HARI JADI KABUPATEN NGANJUK:

Dari berbagai sumber sejarah diketahui bahwa, disekitar tahun 929 M, di Nganjuk, tepatnya di Desa Candirejo Kecamatan Loceret, telah terjadi periempuran ,hebat antara prajurit Pu Sendok, yang pada waktu itu bergelar Mahamantri I Hino (Panglima Perang) melawan bala tentara Kerajaan Melayu/Sriwijaya.
Sebelumnya pada setiap pertempuran, mulai dari pesisir Jawa sebelah barat hingga Jawa Tengah kemenangan senantiasa ada dipihak bala tentara Melayu. Kemudian pada pertempuran berikutnya, di daerah Nganjuk, bala prajurit Pu Sendok memperoleh kemenangan yang gilang gemilang. Kemenangan ini tidak lain karena Pu Sendok mendapat dukungan penuh dari rakyat desa-desa sekitarnya.
Berkat keberhasilan dalam pertempuran tel’sebut, Pu Sendok dinobatkan menjadi Raja dengan gelar Sri Maharaja Pu Sendok Sri Isanawikrama Dharmatunggadewa. Kurang lebih delapan tahun kemudian, Sri Maharaja Pu Sendok tergugah hatinya untuk mendirikan sebuah tugu kemenangan atau Jayastamba dan sebuah Candi atau Jayamerta. Dan terhadap masyarakat desa sekitar candi, karena jasajasanya didalam membantu pertempuran, oleh Pu Sendok diberi hadiah sebagai desa perdikan atau desa bebas pajak dengan status sima swatantra. :ANJUK LADANG”.
Anjuk berarti tinggi, atau dalam arti simbolis adalah : rnendapat kernenangan yang gilang gemilang; Ladang berarti tanah atau daratan. Sejalan dengan perkembangan zaman kemudian berkerribang menjadi daerah yang lebih luas dan tidak hanya sekedar sebagai sebuah desa. Sedangkan perubahan kata “ANJUK” menjadi Nganjuk, karena proses bahasa, atau merupakan hasil proses perubahan morfhologi bahasa, yang rnenjadi ciri khas dan struktural bahasa Jawa.

Perubahan kata dalam bahasa Jawa ini terjadi karena :
gejala usia tua dan gejala inforn1alisasi, disamping adanya kebiasaan menambah konsonan sengau “NG” (nasalering) pada lingga kata yang diawali dengan suara vokal, yang menunjukkan tempat. Hal demikian inilah yang merubah kata “ANJUK” menjadi “NGANJUK”.

Berdasarkan penelitian L.C. Damais, angka tahun yang tertera pada prasasti Candi Lor adalah tanggal 12 bulan Caitra tahun 859 Caka atau bertepatan dengan tanggal 10 April

937 M. Kalimat yang menunjuk angka tahun tersebut berbunyi :
“SWASTI .QAKAWARSATITA 859 CAITRAMASA TITHI DWADASIKRSNAPAKSA”.
Yang jika diterjemahkan, kurang lebih berbunyi : Selamat Tahun Saka telah berjalan 859 Tahun Pertengahan pertama bulan •Caitra tanggal 12″.

Berdasarkan kajian dan analisis sejarah inilah, maka tanggal 10 April 937 M disepakati sebagai hari Jadi Nganjuk, selanjutnya dengan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Nganjuk Nomor : 495 Tahun 1993 ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Nganjuk.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sejarah Singkat Kabipaten Nganjuk, Panitia Harijadi Kabupaten Nganjuk [1996]

Trenggalek Masa Pra Perdikan

Sebelum diketemukan sumber yang bersifat tertulis maka daerah itu mengalami masa Prasejarah. Sedangkan di Trenggalek jaman Sejarah akan ditandai dengan adanya prasasti yang pertama kalinya muncul berbentuk prasasti Kampak atau dikenal dengan nama lahirnya Perdikan Kampak.

Pada jaman pra sejarah, Trenggalek telah dihuni oleh manusia dengan bukti diketemukannya benda-benda yang merupakan hasil jaman Nirlekha. Dari hasil penelitian serta lokaei benda-benda pra sejarah tadi dapatlah direkonatruksikan, per jalanan manusia-manusia pemula di daerah Trenggalek itu dalam beberapa jalur, yaitu :

Jalur Pertam, dari Pacitan menuju Panggul perjalanan diteruskan ke Dongko, dari Dongko menuju ke Pule kemudian – menuju ke Karangan dari sini dengan menyusuri sungai Ngasinan menuju ke Durenan. Kemudian  manusia – manusia Trenggalek purba itu melanjutkan perjalanan ke Wajak daerah Tulungagung.

Jalur kedua, berangkat dari Pacitan ke Panggul menuju Dongko, kemudian melalui tanjakan Ngerdani turun kedaerah Kampak laju ke Gandusari, dari sini perjalanan dilanjutkan ke Tulungagung.

Jalur ketiga, beranjak dari Pacitan menuju ke Panggul menyusuri tepi Samudra Indonesia menuju ke Munjungan, diteruskan ke Prigi lalu ke Wajak.

Demikianlah rekonatruksi perjalanan manusiar-manusia pra sejarah yang berlangsung bolak-balik antara Pacitan dengan Wajak. Jalur-jalur perjalanan tersebut dapat dibuktlkan dengan diketemukannya artefak-artefak jaman batu besar sepert: menhir, mortar, batu saji, batu dakon, palinggih batu, lumpang batu dsb. Yang kesemuanya benda-benda tadi tersebar di daerah-daerah bekas Jalur-jalur lalu-lintas mereka Itu.

HR. van Heekeren menyatakan bahwa Homowajakensis (manusia purba Wajak) hidup pada masa Plestosin atas, sedangkan peninggalan-peninggalan Pacitan berkisar antara 8.000 sampai 35.000 tahun yang lalu. Akibatnya masa megaliticum atau masa Neoliticum itulah yang meliputi daerah Trenggalek ketika dihuni oleh manuala Trenggalek purba.

