH Zubaidi Muslih (Mamba’ul Hikam), KH Hakam Kholik (Darul Hakam), Drs. KH. Mustain Syafi’i, M.Ag, KH Lutfi Sahal, Lc. (al-Khoiriyah Seblak), KH Syakir Ridlwan (MQ), dan lain-lain.
Hasil rapat memutuskan bahwa kegiatan belajar-mengajar Madrasah Mu’allimin dimulai pada tahun ajaran 2008-2009, dan berlaku efektif sejak awal Agustus 2008. Jenjang kelas ditempuh selama 6 tahun, dari kelas I sampai kelas VI, dengan ijazah setara Madrasah Aliyah.
Jenjang kelas tidak dibagi berdasarkan ijazah formal peserta didik, melainkan diukur dari kemampuan ilmu agamanya. Siswa pertama ber- jumlah 15 orang, dua diantaranya berasal dari Malaysia (sarjana S-l), dibagi menjadi dua kelas. Kelas I bagi pemula yang belum memiliki dasar keilmuan agama, dan kelas III bagi mereka yang sudah memiliki dasar ilmu agama.
Lokal kelas bertempat di Masjid Tebuireng lantai II. Kegiatan belajar-mengajar formal dimulai pukul 07.30 pagi dan berakhir pada pukul 12.00 siang. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan ekstra kurikuler berupa sorogan di asrama pada pukul 16.00-17.30 sore, dan pembinaan Bahasa Arab pukul 18.15-20.10 (ba’da maghrib). Sedangkan pada pukul 20.30 sampai 21.00 adalah jam wajib belajar yang diisi dengan kegiatan musyawarah (diskusi) pendalaman materi pelajaran.
Selain materi wajib seperti nahwu, shorof, tafsir, hadits, dan lain- lain, para siswa Madrasah Mu’allimin juga mendapat pembinaan Bahasa Inggris dan Bahasa Arab secara aktif, ilmu komputer (operasional dan programer), metode penulisan karya ilmiah, diskusi bahtsul masail, dan lain sebagainya.
Khusus kegiatan Bahasa Arab, para siswa Mu’allimin dibina oleh tutor dari Ma’had Aly dan seorang dosen dari Universitas Al-Azhar Kairo Mesir. Sedangkan kegiatan Bahasa Inggris dilaksanakan setelah pengajian Al-Qur’an pagi, dengan tutor (minimal) harus lulusan BEC Pare.
Para kiai dan guru senior berkenan menjadi pengajar di Madrasah Mu’allimin, seperti KH Hakam Kholik, KH. Habib Ahmad, KH. Muhlis Dimyati, KH Lutfi Sahal, KH Syakir Ridwan, dll. Guru-guru lainnya rata-rata mahasiswa lulusan S-l dan S-2, bahkan sebagian siswanya adalah mahasiswa S-l dan S-2 serta pengusaha.
Mulai tahun ajaran 2009-2010, Madrasah Mu’allimin mengadakan pembinaan penulisan berita dan karya ilmiah remaja (KIR) dengan tutor dari Majalah dan Pustaka Tebuireng. Hasilnya, sejak tahun itu para siswa Mu’allimin menerbitkan bulletin “Aliem”, sebagian siswa lainnya mengisi beberapa rubik Majalah Tebuireng. Para siswa juga mendapat bimbingan seni tulis kaligrafi sejak kelas 1 dan seni hadrah al-Banjari. Mereka kemudian membentuk group al-Banjari yang diberi nama “Asasun Najah”, yang kerap mendapat undangan mengisi berbagai acara.
Sistem pembinaan di wisma (asrama) Mu’allimin dilakukan secara berjenjang dan dilakukan secara mandiri. Para santri senior ikut serta membantu Pembina dalam mendidik dan memberi teladan kepada adik- adiknya. Cara seperti itu cukup efektif sehingga semua kegiatan di wisma Mu’allimin dapat berjalan secara kontinue dengan suasana yang kondusif. Para santri melakukan kegiatan secara mandiri sesuai program
yang telah dirancang, dengan dipimpin oleh santri senior. Tidak ada ketergantungan kepada Pembina.
Hingga buku ini ditulis (April 2011), wisma Mu’allimin merupakan wisma yang paling kondusif diantara wisma-wisma lain di Tebuireng. Semua kegiatan berjalan sesuai agenda. Para siswa juga tampil dengan prestasi yang cukup baik di berbagai event yang diikuti, ditunjang dengan akhlakul karimah yang menyejukkan. Penguasaan materi pelajaran (kognitif-afektif) juga cukup baik. Siswa yang masuk di Madrasah Mu’allimin selama 2 tahun, rata-rata sudah bisa menguasai kitab kuning standar.
Seluruh kegiatan di Madrasah Mu’allimin dilakukan secara lesehan, dalam keadaan suci dan setelah melaksanakan shalat (wajib maupun sunnah). KBM pagi dilaksanakn setelah shalat dluha di dalam masjid. Kegiatan ekstrakurikuler dilakukan setalah shalat wajib (ashar, maghrib, isya’, dan subuh) dengan pakaian khas pesantren : berpeci, baju takwa, dan bersarung. Dari sini diharapkan siswa lulusan Mu’allimin—kelak— akan menjadi ulama-intelektual dan intelektual-ulama; seperti halnya murid-murid Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Idris Kamali. Cerdas secara intelektual, emosional, dan spiritual. Berbaju Tebuireng, berhati Makkah, berotak Washington. ()

