Masjid Babus Salam (Masjid Tiban), Probolinggo

Kegilaan Hilang Setelah Wiridan Di Batu Panjang

masjid-tiban-babus-salam1Masjid tiban Babus Salam di Probolinggo hampir tak pernah sepi dari pengunjung. Batu panjang di sekitar masjid itu, dipercaya dapat menyembuhkan orang gila. Air sumur dari masjid itupun konon menjanjikan kesembuhan dan awet muda.

Masjid kuno tersebut berada di Dusun Babus, Desa Teras, Kecamatan Siwalan, Proboling­go, Jatim. Lokasi masjid  berada di samping jalan raya utama Probolinggo atau di sisi kiri rel kereta api, hanya dapat dilihat dari dalam atau sisi luar sebelah Utara masjid.

Untuk dapat melihat masjid tiban secara utuh, haruslah dari sisi Utara masjid. Pasalnya,dari sisi luar masjid yang terlihat hanyalah bangunan masjid modern. Perluasan masjid terpaksa dilakukan karena penunjung masjid tiban ini kian hari kian bertambah banyak. Walaupun bangunan perluasan masjid modern tampak lebih mendominan, namun keutuhan serta keaslian masjid tiban itu tetap dijaga. Sebenarnya masjid tiban masih utuh, yang kita liat sekarang ini hanyalah perluasan masjid saja. Usia masjid tiban Babus Salam diperkirakan sezaman dengan pendirian Masjid Demak, Jawa Tengah, sekitar tahun 1521. Tetapi ada juga yang menyebutkan, bahwa itu dibangun pada sekitar tahun 1498.

Masjid Tiban Babus Salam.docx0002

Masjid kuno ini sering disebut masyarakat setempat sebagai masjid tiban. Sebutan tiban, terkait dengan keberadaan masjid itu sendiri. Konon, saking cepatnya proses pembuatan masjid tersebut, seolah-olah masjid itu tiba-tiba ada seperti jatuh dari langit.

SATU SAKA GURU SATU MAKNA

Empat saka guru masjid yang asli buatan Syech Maula- na Ishaq ini memiliki keunikan tersendiri. Sejak pertama ber- diri hingga sekarang, tak per- nah mengalami kerusakan ba- rangsedikitpun. Selain itu, pen- dirian empat saka guru itu tan- pa menggunakan paku. Dari satu tiang ke tiang lain hanya dipasakkan begitu saja, sehing- ga mirip sekaii dengan tusukan sate. Tidak sedikit yang per- caya, bahwa empat saka guru itu memiiiki nilai karomah yang tinggi.

Keberadaan saka guru, blandar, dan pengeret dari masjid yang bercat coklat itu memiliki makna sendiri-sendiri. Saka guru sebelah kanan yang dekat dengan jendela besi dipercaya dapat memberikan ketenangan batin serta pencer- ahan diri yang lebih. “Jamaah yang mempunyai persoalan hidup yang amat kompleks, biasanya akan melakukan sho- lat dan wirid dengan bersandar pada saka guru itu,” terang Adi.

Sedangkan saka guru ke- dua berada di sisi sebelah kiri. Saka guru ini banyak dimaknai bisa menyelesaikan rasa putus asa akan hidup. Sedangkan saka guru ketiga dan keempat dipercaya dapat merekatkan suatu hubungan yang utuh, antara umat dengan Tuhannya. “Tetapi saya kira, semua itu ter- gantung dengan hati dan keyakinan masingfnasing,” ujar Adi.

Bagian lain selain saka guru yang masih bertahan keaslian- nya adalah gapura. Gapura tersebut sengaja dipertahankan keasliannya, meski masjid tersebut telah mengalami beberapa kali pemugaran.

■ KHASIAT KESEMBUHAN

Pada sisi selatan masjid tiban ini juga terdapat sebuah bongkahan batu hitam (andesit). Batu berukuran 1 m x 30 cm tersebut berada di tengah kompleks makam kuno. Masyarakat setempat menyebut batu tersebut dengan sebutan batu panjang.

Tidak diketahui, sejak kapan batu itu berada di tengah-tengah makam. Begitu pula mengapa batu tersebut disebut batu panjang. Namun yang pasti, keberadaan batu yang hampir bebarengan dengan tiga buah makam kuno itu diyakini dapat digunakan sarana untuk menyembuhkan depresi, kelinglungan serta kegilaan.

Hampir setiap hah, di batu panjang ini tampak diduduki oleh orangorang yang ingin terang dan tentram hatinya. Kepercayaan setempat menyebutkan, dengan duduk di batu itu selama 24 jam sambil dzikir, stress dan depresi berat bisa disembuhkan.

Selain batu panjang itu, masih ada lagi sumur kuno yang terletak di sisi kanan masjid. Air sumur itu banyak dipercaya orang berkhasiat kesembuhan dan bisa membuat wajah seseorang menjadi selalu tampak muda. Tidak sedikit di antara pengunjung masjid tiban yang berharap kesembuhan atas penyakit kulit yang dideritanya dengan memanfaatkan air sumur tersebut.