Satu hal yang perlu dicatat disini bahwa manusia-manusia Trenggalek pada waktu itu dapat direkonstruksikan lebih tua dibandingkan dengan manusia Wajak dan lebih muda di banding dengan manusia-manusia Sampung Ponorogo.

Mengingat masa itu masyarakatnya sudah mengenal pertanian, maka dari segi soslal, masyarakat tadi sudah mengenal struktur atau stratifikasi sosial walaupun dalam bentuk sangat sederhana. Sedangkan masalah perekonomian dan kebudayaan telah pula mereka kenal dan mereka anut serta dikerjakan oleh masyarakat pendukungnya.

Beakhirnya masa prasejarah berarti dimulainya masa sejarah dimana tulisan mulai dikenal pada saat itu. Untuk itu perdikan Kampak merupakan tonggak sejarah Kabupaten – Trenggalek yang tidak dapat diabaikan. Lahirnya perdikan Kampak ditandai dengan adanya prasasti Kampak yang dibuat oleh raja Sindok pada t ahun 651 Syaka atau 929 Masehi. Dari prasasti itu dapat diketahui bahwa Trenggalek pada masa itu sudah memiliki daerah-daerah yang mendapatkan hak otonomi atau swatantra. Lebih jelas lagi diketengahkan bah­wa perdikan Kampak berbatasan dengan mahasamudra ( Samudra Indonesia ) disebelah Selatan yang pada waktu itu wilayahnya meliputi Panggul Munjungan dan Prigi. Selanjutnya disinggung pula daerah Dawuhan yang sekarang daerah ini juga masih dap at dijumpai di Trenggalek.

Setelah masa Pu Sindok dengan melalui masa raja Dharmawangsa lahirlah di Java Timur kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh raja Airlangga. Hanya sayangnya pada masa ini tidak banyak diketahui kesejarahannya, dikarenakan tidak ditemuinya data atau mungkin belum diketemukannya data tentang ma­sa tersebut. Namun tidak dapat disangkal bahwa wilayah Trenggalek termasuk dalam kawasan Kahuripan yang kemudian berkesinambungan menjadi wilayah kerajaan Kediri. Dari jaman Kediri hanya ada beberapa hal yang dapat dicatat, utamanya pada masa ini dengan munculnya prasasti- Kamulan yang terletak didesa Kamulan Kecamatan Durenan – Kabupaten Trenggalek. Bertolak dari prasasti Kamulan dapat1ah diajukan suatu masa yakni lahirnya perdikan Kamulan.

Di dalam prasasti Kamulan dicantumkan tahun pembuatannya yaitu tahun 1116 caka atau tahun 1194 Masehi. Prasasti tadi dikeluarkan oleh raja Sri Sarweswara Triwikramawataranindita Sragga Lancana Dikwijayotunggadewa atau biasa dikenal dengan naoa Kertajaya. Raja inilah yang berhasil mengusir musuh-musuhnya dari daerah Katang-katang berkat bantuan rakyat Kamulan. Berdasar atas prasasti inilah ditetapkan “Hari Jadi Kabupaten Trenggalek pada hari  Rabu Kliwon ” tanggal 31 bulan Agustufi tahun 1194.

Hari dan tanggal tersebut dijadikan hari jadi atau hari la­hirnya Kabupaten Trenggalek berdasarkan data sejarah yang ditemui di Trenggalek antara lain :

Pertama, Prasejarah daerah Trenggalek menunjukkan – bahwa daerah itu telah dihuni manusia, tetapi jaman ini bersifat masih nisbi sekali.

Kedua, Prasasti Kampak tidak jelas hari dan tanggalnya kapan prasasti itu dilaksanak an isinya.

Ketiga, Hanya prasasti Kamulan yang memi1iki informasi cukup lengkap sehingga mampulah prasasti Kamulan dijadikan – tonggak sejarah lahirnya  Kabupaten Trenggalek secara analitis, historis, yuridie formal yang dapat dipertanggung jawabkan.

 

Drs. MUKAYAT, Tim Sejarah Kabupaten Trenggalek Dan Tim Konsultan IKIP MALANG: Ringkasan Sejarah Trenggalek , Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek Pebruari 1982, hlm.7-10

Trenggalek di Gabungkan

Sejak tahun 1926 telah diadakan perubahan pemerintahan oleh pihak Belanda,perubahan ini di Trenggalek dilaksanakan pada tahun 1935, sejak saat ini Trenggalek digabungkansebagian daerahnya dimasukkan kabupaten Tulungagung dan sebagian yang lainnya dimasukkan kabupaten Pacitan.

Akibatnya hal ini Sama dengan pada masa sebelum adanya kabupaten Trenggalek awal,penggabungan ini mengakibatkan Trenggalek kurang mendapat perhatian. Dengan demikian maka keadaan Trenggalek pada masa itu tidak banyak yang dapat dicatat.

Trenggalek pada masa Revolusl Fisik ditandai dengan masuknya daerah itu kedalam wilayah negara Republik Indonesia.  Berita masuknya daerah Trenggalek kedalam negara Kesatuan – Republik Indonesia meskipun secara tidak resmi telah terdengar secara lisan dan tersebar serta didengar oleh seluruh penduduk desa-desa di Trenggalek.

Dalam masa ini Trenggalek juga mendapat perhatian dari pembesar-pembesar negara antara lain : Menteri AgamaKyai Haji Masjkur yang didampingi oleh Mr. Sunaryo sebagai sekjen Depag. Datang pula Menteri Dalam negeri Drs.Susanto Tirtoprodjo, SH serta menteri Negara dr. Sukiman Wirjosandjojo yang sampai di daerah Trenggalek dengan jalan kaki.Panglima Besar Jendral Sudirmanpun pernah dua kali mengunjungi Trenggalek. Kunjungannya yang terakhir pada tanggal 24 Januari 1949 menuju desa Nglongsor.

