Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

batik-sayu-wiwit-banyuwangi-41Sejarah pengembangan batik di Banyuwangi dimulai pada tahun 1980-an. Sentra batik pertama yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi adalah terletak di daerah Temenggungan. Awalnya, pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengirim beberapa orang dari kelurahan Temenggungan untuk belajar membatik. Sampai saat ini yang mampu bertahan hanya dua orang yaitu Soedjojo Dulhaji pendiri UD. Sayu Wiwit dan Ana Nemy pemilik UD. Sri Tanjung.

Berawal dari keadaan tersebut, pada tahun 1995 Soedjojo Dulhaji mencoba mengumpulkan para pengrajin batik dalam satu wadah dengan nama “Kelompok Kerja Pembatik”. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan potensi yang ada, baik dari segi pelestarian serta pengembangan batik Gajah Oling, serta untuk menghindari munculnya kejenuhan baik bagi para pengrajin itu sendiri maupun calon pembeli. Usaha tersebut semakin lama menunjukan kemajuan yang baik serta adanya respon dari masyarakat, maka pada tahun 1997 Bapak Soedjojo Dulhaji mendaftarkan usaha tersebut ke Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dan setelah itu usaha tersebut mendapatkan nama PT. Sayu Wiwit dengan No. SIUP: 0100/ 13-6/ PK/ III/ 1997, dengan spesialisasi tiga jenis produk, yaitu: batik tulis, batik cap, dan batik printing. Sejak  Soedjojo Dulhaji meninggal dunia, sanggar batik dikelola oleh Fonny Meilyasari (anak Bapak Soedjojo). Hanya saja, Ibu Fonny tidak memiliki ketrampilan membatik sehingga mengikuti magang di pembatik di Solo selama 2 minggu. Tujuannya adalah ingin menambah pengetahuan tentang teknik membatik yang benar dari daerah lain.

batik-sritanjung-banyuwangiNama Sayu Wiwit merupakan nama pahlawan wanita Banyuwangi yang kemudian digunakan sebagai nama dari sanggar batik tersebut. Tujuan didirikannya sanggar batik Sayu Wiwit adalah untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat khususnya penduduk kelurahan Temenggungan, serta menciptakan lapangan kerja bagi ibu-ibu dan remaja putus sekolah khususnya bagi mereka yang pernah mengikuti latihan kursus ketrampilan membatik dengan memacu dan memberikan motivasi untuk berproduksi kemudian menampung produksinya dan mengupayakan pemasarannya (Purwoko, 2011:35). Usaha  yang dilakukan oleh pendiri sanggar batik mendapatkan tanggapan yang positif dari Pemerintah Daerah Tingkat II Banyuwangi, Departemen Perindustrian, Departemen Tenaga Kerja. Perkembangan perusahaan batik Sayu Wiwit dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sehingga usahanya semakin maju.

 

Dinamika Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

  1. Proses Produksi dan Bahan Baku yang Digunakan

Proses produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit tidak jauh berbeda dengan proses produksi batik di tempat lain. Proses pembuatan batik tidak mengalami perubahan dari awal didirikan hingga sekarang ini. Proses pembuatan batik terdiri atas beberapa tahap, yaitu membatik, mewarna, menghilangkan malam, dan mencuci kain batik. Semua proses produksi batik masih bersifat tradisional karena semua masih dikerjakan dengan menggunakan tangan. Selain batik tulis yang digambar dengan menggunakan canting, Sanggar Batik Sayu Wiwit juga memproduksi batik cap, mengecap kain dilakukan dengan blok yang terbuat dari tembaga bertangkai pegangan dari kayu yang di sisi dalamnya berbentuk motif batik.

Sejak awal didirikannya industri batik Sayu Wiwit pada tahun 1995, produksi batik hanya berupa batik tulis. Namun untuk mengantisipasi minimnya jumlah pembatik dan mempercepat waktu produksi, pemilik Sanggar Batik Sayu Wiwit melakukan strategi dengan menambah alat batik cap agar hasil produksi batik dapat bertambah dalam waktu yang relatif singkat. Batik cap diproduksi Sanggar Batik Sayu Wiwit sejak tahun 2000.

  1. Variasi Motif

Sanggar Batik Sayu Wiwit pada awalnya hanya memproduksi motif batik Gajah Oling. Motif batik Gajah Oling merupakan perpaduan antara gambar atau ornamen kupu-kupu, batang, daun, dan bunga melati. Motif batik Gajah Oling merupakan batik yang mempunyai tingkat kesulitan yang paling tinggi dalam proses pembuatannya. Pada perkembangan selanjutnya, Sayu Wiwit menambah produksi motif batik tulis yaitu motif batik Kangkung Setingkes dan motif batik Paras Gempal. Konsumen juga dapat memesan kain batik dengan motif lain dengan langsung datang ke sanggar tempat pembuatan batik Sayu Wiwit dengan membawa desain batik yang diinginkan.

Beberapa hasil pengembangan motif Gajah Oling yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit antaralain :

1) motif Kembang Kates
2) motif Teratai
3) motif Zig-Zag
4) motif Gunung
5) Anas Garis
6) Gelombang Cinta
7) Kantil
8) Semanggi
9) Anggur
10) Ukiran

  1. Aktivitas Pemasaran

Pemasaran pada industri kerajinan batik Sayu Wiwit pada awalnya hanya dilakukan di rumah produksi. Para konsumen datang langsung ke tempat produksi untuk membeli batik dan dapat melihat secara langsung proses pembuatan batik. Selain itu biasanya ada pula yang dibawa oleh pedagang pengecer untuk dipasarkan kembali di luar daerah Banyuwangi. Seiring berkembangnya usaha kerajinan batik, pada awal tahun 2011 usaha kerajinan batik Sayu Wiwit membuka showroom yang diberi nama Umah Batik Sayu Wiwit. Sebelumnya para calon pembeli harus berjalan kaki terlebih dahulu ketika akan membeli batik, setelah didirikannya Umah Batik Sayu Wiwit akan memudahnya para pembeli untuk datang. Showroom juga digunakan sebagai sarana promosi agar para calon pembeli tertarik untuk datang ke tempat penjualan batik.

Pemasaran hasil produksi sanggar batik Sayu Wiwit tidak hanya disalurkan melalui showroom yang dimilikinya, namun untuk meningkatkan penjualan Sayu Wiwit melakukan strategi promosi yang lain. Saluran promosi yang digunakan Sanggar Batik Sayu Wiwit melalui media periklanan. Kegiatan periklanan yang dilakukan Sanggar Batik Sayu Wiwit melalui pemasangan iklan di surat kabar, spanduk, maupun penyiaran radio.

  1. Dampak Industri Batik Terhadap Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Batik Sayu Wiwit di Kelurahan Temenggungan

Perkembangan industri batik di Kelurahan Temenggungan mempengaruhi dan merubah kondisi masyarakat sekitar, khususnya pada karyawan industri kerajinan batik. Melalui keberadaan industri batik di Kelurahan Temenggungan, timbul pergeseran lapangan kerja yang lama ke bidang usaha yang baru. Beralihnya profesi ke bidang industri membuat taraf kehidupan ekonomi masyarakat dalam segi pendapatan menjadi meningkat. Keadaan tersebut memacu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tidak hanya kebutuhan pokok sehari-hari melainkan juga kebutuhan lain yang bersifat sekunder. Kebutuhan sekunder yang dimaksud adalah barang-barang elektronik seperti televisi dan sarana transportasi seperti sepeda dan kendaraaan bermotor.

Dampak ekonomis dari pendirian industri kerajinan batik adalah adanya penghasilan tambahan bagi masyarakat yang terlibat dalam industri batik, dalam hal ini adalah pengusaha, pengrajin, dan pengecer. Beralihnya masyarakat yang bekerja di luar industri menjadi kerja industri disebabkan oleh faktor keadaan sosial ekonomi. Sementara biaya hidup semakin meningkat sedangkan mereka tidak dapat hanya mengandalkan gaji yang diperoleh dan yang bermata pencaharian sebagai tukang rumah atau buruh tani tidak memperoleh gaji secara tetap.

Secara sosial ada beberapa dampak yang dirasakan oleh para pengrajin, diantaranya adalah semakin erat hubungan antar tenaga kerja atau karyawan perusahaan. Keeratan hubungan antar tenaga kerja timbul karena kebiasaan para pengrajin melakukan pekerjaan bersamasama di sanggar karya milik perusahaan. Setiap kehidupan masyarakat selalu terjadi adanya interaksi sosial. Tanpa adanya interaksi sosial, maka tidak mungkin ada kehidupan bersama.

  1. Usaha Pelestarian Batik

Seiring dengan perkembangan zaman, hingga saat ini banyak tumbuh berkembang pengrajin batik menyebar hampir di seluruh wilayah Kecamatan maupun Kabupaten Banyuwangi, hal tersebut dikarenakan adanya dukungan positif dari semua pihak terhadap keberadaan batik Banyuwangi diantaranya Kebijakan Pemerintah Daerah dalam upaya pengembangan batik di Banyuwangi serta pemakaian batik khas daerah untuk seragam Dinas maupun Sekolah pada hari dan acara tertentu.

Kelestarian batik ikut terjaga ketika adanya peraturan yang dibuat pemerintah kabupaten Banyuwangi sejak 2009, yang mewajibkan semua pegawai pemerintah daerah dan pegawai negeri sipil di Banyuwangi untuk menggunakan seragam batik dengan motif Gajah Oling pada setiap hari Kamis, Jumat, dan Sabtu. Selain itu, juga untuk pemakaian busana khas Banyuwangi yaitu Jebeng dan Thulik (Duta Wisata dan Kebudayaan Banyuwangi) pada Thulik, batik motif Gajah Oling dipakai pada udeng tongkosan dan sembong sedang, sedangkan pada Jebeng batik Gajah Oling digunakan sebagai kain panjang.

Pemerintah sendiri memiliki beberapa program untuk kembali mengenalkan Batik Banyuwangi kepada masyarakat karena kekayaan budaya dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembangunan di Banyuwangi, dan batik menjadi salah satu produk kebudayaan yang termasuk dalam seni kerajinan rakyat.

——————————————————————————————-Rara Sonia Estiningtiyas, Sumardi. Bambang Soepeno. Dinamika Industri Kerajinan Batik Sayu Wiwit Di Kelurahan Temenggungan Kecamatan Kota Banyuwangi 1995─2014.
Universitas Jember (UNEJ)

Batik Gajah Oling, Kabupaten Banyuwangi

Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, Kabupaten Banyuwangi

batik-gajah-olingDalam penciptaan karya seni seorang perancang dapat mewujudkan pola rancangan melalui unsur-unsur visual sehingga pola yang dirancang bisa diamati atau dirasakan oleh orang lain. Unsur-unsur desain yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit berdasarkan kepekaan estetik perancang tanpa mengurangi nilai filosofi yang terkandung di dalamnya unsur-unsur desain yang ditemukan dalam desain batik Gajah Oling meliputi unsur titik, garis, dan bidang. Unsur titik digunakan sebagai pelengkap motif hias atau yang disebut isen-isen. Unsur garis digunakan sebagai komponen utama yang akan diwujudkan dalam pola motif batik, unsur garis bisa juga disandingkan dengan unsur titik hingga menjadi suatu pelengkap motif hias pada batik. Unsur bidang terlihat dalam berbagai bentuk motif batik, misalnya motif Gajah Oling, motif Daun Katu, motif Ular berkepala manusia, dan lain sebagainya. Unsur bidang dalam desain batik Gajah Oling ini ada yang berbentuk geometrik ada pula yang berbentuk non geometrik.

gajah-oling-batikkhas-banyuwangi4Dalam penciptaan suatu desain tidak hanya unsur-unsur desain saja yang diperlukan tetapi prinsip-prinsin desain juga perlu dipertimbangakan. Prinsipprinsip desain yang diterapkan oleh perancang batik dibuat berdasarkan hasil kepekaan estetik perancang dalam mengkomposisikan unsur dan prinsip sesuai dengan yang diharapkan. Prinsip-prinsip desain yang ada pada desain motif Batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit antara lain adalah prinsip kesatuan, keseimbangan, dan irama. Prinsip kesatuan yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling ini adalah penggunaan bentuk seragam dari motif Gajah Oling, motif Daun Katu, dan lain-lain dengan jarak motif yang berdekatan. Prinsip keseimbangan yang ada pada desain batik Gajah Oling adalah keseimbangan simetri karena susunan ruang sebelah kiri dan sebelah kanan dalam keadaan sama persis baik dari segi ukuran maupun penempatan komposisinya. Prinsip irama yang ada pada desain batik Gajah Oling dapat terlihat dari perulangan motif Gajah Oling dan motif Daun Katu.

Dalam proses pembuatan suatu karya, hal yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk tersebut adalah media. Untuk pembuatan batik Gajah Oling media yang digunakan berupa alat dan bahan untuk membuat batik. Proses  Unsur garis pada salah satu desain Batik Gajah Oling Unsur bidang pada salah satu desain batik Gajah Oling Kesatuan pada salah satu desain Batik Gajah Oling terlihat dari penggunaan unsur titik, garis dan bidang terlihat utuh sebagai suatu kesatuan.

