Latar Belakang Sejarah Pondok Pesantren Gontor

Sejarah GontorPada sekitar pertengahan abad ke 18 (sekitar tahun 1742 ) hiduplah seorang kyai terkenal bernama ” Kanjeng Kyai Hasan Bashari” atau “Besari” disebuah desa terpencil kurang lebih 10 Km disebelah selatan kabupaten Ponorogo. Desa yang diapit oleh dua buah sungai itu bernama “Tegalsari” dimana terdapat sebuah pondok pesantren yang kemudian kesohor dengan nama “Pondok Tegalsari”. Karena kealiman dan kharisma Kyainya maka berdatanganlah para santri hingga jumlahnya ribuan, berasal dari seluruh tanah Jawa dan sekitarnya,sehingga seluruh desa menjadi pondok bahkan melimpah hingga desa-desa sekitarnya, seperti desa Jabung (Nglawu), desa Josari dan lain-lain.
Pada suatu hari tepatnya tanggal 30 Juni 1742 kerajaan Kartasura mendapat bencana hebat, pemberontakan Cina yang dipimpin oleh RM Garenda Susuhunan Kuning terjadi dimana-mana, sehingga keraton dalam keadaan bahaya. Karena hebatnya serangan dan keadaan yang kurang aman maka Paku Buana II atau Sunan Kumbul pergi dengan diam-diam meninggalkan keraton menuju ketimur gunung lawu. Setelah menempuh perjalanan yang panjang siang dan malam bersama para pengkutnya, ia menemukan sebuah perguruan Islam atau pesantren yang telah kesohor dengan nama Tegalsari itu. Dalam keadaan prihatin dan gelisah ia datang berserah diri kepada Kanjeng Kyai Hasan Bashari dan tinggallah ia disana untuk bertafakkur, dan bermunajat pada Allah dibawah bimbingan Kyai. Dan berkat keuletan dan kesungguhannya dalam berdoa serta keikhlasan bimbingan dan doa Kyai, Allah mengabulkan doanya. Api pemberontakan akhirnya reda dan bahkan padam sama sekali, akhirnya Paku Buana II kembali ke keraton dan menduduki lagi tahtanya. Dan sebagai balas budinya, semenjak itu Tegalsari menjadi suatu daerah merdeka, bebas dari segala kewajiban terhadap kerajaan. Daerah yang bebas dari kerajaan ini disebut “PERDIKAN” atau “PERDEKAN”. (Lihat Babad Perdek- an Tegalsari)
Sejarah pondok Gontor.Pondok Pesantren Tegalsari terus hidup dari generasi ke generasi dan terus berkembang. Banyak alumninya yang menjadi tokoh masyarakat yang tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia,diantaranya adalah Pujangga Jawa kenamaan Raden Ngabehi Ronggo- warsito (wafat th.1803), tokoh pergerakan Nasional H.O.S.Cokroaminoto (wafat 1923) dan lain lain. Dan tidak sedikit pula alumninya yang menjadi Negarawan, Pejabat pemerintahan, pengusaha, ulama, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Namun pada pertengahan abad 19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Bashari Pesantren Tegalsari mulai surut.
Pada masa kepemimpinan Kyai Chalifah (putera Kyai Hasan Bashari) seorang dari antara santrinya bernama Sulaiman Jamaluddin datang dari daerah Pasundan tepatnya Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyai nya karena kecerdasannya, Kyai pun sangat sayang padanya, maka setelah Sulai¬man Jamaluddin dirasa telah cukup belajarnya ia lalu diambil menantu oleh Kyai dan jadilah ia Kyai muda yang sering dipercaya menggantikan Kyai, saat Kyai berhalangan. Dan ka- rena kealimannya yang semakin menonjol diberilah ia suatu tempat di- tengah hutan belantara ( kurang lebih 3 Km sebelah timur Pondok Pesantren Tegalsari ) dan 40 orang santri untuk mendirikan Pondok Pesantren seperti Tegalsari. Dengan 40 orang santri (salah satu syarat syahnya sha- lat Jum’at) dan seorang istri berangkatlah Kyai Sulaiman Jamaltiddin ke suatu tempat diseberang sungai Malo.Dan disanalah Kyai muda itu mendirikan pondokan bersama para santrinya. Tempat itu kini diberi nama “Gontor” . Kyai Sulaiman Jamaluddin asal Cirebon itu ternyata adalah salah seorang putera Penghulu Jamaluddin. Penghulu Jamaluddin adalah putera Pangeran Hadiraja atau Sultan Kesepuhan Cirebon.
Sejarah pondok Gontor..Pesantren Gontor yang dirintis oleh Kyai Sulaiman Jamaluddin ini berkembang pesat, khususnya ketika dipimpin oleh puteranya, Kyai Archam Anom Besari. Santri-santrinya berasal dari berbagai daerah di Jawa, konon banyak pula santri-santri dari daerah pasundan Jawa Barat. Setelah Kyai Archam wafat pesantren ini dilanjutkan oleh generasi ketiga yaitu Kyai Santoso Anom Besari putera Kyai Archam Anom Besari. Namun pada generasi ketiga ini pondok Gontor mulai surut, kaderisasi dalam keluarga untuk kelanjutan hidup pesan¬tren Gontor kurang diperhatikan dan tinggallah Kyai Santoso Anom Besari beserta seorang istri, 4 orang putera dan 3 orang puteri, dengan sebuah masjid kecil yang tidak lagi ramai oleh santri. Meskipun Pesantren Gontor sudah tidak semaju dizaman ayah dan neneknya namun Kyai Santoso tetap bertekad menegakkan agama didesa Gontor. Ia tetap figur Kyai di desa Gontor dan sekitarnya. Dalam usia yang belum begitu lanjut Kyai Santoso dipanggil Allah SWT. Saudara-saudaranya tidak ada yang sanggup menggantikannya.Dan tinggalah seorang istri berserta ketujuh putera puterinya. Dengan peninggalan sebuah rumah sederhana dan masjid tua warisan nenek moyangnya itu Ibu Santoso mendidik putera-puterinya.
Putera Pertamanya, R.Rahmat Sukarto kemudian menjadi Kepala Desa Gontor. Sedang ketiga putera lainnya dimasukkan Pesantren guna memperdalam agama, dan dengan berbagai macam cara ketiganya dididik dibesarkan agar dapat meneruskan perjuangan nenek moyangnya, yaitu memperbaiki kembali pondok pesantren yang telah lama mati. Ketiga puteranya itu adalah : Ahmad Sahal (Putera kelima) Zainuddin Fannani (Putera keenam ) Imam Zarkasyi (Putera ketujuh) Belum lagi selesai masa belajar dan belum pula cukup dewasa keti¬ga orang ini harus mengalami cobaan yang sangat berat, Ibunda tercinta dipanggil Allah SWT. Namun hal itu tidak mengecilkan hati mereka, dengan keadaan ekonomi yang serba kurang mereka terus belajar dari satu tempat ketempat lainnya hingga selesai.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Kenang-kenangan Pringatan delapan Windu 1926-1990, Pondok Medern Darussalam Gontor Ponorogo 8 Windu/ halaman 10-13

Pakaian Tradisi Adat Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Tradisi Adat Jawa Ponoragan, Kabupaten Ponorogo ,pakaian resmi pria dewasa bangsawan, nama pakaian bagian atas baju wakthung dan baju kuthungan, bagian bawah : Celana gombor maro gares.

Unsur perlengkapan pakaian :

Bagian kepala memakai tutup kepala: Blangkon Ponoragan terbuat dari kain batik, berwarna hitam atau biru, motifnya cemukiran, namanya udeng cemukiran dan lain-lainnya bermotif kembang melati merata di tepi ikat kepala, namanya udeng gadung melati. Ukurannya sesuai dengan kepala si pemakai, sedangkan bentuknya seperti pada umumnya ikat kepala (blang- kon), tetapi di bagian belakang ada mondolannya. Mondolan adalah : Suatu bagian paling bawah daripada ikat kepala tepatnya terletak di atas tengkuk manusia dan berbentuk bulat panjang. Mondolan ini fungsinya untuk menyimpan rambut si pemakai yang panjang dengan cara ditekuk-tekuk. Konon pada jaman dahulu orang laki-laki di Ponorogo umumnya mempunyai rambut panjang. Oleh sebab itu bila mema­kai blangkon, rambutnya yang panjang harus digelung dulu dan setelah digelung diberi sisir penyu sebagai penguat gelung, kemudian di taruh di bagian belakang blangkonnya. Itulah sebabnya blangkon orang Ponorogo sekarang ada mondolannya. Sedang gelungnya disebut: gelung kadal menek, artinya seperti kadal yang merayap ke atas.