Berdasarkan mitos yang ada, jika seseorang meminum ataupun menggunakan air tersebut untuk wudhu, maka wajah yang semula terlihat tua akan tampak muda kembali. Bahkan, penyakit aneh akibat santet dapat pula disembuhkan dengan meminum air tersebut. DUNG

Kamaludin (Spiritualis Probolinggo)

Dapatkan llmu Usai Itikaf di Masjid Tiban’

Selain dikenal sebagai seorang penceramah dari dalam kubur, Ki Kamaluddin juga dikenal sebagai spiritualis yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dengan air yang diambil dari sumur masjid tiban Babu Salam, ia musnahkan ber­bagai penyakit akibat guna-guna.

Tetapi Kamaluddin pantang takabur. Keberhasilannya menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita pasiennya, dikatakannya sebagai kuasa lllahi semata. “Saya, cuma sebagai perantara saja, tetapi semuanya hanya dari Allah semata,” ujar Kamaludin. “Saya mohon kepada Allah, dan kebetulan doa saya didengar dan dikabulkan,” imbuhnya.

Kelebihan ilmu yang dimilikinya, diakuinya bermula dari seringnya itikaf di Masjid Babus Salam seiama tiga tahun. Semula, kedatangannya di masjid itu hanya ingin mendapatkan ketenangan jiwa. Selain itu, juga dalam rangka ikhtiar untuk melepaskan diri dari segela himpitan hutang-hutangnya.

Dalam sebuah kekhusukannya berdzikir di masjid itu, suatu ketika Kamaludin merasa didatangi scsok pria misterius berjubah putih. Pria itu, kemudian memberikan amalan-amalan yang harus dilakukan oleh Kamaludin. “Amalan itu, hingga sekarang terus saya baca setiap kali habis sholat lima waktu,” jelas Kamaludin kepada LIBERTY. “Di luar dugaan, temyata amalan yang pemah saya peroleh dari masjid tiban itu amat berguna bagi orang lain yang ingin pertolongan,” imbuhnya .DUNG

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 50-52

Masjid Babus Salam (Masjid Tiban), Probolinggo

Kegilaan Hilang Setelah Wiridan Di Batu Panjang

masjid-tiban-babus-salam1Masjid tiban Babus Salam di Probolinggo hampir tak pernah sepi dari pengunjung. Batu panjang di sekitar masjid itu, dipercaya dapat menyembuhkan orang gila. Air sumur dari masjid itupun konon menjanjikan kesembuhan dan awet muda.

Masjid kuno tersebut berada di Dusun Babus, Desa Teras, Kecamatan Siwalan, Proboling­go, Jatim. Lokasi masjid  berada di samping jalan raya utama Probolinggo atau di sisi kiri rel kereta api, hanya dapat dilihat dari dalam atau sisi luar sebelah Utara masjid.

Untuk dapat melihat masjid tiban secara utuh, haruslah dari sisi Utara masjid. Pasalnya,dari sisi luar masjid yang terlihat hanyalah bangunan masjid modern. Perluasan masjid terpaksa dilakukan karena penunjung masjid tiban ini kian hari kian bertambah banyak. Walaupun bangunan perluasan masjid modern tampak lebih mendominan, namun keutuhan serta keaslian masjid tiban itu tetap dijaga. Sebenarnya masjid tiban masih utuh, yang kita liat sekarang ini hanyalah perluasan masjid saja. Usia masjid tiban Babus Salam diperkirakan sezaman dengan pendirian Masjid Demak, Jawa Tengah, sekitar tahun 1521. Tetapi ada juga yang menyebutkan, bahwa itu dibangun pada sekitar tahun 1498.

Masjid Tiban Babus Salam.docx0002

Masjid kuno ini sering disebut masyarakat setempat sebagai masjid tiban. Sebutan tiban, terkait dengan keberadaan masjid itu sendiri. Konon, saking cepatnya proses pembuatan masjid tersebut, seolah-olah masjid itu tiba-tiba ada seperti jatuh dari langit.

SATU SAKA GURU SATU MAKNA

Empat saka guru masjid yang asli buatan Syech Maula- na Ishaq ini memiliki keunikan tersendiri. Sejak pertama ber- diri hingga sekarang, tak per- nah mengalami kerusakan ba- rangsedikitpun. Selain itu, pen- dirian empat saka guru itu tan- pa menggunakan paku. Dari satu tiang ke tiang lain hanya dipasakkan begitu saja, sehing- ga mirip sekaii dengan tusukan sate. Tidak sedikit yang per- caya, bahwa empat saka guru itu memiiiki nilai karomah yang tinggi.

