Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Motif batik mangrove yang dibuat oleh Ibu Lulut diambil dari bentuk beragam mangrove, mulai dari daun, bunga, sampai untaian buah. Selain dari beragam mangrove, inspirasi motif juga berasal dari  makhluk yang hidup di sekitar mangrove, seperti ikan, kepiting, dan udang. Motif Batik mangrove ini telah mempunyai ribuan pakem-pakem yang telah dibuat oleh Ibu Lulut, yang selanjutnya desain motif dikembangkan menjadi beberapa jenis motif sesuai pakem yang ditetapkan. Beberapa motif batik yang telah di buat oleh Ibu Lulut Sri Yuliani sebagai pemberdaya Batik Mangrove antara lain:

Motif Batik Mangrove Rungkut Surabaya

  • Motif Bruguiera Gymnorhiza

Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Bruguiera Gymnorhiza adalah ornamen tumbuhan yang berupa daun dan buah Bruguiera Gymnorhiza. Ornamen isen yang terdapat pada motif Bruguiera Gymnorhiza adalah gelembung air.

  • Motif Callophyllum inophyllum

Ornamen utama pada motif Callophyllum inophyllum adalah ornamen tumbuhan Callophyllum inophyllum. Penggambaran motif Callophyllum inophyllum ditampilkan berupa buah, bunga dan daun Callophyllum inophyllum secara utuh yang dihiasi dengan sulur-sulur. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Callophyllum inophyllum adalah ornamen tumbuhan yang berupa buah Callophyllum inophyllum. Ornamen isen yang terdapat pada motif Callophyllum inophyllum adalah gelembung air dan titik- titik hujan.

  • Motif Angry Puffu Fish

Ornamen utama pada motif Angry Puffu Fish adalah ornamen binatang. Penggambaran motif Angry Puffu Fish ditampilkan berupa ikan gembung secara utuh yang dikelilingi ekosistem di dalam air. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Angry Puffu Fish adalah ornamen tumbuhan yang berupa ekosistem bawah air yaitu terumbu karang. Ornamen isen yang terdapat pada motif Angry Pufffu Fish adalah gelembung air, gelombang, dan joging track. Isen-isen gelembung air terdapat pada ornamen tumbuhan (terumbu karang) pada ornamen tambahan. Sedangkan isen-isen joging track dan gelombang terdapat pada bagian latar motif.

  • MotifGobie Fish

Ornamen utama pada motif Gobie Fish adalah ornamen binatang. Penggambaran motif Gobie Fish ditampilkan berupa ikan gobie secara utuh yang dikelilingi ekosistem di dalam air. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Gobie Fish adalah ornamen tumbuhan yang berupa ekosistem bawah air yaitu terumbu karang. Ornamen isen yang terdapat pada motif Gobie Fish adalah biji bogem, gelembung air danjoging track. e. MotifBlue Jelly Ornamen utama pada motif Blue Jelly adalah keindahan bawah laut yang distilir, yaitu ubur-ubur. Penggambaran motif Blue Jelly ditampilkan berupa ubur- ubur secara utuh yang dikelilingi ekosistem di dalam air. Ornamen tambahan yang terdapat pada motif Blue Jelly adalah ornamen tumbuhan yang berupa terumbu karang. Terumbu karang disini digambarkan dalam dua bentuk, yaitu terumbu karang yang menyerupai kerang dan terumbu karang yang menyerupai tanaman dalam air. ornamen isen yang terdapat pada motif Blue Jelly adalah biji bogem, gelembung air, dan joging track.

Warna BatikMangrove Rungkut Surabaya.

Warnawarna yang digunakan pada Batik Mangrove ada bermacammacam. Namun, warna yang terdapat di Batik Mangrove ini memiliki ciri khas yang berbeda dari batik yang lainnya. Berikut ini penjelasan tentang warna batik Mangrove:

  • Warna khas Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Warna-warna yang terdapat pada batik mangrove adalah hijau, kuning, coklat, merah muda, orange, biru, hitam, dan ungu. Selain itu, warna merah pada batik mangrove adalah merah muda atau merah merona, tidak ada warna merah menyala.

  • Warna asli Tanaman Mangrove

Pembuatan pewarna alami asli dari beberapa tanaman mangrove, warna-warna yang dihasilkan adalah coklat kehijauan, coklat muda, hijau kekuningan. Warna yang dihasilkan dari pewarna alami mangrove Sonneratia Caseolaris adalah warna coklat kehijauan. Warna coklat muda dihasilkan dari buah Cerbera Manghas dan warna hijau kekuningan dari daun Cerbera Manghas.

Perkembangan warna Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Warna-warna khas batik mangrove mulai dari pertama kali dibuat hingga sekarang tidak ada perkembangan warna. Hanya saja hingga saat ini belum ada warna merah menyala yang dihasilkan dari pewarnaan alami mangrove. Tidak adanya perkembangan ini menyebabkan batik mangrove memiliki ciri khas warna tersendiri, berbeda dari batik yang lainnya.

  • Asal warna dari pewarna alami mangrove

Asal warna dari pewarna alami yang digunakan pada batik mangrove adalah buah, bunga, dan daun yang berasal dari tumbuhan mangrove yang dicampur dengan beberapa bahan pewarna alami yang lainnya sehingga menghasilkan warna khas batik mangrove Rungkut Surabaya. Warna merah pada batik mangrove dihasilkan dari kelopak dan kulit buah Bruguiera Ghimnorhyza, kulit cabai merah, dan secang. Warna kuning dari Caloptropis Gigantea, getah nyamplung atau Calophyllum inophyllum, kunyit, dan batu gambir. Warna Hijau dihasilkan dari Caloptropis Gigantea dan Indigo dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna orange dari Caloptropis Gigantea, kelopak dan kulit buah Bruguiera Ghymnorhiza dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna biru dari Indigo dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna ungu dari bunga jeruju atau Acanthus ilicifolius dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna coklat dari caping bogem atau Sonneratia alba dan kulit Nypa frutican dan bahan pewarna alami yang lainnya. Warna hitam dari buah bintaro atau Cerbera manghas dan alur atau Saudea maritima dan bahan pewarna alami yang lainnya.

Proses pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya.

Proses pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya secara sekilas sama dengan proses pembuatan batik pada umumnya, namun ada beberapa perbedaannya. Perbedaan proses pembuatan Batik Mangrove dengan batik yang lainnya berada pada lilin dan canting yang digunakan. Berikut ini penjabaran dari bahanbahan, peralatan, dan langkah-langkah membatik di Batik Mangrove Rungkut Surabaya :

Bahan pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Bahan yang digunakan untuk membatik di Batik Mangrove Rungkut Surabaya hampir sama dengan peralatan membatik pada umumnya. Perbedaannya terletak pada malam dan pewarna yang digunakan. Pada batik mangrove menggunakan malam kuning dan malam putih yang diolah kembali agar lebih bersih dan pewarna yang digunakan pewarna alami dari tumbuhan mangrove.

  1. Malam

Malam yang digunakan pada batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah malam kuning dan malam putih. Malam yang berwarna kuning memiliki sifat liat dan kenyal. Sifat tersebut sangat cocok digunakan untuk menutupi bagian pola yang diharapkan agar terlihat rapat. Malam kuning mampu menutupi permukaan media secara utuh dan sempurna. Malam yang digunakan pada batik mangrove ini adalah malam kuning dan putih yang telah diolah kembali agar menghasilkan malam yang bersih dan berkualitas.

  1. Pewarna alami

Pewarnaan alam diperoleh dari bahan-bahan alami, antara lain kunyit (menghasilkan warna kuning), daun jati (menghasikan warna hijau), dan kulit buah manggis (menghasilkan warna ungu). Pewarna alami yang digunakan pada batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah pewarna alami yang berasal dari buah, bunga, dan daun dari tumbuhan mangrove dan dicampur dengan beberapa pewarna alami lainnya.

 

  1. Peralatan pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui peralatan membatik yang digunakan pada proses membatik di Griya Karya Tiara Kusuma “Batik Mangrove” hampir sama dengan peralatan membatik pada umumnya. Perbedaannya terletak pada canting yang digunakan. Pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya canting yang digunakan adalah canting elektrik dengan cucuk tunggal dan memiliki tombol pengatur suhu. Canting elektrik terdiri dari tiga bagian utama, antara lain: bak penampung lilin atau malam, tangkai pemegang, dan alat kontrol suhu yang berfungsi mengontrol suhu canting.

  1. Langkah-langkah pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui langkah-langkah pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya tidak jauh berbeda dengan proses pembuatan batik pada umumnya. Perbedaan proses pembuatan Batik Mangrove dengan batik yang lainnya berada pada proses pewarnaan danproses pelorodan. Proses pewarnaan dan pelorodan pada batik mangrove memiliki beberapa tahapan. Berikut ini langkahlangkah pewarnaan dan pelorodan dalam pembuatan Batik Mangrove :

  1. Pewarnaan Menurut Mifzal (2012:76), setelah proses pemalaman selesai, tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalahpewarnaan. Tujuan pewarnaan ini adalah untuk member dan mengubah warna pada kain batik. Pewarnaan juga bertujuan untuk menambah keindahan pada batik. Pencoledan adalah proses pemberian warna secara langsung pada bidang-bidang motif di mana ini relatif sempit yang dibatasi malam sehingga tidak efektif bila dicelup. Proses pewarnaan pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya menggunakan teknik pewarnaan mencolet menggunakan kuas dengan berbagai ukuran. Bahan pewarna yang digunakan adalah bahan pewarna alami mangrove.
  2. Pelorodan Nglorod ini adalah langkah untuk melarutkan malam pada permukaan kain. Hal ini dilakukan di atas bejana yang berisi air panas mendidih. Untuk mempermudah proses pelarutan malam dari permukaan kain maka pada air mendidih itu dicampurkan zat kimia tertentu. Proses pelorotan pada Batik Mangrove memiliki beberapa tahapan, yaitu:
  3. Tahap satu adalah tahap mencelupkan kain kedalam larutan kanji dan air dingin.
  4. Tahap kedua adalah tahap mencelupkan kain kedalam larutan tawas,
  5. Tahap ketiga adalah tahap mencelupkan kain kedalam air mendidih hingga malam luntur seluruhnya.
  6. Tahap keempat adalah tahapan mencelupkan kain kedalam larutan tawas kedua.
  7. Tahap kelima adalah tahap mencelupkan kain kedalam air bersih.
  8. Tahap keenam adalah tahap mencelupkan kain kedalam larutan kanji yang telah dimasak di air mendidih dan di tuangkan ke dalam ember.

 Motif Batik Mangrove Rungkut Surabaya

Batik Mangrove telah memiliki ribuan motif pakem yang telah dibuat. Beberapa motif pakem diantaranya yaitu motif Bruguiera Gymnorhiza, motif Callophyllum Inophyllum, motif Angry Puffu Fish, motif Gobie Fish, dan motif Blue Jelly. Pada motif-motif pakem Batik Mangrove terdapat ornamen utama, ornamen tambahan, dan ornamen isen batik. Sesuai dengan pendapat Susanto (1980: 212) mengenai motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan yang mempunyai motif yang berirama dan khas. Motif batik disebut juga corak batik atau pola batik. Menurut unsur-unsurnya motif batik dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu ornamen motif dan ornamen isen batik. Ornamen motif batik dibedakan lagi atas ornamen utama dan ornamen tambahan kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan. Motif batik disebut juga corak batik atau pola batik. Menurut unsurunsurnya motif batik dapat dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu ornamen motif dan ornamen isen batik. Ornamen motif batik dibedakan lagi atas ornamen utama dan ornamen pengisi bidang atau ornamen tambahan. Jadi pada motif batik  terdapat ornamen utama, ornamen tambahan, dan ornamen isen batik. Ornamen motif–motif yang terdapat pada batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah motif-motif yang berasal dari alam sekitar hutan mangrove, mulai dari buah, bunga, dan daun tanaman mangrove serta binatang yang ada di ekosistem hutan mangrove mulai dari ikan, kepiting, kupu-kupu, dan lainlain.