Sekitar Konfrensi Meja Bundar yang membuahkan pemerintahan Republik Indonesia Serikat imbasnya terasa pula di Treng­galek,hal ini dapat diketahui dengan adanya serah terima kekuasaan yang dilakukan oleh Mukardi, R. Roestamadji dan Sukardjono dari pihak RI di Trenggalek dengan Mayor Craan dan Karis Sumadi sebagai wakil pihak Belanda.

Dengan demikian selesailah masa penggabungan di Treng­galek yang dipenuhi oleh peristiwa-peristiwa duka dan lara. Namun berkat rachmat Tuhan Yang Maha Esa fajar telah menyingsing dan Trenggalek mengalami masa cemerlang serta masa pembangunan demi tercapainya keagungan bangsa dan negara.

Sejarah Kabupaten Trenggalek memang unik, hal ini tercermin dalam periodisasinya yang pernah mengalami masa penggabungan Periode Trenggalek awal yang mengetengahkan perkembangan dinamika poleksosbud Trenggalek – 1830 M sampai 1932 yang dilanjutkan dengan masa Trenggalek digabungkan yang meliputi awal Proklamasi sampai Revolusi Fisik.

 

Drs. MUKAYAT, Tim Sejarah Kabupaten Trenggalek Dan Tim Konsultan IKIP MALANG: Ringkasan Sejarah Trenggalek , Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek Pebruari 1982. Hlm. 15-16


Kabupaten Trenggalek Awal

Yang dlmaksud dengan Trenggalek Awal   ialah timbul tenggelam pemerintahan  yang mengemudikan kabupaten Trenggalek Peristiwa sebelum 1830 yang menggoncangkan pulau Jawa adalah peristiva pembunuhan penduduk Cina di Batavia secara besar-besaran yang dilaksanakan oleh VOC pada tanggal 10 Oktober 1940  yang dikenal dengan nama perang Pacino atau geger Pacinan.

Akibatnya Mas Garendi yang bergelar Sunan Kuning membantu penduduk Cina dan mengadakan penberontakan menyerang Kartasura pada 30 Juni 1742. Akibat dari peberontakan ini Sunan Paku Bumana II terpaksa melarikan diri ke Ponorogo, Dengan bantuan Bupati Mertodiningrat dari Ponorogo Sunan Paku Buvana II berhasil menumpas peaberontakan tadi yang mengakibatkan putra Bupati tadi diangkat sebagai Bupati Trenggalek yang pertama pada tahun 1743. Bupati Treng­galek pertama inilah yang bernama Sumotruno. Bupati Sumotruno digantikan oleh saudaranya sendirl Bupati Jayanagara yang merangkap penguasa tunggal di Sawo Ponorogo.

Waktu perang Mangkubumen, penguasa Trenggalek adalah Ngabei Surengrana yang pada awalnya membantu Mas Said kemudian berganti haluan menggabungkan diri dan mengikuti jejak Sultan Hamengkubuwana I. Pada akhrir peperangan Mangkubumen yang mencetuakan perjanjian fiiyanti pada 13 Pebruari 1755 mengakibatkan Trenggalek dibagi menjadi dua bagian, bagian Timur masuk wilayah Ngrawa dan bagian Barat serta Selatan termasuk kabupaten Pacitan. Hal inl dapat dlbuktlkan dengan diketemukannya tugu perbatasan dari batu yang terdapat didesa Gayam kecamatan Panggul.

Baru pada tahun 1830 setelah perang Diponegaran selesai daerah Trenggalek langsung menjadi milik Belanda. Susunan tata pemerintahan pada waktu itu tidak banyak diketahui hanya dapat diperkirakan kalau tidak terlampau jauh bedanya dengan daerah-daerah wilayah kerajaan Mataram yang lain.

Pada tahun 1842 Bupati Trenggalek Raden Tumenggung Mangunnagoro meninggal dan digantikan oleh Raden Tumenggung Ariyakusuma Adinoto yang sejak awalnya menjabat sebagai bupati Besuki. Raden Tumenggung Ariyakusuma Adinoto pada tahun 1843 dipindahkan ke Berbek daerah Nganjuk, sehingga jabatan bupati daerah Trenggalek masa ini lowong, Untuk mengisi kekosongan ini diangkatlah Raden Ngabei Joyopuspo yang pada awalnya menjabat Patih Trenggalek menjadi bupati Trenggalek dengan gelar Raden Tumenggung Pusponagoro. Tidak selang lana Raden Tumenggung Pusponagoro wafat, sebagai gantinya diangkatlah Wedono Tulungagung : Raden Gondokusumo menantu Bupati Tulungagung se­bagai bupati Trenggalek dengan gelar Tumenggung Sumoadiningrat pada tahun 1845 M.

Secara berurutan Bupatl-bupati Trenggalek awal adalah sebagai berlkut :

Sumotruno                                        1743    –           …..

Joyonagoro                `                       …..     –           …..

Mangundirono`                               …..      –           …..

MangunnagoroI                              1830    –          …..

MangunnagoroII                            …..       –           1842

Aryokusumo Adinoto                     1842             1843

 Pusponagoro                                   1843               1845

Sumo diningrat                                1845              1850

Mangundiredjo                                1850               1894

Widjojokusumo                               1894                1905

Purbonagoro                                     1905     –         1932

 

Drs. MUKAYAT, Tim Sejarah Kabupaten Trenggalek Dan Tim Konsultan IKIP MALANG: Ringkasan Sejarah Trenggalek , Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek Pebruari 1982, hlm. 13-15

Lambang Daerah Kabupaten Trenggalek

 

Arti Lambang Daerah Kabupaten Trenggalek

Arti Lambang Daerah Kabupaten Trenggalek.docx

Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1965

1.   Sudut lima perisai mengingatkan kita pada kelima unsur-unsur yang tercantum pada Pancasila, maksuknya rakyat Trenggalek menerima Pancasila sebagai Dasar Negara.