———————————————————————————————————————————–

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 175-179

Pondok Pesantren Putri Wali Songo, Tebuireng

Ponpes WalisongoMasa Pembentukan (1951 – 1952)
Pada awal abad ke 20, orang yang belajar di pondok pesantren (santri), umumnya adalah kaum laki-laki. Tidak ada budaya perempuan mondok. Namun seiring perkembangan zaman, budaya itu lambat laun berubah. Beberapa pesantren mulai membuka pondok putri, seperti Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, di bawah asuhan KH. Bisri Syansuri. Sedangkan Pesantren Tebuireng saat itu belum melakukannya, meskipun tidak sedikit perempuan yang berniat mondok di sana. Sebagai gantinya, Kiai Hasyim meminta Kiai Adlan Aly (adik kandung Kiai Ma’shum Aly Seblak) untuk membuka pondok putri di desa Cukir.
Kiai Adlan Aly kemudian mengumpulkan beberapa orang terkemuka di Desa Cukir dan beberapa Pimpinan Madrasah Ibtidaiyah di sekitar Kecamatan Diwek. Pertemuan itu menyepakati pendirian sebuah lembaga pendidikan khusus putri kemudian dinamakan Madrasah Mu’allimat. Peristiwa bersejarah tersebut dilakukan pada malam hari di tahun 1951.
Dengan tekun dan penuh tanggung jawab, KH. Adlan Aly menjalani tugas mengajar dengan dibantu beberapa orang guru, seperti KH. Syansuri Badawi (Tebuireng), H. Abdul Manan (Banyuarang Jombang), Kholil Mustofa (Tebuireng), K. Abu Hasan (Kayangan Jombang). Mereka bekerja tanpa pamrih, termasuk pamrih materi. Tempat belajarnya di rumah KH. Adlan Aly, dengan waktu belajar sore hari. Kurikulumnya 100 % pelajaran agama. Siswi pertama berjumlah 30 orang, berasal dari Desa Cukir dan sekitarnya. Mereka bersekolah secara gratis.

