Dahlan Iskan

Dahlan Iskan
Dahlan Iskan lahir di Magetan, 17 Agustus 1951. Pernah kuliah di IAIN Surabaya, Fak. Hukum Untag Samarinda. MengikutiO/r The Job Training Pers di LP3ES Jakarta/ Tempo (1974), Minaut In­donesia LPPM Jakarta (1980), dan Finom LPPM Jakarta (1984).
Pertama bekerja sebagai reporter Mingguan Mimbar Masyarakat (1974-1976), juga koresponden Tempo (1975- 1977), Kepala Biro Tempo Surabaya (1977-1982), Redaksi Pelaksana Harian Jawa Pos (1982-1984) dan Direktur/ Pimim- pin Redaksi/ Pimpinan Umum Harian Jawa Pos (1984-1995).
Saat ini juga menjadi direktur utamadi37anak perusahaan Jawa Pos. Yaitu Direktur Utama PT Jawa Nusa Wahana, Surabaya, PT Duta Manuntung, Balikpapan, PT Percetakan Manuntung, Balikpapan, PT Media Fajar Graf ika, Ujungpandang, PT Akcaya Pariwara, Pontianak, PT Riu Pos, Pekanbaru, PT Wenangcemerlang Press, Manado, dan Iain-Iain.
Anggota MPR (1988-1993) ini pernah menjabat Presiden Lions Club di Surabaya (1984) dan Wakil Ketua Persebaya (1988). Ketua PWI Cabang Jatim sejak 1989 sampai sekarang. Juga menjadi pengurus Kadin Jatim, pengurus DPD Golkar Jatim, Ketua Yayasan Mitra Surabaya dan Ketua Perbasi Jatim.
Menikah dengan Nafsih Sabri. Bersama keluarga tinggal di Rungkut Mejoyo Selatan IV/10 Surabaya, telepon 815487. Selaku Direktur PT Jawa Pos berkantor di Jl. Karah Agung, Surabaya, telepon 836969.
 
 
Koran Jawa Pos (JP), agaknya tak bisa dipisahkan dengan nama Dahlan Iskan. Harus diakui perannya begitu besar dalam membesarkan JP. Ketika ditunjuk se­bagai Redaksi Pelaksana JP tahun 1982, koran ini tirasnya masih kecil, hanya sekitar 6 ribuan.
“Saat itu JP masih belepotan. Yang pertama-tama saya garap adalah beritanya.
Cetak boleh jelek, pasar boleh lebih kecil, tapi berita harus menang. Itulah yang kami punyai waktu itu. Lama-lama orang tahu, bahwa berita JP lebih baik, hingga mereka mau berlangganan,” ungkapnya.
Kendati isi JP lebih baik, kenyataannya selama tiga bulan tirasnya tidak naik. Setelah ditelusuri, JP memang perlu diperkenalkan pada masyarakat. “Saat itu kami tidak tahu caranya. Setiap kami memperkenalkan JP, tak satu agen pun yang mau. Pengecer juga tak mau menerima, dianggap hanya akan memberat-berati saja,” paparnya.
Berangkat dari kenyataan seperti itu dan karena adanya keyakinan bahwa JP lebih baik, lalu dibentuk pengecer khusus yang digaji dan hanya boleh menjual JP. Peloper yang digaet tidak banyak, hanya 30 anak. Mereka diberi imbalan Rp. 300 tiap hari. Lama-lama, JP tambah laku. Gaji untuk pengecer kemudian diturunkan dan ditam- bah komisi. Lalu gaji dihapus dan tinggal komisi yang diberikan. Sekarang, pengecer harus membeli JP secara kontan.
Itu dari segi perkenalan. Dari segi dis- tribusi, karena waktu itu tak ada yang mau jadi agen, kemudian para istri karyawan digerakkan untuk menjadi agen dalam kota, termasuk istrinya. “Mereka terus kami beri motivasi, supaya perusahaan suaminya tidak mati dan tidak menganggur. Ternyata, mereka bisa. Istri saya pun sampai seka- rang masih menjadi agen. la tak mau ber- henti walau sudah saya suruh berhenti. Katanya eman-eman, karena dari hasil agen itu, ia mendapatkan Rp. 900 ribu per bulan,” jelasnya.
Menurutnya, tiras JP sekarang sudah cukup besar dan rasanya susah untuk di- tingkatkan lebih besar lagi. Perkembangan tiras JP tidak mungkin seperti dulu lagi, yaitu 400 hingga 1.000 %. “Saya menyadari hal itu. Harga koran naik terus, sehingga tidak semua masyarakat mampu membeli koran. Jumlah pembaca JawaTimurterbatas. Un­tuk menembus Jakarta dan sekitarnya tidak mungkin karena tidak ada transportasi yang kompetitif. Jelas, kami tidak bisa menyebar ke seluruh Indonesia,” jelasnya.
Sebab itu, JP lantas melakukan strategi lain. Kalau dulu JP dibaca kalangan menengah ke bawah, sekarang menengah ke atas. Sehingga perlu dikembangkan koran khusus untuk kelas bawah. Itulah sebabnya Jawa Pos “menugaskan” anaknya, Memo­randum, untuk memenuhi kebutuhan la- pisan itu.
Untuk menjadi koran nasional dalam arti yang betul, misalnya beredar di seluruh In­donesia, JP menghadapi kendala; karena belum adanya sistem cetak jarak jauh (SCJJ). “Meski begitu kami mau besar dan berkembang terus. Caranya, kami pilih me- ngembangkan koran-koran daerah. Menu- rut saya, SCJJ justru jangan diberlakukan sekarang. Bukan karena JP tidak berani, kami sudah punya peralatannya kok. Tapi harus diingat, masih banyak daerah yang belum punya harian. Padahal timpang ra­sanya jika sebuah ibukota propinsi tidak memiliki harian. Apakah tidak lebih baik jika dalam era sekarang ini digunakan untuk menerbitkan koran-koran di daerah itu •?” ungkapnya.
Sehubungan dengan hal itu, JP mengembangkan sayapnya ke daerah yang belum memiliki harian. “Jika ada yang ber anggapan bahwa saya kemaruk, ya saya tidak bisa membantah. Memang setahun rata-rata kami melahirkan tiga koran baru Dan selama ini kami telah berhasil menge- lola 26 media cetak. Yang jelas, kami selalu memilih daerah-daerah yang masih ko- song, sehingga investasinya tidak banyak, kira-kira Rp. 500 sampai Rp. 1.000 juta su­dah cukup”.
Ditambahkannya, orang-orang JP yang dikirim dan menjadi motor di daerah, tun- tutannya juga belum banyak. Ini karena di JP mereka belum lama dan mereka tahu bahwa dulu ‘iJP juga pernah menderita se- kali. “Pendeknya, kami ini belum terbiasa hidup enak,” ujarnya,
Meski sudah mengelola 26 media cetak, ia enggan kalau disebut ‘raja koran’. Ini karena statusnya bukan pemilik. Sahamnya di JP juga tidak besar, tergolong minoritas. Sehingga ia lebih banyak bersifat sebagai pengelola.
Ekspansi JP ke daerah, tentunya tidak langsung mendapatkan untung. Bahkan di- lihat dari untung-ruginya mengembangkan koran daerah, gila rasanya ini dilakukan. “Sayasulit menjawabnya. Kenyataannya JP memang belum memperoleh apa-apa da­lam arti finansial, justru keluar uang. Tapi kalau’ditanya untuk apa, saya tidak bisa menjawab dengan satu kalimat. Misalnya untuk mencari keuntunganya tidak,” jelas­nya.
Lalu ditambahkan, mungkin itu merupakan naluri seseorang yang ingin terus berkembang. Motifnya tidak jelas dan semuanya itu tidak aada niat dalam arti direncanakan. Keuntungan mungkin baru dapat dipetik pada masa mendatang. Di samping itu langkah ini juga merupakan wadah penembangan karir orang-orang di JP.
Dalam melakukan ekspansi, kaderisasi diperhatikan sungguh-sungguh. Memilih orang yang tepat untuk menangani koran daerah, merupakan senjata utama dan pamungkas, karena tidak mungkin setiap hari menanganinya. “Saya harus dapat memilih orang yang dapat dipercaya dan mampu mengembangkannya. Saya memilih mereyang benar-benar memiliki kemampuan manajerial. Pemilihan itu tentu tak hanya melalui dan mengandalkan kegiatan rutin selama di JP. Itu tentu tak cukup, karena JP belum lama berdiri.”
Mengapa JP tidak menjadi koran nasi­onal yang lebih hebat lagi, tapi justru mengelola koran daerah? Seperti yang sering ia katakan, saat ini era koran nasional sudah akan berakhir. “Mana sekarang ada koran nasional? Sudah nggak ada nggak lagi. Koran-koran yang terbit di Jakarta pun, yang dulu dikatakan koran nasional itu, se­karang berproses menjadi koran daerah, yaitu daerah Jakarta,” jelasnya.
Kecuali itu, sejak dulu memang ia tidak setuju terhadap konsep bahwa koran dae­rah hanya membuat berita daerah. Oleh karena itu, ketika ia membesarkan JP, ia mempunyai konsep tersendiri. Menurutnya, ko­ran daerah seharusnya’berita nasionalnya tak kalah dengan koran Jakarta, berita internasionalnya tidak kalah dengan koran Tok­yo dan berita daerahnya pun harus menang dengan koran daerah manapun. “Tiga doktrin itu yang penting dan harus dilakukan oleh setiap koran, termasuk yang tergabung dalam Jawa Pos Grup,” tegasnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 541-53 (CB-D13/1996-…)

