Mohammad Noer

M NoerMohammad Noer lahir di Kampung Beler, Desa Rong Tengah Kabupatern Sampang, 13 Januari 1918, beragama Islam.
Pendidikan:
Tahun 1932, Lulus HIS di Bangkalan,
Tahun 1936 MULO di Blitar,
Tahun 1939 MOSVIA di Magelang.
Mengawali karir di kantor Kabupaten Sumenep (1939-1940), di Kantor Kawedanan Ambunten (1940- 1941) dan jadi Mantri Kabupaten Bangkalan (1941-1943).
Tahun 1950 sebagai Penjabat Sementara Patih Pamekasan, Bupati Bangkalan (1960-1965), Pembantu Guber- nur (Residen) Jatim Wilayah Madura (1965-1967), Penjabat Sementara Gubernur Jatim (tahun 1967), Penjabat Gubernur Jatim (1967-1971) dan Gubernur Jatim (1971-1976).
Tahun 1973-1978 dan 1985-1992 terpilih sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat, menjadi Duta Besar di Prancis (1976-1980), anggota Dewan Pertimbangan Agung (1981-1983,1983-1988), Rektor Universitas Bangkalan (1985 1988) dan anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (1989). Saat ini diantaranya menjabat sebagai Ketua Konsor- sium Pembangunan Jembatan Surabaya – Madura, Ketua Yayasan Jantung Sehat Jatim dan Ketua Yayasan Ajidarma.
Banyak memperoleh penghargaan, diantaranya Bintang Mahaputera Utama III, Bintang GrandOfUcier d’Ordre du Merite dari pemerintah Prancis, Lencana Manggala Karya Kencana BKKBN, serta Bintang Legiun Veteran.
Menikah dengan Mas Ayu Siti Rachma dan dikaruniai 8 putra. Kini tinggal di Jl. Ir. Anwari 11, Surabaya, telepon 65458.
Jawa Timur agaknya sudah tidak bis dipisahkan dengan namanya. Moharn mad Noer begitu dikenal oleh warga Jatim karena berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan yang dilakukannya. Meski tak lagi, menjabat sebagai Gubernur Jatim, namun masyarakat masih menganggapnya sebagai salah seorang sesepuh yang patut untuk dimintai pendapat.
Tak heran kalau rumahnya tak pernah sepi dari tamu. Karena jadwal kegiatannya cukup padat, ia harus mengatur waktu kun jungan tamunya dengan cermat. “Saya punya buku agenda yang mengatur jadwal kegiatan sehari-hari. Selain itu juga ada papan tulis yang berisi kegiatan saya. Kita memang harus berdisiplin soal waktu,” ungkapnya, sembari memperlihatkan buku agendanya. Dalam buku itu, bahkan aktivitas yang akan dilakukan sebulan kemudian sudah tercatat rapi.
Ia berupaya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat, agama, dan keluarga. Maka dalam mewujudkan tugas, ia selalu berusaha meningkatkan taraf hidup ma¬syarakat, khususnya masyarakat kecil. Sewaktu menjabat sebagai Gubernur Jatim ia telah bertekad agawe wong cilik gumuyu membuat rakyat kecil tertawa.
Ada beberapa peristiwa yang sangat berkesan di hatinya, sewaktu masih men¬jabat sebagai orang pertama di Jatim. Peristiwa pertama adalah saat mefighadapi kasus carok yang berkepanjangan antara sebagian warga Bangkalan dan Sampang Karena kedua kelompok masyarakat itu saling dendam kesumat untuk melakukan ca¬rok, maka peristiwanya jadi berlarut-larut dan sukar diatasi, sehingga meresahkan mayarakat lainnya.
Bagaimana tindakannya untuk menyelesaikan kasus gawat itu? “Sayatahu bahwa orang Madura sangat menghormati Sunan Ampel. Maka saya mengumpulkan kedua pihak yang bertikai di halaman Mesjid Sunan Ampel untuk membaca ikrar dan sumpah bahwa mereka tidak akan melakukan carok lagi. Dan sesudah itu syukurlah carok tak terjadi lagi,” ungkapnya.
Cara-cara religius memang dipakainya untuk menyelesaikan masalah. Seperti se- waktu terjadi musibah penerbangan di Srilanka, 4 Desember 1974 yang menewaskan 184 jemaah haji dari berbagi daerah di Jatim. Masalahnya adalah bagaimana mengirimkan kembali jenazah itu kepada keluarganya, karena kesulitan identifikasi jenazah. Kembali halaman Mesjid Sunan Ampel menjadi jawabannya. Dengan dimakamkan di tempat itu, segenap keluarga yang ditinggalkan akhirnya mengikhlaskan jenazah parasyuhada itu dikuburkan di satu tempat.
Peristiwa lain yang berkesan adalah sewaktu menghadapi kasus jaring ikan di Muncar tahun 1974. Saat itu bupati setempat merasakan taraf hidup masyarakatnya, yang sebagian besar nelayan, belum begitu menggembirakan. Hasil mereka menangkap ikan belum seperti yang diharapkan.
Maka bupati lalu berinisialif membuat jaring baru yang ditarik dua kapal. Dan hasilnya sangat menggembirakan, karena berhasil menangkap bertonton ikan, padahal dengan jaring biasa yang hanya menggunakan satu kapal, cuma diperoleh sekitar 25 kg.
Kesulitan timbul, ketika nelayan di daerah lain merasa cara penjaringan ikan seperti itu akan cepat menghabiskan ikan dilautan. Lalu terjadi insiden pembakaran perahu-perahu nelayan Muncar. la kemudian mengumpulkan para demonstran yang ti¬dak menyetujui pemakaian jaring baru itu.
“Saya katakan pada mereka, apakah ka¬lian ingin maju apa tidak? Kalau ingin hidup lebih baik lagi, maka sistem yang baru itu harus diterapkan,” tegasnya. Tampaknya para nelayan bersedia mengikuti sarannya. Namun timbul problem berikutnya, bagai¬mana mengadakan kapal yang lebih banyak buat mereka, karena jaring ini ditarik dua kapal.
Masalah terpecahkan setelah ia menghadap PresidenSoeharto. Hasilnya, Pemda Jatim mendapat kredit untuk pengadaan kapal. Ini hanya beberapa contoh keberhasilannya dalam membangun Jatim, yang ditandai dengan perolehan anugerah Parasamya Purnakarya Nugraha.
Sebagai atasan ia berusaha untuk memberi contoh pada bawahannya. Kepada pa¬ra stafnya ia selalu menekankan rasa cinta tanah air dan menanamkan sikap agar bekerja tidak hanya atas dasar perintah. “Sewaktu saya menjadi Bupati Bangkalan, saat itu tak tersedia dana yang cukup untuk melakukan pembangunan. Namun dengan swadaya masyarakat akhirnya kami bisa membangun jalan-jalan. Sekolah-sekolah di desa terpencil kami bangun. Dengan adanya guru di desa tersebut diharapkan bisa memacu perkembangan desa,” ung-kapnya.
Saat menjabat Wedana Arosbaya, Ma¬dura, tahun 1947, ia merasakan pahit getirnya perjuangan melawan Belanda. la bergabung dengan pasukan gerilya, sehingga harus berpisah dengan keluarganya. Saat itu istrinya sedang hamil tua, mengandung anaknya yang ketiga. Bersama kedua anaknya yang masih kecil-kecil, sang istri terpaksa mengungsi ke luar kota Arosbaya, menuju Desa Karang- duwak. Di desa ini anak ketiganya dilahir-kan.
Serangan Belanda itu terjadi setelah Belanda melanggar persetujuan Linggarjati. Ketika itu Madura akan dikuasai untuk dijadikan negara boneka Namun dengan tegas ia menolak ajakan Belanda mendirikan Negara Madura. Karena itu tawaran Belanda untuk mengakhiri permusuhan tidak digubris olehnya. Waktu itu kelompok gerilya mulai terdesak, sehingga akhirnya diputuskan untuk hijrah ke Jawa dan membentuk pemerintahan Madura di pengasingan.
Untuk meninggalkan Madura waktu itu tidak mudah, karena laut di sekitar Madura sudah dikuasai Belanda. Namun akhirnya ditemukan sebuah tempat penyebrangan paling baik untuk menghindari kemungkinan disergap patroli Belanda, yaitu di muara sungai Desa Klampis. Dari desa inilah, sekitar 20 dari 22 perahu peng’ungsi dapat mendarat dengan selamat di suatu pantai daerah Tuban. “Demi membela nusa dan bangsa, saat itu kami harus rela berpisah dengan keluarga,” ungkapnya.
Sewaktu menjadi Duta Besar Prancis, ia selalu memacu mahasiswa Indonesia yang sedang sekolah di sana, agar bisa berprestasi. Dan menurutnya kemampuan ma¬hasiswa Indonesia tidak kalah dengan mahasiswa dari negeri lainnya. Tak jarang ada mahasiswa yang lulus cumlaude
“Dalam soal ilmu, kita tidak kalah dengan ilmuwan Prancis. Pernah pada suatu seminar, ilmuwan Prancis terpukau oleh presentasi yang dibawakan delegasi kita, meski menggunakan Bahasa Indonesia. Soal bahasa memang tidak ada masalah, karena kami menyediakan penerjemah,” jelasnya.
Menyinggung soal potensi utama Jatim, menurutnya terletak pada sumber daya manusianya. Jangan sampai kepadatan penduduk justru menjadi beban. “Lihat saja Je-pang, meski sumber daya alamnya terbatas, namun karena manusianya urv ggul, bi-sajadi bangsa yang maju. Untuk itu kita harus menanamkan patriotisme dan nasi-onalisme kepada para pemuda kita. tegasnya.
Industrialisasi di Madura menurutnya sudah saatnyadijalankan untuk memberantas kemiskinan dan kebodohan. Bayangkan saja, saat ini hanya 12% siswa SD yang bisa meneruskan ke SMP, sebelum ada Wajib Belajar 9 tahun. Dan 64% wilayah Madura mendapat Inpres Desa Tertinggal “Dengan adanya industrialisasi, rakyat Madura bisa meningkatkan kesejahteraannya Lagipula mereka juga sudah biasa kerja di pabrik-pabrik. Nanti direncanakan Madura akan jadi tempat industri hitech, seperti elektronika. Tentu kita harus mencegah agar hal-hal yang maksiat tidak terjadi,” tegasnya.
Dalam mendidik ke delapan anaknya, ia mengadakan pendekatan secara kekeluar gaan. Diusahakannya untuk selalu bisa makan malam bersama keluarga. Tak heran kalau meja makan keluarganya sampai berisi 14 kursi. Dalam kesempatan itulah ia berkomunikasi dengan anak-anaknya, mem berikan petuah dan nasehat.
“Saya tekankan pada anak-anak, agar jangan tergantung pada siapapun, kecuali Allah SWT. Mereka jangan tergantung kepa¬da saya, karena suatu saat pasti saya akan pensiun sebagai pejabat. Saya mendiiplinkan mereka agar bisa menuntut ilmu dengan sebaik- baiknya. Sehingga mereka mau belajar dengan kesadarannya sendiri. tanpa harus diperintah,” paparnya.
Untuk menjaga kesehatan, dulu setiap pagi ia rajin jogging. Namun oleh dokter ia tak diperbolehkan olahragayang bertumpu pada kaki. Akhirnya ia berganti dengan olah raga renang. Hampir setiap hari ia berenang di salah satu hotel berbintang di Surabaya. Kalau sedang berada di Jakarta, ia juga menyempatkan diri untuk berenang.
“Kalau pikiran ruwet harus segera dihilangkan dengan menghibur diri. Misalnya bermain dengan cucu, melihat ayam bekisar dan kate. Sesudah itu biasanya pikiran tenang kembali,” ungkapnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 86-89 (CB-D13/1996-…)

