Asal Usul Nama Ponorogo

Mengenai asal-usul nama Ponorogo sampai dengan saat penyusunan naskah ini belum ditemukandan diketahui secara pasti. Berikut kami sampaikan beberapa analisa dari berbagai sumber yang diperkirakan ada kaitannya atau kemiripannya dengan sebutan nama Ponorogo.

Berdasarkan Legenda

  1. Di dalam buku Babad Ponorogo yang ditulis oleh Poerwowidjojo diceriterakan bahwa asal-usul nama Ponorogo, bermula dari kesepakatan dalam musyawarah antara Raden Katong, Kyai Mirah, Seloadji, dan Joyodipo pada hari Jumat saat bulan purnama, bertempat di tanah lapang dekat sebuah gumuk (wilayah Katongan sekarang). Di dalam musyawarah tersebut disepakati bahwa kota yang akan didirikan nanti dinamakan “Pramana Raga” akhirnya lama-kelamaan menjadi “Ponorogo”.
  2. Dari ceritera rakyat yang masih hidup di kalangan masyarakat terutama di kalangan genarasi tua, ada yang mengatakan bahwa nama Ponorogo kemungkinan berasal dari kata “Pono” = Wasis, pinter, mumpuni, mengerti benar. “Raga” = Jasmani, badan sakujur. Akhirnya menjadi Ponorogo.

 

Tinjauan Etimologi

Mengacu dari sumber-sumber ceritera di atas, jika ditinjau secara etimologi, akan kita dapatkan beberapa kemungkinan sebagai berikut:

  1. “Prama Raga” menjadi Panaraga.

Sebutan Pramana Raga terdiri dari dua kata yakni :

a. “Pramana” = Daya kekuatan, rahasia hidup, permono, wadi.
b. “Raga” = Badan, jasmani.

Dari penjabaran tersebut dapat ditafsirkan bahwa dibalik badan wadak manusia itu tersimpan suatu rahasia hidup (wadi) berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-srfat amarah, aluwamah, shufiah, dan muthmainah.

  1. Ngepenakake raga menjadi Panaraga

Manusia yang memiliki kemampuan olah batin yang mantap dan mapan akan dapat menempatkan diri di mana pun dan kapan pun berada. Akhirnya apa pun tafsirannya tentang Ponorogo dalam wujud seperti yang kita lihat sekarang ini adalah tetap “Ponorogo” sebagai kota yang kita cintai, kita pertahankan, dan kita lestarikan sebagai Kota Reog yang menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo.

Berdirinya Kadipaten Ponorogo

  1. Beberapa Sumber yang Berkaitan dengan Berdirinya Kadipaten Ponorogo

Ada dua sumber utama yang kami jadikan bahan kajian dalam menelusuri Hari Jadi Kadipaten Ponorogo yakni:

a. Sejarah Lokal Baik Legenda maupun Buku Babad.

Banyak ceritera yang berkembang di kalangan masyarakat dan bahkan ada yang telah ditulis di dalam buku babad dan Iain-Iain. Menurut babad maupun ceritera rakyat, pendiri Kadipaten Ponorogo ialah Raden Katong putra Brawijaya V raja Majapahit dengan putri Begelen. Diduga berdirinya Kadipaten Ponorogo pada akhir abad XV.

b. Bukti Peninggalan Benda-benda Purbakala.

Kebudayaan seseorang itu bersumber dari masyarakatnya, dalam arti konsentrasi tertinggi adalah basis alam dari kehidupan kebudayaan itu sendiri. Masyarakat Wengker menganut kepercayaan Hindu yang jelas berakulturasi dengan tradisi-tradisi yang berlaku saat itu.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peninggalan benda-benda purbakala antara lain:

  • Sebuah area Syiwa ;
  • Tiga buah area Durga ;
  • Lima buah area Ghanesa ;
  • Dua area Nandi;
  • Sebuah area Trimurti;
  • Dua area Mahakala sebagai Dwarapala ;
  • Sebuah Lingga;
  • Sebuah Yoni;
  • Sepasang Lingga Yoni;
  • Sembilan buah miniatur lumbung padi;
  • Area Gajah-Gajah Siwarata, kendaraan Bathara Indra berasal dari Timur;
  • Wisnoe berasal dari timur;
  • Ganesa-penunggu rumah dengan angka tahun 1355 saka = 1433 M ;
  • Umpak – terdapat di Pulung, dengan angka tahun 1336 saka = 1414 Masehi.. 31.
  • Sejumlah patung/ arca logam yang ditemukan di desa Kunti, Kecamatan Bungkal.

Disamping itu ditemukan pula peninggalan benda-benda purbakala di sekitar makam Bathoro Katong. Dari kompleks makam Ini diperoleh petunjuk angka tahun kapan kiranya Bathoro Katong mendirikan kadipaten Ponorogo. Di depan gapura pertama yang berdaun pintu atau gapura ke – 5, di sebelah utara dan selatan terdapat sepasang batu menyerupai tempat duduk yang menurut tradisi disebut Batu Gilang.

Pada batu tersebut tertukis candra sengkala memet dari belakang Ke depan berupa : manusia, pohon, burung (garuda), dan gajah.

manusia = angka 1 ;
pohon = angka 4 ;
burung (garuda ) = angka 1 ;
gajah = angka 8.
Berdasarkan kajian itu, Tim Sembilan menyimpulkan candra sengkala memet pada Batu Gilang tersebut menunjukkan angka tahun 1418 Saka.

  1. Bathoro Katong Diwisuda

a. Figur Seorang Bathoro Katong.

Nama Bathoro Katong sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Ponorogo. Bahkan nama itu seakan sudah menyatu dengan nama kota Ponorogo. Menurut pendapat para sarjana, ceritera rakyat, dan buku-buku babad, Bathoro Katong adalah pendiri Kadipaten Ponorogo yang selanjutnya berkembang menjadi Kabupaten Ponorogo. Hal itu sudah menjadi keyakinan masyarakat Ponorogo tanpa mempermasalahkan “siapa” dan “kapan” Bathoro Katong diwisuda sebagai adipati Ponorogo.

b. Kapan Bathoro Katong Diwisuda

Berdasarkan penelitian dan analisa sejarah dari berbagai sumber, terutama pengkajian terhadap peninggalan benda-benda purbakala yang berkaitan dengan masa pemerintahan Bathoro Katong, antara lain dapat kami sampaikan sebagai berikut:

  • Batu Bertulis Kucur Bathoro

Di Wilayah Kecamatan Ngebel ada lokasi/ tempat yang dinamakan Kucur Bathoro. Menurut Moh. Hari Soewarno, Kucur Bathoro itu diperkirakan tempat bersemedi Bathoro Katong pada saat akan memulai melaksanakan tugas di Bumi Wengker. Di tempat itu terdapat sebuah batu bertulis yang menunjukkan angka tahun 1482 Masehi.

  • Prasasti Batu Gilang di Makam Bathoro Katong.

Di Kompleks makam Bathoro Katong yaitu di depan gapura ke–5 terdapat sepasang batu yang disebut Batu Gilang oleh masyarakat Ponorogo. Pada Batu Gilang itu terlukis candra sengkala memet berupa gambar: manusia, pohon, burung (garuda), dan gajah, yang melambangkan angka tahun 1418 Saka atau tahun 1496 Masehi. Batu Gilang itu berfungsi sebagai prasasti “penobatan” yang dianggap suci.

Atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala tersebut, dengan menggunakan buku Handbook of Oriental History halaman 37, dapat ditemukan hari wisuda Bathoro Katong sebagai adipati Kadipaten Ponorogo pada Ahad Peri. 1 Besar 1418 Saka bertepatan dengan 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dzulhijjah 901 H.

3. Penetapan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Di awali dengan tekat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ponorogo yang mendasarkan pada usulan masyarakat Ponorogo dan perintah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Timur agar setiap Daerah Tingkat II memiliki Hari Jadinya maka Bupati membentuk dan menugaskan Tim Penyusun materi Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Selanjutnya Tim Penyusun materi Hari Jadi Kabupaten Ponorogo yang lebih dikenal dengan Tim Sembilan bekerja keras kurang lebih tiga bulan mengumpulkan bahan-bahan materi Hari Jadi maka pada tanggal 30 April 1996 diselenggarakan seminar sehari Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Hasil seminar menetapkan dan memutuskan hari, tanggal, dan tahun Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Selanjutnya untuk lebih memantapkan keputusan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo maka naskah hasil seminar sehari Hari Jadi Kabupaten Ponorogo diajukan kepada DPRD Tingkat II Ponorogo untuk mendapatkan persetujuan penatapan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo pada hari Ahad Pon, tanggal 1 Besar tahun 1418 Saka atau tanggal 11 Agustus 1496 Masehi (1 Dzulhijjah 901 H.).

Atas dasar persetujuan DPRD Tingkat II Ponorogo, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ponorogo menetapkan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo pada Ahad Pon, 1 Besar 1418 Saka bertepatan dengan tanggal 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dzulhijjah 901 H.