Topi Ponorogo ada 2 macam yaitu, Peci Pacal Gowang, yaitu bentuk tutup kepala yang krowak atau ber- lobang di bagian belakang kepala dan dipakai sete­lah memakai ikat kepala (udeng). Oleh sebab itu ikat kepala jenis jingkingan ini tidak memakai tan- duk seperti ikat kepala jenis pancalan.   Peci-Dines Bentuk tutup kepala ini seperti topi kondektur kereta api dan di bagian muka terdapat hiasan ber­bentuk krown (mahkota). Bahannya kain dril yang tebal, berwarna hitam. Fungsi pada jaman dahulu untuk pakaian pengantin laki-laki.

          Bagian atas memakai Baju wakthung, artinya krowak di buthung atau krowak di bagian punggung. Bahannya dahulu dipakai kain laken, tetapi sekarang dipakai kain catarina, yang berwarna hitam, polos, ti­dak bermotif. Ukurannya disesuaikan dengan badan si pemakai. Model baju dibuat tidak memakai krah, pan jang lengannya sampai pergelangan tangan, bagian bela­kang di “krowak” atau terpotong sampai di atas ikat pinggang. Kancing baju ada 5 biji dengan susunan : di atas 2 biji, di tengah 2 biji dan di bawah 1 biji. Pola pa­kaian.

Baju kuthungan ialah baju bagian dalam yang berlengan pen- dek dan memakai gulon atau krah. Bahannya kain mori, berwarna putih kecuali krahnya berwarna merah, tidak bermotif, ukurannya disesuaikan dengan badan si pemakai. Bentuknya seperti hem lengan pendek, panjangnya hanya sampai pinggang. Jumlah kancing 5 buah (lihat gambar). Perhiasan di dada, bagi bangsawan yang berada (mampu), biasanya pada baju wakthung dilengkapi dengan hiasan dada berupa : jam saku lengkap dengan rantai peraknya (Ponorogo : Perde). Selain jam saku dengan rantainya, ada juga yang me­makai hiasan lain berupa gandul krepyak uang emas yang terdiri dari : dinar ringgit, dinar repes, dinar ukon, dinar talen, dinar ece/ketip. Uang-uang emas ini disusun (ditata) menjadi satu deret- an dari yang terkecil sampai dengan yang terbesar dan digantungkan dari saku kanan ke saku kiri atau dari saku kiri ke kancing baju bagian atas. Bagi rakyat biasa yang kurang mampu, hanya memakai gandul kuku macan. Unsur perhiasan di tangan berupa Cincin yang terbuat dari emas, berwarna kuning dengan motif cere gancet. Ukurannya dibuat sesuai menurut ke­mampuan. Bentuk cere gancet seperti anjing kawin atau anak coro yang berhimpitan.

Bagian bawah Celana gombor maro gares, yaitu celana yang panjang­nya hanya setengah lutut atau separuhnya tulang ke- ring, memakai koloran dari benang lawe yang dipilin atau ditampar/dikelabang menjadi tali, dengan bahan la- kan dan warna hitam, tidak bermotif. Ukurannya agak longgar (gombor). Model celana dibuat longgar atau gombor, di bagian atas diberi jahitan untuk tempat ko­loran dari tali lawe. Celana dibuat tanpa memakai un- juk-unjuk. Panjang celana hanya setengah lutut atau te- patnya di bawah dengkul. Pola celana : lihat gambar. Celana gombor ini ada 2 macam yaitu, Celana gombor maro gares dan Celana gombor dingkik’ an, seperti celana gombor maro gares tetapi di samping dengkul ada kancing 3 biji.

Jarit (kain panjang), bahannya kain mori (batik), berwarna hitam dengan latar ireng, motifnya parang barong atau lar-laran, dengan ukuran seperti kain panjang pada umumnya. Bentuknya empat persegi panjang, jumlah wiron tidak ada ketentuan dan ukuran wiron kurang lebih 2,5 cm. Ikat pinggang terdiri dari 2 macam yaitu :

ü   Sabuk ubet, bahan sabuk ubet ini adalah kain hitam, tidak ber­motif, dengan ukuran panjang ± 1 meter dan lebar ± 20 cm berbentuk panjang.

  • Sabuk epek lengkap dengan ketimangnya berbahan kain beludru, sedang untuk ketimangnya dari besi, kuningan, perak atau emas. Warnanya hitam untuk epeknya dan untuk keti­mangnya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Motif hiasan borci atau dibordir dengan benang emas (untuk epeknya), sedangkan untuk ketimang­nya polos. Ukuran panjang ± 1 meter dan lebar- nya ± 20 centimeter. Bentuk seperti ikat pinggang pada umuinnya.
  • Senjata atau gaman untuk melengkapi pakaian adat ini terdiri dari 2 macam yaitu : 1.Pedang wesi aji lengkap dengan anggarannya, yaitu tempat untuk mengaitkan pedang. Bahannya dari besi untuk pedangnya, sedangkan ang­garannya terbuat dari kulit harimau. Warnanya putih untuk pedangnya, sedangkan anggarannya berwarna coklat, bermotif polos. Bentuknya seperti pedang pa­da umumnya, hanya untuk pedang wesi aji ini diberi anggaran dari kulit harimau, biasanya hanya dipakai oleh golongan bangsawan saja. 2. Keris (Ponorogo : Gabelan) Selain pedang wesi aji, para orang tua di Ponorogo juga memakai atau melengkapi dirinya dengan keris, dari besi berwarna putih, motifnya blangkrak, dengan ukuran seperti ukuran keris pada umumnya. Bentuk seperti bentuk keris pada umumnya. Keris ini diletak- kan di belakang, condong ke sebelah kanan. Oleh se­bab itulah maka bajunya wakthung atau pakal kro­wak di punggung. Keris ini dipergunakan andaikata sudah terdesak sekali untuk menyelamatkan dirinya. Bila hanya bahayaa ringan yang menyerang, maka yang dipergunakan terlebih dahulu adalah pedang.

Alas kaki Unsur perlengkapan bagian kaki memakai alas kaki, disebut selop atau eripu, dengan bahan dan kulit, ber­warna hitam polos. Ukurannya tidak ada ketentuan, jadi sesuai dengan kaki pemakai. Bentuknya, bagian de­pan tertutup rapat dan tinggi selop sejajar. Cripu ini khusus dipakai oleh para bangsawan saja, orang biasa tidak berani memakai.

Cara berpakaian, mula-mula memakai celana gombor maro gares warna hitam dengan kolor lawe. Celana tersebut diikat kencang di pinggang dengan kolor lawe dan setelah diikat, kolornya dibiarkan ngle- wer supaya kelihatan. Setelah itu dipakai kain panjang yang su­dah diwiru besar-besar dengan cara dililitkan melingkari badan dari arah kanan ke kiri, dipakai dari batas pinggang sampai di atas mata kaki.

Kemudian memakai ikat pinggang sabuk ubed warna hitam, seperti memakai setagen yaitu dililitkan di ping- gang. Sabuk ubed ini berfungsi sebagai pengikat antara kain pan­jang dengan pinggang si pemakai agar kain panjang tidak mudah lepas. Setelah itu dipakai ikat pinggang sabuk epek lengkap de­ngan timangnya, agar kain lebih kuat lagi. Lalu dipakai senjata, pedang wesi aji lengkap dengan anggarannya. Pedang ini diletakkan di belakang. Kemudian dipakai ikat kepala blangkon Ponoragan lengkap dengan hiasan mondolannya. Ada pun cara me­makai ikat kepala ini bagi golongan bangsawan disebut “jingking- an” yaitu ikat kepala yang tidak memakai semacam tanduk se­perti halnya ikat kepala jenis pancalan. Setelah itu dipakai peci pacul gowang dan talinya dikaitkan atau diikatkan dengan mon­dolannya agar tidak jatuh, baru dipakai baju kuthungan warna putih. Kelima kancingnya dikancingkan semua. Kemudian dipa­kai baju wakthung, kelima buah kancing dikancingkan semua (tertutup rapat). Setelah itu dipakai alas kaki selop atau cripu. Kemudian memakai keris motif blangkrak. Keris ini diletakkan di belakang, condong ke sebelah kanan dan diselipkan di dalam ikat pinggangnya. Kalau dipakai perhiasan di dada berupa gandul krepyak uang emas atau gandul kuku macan dan perhiasan di tangan berupa cincin.

Fungsi pakaian, ialah untuk bepergian, misalnya melawat ke daerah-daerah lain atau bilamenemui tamu-tamu da­ri luar daerah dan menyambut tamu agung. Selain itu juga dipakai untuk menghadiri acara resmi dalam pesta perkawinan.

