Rudi Isbandi

Rudi IsbandiRudi Isbandi lahir di Yogyakarta, 2 Januari 1931. Pendidikan terakhir SMA, setelah itu belajar dari kehidupan. Sejak 16 November 1987 menggantikan almarhum Khrishna Mustadjab sebagai su­pervisor kebudayaan Perhimpunan Persahabatan Indonesia- Amerika (PPIA) Surabaya.

Pelukis yang kritikus seni rupa ini menikah dengan Sunarti tahun 1958, dikaruniai 2 orang anak, Drh. Toto Rudi Ananto dan Dra. Titi Ratih Dianti.

Pada tahun 1980 pernah menerima penghargaan sebagai “Keluarga Harmonis” tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pemilihan Keluarga Teladan Indonesia YASCO, 28 Januari 1987 menerima piagam penghargaan dari Presiden Soeharto sebagai peserta Keluarga Berencana Lestari, 4 Juni 1987 menerima piagam warga kota berprestasi, pasangan KB teladan dari Walikota Kodia Surabaya, dr. Poernomo Kasidi.

Bukunya yang diterbitkan di antaranya : Perkembangan Seni Lukis di Surabaya sampai 1975 (DKS, 1975); Lukisan Sebagai Potret Diri (DKS. 1976); Percakapan dengan Rudi Is­bandi (DKS, 1985); dan novelet Kembalilah ITO (Surya Raya, 1979). la pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Surabaya.

Bersama keluarga ia bertempat tinggal di Jl. Karang Wismo I No. 10 Surabaya, dan berkantor di Jl. Dharmahusada Indah Barat I No. 3 Surabaya. Kini ia lebih dikenal sebagai kolektor burung dan ayam bekisar.

 

Dunia seni lukis sudah mendarah daging dalam diri tokoh ini. Melukis bukan lagi sekadar menggoreskan kuas dan cat ke kanvas, sudah lebih dari itu. “Seni itu ibarat sebuah pohon. Pasti mengenal kapan saat tumbuh, kapan berdaun, ber- bunga, dan berbuah untuk kemudian mati karena ditelan usia,” ucap pelukis, kritikus seni rupa, dan penulis sajak, Rudi Isbandi.

Sikap-sikap seni lukis Rudi di antaranya,” di samping bentuk dan rupa, yang nyata, maka setiap hal itu juga mengandung yang bersifat abstrak. Itu dapat berujud getaran tegangan, irama, nuansa, dan apapun namanya. Misainya suatu suasana selalu memiliki getaran atau tegangan atau irama yang berbeda dengan suasana yang berlainan. Dalam lukisan dapat berupa garis saja, atau semata-mata warna, atau nuansa dan bentuk-bentuk lain yang nonfiguratif.

Lukisan-lukisan abstrak Rudi Isbandi le­bih menawarkan renungan. “Setiap lukisan mesti menyodorkan masalah, yang berupa tema yang diajukan pelukisnya. Tema itu menjadi masalah pokok, problem yang di- garap pelukis. Dan saya tidak mengajukan problem ….. Tema Kehidupan, bagaimanapun pengolahannya, tentulah sesuatu yang tidak selesai. Saya tidak menggarap kehidupan dari segi fisiknya, tapi dari te­gangan, dari iramanya, atau ritmenya. Dan itu merupakan nuansa warna transparan,” tuturnya.

Perkembangan terakhir dari lukisan-lukisan Rudi Isbandi yaitu menyodorkan pulasan-pulasan warna, tanpa obyek. Bagi Rudi hal itu merupakan suatu mata rantai pekembangan lukisannya yang ditekuni selama ini. (AS-10)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 50 (CB-D13/1996-…)

 

Thalib Prasojo

Thalib PrasojoM. Thalib Prasojo lahir di Bojonegoro, 17 Juni 1931. Pendidikan terakhir Akademi Seni Rupa. Pernikahannya dengan Rr. Sri Sumiyatun membuahkan 4 orang anak, masing masing Nunik Sri Rahayu (guru Sekolah Menengah Seni Rupa Surabaya), Basuki (war- tawan tabloid Jawa Anyar, Ninil Kurniawati (wiraswasta), dan Teguh (sarjana teknik alumni ITS).
Sebagai pelukis sketsa ia telah memamerkan karya karyanya di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Bandung, dan kota-kota lainnya. Aktif dalam organisasi kesenian, di antaranya pernah memegang jabatan sebagai Ketua Biro Seni Rupa Dewan Kesenian Surabaya(DKS), kini menjabat Ketua Penelitian dan Pengemban- gan (Litbang) Dewan Kesenian Surabaya.
Kariernya diawali dengan pengabdiannya sebagai guru Sekolah Dasar, menulis mengenai spiritual, dan intens dalam kegiatan seni rupa. la pernah memperoleh penghargaan dari Korem 084 Surabaya dan AkabriLaut dalam pembuatan patung monumen.
Pelukis ini bertempat tinggal di Jalan Gresik No. 254 Surabaya.
Sesuai dengan nama yang disandang, pelukis ini memiliki semboyan hidup sedarhana. Bertolak dari nama itu pulalah ia waktu kecil memiliki obsesi hendak meniti karier menjadi dalang atau menjadi pelukis. Ternyata pilihannya jatuh pada profesi yang kedua, yaitu pelukis.
Atas dasar wangsit yang pernah ia terima waktu duduk di Sekolah Menengah Lanjutan Pertama (SMP) bahwa profesi pelukis, akan membuahkan hasil untuk kemuliaan anak-anaknya. “Kadang-kadang sesuatu yang tak terlihat mata, bisa tam- pak,” tuturnya.
Dalam setiap kesempatan ia selalu membawa kertas gambar ukuran folio dan pulpen ditangannya. Objek-objek yang berupa kegiatan manusia, flora, dan fauna dipindahkan ke dalam kertasnya. Tidak mengherankan bila ia memiliki beribu-ribu koleksi lukisan sketsa.
Sebagai pelukis Sketsa ia bukanlah tukang gambar. Karya-karyanya memiliki nuansa khas yang menyentuh batin penik- matannya. Kekuatannya terletak pada garis-garis yang diberi muatan simbolik. Raut muka seseorang yang dilukis setelah dipindahkan ke dalam kertas, berubah menjadi simpul-simpul kepribadian ma­nusia. Itulah sebabnya, pelukis yang memi­liki tokoh idolah Sunan Kalijaga ini, ingin mengawinkan falsafah-falsafah dengan objek yang dilukis.
“Saya menghadapi hidup ini bagai air mengalir. Tak ada sesuatu yang saya pan- dang istimewa, toh hidup kita ini diatur oleh Yang Mahakuasa,” akunya. (AS-10)