Sumber : Toebari, dkk. Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Ponorogo : Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Ponorogo. 1996. CB-D13/1996-19[30]

Mengenal Tebuireng

mengenal tebuireng0003 Tebuireng adalah nama sebuah pedukuhan yang termasuk wilayah administratif Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, berada pada kilometer 8 dari kota Jombang ke arah selatan. Nama pedukuhan seluas 25,311 hektar ini, kemudian dijadikan nama pesantren yang didirikan oleh KH. M. Hasyim Asy’ari.
Menurut penuturan (alm.) KH. Ishomuddin Hadzik (Gus Ishom), nama Tebuireng berasal dari kata “kebo ireng” (kerbau hitam). Konon, ada seorang penduduk yang memiliki kerbau berbulu kuning. Suatu hari, kerbau tersebut menghilang. Setelah dicari, kerbau itu ditemukan terperosok di rawa-rawa. Sekujur tubuhnya penuh lintah, sehingga kulit kerbau yang semula berwarna kuning berubah menjadi hitam. Peristiwa ini menyebabkan pemilik kerbau berteriak “kebo ireng …/kebo ireng …!” Sejak saat itu, dusun tempat ditemukannya kerbau tersebut dikenal dengan nama Kebo Ireng.
Pada perkembangan selanjutnya, ketika penduduk dusun mulai ramai, nama Kebo Ireng berubah menjadi Tebuireng. Tidak diketahui kapan perubahan itu terjadi. Apakah hal itu ada kaitannya dengan munculnya pabrik gula di selatan dusun, yang mendorong masyarakat menanam tebu? Ada kemungkinan, tebu yang ditanam berwarna hitam sehingga dusun tersebut dinamakan Tebu Ireng (tebu yang berwarna hitam). Nama Tebu dan Ireng kemudian digabung menjadi Tebuireng, tanpa pemisah spasi. Dalam terminologi Ilmu Nahwu, penggabungan dua nama menjadi satu seperti itu, disebut Murokkab Majzi.
Versi lain menuturkan, nama Tebuireng merupakan pemberian dari seorang punggawa kerajaan Majapahit yang masuk Islam dan kemudian tinggal di sana. Para nara sumber yang kami hubungi tidak dapat memastikan versi mana yang paling kuat.

Berdirinya Pesantren Tebuireng
mengenal tebuireng0004Pada penghujung abad ke-19, di sekitar Tebuireng bermunculan pabrik- pabrik milik orang asing (terutama pabrik gula). Bila dilihat dari aspek ekonomi, keberadaan pabrik-pabrik tersebut memang menguntungkan karena akan membuka banyak lapangan kerja. Akan tetapi secara psikologis justru merugikan, karena masyarakat belum siap menghadapi industrialisasi. Masyarakat belum terbiasa menerima upah sebagai buruh pabrik. Upah yang mereka terima biasanya digunakan untuk hal-hal yang bersifat konsumtif-hedonis. Budaya judi dan minum minuman keras pun menjadi tradisi.
Ketergantungan rakyat terhadap pabrik kemudian berlanjut pada penjualan tanah-tanah rakyat yang memungkinkan hilangnya hak milik atas tanah. Diperparah lagi oleh gaya hidup masyarakat yang amat jauh dari nilai-nilai agama.
Kondisi ini menyebabkan keprihatinan mendalam pada diri Kiai Hasyim. Beliau kemudian membeli sebidang tanah milik seorang dalang terkenal di dusun Tebuireng. Lalu pada tanggal 26 Rabiul Awal 1317 H
(bertepatan dengan tanggal 3 Agustus 1899 M.), Kiai Hasyim mendirikan sebuah bangunan kecil yang terbuat dari anyaman bambu (Jawa: tratak), berukuran 6X8 meter. Bangunan sederhana itu disekat menjadi dua bagian. Bagian belakang dijadikan tempat tinggal Kiai Hasyim bersama istrinya, Nyai Khodijah, dan bagian depan dijadikan tempat salat (mushalla). Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan tiga bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.
Kehadiran Kiai Hasyim di Tebuireng tidak langsung diterima dengan baik oleh masyarakat. Intimidasi dan Fitnah datang bertubi-tubi. Tidak hanya Kiai Hasyim yang diganggu, para santripun sering diteror. Teror itu dilakukan oleh kelompok-kelompok yang tidak menyukai kehadiran pesantren di Tebuireng. Bentuknya beraneka ragam. Ada yang berupa pelemparan batu, kayu, atau penusukan senjata tajam ke dinding tratak. Para santri seringkali harus tidur bergerombol di tengah-tengah ruangan, karena takut tertusuk benda tajam. Gangguan juga dilakukan di luar pondok, dengan mengancam para santri untuk meninggalkan pengaruh Kiai Hasyim. Gangguan-gangguan tersebut berlangsung selama dua setengah tahun, sehingga para santri disiagakan untuk berjaga secara bergiliran.
Ketika gangguan semakin membahayakan dan menghalangi sejumlah aktifitas santri, Kiai Hasyim lalu mengutus seorang santri untuk pergi ke Cirebon, Jawa Barat, guna menamui Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Panguragan, Kiai Sansuri Wanantara, dan Kiai Abdul Jamil Buntet. Keempatnya merupakan sahabat karib Kiai Hasyim. Mereka sengaja didatangkan ke Tebuireng untuk melatih pencak silat dan kanuragan selama kurang lebih 8 bulan.

1. Tanggal pendirian tratak ini dicatat sebagai awal berdirinya Pesantren Tebuireng.
2. Konon, kedelapan orang santri itu dibawa oleh Kiai Hasyim dari pesantren Keras (asuhan Kiai Asy’ari).

mengenal tebuireng0002Dengan bekal kanuragan dan ilmu pencak silat ini, para santri tidak khawatir lagi terhadap gangguan dari luar. Bahkan Kiai Hasyim sering mengadakan ronda malam seorang diri. Kawanan penjahat sering beradu fisik dengannya, namun dapat diatasi dengan mudah. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian meminta diajari ilmu pencak silat dan bersedia menjadi pengikut Kiai Hasyim. Sejak saat itu Kiai Hasyim mulai diakui sebagai bapak, guru, sekaligus pemimpin masyarakat.
Selain dikenal memiliki ilmu pencak silat, Kiai Hasyim juga dikenal ahli di bidang pertanian, pertanahan, dan produktif dalam menulis. Karena itu, Kiai Hasyim menjadi figur bagi masyarakat sekitar yang rata-rata berprofesi sebagai petani. Suatu ketika ada seorang anak majikan Pabrik Gula Tjoekir berkebangsaan Belanda menderita sakit parah dan dalam keadaan kritis, kemudian dimintakan air do’a kepada Kiai Hasyim, anak tersebut menjadi sembuh.
Pesantren Tebuireng

Pesantren Tebuireng didirikan dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat. Di awal kelahirannya, Pesantren Tebuireng hanya mengajarkan ilmu pengetahuan agama secara sorogan dan bandongan, dengan Bahasa Jawa pego sebagai bahasa pengantar. Semua bentuk pengajaran tidak dibedakan melalui jenjang kelas. Kenaikan kelas diwujudkan dengan bergantinya kitab yang telah selesai dibaca (khatam). Para santri juga dibekali ilmu pecakapan Bahasa Arab (mubadatsab).
Seiring perkembangan waktu, sistem dan metode pengajaran ditambah dengan menambah kelas musyawaroh sebagai kelas tertinggi. Jumlah santri yang masuk kelas musyawaroh sangat kecil, karena seleksinya cukup ketat. Saat itu Hadratus Syeikh dibantu oleh saudara iparnya, Kiai Alwi.
Tahun 1916, Hadratus Syeikb merintis pendidikan klasikal melalui madrasah dengan Kepala Madrasah pertama Kiai Ma’shum Ali, menantu Hadratus Syeikb dan penulis kitab shorof yang cukup populer di dunia pesantren, Amtsilatut Tasbrifiyyab. Madrasah tersebut membuka tujuh jenjang kelas. Jenjang pertama dan kedua dinamakan sifir awal dan sifir tsani, yaitu jenjang persiapan untuk memasuki jenjang lima tahun berikutnya.
Tahun 1919, kurikulum Madrasah Tebuireng ditambah dengan Bahasa Indonesia, matematika, dan geografi. Ini merupkan terobosan baru yangn saat itu belum pernah dilakukan pesantren lain di Indonesia. Hadratus Syeikb dibantu oleh keponakannya, Muhammad Ilyas (kelak menjadi Menteri Agama) yang sekaligus menjadi Lurah Pondok dan Kepala Madrasah. Materi pelajaran Bahasa Indonesia (Melayu), Bahasa Belanda, sejarah, ilmu berhitung, ilmu bumi, dan penulisan huruf latin ditambahkan dalam kurikulum.
Tahun 1934, putra Hadratus Syeikb yang baru pulang dari Mekkah, KH. Abdul Wahid Hasyim, mendirikan Madrasah Nizhamiyab yang mengajarkan 60% ilmu pengetahuan umum dan 40% ilmu pengetahuan agama. Selain mengajarkan bahasa Arab dan Belanda, Madrasah Nizhamiyah juga mengajarkan Bahasa Inggris dan keterampilan mengetik. KH.A. Wahid Hasyim (bersama Kiai Ilyas) juga mendirikan Ikatan Pelajar Islam dan perpustakaan yang menyediakan lebih dari 1.000 judul buku. Keberadaan Madrasah Nizhamiyah tidak merubah sistem pengajian kitab dan kelas musyawaroh yang diasuh Hadratus Syeikb.
Setelah Hadratus Syeikb wafat, kepemimpinan Pesantren Tebuireng dilanjutkan secara berturut-turut oleh KH.A. Wahid Hasyim, KH. Abdul Karim Hasyim, KH. Baidhowi Asro, dan KH. Abdul Kholiq Hasyim, dibantu oleh KH. Ma’shum Ali, KH. Muhammad Ilyas, KH. Idris Kamali, KH. Adlan Ali, KH. Yusuf Masyhar, KH. Sobari.
Pada masa itu, unit-unit madrasah di Pesantren Tebuireng diformalkan sesuai dengan sistem persekolahan Nasional, menjadi Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan Madrasah Mu’allimin.
Pada masa Kiai Kholiq, kelas musyawarah yang pernah eksis di zaman Hadratus Syeikb dihidupkan kembali dengan bantuan Kiai Idris Kamali. Meskipun sistemnya tidak sama persis, akan tetapi kualitas santri didikan Kiai Idris cukup baik.
Tahun 1965, kepemimpinan Pesantren Tebuireng dilanjutkan oleh KH.M. Yusuf Hasyim, dibantu oleh KH. Hadzik Mahbub, KH. Adlan Ali, KH. Mahfudz Awar, KH. Yusuf Masyhar, dan KH. Syansuri Badawi. Pada 1967, Pesantren Tebuireng mendirikan Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY), kemudian merintis berdirinya Madrasatul Hufazd (tahun 1971), Sekolah Persiapan (tahun 1972), dan Sekolah
Menengah Pertama (SMP) serta Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 1975.
Kemudian pada 1984, KH.M. Yusuf Hasyim bersama keluarga besar Pesantren Tebuireng membentuk Yayasan Hasyim Asy’ari, yang berfungsi mengelola administrasi dan manajemen pesantren, serta mengelola tanah wakaf peninggalan Hadratus Syeikh.
Selanjutnya, tahun 1991 didirikan Unit Koperasi Jasa Boga yang menangani pemenuhan makan santri, tahun 2003 didirikan Pondok Pesantren Putri untuk memfasilitasi para pelajar putri yang berniat mondok di Tebuireng, dan tahun 2006 KH.M. Yusuf Hasyim menggagas berdirinya Ma’had Aly sebagai sarana pendalaman ilmu-ilmu keislaman klasik dan kontemporer.
Dari uraian di muka, terlihat bahwa Pesantren Tebuireng selalu melakukan pengembangan dan inovasi baik pada sistem maupun kurikulum pendidikan. Pengembangan diperlukan guna memenuhi kebutuhan dan menjawab tantangan zaman, tanpa menghilangkan ciri khas dan nilai-nilai luhur pesantren.
Sistem dan metode pengajaran Hadratus Syeikh berhasil melahirkan lulusan yang berkualitas, yang di kemudian hari menjadi pemimpin- pemimpin di masyarakat. Data Sambu Beppang (Gestapo Jepang) tahun 1942 menyebutkan, sekitar 25.000 kiai, birokrat, dan tokoh masyarakat di Jawa dan Madura, pernah belajar kepada Hadratus Syeikh di Tebuireng.
Pada periode-periode berikutnya, lulusan Pesantren Tebuireng juga cukup baik dan dapat berkiprah di berbagai bidang. Yang paling menonjol adalah santri-santri didikan Kiai Idris Kamali, yang rata-rata menjadi ulama dan tokoh masyarakat. Gus Dur, KH. Tholhah Hasan, KH. Ali Mustafa Ya’qub, dan KH. Ma’ruf Amin adalah diantara santri yang pernah berguru kepada Kiai Idris.
Peran sosial dan politik Pesantren Tebuireng juga cukup menonjol, mulai dari pembentukan laskar-laskar perjuangan kemerdekaan (Hisbullah dan Sabilillah), dikeluarkannya resolusi jihad, perumusan konstitusi RI, pembentukan lembaga-lembaga sosial keagamaan seperti NU dan MIAI, pendirian partai politik seperti Partai NU, Masyumi, AKUI, dan PKU, serta peran para pengasuh dan alumni Pesantren Tebuireng dalam kancah pembangunan Nasional.