Warna dasar hijau berarti ketenteraman, maksudnya rakyat Trenggalek seperti yang dilambangkan ialah berada dalam ketenteraman. Berbingkai kuning emas artinya dinamis, maksudnya rakyat Trenggalek didaam ketenteraman selalu berjiwa dinamis.

2.  Selendang warna dasar merah, berhuruf putih, mengingatkan kita kepada shang dwiwarna, ialah keberanian yang berdasarkan kepada kesucian untuk mencapai apa yang termaksud dilam semboyan lambang : YWALITA PRAJA KARANA (ialah cemerlang karena rakyat ).

3.  Padi dan Kapas yang berarti lambang kemakmuran sandang dan        panganmaksudnya rakyat Trenggalek bercita-cita untuk tidak kurang sandang pangan

4.Lingkaran artinya kebulatan. Warna merah artinya berani. Rantai artinya persatuan. Warna putih artinya suci.

Rantai dan lingkaran maksudnya rakyat Trenggalek cinta kepada persatuan yang bulat / utuh.

Warna merah dan putih menunjukkan sifat rakyat Trenggalek yang berani karena benar.

5.  Padi 17 butir, Kapas 8 buah, dan Rantai 43 buah mengingatkan kepada hari lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia 17 A gusius 1945.

6.  Kantil tegak artinya bangunan Warna hitam artinya kokoh/kuat. Warna putih arrtinya cinta

Tonjolan tiga adalah trilogi, artinya raky.it Trenggalek tetap berfegang teguh kepada :

1.     Pancasila.

2.     Undang – Undang Dasar 1945

3.     Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

7.   DENGAN IMAN, ILMU DAN AMAL.

Bintang ialah lambang Ketuhanan Yang Mahaesa, maksudnya rakyat Trengga­lek mempunyai Kepercayaan kuat kepada Agama yang berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa. Berwarna kuning emas, berarti kebesaran / keagungan Tuhan.

 

Drs. MUKAYAT, Tim Sejarah Kabupaten Trenggalek Dan Tim Konsultan IKIP MALANG: Ringkasan Sejarah Trenggalek , Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek Pebruari 1982, hlm. i

 

Pemerintahan Wiraraja Dan Pembangunan Kota Majapahit

Dalam tahun 1268-1292 Kerajaan Singosari dipimpin oleh Raja Kertanegara yang mempunyai dua orang menantu ialah R. Wijaya dan R. Ardaraja. Pada batu bersurat didesa Butak diceriterakan, bahwa pada suatu hari Raja Kertanegara diserang ole Jayakatwang dari negeri Gelang-gelang (Daha), yang maksudnya untuk menjatuhkan Kertanegara beserta singgasananya dinegeri Tumapel. Setelah Kertanegara mendengar bahwa musuh datang, dikirimkanlah R. Wijaya dan R. Ardaraja untuk memukul mundur musuhnya. Dikampung Kedung Peluk kedua belah pihak betemu dan api peperangan mulai dinyalakan. Lawan dapat dikalahkan dan mereka lari tunggang langgang kekampung Lemah Batang dan Pulungan. Tetapi dari kampung Rakut Carat tiba-tiba datanglah lawan dengan tidak tersangka-sangka jang mempunyai kekuatan besar, dan menan­tu-menantu Kertanegara terpukul mundur. R. Wijaya dikejar oleh musuhnya, ia terus lari ke negeri Kudadu.

 

Diceriterakan bahwa Raja Kertanegara mati terbunuh, sehingga sejak itu Singosari berada dibawah perintah kerajaan Daha (Kediri). Bagaimana sikap Raden Wijaya atas kehilangan kerajaan mertuanya? Dari Kudadu, ia memutuskan untuk menyeberang kepulau Madura, guna minta bantuan Wiraraja (keratonnya di Batuputih, Sumenep), Ialah ra­ja Madura yang berkedudukan di Sumenep atas angkatan Raja Kerta­negara. Raden Wijaya diterima sepantasnya oleh Wiraraja. Mereka berjanji untuk nantinja membagi tanah Jawa menjadi dua bagian. SelanjutnYa Wiraraja menganjurkan supaya R. Wijaya pergi ke Kediri, ibukota Jajakatwang menjalankan pemerintahan.

Disana ia supaya menundukkan diri kepada Jajakatwang dan kalau sudah menjadi kesayangan diistana ia supaya minta tanah Tarik untuk dibabat bersama-sama dengan orang Madura, guna dijadikan kota.

 

Pembangunan Kota Madjapahit.

Akhirnya dengan segala kecerdikan Raden Wijaya, Jayakatwang mengidzinkannya, tanah Tarik untuk dijadikan tempat tinggal. Tanah tersebut tidak subur, sehingga sukar sekali untuk mencari makanan. Pada suatu ketika seorang pengikut Raden Wijaya dari Madura merasa lapar dan ia terus menaiki pohon Maja yang daunnya berduri serta segera memetik buahnya. Setelah buah itu dimakannya terasa sangat pahit dan scgera dibuangnya. Sejak itulah dimana tempat buah Maja yang Pahit itu dilemparkannja disebut Majapahit.

Demikianlah diceritakan dalam kitab Pararaton. Akan tetapi, hal itu juga dapat sebagai, perumpamaan bahwa Majapahit didirikan atas pahit getirnja perjuangan. Selain dari itu Majapahit juga disebut Wilwatikta.

