Masjid Agung Bangil

masjid-jami-bangilMasjid Agung Bangil terletak Jl. Alun-Alun Barat No.66 A, Kauman, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Bangunan masjid ini berdiri dengan megah, keberadaab masjid ini persis di sebelah barat Alun-alun Bangil. Konon, menurut cerita masyarakat setempat bangunan masjid ini adalah masjid tiban (tiba-tiba muncul), dalam arti bangunan yang terbuat dari kayu ini tiba-tiba muncul di tengah-tengah kota Bangil. Ada salah seorang Kyai yang menjelaskan bahwa masjid tidak begitu saja muncul dengan tiba-tiba, namun sengaja dibangun oleh seorang yang alim dengan dibantu para pengikutnya dan tidak ada masyarakat sekitar yang mengetahui proses pembangunan masjid tersebut.

Jumlah Pengurus Masjid Agung Bangil 16 orang, Imam 4 orang dan Khatib 12 orang,  masjid ini berdiri Tahun 1278 H. terbukti dengan data yang tertera pada artifak mihrob. Bangunan masjid ini bediri diatas sebidang tanah yang mempunyai keluasan 2.500 meter persegi, adapun status tanah tersebut merupakan tanah wakaf. Sedangkan Luas Bangunan mesjid 2.000 meter persegi. Daya Tampung 5.000 Jamaah. Masjid Agung Bangil adalah sebuah bangunan masjid dengan kontruksi yang terbuat dari kayu jati dengan jumlah tiang penyangga utamanya ada 4 buah,  yang masyarakat menyebutnya sebagai SOKO WOLU, yang masing-masing berukuran keliling 120 centi meter  dan tinggi 15 meter. Dipasak dengan 8 balok kayu jati berukuran 120 centi meter  dengan panjang 7 meter  , di tasnya yang saling memaku. Sekarang ruangan utama masjid telah mengalami renovasi, namun tetap mempertahankan keaslian bangunan masjid tersebut, tanpa menghilangkan bentuk aslinya.

Fasilitas ruang dan peralatan yang tersedia di dalam kompleks Masjid terdiri:

  1. Taman,
  2. Gudang,
  3. Tempat Penitipan Sepatu/Sandal,
  4. Ruang Belajar (TPA/Madrasah),
  5. Ruang Aula Serba Guna,
  6. Ruang Perpustakaan,
  7. Ruang Kantor Sekretariat,
  8. Penyejuk Udara/AC,
  9. Sound System dan Multimedia,
  10. Pembangkit Listrik/Genset,
  11. Ruang Kamar Mandi/WC,
  12. Tempat Wudhu,
  13. Sarana Ibadah ,
  14. Ruang dan peralatan Radio.

Kegiatan dalam kompleks Masjid Agung Bangil ini sudah demikian kompleks, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang cakupannya juga cukup banyak yakni: peribadatan, pendidikan keagamaan serta umum, sosial-keagamaan dan sebagainya, dengan demikian pihak pengurus dirangsang untuk mengusahakan sarana dan prasarana yang layak, adapun kegiatan – kegitan tersebut adalah:

  1. Peribadatan meliputi: Menyelenggarakan Sholat Jumat,  Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu Menyelenggarakan Dakwah Islam, Pengajian Rutin,
  2. Pendidikan umum meliputi: Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat,
  3. Pendidikan keagamaan meliputi: TPA,
  4. sosial-keagamaan: Pemberdayaan Zakat, Pemberdayaan Infaq, Pemberdayaan Shodaqoh dan Wakaf.

Selain itu masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti:

  1. Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam,
  2. Menyelenggarakan /Tabliq Akbar.

Pendirian Masjid ini waktu bangil masih menjadi kabupaten, hal tersebut terbukti dengan keberadaan makam Bupati Bangil yang terakhir yang bernama RT Soenjotoningrat leih dikenal dengan nama panggilannya Kanjeng Soendjoto atau Raden Soenjoto. Makam tersebut berada didalam komplek masjid tepatnya pada sisi bagian barat halaman masjid.  Banyak pengunjung Masjid Agung Bangil ini, biasanya para peziarah ke makam Wali Songo, biasanya mampir di masjid ini.

Makam Bupati Bangil ini dikelilingi sebuah tembok melingkar. Luasnya sekitar 10 x 20 meter persegi. Di makam itu, Kanjeng Soenjoto,panggilan karib lainnya selama jadi Bupati Bangil disandingkan dengan makam ayah dan ibunya. Di dalam makam itu, juga tampak beberapa pusara lainnya. Nama RT Soenjotoningrat masih terlihat meskipun buram. Sehari-harinya, makam keluarga besar Kanjeng Soenjoto ini dirawat Mariyati. Perempuan berusia 63 tahun yang rumahnya dekat dengan makam, namun tidak mau disebut sebagai juru kunci. Hampir setiap hari, Mariyati membersihkan makam. Ia rela mengabdi, sudah berpuluh-puluh tahun memegang kunci makam. Penziarah yang datang memang tidak banyak. Kalau pun ada, itu hanya pada waktu-waktu tertentu. Yakni, setiap Kamis sore atau sehabis hari raya Idul Fitri. Biasanya, cucu kanjeng Soenjoto  setahun sekali ziarah kesini.

——————————————————————————————–oleh: Dian K. Pustakawan Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

KARTOLO

Kartolo lahir di Pasuruan, 2 Juli 1947. Beragama Islam. Pendidikannya hanya sampai di Sekolah Rakyat selesai tahun 1958 di kota kelahi rannya.
Sebelum mendirikan group lawak Kartolo Cs, pernah bergabung dengan group kesenian ludruk Dwikora, Marinir, RRI dan Persada Lama.
Menikah dengan Kastini dlkaruniai tiga anak masing- masing Kristianing dan Dewi Antriali sedang putra pertamanya meninggal saat melahirkan. Kartolo bersama keluarga tinggal di Jalan Kupang Jaya 1/12-14 Darmo Satelite, telepon (031) 710555 Surabaya.
Namanya tak bisa dipisahkan dengan Kastini, istrinya. Maklum, pasangan ini sama-sama pelawak kondang di Jawa Timur yang bernaung dalam satu groupnya, yakni Kartolo Cs.
Arek Surabaya ini mengaku tak punya kiat khusus hingga eksistensinya bertahan sampai sekarang. Namun tokoh lawak satu ini mengaku tak mau mengandalkan bakat alam semata. “Biasa saja. Belajar dari pengalaman.
Yang penting lagi, mau belajar apa saja untuk menambah wawasan dan pengetahuan,” ujar pelawak yang suka bermain karawitan dan menari ngremong. Meski. hanya berpendidikan formal di Sekolah Rakyat, Kartolo yang mulai berani melawak sejak usia remajatetap rajin mem- baca literatur bahkan senang mencari informasi untuk memperkaya cakrawala sebagai bahan lawakannya yang kreatif.
Kalau hanya mengandalkan bakat alam saja, kata- nya seorang lawak bakal menjadi kering dan tak berkembang. “Padahal, perubahan dan perkembangan masyarakat pencinta seni lawak dewasa ini khan., semakin maju pesat. Tentu saja, hal ini yang menjadi tuntutan dan selera para penontonnya, agar dunia lawak tak akan ditinggalkannya,” katanya.
Segudang pengalamannya, memang patut dicatat tersendiri. Hampir setiap waktu ia mendapat tawaran di luar daerah. Baik itu di JawaTimur, Jateng & DIY, Jabar maupun sampai di luar Jawa. Baginya, ia memang harus siap selama masih dibutuhkan.
Selain mendapat tawaran pentas di luar daerah, ia juga sering di mintai melawak di berbagai perguruan tinggi swasta di Jawa Timur. (AS-4)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 60 (CB-D13/1996-…)

