Pemerintahan Wiraraja Dan Pembangunan Kota Majapahit

Dalam tahun 1268-1292 Kerajaan Singosari dipimpin oleh Raja Kertanegara yang mempunyai dua orang menantu ialah R. Wijaya dan R. Ardaraja. Pada batu bersurat didesa Butak diceriterakan, bahwa pada suatu hari Raja Kertanegara diserang ole Jayakatwang dari negeri Gelang-gelang (Daha), yang maksudnya untuk menjatuhkan Kertanegara beserta singgasananya dinegeri Tumapel. Setelah Kertanegara mendengar bahwa musuh datang, dikirimkanlah R. Wijaya dan R. Ardaraja untuk memukul mundur musuhnya. Dikampung Kedung Peluk kedua belah pihak betemu dan api peperangan mulai dinyalakan. Lawan dapat dikalahkan dan mereka lari tunggang langgang kekampung Lemah Batang dan Pulungan. Tetapi dari kampung Rakut Carat tiba-tiba datanglah lawan dengan tidak tersangka-sangka jang mempunyai kekuatan besar, dan menan­tu-menantu Kertanegara terpukul mundur. R. Wijaya dikejar oleh musuhnya, ia terus lari ke negeri Kudadu.

 

Diceriterakan bahwa Raja Kertanegara mati terbunuh, sehingga sejak itu Singosari berada dibawah perintah kerajaan Daha (Kediri). Bagaimana sikap Raden Wijaya atas kehilangan kerajaan mertuanya? Dari Kudadu, ia memutuskan untuk menyeberang kepulau Madura, guna minta bantuan Wiraraja (keratonnya di Batuputih, Sumenep), Ialah ra­ja Madura yang berkedudukan di Sumenep atas angkatan Raja Kerta­negara. Raden Wijaya diterima sepantasnya oleh Wiraraja. Mereka berjanji untuk nantinja membagi tanah Jawa menjadi dua bagian. SelanjutnYa Wiraraja menganjurkan supaya R. Wijaya pergi ke Kediri, ibukota Jajakatwang menjalankan pemerintahan.

Disana ia supaya menundukkan diri kepada Jajakatwang dan kalau sudah menjadi kesayangan diistana ia supaya minta tanah Tarik untuk dibabat bersama-sama dengan orang Madura, guna dijadikan kota.

Pembangunan Kota Madjapahit.

Akhirnya dengan segala kecerdikan Raden Wijaya, Jayakatwang mengidzinkannya, tanah Tarik untuk dijadikan tempat tinggal. Tanah tersebut tidak subur, sehingga sukar sekali untuk mencari makanan. Pada suatu ketika seorang pengikut Raden Wijaya dari Madura merasa lapar dan ia terus menaiki pohon Maja yang daunnya berduri serta segera memetik buahnya. Setelah buah itu dimakannya terasa sangat pahit dan scgera dibuangnya. Sejak itulah dimana tempat buah Maja yang Pahit itu dilemparkannja disebut Majapahit.

Demikianlah diceritakan dalam kitab Pararaton. Akan tetapi, hal itu juga dapat sebagai, perumpamaan bahwa Majapahit didirikan atas pahit getirnja perjuangan. Selain dari itu Majapahit juga disebut Wilwatikta.

Semasa hidupnya Raja Kertanegara, pada suatu hari datanglah utusan negeri Cina menghadap Radja, yang maksudnja supaya Singosari tunduk kepada negeri Cina. Karena itu Kertanegara marah dan melukai muka utusan itu. Oleh sebab itu datanglah bala tentara negeri Cina yang diutus oleh Rajanya yang bernama Kubilai Khan untuk membalas dendam. Tentara Cina datang dipulau Jawa pada tahun 1293, dimana tidak dapat bertemu dengan Kertanegara karena telah meninggal dunia setahun sebelumnya. Tentara Kubilai Khan dipimpin oleh tiga Jendral ialah : Che-pi, Yi-K’o-mi-su dan Kau Hsing. Sewaktu mereka berangkat menuju Singosari, bertemulah dengan Raden Wijaya. Mereka dibelokkan menuju ke Kediri dan dihadapkan dengan Jajakatwang yang memang sudah mulai menyerang Majapahit. Meskipun Jajakatwang memiliki tentara ber-puluh puluh ribu orang jumlahnya, akhirnya dapat dipukul mundur juga oleh tentara Kubilai Khan. Sebenarnya tentara Cina kena tipu muslihat, karena balas dendam tersebut ditujukan kepada Raja Kertanegara, bukan ke­pada Jajakatwang.