  1. Arti simbolis. untuk warna hitam pada baju wakthung dan celana gombor maro gares ialah; Warna hitam dipandang dari segi religius adalah melambangkan ketenteraman dan kelanggengan (abadi). Bahwa orang Ponorogo dahulu mengingin- kan hidupnya tenteram. Bagi masyarakat Ponoro­go, warna hitam merupakan warna yang bersifat langgeng. Oleh sebab itu warna hitam pada baju dan celananya sudah tidak bisa diubah lagi dengan warna yang lain.Warna hitam dipandang dari segi historisnya ialah karena kena pengaruh kebudayaan Solo yang menyenangi warna hitam. Selain itu juga karena daerah Ponorogo merupakan daerah atau tempat pembuangan dari Majapahit (daerah wetan Nglawu) yang pada waktu itu merupakan tempat kegelapan.
  2. Arti simbolis jumlah kancing 5 biji pada bajunya ialah melambangkan bahwa kekuatan manusia itu terletak pada lima jari.
  3. Arti simbolis warna merah’pada krah baju kuthungan atau baju dalamnya ialah bahwa warna merah bagi orang Ponogoro melambangkan keberanian dan juga ka­rena ada pengaruh politik, sehingga sampai sekarang warna tersebut masih tetap dipakai.
  4. Arti simbolis daripada kolor pada celana gombor maro gares ialah karena pada kolor ini ada unsur magisnya dan bagi orang Ponorogo, kolor merupakan senjata ampuh. Menurut sumber keterangan dari salah seorang informan, bahwa yang sungguh-sungguh ampuh itu justru terletak pada kantongannya karena di dalamnya diisi dengan jimat-jimat berupak menyan, rajah atau macam-macam kepercayaan orang. Selain itu agar dapat betul-betul ampuh bila difetakkan di tempat yang keramat (Jawa : disotrekkan), artinya dikeramatkan. Kolor yang ada isinya ini justru diikatkan di luar jarik (kain panjangnya), jadi bukan di dalam celananya.
  5. Arti simbolis motif lar-laran pada kain panjangnya ialah karena motif ini adalah suatu gambaran yang membedakan antara bangsawan dan rakyat biasa atau sebagai simbol status sosial. Jadi yang boleh memakai motif ini hanyalah kaum bangsawan. Demikian juga halnya de­ngan pemakaian selopnya. Selop ini hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan saja, karena dari selop tersebut dapat menunjukkan tentang status seseorang yaitu bang- sawan. Dalam hal ini rakyat biasa juga tidak boleh me­makainya.
  6. Arti simbolis pemakaian anggaran (bagian dari senjata) yang memakai bahan dari kulit harimau ialah bahwa orang yang memakai anggaran pada senjatanya dikata- kan seperti raja. Maksudnya bila seseorang memakai pakaian adat lengkap dengan senjata dan anggarannya, maka berarti orang tersebut sudah mengenakan pakaian kebesaran sepertilayaknya seorang raja Seseorang yang mengenakan pakaian ini mempunyai maksud agar dihor- mati dan disegani orang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm.127-134

Pakaian Adat Tradisi Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Resmi Bangsawan Wanita Dewasa , nama Pakaian bagian atas klambi kebaya panjang  bagian bawah Jarit (kain panjang). Sedangkan sebagai unsur perlengkapan pakaianadalah sebagai berikut:

 Bagian kepala :

Wajah Rias wajah dengan menggunakan.

(a)  Wedak gadhung dan wedak teles atau wadak dari bahan beras. Cara membuat wedak gadhung adalah sebagai berikut • Beras direndam dalam air selama kurang lebih 5 atau 7 hari. Tiap hari airnya harus diganti. Setelah itu ditumbuk atau diremas dan di- diamkan untuk beberaoa waktu. Setelah lembut di saring dan sisa/ampas dari beras yang halus itu di­beri ramuan wangi-wangian dari bunga kenanga, kantil dan daun pandan. Kemudian dibentuk bulat- bulat dan dijemur sampai kering. Setelah itu dipo- leskan ke seluruh wajah. Adapun fungsinya agar muka tampak cantik dan segar.

(b)  Celak yaitu hiasan berupa garis di atas dan di ba­wah kelopak mata. Bahannya langes (bahasa Jawa) yaitu, asap api yang mengeras. Warnanya biasanya hitam.

(c)  Nginang (makan sirih), salah satu kebiasaan orang-orang tua di Ponorogo adalah nginang yaitu : mengunyah sirih dengan segala bumbu-bumbunya antara lain : enjet (kapur- sirih), gambir dari isi buah pinang. Sirih ini diku- nyah sampai lembut/halus, setelah itu dibuang dan di bersihkan dengan tembakau yang telah dibentuk bulat. Fungsi daripada makan sirih (nginang) ini adalah untuk menguatkan gigi dan memerahkan bibir.

Rambut

Memakai sanggul gelung konde, di atas sanggul dipakai hiasan bunga melati. Hiasan lain berupa 2 buah tusuk (cucuk) konde. Bahannya emas bermata intan, perak atau baga. Ben­tuknya Sendokan (seperti sendok) dan manggaran (se­perti bunga kelapa).

Telinga

Hiasan di telinga ialah suweng gem bung dengan temung- gul atau intan yang besar di tengah-tengah, serta di ling- kari oleh 8 intan yang kecil-kecil. Di belakang temung- gul ada semacam sekrup dari tembaga sebagai (alat un­tuk mengunci antara suweng dengan telinga agar tidak mudah lepas. Suweng yaitu subang bahannya terbuat dari emas dengan banyak permata, biasanya permata intan atau berlian. Dasar suweng berwarna hitam terbuat dari bahan beludru.

Orang perempuan yang memakai subang sejenis ini, lobang telinganya harus besar (± diameter 1 centime­ter). Jadi bagian dari subang yang akan dimasukkan ke dalam lobang telinga ini bentuknya cukup besar, tidak seperti subang biasanya. Adapun cara untuk memperbesar lobang telinga ini ialah dengan diberi merang atau batang padi. Jika menginginkan lobang tersebut ditambah, maka setiap hari jumlah merangnya harus ditambah pula. Lobang itu semakin hari semakin besar, sam­pai akhirnya cukup untuk diberi subang gembung.

Bagian atas :

Leher

Hiasan di leher berupa kalung rantai terbuat dari emas untuk pelengkapnya dipakai liontin ada beberapa ben­tuk liontin, yitu:

  • Bentuk keris dengan mata beijumlah 9 buah.
  • Bentuk bulan dengan mata beijumlah 6 buah. Ba­han dari emas dan matanya dari intan.

ü   Bentuk kuku macan, bagi mereka yang kurang mampu. Bahannya berupa kuku macan asli dengan warnanya putih kekuningan.

Kebaya panjang dengan memakai Kutubaru. Bahannya kain beludru, berwarna hitam polos. Bentuk­nya seperti pada umumnya kebaya Jawa, ukuran pan­jang kebaya sampai di bawah pinggul atau di bawah pan- tat/menutupi pantat.

Hiasan pada baju kebaya berupa peniti rantai, yang ter­buat dari emas. Bahan emas, motifnya bentuk huruf S atau motif kembang atau motif tebu sekeret.

Bagian dada, dipakai kutang sebagai sarana penutup buah dada supaya bentuknya bagus.

  • Kemben, yaitu sepotong kain penutup dada dan dipa­kai setelah memakai setagen, dari kain batik, bermotif jemputan atau lompong keli, yang berwarna-warni. Ukuran panjang ± 2 meter, lebar ± 40 centimeter.
  • Selendang ciut, yaitu sepotong kain kecil sebagai pelengkap kalau me­makai kain kebaya, bahannya kain batik. Motifnya truntum (satu stel dengan kain panjangnya), dengan warna hitam, ukuran panjang ± 2 meter dan lebar ± 40 cm. Bentuk seperti selendang pada umumnya, yaitu persegi-empat panjang.

Bagian tangan, hiasan di tangan berupa gelang penuh permata yang ber- nama gelang tretes terbuat dari emas. Bentuknya ulan-ulan yaitu menyerupai lilitan ular, atau bentuk untir-untir yang menyerupai spiral (pir).

Bagian bawah :

Kain panjang atau jarit yaitu sehelai .bahan berbentuk empat persegi panjang, berukuran 2% x 1 meter, ter­buat dari batik yaitu kain mori yang dilukisatau digambar, dengan motif bledak atau truntum dengan hiasan lar-laran. Ukuran seperti kain panjang pada umurnya yaitu panjang 2 meter dari lebarnya ± 1 meter. Bentuk empat persegi panjang dengan jumlah wiron antara 20 dan 22.

