Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep

Pulau Gili Iyang0001

KEINDAHAN alam Jawa Timur sudah cukup terkenal ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Gunung Bromo, Kawah Gunung Ijen, pasir pantai-pantainya yang putih, hingga berbagai air terjun yang tersebar di berbagai dae- rah. Obyek wisata yang belum terlalu kondang, namun layak diperhitungkan adalah Pulau Gili Iyang.
Pulau ini terletak di sebelah timur Kabupaten Sumenep, Madura. Pulau ini memiliki udara dengan kadar oksigen cukup tinggi, mencapai 21%. Angka ini tertinggi setelah sebuah danau di Yordania yang dikenal sebagai Laut Mati. Selain itu Pulau Gili Iyang juga memiliki pantai dengan pasir putih dengan kelembutan menawan.
Keberadaan Pulau Gili Iyang sebenarnya sudah diketa- hui masyarakat Sumenep. Yang belum banyak diketahui adalah keistimewaannya. Bahkan warga dua desa, Desa Banra’as dan Desa Bancamara yang tinggal di pulau itu juga baru belakangan tahu jika pulau yang mereka tinggali memiliki keistimewaan luar biasa.
Pulau Gili Iyang0002Untuk mengunjungi pulau ini, memang butuh “perjuangan” Gambarannya begini: dari Surabaya menuju Sumenep ditempuh perjalanan darat dengan waktu antara 3,5 – 4 jam. Namun bagi mereka yang berduit, bisa “terbang” dengan pesawat kecil menuju Bandara Trunojoyo Sumenep. Sekadar diketahui, sejak Juli 2014, bandara ini sudah resmi dioperasikan untuk penerbangan komer- sil. iVlaskapai yang melayani PT Trigana Air.
Selanjutnya untuk menuju Pulau Gili Iyang harus menyeberang menggunakan perahu yang biasa digunakan para nelayan dari pelabuhan kecil bernama Pelabuhan Dungkek. Untuk sekali penyeberangan yang memakan waktu sekitar 40 menit, biayanya Rp 10.000 per orang. Se- tiap perahu hanya berlayar satu kali perjalanan. Artinya, dari Sumenep jadwal menyeberang sekitar pukul 07.00 dan untuk kembali lagi ke Sumenep penumpang harus sudah siap di dermaga perahu-perahu nelayan berlabuh sekitar pukul 14.00 dengan perahu berbeda. Namun jika berombongan, bisa menyewa satu perahu seharga Rp 500.000 untuk pulang pergi.
Pulau Gili Iyang0003Sejak dalam perjalanan laut menuju pulau seluas ham- pir 9 kilometer persegi itu, pengunjung sudah bisa melihat jelas keindahan pulau. Pengunjung juga bisa menikmati pemandangan para nelayan yang tengah menebar jala dan menjaring ikan sebagai mata pencarian sebagian besar penduduk Gili Iyang yang berjumlah sekitar 394 jiwa. Semakin mendekat ke pulau, kian jelas deretan perahu khas Madura yang bersandar di bibir pantai.
Begitu perahu penumpang sandar di dermaga kecil Desa Banra’as, terasa sekali menghirup udara begitu ri- ngan. Ditambah hempasan angin sepoi yang membelai
halus rambut dan kulit. Suasana ini sangat berbeda dibanding ketika bernapas di wilayah perkotaan yang terasa cukup berat. Bahkan udara perkotaan seperti Surabaya terkadang membuat sesak napas, Kadar oksigen dalam udara perkotaan rata-rata berkisar antara 16-17 % saja, sementara di Gili Iyang bisa mencapai 21%.
Ketika tim liputan Majalah Potensi berjalan menyusuri jalan setapak pedesaan, terasa langkah kaki begitu ringan. Berjalan sepanjang 2-3 km pun seakan tanpa beban, kondisi udara yang cukup bagus itu tak membuat napas tersengal-sengal, meski berjalan jauh.
Pantauan Satelit
Pulau Gili Iyang0004Carik Desa Banraas, Mutawajih, menuturkan, keistimewaan udara di pulau ini diketahui tahun 2006 lalu. Saat itu, peneliti di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mendapati dari pantauan satelit bahwa kandungan oksigen di pulau tersebut cukup tinggi. Akhirnya LAPAN melakukan penelitian selama tiga bulan di tempat itu dengan menebar delapan alat pengukur kandungan oksigen di udara.
Selama tiga bulan, penelitian dilakukan terus menerus, sampai akhirnya LAPAN benar-benar mendapati bahwa kandungan udara di Gili Iyang cukup tinggi. Bahkan sekali waktu, ketinggian kandungan oksigen di tempat itu mengalahkan Laut Mati di Yordania.
Penelitian itu diperkuat lagi dengan temuan Balai Besar Tekhnik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jawa Timur.
Temuan tim juga mengejutkan, mengingat peneliti mengambil sampel glukosa secara acak di dua desa, yakni Desa Ban. Hasilnya, berdasarkan sunvey sementara, kadar oksigen di pulau itu mencapai 21,5 persen. Hal itu tak jauh berbeda dengan hasil survey Badan Lingkungan Hidup (BLH) jatim 2011 silam.
Munculnya kandungan oksigen yang cukup tinggi itu karena pengaruh perputaran udara dari laut sekitar pulau itu. “Kawasan Pulau Gili Iyang itu masih belum banyak pencemaran udara, kawasannya masih alami dan bersih,” katanya.
Masih menurut Mutawajih, kualitas udara di desanya itu sudah terbukti dan dirasakan masyarakat setempat. Salah satu bukti adalah kualitas kesehatan masyarakatnya yang jarang terserang penyakit. Usia warga juga relatif lebih panjang.
Di Gili Iyang, kebanyakan yang lebih dulu meninggal laki-laki. Sebab mayoritas mereka itu perokok, sedangkan yang perempuan tidak. “Di sini perempuan usianya bahkan bisa sampai 100 tahun lebih,” katanya.
Ya, berdasar pengamatan, di pulau ini memang terlihat banyak perempuan yang usianya sudah sangat lanjut. Namun yang mengherankan, kondisi mereka cukup sehat untuk beraktivitas, seperti bercocok ta nam hingga mencari rumput untuk ternak. Sedangkan kaum laki-laki, terutama yang masih muda dan kuat, lebih memilih bekerja sebagai nelayan.
Satu hal menyenangkan mengunjungi pulau ini adalah masyarakatnya yang ramah menyambut ke- datangan tamu. Warga dengan suka rela bukan saja menyambut, namun juga baramai-ramai mengantar menuju lokasi-lokasi yang menjadi pendukung wisata di Pulau Gili Iyang, seperti Gua Mahakarya yang baru saja ditemukan warga dan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Sumenep.
Rumah Tinggal
Pulau Gili Iyang0005Diceritakan oleh Akhya, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Gili Iyang, konon Gili Iyang merupakan pulau tempat diasingkannya salah seorang selir raja Sumenep. Sebab itulah dalam sejarah raja-raja Sumenep cerita tentang selir dan pulau ini tidak pernah ada, karena selir dianggap sesuatu yang tidak baik bagi lingkungan kerajaan. Waktu itu pulau ini dikenal dengan sebutan Pulau Aulia. Konon kemudian ada seorang raden yang mengetahui dan tergila-gila pada selir yang tinggal di pulau ini. Akhirnya mereka pun hidup bersama dan menetap.
Menurut Akhya, karena begitu tergila-gilanya sang raden dengan putri dari pulau Aulia itulah sehingga pulau ini disebut dengan pulau Gili Iyang. Kini jalanan di pulau itu dinamakan Jalan Potre.
Akhya bertutur, saat ini warga Gili Iyang sudah mulai menyadari akan potensi wisata di kawasannya. Warga pun sudah mulai membuat buah karya atau kerajinan yang bisa dijadikan oleh-oleh. Antara lain, berbagai ikan yang diasinkan, mainan khas warga, hingga souvenir gelang, kalung dan kaos bertulis Pu¬lau Gili Iyang.
Setiap bulan, dipastikan selalu ada wisatawan yang berkunjung, antara 5-10 orang, Bahkan, kata Akhya, wisatawan beretnis china dari Jakarta berkunjung dengan tujuan agar kondisi kesehatannya semakin membaik. Pemkab Sumenep kini berminat mengembangkan. Rencana lokasi ini akan dijadikan wisata kesehatan dengan dibangun beberapa rumah tinggal agar ada swadaya dari warga setempat. (sti) •*•
majalah POTENSI, Edisi 44 / Agustus 2014, halaman 42-45