Waktu itu Raden Wijaya sudah kembali ke Majapahit. Selanjutnya, bagaimana sikapnya terhadap tentara Cina yang ada dipulau Jawa? Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa Raden Wijaya banyak membunuh tentara Cina dengan bantuan orang Kediri dan orang Majapahit sendiri. Sebagian pula dari tentara Cina dapat dihalau meninggalkan pulau Jawa. Jayakatwang kemudian dapat dijatuhkan pula oleh Raden Wijaya dan dengan demikian pula Daha (Kediri) ada dibawah kekuasaan Majapahit dan Raden Wijaya sebagai Rajanya dengan gelar Kertarajasa Jayawardana. Adapun Wiraraja dengan pasukan Maduranya yang banyak memberi pertolongan diangkat menjadi Radja di Lumajang. (Lebih luas dari Lumajang sekarang sainpai keujung timur). Setelah Wiraraja dengan gelar Bayjak Wide mengakhiri kekuasaannya di Sumenep, daerah ini mengalami kemunduran.

Pimpinan di Madura setelah Wiraraja.

Yang mengganti memimpin pulau Madura ialah saudara dari Wiraraja yang bemama Ario Bangah, berkeraton didesa Benasareh, Rubaru, di daerah Sumenep juga. Kemudian pimpinan diganti oleh anaknya yang bernama Ario Danurwendo bergelar Lembusuranggono dan keratonnya dipindah kedesa Tanjung, dae­rah Bluto. Karena pulau Madura mengalami kemunduran, tidak banyak tulisan- tulisan atau ceritera ceritera mengenai kerajaan pulau Garam pada saat itu. Dari tangan Danurwendo dipindah lagi kepada anaknya bernama Panembahan Joharsari. Joharsari diganti pula oleh anaknja bernama Panembahan Mondoroko, yang berkeraton digunung Keles, daerah Ambunten, Penembahan ini diganti pula oleh anaknya, dan Madura mengalami 2 orang pimpinan, jalah Pangeran Bukabu dan Pangeran Baragung (artinya Sumberagung didaerah Guluk-guluk).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: SEJARAH MADURA SELAYANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm.5-7

 

Panembahan Ronggo Sukawati

Diceriterakanlah, bahwa Sukawati adalah raja Pamekasan yang menjalankan Pemerintahan penuh dengan kebijaksanaan. Selain dari pada itu, pribadinya memang memiliki sifat kesatria yang dapat dibanggakan, misalnya keberanian karena benar, kejujuran, keadilan dan kesopanan.

Selain dari itu ia tidak suka memperluas daerahnya dengan daerah kera­jaan lain, tctapi sebaliknya pula ia tidak sudi dicampuri oleh fihak lain didalam menjalankan pemerintahan. Pada suatu waktu, Sukawati baru saja dilantik sebagai raja Pamekasan, menggantikan ayahnya, datanglah seseorang yang mempersembahkan satu landian keris. Keesokan harinya, orang lain lagi datang mempersembahkan sebuah rangka keris dan terakhir, seorang tamu lainnya datang dengan membawakan isi keris. Sesudah itu Sukawati menyuruh seorang ahli keris untuk memasang mempersatukan perkakas perkakas keris yang ia terima dari orang- orang itu. Ternyata cocok, tidak usah dirobah lagi. la lalu memberi narna terhadap keris tersebut, ialah ,,Joko piturun”. Diceriterakan selanjutnja, bahwa pada suatu saat, orang  orang Bali datang menyerang daerah Sampang dan Sumenep.