Keberadaan saka guru, blandar, dan pengeret dari masjid yang bercat coklat itu memiliki makna sendiri-sendiri. Saka guru sebelah kanan yang dekat dengan jendela besi dipercaya dapat memberikan ketenangan batin serta pencer- ahan diri yang lebih. “Jamaah yang mempunyai persoalan hidup yang amat kompleks, biasanya akan melakukan sho- lat dan wirid dengan bersandar pada saka guru itu,” terang Adi.

Sedangkan saka guru ke- dua berada di sisi sebelah kiri. Saka guru ini banyak dimaknai bisa menyelesaikan rasa putus asa akan hidup. Sedangkan saka guru ketiga dan keempat dipercaya dapat merekatkan suatu hubungan yang utuh, antara umat dengan Tuhannya. “Tetapi saya kira, semua itu ter- gantung dengan hati dan keyakinan masingfnasing,” ujar Adi.

Bagian lain selain saka guru yang masih bertahan keaslian- nya adalah gapura. Gapura tersebut sengaja dipertahankan keasliannya, meski masjid tersebut telah mengalami beberapa kali pemugaran.

■ KHASIAT KESEMBUHAN

Pada sisi selatan masjid tiban ini juga terdapat sebuah bongkahan batu hitam (andesit). Batu berukuran 1 m x 30 cm tersebut berada di tengah kompleks makam kuno. Masyarakat setempat menyebut batu tersebut dengan sebutan batu panjang.

Tidak diketahui, sejak kapan batu itu berada di tengah-tengah makam. Begitu pula mengapa batu tersebut disebut batu panjang. Namun yang pasti, keberadaan batu yang hampir bebarengan dengan tiga buah makam kuno itu diyakini dapat digunakan sarana untuk menyembuhkan depresi, kelinglungan serta kegilaan.

Hampir setiap hah, di batu panjang ini tampak diduduki oleh orangorang yang ingin terang dan tentram hatinya. Kepercayaan setempat menyebutkan, dengan duduk di batu itu selama 24 jam sambil dzikir, stress dan depresi berat bisa disembuhkan.

Selain batu panjang itu, masih ada lagi sumur kuno yang terletak di sisi kanan masjid. Air sumur itu banyak dipercaya orang berkhasiat kesembuhan dan bisa membuat wajah seseorang menjadi selalu tampak muda. Tidak sedikit di antara pengunjung masjid tiban yang berharap kesembuhan atas penyakit kulit yang dideritanya dengan memanfaatkan air sumur tersebut.

Berdasarkan mitos yang ada, jika seseorang meminum ataupun menggunakan air tersebut untuk wudhu, maka wajah yang semula terlihat tua akan tampak muda kembali. Bahkan, penyakit aneh akibat santet dapat pula disembuhkan dengan meminum air tersebut. DUNG

Kamaludin (Spiritualis Probolinggo)

Dapatkan llmu Usai Itikaf di Masjid Tiban’

Selain dikenal sebagai seorang penceramah dari dalam kubur, Ki Kamaluddin juga dikenal sebagai spiritualis yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Dengan air yang diambil dari sumur masjid tiban Babu Salam, ia musnahkan ber­bagai penyakit akibat guna-guna.

Tetapi Kamaluddin pantang takabur. Keberhasilannya menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita pasiennya, dikatakannya sebagai kuasa lllahi semata. “Saya, cuma sebagai perantara saja, tetapi semuanya hanya dari Allah semata,” ujar Kamaludin. “Saya mohon kepada Allah, dan kebetulan doa saya didengar dan dikabulkan,” imbuhnya.

Kelebihan ilmu yang dimilikinya, diakuinya bermula dari seringnya itikaf di Masjid Babus Salam seiama tiga tahun. Semula, kedatangannya di masjid itu hanya ingin mendapatkan ketenangan jiwa. Selain itu, juga dalam rangka ikhtiar untuk melepaskan diri dari segela himpitan hutang-hutangnya.

Dalam sebuah kekhusukannya berdzikir di masjid itu, suatu ketika Kamaludin merasa didatangi scsok pria misterius berjubah putih. Pria itu, kemudian memberikan amalan-amalan yang harus dilakukan oleh Kamaludin. “Amalan itu, hingga sekarang terus saya baca setiap kali habis sholat lima waktu,” jelas Kamaludin kepada LIBERTY. “Di luar dugaan, temyata amalan yang pemah saya peroleh dari masjid tiban itu amat berguna bagi orang lain yang ingin pertolongan,” imbuhnya .DUNG