Keseimbangan pada salah satu desain batik Gajah Oling ini adalah keseimbangan simetri dimana susunan ruang antara sebelah kiri dan kanan sama persis. Irama pada salah satu desain batik Gajah Oling ini dapat diamati dari gerak perulangan yang mengalir membentuk garis semu. Pembuatan batik tulis di Sanggar Batik Sayu Wiwit dapat diperoleh data sebagai berikut:

(1) Persiapan alat dan bahan; media yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam pembuatan batik Gajah Oling meliputi alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam membuat batik adalah kompor batik, wajan, canting, gawangan, bak besar, kuas dan gelas plastik, sarung tangan, taplak. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kain mori primissima, malam batik, pewarna batik yaitu naphtol dan remashol;

(2) Pengolahan Kain; pada Sanggar Batik Sayu Wiwit pengolahan kain dilakukan dengan cara merendam kain dengan larutan TRO semalaman kemudian mencuci kain mori dengan air bersih dengan menggunakan mesin pencuci kain. Proses pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan kanji pada kain. Dengan menggunakan mesin pencuci ini kain yang dicuci bisa mencapai 275 m per satu kali cuci. Setelah kain dicuci bersih, kemudian kain dikeringkan;

(3) Memotong Kain; cara memotong kain dengan menggunakan gunting yang telah disiapkan. Mori yang telah diberi tanda dimana mori yang akan dipotong digunting sedikit kurang lebih 3 cm kemudian dirobek dengan tangan;

(4) Pemindahan Pola Batik pada Kain; pemindahan pola yang dilakukan oleh pengrajin batik Sayu Wiwit adalah memindahkan pola menggunakan meja pola;

(5) Proses Pencantingan; pada proses pembuatan batik  ini ada dua proses yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit yaitu proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing proses pembuatan batik tulis dan batik cap;

a) Pencantingan Batik Tulis: proses pembatikan batik tulis dilakukan dengan tahapan pertama yaitu ngreng-reng. Pada tahap ini pengrajin membatik kontur-kontur menurut pola dasar yang telah dibuat. Tahap kedua adalah memberi isen-isen. Isen-isen adalah proses penambahan hiasan pada motif batik agar terlihat lebih semarak. Tahap ketiga adalah menembok. Menembok merupakan menutup bidang yang tidak dikehendaki terkena warna;

b) Pencantingan Batik Cap: proses pembatikan batik cap yang dilakukan pengrajin Sanggar Batik Sayu Wiwit adalah pertama malam batik yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu, tahapan kedua adalah canting cap yang akan dipakai diletakkan di atas wajan besar yang telah berisi malam batik, tahapan ketiga adalah pengambilan malam batik menggunakan cap dan kemudian dicapkan pada kain yang telah diletakkan di atas bantalan meja cap, tahapan keempat adalah melakukan kegiatan meletakkan cap diatas kain secara berulangulang;

(6) Proses Pewarnaan; ada dua teknik yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam proses pewarnaan yaitu teknik celup dan teknik colet. Berikut akan dijelaskan tentang proses pewarnaan yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit;

a) Teknik Celup: proses pewarnaan teknik celup yang dilakukan oleh pengrajin di Sanggar Batik Sayu Wiwit menggunakan bahan pewarna naphtol. Jenis bahan pewarna ini banyak sekali digunakan didalam pembatikan. Cara pemakaiannya adalah hasil kombinasi antara dari campuran Naphtol dan Garam Diazo. Perbandingan bahan naphtol dengan garam diazo adalah 1:3, misalnya naphtol 3 gram maka garam diazo yang dipakai adalah 9 gram;

b) Teknik Colet: tahap-tahap pewarnaan yang dilakukan oleh pengrajin batik di Sanggar Batik Sayu Wiwit sama seperti yang dijelaskan oleh Sewan Susanto dalam buku Seni Kerajinan Batik Indonesia. Tahap-tahap teknik pencoletan menggunakan remazol, yaitu tahap pertama kain yang akan dicolet direntangkan dengan menggunakan gawangan, tahap kedua larutan remazol dikuaskan pada permukaan kain secara merata, tahap ketiga kain yang sudah dikuas larutan remazol dikeringkan selama 4 jam, tahap keempat setelah dikeringkan kain akan dikuas lagi dengan natrium-silikat dan dibiarkan semalaman, tahap kelima kain yang telah dibiarkan semalam dicuci untuk menghilangkan sisa cat yang melekat dan natrium-silikat yang melekat;

(7) Pelorodan Malam; proses nglorod kain batik dilakukan oleh para pengrajin dengan cara memasukkan kain batik ke dalam kuali besar yang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu. Proses ngelorod biasa membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, tergantung berapa banyaknya kain yang akan dilorod. Setelah proses nglorod selesai maka kain dicuci dengan air bersih pada sebuah kolam besar sampai malam batik  yang menempel pada kain benar-benar bersih kemudian kain dikeringkan. Dari proses inilah hasil pembatikan pada kain dapat dilihat.

Batik Gajah Oling Banyuwangi sama halnya dengan batik yang ada di daerah lain di Indonesia yang memiliki ciri khas daerah, baik dari segi motif maupun segi pewarnaannya. Pada motif batik Gajah Oling terdapat motif pokok yang terdiri dari motif Gajah Oling, motif daun dilem, bunga melati dan manggar. Motif batik Gajah Oling motif pokoknya berasal dari varian dasar huruf S yang merupakan motif tertua di Indonesia. Motif daun dilem berasal dari sejenis tanaman semak yang dapat tumbuh dimana saja dan mempunyai khasiat sebagai obat-obatan. Motif melati berasal dari bunga melati yang banyak tumbuh dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan motif manggar berasal dari manggar yaitu bunga kelapa yang mulai bermekaran.

Ditemukan delapan motif batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi  Gajah Oling Tradisional  Motif  Pola Sentral Bentuk Motif Gajah Oling , Daun Katu, Kupukupu. Unsur-unsur Motif Cecek, Cecek sawut, Cecek sawut daun, Warna Putih dan Hitam.

Terkait dengan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, ditemukan motif geometris dan motif non geometris sebagai motif tambahan yang berada dalam satu kesatuan motif Gajah Oling. Motif geometris terdiri dari motif Ceplokan, motif Garis Miring, motif Anyam, motif Banji. Motif non geometris terdiri darimotif Binatang dan motif Tumbuhan.

——————————————————————————————-Mutiara Zehan. Studi Desain Dan Motif Hias Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi.
Universitas Negeri Malang Mei 2012

Batik Gajah Oling, Kabupaten Banyuwangi

Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, Kabupaten Banyuwangi

batik-gajah-olingDalam penciptaan karya seni seorang perancang dapat mewujudkan pola rancangan melalui unsur-unsur visual sehingga pola yang dirancang bisa diamati atau dirasakan oleh orang lain. Unsur-unsur desain yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit berdasarkan kepekaan estetik perancang tanpa mengurangi nilai filosofi yang terkandung di dalamnya unsur-unsur desain yang ditemukan dalam desain batik Gajah Oling meliputi unsur titik, garis, dan bidang. Unsur titik digunakan sebagai pelengkap motif hias atau yang disebut isen-isen. Unsur garis digunakan sebagai komponen utama yang akan diwujudkan dalam pola motif batik, unsur garis bisa juga disandingkan dengan unsur titik hingga menjadi suatu pelengkap motif hias pada batik. Unsur bidang terlihat dalam berbagai bentuk motif batik, misalnya motif Gajah Oling, motif Daun Katu, motif Ular berkepala manusia, dan lain sebagainya. Unsur bidang dalam desain batik Gajah Oling ini ada yang berbentuk geometrik ada pula yang berbentuk non geometrik.

gajah-oling-batikkhas-banyuwangi4Dalam penciptaan suatu desain tidak hanya unsur-unsur desain saja yang diperlukan tetapi prinsip-prinsin desain juga perlu dipertimbangakan. Prinsipprinsip desain yang diterapkan oleh perancang batik dibuat berdasarkan hasil kepekaan estetik perancang dalam mengkomposisikan unsur dan prinsip sesuai dengan yang diharapkan. Prinsip-prinsip desain yang ada pada desain motif Batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit antara lain adalah prinsip kesatuan, keseimbangan, dan irama. Prinsip kesatuan yang diterapkan pada desain batik Gajah Oling ini adalah penggunaan bentuk seragam dari motif Gajah Oling, motif Daun Katu, dan lain-lain dengan jarak motif yang berdekatan. Prinsip keseimbangan yang ada pada desain batik Gajah Oling adalah keseimbangan simetri karena susunan ruang sebelah kiri dan sebelah kanan dalam keadaan sama persis baik dari segi ukuran maupun penempatan komposisinya. Prinsip irama yang ada pada desain batik Gajah Oling dapat terlihat dari perulangan motif Gajah Oling dan motif Daun Katu.

Dalam proses pembuatan suatu karya, hal yang sangat dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk tersebut adalah media. Untuk pembuatan batik Gajah Oling media yang digunakan berupa alat dan bahan untuk membuat batik. Proses  Unsur garis pada salah satu desain Batik Gajah Oling Unsur bidang pada salah satu desain batik Gajah Oling Kesatuan pada salah satu desain Batik Gajah Oling terlihat dari penggunaan unsur titik, garis dan bidang terlihat utuh sebagai suatu kesatuan.

Keseimbangan pada salah satu desain batik Gajah Oling ini adalah keseimbangan simetri dimana susunan ruang antara sebelah kiri dan kanan sama persis. Irama pada salah satu desain batik Gajah Oling ini dapat diamati dari gerak perulangan yang mengalir membentuk garis semu. Pembuatan batik tulis di Sanggar Batik Sayu Wiwit dapat diperoleh data sebagai berikut:

(1) Persiapan alat dan bahan; media yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam pembuatan batik Gajah Oling meliputi alat dan bahan. Alat yang digunakan dalam membuat batik adalah kompor batik, wajan, canting, gawangan, bak besar, kuas dan gelas plastik, sarung tangan, taplak. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kain mori primissima, malam batik, pewarna batik yaitu naphtol dan remashol;

(2) Pengolahan Kain; pada Sanggar Batik Sayu Wiwit pengolahan kain dilakukan dengan cara merendam kain dengan larutan TRO semalaman kemudian mencuci kain mori dengan air bersih dengan menggunakan mesin pencuci kain. Proses pencucian ini dilakukan untuk menghilangkan kandungan kanji pada kain. Dengan menggunakan mesin pencuci ini kain yang dicuci bisa mencapai 275 m per satu kali cuci. Setelah kain dicuci bersih, kemudian kain dikeringkan;

(3) Memotong Kain; cara memotong kain dengan menggunakan gunting yang telah disiapkan. Mori yang telah diberi tanda dimana mori yang akan dipotong digunting sedikit kurang lebih 3 cm kemudian dirobek dengan tangan;

(4) Pemindahan Pola Batik pada Kain; pemindahan pola yang dilakukan oleh pengrajin batik Sayu Wiwit adalah memindahkan pola menggunakan meja pola;

(5) Proses Pencantingan; pada proses pembuatan batik  ini ada dua proses yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit yaitu proses pembuatan batik tulis dan batik cap. Berikut ini akan dijelaskan masing-masing proses pembuatan batik tulis dan batik cap;

a) Pencantingan Batik Tulis: proses pembatikan batik tulis dilakukan dengan tahapan pertama yaitu ngreng-reng. Pada tahap ini pengrajin membatik kontur-kontur menurut pola dasar yang telah dibuat. Tahap kedua adalah memberi isen-isen. Isen-isen adalah proses penambahan hiasan pada motif batik agar terlihat lebih semarak. Tahap ketiga adalah menembok. Menembok merupakan menutup bidang yang tidak dikehendaki terkena warna;

b) Pencantingan Batik Cap: proses pembatikan batik cap yang dilakukan pengrajin Sanggar Batik Sayu Wiwit adalah pertama malam batik yang akan digunakan dipanaskan terlebih dahulu, tahapan kedua adalah canting cap yang akan dipakai diletakkan di atas wajan besar yang telah berisi malam batik, tahapan ketiga adalah pengambilan malam batik menggunakan cap dan kemudian dicapkan pada kain yang telah diletakkan di atas bantalan meja cap, tahapan keempat adalah melakukan kegiatan meletakkan cap diatas kain secara berulangulang;

(6) Proses Pewarnaan; ada dua teknik yang digunakan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit dalam proses pewarnaan yaitu teknik celup dan teknik colet. Berikut akan dijelaskan tentang proses pewarnaan yang dilakukan oleh Sanggar Batik Sayu Wiwit;

a) Teknik Celup: proses pewarnaan teknik celup yang dilakukan oleh pengrajin di Sanggar Batik Sayu Wiwit menggunakan bahan pewarna naphtol. Jenis bahan pewarna ini banyak sekali digunakan didalam pembatikan. Cara pemakaiannya adalah hasil kombinasi antara dari campuran Naphtol dan Garam Diazo. Perbandingan bahan naphtol dengan garam diazo adalah 1:3, misalnya naphtol 3 gram maka garam diazo yang dipakai adalah 9 gram;

b) Teknik Colet: tahap-tahap pewarnaan yang dilakukan oleh pengrajin batik di Sanggar Batik Sayu Wiwit sama seperti yang dijelaskan oleh Sewan Susanto dalam buku Seni Kerajinan Batik Indonesia. Tahap-tahap teknik pencoletan menggunakan remazol, yaitu tahap pertama kain yang akan dicolet direntangkan dengan menggunakan gawangan, tahap kedua larutan remazol dikuaskan pada permukaan kain secara merata, tahap ketiga kain yang sudah dikuas larutan remazol dikeringkan selama 4 jam, tahap keempat setelah dikeringkan kain akan dikuas lagi dengan natrium-silikat dan dibiarkan semalaman, tahap kelima kain yang telah dibiarkan semalam dicuci untuk menghilangkan sisa cat yang melekat dan natrium-silikat yang melekat;

(7) Pelorodan Malam; proses nglorod kain batik dilakukan oleh para pengrajin dengan cara memasukkan kain batik ke dalam kuali besar yang berisi air mendidih yang telah dicampur dengan soda abu. Proses ngelorod biasa membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, tergantung berapa banyaknya kain yang akan dilorod. Setelah proses nglorod selesai maka kain dicuci dengan air bersih pada sebuah kolam besar sampai malam batik  yang menempel pada kain benar-benar bersih kemudian kain dikeringkan. Dari proses inilah hasil pembatikan pada kain dapat dilihat.

Batik Gajah Oling Banyuwangi sama halnya dengan batik yang ada di daerah lain di Indonesia yang memiliki ciri khas daerah, baik dari segi motif maupun segi pewarnaannya. Pada motif batik Gajah Oling terdapat motif pokok yang terdiri dari motif Gajah Oling, motif daun dilem, bunga melati dan manggar. Motif batik Gajah Oling motif pokoknya berasal dari varian dasar huruf S yang merupakan motif tertua di Indonesia. Motif daun dilem berasal dari sejenis tanaman semak yang dapat tumbuh dimana saja dan mempunyai khasiat sebagai obat-obatan. Motif melati berasal dari bunga melati yang banyak tumbuh dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Sedangkan motif manggar berasal dari manggar yaitu bunga kelapa yang mulai bermekaran.

Ditemukan delapan motif batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi  Gajah Oling Tradisional  Motif  Pola Sentral Bentuk Motif Gajah Oling , Daun Katu, Kupukupu. Unsur-unsur Motif Cecek, Cecek sawut, Cecek sawut daun, Warna Putih dan Hitam.