Marsda TNI. ANM. Abdul Halim Perdanakusuma

080Sejak zaman Majapahit, bahkan sebelumnya hingga zaman Mataram pulau Madura merupakan unsur penting dalam kerajaan di pulau Jawa. Sekarang pulau madura termasuk wilayah Jawa Timur dan terkenal dengan karapan sapinya. Di kota kabupaten Sampang di pulau Madura Trunajaya dilahirkan sebagai seorang pejuang yang berani melawan kekuasaan Belanda pada abad ke-17. Di kota Sampang ini pulalah dilahirkan pada tanggal 18 Nopem,ber 1922 Abdul Halim Perdanakusuma, Laksamana Muda TNI Angkatan Udara.
Abdul Halim Perdanakusuma adalah putera Patih Sampang sebelum menunaikan ibadah haji, beliau bernama Raden Mohammad Siwa. Sekembalinya dari tanah suci berganti nama menjadi Raden Haji Mohammad Bahauddin Wongsotaruno. Ibu Abdul Halim bernama Raden Ayu Asyah, puteri Raden Ngabehi Notosubroto, Wedana Gresik Jawa Timur.
Abdul Halim adalah anak keempat dari sembilan bersaudara sekandung sedangkan seluruhnya saudaranya lain ibu berjumlah 27 orang. Pada tahun 1928 Abdul Halim Perdanakusuma mulai masuk Sekolah Dasar (Hollandsch Inlandsche School/HIS) di kota Sampang. la termasuk anak yang cerdas dapat menamatkan sekolah dengan lancar.
Sejak kecil ia tidak suka banyak bicara. la termasuk anak pendiam. Kalau bicara selalu bersungguh-sungguh atau serius. Meskipun demikian ia cukup ramah dan suka bergaul. Ia pun mempunyai sifat rendah hati. Hingga dewasa sifat-sifat itu dibawa terus. Tindakannya selalu dilakukan dengan hati-hati dan diperhitungkan dengan masak-masak oleh karenanya apa yang direncanakannya banyak yang berhasil.
Ia pandai bergaul dengan segala golongan tanpa membedakan antara yang ningrat dan yang bukan. Sebagai hobby atau kegemaran ia bermain biola dan melukis. Di sekolahnya ia berhasil membentuk sebuah band yang dipimpinnya.
Sesudah tamat ELS pada tahun 1935, ia melanjutkan sekolahnya ke Sekolah Menengah Pertama (MULO). Sementara ia masih duduk di bangku SMP, ayahnya meninggal dunia selanjutnya ia mengikuti kakaknya yang tertua, yaitu Abdulhadi di Surabaya. Sewaktu di MULO ia mengembangkan bakatnya melukis. Hasil karyanya berupa lukisan yang diserahkan kepada kakaknya untuk dijual di pasar Tunjungan, Surabaya. Dengan hasil karyanya itu Abdul Halim dapat memperingan biaya sekolahnya. Kegiatan lainnya ialah bermain musik seperti telah diuraikan di atas.
Sesudah tamat dari MULO ia melanjutkan ke MOSVIA, yaitu Sekolah Pamong Praja di kota Magelang, untuk meneruskan jejak ayahnya yang semasa hidupnya bekerja di Pamong Praja. Setelah lulus dari MOSVIA Abdul Halim bekerja sebagai calon mantri polisi dikantor Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Sementara itu keadaan dunia makin gawat. Pada bulan September 1939 pec’ah Perang Dunia II. Beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Mei 1940, negeri Belanda diduduki pasukan Nazi Jerman. Hubungan antara Hindia Belanda dengan negara Belanda putus, dan pasukan Jepang dapat menyerbu Hindia Belanda setiap waktu. Dengan terbum-buru pemerintah Hindia Belanda menyiapkan kekuatan pertahanan untuk menangkis pertahanan Jepang. Menjelang masa yang gawat itu pemerintah Hindia Belanda memberi sedikit kesempatan kepada para pemuda Indonesia untuk memasuki pendidikan perwira pada angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara.
Abdul Halim yang sedang bekerja di kantor Kabupaten Probolinggo, ditunjuk oleh bupati untuk mengikuti pendidikan perwira Angkatan Laut. Sesudah lulus dari tes ia ditempatkan di bagian pendidikan calon perwira kapal torpedo. Dengan demikian ia masuk Angkatan Laut Hindia Belanda.
Pada bulan Maret 1942 pasukan Jepang mendarat di pulau Jawa. Angkatan Laut Hindia Belanda berusaha melawan Jepang, tetapi sia-sia belaka. Banyak kapal Hindia Belanda yang tenggelam dan terkubur di dasar lautan. Sisanya berlayar menuju Cilacap dalam rangka persiapan mengungsi ke Australia dan India. Dalam iring-iringan kapal Belanda itu termasuk pula kapal torpedo tempat Abdul Halim bertugas.
Di kota pelabuhan Cilacap, kapal torpedo itu diserang oleh pesawat terbang Jepang sehingga tenggelam. Abdul Halim Perdanakusuma terjun ke laut dan beruntunglah ia diselamatkan oleh kapal perang Inggris. Bersama mereka yang selamat Abdul Halim dibawa ke Australia dan kemudian diangkut ke India.
Di India Abdul Halim Perdanakusuma tetap berada dalam lingkungan Angkatan Laut. Kegemaran melukisnya masih tetap ditekuninya. Pada suatu hari yang luang, rupanya ia melukis potret Laksamana Mountbatten. Panglima Armada Inggris di India. Lukisan itu digantungkannya dikamarnya. .
Suatu ketika, Laksamana Mountbatten mengadakan inspeksi. Semua kamar anak buah di asrama itu diperiksa. Dikamar Abdul Halim, Laksamana Mountbatten melihatnya lukisan wajahnya tergantung di dinding. Ia lalu bertanya, siapa yang melukis itu? Abdul Halim menjawab singkat, bahwa dialah yang melukis.
Sejah itu terjadilah hubungan pribadi antara Laksamana Mountbatten dengan Abdul Halim. Apalagi sesudah mengetahui bahwa Abdul Halim itu putera Indonesia, Laksamana Mountbatten lalu menawarkan kepada Abdul Halim apakah suka menambah pendidikan di negara Inggris ? Abdul Halim menyetujui tetapi mohon agar diperkenankah pindah bidang, yaitu Angkatan Udara. Permintaan itu dikabulkan. Sesudah itu Abdul Halim diterbangkan ke Jibraltar dan selanjutnya ke London. Kemudian iamengikuti pendidikan juru terbang di Kanada. Di Kanada ia berlatih di Royal Canadian Air Forte jurusan navigasi. Sejak itu mulailah pengabdiannya di Angkatan Udara.
Sesudah selesai dengan pendidikannya, Abdul Halim ditempatkan di Inggris sebagai perwira navigasi Angkatan Udara Inggris. Sebagai manusia biasa tentu ia sangat rindu tanah air, bangsa dan keluarganya. Selama berkecamuknya peperangan itu, ia sama sekali tidak mendengar kabar tentag nasib keluarganya. Sedangkan keluarganya ditanah air sudah menganggap, bahwa Abdul Halim tentu sudah gugur dan tenggelam di lautan ketika kapal torpedo yang ditumpanginya dibom Jepang di perairan Cilacap pada awal Perang Pasifik itu.
Tentulah Abdul Halim dapat juga mengirim surat melalui Palang merah Internasional memberitahukan keadaannya kepada keluarganya di Surabaya dan Sampang, tetapi Abdul Halim juga menyadari resikonya. kalau Jepang mengetahui dia perwira Inggris, niscaya akan menangkap dan menganiaya seluruh keluarga Abdul Halim. Karena itu Abdul Halim tetap menahan dan menyabarkan diri. Satu-satunya harapan ialah agar perang dapat lekas selesai.
Abdul Halim makin memusatkan pekerjaannya pada bidang Angkatan Udara. Berkali-kali ia mengikuti pemboman ke Jerman. Ia mengalami berbagai pertempuran sengit di udara, berupa duel-duel antara kapal-kapal terbang Inggris dengan kapal-kapal terbang Jerman. Abdul Halim masuk dalam skuadron tempur yang terdiri dari pesawat Lancaster dan Liberator. Waktu itu ia berpangkat kapten Penerbangan dan merupakan salah seorang perwira Angkatan Udara berkulit berwarna yang tidak banyak jumlahnya.
Dalam operasi serangan pemboman ke Jerman, Kapten Abdul Halim tercatat 42 kali mengikutinya. Sasaran utamanya ialah pusat-pusat industri Jerman. Serangan-serangan itu dilakukan pada siang dan malam hari. Pernah terjadi dalam penerbangan kembali ke pangkalannya di Inggris, skuadronnya dicegat oleh pesawat-pesawat Fockewulf yang membawa senjata roket. Terjadilah duel di udara yang seru. Pihak Sekutu kehilangan tiga buah pesawat pembom B-17 karena tembakan roket Jerman.