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 50-52

GLIPANG, Kabupaten Probolinggo

SEJARAH KESENIAN
Kesenian Glipang merupakan kesenian tradisional kerakyatan yang tumbuh dan berkembang di daerah Kabupaten Probolinggo, tepatnya di Desa Pendil. Secara administratif, Desa Pendil termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Banyuanyar.
Ketinggian wilayah Banyuanyar mencapai 89 meter di atas permukaan air laut. Suhu udaranya berkisar 27°C sampai dengan 32° C. Dengan demikian, Banyuanyar termasuk dataran rendah.
Jarak antara pusat pemerintahan Banyuanyar dengan desa yang paling jauh mencapai 8 km. Sedangkan jarak antara Banyuanyar dengan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Timur (Surabaya) sekitar 113 km. Wilayah Banyuanyar terdiri dari tanah sawah (+ 1.784 hektar) dan ladang kering (+ 2.476 hektar). Jumlah desa yang ada di wilayah Kecamatan Banyuanyar sebanyak 14 desa, termasuk Desa Pendil.
Desa Pendil terletak di sebelah timur pusat pemerintahan Kabupaten Probolinggo. Luas wilayah Desa Pendil sekitar 169.170 hektar. Ketinggian daerahnya mencapai 14 meter di atas permukaan air laut. Jarak Desa Pendil dengan pusat pemerintahan Kecamatan Banyuanyar sekitar 7 km. Sedangkan jarak Banyuanyar dengan Probolinggo sekitar 13 km.
Batas-batas wilayah Desa Pendil, yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Desa Pikatan. Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Desa Alassapi. Sebelah Selatan berbatasan
dengan Desa Klenang Lor. Sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tarokan. Desa-desa yang berbatasan dengan Desa Pendil tersebut semuanya termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Banyuanyar.
Sifat kegotongroyongan pada masyarakat Desa Pendil masih tampak dalam kehidupan sehari-hari. Hidup rukun dan gotong royong merupakan sifat masyarakat pedesaan yang masih melekat di Desa Pendil. Sebagian besar penduduk Desa Pendil bermatapencahariaan sebagai petani dan pedagang.
Kecamatan Banyuanyar memiliki beberapa jenis kesenian tradisional yang hampir punah keberadaannya. Kesenian Glipang merupakan salah satu kesenian milik masyarakat Desa Pendil. Dan sekarang kesenian Glipang sudah diakui menjadi ciri khas kesenian Kabupaten Probolinggo. Kesenian Glipang ini memiliki corak dan nilai estetis tersendiri sebagai pancaran kebudayaan masyarakat tersendiri.
Kesenian Glipang ini berlatar belakang pada kebudayaan Madura yang beragama Islam. Pada waktu itu, sekitartahun 1912, banyak orang Madura melakukan migrasi lokal ke Pulau Jawa. Tepatnya di sepanjang pantai Pulau Jawa bagian timur. Alasan migrasi yang mereka lakukan itu adalah untuk mencari pekerjaan. Mereka ingin memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pak Saritruno termasuk orang yang melakukan migrasi tersebut, la kemudian menetap di Desa Pendil. Di Desa Pendil Pak Saritruno telah mendapat pekerjaan. Pekerjaan Pak Saritruno adalah sebagai mandor tebang tebu di Pabrik Gula Gending. Pada waktu itu Pabrik Gula Gending masih dikuasai Belanda. Jadi, Pak Saritruno bekerja di bawah kekuasaan Belanda. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai mandor tebang tebu, Pak Saritruno sering terjadi konflik. Hal ini disebabkan oleh tingkah laku para sinder Belanda. Mereka dianggap bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk pribumi.
Diperlakukan seperti itu, Pak Saritruno merasa tidak puas. Rasa kebangsaannya tergugah, la ingin melakukan perlawanan, la mengumpulkan orang-orang pribumi. Tujuannya untuk membentuk suatu perkumpulan. Sedangkan tujuan lainnya adalah untuk menyusun sebuah kekuatan untuk melawan penjajah Belanda. Mereka sangat jengkel terhadap tindakan penjajah Belanda. Tindakannya selalu sewenang- wenang terhadap bangsa pribumi. Kegiatan yang dikembangkan dalam perkumpulan ini adalah latihan ilmu bela diri pencak silat.
Pak Saritruno mengajarkan berbagai jurus silat. Awalnya, kegiatan latihan ini dilakukan secara sembunyi- sembunyi. Karena bila latihan bela diri itu dilakukan secara terang-terangan akan mengundang kecurigaan Belanda.
Untuk menghilangkan kecurigaannya, Pak Saritruno menciptakan musik. Musik yang diciptakannya itu digunakan untuk mengiringi gerak-gerak pencak silat. Sehingga kegiatannya seakan tampak seperti kegiatan seni.
Dari latar belakang inilah, maka terciptalah musik ciptaan Pak Saritruno. Musik yang diciptakan Pak Saritruno itu dinamakan musik Gholiban. Kata gholiban berasal dari bahasa Arab, artinya kebiasaan.
PakSaritruno menamakannya demikian, karena beliau tidak senang dengan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh Belanda. Akhirnya perkumpulan pencak silat itu lebih dikenal sebagai kesenian gholiban. Kata gholiban berubah
menjadi glipang. Hal ini dikarenakan pengaruh dari dialek orang Jawa. Karena penduduk asli Desa Pendil adalah Jawa. Maka, kata gholiban diucapkan gliban. Akhirnya, gliban menjadi glipang.
