K. ABDOELLAH ISKANDAR, Lamongan

Lamongan0005K. ABDOELLAHISKANDAR Kiai pejuang sebagai politisi unggul dari PNU pembina kepanduan.
K.Abdoellah Iskandar berprofesi sebagai guru agama dan pendidik yang cakap, tercatat sebagai pejuang empat lima lalu terjun ke dunia politik sejak usia muda baik di tingkat Kabupaten Lamongan maupun di Provinsi Jawa Timur. Pemuda ini pintar berpidato dan berceramah serta termasuk orang yang setia dalam tugas pengabdian dan hidup sederhana.
Nama kecil beliau adalah Abdoellah putera dari seorang santri – pedagang dari Pambon – Brondong bernama Iskandar, setelah besar nama ayah dirangkum menjadi Abdoellah Iskandar yang berwajah ganteng. Beliau adalah anak ke-6 dari 8 saudara yang dilahirkan di Pambon tahun 1919, nama saudara- saudaranya ialah:
1. Kiswati ( keluarga Machinu, Bulu – Sekaran )
2. K.H. Achmad Zaini ( Guru Madrasah Sawahan )
3. Chunaimah
4. Chanah ( di Pambon )
5. H. Masroer ( di Pambon )
6. K. Abdoellah Iskandar ( di Lamongan )
7. Animah ( di Lamongan)
8. Insijah ( di Lamongan)
Pada masa muda Abdoellah Iskandar digembleng di Ponpes Langitan bersama K.H.Achmad Zaini yang masih termasuk
kerabat pondok pesantren ini. K. Abdoellah Iskandar meninggal pada 16-09-1991 karena usia lanjut 72 tahun dan dimakamkan di kuburan sebelah barat kampung Pagerwojo Lamongan.
Pendidikan Kiai ini ialah SR VI tahun, Tsanawiyah Pondok, Madrasah Aliyah Pondok Langitan serta berijazah Pondok. Dalam perjalanan hidupnya beliau menikah dua kali yaitu pertama menikahi gadis Lamongan bernama Rochimah lalu bercerai tidak mempunyai anak. Setelah itu menikahi gadis Gresik bernama Ma’soemah dikaruniai 6 putera sebagai berikut:
1. Izzatul Lailah ( artinya kemuliaan malam )
2. Drs. Mohammad Djunaedi ( artinya tentara kecil terbaik )
3. Drs. Azam Kamal, SH (artinya keinginan yang sempurna)
4. Nailun Nusra (artinya Sungai Nil yang memberi pertolongan)
5. Ir. Agus Sihabudin ( artinya obor agama yang baik )
6. Dra. Wiwik Mujasaroh ( artinya yang dimudahkan ) Pesan K. Abdoellah Iskandar kepada anak-anaknya sebelum beliau wafat ada 3 hal yaitu :
a) Jangan sampai bermusuhan (geger) dengan saudara atau kawan akibat masalah harta-benda, sebab harta-benda mudah dicari namun persaudaraan dan kekerabatan bila putus sulit dan lama untuk menyambung kembali
b) Bergaullah di semua lapisan masyarakat.
c) Jangan sampai hidup ini menggantungkan diri pada orang lain.
Pada masa pendudukan Jepang pemuda Abdoellah Iskandar aktif dalam kepanduan Hisbul Waton dan kepanduan Ansor. Jiwa kepanduan ini dibawa sebagai bekal perjuangan ikut mempertahankan Republik Indonesia dengan bentuk memimpin sebuah kompi Hisbullah berpangkat Kapten. Anak buahnya yang gugur dan mengawali dimakamkan di Taman Bahagia Lamongan adalah Letnan Muda Choiroel Hoeda, anak buahnya yang lain yaitu Letnan Muda Choesnan Marzoeki, Letnan Muda Maksoem Irfan, Letnan Gufron (G. D wipayana pencipta boneka Unyil), Sersan Achmad Djaelani.
Perjuangan K. Abdoellah Iskandar bersama anak buah berada di front Benjeng, Metatu, Balongpanggang dan bertahan di Mantup, Beliau memperoleh berbagai tanda penghargaan dan tidak mengurus tunjangan veteran seperti beberapa temannya bahwa berjuang mengusir orang kafir Belanda adalah jihadu fisibilillah sebagai rasa cinta kepada bangsa dan negara (khubbul waton). Sepulang dari perang dan selamat adalah nikmat anugerah Allah yang patut disyukuri yang penting Indonesia tetap merdeka.
Jabatan K. Abdoellah Iskandar dalam kemasyarakatan tercatat sebagai berikut:
1. Dewan Pertimbangan Ponpes Langitan (1970-1991)
2. Ketua Takmir Masjid Jamik Lamongan (1980-1985)
3. Nadzir Waqfiyah Sawahan Lamongan (1982-1991)
4. Dewan Penasehat Bazis Lamongan (1990-1991)
5. Ketua Tanfidiyah dan Rois, Suriah NU di Lamongan (1960-1991)
6. Ketua Dewan Pertimbangan PPP Lamongan (1977-1987)
7. Ketua DPRD Kabupaten Lamongan (1960-1966)
8. Anggota DPRDS Kabupaten Lamongan 1951-1956-1960)
9. Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur (1977-1982)
10. Kepala PGANU Lamongan (1982-1987)
Jika sedang berkhutbah Jumat di Masjid Jamik Lamongan (kini Masjid Agung Lamongan) K.Abdoellah Iskandar selalu mengajak kebaikan dan persatuan serta peningkatan kualitas hidup dan beragama hal ini dilakukan dengan suara keras, lantang, menantang kemungkaran, tegas, berisi muatan kehidupan masa depan. Beliau mengajar mengaji kitab kuning di rumahnya kampung Mojo, Demangan, Kauman, Sawahan, Karangasem dan terakhir di Perumnas Made, juga aktif mengajar di PGANU dan Madrasah Mualimin NU Lamongan.
Penulis sangat akrab dengan K. Abdoellah Iskandar yang merupakan Guru tercinta, dan juga telah lama bersama sebagai guru PGANU sejak tahun 1968, Penulis juga sebagai Sekretaris beliau di Yayasan Wattarbiyah Sunan Giri Sawahan Lamongan sejak tahun 1982 sampai wafatnya beliau dan sampai saat ini.
Selama bergaul dengan K. Abdoellah Iskandar ini Penulis banyak menimba ilmu dan dapat memberikan penilaian serta kenangan di bawah ini, bahwa beliau memiliki sifat:
a. Jiwa kejuangan yang tinggi dan tanpa pamrih.
b. Bila berjanji bertemu dan mengadakan rapat selalu tepat waktu.
e. Selalu menjaga kesehatan, berkaca mata minus.
d. Berpakaian rapi perlente, bersongkok dalam acara resmi, dan sering bersarung jika bergaul dalam dunia santri.
e. Gemar bela diri silat dan gemar makanan enak bergizi.
f. Arif, sederhana, tidak materialis, sehingga memiliki rumah pribadi baru tahun 1985 di Perumnas Made.
g. Jujur dan betul-betul memperhatikan dunia pendidikan.
h. Bicara harian pelan, ramah, tegas, namun jika berkhutbah lantang.
i. Berjuang di jalan politik dalam PNU dan PPP
j. Mendapat julukan dari orang NU ” Dua Serangkai Politikus ” terdiri K. Abdoellah Iskandar Dan KH. Sjoekran. k. Mendapat julukan dari orang Lamongan ” Trio Santri Unggul ” terdiri K. Abdoellah Iskandar, R.H. Moeljadi, H. Ali Affandy yang ketiganya adalah jebolan Ponpes Langitan.
1. K. Abdoellah Iskandar berwajah ganteng simpatik, tidak pernah berbuat yang tercela dalam hidup dan perjuangannya.
m. Dalam tahun 1980-1990 K. Abdoellah Iskandar bersama KH. Asjikin Ghozali menjadi rujukan orang-orang NU Lamongan
K. Abdoellah Iskandar bekeija sebagai Pegawai Negeri Sipil di KUADepartemen Agama Kab. Lamongan sejak tahun 1950 dan pensiun pada tahun 197.6.
Keahlian yang mendalam K. Abdoellah Iskandar ialah bidang Tarikh Islam, Feqih, Syariah,. Dalam hal ubudiyah dan fatwa hukum Islam beliau sangat berhati-hati. Salah satu keistimewaan beliau adalah sebagai pendidik lapangan (tipe luar) jarang istiqomah mengajar di rumah kecuali isterinya yang istiqomah mengajar mengaji di rumah.
Sebuah perbuatan yang baik selalu dilakukan beliau yaitu senang bersilaturahmi dengan naik sepeda pancal ke rumah kawan, murid dan keluarganya, beliau tidak pernah mempertentangkan masalah khilafiyah namun selalu menunjukkan kebenaran Islam dalam faham Ahlussunnah waljamaah yang sesuai A1 Qur’an dan A1 Hadits.
Beliau sangat sedih jika melihat ada sebuah Madrasah NU dan Madrasah Muhammadiyah yang bubar tidak ada muridnya.Kepada Penulis beliau berpesan agar benar-benar mendalami A1 Qur’an dan Sunnah Rasul jika ingin menjadi orang pintar yang beriman.
Pada tahun 1990 setahun sebelum wafat K.Abdoellah Iskandar memberikan argumentasi kepada Penulis sehubungan adanya upaya agar beliau aktif di Golongan Karya, kata beliau:
Hei! Chambali, anda salah satu santriku yang menjadi abdi negara, abdi pemerintah, berbuatlah kejujuran dimana kau berada! Anda tahu Saya aktif di PPP bersama Kiai Abdul Aziz Choiri karena untuk menjaga keseimbangan pembangunan bangsa lewat jalur Ulama. Jadi tidak semua Ulama harus di Golongan Karya, biarkan ulama di PPP, di PDI, di Golkar, yang penting pengabdiannya. Bila Anda sebagai pegawai negeri terpaksa ” di- Golkarkan” maka jadilah orang baik , jadi kader yang tangguh dan bertaqwa pada Allah Swt!”
Pada tahun 1965 dan 1966 K.Abdoellah Iskandar menjadi figur orang NU yang disegani dan dikenal orang sebagai pelopor pembasmian PKI di Kabupaten Lamongan bersama KH.Moch. Mastoer Asnawi yang memberi fatwa dibantu KH. Sjoekran,
beserta tokoh lain yang mendapat dukungan ABRI saat itu dan para eksponen 66 di Lamongan.
Ada beberapa komentar dari beberapa orang kalangan NU tentang pribadi K. Abdoellah Iskandar yaitu :
1. H. M. Maksoem Abdoerrachman
Selama saya bergaul dengan K. Abdoellah Iskandar selaku senior Saya, maka melihat adanya sifat kesederhanaan, tegas dan moderat.
2. KH. M. Ghufron Sholichin
Selama Saya berkawan dengan Dia, sampai sama-sama di MUI dapat melihat K. Abdoellah Iskandar pandai membina kader santri dan tentara, beliau berpesan menjadi Ulama itu harus hati-hati, menjaga diri dan harga diri yang tetap menjadi panutan. Kepada pemuda beliau mengharap agar banyak belajar yang konferehensif.
3. KH. Suudi Karim
Selaku senior Saya, K. Abdoellah Iskandar termasuk tipe orang ikhlas, apabila ada permintaan yang bisa dibantu maka dengan segera beliau memberikan sesuai kemampuan.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Enam Figur Ketua DPRD Kabupaten Lamongan (1951-2004),  halaman 13-20