Danudirja Setiabudi (Douwes Dekker )

Ernest-Douwes-DekkerErnest François Eugène Douwes Dekker dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi lahir tanggal 8 Oktober 1879 di Pasuruan, Jawa Timur. Beliau adalah tokoh politik dan patriot Indonesia, pembangkit semangat kebangsaan Indonesia, penentang penjajahan yang gigih, wartawan dan sastrawan. Di tubuhnya mengalir darah Belanda, Prancis, Jerman, dan Jawa, tapi semangat kebangsaan Douwes Dekker lebih membara dibanding penduduk bumiputra. Douwes Dekker adalah kemenakan dari Eduard Douwes Dekker alias Multatuli, penulis buku Max Havelaar yang terkenal.
Setelah lulus sekolah HBS di Betawi untuk beberapa waktu bekerja sebagai “sinder” perkebunan kopi dan chemiker pabrik gula. Kemudian dalam usia muda melawat ke Afrika Selatan dan ikut berperang di pihak orang Boer melawan Inggris (1900 – 1901). Douwes Dekker tertawan dan diasingkan di Ceylon (Srilangka).
Tahun 1902 Douwes Dekker kembali di tanah air (Indonesia), bekerja sebagai wartawan harian Belanda De Locomotief dan kemudian duduk dalam redaksi harian Belanda Soerabaiaasch Handelsblad dan Bataviaasch Nieusblad. Pada 1909 Douwes Dekker berangkat ke Eropa. Untuk majalah mingguan Jong Indie yang terbit di Betawi ia menulis rangkaian “Surat-surat seorang biadab dari dunia beradab”.
Pada akhir 1910 kembali dari Eropa, Douwes Dekker menetap di Bandung dan menerbitkan majalah setengah bulanan Het Tijdschrift, disusul dengan harian De Express (Maret 1912). Dalam penerbitan tersebut Douwes Dekker menuangkan keyakinan dan program politiknya untuk melancarkan jalan bagi pembentukan Indische Partij-nya. Untuk keperluan pembentukan partai ini, tiga serangkai (Douwes Dekker, Suwardi Suryaningrat, dan Cipto Mangunkusumo) mengadakan perjalanan propaganda keliling pulau Jawa (September 1912) yang berhasil gemilang dengan berdirinya Indische Partij pada tanggal 25 Desember 1912. Sebelum meninggalkan Bandung, Douwes Dekker sempat berorasi di sebuah gerbong sebelum peluit berbunyi dan kereta meluncur ke Yogyakarta:
“Saudara, kita umumnya dianggap malas, makhluk apatis yang menderita banyak kebiasaan buruk. Tapi saya melihat Anda semua telah bangun sepagi ini menentang tuduhan para dokter Belanda yang begitu parah bahwa kita Indier rendahan.”
Pada tahun 1913 Douwes Dekker bersama Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo dikenakan exorbitante rechten (hak istimewa Gubernur Jenderal Hindia Belanda) berupa pengasingan (interneering). Mereka ditangkap akibat munculnya tulisan terkenal Suwardi Suryaningrat di De Expres, “Als Ik Een Nederlander Was” (Andaikata Aku Seorang Belanda). Atas permintaan sendiri ketiganya diperkenankan meninggalkan Indonesia, berangkat ke negeri Belanda. Douwes Dekker mencapai gelar sarjana (dokter) di Universitas Zurich, Swiss (1915).
Ketika kembali ke Indonesia dalam tahun 1918, Douwes Dekker melihat keadaan di tanah air sudah jauh berbeda dengan waktu keberangkatannya. Semangat kebangsaan kaum Indo yang dalam tahun 1912 menggelora di bawah pimpinannya kini sudah redup. Tetapi hal itu tidak mengurangi aktivitas politik nasionalnya. Dia menerbitkan majalah De Beweging dan menghidupkan kembali harian De Express. Selain politik, Douwes Dekker giat dalam bidang pendidikan (Direktur Institut Ksatrian di Bandung).
Dalam bulan Januari 1941, Douwes Dekker ditangkap kembali sehubungan dengan peristiwa penggeledahan rumah M.H. Thamrin dan diasingkan di Suriname. Setelah Indonesia merdeka, Douwes Dekker pulang ke Indonesia (3 Januari 1947) dan berganti nama Danudirja Setiabudi. Beliau menjabat sebagai Menteri Negara dalam Kabinet Syahrir (1947) dan pada tahun 1948 diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung di Yogyakarta. Douwes Dekker alias Danudirja Setiabudi meninggal di Bandung, Jawa Barat, 28 Agustus 1950 pada umur 70 tahun.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
Shadily, Hassan. 1973. Ensiklopedia Umum. Yogyakarta: Yayasan Kanisius

Terjadinya Pohon Kapuk Randu

Pada zaman Hindu Jawa pernah hidup seorang raja yang ber­nama Prabu Ngarum. Istananya terletak di pesisir utara Pulau Jawa, sebelah barat kota Pasuruan atau sebelah barat laut Gunung Bromo. Kerajaannya merupakan kerajaan kecil yang dihuni hanya oleh para pengikut raja. Prabu Ngarum adalah seorang raja yang baik, yang memerintah dengan bijaksana dan adil. Oleh karena itu, dia sangat dihormati oleh rakyatnya.

Ketika melihat kerajaannya semakin berkembang, timbul hasrat­nya untuk mencari seorang permaisuri. Memang dia sudah memiliki pilihan hati, yaitu seorang puteri yang cantik jelita, puteri raja dari kerajaan sebelah timur. Sang raja merasa bahwa raja kerajaan tetangga itu menyukainya dan juga yakin bahwa dirinya akan direstui untuk menikahi sang puteri. Dia tetap yakin pada keberhasilannya meskipun puteri tersebut telah menolak lamaran dua pangeran dari kerajaan yang berada di dekatnya.