Ria Enes

Ria Enes001Ria Enes lahir di Malang, 29 Juni 1968. Beragama Islam. Pendidikan SD hingga SMA ia selesaikan di kota Malang. Meraih gelar sarjana Fakultas llmu Komunikasi, Jurnalislik Universitas Dr. Soetomo Surabaya.
Penyanyi yang punya nama asli Wiwik Suryaningsih karirnya dimulai menjadi penyiar di Radio Carolina selama 9 bulan (1987). Kemudian tahun 1988-1994 pindah di radio Suzana. Sering pula dimintai menjadi MC pada acara-acara khusus di TVRI Surabaya.
Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya, diantaranya HDX Award 1991 untuk album “Si Kodok”, dua tahun yakni 1992 dan 1993 menerima HDX Golden Award untuk albumnya “Susan punya cita-cita”. Terakhir dia mendapat julukan sebagai “Srikandi Award Tahun 1994 sebagai wanita berprestasi”.
Putri ke delapan dari pasangan Abdul Jahlal dan Umi Kusnul tinggal bersama keluarga di Jalan Simpang Darmo, Permai Selatan VIII/3 Surabaya.
Siapa yang tak kenal Suzan? Tentu, pandangan kita tertuju pada artis kelahiran kota apel ini. Dialah Ria Enes, bukankah Suzan itu Ria Enes, dan Ria Enes adalah Suzan?
Tapi agaknya, bukan ia kalau tidak mampu memilahnya. Meski dalam batas-batas tertentu dibumbui subjektivitas pribadi. Terbukti bisa menyekat ruang yang seolah tanpa batas antara dirinya dan boneka Suzan. Hasilnya gelar Sarjana Komu­nikasi dari Fikom Unitomo Surabaya buat dia yang wisudanya digelar bulan Januari yang lalu.
Mungkin inilah enaknya jadi penghibur semacam Ria. Ia tak perlu jauh-jauh mencari topik skripsi sebagai salah satu syarat meraih gelar sarjana. Boneka Suzannya yang fenomena itu, ia teliti sendiri kadar kredibilitasnya di mata anak-anak penggemarnya.
Maka jadilah skripsi berjudul “Tanggapan Anak-Anak Terhadap Figur Suzan Se­bagai Penyampai Pesan”, (studi penelitian Diskriptif tentang tanggapan anak-anak usia TK-SD di Surabaya dan Jakarta terha­dap Figur Suzan sebagai penyampai pe­san) uang mengantarkannya ke gerbang kesarjanaan.
Sebagai artis penyanyi, tentu banyak mendapat pengalaman, baik itu suka maupun duka. Ia lalu menceritakan pengalamannya yang sangat berkesan di hatinya.
“Mulanya saya cuma hobi bermain bo­neka”, ujar Ria yang punya filsafah hidup, hidup itu tidak perlu ngaya. Lantas keterusan. Malah jadi populer. (AS-4)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996, editor Setyo Yuwono Sudikan. Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 30 (CB-D13/1996-…)

 