Terkait dengan visualisasi motif batik Gajah Oling produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit, ditemukan motif geometris dan motif non geometris sebagai motif tambahan yang berada dalam satu kesatuan motif Gajah Oling. Motif geometris terdiri dari motif Ceplokan, motif Garis Miring, motif Anyam, motif Banji. Motif non geometris terdiri darimotif Binatang dan motif Tumbuhan.

——————————————————————————————-Mutiara Zehan. Studi Desain Dan Motif Hias Batik Gajah Oling Produksi Sanggar Batik Sayu Wiwit Banyuwangi.
Universitas Negeri Malang Mei 2012

Batik Khas Kota Probolinggo

foto180Batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang ditanam sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Salah satu jenis batik yang terdapat di Jawa Timur adalah batik Manggur, Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah mangga dan anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Khas Kota Probolinggo dengan motif yang terkesan alami, diambil dari motif-motif yang bernuansa alam seperti motif anggur, mangga, bayu, dan angin, atau perpaduan dari unsur keempatnya. Di Kota Probolinggo dikenal dengan potensi tanaman mangga dan anggur, maka buah yang segar itu diangkat menjadi produk batik. Demikian pula, letaknya yang berada di pinggir pantai utara Jawa (pantura) mengilhami para pembatik untuk menciptakan motif angin. Masing-masing motif memiliki filosofi dan makna tersendiri. Beberapa contoh motif Batik Manggur beserta filosofinya yaitu Batik Manggur Teratai Putih dan Ayam Bekisar. Bunga Teratai Putih melambangkan jiwa seorang wanita yang cantik dan ulet atau kreatif. Beberapa contoh motif batik Manggur lainnya adalah motif Angin Gending, motif Kali Banger dan lain-lain.

Dalam pembuatan corak atau motif batik khas kota Probolinggo ini harus menguasai teknik pembuatan batik secara manual atau batik tulis, sehingga batik mempunyai corak khas dan berbeda dengan batikbatik yang lain. Batik Khas Kota Probolinggo yang asli dibuat secara tradisional atau jenis batik tulis yang bermotif alamiah, cara pembuatannya yaitu dengan cara menggambar batik memakai malam, setelah itu diwarnai sesuai dengan motif.  Keunikan produk didasarkan pada proses pembuatannya warna alami yang diambil dari pohon-pohon setempat seperti dari daun ketepeng, daun mangga, kulit kayu mauni, dan lain-lain. Tentunya dengan pembuatan menggunakan warna alami memiliki kualitas yang tidak diragukan.

Batik Probolinggo perlu untuk lebih diperkenalkan dan dipromosikan, upaya itu telah diupayakan oleh paguyuban pecinta batik dan pengrajin batik kota Probolinggo dengan menggelar acara kirab batik sepanjang 100 meter yang berisi 651 motif batik. Dan berhasil menjadi kain batik terpanjang di Indonesia dengan motif terbanyak di dunia, seperti tertuang di dalam rekor MURI nomor : 4504/r.muri/x/2010. Langkah spektakuler seperti ini merupakan salah satu cara agar semua orang menengok pada batik motif khas Probolinggo yang kebangkitannya diakui masih seumur jagung. (Yusak Anshori dan Adi Kusrianto 235-236)

Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (bayu, angin, anggur dan mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Manggur merupakan batik yang memiliki corak dengan dominan buah mangga dan anggur, motif batik khas Probolinggo ini sudah dituangkan di berbagai jenis kain. Yang paling laris dari kain katun, kain santung dan kain sutra. Pada bulan Oktober 2009, Ibu Malikha selaku pemilik batik Manggur mengikuti pameran di Gramedia Expo, Surabaya. Pameran yang awalnya diikuti seluruh pengrajin batik se-Jawa Timur ini, ibu Malikha meraih prestasi yang membanggakan. Motif batik seribu taman milik beliau terpilih sebagai salah satu motif terbaik. Selain itu, Ibu Malikha sudah berhasil menciptakan banyak motif lainnya seperti pesisiran, angin, mega mendung, mangga parang, mangga kawung, dan banyak lainnya. Bagi Ibu Malikha tidak sulit untuk membuat desain motif batik.

Keadaan di sekitar kota Probolinggo dapat dijadikan sebagai inspirasi yang dapat dituangkan dalam motif batik, misalnya untuk pembuatan batik motif pesisiran, beliau terinspirasi dengan image Kota Probolinggo yang masyarakatnya pesisir. Kemudian beliau menuangkan ide tersebut ke dalam desain batik dengan motif gabungan ada ikan dan rumput laut. Begitu juga dengan motif angin, karena Probolinggo terkenal dengan angin gendingnya yang berhembus kencang sekitar bulan September sampai November. Kemudian dibuat sketsa desain batik di kain dengan visual menyerupai angin sehingga menjadi motif angin.

Dalam pembuatan motif batik yang dibuat tidak selalu harus terdapat buah mangga dan anggur. Misalnya dari julukan kota Probolinggo juga dapat dijadikan batik. Seperti motif kali banger yang terinspirasi adanya salah satu sungai di Probolinggo. Tetapi dalam pembuatan motif batik, buah mangga dan anggur tetap menjadi ciri khas batiknya, yang hampir dari sebagian besar motif batiknya disertakan mangga dan anggur. Tetapi juga ada beberapa motif yang tidak ada buah mangga dan anggur, yang menggambarkan kota Probolinggo.

Di akhir tahun 2009, pemilik batik Manggur, Ibu Malikha mulai menekuni dan mengembangkan bisnis batik Manggurnya. Nama Manggur dipilih karena merupakan kependekan dari buah mangga dan anggur, yang tak lain merupakan identitas dari kota Probolinggo. Awalnya untuk mengembangkan bisnisnya, Ibu Malikha hanya dibantu oleh temantemannya yang mengikuti pelatihan. Namun seiring dengan banyaknya permintaan pasar, Ibu Malikha mengajak warga sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya. Beliau mengharapkan warga sekitarnya maju dan beliau memilih para perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Para perempuan itu mendapat pelatihan membuat batik tulis. Tujuan mengadakan pelatihan membuat batik, agar keahlian membatik nantinya bisa menjadi tambahan pendapatan bagi para ibu rumah tangga disekitarnya. Kurang lebih ada sekitar 20 orang yang membantu bisnis batik Manggur ibu Malikha ini. Pada tanggal 26 Juni 2010, Ibu Malikha mengikuti pameran Semipro untuk kedua kalinya.

Pada tahun 2011 merek batik Manggurnya didaftarkan ke Dinas Koperindag kota Probolinggo. Bisnis batik Manggurnya pun semakin maju dan berkembang. Puncaknya pada April 2013, beliau mendapat informasi dari Kepala Bidang Industri di Dinas Koperindag Probolinggo tentang pendaftaran Batikmark “Batik Indonesia”. Sebuah sertifikasi batik yang dikeluarkan Kementrian Perindustrian. Batikmark adalah yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia. Setelah dua minggu kemudian, beliau mendapat kunjungan tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik yang datang ke tempatnya. Yang dinilai dari aspek apakah benar batik tulis atau campuran. Kemudian aspek lain yang dinilai mengenai kualitas hasil, perwarnaan, kualitas kain (luntur atau tidaknya).

Setelah proses selama tiga bulan, tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik memastikan keaslian batik produksinya. Batik tulis milik Ibu Malikha termasuk batik yang hasil desainnya sangat halus. Hal tersebut didasarkan pada sketsa dasar pembuatan desainnya, termasuk proses pengecilan desain. Selain itu pengerjaan satu lembar batiknya memakan waktu yang cukup lama hingga dua minggu. Hasilnya halus karena membuat dari canting yang berukuran kecil.

Pada bulan September 2013 batik Manggur milik Ibu Malikha dinyatakan lolos oleh tim penguji dan berhak memiliki logo Batikmark “Batik Indonesia”. Dengan adanya logo itu, batik Manggur buatannya dapat bersaing dengan batik yang lain. Melalui kerja kerasnya, batik Manggur semakin banyak digemari oleh konsumen. Saat ini, disamping terus mengembangkan usaha batik, beliau kerap kali menjadi instruktur batik. Undangan menjadi instruktur terus dilakoni karena beliau mempunyai prinsip untuk berbagi ilmu dengan yang lain.

Proses pembuatan batik Manggur adalah sebagai berikut :

  1. Pertama kain putih direndam dengan TRO (Turkey Red Oil) selama 24 jam, selanjutnya kain dicuci dan dibilas sampai bersih.
  2. Selanjutnya merebus air, sebelum air mendidih dimasukkan soda As (soda abu), juga ada yang menggunakan tawas, setelah air mendidih, kain dimasukkan sambil dibolak balik selama kurang lebih 1 jam.
  3. Kemudian kain tetap dibiarkan di dalam panci selama 12 jam.
  4. Selanjutnya kain dibilas bersih kemudian dijemur, setelah dijemur kain disetrika.
  5. Lalu mulai proses membuat desain di kain, kemudian dicanting dengan malam, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
  6. Kemudian kain dicelup ke-pewarna selama 15 menit (diratakan), kemudian dijemur di tempat yang teduh.
  7. Setelah setengah kering, kain dimasukkan ke pewarna selama 15 menit. (proses ini dilakukan sebanyak 5 kali).
  8. Kemudian difiksasikan (dikunci) dengan beningnya air kapur selama 15 menit. Selama proses ini kain diratakan secara bolak balik, kemudian dibilas air bersih. Setelah itu kain dijemur kembali di tempat teduh.
  9. Setelah 3 kali difiksasikan ditutup dengan malam.
  10. Jika menambah warna lain, dilakukan proses serupa seperti keterangan proses pewarnaan diatas. Keterangan : Jika menginginkan dasar warna yang gelap, gunakan batu tunjung).
  11. Proses terakhir yaitu melorot (menghilangkan malam). Caranya kain dicelupkan di air yang direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, malam akan lepas dengan sendirinya.

Batik Manggur merupakan salah satu batik yang khas dari kota Probolinggo. Dengan memiliki keunikan berupa sebagian motifnya terdapat buah mangga dan anggur, batik ini memiliki daya tarik tersendiri. Dengan beberapa motif yang digemari seperti motif seribu taman, Potensi batik Manggur ini sangat besar, batik yang terbilang masih baru namun sudah memiliki logo batikmark „Batik Indonesia‟.

——————————————————————————————-Stefanus Yohan Wijaya, Maria Nala D., Aniendya Christianna. Perancangan Buku Bertema Batik Manggur Probolinggo  Dengan Pendekatan Fotografi (Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain) Universitas Kristen Petra.

Batik Khas Kota Probolinggo

foto180Batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang ditanam sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.

Salah satu jenis batik yang terdapat di Jawa Timur adalah batik Manggur, Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah mangga dan anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Khas Kota Probolinggo dengan motif yang terkesan alami, diambil dari motif-motif yang bernuansa alam seperti motif anggur, mangga, bayu, dan angin, atau perpaduan dari unsur keempatnya. Di Kota Probolinggo dikenal dengan potensi tanaman mangga dan anggur, maka buah yang segar itu diangkat menjadi produk batik. Demikian pula, letaknya yang berada di pinggir pantai utara Jawa (pantura) mengilhami para pembatik untuk menciptakan motif angin. Masing-masing motif memiliki filosofi dan makna tersendiri. Beberapa contoh motif Batik Manggur beserta filosofinya yaitu Batik Manggur Teratai Putih dan Ayam Bekisar. Bunga Teratai Putih melambangkan jiwa seorang wanita yang cantik dan ulet atau kreatif. Beberapa contoh motif batik Manggur lainnya adalah motif Angin Gending, motif Kali Banger dan lain-lain.

Dalam pembuatan corak atau motif batik khas kota Probolinggo ini harus menguasai teknik pembuatan batik secara manual atau batik tulis, sehingga batik mempunyai corak khas dan berbeda dengan batikbatik yang lain. Batik Khas Kota Probolinggo yang asli dibuat secara tradisional atau jenis batik tulis yang bermotif alamiah, cara pembuatannya yaitu dengan cara menggambar batik memakai malam, setelah itu diwarnai sesuai dengan motif.  Keunikan produk didasarkan pada proses pembuatannya warna alami yang diambil dari pohon-pohon setempat seperti dari daun ketepeng, daun mangga, kulit kayu mauni, dan lain-lain. Tentunya dengan pembuatan menggunakan warna alami memiliki kualitas yang tidak diragukan.

Batik Probolinggo perlu untuk lebih diperkenalkan dan dipromosikan, upaya itu telah diupayakan oleh paguyuban pecinta batik dan pengrajin batik kota Probolinggo dengan menggelar acara kirab batik sepanjang 100 meter yang berisi 651 motif batik. Dan berhasil menjadi kain batik terpanjang di Indonesia dengan motif terbanyak di dunia, seperti tertuang di dalam rekor MURI nomor : 4504/r.muri/x/2010. Langkah spektakuler seperti ini merupakan salah satu cara agar semua orang menengok pada batik motif khas Probolinggo yang kebangkitannya diakui masih seumur jagung. (Yusak Anshori dan Adi Kusrianto 235-236)

Batik Manggur merupakan batik khas dari kota Probolinggo. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para pengrajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (bayu, angin, anggur dan mangga). Sebagai inisiator, batik Manggur mempunyai keunikan, dengan ornamen dan bahan yang digunakan menciptakan batik berkualitas. Hal tersebut didasarkan pada seribu taman, motif angin dan mangga anggur.

Batik Manggur merupakan batik yang memiliki corak dengan dominan buah mangga dan anggur, motif batik khas Probolinggo ini sudah dituangkan di berbagai jenis kain. Yang paling laris dari kain katun, kain santung dan kain sutra. Pada bulan Oktober 2009, Ibu Malikha selaku pemilik batik Manggur mengikuti pameran di Gramedia Expo, Surabaya. Pameran yang awalnya diikuti seluruh pengrajin batik se-Jawa Timur ini, ibu Malikha meraih prestasi yang membanggakan. Motif batik seribu taman milik beliau terpilih sebagai salah satu motif terbaik. Selain itu, Ibu Malikha sudah berhasil menciptakan banyak motif lainnya seperti pesisiran, angin, mega mendung, mangga parang, mangga kawung, dan banyak lainnya. Bagi Ibu Malikha tidak sulit untuk membuat desain motif batik.