 

Trimarjono

TrimaryonoTrimarjono Lahir di Ngawi, 14 April 1933, beragama Islam.
Pendidikan:
Tahun 1944, Menamatkan pendidikan dasar di Lumajang,
Tahun 1947, Menamatkan pendidikan SMP di Probolinggo,
Tahun 1950, Menamatkan pendidikan Sekolah Guru B di Madiun,
tahun 1955,  Menamatkan pendidikan SMA di Madiun,
Tahun 1962, Memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Universitas Gajah Mada
Karirnya diawali dengan menjadi perwira Angkatan Laut dengan pangkat letnan, sambil menjadi Sekretaris Wakil Ketua DPRGR (1963), Wakil Ketua OPRGR (1964), Kepala Kejaksaan KODAMAR VIII Semarang, Sekwilda Tk. I Jawa Timur hingga tahun 1967-1985, Wakil Gubernur Jawa Timur (1985-1990). Sekarang menjabat sebagai Ketua DPRD Tk. I Jawa Timur dengan pangkat Laksamana Pertama TNI AL (Purnawirawafi).
Selain itu ia menjadi anggota kehormatan PWI Jawa Timur, Dewan Penyantun IKIP Negeri Surabaya, Ketua Umum KAGAMA dan Ketua Umum KONI Jawa Timur, Ketua Umum Perkumpulan Epilepsi indonesia Cabang Jawa Timur Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, Rektor Univer­sitas Wijaya Kusuma Surabaya dan Iain-Iain.
Bersama istrinya, Harnani dikaruiai tiga orang anak. Masing-masing Astini, Andriyanto dan Avianti. Sekarang tinggal di Jl. Jemursari Selatan 1/30 A Surabaya, telepon 814130. Sehari-hari berkantor di Gedung DPRD Tingkat I Jawa Timur Jl. Indrapuri No. 1 Surabaya, telepon 338750.

Pria yang pernah menjadi guru sekolah Dasar pada tahun 1950-1953 ini memang sebagai pekerja keras. Tanggung jawab dalam mengemban tugas dan kegi- gihan serta keuletannya dalam menjalankan prinsip-prinsipnya selalu dipadukan de­ngan gayanyayang blakblakan. “Semua itu harus dipadukan, baru dijadikan gerakan,” tandasnya.
Konsep itu digali berdasarkan pengalaman-pengalamannya jauh sebelum men­jabat sebagai Ketua DPRD. Semenjak menjalani pendidikannya sudah hidup di lingkungan para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan aspriasi rakyat kecil. “Maklum saya ini orang desa, jadi harus berani mengadakan terobosoan-terobosan,” katanya. Maka tak heran kalau di usia senja ini ia masih tetap eksis dan konsisten terhadap apa yang men­jadi kebijaksanaannya. Sehingga tenaga dan pikirannya masih saja dimanfaatkan di berbagai tempat.
“Sebenarnya resepnya mudah saja. Kita harus menyenangi tugas yang dipercaya- kan dan menjalankannya dengan penuh ra­sa tanggung jawab. Kepercayaan harus disyukuri disertai rasa pengabdian,” tambah- nya.