Setiap kali mendarat di pangkalan dengan selamat. kawan-kawannya selalu membicarakan pengalaman-pengalaman di medan pertempuran, sesudah itu tidak jarang mereka mengambil pena dan menulis pengalamannya kapada keluarganya di rumah. Alangkah sedihnya bagi Abdul Halim karena ia tidak dapat menceritakan pengalamannya atau menulis surat kapada keluarganya. Ia tetap menahan diri demi keselamatan keluarganya. Karena itu hidupnya di tanah Inggris itu bagaikan seorang anak yatim piatu.
Satu hal yang mengherankan setiap kali Abdul Halim ikut dalam serangan udara di atas kota-kota Jerman dan Perancis, maka pastilah seluruh pesawat dalam skuadron itu kembali dengan selamat ke pangkalannya. Karena itu Angkatan Udara Inggris memberi sebutan The Black Mascot atau Si Jimat Hitam kepadanya. Para perwira senior pun menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Tentu hal-hal tersebut menggembirakan hatinya.
Sesudah perang di Eropa berakhir, maka selesai pula tugas Abdul Halim. Ia kini tinggal menunggu waktu untuk pulang kembali ke tanah air. Tetapi untuk sementara waktu ia harus bersabar, karena Jepang masih menduduki Indonesia.
Untunglah pasukan Jepang segera menyerah kepada Sekutu sehingga Abdul Halim dapat segera pulang ke tanah air. Kapten Abdul Halim ikut bersama pasukan Inggris yang mendarat di Jakarta pada bulan September – Oktober 1945. Pasukan Inggris itu atas nama Sekutu bertugas melucuti tentara Jepang dan memulangkan ke negerinya. Begitu mendarat di Jakarta ia lebih dulu menelpon gadis, Kussadalina yang bekerja di Rumah Sakit Bersalin Budi Kemulyaan Tanah Abang, Jakarta.
Gadis berasal Madiun itu dikenalnya waktu ia bertugas dalam Angkatan Laut Hindia Belanda di Surabaya. Alangkah terkejutnya Kussadalina menjumpai Abdul Halim dalam keadaan hidup dan segar bugar. Kussadalina dan seluruh keluarga di Surabaya dan juga keluarga Abdul Halim di Sampang sudah bertahun-tahun menduga bahwa Abdul Halim sudah gugur di perairan Cilacap.
Dengan tabah dan penuh haru Kussadalina berkata lirih ”Saya mau menerimamu, asal jangan memakai seragam penerbang Angkatan Udara kerajaan Inggris. Pakaian seragam itu akan menyulitimu dan diriku. Sekarang Indonesia sudah merdeka. Semua yang bercorak kebelandaan tentu dimusuhi” Abdul Halim menjawab, ”Saya tidak mempunyai pakaian lain kecuali piyama untuk tidur. Apakah saya harus ganti dengan piyama”. Kussadalina menjawab, ”Piyama lebih baik dari pada seragam RAF (Royal Air Force, Angkatan Udara Kerajaan Inggris)”.
Keesokan harinya Abdul Halim dengan surat dari Perdana Menteri Syahrir pergi menengok keluarganya ke Kediri. Tetapi di Kediri ia ditahan oleh pasukan Republik Indonesia dan dimasukkan ke dalam penjara karena dicurigai sebagai tentara NICA (Belanda).
Sementara itu Residen Kediri, yaitu Pratalikrama adalah termasuk kakak Abdul Halim sendiri. Residen Kediri sesudah mendengar adiknya ditahan, segera memberi kabar ibu Abdul Halim, yaitu Ibu Wongsotaruno. Sang ibu pun lalu pergi ke Kediri tetapi alangkah kecewa hatinya, karena yang berwajib hanya mengizinkan Ibu Wongsotaruno selama sepuluh menit saja untuk menjenguk putranya yang sudah tiga setengah tahun tidak dijumpainya.
Di penjara itu Abdul Halim berbaur dengan tahanan lainnya. Ia pun menulis perjalanan hidupnya di tembok rumah tahanan Kediri, sehingga menarik perhatian para petugas penjara, siapakah gerangan sebenarnya orang yang ditahan ini.
Sesudah beberapa waktu dan sesudah jelas semuanya. Pemerintah segera membebaskan Abdul Halim. Ia lalu pulang ke Sumenep. Kepala Staf Angkatan Udara RI Suryadi Suryadarma segera memanggil Abdul Halim Perdanakusuma ke Yogyakarta untuk memperkuat Angkatan Udara RI yang baru saja didirikan. Tentara Keamanan Rakyat atau TKR Jawatan Penerbangan yang kemudian menjadi AURI dan TNI Angkatan Udara, mulai giat membangun dengan menggunakan pesawat terbang tua Jepang jenis Cureng dan Ciukyu. Dengan pesawat rongsokan itu pula Abdul Halim melatih pemuda-pemuda untuk menjadi penerbang Angkatan Udara RI. Pada tanggal 23 April 1946 jam 12.30 tiga buah pesawat AURI bermotor satu terbang di udara Jakarta dan mendarat di Kemayoran. Dalam penerbangan percobaan itu ikut serta Abdul Halim Perdanakusuma.
Selanjutnya Abdul Halim juga terbang ke arah timur dan mendarat di lapangan pegaraman di Sumenep, Madura. Ia juga memimpin penerbangan formasi ke Malang.
Waktu itu ia berpangkat Komodor yang selalu mendampingi Kepala Staf AURI Suryadarma dan sering pula berkonsultasi dengan Panglima Besar Jendral Sudirman. Komodor Halim Perdanakusuma juga melatih pasukan penerjun payung yang menggunakan pesawat Dakota.
Dengan gugurnya komodor Agustinus Adisutjipto di Maguwo yang menjabat Wakil Kepala Staf AURI, maka Komodar Halim Perdanakusuma diangkat sebagai penggantinya.
Dengan keberanian yang luar biasa, Komodor Halim Perdanakusuma memimpin operasi pemboman ke kota-kota Ambarawa, Salatiga dan Semarang yang waktu itu diduduki Belanda. Mereka membom kota-kota tersebut dengan pesawat-pesawat Cureng yang sebenarnya bukan pesawat pembom. Sungguh luar biasa. Bom-bom itu diikat pada bagian bawah sayap pesawat untuk kemudian dilepaskan dan jatuh ke tanah.
Baru saja dua bulan Komodor Halim Perdanakusuma menikah dengan Kussadalina, ia sudah diperintahkan berangkat ke Bukittinggi bersama Opsir I lswahyudi untuk membangun AUR1. Pekerjaan itu sungguh berat, karena mereka harus mampu menembus blokade Belanda untuk berhubungan dengan luar negeri gunamembeli perlengkapan, persenjataan dan obat-obatan. Sering pula ia menerbangkan para pejabat negara untuk berbagai tugas. Komodor Halim Perdanakusuma juga memimpin penerjun pasukan payung di daerah Kalimantan pada tanggal 17 Oktober 1947. Pada waktu isterinya mengandung empat bulan Komodor Halim Perdanakusuma ditugaskan untuk menerbangkan pesawat terbang Auro Anson RI-003 dari Muangthai ke Indonesia. Tugasnya itu dilakukan bersama Opsir lswahyudi melakukan penerbangan tersebut dari Muangthai menuju Singapura untuk mengambil obat-obatan. Di sekitar Tanjung Hantu, Malaysia, udara sangat buruk. Ketika pesawat akan melakukan pendaratan darurat, terjadi kecelakaan. Sayap pesawat melanggar pohon dan patah, kemudian meledak. Malapetaka itu tepatnya terjadi di Labuhan Bilik Besar, antara Tanjung Hantu dan Teluk Senangin di Pantai Lumut, Malaysia. Komodor Halim Perdanakusuma dan Opsir lswahyudi gugur dalam malapetaka itu.
Selama bertahun-tahun jenazah Laksamana Muda TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma dimakamkan di Tanjung Hantu, Malaysia. Kemudian kerangka jenazahnya dipindahkan ke Indonesia, ke makam Pahlawan Kalibata pada tanggal l0 November 1975.
Laksamana Muda Halim Perdanakusuma besar sekali jasanya dalam membina dan mengembangkan Angkatan Udara Republik Indonesia. Segala pikiran, kemampuan, serta pengalamannya, baik berupa teknik penerbangan, taktik perang udara, penguasaan navigasi pesawat terbang dan sebagainya telah dimanfaatkan dan disumbangkan untuk membina Angkatan Udara Republik Indonesia.
Atas jasa-jasanya bagi Negara dan Bangsa itu pemerintah RI dengan SK Presiden No. 063/TK/Th. 1975 tertanggal 9 Agustus 1975 menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Marsekal Muda TNI. Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur, Sumber:
http://pahlawancenter.com/pahlawancenterbaru/?p=1875

Permulaan Sejarah Jawa Dan Madura

Menurut ceritera purbakala (± tahun 78) datanglah Aji Saka dari Negeri Campa yang memperkenalkan kebudayaan Hindu kepulau Jawa dan Madura. Pada saat itu mulai diadakan perhitungan tahun Saka dan memperkenalkan huruf: anacaraka, data sawala, padajayanya, magabatanga.

artinya : dua orang pengikut Aji Saka, tersentuh dalam perkelahian, sama-sama menunjukkan kekuatan, mereka hancur lebur menjadi bangkai.