Motif Bruguiera Gymnorhiza

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Bruguiera Gymnorhiza berbentuk ornamen tumbuhan buah dan daun Bruguiera Gymnorhiza. Bentuk buah dan daun Bruguiera Gymnorhiza dibuat lebih dominan dan memiliki makna. Sesuai dengan pendapat Wulandari (2011:105), ornamen utama adalah suatu corak yang menentukan makna motif tersebut. Pemberian nama motif batik tersebut didasarkan pada perlambangan yang ada pada ornamen utama ini. Ornamen tambahan pada motif Bruguiera Gymnorhiza berbentuk daun, bunga, dan buah Bruguiera Gymnorhiza. Bentuk daun, bunga dan buah Bruguiera Gymnorhiza untuk pola tambahan dibuat lebih kecil dari pada motif utamanya. Sesuai dengan pendapat Susanto, Ornamen pengisi ini bentuknya lebih kecil dan lebih sederhana, Ornamen isen pada motif Bruguiera Gymnorhiza adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Bruguiera Gymnorhiza adalah gelembung air yang terinspirasi dari gelembung air di ekosistem mangrove. Sesuai dengan pendapat Lisbijanto (2013: 49), isen yaitu motif pengisi sebagai unsur pelengkap dalam motif batik. Unsur isen antara lain titik, garis, garis lengkung, dan lain sebagainya.

Motif Callophyllum Inophyllum

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Callophyllum Inophyllum berbentuk ornamen tumbuhan buah, bunga, dan daun Callophyllum Inophyllum. Ornamen tambahan pada motif Callophyllum Inophyllum berbentuk daun, bunga, dan buah Callophyllum Inophyllum yang dibuat lebih kecil dari ornamen utamanya. Ornamen isen pada motif Callophyllum Inophyllum adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Callophyllum Inophyllum adalah gelembung air dan titiktitik hujan yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Motif Angry Puffu Fish

Ornamen utama pada Batik Mangrove motifAngry Puffu Fish berbentuk ornamen binatang yaitu ikan gembung. Sesuai dengan pendapat Susanto, binatang yang sering digambarkan dalam ornamen seni berupa lembu, kijang, gajah, singa atau harimau (Susanto, 1980:274). Ornamen tambahan pada motif Angry Puffu Fish berbentuk ekosistem bawah laut yaitu terumbu karang yang dibuat lebih kecil dari ornament utamanya. Ornamen isen pada motif Angry Puffu Fish adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Angry Puffu Fish adalah gelembung air, gelombang, dan jogging track yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Motif Gobie Fish

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Gobie Fish berbentuk ornamen binatang yaitu ikan gobie. Ornamen tambahan pada motif Gobie Fish berbentuk ekosistem bawah laut yaitu terumbu karang. Ornamen isen pada motif Gobie Fish adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Gobie Fish adalah gelembung air, biji bogem, dan jogging track yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Motif Blue Jelly

Ornamen utama pada Batik Mangrove motif Blue Jelly berbentuk ornamen binatang yaitu ubur-ubur. Ornamen tambahan pada motif Blue Jelly berbentuk ekosistem bawah laut yaitu terumbu karang. Ornamen isen pada motif Blue Jelly adalah isen kreasi baru. Ornamen isen motif Blue Jelly adalah gelembung air, biji bogem, dan jogging track yang terinspirasi dari ekosistem mangrove.

Warna Batik Mangrove Rungkut Surabaya

a) Warna khasmbatik mangrove warna-warna yang digunakan pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya adalah warna merah muda, ungu, biru, hijau, orange, kuning, coklat, dan hitam. Sesuai dengan pendapat Hamzuri (1994:32) ada beberapa macam warna yang diterapkan pada batik yaitu warna hijau, jingga, biru, ungu, dan kuning.

b) Perkembangan warna batik mangrove Warna pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya tidak mengalami perkembangan, namun hingga saat ini masih belum ditemukan warna merah yang menyala, yang ada warna merah merona. Warna khas Batik Mangrove Rungkut Surabaya yaitu warna merah.

c) Asal warna dari pewarna alami mangrove Asal dari pewarna alami batik mangrove berasal dari tumbuhan mangrove yang dicampur dengan pewarna alami lainnya. Beberapa tanaman mangrove yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami adalah Bruguiera Gymnorhiza, jeruju atau Acanthus ilicifolius, indigo , Caloptropis Gigantea, bogem atau Sonneratia alba, Nypa Frutican, bintaro atau Cerbera manghas dan alur atau Saudea maritime. Sesuai dengan pendapat Susanto (1980:70), zat warna alam yaitu zat warna dari bahan alam, dari tumbuhan dan binatang. Warna asli yang dihasilkan dari tanaman mangrove adalah warna coklat kehijauan, coklat muda, dan hijau kekuningan. Warna-warna tersebut dihasilkan dari tanaman Sonneratia Casiolaris dan Cerbera Manghas.

 Proses Pembuatan Batik Mangrove Rungkut Surabaya

a) Alat dan bahan pembuatan batik mangrove

Proses pembuatan Batik Mangrove peralatan yang dibutuhkan sedikit berbeda. Perbedaan tersebut karena disetiap pembuatan batik ditempat yang satu dengan yang lainnya memiliki ciri khasnya masingmasing, namun tetap hampir sama sesuai dengan pakem pembuatan batik paada umumnya. Sesuai pendapat Wulandari (2011:143), perlengkapan membatik tidak banyak mengalami perubahan. Perbedaan perlengkapan pada proses pembuatan batik Mangrove ada pada canting yang digunakan. Canting yang digunakan pada Batik Mangrove adalah jenis canting elektrik. Secara sepintas canting elektrik tidak jauh berbeda dengan canting biasa pada umumnya. Yang membedakan adalah cucuk yang ada pada canting elektrik dapat diganti sesuai dengan kebutuhan, serta pada canting elektrik terdapat alat pengatur temperature. Sesuai dengan pendapat Mifzal, (2008:20), seiring perkembangan zaman, sekarang sedang dikembangkan inovasi baru berupa canting elektronik.

Pada Batik Mangrove menggunakan malam kuning dan malam putih. Alasan menggabungkan malam kuning dan malam putih adalah ingin menghasilkan batik dengan penggabungan malam kuning dan putih. Sesuai dengan pendapat Suroso (2010:26) Malam kuning mampu menutupi permukaan media secara utuh dan sempurna. Sedangkan Malam putih biasa disebut dengan paraffin. Kesan efek retak yang terdapat pada malam putih tersebut dapat dijadikan sebagai motif abstrak. Berdasarkan pendapat Suroso tersebut penggabungan malam kuning dan putih akan menghasilkan malam yang dapat menutup dengan rapat namun juga dapat member sedikit efek retakan. Pencampuran malam kuning dan malam putih yang ada pada Batik Mangrove juga melalui tahap penyaringan, agar malam yang dihasilkan hanyalah malam yang berkualitas, bersih, dan siap digunakan tanpa harus menyaring lagi pada proses mencanting.

Pada Batik Mangrove menggunakan bahan pewarna alami. Bahan pewarna alami yang digunakan adalah bahan pewarna alami yang berasal dari tumbuhan mangrove yang dicampur dengan pewarna alami lainnya. Sesuai dengan pendapat Susanto (1980:70), Zat warna alam yaitu zat warna dari bahan alam, dari tumbuhan dan binatang. Pada Batik Mangrove, pewarna alami yang digunakan berasal dari bunga, daun, dan buah tanaman mangrove. Beberapa tanaman mangrove yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami adalah Sonneratia Alba, Bruguierra Gymnorhiza, Nypa Frutican, Caloptropis Gigantea, dan sebagainya.

b) Langkah-langkah pembuatan batik mangrove

Langkah-langkah pembuatan batik pada Batik Mangrove Rungkut Surabaya tidak jauh berbeda dengan langkah-langkah pembuatan batik pada umumnya. Perbedaannya terletak pada proses pewarnaan dan proses pelorodannya. Proses pewarnaan pada Batik Mangrove dilakukan dengan dua cara yaitu dengan teknik pencelupan dan pencoledan. Sesuai dengan pendapat Mifzal (2012:76), teknik pewarnaan batik pada batik tulis ada dua, yaitu pencelupan dan pencoledan.

Proses pelorotan dilakukan dalam beberapa tahapan antara lain, tahap 1 memasukkan kain kedalam larutan kanji yang telah dicampur dengan air dingin, tahap 2 memasukkan kain kedalam larutan tawas yang telah dicampur dengan air dingin, tahap 3 memasukkan kain kedalam air mendidih hingga seluruh malam telah terlepas dari kain, tahap 4 memasukkan kain kedalam larutan tawas untuk yang kedua kalinya, tahap 5 memasukkan kain kedalam bak air bersih, dan tahap 6 memasukkan kain kedalam larutan kanji yang telah dicampur dengan air panas. Sesuai dengan pendapat Anshori (2011:45), nglorod ini adalah langkah untuk melarutkan malam pada permukaan kain. Hal ini dilakukan di atas bejana yang berisi air panas mendidih. Setelah proses pelorodan, langkah selanjutnya adalah menjemur dengan cara diangin-anginkan.

——————————————————————————————-
Eny Kurniawati, Yulistiana. Batik Mangrove Rungkut Surabaya (Universitas Negeri Surabaya). e-Journal, Vol. 04, No. 01, Th. 2015, Edisi Yudisium Periode Pebruari 2015, Hlm. 37-45

Cak dan Ning Sapaan Akrab Arek Suroboyo 

klu-banto015Cak dan Ning
Masyarakat Kota pahlawan Surabaya, memiliki panggilan akrab untuk laki-laki adalah: Cak dan untuk perempuan Ning. Cak berasal dari kata CACAK. Sehingga, panggilan Cak itu sama dengan abang, mas atau kakak laki-laki dan Ning untuk perempuan muda, bisa sebagai panggilan untuk kakak atau adik. Panggilan atau sapaan Cak, umumnya melekat pada tokoh dan sesepuh Surabaya.

Sapaan untuk anak perempuan atau kaum ibu, memang popular dengan Ning. Di kalangan ibu-ibu yang berada di perkampungan lama Surabaya, misalnya: Maspati, Bubutan, Kawatan, Blauran, Kranggan, Peneleh dan daerah lainnya, sapaan Ning masih sering terdengar. Tetapi di permukiman baru, jarang sapaan Ning ini dipergunakan. Panggilan atau sapaan mbak lebih melekat untuk perempuan muda. Untuk menggali dan memasyarakatkan tradisi, sapaan Cak dan Ning kembali dibangkitkan. Agar sapaan Cak dan Ning itu melekat dan bergengsi, sejak tahun 1981, di Surabaya diselenggarakan pemilihan putera-puteri duta wisata dengan nama “Pemilihan Cak dan Ning Surabaya”.