Keadaan di sekitar kota Probolinggo dapat dijadikan sebagai inspirasi yang dapat dituangkan dalam motif batik, misalnya untuk pembuatan batik motif pesisiran, beliau terinspirasi dengan image Kota Probolinggo yang masyarakatnya pesisir. Kemudian beliau menuangkan ide tersebut ke dalam desain batik dengan motif gabungan ada ikan dan rumput laut. Begitu juga dengan motif angin, karena Probolinggo terkenal dengan angin gendingnya yang berhembus kencang sekitar bulan September sampai November. Kemudian dibuat sketsa desain batik di kain dengan visual menyerupai angin sehingga menjadi motif angin.

Dalam pembuatan motif batik yang dibuat tidak selalu harus terdapat buah mangga dan anggur. Misalnya dari julukan kota Probolinggo juga dapat dijadikan batik. Seperti motif kali banger yang terinspirasi adanya salah satu sungai di Probolinggo. Tetapi dalam pembuatan motif batik, buah mangga dan anggur tetap menjadi ciri khas batiknya, yang hampir dari sebagian besar motif batiknya disertakan mangga dan anggur. Tetapi juga ada beberapa motif yang tidak ada buah mangga dan anggur, yang menggambarkan kota Probolinggo.

Di akhir tahun 2009, pemilik batik Manggur, Ibu Malikha mulai menekuni dan mengembangkan bisnis batik Manggurnya. Nama Manggur dipilih karena merupakan kependekan dari buah mangga dan anggur, yang tak lain merupakan identitas dari kota Probolinggo. Awalnya untuk mengembangkan bisnisnya, Ibu Malikha hanya dibantu oleh temantemannya yang mengikuti pelatihan. Namun seiring dengan banyaknya permintaan pasar, Ibu Malikha mengajak warga sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya. Beliau mengharapkan warga sekitarnya maju dan beliau memilih para perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Para perempuan itu mendapat pelatihan membuat batik tulis. Tujuan mengadakan pelatihan membuat batik, agar keahlian membatik nantinya bisa menjadi tambahan pendapatan bagi para ibu rumah tangga disekitarnya. Kurang lebih ada sekitar 20 orang yang membantu bisnis batik Manggur ibu Malikha ini. Pada tanggal 26 Juni 2010, Ibu Malikha mengikuti pameran Semipro untuk kedua kalinya.

Pada tahun 2011 merek batik Manggurnya didaftarkan ke Dinas Koperindag kota Probolinggo. Bisnis batik Manggurnya pun semakin maju dan berkembang. Puncaknya pada April 2013, beliau mendapat informasi dari Kepala Bidang Industri di Dinas Koperindag Probolinggo tentang pendaftaran Batikmark “Batik Indonesia”. Sebuah sertifikasi batik yang dikeluarkan Kementrian Perindustrian. Batikmark adalah yang menunjukkan identitas dan ciri batik buatan Indonesia. Setelah dua minggu kemudian, beliau mendapat kunjungan tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik yang datang ke tempatnya. Yang dinilai dari aspek apakah benar batik tulis atau campuran. Kemudian aspek lain yang dinilai mengenai kualitas hasil, perwarnaan, kualitas kain (luntur atau tidaknya).

Setelah proses selama tiga bulan, tim dari Balai Besar Kerajinan dan Batik memastikan keaslian batik produksinya. Batik tulis milik Ibu Malikha termasuk batik yang hasil desainnya sangat halus. Hal tersebut didasarkan pada sketsa dasar pembuatan desainnya, termasuk proses pengecilan desain. Selain itu pengerjaan satu lembar batiknya memakan waktu yang cukup lama hingga dua minggu. Hasilnya halus karena membuat dari canting yang berukuran kecil.

Pada bulan September 2013 batik Manggur milik Ibu Malikha dinyatakan lolos oleh tim penguji dan berhak memiliki logo Batikmark “Batik Indonesia”. Dengan adanya logo itu, batik Manggur buatannya dapat bersaing dengan batik yang lain. Melalui kerja kerasnya, batik Manggur semakin banyak digemari oleh konsumen. Saat ini, disamping terus mengembangkan usaha batik, beliau kerap kali menjadi instruktur batik. Undangan menjadi instruktur terus dilakoni karena beliau mempunyai prinsip untuk berbagi ilmu dengan yang lain.

Proses pembuatan batik Manggur adalah sebagai berikut :

  1. Pertama kain putih direndam dengan TRO (Turkey Red Oil) selama 24 jam, selanjutnya kain dicuci dan dibilas sampai bersih.
  2. Selanjutnya merebus air, sebelum air mendidih dimasukkan soda As (soda abu), juga ada yang menggunakan tawas, setelah air mendidih, kain dimasukkan sambil dibolak balik selama kurang lebih 1 jam.
  3. Kemudian kain tetap dibiarkan di dalam panci selama 12 jam.
  4. Selanjutnya kain dibilas bersih kemudian dijemur, setelah dijemur kain disetrika.
  5. Lalu mulai proses membuat desain di kain, kemudian dicanting dengan malam, dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
  6. Kemudian kain dicelup ke-pewarna selama 15 menit (diratakan), kemudian dijemur di tempat yang teduh.
  7. Setelah setengah kering, kain dimasukkan ke pewarna selama 15 menit. (proses ini dilakukan sebanyak 5 kali).
  8. Kemudian difiksasikan (dikunci) dengan beningnya air kapur selama 15 menit. Selama proses ini kain diratakan secara bolak balik, kemudian dibilas air bersih. Setelah itu kain dijemur kembali di tempat teduh.
  9. Setelah 3 kali difiksasikan ditutup dengan malam.
  10. Jika menambah warna lain, dilakukan proses serupa seperti keterangan proses pewarnaan diatas. Keterangan : Jika menginginkan dasar warna yang gelap, gunakan batu tunjung).
  11. Proses terakhir yaitu melorot (menghilangkan malam). Caranya kain dicelupkan di air yang direbus sampai mendidih. Setelah mendidih, malam akan lepas dengan sendirinya.

Batik Manggur merupakan salah satu batik yang khas dari kota Probolinggo. Dengan memiliki keunikan berupa sebagian motifnya terdapat buah mangga dan anggur, batik ini memiliki daya tarik tersendiri. Dengan beberapa motif yang digemari seperti motif seribu taman, Potensi batik Manggur ini sangat besar, batik yang terbilang masih baru namun sudah memiliki logo batikmark „Batik Indonesia‟.

——————————————————————————————-Stefanus Yohan Wijaya, Maria Nala D., Aniendya Christianna. Perancangan Buku Bertema Batik Manggur Probolinggo  Dengan Pendekatan Fotografi (Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain) Universitas Kristen Petra.

Batik “Manggur” kota Probolinggo

Dengan ditetapkannya tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, hampir seluruh daerah di Indonesia berlomba lomba untuk mengembangakan kreasi batiknya mulai dari motif, produk batik yang bervariasi serta proses dalam pembuatan batik itu sendiri. Probolinggo merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang juga turut andil dalam menciptakan beberapa karya seni batik. Usaha batik “Manggur” yang dimiliki oleh Siti Malikha terletak di Jl. Kyai haji Sulthon Dusun Subur Kelurahan Triwung Kidul Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo. Siti Malikha  merupakan salah satu pengrajin dan pemilik usaha batik di kota Probolinggo dengan ciri khas motif “Manggur” (Mangga Anggur) pada kerajinan batiknya. Usaha batik “Manggur” semakin eksis dengan beberapa motif lainnya yang semakin banyak diantaranya adalah motif batik “Wayang Manggur” dan motif batik ”Manggur”.  Namun kedua motif ini perlu dikembangkan agar lebih bervariasi lagi khususnya dalam penyusunan komposisi motif batik.

Bentuk Desain Motif Batik “Manggur”
Probolinggo merupakan salah satu kabupaten yang memiliki karakteristik batik seperti beberapa kabupaten lainnya di Jawa Timur. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para perajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Probolinggo memiliki beberapa kawasan wisata indah yang tersebar di berbagai daerah, salah satunya adalah  wisata candi Lawang Kedaton yang terletak di desa Andung Biru kecamatan Tiris. Peninggalan sejarah ini sangat terkenal akan reliefnya yang menceritakan  sejarah pada jaman dulu. Candi ini terbuat dari batu andesit serta ukuran candi  6 meter persegi dan pembuatannya yang tertera pada bibir tangga tertulis 1292 Saka atau 1370 M.  Candi ini menjadi sumber inspirasi pembuat batik dalam menciptakan karya seni. Bentuk Desain Motif pada Usaha Batik “Manggur” Probolinggo perlu dikembangkan agar lebih memliki variasi dan penyusunan motif yang lebih baik.

Motif Batik Mangur “Wayang Manggur”        
Dalam relief ini menceritakan kakimpoi arjunawiwaha, yaitu cerita tentang arjuna yang  bertapa mencari senjata sakti. pada saat bertapa diutuslah  dua  bidadari cantik untuk menggoda arjuna oleh paradewa, bidadari ini merayu arjuna dengan segala cara tetapi arjuna tidak bergeming dari yoganya, relief pada candi kedaton ini yang menjadi sumber inspirasi pembuat batik “Wayang Manggur”.

Batik “Manggur”
Manggur merupakan singkatan antara buah mangga dan anggur yang merupakan ikon dari Probolinggo Buah yang banyak digemari ini menjadi inspirasi para pengrajin batik dalam membuat karya batik khususnya usaha batik “Manggur” yang dimiliki oleh Siti Maikha. Terdapat beberapa motif batik yang dimiliki oleh usaha batik “Manggur” tetapi tetap menggunakan buah mangga dan anggur sebagai ciri khas dari motif itu, baik berupa isian motif ataupun motif utama.

Motif Batik Mangur “Kali Banger”
batik-mangur-kali-bangurKali Banger merupakan salah satu sungai yang ada di kota Probolinggo. Nama Kali Banger berasal dari cerita rakyat yang mengisahkan tentang Minak Jinggo dan Damarwulan yang bertarung sehingga darah dari pertarungan tersebut mengalir ke sungai dan mengakibatkan bau (banger) pada sungai tersebut.

 

Motif Batik Mangur “Angin Gending”
Angin Gending merupakan salah satu angin yang hanya terjadi di kecamatan Gending kabupaten Probolinggo.  Angin ini telah menjadi ciri khas tersendiri dan menjadi inspirasi untuk membuat motif angin Gending.

Motif Batik Mangur “Seribu Taman”  
Batik seribu taman merupakan batik unggulan dari usaha batik “Manggur”. Motif yang menggambarkan tentang bermacam- macam tanaman kota yang ada di sepanjang jalan Probolinggo membuat batik ini banyak digemari karena motifnya yang menarik.

Sebagian besar motif yang diciptakan oleh usaha batik “Manggur” terinspirasi dari cerita pada jaman dulu dan kejadian-kejadian yang pernah terjadi di Probolinggo. Seperti terciptanya motif Kali Banger yang terinspirasi dari cerita pertarungan Minak Jinggo dan Damarwulan, motif Angin Gending yang berasal dari kecamatan Gending, motif Wayang Manggur yang terinspirasi oleh relief candi Lawang Kedaton, dan masih banyak lainnya. Namun dari semua motif yang diciptakan oleh usaha batik “Manggur” Probolinggo, tak lepas dari ciri khas motifnya yaitu mangga dan anggur atau Manggur baik itu sebagai motif pengisi maupun motif utama.

——————————————————————————————-Indah Novitasari, Fera Ratyaningrum (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Desain Motif Di Usaha Batik “Manggur” Probolinggo. Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016, 309–316

Batik “Manggur” kota Probolinggo

Dengan ditetapkannya tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, hampir seluruh daerah di Indonesia berlomba lomba untuk mengembangakan kreasi batiknya mulai dari motif, produk batik yang bervariasi serta proses dalam pembuatan batik itu sendiri. Probolinggo merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang juga turut andil dalam menciptakan beberapa karya seni batik. Usaha batik “Manggur” yang dimiliki oleh Siti Malikha terletak di Jl. Kyai haji Sulthon Dusun Subur Kelurahan Triwung Kidul Kecamatan Kademangan Kota Probolinggo. Siti Malikha  merupakan salah satu pengrajin dan pemilik usaha batik di kota Probolinggo dengan ciri khas motif “Manggur” (Mangga Anggur) pada kerajinan batiknya. Usaha batik “Manggur” semakin eksis dengan beberapa motif lainnya yang semakin banyak diantaranya adalah motif batik “Wayang Manggur” dan motif batik ”Manggur”.  Namun kedua motif ini perlu dikembangkan agar lebih bervariasi lagi khususnya dalam penyusunan komposisi motif batik.

Bentuk Desain Motif Batik “Manggur”
Probolinggo merupakan salah satu kabupaten yang memiliki karakteristik batik seperti beberapa kabupaten lainnya di Jawa Timur. Sebagai salah satu ikon Kota Probolinggo, buah Mangga dan Anggur menjadi identitas bagi para perajin batik di kota yang terkenal sebagai Bayuangga (Bayu, Angin, Anggur dan Mangga). Probolinggo memiliki beberapa kawasan wisata indah yang tersebar di berbagai daerah, salah satunya adalah  wisata candi Lawang Kedaton yang terletak di desa Andung Biru kecamatan Tiris. Peninggalan sejarah ini sangat terkenal akan reliefnya yang menceritakan  sejarah pada jaman dulu. Candi ini terbuat dari batu andesit serta ukuran candi  6 meter persegi dan pembuatannya yang tertera pada bibir tangga tertulis 1292 Saka atau 1370 M.  Candi ini menjadi sumber inspirasi pembuat batik dalam menciptakan karya seni. Bentuk Desain Motif pada Usaha Batik “Manggur” Probolinggo perlu dikembangkan agar lebih memliki variasi dan penyusunan motif yang lebih baik.

Motif Batik Mangur “Wayang Manggur”        
Dalam relief ini menceritakan kakimpoi arjunawiwaha, yaitu cerita tentang arjuna yang  bertapa mencari senjata sakti. pada saat bertapa diutuslah  dua  bidadari cantik untuk menggoda arjuna oleh paradewa, bidadari ini merayu arjuna dengan segala cara tetapi arjuna tidak bergeming dari yoganya, relief pada candi kedaton ini yang menjadi sumber inspirasi pembuat batik “Wayang Manggur”.