Dalam memilih alat musik Glipang, Pak Saritruno mengalami kesulitan. Penduduk Desa Pendil tidak mau menggunakan alat musik gamelan. Mereka menganggap alat musik gamelan merupakan alat musik yang kurang cocok dengan lingkungannya.
Akhirnya, Pak Saritruno memilih alat musik lain. Alat- alat musik tersebut adalah jidor, hadrah atau terbang, ketipung, dan terompet.
Bentuk kesenian Glipang, pada awalnya berbentuk jurus-jurus silat utuh. Dalam perkembangan selanjutnya dibuat sebuah tarian. Tarian ini dinamakan tari Kiprah Glipang. Tari Kiprah Glipang menggambarkan seorang pemuda pribumi yang gagah perkasa. Mereka melakukan uji ketangkasan bela diri. Pada tahun 1920-an, kesenian Glipang terkenal dengan tari Kiprah Glipangnya. Kesenian Glipang semakin lama semakin berkembang. Berkat kreativitas Pak Saritruno, terciptalah beberapa tarian, yaitu tari Baris Glipang, tari Papakan, dan tari Teri.
Oleh masyarakat pada waktu itu, kesenian Glipang banyak dimanfaatkan sebagai hiburan. Selain itu, kesenian Glipang dijadikan sebagai media dakwah tentang ajaran- ajaran agama Islam. Lagu-lagu yang dilantunkannya pun berisi tentang rukun Islam, rukun Iman, kebesaran Tuhan, dan tentang ajaran kebajikan lainnya. Ada hal yang menarik dalam pertunjukkan kesenian Glipang ini. Yaitu adanya tari Papakan dan tari Teri. Kedua
tarian ini merupakan tarian pasangan putra dan putri. Tetapi penari putri dimainkan oleh orang laki-laki. Mereka memakai tata rias dan busana putri.
Pada tahun 1935, Pak Saritruno meninggal dunia, karena sakit. Kedudukannya digantikan oleh Kartodirjo, menantunya. Mulai tahun 1950, kesenian Glipang di bawah kepemimpinan Pak Kartodirjo. Dengan mendapat dukungan dari Bu Asiah, istrinya atau putri dari Pak Saritruno, kesenian Glipang terus berkembang pesat. Bentuk tampilannya banyak dipengaruhi oleh kesenian ludruk. Agar seni pertunjukkan ini tetap jaya dan digemari masyarakat, akhirnya Pak Kartodirjo beserta para pengurusnya memberi variasi pertunjukkan. Pada awalnya hanya tari-tarian saja, lalu penyajiannya ditambah lawakan dan drama.
Cerita yang digunakan dalam drama tersebut berkisar tentang Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Islam. Selain itu, ceritanya kadang-kadang juga disesuaikan dengan perkembangan masyarakat saat itu. Misalnya menceritakan tentang pencurian dan perampokan. Judul ceritanya adalah “Banteng Solo”. Lakon ini menceritakan tentang pencurian dan perampokan. Pesan pada akhircerita, masyarakat diharapkan agar berhati-hati dan tenang dalam menghadapi situasi seperti ini. Kesenian Glipang benar-benar sangat digemari masyarakat. Baik masyarakat Pendil maupun di luar Desa Pendil. Bahkan terkenal sampai di luar wilayah kabupaten, seperti Pasuruan, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.
Sekitar tahun 1964, kesenian Glipang pentas di Banyuwangi. Tetapi naas bagi rombongan kesenian Glipang. Sepulang dari pentas itu kendaraan yang ditumpanginya mengalami kecelakaan. Kendaraan yang ditumpanginya jatuh terperosok ke jurang. Akibat dari kecelakaan itu, Pak Kartodirjo meninggal dunia.
Sejak saat itulah perkumpulan kesenian Glipang bubar. Bahkan hampir mengalami kepunahan. Baru setelah pada tahun 1970-an, kesenian Glipang mulai bangkit kembali.
Bu Asiah dan Soeparmo, putranya, berupaya untuk mendirikan kembali. Berkat kerja keras Bu Asiah dan Soeparmo, kesenian Glipang mulai bangkit kembali. Mereka mulai mengadakan pementasan-pementasan. Soeparmo, selaku pimpinan perkumpulan seni Glipang, berusaha untuk menggali seni Glipang yang pernah jaya pada masa itu.
Saat itu kesenian Glipang belum mendapat perhatian dari pemerintah. Berkat kerja keras Soeparmo dan kawan- kawannya, mereka berhasil mengumpulkan orang-orang yang mempunyai jiwa seni. Mereka diajak untuk membentuk suatu wadah organisasi kesenian. Akhirnya berdirilah sebuah sanggar seni yang diberi nama Sanggar Andhika Jaya.
Kesenian Glipang semakin lama semakin berkembang. Tepatnya tanggal 5 Februari 1985, Sanggar Andhika Jaya secara resmi telah terdaftar di Kanwil Depdikbud Provinsi Jawa Timur, dengan nomor induk kesenian: 031/111.0416/104.28/1993.
Kini kesenian Glipang telah diakui sebagai seni asli daerah Probolinggo. Kesenian ini memiliki tarian khas, yaitu tari Kiprah Glipang. Karena tarian ini memiliki sejarah perjuangan.
Mulai tahun 1985, kesenian Glipang lebih leluasa untuk mengembangkan potensinya. Pementasan sering dilakukan di mana-mana, baik atas permintaan masyarakat maupun pemerintah. Maraknya perkembangan musik dangdut, karaoke, televisi, film, dan video, kesenian Glipang hampir tersisih. Masyarakat lebih banyak memilih hiburan musik dangdut, karaoke, film, dan video. .Untuk mengatasi persaingan ini, maka seni pertunjukkannya diselingi musik dangdut dan karaoke. Dengan demikian kesenian Glipang tidak lagi ditinggalkan masyarakat.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: “GLIPANG” Seni Tradisional Probolinggo/ Suyitno; Irvi Jaya, 2011. hlm. 1-7, (CB-D13/2011-694)