Soemiran Karsodiwirjo

Soemiran karsodiwirjoSoemiran Karsodiwirjo lahir di Tulungagung, 9 September 1921, beragama Islam. Pendidikan SR angka I (1933), SR angka II (1935). Saat ini menjabat sebagai Komisaris Pabrik Rokok Reco Pentung. la juga Komisaris dalam pengembangan pariwisata panlai Popoh yang dirintisnya mulai tahun 1972 serta Komisaris PT Soetera Bina Samodra.
Dalam organisasi, ia menjabat sebagai Ketua Gabungan Perusahaan Rokon Indonesia Gapero. Sebelumnya pernah men­jabat sebagai Ketua PPRI (Persatuan Perusahaan Republik In­donesia) Wilayah Kediri tahun 1952.
Menikah dengan Soepadmi, dikaruniai 5 putra dan 4 putri. Masing- masing Istiyah, Ismah, Ismanu, Mulyadi Dodit, Soedjito, Lilik Isyuwarni, Yen Isyuwarno, Wawang Sudjarwo dan Neneng Isnayunaeni. Bersama keluarga tinggal di Jalan Supriadi No. 80 Tulungagung (0335)21904.
Sehari-hari ia bisa ditemui dikantar PR Reco Pentung, Jalan Mayor Suryadi No. 21 Tulungagung Telepon (0335) 23880-2 – 23883.
Kerja keras tanpa mengenal putus asa dalam mencapaicita-cita, merupakan modal utamanya dalam menggapai hasil yang dicita-citakannya. Kata-kata ini sangat cocok untuk pribadi Soemiran.
Soemiran merupakan putera sulung dari sembilan bersaudara, pasangan Karsogoeno dan ibu Toekinem. la dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga serba pas- pasan. Ayahnya sebagai buruh lapangan yang kerjanya memborong penggalian tanah, memasang tiang-tiang listrik dan sebagainya. “Sebagai anak tertua, saya sangat kasihan melihat Bapak saya. Ketika baru berusia enam tahun, saya sudah biasa membantu melakukan pekerjaan bapak. Itu semua saya lakukan karena sebagai sau- dara tertua, yang harus bisa memberi contoh bagi adik-adik, sekaligus sebagai perwujudan bakti pada orang-tua,” ungkapnya.
Pekerjaan seperti itu dilakukannya setelah pulang sekolah. Meski ia sendiri mengaku mengalami beban mental. Di mana anak seusia dia, sebenarnya masih senang-senangnya bermain, tapi ia justru ikut asyik bekerja mencari uang untuk biaya sekolah. “Mungkin sudah merupakan suratan takdir, saya harus menjalani seperti itu,” tambah- nya.
Wiraswasta, mula-mula dengan menjajakan makanan kecil, seperti pisang goreng, kacang dan serabi sambil ke luar masuk kampung. Dan hasilnya pun lumayan. “Dari itu saya mendapatkan keuntungan 20 %. Sebab jajanannya ngambil dari orang lain. Selain uangnya saya gunakan untuk biaya sekolah dan biaya hidup, sisanya sa­ya kirim untuk membantu meringankan be­ban orang-tua. Apapun pekerjaan asal halal pasti saya kerjakan,” ceritanya.

Semasa kecil, Soemiran juga pernah menjadi pembantu pada seseorang. Karena masih kecil, ia pernah tercebur sumur ketika menimba air untuk mengisi bak mandi. Itu semua menjadi pengalaman berharga sekaligus tak pernah terlupakan. Kemudian menjelang tahun 1941, memikirkan berumah-tangga dan berdagang kecil-kecilan di rumah untuk menunjang ke- butuhan sehari-hari.
“Saya mulai berwiraswasta lagi mulai 2 Mei 1946 dengan membuat rokok kretek klobot kecil-kecilan. Semula dikerjakan sen- diri yang akhirnya dari produksi rokok tersebut saya beri nama Cap Ikan Dorang. Dan itu hanya sampai satu tahun,” lanjutnya.
Tahun 1948 Belanda masuk lagi ke kota Tulungagung. Dan patung Reco Pentung yang berada di perbatasan kota banyak yang dirobohkan oleh Belanda. Awal 1949, keadaan kota Tulungagung mulai aman lagi. la mulai meneruskan usaha membuat rokok dengan merk baru, yakni ‘Reco Pen­tung’. “Sebelumnya saya menggunakan merk ‘Sri Sedjati’. Pada awalnya cuma mempekerjakan 5 sampai 20 puluh karyawan. Ternyata rokok yang saya produksi banyak diminati masyarakat. Sehingga per- mintaan pun semakin meningkat dan usaha kami dengan sendirinya berkembang pesat. Maka kami mencari tambahan karyawan baru mencapai 1000 orang,” katanya.

Setelah berjalan sepuluh tahun lebih mengalami kelancaran, tahun 1960-an usaha rokok tersebut mengalami kelesuan lagi. Terutama dengan adanya peristiwa G. 30 SIPKI. Usaha mengalami penurunan sangat drastis diadakan perampingan kar- yawan hingga tinggal 25 orang. Tapi peris­tiwa itu bukan menjadi penghalang bagi Soemiran. Dengan begitu ia biasa mera- sakan, bagaimana rasanya orang jatuh bangun dalam berusaha.