Dr. Akhmad Sukardi, M.M

Akhmad sukardi

Dr. Akhmad Sukardi, M.M, lahir di sebuah pesisir di Sumenep 14 Juli 1958, masa kecil dan remajanya dibentuk oleh karakter budaya Madura yang tegas dan religius. Mengenyam pendidikan dasar-menengah di Sumenep dan Pamekasan.
Selepas itu, melanjutkan studi Sarjana dan meniti karier sebagai PNS di Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Sejak awal karier pegawai dan studinya mendalami tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, dimulai dari Kepala Sub Bagian Pembinaan Anggaran Biro Keuangan Setda Jatim sampai menjadi Kepala Dinas Pendapatan Propinsi Jawa Timur.
Sebagai pejabat karier, ia masih termotivasi untuk memperdalam studi pada program Magister Manajemen Pascasarjana Universitas Airlangga, lulus tahun 1998- dan menyelesaikan Program Doktor llmu Administrasi Program Pascasarjana Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya tahun 2007.
Untuk mentransformasi keilmuan yang didapat dan mensharingkan kompetensinya dalam pengelolaan keuangan daerah, ia menjadi pengajar pada Badan Diklat Propinsi Jawa Timur dan beberapa perguruan tinggi di Surabaya.
Aktif sebagai narasumber dalam berbagai seminar dan workshop yang berkaitan dengan kompetensinya. Di samping kesibukannya yang cukup padat tersebut, ia juga membantu istri mengasuh dua orang anak di Surabaya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. Akhmad Sukardi, M.M: Participatory Governance, 2009, hlm. Sampul Belakang. 

Ngekak Sangger

Ngekak Sangger ,,Ngekak Sangger merupakan sebuah tradisi  Upacara adat pengantin desa Legung, kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Madura. Tradisi ini masih beralku dan dilaksanakan, sampai sekarang.

Dalam upacara pernikahan, sebelum calon mempelai pria dipersilakan memasuki tempat upacara, terlebih dulu pihak calon mempelai wanita meminta bayaran berupa kesanggupan pihak calon mempelai pria untuk melakukan Tayub/Tandhang.

Kemudian calon mempelai pria dipersilakan masuk dengan cara berjalan jongkok menuju tempat upacara akad nikah. Upacara akad nikah dilakukan sesuai ajaran agama Islam yang dipimpin oleh seorang penghulu. Setelah pelaksanaan upacara akad nikah.

Acara selanjutnya sebuah prosesi adat yang disebut ngekak Sangger, yaitu mempelai pria diwajibkan merangkai bilah-bilah bambu untuk alas tempat tidur,  mempelai pria terlebih dulu harus diuji keterampilannya, yang kelak merupakan bekal dalam mengarungi hidup berumah tangga serta dalam melindungi keluarganya.

Arti Penganten Ngekak Sangger, dengan pengertian bahwa pernikahan bukanlah sekedar pertautan kedua mempelai, namun dimaknai sebagi masuknya penganten pria dalam ikatan keluarga besar sang isteri, seperti halnya sangger.

Sangger adalah sebuah rangkain yang terdiri dari bilah-bilah bambu yang rapi tersusun dalam satu ikatan. Dalam simbol tersebut sangger mempunyai maknauntuk mendidik penganten pria untuk selalu arif dan tertip, memegang sopan santun sejajar dengan kerabat si Istri. Dilambangakan seperti dalam rangkaian Sangger.

 

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 330

 

Riwayat Jokotole

Lahirnya Jokotole.
Diceriterakannya didalam sejarah Madura bahwa cucu Pangeran Bukabu mempunjai anak bernama Dewi Saini alias Puteri Kuning (disebut Puteri Kuning, karena kulitnya yang sangat kuning) kesukaannya bertapa. Dengan perkawinan bathin dengan Adipoday (suka juga bertapa), putera kedua dari Panembahan Blingi bergelar Ario Pulangjiwo, lahirlah dua orang putera masing2 bernama Jokotole dan Jokowedi. Kedua putera tersebut ditinggalkan begitu saja dihutan. Putera yang pertama, Jokotole, diketemukan oleh seorang Pandai Besi bernama Empu Kelleng didesa Pakandangan, didalam keadaan disusui oleh seekor kerbau yang putih. Sedangkan putera yang kedua, Jokowedi, diketemukan di Pademawu, juga oleh seorang Empu.
Kesenangan Jokotole sejak kecilnya ialah membuat senjata- senjata, seperti keris, pisau dan perkakas pertanian. Bahannya cukup dari tanah liat, akan tetapi Jokotole dapat merobahnya menjadi besi, demikian menurut ceritera. Pada suatu waktu Jokotole, setelah mencapai usia 6 (enam) tahun, Bapak angkatnya, Empu Kelleng Pakandangan, mendapat panggilan dari raja Majapahit (Brawijaja VII), untuk dimintakan bantuannya dalam pembuatan pintu Gerbang.