Masa Perkembangan (1952 – 1967)
Satu tahun kemudian, KH. Adlan Aly menambah gedung baru yang terbuat dari bambu, karena semakin banyaknya siswi yang belajar. Sejak saat itu, kegiatan belajar-mengajar dipindahkan pada pagi hari. Untuk siswi yang berasal dari luar daerah dibuatkan asrama khusus. Asrama tersebut ditempatkan di rumah KH. Adlan Aly dan kini dikenal dengan nama Pondok Pesantren Putri Walisongo.
Pada tahun 1955 didirikan Madrasah Ibtidaiyah, dan pada tahun 1957 jenjang pendidikan kelasnya genap menjadi enam kelas.
Mulai tahun 1958, atau tujuh tahun setelah berdirinya, dibangunlah gedung sekolah permanen dengan dinding dari batu merah (tidak terbuat dari bambu lagi). Seluruh dana pembangunan berasal dari uang pribadi KH. Adlan Aly. Beliau menyewakan sawahnya selama tujuh tahun untuk membiayai pembangunan gedung tersebut.
Kurikulum pun ditambah dengan materi pelajaran umum, dengan prosentase 60% pelajaran agama dan 40% pelajaran umum. Ditambah pula dengan satu kelas persiapan yang lazim disebut “Voor Klas”. Kelas ini disiapkan untuk siswi-siswi lulusan SD atau SMP yang umumnya belum mengenal pelajaran Agama. Sejak saat itu mulai ada bantuan Guru Negeri dari Pemerintah.
Karena semakin membludaknya siswi, maka pada tahun 1968 dibangunlah lantai II dari lokal kelas yang sudah ada. Salah seorang yang membantu proses pembangunan itu adalah Bupati Jombang, Isma’il. Kemudian didirikan pula Taman Kanak-kanak yang menjadi sa¬lah satu unit pendidikan di Madrasah Mu’allimat
Mulai Tahun Ajaran 1976-1977, Madrasah Mu’allimat VI Tahun dirubah menjadi 2 jenjang, yaitu Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah. Lalu pada Tahun Ajaran 1990-1991, diadakan ujian lisan membaca kitab kuning guna meningkatkan penguasaan siswi terhadap literatur berbahasa Arab.
Pada hari Sabtu, 6 Oktober 1990 (17 Robi’ul Awwal 1441), pendiri Madrasah Putri Mu’allimat, Kiai Adlan Aly, berpulang ke Rahmatullah. Madrasah Mu’allimat berduka.

Kondisi Terkini
Kini, unit-unit pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Badan Wakaf KH. Adlan Aly meliputi :
(1) Madrasah Ibtidaiyah,
(2) Madrasah Tsanawiyah,
(3) Madrasah Aliyah,
(4) Pondok Pesantren Wali Songo.

Pondok Pesantren Wali Songo kini mengelola 4 unit pendidikan, yakni:
Madrasah Diniyah,
Madrasah Dirasat al-Qur’an,
Madrasah Hifdz al-Qufan, dan
Syubat al-Lughat al-Arabiyyah.

Kegiatan Madrasah Diniyah wajib diikuti oleh semua santri. Tujuannya agar mereka mampu membaca dan memahami kitab kuning serta menguasai ilmu-ilmu agama lainnya. Madrasah Dirasat al-Qur’an juga wajib diikuti oleh semua santri. Di sana mereka digembleng untuk menguasai dasar-dasar membaca al-Qur’an binnadhar, mulai juz 1 s/d 30. Sedangkan Madrasah Hifdz al-Qur’an membina santri menghafal al-Quran serta mendalami ilmunya, kemudian Syubat al-Lughat al-Arabiyyah membina santri agar menguasai percakapan Bahasa Arab secara aktif, sifatnya tidak wajib. Dua program itu hanya bagi yang berminat saja.
Untuk mendukung suksesnya proses belajar-mengajar di pondok maupun di madrasah, maka diadakan kegiatan-kegiatan penunjang seperti pelatihan jurnalistik, media penulisan kreatifitas santri, pelatihan dan kursus-kursus seperti English Conversation dan Life Skill (budidaya cabe, tomat, jamur tiram, dll.), pelatihan seni qosidah, taghanni al-Qur’an, kaligrafi, dekorasi, pidato, dll., serta pelatihan Bahtsul Masail Diniyah dan istighatsah dwi bulanan.
Secara umum, baik Pondok Pesantren Wali Songo maupun Madrasah Mu’allimat, kini telah berkembang cukup pesat. Apalagi kegiatan belajar- mengajar kini didukung dengan fasilitas penunjang yang cukup memadai, seperti dibangunnya poliklinik al-Syi’fa’, yang memberikan pelayanan kepada santri dan masyarakat; kemudian Koperasi Pondok Pesantren, yang menyediakan berbagai kebutuhan harian santri seperti sabun, buku, kitab, dll.; Warung Telekomunikasi dan Warung Internet; Laboratorium Bahasa; Laboratorium Komputer; Laboratorium MIPA; Laboratorium Audio Visual; Studio Siaran (Radio Mu’allimat FM); Perpustakaan; dan Ruang Pelatihan (produksi border, jamu, sari kedelai, budidaya tomat, jamur, dll.). ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halaman 221-224