“Sejak kecil saya sudah merasakan pahit-getirnya dalam menjalankan kehidupan. Dan itu merupakan tempaan bagi saya,” katanya. Setelah produksi rokok klobotnya turun drastis, ia mulai memproduksi sigaret kretek putih dengan merk ‘Gaya Baru’. Dan mulai tahun 1970-an industri rokok kretek mulai membaik lagi. Tapi menjelang tahun ’80-an saya juga jatuh lagi. Hingga karyawan saya tinggal 15 orang.

Akhirnya pada tahun 1982 saya mem­buat rokok kretek dengan kualitas lebih baik dari produk-produk sebelumnya. Dan kami beri nama merk ‘Reco Pentung’ yang sebe­lumnya kami gunakan untuk merk rokok klobot. Dan akhirnya berkembang begitu pesat. Hingga mampu menyedot banyak lagi karyawan, dan sampai tahun 1991 men­capai 4500 orang. “Selain itu produksi rokok kretek, kami juga membuat rokok filter yang kami beri merk Minna, Retjo Pentung Wasiat dan Retjo Pentung Jaya. Perusahaan pun berangsur menjadi tingkat menengah,” jelasnya.
Setelah sekarang usianya menginjak kepalatujuh, untuk menjaga kesehatannya ia selalu bangun pagi-pagi. Kemudian melakukan olahraga hidup baru (Orhiba). Setelah itu mandi dengan mengguyur air di kepala sampai 100 gayung. Dan sorenya sampai 75 gayung. Resep agar tetap sehat itu dilakukannya setiap hari. (AS-20)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 57-58 (CB-D13/1996-…)

Ismanu Soemiran

ismanu SoemiranIsmanu Soemiran lahir di Tulungagung, 3 Mei 1949. Pendidikan formal yang ditenpuh, SR Jepun (1961), SMPN I Tulungagung (1963) dan SMAN I Tulungagung (1966). Setamat SMA tidak lantas meneruskankuliah, lapimencobamendalamibahasa asing.yang diharpakn bisa menjadi bekal belajar ke luar negeri. Tapi niatnya itu tidak kesampaian.

Saal ini menjabat sebagai Direktur Pabrik Rokok Retjo Pentung Tulungagung, yang didirkan ayahnya, Soemiran. Di samping itu ia juga menjadi Direktur Utama Soetera Bina Samudera, yang mengelola wisata pantai Popoh, Tulungagung.

Menikah dengan Sherly Suherlan dikaruniaitiga puteri dan satu putra. Masing masing bernama Setiyanti Ismaningsih, Ismarlina Dwi Amelia, Ismandriani Tri Irmawidyawati dan Mochamad Anugrah Satriyo Kuncoro.

Bersama keluarga tinggal di Jl. Supriyadi 80 Tulungagung telepon (0355) 21904. Sedang sehari-harinya berkantor di Jl. Mayor Suyadi No. 21 Tulungagung telepon (0355) 23880-2.

 

Lahir sebagai anak laki-laki tertua dari keluargan Soemiran Kaartodiwiryo, pendiri Pabrik Rokok Retjo Pentung. Selanjutnya ia dipercaya bapaknya untuk melanjutkan mekanisme kelangsungan perusahaan tersebut.

Semula bercita-cita sekolah ke luar negeri. Untuk mempersiapkan diri, setamat SMA mengikuti kursus berbagai macam bahasa, misalnya Inggris, Mandarin, Jepang, dan bahasa Belanda. Namun setelah mengikuti kursus, kenyataannya menjadi lain, karena orang tuanya ingin agar ia segera meneruskan perusahaan tersebut. Maka urunglah cita-citanya untuk menimba ilmu di luar negeri.

Ia mengakui, secara psikologis bisa menerima alasan ayahnya. Sebagai anak laki-laki tertua, tentunya memiliki tanggung jawab lebih untuk memberikan contoh bagi adik-adiknya.

Dalam soal rokok, ia pertama kali terjun sebagai sales yang biasa menawarkan dari toko ke toko. Waktu satu tahun, dirasa belum cukup pengalaman, kemudian ditam- bah lagi sampai dua tahun. Dengan menjadi sales, ia mengaku memiliki pengalaman pemasaran suatu produk, tidak terkecuali produk rokok. la mengetahui persis keberadaan produk yang dihasilkannya, bisa di- terima masyarakat atau tidak.

“Jangan harap kita bisa bekerja duduk dengan enak,. kalau tidak memiliki penga­laman lapangan. Bagaimana bisa menerapkan manajmen yang pas, kalau pangsa pasar saja tidak mengetahui,” katanya. Un­tuk itulah, agar seseorang ingin suksek berbisnis, menurutnya’ perlu pengalaman la­pangan yang cukup. Dan itu pun memerlukan proses panjang.

Sebagai wiraswastawan, ia mengaku tanpa henti belajar bagaimana mengembangkan perusahaan. Antara pengusaha satu dengan yang lainnya, tentu memiliki perbedaan, meski produknya sama. Tapi setidaknya untuk menjadi usahawan tangguh,  baginya minimal memiliki dasar filsafat 6 S. Kalau dijabarkan, menurutnya resep ini bisa menjadi pemacu keberhasilan.

Enam S yang tidak lain adalah Senyum, Salam, Sapa, Sambung Rasa, Simpatik dan Sovenir ini, sangat efektif sekali. Apalagi sebagai seorang lapangan. Secara gamblang ia menjelaskan, “terhadap seorang calon pembeli, pertama kita harus menunjukkan sifat ramah dengan memperlihatkan senyum. Selanjutnya memberikan salam kepada relasi tersebut. Lalu kita sapa yang akhirnya terjadilah sambung rasa. Setelah itu berkembang dan dari sana akan limbul rasa simpatik sehingga menghasilkan so­venir, alias dagangan laku”.

Setelah menduduki pimpinan di Retjo Pentung, ia segera dihadapkan masalah baru lagi. Tidak hanya soal tawar menawar ketika menjadi sales. Ujian yang kelihatan mencolok adalah tatkala dekade 80 an. Di mana di Indonesia lahir BPPC yang mengurusitata niaga cengkih. Merasaterhambat, karena sulit mendapatkan bahan baku yang berakibat perusahaan kalang kabut. Status dari perusahaan besar, turun menjadi per­usahaan kecil. Dan tak urung 2.000 karyawan terpaksa harus meninggalkan profesinya.

“Sebetulnya saya kasihan terhadap mereka. Tapi bagaimana lagi, itu suatu tindakan sementara yang harus saya lakukan demi kelangsungan perusahaan” kilahnya. Setelah meningkatkan manajemen secara profesional, kehidupan perusahaannya bi­sa kembali seperti semula, dan karyawan yang tadinya ke luar, bisa masuk lagi.

Terhadap tenaga kerja, ia tak mau sembarang mengatur. Obsesinya, karyawan di lingkungannya tak sekedar bisa menikmati standar UMR, tapi bisa meningkat menjadi kebutuhan fisik minimum (KFM). Karena itulah, ia tak pernah membedakan diri de­ngan para karyawan. “Kalau perlu, saya juga belajar dari mereka. Kan tidak ada salahnya. Belajar itu jangan memandang siapa guru kita, tapi apa yang dapat kita terima,” tandasnya.