Pesantren Tebuireng, Kini Dan Esok
mengenal tebuireng0001Sejak bulan April 2006, kami diberi amanah untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu kami di Tebuireng. Bukan perkara mudah mengemban amanah ini. Tapi juga bukan perkara sulit bila kita optimis, istiqamah, dan ikhlas menjalaninya.
Sebagai lembaga pendidikan yang memiliki tradisi inovatif dan peran sejarah yang cukup panjang, Pesantren Tebuireng ke depan dituntut untuk terus mengembangkan diri dalam semua aspek. Jika pada awal berdirinya, Pesantren Tebuireng dihadapkan pada tatanan masyarakat agraris-tradisional dengan corak kehidupan yang sangat sederhana, maka kini, corak kehidupan masyarakat sudah sangat berbeda. Pengaruh modernisasi dan kemajuan teknologi yang merambah hingga ke pelosok-pelosok desa, menjadikan problem keagamaan dan kemasyarakatan serta cara penanganannya semakin kompleks.
Melahirkan figur ulama sekaliber Hadratus Syeikb KH. Hasyim Asy’ari yang multi-talenta dan multi-dimensi, tentu sangat sulit. Karena yang terjadi sekarang adalah fenomena spesialisasi keilmuan dan tuntutan profesionalisme. Setiap orang dituntut mempunyai keahlian pada satu atau dua bidang tertentu. Sementara pada saat yang sama, beragam disiplin ilmu muncul dan membutuhkan spesialisasi. Tidak mustahil alumni Pesantren Tebuireng ke depan akan menjalani profesi dokter, insinyur, pengusaha, ekonom, pemikir, budayawan, sosiolog, disamping sebagai pemimpin masyarakat (ulama, kiai, birokrat).
Kondisi seperti ini mengharuskan adanya inovasi baik dalam visi, misi, tujuan, sistem, serta manajemen pendidikan dan pengajaran di Pesantren Tebuireng. Juga dibutuhkan keterlibatan dan peran aktif semua potensi, baik pengasuh, para dzuriyyah, para pengurus, guru, pengajar, pembina, karyawan, abdi pesantren, juga para santri dan siswa. Tujuannya, agar amanah Hadratus Syeikb dapat terpelihara dengan baik.
Amanah Hadratus Syeikh selain berupa fisik Pesantren Tebuireng, juga berupa cita-cita, keinginan, tujuan, prinsip, metode, dan ajaran yang harus kita lestarikan melalui pendidikan dan perjuangan sosial kemasyarakatan.
Di bidang pendidikan, diperlukan orientasi yang jelas dari setiap unit pendidikan yang ada di Tebuireng. Keberadaan SMP dan SMA

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Profil Pesantren Tebuireng: Pustaka Tebuireng; 2011, halaman VII-XI; 3-6

Latar Belakang Sejarah Pondok Pesantren Gontor

Sejarah GontorPada sekitar pertengahan abad ke 18 (sekitar tahun 1742 ) hiduplah seorang kyai terkenal bernama ” Kanjeng Kyai Hasan Bashari” atau “Besari” disebuah desa terpencil kurang lebih 10 Km disebelah selatan kabupaten Ponorogo. Desa yang diapit oleh dua buah sungai itu bernama “Tegalsari” dimana terdapat sebuah pondok pesantren yang kemudian kesohor dengan nama “Pondok Tegalsari”. Karena kealiman dan kharisma Kyainya maka berdatanganlah para santri hingga jumlahnya ribuan, berasal dari seluruh tanah Jawa dan sekitarnya,sehingga seluruh desa menjadi pondok bahkan melimpah hingga desa-desa sekitarnya, seperti desa Jabung (Nglawu), desa Josari dan lain-lain.
Pada suatu hari tepatnya tanggal 30 Juni 1742 kerajaan Kartasura mendapat bencana hebat, pemberontakan Cina yang dipimpin oleh RM Garenda Susuhunan Kuning terjadi dimana-mana, sehingga keraton dalam keadaan bahaya. Karena hebatnya serangan dan keadaan yang kurang aman maka Paku Buana II atau Sunan Kumbul pergi dengan diam-diam meninggalkan keraton menuju ketimur gunung lawu. Setelah menempuh perjalanan yang panjang siang dan malam bersama para pengkutnya, ia menemukan sebuah perguruan Islam atau pesantren yang telah kesohor dengan nama Tegalsari itu. Dalam keadaan prihatin dan gelisah ia datang berserah diri kepada Kanjeng Kyai Hasan Bashari dan tinggallah ia disana untuk bertafakkur, dan bermunajat pada Allah dibawah bimbingan Kyai. Dan berkat keuletan dan kesungguhannya dalam berdoa serta keikhlasan bimbingan dan doa Kyai, Allah mengabulkan doanya. Api pemberontakan akhirnya reda dan bahkan padam sama sekali, akhirnya Paku Buana II kembali ke keraton dan menduduki lagi tahtanya. Dan sebagai balas budinya, semenjak itu Tegalsari menjadi suatu daerah merdeka, bebas dari segala kewajiban terhadap kerajaan. Daerah yang bebas dari kerajaan ini disebut “PERDIKAN” atau “PERDEKAN”. (Lihat Babad Perdek- an Tegalsari)
Sejarah pondok Gontor.Pondok Pesantren Tegalsari terus hidup dari generasi ke generasi dan terus berkembang. Banyak alumninya yang menjadi tokoh masyarakat yang tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia,diantaranya adalah Pujangga Jawa kenamaan Raden Ngabehi Ronggo- warsito (wafat th.1803), tokoh pergerakan Nasional H.O.S.Cokroaminoto (wafat 1923) dan lain lain. Dan tidak sedikit pula alumninya yang menjadi Negarawan, Pejabat pemerintahan, pengusaha, ulama, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Namun pada pertengahan abad 19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Bashari Pesantren Tegalsari mulai surut.
Pada masa kepemimpinan Kyai Chalifah (putera Kyai Hasan Bashari) seorang dari antara santrinya bernama Sulaiman Jamaluddin datang dari daerah Pasundan tepatnya Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyai nya karena kecerdasannya, Kyai pun sangat sayang padanya, maka setelah Sulai¬man Jamaluddin dirasa telah cukup belajarnya ia lalu diambil menantu oleh Kyai dan jadilah ia Kyai muda yang sering dipercaya menggantikan Kyai, saat Kyai berhalangan. Dan ka- rena kealimannya yang semakin menonjol diberilah ia suatu tempat di- tengah hutan belantara ( kurang lebih 3 Km sebelah timur Pondok Pesantren Tegalsari ) dan 40 orang santri untuk mendirikan Pondok Pesantren seperti Tegalsari. Dengan 40 orang santri (salah satu syarat syahnya sha- lat Jum’at) dan seorang istri berangkatlah Kyai Sulaiman Jamaltiddin ke suatu tempat diseberang sungai Malo.Dan disanalah Kyai muda itu mendirikan pondokan bersama para santrinya. Tempat itu kini diberi nama “Gontor” . Kyai Sulaiman Jamaluddin asal Cirebon itu ternyata adalah salah seorang putera Penghulu Jamaluddin. Penghulu Jamaluddin adalah putera Pangeran Hadiraja atau Sultan Kesepuhan Cirebon.
Sejarah pondok Gontor..Pesantren Gontor yang dirintis oleh Kyai Sulaiman Jamaluddin ini berkembang pesat, khususnya ketika dipimpin oleh puteranya, Kyai Archam Anom Besari. Santri-santrinya berasal dari berbagai daerah di Jawa, konon banyak pula santri-santri dari daerah pasundan Jawa Barat. Setelah Kyai Archam wafat pesantren ini dilanjutkan oleh generasi ketiga yaitu Kyai Santoso Anom Besari putera Kyai Archam Anom Besari. Namun pada generasi ketiga ini pondok Gontor mulai surut, kaderisasi dalam keluarga untuk kelanjutan hidup pesan¬tren Gontor kurang diperhatikan dan tinggallah Kyai Santoso Anom Besari beserta seorang istri, 4 orang putera dan 3 orang puteri, dengan sebuah masjid kecil yang tidak lagi ramai oleh santri. Meskipun Pesantren Gontor sudah tidak semaju dizaman ayah dan neneknya namun Kyai Santoso tetap bertekad menegakkan agama didesa Gontor. Ia tetap figur Kyai di desa Gontor dan sekitarnya. Dalam usia yang belum begitu lanjut Kyai Santoso dipanggil Allah SWT. Saudara-saudaranya tidak ada yang sanggup menggantikannya.Dan tinggalah seorang istri berserta ketujuh putera puterinya. Dengan peninggalan sebuah rumah sederhana dan masjid tua warisan nenek moyangnya itu Ibu Santoso mendidik putera-puterinya.
Putera Pertamanya, R.Rahmat Sukarto kemudian menjadi Kepala Desa Gontor. Sedang ketiga putera lainnya dimasukkan Pesantren guna memperdalam agama, dan dengan berbagai macam cara ketiganya dididik dibesarkan agar dapat meneruskan perjuangan nenek moyangnya, yaitu memperbaiki kembali pondok pesantren yang telah lama mati. Ketiga puteranya itu adalah : Ahmad Sahal (Putera kelima) Zainuddin Fannani (Putera keenam ) Imam Zarkasyi (Putera ketujuh) Belum lagi selesai masa belajar dan belum pula cukup dewasa keti¬ga orang ini harus mengalami cobaan yang sangat berat, Ibunda tercinta dipanggil Allah SWT. Namun hal itu tidak mengecilkan hati mereka, dengan keadaan ekonomi yang serba kurang mereka terus belajar dari satu tempat ketempat lainnya hingga selesai.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Kenang-kenangan Pringatan delapan Windu 1926-1990, Pondok Medern Darussalam Gontor Ponorogo 8 Windu/ halaman 10-13