Batik “Manggur”
Manggur merupakan singkatan antara buah mangga dan anggur yang merupakan ikon dari Probolinggo Buah yang banyak digemari ini menjadi inspirasi para pengrajin batik dalam membuat karya batik khususnya usaha batik “Manggur” yang dimiliki oleh Siti Maikha. Terdapat beberapa motif batik yang dimiliki oleh usaha batik “Manggur” tetapi tetap menggunakan buah mangga dan anggur sebagai ciri khas dari motif itu, baik berupa isian motif ataupun motif utama.

Motif Batik Mangur “Kali Banger”
batik-mangur-kali-bangurKali Banger merupakan salah satu sungai yang ada di kota Probolinggo. Nama Kali Banger berasal dari cerita rakyat yang mengisahkan tentang Minak Jinggo dan Damarwulan yang bertarung sehingga darah dari pertarungan tersebut mengalir ke sungai dan mengakibatkan bau (banger) pada sungai tersebut.

 

Motif Batik Mangur “Angin Gending”
Angin Gending merupakan salah satu angin yang hanya terjadi di kecamatan Gending kabupaten Probolinggo.  Angin ini telah menjadi ciri khas tersendiri dan menjadi inspirasi untuk membuat motif angin Gending.

Motif Batik Mangur “Seribu Taman”  
Batik seribu taman merupakan batik unggulan dari usaha batik “Manggur”. Motif yang menggambarkan tentang bermacam- macam tanaman kota yang ada di sepanjang jalan Probolinggo membuat batik ini banyak digemari karena motifnya yang menarik.

Sebagian besar motif yang diciptakan oleh usaha batik “Manggur” terinspirasi dari cerita pada jaman dulu dan kejadian-kejadian yang pernah terjadi di Probolinggo. Seperti terciptanya motif Kali Banger yang terinspirasi dari cerita pertarungan Minak Jinggo dan Damarwulan, motif Angin Gending yang berasal dari kecamatan Gending, motif Wayang Manggur yang terinspirasi oleh relief candi Lawang Kedaton, dan masih banyak lainnya. Namun dari semua motif yang diciptakan oleh usaha batik “Manggur” Probolinggo, tak lepas dari ciri khas motifnya yaitu mangga dan anggur atau Manggur baik itu sebagai motif pengisi maupun motif utama.

——————————————————————————————-Indah Novitasari, Fera Ratyaningrum (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Desain Motif Di Usaha Batik “Manggur” Probolinggo. Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 04 Nomor 02 Tahun 2016, 309–316

Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit Kabupaten Mojokerto  

batik-mojokerto-motif-matahari-merahMojokerto adalah kota yang pernah menjadi ibukota Majapahit, di kota ini banyak sekali peninggalan bersejarah. “Pusat Batik Majapahit” merupakan penerus kebudayaan tradisi masyarakat, di mana secara turun temurun membuat karya-karya berupa kain batik yang bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk busana tetapi menjadi berbagai macam barang sesuai dengan keperluan pemakainya. Khususnya masyarakat Mojokerto dengan ciri khas batik daerahnya. “Pusat Batik Majapahit” perlu dikembangkan, pengembangan sangat diperlukan untuk  memperbaharui apa yang telah ada, dengan tujuan agar lebih bervariasi dan memberi gambaran yang  fresh sesuai dengan perkembangan zaman.

Sejarah perkembangan pembatikan di Mojokerto termasuk muda usianya. Batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto adalah pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan aneh ditelinga sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau suryamajapait. Batik Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni pring sedapur, mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan matahari. Penulisan ini memaparkan tentang motif batik di “Pusat Batik Majapahit” dan proses pengembangan motif batik dengan menggunakan sumber ide motif batik di ‘Pusat Batik Majapahit” Kabupaten Mojokerto.

Sejarah Perusahaan

“Pusat Batik Majapahit” merupakan perusahaan kerajinan batik yang berada di Jalan RA Basuni DusunDaleman Desa Japan Kecamatan Sooko KabupatenMojokerto. Merupakan salah satu tempat produksi danpenjual batik khas Mojokerto. Sebagian besar sumber idedalam penciptaan pembuatan motif berasal dariMajapahit seperti candi-candi dan tumbuhan, sebabMojokerto pernah menjadi pusat Ibukota Majapahit makapeninggalan-peninggalannya bisa dijadikan icon motif  “Pusat Batik Majapahit” yang bertujuan untuk mengingatkan bahwa di Kabupaten Mojokertomempunyai berbagai macam sejarah dan sekaligus saksisejarah yang masih ada dan tetap harus dilestarikan.

 Sumber Ide Dalam penciptaan Motif batik yang diterapkan pada kain di “Pusat Batik Majapahit”“Batik Paduraksa Bajangratu”

Ada berbagai macam jenis bangunan yang tak terhitung banyaknya, mempunyai macam perbedaan baik dari segi bentuk, manfaat serta latar belakang berdirinya bangunan yang dibuat oleh manusia. Dari berbagaimacam bangunan yang ada selain difungsikan sebagaitempat berlindung dapat pula dijadikan sumber inspirasi dalam penciptaan berbagai macam ragam  hias. “Pusat Batik Majapahit” memanfaatkan bangunan yang ada di Kabupaten Mojokerto salah satunya adalah gapura Paduraksa Bajangratu sebagai sumber ide dalam penciptaan motif. Banyak kriteria dan latar belakang yang dijadikan pertimbangan dalam pengambilan jenisbangunan yang dipakai yaitu mempunyai sejarah yangkuat, sehingga dalam pemilihan ragam hias atau motif bangunan mempunyai tujuan masing-masing. Motif  utama pada “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah gapura Paduraksa Bajangratu, motif pengisi 2 bunga Cempaka, motif pengisi 2 Surya Majapahit dan motif pinggiran Stupika.

Batik Kupu -kupu

Batik Kupu-kupu merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, motif utamanya yaitu hewanKupu-kupu, jenis hewan untuk dijadikan sumber idehanya yang dapat ditemui didaerah lingkungan sekitarkhususnya di Kabupaten Mojokerto. Salah satu motif kebanggaan “Pusat Batik Majapahit” selain candi- candi.

Pengembangan Motif Batik pada “Pusat Batik Majapahit”, yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit salah satunya adalah motif kupu-kupu dan bunga yang banyak diminati pelanggan, motif yang cenderung feminim banyak menarik minat dari kalangan wanita (Ibu Wiwin, Maret 2014). Sumber ide “Batik Kupu- kupu” dengan motif utama yaitu hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 Bunga Matahari, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif pinggiran Bata Berelief.

Batik Daun Mrico Bolong

Batik Mrico Bolong merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif non geometris, motif utamanya yaitu daun dari bunga matahari yang dipadukan dengan isen-isen Mrico Bolong. Mrico Bolong adalah salah satu motif khas Mojokerto yang sudah dipatenkan.Tujuan isen-isenuntuk memperindah pola secara keseluruhan, baik ornamen pokok maupun ornamen pengisi diberi isian atau hiasan. Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni Pring Sedapur, Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Koro Renteng, Rawan Indek dan Matahari (bunga matahari). Sumber ide “Batik Daun Mrico Bolong” motif utama yaitu daun bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 batik Parang, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif isen-isen latar yaitu mrico bolong

Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan salah satu batik yang dimiliki “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, batik ke 4 yang peneliti kembangakan desain motifnya. Disebut “Batik Bunga Matahari” karena sumber ide utamanya adalah bunga Matahari, bunga Matahari memang salah satu tumbuhan yang sangat indah tidak salah apabila “Pusat Batik Majapahit” sering menggunakan jenis tumbuhan inisebagai sumber idenya.

Motif utama “Batik Bunga Matahari” adalah bunga Matahari yang dipadukan dengan hewan Kupu-kupu sebagai motif pendukung, motif ini muncul sekitar 1 tahun lalu didesain oleh karyawan “Pusat Batik Majapahit”, yang menyukainya kebanyakan kaum Ibu-ibu, memang motif dengan pola tumbuh-tumbuhanbanyak mencerminkan kewanitaan, banyak yangmewakili kepada sifat – sifat yang feminim. Sumber ide  penciptaan “Batik Bunga Matahari” motif  utama yaitu bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 awan dan motif pengisi 3 Surya Majapahit.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan salah satu jenis batik yangdimiliki “Pusat Batik Majapahit” yang merupakan batik dengan golongan non geometris, “Batik Ukel” adalah  jenis  batik  ke 5  yang dikembangkan. Ukel biasa disebut juga dengan ulir, banyak sebutan yang diberikan pada bentuk – bentuk detail merupakan jenis ukiran di Jawa, maka dari itu disebut “Batik Ukel” sebab hampir semua motif ukel yang mendominasi. Sumber ide penciptaan yaitu motif utama ukelan atau sulur, motif pengisi 1 bunga Teratai dan motif pengisi 2 SuryaMajapahit.

 Proses Pengembagan Desain Motif Batik “Batik Paduraksa Bajangratu”

Pada pengembangan motif batik yang pertama yaitu “Batik Paduraksa Bajangratu” motif utama gapura Paduraksa Bajangratu mengalami sedikit perubahan desain namun masih jelas terlihat bahwa gapura Paduraksa Bajangratu yang indah. Motif hasil pengembangan digambarkan lebih menjulang tinggi sebab pada kenyataannya gapura Paduraksa Bajang ratu tingginya 16 meter.Pola dasar motif gapura Paduraksa Bajang ratu tersusun dari beberapa bentuk segitiga, persegi panjang, dan bentuk lainnya, dibawah desain gapura diberikan gambar rumput kiri dan kanan yang memberikan kesanbahwa gapura Paduraksa Bajangratu sangat menyatudengan alam tidak monoton hanya sekedar bangunan, diatas gapura Paduraksa Bajangratu ditambahkan Matahari dan Awan yang bertujuan untuk memperindahdan pelengkap gapura Paduraksa Bajangratu sehinggamembuat gapura Paduraksa Bajangratu nampak tidak simetris ketika dikombinasikan dengan alam yang berupa Awan dan Matahari.

Bunga Cempaka merupakan motif pengisi 1, padahasil pengembangan motif bunga Cempaka mengalami stilasi meskipun subjek berasal dari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya mengambil intinya saja sehingga memberikan beberapa segi  yang  menguntungkan. Surya Majapahit merupakan motif pengisi 2 yaitu sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” hasil dalam pengembangan motif Surya Majapahit tidak banyak mengalami perubahan bentuk,hanya saja bagian luar kontur Surya Majapahit tidak diberikan garis-garis lurus hal ini bertujuan agar lebih simpel tanpa menghilangkan ciri khas Surya Majapahit, komposisi peletakan motif pengisi 2 ini diletakkanditengah motif pengisi 1 yaitu bunga Cempaka.Isen- isen pada “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelumnya tidak menggunakan isen-isen, pada hasil  pengembangan  motif  “Batik Paduraksa Bajangratu” ditambahan isen-isen yaitu berupa cecek atau titik yang dipadukan dengan garis lengkung atau rambutan rawan (seperti rambut) sehingga “Batik Paduraksa Bajangratu” lengkap dengan isen-isen.

Motif pinggiran “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah Stupika, dalam hasil pengembangan motif pinggiran stupika masih jelasterlihat tidak mengalami banyak perubahan bentuk darimotif sebelumnya, garis-garis lurus yang menghubungan Stupika dikembangkan menjadi garis-garis lengkung yang diisi dengan garis-garis lurus, posisi Stupika membentuk pola segitiga dilanjutkan Stupika yang saling berhadapan yang pada bagian atas diberikan symbol “Pusat Batik Majapahit” yaitu Surya Majapahit hal ini bertujuan untuk menyatukan antara Stupika dan Surya Majapahit yang keduanya merupakan peninggalan kerajaan Majapahit yang masih ada sampai sekarang.

Warna dalam “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelum dikembangkan yaitu warna hijau muda yang dirasa kurang menarik minat remaja kemudian dikembangkan menjadi warna ungu yang dipadukan dengan warnalainnya sehingga menimbulkan kesan yang cerah.Dari hasil penilaian Validator terhadap pengembangan “Batik Paduraksa Bajangratu” komposisi yang baik keseimbangan antara motif utama dan motif lainnya, begitu juga dengan center of interest, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif sehingga pengembangan ini layak untuk digunakan.

“Batik Kupu – kupu” Pada pengembangan motif batik yang kedua “Batik Kupu- kupu” motif utama pada batik ini adalah Kupu-kupu yakni hewan mempunyai sayap yang indah,sebelum dikembangkan Kupu-kupu digambarkan secara jelas dengan bentuk Kupu-kupu yang saling berhadapan dengan sedikit mengalami stilasi atau perubahan bentuk, kemudian motif Kupu-kupu dikembangkan menjadi hewan Kupu-kupu yang utuh tidak hanya saling berhadapan yang terlihat dari samping saja sehingga terkesan lebih indah dengan kedua sayapnya. Ada 5 jenisstilasi Kupu-kupu yang digambarkan, di posisi tengah digambarkan Kupu-kupu ukuran besar dengan arah tegak,di kelilingi 4 Kupu-kupu yang berukuran kecil denganarah miring yang memberikan maksud bahwa apapun ukuran Kupu-kupu tetap seimbang sehingga tidak akan berpengaruh pada segi keindahan. Bunga Matahari merupakan motif pengisi 1, pada “Batik Kupu – kupu” hasil pengembangan motif Bunga Matahari mengalamistilasi atau perubahan bentuk yang begitu signifikan darimotif sebelumnya namun masih terlihat jelas bentuk dari bunga Matahari sesungguhnya meskipun subjek berasaldari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya diambil intinya saja. Bunga Matahari digambarkan mulai dari kuncup sampai bunga yang sudah bermekaran dipadukan dengan daun dariberbagai arah.