 Duta Wisata
Jawa timur yang terdiri dari 38 Kabupaten/ Kota  sangat kaya dengan budaya, di setiap daerah di jawa Timur ada bahasa panggil memanggil atau sapa menyapa yang cukup beragam. Di wilayah Jawa Timur istilah sebutan duta wisata itupun bergam. Kemudian, untuk memilih wakil Jawa Timur, istilahnya Pemilihan “Raka dan Raki”. Beberapa panggilan yang dipergunakan dalam kontes pemilihan duta wisata remaja Kabupaten/ Kota se Jawa Timur:

  1. Kabupaten Bangkalan Kacong-Jebbing,
  2. Kabupaten Banyuwangi Jebeng Thulik,
  3. Kota Batu Kangmas-Nimas
  4. Gresik Cak dan YUK,
  5. Lamongan Yak Dan Yuk ,
  6. Bojonegoro Kange dan Yune,
  7. Tuban Cung dan Dhuk,
  8. Sidoarjo Guk dan Yuk,
  9. Kabupaten Mojokerto Gus dan Yuk,
  10. Kota Mojokerto Gus dan Yuk,
  11. Jombang Guk dan Yuk,
  12. Kota Kediri Panji Galuh,
  13. Kabupaten Kediri Inu Kirana,
  14. Kabupaten Trenggalek Kakang Mbakyu,
  15. Kabupaten Tulungagung Kakang Mbakyu,
  16. Kabupaten Nganjuk kangmas Mbakyu,
  17. Kabupaten Madiun Kakang Mbakyu,
  18. Kota Madiun Kakang Mbakyu,
  19. Kabupaten Ponorogo Kakang Senduk,
  20. Kabupaten Pacitan Kethuk Kenang,
  21. Kabupaten Magetan Bagus Dyah,
  22. Kabupaten Ngawi Dimas Diajeng,
  23. Kabupaten Malang Joko Roro
  24. Kota Malang Kakang Mbakyu,
  25. Kabupaten Blitar Kangmas Diajeng,
  26. Kota Blitar Kangmas Diajeng,
  27. Kabupaten Pasuruan Cak Yuk,
  28. Kota Pasuruan Cak Yuk,
  29. Kabupaten Probolinggo Kakang dan Ayu,
  30. Kota Probolinggo Kang Yuk,
  31. Kabupaten Jember Gus dan Ning,
  32. Kabupaten Lumajang Cacak & Yuk,
  33. Kabupaten Bondowoso Kacong Jebbing,
  34. Kabupaten Situbondo Kakang Embug,
  35. Surabaya dengan Cak dan Ning,
  36. Kabupaten Pamekasan Kacong Cebbhing,
  37. Kabupaten Sampang Kacong Cebbing,
  38. Kabupaten Sumenep Kacong Cebbing,
  39. Provinsi Jawa timur Raka Raki

Pemilihan muda-mudi yang dikordinasikan Dinas Pariwisata daerah dengan predikat Cak dan Ning atau sejenisnya, tidak hanya mengandalkan tampan, gagah dan perkasa untuk laki-laki, kecantikan dan kemolekan tubuh untuk perempuan. Untuk menetapkan seorang yang berpredikat Cak dan Ning, misalnya, dia harus mempunyai kemampuan dalam bidang keilmuan, kecakapan, kualitas fisik dan kejiwaan. Artinya, ia harus pandai, cerdik dan trengginas. Dan yang cukup penting, ia menguasai budaya dan permasalahan daerah. Jadi, persyaratan untuk memperoleh predikat Cak dan Ning Surabaya, dia harus mampu menunjukkan kebolehannya dalam segala hal. Di samping gagah dan tampan untuk Cak, serta cantik dan molek untuk Ning, dia harus pintar. Harus tahu budaya asli Surabaya, lancar menggunakan dialek Suroboyoan, tahu sejarah atau seluk-beluk kelahiran kota sampai perkembangannya hingga sekarang.

Cak dan Ning, biasanya dinobatkan setiap peringatan hari jadi Surabaya, sekitar 31 Mei tiap tahun. Seorang Cak maupun Ning, harus mempersiapkan diri menjadi “alat” Pemerintah Kota Surabaya, terutama yang berhubungan dengan bidang keperiwisataan dan budaya. Di samping sebagai penerima tamu, juga harus mampu menjadi PR (public relation) atau Humas (Hubungan Masyarakat) Kota Surabaya, di luar pejabat resmi. Cak dan Ning, harus mampu tampil sebagai wakil anak muda pilihan dan menjadi teladan bagi muda-mudi lainnya. Sebagai PR, Cak dan Ning juga mempunyai kemampuan menggunakan bahasa asing, sebab tamu-tamu yang datang ke Surabaya, juga banyak yang dari mancanegara.

Busana Khas Cak

  • Cak merupakan sosok pemuda pria Surabaya yang ceplas ceplos sehingga lebih suka mengatakan sesuatu secara spontan dan penuh pertimbangan. Sosok Cak Surabaya adalah sosok pelindung dan memiliki loyalitas yang tinggi. Hal ini dapat kita lihat melalui kemanapun Ning pergi, Cak selalu mendampingi. Cak dan Ning mempunyai busana yang khas. Untuk Cak: berpakaian bentuk jas bertutup yang dikenal beskap, berukuran pas badan. Untuk pemilihan Cak, warnanya ditentukan warna muda: putih, krem atau putih tulang. Sedangkan untuk pekaian kebesaran digunakan warna coklat.
  • Beskap Cak lengkapnya memiliki warna putih gading menggunakan lima buah kancing tengah yang melambangkan kesucian, memiliki 5 kancing berwarna emas yang memiliki makna arek Surabaya selalu menjunjung tinggi rukun islam.
  • Sapu tangan merah bentuk segitiga ditempatkan di saku sebelah kiri atas beskap kebesaran. Sapu tangan ini melambangkan cak merupakan sosok yang penuh dengan loyalitas dan setia. Dari kantong awalnya digantung rantai jam dengan bandul akan tetapi karena terlalu berat maka diganti dengan kuku macan. hiasan taring Kuku macan sendiri memiliki makna kekuatan dan ketangkasan yang tak terbatas sehingga Cak menjadi pelindung yang tangguh dan dapat dihandalkan. Kuku Macan biasanya digantungkan pada kancing kedua dari kelima kancing baju beskap.
  • Bagian bawah jas mengenakan kain panjang wanita yang disebut “jarit parikesit” dengan gringsing (sogan)wiron lebar 5 centimeter. Jarik merupakan salah satu lambang dari keluwesan Jawa. Selain itu dalam bertindak arek Surabaya diharuskan untuk bisa bekerja seefektif dan seefisien mungkin tapi tetap tidak meninggalkan aturan dan norma yang ada. Namun kini diganti dengan celana panjang.
  • Kepala ditutup dengan udeng batik dengan hiasan pinggir modang putih, dan pocotmiring warna hitam tiga tingkat. Udeng adalah sejenis ikat kepala yang sudah dibentuk. Udeng ini memiliki makna bahwa udeng ini merupakan ciri khas dari Jawa Timur, bermotif batik dan memiliki pancot. Kini udeng diganti dengan kopiah atau songkok.
  • Alas kaki Cak, adalah sandal terompa. Terompah merupakan salah satu unsur baju kebesaran Cak Surabaya. Terompah adalah simbol kecerdasan, foundation, tempat berpijak, berpikir, termasuk kemudian simbol segala yang duniawi.

Busana Khas Ning Surabaya

  • Ning Surabaya mengenakan sanggul bentuk gelung rambut biasa, pakaiannya menggunakan kebaya dengan selendang atau kerudung yang diberi renda-renda, dibordir dengan  warna muda. Kebaya dan kerudung, warnanya sama. Kain kebaya tidak boleh tembus pandang, sehingga tidak memperlihatkan pakaian dalam. Lalu memakai peniti renteng.
  • Bagian bawahnya, busana Ning menggunakan kain sarung batik pesisir, kemiren harus terlihat dengan tumpal yang diletakkan di bagian depan.
  • Telinga dihiasi anting-anting panjang, kaki memakai binggel dan tanga memakai  gelang emas. Mata diberi celak, jari-jari diberi pacar (warna).
  • Alas kaki berupa selop bertutup depan, runcing dan tinggi minimal 7 sampai 9 centimeter.
  • Apabila terpilih sebagai juara Cak dan Ning, maupun wakil Cak dan wakil Ning, serta predikat lainnya, misalnya: Favorit atau Persahabatan, saat dinobatkan diberi selendang nama sesuai dengan predikat yang diraih.
  • Pakaian yang sudah dibakukan sebagai busana Cak dan Ning itu, sekarang juga dimasyarakatkan. Pada hari-hari tertentu, terutama pada resepsi perhelatan peringatan Hari Jadi Surabaya, pejabat dan undangan dianjurkan menggunakan busana Cak dan Ning tersebut. 84N70nulisDW

Masjid Qawiyudin, Wonokromo-Surabaya

Masjid Wonokromo0001Menelusuri Jejak Kerabat Sunan Gunung Jati di Wonokromo, Surabaya. Ramadan, Sepekan, dua Kali Kaji Fathul Qorib. Ada satu masjid tua di kawasan Wonokromo yang kerap luput dari liputan religi. Masjid Qawiyudin namanya. Terletak di tengah perkampungan Jagir Wonokromo, masjid tersebut masih kukuh berdiri.

Nilai kesejarahan tertera jelas di serambi masjid. Tertempel di pintu utama, sebuah plakat logam yang dikeluarkan Kementerian Agama menandakan berdirinya masjid, yakni 1786. Arsitekturnya cukup berbeda dengan masjid kebanyakan yang umumnya beratap kubah. Kon- struksi atap Masjid Qawiyudin bertumpuk-tumpuk, mirip sekali dengan pura.

Memasuki lingkungan masjid, terasa sekali atmosfer yang ber­beda. Rasanya tidak seperti berada di kompleks Wonokromo yang identik dengan macet plus perkam­pungan yang berjejal-jejal itu. Nuansa religi amat kental di kom­pleks masjid tersebut. Lalu lalang jamaah berkopiah yang keluar masuk masjid kerap terlihat.

Masjid Wonokromo0002Masjid Qawiyudin didirikan Mbah Qawiyudin. Dia adalah cucu Su- nan Gunung Jati dari Cirebon. Qawiyudin terpaksa melarikan diri ke wilayah Wonokromo ka- rena saat zaman penjajahan Be- landa, mereka yang termasuk Bani Basyaiban ditangkapi. Nah, Qawiyudin merupakan salah seorang anggota bani tersebut. Konon kabarnya, masjid tersebut didirikan dengan kayu-kayu yang dibawa langsung dari Cirebon. Kayu-kayu itu dikirim lewat laut, lantas dialirkan menyusuri Kalimas. Hingga kini, kayu-kayu tersebut masih tegak berdiri me- nyangga masjid.

Semula Masjid Qawiyudin ber­diri tepat di pintu air Jagir. Namun, karena Belanda membangun sudetan atau kali baru hingga ke laut, masjid tersebut dipindahkan ke kompleks yang sekarang. Di sekeliling masjid, ada banyak rumah. Namun, mereka masih berkerabat dengan Mbah Qawiyudin.

“Meskipun kuno dan bersejarah, masjid yang didirikan pada 1786  ini terlewat dari sorotan liputan. Padahal, bisa saya bilang, masjid ini tertua di Surabaya Selatan,” kata Wakil Ketua Takmir Masjid Qowiyudin Amir Hamzah” (Sabtu-20/7/13).