Meski begitu ia menyadari setiap lem- baga apapun pasti ada saja permasalahan- nya. Hanya saja sejauh mana permasalahan dapat segera diredam, ini yang menjadi tanggung jawab pemimpin yang bersangkutan. Untuk itu, menurutnya pemimpin ha­rus berani mengambil resiko. Permasalahan di saring sedemikian rupa sehingga bisa dengan mudah mengambil keputusan. Makanya seorang pemimpin harus selalu me-ngontrol anak buahnya.
Dalam hal ini Trimarjono lebih senang memakai manajemen by beras kencur. Artinya harus diubleg, di bolak-balik sehingga tidak menep dan rasanyapun tidak berubah. “Jadi apa yang saya pimpin itu selalu saya ubleg, saya gerakkan terus melalui kontak ataupun komunikasi. Dengan begitu banyak hal yang akan bisa diketahui. “Suatu contoh kalau ada kunjungan kerja komisi saya selalu ikut, tapi bukan sebagai ketua melainkan sebagai pengikut. Lha yang memimpinya ketua komisi itu sendiri,” katanya.
Malah ia juga pernah menghadap sekaligus memberikan laporan kepada Komisi E Bidang Kesejahteraan Rakyat. “Selaku ke­tua yayasan orang tua, kusta juga epilepsi saya menghadap komisi yang bersangkutan bersama para ahli kusta, psikologi dan pakar-pakar lainnya, hampir sehari pe- nuh. Padahal Ketua DPRD nya juga saya. Ini bukan show, tapi benar-benar saya lakukan dan saya tak merasa canggung, biasa saja,” jelasnya.
Nampaknya Jawa Timur yang semakin pesat pembangunannya ini membutuhkan figur sepertinya. Terbukti sudah enam kali pergantian gubernur namun ia masih tetap difungsikan di pos-pos penting Pemerintahan Daerah Tingkat I Jawa Timur. “Memang kepemimpinan itu harus terbuka, meskipun tidak seluruhnya. Dengan memberitahu tugas dan kewajiban anak buah, beban pimpinan akan berkurang. Sehingga kalau sudah menjadi sistem kita tinggal mengontrol,” tambahnnya.
Menurut peraih bintang kehormatan Jalasena Nararnya dan Satya Lencana Kesetiaan XXIV tahun ini, pimpinan itu ibarat barang dagangan harus dijaga bagaimana agar tetap laku. Tidak usah ikul kroyokan, memberi kesempatan pada stafyang lain, bersikap bijak, berani mengambil keputusan dan Iain-Iain. Dan dalam posisi yang terjepit, seorang pemimpin harus memiliki tempat bertahan. “Seperti cerita kucing yang dikejar macan. Pada keadaan ke- pepet kucing memanjat pohon. Lha si- macan nggak bisa mengejar, Cuma melihat dari bawah. Ini ilmu perlambang. Menafsirkannya terserah,” lanjutnya.
Yang tak kalah menariknya dari pria asli Jawa Timur ini adalah konsepnya dalam menangkal pendapat sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa wakil rakyat (DPR) biasanya hanya duduk, diam dan dapat duit.” Itu masih sayatambah dengan dengkur dan dableg,” tandasnya.
Selanjutnya dijelaskan, sebagai waikil rakyat, mereka seharusnya memumpuk diri agar bisa memenuhi konsep ABCD (Aspiratif, Berani bicara, Control dan Demokratis). “Bagaimanapun juga sekarang ini masyarakat cenderung lebih kritis menilai tugas dan tanggung jawab para wakil rakyat,” ungkapnya. (AS-8)

Sunarto Sumoprawiro

Sunarto001Sunarto Mantan prajurit Kopasus kelahiran Wonorejo III, Surabaya ini pernah menjabat sebagai Aslog dan Aster Kodam V/Brawijaya. Sebelumnya lebih banyak bertugas di Jakarta. Menerima penghargaan bintang Eka PakciNararya dari Presiden Soeharto, yang diberikan pada mereka yang sudah bertugas minimal dalam lima operasi. Sekarang menjabat sebagai Walikotamadia Surabaya periode 1994-1999.

Menikah dengan Endang Pertiwi dan bersama keluarga tinggal di rumah dinas, Jl. Walikota Mustajab No. 61 Surabaya, telepon 45Q93, 46890. Sehari hari berkantor di Jl. Taman Surya No. 1 Surabaya, telepon 43051, 43071 dan 41726.

Semenjak dilantik sebagai Walikota Su­rabaya, ia sudah mempunyai motto yang akan dikembangkannya di semua jajaran. Yaitu: disiplin adalah napasku, kesetiaan adalah kebanggaanku dan kehormatan adalah segala-galanya. “Saya akan mengajak staf dan bawahan saya untuk menerapkan motto itu Sebab ini sudah diuji kebenarannya di Angkatan Darat. Saya akan ajarkan bagaimana disiplin, kesetiaan dan kehprmatan itu. Kehormatan itu segala- galanya. Nyawa pun bila perlu saya pertaruhkan demi persatuan,” ungkapnya.

Sunarto tak menyangka kalau akan kembali ke kota kelahirannya, bahkan menjabat seba­gai orang nomor satu di Surabaya. Baginya, sebagai prajurit, menjadi apa saja tidak ada masalah. Dan ia siap ditem patkan di mana saja. “Awake dhewe iki prajurit, dadi apa ae terserah sing dhukuran. Niat saya cuma satu, pengabdian. Dan ini bisa dilakukan di mana saja sesuai perintah atasan. Termasuk kembali dan ikut membangun Sura­baya,” katanya dengan dialek Suro boyoan yang kental.

Dalam menjalankan tugas, ia tetap bersedia menerima kritik, tapi jangan yang mengadu domba. la punya trik tersendiri untuk mengha dapi kritik. “Pokoknya kalau saya diapiki, aku luwih apik. Tapi nek diga- rahi, ya tahu sendiri,” tegasnya.

Menghadapi stafnya yang mbeling, ia akan berusaha merigingatkan dulu. Tapi kalau tidak bisa diingatkan, ya diganti saja. Tapi lalu jangan menganggapnya sebagai pejabat yang ‘keras’. “Aku ini orangnya gaK tegoan. Tapi nek aku disodok teko mburi, ya seje maneh itungane,” jelasnya.

Di bawah kepemimpinannya, Surabaya berhasil merebut kembali Adipura Kencana, setelah gagal mempertahankannya pada tahun 1994. Menurutnya, hal ini berkat kerjasama semua warga Surabaya, yang mau kotanya jadi bersih. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa peran serta masya- rakat dan PKK memberi sumbangan nilai yang sangat tinggi, yaitu 97,88. Tanggung- jawabnya cuma menyatukan semua kepala dinas dan lapisan masyarakat. “Ibarat mau perang, saya komandannya, harus bisa mengatur semua anak-buah.”