Namun, tiba-tiba rasa khawatir menyelimuti Raja Ngarum jika lamarannya ditolak. Hubungan yang sudah berjalan baik dengan ayahnya akan terganggu. Raja Ngarum kemudian membicarakan niat­nya dengan patih kerajaan. Raja juga menyatakan kekhawatiranya tentang retaknya hubungan yang sudah terjalin baik jika lamarannya itu gagal. Patih kemudian menganjurkan kepada raja untuk menggunakan Ngelmu Jaran GoyangPitune yang sudah dikuasai sang raja Sang raja menyetujui usulan tersebut.

Setelah mengirim dua utusan, raja berangkat disertai para pengiringnya. Sebelum berangkat, raja mengucapkan mantera Jaran Goyang Pitune dalam hati dan pikirannya. Dengan cara ini, dia percaya lamarannya pasti tidak akan ditolak. Sesampainya di kerajaan tetangga, dia diterima dengan ramah oleh raja dari kerajaan tetangga dan setelah menyatakan maksudnya dengan khikmat, melalui kekuatan ri ngelmu lamarannya diterima oleh sang puteri. Namun, sang puteri mengaju­kan syarat agar raja muda harus bisa melindunginya dari niat buruk kedua pangeran yang lamarannya sebelumnya ditolak. Sang puteri tahu bahwa kedua pangeran tersebut akan menanggung malu karena sang puteri menerima lamaran orang lain. Sang puteri takut mereka akan melakukan balas dendam.

Raja Ngarum menerima persyaratan ini, dan puteri yang cantik ini kemudian dibawa pulang ke kerajaannya. Raja dan permaisuri diterima oleh rakyatnya dengan penuh kegembiraan. Di seluruh kerajaan kemudian dilakukan pesta perkawinan yang meriah. Ketika kedua pangeran yang lamarannya ditolak mendengar bahwa puteri yang cantik ini akhirnya menikah dengan Raja Ngarum, mereka bersumpah untuk membalas dendam.

Raja Ngarum dengan ngelmu-nya, hidup bahagia bersama sang permaisuri, yang kemudian memberikan tiga anak (puteri) yang kecantikan mereka sebanding dengan ibunya. Tetapi, seiring per­jalanan waktu, kebahagiaan itu ada akhirnya. Permaisuri tiba-tiba sakit parah. Dukun pintar dari seluruh kerajaan tidak ada yang dapat mengetahui sebab sakitnya dan menyembuhkannya. Pada suatu hari, datanglah ke istana Kerajaan Ngarum seorang dukun yang meyakin­kan dapat menyembuhkan permaisuri, dengan syarat bahwa untuk sembuh harus minum susu dari binatang Sindu Upaka terlebih dahulu.

Segera dikirim utusan ke segala penjuru untuk mencari susu yang dimaksud, tetapi akhirnya semua utusan kembali dengan tangan hampa. Penyebabnya adalah telah tiba musim di mana binatang Sindu Upaka berhenti menyusui anak-anaknya. Oleh karena itu, raja memberikan “maklumat” ke seluruh wilayah kerajaan, yang berisi “barang siapa dapat memberikan susu dari seekor binatang Sindu Upaka, ia akan menghadiahi apa saja yang diinginkanya.”

Maklumat ini rupanya didengar oleh salah satu dari dua pangeran yang pernah ditolak sang puteri. Dia ingin melakukan balas dendam. Dengan mengucapkan mantera ngelmu gadhungan, pangeran meng­ubah dirinya untuk sementara menjadi monyet. Sebagai monyet, dia pergi ke istana Kerajaan Ngarum dengan membawa sebuah tabung bambu yang berisi cairan putih kotor {rereged blawus). Cairan putih kotor ini diberikan kepada raja dengan mengatakan sebagai susu seekor binatang yang sakti. Tujuannya adalah untuk membunuh permaisuri.

Tetapi, para dewa ternyata bermaksud lain. Permaisuri meminum cairan putih kotor ini dan setelah beberapa hari justru sembuh. Atas jasanya, raja kemudian menawarkan kepada kera segala sesuatu yang enak untuk dimakan. Tetapi, monyet ini menolak semua tawaran itu. Melihat upaya untuk membalas dendam gagal, sekarang dia berpikir untuk mempermalukan raja dan permaisurinya. Ia ingin agar permaisuri mendapat malu besar. Setelah berpikir sesaat, diminta­nya dua alat gamelan milik raja, yaitu kenong (gong kecil) dengan ketuknya (pemukulnya). Tanpa banyak berpikir raja memenuhinya.

Segera setelah mendapat hadiah-hadiah ini, monyet ini pergi ke hutan dan memanjat ke atas pohon tertinggi. Setiap kali ada manusia yang lewat, dengan ketuk dipukulnya kenong sambil berteriak. “Permaisuri berpikir bahwa ia telah meminum susu binatang, ternyata yang diminum adalah kotoran saya!”

Setiap ada orang yang lewat, teriakannya diulangi sambil memukul kenong. Orang-orang yang lewat dan mendengar teriakannya merasa bahwa ucapannya itu menghina permaisuri yang mereka cintai dan hormati. Akhirnya, mereka menceritakan kepada raja dan permaisuri tentang apa yang telah mereka dengar. Mengetahui permaisurinya dihina sedemikian rupa, Raja Ngarum menjadi sangat murka. Dikirim­lah para pembantunya untuk menangkap monyet itu, tetapi monyet itu pintar. Maka tidak ada yang berhasil menangkapnya.

Akhirnya raja memberikan maklumat dan sayembara, barang siapa dapat menangkap monyet itu akan diberi hadiah salah satu puterinya. Karena kecantikan puteri-puteri Raja Ngarum telah dike­tahui umum, semua yang merasa sanggup berlomba-lomba untuk menangkap monyet itu. Sayangnya, semuanya gagal.

Salah seorang pangeran lainnya, yang lamarannya pernah ditolak permaisuri, juga mendengar sayembara tersebut. Akhirnya, timbul keinginan untuk membalas dendam. Yang pertama terhadap orang yang dianggap sebagai penyebab dari kegagalannya, kedua kepada puteri yang pernah dicintainya. Dia juga akan melakukan tipu muslihat untuk membalas dendam. Maka dia pergi ke keraton Raja Ngarum. Ketika berada di dekat raja, dengan bantuan man tera ngelmu gadhungan, dia mengubah dirinya menjadi seekor kepiting.

Sebagai binatang, dirinya menghadap raja dan memohon agar diperkenankan untuk ikut dalam usaha menangkap monyet yang menghina raja dan permaisurinya. Dan bila berhasil, ia ingin menerima hadiah yang dijanjikan. Raja juga menjadi heran karena bertemu dengan seekor kepiting yang dapat berbicara dan kecurigaannya makin bertambah kuat karena sebelumnya telah ditipu oleh seekor kera yang juga dapat berbicara.