Kasni Gunopati

Kasni001Kasni Gunopati lahir di Ponorogo, 30 Juni 1934. Pendidikan Sekolah Rakyat (SR). Namun masa mudanya lebih banyak untuk ngangsu kawruh, semedi, dan mengabdi pada orangorang yang berngel- mu.
Tahun 1954, Kasni merintis berdirinya kesenian reog dfi Ponorogo.
Tahun 1987 meraih juara I festival reog tingkat Jawa Timur, piagam dari Kodam VI Brawijaya, dan Kakanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur.
Selain memimpin paguyuban reog Pujangga Anom, ia sebagai Kamituwo Dusun Merbot, Desa Kauman, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Oleh warga Ponorogo, ia disebut-sebut sebagai sisa warok tulen terakhir. Penampilannya mirip seorang resi yang memberikan kesejukan bagi yang kepanasan, memberikan kedamaian bagi mereka yang penuh kekacauan. Tercatat sebagai ketua perwakilan aliran kepercayaan Purwa Ayu MardiUtama. Ponorogo bagian barat.
Bersama istri, Kasemi, dan 5 anaknya masingmasing: Ismini. Siti Nurjanah, Rumanah, Trianawati, dan Gathot Harian- to; ia bertempat tinggal di Jl. Raden Patah No. 4, Desa Kauman, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo.
Postur tubuhnya kurus, jangkung, janggut dan kumisnya tidak lebat tapi panjang dan memutih. Nada bicaranya lembut, andhap-asor, lugas, namun sarat dengan makna, penuh petuah atau wejangan.
Kamituwo Kucing, begitu masyarakat Somoroto menyebutnya. Toh julukan yang begitu indah tidak membuat warok yang satu ini tersinggung. Di kalangan jagoan, nama Kasni Gunopati memang tidak segegap-gempita rekan-rekannya. Maklum yang dikejar oleh bapak dari 5 orang anak ini bukan sekedar ilmu kanuragan, yang bisa membuatnya kebal. Tapi ilmu kasampurnan (kesempurnaan). Yang disebut warok, menurut Kamituwo Kucing, adalah orang yang tahu sangkan paraning dumadi (asal-usul manusia). “la harus mengetahui asal-usul dan paham lahir-batin dirinya. Ini sangat berat. Sebab, ia hidup untuk menegakkan kebenaran dan keadilan,” tuturnya.
Bersikap dan bertindak sebagai warok dan warokan, semua orang bisa. Namun untuk memegang predikat warok sejati, tidak setiap orang mampu. Perjalanannya cukup panjang, penuh liku-liku dan sejuta goda. Caranya? “Harus kuat melek (tidak tidur), tahan lapar, kuat menahan satwat, dan semedi,” jawabnya.
Dari kegemarannya bersemedi ia mendapatkan lamat (petunjuk) tentang hakikat hidup. Maka ia kini dengan lancar dapat mengungkapkan falsafah hidupnya. “Harus eling, nrima, lan waspada. Kita harus selalu ingat pada Sang Pencipta. Tidak membeda-bedakan orang. Senang menolong tanpa pemrih, jujur, dan juga harus selalu instropeksi diri,” katanya. (AS-10)

Amang Rahman Jubair

Amang RahmanAmang Rahman Jubair lahir di Kampung Ampel. Surabaya, 20 November 1931, beragama Islam, la anak keempat dari 13 bereaudara. Masa kecilnya dihabiskan di Sidoarjo, Surabaya dan Madura. Selain dikenal sebagai pelukis, ia juga sebagai penyair, dramawan dan pemusik. Puisi dan cerpennya terbesar di berbagai media, di antaranya dimuat dalam Antoiogi Puisi 25 Penyair Surabaya tahun 1975.

la ikut membidani lahirnya Akademi Senirupa Surabaya (AKSERA) tahun 1967, dan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) tahun 1971. Dalam periode 1967 sampai 1994, tidak kurang mengikuti pameran baik di dalam maupun diluar negeri. Dua kali ke tanah suci, pertama melaksanakan ibadah umrah sambil berpameran di Jeddah (1985) dan kedua menunaikan ibadah haji bersama istri.

Pernikahannya dengan Wasi Kasiyati (1961) dikaruniai empat orang anak. Masing-masing Lilik Eliya Jubair, Yunus Jubair, Aisyah Jubair dan llham Anugrah Jubair. Bersama keluarga, ia tinggal di Jl. Kali Kepiting 11A Surabaya.

Kuteteskan keringat, darah dan airmataku ke dalam lukisan. Aku berjalan menembus lorong hitam bagai sumur tanpa dasar, sekaligus lobang langit dan jalan panjang menuju ke tempatnya,” kata Amang Rahman, Sang Maestro. Selebihnya, “Kata kakek saya, sorga itu warnanya biru. Tetapi tidak seperti biru ada hijaunya tapi tidak seperti hijau daun. Itulah obsesi dan yang menjadi ciri lukisanku”.

Dalam lukisannya ia mengangkat simbol-simbol melalui warna. Terutama biru, bentuk dan sosok. la sekaligus memakai pengulangan bentuk dan menata ruangan di atas kanvas dengan cara yang teliti dan terampil. Itu cirinya, untuk menimbulkan suasana tertentu, serta untuk memperkuat simbol-simbol tersebut. Menurutnya, biru merupakan simbol sorga atau dunia rohani, sementara sosok kuda berkepala wanita adalah lambang dari kekuatan dan keindahan.

“Awan dalam lukisanku adalah simbol dari kemungkinan-kemungkinan yang diha- dapi manusia, sekaligus perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Kalau ada orang bilang lukisanku sekarang berubah warna, itu tidak benar. Itu perjalanan alam lukisanku. Dalam melukis aku tak pernah berubah,” katanya.

Barangkali ia seniman besar yang sangat bersahaja. Tidak suka menyombong- kan diri dan tak pernah menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain. Tak ada idealisme yang ingin dicapainya. Tak ada prinsip yang ingin dipertahankannya. Setiap orang bebas menterjemahkan karya- karyanya. (AS-5)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 56  (CB-D13/1996-…)

 

Ita Purnamasari

 