Ia belajar dari kekurangan tahun 1994, ketika gagal mempertahan kan Adipura Kencana. Waktu itu tak ada program in- ovatif, jadi dianggap tak ada kemajuan. Padahal untuk Adipura Kencana, kriterianya semakin tinggi. Untuk itu selain melakukan program rutin, Pemda Surabaya juga menjalankan program baru, seperti membentuk petugas khusus pemelihara got atau saluran air di beberapa kawa san. Lalu meningkatkan kesejahteraan pasukan kuning.

“Bagaimana mau menggerakkan pasu­kan kuning dengan baik, kalau kesejah- teraannya tidak dipikirkan? Karena itu saya buatkan mereka rumah di daerah Rungkut, puskesmas di Grudo dan asuransi jiwa. De­ngan demikian morilnya tinggi untuk bekerja. Barangkali ini yang menjadikan kita menang,” jelasnya. Namun meski berhasil meraih Adipura Kencana, ia menyatakan belum puas, sebab potensi warga Surabaya masih bisa ditingkatkan lagi dalam menciptakan kota yang bersih.

Dalam memimpin gerakan kebersihan, ia selalu menekankan kepada para aparatnya agar ‘jangan kalah perang melawan sampah’. Pesan itu tidak hanya diucapkan- nya dalam acara keliling 28 kecamatan, tapi juga dalam pelantikan pejabat baru di ling- kungan Pemda Surabaya, la selalu menya­takan akan mengganti pejabat yang kalah perang melawan sampah. “Bagi yang tidak mampu menyesuaikan dengan garis kebijakan walikota, harus rela mundur,” tegasnya.

Ia tentu saja tidak cuma melecut ma­syarakat. Di tengah lesunya semangat menggairahkan gerakan untuk merebut Adipura Kencana, ia melihat makna strategis di balik keinginan Gubernur Basofi Soedirman menjadikan Kali Mas sebagai pusat kegiatan ASEAN Tourism Forum (ATF). Lewat kampanye singkat, yang diawali dengan penggelontoran Kali Mas, Surabaya berhasil mempertontonkan gairah masyarakat dalam mendukung gerakan bersih-bersih Kali Mas. Hasilnya, Kali Mas yang kotor menjadi lebih bersih.

Selain itu, lewat kunjungan kerjanya di 28 kecamatan, hanya dalam waktu satu setengah bulan, ia berhasil menghimpun dana partisipa si kebersihan masyarakat sekitar Rp. 400 juta. Dana partisipasi ini di antaranya berbentuk sumbangan 48 kontainer, 28 mesin pemotong rumput, 1.055 baliho dan 864 papan slogan. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 160-161  (CB-D13/1996-…)

Basofi Soedirman

BasofiMohammad Basofi Soedirman Lahir di Bojonegoro, 2 Januari 1941, beragama Islam. Alumni Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1963. Pernah masuk pasukan Baret Merah, kemudian dilugaskan di Kodam Brawijaya, Jawa Timur. Pengalaman tempurnya antara lain di Maros dan Timor Timur (tiga kali).

Sebelum menjabat Gubarnur Jawa Timur, sejak Agustus 1993, ia pernah dipercaya sebagai Komandan Kodim Jember, Mil Gubarnur DKI Jakarta dan Ketua DPD Golkar DKI Jakarta. Pernah mendapat penghargaan BASF Award, karena album lagu dangdutnya “Tak Semua Laki-Laki” laku keras di pasaran.

Menikah denganMarianilsnomo.Bersama keluargatinggal dirumah dinas Gubernuf Jawa Timur, Jl. Imam Bonjol Surabaya, telepon 574700 dan 570936. Selaku Gubernur Jawa Timur berkantor di Jl. Pahlawan No. 110 Surabaya, telepon 333805, 24012 dan 24013.

Sejak kecil ia sudah bercita-cita ingin menjadi tentara. Ini karena ayahnya, almarhum Letjen Sudirman, sering mengajaknya melihat kegiatan militer. Seperti me­lihat ke pedalaman atau menyaksikan olahraga tentara. “Itu yang membuat saya merasa kehidupan saya itu ya militer,” ungkapnya.

Meski begitu, ia masuk militer karena keinginannya sendiri, bukan karena anjuran ayahnya. “Bapak tidak pernah menyampaikan keinginannya mengenai anak-anaknya supaya jadi apa. Pokoknya jadi orang baik-baik. Nah, waktu saya masuk tentara, orang tua justru tidak tahu. Soalnya saya izin orang tua setelah saya lulus,” ungkapnya sembari tertawa.

Mungkin baru pertama kali ini ada di Indonesia, dalam sebuah keluargaadadua jenderal. Sang Bapak lebih tinggi pangkat- nya, yaitu Letnan Jenderal, sedang ia sendiri baru Mayor Jenderal. Namun sewaktu menjadi pejabat, ia tak pernah membawa- bawa nama bapaknya. Hal itu dilakukan atas anjuran ayahnya sendiri.

la melihat bapaknya sebagai seorang yanghumanis, kemanusiaannyatinggi. “Kalau melihat orang sedang sengsara, pasti Bapak akan tergerak hatinya. Tidak peduli siapa pun dia orangnya. Musuh yang mengeluh sakitpun, pasti akan ditolong,” ungkapnya.

Sedikit-banyak ia juga dipengaruhi oleh sikap bapaknya itu. la boleh dikata masih kena sawabnya orang-tua. Jadi meski tidak pernah membawa-bawa nama orangtua, tetapi ia merasakan pengaruhnya.

Ada banyak pengalaman mengenai sa’wab itu. Misalnya ia pernah menjabat di tempat di mana ayahnya dulu juga berada di sana. Sewaktu bertugas di Maros, Sula­wesi Selatan, ternyata nama bapaknya terkenal sekali di situ. Sewaktu ia bertugas di Jawa Timur, semua orang tahu bahwa ia anaknya Pak Sudirman.

Pengalaman tempurnya yang paling banyak dipuji adalah di Timor Timur. la pernah ditugaskan ke daerah itu tiga kali. Pertama kali waktu ia menjadi komandan batalyon. “Itu tahun 1975 kalau tidak salah ingat ya. Berikutnya waktu saya komandan brigade. Kemudian waktu saya jadi asisten Kodam Brawijaya, kembali lagi ke Timor Timur. Lumayan lama di sana. Yang pertama kali itu setahun. Kedua kali delapan bulan, dan yang ketiga enam bulan,” paparnya.

Sewaktu tugas di Timor Timur, sedang ramai-ramainya pertempuran. Dan syukurlah, ia tak pernah kenatembak. Dari pengalaman ini, ia merasa, jago tempur itu tidak ada. Yang ada barangkali faktor luck. Tetapi faktor luck juga harus pakai perhitungan “Saya’ banyak mengalami peristiwa-peris tiwa di mana orang mengatakan saya hebat, Padahal kalau orang tahu rahasianya, orang itu tidak akan mengatakan dirinya ti­dak hebat,” ungkapnya.