Dengan demikian setahap demi setahap kebudajaan Hindu mulai tersebar dan menurut ceritera sekaligus orang Jawa dan Madura diperkenalkan kepada agama baru ialah adanya kepercayaan terhadap : Brahma, Syiwa dan Wisynu.

Beberapa abad kemudian, diceriterakan, bahwa ada suatu negara yang disebut Mendangkamulan dan berkuasalah seorang Raja yang bernama Sanghyangtunggal. Waktu itu pulau Madura merupakan pulau yang terpecah belah, yang tampak ialah Gunung Geger didaerah Bangkalan dan Gunung Payudan didaerah Sumenep. Diceriterakan selanjutnya bah­wa Raja itu mempunyai anak gadis bernama Bendoro Gung. Pada sua­tu waktu anak itu hamil dan diketahui oleh ayahnya. Ayahnya beberapa kali menanyakan, tetapi anaknya tidak tahu pula, apa sebabnya ia hamil. Raja amat marah dan dipanggillah pepatihnya yang bernama Pranggulang untuk membunuh anaknya itu.

Selama Pepatih itu tidak dapat membuktikan bahwa anak itu sudah dibunuh, ia tidak boleh kembali kekerajaan. Patih Pranggulang menyanggupinya dan ia terus membawa anak Raja yang hamil itu kehutan. Pranggulang sesampainya dihutan ia terus menghunus pedangnya dan mengayunkan keleher gadis itu. Tetapi setelah ujung pedang hampir sampai mengenai leher Bendoro Gung itu, pedang tersebut jatuh ketanah. Demikianlah sampai berulang tiga kali. Pranggulang akhirnya meyakinkan dirinya bahwa hamilnya Bendoro Gung bukanlah hasil karena perbuatannya sendiri.

Karena itu ia tidak melanjutkan untuk membunuh anak raja itu, tetapi ia memilih lebih baik tidak kembali kekerajaan. Pada saat itu ia merobah nama dirinja dengan nama Kiyahi Poleng dan pakaiannya diganti pula dengan poleng (arti poleng, ialah kain tenun Madura), Ia lalu membuat rangkaian kayu- kayu (bahasa Madura ghitek) dan gadis yang hamil itu didudukkan diatasnya, serta ghitek itu dihanyutkan menuju kepulau „Madu-oro”. Inilah asal nama pulau Madura. Sebelum berangkat Kiyahi Poleng memesan kepada Bendoro Gung, djika ada keperluan apa- apa, supaya ia memukul-mukulkan kakinya diatas tanah/lantai dan pada saat itu Kiyahi Po­leng akan datang untuk membantunya.

Selanjutnja „ghitek” itu terus menuju “madu-oro“ dan terdamparlah digunung Geger. Si-Gadis hamil itu terus turun.

Lahirnya Raden Sagoro.

Pada suatu saat sigadis hamil itu merasa perutnya sakit dan segera ia memanggil Kiyahi Poleng. Tidak antara lama Kiyahi Poleng datang dan ia mengatakan bahwa Bendoro Gung akan melahirkan anak. Tak lama lagi lahirlah seorang anak laki- laki yang roman mukanya sangat bagus dan diberi, nama „Raden Sagoro” (sagoro = laut). Dengan demikian Ibu dan anaknya yang bernama Raden Sagoro adalah menjadi penduduk pertama dari pulau Madura.

Perahu- perahu yang banyak berlayar disekitar pulau Madura sering melihat adanya cahaya yang terang ditempat dimana Raden Sagoro berdiam, dan seringkali perahu- perahu itu berhenti berlabuh dan mengadakan selamatan di­tempat itu. Dengan demikian tempat tersebut makin lama makin men­jadi ramai karena sering kedatangan tamu tamu terutama yang niatnya dapat terkabul untuk maksud maksud kepentingan peribadinya. Selain dari pada itu pa­ra pengunjung memberikan hadiah – hadiah kepada lbu Raden Sagoro maupun kepada anak itu sendiri. Selandjutnja setelah Raden Sagoro mentjapai umur 3 tahun ia sering bermain ditepi lautan dan pada suatu saat datanglah 2 ekor ular naga yang sangat besar mendekati dia. Dengan ketakutan ia lari menjumpai ibunya dan menceriterakan segala sesuatu apa yang dihatnya. Ibunya merasa sangat takut pula karena itu ia memanggil Kiyahi Poleng. Setelah Kiyahi Poleng datang, Bendoro Gung menceriterakan apa yang telah dialami oleh anaknya. Kiyahi Poleng mengajak Raden Sagoro untuk pergi ketepi pantai.

Pada saat itu memang benar datanglah 2 ekor ular raksasa dan Kiyahi Poleng menyuruh Raden Sagoro supaya 2 ekor ular itu didekati dan selanjutnya supaya ditangkap dan dibanting ketanah. Setelah dikerjakan oleh Raden Sagoro maka 2 ekor ular raksasa tersebut berubah mendjadi 2 buah tombak. Tombak itu oleh Kiyahi Poleng diberi nama Si Nenggolo dan Si Aluqoro. Kiyahi Poleng mengatakan supaya si Aluqoro disimpan dirumah saja dan si Nenggolo supaya dibawa apabila pergi berperang. Setelah Raden Sagoro berumur 7 tahun berpindahlah tempat mereka dari Gunung Geger kedekat Nepa. Didesa Nepa itu memang penuh dengan pohon nepa dan letaknya sekarang ada di Ketapang ( Kabupaten Sampang) dipantai Utara jang sekarang banyak keranya.

Selanjutnja diceriterakan, Radja Sanghyangtunggal dinegara Mendangkamulan, kedatangan musuh dari negeri Cina. Didalam peperangan tersebut Mendangkamulan berkali-kali menderita kekalahan, sehingga rakyatnya hampir musnah terbunuh. Pada suatu malam ia bermimpi kedatangan seseorang jang sangat tua dan berkata bahwa di pulau Madu-oro (Madura) bertempat tinggal anak muda bernama Raden Sagoro. Raja dianjurkan untuk minta bantuan Raden Sagoro, jika didalam peperangan ingin menang.

Keesokan harinya Raja memerintahkan pepatihnya untuk datang ke Madu­ra, menjumpai Raden Sagoro guna minta bantuan. Sesampainya Patih tersebut di Madura, ia terus menjumpai Raden Sagoro mengemukakan kehendak rajanja. Ibu Raden Sagoro mendatangkan Kiyahi Poleng dan minta pendapatnya, apakah kehendak Raja dikabulkan atau tidak. Ternyata Kiyahi Poleng merestui agar Raden Sagoro berangkat kekerajaan Mendangkamulan untuk membantu Raja didalam peperangan. Raden Sagoro berangkat dengan membawa senjata si Nenggolo. Kijahi Poleng ikut serta, tetapi tidak tampak kepada orang. Sesampainya dikeradjaan Mendangkamulan terus berperanglah ia dengan tentara Cina. Begitu si Nenggolo diarahkan kepada sarang musuh, maka banyak tentara musuh tewas karena kena penjakit. Akhirnja raja Mendangkamulan atas bantuan Raden Sagoro menang didalam peperangan dengan tentara Cina dan setelah itu Raja mengadakan pesta besar karena dapat mengusir musuhnya. Raja bermaksud mengambil Raden Sagoro sebagai anak menantunya. Ditanyakanlah kepadanya, siapa sebenarnya orang tuanya. Raden Sa,goro minta idzin dahulu untuk pulang ingin menanyakan kepada Ibunya. Sesampainja di Madura ia menanyakan kepada Ibunya siapa gerangan ayahnya.

Ibunya kebingungan untuk menjawabnya. Pada saat itu pula Ibu dan anak nya lenyaplah dan rumahnya disebut keraton Nepa. Diceritakan selanjut­nya bahwa menurut kepercayaan orang, dua buah tombaknya (si Nenggolo dan si Aluquro) pada akhirnya, sampailah ketangan Pangeran Demang Palakaran, Raja Arosbaya. Karena itu sampai saat sekarang dua tombak tersebut menjadi pusaka Bangkalan.

Demikianlah diceriterakan adanya penduduk pertama dipulau Madura. Dari segi sejarah memang masih perlu dicek kebenarannya, tetapi ka­rena ceritera ini kuat beredar dan menjadi legenda (dongengan) dari generasi-kegenerasi, kami anggap perlu untuk dihidangkan kepada para penggemar sejarah. Ceritera-ceritera berikutnyapun masih juga mengandung ceriteraceritera yang ditulis dalam buku Babad jang masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut untuk dimasukkan didalam sejarah yang tujuannya mencari kebenaran dari obyeknya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm.1-4

Tari Sorong Kasereng, Kabupaten Sampang

Tari Sorong Kasereng, Ekspresi Syukur Anak Nelayan

Tari Sorong001Tari Sorong001MASYARAKAT Madura menyimpan banyak kesenian tradisional. Salah satunya adalah Tari Sorong Kasereng di Kabupaten Sampang. Tarian ini dimainkan anak nelayan saat air laut pasang ketika mereka membantu para orang tuanya menurunkan ikan hasil tangkapan dari perahu. Sebuah ekspresi kegembiraan atas rezeki dari laut yang diberikan oleh Tuhan.