Babad Perdekan Tegalsari / Awal Mula Pondok Tegal Sari

Babad Perdekaan TegalsarirI. Pada abad ke 18 (lebih kurang dalam tahun 1710 berdirilah desebuah desa yang bernama Tegalsari-Sebuah pondok (pesantren), dengan Kyai Ageng Hasan Bashori sebagai Kyai-nya yang pertama. Pondok ini terletak ditepi dua buah kali, yaitu antara kali Keyang dan kali Malo. Pondok (Pesantren) itu lazim disebut PONDOK TEGALSARI. Beliau adalah Kyai, Ulama Bangsawan Besar. Beliau adalah keturunan atau percampuran darah :
PEJAJARAN dengan HARJO BANGAH.
MOJOPAHIT dengan Demang NGORAWAN.
KYAI AGENG TARUP • BONDAN KEJAWAN.
IRAHAMI ASMARA dengan SUNAN NGAMPEL.
KYAI AGENG PEMANAHAN dengan PANGERAN BUNTARAN.
II. Kyai Ageng Hasan Bashori mempunyai 9 orang putera. Salah seorang diantaranya bernama H.Zaenal Abidin yang menjadi mantu dan akhirnya menjadi raja di Selangor Raya. Pecahan dari putera-puteranya yang 9 orang itu tersebar diseluruh Jawa Tengah. Beribu-ribu dari keturunan beliau itu menjadi ,ulama, intelek, pegawai negeri, bupati, penghulu, penganjur dalam segala tingkatan pergerakan masyarakat. Di antaranya, ialah Raden H.O.S. Cokroaminito. Beliau ini adalah keturunan yang ke V dari Kyai Ageng Hasan Bashori.

III. Dalam Pondok Tegalsari pada zaman dahulu itu terdapat ribuan santri, yang berasal dari seluruh tanah jawa dan sekitarnya, dan terdiri dari bermacam-macam tingkat golongan masyarakat, yaitu dari kalangan putera tani yang serendah-rendahnya, sampai golongan putera- putera bangsawan yang setinggi- tingginya.

IV. Pada tahun 1742, yaitu pada tang gal 30 Juni- menyerbulah musuh, yaitu R.M.Grendi Susuhunan Kuning dengan pasukan Tionghoa-nya kedalam keraton Paku Buana II, yang terkenal dengan nama Susuhunan Kumbul. Karena serbuan yang hebat ini, maka terpaksa Paku Buana II pergi meninggalkan kerajaan, melarikan diri kesebelah timur gunung Lawu. Di sana bertemulah Paku Buana II dengan Kyai Ageng Bashori. Tingallah Paku Buana II ini beberapa masa lamanya di Tegalsari. Kepada Kyai Ageng Hasan Bashori inilah Susuhunan Kumbul minta pertolongan, sehingga akhirnya dapatlah Susuhunan Kumbul itu menduduki tahta kerajaannya kembali. Semenjak dari saat itu, maka Tegalsari menjadi suatu daerah merdeka. Daerah bebas dari kewajiban terhadap kerajaan. Daerah bebas dari kerajaan ini disebut “PERDEKAN”. Ia bebas dari segala pajak dan cukai.

V. Setelah Kyai Ageng Hasan Bashori meninggal maka kedudukan beliau digantikan oleh putera beliau yang ke VII, bernama Kyai Hasan Yahya. Kyai Hasan Yahya kemudian digantikan oleh Kyai Bagus Hasan Bashori II. Pada tahun 1800 kedudukan beliau diganti pula oleh Kyai Hasan Anom. Pada tahun 1830, Tegalsari berada di bawah pemerintahan “Gouvernement Campagnie”. Namun demikian, kemerdekaannya tetap diakui seperti semula. Besluit Perdekan Tegalsari diperbaharui dalam tahun 1853, yaitu pada tanggal 23 Desember 1853, staatsblad no.77. Pada tanggal 9 Januari 1862, Kyai Bagus Hasan Bashori wafat dengan meninggalkan 94 putera dan 44 cucu dan piut.

[Dari kutipan catatan-catatan Mr. Fokkens, Pegawai PamongPraja (Bestuur Ambtenaar) pada tahun 1877, dan sesudah itu disahkan oleh para darah keturunan Tegalsari juga (tahun 1942)].

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kenang-kenangan Pringatan delapan Windu 1926-1990, Pondok Medern Darussalam Gontor Ponorogo 8 Windu/ 1991/halaman 10-13