Sebagaimana ajaran ayahnya dulu, sikap itu terus dipelihara hingga sekarang. Kritik, dianggapnya sebagai nasihat. Dan menurutnya, itu perlu diambil hikmahnya. Barang kali ada benarnya. “Tapi juga tidak sedikit orang mengkritik hanya karena iri Iho,” guraunya.

Yang penting, menurutnya orang hidup ini harus pandai-pandai bersyukur. Rejeki jangan diukur besar dan kecilnya. Tapi sejauh mana bisa membawa kemasla- hatan. (AS-20′)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 54-55 (CB-D13/1996-…)

Ram Soraya, Surabaya

ram soraya4 November 1949, Raam Lalchand Pridhani lahir di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Ram Soraya.

Ram Soraya merupakan seorang pengusah dan produser film. Merupakan pemilik rumah produksi Soraya Intercine Films. Ia juga merupakan salah satu alumni dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Ram Soraya sebelum terjun ke dunia perfilman, ia pernah jadi importir tekstil.

Ram Soraya Mempunyai dua orang anak; Sunil Soraya dan Rocky Soraya.

Tahun 1972 -1982, awal karier Ram Soraya di dunia film sebagai distributor film untuk daerah Jawa Timur

Tahun 1983, Ram Soraya mulai jadi produser dalam Budak Nafsu.

Tahun 1984, film Budak Nafsu merupakan hasil dari perusahaannya sendiri, PT. Soraya Intercine Films, meraih unggulan Film Terbaik pada FFI.

Tahun 1985, Ram Soraya dengan PT. Soraya Intercine Films membuat film Sembilan Wali,

Tahun 1986, Ram Soraya dengan PT. Soraya Intercine Films membuat film Permainan Yang Nakal,

Tahun 1987, Ram Soraya dengan PT. Soraya Intercine Films membuat film Saya Suka Kamu Punya. Di Tahun inilah Ram Soraya sebagai produser mencapai puncak karier, seteleh mengambil alih produksi film Warkop DKI dari tangan PT. Parkit Film pimpinan Raam Punjabi. Selain menggarap Warkop DKI lewat film layar lebar, antara lain Depan Bisa Belakang Bisa.

Tahun 1993, menerima Penghargaan Mujimun Awards karena pengumpulan penonton terbanyak selama 5 tahun untuk film-film Warkop.

Tahun 1995-1997,  Ram Soraya juga membuat versi sinetronnya lewat Warkop DKI.

=S1Wh0T0=

Log Zhelebour, Surabaya, Jawa Timur

Log-Zhelebour16 Maret 1959, Ong Oen Log lahir di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Selanjutnya arek-arek surabaya memanggilnya Log Zhelebour.

Sejak duduk di bangku SMP Pirngadi Surabaya, Log mulai bersentuhan dengan musik rock.

Tahun 1977, Log lulus dari SMA St. Louis Surabaya.

Log memulai kariernya sebagai promotor pergelaran musik rock, didahului dengan berbagai kegiatan musik disko. Log mendirikan Log Zhelebour Production.

Tahun 1979, karier promotornya mulai menanjak setelah Log menggelar konser grup band kecil hingga menampilkan grup rock papan atas ketika itu seperti SAS asal Surabaya dengan Super Kid dari Bandung dalam pertunjukan diberinya judul Rock Power. Berlanjut dengan penyanyi rock wanita Euis Darliah, Sylvia Saartje, Farid Harja & Bani Adam, Ucok AKA, Gito Rollies, Micky Jaguar, serta grup God Bless, Rollies, Cockpit, Giant Step dan lain lain.

Log mengembangkan bakatnya sebagai executive produser rekaman, setelah sukses sebagai promotor musik rock, rekaman perdananya adalah group rock papan atas God Bless dengan album Semut Hitam yang terjual 300.000 kaset/CD dan melakukan promo tour album di 35 kota yang di sponsori oleh Djarum Super. =S1Wh0T0=

Tahun 1989, Log mendirikan Logiss Records, dari hasil sukses dalam konser tour promotor show dan executive produser rekaman,.

Log adalah  penggelar pertama festival musik rock di Indonesia. Bertujuan agar ajang tersebut menjadi pemicu bagi tumbuhnya kepercayaan diri musisi rock tanah air untuk membawakan karya mereka sendiri. Log perlu waktu lima tahun untuk meyakinkan Djarum agar bersedia menjadi penyandang dana sebuah festival musik rock yang dicita-citakannya, Djarum Super Rock Festival.

Tahun 1984-,2007, Festival musik rock yang telah digelar mencapai 11 kali. Delapan kali didanai oleh Djarum sehingga dikenal sebagai Djarum Super Rock Festival (1984, 1985, 1986, 1987, 1989, 1993, 2001, 2004) dan sekali oleh stasiun televisi Indosiar (1996) serta dua kali oleh Gudang Garam (1991, 2007).

Tahun 1992, Log juga melebarkan sayapnya dengan membuat pergelaran grup rock mancanegara seperti Sepultura, Mr BIG

Tahun 1996,  Log menggelar grup White Lion.

Tahun 1997-2000, sewaktu suasana politik di Indonesia gonjang-ganjing dan terjadi krisis moneter, festival rocknya sempat terhenti. Namun Log membuktikan eksistensinya dengan rekaman God Bless, Boomerang dan Jamrud. Pada saat itulah eksistensi Jamrud sebagai grup rock nomor satu dikukuhkan melalui rekaman-rekamannya yang berhasil mengatasi produk serupa lainnya. Album-album Jamrud seperti Nekad (1996) yang terjual 150.000 kaset dan CD, Putri (1997, 300.000 kaset/CD),Terima Kasih (1999, 800.000 kaset dan CD) dan ” Ningrat ” (2000, terjual 2.000.000 kaset dan CD ) sehingga meraih penghargaan 5 kategori AMI Award 2001 bahkan membawa mereka bersama Log tentunya melakukan tour tunggal di 120 kota yang di sponsori Djarum, diundang tampil di Jepang dan Korea serta melakukan rekaman di Australia dan melahirkan Album ” Sydney 090102 ” 2002, terjual 1.000.000 kaset/CD. Merasa belum cukup, Log menerbitkan tabloid Rock.

Tahun 2003, Log menyelenggarakan  tour 5 kota, ( Helloween ).

Tahun 2004, Log menyelenggarakan  tour 2 kota.

Tahun 2004, Log telah mengatakan bahwa Djarum Super Rock Festival 2004 akan menjadi festival terakhir kalinya yang telah ia gelar sejak tahun 1984.

Tahun 2007, Log kembali menggandeng Gudang Garam, menggelar Gudang Garam Rock Competition (GGRC). Dari ajang ini pula Log menemukan grup-grup yang kemudian diorbitkan untuk di’jual’ olehnya.

Juli 2007 , proyek Log terbaru merilis albumnya group KOBE “Positive Thinking;  Pilih Aku jadi 1 (2009); No Comment dan Log Guns (2011).

1 Januari 2008. Grup yang mengikuti GGRC 2007 ini resmi dikukuhkan awalnya bernama Alas Roban. Grup band ini seakan menjadi pertaruhan bagi Log yang telah lama vakum merekrut band sejak lepasnya Boomerang pada tahun 2002. Namun group ini tidak bertahan lama setelah menjadi band pembuka tour Skid Row, band ini vakum.