Setelah berpikir sejenak dan merasa bahwa kera dan kepiting adalah manusia yang beralih rupa, akhirnya raja setuju kepiting bisa ikut serta dalam sayembara itu. Kepiting kemudian dibawa ke hutan, tepatnya di kaki pohon di mana monyet sedang bertengger. Tanpa takut, kepiting naik ke atas pohon dan sebelum monyet mengetahui, dijepitnya salah satu kakinya. Monyet berteriak kesakitan dan kemudian menjatuhkan ketuk dan kenong-ny*. Bersama dengan kepiting, keduanya jatuh dari pohon. Begitu jatuh, orang-orang yang menunggu di bawah segera menangkap monyet dan mengikatnya. Bersama dengan kepiting, keduanya dibawa ke hadapan raja. Raja terpaksa memenuhi janjinya dan kemudian memanggil ketiga puterinya. Diterangkan bahwa dia harus melunasi janji, tetapi tidak ada satu pun dari ketiga puteri ini ingin menikah dengan seekor kepiting.

Karena Raja Ngarum tidak ingin melanggar janji kerajaannya, ketiga puterinya disuruh melakukan undian, dan siapa yang kalah harus menikah dengan kepiting. Undian dilakukan dan nasib telah menunjuk puteri yang termuda dan yang tercantik bernama Puteri Dewi harus menikah dengan kepiting. Dewi kemudian dinikahkan dengan kepiting dan diberikan tempat peristirahatan yang bagus sebagai tempat tinggal keduanya.

Ketika upacara perkawinan dan pesta berlangsung, ternyata monyet berhasil melarikan diri. Dia kemudian mengubah dirinya menjadi manusia lagi dan ikut berbaur dengan orang-orang yang berpesta. Dengan kekuatan ngelmu-nya, dia mengetahui bahwa kepiting adalah pesaingnya ketika berlomba untuk mendapatkan permaisuri. Mengingat sakitnya jepitan pada kakinya, pikiran utamanya adalah melakukan balas dendam. Setelah pesta, Puteri Dewi dan suaminya berangkat ke peristirahatan yang indah yang telah diberikan oleh orang tuanya. Raja dan permaisuri merasa iba melihat Puteri Dewi harus kawin dengan kepiting.

Ketika tiba di tempat peristirahatan, matahari mulai terbenam, dan petang harinya kepiting mengubah dirinya menjadi seorang pangeran. Dia kemudian menceritakan kepada Dewi yang cantik jelita ini, bahwa dalam perubahan sosok tubuhnya, niatnya semula adalah untuk membalas dendam. Tetapi, melihat kecantikan dan keramahan Dewi, niatnya itu dibatalkan. Dia berniat sesudah sekian waktu, disebabkan kekuatan ilmunya pada siang hari, masih harus menjadi kepiting. Tetapi, bila kembali pada sosok tubuh manusia, dia akan membawa Dewi ke istananya.

Pangeran ini, meskipun tidak muda lagi masih sangat perkasa sebagai laki-laki. Karena kebaikan dan daya tariknya, akhirnya Puteri Dewi merasa tertarik dan jatuh cinta kepadanya. Mereka pun hidup bahagia. Puteri Dewi akhirnya harus menerima kenyataan kekuatan ngelmu yang ada pada pangeran. Yaitu, menggantikan siang hari men­jadi malam hari di mana pada malam hari dirinya bersatu dengan suaminya.

Bagi pangeran yang satunya lagi, masa di mana dia harus menjadi monyet masih belum berlalu sehingga sesudah malam hari meng­hadiri pesta perkawinan, keesokan harinya menjelma menjadi monyet lagi. Sewaktu Dewi dengan suaminya, si Kepiting pergi ke tempat peristirahatan, monyet mengikutinya secara diam-diam dan berusaha agar tidak tampak oleh para pengikut kedua pasangan ini. Karena telah kehilangan kenong dan ketuk, monyet ini tidak ada bedanya dengan monyet-monyet lainnya. Hingga dirinya dapat mengembara di sekitar tempat peristirahatan tanpa dapat diketahui. Sewaktu monyet mengetahui bahwa sang puteri dapat hidup berbahagia dengan suaminya dan bahwa sang puteri ini amat cantik, timbullah penyesalannya bahwa dia tidak memanfaatkan janji raja untuk meminta salah satu puterinya sebagai istri.

Karena masih merasa dendam terhadap pesaingnya, muncullah rasa iri dan keinginan membalas dendam. Monyet juga melihat bahwa peristirahatan pada siang hari tertutup, tetapi pada malam hari pintu- pintunya terbuka. Dia melihat bahwa pesaingnya pada malam hari kembali lagi menjadi manusia dan bermesraan dengan Puteri Dewi. Pemandangan ini benar-benar meluluhlantakkan hatinya.

Pada suatu malam, dia mengintip lagi melalui pintu yang separo terbuka. Dari kejauhan dilihatnya pesaingnya sedang tidur berbaring lelap setelah bermesraan bersama Puteri Dewi. Dan pada sebuah bangku dilihatnya kulit penutup kepiting yang kosong. “Inilah saat untuk balas dendam,” pikirnya. Ia pun segera mengendap masuk dan mengambil kulit penutup kepiting yang kosong dan dipecah. Kemudian monyet itu naik ke atas pohon lagi dan menunggu hingga fajar. Sewaktu pangeran bangun dan mencari kulit penutupnya, dilihatnya bahwa kulit penutupnya telah pecah. Kemudian dia mengatakan kepada Puteri Dewi bahwa dirinya tidak lagi dapat men­jadi kepiting karena cangkangnya telah pecah. Karena, menurut ngelmu yang dianutnya, dia belum waktunya berubah menjadi manusia. Maka kalau fajar tiba, dia akan mati. Memang, ketika matahari muncul, sang pangeran meninggal. Melihat kejadian itu, monyet tertawa terkekeh-kekeh.

Sekarang Dewi mengerti bahwa karena suatu dendam, monyet membunuh suaminya. Oleh karena itu, disuruhnya para pembantunya keluar untuk membunuh monyet itu. Tetapi, monyet itu kemudian bersembunyi pada siang hari di antara dahan-dahan pohon. Pada malam hari, dia bertengger lagi di pohon di dekatnya dan diper­dengarkannya lagi tertawanya yang terkekeh-kekeh untuk menambah kesedihan puteri yang baru saja kehilangan suaminya itu. Puteri Dewi, karena kesedihan yang amat sangat, enggan untuk hidup lagi. Kemu­dian dia berniat untuk membalas kejahatan monyet yang merusak hidupnya.