Kini, Tari Sorong Kasereng tak hanya dimainkan oleh anak-anak nelayan saja, tapi seringkah pula ditampilkan dalam even yang dihadiri oleh pejabat. Seperti tari-tarian lain yang ada di Madura, Tari Sorong Kasereng juga diiringi dengan alunan musik khas Madura yang disebut Saronen.

Konon, Tari Sorong Kasereng yang dikombinasi dengan pakaian baju adat Madura dan sarung bermotif batik khas Sampang itu, bermula ketika anak nelayan di daerah pesisir, bermain dengan teman sebayanya di pantai. Sam­bil bermain, bergembira ria, mereka membantu orang tua­nya yang berprofesi sebagai nelayan menurunkan ikan hasil tangkapannya. Ya, dengan menggunakan wadah bakul yang difungsikan sebagai alat untuk menurunkan ikan dari perahu ke daratan, mereka terus bergerak menurunkan hasil tangkapan. Gerakan-gerakan anak-anak ini sungguh menjadi pesona sendiri. Maka, dari tradisi inilah, kemudian muncul tarian Sorong Kasereng yang diartikan sebagai ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil tangkapan ikan yang melimpah.

Kini untuk melengkapi keelokan daan kekhasan Madura, penari juga dihiasi aneka pernak-pernik pakaian seperti bunga yang dikenakan sanggul kepala, serta gelang di bagian kaki kiri, ditambah kombinasi pakaian khas bermotif batik Sampang. Banyak kalangan berharap batik-batik Sampang padu padan dengan tarian ini dengan menampilkan fragmentasi suasana anak-anak nelayan tersebut.

“Unsur dari sebuah kesenian itu banyak. Bila seni tari, unsurnya bu­kan hanya gerakan indah, tapi juga busana dan aksesoris lain. Karena itu, akan lebih hebat lagi bila kese­nian ini didukung seni batik untuk menyiapkan busananya, atau motif-motif lain untuk aksesorisnya,” kata Abdussomad, warga Sampang.

Dan tentu saja musik. Gerakan gemulai penari tak bisa lepas dari irama musik. Kedua tangan penari sesekali terlempar gemulai seiring alunan musik Saronen. Intan, salah seorang penari Sorong Kesereng, mengaku senang bisa “nguri-uri” budaya leluhur. Selain itu, kesenian bisa menghaluskan budi sebab ada olah rasa. Meski orang Madura dikenal memiliki karakter keras, tapi bisa diimbangi dengan berolah rasa. “Seneng saja mas selain saya bisa memahami budaya sendiri, Tari Sorong Kesereng ini pernah menjuarai kejuaraan tari tingkat regional Jawa Timur,” terang Intan (20), satu penari asal Kelurahan Gunung Sekar Kecamatan Kota Sampang, (sora)

Suara Desa, Edisi 05 15 Juni -15 Juli 2012, hlm.51

Kaldu Sumsum Super, Kabupaten Sampang

Kaldu sumsum super Sampang Makin Mantap Dinikmati Pakai Sedotan

MANTAP! Begitu kesan setiap orang usai menikmati kaldu sumsum super. Kaldu sumsum super berukuran jumbo hanya bisa dijumpai di Depot Al-Ghozali, Jl Diponegoro 34-A Sampang, Madura. Lokasinya kira-kira 5-10 menit dari alun-alun &tugu Sampang arah ke kota Pamekasan , persis berada di sebelah kanan jalan.

Kaldu Susum Sumenep001HEBATNYA, kaldu sumsum ini dihidangkan bersama tempurung tulang sapi. Ketika kaldu dengan tulang sapi yang sangat besar ter­hidang, terlihat di dalam tulangnya terdapat sumsum yang gurih dan nikmat. Semakin mantap lagi kalau kaldu sumsum ini dinikmati meng­gunakan sedotan, layaknya menyedot minuman dari kemasan botol. Sebab, sumsum yang lezat dan enak adanya di dalam tulang lutut/dengkul sapi.

Sruuupppl Satu porsi kaldu sum­sum super dijual Rp 30.000 + nasi. Nah, kalau dibawa pulang walau jarak cukup jauh jauh tak masalah, agar awet kaldu sumsum diberi wadah khusus yaitu toples krupuk plastik. Pengelola Depot Kaldu Sumsum Al-Ghozali Sampang, Hajah Nur Hasanah, adalah keturunan ketiga, anak dari Abah Ghozali. Sementara ini Abah Ghozali hanya mengawasi saja.

Pelanggannya pun tak hanya pejabat dari Sampang saja, tapi hampir seluruh Jawa Timur pernah menikmat­inya. Lebih-lebih kantor besar atau perbankan di Sampang bila punya gawe selalu memesan hidangan dari Depot Al-Ghozali. Bahkan, ketika rom­bongan direksi Bank BPR Jatim usai acara di Sumenep, balik ke Surabaya juga ramai-ramai menyempatkan menikmati kaldu sumsum super ini.

Kaldu Susum Sumenep003“Dulu ketika Pak Harmoko masih menjadi Menteri Penerangan kalau ke Madura pasti mampir ke Depot Al-Ghozali. Bahkan pelawak Ko- mar yang sekarang menjadi anggota DPR juga sering mampir ke Depot Al-Ghozali setiap ada kunjungan ke Madura,” kata Nur Hasanah.

Rata-rata satu hari ia membuat 100 porsi kaldu sumsum. Dengkul- dengkul sapi sebagai bahan mentah untuk kaldu sumsum, diperoleh dari pedagang langganannya di pasar. Untuk membuat 100 porsi kaldu sumsum, rata-rata butuh 30 deng­kul sapi per hari dan pasti habis.

Depol Al-Ghozali ini buka mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 20.00 WIB. Dari pengalamannya selama ini, ramai-ramainya orang-orang makan justu sekitar pukul 12.00 WIB, saat orang makan siang. “Khusus bulan puasa siang tutup, dan buka jam empat sore saat menjelang buka puasa.

Dulu, saat sahur depot kami buka untuk melayani mereka yang tidak sempat masak malam. Tapi, sekarang tidak buka jelang sahur, karena punya anak kecil-kecil,” tutur Nur Hasanah. Agar memperoleh kaldu sumsum dan daging empuk yang menempel di tulang sapi, menurut Nur Hasanah, perlu direbus rata-rata selama enam jam. Tapi, untuk jenis sapi jantan muda merebusnya tidak sampai enam jam hanya butuh empat jam saja.

Proses perebusan dimulai dari dengkul sapi dicuci bersih dulu. Be-gitu kaldu sumsum setengah matang, baru ditaburi bumbu yang sudah ditumis yang bahannya dari bawang putih, bawang merah, jahe, merica dan sedikit pala. Pokoknya persis dengan bumbu sop, kemudian diberi daun prei dan daun bawang. Memasukkan bumbu dalam kaldu sumsum setengah matang supaya gurih dan tidak tenggelam dalam kuah.

Kaldu Susum Sumenep002Merebus kaldu sumsum super sela-ma enam jam, menurut Nur Hasanah, masih menggunakan minyak tanah. Sebab, setiap satu panci besar yang membutuhkan waktu enam jam agar terasa empuk, maka kalau menggu-nakan elpiji tak bisa mengatasi. Sebab, kekuatan kompor gas elpiji hanya em­pat jam dan setelah digunakan harus istirahat. Tapi, bila memakai minyak tanah yang digunakan terus menerus selama enam jam tidak ada masalah.

Di tengah sulitnya mencari mi­nyak tanah, Nur Hasanah malah mengaku tidak kesulitan untuk memperolehnya, karena sudah berlangganan pada agen minyak tanah yang selalu ada persediaan. Beruntung, tim Sarekda diper­kenankan melihat proses memasak kaldu sumsum.

Beberapa potong dengkul sapi yang sudah dibersihkan mulai direbus. Nur Hasanah dibantu para karyawannya tak henti-henti membuang gelembung-gelembung yang disebut sebagai lemak yang mengambang di permukaan air. “Gelembung-gelembung lemak ini harus dibuang supaya tidak menimbulkan kolestrol. Untuk penawar kolestrol, minumnya harus pakai jeruk nipis. Sebab larutan jeruk bisa menetralkan kolestrol,” saran Nur Hasanah.Bdjup/ton/ryan

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SAREKDA Jawa Timur, edisi: 014, 2012, hlm. 40-41

 

Sumber Omben, Kabupaten Sampang

Apabila orang melewati sekitar sumber Omben, maka akan terdengar , seolah-olah  di dalam tanah ada gua yang besar. Air dari sumber Omben yang tidak terus mengalir keluar desa Omben itu kira-kira jatuh ke dalam gua di dalam tanah itu. Lambat laut itu lobang ke dalam tanah dikiranya di dalam tanah itu.Dari sebab itu sampai sekarang, air dari sumber omben itu dapat dipergunakan orang sehingga keluar desa Omben dan menjadi sumber saluran air (Waterleiding) diseluruh Kabupaten-kabupaten Sampang dan Pamekasan.

Pada mula- mulanya itu air dapat dipergunakan di hiar desa Omben semula adalah beriwayat sebagai berikut Sebelum tahun 1920 telah sering oleh pemerintah pada itu waktu dicobanya sumber itu dicapteer dengan memakai semen, dikerjakan oleh beberapa Insinyur sehingga dua belas kali di dalam jaman beberapa tahun, akan tetapi tidak berhasil.