Tahun 2008, penyelenggaraan terakhir Log , Skid Row di 5 kota.

Tahun 2012, Log bangkit dari kevakumannya seiring dengan kembalinya Krisyanto ke Jamrud, kini Log menggandeng WIN Mild sebagai Sponsor Tunggal album produksinya dan menggelar tur konser Rock besar besaran, rencananya juga akan menggelar Rock Festival di 16 provinsi di Indonesia bersama Win Mild.

Log produser musik rock. Berbagai ‘produk rock’ dihasilkan di bawah bendera Log Zhelebour Production, dari Logiss Record (perusahaan rekaman yang didirikan Log bersama Iwan Sutadi Sidartha (ISS) dari Indo Semar Sakti dan Billboard Records), sampai bisnis di sekitar pagelaran musik rock, seperti Log Sound, Log Artist Management, Log Stage, Log Lighting, dan Log Show Promotor. Penyanyi dan grup band yang pernah ditangani oleh Log antara lain Ita Purnamasari, Mel Shandy, Lady Avisha, Nicky Astria, El Palmas, Kaisar, Power Metal, Gank Pegangsaan, Boomerang, dan Jamrud.=S1Wh0T0=

Raam Punjabi, Surabaya

ram punjabbi6 Oktober 1943, Raam Jethmal Punjabi lahir di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Terlahir dari pasangan Jethmal Ayah Tolaram Punjabi dan Ibu Dhanibhai Jethmal Punjabi.

Masa kecil di Surabaya sebagai masa yang indah dan penuh romantisme. Rumah orangtuanya terletak di kawasan Pasar Besar. Rumah itu merangkap toko ayahnya. Di lantai bawah, sang ayah berjualan karpet. Raam juga masih ingat, di masa itu masih ada trem atau kereta listrik sebagai alat transportasi yang digemari masyarakat di kotanya.

Raam bersekolah di SMA Vidya Bavan, di daerah Punjab di negara India dan Pakistan.

Tahun 1962 sampai 1963 , Raam bekerja di sebuah perusahaan tekstil.

Tahun 1964,  Raam merintis sebuah usaha impor tekstil.

Tahun 1967, Raam bersama dua kakaknya Dhammoo Punjabi dan Gobind Punjabi, mendirikan perusahaan importir film, PT Indako Film.

Tahun 1969,  usaha impor tekstil yang dirintisnya ditinggalkannya. Karena ketertarikan Raam pada dunia perfilman.

Tahun 1971-1976, Raam mendirikan PT Panorama Film.

16 April 1971, Raam menikahi Raakhe Punjabi. Dikaruniai 3 anak yaitu: Ameet Punjabi (meninggal tahun 1985); Kharisma dan Amrit.

Tahun 1972, Raam dengan PT Panorama Filmnya  bekerjasama PT Aries Internasional Film memproduksi film Mama karya sutradara Wim Umboh. film Indonesia pertama yang menggunakan seluloid 70 milimeter, tapi kurang laku ketika dilempar ke pasar.

Raam kembali memproduksi film “Demi Cinta” yang dibintangi Sophan Sophiaan dan Widyawati, film ini juga biasa-biasa saja. Saat memproduksi film ketiga berjudul “Pengalaman Pertama.” dibintangi Roy Marten, Yatie Octavia, dan Robby Sugara, barulah mendapatkan bintang terang.

Tahun 1973, Raam mendirikan Raam Punjabi Cartoon Enterprises,  induk dari kelompok Hanna-Barbera dengan produksi berbahasa Inggris.

Staff  RPCE, Dhamoo Punjabi (sutradara), Jayne Barbera (direktur pos produksi), Joseph Barbera (pelapor), Gobind Punjabi (cerita & direktur pengisi suara), Arlene Klasky (cerita), Gabor Csupo (cerita), Iwao Takamoto (perancang karakter), Joe Ruby (cerita), Buzz Potamkin (pelapor & kamera operator), Jack Pietruska (manajer produksi), Irmina Dubinska (manajer produksi). RPCE membintangi aktor-aktor pengisi suara seperti Frank Welker, Mel Blanc, Casey Kasem, June Foray, dan lainnya.

Tahun 1977, perusahaan PT Parkit Film.

Tahun 1978, perusahaan PT Tripar Multivision Plus Pontianak (Multivision Plus Kalimantan Barat).

Tahun 1980-an, sewantu perfilman Indonesia sedang lesu, justru Raam tambah sukses, dengan trend film bertemakan komedi pada perfilman Indonesia. menampilkan bintang komedi itu trio Warkop (Warung Kopi) yaitu Dono, Kasino dan Indro.

Tahun 1981, lewat PT Parkit Film yang Raam didirikannya. Tujuh belas tahun awal kariernya sebagai produser, Raam telah memproduksi lebih dari seratus film.

Tahun 1981, perusahaan PT Rapi Film (dalam royalti).

Tahun 1982, perusahaan PT Kharisma Starvision Plus (dalam royalti).

Tahun 1983, perusahaan PT Parkit Commercial Production.

Tahun 1986, perusahaan PT Inem Film (dalam royalti).

Tahun 1987, perusahaan PT Kanta Indah Film (dalam royalti).

Tahun 1987, perusahaan PT Virgo Putra Film (dalam royalti).

Tahun 1997, perusahaan Trimulti Film.

Tahun 1989, perusahaan PT Tiga Cakra Film.

Tahun 1989, perusahaan Sarinande Films (dalam royalti).

Tahun 1989,  saat perfilman Indonesia benar-benar hancur, Raam beralih ke dunia sinetron saat itu baru dikenal sebagai jenis tontonan baru.  Kebetulan munculnya stasiun televisi swasta pertama yaitu RCTI. Raam melihat hal tersebut sebagai peluang yang baik. Itu terbukti dengan suksesnya serial sinetron komedi Gara-Gara, yang dibintangi Lydia Kandou dan Jimmy Gideon.

Tahun 1990,  Raam mendirikan rumah produksi PT Tripar Multivision Plus dengan modal Rp. 250 juta.

Tahun 1990, perusahaan PT Tripar Multivision Plus (Multivision Plus).

Tahun 2000-an , tidak ada yang bisa menyaingi kebesaran Raam Punjabi dalam industri hiburan televisi, terutama film dan sinetron. Film dan sinetron di Indonesia di bawah bayang-bayang keluarga Punjabi, dengan Raam sebagi Rajanya.

Pu Tahun 2004, terbit buku biografi Raam Punjabi berjudul Panggung Hidup Raam Punjabi. Buku setebal lebih dari 300 halaman dan disusun oleh Alberthiene Endah.  Buku itu memuat begitu banyak pengalamannya sampai menjadi sukses sebagai raja sinetron seperti sekarang, diterbitkan Grasindo.

Saat ini Raam Punjabi menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri & Festival di Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI). Ia dikenal bisa membaca selera pasar dan menjadi trend setter perfilman.=S1Wh0T0=

Nyonya Meneer, Kabupaten Sidoarjo

nyonya meneerTahun 1895,  Lauw Ping Nio alias Nyonya Meneer (baca: Menir) lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia. Nyonya Meneer merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ia menikah dengan pria asal Surabaya, dan kemudian pindah ke Semarang.

ibunya suka mengunyah beras menir(butir halus padi sisa tumbukan).Sewaktu mengandungnya,  Kata menir ditulis menjadi “Meneer” karena pengaruh bahasa belanda.