Dengan hidangan khas jamaah masjid, yakni kopi tubruk dalam cangkir kecil, malam itu sejumlah pengurus takmir bercerita soal keistimewaan masjid tersebut. Terutama saat Ramadan. Amir menceritakan, saat Rama­dan, frekuensi pengajian di masjid tersebut bertambah. Menjelang buka puasa, masjid mengadakan pengajian Fathul Qorib. Itu merupakan pengajian yang khusus membedah masalah fikih. Jamaah-nya adalah warga sekitar yang ingin memperdalam ilmu agama.

Kiai yang memberikan penga­jian itu khusus. Mereka didatangkan langsung dari kompleks Pesantren Sidoresmo. Pada Rama­dan kali ini, yang kebagian jatah adalah KH Ahmad Mashuri Toha dan KH Mas Sulaiman. “Ini tradisi yang kami jaga sejak bertahun-tahun lalu. Saat saya masih kecil, sudah ada pengajian semacam ini. Apalagi, masih ada hubungan kekerabatan dengan Sidoresmo,” ungkapnya. Sejumlah pengurus yang lain juga mengangguk soal pernyataan Amir malam itu.

Keutamaan lain, Masjid Qawiyudin di Jagir Wonokromo tersebut amat menjaga nilai-nilaiyang su­dah ditanamkan para leluhurnya. Persis di depan masjid, ada sebuah kubus semen setinggi setengah meter yang dikelilingi pagar besi. Persis di atasnya, tertancap besi setinggi 15 cm. Mungkin saking lamanya, besi tersebut cukup berkarat sehingga warnanya terlihat cokelat tua.

Warga kompleks masjid menyebutnya pandem. Itu adalah penunjuk waktu salat yang masih dipertahankan hingga kini. Kendati sudah ada teknologi untuk menentukan waktu, misalnya menentukan wak­tu zuhur, pengurus terkadang ma­sih memanfaatkannya. Yang me­reka inginkan adalah adanya kesamaan antara jam modern dan tanda-tanda alam tersebut.

Menurut penuturan Abdul Kholiq, imam rawatib di masjid itu, wak­tu salat di masjid itu kerap berbeda dengan Masjid Rahmat. “Ada selisih sedikit saja, kami tidak berani memulai salat. Sebab, hitungannya haram,” ungkap pria murah senyum tersebut.

Banyak nilai lain lagi yang dipegang teguh hingga kini. Salah satunya, masjid sama sekali menolak bantuan pemerintah. “Al- hamdulillah, dalam bentuk apa pun, kami tidak mau menerima. Kami tidak mau di belakang hari muncul masalah,” kata Amir.

Infak jamaah yang didapat ketika salat Jumat juga tidak disimpan di bank. Karena itu, hendahara takmir harus mengelolanya dengan penuh tanggung jawab. Amir me- ngatakan, bunga dari bank mirip sekali dengan riba. “Daripada ka­mi ragu-ragu, lebih baik kami me­ngelolanya sendiri,” ungkapnya.

Saat bulan Rajab, ada satu kegiatan rutin yang menjadi agen­da wajib di masjid tersebut. Yak­ni, mengadakan festival hadrah tingkat Jatim dalam rangka haul Mbah Qawiyudin. Karena itu, halaman masjid pun harus ber­jejal-jejal untuk menampung banyak peserta. (git/c6/end)

———————————————————————————–134N70nulisDW-Jawa pos, Selasa 23 Juli 2013, hlm. 1 dan 30

Masjid Rahmat, Surabaya

Masjid Tiban, Masjid Rahmat Surabaya.0001Masjid Rahmat adalah salah satu masjid tertua di Surabaya. Lokasi masjid ini berada di kawasan jalan Kembang Kuning Su­rabaya. Walaupun bangunan masjid yang sekarang adalah termasuk ban­gunan baru karena dibangun pada tahun 1967, tapi cikal bakal dari keberadaan masjid tersebut sudah ada sejak zamannya Sunan Ampel.

Konon Masjid Rahmat ditemukan secara tiba-tiba oleh seorang penduduk yang sedang merambah hutan. Saat ditemukan berupa sebuah tempatyang beralaskan batu bata yang ditata rapi dengan letaknya lebih tinggi dari sekitarnya, dan ditiap sudutnya terdapat empat buah tiang yang menyangga sebuah atap yang terbuat dari daun tebu (welit = Jawa). Selanjutnya masyarakat di sekitar tempat itu mulai mengenalnya dengan istilah masjid tiban. Tapi setelah dirunut mengenai sejarahnya ternyata diketahui bahwa masjid tersebut sebenarnya didirikan oleh Sunan Ampel.

Diceritakan bahwa dulu saat pertama kali datang dari negerinya Campa, Sunan Ampel langsung menuju ke kerajaan Majapahit untuk bertemu dengan Prabu Brawijaya yang sebenarnya bisa dikatakan sebagai pamannya sendiri. Hal ini karena bibinya yang bernama Dewi Dwarawati adalah istri dari Prabu Brawijaya. Setelah berkunjung beberapa lama di Majapahit, akhirnya Prabu Brawijaya menghadiahi sebidang tanah di daerah utara Surabaya yang disebut dengan Ampel Denta.

Hal ini karena Prabu Brawijaya menyukai Sunan Ampel yang sangat berbudi baik. Maka mulailah Sunan Ampel pergi menuju ke daerah yang diberi oleh Prabu Brawijaya tersebut sambil disertai oleh seorang pembantu keraton yang bernama Ki Wiro Saroyo.

Dalam perjalanannya kedua orang ini singgah di daer­ah Kembang Kuning dan kemudian membangun sebuah tempat berteduh yang juga digunakan sebagai tempat untuk bermunajat kepada Allah. Ki Wiryo Saroyo yang kemudian memeluk Islam tersebut langsung bahu-membahu bersama Sunan Ampel membuat tempat seperti yang dikehendaki Sunan Ampel. Mulailah di susun beberapa batu bata membentuk lantai selanjutnya dipasang empat buah tiang yang diatasnya diberi atap berupa daun tebu yang dijahit.

Setetah beberapa lama tinggal ditempat tersebut, se­lanjutnya Sunan Ampel melanjutkan perjalanan ke daerah  Ampel Denta untuk mengurusi tanah pemberian Prabu Brawijaya. Sedangkan Ki Wiryo Saroyo yang sebenarnya berasal dari daerah Kembang Kuning memilih tinggal di sekitar tempat yang dibangunnya bersama Sunan Ampel bersama keluarganya. Selanjutnya putri Ki Wiryo Saroyo yang bernama Kharimah pada akhirnya menjadi istri kedua Sunan Ampel.

Namun sepeninggal Ki Wiryo Saroyo yang pergi menghadap Allah, bangunan tersebut tidak ada lagi yang mengurus sehingga daerah di sekitamya dalam beberapa waktu telah berubah menjadi sebuah hutan lebat. Namun dalam beberapa ratus tahun setelah perjalanan hidup Sunan Ampel, tepatnya di masa penjajahan Belanda ada seorang perambah hutan yang kemudian menemukan sisa-sisa bangunan peninggalan Sunan Ampel tersebut. Selanjutnya bangunan yang juga dilengkapi sebuah sumur dengan sumber air yang tidak pernah kering tersebut mulai diperbaiki kembali dan dimanfaatkan menjadi sebuah langgar.

Dari cerita tentang sejarah masjid ini akhirnya muncul keyakinan bahwa tempat di mana masjid itu berdiri adalah tempat yang sangat istimewa. Di mana siapa saja yang berdoa di sana pasti akan terkabul. Hal ini karena pemilihan tempat tersebut oleh Sunan Ampel bukan tanpa sebab. Selain untuk tempat beristirahat, konon Sunan Ampel memang mendapat petunjuk untuk mendirikan tem­pat ibadah di situ.

Hanya saja karena pada saat itu posisi bangunan awal berada di sebelah utara bangunan yang sekarang, banyak jamaah yang mempercyai bahwa serambi bagian utara masjid inilah yang memiliki keistimewaan lebih dibandingkan tempat yang lain. Karena itu banyak di antara mereka yang lebih memilih untuk sholat di sekitar tempat ini.

“Memang benar bahwa tempat yang dianggap paling mustajabah di masjid ini justru berada di luar yaitu di depan ruangan khotib yang dulu adalah ruangan pengimaman saat sebelum masjid ini dibangun. Banyak orangorang yang mengatakan bahwa bila sholat dan berdoa di tempat itu segala apa yang kita minta pasti akan dikabulkan oleh Allah,” HM Muchsin, salah satu takmir Masjid Rahmat Surabaya kepad LIBERTY.KL@6

———————————————————————————–LIBERTY, EDISI 2317, 21-30 September 2013, hlm. 43-45

Masjid Rahmat Surabaya, Masjid Tiban

Masjid Tiban, Masjid Rahmat Surabaya.0002Menggapai Pintu Surga dari Masjid Tiban , Masjid tiban diyakini memijiki keistimewaan tersendiri yang berbeda dengan masjid-masjid lain. Karena itu banyak orang yang berlomba untuk bisa menjalankan ibadah di sana. Konon dari masjid inilah orang yang beribadah akan bisa menemukan pintu menuju surga.

Beberapa jamaah tampak khusyu berdoa di dalam masjid Rahmat Surabaya. Suasana puasa serta udara siang yang panas seakan mendorongnya untuk duduk berlama-lama di dalam masjid yang sejuk itu. Bahkan beberapa tampak tertidur pulas di serambi masjid sembari menghabiskan waktu menunggu saat berbuka.

Keberadaan Masjid Rahmat yang terletak di dataran yang cukup tinggi di Sura­baya memang membuatnya memiliki kesejukan udara yang berbeda dengan masjid- masjid lain di Surabaya. Apalagi di sekeliling masjid tersebut, tumbuh dengan subur berbagai jenis pohon besar yang senantiasa menanunginya dari sengatan sinar matahari Surabaya yang panas. Karena itu jangan heran kalau tiap datang waktu Sholat Dhuhur, ratusan jamaah akan da­tang untuk memadati hampir setiap ruangan masjid yang baru selesai direnovasi itu. Terlebih lagi saat bulan puasa seperti ini.

MESJID RAHMATNamun lepas dari kesejukan udara yang ditawarkan Masjid Rahmat, tempat ini memang memiliki keistimewaan tersen- diri yang membedakannya dengan masjid lain. Masjid ini adalah salah satu pening- galan Sunan Ampel yang dikenal sebagai bapak para wali anggota wali songo. Ka­rena itu ada harapa tersendiri di dalam hati para jamaah yang datang untuk beribadah di tempat ini, untuk mendapat berkah sebagaimana berkah yang diterima Sunan Ampel semasa hidupnya.

Tak hanya itu, masjid yang namanya diambil dari nama kecil Sunan Ampel ini juga dikenal sebagai masjid tiban. Yang berarti bahwa masjid ini tiba-tiba muncul tanpa diketahui proses pembuatannya. Makanya bagi sebagian orang, berkah dan pahala yang didapat dengan beribadah di masjid ini akan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan masjid lainnya.