Setagen

Setagen yaitu sepotong kain yang panjang dan sempit terbuat dari kain tenun yang kuat dipergunakan untuk mengikat antara kain panjang dengan badan (pinggang). Bahannya kain tenun, dengan warna hitam. Ukuran pan­jang ± 5 meter, lebar ± 15 cm.

Alas kaki

Namanya selop beludru atau sandal yang bersulam hias­an mote (manik-manik). Bahannya kulit, berwarna hi­tam dan dihias manik-manik yang berwarna-warni. Fungsinya sebagai pelindung dan penghias kaki. Bentuk selop, tertutup bagian depannya dan tidak terlalu ting- gi, sedangkan sandalnya kadang-kadang terbuka bagian depannya.

Cara berpakaian

Mula-mula dipakai jarit (kain panjang) yang sudah diwiron de­ngan cara dililitkan di badan sampai ke mata kaki. Setelah itu di­pakai setagen yang dililitkan di pinggang agak kencang agar kain tidak mudah terlepas. Kemudian dipakai kemben, yaitu sepo­tong kain batik yang berfungsi sebagai penutup bagian dada sam­pai ke pinggang. Setelah itu dikenakan kebaya panjang, lalu dipa­kai selop dan terakhir selendang.

Fungsi

Fungsi pakaian adat ini ialah untuk pakaian bepergian, misal­nya menghadiri pesta perkawinan atau menyambut tamu agung. Sedangkan fungsi hiasan adalah untuk suatu kebang- gaan atau perlambang suatu kekayaan.

Arti simbolis:

  • Arti simbolis kuku macan sebagai leontin/bandul ka­lung : kecuali untuk perhiasan, pada kuku macan terse- but ada yoni yaitu unsur kekuatan gaib yang fungsinya menjaga keselamatan si pemakai.
  • Arti simbolis warna dasar hitam yang dipakai untuk ke- baya/busana wanita-wanita bangsawan di Ponorogo umumnya melambangkan : kelanggengan dan keabadian atau kewibawaan si pemakai.
  •  Arti simbolis motif truntum pada kain panjang yaitu suatu penghargaan yang diberikan pada mempelai ber- dua, jika kain ini dipakai pada saat menghadiri upacara perkawinan. Selain itu juga memberikan arti suatu kebahagiaan dan keselamatan bagi seluruh tamu yang di- sambut. Sedangkan motif  lar-urip (sayap) adalah suatu gambaran yang membedakan antara bangsawan dan rak­yat biasa (suatu simbol status sosial). Jadi motif  lar- urip ini tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa dan yang boleh mempergunakan hanyalah kaum bangsawan saja. Demikian juga halnya dengan selop (sandal). Selop ini hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan, karena selop itu menunjukkan tentang status seseorang yaitu bangsa­wan. Rakyat biasa tidak boleh memakainya.
  • Arti simbolis bunga melati pada sanggul yang dipakai adalah suatu perlambang keharuman, keagungan, kesu- cian dan suatu kharisma seorang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 123-127

Pakaian Adat Tradisi Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Resmi Wanita Remaja Bangsawan, nama Pakaian bagian atas klambi kebaya panjang, bagian bawah Jarit (kain panjang). Unsur Perlengkapan Pakaian pada  bagian kepala:

Wajah memakai wedak teles, Rias wajah memakai wedak gadung atau wedak te­les atau wedak yang dibuat dari bahan beras. Ada- pun cara membuat wedak gadung adalah sebagai berikut : Beras direndam dalam air selama 5—7 hari. Tiap hari airnya diganti. Setelah beras diren­dam kemudian ditumbuk (diremat) dan disaring. Setelah lembut, didiamkan untuk beberapa waktu. Sisa atau ampas dari beras yang halus tersebut diberi ramuan wangi-wangian dari bunga kenanga, kantil dan daun pandan. Kemudian dibentuk bu- lat-bulat dan dijemur sampai kering. Cara pema- kaian wedak aden ini ialah dicampur dengan air, lalu dipoleskan ke seluruh wajah. Fungsi wedak adem ialah agar muka tampak cantik berseri-seri.

Celak yaitu hiasan berupa garis di atas dan di ba­wah kelopak mata, bahannya ialah langes (bahasa : Jawa) yaitu asap api yang mengeras. Biasanya api dari lampu teplok yang nyalanya besar biasa mengeluarkan asap ba- nyak dan lama-lama menebal serta mengeras. Jela- ga yang telah mengeras itu berwarna hitam. Inilah yang dijadikan celak.

Rambut, untuk remaja putri biasanya dipakai sanggul berupa gelung konde dengan hiasan di atasnya 2 buah cucuk (tu­suk) konde, bahannya emas, perak atau tembaga, dan bentuknya menyerupai sendok dan manggaran menyerupai manggar (bunga kelapa).  Hiasan telinga memakai gondel (anting-anting), terbuat dari emas, berwarna kuning po­los. beratnya tidak ada ketentuan, biasanya disesuai­kan dengan kemampuan.  Bentuknya seperti bentuk setengah lingkaran.

Bagian atas,  Hiasan di leher berupa kalung rantai (menyerupai se­perti rantai). Bila dari kalangan orang berada atau mampu, maka diberi gandul atau leontin dinar (uane Arab). Bahannya emas, dengan warna kekuning-kuningan de­ngan bentuk seperti rantai dan liontinnya bulat seperti uang logam. Klambi kebaya panjang tanpa Kuthubaru. Bahan pakaian ini ialah beludru berwarna hitam. Bentuknya seperti umumnya kebaya Jawa, dibuat tan­pa memakai kuthubaru, tetapi menggunakan benik atau kancing dinar sebanyak tiga atau lima buah. Ukurannya panjang kebaya sampai di bawah pineeul. Pola badan dan lengan dibuat mengepas di badan agar terlihat jelas bentuk badannya. Itulah tujuannya kebaya remaja putri dibuat tanpa kuthu baru. Kutang sarana penutup buah dada supaya bentuknya bagus dan menarik, bahannya kain mori atau kain belacu yang agak halus biasanya warnanya pada umumnya putih atau hitam, dan bentuknya seperti bentuk kutang pada umumnya. Ukurannya sesuai dengan besar kecilnva dada si pemakai dan biasanya dibuat agak pas agar kelihatan badannya singset dan kencang.

Kemben bahannya kain batik berwarna merah, de­ngan motif cinde atau pelangi. Ukurannya panjang 2,5   meter dan lebar ± 40 centimeter. Fungsinya untuk penutup bagian dada dan sekalian juga untuk penutup stagen. Selendang Cinde bahan selendang ini ialah kain batik dengan warna bermacam-macam. Motifnya ialah udan liris, sinatrio manah atau sido mukti (biasanya satu stel dengan kain panjangnya). Ukuran panjang 2,5 meter dan lebar lebih kurane 40 centimeter.

Fungsi sebagai pelengkap kain kebaya. Hiasan di tangan berupa Gelang rantai atau gelang penuh permata yang bernama gelang tretes. Bahannya emas dan permatanya dari intan. Ben­tuknya seperti rantai biasa dan bentuk ulan-ulan yaitu menyerupai lilitan ular. Cincin dibuat dari emas bermata merah dan putih. Bentuknya cere gancet yaitu bentuk anak coro yang se­dang berdempetan tumpeng tindih. Menpenai beratnya tidak ada ketentuan, disesuaikan denean kemampuan.

Bagian bawah : Jarit (kain paiyang) terbuat dari mori, dengan warna latar pu­tih. Motifnya bahan liris atau sinatrio manah, dengan ukuran seperti kain panjang pada umumnya yaitu, pan­jang 2,5  meter dan lebar satu meter. Bentuk kain empat persegi panjang dengan jumlah wiron panjil, antara sebelas sampai dengan sembilan belas. Setagen dibuat dari kain tenun kentel, berwarna hitam ukuran panjang ± 5 meter dan lebar ± 15 centimeter, stagen berfungsi untuk pengikat kain panjang denpan pinggang agar kain tidak lepas atau melorot dari pinggang. Alas kaki selop atau sandal, Selop dibuat dari bahan beludru, sedangkan sandal di­buat dari bahan kulit. Warnanya biasanya hitam. Model selop, bagian depannya tertutun dengan hak tidak terla- lu tinggi sedang sandal, model srempang (seperti sandal jepit).