Ita PurnamasariIta Purnamasari Lahir di Surabaya 15 Juli 1957,  Putri bungsu darl lima bersaudara pasangan H. Soekarmen dan Dyah ini tinggal di Jalan Pacar 3, Surabaya.
Lulus SMA Negeri 2 Surabaya tahun 1986. Lady rocker yang menyabet gelar The Best Award 1991 untuk kategori pop ini meraih gelar sarjana hukum di Universitas Surabaya (Ubaya) tahun 1993.
Karir Ita mulai mencuat berkat godokan perusahaan rekaman Billboard. Dalarn waktu singkat, albumnya pun bermunculan. Sukses “penari Ular”, terulang album- album berikutnya, “Ratu Disko, Rindu Sampai Mati, Cinta Bulan Desember, Swalayan.Selamat Tinggal Mimpi, Sanggupkah Aku, dan Biarkanlah”.
Mengawali karirnya dipanggung musik rock, ternyata mendapat tantangan dari kedua orang tuanya. “Mereka tidak mengizinkan, mungkin terlalu sayang pada saya. Bahkan kuatir, kalau-kalau sekolah saya terlantar, hanya karena terlalu asyik di dunia nyanyi”, katanya. Namun dia telah bertekad dan tak bisa dihalangi.
Kenapa aliran rock yang jadi pilihannya. “Sejak kecil sudah suka. Sebenarnya bukan hanya lagu-lagu keras, bagi saya merupakan suatu inspirasi yang dapat saya ekspresikan lewat lagu”, tambahnya.
Kiprahnya dipanggung rock, berawal ketika ia coba-coba beradu kemampuan vokal di festival se-lndonesia, dalam versi Lhog Selebor di Surabaya, 1984. la bergabung di Vocation Group. Kebetulan cewek yang mengikuti festival itu cuma dua orang. Ita dan seorang dari Medan. “Nah, untuk menjadi rocker, saya pikir festival itu suatu kesempatan baik”, kenangnya.
Ternyata Dewan Juri tidak memilih Ita sebagai juara. Tapi tidak membuatnya putus asa. Justru merangsangnya untuk tam- pil dan menunjukkan kebolehannya di setiap ada kesempatan “Walau tidak jadi ju­ara, tapi perasaan saya puas. Sebab, ketika saya menyanyi banyak penonton yang se- nang. Saya rasa,sambutan hangat ini sudah cukup bagi pendatang ba ru seperti saya”, katanya.
Yang patut dicatat, kualitas vokal Ita se- makin terasah. Karakter vokalnya yang nye mpling itu kini mulai memiliki vibrasi sekalipun “berteriak” dalam nada-nada tinggi dan panjang. Ini bisa disimak lewat ternbang Hura-Hura yang bertempo cepat dengan nuansa rock. (AS-4)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 108 (CB-D13/1996-…)

Panut Darmoko

panutPanut Darmoko lahir di Nganjuk, 10 September 1931. Pendidikan formal yang pernah dikenyam Konservatori Solo (kini Sekolah Menengah Kesenian Indonesia). Pendidikan informal, di antaranya kursus pedalangan HBS Solo dan Pamarsudi Putri Solo.

Pensiunan guru SPG Negeri Nganjuk (1990) ini lebih dikenal sebagai dalang wayang purwo gaya Surakarta, Pimpinan Paguyuban Karawitan dan Kursus Pedalangan Larasmaya, Sekretaris PEPADI Pusat. Pada tahun 1980 memperoleh hadian seni dari Presiden Suharto. Pernah mendalang di Tokyo, Washington, New York, London, Paris, Pert, Canbera, Sidney, dan Adelaide.

Pada tahun 1966 mendalang di Istana Bogor, dan 3 kali men­dalang di Istana Merdeka. Pada tahun 1984 menunaikan ibadah haji. Perkawinannya dengan Sulasmi, dikaruniai 5 orang anak. Bersama keluarga tinggal di Jl. Sikatan 1/5 Nganjuk-64417.

Nama Ki H. Ahmad Panut Sosro Darmoko, bagi masyarakat pecinta wa­yang kulit di Jawa Timur dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang asing. Dalang kon- dang gaya Surakarta ini selalu menjadi panutan bagi dalang-dalang lain di Jawa Timur.

Penampilannya yang kalem, andhap-asor, dan selalu santun kepada siapa sajayang menjadi lawan bicaranya; menandai dirinya sebagai budayawan dan seniman yang teduh. Dalam hidupnya ia telah mencapai kesempumaan lahir dan batin.

Menanggapi perkembangan wayang kulit pada era globalisasi informasi sekarang ini, Ki Panut Darmoko mengibaratkan perang. Kalaupun diumpamakan manusia, ya seperti sesak napas, Di tengah-tengah perubahan sosial-budaya sekarang ini, orang mempunyai banyak alternatif, apa yang akan ditanggap. Berbeda dengan zaman dulu tidak ada tanggapan band, ndangndut, rock, vidio, dan yang lain. Orang hanya bisa memilih antara tayuban dan wayang kulit.

“Pagelaran jangan seadanya. Perlu adanya rekayasa agar menjadi tontonan yang menarik. Yang tidak kalah dengan seni-seni modern. Namun perlu diingat, bahwa wayang kulit selain sebagai ton­tonan sekaligus sebagai tatanan dan tun- tunan. Itulah sebabnya yang perlu direkayasa hanya sebatas sebagai tontonan. Sedangkan sebagai tatanan dan tuntunan harus tetap diagungkan dan dilestarikan, tidak dapat diuthakathik,” tuturnya ketika dimintai tanggapan tentang pergelaran wayang kulit. (AS-10)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 19  (CB-D13/1996-…)