KERAJAAN MAJAPAHIT

Sejarah Kerajaan masa Hindu-Budha di daerah Jawa Timur dapat dibagi menjadi 3 periode. Periode pertama adalah raja-raja dari kerajaan Kediri yang memerintah sejak abad ke 10 M hingga tahun 1222 M. Periode kedua dilanjutkan oleh pemerintahan raja-raja dari masa Singosari yang memerintah dari tahun 1222 M hingga tahun 1293 M. Periode ketiga adalah masa pemerintahan raja-raja Majapahit yang berlangsung dari tahun 1293 M hingga awal abadke 6 M.
Pendiri kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya. Ia merupakan raja pertama Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Pada awalnya, pusat pemerintahan kerajaan Majapahit berada di daerah Tarik. Karena di wilayah tersebut banyak ditemui pohon maja yang buahnya terasa pahit, maka kerajaan Raden Wijaya kemudian dinamakan Majapahit. Raden Wijaya memerintah dari tahun 1293 M hingga 1309 M.
Tampuk pemerintahan kemudian digantikan oleh Kaligemet yang merupakan putra Raden Wijaya dengan Parameswari. Pada saat itu, usia Kaligemet masih relatif muda. la kemudian bergelar Jayanegara. Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi pemberontakan. Pada akhirnya, pada tahun 1328 M Jayanegara terbunuh oleh tabib pribadinya yang bernama Tanca.
Roda kekuasaan kemudian diambil alih oleh Raja Patni, yaitu istri Raden Wijaya yang merupakan salah satu putri Raja Kertanegara dari Singosari. Bersama patihnya yang bernama Gajah Mada, ia berhasil menegakkan kembali wibawa Majapahit dengan menumpas pemberontakan yang banyak terjadi. Raja Patni kemudian mengundurkan diri sebagai raja dan menjadi pendeta Budha. Tampuk pemerintahan kemudian diserahkan kepada anaknya yang bernama Tribhuana Wijaya Tunggadewi. Dalam menjalankan pemerintahannya, ia dibantu oleh patih Gajah Mada. Majapahit kemudian tumbuh menjadi negara yang besar dan termashur, baik di kepulauan nusantara maupun luar negeri.
Pada tahun 1350 M, Tribhuana Tunggadewi kemudian mengundurkan diri. Tampuk kekuasaan kemudian dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Hayam Wuruk. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit kemudian mencapai masa keemasan hingga patih Gajah Mada meninggal pada tahun 1365 M. Terlebih ketika Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389 M, negara Majapahit mengalami kegoncangan akibat konflik saudara yang saling berebut kekuasaan.
Pengganti Hayam Wuruk adalah putrinya yang bernama Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana. Sementara itu, Wirabhumi, yaitu putra Hayam Wuruk dari selir menuntut juga tahta kerajaan. Untuk mengatasi konflik tersebut, Majapahit kemudian dibagi menjadi dua bagian, yaitu : wilayah timur dikuasai oleh Wirabhumi dan wilayah barat diperintah oleh Wikramawardhana bersama Kusumawardhani. Namun ketegangan di antara keduanya masih berlanjut hingga kemudian terjadi perang saudara yang disebut dengan “Paragreg” yang berlangsung dari tahun 1403 M hingga 1406 M.
Perang tersebut dimenangkan oleh Wikramawardhana yang kemudian menyatukan kembali wilayah Majapahit, la kemudian memerintah hingga tahun 1429 M.
Wikramawardhana kemudian digantikan oleh putrinya yang bernama Suhita yang memerintah dari tahun 1429 M hingga 1447 M. Suhita adalah anak kedua Wikramawardhana dari selir. Selir tersebut merupakan putri Wirabhumi. Diharapkan dengan diangkatnya Suhita menjadi raja akan meredakan persengketaan. Ketika
Suhita wafat, tampuk kekuasaan kemudian digantikan oleh Kertawijaya yang merupakan putra Wikramawardhana. Pemerintahannya berlangsung singkat hingga tahun 1451 M. Sepeninggalnya Kertawijaya, Bhre Pamotan kemudian menjadi raja dengan gelar Sri Raja Sawardhana dan berkedudukan di Kahuripan. Masa pemerintahannya sangat singkat hingga tahun 1453 M. Kemudian selama tiga tahun Majapahit mengalami “Interregnum” yang mengakibatkan lemahnya pemerintahan baik di pusat maupun di daerah. Pada tahun 1456 M, Bhre Wengker kemudian tampil memegang pemerintahan. Ia adalah putra Raja Kertawijaya. Pada tahun 1466 M, ia meninggal dan kemudian digantikan oleh Bhre Pandan Salas yang bergelar Singhawikramawardhana. Namun pada tahun 1468 lyl, Kertabumi menyatakan dirinya sebagai penguasa Majapahit yang memerintah di Tumapel, sedangkan Singhawikramawardhana kemudian menyingkir ke Daha. Pemerintahan Singhawikramawardhana digantikan oleh putranya yang bernama Rana Wijaya yang memerintah dari tahun 1447 M hingga 1519 M. Pada tahun 1478 M, ia mengadakan serangan terhadap Kertabumi dan berhasil mempersatukan kembali kerajaan Majapahit yang terpecah-pecah karena perang saudara. Rana Wijaya bergelar Grindrawardhana.
Kondisi kerajaan Majapahit yang telah rapuh dari dalam dan disertai munculnya perkembangan baru pengaruh Islam di daerah pesisir utara Jawa, pada akhirnya menyebabkan kekuasaan Majapahit tidak dapat dipertahankan lagi.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: I Made Kusumajaya [dkk]. Mengenal Kepurbakalaan Majapahity Di Daerah Trowulan, [2014…?] hlm. 5-8. (CB-D13/2014-126)

Legenda Beberapa Kampung yang Ada di kota Surabaya

Meskipun legenda tidak dapat dimasukkan dalam tulisan sejarah karena tidak miliki bukti-bukti atau fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan (sejarah semu), namun legenda yang menceritakan asal-usul suatu kampung ini banyak beredar di lingkungan masyarakat kampung, bahkan kadang-kadang menjadi kebanggaan dari warga kampung setempat, maka dalam penelitian ini dipandang perlu oleh peneliti untuk dikemukakan meskipun hanya secara garis besar saja.
Inti cerita dan dongeng dongeng yang berkembang tentang pembentukan Surabaya adalah persaingan cinta segitiga antara Pangeran Situbondo putra Adipati Cakraningrat dari Sampang yang cacat dengan Pangeran Jokotruno putra dari Adipati Kediri untuk dapat mempersunting Raden Ayu Probowati. Untuk menghindari raden Situbondo yang cacat, Raden Ayu Probowati mengajukan syarat berupa kesanggupan sang calon untuk membuka hutan (mbabad alas) agar dapat didirikan pemukiman sebanyak dan sebaik mungkin bagi warga Surabaya.
Cerita selanjutnya bermula dari kesanggupan Raden Situbondo untuk membuka hutan, maka ceritapun berawal di daerah kampung yang memakai nama wono (yang arti hutan) dan simo, yaitu singa atau harimau yang ditemukan pada hutan-hutan sebut. Rakyat di daerah Wonokromo dan Wonocolo percaya bahwa kampung- kampung yang mereka diami adalah hasil karya dari Raden Situbondo.
Disebutkan ketika Raden Situbondo membuka hutan, disuatu tempat ia menemukan tumpukan kulit kerang (kupang) yang menggunung, maka setelah selesai ika maka daerah itu dinamakan Kupang Gunung. Di tempat lain ia menemukan daerah yang banyak terdapat kerang yang tersusun rapi sekali menyerupai kerajaan, oleh karena itu daerah ini kemudian diberi nama Kupang Krajan.
Ketika membuka hutan, di salah satu tempat Raden Situbondo berhadapan muka dengan Joko Jumput, dan kemudian keduanya beradu kekuatan. Raden Situbondo kalah, bahkan hampir mati. Untuk nyelamatkan nyawanya Raden Situbondo pergi ke Kedung Gempol dan minum air di kedung itu . Nyawa Raden Situbondo akhirnya dapat diselamatkan, untuk itu daerah tersebut kemudian diberi nama Banyu Urip.
Dalam kaitannya dengan Kampung Banyu Urip ini, pada suatu ketika di daerah Raden Situbondo pernah bertemu dengan singa atau harimau jadi-jadian dari Jin Trung. Setelah singa jadi-jadian itu berhasil diusir maka tempat itu diberi nama Simo Katrungan. Perjalanan dilanjutkan lagi, ternyata tak seberapa jauh, pangeran bertemu lagi dengan singa yang sama. Singa itu ketakutan dan lari terbirit-birit (bahasa Jawa kesusu atau kewagean). Oleh karena itu tempat ini kemudian diberi nama Kampung Simo Kewagean.
Tak jelas akhirnya Raden Kusuma Ning Ayu Probowati menikah dengan siapa, yang agaknya disepakati adalah bahwa pesta perkawinannya dilaksanakan dengan upacara sederhana sambil membuka hutan yang terakhir, yaitu Wonokromo yang berarti hutan perkawinan.
Selain tokoh di atas tokoh lain yang banyak diceritakan dalam babad adalah tokoh Jayeng Rono dan Sawonggaling. Ada salah satu versi cerita tentang dongeng Jayengrono dan Sawonggaling yang dikaitkan dengan Raden Wijaya. Setelah tentara Tar-Tar dapat dikalahkan dan dihalau dari Ujung Gauluh, sebagai penghargaan Raden Wijaya mendirikan sebuah kraton di Surabaya untuk ditempati oleh wakilnya. Yang ditunjuk memimpin Ujung Galuh adalah Adipati Jayengrono. Lama kelamaan hubungan Surabaya Majapahit semakin renggang hingga Surabaya seakan berdiri sendiri. Hal ini berhasil dicapai karena Jayengrono berhasil menguasai ilmu buaya putih.
Alkisah pada suatu saat datanglah utusan dari Kerajaan Mataram yaitu Sawonggaling. Utusan ini adalah seorang sakti yang menguasai ilmu suro dari Kraton Surakarta. Sawonggaling diutus untuk menuntut Surabaya agar bersedia takhluk dibawah kekuasaan Kerajaan Mataram. Tentunya hal ini tak dapat diterima oleh Jayengrono. la menantang dan disepakati untuk mengadu kesaktian masing-masing, pertarungan itu disepakati pula dilakukan pada malam Jumat Legi dan akan berlangsung di kali Mas, di sekitar Paneleh Kepatihan. Ternyata pertarungan yang berlangsung selama enam hari enam malam tak membawa hasil kalah maupun menang. Namun pada ketujuh keduanya meninggal kehabisan tenaga dan diarak untuk dipertontonkan kepada penduduk. Pertarungan tersebut membuat Kali Mas menjadi merah dan sisik kedua makhluk tersebut bertebaran di daerah sekitarnya, daerah itu kini dikenal sebagai daerah Semut (dari semut-semut yang mengerumuni sisik-sisik tadi) dan Jembatan merah. Tempat dimana kedua jasad tersebut digantungkan kini bernama Kramat Gantung.
Ada pula dongeng yang menceritakan tentang pembukaan daerah Keputran oleh salah seorang pengikut Raden Situbondo yang bernama Pangeran Joko Taruno. Dalam menjalankan tugasnya ia selalu didampingi oleh pengikut yang setia Savid Panjang.
Daerah yang menjadi tanggung jawab Pangeran Joko Taruno ini adalah Keputran sebelah Daerah itu semula banyak sekali hutannya, diantaranya adalah hutan pohon jambu, karena itu kampung yang berdiri di sana kemudian diberi nama Keputran Kejambon. Sedang daerah yang banyak mengandung tanah liat yang dipergunakan untuk membuat gerabah terutama kemaron (;njun) diberi nama Keputran Panjunan (Surabaya Post Juni 1983)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Muryadi [dkk], Penelitian: Perkembangan Kota Dan Dampaknya Terhadap Keberadaan Kampung Kuno Bernilai Historis Di Kota Surabaya.Surabaya: Lembaga penelitian Universitas Airlangga 2001. hlm. 19 -22 (CLp-D13/2001-353)