Cara berpakaian, Mula-mula dipakai kain panjang yang sebelumnya sudah diwiron dengan jumlah ganjil. Kain dipakai dengan cara dililitkan meling- kari badan dari arah kiri ke kanan, yang panjangnya dari batas ninggang sampai batas mata kaki. Setelah itu, dipakai setagen sebagai pengikat kain panjang di ba­dan (pinggang) agar kain panjang terse but dengan erat dan baik, sehingga tidak mudah lepas. Ada pun memakainya juga dengan cara dililitkan di pinggang dan waktu melilitkannya, setagen ter- sebut agak ditarik supaya ketat dan sinpset. Kemudian, dipakai kemben dengan cara dililitkan pula dari batas dada sampai ke pinggang. Ada pun memakai kemben adalah se­bagai penutup dada, sekaligus untuk menutupi setagen agar tam- nak lebih rapi. Setelah yang baru dipakai klambi kebaya panjang kemudian benik atau kancing dinarnya dikancingkan semua. Kemudian, dipakai selop atau sandal, dan selendang cinde.

Fungsi pakaian untuk menutup bagian tubuh dan alat ke- indahan dalam menghadiri acara-acara resmi pada pesta per- kawinan serta acara resmi dalam menyambut tamu-tamu. Arti simbolis : Kebaya remaja putri ini yang tidak memakai kuthubaru mempunyai makna bahwa remaja putri itu belum pernah mempunyai putra. Hal ini dilambanpkan denpan bentuk badannya yang masih kencang (singset) teruta- ma pada bagian buah dada, sehingga tidak perlu lapi kuthu baru pada kebayanya.  Warna merah dan nutih pada cincin cere gancet, melambangkan bahwa asal manusia adalah dari Bopo dan Biyung (Bapak dan Ibu).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 119-122

Legenda Telaga Ngebel, Kabupaten ponorogo

Dahulu kala waktu Ki Ageng Mangir merantau ke Jawa Timur sampai di Daerah Kabupaten Ngrowo yang akhirnya menjadi Tulungagung sedang Istrinya bernama Roro Kijang yang ikut serta merantau, pada hari waktu Roro Kijang hendak makan sirih, dicarinya pisau untuk membelah pinang namun tak dapat menemukan, akhirnya minta pisau kepada Suaminya oleh Suaminya diberi Pisau Pusaka, Seking dengan berpesan kepada Istrinya :

– Agar lekas dikembalikan

– Jangan sekali pisau itu ditaruh dipangkuannya.

Pisau Pusaka Seking diterima dan terus dipergunakan untuk membelah pinang, sambil makan sirih ia duduk – duduk, dengan enak ia menikrnati rasa daun sirih dan Pinangnya.

Kemudian lupa pesan Suaminya dan pisau pusaka itu ditaruh diatas pangkuannya, tetapi apa yang teijadi ia amat terkejut dan heran karena pisau diatas pangkuannya seketika itu hilang musnah dicari kesana kemari tidak ada.

Dengan ratap dan tangis iamenceritakan apa yang terjadi dan yang telah dialami kepada Ki Ageng Mangir. Suaminya menerima kejadian itu dengan sabar hati, karena hal itu sudah menjadi kehendak Tuhan dan untuk menebus kesalahannya ini Roro Kijang harus bertapa di tengah – tengah Rawa.

Roro Kijang menerima segala kesalahan yang dilimpahkan kepadanya dan dengan rasa sedih hati ia melaksanakan perintah Suaminya bertapa di tengah Rawa sedang Ki Ageng Mangir lalu kembali bertapa di kaki Gunung Wilis sebelah barat.

Diceritakan bahwa Roro Kijang perutnya makin hari semakin bertambah besar seperti orang bunting, tepatnya waktu itu ia melahirkan tetapi apa yang teijadi, ia tidak melahirkan seorang anak manusia melainkan seekor

Jlar sekalipun ular tetapi tidak sembarang ular ia ular yang Ajalb kulitnya jercahaya berkilauan seperti emas kepalanya seperti Mahkota.

Roro Kijang terkejut dan sangat takut serta merasa malu untung tak ada rang mengetahuinya. Roro Kijang lalu mengambil sebuah Kelemting yang libawanya lalu dipasang pada leher si Ular kemudian di tutup dengan empayan setelah itu Roro Kijang pindah bertapa dilain tempat.

Bayi Ular semakin lama semain besar sehingga tempayan tempat ia erkurung makin lama makin sesak lama kelamaan tempayannya pecah dan alar dapat keluar.

Diluar ular makin lama bertambah semakin besar dan kuat kulitnya kena sinar Matahari semakin terang dan bercahaya gemerlapan.

Ia menjalar kesana kemari sambil menggerak – gerakan kepalanya sehingga kelenting dilehemya berbunyi : kelinting – kelinting, karena ia nerasa hidup sendirian maka timbulah pertanyaan dalam hatinya, siapakah yang melahirkan mereka / dirinya dan siapakah kedua Orang tuanya. Akhirnta timbulah niat untuk mencari kedua Orang tuanya dan dilihatnya iari jauh ada seorang sedang bertapa. Yang akhimya orang pertapa tadi idalah ibunya yaitu Roro Kijang, yang selanjutnya memberi nama kepada maknya dengan nama Baru Klinting.

Atas pesan dan saran Ibunya yaitu Roro Kijang. Baru Klinting disuruh nenyusul / mencari orang tuanya yang sedang bertapa digunung Wilis, Baru klinting lalu beijalan menuju ke gunung Wilis karena yang dituju jauh dan »udah payah lalu berhenti. Bekas tempat istirahat akhimya menjadi desa fang bemama Desa Baru Klinting masuk Kabupaten Tulungagung. Ki Ageng Vlangir setelah bertapa di Gunung Wilis ia berubah nama menjadi Ajar aolokantoro, ketika ia sedang bertapa datanglah Baru Klinting dihadapan- lya.

sebagai seorang pertapa yang telah tinggi Ilmunya, ia telah dapat mengetahui ipa yang telah terjadi, terutama rente tan dengan peristiwa hilangnya pisau 3usaka Seking dahulu.

Sedatangan Baru Klinting mengutarakan maksudnya sesuai petunjuk bunya Roro Kijang bahwa yang pertapa di sini adalah Ayahnya dan Ajar

Solokantoro mau mengaku sebagai ayahnya, tetapi sebelumnya harus menurut perintahnya dahulu yaitu : Lingkarilah Gunung Wilis ini kalau dari ujungekor sampai kepalamu cukup panjang untuk melingkari Gunung Wilis ini rnaka akan diterima sebagai anaknya.

Dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa maka Baru Klinting dapat melingkari kaki Gunung, ekor didepan sang pertapa dan kepala sampai menyentuh ekor tetapi tinggal sepanjang jari saja. Untuk mencapai Ekomya maka dengan seijinnya Baru Klinting mengeluarkan lidahnya dengan sepanjang-pan- jangnya sampai ke Ujung ekor, setelah lidah Baru Klinting dijulurkan sampai ke ekor maka pertapa lalu mencabut pisau, lidah Baru Klinting lalu di potong seketika itu juga putuslah lidah Baru Klinting yang sebelah dan lidah yang sebelah masih menyambung ekor sedang baru kliting sendiri kesakitan. Dengan menahan sakit maka marahlah Baru Klinting ditariknya ekor dan mengagah mulutnya akan menelan sang Ayah, tetapi setelah diberi penger- tian bahwa apabila ingin menjadi manusia agar jangan mempunyai lidah bercabang duajadi harus dip’otong yang satunya, atas saran sang Ayah maka ditelanlah potongan lidah yang satu tetapi harus dikeluarkan lagi dan jangan dikeluarkan melalui mulut.

Lidah dikeluarkan melalui telinga tetapi keluarlah sebuah pusaka yang disebut Tobak Baru Klinting yang kelak sangat bermanfaat untuk Baru Klinting.

Atas petunjuk Sang Ayah maka Baru Klinting meneruskan bertapa sampai berpuluh tahun didalam hutan. Lama-kelamaan badannya tertim- bun oleh daun daun dan tanah sehingga sebagian badan yang tidak terpen- dam kelihatan seperti batang kayu, bagian kepala saja yang dapat kelihatan terang muncul disuatu desa yang dinamakan desa “Sirah Naga” termasuk Kecamatan Millir Kabupaten Madiun.

Pada suatu hari didesa Ngebel dilereng Gunung Wilis akan mengadakan Bersih desa pelaksanaannya dipusatkan dirumah Kepala Desa segala biaya dipikul oleh Rakyat dalam desa untuk menghemat biaya semua warga desa laki-laki supaya masuk hutan mencari binatang buruan baik Kijang, Rusa ataupun yang lainnya untuk lauk pauk dalam pesta Rakyat nanti.