Dan agaknya riwayatnya sebagai mas­jid tiban inilah yangjustru membuat Masjid Rahmat memiliki daya tank tersendiri. Dan sebagaimana masjid-masjid tiban di tem­pat lain, umumnya masyarakat meyakini bahwa masjid tersebut memiliki tuah lebih. Sehingga mereka yang datang umumnya tidak hanya sebatas beribadah rutin saja. Beberapa di antaranya justru melakukan ritual tertentu yang tujuannya untuk berburu berkah.

TIBA-TIBA MUNCUL

Masjid tiban sendiri sebenamya hanya sebutan dari masya­rakat dengan berdasarkan pada sejarah yang mengiringi berdirinya masjid-masjid tersebut. Tiban sendiri diambil dari kata tiba-tiba yang menunjukkan bahwa kemunculan masjid tersebut secara tiba- tiba. Yang mana sebelumnya tidak ada satu orangpun yang tahu.

Pendapat lain menyebutkan bahwa kata tiban diambil dari kata tiba yang dalam bahasa Jawa berarti jatuh. Sehingga maksud sebutan masjid tiban di sini adalah bahwa masjid tersebut muncul karena jatuh dari langit Yang berar­ti bahwa masjid tersebut bukanlah buatan manusia melainkan buatan Tuhan dan sen- gaja diturunkan ke bumi sebagai tempat beribadah.

Entah pandangan mana yang betul, karena kedua pandangan tersebut muncul berdasarkan kisah-kisah tutur yang berkem- bang di masyarakat sekitar masjid. Namun yang pasti dari kedua pandangan tersebut terdapat satu kesamaan. Yaitu bahwa mak­sud dari kata tiban di sini adalah karena keberadaannya yang secara tiba-tiba ada.

Ada banyak kisah tutur yang menyertai kemunculan masjid-masjid tiban tersebut Antara masjid yang satu dengan yang lain terkadang berbeda. Namun demikian dari kisah-kisah tersebut jelas menunjukkan kalau masjid tiban memiliki keistimewaan yang berbeda dengan masjid pada umum­nya. Termasuk tuahnya yang konon bisa ” membawa orang yang beribadah di dalamnya bisa langsung menemukan pintu surga, yangselama ini selalu diburu setiap manusia yang ada di dunia.

Ya, sebagai manusia beragama, surga memang menjadi impian. Tempat inilah yang selama ini dijanjikan Tuhan di semua kitab suci, untuk diberikan kepada umat- umat terpilih. Dan di masjid tiban sepertinya hal itu bisa terwujud. Setidaknya dengan selalu terkabulkannya setiap doa yang dipan- jatkan di sana, orang akan berpandangan bahwa surga yang diharapkannya telah dida­pat •KL@-6

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY, Edisi 23`17, 21-30 September 2007, hlm. 41-42

Masjid Rahmat Surabaya, Masjid Tiban

Masjid Tiban, Masjid Rahmat Surabaya.0002Menggapai Pintu Surga dari Masjid Tiban , Masjid tiban diyakini memijiki keistimewaan tersendiri yang berbeda dengan masjid-masjid lain. Karena itu banyak orang yang berlomba untuk bisa menjalankan ibadah di sana. Konon dari masjid inilah orang yang beribadah akan bisa menemukan pintu menuju surga.

Beberapa jamaah tampak khusyu berdoa di dalam masjid Rahmat Surabaya. Suasana puasa serta udara siang yang panas seakan mendorongnya untuk duduk berlama-lama di dalam masjid yang sejuk itu. Bahkan beberapa tampak tertidur pulas di serambi masjid sembari menghabiskan waktu menunggu saat berbuka.

Keberadaan Masjid Rahmat yang terletak di dataran yang cukup tinggi di Sura­baya memang membuatnya memiliki kesejukan udara yang berbeda dengan masjid- masjid lain di Surabaya. Apalagi di sekeliling masjid tersebut, tumbuh dengan subur berbagai jenis pohon besar yang senantiasa menanunginya dari sengatan sinar matahari Surabaya yang panas. Karena itu jangan heran kalau tiap datang waktu Sholat Dhuhur, ratusan jamaah akan da­tang untuk memadati hampir setiap ruangan masjid yang baru selesai direnovasi itu. Terlebih lagi saat bulan puasa seperti ini.

MESJID RAHMATNamun lepas dari kesejukan udara yang ditawarkan Masjid Rahmat, tempat ini memang memiliki keistimewaan tersen- diri yang membedakannya dengan masjid lain. Masjid ini adalah salah satu pening- galan Sunan Ampel yang dikenal sebagai bapak para wali anggota wali songo. Ka­rena itu ada harapa tersendiri di dalam hati para jamaah yang datang untuk beribadah di tempat ini, untuk mendapat berkah sebagaimana berkah yang diterima Sunan Ampel semasa hidupnya.

Tak hanya itu, masjid yang namanya diambil dari nama kecil Sunan Ampel ini juga dikenal sebagai masjid tiban. Yang berarti bahwa masjid ini tiba-tiba muncul tanpa diketahui proses pembuatannya. Makanya bagi sebagian orang, berkah dan pahala yang didapat dengan beribadah di masjid ini akan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan masjid lainnya.

Dan agaknya riwayatnya sebagai mas­jid tiban inilah yangjustru membuat Masjid Rahmat memiliki daya tank tersendiri. Dan sebagaimana masjid-masjid tiban di tem­pat lain, umumnya masyarakat meyakini bahwa masjid tersebut memiliki tuah lebih. Sehingga mereka yang datang umumnya tidak hanya sebatas beribadah rutin saja. Beberapa di antaranya justru melakukan ritual tertentu yang tujuannya untuk berburu berkah.

TIBA-TIBA MUNCUL

Masjid tiban sendiri sebenamya hanya sebutan dari masya­rakat dengan berdasarkan pada sejarah yang mengiringi berdirinya masjid-masjid tersebut. Tiban sendiri diambil dari kata tiba-tiba yang menunjukkan bahwa kemunculan masjid tersebut secara tiba- tiba. Yang mana sebelumnya tidak ada satu orangpun yang tahu.

Pendapat lain menyebutkan bahwa kata tiban diambil dari kata tiba yang dalam bahasa Jawa berarti jatuh. Sehingga maksud sebutan masjid tiban di sini adalah bahwa masjid tersebut muncul karena jatuh dari langit Yang berar­ti bahwa masjid tersebut bukanlah buatan manusia melainkan buatan Tuhan dan sen- gaja diturunkan ke bumi sebagai tempat beribadah.

Entah pandangan mana yang betul, karena kedua pandangan tersebut muncul berdasarkan kisah-kisah tutur yang berkem- bang di masyarakat sekitar masjid. Namun yang pasti dari kedua pandangan tersebut terdapat satu kesamaan. Yaitu bahwa mak­sud dari kata tiban di sini adalah karena keberadaannya yang secara tiba-tiba ada.

Ada banyak kisah tutur yang menyertai kemunculan masjid-masjid tiban tersebut Antara masjid yang satu dengan yang lain terkadang berbeda. Namun demikian dari kisah-kisah tersebut jelas menunjukkan kalau masjid tiban memiliki keistimewaan yang berbeda dengan masjid pada umum­nya. Termasuk tuahnya yang konon bisa ” membawa orang yang beribadah di dalamnya bisa langsung menemukan pintu surga, yangselama ini selalu diburu setiap manusia yang ada di dunia.

Ya, sebagai manusia beragama, surga memang menjadi impian. Tempat inilah yang selama ini dijanjikan Tuhan di semua kitab suci, untuk diberikan kepada umat- umat terpilih. Dan di masjid tiban sepertinya hal itu bisa terwujud. Setidaknya dengan selalu terkabulkannya setiap doa yang dipan- jatkan di sana, orang akan berpandangan bahwa surga yang diharapkannya telah dida­pat •KL@-6

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY, Edisi 23`17, 21-30 September 2007, hlm. 41-42

MASJID MUJAHIDIN SURABAYA

Masjid Mujahidin Surabaya

Masjid Mujahidin berlokasi di Jalan Tanjung Perak Barat No. 275 di daerah kawasan pelabuhan berada di Surabaya utara. Letaknya berada di tengah kawasan pemukiman dan daerah penunjang kegiatan pelabuhan. Keberadaan masjid ini seakan ditengah jalan sebab sekeliling masjid merupakan jalan, sebe­lah Timur jalan dua jalur Tan­jung Perak Timur dan Tanjung Perak Barat, samping Selatan dan Barat terdapat jalan masuk ke wilayah pemukiman dan sebelah Selatan berdampingan dengan Jalan Teluk Aru yang menuju ke daerah pemukiman. Jalan masuk utama terdapat di Jalan Perak Barat dan samping Utara.

Kawasan sekitar masjid  kini padat dengan bangunan, namun tetap teratur untuk memenuhi kebutuh­an penghawaan, penerangan alami dan penghijauan agar tetap tercukupi. Di samping kompleks masjid diseberang jalan masih terdapat areal untuk keperluan pendidikan keagamaan dan pemondokan. Halaman depan terdapat taman serta perluasan salat dan sebagian untuk tempat parkir. Hala­man belakang tidak ada namun terdapat dua halaman pada sisi kiri-kanan bangunan induk. Pengaturan ini agar masjid tetap mendapat prioritas utama sedangkan fasilitas pendidikan dan kemasyarakatan diletakkan pada bagian samping dan lantai kedua.

Sejarah Pembangunan Masjid.

Untuk menampung kegiatan peribadatan masyarakat, kawasan pelabuhan Tanjung Perak dan pangkalan Angkatan Laut Rl diperlukan adanya masjid jamik. Tersebutlah, H. Sabran Gazali ketua Panitia Pendiri Masjid Jamik Tanjung Perak Su­rabaya, pada tanggal 25 Agustus 1955 telah mendapat izin dari Direktur Pelabuh­an Surabaya untuk mendirikan kompleks masjid ja­mik itu pada sebidang tanah seluas kurang lebih 5022 m2 di Jalan Tanjung Perak Barat No. 275.  Akhirnya panitia berhasil membangun masjid yang diidamkannya, atap liwan berbentuk piramida dari genteng dengan kubah besar di atasnya, serta 2 buah kubah kecil pada kedua sudut depan.

Disamping kegiatan peribadatan masjid ini juga mengelola lembaga pendidikan yang semakin hari tumbuh dengan pesat, baik yang bersifat keagamaan maupun pendidikan umum. Maka untuk itu diperlukan sarana dan prasarana yang layak sebagai penunjang tercapainya tujuan pendidikan yang baik, maka diperlukan tambahan bangunan yang baru. Pada tahun 1979/1980 mendapatkan sumbangan dana dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sebesar US. $ 100.000-.

Pembangunan perluasan masjid ini dikelola sendiri oleh Yayasan dan tidak diborongkan kepada pihak lain. H. Djakfar Yasman, seorang purnawirawan TNI AL sebagai pimpinan yayasan, mengelola dana tersebut dengan tertib, jujur dan berwibawa, dengan sistem menejemen terbuka. Dibantu dengan dua tenaga dari Institut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) yang menangani bidang arsitektur dan bidang teknik sipil, Ir. Zein dan Ir. Udman Hnf. Selanjutnya mulailah pembangunan perluasan masjid ini. Diawali dari serambi depan yang terbuat dari konstruksi beton dibongkar dan dibuatlah bangunan berlantai dua bagaian bawah sebagai serambi masjid dan kantor serta pengelola masjid, adapun lantai atas digunakan untuk keperluan pendidikan dan pertemuan. Upaya perluasanpun tidak berhenti setapak demi setapak berjalan terus sesuai dengan laju perkembangan dana yang terkumpul. Maka dibangun lagi bagian utara untuk kegiatan pendidikan ba­ngunan dua lantai empat local, tempat wudu dibongkar dan dipindahkan di sebelah Selatan halaman depan.