Semasa hidupnya Raja Kertanegara, pada suatu hari datanglah utusan negeri Cina menghadap Radja, yang maksudnja supaya Singosari tunduk kepada negeri Cina. Karena itu Kertanegara marah dan melukai muka utusan itu. Oleh sebab itu datanglah bala tentara negeri Cina yang diutus oleh Rajanya yang bernama Kubilai Khan untuk membalas dendam. Tentara Cina datang dipulau Jawa pada tahun 1293, dimana tidak dapat bertemu dengan Kertanegara karena telah meninggal dunia setahun sebelumnya. Tentara Kubilai Khan dipimpin oleh tiga Jendral ialah : Che-pi, Yi-K’o-mi-su dan Kau Hsing. Sewaktu mereka berangkat menuju Singosari, bertemulah dengan Raden Wijaya. Mereka dibelokkan menuju ke Kediri dan dihadapkan dengan Jajakatwang yang memang sudah mulai menyerang Majapahit. Meskipun Jajakatwang memiliki tentara ber-puluh puluh ribu orang jumlahnya, akhirnya dapat dipukul mundur juga oleh tentara Kubilai Khan. Sebenarnya tentara Cina kena tipu muslihat, karena balas dendam tersebut ditujukan kepada Raja Kertanegara, bukan ke­pada Jajakatwang.

Waktu itu Raden Wijaya sudah kembali ke Majapahit. Selanjutnya, bagaimana sikapnya terhadap tentara Cina yang ada dipulau Jawa? Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa Raden Wijaya banyak membunuh tentara Cina dengan bantuan orang Kediri dan orang Majapahit sendiri. Sebagian pula dari tentara Cina dapat dihalau meninggalkan pulau Jawa. Jayakatwang kemudian dapat dijatuhkan pula oleh Raden Wijaya dan dengan demikian pula Daha (Kediri) ada dibawah kekuasaan Majapahit dan Raden Wijaya sebagai Rajanya dengan gelar Kertarajasa Jayawardana. Adapun Wiraraja dengan pasukan Maduranya yang banyak memberi pertolongan diangkat menjadi Radja di Lumajang. (Lebih luas dari Lumajang sekarang sainpai keujung timur). Setelah Wiraraja dengan gelar Bayjak Wide mengakhiri kekuasaannya di Sumenep, daerah ini mengalami kemunduran.

 

Pimpinan di Madura setelah Wiraraja.

Yang mengganti memimpin pulau Madura ialah saudara dari Wiraraja yang bemama Ario Bangah, berkeraton didesa Benasareh, Rubaru, di daerah Sumenep juga. Kemudian pimpinan diganti oleh anaknya yang bernama Ario Danurwendo bergelar Lembusuranggono dan keratonnya dipindah kedesa Tanjung, dae­rah Bluto. Karena pulau Madura mengalami kemunduran, tidak banyak tulisan- tulisan atau ceritera ceritera mengenai kerajaan pulau Garam pada saat itu. Dari tangan Danurwendo dipindah lagi kepada anaknya bernama Panembahan Joharsari. Joharsari diganti pula oleh anaknja bernama Panembahan Mondoroko, yang berkeraton digunung Keles, daerah Ambunten, Penembahan ini diganti pula oleh anaknya, dan Madura mengalami 2 orang pimpinan, jalah Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung (artinya Sumberagung didaerah Guluk-guluk).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: SEJARAH MADURA SELAYANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm.5-7

Masjid di Jawa Timur

Kata msgd, terbentuk dari asal kata s-g-d yang berarti menyerahkan diri, menyujudkan diri, meniarapkan diri ( to prostrate oneself ). Dalam bahasa Aramea kata tersebut berarti tonggak prajasti ( semacam Yupa ), tiang suci ( menhir ) atau mungkin pula berarti tempat pemujaan. Masjid dalam bahasa Arab, rupanya berasal dari kata bahasa Aramea tersebut atau mungkin merupakan bentukan dari kata bahasa Arab ‘sujada’, yang juga berarti menyujudkan diri. 20.)

Kata masjid dalam al Qur’an terutama dipergunakan untuk menyebut al Masjid al Haram serta al Masjid al Aksa, demikian juga dipergunakan untuk menyebut tempat-tempat suci lainnya yang tidak diperuntukkan bagi agama Islam. Di Mekah pada mulanya masyarakat Islam tidaklah memiliki tempat khusus untuk melakukan salat. Muhammou sendiri bersama-sama Ali dan pengikut- pengikutnya yang pertama, melakukan salat disuatu lembah sempit yang tersembunyi letaknya. Kemudian hari dilakukannya disamping ka’bah atau dirumahnya sendiri.

Dengan demikian nampaklah bahwa bagi Muhammad, bangunan suci bukanlah merupakan suatu kebutuhan yang fundamentil. Setiap tempat adalah sama bagi Tuhan, karnanya maka menyujudkan diri dimanapun juga dapat dilakukan. Muhammad berkata bahwa ia telah diberikan seluruh dunia untuk dijadikan sebagai suatu masjid. Sementara itu Muhammadpun pernah melakukan salat dalam suatu Gereja dan berkata : ‘Dimanapun kamu berada, bila waktu salat telah tiba, kamu harus melakukan salat dan itulah Masjid’. 21.)

Di Madinah Muhammad membeli sebidang tanah dari dua orang anak yatim piatu untuk dijadikan masjid dan menurut tradisi letaknya pada tempat untanya berhenti ketika akan memasuki kota tersebut. Tempat ini penuh dengan makam-makam, puing-puing dan pohon-pohon kurma yang diper­gunakan untuk menambatkan unta. Tempat ini dibersihkan, pohon-pohon kurma ditebang dan bangunanpun didirikan. Bangunan ini dibuat dari batu bata yang dijemur dalam terik panasnya matahari ( labin ), dan terwujudlah sebuah masjid yang merupakan sebuah halaman dikelilingi tembok bata dengan dasar batu, dan memiliki tiga buah pintu masuk. Pintu-pintu tersebut terbuat dari batu. Pada sisi kibla ( yaitu dinding Utara ), batang-batang kurma ditegak- kan sebagai tiang-tiang dan beratapkan daun kurma yang dilapisi dengan tanah liat. Disisi Timur dua buah pondok didirikan dengan menggunakan bahan yang serupa, dan diperuntukkan bagi istri-istri nabi. Pondok-pondok ini kian lama bertambah jumlahnya. Ketika kibla dipindahkan, atap pada dinding utara dibiarkan tinggal tetap dan ruangan ini kemudian disebut Suffa atau Zulla, yang dipergunakan sebagai tempat berteduh bagi mereka yang tak memiliki rumah. Diselatanpun pada sisi kiblanya kemungkinan diberi pula beratap dan dipergunakan oleh nabi untuk tempat berkhotbah.