Kampung-Kampung di Surabaya pada Masa Kolonial

Letak Surabaya yang stategis sebagai kota dagang dengan daerah pedalamannya kaya akan hasil bumi sudah diketahui sejak dahulu. Arti kota Surabaya bagi perdagangan menjadi bertambah penting dengan meningkatnya ekspoitasi perkebunan pembukaan pabrik-pabrik gula di daerah pedalaman. Jelaslah dengan semakin meningkatnya perdagangan di Surabaya, proyeksi kota ini sebagai kota dagang semakin cerah. Keadaan ini ditunjang dengan diberlakukannya Undang-undang Gula dan Undang- undang Agraria pada tahun 1870. Kedua undang-undang ini memberikan kesempatan kepada pihak swasta (terutama pengusaha dari Belanda) untuk menanamkan modalnya di daerah Hindia Belanda. Undang-undang ini juga memberi kesempatan kepada pengusaha swasta untuk menyewa tanah-tanah di daerah pedalaman yang akan digunakan untuk usaha-usaha perkebunan dengan bebas. Maka di Surabaya timbullah kantor-kantor dagang serta bank-bank untuk mendukung kegiatan perkebunan tersebut. Bank-bank yang membuka cabang di Surabaya diantaranya adalah: Ned Handel Mij , De Javasche Bank, Ned Indische Escompto Mij, Ned Ind. Handelsbank, Rotterdamsche Bank, de Internationale Credit en handels Vereniging Roterdam, dan Firma Fraser Eaton & Co ber.1931 dalam Handinoto. 1996:70-71).
Dengan tumbuhnya cabang-cabang perusahaan serta kantor-kantor dagang di Surabaya tersebut, maka pertumbuhan penduduk juga menjadi pesat sekali, bahkan sulit dikendalikan. Untuk mengatasi hal ini maka Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pernah :ngeluarkan suatu undang-undang yang dikenal dengan nama Wijkenstelsel (Undang- undang Wilayah) yang mengatur pengelompokan tempat tinggal bangsa atau etnis tertentu. Dengan diberlakukannya undang-undang ini maka di Surabaya muncul pemukiman-pemukiman sesuai dengan daerah asal penghuninya, seperti: Kampung Cina (Chinese Kamp) Kampung Arab (Arabische Kamp), Kampung Melayu, dan sebaganya. Pemukiman orang-orang asing ini kebanyakan berada di sekitar jalan-jalan utama, sedang penduduk asli Surabaya berada di kampung-kampung yang berlokasi masuk dari jalan- jalan besar.
Meskipun wijkenstelsel ini sudah tidak berlaku lagi setelah tahun 1900-an, tetapi bekas-bekas pembagian wilayah ini masih terlihat jelas pada waktu-waktu kemudian, sebelah barat Jembatan Merah terdapat tempat kediaman orang-orang Eropa, sedang disebelah timur dari Jembatan Merah terdapat daerah pemukiman orang-orang Cina , Melayu, dan Arab.
Pertumbuhan penduduk Surabaya yang pesat pada awal abad ke-20 mulai nenimbulkan masalah di dalam kota. Meskipun ada larangan, banyak orang Eropa yang nengambil tanah luas dan membangun rumah-rumah yang besar, kantor-kantor, dan toko-toko. Mereka berlomba-lomba membeli tanah baik di tengah kota , dipinggiran atau didekat persimpangan jalan. Dengan demikian pola pembangunan yang seperti pita memanjang merupakan ciri yang ada di kota Surabaya sejak masa itu. Jarak pusat kota (daerah Jembatan Merah pada waktu itu) dengan daerah-daerah pinggiran (sekitar daerah Kayon dalam tahun 1905) menjadi amat jauh. Bentuk yang memanjang ini bertalian erat dengan hadirnya kendaraan-kendaraan bermotor yang pada waktu itu mulai banyak perasi. Orang-orang asing ini bertempat tinggal di tepi jalan-jalan utama dengan bangunan tempat tinggal yang megah bergaya barat dan asing lainnya. Sementara itu duduk asli Surabaya tinggal di dalam kampung-kampung yang masuk ke dalam dari jalan-jalan besar Rumah-rumah penduduk asli ini tertutup dengan bangunan-bangunan milik orang asing sehingga tidak kelihatan dan jalan-jalan utama tersebut dan biasanya dihubungkan dengan jalan kecil atau gang yang amat sempit.
Kondisi kampung saat itu juga memprihatinkan. Sampah dibuang kemana-mana, saluran air tidak tersedia, tak ada udara bersih dan sinar matahari yang masuk rumah, Akibatnya meledaklah penyakit menular. Gambaran seperti ini bukan saja berlaku untuk masa peralihan dari abad ke-19 ke abad 20, tetapi gambaran tersebut merupakan gambaran yang khas bagi seluruh periode zaman kolonial. Baru sesudah tahun 1920-an pemerintah Hindia Belanda dengan biaya ala kadarnya mencoba untuk memperbaiki keadaan kampung-kampung di Surabaya (Handinoto. 1996:49).
Saat kota Surabaya berkembang makin intensif, pola segregatif (pemisahan berdasarkan etnik) semakin melebar, mau tidak mau harus menginvasi dan mencaplok kampung-kampung. Prosesnya, bangsa Belanda dan etnis lainnya menguasai lahan-lahan di tepi jalur transportasi seperti jalan raya, sungai, dan jalan kereta api. Di lahan-lahan itu dibangun bangunan bertembok berupa pertokoan dan permukiman. Jalan-jalan diaspal halus dan sangat berbeda dengan jalan masuk kampung yang becek saat musim hujan.
Semua itu menjadikan batas fisik antar kampung menjadi semakin menguat. Batas fisik seperti ini memberi dampak psikologis bagi warganya. Selain itu juga memberi dampak psikologis antar komunitas kampung dengan budaya urban yang modernis di tepian jalan beraspal. Orang kampung sendiri merasa rikuh dan sukar menyesuaikan diri dengan budaya perkotaan modern. Malah Belanda menganggap kampung sebagai “desa yang salah letak”. Pandangan sebelah mata Belanda ini mewariskan istilah-istilah: budaya kampung, arek kampung, kampungan, dan semacamnya.
Selain pola segregatifnya yang meluas dalam situasi perkembangan kota yang pesat ini, secara bertahap memunculkan zone pusat bisnis yang semakin melebar. Pelebaran ini memakan perkampungan yang padat penduduknya, sehingga budaya penggusuran di zaman Belanda sudah ada. Salah satu contohnya adalah di tahun 1929 ketika Belanda berusaha menempatkan gedungnya di Kampung Keputran. Karena warga merasa dirugikan maka mereka ketika itu berusaha menolaknya (Surabaya Post, 30 Mei 1992).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Muryadi [dkk], Penelitian: Perkembangan Kota Dan Dampaknya Terhadap Keberadaan Kampung Kuno Bernilai Historis Di Kota Surabaya.Surabaya: Lembaga penelitian Universitas Airlangga 2001. hlm. 22-25 (CLp-D13/2001-353)