Musik pengiring Kesenian glipang

Kesenian glipang, kesenian asli tradisi Probolinggi ini kecuali disajikan dalam bentuk tari dan drama (sandiwara) juga diiringi musik dan vokal. Secara umum bisa dikatakan sebagai berikut, ciri-ciri dari penyajian keseni­an glipang. Pada pola penyajian keseni­an memiliki struktur tertentu dan tema tertentu, serta lagu-lagu yang dibawakan bernafaskan agama Islam.

Alat-alat nusik yang digunakan terdiri dari sebuah Jedhor, dua buah ketipung besar (lake’an dan bhine’an), tiga sampai lima terbang/kecrek. Pola permainan musik merupakan ansamble dari jedhor, terbang / kecrek dan vokal.

Bahasa yang digunakan dalam vokal/dialog adalah bahasa arab, Jawa dan Madura, unsur gerak kreativitas pribadi dari unsur – unsur gerak pencak silat. Tokoh-tokoh pelaku sesuai dengan lakon yang dibawakan.

 Alat musik yang digunakan.

Alat musik/karawitan glipang terdiri dari :

–     Dua buah ketipung besar.

Terdiri atas lake’an dan bhine’an, ditabuh tingkah meningkah (saling mengisi), ketipung laki-laki (lake’an) berfungsi memimpin dan memberikan tekanan-tekanan gerak.

–     Satu buah Jidhor.

memberikan tekanan-tekanan tertentu untuk semelehnya (konstan-nya) irama.

–    Tiga buah sampai lima buah terbang/keorek.

mengisi laga dengan cara memberikan suara diantara degupan.

Lagu-lagu yang dibawakan

–     Lagu Awayaro, sebagai lagu pembukaan menjelang penyajian tari kiprah glipang.

–    Pantun berlagu bebas, dibawakan secara bergantian pada penyajian tari pertemuan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R: Tari Dan Musik Glipang Di Kabupaten Probolinggo, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 1984, hlm.2-5

Kesenian Glipang 2

 Bentuk penyajian/pertunjukan  kesenian Glipang.

Oleh karena kesenian Glipang adalah merupakan suatu jenis kesenian pertunjukan, maka bentuk dan jenis pertunjukan kesenian Glipang disesuaikan dengan selera masyarakat penonton atau pihak yang monyelenggarakan pertunjukan (penanggap) Glipang ini, misalnya tentang thema lakon/isi lakon serta waktu yang dikehendaki, Pada umumnya masyarakat penonton menyukai penyelenggaraan dengan waktu yang lama atau semalam suntuk.

Penyajian dengan memakan waktu yang lama ini sempat disajikan berulang-ulang bagian-bagian tertentu dari seni glipang ini yang diinggap penting atau digemari masyarakat yang menganggapnya bahwa pengulangan-pengulangan bagian-bagian tertentu dari seni Glipang ini dirasa memantapkan penyajian kesenian glipang dan kenikmatan selera penonton.

Sebagai akibat adanya aspek kemantapan ini, maka usaha-usaha menata seni glipang antara lain dalam bentuk pemadatan penyajian dianggap menyalahi aturan yang sudah berlaku dalam hal penyajian seni glipang.

Dalam penyajian kesenian glipang semalam suntuk terbagi atas tahap-tahapan sebagai bejikut :

Tahap I : Tari Ngremo Glipang ( Tari Kiprah Glipang ).

Tari ini morupakan bentuk tari yang digunakan untuk mengawali pertunjukan seni glipang.