Djokotole bertugas di Madjapahit.
Selama 3 tahun dari keberangkatannya ke Majapahit, Empu Kelleng Pakandangan belum juga ada kabarnya, sehingga menggelisahkan dan mengkhawatirkan Nyai Empu Kelleng Pakandangan. Karena itu Nyai Emu Kelleng Pakandangan lalu menyuruh anaknya, yaitu Jokotole, untuk menyusul dan membantu ayahnya. Dalam perjalanannya melewati pantai selatan Pulau Madura, ia berjumpa dengan seorang tua didesa Jumiyang (Pandemawu) yang berseri-seri roman mukanya. Siapakah gerangan orang tua tersebut? Orang tua tersebut adalah pamannya sendiri, saudara dari ayahnja, yaitu Pangeran Adirasa, yang sedang bertapa didaerah itu. Orang tua tersebut memanggil Jokotole untuk datang kepadanya. Ketika Jokotole mendatanginya, Adirasa menceriterakan dari permulaan sampai akhir hal-ikhwal hubungan kekeluargaannya dan Juga ia memperkenalkan adik Jokotole yang bernama Jokowedi. Selain dari itu
Jokotole menerima nasehat – nasehat dari Adirasa, dan ia diberinya bunga melati oleh pamannya itu. Bunga melati itu disuruhnya makan sampai habis, supaya ia nantinya dapat menolong Bapak angkatnya yang mendapat kesusahan di Majapahit dalam pembuatan pintu Gerbang. Untuk penyelesaian pembuatan pintu Gerbang itu harus dipergunakan suatu alat perekat, perekat mana nantinya akan dapat keluar dari pusar Jokotole, sewaktu ia dibakar hangus. Karena itu nantinya ia harus minta bantuan orang – orang lain untuk membakar; dirinya, dengan pengertian kalau Jokotole telah hangus terbakar menjadi arang, perekat yang keluar dari pusarnya supaya segera diambil dan jika sudah selesai supaya ia segera disiram dengan air untuk dapat hidup kembali seperti sediakala. Jokotole diberinya petunjuk bagaimana caranya memanggil pamannya (Adirasa) apabila ia mendapat kesukaran. Selain mendapat nasehat – nasehat, juga ia men¬dapat seekor kuda hitam, bersayap (si Mega) sehingga kuda tersebut da¬pat terbang seperti burung Garuda, dan sebuah Cemeti dari ayahnya sendiri, Adipoday. Setelah Jokotole bersaudara dapat perkenan dari pamannya untuk berangkat ke Majapahit, sesampainya mereka dipantai Gersik men¬dapat rintangan dari penjaga – penjaga pantai, karena memang mereka mendapat perintah dari Rajanya untuk mencegat dan membawa dua orang bersaudara itu keistana. Perintah Raja ini berdasarkan mimpinya untuk mengambil menantu yang termuda dari dua pemuda sesaudara itu. Setelah diadakan pembitjaraan kompromis antara pihak pepatih dongan kedua orang bersaudara itu, datanglah mereka keistana. Ketika kedua orang sesaudara tadi diterima oleh Raja, diadakan ramah-tamah dan diutarakan niatan Raja menurut mimpinya. Karena itu dengan ikhlas Jo¬kotole meninggalkan adiknya dan melanjutkan perjalanannya menuju Majapahit. Setelah ia mendapat perkenan dari ayah angkatnya menemui Raja Majapahit, ia lalu ditunjuk oleh Raja sebagai pembantu Empu-empu. Pada saat bekerja sama dengan Empu-empu, Jokotole minta kepada Empu-empu, supaya dirinya dibakar sampai menjadi arang. Bila telah terbakar supaya diambilnya apa yang keluar dari pusarnya, danitulah nantinya dapat dijadikan alat perekat. Apa yang diminta oleh Jo¬kotole dikerjakan oleh Empu-empu sehingga pintu gerbang jang tadinya belum .dapat dilekatkan, maka sesudah itu dapat dikerjakan sampai selesai. Setelah bahan pelekatnya di¬ambil dari pusar Jo¬kotole, ia lalu disiram dengan air sehingga dapat hidup kembali seperti biasa.
Selanjutnja jang mendjadi persoalan jalah pintu gerbang tadi tidak dapat didirikan oleh Empu-empu, karena beratnya. Dengan bantuan Jo¬kotole yang memperoleh kekuatan dari pamannja Adirasa yang tidak menampakkan diri, pintu gerbang yang besar itu dapat segera ditegakkan, sehingga perbuatan tersebut menakjubkan bagi Raja, Pepatih, Menteri – menteri dan Empu-empu lainnya. Bukan saja dibidang tehnik, Jo¬kotole memberikan jasa- jasanya yang besar, bahkan dibidang pertahanan Kerajaan Majapahit banyak pula bantuannya, misalnya dalam pengamanan dan penaklukan Blambangan. Atas jasa- jasanya yang besar itu Raja Majapahit berkenan menganugerahkan puteri Mahkota yang bernama Dewi Mas Kumambang. Tetapi karena hasutan Pepatihnya, maka keputusan untuk mengawinkan Jo¬kotole dengan Dewi Mas Kumambang ditarik kembali dan diganti dengan Dewi Ratnadi yang waktu itu buta karena menderita penyakit cacar. Sebagai seorang ksatria Jokotole menerima saja keputusan Rajanya.