Tahun 1900an, suami Nyonya Meneer sakit keras, berbagai upaya sudah dilakukan, namun sia-sia penyakitnya tidak sembuh-sembuh. Usaha demi kesembuhan sang suami Nyonya Meneer  mencoba meramu jamu Jawa ajaran orang tuanya,  dan setelah beberapa kali di coba sang suaminya sembuh. Semenjak itulah, Nyonya Meneer lebih giat meramu jamu untuk menolong keluarga, tetangga, kerabat maupun masyarakat sekitar yang membutuhkan.

Tahun 1919, berdirilah Jamu Cap Potret Nyonya Meneer, terletak di jalan Raden Patah 191-199 Semarang.sekaligus membuka toko Jamu di Jalan Pedamaran 92, Semarang.

Tahun 1940, Jamu Nyonya Meneer mulai merambah pasar Jakarta, putrinya yang bernama Nonnie berinisiatif membuka toko  di daerah Pasar Baru tepatnya di Jl. Juanda, yang merupakan salah atu pusat kegiatan perekonomian Ibu Kota Jakarta.

Tahun 1967, Nyonya Meneer bertindak sebagai Direktur Utama-meskipun secara formal perusahaan dipercayakan kepada anaknya,Hans Ramana.Anak gadisnya yang bernama Lucy Saerang,Marie Kalalo dan Hans Pangemanan diangkat menjadi anggota dewan komisi perusahaan. Sementara model manajemen masih sistem pengelolaan tradisional.

Tahun 1970-an, industri jamu mulai mengalami tingkat persaingan ketat. Pertarungan sengit antar produsen jamu dari segi harga, jenis produk yang serupa, hingga pertarungan untuk memperebutkan pasar.

Tahun 1976, Hans Ramana meninggal dunia.

Tahun 1977, Pabrik PT Nyonya Meneer berdiri di atas areal seluas 9.980 m2 dan dilengkapi laboratorium. Kantornya berada di Jalan Raden Patah, Semarang. Di lantai dua bangunan utama pabrik itu, didirikan museum jamu.

Tahun 1978, Nyonya Meneer meninggal dunia,  Operasional perusahaan kemudian diteruskan oleh generasi ketiga yakni ke lima cucu Nyonya Meneer. Namun ke lima bersaudara ini kurang serasi. Selanjutnya perusahaan murni dikendalikan salah satu cucu Nyonya Meneer yaitu Charles Saerang. Tahun ini juga, perusahaan dikelola oleh putranya yang bernama Romana Saerang. Dengan keuletan, keahlian serta pengalaman dari Romana Saerang, baik dalam hal pengolahan produk pengawasan mutu maupun pengolahan perusahaan sangat menunjang perkembangan perusahaan. P.T. Jamu Nyonya Meneer Semarang.

Tahun 1983, perusahaan dipegang oleh Haans Pangemanan anak bungsu Nyonya Meneer.

18 Januari 1984, didirikan Museum jamu Nyonya Meneer di Semarang dan menjadi museum jamu pertama di Indonesia. Museum ini didirikan dengan tujuan menjadi cagar budaya untuk pelestarian warisan leluhur dan menjadi sarana pendidikan dan rekreasi generasi muda. Museum ini dibagi menjadi dua bagian dimana bagian pertama adalah pameran barang koleksi pribadi Nyonya Meneer, dan bagian kedua memamerkan produksi jamu secara tradisional.

18 Januari 1984, dengan berkembangnya usaha maka dibuka pabrik baru yang terletak di Jalan Kaligawe Km 4 Semarang, sekaligus dibukanya museum jamu pertama di Indonesia.

P.T. Jamu Nyonya Meneer mengalami kemajuan, memperluas usahanya dengan mendirikan pabrik baru dan saat ini perusahaan P.T. Jamu Nyonya Meneer telah memiliki empat lokasi untuk kantor dan pengolahan jamu serta satu lokasi tempat perkebunan. Untuk lokasi kantor pusat berada di jalan Raden Patah 191-199, untuk kantor yang lain berada di jalan Raya Kaligawe Km.4.  Pada lokasi inilah terdapat tempat produksi jamu, laboratorium serta museum jamu Nyonya Meneer. Lokasi yang berada di jalan Raden Patah No. 117 hanya digunakan untuk sebagian proses jamu dan di Karangjati yaitu untuk perkebunan.

Tahun 2000 – 2001, beberapa kali masalah-masalah pekerja demonstrasi dan pemogokan buruh terjadi di perusahaan jamu ini. Namun sejak perbaikan manajemen dibawah kepemimpinan Charles Saerang, tidak tercatat lagi masalah kepegawaian di perusahaan ini. Kini perusahaan murni dimiliki dan dikendalikan salah satu cucu Nyonya Meneer yaitu Dr. Charles Saerang.

Tahun 2000, P.T. Jamu Nyonya Meneer membuat terobosan dengan mengeluarkan produk fitofarmaka bermerek Rheumaneer untuk mengobati penyakit rematik. Fitofarmaka adalah obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan dan lulus uji klinis. Di Indonesia hanya ada lima perusahaan yang mengeluarkan fitofarmaka, dan Nyonya Meneer satu-satunya perusahaan jamu sementara sisanya adalah perusahaan farmasi. Rheumaneer adalah jawaban Charles menanggapi dunia kedokteran terhadap khasiat jamu. Biaya untuk riset hingga menghasilkan produk menghabiskan 3 miliar rupiah dan memakan waktu delapan tahun, namun menjadi bukti bagaimana jamu dapat sejajar dengan obat-obatan kimia.

Produk PT Nyonya Meneer sebagian besar merupakan produk untuk kepentingan wanita (80 persen). Terdapat 254 merek meliputi 120 macam produk berbentuk pil, kapsul, serbuk, dan cairan dan terbagi dalam tiga jenis, untuk perawatan tubuh, kecantikan, dan penyembuhan. Produk ini meliputi minuman kesehatan temulawak, awet ayu, jamu habis bersalin, buste cream, amurat, dan rheumeneer yang sudah uji klinis.

19 Februari 2002 diterbitkan buku, “Sejarah Usaha Nyonya Meneer” setebal 250 halaman diterbitkan oleh Grasindo (Grup Gramedia) menceritakan tentang kemelut perusahaan yang terjadi di perusahaan keluarga ini.

Tahun 2006, Perusahaan jamu Nyonya Meneer berhasil memperluas pemasaran sampai ke Taiwan sebagai bagian ekspansi perusahaan ke pasar luar negeri setelah sebelumnya berhasil memasuki Malaysia, Brunei, Australia, Belanda dan Amerika Serikat

Tahun 2007, Pada siaran persnya CIMB Bank Niaga yang melakukan Kerjasama Pembiayaan Distributor dengan Nyonya Meneer mencatat bahwa pasar dalam negeri dikuasai Jamu Nyonya Meneer dengan dukungan 2000 agen melalui 28,665 outlet yang tersebar di 19 propinsi. Sedangkan ekspor terus dilakukan untuk negara-negara tujuan, seperti Malaysia, Singapura, Belanda, Arab Saudi, Australia, Taiwan dan Amerika Serikat, dengan hasil ekspor yang mencapai Rp31 miliar.