Namun karir militernya tak bisa terus berlanjut, karena ia diangkat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Waktu itu usianya 48 tahun dan ia diminta pensiun sebagai tentara. la menganggap tidak ada masalah de­ngan jabatan barunyaitu. “Dan saya juga tidak kaget. Memang terusterang saja, waktu saya ditunjuk oleh Golkar, dalam hati saya bertanya-tanya, ngapain ya, kok saya ditaruh di sini. Disuruh merangkap jadi Wagub dan sekaligus Ketua Golkar DKI. “Wong saya ini dari kecil senangnya jadi tentara,” ungkapnya.

Sejak menjadi Ketua DPD Golkar DKI, ia sering didaulat untuk menyanyi dalam berbagai forum. Biasanya menyanyi lagu dangdut. Makin lama ia makin merasa bisa menjadi penyanyi dangdut. Lantas ia menelurkan album “Tak Semua laki-Laki” yang ternyata laku keras di pasaran, sehingga ia berhak memperoleh BASF Award.

Sesudah menjadi Gubernur Jawa Timur, kedekatannya dengan masyarakat tidak berkurang. la cukup akrab dengan para artis musik dan film. Menurutnya, untuk menjadi pemimpin di Jawa Timur itu, sebenarnya tidak susah. Yang penting ada keterbukaan dan komunikasi. Kalau memberi sesuatu pada masyarakat Jawa Timur harus jelas, dengan argumen yang baik. “Bila hal itu dilakukan, saya yakin mereka pasti mau menerima. Jangan sekali-kali menawarkan sesuatu tanpa argumen. Pasti akan ditolak mentah-mentah,” ungkapnya.

Dalam menjalankan tugas, ia akan mendahulukan perbaikan Sumber Daya Manusia. Termasuk perbaikan mental aparat dan birokrasi. Untuk menyamakan persepsi de­ngan aparatnya, ia menggu nakan berbagai kiat. Misalnya dengan selalu memberi teladan yang baik pada aparatnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 131-133 (CB-D13/1996-…)