Dari hasil penilaian Validator terhadap  pengembangan “Batik Kupu – kupu” komposisi antara motif utama dan motif lainnya sangat baik sehingga bisa sangat mudah mengenali antara masing-masing motif, sehingga pengembangan “Batik Kupu – kupu” layak digunakan adalah daun dari bunga matahari dari desain motif sebelumnya motif utama hanya sedikit mengalami stilasinamun masih jelas terlihat bentuk dari sumber idenya,setelah dikembangkan motif utama daun bunga matahari juga masih nampak bentuk aslinya namun di berikan sentuhan ragam hias sehingga membuat daun bunga matahari lebih cantik dengan paduan bunga matahariyang bermekaran sehingga tidak monoton hanya daunsaja. Di tengah – tengah motif utama diberikan tambahan motif Surya Majapahit yang memisahkan kedua desainmotif utama yang di mirror agar memdapatkan iramayang harmonis.Komposisi peletakan motif utamadiletakkan pada bagian bawah dan atas yang bersebelahan dengan motif pinggiran karena motif utama tidak hanya diletakkan ditengah saja sebab motif pengisi1 dan 2 merupakan motif pendukung yang tujuan untuk memperindah pola keseluruhan jadi dimanapun letak motif utama dimaksdunya agar saling memperindah satusama lain antar motif. Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, termasuk batik karena warna dapat mempengaruhi secara psikologis bagi  seseorang. Warna “Batik Batik Daun Mrico Bolong” sebelum dikembangkan terdiri dari berbagai unsur warna setelah dikembangkan “Batik  Batik Daun Mrico Bolong” diberikan baground hijau yang dipadukan dengan warna merah untuk motif pengisi akan memberikan kesan penuh kepercayaan dan keberanian.Dari penilaian Validator komposisi, center of interest, peletekan bidang gambar, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif cukup baik sehinggamotif yang dikembangkan layak digunakan.

 Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan jenis batik yang keempat yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Bunga Matahari” adalah bunga matahari yangmerupakan tumbuhan yang sering dijumpai dimana saja,pada motif batik sebelumnya motif utama bunga matahari digambarkan dengan bentuk motif stilasi yang hanya sedikit mengalami perubahan bentuk sepertimenghilangkan tumpuk bunga matahari. Namun motif batik sebelumnya kurang begitu menampilkan ragamhiasnya setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada bagian atas dan bawah berdekatandengan motif pinggiran, motif bunga mataharidigambarkan dari kuncup sampai bunga yang bermekaran dengan bentuk stilasi yang menarik sehingga terkesanlebih cantik.

Motif pengisi 1 pada “Batik Bunga Matahari” adalah Kupu-kupu Tanaecia Trigerta diletakkan padaposisi tengah dengan arah tegak dan miring yang terdiridari 3 Kupu-kupu dalam satu kelompok satu Kupu-kupuyang terlihat kedua sayapnya dan dua Kupu-kupu terlihat dari samping atau hanya terlihat satu sayap saja. Motif pengisi 2 dengan sumber ide awan tidak dimunculkandalam pengembangan yang dilakukan penulis sebabmotif pengisi 2 hanya motif tambahan saja sehingga tidak akan berpengaruh. Motif pengisi 3 Surya Majapahit sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” posisi peletakan motif pengisi 3 diletakkan di tengah antara motif utama,dan di atas motif utama.Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, setelah dikembangkan “Batik Bunga Matahari” menggunakan warna merah yang memberikan artikekuatan dan paling menarik perhatian, warna merah diasosiasikan darah dan berani yang merupakan warna  primer maka dari itu “Batik Bunga Matahari” akan memberikan kesan kekuatan dengan perpaduan bunga Matahari yang indah berwarna  pink atau merah muda dan Kupu-kupu berwarna kuning karena merah dan kuning mempunyai makna yang ceria. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisi pengembangan “Batik Bunga Mata hari” sangat baik, center of interest, peletakanbidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing-masing motif baik sehingga motif   pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan jenis batik yang terakhir yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Ukel” adalah motif ukel yang didapatkan dari ukiran kayu pada masyarakat Jawa yang indah yang sebenarnyaberasal dari tumbuhan yang mengalami stilasi perubahanbentuk, pada motif sebelumnya motif utama ukelanhanya sedikit mengalami stilasi dari sumber ide motif ukel sebelumnya sehingga belum begitu menampilanragam hiasnya. Setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada posisi tengah berbentuk elips, Surya Majapahit diletakkan pada posisidi tengah lengkungan elips dipadukan bunga Teratai serta daunnya yang sudah distilasi terkesan lebih harmonis dan cantik, setelah dikembangkan “Batik Ukel” diberikan baground warna hitam yang dipadukan dengan warna orange untuk motif pinggiran dan motif pengisi 3 yaitu Surya Majapahit akan memberikan kesan misterius yang cocok digunakan dari usia anak-anak, remaja sampai orangdewasa. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisidan center of interest   pengembangan “Batik Bunga Matahari” sangat baik, pellet akan bidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing – masing motif baik sehingga motif pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

——————————————————————————————-Lutfiana Cahyani, Dra. Indah Chrysanti A, M.Sn (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit” Di Kabupaten Mojokerto.  Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 2 Nomor2Tahun 2014,116-122

Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit Kabupaten Mojokerto  

batik-mojokerto-motif-matahari-merahMojokerto adalah kota yang pernah menjadi ibukota Majapahit, di kota ini banyak sekali peninggalan bersejarah. “Pusat Batik Majapahit” merupakan penerus kebudayaan tradisi masyarakat, di mana secara turun temurun membuat karya-karya berupa kain batik yang bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk busana tetapi menjadi berbagai macam barang sesuai dengan keperluan pemakainya. Khususnya masyarakat Mojokerto dengan ciri khas batik daerahnya. “Pusat Batik Majapahit” perlu dikembangkan, pengembangan sangat diperlukan untuk  memperbaharui apa yang telah ada, dengan tujuan agar lebih bervariasi dan memberi gambaran yang  fresh sesuai dengan perkembangan zaman.

Sejarah perkembangan pembatikan di Mojokerto termasuk muda usianya. Batik Mojokerto merupakan sebuah budaya kerajinan batik yang sejarahnya berkembang dengan masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Keunikan batik Mojokerto adalah pada nama-nama coraknya yang sangat asing dan aneh ditelinga sebagian orang. Misalnya gedeg rubuh, matahari, mrico bolong, pring sedapur, grinsing, atau suryamajapait. Batik Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni pring sedapur, mrico bolong, sisik gringsing, koro renteng, rawan indek dan matahari. Penulisan ini memaparkan tentang motif batik di “Pusat Batik Majapahit” dan proses pengembangan motif batik dengan menggunakan sumber ide motif batik di ‘Pusat Batik Majapahit” Kabupaten Mojokerto.

Sejarah Perusahaan

“Pusat Batik Majapahit” merupakan perusahaan kerajinan batik yang berada di Jalan RA Basuni DusunDaleman Desa Japan Kecamatan Sooko KabupatenMojokerto. Merupakan salah satu tempat produksi danpenjual batik khas Mojokerto. Sebagian besar sumber idedalam penciptaan pembuatan motif berasal dariMajapahit seperti candi-candi dan tumbuhan, sebabMojokerto pernah menjadi pusat Ibukota Majapahit makapeninggalan-peninggalannya bisa dijadikan icon motif  “Pusat Batik Majapahit” yang bertujuan untuk mengingatkan bahwa di Kabupaten Mojokertomempunyai berbagai macam sejarah dan sekaligus saksisejarah yang masih ada dan tetap harus dilestarikan.

 Sumber Ide Dalam penciptaan Motif batik yang diterapkan pada kain di “Pusat Batik Majapahit”“Batik Paduraksa Bajangratu”

Ada berbagai macam jenis bangunan yang tak terhitung banyaknya, mempunyai macam perbedaan baik dari segi bentuk, manfaat serta latar belakang berdirinya bangunan yang dibuat oleh manusia. Dari berbagaimacam bangunan yang ada selain difungsikan sebagaitempat berlindung dapat pula dijadikan sumber inspirasi dalam penciptaan berbagai macam ragam  hias. “Pusat Batik Majapahit” memanfaatkan bangunan yang ada di Kabupaten Mojokerto salah satunya adalah gapura Paduraksa Bajangratu sebagai sumber ide dalam penciptaan motif. Banyak kriteria dan latar belakang yang dijadikan pertimbangan dalam pengambilan jenisbangunan yang dipakai yaitu mempunyai sejarah yangkuat, sehingga dalam pemilihan ragam hias atau motif bangunan mempunyai tujuan masing-masing. Motif  utama pada “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah gapura Paduraksa Bajangratu, motif pengisi 2 bunga Cempaka, motif pengisi 2 Surya Majapahit dan motif pinggiran Stupika.

Batik Kupu -kupu

Batik Kupu-kupu merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, motif utamanya yaitu hewanKupu-kupu, jenis hewan untuk dijadikan sumber idehanya yang dapat ditemui didaerah lingkungan sekitarkhususnya di Kabupaten Mojokerto. Salah satu motif kebanggaan “Pusat Batik Majapahit” selain candi- candi.

Pengembangan Motif Batik pada “Pusat Batik Majapahit”, yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit salah satunya adalah motif kupu-kupu dan bunga yang banyak diminati pelanggan, motif yang cenderung feminim banyak menarik minat dari kalangan wanita (Ibu Wiwin, Maret 2014). Sumber ide “Batik Kupu- kupu” dengan motif utama yaitu hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 Bunga Matahari, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif pinggiran Bata Berelief.

Batik Daun Mrico Bolong

Batik Mrico Bolong merupakan salah satu batik yang dimiliki oleh “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif non geometris, motif utamanya yaitu daun dari bunga matahari yang dipadukan dengan isen-isen Mrico Bolong. Mrico Bolong adalah salah satu motif khas Mojokerto yang sudah dipatenkan.Tujuan isen-isenuntuk memperindah pola secara keseluruhan, baik ornamen pokok maupun ornamen pengisi diberi isian atau hiasan. Mojokerto kini memiliki 6 motif yang telah dipatenkan, yakni Pring Sedapur, Mrico Bolong, Sisik Gringsing, Koro Renteng, Rawan Indek dan Matahari (bunga matahari). Sumber ide “Batik Daun Mrico Bolong” motif utama yaitu daun bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 batik Parang, motif pengisi 3 Surya Majapahit dan motif isen-isen latar yaitu mrico bolong

Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan salah satu batik yang dimiliki “Pusat Batik Majapahit” dengan golongan motif geometris, batik ke 4 yang peneliti kembangakan desain motifnya. Disebut “Batik Bunga Matahari” karena sumber ide utamanya adalah bunga Matahari, bunga Matahari memang salah satu tumbuhan yang sangat indah tidak salah apabila “Pusat Batik Majapahit” sering menggunakan jenis tumbuhan inisebagai sumber idenya.

Motif utama “Batik Bunga Matahari” adalah bunga Matahari yang dipadukan dengan hewan Kupu-kupu sebagai motif pendukung, motif ini muncul sekitar 1 tahun lalu didesain oleh karyawan “Pusat Batik Majapahit”, yang menyukainya kebanyakan kaum Ibu-ibu, memang motif dengan pola tumbuh-tumbuhanbanyak mencerminkan kewanitaan, banyak yangmewakili kepada sifat – sifat yang feminim. Sumber ide  penciptaan “Batik Bunga Matahari” motif  utama yaitu bunga Matahari, motif pengisi 1 hewan Kupu-kupu, motif pengisi 2 awan dan motif pengisi 3 Surya Majapahit.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan salah satu jenis batik yangdimiliki “Pusat Batik Majapahit” yang merupakan batik dengan golongan non geometris, “Batik Ukel” adalah  jenis  batik  ke 5  yang dikembangkan. Ukel biasa disebut juga dengan ulir, banyak sebutan yang diberikan pada bentuk – bentuk detail merupakan jenis ukiran di Jawa, maka dari itu disebut “Batik Ukel” sebab hampir semua motif ukel yang mendominasi. Sumber ide penciptaan yaitu motif utama ukelan atau sulur, motif pengisi 1 bunga Teratai dan motif pengisi 2 SuryaMajapahit.

 Proses Pengembagan Desain Motif Batik “Batik Paduraksa Bajangratu”

Pada pengembangan motif batik yang pertama yaitu “Batik Paduraksa Bajangratu” motif utama gapura Paduraksa Bajangratu mengalami sedikit perubahan desain namun masih jelas terlihat bahwa gapura Paduraksa Bajangratu yang indah. Motif hasil pengembangan digambarkan lebih menjulang tinggi sebab pada kenyataannya gapura Paduraksa Bajang ratu tingginya 16 meter.Pola dasar motif gapura Paduraksa Bajang ratu tersusun dari beberapa bentuk segitiga, persegi panjang, dan bentuk lainnya, dibawah desain gapura diberikan gambar rumput kiri dan kanan yang memberikan kesanbahwa gapura Paduraksa Bajangratu sangat menyatudengan alam tidak monoton hanya sekedar bangunan, diatas gapura Paduraksa Bajangratu ditambahkan Matahari dan Awan yang bertujuan untuk memperindahdan pelengkap gapura Paduraksa Bajangratu sehinggamembuat gapura Paduraksa Bajangratu nampak tidak simetris ketika dikombinasikan dengan alam yang berupa Awan dan Matahari.

Bunga Cempaka merupakan motif pengisi 1, padahasil pengembangan motif bunga Cempaka mengalami stilasi meskipun subjek berasal dari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya mengambil intinya saja sehingga memberikan beberapa segi  yang  menguntungkan. Surya Majapahit merupakan motif pengisi 2 yaitu sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” hasil dalam pengembangan motif Surya Majapahit tidak banyak mengalami perubahan bentuk,hanya saja bagian luar kontur Surya Majapahit tidak diberikan garis-garis lurus hal ini bertujuan agar lebih simpel tanpa menghilangkan ciri khas Surya Majapahit, komposisi peletakan motif pengisi 2 ini diletakkanditengah motif pengisi 1 yaitu bunga Cempaka.Isen- isen pada “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelumnya tidak menggunakan isen-isen, pada hasil  pengembangan  motif  “Batik Paduraksa Bajangratu” ditambahan isen-isen yaitu berupa cecek atau titik yang dipadukan dengan garis lengkung atau rambutan rawan (seperti rambut) sehingga “Batik Paduraksa Bajangratu” lengkap dengan isen-isen.

Motif pinggiran “Batik Paduraksa Bajangratu” adalah Stupika, dalam hasil pengembangan motif pinggiran stupika masih jelasterlihat tidak mengalami banyak perubahan bentuk darimotif sebelumnya, garis-garis lurus yang menghubungan Stupika dikembangkan menjadi garis-garis lengkung yang diisi dengan garis-garis lurus, posisi Stupika membentuk pola segitiga dilanjutkan Stupika yang saling berhadapan yang pada bagian atas diberikan symbol “Pusat Batik Majapahit” yaitu Surya Majapahit hal ini bertujuan untuk menyatukan antara Stupika dan Surya Majapahit yang keduanya merupakan peninggalan kerajaan Majapahit yang masih ada sampai sekarang.