Tahap II : Tari Kiprah Glipang.

Tari ini dibawakan oleh para penari pria, biasanya disertai penampilan seorang pelawak pria.

Tahap III : Tari Pertemuan.

Tari ini dibawakan oleh penari pria dan wanita dalam kompo- sisi berpasangan disertai dua orang pelawak pria dan wanita. Peraga penari wanita dibawakan oleh penari laki-laki/pria dan dalam adegan ini kedua pelawak berdialog lucu (melawak),

Tahap IV : Sandiwara drama ).

Membawakan ceritera tertentu dengan thema tertentu pula yang bernafaskan agama Islam.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R: Tari Dan Musik Glipang Di Kabupaten Probolinggo, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 1984, hlm.2-5

Kesenian Glipang, Kabupaten Probolinggo

Kesenian Glipang berkembang dan dikenal di wilayah Kabupaten Probolinggo serta juga didaerah sekitarnya, diantaranya Kabupaten Lumajang, Kabupa­ten Jember, serta Kotamadya Probolinggo oleh karena kesenian Glipang ini meru pakan kesenian tradisional yang sangat digemari oleh rakyat di daerah Kabupa­ten Probolinggo dan daerah sekitarnya seperti Jember, Lumajang dan Pasuruan, maka jenis kesenian ini sangat populer di daerah-daerah tersebut dikalangan rakyat khususnya dikalangan anak-anak rnuda.

Sebagaimana jenis kesenian tradisional lainnya yang terdapat di pro­pinsi Jawa Timur yang mnsing-masing memiliki ciri-ciri khusus sehingga antara yang satu dapat dibedakan dengan yang lainnya, maka jenis kesenian Glipang ini dalam penampilannya mempunyai ciri tersendiri yang akan diuraikan dalam penjelasan selanjutnya dan juga mempunyai unsur pesona khusus, sehingga ditengah-tengah derasnya arus pengaruh kebudayaan asing yang kado.ngkala memukau masyarakat kita, kesenian Glipang di Jawa Timur ini masih bertahan hidup dengan ketegaran yang lcokoh bahkan menunjukkan gejala semakin meluasnya perkembangan seni Glipang khususnya Tari dan Musik Glipang setelah memperoleh penanganan Kantor Wilayah Dopartemen Pendidikan dan Kebudayaan Fropinsi Jawa Timur serta pemerintah daerah setempat.

Pengertian tentang Kesenian Glipang

Kesenian Glipang ialah suatu jenis kesenian pertunjukan, yang membawakan lakon-lakon tertentu (pertunjukan berlakon) yang biasanya dipergelarkan atau diselenggorakan semalam suntuk ; thema lakon atau ceritera berkisar atau bernafaskan ceritera-ceritera agama Islam antara lain tentang kejayaan Islam, ceritera tentang kehidupan masyarakat sehari-hari.

Istilah Glipang belum dapat dipastikan tentang asal usulnya demikian juga tentang arti kata glipang yang tepat ; namun menurut penjelasan dari bebere.pa sumber yang banyak menangani kesenian glipang ini, istilah gli­pang berasal dari istilah atau kata bahasa Arab “goliban”, yang mengandung makna tentang suatu kebiasaan kegiatan yang selalu dilakukan oleh parasanteri dipondoknya dalam kehidupannya sehari-hari.

Manfaat kesanian glipang

Dalam kehidupan sehari-hari nasyarakat Probolinggo, kesenian glipang sebagaimana telah diuraikan pada awal tulisan ini tetap semarak sebagai suatu jenis kesenian yang digemari rakyat. Kesenian glipang sering ditampilkan pada acara-acara rescpsi bersih desa, panen raya, hajatan keluarga dan sebagainya. Jelaslah bahwa kesenian glipang dapat dinanfaatkan sebagai suatu sosio drama, untuk menyanpaikan pesan-pesan pembangunan yang nenjadi program pemerintah, untuk menciptakan suasana persatuan dan kesatuan di kalangan rakyat dan secara khusus melestarikan warisan seni budaya yang memiliki nilai-nilai luhur*

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

 

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R: Tari Dan Musik Glipang Di Kabupaten Probolinggo, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 1984, hlm. 1-2 Dan 5

Orang Tengger Gemar Memakan Bawang

Alasan Orang Tengger Gemar Memakan Bawang

Menurut penduduk Tengger, “bawang” adalah pemberian khusus dari Brahma. Berikut ini adalah kisah menurut legenda tersebut:

Ketika kaum Brahma pertama menetap di daerah Tengger, wilayah itu masih menjadi hutan belantara yang buas. Namun, anehnya mereka menemukan sebuah hunian manusia di lereng Gunung Semeru. Kiai Dadap Putih, seorang Brahma yang telah berusia lanjut dan menjadi pimpinan mereka menganjurkan kelompoknya untuk menyelidiki asal mula dari kasta mana manusia yang kelihatan di Gunung Semeru. Dia yakin bahwa mereka itu juga sama-sama berasal dari kasta Brahma.