 

Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an (MQ), Tebuireng

Ponpes MQ.0001Masa pembentukan
Embrio kelahiran Madrasatul Qur’an sebenarnya sudah ada sejak masa Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim punya keinginan besar untuk mendirikan lembaga pendidikan al-Qur’an. Beliau sangat mencintai orang yang hafal al-Qur’an (hafidz). Konon, pada Bulan Ramadhan tahun 1923, para santri Tebuireng telah secara bergiliran menjadi imam salat tarawih dengan bacaan al-Qur’an bil-hifdzi (dihafalkan) sampai khatam. Sayangnya, sistem hafalan al-Qur’an di Tebuireng saat itu belum terorganisasi dengan baik karena belum ada lembaga khusus yang
menanganinya. Kondisi ini terus berlangsung sampai masa kepemimpinan Kiai Kholik Hasyim.
Pada masa kepemimpinan Pak Ud, tepatnya tahun 1971, rencana pendirian lembaga pendidikan al-Qur’an dimatangkan. Ada 9 orang kiai yang dilibatkan dalam rencana tersebut. Hasilnya, pada tanggal 27 Syawal 1319 H., atau 15 Desember 1971 M, lembaga itu secara resmi berdiri dengan nama Madrasatul Huffadz.

Pada tahun pertama, santrinya berjumlah 42 orang dan diasuh oleh Kiai Yusuf Masyhar, menantu Kiai Ahmad Baidhawi. Sesuai dengan namanya, lulusan lembaga ini diarahkan untuk menjadi kader penghafal al-Quran sekaligus mendalami ilmunya. Semula, Madrasah Huffadz bertempat di rumah Kiai Wahid, bagian barat Pesantren Tebuireng (sekarang kediaman KH. Musta’in Syafi’i). Kemudian mulai tahun 1982, lokasinya dipindah ke belakang rumah peninggalan Kiai Baidhawi dengan tanah waqaf dari beliau.
Dari tahun ke tahun madrasah ini berkembang cukup pesat. Setelah dilakukan pemekaran, Madrasatul Khuffadz secara struktural terpisah dari Yayasan Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng. Kini, jenjang pendidikannya meliputi Madrasah I’dadiyah (Persiapan), Tsanawiyah, SMP al-Furqon, dan Madrasah Aliyah, dan berganti nama menjadi Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ) Tebuireng. Kini, MQ telah mengelola unit-unit seperti: Unit Tahfidz, Unit Sekolah, Unit Pondok, Unit Perpustakaan, Biro Santunan, Unit Sarana dan Keuangan.

Program Binnadliar (non-hafalan)
Program ini dikhususkan bagi mereka yang belum dapat mengambil program tahfidz karena belum memenuhi syarat. Di dalamnya terdapat empat tingkatan:

1) Tingkat mubtadi9 (pemula); yakni mereka yang belum mampu membaca al-Qur’an dan atau belum mempunyai dasar- dasar fashahah.
2) Tingkat mutawassith (menengah); sudah lancar membaca dan menguasai dasar- dasar fashahah, namun belum bisa membedakan ciri-ciri
huruf dan cara melafadkannya.
3) Tingkat Muntadbir; sudah lancar membaca dan fasih, namun kurang menguasai waqof, ibtida\ serta musykilat al-ayat. Dan
4) Tingkat Maqbul; tingkat dimana santri tinggal menempuh qira’ah muwahhadah (standar MQ).
Ponpes MQ.0002Program Tahfidz (menghafal al-Quran).
Program ini dibagi menjadi dua fase, yakni Qira’ah Masyhurah (bacaan al-Qur’an populer) dan Qira’ah Sab’ab (tujuh bacaan al-Qur’an riwayat dari tujuh orang Imam). Kedua fase ini terlebih dahulu harus melewati fase dasar (qira’ah muwahhadah) bagi yang belum memenuhi syarat untuk menghafal.