KARTOLO

Kartolo lahir di Pasuruan, 2 Juli 1947. Beragama Islam. Pendidikannya hanya sampai di Sekolah Rakyat selesai tahun 1958 di kota kelahi rannya.
Sebelum mendirikan group lawak Kartolo Cs, pernah bergabung dengan group kesenian ludruk Dwikora, Marinir, RRI dan Persada Lama.
Menikah dengan Kastini dlkaruniai tiga anak masing- masing Kristianing dan Dewi Antriali sedang putra pertamanya meninggal saat melahirkan. Kartolo bersama keluarga tinggal di Jalan Kupang Jaya 1/12-14 Darmo Satelite, telepon (031) 710555 Surabaya.
Namanya tak bisa dipisahkan dengan Kastini, istrinya. Maklum, pasangan ini sama-sama pelawak kondang di Jawa Timur yang bernaung dalam satu groupnya, yakni Kartolo Cs.
Arek Surabaya ini mengaku tak punya kiat khusus hingga eksistensinya bertahan sampai sekarang. Namun tokoh lawak satu ini mengaku tak mau mengandalkan bakat alam semata. “Biasa saja. Belajar dari pengalaman.
Yang penting lagi, mau belajar apa saja untuk menambah wawasan dan pengetahuan,” ujar pelawak yang suka bermain karawitan dan menari ngremong. Meski. hanya berpendidikan formal di Sekolah Rakyat, Kartolo yang mulai berani melawak sejak usia remajatetap rajin mem- baca literatur bahkan senang mencari informasi untuk memperkaya cakrawala sebagai bahan lawakannya yang kreatif.
Kalau hanya mengandalkan bakat alam saja, kata- nya seorang lawak bakal menjadi kering dan tak berkembang. “Padahal, perubahan dan perkembangan masyarakat pencinta seni lawak dewasa ini khan., semakin maju pesat. Tentu saja, hal ini yang menjadi tuntutan dan selera para penontonnya, agar dunia lawak tak akan ditinggalkannya,” katanya.
Segudang pengalamannya, memang patut dicatat tersendiri. Hampir setiap waktu ia mendapat tawaran di luar daerah. Baik itu di JawaTimur, Jateng & DIY, Jabar maupun sampai di luar Jawa. Baginya, ia memang harus siap selama masih dibutuhkan.
Selain mendapat tawaran pentas di luar daerah, ia juga sering di mintai melawak di berbagai perguruan tinggi swasta di Jawa Timur. (AS-4)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 60 (CB-D13/1996-…)

Said Kelana, Musikus

Tahun 1907, Said Kelanalahir di Madura, seorang tokoh panggung Indone­sia, setia dan taat pada agama (Islam) Pendidikan terakhirnya adalah HBS Ia bekerja sebagai seorang musikus, penyanyi bahkan terjun dalam dunia film nasional. Dalam film ia berperan sebagai pemain film, sutradara maupun manager/pimpinan perfilman.

Ayahnya berasal dari Madura sedang ibunya dari Italia. Jadi Said Kelana adalah putera Indonesia, berdarah campuran antara Indonesia dan Italia. Dia terkenal sebagai anak yang tampan, bertubuh kekar, wataknya keras, penuh disiplin.

Said Kelana senang bermain terompet. Setelah tamat HBS dia mulai bekerja selaku pemain musik, dan penyanyi terkenal. Kemudian dia terjun ke dunia film. Berkecimpung dalam dunia perfilman, mulai dari pemain film biasa sampai menjadi sutradara. Begitu luas pandangannya dalam bidang film sehingga ia punya kecakapan khusus dan pengalaman-pengalaman yang berharga Pada zamannya Said Kelana sangat terkenal bukan saja sebagai pemain panggung, tetapi juga sebagai pemusik, penyanyi dan sutradara film. Bisa dibayangkan siapa yang tidak mengenal Said Kelana pada tahun-tahun 1942 an sampai tahun-tahun 1950 an.

Selama perang Dunia ke II Said Kelana berkeliling Amerika Serikat, dengan pertunjukan sandiwaranya Waktu itu sandiwara Dardanella sangat terkenal sampai ke luar negeri Dengan berkecimpung dalam permainan sandiwara ini, dia jatuh cinta dan kemudian menikah dengan Dewi Mada, dari pernikahan ini mereka memperoleh seorang anak benama Wassy.Setelah berkeliling Amerika Serikat mereka kembali ke Indonesia. Pada saat Revolusi Kemerdekaan, dia dengan kawan-kawannya dimanfaatkan untuk menghibur tentara Indonesia di front terdepan.

Tahun 1948,  Said Kelana ditangkap Belanda di Cirebon. Pada saat itulah isterinya Dewi Mada meninggal, tak berapa lama mertuanya juga meninggal.Setelah isteri pertamanya meninggal, dia kawin lagi, bahkan sampai beberapa kali. Dari perkawinan-perkawinannya kemudian ia memperoleh lima orang anak. Walau pun kehidupan rumah tangganya kurang harmonis, Said Kelana sangat memperhatikan pendidikan ke enam anaknya khususnya dalam dunia seni baik itu sandiwara, musik, seni suara maupun film. Dia termasuk orang tua pertama yang mempromosikan dengan membentuk Band bocah “The Kids” yang lagu lagunya ia ciptakan sendiri.