Warna dalam “Batik Paduraksa Bajangratu” sebelum dikembangkan yaitu warna hijau muda yang dirasa kurang menarik minat remaja kemudian dikembangkan menjadi warna ungu yang dipadukan dengan warnalainnya sehingga menimbulkan kesan yang cerah.Dari hasil penilaian Validator terhadap pengembangan “Batik Paduraksa Bajangratu” komposisi yang baik keseimbangan antara motif utama dan motif lainnya, begitu juga dengan center of interest, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif sehingga pengembangan ini layak untuk digunakan.

“Batik Kupu – kupu” Pada pengembangan motif batik yang kedua “Batik Kupu- kupu” motif utama pada batik ini adalah Kupu-kupu yakni hewan mempunyai sayap yang indah,sebelum dikembangkan Kupu-kupu digambarkan secara jelas dengan bentuk Kupu-kupu yang saling berhadapan dengan sedikit mengalami stilasi atau perubahan bentuk, kemudian motif Kupu-kupu dikembangkan menjadi hewan Kupu-kupu yang utuh tidak hanya saling berhadapan yang terlihat dari samping saja sehingga terkesan lebih indah dengan kedua sayapnya. Ada 5 jenisstilasi Kupu-kupu yang digambarkan, di posisi tengah digambarkan Kupu-kupu ukuran besar dengan arah tegak,di kelilingi 4 Kupu-kupu yang berukuran kecil denganarah miring yang memberikan maksud bahwa apapun ukuran Kupu-kupu tetap seimbang sehingga tidak akan berpengaruh pada segi keindahan. Bunga Matahari merupakan motif pengisi 1, pada “Batik Kupu – kupu” hasil pengembangan motif Bunga Matahari mengalamistilasi atau perubahan bentuk yang begitu signifikan darimotif sebelumnya namun masih terlihat jelas bentuk dari bunga Matahari sesungguhnya meskipun subjek berasaldari alam tetapi tidak seluruhnya dituangkan dalam bentuk serupa hanya diambil intinya saja. Bunga Matahari digambarkan mulai dari kuncup sampai bunga yang sudah bermekaran dipadukan dengan daun dariberbagai arah.

Dari hasil penilaian Validator terhadap  pengembangan “Batik Kupu – kupu” komposisi antara motif utama dan motif lainnya sangat baik sehingga bisa sangat mudah mengenali antara masing-masing motif, sehingga pengembangan “Batik Kupu – kupu” layak digunakan adalah daun dari bunga matahari dari desain motif sebelumnya motif utama hanya sedikit mengalami stilasinamun masih jelas terlihat bentuk dari sumber idenya,setelah dikembangkan motif utama daun bunga matahari juga masih nampak bentuk aslinya namun di berikan sentuhan ragam hias sehingga membuat daun bunga matahari lebih cantik dengan paduan bunga matahariyang bermekaran sehingga tidak monoton hanya daunsaja. Di tengah – tengah motif utama diberikan tambahan motif Surya Majapahit yang memisahkan kedua desainmotif utama yang di mirror agar memdapatkan iramayang harmonis.Komposisi peletakan motif utamadiletakkan pada bagian bawah dan atas yang bersebelahan dengan motif pinggiran karena motif utama tidak hanya diletakkan ditengah saja sebab motif pengisi1 dan 2 merupakan motif pendukung yang tujuan untuk memperindah pola keseluruhan jadi dimanapun letak motif utama dimaksdunya agar saling memperindah satusama lain antar motif. Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, termasuk batik karena warna dapat mempengaruhi secara psikologis bagi  seseorang. Warna “Batik Batik Daun Mrico Bolong” sebelum dikembangkan terdiri dari berbagai unsur warna setelah dikembangkan “Batik  Batik Daun Mrico Bolong” diberikan baground hijau yang dipadukan dengan warna merah untuk motif pengisi akan memberikan kesan penuh kepercayaan dan keberanian.Dari penilaian Validator komposisi, center of interest, peletekan bidang gambar, ukuran dan kemudahan mengenali masing-masing motif cukup baik sehinggamotif yang dikembangkan layak digunakan.

 Batik Bunga Matahari

Batik Bunga Matahari merupakan jenis batik yang keempat yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Bunga Matahari” adalah bunga matahari yangmerupakan tumbuhan yang sering dijumpai dimana saja,pada motif batik sebelumnya motif utama bunga matahari digambarkan dengan bentuk motif stilasi yang hanya sedikit mengalami perubahan bentuk sepertimenghilangkan tumpuk bunga matahari. Namun motif batik sebelumnya kurang begitu menampilkan ragamhiasnya setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada bagian atas dan bawah berdekatandengan motif pinggiran, motif bunga mataharidigambarkan dari kuncup sampai bunga yang bermekaran dengan bentuk stilasi yang menarik sehingga terkesanlebih cantik.

Motif pengisi 1 pada “Batik Bunga Matahari” adalah Kupu-kupu Tanaecia Trigerta diletakkan padaposisi tengah dengan arah tegak dan miring yang terdiridari 3 Kupu-kupu dalam satu kelompok satu Kupu-kupuyang terlihat kedua sayapnya dan dua Kupu-kupu terlihat dari samping atau hanya terlihat satu sayap saja. Motif pengisi 2 dengan sumber ide awan tidak dimunculkandalam pengembangan yang dilakukan penulis sebabmotif pengisi 2 hanya motif tambahan saja sehingga tidak akan berpengaruh. Motif pengisi 3 Surya Majapahit sebagai simbol “Pusat Batik Majapahit” posisi peletakan motif pengisi 3 diletakkan di tengah antara motif utama,dan di atas motif utama.Warna sangat penting dalam hasil semua karya seni, setelah dikembangkan “Batik Bunga Matahari” menggunakan warna merah yang memberikan artikekuatan dan paling menarik perhatian, warna merah diasosiasikan darah dan berani yang merupakan warna  primer maka dari itu “Batik Bunga Matahari” akan memberikan kesan kekuatan dengan perpaduan bunga Matahari yang indah berwarna  pink atau merah muda dan Kupu-kupu berwarna kuning karena merah dan kuning mempunyai makna yang ceria. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisi pengembangan “Batik Bunga Mata hari” sangat baik, center of interest, peletakanbidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing-masing motif baik sehingga motif   pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

 Batik Ukel

Batik Ukel merupakan jenis batik yang terakhir yang dikembangkan peneliti, motif utama pada “Batik Ukel” adalah motif ukel yang didapatkan dari ukiran kayu pada masyarakat Jawa yang indah yang sebenarnyaberasal dari tumbuhan yang mengalami stilasi perubahanbentuk, pada motif sebelumnya motif utama ukelanhanya sedikit mengalami stilasi dari sumber ide motif ukel sebelumnya sehingga belum begitu menampilanragam hiasnya. Setelah dikembangkan peneliti motif utama diletakkan pada posisi tengah berbentuk elips, Surya Majapahit diletakkan pada posisidi tengah lengkungan elips dipadukan bunga Teratai serta daunnya yang sudah distilasi terkesan lebih harmonis dan cantik, setelah dikembangkan “Batik Ukel” diberikan baground warna hitam yang dipadukan dengan warna orange untuk motif pinggiran dan motif pengisi 3 yaitu Surya Majapahit akan memberikan kesan misterius yang cocok digunakan dari usia anak-anak, remaja sampai orangdewasa. Dari hasil penilaian Validator ahli Komposisidan center of interest   pengembangan “Batik Bunga Matahari” sangat baik, pellet akan bidang, ukuran dalam penyusunan dan kemudahan mengenali masing – masing motif baik sehingga motif pegembangan “Batik Bunga Matahari” layak digunakan.

——————————————————————————————-Lutfiana Cahyani, Dra. Indah Chrysanti A, M.Sn (Universitas Negeri Surabaya). Pengembangan Motif Batik Pada “Pusat Batik Majapahit” Di Kabupaten Mojokerto.  Jurnal Pendidikan Seni Rupa, Volume 2 Nomor2Tahun 2014,116-122

Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Motif batik mangrove yang dibuat oleh Ibu Lulut diambil dari bentuk beragam mangrove, mulai dari daun, bunga, sampai untaian buah. Selain dari beragam mangrove, inspirasi motif juga berasal dari  makhluk yang hidup di sekitar mangrove, seperti ikan, kepiting, dan udang. Motif Batik mangrove ini telah mempunyai ribuan pakem-pakem yang telah dibuat oleh Ibu Lulut, yang selanjutnya desain motif dikembangkan menjadi beberapa jenis motif sesuai pakem yang ditetapkan. Beberapa motif batik yang telah di buat oleh Ibu Lulut Sri Yuliani sebagai pemberdaya Batik Mangrove antara lain:

Motif Batik Mangrove Rungkut Surabaya

  • Motif Bruguiera Gymnorhiza

Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Bruguiera Gymnorhiza adalah ornamen tumbuhan yang berupa daun dan buah Bruguiera Gymnorhiza. Ornamen isen yang terdapat pada motif Bruguiera Gymnorhiza adalah gelembung air.

  • Motif Callophyllum inophyllum

Ornamen utama pada motif Callophyllum inophyllum adalah ornamen tumbuhan Callophyllum inophyllum. Penggambaran motif Callophyllum inophyllum ditampilkan berupa buah, bunga dan daun Callophyllum inophyllum secara utuh yang dihiasi dengan sulur-sulur. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Callophyllum inophyllum adalah ornamen tumbuhan yang berupa buah Callophyllum inophyllum. Ornamen isen yang terdapat pada motif Callophyllum inophyllum adalah gelembung air dan titik- titik hujan.

  • Motif Angry Puffu Fish

Ornamen utama pada motif Angry Puffu Fish adalah ornamen binatang. Penggambaran motif Angry Puffu Fish ditampilkan berupa ikan gembung secara utuh yang dikelilingi ekosistem di dalam air. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Angry Puffu Fish adalah ornamen tumbuhan yang berupa ekosistem bawah air yaitu terumbu karang. Ornamen isen yang terdapat pada motif Angry Pufffu Fish adalah gelembung air, gelombang, dan joging track. Isen-isen gelembung air terdapat pada ornamen tumbuhan (terumbu karang) pada ornamen tambahan. Sedangkan isen-isen joging track dan gelombang terdapat pada bagian latar motif.

  • MotifGobie Fish

Ornamen utama pada motif Gobie Fish adalah ornamen binatang. Penggambaran motif Gobie Fish ditampilkan berupa ikan gobie secara utuh yang dikelilingi ekosistem di dalam air. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Gobie Fish adalah ornamen tumbuhan yang berupa ekosistem bawah air yaitu terumbu karang. Ornamen isen yang terdapat pada motif Gobie Fish adalah biji bogem, gelembung air danjoging track. e. MotifBlue Jelly Ornamen utama pada motif Blue Jelly adalah keindahan bawah laut yang distilir, yaitu ubur-ubur. Penggambaran motif Blue Jelly ditampilkan berupa ubur- ubur secara utuh yang dikelilingi ekosistem di dalam air. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Blue Jelly adalah ornamen tumbuhan yang berupa terumbu karang. Terumbu karang disini digambarkan dalam dua bentuk, yaitu terumbu karang yang menyerupai kerang dan terumbu karang yang menyerupai tanaman dalam air. ornamen isen yang terdapat pada motif Blue Jelly adalah biji bogem, gelembung air, dan joging track.

Warna BatikMangrove Rungkut Surabaya.

Warnawarna yang digunakan pada Batik Mangrove ada bermacammacam. Namun, warna yang terdapat di Batik Mangrove ini memiliki ciri khas yang berbeda dari batik yang lainnya. Berikut ini penjelasan tentang warna batik Mangrove:

  • Warna khas Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Warna-warna yang terdapat pada batik mangrove adalah hijau, kuning, coklat, merah muda, orange, biru, hitam, dan ungu. Selain itu, warna merah pada batik mangrove adalah merah muda atau merah merona, tidak ada warna merah menyala.

  • Warna asli Tanaman Mangrove

Pembuatan pewarna alami asli dari beberapa tanaman mangrove, warna-warna yang dihasilkan adalah coklat kehijauan, coklat muda, hijau kekuningan. Warna yang dihasilkan dari pewarna alami mangrove Sonneratia Caseolaris adalah warna coklat kehijauan. Warna coklat muda dihasilkan dari buah Cerbera Manghas dan warna hijau kekuningan dari daun Cerbera Manghas.

Perkembangan warna Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Warna-warna khas batik mangrove mulai dari pertama kali dibuat hingga sekarang tidak ada perkembangan warna. Hanya saja hingga saat ini belum ada warna merah menyala yang dihasilkan dari pewarnaan alami mangrove. Tidak adanya perkembangan ini menyebabkan batik mangrove memiliki ciri khas warna tersendiri, berbeda dari batik yang lainnya.

  • Asal warna dari pewarna alami mangrove

Asal warna dari pewarna alami yang digunakan pada batik mangrove adalah buah, bunga, dan daun yang berasal dari tumbuhan mangrove yang dicampur dengan beberapa bahan pewarna alami yang lainnya sehingga menghasilkan warna khas batik mangrove Rungkut Surabaya. Warna merah pada batik mangrove dihasilkan dari kelopak dan kulit buah Bruguiera Ghimnorhyza, kulit cabai merah, dan secang. Warna kuning dari Caloptropis Gigantea, getah nyamplung atau Calophyllum inophyllum, kunyit, dan batu gambir. Warna Hijau dihasilkan dari Caloptropis Gigantea dan Indigo dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna orange dari Caloptropis Gigantea, kelopak dan kulit buah Bruguiera Ghymnorhiza dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna biru dari Indigo dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna ungu dari bunga jeruju atau Acanthus ilicifolius dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna coklat dari caping bogem atau Sonneratia alba dan kulit Nypa frutican dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna hitam dari buah bintaro atau Cerbera manghas dan alur atau Saudea maritima dan bahan pewarna alami yang lainnya.

Proses pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya.

Proses pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya secara sekilas sama dengan proses pembuatan batik pada umumnya, namun ada beberapa perbedaannya. Perbedaan proses pembuatan Batik Mangrove dengan batik yang lainnya berada pada lilin dan canting yang digunakan. Berikut ini penjabaran dari bahanbahan, peralatan, dan langkah-langkah membatik di Batik Mangrove Rungkut Surabaya :

Bahan pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Bahan yang digunakan untuk membatik di Batik Mangrove Rungkut Surabaya hampir sama dengan peralatan membatik pada umumnya. Perbedaannya terletak pada malam dan pewarna yang digunakan. Pada batik mangrove menggunakan malam kuning dan malam putih yang diolah kembali agar lebih bersih dan pewarna yang digunakan pewarna alami dari tumbuhan mangrove.