Dengan hati yang penuh bara dendam, dicarinya dukun ngelmu. Dari dukun itu dia belajar ngelmu manglih, yaitu ilmu mengubah rupa menjadi sosok yang dikehendaki. Pada malam hari, sesuai kebiasaan monyet bertengger di atas pohon sambil memperdengarkan tawa terkekehnya, diam-diam Dewi telah berada di bawah pohon itu. Dengan ngelmu-nya, dia mengubah dirinya menjadi pohon berduri dan buah dadanya menjadi berjuta-juta duri yang tajam mengelilingi seluruh kulit pohon. Kaki tangannya menjadi cabang dan ranting pohon sehingga monyet tidak dapat bersembunyi di antara dahan-dahannya. Jika monyet ingin turun, ia akan terkena duri-duri itu sehingga merobek kulit perutnya. Seusai mengucapkan mantera, seluruh tubuh Dewi berubah menjadi pohon yang dikehendakinya.

Maka jadilah ia pohon yang sekarang dinamakan “pohon kapuk randu.” Pada pagi harinya, bangunlah monyet dari tidurnya. Dia ingin turun, tetapi duri-duri pada pokok batang dan dahan-dahannya merobek perut, kaki, dan tangannya sehingga dia menderita kesakitan yang amat sangat. Karena luka yang parah, akhirnya monyet itu mati. Dalam kematiannya, berubahlah badan monyet menjadi badan pangeran.

Dewi yang mengabdikan dirinya untuk membalas dendam atas kematian suaminya ditakdirkan menjadi pohon kapuk randu. Sejak itu roh Dewi bersemayam di dalam batang pohon kapuk randu.

Capt. R.P. Suyono, Mistisisme Tengger, LKIS, Yogyakarta 2009,  hlm. 353-360

Legenda Kasada

Versi Lain Perayaan Kasada

Tiap tahun penduduk Tengger melaksanakan pesta Bromo yang dikenal dengan nama perayaan “Kasada”. Legenda berikut ini men­ceritakan asal mula perayaan ini.

Kiai Kesuma dan Nyai Kesuma adalah orang-orang Hindu dan berdiam di sebuah pondok di dekat lautan pasir yang mengelilingi Gunung Bromo. Mereka berdua hidup berbahagia. Tetapi, masih ada sesuatu yang seolah merupakan duri dalam daging atas nasib keduanya, yaitu keturunan. Sampai menjelang usia lanjut, mereka belum memiliki anak. Mereka sudah bersembahyang dan memohon kepada Brahma, namun tidak berhasil. Mereka pun putus asa.

Pada suatu malam, sebelum tengah malam, terdengarlah ketukan perlahan-lahan dan penuh perasaan di pintu pondok mereka. Sewaktu Kiai Kesuma bangun dan membukakan pintu, berdirilah di hadapan­nya seorang kakek tua renta berpakaian compang-camping dan memohon kepadanya: “Ya Kiai Kesuma yang berbudi baik, mohon berikan kepada saya setangan jagung dan biarkan saya pada malam ini dapat tidur merebahkan diri di bawah atap rumah Kiai. Saya sudah menelusuri jalan yang panjang sekali sehingga saya capek untuk meneruskan perjalanan. Saya juga lapar dan dahaga.”

Kiai Kesuma kemudian membangunkan istrinya dan mereka berdua menuntun kakek ini masuk ke pondok mereka . Lalu, mereka menyiapkan selembar tikar baru. Kiai Kesuma kemudian berkata- “Beristirahatlah di atas tikar ini dan jadilah tamu kami selama Anda berkenan.” Nyai Kesuma memberikan secangkir kopi dan kue jagung kepada kakek itu dan berkata dengan nada suara memelas: “Kakek tua yang aku kasihani, makanlah kue-kue jagung ini dan hiruplah kopi yang harum ini sehingga rasa capek dan penat kakek hilang. Berbaringlah di atas tikar ini untuk beristirahat dari perjalanan yang masih panjang dan melelahkan.”

Sebagai jawaban, kakek ini kemudian memakan kue-kue jagung itu dengan lahapnya dan kemudian menyeruput kopi harum yang dihidangkan. Tak lama kemudian dia merebahkan dirinya di atas tikar hingga tertidur lelap. Tetapi, ketika pada pagi hari, Kiai dan Nyai Kesuma terbangun dan menjenguk kakek tua yang sedang tidur. Dilihatnya dia mulai berdiri dan tampak seolah diseliputi oleh aura cahaya terang di sekitar badannya. Kakek tua ini tidak bongkok lagi. Dia berdiri tegak di hadapan mereka sebagai seorang pemuda yang rupawan dan bersih laksana dewa. Kemudian sang pemuda bercerita bahwa dia dikirim oleh Dewa Brahma yang telah mendengar doa kedua pasangan ini agar diberikan seorang anak. Dikatakan juga bahwa Brahma telah mendengar doa mereka berdua dan meluluskan permohonan pasangan tersebut. “Kelak kalian akan memiliki seorang putera,” ucap sang pemuda. “Kalian harus hidup suci dan bila putera kalian sudah dewasa, saya akan menyampaikan kehendak Brahma lebih jauh.”

Kiai dan Nyai Kesuma membungkukkan badan dan menunduk­kan kepala mereka yang sudah beruban putih sambil mendengarkan titah dari utusan Brahma. Ketika kepala mereka ditegakkan, ternyata utusan Brahma telah menghilang.

Setahun berlalu setelah menerima sabda dari utusan Dewa Brahma ini, doa mereka benar-benar terkabul. Nyai Kesuma hamil dan kemu­dian melahirkan seorang putera. Anak ini sangat ganteng, dan semakin dewasa semakin bagus rupa dan raut mukanya. Sampai kemudian anak tersebut tumbuh menjadi seorang pemuda yang alim dan berani serta merawat kedua orang tuanya yang makin menjelang tua, dengan baik dan penuh kasih sayang. Kiai dan Nyai Kesuma memandang putera mereka sebagai penghibur dan tiang kehidupan mereka pada umur yang sudah renta. Ketika putera mereka sudah menjelang dewasa, pada suatu malam terdengarlah ketukan pada pintu pondok mereka. Dan ber- hadapanlah mereka dengan utusan Dewa Brahma lagi. Dengan muka yang sedih dan raut wajah yang kasihan, utusan Dewa Brahma berkata kepada Kiai dan Nyai Kesuma dengan suara yang perlahan, penuh perasaan: “Kedua orang tua yang baik, besok adalah waktu bulan baru. Naiklah pada malam harinya, bersama dengan putera kalian hingga kawah Gunung Bromo. Karena pada malam itu, Brahma akan menagih janji/korban. Dan yang diminta adalah putera kalian berdua. Lakukan pengorbanan dengan ikhlas tanpa pamrih, sesuai kemauan Dewa Brahma sebagai Dewa Pencipta kalian.”

Kedua orang tua renta ini sambil membungkukkan kepala ber­kata dengan penuh penyesalan: “Kemauan Dewa Brahma akan dilaksanakan.”