Menurut kepercayaan orang, disebabkan oleh sumpah dari Kudho Panule. Di dalam tahun 1921 ada seorang Camat yang mencoba mengalirkan air sumber itu keluar desa Omben dengan sebelumnya mengadakan selamatan desa dan memotong seekor kerbau betina yang berbulu putih (Kebo bule), sebab Kudho Panule pada waktu ia menjadi bayi, hidup dengan menetek kepada kerbau betina yang berkulit putih (Kebo bule).

Maka dengan bantuan rakyat desa Omben dan disambung dengan saluran air dari sumber Napo (didekat Sampang) dialirkan ke kota Sampang dan dijalankan pula ke sebelah timur sampai di batas Kabupaten Pamekasan. Maka untuk ketigabelas kalinya sesudah tahun 1921 oleh pemerintah, dicobanya pula dicapteer dengan semen. Maka dapatlah itu capteering dijalankan, sehingga pada permulaan tahun 1926 jadilah saluran air (waterleiding) yang meliputi seluruh Kabupaten Sampang dan Pamekasan sehingga pada ini waktu. Saluran-saluran yang dipakai untuk meletakkan pipa-pipa dari saluran air itu ialah saluran-saluran yang dibikinya dengan bantuan rakyat oleh Camat yang tersebut di atas.

Kembali pula diceritakan Kudho Panule. Setelah ia berhenti di Omben, maka terus ia dengan isterinya berjalan menuju ke Sumenep kepada ibunya yaitu Dewi Saini yang disebut orang “Puteri Kuning” yang pada itu waktu telah ada berkumpul di rumah ayahnya yang bernama Wagung Rukyat alias Pangeran Setyodiningrat II memerintah di Sumenep-Selatan dan Sumenep Utara. Sebelum itu daerah Sumenep-Utara ada di bawah perintah dari pangeran Bukabu yaitu mertua dari pangeran Setyodiningrat II, sedang daerah Sumenep-Selatan ada di bawah perintah Pangeran Setyodiningrat 1, ayah dari Pangeran Setyodingrat II.

Suatu riwayat menceritakan pula, bahwa sumber di sebelah timur kota Sampang yang mengandung zat belirang yang disebut orang sumber banyu banger dan pula suatu sumber yang terletak di desa Keduara-timur Kecamatan Prenduan atau Pragaan yaitu yang disebut orang sumber Sendang, adalah dibikin oleh Kudho Panule di dalam perjalanannya menuju ke Sumenep.

Diceritakan, bahwa pada ketika Kudho Panule sampai di Sumenep kebetulan ia punya embah (papa besar) yaitu pangeran Setyodiningrat I sedang menghadap kepada raja Majapahit (yaitu ayah mertua dari Kudho Panule). Yang menemui ia ada di keraton Sumenep ialah pepalih Sumenep yang bernama Joyosingo dan ia punya ibu sendiri yaitu Puteri Kuning.

Dari ia punya ibu ia dapat mendengar ia punya riwayat mulai dari bermula hingga akhirnya. Juga ia dapat tahu bahwa tempat pertapaan dari ibunya yaitu suatu gua ada di gunung Geger (Kecamatan Geger, Kabupaten Bangkalan), dan pula ia dapat tahu bahwa pada itu waktu ia punya ayah yaitu Adipoday (Panembahan Sapudi yang sampai sekarang kuburannya ada di desa Nyamplong, Kecamatan dan Kawedanan Sapudi), sedang bertapa di gunung Geger. Kudho Panule menceritakan juga pada ibunya tentang ia punya perjalanan mulai dari bermula sampai pada akhirnya dan diberitakan pula, bahwa ia punya saudara muda yaitu Joko Wedi telah menjadi raja Gersik menggantikan ayah mertuanya.

Kemudian pepatih Joyosingo bertolak ke Majapahit untuk menyusul pulang ke Sumenep, Pangeran Setyodiningrat yang lalu segera minta diri kepada raja Majapahit dan kemudian menjumpai cucunya ada di Sumenep. Setelah itu maka Kudho Panule minta diri kepada ibunya dan embahnya untuk bertolak ke gunung Geger perlu menghadap ayahnya yang sedang bertapa di sana.

Sampai di gunung Geger ia berjumpa dengan ayahnya (Adipoday). Dari ia punya ayah ia menerima Si Mega Remeng yaitu hadiah pusaka dari pamannya yang bernama Adirasa dan sebilah cemeti (pecut) dari ayahnya sendiri (Adipoday), akan tetapi belum diperbolehkan dibawanya, hanya diberitahukan bagaimana caranya apabila ia memanggil itu kuda dan meminta itu cemeti (pecut). Diceritakan, bahwa itu kuda ada memakai sayap, sehingga dapat lari di atas tanah pun pula terbang sebagai seekor burung.

Maka rupa-rupa pelajaran ilmu-ilmu yang digemari orang pada itu jaman, ia dapat menerima dari ayahnya, pun juga ia mendapat tahu dari ayahnya yang nanti dikemudian liari ia akan berperang dengan seorang prajurit yang ulung yang bernama Dempo Awang (sebetulnya : Sampo Awang) seorang panglima perang dari yang akan menunjukkan kekuatannya kepada semua raja-raja di tanah Jawa, Madura dan sekitarnya, la (Dempo Awang) di dalam peperangannya mengendarai suatu kapal (perahu besar) yang tidak hanya dapat berlayar di lautan, akan tetapi juga di daratan dan diantaranya bumi dan langit.

Ia dipesan oleh ayahnya, nanti di kemudian hari apabila ia berhadapan perang dengan Dempo Awang, supaya ia lari dengan mengendarai kudanya diantara bumi dan langit yang mana ia tentu dikejar oleh musuhnya. Apabila ia mendengar suara pamannya (Adirasa) yang tentu akan terdengar bersuara : “Pukul !!!” maka ia harus menahan kekang kudanya sehingga kepala itu kuda menoleh ke belakang dan ia harus juga menoleh ke belakang sambil memukul dengan cemetinya ke belakang. Pada itu saat, cemeti akan mengenai kapalnya Dempo Awang yang pasti akan hancur dan jatuh ke tanah sehingga semua isi itu kapal menemui ajalnya.

Diceritakan, bahwa Kudho Panule meminta pada ayahnya supaya pulang ke Sumenep bersama-sama dengan dia, akan tetapi ayahnya menolaknya dan berjanji, bahwa diliari kemudian sudah tentu beliau akan pulang. Dengan demikian maka Kudho Panule pulang kembali ke Sumenep dengan sendirian. Sesampainya di Sumenep, ia ceritakan kepada ibunya tentang hal-ihwalnya pada ketika ia menjumpai ayahnya di gunung Geger yang mana amat menjadi suka hati ibunya.

Diceritakan, bahwa Pangeran Setyodiningrat 1J telah tinggi usianya. Maka ia berhenti memegang kerajaan Sumenep Utara dan Sumenep selatan dan memasrahkan pemerintahannya kepada cucunya yaitu Kudho Panule dengan seijin raja Majapahit dan mendapat gelaran nama Pangeran Setyodiningrat ke III.

Pada itu waktu Kudho Panule (Pangeran Setyodiningrat III) telah mendapat dua orang putera yaitu seorang laki-laki bernama Raden Ario Begonondo dan seorang perempuan yang kemudian menjadi isteri dari sunan Padusan.

Pada ketika nobatnya Kudho Panule menjadi raja di Sumenep, maka saudaranya yang ada di Gersik pun pulang ke Sumenep dengan membawa dua orang puteranya. Pada waktu Banyak Wide pulang kembali ke. Gersik, dua orang puteranya tadi seorang laki-laki dan seorang perempuan, ditinggalkan di Sumenep dipasrahkan kepada ibunya (Puteri Kuning).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Sejarah Permulaan Jadinya Pulau Madura 4 Maret 1951 hlm. 17-19

Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD. SH. SU, Sampang Madura

mahfud_md_

13 Mei 1957, Prof. Dr. Mohammad Mahfud M.D., S.H., S.U. lahir di Omben, Sampang Madura, Jawa Timur, Indonesia. Anak keempat dari tujuh bersaudara, Tiga kakaknya antara lain Dhaifah, Maihasanah dan Zahratun. Sementara ketiga adiknya bernama Siti Hunainah, Achmad Subkhi dan Siti Marwiyah. dari pasangan Mahmodin dan Suti Khadidjah.

Mahmodin,berasal dari Desa Plakpak, Kecamatan Pangantenan, adalah pegawai rendahan di kantor Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang. Mahmodin lebih dikenal dengan panggilan Pak Emmo (suku kata kedua dari Mah-mo-din, yang ditambahi awalan em).

Dalam bislit pengangkatannya sebagai pegawai negeri, Emmo diberi nama lengkap oleh pemerintah menjadi Emmo Prawiro Truno. Mahmodin kerap berpindah-pindah tugas. Setelah dari Omben, ketika Mahfud berusia dua bulan, Mahmodin berpindah lagi ke daerah asalnya yaitu Pamekasan dan ditempatkan di Kecamatan Waru. Di sanalah Cak Mahfud menghabiskan masa kecilnya dan memulai pendidikan sampai usia 12 tahun,  lulus SD.

Madrasah Ibtidaiyah di Pondok Pesantren al Mardhiyyah, Waru, Pamekasan, Madura

SD Negeri Waru, Pamekasan, Madura

Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri Pamekasan, Madura

Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN) Yogyakarta

Sarjana Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Sarjana Sastra Arab, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Magister Ilmu Politik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

Doktor Ilmu Hukum Tata Negara, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Profesor Hukum Tata Negara, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

Tahun 1978, Cak Mahfud  bertemu Yatie gadis teman kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Saat keduanya sama-sama aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Tahun 1979, Cak Mahfud dengan Zaizatun Nihayati, Hubungan keduanyasecara resmi bertunangan.