Kiai Dadap Putih sendiri kurang mengerti tentang bagaimana orang-orang itu bisa berkebun di lereng Gunung Semeru, sedangkan di Tengger saja tanaman padi tidak bisa tumbuh. Itulah sebabnya dia sendiri beserta rombongannya menderita kelaparan. Oleh karena !tu, besar kemungkinannya adalah bahwa manusia yang mereka lihat di lereng Gunung Semeru itu berada di atas tanah yang lebih subur dibandingkan dengan tanah tempat mereka berada.

Maka pada suatu malam di malam bulan purnama, Kiai Dadap Putih bersama dengan beberapa pengikutnya berjalan ke tempat di lereng Gunung Semeru, tempat hunian tersebut. Sesampainya ditempat yang diperkirakan telah dihuni oleh banyak orang, mereka kaget. Ternyata, hunian itu hanya didiami oleh ^pasang manusia, “laki-laki” dan “perempuan”.

Laki-laki itu ternyata seorang tapa dan si perempuan seorang endang atau pertapa perempuan. Mereka berada di sana hanya untuk bersembahayang sepanjang hari, dan hidup dari tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, dan akar-akar yang ditemukan di sekitarnya. Ketika Kiai Dadap Putih dan pengikutnya mendengar cerita dari para pertapa itu, mereka lalu memohon agar para pertapa berkenan mendoakan keselamatan mereka dan rombongannya yang masih berada di Gunung Tengger. Permintaannya adalah didoakan agar daerah yang akan mereka huni di sana menjadi subur. Setelah tapa dan endang menjanji­kan untuk mendoakan mereka, rombongan Kiai Dadap Putih kembali ke Gunung Tengger. Mereka percaya bahwa Dewa Brahma akan mendengar dan mengabulkan doa orang-orang suci ini.

Ternyata, keinginan mereka terkabul lebih awal dari dugaan. Pertapa endang pada suatu malam bermimpi didatangi seorang peri atau bidadari ipitri) dan memberikan dua biji benih. Biji benih yang satu berwarna merah dan yang lain berwarna putih. Menurut sabda peri, benih yang merah sudah dapat ditanam pada esok harinya dan buah yang dihasilkan oleh benih ini diminta diberi nama bawang abang. Bibit putih yang satunya lagi harus ditanam pada saat datang­nya bulan baru dan buah yang akan dihasilkan diberi nama bawang putih.

Hasil dari benih-benih yang akan dihasilkan oleh tumbuh- tumbuhan ini harus diberikan kepada rombongan pendatang dari Gunung Tengger yang lalu, yang sekarang telah menjadi penghuni di Gunung Tengger. Sang peri berkata: “Katakan kepada mereka bahwa benih-benih ini akan mendatangkan kebahagiaan bagi mereka dan keturunannya. Selain itu, ketangan (kentang) dan tanaman menjalar lain akan dapat tumbuh di samping bibit-bibit ini. Bibit inilah yang akan menyuburkan tanah yang kurang subur ini. Janganlah menanam padi baik di dataran maupun di lereng Gunung Tengger karena bila dilakukan maka seluruh daerah akan menjadi tidak subur hal ini inl lagi-“

Tanpa berkata lebih lanjut, sang peri tiba-tiba menghilang. fCetika endang bangun dari tidur esok harinya, di genggaman tangan kanannya tiba-tiba sudah ada dua biji benih. Hingga akhirnya dirinya ercaya bahwa apa yang dikatakan oleh peri itu adalah kenyataan. Dan memang terbukti, ketika pertama kali ditanam bibit benih yang merah dan kemudian bibit benih yang putih, setelah itu tumbuhlah tanaman bawang yang subur. Masing-masing tumbuh berwarna sebagai bawang merah dan bawang putih. Tidak lama kemudian, tanaman-tanaman bawang ini menghasilkan benih-benih lagi. Akhir­nya, endang memberikan biji-biji benih bawang itu kepada tapa dan berpesan agar diberikan kepada penduduk yang ada di Gunung Tengger.

Tapa memberikan bibit-bibit itu kepada Kiai Dadap Putih sambil menceritakan bahwa bibit-bibit ini adalah hadiah dari kelangitan karena dibawa sendiri oleh seorang peri dari kayangan.

Mendengar cerita ini, para Brahma di Tengger segera menanam bibit-bibit bawang ini dan ternyata tanah untuk bibit-bibit bawang ini menjadi sedemikian subur. Selain itu, tanah-tanah di sekitarnya juga bisa ditanami bibit-bibit kentang dan tanaman menjalar lainnya. Dengan melakukan ini maka kehidupan orang-orang Tengger menjadi

Capt. R.P. Suyono, Mistisisme Tengger, LKIS, Yogyakarta 2009,  hlm. 47-49