Nyonya Meneer pun merencanakan jamu sebagai metode pengobatan di institusi kesehatan dengan mendirikan Rumah Sakit yang khusus menggunakan jamu dan obat farmasi secara berdampingan.

11 Agustus 2007, Buku yang berjudul “Bisnis Keluarga: Studi Kasus Nyonya Meneer, Sebagai salah satu Perusahaan Obat Tradisional di Indonesia yang Tersukses” (Family Business: A Case Study of Nyonya Meneer, One of Indonesia’s Most Successful Traditional Medicine Companies) diluncurkan di Puri Agung, Hotel Sahid Jaya Jakarta bertepatan dengan perayaan 88 tahun berdirinya Perusahaan Nyonya Meneer.

Kasus perusahaan keluarga Nyonya Meneer dibukukan sebagai studi kasus, versi bahasa Inggrisnya dipublikasikan Equinox dan dipergunakan sebagai studi kasus ilmu pemasaran dan manajemen di sejumlah universitas di Amerika.

Penerbitan buku ini ditentang oleh keturunan Nyonya Meneer, karena menceritakan strategi pemasaran produk jamu tradisional itu hingga merambah 12 negara. Buku ini menceritakan dari usaha minoritas menjadi mayoritas.

Konflik yang terjadi di perusahaan keluarga ini. Begitu sengitnya pertikaian di tubuh PT Nyonya Meneer, Menaker Cosmas Batubara saat itu ikut turun tangan. Sebab, pertikaian antar keluarga sampai melibatkan ribuan pekerja perusahaan itu.=S1Whoto=

Hary Tanoesoedibjo, Surabaya

hary-tanoesoedibjo26 September 1965, Bambang Hary Iswanto Tanoesoedibjo lahir di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Selanjutnya lebih dikenal dengan Hary Tanoesoedibjo yang merupakan adik kandung dari Hartono Tanoesoedibjo dan Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo.

Hary besar di Surabaya, mempunyai seorang istri bernama Liliana Tanaja Tanoesoedibjo dan memiliki lima orang anak yaitu :

  1. Angela Herliani Tanoesoedibjo,
  2. Valencia Herliani Tanoesoedibjo,
  3. Jessica Herliani Tanoesoedibjo,
  4. Clarissa Herliani Tanoesoedibjo,
  5. Warren Haryputra Tanoesoedibjo.

Tahun 1988,di  universitas bergengsi di Kanada yaitu Carleton University, Ottawa.Hary berhasil menggenggam gelar Bachelor of Commerce.

Tahun 1989, di Ottawa University dan Hary meraih gelar Master of Business Administration. dalam waktu satu tahun beliau sudah mampu mengantongi gelar Master nya.

Tahun 1989 beliau menjadi pendiri, Grup PT Bhakti Investama Tbk yang sekaligus sebagai pemegang saham dan Presiden Eksekutif.

Tahun 2000,  Hary Tanoesoedibjo mengambil alih kepemilikan dari PT Bimantara Citra Tbk yang sebelumnya dimiliki oleh anak mantan Presiden Soeharto yaitu Bambang Trihatmodjo, Hary Tanoesoedibjo kemudian mengusung ambisi ingin menjadi jawara bisnis media penyiaran dan telekomunikasi. Dan, mimpi itu terbukti. Kini Hary Tanoesoedibjo mempunyai banyak stasiun TV swasta seperti RCTI, MNC TV, dan Global TV, perusahaan TV berlangganan Indovision, juga stasiun radio Trijaya FM dan media cetak Harian Seputar Indonesia dan Majalah Ekonomi. Belakangan, untuk menambah eksistensinya dalam dunia media, Bimantara juga menerbitkan media cetak. Sampai saat ini ada majalah, tabloid, dan koran yang bergabung di bawah bendera Grup Bimantara. Ada majalah ekonomi dan bisnis Trust, tabloid remaja Genie,

Tahun 2002,  Hary ditunjuk sebagai Presiden Direktur untuk PT Global Mediacom Tbk. Sebelumnya beliau sudah menjabat sebagai Wakil Presiden Komisaris untuk perusahaan yang sama. Saat ini Hary menjelma sebagai pengusaha kaya raya dan memangku jabatan penting di berbagai jenis perusahaan besar di Indonesia.

Tahun 2003, beliau juga menjadi Presiden Direktur untuk PT Rajawali Citra Televisi Indonesia yang merupakan salah satu Channel televisi terbesar di Indonesia. Selain itu beliau juga diangkat sebagai Komisaris PT Mobile-8 Telecom Tbk, Indovision, serta berbagai perusahaan yang bernaung di Global Mediacom serta Bhakti Investama. juga saat ini aktif sebagai Bendahara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Hary Ia telah berulang kali menjadi pembicara di berbagai seminar dan menjadi dosen tamu dalam bidang Keuangan Perusahaan, Investasi dan Manajemen Strategis untuk program magister di berbagai perguruan tinggi.

Tahun 2005, Hary Tanoesoedibjo dinobatkan Warta Ekonomi sebagai salah seorang Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh.

Tahun 2005, menerbitkan harian Seputar Indonesia. Ke depan, MNC diproyeksikan menjadi perusahaan subholding yang bertindak sebagai induk media penyiaran di bawah Grup Bimantara. MNC juga bakal menjadi rumah produksi yang akan memasok acara-acara ke RCTI, TPI, Global TV, dan semua jaringan radionya. Selain itu, MNC akan membangun jaringan radio nasional di seluruh wilayah Tanah Air. Hary telah membuktikan kemampuannya membangun dinasti bisnis, dengan nilai aset US$ 7,2 miliar. Kinerja bisnis cemerlang itu ia lakukan hanya dalam tempo 14 tahun.

Tahun 2011, Forbes merilis daftar orang terkaya di Indonesia, dan pengusaha Hary Tanoesoedibjo menduduki peringkat ke-22 dengan total nilai kekayaan yang dimilikinya adalah sebesar “US$ 1,19 miliar”

9 Oktober 2011, Hary Tanoesoedibjo terjun ke panggung politik bergabung dengan partai Nasional Demokrat (Nasdem), mesin politik besutan mantan politisi senior partai Golkar, Surya Paloh. Keputusan Hary terjun ke dunia politik dilakukan setelah ia menguasai sepertiga pemirsa televisi di Indonesia. Sekarang, ia bersama Surya Paloh yang juga pemilik media televisi di Indonesia akan mengadu peruntungan di kancah politik nasional. Hary Tanoesoedibjo kini rela meluangkan waktunya untuk berpolitik. Sejak ia berkiprah dalam kancah politik praktis melalui Partai NasDem, Hary selalu mendengung-dengungkan “Gerakan Perubahan” yang dimotori oleh kelompok angkatan muda bangsa Indonesia. Sebab menurutnya, di dalam Partai NasDem sendiri 70% kader partainya adalah terdiri dari kaum generasi anak muda bangsa.

November 2011, Hary Tanoesoedibjo muncul pada acara Rapat Pimpinan Nasional Partai NasDem yang pertama. Di partai tersebut, Hary dipercaya sebagai Ketua Dewan Pakar Partai NasDem dan juga sebagai Wakil Ketua Majelis Nasional Partai NasDem.