Tanpa menggerutu dan mengiba atas korban besar yang harus mereka persembahkan kepada Brahma, kedua orang tua renta bersama dengan puteranya mendaki hingga kawah Bromo. Masih belum pagi hari ketika mereka tiba di tempat, di mana Brahma akan mengambil korbannya. Di sana, Kiai dan Nyai Kesuma membungkukkan badan hingga tanah, bersembahyang, dan berdoa: “Wahai Brahma Yang Agung dan Kuasa, ini adalah putera kami, korban besar yang diminta. Ini adalah anak kami yang merupakan tumpuan hidup masa tua kami. Ambillah dia, tetapi perkenankan kami untuk ikut bersamanya! Biarkan kami juga mati bersamanya! Dewa Yang Maha Kuasa, kami sudah sedemikian tua dan lelah. Apakah yang akan terjadi pada kami jika anak kami diambil? Siapa yang akan memelihara kambing kami? Siapa yang akan mengambil air bagi keperluan kami? Siapa yang menanam jagung untuk makan kami? Kami tidak dapat hidup tanpa anak lagi.” Dengan kepala tertunduk, putera mereka di tengahnya, kedua orang tua ini menunggu kehendak Brahma. Dalam posisinya, mereka mendengar suara kedewaan Brahma yang bersabda: “Kiai dan Nyai Kesuma berdua, saya tidak menghendaki anak kalian sebagai korban karena dia akan membantu keperluan kalian berdua selama kalian masih hidup. Saya hanya ingin melihat, apakah kalian sedemikian cinta terhadap saya sebagai Dewa Pencipta kalian. Kalian telah lulus dalam cobaan. Kalian telah memenuhi kehendak saya. Pergilah dan hiduplah berbahagia dengan anak kalian.”

“Terima kasih Brahma Yang Agung atas kebaikan yang tiada habisnya yang diberikan kepada kami,” demikian kedua orang tua ini mengucapkan terima kasih kepada Dewa Penciptanya. “Kebaikan Dewa akan kami peringati dengan sebaik-baiknya dan memberikan korban pengganti dari hasil yang terbaik yang diberikan oleh tanah dan ternak kami.”

Kiai dan Nyai Kesuma bersama anak mereka bergegas kembali ke pondoknya. Diambilnya kambing yang tergemuk dari ternak mereka dan jagung-jagung terbaik dari ladang mereka. Mereka menyuruh anak mereka kembali ke kawah Gunung Bromo. Sambil menyembelih kambing di tepi kawah, mereka melemparkan daging dan jagung ke dalam kawah Gunung Bromo, dan berkata: “Brahma Yang Maha Agung dan Kuasa, dengan ini kami menghaturkan korban terbaik yang kami miliki sambil mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang diberikan kepada kami. Terimalah korban kami. Tiap tahun kami akan memberikan korban.” Sejak saat itu, kaum Hindu di daerah Tengger memberikan korban ke kawah Gunung Bromo untuk menghormati Brahma sebagai Dewa Agung mereka.

Capt.R.P. Suyono, Mistisme Tengger, Yogyakarta, 2009, hlm. 349-352

 

Minarni Soedaryanto, Kabupaten Pasuruan

10 Mei 1944, Minarni Soedaryanto atau Minarni Sudaryanto lahir di Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia.

Tahun 1959, saat berusia 15 tahun Minarni sudah menjadi pemain pelatnas.

Tahun 1960, Juara Malaysia Terbuka  tunggal putri.

Tahun 1962, ganda putri Minarni/ Retno Koestijah meraih Medali Emas Asian Games dan pada Asian Games tunggal putri meraih Medali Emas.

Tahun 1966, Juara Malaysia Terbuka  tunggal putrid; ganda putri Minarni/ Retno Koestijah;  ganda putri Minarni/ Retno Koestijah Juara Malaysia Terbuka dan meraih Emas Medali Pada Asian Games.

Tahun 1967, ganda putri Minarni/ Retno Koestijah Juara Malaysia Terbuka dan  Juara Malaysia Terbuka  tunggal putri.

Tahun 1968, All England, PB PBSI yang mengirimkan Rudy Hartono, Ang Tjin Siang, Minarni Soedaryanto, dan Retno Kustiyah berhasil mencatatkan prestasi yang gemilang. Rudi Hartono meraih juara, Muljadi meraih medali perunggu, Minarni meraih medali perak tunggal putri, dan ganda Minarni/ Retno Koestijah meraih juara. Minarni menjadi pemain bulu tangkis putri Indonesia pertama yang bisa mencapai babak final kejuaraan All England. Tahun ini Minarni Finalis All England  tunggal putrid dan  Minarni/ Retno Koestijah ganda putri Juara All England.

Tahun 1969, ganda putri Minarni/ Retno Koestijah Juara AS Terbuka;  Juara AS Terbuka  tunggal putrid; Minarni/ Retno Koestijah ganda putri Juara Kanada Terbuka;  ganda campuran Minarni / Darmadi Juara Kanada Terbuka; Finalis Piala Uber  Tim Indonesia tunggal putrid;  Minarni dan kawan-kawan gagal meraih gelar juara karena dikalahkan Jepang dalam babak final Piala Uber 1969 (skor 1-6) dan 1972 (skor 1-6).

Tahun 1972,  sebagai Finalis Piala Uber Tim Indonesia tunggal putri.

Tahun 1975, Juara Piala Uber  Tim Indonesia tunggal putrid . Pada perebutan Piala Uber 1975 di Jakarta, Tim Indonesia yang diperkuat oleh Theresia Widiastuti, Imelda Wigoena, Utami Dewi, Tati Sumirah, Minarni Soedaryanto, dan Regina Masli berhasil mempersembahkan Piala Uber untuk pertama kalinya bagi Indonesia setelah di final menundukkan Jepang dengan skor 5-2. Kemenangan ini menjadi pembalasan.

Setelah pensiun dari pemain, kemudian berkarier sebagai pelatih bulu tangkis di pelatnas serta aktif dalam organisasi PB PBSI.

14 Mei 2003, Minarni Soedaryanto  meninggal dunia dalam usia 59 tahun di RS Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan karena komplikasi radang paru-paru dan lever. Jenasah dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan.

Mang Udel, Drs. R. Panji Poernomo Tedjokusumo, Kabupaten Pasuruan

7 Oktober 1923, Drs. R. Panji Poernomo Tedjokusumo lahir di Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. putra seorang wedana di daerah Pasuruan, Lebih dikenal dengan nama Mang Udel,  di kalangan dekatnya dipanggil juga Mas Pung,

Tahun 1930, Mang Udel menamatkan sekolah dasar zaman Belanda, HIS,

Tahun 1936, Mang Udel melanjutkan sekolah lanjutan yaitu MULO, di Solo.

Tahun 1940, Mang Udel yang melanjutkan studi di sekolah pertanian LMS di Bogor.