Tahun 1960-an, dia termasuk orang yang hidupnya berkecukupan. Boleh dikatakan saat itu dia seorang yang kaya, memiliki banyak harta benda. Apa saja dia buat dengan kekayaan yang ada padanya itu. Begitu kayanya sampai pada waktu itu dia membuat 5 buah film sekaligus. Dia sendiri bertindak sebagai sutradara, juga selaku produser. Ternyata perencanaannya kurang matang, bercita-cita tinggi tetapi gagal. Uangnya kurang lebih Rp. 400 juta saat itu amblas, dan filmnya tidak ada yang jadi. Ia rugi besar tetapi dia tidak pernah kecewa sedikitpun. Kemauannya tetap keras dan betul-betul dia termasuk orang hebat. Walaupun usahanya gagal membuat film dan sangat rugi, tetapi dia tetap menggiring anak-anaknya itu untuk maju dan menekuni panggung. Akibatnya anak-anaknya itu memainkan musik lebih dari orang yang sudah dewasa, mereka sangat genit dan memiliki bakat dan kemampuan yang diturunkan ayah mereka. Selain dia sendiri mendidik anak-anaknya bermain musik maupun sandiwara, ia juga mendorong mereka untuk rajin-rajin bersekolah. Menurut dia, bermain musik harus terpelajar. Tanpa belajar yang sungguh di sekolah, bermain musik yang baik tidak bisa. Untuk memainkan suatu musik yang baik, orang harus belajar dengan sungguh-sungguh sehingga memiliki ilmu dan pengetahuan. Jika orang memiliki ilmu dan pengetahuan yang tinggi, maka permainan musik dapat dimainkan secara baik dan mempunyai nilai tambah. Said Kelana benar-benar menekan hal ini serta selalu mendorong anak-anaknya untuk bersekolah dengan sungguh-sungguh memang dia sendiri seorang tamatan HBS pada zaman Belanda, jadi tidak perlu diherankan kalau memang dia begitu memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Dia lebih menaruh perhatian pada bidang bahasa, antara lain bahasa Inggris, Cina, Perancis, Arab dan Belanda. Karena itu tak mengherankan bila semua putera- puteranya banyak menguasai bahasa asing di samping Bahasa Indone­sia. Seperti misalnya puterinya Lydia dalam usia 15 tahun sudah menguasai dan berbicara secara fasih Bahasa Inggris, Cina, Perancis dan sedikit bahasa Belanda.

Selaku pemimpin Band The Kids sejak tahun 1980 dia merobah nama Band ini, diganti nama “The Big Kids”. Begitu tinggi kwalitas permainannya dan pengarahan pendidikan kepada anak-anaknya, maka akhirnya anak-anaknya juga mempunyai pendidikan yang berkwalitas dan mempunyai perawakan yang tampan seperti ayah mereka dan selalu menampilkan sikap, bakat mereka dalam film dan berbagai acara seperti nyanyi atau musik.Selama hidupnya, Said Kelana tinggal di Jalan Matraman Dalam No. 14 Jakarta Pusat.

Ensiklopedi Tokoh Budaya,  Departemen Pendidikan Dan KebudayaanDirektorat Jenderal Kebudayaan Direktoratsejarah Dan Nila1tradisional Proyekinventar1sasi Dan Dokumentasisejarah NasionalJakarta 1994, hlm. 233-235

Kusbini, Kabupaten Mojokerto

1 Januari 1910, Kusbini lahirdi  desa Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur. Ayahnya bemama Koesnio seorang manteri kehutanan (bosch hoofsiner boswessen), sedangkan lbunya bersama Moesinah asal Trenggalek, Jawa Timur. Sebagai seorang anak manteri kehutanan, masa kecil Kusbini bersama keluarganya sering berpindah-pindah tempat dari satu rumah dinas ke rumah dinas yang lain yang terletak di kawasan hutan di Pojok, Kertosono, caruban, dan saradan Madiun Karena pengaruh lingkungannya pada masa kecil itulah yang menyebabkan Kusbini begitu hirau dengan nasib sesamanya, nasib bangsanya yang tertindas oleh kaum penjajah. Kusbini melihat sendiri bagaiman kesengsaraan hidup yang dialami bangsanya disekitar tempat tinggalnya.Keadaan demikian menimbulkan rasa kebangsaan dalam dirinya.

Tahun 1926, kala Kusbini sedang bersekolah di HIS, di Jombang Rasa kebangsaannya berkembang lagi pada waktu la melanjutkan pendidikannya di MULO dan bahkan di sekolah dagang S de Senerpont Domis di Surabaya, di mana Kusbini banyak berkenalan dengan rakyat biasa sampai kepada para cendikiawan yang aktif digaris depan. Akhirnya Kusbini menemukan jalan yang cocok baginya untuk menuangkan semangat perjuangannya melalui dunia musik yang memang ia cintai sejak kecil.Pada mulanya Kusbini belajar musik sendiri tanpa guru (autodi dakt) bersama dengan kakaknya Kusbini Ia bermain musik dalam orkes “YISTO” (Yong Indisce Stnjk Tekkel Orkest) di Surabaya dan mengumpulkan lagu-lagu keroncong serta stambul guna kepentingan orkesnya.

Tahun 1927—1930 Kusbini baru mengikuti pendidikan musik umum (Algemene Muziekleer) pada sekolah musik “Apollo” di Malang di bawah pimpinan Kitty Ament dan M. Mirop. Ia belajar bermain biola + 3 tahun lamanya.

Tahun 1935—1939,nama Kusbini mulai dikenal sebagai penyanyi dan pemain biola pada siaran radio “NIROM” (Nederlands Indisce Radio Omreep), memimpm studio Orkes Surabaya (SOS) merangkap penyanyi keroncong bersama S. Abdullah, Miss Netty dan Soelami. Di samping itu Kusbini juga merangkap pembantu penyiar “CIRVO” (Chines Inheemse Radio Luisteraars Vereniging Oest java) dan bekeija juga sebagai penggubah lagu di pabrik piringan hitam “Hoo Sun Hoo”.