Asal Usul Desa Manduro, Kabupaten Jombang

Manduro adalah nama sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Asal mula terbentuknya Desa Manduro menurut tradisi oral penduduk setempat adalah dari adanya dua orang pelarian Madura yang kemudian menetap di daerah perbukitan tersebut yang masih berupa hutan. Kemudian kedua pelarian tersebut beranak pinak hingga daerah tersebut berkembang sebagaimana kondisi saat ini. Siapakah kedua pelarian tersebut dan kapan keberadaan pelarian tersebut di Desa Manduro tidak didapatkan informasi yang jelas.
Menurut Warito (Sekretaris Desa Manduro) berdasarkan informasi yang di dapatkan dari ‘Mbah Lurah Sepuh’, berpendapat bahwa kedua pelarian tersebut adalah dari laskar Trunajaya yang kalah perang, dan karena kalah perang malu pulang ke Madura. Akhirnya para pelarian tersebut menetap diperbukitan kapur, karena perbukitan kapur aman untuk tempat pelarian.
Nasrulillahi (Kasi Kebudayaan ) berpendapat bahwa kehadiran orang Madura di Manduro kemungkinan terjadi dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama kemungkinannya saat awal mula berdirinya Majapahit. Gelombang selanjutnya saat Pangeran Purbaya membantu Amangkurat II melawan Belanda, dan gelombang-gelombang berikutnya tidak banyak diketahui lagi.2
Imam Ghozali ar (budayawan Kabupaten Jombang) berpendapat ada dua versi yang berkembang di tengah masyarakat Manduro tentang asal usulnya. Kedua versi tersebut meliputi: pertama, laskar Trunajaya sebagai nenek moyangnya, dan kedua, Pangeran Arya Wiraraja nenek moyangnya.3
Merujuk sejarah perkembangan kerajaan- kerajaan Indonesia, bahwa pada sekitar tahun 1700- an tepatnya 1746-1755 adalah masa kontra antara Kerajaan Mataram dalam hal ini adalah Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi melawan Pemerintahan Belanda yang diakhiri dengan perjanjian Gianti. Pada masa peperangan ini banyak orang Madura yang dikirim untuk membantu Pemerintahan Belanda melawan Kerajaan Mataram.4 Hal ini terjadi setelah Madura dapat dikuasai oleh Belanda pada tahun 1743.
Pengiriman orang Madura pada masa Perang Gianti adalah gelombang pertama kedatangan orang Madura secara resmi ke Jawa masa penjajahan Pemerintahan Belanda di Jawa. Orang Madura yang dikirim ke Jawa pada masa Perang Gianti ini adalah kekuatan militer dari kerajaan- kerajaan yang ada di Madura. Kerajaan-kerajaan Madura memberikan bantuan pada Pemerintah Belanda karena saat kerajaan-kerajaan Madura ingin membebaskan diri dari cengkeraman kekuasaan Kerajaan Mataram mendapat bantuan militer dari Pemerintah Belanda pula.
Keterlibatan pengiriman orang-orang Madura berikutnya saat membantu Belanda melawan Untung Surapati di Jawa Timur tahun 1767 dan pada perang berikutnya tahun 1825-1830 dalam perang Diponegoro yang mencapai wilayah-wilayah antara lain Kertosono6, Madiun, Banyumas, Pekalongan, Tegal, Rembang, Kedu, Pacitan, Purwodadi, Semarang, Yogyakarta, dan Surakarta. Pada masa tersebut sangat mungkin orang-orang Madura setelah perang akhirnya menetap di Jawa. Manduro adalah salah satu tempat yang dituju karena daerah geografi yang sama dengan Madura tempat asalnya.
Jika dirunut lebih ke belakang, tahun 1647- 1677 terjadi pemberontakan Trunajaya seorang bangsawan dari Madura. Melalui daerah Rembang setelah menyisir pantai utara Pulau Jawa dari Madura, Trunajaya bersama pasukannya berhasil menaklukkan Kerajaan Mataram dan memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram di Kediri. Saat Trunajaya dapat ditaklukan tahun 1679, bahwa sangat mungkin orang- orang Madura pengikut Trunajaya melarikan diri daerah-daerah di sekitar Kediri seperti Malang, Kertosono, atau Jombang ketika pusat pemerintahan di Kediri berhasil dikuasai oleh prajurit-prajurit dari Kerajaan Mataram yang dibantu oleh VOC dan Arung Palaka dari Kerajaan Bone, Sulawesi. Maka masuk akal apa yang disampaikan oleh Sekretaris Desa Manduro yang bernama Warito.
Hal menarik lainnya tentang keberadaan orang-orang Madura di Desa Manduro dapat pula dikaitkan dengan sejarah berdirinya Kerajaan Majapahit, bahwa ada disinggung tentang keterlibatan orang-orang Madura yang dipimpin Arya Wiraraja dalam membantu Raden Wijaya membuka tanah baru di Hutan Tarik yang akhirnya menjadi besar, dan berkembang pesat menjadi sebuah kerajaan besar yang disebut Majapahit tahun 1293 Masehi. Dalam sejarahnya Kerajaan Majapahit adalah Kerajaan Hindu terbesar dalam sejarah perkembangan kerajaan-kerajaan di Jawa.
Pertanyaan yang muncul adalah, bilamana Kerajaan Majapahit diperkirakan berdiri di lembah dekat sungai Brantas, maka situs kerajaan diperkirakan berada di wilayah Kabupaten Mojokerto. Kabupaten Mojokerto sendiri berbatasan langsung dengan Kabupaten Jombang.7 Bagaimana mungkin orang-orang Majapahit tinggal di pegunungan-pegunungan seperti keberadaan orang-orang Manduro saat ini?
Alternatif jawaban adalah diperkirakan saat terjadinya penyerangan terhadap Kerajaan Majapahit oleh Demak yang beragama Islam pada tahun 1475, hingga jejak Kerajaan Majapahit menghilang dalam kegelapan sejarah. Rakyat Kerajaan Majapahit menyingkir ke gunung-gunung. Contoh yang dapat dikemukakan adalah masyarakat Tengger yang ada di sekitar Gunung Bromo diduga masih lekat dalam kepercayaan Hindu peninggalan Kerajaan Majapahit. Hal ini bisa pula terjadi dengan orang-orang keturunan Madura yang tentunya telah sangat berkembang jika keberadaannya dimulai sejak awal berdirinya Kerajaan Majapahit, menyingkir ke pegunungan- pegunungan, dan Manduro adalah salah satu tempat yang memungkinkan.
Di Desa Manduro tepatnya di Dusun Gesing bagian Utara masih berupa hutan, terdapat bekas bangunan-bangunan yang hanya tinggal puing- puing batu. Tidak jelas puing-puing tersebut merupakan bangunan apa dan peninggalan masa apa. Peninggalan masa Belanda ataukah bangunan peninggalan masa kerajaan Majapahit mengingat dekat dengan wilayah Mojokerto dan wilayah Jombang. Sampai sekarang belum ada penelitian arkeologi yang dilakukan untuk mengungkap peninggalan-peninggalan tersebut. Tetapi penduduk Manduro menyakininya sebagai peninggalan zaman kerajaan Majapahit dan peninggalan zaman Wali/ Sunan terutama Sunan Geseng.
Gelombang kehadiran orang-orang Madura di Jombang selanjutnya tidak banyak diketahui. Menurut Kuntowijoyo, emigrasi penduduk Madura ke Jawa memang telah menjadi sejarah yang panjang. ” ekologi tegai telah mendorong perpindahan penduduk ke Jawa untuk mencari tanah yang lebih baik dan mencari mata pencaharian….”.
Emigrasi yang tajam terjadi sekitar tahun 1900-1930 dari Madura ke Jawa. Dibukanya perkebunan di Jawa Timur menarik orang Madura untuk menjadi buruh di perkebunan. Akibatnya populasi di Madura mengalami penurunan yang tajam. Sebagaimana dikemukakan Kuntowijoyo mengenai populasi penduduk Madura pada sekitar tahun tersebut ” Penurunan yang tajam terjadi dalam periode antara tahun 1900 hingga 1920, berturut-turut dari 1. 750.511 menjadi 1.738.926. Penduduk kota Sumenep, Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan turun tajam sekali dalam dasawarsa antara tahun 1920 hingga 1930 ….”. Lebih lanjut
Kuntowijoyo menguraikan ” bahwa selain migran-migran temporer, sampai tahun 1930 pemukim-pemukim baru orang Madura banyak yang datang dan menetap di Jawa Timur, dan Jombang adalah salah satu tempat tujuan. Hingga tahun 1930 tercatat orang-orang Madura yang menetap di Jombang mencapai 936 jiwa.
Paparan di atas memberikan asumsi, bahwa sangat mungkin keberadaan orang Madura di Desa Manduro yang saat itu masih berupa hutan, berawal dari jatuhnya Kerajaan Majapahit. Asumsi ini didukung ceritera yang berkembang di kalangan penduduk Manduro tentang situs peninggalan Majapahit dan diperkuat dengan cerita tentang Sunan Geseng yang diyakini pernah bertempat tinggal di Manduro. Sunan Geseng adalah salah satu Wali Jawa yang ikut andil menyebarkan agama Islam pada sekitar abad XV. Bila keberadaan awal penduduk Manduro dikaitkan dengan masa perang Trunajaya sangatlah tidak mungkin, karena perang Trunajaya terjadi pada sekitar abad XVII, maka penduduk Manduro tidak akan mempunyai cerita tentang situs Majapahit dan Sunan Geseng.
Daerah yang pertama kali dijadikan tempat tinggal oleh kedua pelarian saat itu diduga dinamakan Dusun Gesing. Hal ini mungkin saja terjadi mengingat di Dusun Gesing banyak peninggalan-peninggalan sejarah yang belum terungkap, juga peninggalan-peninggalan masa penjajahan Belanda.
Nama Dusun Gesing sendiri diambil dari nama Sunan Geseng. Menurut cerita, pada masa hidupnya Sunan Geseng dalam perjalanan penyebaran agama Islam sampai di suatu daerah yang sekarang bernama Gesing. Dibandingkan dusun lainnya, banyak mitos yang berkembang di Dusun Gesing. Antara lain ada tempat yang dikeramatkan yang dinamakan Sendang Weji (gambar 1 dan 2). Dikeramatkan karena dianggap sebagai tempat ‘Nyilem’-nya Sunan Geseng. Bagi penduduk Gesing, Sunan Geseng datang dan menetap di dusun tersebut dan ‘Nyilem’ (menghilang) ke dalam Sendang Weji. Di Sendang Weji menurut penduduk setempat sering terjadi keanehan-keanehan. Keanehan pertama yang pernah terjadi antara lain saat terjadi Gestapu tahun 1965, Sendang Weji ‘nyumber’ darah. Keanehan kedua yaitu saat Indonesia ramai dengan ‘Petrus’ (penembak misterius), permukaan Sendang Weji tertutup ‘rajut’ selama tujuh hari menjelang maraknya kejadian Petrus. Keanehan ketiga yakni di dalam Sendang Weji nampak gambar ‘Gunungan’ saat terjadi pergantian pemerintahan Presiden Megawati kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono.
Demikian pula Sendang Weji dianggap sebagai ‘Yoni’ bagi Dusun Gesing, sehingga setiap acara selamatan desa di Sendang Weji selalu diletakkan ‘tumpeng’ lengkap dengan sajen beserta hasil-hasil panen penduduk Dusun Gesing. Namun ada juga yang berpendapat bahwa daerah yang pertama kali terbentuk adalah Mato’an. Alasannya adalah nama Mato’an selalu dipakai oleh tiga Dusun yang lain seperti Mato’kan Gesing, Mato’an Guwo, dan Mato’an Ndanden.
Asal muasal dusun-dusun yang lain nampaknya juga memiliki cerita-cerita yang unik. Dusun Guwo umpamanya, disebut Dusun Guwo karena tepat di selatan desa ditemukan dinding batu terjal. Menurut sesepuh kampung, di balik batu itu terdapat mulut gua dalam keadaan terkunci (gambar 3). Berdasarkan keyakinan penduduk Manduro hanya satu orang yang sanggup membuka batu besar sebagai pintu goa tersebut. Orang tersebut adalah Kepala Desa Manduro yang sudah almarhum, yakni Pak Saitun. Penduduk Manduro mempercayai bahwa goa tersebut dulunya dipercaya sebagai tempat pertapaan Bung Karno ketika berjuang memerdekakan bangsa Indonesia.
Cerita tentang asal usul Dusun Mato’an lain lagi. Dusun ini diberi nama Mato’an konon berasal dari ‘patokan’ atau tugu. Penduduk setempat meyakini, bahwa pada saat-saat tertentu ‘patokan’ atau tugu tersebut dapat muncul dan menghilang secara tiba-tiba.
Asal usul pemberian nama Desa Manduro tidak ada yang dapat menjelaskan. Ada kemungkinan nama Desa Manduro dulunya adalah Desa Madura, dan disebut Desa Madura karena komunitas penduduk desa tersebut adalah orang Madura. Perubahan nama Madura menjadi Manduro terdapat dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah, dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai gejala bahasa ‘epentesis’. Epentesis adalah penambahan fonem dalam satu suku kata. Contoh: Upama menjadi Umpama, dan Sadur menjadi Sandur.
Kemungkinan kedua adalah. Idiolek masyarakat setempat. Idiolek adalah sistem ujaran individu. Sistem ujaran individu bila dilakukan oleh banyak orang dalam suatu komunitas masyarakat tertentu, maka akan menjadi ‘dialek’ masyarakat tersebut. Maka sangat mungkin kata Madura diujarkan atau diucapkan Manduro oleh masyarakat Jombang, atau menjadi Meduro oleh kebanyakan masyarakat Surabaya.
Kemungkinan ketiga, bahwa masyarakat Madura pada umumnya amat memuja tokoh wayang yang bernama Baladewa. Baladewa adalah raja dari Kerajaan Manduro. Bisa sangat mungkin nama Desa Manduro terinspirasi nama Kerajaan tokoh wayang Baladewa ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Pertunjukan Sandur Manduro/ Trinil Windrowati; ISI Press, Solo, 2010. hlm. 23-34, (CB-D13/2010-439)