2 Oktober 1982, Cak Mahfud menikah di Semboro, Tanggul, Jember, dengan kelahiran Jember, 18 November 1959 anak kedua dari delapan bersaudara pasangan Sya’roni dan Shofiyah. Zaizatun Nihayati, SH. (Yatie) saat itu bekerja sebagai guru SMA. Tetapi ketika Mahfud MD diangkat menjadi Menteri dan harus berpindah ke Jakarta maka pekerjaannya sebagai guru ditinggalkan.  Dari pernikahan itu, Mahfud dan Yatie dikaruniai tiga orang anak yaitu :

  1. Mohammad Ikhwan Zein, laki-laki kelahiran 15 Maret 1984, Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada
  2. Vina Amalia, perempuan kelahiran 15 Juli 1989
  3. Royhan Akbar, laki-laki kelahiran 7 Februari 1991

Tahun 1984, Mahfud MD memulai karier sebagai dosen di almamaternya, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, dengan status sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Tahun 1986-1988, Cak Mahfud dipercaya memangku jabatan Sekretaris Jurusan Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia UII,

Tahun 1988 – 1990, Cak Mahfud dilantik menjadi Pembantu Dekan II Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia UII.

Tahun 1991 – 1993, Cak Mahfud sebagai Direktur Karyasiswa Universitas Islam Indonesia UII dijalani.

Tahun 1993, Cak Mahfud telah meraihnya gelar Doktor dari Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Cak Mahfud sebagai dosen tetap Fakultas Hukum UII pertama yang meraih derajat Doktor. Dia meloncat mendahului bekas dosen dan senior-seniornya di UII, bahkan tidak sedikit dari bekas dosen dan senior-seniornya yang kemudian menjadi mahasiswa atau dibimbingnya dalam menempuh pendidikan pascasarjana.

Tahun 1994, Universitas Islam Indonesia UII memilihnya Cak Mahfud sebagai Pembantu Rektor I untuk masa jabatan 1994-1998.

Tahun 1996-2000, Cak Mahfud sebagai Direktur Pascasarjana Universitas Islam Indonesia UII

Tahun 1997-1999, Cak Mahfud sebagai Anggota Panelis Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.

Tahun 1998-1999,  Cak Mahfud menjabat sebagai Asesor pada Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.

Tahun 1999-2000,  Cak Mahfud didaulat menjadi Pelaksana Tugas Staf Ahli Menteri Negara Urusan HAM (Eselon I B). Berikutnya

Tahun 2000, dalam usia masih relatif muda yakni 40 tahun. Cak Mahfud dikukuhkan sebagai Guru Besar atau Profesor bidang Politik Hukum.

Tahun 2000, Cak Mahfud diangkat pada jabatan Eselon I A sebagai Deputi Menteri Negara Urusan HAM, yang membidangi produk legislasi urusan HAM. Kariernya terus menanjak

26 Agustus 2000 – 9 Agustus 2001, Cak Mahfud dikukuhkan sebagai Menteri Pertahanan ke-22 pada  Kabinet Persatuan Nasional di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Sebelumnya, Mahfud ditawari jabatan Jaksa Agung oleh Presiden Abdurrahman Wahid tetapi menolak karena merasa tidak memiliki kemampuan teknis.

20 Juli 2000, Selain Menteri Pertahanan Cak Mahfud merangkap sebagai Menteri Kehakiman dan HAM ke-24. Mahfud tidak pernah efektif menjadi Menteri Kehakiman karena Senin, 23 Juli, Gus Dur lengser. Sejak itu Mahfud menjabat Menteri Kehakiman dan HAM demisioner.
Mahfud MD terpilih menggantikan hakim Konstitusi Achmad Roestandi yang memasuki masa purna tugas.

Tahun 2002-2005,  Cak Mahfud menjabat Wakil Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP Partai Kebangkitan Bangsa.

Tahun 2003-2006, Cak Mahfud menjabat Rektor Universitas Islam Kadiri

Tahun 2004-2008, Cak Mahfud menjadi Anggota DPR RI (Fraksi PKB),, duduk di Komisi III dan Wakil Ketua Badan Legislatif.

Tahun 2006-2007, Anggota DPR-RI, duduk di Komisi I.

Tahun 2007-2008, Anggota DPR-RI, duduk di Komisi III. Wakil Ketua Badan Legislatif DPR-RI.

Anggota Tim Konsultan Ahli pada Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) Depkum HAM RI (sekarang)

1 April 2008, Cak Mahfud sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia sekaligus Hakim Konstitusi, periode 2008-2013.

Selasa 19 Agustus 2008, Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD, SH, SU, terpilih menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia ke-2 (MK) periode 2008-2011.

Tahun 2010-Sekarang, Cak Mahfud menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia.

=S1Wh0T0=

H. Raden Panji Mohammad Noer, Kabupaten Sampang

mohammad_noer

13 Januari 1918, H. Raden Panji Mohammad Noer lahir di Kampung Beler, Desa Rong Tengah, pinggiran kota Sampang, Jawa Timur. Indonesia. putra ketujuh dari 12 anak pasangan Raden Aria Condropratikto dan Raden Ayu Siti Nursiah, dua-duanya keturunan bangsawan Madura.

Tahun 1932, Cak Noer menamatkan Pendidikan HLS lulus.
Tahun 1936, Cak Noer menyelesaikan pendidikannya MULO.
Tahun 1939, Cak Noer menyelesaikan pendidikannya di MOSVLA di Magelang.
Juli 1939 -Agustus 1949, M. Noer memulai karir sebagai pangreh prajanya, magang di Kantor Kabupaten Sumenep.

Tahun 1941, H Raden Panji Mohammad Noer menikahi Mas Ayu Siti Rachma,. Mereka dikaruniai 8 anak, empat putri dan empat putra, 21 cucu, dan 6 cicit.

Agustus 1949-Maret 1950, Cak Noer sebagai Kapten TNI

Tahun 1950, H Raden Panji Mohammad Noer sebagai Patih (Wakil Bupati) Bangkalan, M. Noer mencetuskan gagasan pembangunan Jembatan Surabaya-Madura. Latar belakangnya, ketika menjabat Patih (Wakil Bupati) Bangkalan tahun 1950, ada kerja sama antara Bupati Bangkalan dan Walikota Surabaya. H Raden Panji Mohammad Noer menjadi sekretaris. Kemudian setelah menjabat gubernur, M. Noer jadi ketua.

Desember 1967-Januari 1971, H Raden Panji Mohammad Noer, seorang pamong abdi rakyat. menjabat Gubemur Kdh Tingkat I Jawa Timur.

Tahun 1970-an, Cak Noer menjadi Komisaris PT Super Mitory Utama (Sidoarjo); Komisaris PT Unilever Indonesia (Surabaya); Komisaris perusahaan properti PT Mas Murni Indonesia serta Komisaris Bank Tiara

23 Januari 1971,  – Januari 1976, H Raden Panji Mohammad Noer menjabat Gubemur Kdh Tingkat I Jawa Timur, untuk kedua kalinya. Ketika jadi gubernur, M. Noer mengubah pelabuhannya, tidak di Ujung, tetapi di Perak agar bisa terbuka 24 jam. Monopoli PJKA-pun dihapus, terbuka untuk semua pengusaha angkutan. Tetapi hal itu belum memuaskan. Karena itu ia punya ide membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Surabaya dengan Madura.

Tahun 1973 -1978, Cak Noer menjadi Anggota MPR RI

Oktober 1976-Oktober 1980, Cak Noer sebagai Duta Besar R.I untuk Perancis

Agustus 1981-1983, Cak Noer menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA)

Tahun 1983-11 Maret 1988, Cak Noer menjadi Anggota DPA Periode II

Tahun 1987, Cak Noer menjadi Anggota MPR RI

Tahun 1989-1997, M Cak Noer menjadi Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN).

Tahun 1989-2010, Cak Noer  menjadi Ketua Dewan Penyantun seluruh Univ Negeri di Surabaya dan beberapa Univ Swasta di Surabaya, Jember dan Madura.

Tahun 1980-2010, Cak Noer  menjadi Ketua Yayasan Jantung Cab. Utama Jawa Timur. Alamat Kantor: Yayasan Jantung Indonesia Cab. Utama Jatim.

Tahun 1984-2010, Cak Noer  menjadi Ketua Yayasan Asma Wilayah Jawa Timur.

Tahun 1985-2010, Cak Noer  menjadi Ketua Yayasan Aji Dharma Bhakti (bergerak di bidang Sosial Pendidikan) Pemberian beasiswa.

Tahun 1989, Cak Noer  menjadi Ketua Dewan Penyantun seluruh Univ Negeri di Surabaya dan beberapa Univ Swasta di Surabaya, Jember dan Madura.

Tahun 1990-an, Terakhir Cak Noer sebagai Direktur Utama PT Dhipa Madura Pradana; Komisaris SCTV (Surya Citra Televisi) dan advisor perusahaan makanan Ajinomoto.

13 Nopember 1993, bersama  S.K. Rektor Universitas Airlangga No.3748/PT03.H/P/1993, H Raden Panji Mohammad Noer mendapat Piagam Penghargaan Rektor Univ. Airlangga “WIIDYA AIRLANGGA KENCANA” Atas Jasa Prestasinya ikut memajukan dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Kemasyarakatan dan Kebudayaan.

Agustus  2005-2010, Syaykh Panji Gumilang mengangkat H Raden Panji Mohammad Noer sebagai anggota Dewan Kurator Universitas Al-Zaytun. Selain itu  juga menjadi anggota Dewan Kurator pelbagai perguruan tinggi di Surabaya, seperti Airlangga, ITS, Muhammadiyah, Bayangkara dan UBN. Padahal pendidikannya hanya setingkat SMA.

Sabtu 17 September 2005, di Surabaya H Raden Panji Mohammad Noer di dalam sebuah pidato menyambut rombongan Al-Zaytun pimpinan Syaykh AS Panji Gumilang, ia berkata “Negara ini kaya dan besar, Di tanahnya, lautnya, semuanya ada. Tetapi, kenapa rakyatnya miskin? “Inilah yang betul-betul tidak kita pahami”.