Qira’ah Masyhurah; yakni bacaan umum al-Qur’an yang diriwayatkan oleh sepuluh orang Imam. Untuk sampai pada fase ini, santri diwajibkan baik bacaan al-Qurannya, sesuai dengan qira’ah muwahhadah standar MQ. Sistem pembinaannya meliputi setoran hafalan, pembinaan fashahah, dan mudarasah kelompok. Setoran hafalan dilakukan setiap hari, dengan memperdengarkan hafalan kepada instruktur masing-masing. Setoran fashahah dilakukan dengan memperdengarkan bacaan kepada pembina masing-masing sesuai dengan kelompok dan jadwal yang telah ditentukan. Sedangkan mudarasah kelompok dilakukan dengan membagi santri tiga-tiga dan setiap hari memperdengarkan hafalannya kepada teman sekelompoknya secara bergilir. Bagi yang telah menyelesaikan program ini akan diwisuda dengan predikat Wisudawan Qira’ah Masyhurah (S.Q.I).

Qira’ah Sab’ah; fase ini dikhususkan bagi mereka yang telah menyelesaikan hafalan 30 Juz Qira’ah Masyhurah dengan baik dan memenuhi syarat-syarat tertentu. Pada fase ini, santri mempelajari ilmu qira’ah yang variatif riwayat tujuh orang imam (Imam Nafi, Ashim, Hamzah, al-Kisa’i, Ibn Amir, Ibn Amr, dan Ibnu Katsir), serta pendalaman kajian makna dan perbedaan bacaan. Mushaf yang dipakai adalah Utsmani riwayat Imam Hafs dari Imam Ashim. Santri harus hafal 30 juz al-Qur’an selama 3 tahun. Bagi yang lulus program ini berhak diwisuda dengan predikat Wisudawan Qira’ab Sab’ah (S.Q.2).

Kesungguhan berbuah prestasi
Sejak fajar hingga malam hari, santri MQ aktif melaksanakan berbagai kegiatan wajib seperti salat berjamaah, sekolah, setoran, dan lain-lain. Selain itu mereka juga dibekali dengan kegiatan extra-kurikuler, seperti latihan pidato, khutbah jum’at, shalawat (jam’iyah mingguan), Musabaqah Hifdz al-Qur’an (MHQ), Musabaqah Syarh al-Qur’an (MSQ), Musabaqah Fahm al-Qur’an (MFQ), diskusi ilmiah, dan pembinaan qira’ah al-Qur’an bi al-tagbanni (melagukan bacaan).
Para santri MQ juga sering diundang masyarakat sekitar untuk mengisi berbagai acara seperti khataman al-Qur’an, menjadi khatib salat jum’at, membina TPQ, melakukan bakti sosial, juga memberikan santunan kepada fakir miskin.

Untuk menumbuhkan semangat berdikari, maka sejak awal berdirinya MQ telah mendirikan koperasi santri, yang dikelola sendiri oleh para santri. Koperasi tersebut kini telah memiliki tiga unit usaha, yakni Unit Koperasi Jasa Boga, Unit Pertokoan, dan Unit Biro Sosial. MQ juga memiliki Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) Lantabur.

Selain menghasilkan kader penghafal A1 Quran, MQ juga berupaya mencetak kader qori’ yang berkualitas. Salah satu langkahnya adalah bekerja sama dengan Lembaga Perkembangan Tilawah al-Quran (LPTQ) milik pemerintah. Tak heran hingga kini MQ telah melahirkan sejumlah qori5 yang kerap menjuarai berbagai event tingkat Nasional. Bahkan sebagian diantaranya sudah pernah menjuarai event tingkat Internasional yang diadakan di Arab Saudi, Mesir, Turki, Malaysia, dan lain-lain. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 216-220