Masjid ini merupakan halaman rumah nabi yang sering dipergunakan sebagai tempat-tempat pertemuan, dan sebagai tempat salat bersama. Jelas pada mulanya masjid tak menunjukkan sifat-sifat sacraal keagamaan. Masjid adalah tempat melakukan jema’ah bersama sekeliling nabi serta tempat ber- langsungnya kehidupan social. Dari tempat ini Muhammad mengatur kehidupan agama dan politik masyarakat Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, dengan perluasan agama Islam, masjid lebih disempurnakan dan memperoleh bentuk berbagai macam gaya arkhitektur dari daerah-daerah yang didatanginya.

Masjid Jawa Timur

Bagaimanakah halnya dengan masjid-masjid dipesisir Utara Jawa Timur ? Kemungkinan keadaannya tidaklah jauh berbeda dengan kenyataan-kenyataan tersebut diatas. Bagi pendatang-pendatang Islam dipesisir Utara Jawa Timur, pada mulanya masjid bukanlah merupakan kebutuhan yang sangat pokok, karena dimanapun mereka datang dan berada, mereka dapat melakukan salat ataupun dakwah dan itulah sesungguhnya masjid bagi mereka. Tetapi bila harus ditanyakan bagaimanakah bentuk dan wujud masjid-masjid pertama dipesisir Utara Jawa Timur, kiranya sulitlah untuk diperoleh suatu jawaban yang meyakinkan, karena memang pada kenyataannya hingga kini kita telah ketiadaan berita-berita tertulis. Berdasarkan tradisi serta leluri-leluri dipesisir Utara Jawa Timur, beberapa makam dan masjid dikatakan kuno, kramat dan merupakan peninggalan-peninggalan Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Nur Rachmat, Ibrahim Asmara dan Sunan Bonang.

Walaupun disana sini jejak-jejak kekunoannya masih dapat terlihat bahkan disertai pula dengan angka-angka tahun dan candrasangkala, sebagai yang terdapat pada Masjid Giri dan Sendang Duwur, namun dalam bentuk keseluruh- annya tidaklah dapat lagi dikatakan berasal dari masa-masa hidupnya para Sunan tersebut diatas. Angka-angka tahun yang terdapat, diantaranya menun­jukkan saat-saat pemugaran dilakukan, bahkan perbaikan-perbaikan dan pe- nambahan-penambahan bagian-bagiannya tetap berlangsung terus dan ada kalanya tanpa sepengetahuan dan pengawasan Lembaga Purbakala hingga sulit untuk ditrasir kembali bentuknya yang semula.

Usaha-usaha untuk mencoba mengetahui bagaimana bentuk semula dari masjid-masjid dalam kehadirannya dipesisir Utara Jawa Timur muncul dari beberapa sarjana sejarah antara lain sebagai berikut. Menurut penelitian Dr. W.F. Stutterheim, bangunan masjid tersebut dasarnya diambil dari bentuk bangunan gelanggang sabungan ayam dengan pertimbangan bahwa bangunan inilah yang terbesar, yang dijumpai pada saat masyarakat Islam di Jawa me- merlukan adanya bangunan masjid untuk salat bersama. 22.)

Pendapat ini disangkal oleh Dr. H.J. de Graaf dengan dasar :

  1. Gelanggang ayam adalah suatu tempat untuk berjudi, tak mungkin orang-orang Islam akan memilih bangunan yang kurang pada tempatnya ini.
  2. Gelanggang-gelanggang sabungan ayam yang pernah ada, tak memiliki atap bertingkat.
  3. Gelanggang-gelanggang sabungan ayam ini hanya terdapat di Bali dan Jawa tetapi mengapa pengaruhnya demikian luas ?

De Graaf menekankan bahwa prototype masjid-masjid di Jawa berasal dari Gujarat karna pada umumnya masjid-masjid ini mempunyai atap bertingkat serta dilingkungi parit-parit sebagai selokan untuk mengambil air wudlu. 23.)

Hal ini kurang dapat diterima oleh Dr. Soetjipto Wirjosoeparto dengan melihat kenyataan bahwa denah masjid di India tersebut berlainan, disamping itu masjid yang terdapat di Gujarat tak memiliki selokan untuk berwudlu. Dalam usahanya memecahkan persoalan ini selanjutnya Soetjipto Wirjosoeparto mencari prototype bangunan masjid di Jawa pada pandapa-pandapa rumah dengan pertimbangan bahwa :

  1. Bangunan masjid di Jawa dalam keseluruhannya mengambil bentuk bangunan yang telah ada sebelumnya.
  2. Pandapa-pandapa denahnya persegi ( perhatikan pandapa-pandapa yang masih terdapat dikomplex pemakaman Sunan Bonang dan Sunan Drajat).
  3. Atap masjid adalah merupakan penyempurnaan bentuk atap joglo. 24.).

Akhirnya bagaimanapun juga, sampai sedemikian jauh, masih tetap belum diperoleh suatu kepastian tentang bentuk semula dari masjid-masjid yang pertama kali didirikan dipesisir Utara Jawa Timur sebagai akibat ketiadaan data-data arkheologis.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Issatriadi: Kekunoan Islam Pesisir Utara Jawa Timur, Proyek Rehabilitasi Dan Perluasan Museum Jawa Timur 1976-1977, hlm. 15 – 17

Kanjeng Sepuh Sedayu

Umar bin  Khatab asal Sedayu

 

Masjid Knjeng Sepuh Sedayu.Tokoh lain yang juga tak kalah berperan dalam perkembangan Islam di wilayah Gresik adalah Kanjeng Sepuh Sedayu. Namanya mungkin masih asing bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Namun bagi warga Kabupaten Gresik di Jawa Timur, tokoh yang satu ini bukanlah orang sembarangan. Dia begitu dihormati oleh semua kalangan. Baik dari kalangan pejabat sampai rakyat jelata.