Jokotole dengan istrinya pulang ke Sumenep.
Setelah beberapa lama tinggal di Majapahit, Jokotole minta diri untuk pulang ke Madura dan membawa isterinya yang buta itu. Dalam perjalanan kembali ke Sumenep, sesampainya dipantai Madura, isterinya minta idzin untuk buang air. Karena di tempat tersebut tidak terdapat air, maka tongkat isterinya diambil oleh Jokotole dan ditancapkan ditanah, sehingga keluarlah air yang kebetulan mengenai mata yang buta itu, maka tiba- tiba Dewi Ratnadi dapat membuka matanya, sehingga dapat melihat kembali. Karena itu tempat tersebut diberi nama „Socah”, jang artinja mata. Didalam perjalanannya ke Sumenep banyaklah kedua suami isteri itu menjumpai hal- hal yang menarik dan memberi kesan yang baik. Misalnya sesam¬painya mereka di Sampang, Dewi Ratnadi ingin mencuci kainnya yang kotor karena ia sedang menstruasi (haid). Kain jang dicucinya itu dihanyutkan oleh air sehingga tidak dapat diketemukan lagi. Kain dalam ter¬sebut oleh orang Madura disebut „amben”. Setelah isterinya itu kehilangan amben, maka berkatalah Jokotole, mudah- mudahan sumber ini tidak keluar dari desa ini untuk selama-lamanja. Sejak itulah desa tersebut disebut orang desa Omben. Sewaktu Jokotole menemui ayahnja ditempat pertapaan digunung Geger, diberitahunja bahwa ia nantinja akan berperang dengan seorang perajurit yang ulung bernama Dempo Abang (Sampo Tua Lang), seorang Panglima perang dari Negeri Cina jang menunjukkan kekuatanya kepada semua Raja –raja ditanah Jawa, Madura dan sekitarnya. Pada suatu ketika (demikian menurut ceritera), waktu Jokotole bergelar Pangeran Secoadiningrat III memegang pemerintahan di Sumenep ( ± tahun 1415), datanglah musuh dari negeri Cina jang dipimpin oleh Sampo Tua Lang dengan berkendaraan Kapal Layar yang dapat berlayar dilaut, diatas gunung diantara bumi dan langit.
Didalam peperangan itu, Pangeran Secoadiningrat III mengendarai Kuda Terbang, sesuai dengan petujuk dari pamannya (Adirasa). Pada suatu saat setelah ia mendengar suara dari pamannya, yang berkata : „ Pukul maka Jokotole menahan kekang kudanya dengan keras sehingga kepala dari kuda itu menoleh kebelakang dan ia sendiri menoleh sambil memukulkan cemetinya (cambuknya) yang mengenai kendaraan musuhnya sehingga hancur luluh jatuh ditanah. Dari kejadian-kejadian inilah, maka kuda terbang yang menoleh kebelakang dijadikan Lambang bagi daerah Sumenep. Sebenarnya sejak Jokotole bertugas di Maja¬pahit sudah memperkenalkan lambang kuda terbang. Di pintu gerbang dimana Jokotole ikut membuatnya terdapat gambar seekor kuda memakai sayap, dua kaki belakang ada ditanah, sedang dua kaki muka diangkat kebelakang. Demikian pula di Asta Tinggi Sumenep di salah satu congkop (koepel) terdapat gambar kuda terbang yang dipahat diatas manner. Juga dipintu gerbang rumah Kabupaten (duhulu Keraton) Sumenep ada lambang kuda terbang. Di museum Sumenep juga terdapat lambang kerajaan yang ada kuda terbangnya. Karena itu sudah sewajarnyalah kalau sampai sekarang Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep mempergunakan lambang kuda terbang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEJARAH MADURA SELAYANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp, Sumenep 1971, hlm. 8-11

Adipoday dipulau Sepudi.

Adipoday (ayah dari Jokotole) menjumpai Puteri Kuning (Ibu Jokotole) di Sumenep untuk diajak ke Sepudi. Waktu itu di Sepudi diperintah kakek dari Jokotole ialah Panembahan Blingi (Wlingi). Setelah beliau meninggal dunia, Adipoday menggantikan ayahnya dengan bergelar Penembahan Wiroakromo, menjalankan pemerintahan disemua kepulauan disekitar Sepudi. Panembahan ini terkenal sudah memeluk agama Islam, siang dan malam suka memegang tasbeh da­ri buah pohon nyamplong. Karena itu banyaklah orang dianjurkan menanam pohon nyamplong tersebut. Keraton yang ia tempati, disebut orang desa Nyamplong.

Adipoday juga meninggal ditempat itu dan kuburannya disebut Asta Njamplong, jang hingga sekarang masih juga banyak dikunjungi orang untuk berziarah.

Diceriterakannya bahwa Adipoday. memang menjalankan pemerintahan sangat bijaksana dan apa yang mendjadi cita -citanja dapat direalisir dengan baik. Pohon nyamplong yang dianjurkan untuk ditanam ternyata kayunya sangat baik untuk didjadikan alat- alat perahu. Pulau Sepudi sejak dahulu terkenal pula dengan sapinya. Sapi kerapan yang dilombakan di Madura, yang menang pada umumnya berasal dari Sepudi. Setiap tahun pulau Sepudi mengeluarkan sapi begitu banyak, yang kelihatannya ti­dak seimbang dengan keadaan dan luasnya pulau tersebut. Menurut kepercayaan orang, keadaan demikian itu disebabkan karena cara – cara Adipodaj memelihara ternak itu tetap tertanam dalam hati sanubari rakjat dan rakjat tidak berani merobahnya. Petunjuk- Petunjuk Adipoday da­lam pemeliharaan ternak dan pertanian dianggap mempunyai kekuatan magis untuk diikutinya. Pelanggaran dianggap akan menimbulkan bahaya. Juga menjadi kebiasaan rakyat Sepudi, jika ada wabah penyakit menyerang penduduk disana, mereka mengeluarkan alat – alat peninggalan Adipoday (Tjalo’, kodi dsb.nja) untuk diarak, guna menolak adanja wabah penjakit tersebut.

Keadaan pulau Kangean.

Pulau lain jang perlu disebut disini ialah pulau Kangean. Pulau ini juga sudah terkenal sedjak zaman Madjapahit. Prapanca dalam kitabnya Nagara-Kertagama menulis sebagai berikut :

Sjair 15 (2).

Kunang tekang nusa Madhura tanami lwir parapuri ir denjan tunggal mwang Yamadharani rakwekana dengu………………………

Sjair 14 (5). Ingkang sakasanusa Makasar Butun Bangawi Kuni Ggaliyao mwang i (ing) Salaya Sumba Solot muar………………………

Djadi pulau Sepudi pada zaman Madjapahit disebut Ggaliyao. Dipulau ini pada zaman itu sudah ditempatkan seorang Adipati. Semula pu­lau tersebut adalah tempat pembuangan orang – orang jang mendapat hukuman berat dari raja. Tetapi karena tanahnja subur (sawah, ladang) dan banyaknya penghasilan yang didapat dari lautan (ikan, akar bahar dsb. nya) beserta hasil hutannya, maka lambat laun pulau itu menjadi pusat perdagangan dan banyak orang- orang dari Sumenep dan dari daerah lain yang menetap di Kangean.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 12-13

Tahapan Upacara perkawinan Ngekak Sangger

PENGANTIN LEGUNGTahapan-tahapan dalam upacara perkawinan Ngekak Sangger di Legung, Kabupaten Sumenep, Madura:

Ngen-angenan atau Khabar; adalah suatu usaha orang tua anak laki-laki dewasa (baligh) yang mencarikan pasangan hidup (istrai) untuk anaknya, dengan jalan meminta bantuan kepada seorang perantara yang disebut dengan Pangadek..

Arabas Pagar; adalah tugas seorang pangadek mencari informasi/ keterangan calon penganten apakah sang calon yang dituju sudah atau belum tunangan.

Abakalan atau tunangan; setelah tugas pangadek  selesai dan si calon dinyatakan masih belum memiliki tunangan dan pihak orang tua serta calon pengantin laki-laki sudah cocok dengan pasangannya, maka tahap selanjutnya adalah Abakalan atau tunangan.

Nyabak Jajan atau Lamaran

BHAN – GHIBAN, adalah prosesi pihak keluarga (rombongan)  calon mempelai laki-laki berkunjung ke calon mempelai wanita, dengan membawa seperangk atalat-alat keperluan wanita seperangkat pakaian, seperangakat peralatan kecantikan dan perhiasan (bagi yang mampu), serta bermacam makanan dan kue..