Tahun 1941,bersama dengan pertumbuhan perfilman di Indonesia, Kusbini bekerja pada Majestic Film Company yang berpusat di Malang di bawah pimpinan Freed Young. Dan studio dan piringan hitam Kusbini beranjak ke layar putih. karena kegiatan dan pembuatan film oleh Ma­jestic Film Company banyak dilakukan di Jakarta, maka Kusbini pindah ke Jakarta.

Di sini Kusbini banyak mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakat dan menunjukan prestasinya. Kemudian dia juga mencipta lagu-lagu khusus untuk cerita-centa film pada waktu itu, antara lain dikenal dengan cerita “Jantung Hati” dan Air Mata Ibu” dengan syair Nyoo Cheng Seng (Monsieur d’Amor). Di sinilah ia menciptakan lagu langgam keroncong “Jantung Hati” yang kemudian diorkestasikan dengan 60 orang pemain yang dipimpin oleh Kusbini sendiri. Dengan lagu Kusbini ingin mempertebal semangat nasional yang dipegangnya dengan teguh, karena sejak awal memang telah diyakininya sebagai sumbangsih dalam ikut mempeijuangkan nasib bangsanya yang teijajah. Lahirlah lagu keroncongnya,” Kewajiban Manusia”, lagu yang syairnya benntikan ajakan menggalang persatuan bangsa.

Di zaman Jepang Kusbini tetap bekega di Jakarta yaitu pada siaran radio (Hoso Kenn Kyoku) yang dipimpin oleh Utoyo Ramelan SH Bersama dengan Ibu Sud, Kusbini mencipta lagu-lagu yang membangkitkan gairah, semangat dan kesadaran anak-anak Indonesia yang mencita-citakan kebebasan tanah air dan bangsanya. Kedua tokoh ini berhasil dengan baik. Pada kesempatan ini Kusbini mencipta lagu- lagu Indonesia yang dimainkan oleh orkes pimpinannya sendiri Di samping lagu Indonesia.

Beberapa lagu yang diciptakannya antara lainBagimu Negeri (1942), Bersatu (1942), Nyanyian Bunga (1944), Cinta Tanah Air (1945), Pembangunan (1945), dan lain-lain dari sekian banyak lagu kanak-kanak ciptaan Kusbini, Lagu Bagimu Negeri terpilih menjadi lagu wajib di sekolah-sekolah mulai dari SD sampai tingkat perguruan tinggi dan juga sudah sejak lama Lagu Bagimu Negeri ini dialunkan di RRI maupun TVRI sebagai lagu penutup siaran. Lagu Bagimu Negeriinilah karya terkenal dari Kusbini

Tahun 1942 1945,lagu-lagu yang diciptakan Kusbini dimaksudkan untuk mengimbangi lagu-lagu Jepang yang membanjir ke Inddonesia. karena itu lagu-lagunya jelas mengandung semangat perjuangan nasional.Sebagai ahli musik Kusbini diakui oleh masyarakat luas, sehingga Bung Karno mengangkatnya sebagai anggota Panitia Lagu Kebangsaan Indonesia Raya bersama dengan Ki Hadjar Dewantara, Muh. Yamin,  Ibu Sud, C. Simanjutak, Sanusi Pane dan lain-lain dibawah pimpinan Bung Karno. Pekerjaannya dimulai di zaman Jepang, kemudian dilanjutkan di zaman kemerdekaan di Yogyakarta sampai sekarang. Sebelum ke Yogyakarta ia bekeija pada ALRI di Lawang Jawa Timur dan kemudian pada Badan Penerima Kesatria I (Angkatan Darat) di Madiun, semuanya sebagai ahli musik.

Di Yogyakarta Kusbini berkarya terus, mencatat berbagai lagu, termasuk lagu-lagu daerah, mengaransir dan mencipta lagu serta bekeija sama dengan pengarang yang lain. Bertolak dari ciptaanva keroncong, menghilangkan ciri-cirinya yang kampungan, Si Buaya keroncong itu telah berhasil mengumpulkan berbagai lagu untuk dipelajari, diteliti dan dicatat kemudian menjadi “dokumentasi keroncong” yang berharga untuk bahan sejarah musik Indonesia.

1 April 1943, berdirinya Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shideshe), yang berkantor di Jalan Noordewijk (sekarang Jalan Ir. H. Djuanda) Jakarta, Kusbini terpilih sebagai wakil ketua Bagian Musik.

19 Maret 1943, berdirinya PUTRA (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh Bung Karno, para seniman dan seniwati mendapat peluang yang lebih luas Dengan pergaulan yang erat antara seniman-seniman, sastrawan dan pimpinan-pimpinan bangsa, Kusbini banyak mendapat ilmu dan gagasan-gagasan di dalam menciptakan lagu-lagunya. Ia tidak saja mencipta lagu dengan syair, tetapi tidak sedikit pula syairnya ditulis oleh kawan-kawan seniman dan sastrawan, antara lain Padi Menguning (syair Armin Pane), Ronce melati (syair Akhdiat kartamihardja), Laguku atau Lagu Kasihku (syair Kardjomuljo) dan Suka Rayu, Smara Turun, Ratapan Ibu (syair Kama Djaya).

Tahun1953, menulis buku Kamus Musik, penerbit, UP. Indonesia, Yogyakarta.

Tahun 1963,  Tujuh Lagu Wajib, terbitan PN Balai Pustaka.

Tahun 1965, Merdu dan Gembira, penerbit PT. Pembangunan Jakarta.