Kegiatan dalam kompleks masjid jamik ini sudah demikian kompleks, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang yang dicakup juga cukup banyak yakni: peribadatan, pendidikan keagamaan, pendidikan umum, kesehatan, sosial-keagamaan dan sebagainya, dengan demikian pihak yayasan dirangsang untuk mengusahakan sarana dan prasarana yang layak.

Ketua Yayasan Masjid Mujahidin dibantu langsung oleh sekretaris, pembukuan, keuangan dan urusan material. Ketua membawahi unit-unit usaha yakni:

  • pendi­dikan meliputi, TK, SD, SMP, SMA, MTs, MA, PGA dan Pesantren,
  • BPH masjid memiliki Seksi Ibadah dan Seksi Ceramah,
  • Radio PTDI,
  • Badan Dakwah memiliki Seksi Perpustakaan, Seksi Majalah dan Seksi Wanita,
  • Unit Pramuka dan Kepemudaan mempunyai Seksi Bela Diri dan Gugus Depan Pramuka,
  • Poliklinik meliputi Pengobatan, BKIA. dan pengurus jenazah/ambulan.

Selain itu masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti PHBI, Panitia Zakat Fitrah dan sebagainya. Pendidikan non formal juga dilaksanakan seperti kuliah subuh, kuliah bakdal isyak, ceramah radio, dan kursus bahasa Arab. Demikian kegiatan periba­datan, kemasyarakatan dan sosial untuk dewasa dan orang tua, pembinaan dan pendidikan bagi anak dan remaja, semua mendapatkan tempat yang luas, tercermin sudah fungsi masjid jamik ini sebagai pusat peribadatan sekaligus merupakan pusat kebudayaan. Namun pemugaran- pemugaran untuk perluasan sarana pendidikan atau sebagai pusat kebudayaan tetap mempertimbangkan kondisi semula bahwa fungsi masjid sebagai pusat peribadatan tidak terganggu, bahkan pengurus mengkondisikan dengan suasana yang saling menunjang. Dari jauh kompleks masjid ini ditandai dengan kubah besar yang menjulang tinggi sedangkan setelah sampai ke pintu gerbang atau halaman ditandai de­ngan bangunan serambi bertingkat yang tertib dan representatif.

Ruang – ruang yang terdapat di dalam kompleks Masjid terdiri:

Pada lantai bawah terdapat ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Liwan pria,
  2. Mimbar dan Mihrab,
  3. Ruang mekanik/monitoring (mezanine),
  4. Liwan wanita,
  5. Serambi,
  6. Ruang Guru,
  7. Ruang Keamanan Masjid,
  8. Kantor Badan Kerjasama Masjid Jawa Timur,
  9. Tata Usaha,
  10. Ruang Ketua Yayasan,
  11. Ruang Kepala SMP,
  12. Show room/Ruang kursus,
  13. Kamar mandi/WC,
  14. Tempat wudu pria,
  15. Tempat wudu wanita,
  16. Taman kanak-kanak/Pra karya,
  17. Kantin,
  18. Ruang Stasiun Radio PTDI,
  19. Ruang Kepala SD,
  20. Ruang kelas SD,
  21. Ruang kelas SMP,
  22. Garasi ambulance,
  23. Poliklinik – BKIA,
  24. Pemondokan pegawai masjid,
  25. Ruang Kepramukaan dan Pemuda,
  26. Telepon umum,
  27. Ruang mekanikal,
  28. Tempat sepeda murid.

Pada lantai dua terdapat ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Kelas-kelas untuk SMA
  2. Kelas-kelas untuk SMP
  3. Ruang Tata Usaha SMA
  4. Ruang Kepala SMA
  5. Koridor
  6. Ruang pertemuan Besar/guna ganda
  7. Ruang Osis
  8. Laboratorium Kimia
  9. Bak penampung air atas
  10. Ruang Pengawas.

Penerangan ruang sistem alami kecuali ruang mekanik memanfaatkan ruang bawah tangga yang tak berjendela. Penerangan malam hari, dalam ruangan menggunakan lampu TL untuk bagian luar lampu pijar/baret, aliran udara tak sampai ke dalam ruangan Liwan meskipun ketiga dindingnya terbuka, sehinga dipasang kipas angin beberapa buah pada langit-langit ruang liwan dan mihrab, ruang serambi dan kantor ventilasi cukup memadai. Sistem akustik memakai satu loudspeaker tunggal yang besar diletakkan di pojok depan sebelah Selatan ruang liwan, sehingga semua anggota jamaah dapat mendengarkan.

Lantai masjid tegel teraso ruang liwan ditutup dengan karpet warna hijau, semua tempat wudu hygienis dengan kran mancur dan dindingnya dilapisi porselin ukuran 11×11 cm. Tempat wudu pria dibuat relatif terbuka sedemikian sehingga mendorong secara psychologis agar para anggota jamaah yang bersuci untuk selalu mematuhi norma-norma kebersihan, tempat wudu wanita disediakan ruang wudu tersendiri yang lebih terlindung memegang norma kebersihan dan kesopanan. Kamar mandi dan WC tersedia di bagian de­pan dan samping Utara, dinding dilapisi porselin lantai dari mosaic tile dengan peralatan sanitasi modern.

Kesatuan ruang ibadat cukup terbina hampir dari setiap bagian ruang dapat melihat kearah mihrab dan mimbar, karena liwan dan serambi relatif terbuka dibatasi jendela dan pintu kaca dengan kosen alumunium. Antara liwan wanita dan liwan pria dibatasi oleh jendela dan pintu kaca yang tembus pandang. Koridor atas juga dilengkapi dengan jendela penghubung pandang ke li­wan pria/mihrab sehingga menyatukan kekompakan ruang.

Ruang-ruang kelas di samping atas Selatan yang digunakan untuk perluasan ibadah salat tarawih saat bulan Ramadhan, juga dibuat jendela penghubung pandang ke ruang liwan pria dan  dilengkapi pula de­ngan pengeras suara.

Ruang liwan, mihrab dan mimbar meniadakan ragam hias, warna dinding dan langit-langit didominasi warna putih. Warna lantai/karpet hijau dengan baris saf salat strip kuning kecoklatan.

Masjid ini cenderung sederhana, mimbar untuk berkhotbah dari papan kayu seperti layaknya mimbar untuk berpidato.

Kekhusyukan di dalam ruang liwan cukup terjaga, selain ruang-ruang pendidikan terpisah di luar atau di lantai atas, pada saat salat jamaah semua kegiatan dihentikan dan semua siswa dan guru bersama-sama mengerjakan ibadat.

Untuk memnampakan sebagai ba­ngunan masjid, maka tampak depan masjid jamik ini dibuat bentuk-bentuk lengkung yang sekaligus merupakan kerangka pemegang penyaring sinar matahari/sun screen. Jadi hiasan ini pun bersifat fungsional, bukan sekedar keperluan estetika semata.

————————————————————————————–———————————-Dinukil oleh: Dian K. (Pustakawan); 
dari: Koleksi Lokal Konten Deposit  Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur
Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur./Ir. Zein M. Wiryoprawiro/Surabaya: Bina Ilmu,  1986          CB-D13/1986-6[1]

Masjid Al Akbar Surabaya

KOMUNITAS - Copy

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masjid bukan hanya tempat ibadah namun juga merupakan pusat kegiatan berdimensi luas, di masjid orang bermusyawarah, mengurus jenazah, melaksanakan manasik haji, menyelenggarakan wisata religi dan bahkan mengatur strategi perang. Maka tidak mengherankan bahwa di zaman modern ini banyak masjid dilengkapi dengan perpustakaan, sarana olah raga, fasilitas penyelenggaraan akad nikah dan sebagainya.

Surabaya ibukota Jawa Timur dan kota terbesar nomor dua di Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 4 juta jiwa dan 90% beragama Islam, Tidaklah berlebihan jika dikatakan disini bahwa perjuangan rakyat Surabaya di tahun 1945 adalah perjuangan umat Islam tercermin dalam pekikan takbir “Allahu Akbar”,  sebagai ajakan berjuang untuk arek-arek Suroboyo. Begitu pula semangat perjuangan rakyat Surabaya dalam menegakkan syi’ar Islam dan mendirikan masjid, terbukti dengan hadirnya 2000-an masjid. Meskipun memiliki cukup banyak masjid, masyarakat Surabaya berkeinginan untuk memiliki masjid berskala nasional baik fisik maupun fungsi ibadahnya.

Masjid Al-Akbar Surabaya merupakan wujud Impian umat Islam di kota ini. Masjid Al-Akbar didirikan di atas tanah seluas 11,2 hektar. Luas bangunan 28.509 m2 dengan kapasitas 36.000 jamaah, berlokasi di kawasan Pagesangan Surabaya Selatan, tepatnya di tepi jalan tol Surabaya-Malang. Masjid Al Akbar dibangun pada tanggal 4 Agustus 1995 atas gagasan Mantan Walikota Surabaya Soenarto Soemoprawiro. Sedang peletakan batu pertama oleh Wapres Try Sutrisno dan diresmikan Presiden KH Abdurrahman Wahid, 10 November 2000.

Salah satu daya tarik Masjid Al-Akbar Surabaya, adalah kubah masjid yang berbeda dari bentuk dan warna kubah masjid umumnya. Keunikan bentuk kubah ini bentuk kubah yang hampir menyerupai setengah telur dengan 1,5 layer memiliki tinggi sekitar 27 meter. Bentuk ini menumpu pada bentuk piramida terpancung dalam 2 layer setinggi kurang lebih 11 meter dengan bentang tumpuan atau diameter 54 m x 54 m.

Salah satu keunggulan corak Masjid Al-Akbar Surabaya, ialah menonjolnya corak ukiran dan kaligrafi yang menghiasi berbagai elemen di Masjid Al-Akbar Surabaya, banyak sekali dimunculkan ornamen ukir dan kaligrafi sebagai pelengkap struktur utama masjid. Secara umum, kondisi ini hampir sama dengan bentuk ornamen interior masjid jaman dahulu. Dimana bentuk ukiran dan kaligrafi banyak sekali menjadi penghias masjid-masjid besar di tanah air. Beberapa bagian yang umumnya dihiasi dengan ukiran dan kaligrafi adalah pintu, hiasan dinding di atas yang sering di ukir dengan kaligrafi, podium, dan beberapa elemen yang sering kali menghiasi masjid-masjid tempo dulu.

Beragam bentuk ukiran dan kaligrafi yang bisa disaksikan di Masjid Al-Akbar Surabaya ini, hendak memasuki masjid pengunjung sudah disambut oleh 45 pintu ukir dari kayu jati. Di serambi depan masjid nampak bedug besar yang berciri khas ukiran khusus, juga terdapat kentongan. Lebih masuk kedalam masjid, pengunjung akan disuguhi oleh ornamen ukir dan kaligrafi yang sangat dominan menguasai dinding-dinding masjid. Di mihrab, di relung imam, dan di dinding-dinding utama, di tempat-tempat rak Al-Qur’an yang tersebar di seluruh penjuru masjid, ukiran-ukiran bernuansa khas indonesia menghiasi dengan cantik dan anggun. Pun di ornamen atas yang penuh dengan kaligrafi Al-Qur’an sepanjang 180 meter dengan lebar 1 meter. Semua elemen ukir dan kaligrafi itu menambah keagungan dan keteduhan Masjid Al-Akbar Surabaya.