Tahun 1945, Mang Udel mengisi acara Sepintas Lalu di Radio Republik Indonesia (RRI) di Jakarta.

Tahun 1946-1950, selama masa revolusi,  semua kegiatan seni Mang Udel vakum. Namun semasa perang kemerdekaan itu, Mang Udel ikut memanggul senjata berjuang di daerah Cikampek.

Mang Udel menikah dengan Sri Sufinati, anak dari Ibu Sud, pencipta lagu anak-anak Indonesia, dan dikaruniai tiga orang anak.

Tahun 1951, Mang Udel bertemu dengan pasangannya, yaitu Hardjodipuro, lantas meneruskan acara Sepintas Lalu-nya. Keduanya membentuk duet Mang Cepot dan Mang Udel bertahan hingga akhir dekade 70-an. Nama populer Mang Udel diambil dari nama tokoh dalam acara obrolan Sepintas Lalu di RRI yang dibawakan oleh dirinya dan Hardjodipuro (Mang Cepot).

Duet Mang Cepot dan Mang Udel sebagai grup lawak pertama di Indonesia yang menggunakan naskah dalam setiap penampilannya, sehingga semua detail adegan sudah diperhitungkannya.  Mereka menuangkan ide, konsep secara terinci dan menampilkannya dengan terencana, dan dengan segala perhitungan reaksi audience-nya.

Republik ini masih sangat muda,namun lawakan mereka sering menyindir keadaan sosial waktu itu. Padahal, mereka adalah para pejabat tinggi negara yang punya posisi penting di instansi masing-masing. Maka tidak heran bila PM Soebandrio melarang kegiatan dua orang tersebut.

Tahun 1952, Mang Udel untuk pertama kali bermain film berjudul “Heboh”. Kemudian bermain dalam sebuah film adopsi dari Rusia berjudul Si Mamad di bawah arahan sutradara Syuman Jaya. Di film yang cukup monumental itu, ia mendapat penghargaan atas aktingnya sebagai pegawai negeri miskin yang tertimpa masalah.

Tahun 1954, Mang Udel berperan dalam film “Heboh”.

Tahun 1956, Mang Udel berperan dalam film “Radja Karet Dari Singapura”

Tahun 1958 mereka berdua mencoba membuat trio Los Gilos yang terdiri dari Mang Cepot, Mang Udel dan Bing Slamet. Setelah berjalan beberapa lama akhirnya trio itu pecah.

Banyak yang menyayangkan tidak langgeng-nya trio Los Gilos. Ttrio Los Gilos dipandang sangat bagus karena memadukan kematangan ide, konsep yang berkualitas dengan kepiawaian olah tubuh serta gaya Bing Slamet yang sangat terkenal itu. Dengan kata lain, perpaduan antara komedi ide dengan lawakan slapstick.

Tahun 1961,  Mang Udel mendapatkan gelar sarjana muda biologi dari Fakultas Biologi Universitas Nasional, dan menjadi asisten ahli anatomi patologi di Fakultas Kedokteran UI tahun itu juga.

Tahun 1966, arek Pasuruan ini menjadi dosen luar biasa di Fakultas Kedokteran Gigi UI dan juga dosen biologi di Universitas Tarumanegara, Jakarta.

Tahun 1967 – 1971, Mang Udel menjadi pejabat Dekan Universitas Nasional.

Tahun 1972, Mang Udel berperan dalam film “Intan Berduri”

Tahun 1974, Mang Udel berperan dalam film “Raja Jin Penjaga Pintu Kereta”, disutradarai oleh Wahab Abdi, dan Mang Udel mendapatkan penghargaan sebagai aktor terbaik dengan pujian FFI dalam film “Si Mamad”.

Tahun 1975, Mang Udel pensiun dari Universitas Indonesia. Namun kegiatan aktornya masih berjalan , berperan dalam film “dr. Karmila”, disutradarai oleh Ami Prijono serta dalam film “Semalam di Malaysia”, disutradarai oleh Nico Pelamonia.

1977, Mang Udel berperan dalam film “Arwah Komersil dalam Kampus”, disutradarai oleh Muchlis Raya dan dalam film  “Sinyo Adi”,  disutradarai oleh Lilik Sudjio. Mang Udel sempat menjadi pemandu wisata.

Tahun 1978, Mang Udel berperan dalam film “Nopember 1828”, disutradarai oleh Teguh Karya.

Tahun 1980, Mang Udel berperan dalam serial TV “Losmen” arahan sutradara Wahyu Sihombing, ditayangkan  oleh TVRI Stasiun Pusat Jakarta, permainan Mang Udel cukup mengesankan dan ia lantas diidentikkan dengan tokoh Pak Broto, suami pemilik losmen Srikandi yang menderita post power syndrome setelah pensiun sebagai pejabat sebuah instansi pemerintah.

Tahun 1983, Mang Udel berperan dalam film “Budak Nafsu”,  disutradarai oleh Syuman Djaya

Tahun 1986, Mang Udel berperan dalam film “Bintang Kejora”, disutradarai oleh Chaerul Umam serta berperan pada Serial TV “Losmen”.

Tahun 1987, Mang Udel berperan dalam film “Selamat Tinggal Jeanette”, disutradarai oleh Bobby Sandy

Tahun 1988, Mang Udel berperan dalam film “Bunga Desa”, disutradarai oleh A. Rachman.

Tahun 1989, Mang Udel berperan dalam film “Bercinta Dalam Mimpi”, disutradarai oleh Nasri Cheppy

Tahun 1990, Mang Udel berperan dalam film “Oom Pasikom” dan dalam film “Penginapan Bu Broto”.

Tahun 2001, Mang Udel berperan dalam film “Pasir Berbisik”,  disutradarai oleh Nan T. Achnas.

27 Oktober 2006, pada umur 83 tahun Drs. R. Panji Poernomo Tedjokusumo (Mang Udel) meninggal di Jakarta.  =S1Wh0T0=

Gebluk, Kabupaten Pasuruan

Mendidik Anak dengan ‘Gebluk’

GEBLUKPertunjukan kesenian yang biasanya diadakan di sebuah panggung kecil lapangan Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan  menjadi pusat perhatian ratusan warga sekitar. Kesenian Gebluk juga berisi pesan moral yang

bermanfaat bagi warga. Bantal yang digebluki merupakan lambang seorang ibu

yang membangunkan anaknya dari tidur agar segera menjalankan ibadah salat lima waktu. Itu juga berarti membangunkan anaknya untuk berangkat sekolah atau mengaji, alias menimba ilmu.

Ibu-ibu di Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan mempunyai cara yang unik dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Mereka menggelar atraksi Kesenian Gebluk, sebuah kesenian khas daerah tersebut yang merupakan warisan leluhur yang turun-temurun sejak ra­tusan tahun silam.