Pada pagi harinya orang desa yang laki-laki berduyun-duyun masuk n mereka membawa parang, kapak sabit dan, keranjang dan tali, mya nasib sedang sial padanya hampir seharian tak seekorpun dapat 1 buruannya, semua lelah dan payah, oleh Pimpinannya diperintahkan lk berhenti di tempat masing-masing sambil menunggu kalau ada tang yang terlihat diantara sekian banyak ada seorang yang sambil uk mengayunkan kapaknya ke batang kayu, anehnya kayu itu men- arkan darah, ia amat terkejut sambil berteriak. Karena batang kayu itu geluarkan darah maka yang lainpun mencoba mengiris batang kayu tapi . keluar darahnya.

Semua riang gembira barang yang disangka kayu itu dipotong-potong mjangbadannya. Merekaberamai-ramai membawa pulanghasilburuan- dan dimasak bersama-sama dirumah Kepala Desa. Sehari semalam di dopo Kepala Desa diadakan keramaian, semua Rakyat didesa laki-laki :mpuan, tua muda datang melihatnya Orang tua didalam Rum ah dan k-anak di halaman rumah. Sewaktu anak-anak sedang bermain di luar irnan rumah, datanglah seorang anak compang-camping Pakaiannya dan yak luka di badannya, dimana anak itu datang mendekati anak-anak a itu datang menjauh.

eka merasa muak melihat anak itu datang merasa dihina oleh kawan- rannya, maka ia lalu pergi ke Dapur minta nasi, semua orang benci ihatnya dan tak ada seorangpun mau memberi nasi. Kemudian datang rang nenek tua yang memberi nasi sebungkus penuh dengan pindang ing sate nasi diterima terus saja dimakan sebentar saja habis. Perutnya yang dan badannya menjadi kuat, aneh bin Ajaib semua luka-luka di lannya hilang sama sekali dan bentuk badannya menjadi baik seperti Lk-anak di desa itu.

Ia mendekati nenek tua itu yang telah memberi nasi tadi dan berpcsan iada nenek tadi apabila ada apa-apa agar nenek tadi membawa entong idok nasi) dan lekas saja naik lesung, anak itu lalu meninggalkan nenek i dan berkumpul dengan anak-anak desa itu.

Dengan membawa sebuah lidi sapu ia masuk kelingkaran tempat anak- ik bermain seraya menantang kepada anak-anak desa itu, bahwa siapa yang bisa mencabut lidi yang baru ditancapkan ditanah akan diberi hadiah sebungkus nasi penuh dengan daging. Semua anak datang mencobanya tetapi tak berhasil malahan orang tuapun datang ingin mencobanya men­cabut lidi tetapi juga tidak adayang berhasil. Dengan berpesan kepada orang desa itu bahwa orang kikir itu tidak baik dan tidak mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan jangan berlagak sombong dan suka menghina orang lain. Akhirnya anak kecil itu dengan perlahan-lahan mencabut lidi sapu yang tertancap di tadi dengan mudahnya seolah-olah timbul sebuah mata air yang besar dan menggenangi halaman dan pekarangan kepala desa.

Oleh karena derasnya air maka anak-anak dan Orang tua jatuh tenggelam semua orang mati dan segala Bangunan roboh terapung- apung sebentar saja desa itu tenggelam dan menjadi Danau yang selanjutnya dinamakan ” danau Ngebel “.

Hanya dua Orang yang selamat yaitu nenek tua dan anak kecil tadi dimana setelah mengetahui ada air datang ia langsung naik lesung sebagai perahunya dan Entong sebagai alat pendayung. Nenek tua bersama anak kecil tadi menjalankan perahunya ketepi danau lalu mendarat. Tempat mendarat ini ditepi pasar Ngebel nenek tua tadi tinggal dan menetap disitu sampai ajalnya dan dimakamkan ditengah-tengah Pasar Ngebel. Akhirnya nenek tua itu disebut “Nyai Latung” dan telaga tadi disebut dengan sebutan ” Telaga Ngebel

Diceritakan bahwa Baru Minting yang sedang berta pa dalam hutan karena perbuatan penduduk Ngebel maka badannya telah hancur tinggal bagian Kepalanya saja. Kepalanya menjadi batu terletak di Desa sebelah Barat dari Desa Ngebel. Tempat kepala ini akhirnya dinamakan Desa “Sirah Naga”. Dengan takdir Illahi Baru Klinting setelah hancur badannya menjelma menjadi seorang anak kecil dan disebut anak bajang dan si Bajang inilah yang membuat permainan lidi sapu tadi. Setelah si Bajang berpisah dengan nenek tua lalu ia mencari Orang tuanya ditinggalkannya Danau Ngebel, lalu pergi ke Gunung-gunung mencari tempat Orang tuanya bertapa. Setelah bertemu lalu menghadap Orang tuanya (Ayahnya) sambil menyampaikan bahwa perintah Ayahnya telah dilaksanakan dengan baik.

Sang Ayah akhimya mengakui bahwa ia anaknya dan diberi nama “Joko Baru” dan diberinya sebuah Pusaka Tombak bemama “Tombak Baru Kuping” Joko Bam dengan rasa ham bersujud dan menerima sebuah pusaka dari Ayahnya. Setelah menerima Pusaka Joko Baru diberi nasehat- nasehat dan disuruh pergi ke arah timur Gunung Wilis dan jangan berhenti kalau belum sampai ke sebuah Rawayang luas dan Ayahnya berpesan bahwa disitulah tempat Tumpah darah Joko Baru. Setelah sampai ditempat itu agar nanti Joko Baru membangun tanah kelahirannya, sebab dengan pusaka ini nanti Joko Bam akan menjadi Orang Besar dan setelah itu dicarilah Ibunya dan dipeliharalah bersamamu dengan baik.

Setelah cukup pesan Ayahnya Joko Bam bersujud dan mohon diri untuk melaksanakan perintah Ayahnya. Joko Bam tems pergi kearah timur Gunung Wilis setelah berjalan berhari-hari sampailah di tanah Ngrowo dan bertemu dengan ibunya serta diterima dengan senang hati.

Akhirnya pusaka Bam Kuping menjadi Pusaka Wasiat Kabupaten Bonorowo yang ahimya pindah ke utara menjadi Kabupaten Tulungagung.

Demikian cerita singkat/Legenda Telaga Ngebel mudah-mudahan men­jadi obyek Wisata yang baik.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Legenda Telaga Ngebel; Kabupaten Dati II Ponorogo, Madiun, Cabang Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur di Madiun , th.1995, hlm. 1-6

Makam Bathara Katong, Kabupaten Ponorogo

Makam Bathara Katong Janjikan Jabatan

makam-batoro-katong 2Makam pendiri Kota Ponorogo ini sering didatangi mereka yang berharap bisa naik pangkat atau ingin menjadi pejabat. Selain syaratnya harus berjalan dengan melewati tujuh gapura, jika ingin terkabulkan dilarang membawa bunga ziarah bercampur daun pandan wangi.

Sore itu, saat LIBERTY mengunjungi makam Bathara Katong yang berada di Desa Setono, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, terlihat dua orang yang sedang melakukan ziarah. Usai melakukan ritual menaburkan bunga dan membaca doa selama beberapa saat, suami-istri asal Madiun. itu mengaku melakukan ziarah de­ngan tujuan agar anaknya segera bisa mendapatkan pekerjaan.

“Anak saya lulusan perguruan tinggi, tapi hingga dua tahun menganggur, ia belum juga mendapatkan pekerjaan. Ini adalah salah satu bentuk ikhtiar karhi, semoga dengan perantara makam Eyang Bathara katong, anak saya segera mendapatkan pekerjaannya,” ucap mereka sebelum meninggalkan makam Bathara Katong.

Selepas kepergian suami-istri itu, praktis di betoro katong0002tempat itu hanya tinggal LI­BERTY dan juru kunci makam, Pak Mu­kim. “Bathara Katong itu salah satu anak Prabu Brawijaya V. Dia termasuk adik Raden Patah, raja Demak, hanya lain ibu. Dan keberadaannya di Pono­rogo adalah untuk menyebarkan agama Islam di wilayah ini,” terang Mukim.

Status sebagai anak seorang raja besar membuat Bathara Katong memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Ponorogo. Karena itu pada hari-hari tertentu, makam ini akan dipenuhi oleh para peziarah. Bahkan tak ha­nya peziarah dari Ponorogo saja yang datang. Banyak juga di antara mereka yang datang dari luar kota. Namun demikian, tujuan mereka tentu tak jauh beda, yaitu berharap berkah dari Bathara Katong.

makam-batoro-katongMukim juga menjelaskan bahwa selain dikunjungi masyarakat biasa, makam yang dijaga oleh beberapa juru kunci ini termasuk tempat favorit bagi para pejabat. Terutama yang berasal dari wilayah Ponorogo dan sekitarnya. Dan tingkat kunjungan itu semakin tinggi bila menjelang acara pilkada.