Balessan atau Tongebbhan, setelah menerima pemberian maka pihak keluarga calon mempelai wanita membalas dengan memberi seperangkat keperluan calon laki-laki serta berbagai macam masakan atau makanan. Setelah proses tersebut berlangsungnya, maka mulai saat itu si gadis atau paraban sudah menjadi bakal  atau tunangan calon laki-laki.

Tradisi Sebelum Upacara Perkawinan

Menjelang hari-hari perkawinan, kedua mempelai mengadakan persiapan-persiapan diantaranya: 

  • Mamapar gigi, memperindah bentuk gigi (meratakan gigi).
  • Pingitan, calon pengantin wanita dipingit dengan orang tua supaya tidak diperbolehkan keluar pekarangan rumah bahkan takut terkena sarapat alias e rok-torok yaitu kerasukan roh halus.
  • Ijab Kabul, ( akad nikah ) untuk mengikuti sunnah Rasul, pelaksanaan di rumah mempelai perempuan.
  • Demar Kambheng, tradisi yang dilakukan oleh sesepuh wanita yang dituakan berpakaian serba tertutup, membawa kendi berisi air beserta dhamar kambhang (lampu minyak) untuk dituangkan sedikit demi sedikit sepanjang perjalanan yang akan dilalui oleh para tamu dan sepanjang perjalanan tidak boleh membalas teguran/sapaan orang membisu. setelah selesai maka sesepuh tadi kembali ke rumah pengantin wanita dan meletakkan dhamar kambhang di kamar si penganten. Prosesi ini dimaksudkan sebagai pembuka jalan demi keselamatan bagi kedua mempelai dalam melaksanakan upacara perkawinan. Acara ini dilaksanakan sehari menjelang pelaksanaan upacara perkawinan adat dengan bertempat di rumah penganten wanita.

Upacara Penganten Adat “ngekak sangger

  • Rombongan keluarga mempelai laki-laki membawa bermacam-macam berangkat menuju rumah mempelai wanita dengan diiringi musik saronen atau musik Hadrah bisa juga kedua kelompok musik tersebut mengiringi bersama-sama dengan aturan bergantian penampilannya.
  • Didalam iring-iringan ini Pengantin Pria seperti seorang raja menaiki Jaran Serek (kuda hias) mengenakan busana penganten yang belum lengkap.
  • Tiba didepan rumah mempelai wanita, rombongan mempelai pria akan disambut oleh seorang laki-laki dari keluarga mempelai wanita.
  • Selanjutnya Pangadek sebagai wakil bicara keluarga pengantin pria yanga menghadapi, dalam proses tersebut terjadi dialog dengan kata-kata kiasan atau parsemon yang intinya minta ijin.
  • Setelah pangadek sudah mendapat ijin dari pihak wakil keluarga mempelai wanita tadi, maka pengantin pria dipersilahkan masuk serambi rumah.
  • Di serambi depan rumah akan terdapat satu buah Sangger yang untaiannya lepas satu persatu. Dalam upacara adat ini penganten pria dituntut harus mengikat atau merangkai kembali untaian Sangger seperti semula, disinilah puncak proses dari upacara adat penganten tersebut dilaksanakan.
  • Selanjutnya penganten pria akan bebenah dengan memakai hiasan penganten lengkap untuk bersiapa-siap menjemput penganten wanita pada acara penganten ngarak dengan berkeliling kampung di desanya sebagai tanda memberitahukan kepada masyarakat bahwa mereka resmi menempuh hidup baru dalam rumah tangga.

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 330

Kepulauan Kangean Madura, Jawa Timur

KANGEAN002Kepulauan Kangean adalah kelompok kepulauan yang terdiri dari ± 30 pulau-pulau, terletak disebelah timur pulau Madura antara koordinat 115 ° 20′ dan 116° 16′ BT (Bujur Timur) dan 6° 30′ – 7° 18′ LS (Lintang Selatan). Pulau – pulau yang penting adalah Kangean, Saobi, Paliat, Sabunten, Sapeken,  Saseel dan Sepanjang. Diantara pulau-pulau ini masih banyak terdapat pulau-pulau kecil lainnya, seperti pulau Saur, Saebus, Kemaron dan ada yang berukuran super mini, ialah pulau Bungin.

Sekarang ini trayek Kalianget – Kangean dilayani oleh sarana transportasi laut yang andal yang diselenggarakan oleh Kantor ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan) dan perusahaan Swasta PT. Cahaya Makkarannu. Masing – masing mengoperasikan :

– KM Kuala Bate, milik ASDP

– KM Cahaya Mattiro Sompe (KM CMS) dengan kapasitas 400 penumpang dan 300 ton cargo. Dua buah kapal ini beroperasi dengan jadwal masing-masing dua kali seminggu dengan tarif yang relatif murah, ialah Rp. 6.500 per ticket.

– Disamping kapal-kapal tersebut beroperasi pula kapal-kapal swasta seperti “Aries” milik perintis dan Ponteng III yang menjalani trayek Kalianget – Kangean – Sapeken pp. dan menjadwalkan waktu-waktu berangkatnya antara KM Kuala Bate dan KM Cahaya Mattiro Sompe. . Dengan demikian maka hubungan laut antara Madura dan Kangean/Sapeken sementara ini sudah dapat memenuhi keinginan masyarakat kepulauan Kangean sebagai sebuah mini archipel.

GOA KANGEAN001Hampir semua pulau-pulau mempunyai keindahan marinanya masing-masing. Dapat dikatakan semua berpasir putih. Orang siapapun apabila menyaksikan pulau-pulau tersebut dengan mata kepala sendiri pasti berimajinasi, ‘seandainya pulau-pulau ini dikemas menjadi satu paket pengembangan Wisata Bahari atau Marina, pasti akan menjadi marina yang terbesar di Asia Tenggara ini.

Penduduk pulau Saur, disekitar pulau Saebus, mengatakan bahwa sering pulaunya didatangi oleh wisatawan manca negara yang memakai perahu pesiar yang langsung dari pulau Bali, karena jaraknya yang relatif dekat dengan Bali.

Sedangkan persinggahan paling eksotic adalah mendarat di sebuah pulau pasir putih, bernama pulau Bungin, yang hanya mempunyai panjang ± 50 meter dan lebar ± 35 meter, di tengah laut yang bertetangga beberapa kilometer dengan pulau yang lain. Yang paling indah di kepulauan Kangean ini adalah, hampir ditiap pulau dapat dinikmati baik Sunrise maupun Sunset.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pesona Madura.

Asta Gumuk, Sumenep

Ilmu belum sempurna sebelum injak Asta Gumuk, Kiai Ali Barangbang dikenal sebagai ulama yang istimewa. Suatu hari, ia sempat memukul anak seorang raja, hingga membuat raja marah dan diminta mengajari kera untuk mengaji. Berkat keilmuannya, si kera pun bisa mengaji. Selain itu, ada anggapan ilmu seseorang belum sempurna sebelum ziarah ke makamnya.