Sekilas kesenian Gebluk mirip de­ngan Hadrah yang dimainkan kaum perempuan. Namun Gebluk memang seni khusus kaum perempuan. Tidak seperti Hadrah yang menggunakan alat musik terbangan, yakni alat musik dari kulit lembu dengan bingkai kayu. Gebluk menggunakan bantal tidur se­bagai alat musiknya.

Sebanyak 10 perempuan duduk dalam posisi bersendekuk layaknya orang sedang berdzikir. Beberapa perempuan membawa bantal lalu di­tabuh (digebluk), sementara yang lain mengiringi dengan tepuk tangan.

Gebluk kian meriah dengan lan­tunan lagu-lagu bernuansa Islami yang mereka nyanyikan dalam baha­sa Madura, bahasa yang sehari-hari mereka gunakan untuk berkomuni­kasi.

Pertunjukan kesenian yang bia­sanya diadakan di sebuah panggung kecil lapangan Kecamatan Rembang itu kontan menjadi pusat perhatian ratusan warga sekitar. Selain langkah

Gebluk juga berisi pesan moral yang bermanfaat bagi warga.

Bantal yang digebluki merupakan lambang seorang ibu yang memba­ngunkan anaknya dari tidur agar sege­ra menjalankan ibadah salat lima wak­tu. Itu juga berarti membangunkan anaknya untuk berangkat sekolah atau mengaji, alias menimba ilmu.

Sementara tepukan tangan me­lambangkan seorang ibu yang sedang memanggil anaknya yang sedang ber­main hingga lupa akan kewajibannya. Maka ibunya memanggil dengan cara tepuk tangan. Hal itu bisa dimaklumi karena di Kecamatan Rembang, seba­gian besar ibu merupakan ibu rumah tangga murni sehingga lebih dekat dengan anak-anaknya.

“Kesenian ini (Gebluk) berisi ajaran akan kewajiban seorang ibu untuk terus menjaga dan menganjurkan anaknya melakukan kebaikan. Acara ini digelar menyambut bulan Ramadhan yang akan segera datang,” kata Ali Sodhikin salah seorang penyelenggara acara di lapangan Kecamatan Rembang.

Kesenian Gebluk, katanya, sudah berumur ratusan tahun, tapi hingga sekarang tetap lestari di Rembang. Nama Gebluk diambil dari bahasa setempak ‘Ngebluk’, yang berarti menabuh.

Dengan kesenian Gebluk, orang tua diharapkan tetap memberi perhatian, pengawasan serta pendidikan baik agama maupun pendidikan sekolah kepada sang anak. (gus)

 SUARA DESA, Edisi 05, 15 Juni -15 Juli 2012, hlm. 22

Inul Daratista, Kabupaten Pasuruan

21 Januari 1979, Ainur Rokhimah lahir di Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. Selanjutnya dikenal dengan nama Artisnya Inul Daratista, sulung dari 6 bersaudara dilahrkan dari pasangan Ayah bernama Abdullah Aman, dan ibunya bernama Rufia.

SMA 2 – Japanan – Pasuruan – Jawa Timur

Inul Daratista memulai karier panggungnya sebagai penyanyi dangdut di daerah Pasuruan, Jawa Timur. Aksi panggungnya direkam dalam video  dan diperbanyak dalam format VCD.  Tanpa sengaja hal ini membuat nama Inul mulai dikenal dan terkenal, jadwal manggungnya terisi padat. Sejumlah televisi pun berebutan untuk menampilkan. Inul seorang penyanyi dangdut Indonesia dengan julukan si goyang ngebor “Ratu Ngebor”

Inul juga memiliki bisnis karaoke, Inul Vizta. Bisnisnya yang memiliki beberapa cabang ini, sempat mendapat masalah. Andar Situmorang menggugatnya karena dianggap melanggar masalah hak cipta.

Tahun 1994, Adam dan Inul menikah, saat itu Inul baru berusia 16 tahun dan duduk di kelas satu SMA, sedangkan Adam 5 tahun lebih tua. Bagi Inul, Kisah cinta Inul dan Suminharto atau Adam Suseno bermula di masih bangku SMP.

Tahun 2000/2001, De Bronnen van de Liefde” — BELANDUT / Dangdut Bule – Belanda.

Mei 2003, Menjelang perilisan album perdananya, Rhoma dengan mengatas-namakan organisasi PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia), menentang peredaran album Goyang Inul yang dirilis Blackboard, goyangan Inul dianggap merendahkan pamor musik dangdut. sikap Rhoma ini menimbulkan pro-kontra.

5 Juli 2003, merilis album “Goyang Inul”. Blackboard (Kaset, CD dan VCD – launched)

Tahun 2004, merilis album “Separuh Nafas”.

Juni 2009, kasusnya dimenangkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Selanjutnya giliran Inul yang memperkarakan Andar ke pihak berwajib. Kali ini Andar dilaporkan Inul atas tuduhan membuat laporan palsu.

Tahun 2009, Inul hamil melalui program bayi tabung, sebab Pernikahan Inul bersama Adam Suseno selama 13 tahun belum juga membuahkan anak.

19 Mei 2009 pada pukul 21.29, Inul berhasil melahirkan anak pertamanya secara caesar. Bayi perdana ini diberi nama Yusuf Ivander Damares.

Januari 2006, kembali Rhoma di depan anggota DPR mengeluarkan pernyataan menentang aksi panggung Inul, dalam dengar pendapat pembahasan RUU Antipornografi antara DPR dan kalangan artis.

April 2006, Inul kembali membuat kontroversi karena mengeluarkan pernyataan di media masa bahwa dia ingin berpose bugil di majalah Playboy edisi Indonesia.

Tahun 2006, merilis album “Mau Dong” serta album “Ash-Sholaatu”.

November 2007, terdapat patung Inul di depan rumahnya. Patung Inul setinggi 2,5 meter lengkap dengan pondasi kotak serta lampu sorot itu berwarna emas. Plakat hitam bertuliskan “Sumbangan dari Inul Daratista” tampak menghias bungkusan patung itu. Inul menyumbangkan patung dirinya untuk menghiasi jalan yang telah dipenuhi patung lainnya.

13 November 2007, Patung Inul rencananya akan diresmikan. Tetapi akhirnya, Patung Inul dibongkar  dan diamankan Ketua RT setempat.

Tahun 2008, merilis album “Rasain Lho”.

Inul Daratista biographyTahun 2012, merilis album “Buaya Buntung”.

Tahun 2008, berperan pada film “Cinta Setaman”.

Selain berperan di film, Inum juga berperan di sinetron antara lain Kenapa Harus Inul?; Gara-Gara Inul; Hikayah (Eps.Susuk Pemikat Si Penari Jaipong) serta Hikayah {Eps.Penyanyi Dangdut Banting Setir Jadi Pembantu}.

Inul juga sempat membintangi beberapa iklan, seperti Sakatonik Grenk dan Mie Burung Dara.