“Sebelum menjalankan tugasnya sebagai pejabat di Ponorogo, minta restu pada Kanjeng Bathara Katong sudah menjadi kewajiban bagi para pejabat di sini. Karena bagaimanapun juga, beliau adalah orang yang mbahurekso wilayah ini. Beliaulah bupati pertama Kota Ponorogo,” jelas Mukim.

Semasa hidupnya Bathara Katong juga dikenal sebagai seorang tokoh yang sakti mandraguna. Salah satu kisah yang menggambarkan kesaktiannya adalah pertempurannya dengan Ki Ageng Kutu, seorang demang dari sebuah daerah di Ponorogo yang dikenal sebagai orang paling sakti. Konon, waktu itu Ki Ageng Kutu tidak bisa menerima kehadiran Bathara Katong yang mengemban misi menyebarkan agama Islam. Karena itulah kemudian dia memutuskan untuk beradu kesaktian guna mempertaruhkan wilayah Ponorogo. Pertempuran antara Ki Ageng Kutu dengan Bathoro Katong terjadi hingga berhari-hari, soalnya keduanya sama-sama sakti dan sama-sama kuat. Namun, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah.

makam-batoro-katong 3Begitu lamanya pertarungan anta­ra kedua tokoh sakti ini salah satu penyebabnya adalah karena Ki Ageng Ku­tu tidak bisa mati selain dengan pusakanya sendiri yaitu tombak Korowelang. Maka dari itulah Bathara Ka­tong kemudian menyusun strategi bagaimana caranya agar bisa mendapatkan senjata pusaka itu. Karena dengan mendapatkannya berarti Ki Ageng Kutu bisa diatasi, dan tentunya misinya un­tuk menyebarkan agama Islam bisa terlaksana tanpa hambatan.

Sebuah siasat akhirnya didapatkan oleh Bathara Katong yaitu dengan meminang putri Ki Ageng Kutu yang bernama Niken Gandini. Dari tangan Niken Gandini inilah konon Tombak Korowelang yang belakangan diakui sebagai senjata pusaka Bathara Katong ini berhasil didapatkan. Dan dengan didapatkannya tombak ini, maka Bathara Katong dengan mudah mengalahkan Ki Ageng Kutu.

Dengan kemenangannya atas Ki Ageng Kutu, berarti sudah tidak ada lagi hambatan bagi Bathara Katong. Hingga kemudian dia memutuskan un­tuk mendirikan Kota Ponorogo yang sebelumnya disebut den­gan nama Wengker.

Bathara Katong pun dinobatkan sebagai adipati pertama Ponorogo pada 1496. Penobatan dilakukan di atas dua buah batu gilang yang diberi ukiran tahun terjadinya peristiwa itu. Batu gi­lang itu kini diletakkan tepat di depan gapura ke lima makam Bathata Katong.

betoro katong0001Ya, makam Bathara Katong 

memang agak berbeda dengan makam- makam raja atau para tokoh lainnya. Makam yang berada di tengah-tengah pemukiman penduduk ini memiliki tujuh gapura pintu masuk yang melambangkan lapisan langit sebagaimana yang dipaparkan dalam kisah Isra’ Mi’raj.

Karenanya, bagi siapa saja yang memang benar-benar berharap berkah dari sang Bathara, maka dia harus rela berjalan menyusuri tiap gapura yang antara satu dengan lainnya berjarak sekitar 200 meter. Jadi tentu butuh sedikit pengorbanan, demi menggantung- kan harapan pada sang tokoh.

Sebagaimana di tempat lain, untuk bisa mewujudkan harapan, ada syarat-syarat tertentu yang harus dipatuhi pa­ra peziarah. Selain berwudhu dengan air dari gentong keramat, ada larangan yang harus ditinggalkan yaitu tidak boleh ada daun pandan dalam campuran bunga yang digunakan untuk ziarah.

“Biasanya kalau kita beli bunga, di dalamnya pasti dicampurkan irisan daun pandan wangi. Nah, kalau mau ke sini, daun pandan itu harus dibuang. Sebab Kanjeng Bathoro Katong tidak suka. Dan bila tidak suka berar­ti apa yang kita harapkan tentu akan sulit terkabul,” terang Mukim. Entah apa yang menyebabkan Ba­thara Katong tidak suka dengan daun pandan. Namun Mukim memberikan sedikit penjelasan bahwa daun pandan adalah salah satu senjaia andalan Ki Ageng Kutu yang sempat membuat Bathara Katong kerepotan dan dipukul mundur. Karena itulah, daun pandan ini harus ditiadakan dari makam ini, agar tidak sampai mempengaruhi kekuatan gaib yang terpancar dari makam ini. Sebab dengan berkurangnya kekuatan itu, maka bukan tidak mungkin keistimewaan makam yang bisa membuat orang naik pangkat akan berkurang.

Mukim juga menjelaskan bahwa bunga yang paling baik untuk diserahkan pada arwah Bathara Katong adalah bunga talon yang terdiri dari mawar, kantil dan kenanga. Kalau misalnya tidak membawa bunga talon, bunga melati saja sudah cukup. Bahkan konon banyak para pengalab ber­kah yang sukses hanya dengan mem­bawa bunga melati. Terutama mereka yang memang memiliki niat suci sesuci bunga melati. • RUD

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, 1-10 MEI 2010, hlm. 

Prof. Ir. R. Goenarso, Kabupaten Ponorogo

gunarso22 Oktober 1908, Prof. Ir. R. Goenarso lahir di Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia.

Tahun 1935, Goenarso lulus sebagai insinyur sipil dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung – yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung – ITB).

Tahun 1942, masa pendudukan Jepang echnische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung) ditutup.

1 April 1944, masa pendudukan Jepang, bersama seniornya Roosseno, Goenarso dan beberapa alumni TH Bandung lainnya diangkat menjadi staf pengajar di Bandung Kogyo Daigaku (BKD – Sekolah Tinggi Teknik yang didirikan pemerintah pendudukan Jepang di lokasi TH Bandung). Walaupun sebagai insinyur sipil, Goenarso mengajar mata pelajaran Ilmu Pasti dan Fisika.

Agustus 1945, Bandung Kogyo Daigaku diambil alih dan dibuka kembali dengan nama Sekolah Tinggi Teknik Bandung (STT Bandung), Goenarso pun turut mengajar di sana.

November 1945, STT Bandung dipindahkannya ke Yogyakarta dengan sebutan STT Bandung di Yogya, Goenarso pun turut hijrah ke Yogya.

2 Oktober 1946, Goenarso adalah Menteri Muda Pengajaran pada Kabinet Sjahrir III periode 2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947,

Tahun 1958-1960, menjabat sebagai Ketua Departemen Matematika di ITB.

2 Maret 1959 – 1 November 1959, Goenarso termasuk dalam panitia persiapan pendirian “Institut Teknologi” di Kota Bandung dan diangkat sebagai anggota Presidium ITB untuk menjalankan tugas-tugas administrasi penyelenggaraan ITB sejak ITB diresmikan. Prof. Ir. R. O. Kosasih diangkat sebagai Rektor ITB yang definitif.

Tahun 1959-1967, Goenarso menjabat Ketua Departemen Geofisika dan Meteorologi. Goenarso memang lebih banyak berkecimpung di bidang Matematika walaupun sebagai pengajar luar biasa Departemen Teknik Sipil ITB.

Presidium tersebut dipimpin Prof. Ir. R. Soemono yang beranggotakan Prof. Ir. Goenarso; Prof. dr. R. M. Djoehana Wiradikarta; Prof. Ir. Soetedjo; Panitera: Prof. Dr. Ir. R. M. Soemantri Brodjonegoro.

Prof. Ir. R. Goenarso adalah guru besar Teknik Sipil dan Matematika Institut Teknologi Bandung, dan tokoh yang turut membuka Sekolah Tinggi Teknik (STT) di Bandung, turut memindahkan STT Bandung ke Yogyakarta, dan turut mempersiapkan pengalihan Kampus Ganesha menjadi Institut Teknologi Bandung. Beliau Menteri yang pertama kali menggalakkan pemberantasan buta huruf di Indonesia.

Goenarso selain di ITB beliau juga pernah mengajar di beberapa perguruan tinggi lain termasuk Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD).

6 Maret 1992, pada umur 83 tahun Prof. Ir. R. Goenarso – meninggal. =S1Wh0T0=

KH. Hasan Abdullah Sahal, Kabupaten Ponorogo

KH-Hasan-Abdullah-Sahal24 Mei 1947, KH. Hasan Abdullah Sahal lahir di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. putera keenam dari KH Ahmad Sahal.