21 September 2009 Cak Noer dirawat di RS Darmo, Surabaya. Menurut puteranya Prof dr Sjaifuddin Noer, selama dirawat kondisi kesehatannya turun-naik dan dalam empat hari kondisinya memburuk.
Jumat 16 April 2010, pukul 08.50 Wib. Yang Maha Kuasa memanggilnya pulang (wafat) Cak Noer dalam usia 92 tahun di Surabaya.
Sabtu, 17 April 2010, setelah dishalatkan di Masjid Al Falah Surabaya, Masjid Agung Bangkalan, dan Masjid Agung Sampang, sesuai wasiatnya. Jenazah disemayamkan di rumah duka Jalan Anwari 11, Surabaya dan dikebumikan di pemakaman keluarga di Desa Somor Kompah, Kabupaten Sampang, Jawa Timur.

Tanda Penghargaan yang diperoleh Cak Noer diantaranya : 1. Bintang Gerilya; 2. Satya Lencana Perang Kemerdekaan I; 3. Satya Lencana Perang Kemerdekaan II; 4. Satya Lencana Penegak; 5. Tanda Kehormatan Bhayangkara; 6. Bintang Yalasena; 7. Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama III; 8. Dari Pemerintah Perancis : Odre National Du Merite (Grand Officer); 9. Tanda Penghargaan Lencana “MELATI” dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka; 10. Satya Lencana Kebaktian Sosial; 11. Manggala Karya Kencana dari BKKBN; 12. Tanda Penghargaan dari Menteri Pemuda & Olah Raga; 13. Tanda Penghargaan dari Menteri Keuangan “Pembayar Pajak Penghasilan Perorangan” dan 14. Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia.=S1Wh0T0=

Pembuatan Alat-alat Dapur, Kabupaten Sampang

Dari Karyawan Menjadi Juragan.

Jiwa pengusaha tidak kenal tempat dan waktu. Semangat berusaha tanpa putus asa harus dinomorsatukan agar meraih sukses seperti yang dilakoni Musakkar warga Desa Pecanggaan, Kec. Torjun, Sampang pemilik UD Gajah Tunggal Jaya produses peralat-an dapur. Usaha pembuatan alat-alat dapur seperti dandang, langseng dan open yang dikerjakan Musakkar dengan dibantu dua karyawannya berkembang cepat. Awalnya hanya memproduksi sekitar 30 dandang/hari dan cara penjualannya pun sangat manual dengan cara menawarkan door to door ke rumah.

Modalnya  saat awal meirintis usaha pada tahun 2000-an hanya sebesar Rp 50 juta dan dibantu 2 orang kayawan. Tetapi berkat keuletan dan semangat kerjanya yang tinggi, mantan karyawan home industry  ini berhasil meningatkan produksinya sebanyak 4000 unit setiap bulan.

Hal itu menunjukkan, kualitas produknya tergolong bagus disukai konsumen, sehingga meningkatkan jumlah permintaan. Selain itu, saat ini, pihaknya juga berhasil memperluas jaringan pemasarannya. Kawasan Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep) sudah dipenuhi produk bermerk Gajah Tunggal Jaya begitu pula dengan Surabaya dan kota besar lainnya di Jatim. “Alhamdulillah jum­lah permintaan terus bertambah,” ujar Musakkar.

Dia bercerita, meski hanya meng­enyam pendidikan setingkat SMA, dirinya optimistis bisa menjadi besar berkat semangat kerja tinggi pantang putus asa. Teknik pembuatan dandang, open dan lainnya dipelajari secara otodidak, begitu pula cara penjualannya harus dilakukan sen­diri, setiap ada pesanan langsung barang diantarkan sendiri ke alamat rumah sehingga semua konsumen merasa mendapat pelayanan yang bagus. “Kita harus jemput bola, ak­tif menawarkan ke pembeli agar tahu secara langsung apa yang dikehendaki konsumen, “tuturnya

Dari disain dandang yang dibuatnya memiliki ukuran bervariasi mulai ukuran 1/5 kg, 1 kg, 2 kg hingga yang paling besar 30 kg. Setelah di­teliti dari hasil penjualan ternyata dandang berukran 10 Kg ke bawah yang paling diminati. Ini berarti, se­tiap memproduksi barang harus meng­utamakan ukuran yang laris dijual sementara lainnya tetap diproduksi dalam jumlah terbatas.

Angka produksinya semakin me­ningkat memaksa dirinya menambah karyawan menjadi 45 orang. Selu­ruh pekerjanya berasal dari Desa Pecanggaan, sehingga kehadiran usaha home industry ini turut membantu menurunkan angka pengangguran dan juga dapat meningkatkan kese­jahteraan warga desa.

Dijelaskan, sebagai orang desa, para pekerja itu harus diberi teori singkat cara pembuatan barang-ba­rang kebutuhan dapur ini dan se­lanjutnya langsung dipraktikkan. Berkat ketrampilannya, setiap kar­yawan bisa mengerjakan lebih cepat, lebih bagus dan tentunya peng­hasilannya lebih besar.

Sistem penggajiannya dihitung berdasarkan borongan yang dihi­tung dari jumlah lembar plat alu­minium yang digarap. Artinya se­makin banyak plat aluminium yang digarap maka semakin besar pen­dapatannya. Dengan demikian, da­lam perhitungannya, pendapatan karyawannya setiap minggu bisa mencapai Rp 800 ribu/bulan.

“Jika dikalikan selama 4 minggu, setiap karyawan bisa membawah pulang sekitar Rp 3,2 juta,” ujar Musakkar. Itu juga diikuti dengan bahan baku aluminium yang harus bertambah. Setiap bulannya, dibutuhkan sekitar 3 ton aluminum yang dibeli di Surabaya, agar semua permintaan pelanggan bisa terpenuhi, apalagi jika musim panen tembakau dan Bulan Maulud jumlah produksinya meningkat berkali lipat.

Menurut Musakkar, sisa alumu­nium yang tidak terpakai disimpan karena memiliki nilai tinggi yaitu sebesar Rp 20 ribu/Kg. Dalam satu bulan, pemilik tiga stand di Pasar Sampang ini dapat menjual 150 sampai 200 Kg sisa alumunium. “Semua sisa plat aluminium ini tidak ada yang terbuang sia-sia, karena dapat mendatangkan rupiah untuk menambah modal,” katanya. Apalagi saat ini, pihaknya selalu berharap agar pemerintah aktif mem­bina kelompok usaha kecil ini dengan mengadakan pelatihan, membuka peluang pasar. “Tetapi yang lebih penting perlu ada kucuran dana,” harapnya, (nf, ratu ibu)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  SUARA DESA, Edisi 07, 15 Agustus -15 September 2012, hlm. 51

Hutan Nepa Dihuni Kera Nyentrik

Hutan Nepa, dihuni ratusan monyet nyentrik. Jika didatangi untuk diburu ratusan kera itu menghilang, tetapi jika didatangi sebagai sahabat kera-kera itu seperti hewan piaraan yang sudah lama berteman. Lebih dari itu, jika dikasih makanan khasnya, jagung tua mentah, maka kera-kera itu menjadi ramah, bersuka cita mengajak bercanda.

Lebih nyentrik lagi, kera Nepa ini terbagi dalam dua kelom­pok yang hidup di wilayah utara dan selatan. Kedua wilayah itu hanya dibatasi kayu dan jalan yang tidak terlalu lebar. Namun demikian antara dua kelompok itu tidak pernah memasuki wilayah kelompok lain.

“Mereka itu tidak mau menggang­gu kelompok lain, kalau sudah jalan mendekati kawasan kelompok kera la­innya, maka mereka segera menjauhi dan tidak perlu diperintah pergi, ke­cuali kalau sakit atau minta bantuan,” kata Raina penduduk sekitar desa.

Hutan Nepa memiliki luas sekitar 10 ribu meter persegi. Kawasan hutan yang masih ditumbuhi pohon-pohon lebat ini dikelilingi sungai air tawar yang bermuara ke laut. Di sepanjang sungai ditumbuhi mangrove yang masih asri dan indah dan pengunjung dapat berkeliling menikmati keasrian hutan dengan menggunakan perahu milik penduduk.

Objek wisata Hutan Kera Nepa ter­letak di Desa Nepa pesisir utara pulau madura dan berjarak ± 50 km dari pusat Kota Sampang. Hutan wisata ini memiliki keunikan yang khas, se­lain keranya, pemandangan alamnya yang masih perawan dan segar.

Perpaduan sungai air tawar yang berdampingan dengan laut sungguh sebuah panorama yang sangat ekso­tik. Letak hutan Kera Nepa memang agak terpencil dan agak sedikit sulit untuk dilalui, tapi semua letih akan terbayar dengan berbagai keunikan dan pengalaman menarik yang bisa dinikmati di setiap sudut hutan.

Tempat ini hampir mirip dengan Wisata Hutan Monyet Sangeh di Bali, hanya saja Hutan Kera Nepa dekat dengan laut. Banyak keindahan yang bisa dinikmati selain, hutannya, keranya juga lautnya dengan mangrovenya yang masih dibiarkan liar.

Pengunjung di wisata hutan Nepa ini, tidak seramai obyek wisata di Ja­wa misalnya. Hal ini karena promosi yang kurang, selain sarana dan pra­sarana seperti jalan dan transportasi umum yang masih sulit mengantar­kan pengunjung sampai ke hutan.

“Namun demikian, obyek wisata ini kurang mendapat perhatian serius dari pemerintah, sehingga terlihat apa adanya,” ujar Rainah. (nf)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SUARA DESA, Edisi 04, 15 Mei 15 Juni 2012