Asta Gumuk0001Di Desa Kalimo’ok, Kecamatan Kalianget, tepatnya di sebelah timur Lapangan Terbang Trunojoyo, , terdapat makam atau orang Madura biasanya menyebutnya asta, yakni makam Kiai Ali Barangbang. Mengapa dikatakan Barangbang, karena makam itu terletak di Dusun Barangbang. Ada juga yang menyebutnya dengan Asta Gumuk, yang artinya makam yang terletak di tanah yang tinggi.

Kiai Ali Barangbang mempuyai silsilah dari Syekh Maulana Sayyid Jakfar, As Sidik atau dikenal dengan Sunan Kudus yang mempunyai keturunan Pangeran Katandur yang mempunyai empat anak yaitu : Kiai Hatib Paddusan, Kiai Hatib Sendang, Kiai Hatib Rajul, dan Kiai Hatib Paranggan.

Dari putra pertamanya yang bernama Kiai Hatib Paddusan inilah Kiai Ali Barangbang dilahirkan. Semasa hidupnya, penyiar agama Islam yang wafat 1092 H ini dikenal seba­gai seorang ulama besar yang sangat disegani. Bahkan raja Sume­nep juga pernah berguru kepadanya.

Menurut legenda, Kiai AIi mempu­nyai kelebihan di luar nalar, yakni bisa mengajari kera berbicara bah­kan sampai bisa mengaji. Diceritakan pada waktu itu, Sumenep pemerintahannya masih berbentuk kerajaan. Salah seorang raja mempu­nyai anak yang dititipkan kepada Kiai Ali untuk belajar mengaji. Ringkas cerita, pada saat belajar mengaji putra raja tersebut dipukul oleh Kiai Ali. Setelah itu putra raja pulang dan mengadukan sikap Kiai Ali pada sang ayahnya.

Asta Gumuk0002Mendengar itu, jelas raja sangat marah namun raja tidak langsung menghukum Kiai Ali. Ia lalu memerin- tahkan sang prajurit untuk memanggil Kiai Ali dan menanyakan alasan putranya sampai dipukul. Tanpa rasa takut Kiai Ali menjawab bahwa sebenarnya dia tidak berniat memu­kul putra raja melainkan kebodohanlah yang dipukulnya agar kebodohan itu tidak menemani putra ra­ja. Mendengar jawaban tersebut raja tersinggung putranya di anggap bodoh. Dengan marah raja lantas mengatakan hal yang sangat mustahil. Raja mengatakan bahwa jika memang K Ali bisa membuat orang pintar dengan memukul maka Kiai Ali boleh pulang membawa kera den­gan syarat harus bisa mengajari kera tersebut mengaji.

Ringkasnya, kera dibawa oleh Kiai Ali ke rumahnya. Dan setiap malam Kiai Ali mengajak kera itu untuk memancing bersamanya sehingga pada suatu malam tepatnya malam ke 39, Kiai Ali memberikan tali tambang yang terbuat dari sabut kelapa kepada si kera dengan cara mengikatkan pada jarinya lalu dibakarnya.

“Hai kera jika sampai pada jarimu api ini saat kunyalakan dan terasa panas di tanganmu maka teriaklah dengan mengatakan panas!” perintah Kiai Ali. Dan, setelah semua dilakukan, saat itulah kera bisa berbicara dan akhirnya sang kera bisa mengaji. Tiba saatnya sang kera un­tuk pulang ke keraton dan menunjukkan kemampuan mengajinya pa­da raja. Di keraton Kiai Ali mengadakan pertemuan besar dengan raja dan disaksikan oleh para punggawa kerajaan sekaligus mengadakan pesta. Setelah semua berkumpul, kemudian sang kera di beri Alquran dan betapa terkejutnya sang raja beserta para punggawa yang hadir ketika melihat dan mendengar kera mengaji dengan indah. Setelah selesai mengaji Kiai Ali melemparkan pisang kepada kera dan berkata “Ilmu Kalah Sama Watak” yang dalam bahasa maduranya “Elmo Kala ka Bebethe”. Dan raja pun ikut berbicara bahwa barang siapa yang menuntut ilmu tidak menginjak tanah Brangbang maka ilmunya dianggap kurang sempurna atau tidak syah.

Cerita Kiai Ali mungkin kedengarannya seperti legenda dan sulit dinalar akal sehat. Namun, entah karena legenda itu atau yang lainnya, makam Kiai Ali sampai sekarang tak pernah sepi dari kunjungan para peziarah. Mereka datang dengan berbagai tujuan dan keperluan. Mulai yang urusan datang dengan tujuan keilmuan hingga yang soal urusan kelancaran rejeki.

Supriyadi asal Situbondo misalnya sudah beberapa bulan berada di Asta Gumuk. Ia tidak tahu sampai kapan berada di situ sebab belum ada semacam wisik yang memintanya pergi. Sebelum berada di Asta Gumuk, lelaki ini memang dikenal sebagai seorang pengelana yang berpindah dari makam ke makam. Ia mengaku terpesona dengan ke­mampuan yang pernah dimiliki K. Ali karena itu ia ingin menyerap karomahnya.

Selain itu, Supriyadi yakin adanya kepercayaan bahwa ilmu seseorang belum sempurna jika belum menginjakkan kakinya di Asta Gumuk. Karena alasan itulah lantas ia mengunjungi makam Kiai Ali yang cukup termashur di di Sumenep tersebut.

Suhabi, jurukunci makam Asta Gumuk yang sudah menjaga ma­kam ini sejak lima tahun lalu men­gaku para peziarah yang datang tidak saja sebatas dari Madura. Tapi, banyak juga yang datang dari Jawa, khususnya yang berasal dari daerah tapal kuda, seperti Situ­bondo, Probolinggo, dan Pasuruan. Mereka bisa datang secara rombon- gan maupun perorangan.

Namun, sayangnya menurut Su­habi, Asta Gumuk yang memiliki luas area sekitar 100 m X 150 m ini bagian atasnya belum beratap. “Ma­kam Kiai Ali memang tidak diberi atap karena beliau tidak mau, sebab pernah diberi tapi roboh disapu angin. Begitu seterusnya, setiap kali diberi atap selalu roboh. Karena itu­lah lantas ada kepercayaan bahwa makam beliau tidak mau diberi atap,” ujar Suhabi.