Tahun 1965, Lagu Wajib, penerbit UP Indonesia, Yogyakarta.

17 Agustus 1972, buah ketekunan dan keahlian Kusbini dalam hal keroncong telah diakui terbukti dengan diperolehnya Anugrah Seni dari Departemen P dan K.

Tahun 1973, sebagai pegawai pada Departemen P dan K, menjabat sebagai kepala Seksi Seni Suara Urusan pension, khusus di bidang keroncong.

Tahun 1975, terlah terbit buku Indonesia Yang Kucinta. penghimpun M. Pardosi Siagian, penerbit Penyebar Musik Indonesia, Yogyakarta.

Januari 1977, memperoleh Piagam penghargaan atas segala bantuan dan pengabdiannva pada Sekolah Menengah Musik di Yogyakarta dikeluarkan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan dan ditandatangani oleh Drs Sunaijo M.Sc.

Tahun 1978, Kusbini telah menulis naskah Keroncong Indonesia : Sejarah dan Perkembangannva yang disusun sejak tahun 1924 sampai tahun 1978.

Tahun 1978, Mengenai lagu “Bagimu Negeri” ciptaan Kusbini ini pernah terjadi kesalahpahaman di dalam masyarakat baik mengenai notasinya, maupun judulnya, pernah dihebohkan tentang penciptanya antara Kusbini atau J. Semedi. Namun demikian Kusbini tetap bertahan berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta tahun 1912 yang tetap masih berlaku sampai sekarang, maka jelas Kusbinilah yang memiliki “Hak Cipta” atas lagu “Bagimu Negeri” (1942) dan juga lagu- lagu lain ciptaannya.

4 April 1979, memperoleh Piagam penghargaan atas pengabdiannva pada bidang seni suara keroncong dalam rangka Ketahanan Nasional dikeluarkan oleh Panglima Komando Wilayah Pertahanan II, Letjen Widodo.

Tahun 1979 UP (Urusan Penerbitan) Indonesia Yogyakarta mulai menerbitkan himpunan lagu- lagu bersama kawan-kawan.

Pada usia lanjut ini Kusbini tidak lagi tampak mencipta lagu-lagu baru, tetapi masih tetap bekerja menyusun berbagai sistem dan metode bermain musik disanggar Olah Seni Indonesia. Ia telah menemukan sistemnya sendiri dalam bermain gitar dan biola dan diajarkan di sanggamya dengan berhasil. Ia juga menekuni sistem bermain kelintang dan angklung untuk tenaga pengajar maupun untuk para murid-muridnya.

Tahun 1951, Kusbini mendirikan Sanggar Olah Seni Indonesia (OSI), dalam masa pensiunnyaKusbini tidak pernah lelah atau capek karena musik, tanpa memaksakan diri Kusbini masih tetap tegar membimbing murid-muridnya di bidang pendidikan musik di sanggar OSI di rumahnya sendiri yang sederhana di Jalan Pengok Yogyakarta.

40 tahun di sana Kusbini bersama istrinva tercinta bernama Ngadiyem dan sebelas orang putra-putrinya menerapkan konsep pendidikan musik yang aartistik, idiil, religis, histens dan pelitis Dengan prinsip itu pendidikan-pendidikan tidak hanva diarahkan untuk menjadi instrumentalis atau vokalis saja, tetapi juga ke arah bangsa yang kuat dalam membawakan kebudayaannya.

Banyak sudah yang telah diperbuat oleh si buaya keroncong ini, yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk meningkatkan citra seni di Indonesia. Dari membangkitkan semangat patnotisme, cinta tanah air, sampai kepada tanggung jawab yang besar dalam mempertahankan mutu dan nilai kepribadian Indonesia dalam budaya seni musik kita.

Hasil dari gemblengan Kusbini melalui sanggar OSI-nya, lahirlah seniman-seniman musik yang tangguh dan berpengaruh, antara lain MP. Siagian, Ketua Komponis Nasional Indonesia, penyanyi seriosa Prawaningrum, penyanyi keroncong Subardjo HS dan banyak lagi yang lain-lain.

Daftar Pustaka

1.          Kamajaya, Sejarah Bagimu Negeri, Lagu Nasional, Penerbit U.P Indonesia,Yogyakarta, 1979.

2.          Kusbini, 16 Lagu wajib, Penerbit U.P Indonesia, Yogyakarta, 1966.

3.          Kamajaya, Riwayat Hidup Kusbini, U.P Indonesia, Yogyakarta, 1965. 4 Harian Kompas Minggu, 30 Desember 1979, Kusbini.

4.          Dibukukan, Siapa Pencipta Lagu Bagimu Negeri, Sinar Harapan Minggu, 8 April 1979.

5.          Tim Penulis, Butet Kartaredjasa dkk, 33 Profil Bu day a wan Indonesia. Penerbit Direktorat Televisi c/q Televisi RI Stasiun Yogyakarta, PT. Pustaka Sinar Harapan, PT. MTU Harian Suara Pembaharuan, PT. Gramedia-Devisi Penerbitan Buku, Percetakan PT. Intermasa, Jakarta. 1990.

6.          S. Sumardi, Drs. Sarijah Bintang Sudibyo (Ibu Sud) karya dan pengabdiannva, Depdikbud, Ditjarahnitra, Proyekl SDN, Jakarta, 1984.

Ensiklopedi Tokoh Budaya,  Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktoratsejarah Dan Nila1tradisional Proyekinventar1sasi Dan Dokumentasisejarah Nasional, Jakarta 1994, hlm. 159-164