Selain dikenal sebagai seorang wali yang kerap mengajarkan ajaran-ajaran kebajikan, semua tentu tak lepas dari keberaniannya dalam menentang penjajah Belanda di zaman perjuangan. Dia sangat menentang kebijakan diskriminasi atau pengelompokan ma­syarakat berdasarkan kelas dan golongan yang dilakukan Belanda. Sebab dalam pandangannya, semua manusia itu sama. Yang mem- bedakan di hadapan Tuhan hanyalah amal dan ketaqwaannya.

Kanjeng Sepuh Sedayu juga menentang pengenaan pajak yang begitu tinggi yang diberlakukan Belanda. Hal ini membuat Belanda sangat marah, hingga menempatkan Kanjeng Sepuh Sedayu atau yang bergelar Kyai Panembahan Haryo Soeryo Diningrat sebagai salah satu musuh besar pemerintah kolonial. Sebab apa yang di­lakukan oleh Kanjeng Sepuh Sedayu jelas-jelas merugikan pemerin­tah kolonial Belanda.

Kanjeng Sepuh Sedayu sendiri adalah bupati dari Kabupaten Sedayu yang kini sudah dihapuskan. Sejak berdiri pada 1675, Kabupaten Sedayu dipimpin oleh sedikitnya sepuluh bupati. Bupati yang paling dikenal adalah Kanjeng Sepuh Sedayu, yang merupakan bupati ke-8.

Kanjeng Sepuh Sedayu - CopyKabupaten Sedayu sendiri posisinya berada sekitar 20 km di sebelah barat Kota Gresik. Di tempat ini sisa-sisa peninggalan kabu­paten berupa alun-alun masih bisa dilihat dengan jelas. Tak hanya itu, beberapa situs sisa-sisa bangunan kabupaten juga masih tersisa meski sudah nyaris tak berbentuk, karena tidak dirawat.

Pada 1910, kabupaten ini oleh Pemerintah Belanda diintegrasikan ke Kabupaten Jombang. Namun setelah proklamasi, akhirnya wilayahnya dimasukkan dalam wilayah Kabupaten Gresik.

Dan kecjekatan Kanjeng Sepuh Sedayu dengan rakyatnya bisa dikatakan sangat istimewa. Hampir tiap kali dia melakukan per- jalanan untuk menilik desa- desa di sekitarnya, sambutan yang mengelu-elukan dirinya datang silih berganti. “Kanjeng Sepuh Sedayu tahu bagaimana cara untuk bisa menentramkan rakyat. Karena itu dia begitu disanjung dan dipuji,” kata Mazumi, salah seorang pengurus Masjid Kanjeng Sepuh Sedayu yang berada satu komplek dengan makam sang tokoh, kepada LIBERTY.

Hubungan itu semakin erat manakala Kanjeng Sepuh Sedayu sering dipergoki mela­kukan perjalanan sendiri di malam hari untuk menemui rakyatnya. Rupanya dia ingin

meniru apa yang dilakukan oleh salah seorang anggota Khullafatur Rosyidin yaitu Umar bin Khatab. Yang selalu berusaha menegakkan keadilan di tengatvtengah rakyatnya, dengan langsung turun sendiri guna mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

Demikian pula dengan Kanjeng Sepuh Sedayu yang juga senantiasa memberikan sumbangan kepada rakyatnya yang saat itu dilihatnya tengah mengalami penderitaan. Makanya begitu terjadi perang melawan penjajah, rakyat Sedayu dengan gagah berani maju melindungi pemimpinnya itu.

Kini makamnya tetap terawat dengan baik. Tiap tahun selalu diadakan acara haul untuk memperingati hari meninggalnya sang tokoh. Dan di tiap acara haul tersebut, ribuan warga masyarakat di sekitar Kecamatan Sedayu, Kabupaten Gresik, Jawa Timur tumpah ruah memenuhi halaman Masjid Kanjeng Sepuh Sedayu.

Selain ingin memberikan penghormatan di tengah iringan doa yang dipanjatkan, para warga ini meyakini bahwa Kanjeng Sepuh Sedayu adala seorang wali yang memiliki karomah. Dan karomah inilah yang menjadi rebutan para warga yang hadir. Efek dari karom­ah sang tokoh yang didapatkan, dipercaya mampu membuat kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Hal ini karena konon waktu itu setiap orang yang bisa bertemu dan bersalaman dengan Kanjeng Sepuh Sedayu, maka kehidupannya akan menjadi lebih baik. 

Dan agaknya keyakinan itu masih tetap dipegang teguh oleh masyarakat. Hingga pada puncak acara haul, mereka akan berebut untuk masuk ke dalam komplek makam. Dengan bisa berdoa sedekat mungkin dengan makam sang tokoh, maka apa yang diharapkan tersebut akan terlaksana. 9KL@-6 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2316, 11-20 September 2007, hlm. 10

RM Soemo­sewoyo ayah angkat Bung Karno (BK)

Cucu Bung Karno Sambangi Ndalem Pojok, Mama Pernah Cerita tentang Ayah Angkat Kakek

Kepastian bahwa Bung Karno (BK) mempunyai ayah angkat akhirnya diakui pihak keluarga. Mahardika Soekarnoputro, salah satu cucu proklamator itu mengakui, memang kakeknya memiliki ayah angkat. Apalagi cerita soal ayah angkat Bung Karno itu juga pernah disampaikan oleh ibundanya Rachmawati. MAHARDIKA menyempatkan diri mengunjungi rumah masa kecil BK di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Minggu (25/8/2013).