Kampung-Kampung Kuno pada Masa Kerajaan Surabaya

Dalam memahami keberadaan kampung-kampung kuno yang ada di kota Surabaya pada masa kerajaan (Kerajaan Surabaya) maka tidak dapat lepas terhadap pemahaman konsep tata kota yang biasa berlaku pada kota-kota di Jawa secara umum. Tata kota pada Kerajaan Surabaya juga sangat dipengaruhi oleh pandangan kosmos (cosmic state) yang salah satu cirinya adalah berpedoman pada arah penjuru mata angin (Robert Heine-Gelderen. 1982:12). Pada tata kota di Jawa arah utama mata angin ada empat: utara-selatan-timur-barat. Selain itu pada konsep tata kota di Jawa juga menggunakan dasar pemikiran bahwa kota seperti rumah dan merupakan sesuatu yang “hidup “. Oleh karena itu penyusunannya harus mengambil pola tubuh manusia dengan tata letaknya memperhatikan arah mata angin.
Utara adalah letak kepala, jadi selalu resmi dan kebesaran, sedang selatan letak kaki dan kelamin merupkan sifat yang kekeluargaan dan keturunan. Ke timur adalah arah matahari terbit dan tangan kanan, artinya keqa atau yang berhubungan dengan keduniawian. Ke barat merupakan arah matahari terbenam atau tangan kiri, artinya keija atau-yang berhubungan dengan kejiwaan rohaniah dan sakral. Sedang di tengah adalah tempat jantung yaitu pusat kehidupan (Surabaya Post. 29 Maret 1981).
Letak-letak kampung pada masa Kerajaan Surabaya ternyata juga mengikuti konsep tata ruang kota di Jawa. Pembagian wilayah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

Daerah tengah tempat Keraton Surabaya berada.
Pusat dari Keraton Surabaya adalah di Kampung Kraton Disebelah utara Kampung Kraton ini terdapat alun-alun lor (alun-alun utara) yang lokasinya berada disekitar Jalan Alun-alun (sekarang Jalan Pahlawan). Di alun-alun sebelah utara ini terdapat Kampung Kawatan (yang berarti semacam pakis halus). Kampung Kebon Rojo (kebun milik raja), Kampung Serayan (yang berarti hijau segar), dan Kampung Wiro (berasal dan kata prawiro yang berarti gagah perkasa atau pahlawan atau kampung tempat tinggal para pahlawan). Di selatar. Kampung Kraton terdapat alun-alun kidul (alun-alun selatan) yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan alun-alun Contong. Di tempat ini juga terdapat Kampung Carikan (tempat tinggal carik keraton yang mempunyai tugas untuk menerima tamu yang berasal dari arah selatan). Tidak jauh dari tempat ini ada Kampung Gemblongan (gemblongan berasal dan kata “gembong” yang berarti tempat pendaratan raja yang berbentuk dua perahu besar yang disatukan).
Dari uraian di atas terlihat bahwa nama-nama kampung disekitar Kampung Kraton merupakan suatu sistem yang lengkap dan dapat memberikan gambaran yang cukup jelas tentang keadaan yang berlaku pada waktu itu.

Daerah barat berhubungan dengan kejiwaan dan kesakralan.
Di daerah yang berada di sebelah barat Kraton Surabaya terletak kampung- kampung sebagai berikut: Kampung Temenggungan (kampung tempat tinggal para tumenggung), Kampung Maspatih (kampung tempat tinggal patih dalam kerajaan).. Sedang patih yang bertugas di luar bertempat tinggal di Kampung Kepatihan. Selain itu ada Kampung Praban ( kampung tempat tinggal para prabu), Kampung Ronggo (kampung tempat tinggal para ronggo atau pembuat keris), Kampung Bubutan (berasal dari kata butotan yang berarti pintu ngerbang, yaitu kampung tempat jalan untuk keluar masuk khusus pejabat-pejabat negara yang penting). Berbatasan dengan kompleks kraton ada (berasal dari bahasa Portugis “baluarte” yang berarti benteng penguat). Untuk memperidah wilayah kota, maka dari arah selatan kraton dibuatkan taman yaitu di injungan (tunjungan berarti bunga teratai putih) (Radar, 4 April 2001. Hlrn.8).

Daerah timur berhubungan dengan keduniawian
Bagian timur terdiri dari kampung-kampung yang berfungsi sebagai profesi kekaryaan. Yang terdekat dengan Kraton Surabaya adalah Kampung Pandean (kampung tempat tinggal para pande besi), Kampung Plampitan (kampung tempat tinggal para pembuat tikar atau lampit), Kampung Peneleh ( peneleh berasal dari kata “tilih” atau waduk air, jadi merupakan tempat tinggal penjual air), Kampung Undaan kampung tempat penjual sangkar burung), Kampung Pengopohan (kampung tempat i besi yang kasar atau cor), Kampung Pengampon (pengampon berasal dari kata “ampo” yang berarti tanah liat merah atau kampung tempat pembuatan tembikar), Kampung Pecindilan (berasal dari kata “cinde” yaitu kain bermotifkan kembang, jadi pakan kampung tempat membatik atau menyablon), Kampung Pegirian ( berasal kata “giri” yang berarti buruh, jadi merupakan kampung tempat tinggal para buruh). Kampung Ngaglik (berasal dari kata “aglik” yang berarti alat pembersih jadi merupakan kampung tempat tinggal para penenun), Kampung Ketabang sal dari kata “ketabagan” yang berarti tempat menganyam gedeg, jadi merupakan kampung tempat tinggal para pembuat gedeg), Kampung Ondomohen (berasal dari gemoh yang berarti pekerjaan tangan ringan, jadi berarti kampung tempat kerajinan tangan), Kampung gubeng
Yang artinya kain penutup kepala, jadi berarti kampung tempat penghasil kain tutup kepala), Kmpung Tarukan (berasal dari kata “taros” atau “tari”, jadi berarti perkampungan seniman ider, tandak, atau ledek).
Daerah di sebelah timur selain terdiri dari kampung-kampung yang berhubungan dengan profesi pekerjaan seperti yang telah dikemukakan di atas, ternyata juga memiliki kampung-kampung yang berhubungan dengan jabatan tertentu, seperti: Kampung Tambak Bayan (kampung tempat tinggal kebayan), Kampung Kepatihan kampung tempat tinggal patih kerajaan), Kampung Kademangan (kampung tempat para demang), dan Kampumg Keradenan (kampung tempat tinggal raden).

Daerah-daerah khusus
Yang termasuk daerah-daerah khusus, misalnya: Kampung Keputran (kampung tempat tinggal dan mengasuh putra-putri raja), Kampung Sidi Keputran (kampung tempat para guru pengasuh dari putra-putri raja). Kampung Kayon (yang bearti kampung ini berkaitan dengan kesakralan antara wilayah Keputran dengan kampung Pandegiling (kampung para pande giling), Kampung Malang (berasal “walengan” yang berarti kayu yang keras dan baik, jadi merupakan kampung yang berupa perkebunan/ hutan kayu), Kampung Tegalsan (kampung yang berupa ladang iur), Kampung pregolan (kampung tempat regol atau bangunan gapura), Surabayan (kampung yang sekarang digunakan untuk menamai kota SURABAYA, kampung kaliasin (kampung yang berawa tempat pembuangan orang yang memusui raja)(Surabya Post, 30 Mei 1981.)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
penelitian: Perkembangan Kota Dan Dampaknya Terhadap Keberadaan Kampung Kuno Bernilai Historis Di Kota Surabaya/ Drs. Muryadi [dkk]; Lembaga penelitian Universitas Airlangga 2001. hlm.15-19 (CLp-D13/2001-353)