Mohammad Noer

M NoerMohammad Noer lahir di Kampung Beler, Desa Rong Tengah Kabupatern Sampang, 13 Januari 1918, beragama Islam.
Pendidikan:
Tahun 1932, Lulus HIS di Bangkalan,
Tahun 1936 MULO di Blitar,
Tahun 1939 MOSVIA di Magelang.
Mengawali karir di kantor Kabupaten Sumenep (1939-1940), di Kantor Kawedanan Ambunten (1940- 1941) dan jadi Mantri Kabupaten Bangkalan (1941-1943).
Tahun 1950 sebagai Penjabat Sementara Patih Pamekasan, Bupati Bangkalan (1960-1965), Pembantu Guber- nur (Residen) Jatim Wilayah Madura (1965-1967), Penjabat Sementara Gubernur Jatim (tahun 1967), Penjabat Gubernur Jatim (1967-1971) dan Gubernur Jatim (1971-1976).
Tahun 1973-1978 dan 1985-1992 terpilih sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat, menjadi Duta Besar di Prancis (1976-1980), anggota Dewan Pertimbangan Agung (1981-1983,1983-1988), Rektor Universitas Bangkalan (1985 1988) dan anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (1989). Saat ini diantaranya menjabat sebagai Ketua Konsor- sium Pembangunan Jembatan Surabaya – Madura, Ketua Yayasan Jantung Sehat Jatim dan Ketua Yayasan Ajidarma.
Banyak memperoleh penghargaan, diantaranya Bintang Mahaputera Utama III, Bintang GrandOfUcier d’Ordre du Merite dari pemerintah Prancis, Lencana Manggala Karya Kencana BKKBN, serta Bintang Legiun Veteran.
Menikah dengan Mas Ayu Siti Rachma dan dikaruniai 8 putra. Kini tinggal di Jl. Ir. Anwari 11, Surabaya, telepon 65458.
Jawa Timur agaknya sudah tidak bis dipisahkan dengan namanya. Moharn mad Noer begitu dikenal oleh warga Jatim karena berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan yang dilakukannya. Meski tak lagi, menjabat sebagai Gubernur Jatim, namun masyarakat masih menganggapnya sebagai salah seorang sesepuh yang patut untuk dimintai pendapat.
Tak heran kalau rumahnya tak pernah sepi dari tamu. Karena jadwal kegiatannya cukup padat, ia harus mengatur waktu kun jungan tamunya dengan cermat. “Saya punya buku agenda yang mengatur jadwal kegiatan sehari-hari. Selain itu juga ada papan tulis yang berisi kegiatan saya. Kita memang harus berdisiplin soal waktu,” ungkapnya, sembari memperlihatkan buku agendanya. Dalam buku itu, bahkan aktivitas yang akan dilakukan sebulan kemudian sudah tercatat rapi.
Ia berupaya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, agama, dan keluarga. Maka dalam mewujudkan tugas, ia selalu berusaha meningkatkan taraf hidup ma¬syarakat, khususnya masyarakat kecil. Sewaktu menjabat sebagai Gubernur Jatim ia telah bertekad agawe wong cilik gumuyu membuat rakyat kecil tertawa.
Ada beberapa peristiwa yang sangat berkesan di hatinya, sewaktu masih men¬jabat sebagai orang pertama di Jatim. Peristiwa pertama adalah saat mefighadapi kasus carok yang berkepanjangan antara sebagian warga Bangkalan dan Sampang Karena kedua kelompok masyarakat itu saling dendam kesumat untuk melakukan ca¬rok, maka peristiwanya jadi berlarut-larut dan sukar diatasi, sehingga meresahkan mayarakat lainnya.
Bagaimana tindakannya untuk menyelesaikan kasus gawat itu? “Sayatahu bahwa orang Madura sangat menghormati Sunan Ampel. Maka saya mengumpulkan kedua pihak yang bertikai di halaman Mesjid Sunan Ampel untuk membaca ikrar dan sumpah bahwa mereka tidak akan melakukan carok lagi. Dan sesudah itu syukurlah carok tak terjadi lagi,” ungkapnya.
Cara-cara religius memang dipakainya untuk menyelesaikan masalah. Seperti se- waktu terjadi musibah penerbangan di Srilanka, 4 Desember 1974 yang menewaskan 184 jemaah haji dari berbagi daerah di Jatim. Masalahnya adalah bagaimana mengirimkan kembali jenazah itu kepada keluarganya, karena kesulitan identifikasi jenazah. Kembali halaman Mesjid Sunan Ampel menjadi jawabannya. Dengan dimakamkan di tempat itu, segenap keluarga yang ditinggalkan akhirnya mengikhlaskan jenazah parasyuhada itu dikuburkan di satu tempat.
Peristiwa lain yang berkesan adalah sewaktu menghadapi kasus jaring ikan di Muncar tahun 1974. Saat itu bupati setempat merasakan taraf hidup masyarakatnya, yang sebagian besar nelayan, belum begitu menggembirakan. Hasil mereka menangkap ikan belum seperti yang diharapkan.
Maka bupati lalu berinisialif membuat jaring baru yang ditarik dua kapal. Dan hasilnya sangat menggembirakan, karena berhasil menangkap bertonton ikan, padahal dengan jaring biasa yang hanya menggunakan satu kapal, cuma diperoleh sekitar 25 kg.
Kesulitan timbul, ketika nelayan di daerah lain merasa cara penjaringan ikan seperti itu akan cepat menghabiskan ikan dilautan. Lalu terjadi insiden pembakaran perahu-perahu nelayan Muncar. la kemudian mengumpulkan para demonstran yang ti¬dak menyetujui pemakaian jaring baru itu.
“Saya katakan pada mereka, apakah ka¬lian ingin maju apa tidak? Kalau ingin hidup lebih baik lagi, maka sistem yang baru itu harus diterapkan,” tegasnya. Tampaknya para nelayan bersedia mengikuti sarannya. Namun timbul problem berikutnya, bagai¬mana mengadakan kapal yang lebih banyak buat mereka, karena jaring ini ditarik dua kapal.
Masalah terpecahkan setelah ia menghadap PresidenSoeharto. Hasilnya, Pemda Jatim mendapat kredit untuk pengadaan kapal. Ini hanya beberapa contoh keberhasilannya dalam membangun Jatim, yang ditandai dengan perolehan anugerah Parasamya Purnakarya Nugraha.
Sebagai atasan ia berusaha untuk memberi contoh pada bawahannya. Kepada pa¬ra stafnya ia selalu menekankan rasa cinta tanah air dan menanamkan sikap agar bekerja tidak hanya atas dasar perintah. “Sewaktu saya menjadi Bupati Bangkalan, saat itu tak tersedia dana yang cukup untuk melakukan pembangunan. Namun dengan swadaya masyarakat akhirnya kami bisa membangun jalan-jalan. Sekolah-sekolah di desa terpencil kami bangun. Dengan adanya guru di desa tersebut diharapkan bisa memacu perkembangan desa,” ung-kapnya.
Saat menjabat Wedana Arosbaya, Ma¬dura, tahun 1947, ia merasakan pahit getirnya perjuangan melawan Belanda. la bergabung dengan pasukan gerilya, sehingga harus berpisah dengan keluarganya. Saat itu istrinya sedang hamil tua, mengandung anaknya yang ketiga. Bersama kedua anaknya yang masih kecil-kecil, sang istri terpaksa mengungsi ke luar kota Arosbaya, menuju Desa Karang- duwak. Di desa ini anak ketiganya dilahir-kan.
Serangan Belanda itu terjadi setelah Belanda melanggar persetujuan Linggarjati. Ketika itu Madura akan dikuasai untuk dijadikan negara boneka Namun dengan tegas ia menolak ajakan Belanda mendirikan Negara Madura. Karena itu tawaran Belanda untuk mengakhiri permusuhan tidak digubris olehnya. Waktu itu kelompok gerilya mulai terdesak, sehingga akhirnya diputuskan untuk hijrah ke Jawa dan membentuk pemerintahan Madura di pengasingan.
Untuk meninggalkan Madura waktu itu tidak mudah, karena laut di sekitar Madura sudah dikuasai Belanda. Namun akhirnya ditemukan sebuah tempat penyebrangan paling baik untuk menghindari kemungkinan disergap patroli Belanda, yaitu di muara sungai Desa Klampis. Dari desa inilah, sekitar 20 dari 22 perahu peng’ungsi dapat mendarat dengan selamat di suatu pantai daerah Tuban. “Demi membela nusa dan bangsa, saat itu kami harus rela berpisah dengan keluarga,” ungkapnya.
Sewaktu menjadi Duta Besar Prancis, ia selalu memacu mahasiswa Indonesia yang sedang sekolah di sana, agar bisa berprestasi. Dan menurutnya kemampuan ma¬hasiswa Indonesia tidak kalah dengan mahasiswa dari negeri lainnya. Tak jarang ada mahasiswa yang lulus cumlaude
“Dalam soal ilmu, kita tidak kalah dengan ilmuwan Prancis. Pernah pada suatu seminar, ilmuwan Prancis terpukau oleh presentasi yang dibawakan delegasi kita, meski menggunakan Bahasa Indonesia. Soal bahasa memang tidak ada masalah, karena kami menyediakan penerjemah,” jelasnya.
Menyinggung soal potensi utama Jatim, menurutnya terletak pada sumber daya manusianya. Jangan sampai kepadatan penduduk justru menjadi beban. “Lihat saja Je-pang, meski sumber daya alamnya terbatas, namun karena manusianya urv ggul, bi-sajadi bangsa yang maju. Untuk itu kita harus menanamkan patriotisme dan nasi-onalisme kepada para pemuda kita. tegasnya.
Industrialisasi di Madura menurutnya sudah saatnyadijalankan untuk memberantas kemiskinan dan kebodohan. Bayangkan saja, saat ini hanya 12% siswa SD yang bisa meneruskan ke SMP, sebelum ada Wajib Belajar 9 tahun. Dan 64% wilayah Madura mendapat Inpres Desa Tertinggal “Dengan adanya industrialisasi, rakyat Madura bisa meningkatkan kesejahteraannya Lagipula mereka juga sudah biasa kerja di pabrik-pabrik. Nanti direncanakan Madura akan jadi tempat industri hitech, seperti elektronika. Tentu kita harus mencegah agar hal-hal yang maksiat tidak terjadi,” tegasnya.
Dalam mendidik ke delapan anaknya, ia mengadakan pendekatan secara kekeluar gaan. Diusahakannya untuk selalu bisa makan malam bersama keluarga. Tak heran kalau meja makan keluarganya sampai berisi 14 kursi. Dalam kesempatan itulah ia berkomunikasi dengan anak-anaknya, mem berikan petuah dan nasehat.
“Saya tekankan pada anak-anak, agar jangan tergantung pada siapapun, kecuali Allah SWT. Mereka jangan tergantung kepa¬da saya, karena suatu saat pasti saya akan pensiun sebagai pejabat. Saya mendiiplinkan mereka agar bisa menuntut ilmu dengan sebaik- baiknya. Sehingga mereka mau belajar dengan kesadarannya sendiri. tanpa harus diperintah,” paparnya.
Untuk menjaga kesehatan, dulu setiap pagi ia rajin jogging. Namun oleh dokter ia tak diperbolehkan olahragayang bertumpu pada kaki. Akhirnya ia berganti dengan olah raga renang. Hampir setiap hari ia berenang di salah satu hotel berbintang di Surabaya. Kalau sedang berada di Jakarta, ia juga menyempatkan diri untuk berenang.
“Kalau pikiran ruwet harus segera dihilangkan dengan menghibur diri. Misalnya bermain dengan cucu, melihat ayam bekisar dan kate. Sesudah itu biasanya pikiran tenang kembali,” ungkapnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 86-89 (CB-D13/1996-…)