Juni 2012, Hary Tanoesoedibjo diinterogasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sehubungan dengan kasus korupsi Tommy Hindratno, pejabat pajak di Kantor Pajak Sidoarjo, dan James Gunarjo, yang diyakini terhubung dengan PT. Bhakti Investama Tbk., perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo. Tommy diduga bertindak sebagai perantara untuk memastikan penggantian sebesar Rp 3,4 miliar dalam bentuk pajak bahwa perusahaan diduga telah membayar lebih. KPK menggerebek kantor PT. Bhakti Investama Tbk. di Menara MNC di Jakarta Pusat dan PT. Agis, yang terletak di gedung yang sama, di mana PT. Bhakti Investama Tbk. memiliki saham di PT. Agis pada tahun 2002 dan 2004.

21 Januari 2013, Hary Tanoesoedibjo mengumumkan bahwa ia resmi mengundurkan diri dari Partai NasDem yang dikarenakan adanya perbedaan pendapat dan pandangan mengenai struktur kepengurusan Partai NasDem. Sebab menurut Hary lagi bahwa “Politik” itu adalah “Idealisme”, meski sebenarnya dirinya merasa sedih dan sangat berat meninggalkan Partai NasDem yang telah tiga bulan terakhir ini ia besarkan, apalagi Partai NasDem telah berhasil lolos verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan resmi menjadi partai politik peserta Pemilu 2014 dengan nomor urutan “1” (nomor urutan yang pertama)

21 Januari 2013 Hary Tanoesoedibjo menggelar konferensi pers dan menyatakan mundur dari kepengurusan partai Nasdem dan kembali fokus di dunia Bisnis.=S1Wh0T0=

Alim Markus alias Lim Wen, Surabaya

Alim MarkusRabu, 24 Oktober 1951, Alim Markus alias Lim Wen Kwang lahir di Surabaya, Jawa Timur, dari pasangan Ayah Alim Husin, Ibu Angkasa Rachmawati

Oktober 1965, Alim Husein mendirikan UD Logam Djawa yang menjadi cikal bakal Maspion. di Jalan Kapasan Gang II Nomor 2 Surabaya.

Meski tak menyelesaikan pendidikan SMP, namun bukan berarti Alim Markus melupakan urusan pendidikan,  Alim Markus pernah belajar manajemen dengan kursus di Pan Pacific Professional Management, Taiwan.

Tahun 1972,  PT. Logam Djawa di awali 8 orang pegawai dengan produksi 300 lusin lampu templok setiap harinya berkembang, bertambah dengan produksi lampu nelayan. Menjadi Maspion Grup dengan 53 anak perusahaan dan 30.000 karyawan, yang aktif menggeluti lima bidang bisnis.

Pertama produk konsumen yang sangat akrab dengan ibu rumahtangga, antara lain memproduksi panci teflon, termos plastik, kulkas, kompor gas, pompa air, kipas angin, dan lain-lain. Badan usaha yang terlibat di sini PT Maspion, PT Trisula Pack Indah, PT Royal Chemical, PT Maspion Flatware, dan PT Indofibre Mattres Indonesia.

Kedua konstruksi material dan industri yang melibatkan tujuh anak perusahaan, PT Maspion, PT Maspion Kencana, PT Indal Steel Pipe, PT Alumindo Light Metal Industry, PT Aneka Kabel Cipta Guna, PT Indal Aluminium Industry, dan PT Indalex.

Ketiga properti, membangun maupun mengelola aset properti seperti Maspion Mall, Wisma Maspion, Wisma Moneter, Pondok Maspion, CIMAC, PT Bintang Osowilangun, PT Maspion Industrial Estate, PT Alumindo Industrial Estate, dan PT Altap Prima Industrial Estate. Satu aset tersebut yang kini sangat dibanggakan Alim Markus adalah Kawasan Industri Maspion seluas 300 hektar, 100 hektar diantaranya untuk digunakan sendiri oleh Grup Maspion. Letaknya hanya 10 kilometer dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Keempat, pendirian gedung perkantoran dan bisnis Plaza Maspion setinggi 18 lantai di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat.

Kelima bisnis jasa keuangan dengan bendera usaha Bank Maspion, Maspion Securities, dan Maspion Money Changer.

Alim Husein mempercayakan usahanya ke tangan anak-anaknya, sebagai anak tertua Alim Markus ditunjuk sebagai presiden direktur dengan saudaranya yang bernama Alim Mulia Sastra, Alim Satria, dan Alim Prakasa sebagai direktur pengelola, sedangkan Alim Husin sebagai Chairman.

Di tahun ini pula Alim Markus memiliki mobil pertamanya yakni Holden. Markus juga memboyong keluarganya dari rumah petak ke kawasan yang lebih elit yakni di Embong Tanjung No. 5, yang dia tinggali sampai sekarang. Perusahaan pun dipindah ke daerah Gedangan, Sidoarjo.

Tahun 1980, Alim Markus menggantikan posisi ayahnya. Ini luar biasa, sebab Alim Markus saat itu baru berusia 30 tahun.

Tahun 2003, Alim Husin meninggal dunia.

Tahun 2010, Alim Markus & keluarga masuk Daftar Orang Terkaya Indonesia  Versi Forbes menduduki peringkat ke 37 besar  kekayaan 140 juta USD, urutan pertama ditempati Aburizal Bakrie & keluarga besar kekayaan 5,4 miliar USD.

Sabtu, 12 Maret 2011, di Kampus Untag, Jalan Semolowaru 45, Surabaya, Jawa Timur. Mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa (HC) di bidang Ilmu Ekonomi dari Universitas 17 Agustus 1945 (Untag), Surabaya, Jawa Timur sesuai dengan SK Rektor Untag Nomor 067/SK/ R/III/2011 tanggal 10 Maret 2011.

November 2011, Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya membatalkan gelar Doktor Kehormatan Alim Markus, karena tidak berijazah SMP. Para Alumnus UNTAG dan Pihak Kampus UNTAG sendiri,  menilai pemberian gelar tersebut tidak sesuai dengan keputusan menteri pendidikan nasional No 178/U/2001 tentang gelar pasal 15 ayat 1 angka 1 yang mengatur doktor honoris causa bisa diberikan kepada seseorang yang minimal berpendidikan S-1 (sarjana).

Beristrikan  Sriyanti dikaruniai  tujuh orang  anak, 2 putra dan 5 putri yang pernah menjadi anggota Dewan Ekonomi Presiden ini juga Ketua Kadinda Surabaya.  Pernah menjadi Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jatim.

12 Maret 2011 meluncurkan buku yang terdiri dari lima bab berjudul “100 Jurus Bisnis, Alim Markus Seorang Anak Bangsa”. Dr. Ir. Jamhadi MBA dan wartawan senior, Dr. Tatang Istiawan melakukan bedah buku di kampus Untag yang dihadiri 400 undangan dengan para peserta mayoritas mahasiswa Pascasarjana Untag Surabaya.

Dalam mengelola Maspion, sampai kini, Alim Markus ditunjuk sebagai pimpinan dengan saham lebih besar dari adik-adiknya. Alim Markus sahamnya 25 persen. Sedangkan tiga adik laki-lakinya masing-masing 20 persen. Sisanya adik perempuan Alim Puspita, tidak mengelola di grup Maspion, sehingga hanya menjadi pemegang saham pasif dengan saham minoritas.

=S1Wh0T0=