Jika makam Kiai Ali tidak bersedia diberi cungkup, tidak demikian yang bagian depannya. Bagian ini menurut Suhabi perlu diberi atap agar orang yang berziarah tidak kehujanan bila musim penghujan seperti begini. Satu-satunya tempat berteduh di tempat itu memang hanyalah mushola kecil dan tempat parkir yang ukurannya juga tidak terlalu besar sehingga tidak mencukupi jika kebetulan orang yang datang dalam jumlah yang besar. Karena itulah pihak-pihak terkait Su­menep perlu memperhatikan tem­pat ini. RUD

Liberty, 11-20 Pebruari 2010, hlm. 72-73

Asta Juruhan, Sumenep

Asta  Juruhan Jujukan Para Usahawan, Tempatnya cukup jauh, namun tidak mengurangi niat orang yang ingin ziarah ke tempat ini. Tiap hari puluhan, bahkan pada hari-hari tertentu jumlahnya mengalami lonjakan yang datang ke makam ini. Konon, telah para para usahawan yang telah sukses setelah lelaku di Asta Juruhan. ASTA JURUHAN0001Asta Juruhan letaknya cu­kup jauh dari Kota Sumenep, sekitar 30 KM. Tepatnya berada di Desa Ju­ruhan, Kecamatan Batu- putih, Sumenep. Namun, letaknya yang jauh tak mengurangi niat orang-orang yang ingin berziarah ke tempat ini. Baik yang berasal dari sekitar Sumenep, maupun yang ber­asal dari Madura. Seperti Situbondo, Probolinggo, maupun Surabaya. Jurukunci Asta Juruhan, H. Fatah menyebutkan bahwa peziarah dari luar Madura banyak yang berasal dari daerah Tapal Kuda. Kemungki- nan ini karena daerah Tapal Kuda memang banyak orang Maduranya yang merantau atau tinggal menetap di sana. Jadi mereka seperti mem- punyai hubungan bathin dengan asal-usul atau kampung leluhurnya. Perlu diketahui, bahwa dulu bah­kan hingga saat ini, Sumenep de­ngan Situbondo dan sekitarnya bisa ditempuh melalui jalur laut sehingga memotong waktu yang lama jika di­tempuh dengan jalur darat lewat Su­rabaya. Hal seperti ini tentu saja bisa dilakukan jika cuaca sedang bersahabat sehingga tidak membahayakan pelayaran. Segala hajat sebenarnya bisa disampaikan di Makam Juruhan. Mulai urusan jodoh, ingin sembuh dari su- atu penyakit, atau urusan bisnis. Berhasil tidaknya suatu hajat seseorang, kata si jurukunci, semua tergantung dari niat orang yang punya hajat itu. Jika memang niatnya tulus dan iklas, katanya, tidak ada keinginan yang tidak terkabulkan. ASTA JURUHAN0002Namun, H. Fatah mengungkapkan bahwa semua doa dan permintaan hendaknya ditujukan kepada Allah SWT. Makam yang berada di tempat tersebut katanya hanya sebagai perantara saja. H. Fatah mengibaratkan bahwa seperti orang yang hendak bertemu dengan seorang pejabat tinggi, hendaknya ia melewati perantara. Sebab, tanpa perantara niscaya keinginan berte­mu itu tidak akan terkabulkan. Siapa sebenarnya jasad yang di- kuburkan di tempat itu, sehingga makamnya sangat dihormati banyak orang? H. Fatah menyebutkan bah­wa orang yang dimakamkan disitu adalah seorang waliullah yang masih mempunyai hubungan dengan salah seorang sunan yang ada di Kudus, Jawa Tengah. Nama waliullah itu adalah Raden Patah, namun tidak sama dengan Raden Patah yang pernah memimpin Kasultanan Demak Bintaro. Menurut H. Fatah, Asta Juruhan meski didatangi orang dari berbagai golongan dan tujuan, namun yang paling banyak adalah para usahawan yang mulai merintis bidang usahanya. Mereka datang ke Asta Juruhan untuk memberikan back up pada bisnis yang sedang dijalaninya. ASTA JURUHAN0003Seperti kebanyakan tempat ziarah lainnya, peziarah yang datang biasanya membawa bunga setaman. Setelah sampai di depan makam, peziarah biasa langsung berdoa sendiri atau dibantu-jurukunci untuk membacakan ayat-ayat tertentu dalam Alquran. Uniknya, selain itu ada semacam nadzar yang jika apa yang menjadi keinginannya terkabulkan akan membawa bantal guling untuk di tempatkan di makam itu. Jurukunci makam tidak tahu secara pasti kenapa banyak orang yang bernadzar seperti itu. Sejak dulu yang memang sudah seperti itu. “Mungkin karena mereka melihat bantal serta gulingnya ada di sekitar makam sejak sebelum-sebelumnya, lantas peziarah yang baru seperti menjadi makium jika itu dianggap sebagai syaratnya,” ungkap Jurukunci. Banyaknya bantal berserta gulingnya yang berada di tempat itu seolah menjadi pertanda bahwa me­mang banyak para peziarah yang berhasil setelah melakukan ziarah di Asta Juruhan. Dan, itu tidak hanya diiyakan jurukunci makam, tapi para peziarah yang baru pertama kalinya datang. Mereka rata-rata sudah mendengar keberhasilan seseorang atau orang-orang dekatnya setelah ziarah di Asta Juruhan. Keunikan lain Asta Juruhan ada­lah banyaknya tangor (pengikat hi­dung sapi) yang digantungkan di atasnya. Bahkan di depan makam, banyak pendagang yang menjualnya seperti sebagai persyaratan ziarah. “Tangor ini bukan sebagai per­syaratan, namun untuk dibawa pu­lang dan dipakaikan ke sapi ternak- nya setelah didoakan di tempat ini,” ucap salah penjual tangor yang ada di depan Asta Juruhan. Bahkan, sejak Sumenep banyak dilanda kasus sapi yang meninggal secara mendadak, Asta Juruhan menjadi jujukan para peternak. Konon, ini adalah salah satu upaya spi­ritual agar hewan ternak mereka se­lalu dalam keadaan sehat. Tentu saja usaha ini dilakukan setelah mere­ka melakukan tindakan pencegahan dengan menjaga kebersihkan kadang serta tidak memberikan makan sapi dengan rumput-rumput yang baru saja terkena pupuk kimia. “Sejak dulu sebenarnya para peternak yang ingin sapinya sehat dan berkembang biak dengan baik melakukan doa di tempat ini. Na­mun, sejak ramai-ramai adanya sapi yang meninggal dengan misterius di Kecamatan Dungkek, memang semakin banyak para peternak, khususnya dari Pulau Giliyang yang ke sini,” ucap jurukunci. Ritual yang dilakukan di Asta Ju­ruhan agar hewan ternak bebas penyakit adalah dengan menaruh tongar di dekat makam selama beberapa malam sembari menaburkan bunga dan mengucapkan niat dalam hati. Setelah itu tongar bisa lang­sung dibawa pulang, namun lebih afdolnya katanya ditinggal selama semalam di tempat itu dan baru diambil pada esok harinya. Konon, usaha ini tidak saja dilakukan para peternak sapi yang ada di Madura, tapi juga di wilayah Tapal Kuda, se­perti Situbondo. • RUD •