Kami pernah dengar soal cerita ayah angkat BK dari mama (Rachmawati, red). Sehingga kami yakin rumah ini bagian dari masa kecil BK,” ungkap Mahardika saat mengurijungi rumah itu. Soal ayah angkat BK memang tidak banyak diulas dalam sejarah yang terkait dengan Presiden RI pertama itu. Namun orangtuanya pernah menyampaikan kepada Mahardika.

Apalagi pemberitaan terkait ayah angkat BK dalam beberapa waktu terakhir banyak diulas media massa. Karena penasaran saat berkunjung ke Kediri, Mahardika menyempatkan diri berkunjung ke ndalem Desa Pojok Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. “Kami akan sampaikan kepada saudara kami yang lain soal keberadaan rumah masa kecil kakek saya BK,” jelasnya.

Mahardika saat berkunjung ke Ndalem petilasan Pojok banyak mendapatkan penjelasan dari RM Soeharyono yang merupakan keturunan dari RM Soemosewoyo. Beberapa penjelasan itu, seperti BK saat usia 2 tahun diasuh oleh RM Soemo­sewoyo, yang disebut sebagai ayah angkatnya. Termasuk perubahan nama dari Koesno menjadi Soekarno karena berdasarkan permintaan dari RM Soemosewoyo.

“Waktu kecil BK dulu sakit-sakitan sehingga namanya diganti dan diambil anak angkat,” jelasnya. Mahardika tampak menyi- mak penjelasan yang disampai- kan RM Soeharyono. “Mengapa BK kalau pakai peci miring? Itu dilakukan untuk menutupi bekas luka di jidatnya,” ujarnya. Luka itu kata RM Soeharyono didapat BK kecil karena pernah terjatuh saat bermain di pohon beringin yang ada di halaman rumah. Saat remaja BK juga belajar melakukan orasi di bawah pohon beringin. BK juga ikut angon kerbau ke sawah bersama anak-anak sebayanya. Sementara Mahardika saat mengunjungi rumah petilasan masa kecil BK juga melihat-lihat kamar tempat kakeknya dulu tidur.

Dua kamar di depan menjadi tempat Soekarno kecil dan remaja tidur dan satu kamar di belakang biasa ditempati saat BK sudah menjadi presiden.

“Mudah-mudahan rumah yang merupakan bagian situs peninggalan BK ini jura rtienda- patkan perhatian dari pemerintah daerah. Yayasan Bung Karno sendiri akan ikut aktif memperjuangkannya,” jelas Mahardika.

Terpisah, Plt Kabag Humas Pemkab Kediri Edhi Purwanto menjelaskan, Pemkab Kediri telah meminta Dinas Pariwisata untuk melakukan kunjungan ke rumah masa kecil BK. Dari hasil pengecekan lapangan itu nanti bakal dibuatkan kajian nilai sejarah bangunan itu. Salah satu kemungkinannya, apakah ru­mah itu bisa jadi cagar budaya. (didik mashudi)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SURYA, SELASA 27 AGUSTUS 2013

Sejarah Tari Topeng di Jawa Timur

Kesenian topeng sudah lama dikenal oleh nenek moyang bangsa Indo­nesia. Hampir setiap daerah di Indonesia mempunyai kesenian topeng.

OLYMPUS DIGITAL CAMERATopeng sebagai sarana pertunjukan kesenian sudah dimulai sejak jaman Mataram I pada abad IX Masehi, khususnya di lingkungan masyarakat “tradisi besar”, di kalangan keraton. Selanjutnya, dengan berpindahnya keraton dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada waktu pemerintahan raja Mpu Sindhok, kesenian topeng itu terbawa pula ke Jawa Timur. Kesenian ini lama kelamaan mulai dikenal di luar keraton, dan akhirnya menjadi milik rakyat. Tontonan ini dengan cepatnya meluas, menyebar ke berbagai pelosok daerah.

Di Jawa Timur, khususnya di Madura sejak lama juga sudah dikenal istilah topeng dhalang” (topeng dheleng). Diperkirakan pertunjukan ini sudah dikenal di Madura sejak abad XV – XVI.

Pertunjukan topeng memainkan karakter tokoh tertentu, baik yang halus, kasar, gagah, lembut, licik, buas, lucu, dan sebagainya. Pertunjukan ini selalu hidup, karena memainkan peranan dan watak dari tokoh tertentu. Hal ini pula yang menimbulkan dugaan bahwa pemunculan seorang tokoh tentulah harus didukung oleh hadirnya sebuah lakon yang didahului oleh lahirnya karya sastra.

Ada dugaan bahwa Kakawin Ramayana menjadi sumber lakon awal, sebab Kakawin Ramayana digubah pada jaman pemerintahan Raja Balitung, tahun 820- 832 Caka (898-910 Masehi).

Punokawan PotrojoyoSetelah pusat kerajaan berpindah ke Jawa Timur, muncul sumber baru seperti Mahabarata (Adiparwa dan seterusnya) yang digubah pada jaman pemerin­tahan Raja Dharmawangsateguh (913-938 Caka atau 991-1016 Masehi). Kemudian disusul oleh sastra Panji yang diperkirakan lahir pada jaman Kertanegara dari Singasari (1190-1214 Caka atau 1268-1292 Masehi).

Walaupun masih banyak karya-karya sastra lainnya di luar ketiga lakon tersebut, namun sampai sekarang lakon yang ditampilkan dalam permainan topeng dhalang di Jawa Timur, tidak pernah lepas dari ketiga epos, Ramayana, Mahabarata, dan Panji. Dalam perkembangannya, ternyata lakon Panji inilah yang paling dominan ditampilkan dalam pertunjukan topeng. Sementara lakon Ramayana dan Mahabarata lebih banyak ditampilkan dalam bentuk pertunjukan wayang wong yang tidak menggunakan topeng.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Topeng Jabung Teater Tradisional Jawa Timur; Drs. Risman Marah, Drs. Supriyadi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan , Jakarta, 1993/1994. hlm.1-2

gbr. Koleksi Museum Anjuk Ladang