Imam Oetomo

imam oetomo001Mayor Jenderal TNI AD Imam Oetomo ini kelahiran Jombang pernah menjabat sebagai Danrem 084/Bhaskara Jaya tahun 1989- 1992, Kasdam VI Brawijaya tahun 1992 dan Asisten Personalia (Aspers) Kepala Staf Angkatan Darat. Sekarang menjabat sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya.
Bersama keluarga tinggal di Jl. Raya Darmo No. 100, Surabaya, telepon 510100. Sehari hari berkantor di Jl. Raden Wijaya No. 1, Surabaya, telepon 512455.
Selaku Pangdam V/ Brawijaya, ia meng. inginkan masyarakat Jawa Timur mempunyai kekuatan yang mampu menangkal berbagai permasalahan di kemu- dian hari. Membuat ruang, alat dan kondisi yang tangguh. “Tidak hanya kekuatan mi-ii- ternya, tetapi secara keseluruhan kita ajak masyarakat membantu pembangunan,” ungkapnya.
Sejak dulu, ia selalu ingin dekat dengan rakyat, demikian jugadi pasukan. Sehingga ia mengerti apa maunya mereka itu. Jadi dalam menentukan kebijakan-kebijakan juga tepat. “Sekarang ini di Jawa Timur perkem- bangan industrialisasi sangattinggi. Akibat- nya, masalah buruh dan tanah, yang akan diperguna kan untuk meluaskan pabrik, menjadi peka. Sehingga dibutuhkan pende- katan yang akan menyangkut hajat hidup rakyat itu sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, dampak industrialisasi di antaranya orang kaya akan lebih banyak, demikian juga orang miskin semakin ba¬nyak, sehingga akan menimbulkan kesen- jangan ekonomi-sosial yang tinggi. Hal itu perlu untuk diwaspadai. Karena kesenjangan sosial yang tinggi bisa menyebabkan masalah SARA. “Jadi menurut saya, potensi kerawanan di Jatim antara lain soal buruh, tanah dan SARA,” tegasnya.
Sebagai contoh soal buruh, kalau tuntutan kebutuhan hidup tidak terpenuhi, walau upah minimal sudah diumumkan, bisa menjadi permasalahan. Kalau misalnya yang didemonstrasi itu warga negara keturunan, akhirnya menjadi masalah SARA.
Untuk itu ia akan memberikan perhatian khusus dan pembinaan terhadap para USaha dan buruh. “Jangan sampai stabilitas keamanan terganggu oleh kerawanan-kerawanan tadi. Pangdam itu melakukan pembinaan teritorial supaya stabilitas daerah terjaga. Artinya, kita tidak sekedar menjadi pemadam kebakaran, ketika timbul masalah. Panglima akan selalu melihat situasi yang sebenarnya terjadi,” paparnya.
Dalam menghadapi permasalahan dan melakukan pendekatan kepada masyarakat ia menerapkan falsafah Jawa, yaitu ngudarasa, among rasa, mijil tresna, agawe karva. Ngudarasa, mengatur perasaan diri sendiri lebih dulu, sebelum berbagi rasa dengan orang lain. Apabila masing-masing telah mampu mengatur rasa dirinya, maka akan saling menghormati. Dan kemudian mijil tresna atau muncullah cinta. Apabila satu sama lain bisa saling mengerti ten- tunya kita bisa saling mencintai. Kalau su- dah saling cinta maka mengerjakan apa pun akan menjadi mudah.”
Hal itu, menurutnya bisa juga diterapkan pada para pengusaha. Dekati bawahan de¬ngan baik, sehingga produktivitas akan le¬bih tinggi. Cobalah selami apa yang dirasakan buruh. Lakukan pendekatan manusiawi. Kalau sakit diberi pengobatan, diberi kesempatan beribadah, kalau lebaran diberi USaha dan buruh. “Jangan sampai stabilitas keamanan terganggu oleh kerawanan-kerawanan tadi. Pangdam itu melakukan pembinaan teritorial supaya stabilitas daerah terjaga. Artinya, kita tidak sekedar menjadi pemadam kebakaran, ketika iimbul masalah. Panglima akan selalu melihat situasi yang sebenarnya terjadi,” paparnya.
Dalam menghadapi permasalahan dan ,nelakukan pendekatan kepada masyarakat ia menerapkan falsafah Jawa, yaitu ngu- darasa, among rasa, mijil tresna, agawe karva. Ngudarasa, mengatur perasaan diri sendiri lebih dulu, sebelum berbagi rasa dengan orang lain. Apabila masing-masing telah mampu mengatur rasa dirinya, maka akan saling menghormati. Dan kemudian mijil tresna atau muncullah cinta. Apabila satu sama lain bisa saling mengerti ten- tunya kita bisa saling mencintai. Kalau su- dah saling cinta maka mengerjakan apa pun akan menjadi mudah.”
Hal itu, menurutnya bisa juga diterapkan pada para pengusaha. Dekati bawahan de-ngan baik, sehingga produktivitas akan le¬bih tinggi. Cobalah selami apa yang dirasakan buruh. Lakukan pendekatan manusiawi. Kalau sakit diberi pengobatan, diberi kesempatan beribadah, kalau lebaran diberi THR. “Saya yakin, apabila orang diperlakukan demikian oleh pimpinannya, mereka akan bekerja lebih baik. Manajemen modern harus memanusiakan manusia,” ungkapnya.
Sebagai orang kelahiran JawaTimur, sikapnya sama seperti orang Jatim kebanyakan. Thas-thes, tak senang ngomong, senang juga ngomong. Itu keterbukaan. la lebih menyukai hal seperti itu. Kalau ada orang yang tidak senang lalu ngomong, ia lebih menyukai.
Masyarakat Jawa Timur diakuinya memang ceplas-ceplos dan terbuka. Akan tetapi di balik itu, khususnya di daerah pe- desaan, mereka masih memandang hormat para ulama dan tokoh masyarakat. “Seba¬gai contoh di Madura, ulama masih begitu dihormati dan ditaati. Oleh sebab itu harus diadakan pendekatan ke sana. Saya juga akan banyak turun ke masyarakat.”
Baginya, jabatan sebagai panglima, akan diemban dengan penuh rasa tang- gungjawab. Kalau orang mengatakan, wah jadi panglima senang yaitu yang dilihat glamornya saja. Ini tanggung-jawabnya besar, pengorbanan juga harus lebih banyak. “Apa pun yang terjadi, saya siap untuk berkorban. Saya akan memegangteguh kepercayaan pimpinan dan tidak setitik pun akan saya nodai. Itu yang saya pegang sejak jadi letnan,” tegasnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 92-93 (CB-D13/1996-…)

Dr. Akhmad Sukardi, M.M

Akhmad sukardi

Dr. Akhmad Sukardi, M.M, lahir di sebuah pesisir di Sumenep 14 Juli 1958, masa kecil dan remajanya dibentuk oleh karakter budaya Madura yang tegas dan religius. Mengenyam pendidikan dasar-menengah di Sumenep dan Pamekasan.
Selepas itu, melanjutkan studi Sarjana dan meniti karier sebagai PNS di Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Sejak awal karier pegawai dan studinya mendalami tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, dimulai dari Kepala Sub Bagian Pembinaan Anggaran Biro Keuangan Setda Jatim sampai menjadi Kepala Dinas Pendapatan Propinsi Jawa Timur.
Sebagai pejabat karier, ia masih termotivasi untuk memperdalam studi pada program Magister Manajemen Pascasarjana Universitas Airlangga, lulus tahun 1998- dan menyelesaikan Program Doktor llmu Administrasi Program Pascasarjana Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya tahun 2007.
Untuk mentransformasi keilmuan yang didapat dan mensharingkan kompetensinya dalam pengelolaan keuangan daerah, ia menjadi pengajar pada Badan Diklat Propinsi Jawa Timur dan beberapa perguruan tinggi di Surabaya.
Aktif sebagai narasumber dalam berbagai seminar dan workshop yang berkaitan dengan kompetensinya. Di samping kesibukannya yang cukup padat tersebut, ia juga membantu istri mengasuh dua orang anak di Surabaya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. Akhmad Sukardi, M.M: Participatory Governance, 2009, hlm. Sampul Belakang. 