Keindahan masjid, adalah salah satu sentuhan yang menjadi perhatian penting, dukungan keindahan dalam hal penerangan Masjid Al-Akbar Surabaya, PT. Philips Ralin Electronics yang menata seluruh kebutuhan penerangan, dari kebutuhan penerangan dalam gedung, halaman, taman, hingga lampu yang menerangi kubah dan menara. Kelengkapan dan kemutakhiran teknologi dalam hal penerangan itulah, yang menjadi salah satu titik keindahan Masjid Al-Akbar Surabaya, pada malam hari jika seluruh tata lampu yang dimiliki dinyalakan secara menyeluruh. Menjadi pemandangan yang indah dan menyejukkan ketika malam hari.

Penunjang keindahan yang lain, adalah elemen interior seperti hiasan kaca patri, kaca ukir seni ini merupakan kekuatan dan keindahan tersendiri di bidang eksterior dan interior. Hiasan kaca patri yang dipergunakan, dibuat dengan sistem pelapisan panel kaca patri atau panel bevel dengan kaca tempered. Sistem ini selain bermanfaat menghemat energi, juga sangat baik untuk keperluan peredam suara bising. Pada jaman dahulu, dalam pembangunan masjid-masjid kuno, hiasan sejenis ini memang telah dipergunakan, dari segi corak, motif dan keindahan, kadang memiliki kekuatan yang sama.

Dalam menjalankan proses Pewarnaan, dipergunakan sentuhan warna elegan yang bisa memberikan suasana kesejukan bagi Masjid Al-Akbar Surabaya. Semua titik diberi warna yang serasi, dengan dominasi warna cerah. Hasilnya, dari segala sudut, Masjid Al-Akbar Surabaya nampak anggun, tenang dan nyaman. Sebuah kondisi yang dibutuhkan untuk menemukan titik konsentrasi ketika menghadap ke Illahi Robbi. Warna-warna cerah yang anggun ini, secara umum sama dengan kondisi pewarnaan pada masjid-masjid jaman dahulu. Kalu toh ada perbedaan, mungkin hanya sekedar pada tataran selera dan kemajuan teknologi.

Tapi yang jelas, walaupun perbedaan yang ada hanya beberapa, namun dengan sentuhan teknologi mutakhir dan dengan penggarapan finishing yang sempurnanya, Masjid Al-Akbar Surabaya nampak lebih agung, tenang dan membuat orang betah untuk tinggal berlama-lama menjalankan aktifitas perjalanan rohani didalamnya.

Lantai sebagai salah media yang berhubungan langsung dengan jamaah yang sholat di Masjid Al-Akbar Surabaya, panitia pembangunan proyek masjid mendatangakan langsung marmer dengan kualitas pilihan dari perbukitan di propinsi Lampung. Dipilih marmer yang berasal dari Lampung, karena ternyata kualitas lebih bagus dan harga sangat murah.  Marmer Lampung memiliki jumlah yang relatih banyak untuk bisa memenuhi selera warna sesuai kebutuhan. maka panitia pembangungan bisa leluasa menentukan titik-titik warna sesuai dengan kebutuhan. Dan keinginan untuk bisa menghadirkan warna-warna yang sejuk, damai, tenang dan nyaman di Masjid Al-Akbar Surabaya bisa dengan mudah direalisasikan.

VISI:

“Menjadi Rujukan Nasional dalam Da’wah, Ibadah, Pendidikan dan

Manajemen menuju Masyarakat Madani”
MISI :

Mengembangkan Da’wah dan Ibadah

Mengembangkan Pendidikan Akhlaqul Karimah

Mengembangkan Manajemen Masjid

Mengembangkan Fasilitas dan Arsitektur

MOTTO

“Ikhlas Profesional”
Motto ini mengandung arti bahwa: Pengelolaan MAS berorientasi pada ibadah semata, hanya mencari ridha Allah SWT, ditangani oleh personal yang ahli di bidang masing-masing. Unggul dan berdayaguna

NILAI :

Nilai yang dijadikan pedoman adalah Amanah, Istiqomah, Uswah, Mas’uliah dan Li jami’ il-Ummah

Amanah: Dipercaya dalam mengemban visi dan misi

Istiqamah: Konsisten dalam mengemban visi misi dan terus mengadakan inovasi.

Uswah: Menjadi teladan masjid lain dalam berbagai aspek.

Mas’uliah: Setiap langkah dan keputusan dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Allah, umat dan stakeholders.

Li jami’ il-Ummah: Setiap praktek ibadah dapat diterima oleh semua umat Islam, sesuai syara’ dan peraturan perundangan yang berlaku.

PROGRAM UNGGULAN SETIAP DIREKTORAT MAS

  1. Direktorat Idarah : Menyempurnakan Implementasi Manajemen Sistem ISO 2001
    b. Direktorat Imarah/Ijtima’iyyah : Merealisasikan Jama’ah Satisfaction dalam 19 poin layanan
    c. Direktorat Shiyanah : Mewujudkan Kapasitas 80.000 jama’ah
    d. Direktorat Ma’had Aly : Mencetak Sarjana al Qur’an dengan 15 juz hafalan

 

menara

Fasilitas

  1. Masjid bertaraf Nasional,
  2. Dukungan Pemerintah Kuat,
  3. Kapasitas 75.000 orang jama’ah,
  4. Lokasi strategis, memiliki akses tool,
  5. Manajemen handal , memperoleh ISO 9001 – 2008,
  6. Dukungan dana masyarakat kuat,
  7. SDM pendukung sangat kuat,
  8. Area Parkir Luas dan Aman,
  9. Mengakomodasi seluruh faham / aliran,
  10. Imam para qori’ dan huffadz,
  11. Jadwal kegiatan padat terstruktur,
  12. Jejaring dengan masjid sekitar kuat ( 80 masjid pendukung binaan),
  13. fasilitas pendidikan PG/TK / RA , MI dan Ma’had Aly (mulai PG sd Perguruan Tinggi),
  14. Penggunaan IT dalam memasyarakatkan program,
  15. Menjadi tujuan wisata religi regional (masuk dalam paket wisata)
  16. Perpustakaan,
  17. Poliklinik,
  18. Thibbun Nabawi,
  19. Menara,
  20. Radio,
  21. Gedung,
  22. Infaq,
  23. Fasilitas Database Jama’ah,
  24. Konsultasi,
  25. Bimbingan Muallaf,
  26. Ayo Ngaji,
  27. TPQ,
  28. LAZ MAS.

 PROGRAM LAYANAN JAMA’AH MAS 
1. Sholat yang tepat waktu
2. Kebersihan tempat sholat terjaga
3. Imam / Khotib / Penceramah qualified
4. Sound system jelas
5. Pengatur shof yang menata
6. Bulletin yang cukup
7. Muadzin yang nyaman didengar
8. Air wudlu yang cukup dan bersih
9. Tempat wudlu tidak bau dan tidak licin
10. Kamar kecil tidak bau dan tersedia sabun
11. Tempat sepatu/sandal bersih dan aman
12. Kotak saran cukup dan responsif
13. Tempat parkir rapih dan aman
14. Tim pengaman yang melayani
15. Pusat informasi yang menjelaskan
16. Guide yang siap dan mampu
17. Ta’jil ramadlan yang cukup dan layak
18. Pelayan ta’jil yang damai dihati
19. Manajemen yang komit terhadap kepuasan jamaah

MITRA DAKWAH

  1. Remas,
  2. Pengamal,
  3. Hisamal,
  4. Karang Werda,
  5. Club Jantung Sehat,
  6. Forkomas.

————————————————————————————–Dinukil oleh: Dian K.
Sumber: Sekretaeiat Masjid Alakbar

 

Masjid Cheng Hoo, Surabaya (3)

Apa Dan Bagaimana Masjid Cheng Hoo

Atas gagasan dari HMY Bambang Sujanto dan teman-teman PITI, Pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia dimulai dari tanggal 15 Oktober 2001, diawali dengan upacara peletakan batu pertama yang dihadiri oleh sejumlah tokoh Tionghoa Surabaya dan tokoh masyarakat Jawa Timur.

Rancangan awal Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini dilhami dari bentuk Masjid Niujie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Kemudian pengembangan Desain arsitekturnya dilakukan oleh Ir. Aziz Johan ( Anggota PITI dari Bojonegoro) dan didukung oleh Tim teknis : HS. Willy Pangestu, Dony Assalim, S.H., Ir Toni Hartono Subagyojr. Rachmat Kurnia dari jajaran pengurus PITI Jatim dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Untuk pertama pembangunan ini diperlukan dana sebesar Rp. 500.000.000,- yang diperoleh jerih payah teman-teman dengan menerbitkan buku “Saudara Baru / Juz Amma” dalam tiga bahasa. Dan sisanya adalah gotong royong dari sumbangan-sumbangan masyarakat hingga terselesainya pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia.

Tahap pertama diselesaikan tanggal 13 Oktober 2002 dengan selesainya tahap pertama ini, Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sudah dapat digunakan untuk beribadah dan selanjutnya tinggal melakukan beberapa penyempurnaan bangunan Masjid. Oleh seluruh anggota Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia dan PITI disepakati tanggal tersebut sebagai hari ulang tahun yayasan dan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia.

Pada tanggal 28 Mei 2003, bertepatan dengan hari ulang tahun Pembina Imam Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia yang ke 42, Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia i diresmikan oleh Menteri Agama RI, Bapak Prof. Dr. Said Agil Husain Al I Munawar, MA. Selain itu acara peresmian ini dihadiri juga oleh Atase i Kebudayaan Kedutaan Besar RRC di Indonesia yaitu Mao Ji Cong, i VICE konsultan kedutaan besar USA di Indonesia yaitu Craig L. Hall, i GubernurJatim-H. Imam Utomo, S.,Anggota Muspida Jawa Timur, Ketua

NU Jawa Timur – Dr. H. Alimaschan Moesa.Msi., Ketua Muhammadiyah Jawa Timur kala itu Prof. Dr. H. Fasichul Lisan, Apt. Juga oleh mantan Gubernur Jawa Timur yaitu H. R.T. Moch. Noer dan H.M. Basofi Sudirman yang bertindak sebagai penasehat dan pembina Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Acara ini dimeriahkan pula oleh semua Toko-tokoh masyarakat dan organisasi masyarakat di Surabaya.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia berukuran 21 x 11 meter, dengan bangunan utama berukuran 11×9 meter pada sisi kiri dan kanan bangunan utama tersebut terdapat bangunan pendukung yang tempatnya lebih rendah dari bangunan utama. Setiap bagian bangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini memiliki arti tersendiri, Misalnya ukuran bangunan utama. Panjang 11 meter pada bangunan utama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini menandakan bahwa Ka’bah saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS memiliki panjang dan lebar 11 meter sedangkan lebar 9 meter pada banguna utama ini diambil dari keberadaan Wali Songo dalam melaksanakan syiar Islam di tanah Jawa. Arsitekturnya yang menyerupai model Klenteng itu adalah gagasan untuk menunjukkan identitasnya sebagai muslim Tionghoa (Islam Tiongkok) di Indonesia dan untuk mengenang leluhur warga Tionghoa yang mayoritas beragama budha. Selain itu pada bagian atas bangunan utama yang berbentuk segi 8 (Pat Kwa), angka 8 dalam bahasa Tionghoa disebut fat yang berarti jaya dan keberuntungan.