Tahun 1959, Hasan Abdullah Sahal menyelesaikan pendidikan dasar (SD) di Gontor.

Tahun 1965, menyelesaikan pendidikan di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor.

Hasan Abdullah Sahal melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD (ISID-red)) sekaligus mengajar di KMI selama dua setengah tahun.

Tahun 1967 beliau mendapat kesempatan melanjutkan studi di Fakultas Da’wah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah. Pada tahun 1992 mengambil spesialisasi Hadits di Universitas Al-Azhar Mesir.

Tahun 1985 – sekarang,  Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. bersama 2 orang lainnya Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A dan KH Syamsul Hadi Abdan, S.Ag.

Tahun 1989, Pendiri Pondok Pesantren Putri al-Mawaddah Coper, Jetis, Ponorogo.
Tahun 1992, Pendiri dan Pengasuh Pondok Tahfidz Qur’an Al-Muqoddasah Nglumpang, Mlarak, Ponorogotahun.
Tahun 1977 – sekarang, Dosen Institut Studi Islam Darussalam(ISID) Ponorogo.

Tahun 1993, Mengikuti Seminar Bahasa Arab di Brunei Darussalam.
Tahun 1999, Da’wah di Malaysia.

Tahun 1999 dan 2000, Hongkong.

Tahun 1999, Korea Selatan.

Tahun 2001, Jepang.
Tahun 1999, Kunjungan luar negeri lainnya, yaitu ke Singapura.

Tahun 2002, Jordan, Syiria, Israel, Turki, Jerman, Prancis, dan Belgia dan Australia.

Tahun 2003, Saudi Arabia, Mesir, Thailand, India, serta Pakistan.

KH Hasan Abdullah Sahal juga menghasilkan Karya Tulis diantaranya: 1. Membina Keluarga Muslim. 2. Pegangan Para Qori. 3. Obsesi Hasan Abdullah Sahal. 4. Ceramah-ceramah Kontemporer.

KH Ahmad Sahal adalah putra salah seorang dari tiga Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor (KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi. =S1Wh0T0=

Sumber: http://www.putri1.gontor.ac.id/kmi/pendiri-pondok

 

KH. Ahmad Sahal, Kabupaten Ponorogo

22 mei  1901, KH. Ahmad Sahal lahir di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. putera kelima dari Kyai Santoso Anom Besari.

Sekolah  Rendah (Vervolk School) atau Sekolah  Ongko Loro. Setamat  Sekolah   Rendah   beliau  mondok di berbagai  pondok pesantren diantarnya adalah pondok  pesantren  Kauman Ponorogo; pondok  Joresan Ponorogo; pondok Josari  Ponorogo; Pondok Durisawo  Ponorogo; Siwalan Panji Sidoarjo; Pondok Termas Pacitan.

Tahun 1919-1921, beliau  masuk  ke sekolah Belanda Algemeene Nederlandsch Verbon  ( Sekolah pegawai di Zaman penjajahan Belanda).

Tahun 1926, menjadi utusan ummat Islam daerah Madiun ke Kongres Ummat Islam Indonesia di Surabaya. Di tahun ini pula membuka kembali Pondok Gontor dengan program pendidikan yang dinamakan “Tarbiyatu-l-Athfal“.

Tahun 1927,  mendirikan Pandu Bintang Islam dan klub olah raga dan kesenian yang diberi nama “RIBATA” (Riyadhatu-l-Badaniyah Tarbiyatu-l-Athfal).

Tahun 1929, mendirikan kursus Kader dan Barisan Muballigihin yang berakhir hingga tahun 1932.

Tahun 1935, beliau mengetahui Ikatan Taman Perguruan Islam (TPI), yaitu suatu ikatan sekokolah-sekolah yang didirikan oleh alumni-alumni TA di desa-desa sekitar gontor.

Tahun 1937, mendirikan organisasi pelajar Islam yang di beri nama “Raudlatu-l-Muta’allimin”. Selain itu beliau juga mendirikan dan memimpin Tarbiyatu-l-Ikhwan (Barisan Pemuda) dan Tabiyatu-l-Mar’ah (Barisan Wanita).

9 April 1977 tepat jam 19.00 WIB,  beliau wafat menghadap Allah SWT, pada umur 76 tahun. Meninggalkan seorang istri (Nyai Sutichah Sahal) dan sembilan orang putra dan putri, mereka itu adalah:

1) Drs. H. Ali saifullah, alumni Fak. Pedagogy UGM,

2) Ir. Moh. Ghozi, alumni Fak. Pertanian UGM,

3) Siti Arsiyah Zaini (istri Drs. H.M. Zainy).

4) Dra. Ruqoyyah Fathurrahman, alumni Fak. Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta.

5) Siti Utami Bakri SH., alumni Fak. Hukum Unibraw Malang,

6) KH. Hasan Abdullah Sahal, alumni Universitas Islam Madinah dan Al-Azhar Cairo, salah seorang Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor,

7) Dra. Aminah Mukhtar, M.Ag., alumni S 2 Universitas Muhammadiyah Malang, Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper, Jetis , Ponorogo.

8) H. Ahmad Tauhid Sahal, Guru KMI Pondok Modern Darussalam Gontor.

9) Drs Imam Budiono, alumni Fak. Tarbiyah IAIN Yogyakarta

KH. Ahmad Sahal  salah satu Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo bersama 2 orang lainnya KH Zainuddin Fananiedan KH Imam Zarkasyi.

=S1Wh0T0=

Sumber: http://gontor.ac.id/pimpinan/kh-ahmad-sahal

KH Zaenuddin Fanani, Kabupaten Ponorogo

KH Zaenuddin Fanani23 Desember 1908, KH Zaenuddin Fanani lahir di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Putera keenam Kyai Santoso Anom Besari.

Awal Pendidikan KH Zaenuddin Fanani Masuk Sekolah Dasar Ongko Loro Jetis Ponorogo. sementara itu mondok  di pondok pesantren Josari Ponorogo, kemudian ke Termas Pacitan, lalu  ke Siwalan Panji Sidoarjo.

Dari sekolah  Ongko Loro ia pindah ke sekolah dasar Hollandshe Inlander School (HIS), kemudian melanjutkan ke kweekschool (Sekalah guru) di Padang. Sesudah tamat sekolah guru ia masuk Leider School (sekolah  pemimpin) di Palembang.

Tahun 1930, beliau belajar pada Pendidikan Jurnalistik dan Tabligh School (Madrasah Muballighin III) di Yogyakarta.

Tahun 1926 – 1932, menjadi guru  di  HIS.

Tahun 1934, mengajar di School Opziener di Bengkulen.

Tahun 1942, menjadi Konsul  Pengurus besar Muhammadiyah Summatera  Selatan.

Tahun 1942 – 1943, menjadi Kepala Penasehat Kepolisian Palembang.

Tahun 1944,  kemudian menjabat Kantor keselamatan Rakyat di Palembang.

Setelah itu dipilih menjadi Kepala Kantor Tata Usaha Kantor Sju Tjokan. Sejak tanggal 8 April 1953 diangkat oleh presiden menjadi anggota ” Panitia Negara Perbaikan Makanan”. Empat bulan setelah itu tepatnya pada tanggal 1 Agustus 1953 menduduki Kepala Jawatan Bimbingan dan Perbaikan Sosial pada Kementerian Sosial. Masih pada tahun yang sama beliau  menjabat Inspektur Kepala, Kepala Inspeksi Sosial Jawa Barat dan Summatera Selatan. Sejak tanggal 19 Januari 1956 mendapat kepercayaan menjadi Kepala Bagian Pendidikan Umum Kementerian Sosial. Pada pertengahan bulan Januari 1959 menjabat Kepala Kabinet Menteri Sosial.

12 Agustus 1960, menjadi Kepala Jawatan Pekerjaan Sosial. Terakhir adalah sebagai anggota BPP-MPRS sampai tahun 1967.

Pada tanggal 21 Juli 1967 beliau meninggal dunia di kediamannya di Jakarta, meninggalkan seorang istri dan seorang anak yaitu Drs. H. Rusydi Bey (Anggota Badan Wakaf Pondok Miodern Gontor).

 

Karya tulis:

Di antara karya tulis beliau yang masih menjadi bahan rujukan terutama bagi generasi penerus  Pondok Modern Darussalam Gontor adalah:

1.   Senjata Penganjur dan Pemimpin Islam.

2.   Pedoman Pendidikan Modern.

3.   Kursus Agama Islam.

4.   Penangkis krisis.

5.   Reidenar dan Jurnalistik, serta masih banyak yang lainya.  =S1Wh0T0=