DR. Soetrisno R., M.Si.

25 Mei 1938, DR. Soetrisno R., M.SI. Lahir di Blora Jawa Tengah.

Soetrisno menyelesaikan SR/SD, SMR SMA di Bojonegoro, menempuh pendidikan tinggi di FKIP Universitas Airlangga, Strata-2 (S2) di
Universitas Brawijaya dan Strata-3 (S3) Universitas Gadjah Mada.
Pernah bertugas sebagai Kepala Bidang Kesenian Kanwil P dan K Jawa
Timur merangkap Kepala Taman Budaya Jawa Timur,
Tahun 1987 – 1993, menjadi anggota DPR/MPR RI.
Tahun 1993 – 2003 menjabat sebagai Bupati Nganjuk.
Tahun 2006, Ketua Javanologi Jawa Timur.
Pernah mengikuti seminar, baik nasional maupun internasional.
Tahun 2002, Seminar Internasional Memperingati 100 tahun Karl Popper di Wina Austria.
Seminar International Union of Local Authorities di Kuala Lumpur.
Buku-buku yang pernah ditulis, antara lain, sebagai berikut:
1. Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan;
2. Reformasi dan Dampaknya Bagi Pembangunan;
3. Peningkatan Sumber Daya Manusia di Era Otonomi Daerah;
4. Pesan Buat Administrator Publik;
5. Kesaksian, Kajian Tentang Administrasi Publik;
6. Studi Ilmu Administrasi Negara Dalam Realita Empirik;
7. Pengentasan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat;
8. Topeng Dhalang Madura;
9. Nilai Filosofis Kidung Pakeliran;
10. Wayang sebagai Ungkapan Filsafat Jawa;
11. Ensiklopedia Budaya Jawa Timur;
12. Dimensi Moral dl Syair Tembang pada Pergelaran Wayang Purwa.

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. blk

Dr. H. Mashoed MSi, Kabupaten Jombang, Kabupaten Bondowoso

Dr. H. Mashoed MSi.16 Agustus 1942, Dr. H. Mashoed MSi, lahir di Jombang, Jawa Timur, Indonesia.

Tahun 1956, Mashoed kecil menempuh  pendidikan di Sekolah Rakyat.

Tahun 1959, Mashoed muda melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru B.

Tahun 1962, Mashoed muda melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru A.

Tahun 1973, Mashoed menyelesaikan pendidikan dari Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan (FKK) Jurusan Administrasi Niaga Universitas 17 Agustus, Surabaya.

Tahun 1996, Mashoed menempuh lanjutan Pendidikan di Program Pasca Sarjana Universitas 17 Agustus, Surabaya (Magister).

Tahun 2004, Mashoed menempuh jenjang Doktor. Menulis disertasi dengan tema Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat Miskin di Desa Terisolasi.

Tahun 1962-1970, Mengawali karier sebagai guru dan dosen di Jombang.

Tahun 1984, Mengikuti pendidikan kedinasan dan tingkat Sekolah Pimpinan Administrasi Tingkat Madya (Sepadya) di Yogyakarta.

Tahun 1989, Dr. H. Mashoed MSi Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi (Sespa) di Jakarta.

Tahunn 1970-1983, mengawali kariernya di pemerintahan dimulai sebagai Kepala Bagian Keuangan Kabupaten Jombang.

Tahun 1983-1987, menjabat sebagai Kepala Bidang Penjenjangan Diklat Pemda Jawa Timur,

Tahun 1987-1992, menjabat sebagai Kepala TU Diklat Pemda Jawa Timur.

Tahun 1992-1994, menjabat sebagai Kepala Biro Kepegawaian Pemda Jawa Timur.

Tahun 1994-1997, dan Kepala Diklat Pemda Jawa Timur.  Sebagai Kadiklat dan Widyaiswara aktif mengajar di sekolah penjenjangan atau kedinasan antara lain, Kursus Bendaharawan, Pemerintahan, Sepada (Sekolah Pimpinan Tingkat Dasar), Sepala (Sekolah Pimpinan Tingkat Lanjutan), dan Sepadya (Sekolah Pimpinan Madya). Selain aktif memberikan ceramah di berbagai tempat, ia juga menghasilkan karya tulis yang berkaitan dengan motivasi, supervisi, kepemimpinan, dan dinas-staf.

Tahun 1998-2003, menjabat sebagai Bupati Bondowoso.

Tahun 2003, terpilih kembali sebagai Bupati Bondowoso periode 2003-2008. Memperoleh penghargaan ‘ dari pemerintah bidang Koperasi, Kesehatan, Pertanian, Ketahanan Pangan, Pramuka, dan Satya Lencana Karya Satya untuk 10,20, dan 30 tahun. Sebagai Bupati Bondowoso, banyak mencurahkan pikiran dan membuat kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat miskin dan marjinal di daerah terisolasi. Tidak hanya dalam bentuk program-program pembangunan, tetapi juga lewat pendidikan luar sekolah.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. Sampul Belakang

DR. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU, Kabupaten Tuban

hikam26 April 1958, Muhammad A.S. Hikam Lahir Tuban, Jawa Timur, Indonesia.

Tahun 1969, A.S. Hikam Sekolah pada SD Plumpang II, Tuban.

Tahun 1972, melanjutkan di SMP Mualimin Tuban.

Tahun 1975, melanjutkan sekolah di SP IAIN Semarang.

Tahun 1981, A.S. Hikam meraih gelar sarjana dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tahun 1983 – 2001,  A.S. Hikam menjadi Peneliti Puslitbang Ekonomi Pembangunan pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Tahun 1987, A.S. Hikam melanjutkan S2, di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat,MA

Tahun 1995, A.S. Hikam melanjutkan S3, di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat, Phd.

Tahun 1998, ,  sebagai Dosen pada Universitas. Satya Gama.

DR. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU Sebagi Anggota DPR Komisi I Fraksi PKB.

26 Oktober 1999 – 9 Agustus 200, DR. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU menjabat Menteri Negara Riset dan Teknologi dalam Kabinet Persatuan Nasional.

Tahun 2001, DR. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU sebagai Ketua DPP-PKB.

Tahun 2002, DR. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU bergabubg di Partner Mahfud MD2 Associate, Law Firm,

DR. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU adalah seorang pengamat sosial dan politik. Disertasinya mengenai negara, politik masyarakat akar rumput dan madani dalam pergerakan sosialnya di bawah Orde Baru. Spesialisasi pada Comparative Politic.

DR. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU juga berkarir sebagai:

  • Kolumnis Media Massa
  • Konsultan Freelance beberapa LSM
  • Pengamat politik
  • Anggota Asosiasi Ilmu Politik Indonesia.
  • Badan Kerja Sama Antar Parlemen.

DR. Muhammad A.S. Hikam, MA., APU berIstrikan Ir. Puji Winarni, MA., dikaruniai seorang Anak.=S1Wh0T0=