Dalam risalah, pada saat Rasulullah Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah, beliau dikejar-kejar oleh kaum kafir quraish dan bersembunyi di dalam gua Tsur. Pada saat hendak memasuki gua tersebut. Terdapat rumah laba-laba yang bentuknya segi 8, Rasulullah yang dalam keadaan teraniaya tidak mau merusak tumah laba-laba tersebut. Beliau memohon kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari kejaran kaum kafir quraish.

Dengan bantuan Allah SWT, Rasulullah dapat memasuki gua Tsur tanpa harus merusak tumah laba-laba tersebut. Saat situasi aman, beliau keluar dari gua Tsur dan melanjutkan perjalanan menuju Madinah untuk berhijrah guna menyampaikan wahyu yang diberikan Allah SWT kepada umat muslim di Madinah. Saat berada di gua Tsur pada waktu perjalanan hijrah tersebut, Allah memberikan perlindungan (keberuntungan) untuk dapat melalui rumah laba-laba itu dengan damai tanpa harus merusak dan mengganggu makhluk lainnya.

Pada bagian depan bangunan utama terdapat ruangan yang dipergunakan oleh Imam untuk memimpin sholat dan khotbah yang sengaja dibentuk seperti pintu gereja, ini menunjukkan bahwa Islam mengakui dan menghormati keberadaan Nabi Isa AS sebagai utusan Allah yang menerima Kitab Injil bagi umat Nasrani. Juga menunjukkan bahwa Islam mencintai hidup damai, saling menghormati dan tidak mencampuri kepercayaan orang lain.

Pada sisi kanan Masjid terdapat relief Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapal yang digunakannya dalam mengarungi Samudera Hindia. Relief ini memiliki pesan kepada muslim Tionghoa di Indonesia pada khususnya agar tidak risih dan sombong sebagai orang Islam.

Orang Tionghoa masuk Islam bukan merupakan hal yang luar biasa, tetapi merupakan hal yang biasa karena pada 600 tahun yang lalu, terdapat seorang Laksamana beragama Islam yang taat bernama Muhammad Cheng Hoo dan beliau telah turut mensyi’arkan agama Islam ditanah Indonesia pada jaman itu. Beliau adalah utusan Raja Dinasti Ming yang menjalani kunjungan ke Asia sebagai utusan atau Duta Perdamaian. Guna mempererat hubungan dengan kerajaan Majapahit diberikanlah Putri Campa untuk di persunting oleh Raja Majapahit. Keturunan putri Campa pertama adalah Raden Patah, kenudian Sunan Ampel dan Sunan Giri (termasuk 9 Sunan atau Wali Songo) yang kemudian melakukan syi’ar agama Islam di Tengah Jawa.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sendiri dikenal sebagai Masjid pertama di Indonesia yang mempergunakan nama muslim Tionghoa, dengan bangunan yang bernuansa etnik dan antik ini cukup menonjol dibanding bentuk Masjid-masjid pada umumnya di Indonesia. Dengan arsitektur khas Tiongkok yang didominasi warna hijau, merah dan kuning menambah khazanah kebudayaan di Indonesia. Ditambah lagi dengan adanya fasilitas yang memadai yang dapatdipergunakan oleh jamaah Masjid  Muhammad Cheng Hoo Indonesia dan masyarakat pada umumnya seperti:
– TK (Taman Kanak-kanak)
-Lapangan olah raga
– Kantor
-Kelas kursus bahasa Mandarin -Kantin

Diharapkan segala fasilitas yang disediakan demi kenyamanan beribadah di Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini benar- benar bermanfaat mempererat tali silaturahmi sesama umat dan meningkatkan hubungan baik umat dengan Allah SWT. Sekarang ini Masjid Muhammad Cheng Hoo, juga merupakan objek Wisata di Surabaya hampir tiap hari ada wisatawan yang berkunjung.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil: Wahyu DP Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Komunitas, Edisi Khusus, No. 40-April 2008.

MASJID JAMI’ PENELEH Surabaya

penelehMasjid Jami’ peneleh surabaya ini merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga (Sunan Ampel), namun keberadaannya kurang dikenal kecuali warga Peneleh sendiri. Masjid ini berdiri di tengah pemukiman padat penduduk, tepatnya terletak di Jalan Peneleh V nomor 41, Surabaya.  Masjid jami’ peneleh surabaya ini berdidiri pada sebidang tanah yang status Wakaf.

Bukti otentik ataupun referensi mengenai Masjid jami’ peneleh ini sangat kurang, namun masyarakat setempat mempercayai bahwa Masjid Jami’ Peneleh dibangun oleh Sunan Ampel pada tahun 1421 lebih tua dari Masjid Ampel. Keyakinan itu diperkuat dalam isi buku ensiklopedia Indonesia disusun oleh Prof. Dr MR TGS Mulia dan Prof. Dr. KAH Hadding, disebutkan bahwa Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) berpindah dari kampung Kembang Kuning ke Peneleh. Selanjutnya beliau mendirikan masjid yang lebih besar dari musala tiban Kembang Kuning. Diperkirakan, Rahmatullah mendirikan masjid di tempat itu karena dulunya merupakan daerah ramai, karena kampung Peneleh berada tepat di sisi timur Kali Mas, yang merupakan sungai yang menjadi urat nadi lalu lintas perairan pada masa itu. Sunan Ampel menyebarkan Agama Islam dari tempat ini benar –benar sangat strategis.

Masjid jami’ peneleh surabaya merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga yang terlupakan, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 950 meter persegi, Sejak abad ke-18, Surau tersebut berubah menjadi masjid bangunannya sungguh kokoh dan bentuknya eksotik, gaya arsiteturnya merupakan  aliran neuw imperial, diperkirakan ini adalah hasil renovasi saat itu.  pada tahun 1970-an serambi masjid ini diperluas tidak mengubah ornamen dalam, kemudian pada 1986 masjid direnovasi kembali juga tidak merubah bentuk aslinya. Masjid ini memiliki menara yang besar kesan kekunoannya semakin nampak jelas jika melihat interior bagian dalam, arsitetur bagian dalam masjid benar-benar menakjubkan. 600 tahun silam, ketika Raden Rahmat mendirikan masjid ini. Seluruh penyangga dan karangkanya terbuat dari bahan kayu jati pilihan, Bahan bangunan yang langka ditemukan saat ini, termasuk rangka Langit-langitnya yang berhiaskan huruf Arab yang memuat nama empat sahabat Nabi Muhammad, yakni Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Tembok masjid dikelilingi 25 ventilasi dan lima daun jendela. Di masing-masing ventilasi tersebut terdapat hiasan aksara Arab berupa nama-nama 25 nabi.

Ada 10 tiang tiang utama penyangga atap menjulang yang saling menyambung di bagian langit langitnya, yang disebut Soko Guru, jarak atap dengan lantai masjid setinggi 9 meter,  Dipadu dengan banyak permainan kayu serta kisi-kisi udara juga menggunakan permainan sirip serta kaca kaca patri menghiasi angin angin di sela-sela atap, kaca ukir yang cantik dan unik di setiap jendela masjid, menambah keindahan bangunan masjid. Tingginya atap serta permainan kisi-kisi inilah yang menjadikan masjid ini terasa sejuk meski cuaca kota Surabaya panas. Bangunan dalam Masjid ini masih dipertahankan keasliannya.

Mihrabnya terbagi tiga tempat. Sebelah kiri untuk menempatkan jam duduk, bagian tengah sebagai tempat salat imam, dan bagian kanan untuk mimbar khutbah. Sayang tidak ada satupun peninggalan prasasti di tempat ini. Uniknya, sampai kini masjid tersebut masih menggunakan jam istiwa untuk pedoman melihat waktu salat, jam istiwa adalah penunjuk waktu berdasarkan arah condong matahari. Tapi tidak setiap hari digunakan, kunci jam istiwa yang berada di bagian depan masjid itu dibuka oleh pengurus masjid dan melihatnya pada saat-saat tertentu, utamanya setiap lima hari sekali, keunikan lain masjid dari masjid jami’ ini bentuk bangunannya menyerupai kapal terbalik.

Pada masa perang kemerdekaan 1945, kubah masjid itu pernah tersambar meriam Belanda yang ditembakkan dari arah Jembatan Merah. Tapi kubah itu tidak hancur dan hanya bagian sisi timur yang sedikit mengalami kerusak. Langit-langit yang jebol kena meriam itu langsung diganti.  Masjid ini juga dijadikan markas oleh Laskar Hizbullah melawan penjajah. Untuk mengelabui musuh, dari luar tampak seperti masjid yang berfungsi untuk beribadah dan sebagaimana mestinya. Padahal, semua dokumen dan tempat diskusi Laskar Hizbullah berada di dalam masjid. Bahkan, jika ada musuh yang melintas, tidak mudah meringkusnya, sebab kawasan terebut dari dulu sudah merupakan daerah padat penduduk. Meski bangunan merupakan peninggalan sejarah, namun pengurus masjid tidak berrencana memasukkannya sebagai cagar budaya. Alasannya, masjid ini dibangun dan direnovasi adalah dari swadaya masyarakat.

Didalam masjid Jami’ peneleh tersebut juga terdapat Bedug yang berdiameter kurang lebih satu meter dan panjang dua meter yang dulu ditemukan hanyut disekitaran Kali Mas, tepat berada di depan kampung Peneleh, bedug tersebut terhenti di aliran Kalimas. Warga mengambilnya dan membawanya ke Masjid Jami’, namun bedug tersebut tidak digunakan karena rencananya akan digunakan di Masjid Sunan Ampel. Selanjutnya bedug tersebut dipindahkan ke Masjid Ampel, namun ketika bedug digunakan suaranya tidak sempurna. Selanjutnya, bedug dipindahkan ke Masjid Kemayoran di kawasan Indrapura, saat digunakan hasilnya sama seperti sebelumnya, bedug tersebut tidak terdengar nyaring. Kemudian, bedug  dikembalikan dan dicoba di Masjid Jami’, saat dicoba di masjid Jami’ sangat berbeda suara  Bedug terdengar keras dn nyaring. Sehingga warga akhirnya memilih mempergunakannya di Masjid Jami’. Keanehan muncul saat Bedug berada di masjid. Puing – puing kecil dari kayu Bedug ini dipunguti oleh warga. Dan mempercayainya dapat menyembuhkan penyakit.  Sehingga beberapa warga tanpa sepengetahuan pengurus masjid sering mengambil secuil – secuil kayu Bedug. Akhirnya pada tahun 1986 saat merenovasi masjid, takmir masjid Jami’ sepakat melapisi Bedug ini dengan kayu biasa yang sudah dihiasi ukiran kaligrafi  untuk menghindari perbuatan yang tidak diinginkan.

Tidak hanya beduk itu saja, Sunan Ampel saat mendirikan juga menggali sumur tepat berada di samping masjid. Tujuannya memudahkan jamaah mencari air wudhu. Sumur buatan Sunan Ampel itu terletak di luar masjid sebelah kiri, sehingga sumur itu umurnya setua umur masjid. Air sumur tersebut banyak diburu orang sampai saat ini,  air sumur yang diyakini banyak orang, memiliki tuah.  Kini, menghindari pengkultusan dan merusak Aqidah, pengurus akhirnya menutup sumur tersebut.


‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi – Wahyu DP : Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2015