LIBERTY,  21-28 Pebruari 2010, hlm. 70-71

Upacara Nadar, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur

Upacara Nadar, di Pinggirpapas Kabupaten-Sumenep-Madura-Jawa Timur

Masyarakat Pinggirpapas Kabupaten Sumenep dipulau Madura, setiap tahun pada musim garam menyelenggarakan sebuah yang diadakan sebanyak tiga kali/tahap. Upacara tersebut dalam bahasa Maduranya dikenal dengan istilah ( bahasa halus ) atau dalam sebutan yang agak kasar nyadar. Makna dari istilah nadar ialah niat, jadi upacara nadar rnaksudnya upacara pelepas niat. Melepas niat atau nadar karena keberhasilan mengusahakan garam, hal ini mengingat usaha garam/membuat garam merupakan mata pencaharian pokok bagi masyarakat Pinggirpapas,

Maksud_PenyeLenggaran Upacara

Tujuan pokok masyarakat Pinggirpapas mengadakan upacara nadar ialah memperingati serta sebagai rasa terima kasih atas jasa Syekh Anggasuta yang menurut kspercayaar mereka adalah merupakan orang pertarna yang menemukan cara pembuatan garam. Maksud lain dari diselenggarakannya upacara nadar tersebut ialah untuk mendoakan arwah para leluhur mereka (embah Anggasuta, embah Kabasa, embah Dukon dan embah Bangsa masing-masing bersama isteri) agar supaya diterima oleh Allah, sehingga mendapat tempat yang layak seperti – Nabi Muhammad, dengan demikian maka anak cucunya akan men dapat barokah dari Allah.

Waktu Penyelenggaraan Upacara.

Upacara pertama diselenggarakan pada waktu mulai pernbuatan garam, yaitu pada sekitar bulan Juli, Pada bulan Juli biasanya sudah ada tanda-tanda tibanya musim kemarau atau musim nemor, Musim nemor dalam bahasa daerah (Madura) artinya musim angin dari arah timur ( Te-mor ) yang kering. Dengan mulai datangnya musim kemarau, maka masyara­kat Pinggirpapas bersiap-siap untuk memulai membuat garam. Sebagai perwujudan dari rasa syukur serta memohon keselamatan maka diselenggarakanlah upacara nadar tahap pertama.

Tanggal/waktu yang dipilih untuk menyelenggarakan upacara nadar pertama tersebut ialah paling awal tanggal 13 dan paling akhir tanggal 19 tahun hijriah.  Penanggalan tahun hijriah dipergunaka sebagai dasar penentuan waktu, karena masyarakat Madura umumnya dan masyarakat Pinggirpapas khususnya adalah merupakan pemeluk Agama Islam yang taat. Pelaksanaan nadar tidak boleh diadakan tanggal 12 ka­rena tanggal tersebut ialah tanggal kelahiran Nabi Muhammad.

Upacara nadar selalu diadakan pada hari Jum1at dan Sabtu. hari Jum’at.ialah acara nyekar (menabur bunga) dimakam leluhur mereka, dilakukan antara jam 17.00 sampai jam 17.30 ( tidak boleh melewati waktu maghrib ). Upacara nadar ( sebagai upacara pokok ) diselenggara­kan pada hari Sabtu pagi, mulai jam 07,30 sampai jam 08,30*

Upacara nadar tahap kedua mengambil waktu satu bulan sesudah upacara nadar tahap pertama, cara penentuan hari dan tanggal sama ( hari Jum’at dan Sabtu antara tanggal 13 sampai dengan tanggal 19 penanggalan tahun hijriah ). Upacara tahap ketiga agak berbeda dengan upacara-upacara nadar tahap-tahap sebelumnya (tahap pertama dan kedua), disamping lokasi dan acara yang berbeda, juga dalam hal waktu ada sedikit perbedaan yang hal ini disesuaikan – dengan bentuk kegiatannya,

Penentuan hari dan tanggal sama dengan upacara tahap pertama dan kedua hanya bulannya berbeda, upacara tahap ke­tiga diadakan satu bulan setelah upacara tahap kedua. Pada upacara nadar tahap ketiga ini tidakada acara nyekar ( menabur bunga ) ke buju’ ( kuburan ), maka acara pada sore hari tidak ada. Acara baru dimulai pada malam hari, yaitu membaca layang ( ceritera yang ditembangkan atau dilagukan ) Jati Sara dan Purnana Sembah yang berlangsung dari jam 19.00 sal pai dengan jam 02,00. Pada pagi harinya mulai jam 07.00 sampai jam 08.00 – diadakan rosulan ( selamatan ) ditempat ( rumah ) embah – Anggasuta, dan embah Dukon (tempat membaca kedua layang – tersebut ).

Malam menjelang acara nadar (Jurn’at menjelang Saptu) peserta upacara sibuk memasak untuk selamatan pagi harinya. Memasak serta mempersiapkan segala keperluan selamatan mengambil tempat di­desa Kebondadap, dengan menumpang dirumah beberapa penduduk, desa Kebondadap, tempat menumpang ini untuk setiap ta­hun tetap sama ( tidak berganti tempat ). Upacara pokok nadar tahap pertama dan kedua yang berrupa selamatan diselenggarakan dikomleks buju’ gubang, Se­lamatan diadakan disebuah lapangan yang cukup luas didepai kompleks makam, tempatnya agak terlindung dari sinar mata- hari pagi karena berada dibawah sebuah pohon asam yang cu­kup besar. Upacara nadar tahap ketiga disebut juga upacara bungkoan, bungko dalam bahasa Madura artinya rumah jadi upa­cara bungkoan artinya upacara yang diselenggarakan dirumah, Mernang upacara nadar ketiga ini tidak diselenggara­kan di buju Gubang sebagaimana upacara nadar pertama dan kedua, melainkan diadakan didesa Pinggirpapas sendiri.

Mereka menyiapkan keperluan upacara (memasak) dilakukan dirumah mereka masing-masing, sedangkan acara pokok (mem­baca layng pada Jum’at malam dan rosulan atau selamatan pada Sabtu pagi) diselenggarakan ditempat kediaman embah Anggasuta dan embah Dukon. Kegiatan upacara nadar ketiga ( baik membaca layang Jati Suara dan Purnama Sembah maupun selamatan ) diadakan diserambi dan halaman rumah, ( rumah yang dahulu sebagai tempat tinggal embah Anggasuta dan embah Dukon). Dengan selesainya acara selamatan nadar ketiga, maka berakhirlah seluruh upacara nadar, Tempat Penyelenggaraan Upacara.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Upacara Tradisional Dalam Kaitannya Dengan Peristiwa Alam Daerah Jawa Timur.  Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan daerah, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Surabaya,  1983-1984. hlm. 81-105