  1. Malam

Malam yang digunakan pada batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah malam kuning dan malam putih. Malam yang berwarna kuning memiliki sifat liat dan kenyal. Sifat tersebut sangat cocok digunakan untuk menutupi bagian pola yang diharapkan agar terlihat rapat. Malam kuning mampu menutupi permukaan media secara utuh dan sempurna. Malam yang digunakan pada batik mangrove ini adalah malam kuning dan putih yang telah diolah kembali agar menghasilkan malam yang bersih dan berkualitas.

  1. Pewarna alami

Pewarnaan alam diperoleh dari bahan-bahan alami, antara lain kunyit (menghasilkan warna kuning), daun jati (menghasikan warna hijau), dan kulit buah manggis (menghasilkan warna ungu). Pewarna alami yang digunakan pada batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah pewarna alami yang berasal dari buah, bunga, dan daun dari tumbuhan mangrove dan dicampur dengan beberapa pewarna alami lainnya.

 

  1. Peralatan pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui peralatan membatik yang digunakan pada proses membatik di Griya Karya Tiara Kusuma “Batik Mangrove” hampir sama dengan peralatan membatik pada umumnya. Perbedaannya terletak pada canting yang digunakan. Pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya canting yang digunakan adalah canting elektrik dengan cucuk tunggal dan memiliki tombol pengatur suhu. Canting elektrik terdiri dari tiga bagian utama, antara lain: bak penampung lilin atau malam, tangkai pemegang, dan alat kontrol suhu yang berfungsi mengontrol suhu canting.

  1. Langkah-langkah pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui langkah-langkah pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya tidak jauh berbeda dengan proses pembuatan batik pada umumnya. Perbedaan proses pembuatan Batik Mangrove dengan batik yang lainnya berada pada proses pewarnaan danproses pelorodan. Proses pewarnaan dan pelorodan pada batik mangrove memiliki beberapa tahapan. Berikut ini langkahlangkah pewarnaan dan pelorodan dalam pembuatan Batik Mangrove :

  1. Pewarnaan Menurut Mifzal (2012:76), setelah proses pemalaman selesai, tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalahpewarnaan. Tujuan pewarnaan ini adalah untuk member dan mengubah warna pada kain batik. Pewarnaan juga bertujuan untuk menambah keindahan pada batik. Pencoledan adalah proses pemberian warna secara langsung pada bidang-bidang motif di mana ini relatif sempit yang dibatasi malam sehingga tidak efektif bila dicelup. Proses pewarnaan pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya menggunakan teknik pewarnaan mencolet menggunakan kuas dengan berbagai ukuran. Bahan pewarna yang digunakan adalah bahan pewarna alami mangrove.
  2. Pelorodan Nglorod ini adalah langkah untuk melarutkan malam pada permukaan kain. Hal ini dilakukan di atas bejana yang berisi air panas mendidih. Untuk mempermudah proses pelarutan malam dari permukaan kain maka pada air mendidih itu dicampurkan zat kimia tertentu. Proses pelorotan pada Batik Mangrove memiliki beberapa tahapan, yaitu:
  3. Tahap satu adalah tahap mencelupkan kain kedalam larutan kanji dan air dingin.
  4. Tahap kedua adalah tahap mencelupkan kain kedalam larutan tawas,
  5. Tahap ketiga adalah tahap mencelupkan kain kedalam air mendidih hingga malam luntur seluruhnya.
  6. Tahap keempat adalah tahapan mencelupkan kain kedalam larutan tawas kedua.
  7. Tahap kelima adalah tahap mencelupkan kain kedalam air bersih.
  8. Tahap keenam adalah tahap mencelupkan kain kedalam larutan kanji yang telah dimasak di air mendidih dan di tuangkan ke dalam ember.

 Motif Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Batik Mangrove telah memiliki ribuan motif pakem yang telah dibuat. Beberapa motif pakem diantaranya yaitu motif Bruguiera Gymnorhiza, motif Callophyllum Inophyllum, motif Angry Puffu Fish, motif Gobie Fish, dan motif Blue Jelly. Pada motif-motif pakem Batik Mangrove terdapat ornamen utama, ornamen tambahan, dan ornamen isen batik. Sesuai dengan pendapat Susanto (1980: 212) mengenai motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan yang mempunyai motif yang berirama dan khas. Motif batik disebut juga corak batik atau pola batik. Menurut unsur-unsurnya motif batik dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu ornamen motif dan ornamen isen batik. Ornamen motif batik dibedakan lagi atas ornamen utama dan ornamen tambahan kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan. Motif batik disebut juga corak batik atau pola batik. Menurut unsurunsurnya motif batik dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu ornamen motif dan ornamen isen batik. Ornamen motif batik dibedakan lagi atas ornamen utama dan ornamen pengisi bidang atau ornamen tambahan. Jadi pada motif batik  terdapat ornamen utama, ornamen tambahan, dan ornamen isen batik. Ornamen motif–motif yang terdapat pada batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah motif-motif yang berasal dari alam sekitar hutan mangrove, mulai dari buah, bunga, dan daun tanaman mangrove serta binatang yang ada di ekosistem hutan mangrove mulai dari ikan, kepiting, kupu-kupu, dan lainlain.

Motif Bruguiera Gymnorhiza

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Bruguiera Gymnorhiza berbentuk ornamen tumbuhan buah dan daun Bruguiera Gymnorhiza. Bentuk buah dan daun Bruguiera Gymnorhiza dibuat lebih dominan dan memiliki makna. Sesuai dengan pendapat Wulandari (2011:105), ornamen utama adalah suatu corak yang menentukan makna motif tersebut. Pemberian nama motif batik tersebut didasarkan pada perlambangan yang ada pada ornamen utama ini. Ornamen tambahan pada motif Bruguiera Gymnorhiza berbentuk daun, bunga, dan buah Bruguiera Gymnorhiza. Bentuk daun, bunga dan buah Bruguiera Gymnorhiza untuk pola tambahan dibuat lebih kecil dari pada motif utamanya. Sesuai dengan pendapat Susanto, Ornamen pengisi ini bentuknya lebih kecil dan lebih sederhana, Ornamen isen pada motif Bruguiera Gymnorhiza adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Bruguiera Gymnorhiza adalah gelembung air yang terinspirasi dari gelembung air di ekosistem mangrove. Sesuai dengan pendapat Lisbijanto (2013: 49), isen yaitu motif pengisi sebagai unsur pelengkap dalam motif batik. Unsur isen antara lain titik, garis, garis lengkung, dan lain sebagainya.

Motif Callophyllum Inophyllum

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Callophyllum Inophyllum berbentuk ornamen tumbuhan buah, bunga, dan daun Callophyllum Inophyllum. Ornamen tambahan pada motif Callophyllum Inophyllum berbentuk daun, bunga, dan buah Callophyllum Inophyllum yang dibuat lebih kecil dari ornamen utamanya. Ornamen isen pada motif Callophyllum Inophyllum adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Callophyllum Inophyllum adalah gelembung air dan titiktitik hujan yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Motif Angry Puffu Fish

Ornamen utama pada Batik Mangrove motifAngry Puffu Fish berbentuk ornamen binatang yaitu ikan gembung. Sesuai dengan pendapat Susanto, binatang yang sering digambarkan dalam ornamen seni berupa lembu, kijang, gajah, singa atau harimau (Susanto, 1980:274). Ornamen tambahan pada motif Angry Puffu Fish berbentuk ekosistem bawah laut yaitu terumbu karang yang dibuat lebih kecil dari ornament utamanya. Ornamen isen pada motif Angry Puffu Fish adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Angry Puffu Fish adalah gelembung air, gelombang, dan jogging track yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Motif Gobie Fish

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Gobie Fish berbentuk ornamen binatang yaitu ikan gobie. Ornamen tambahan pada motif Gobie Fish berbentuk ekosistem bawah laut yaitu terumbu karang. Ornamen isen pada motif Gobie Fish adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Gobie Fish adalah gelembung air, biji bogem, dan jogging track yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Motif Blue Jelly

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Blue Jelly berbentuk ornamen binatang yaitu ubur-ubur. Ornamen tambahan pada motif Blue Jelly berbentuk ekosistem bawah laut yaitu terumbu karang. Ornamen isen pada motif Blue Jelly adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Blue Jelly adalah gelembung air, biji bogem, dan jogging track yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Warna Batik Mangrove Rungkut Surabaya

a) Warna khasmbatik mangrove warna-warna yang digunakan pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah warna merah muda, ungu, biru, hijau, orange, kuning, coklat, dan hitam. Sesuai dengan pendapat Hamzuri (1994:32) ada beberapa macam warna yang diterapkan pada batik yaitu warna hijau, jingga, biru, ungu, dan kuning.

b) Perkembangan warna batik mangrove Warna pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya tidak mengalami perkembangan, namun hingga saat ini masih belum ditemukan warna merah yang menyala, yang ada warna merah merona. Warna khas Batik Mangrove Rungkut Surabaya yaitu warna merah.

c) Asal warna dari pewarna alami mangrove Asal dari pewarna alami batik mangrove berasal dari tumbuhan mangrove yang dicampur dengan pewarna alami lainnya. Beberapa tanaman mangrove yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami adalah Bruguiera Gymnorhiza, jeruju atau Acanthus ilicifolius, indigo , Caloptropis Gigantea, bogem atau Sonneratia alba, Nypa Frutican, bintaro atau Cerbera manghas dan alur atau Saudea maritime. Sesuai dengan pendapat Susanto (1980:70), zat warna alam yaitu zat warna dari bahan alam, dari tumbuhan dan binatang. Warna asli yang dihasilkan dari tanaman mangrove adalah warna coklat kehijauan, coklat muda, dan hijau kekuningan. Warna-warna tersebut dihasilkan dari tanaman Sonneratia Casiolaris dan Cerbera Manghas.

 Proses Pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

a) Alat dan bahan pembuatan batik mangrove

Proses pembuatan Batik Mangrove peralatan yang dibutuhkan sedikit berbeda. Perbedaan tersebut karena disetiap pembuatan batik ditempat yang satu dengan yang lainnya memiliki ciri khasnya masingmasing, namun tetap hampir sama sesuai dengan pakem pembuatan batik paada umumnya. Sesuai pendapat Wulandari (2011:143), perlengkapan membatik tidak banyak mengalami perubahan. Perbedaan perlengkapan pada proses pembuatan batik Mangrove ada pada canting yang digunakan. Canting yang digunakan pada Batik Mangrove adalah jenis canting elektrik. Secara sepintas canting elektrik tidak jauh berbeda dengan canting biasa pada umumnya. Yang membedakan adalah cucuk yang ada pada canting elektrik dapat diganti sesuai dengan kebutuhan, serta pada canting elektrik terdapat alat pengatur temperature. Sesuai dengan pendapat Mifzal, (2008:20), seiring perkembangan zaman, sekarang sedang dikembangkan inovasi baru berupa canting elektronik.

Pada Batik Mangrove menggunakan malam kuning dan malam putih. Alasan menggabungkan malam kuning dan malam putih adalah ingin menghasilkan batik dengan penggabungan malam kuning dan putih. Sesuai dengan pendapat Suroso (2010:26) Malam kuning mampu menutupi permukaan media secara utuh dan sempurna. Sedangkan Malam putih biasa disebut dengan paraffin. Kesan efek retak yang terdapat pada malam putih tersebut dapat dijadikan sebagai motif abstrak. Berdasarkan pendapat Suroso tersebut penggabungan malam kuning dan putih akan menghasilkan malam yang dapat menutup dengan rapat namun juga dapat member sedikit efek retakan. Pencampuran malam kuning dan malam putih yang ada pada Batik Mangrove juga melalui tahap penyaringan, agar malam yang dihasilkan hanyalah malam yang berkualitas, bersih, dan siap digunakan tanpa harus menyaring lagi pada proses mencanting.

Pada Batik Mangrove menggunakan bahan pewarna alami. Bahan pewarna alami yang digunakan adalah bahan pewarna alami yang berasal dari tumbuhan mangrove yang dicampur dengan pewarna alami lainnya. Sesuai dengan pendapat Susanto (1980:70), Zat warna alam yaitu zat warna dari bahan alam, dari tumbuhan dan binatang. Pada Batik Mangrove, pewarna alami yang digunakan berasal dari bunga, daun, dan buah tanaman mangrove. Beberapa tanaman mangrove yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami adalah Sonneratia Alba, Bruguierra Gymnorhiza, Nypa Frutican, Caloptropis Gigantea, dan sebagainya.

b) Langkah-langkah pembuatan batik mangrove

Langkah-langkah pembuatan batik pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya tidak jauh berbeda dengan langkah-langkah pembuatan batik pada umumnya. Perbedaannya terletak pada proses pewarnaan dan proses pelorodannya. Proses pewarnaan pada Batik Mangrove dilakukan dengan dua cara yaitu dengan teknik pencelupan dan pencoledan. Sesuai dengan pendapat Mifzal (2012:76), teknik pewarnaan batik pada batik tulis ada dua, yaitu pencelupan dan pencoledan.

Proses pelorotan dilakukan dalam beberapa tahapan antara lain, tahap 1 memasukkan kain kedalam larutan kanji yang telah dicampur dengan air dingin, tahap 2 memasukkan kain kedalam larutan tawas yang telah dicampur dengan air dingin, tahap 3 memasukkan kain kedalam air mendidih hingga seluruh malam telah terlepas dari kain, tahap 4 memasukkan kain kedalam larutan tawas untuk yang kedua kalinya, tahap 5 memasukkan kain kedalam bak air bersih, dan tahap 6 memasukkan kain kedalam larutan kanji yang telah dicampur dengan air panas. Sesuai dengan pendapat Anshori (2011:45), nglorod ini adalah langkah untuk melarutkan malam pada permukaan kain. Hal ini dilakukan di atas bejana yang berisi air panas mendidih. Setelah proses pelorodan, langkah selanjutnya adalah menjemur dengan cara diangin-anginkan.

——————————————————————————————-
Eny Kurniawati, Yulistiana. Batik Mangrove Rungkut Surabaya (Universitas Negeri Surabaya). e-Journal, Vol. 04, No. 01, Th. 2015, Edisi Yudisium Periode Pebruari 2015, Hlm. 37-45