Di Sumenep Pangeran Lor I meninggal dunia dalam pertempuran dan juga banyak pembesar – pembesar dari Sampang yang gugur. Setelah orang – orang Bali merasa izlah menang, mereka terus menyerang daerah Pamekasan. Pasukan dari Bali itu disambut sendiri oleh Sukawati dipebatasan kota Pamekasan ialah di Jungcangcang. Timbullah pertempuran yang hebat ditempat itu, tetapi tidak antara lama pasukan dari Bali hancur lebur, sehingga boleh dikatakan tidak seorangpun dari orang – orang bali yang dapat menyelamatkan diri. Dengan demikian, kedudukan Sukawati makin kuat dan namanya makin terkenal diseluruh Madura. Diceriterakan pula, bahwa dalam zaman kerajaan Sukawati pernah terjadi dua tahun lamanya daerah Pamekasan tidak ada hudjan turun. Rakyat sangat menderita, karena tidak dapat bercocok tanam dan tim­bullah penyakit busung lapar. Pada suatu malam Sukawati bermimpi, bah­wa tidak  jauh dari kota Pamekasan didaerah hutan dan rawa rawa bertempat tinggal seorang wali yang tidak mempunyai rumah, siang malam ia berselimutkan angin, beratapkan langit. Keesokan harinya Sukawati terus memerintahkan patihnya untuk mencari orang itu. Pepatih beserta beberapa Menteri terus berangkat mencari apa yang telah dipesan oleh rajanja. Ditempat rawa – rawa dan hutan, kelihatan banyak pohon yang telah tumbang. Siapakah kiranya yang menebang pohon itu?

Setelah dicari kian kemari, dijumpainya hanya seorang saja yang mene­bang pohon. Sewaktu ditanyakan, siapakah namanya, maka dijawab bah­wa ia bernama Kiyahi Agung Raba. Patih Pamekasan segera pulang dan menceriterakan segala sesuatunya kepada rajanja. Setelah Sukawati mendengar laporan tersebut, ia segera memerintahkan kepada Patih dan Menteri -Menterinja, supaya mereka menggerakkan tenaga rakyat untuk mendirikan rumah bagi wali tersebut (Kiyahi Agung Raba). Setelah rumah itu selesai dan ditempati oleh Kijahi Agung Raba, maka hujan segera turun dan orang – orang Pamekasan sangat bergembira dan berlomba-lomba berangkat untuk bercocok tanam.

Peristiwa lain semasa pemerintahan Ronggo Sukawati ialah pada suatu saat Panembahan Lemahduwur, Arosbaya datang ke Pamekasan bersama- sama dengan Menteri -menterinya untuk keperluan bersilaturrachmi. Sukawati menerima dengan cukup ramah tamah atas kunjungan Lemahduwur. Sete­lah beberapa lama berselang, Lemahduwur berkenan menangkap ikan dari rawa si Ko’ol dekat kota Pamekasan. Semua Menterinya dengan membuka pakaian luar disuruh melompat kedalam rawa untuk menangkap ikan. Su­kawati menyuruh Menteri-menterinya untuk membantu, dan Menteri dari Pameka­san itu tidak membuka pakaiannya sama sekali dan terjun kedalam air.

Entah karena apa, Lemahduwur setelah melihat peristiwa itu tanpa minta diri, terus pulang dengan diikuti oleh Menteri -menterinja. Sukawati setelah meli­hat tamunya pulang tanpa pamit, terus mengejarnya. Sesampainya di Sam­pang ia menanyakan kepada saudaranya, ialah Adipati Sampang, kemanakah tamunya pergi. Ia mendapat jawaban bahwa tamunya terus menuju Blega dan ditepi jalan dikampung Larangan tamunya itu berhenti sebentar menyandar disebuah pohon. Sukawati menghunus keris Jokopiturun dan ditusukkan kepada pohon kaju itu, dan ia terus kembali ke Pameka­san. Selang beberapa hari lamanya, Sukawati menerima surat dari isterinya Lemahduwur Arosbaya, bahwa suaminya meninggal dunia karena “bisul besar dipinggangnya. Setelah membaca berita itu, Sukawati marah pada dirinya dan diambilnja keris Jokopiturun terus dilemparkan kerawa si Ko’ol. Setelah keris itu dibuang, kedengaran suara : „Seumpama keris Jokopi­turun tidak dibuang, Jawa dan Madura hanya selebar daun kelor”. Setelah Sukawati mendengar suara itu, ia merasa sangat menyesal dan memerintahkan Menteri -menterinja mencari kerisnya didalam rawa- rawa . Tetapi sayang, keris itu tidak dapat diketemukan kembali.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 44-46

Riwayat Jokotole

Lahirnya Jokotole.
Diceriterakannya didalam sejarah Madura bahwa cucu Pangeran Bukabu mempunjai anak bernama Dewi Saini alias Puteri Kuning (disebut Puteri Kuning, karena kulitnya yang sangat kuning) kesukaannya bertapa. Dengan perkawinan bathin dengan Adipoday (suka juga bertapa), putera kedua dari Panembahan Blingi bergelar Ario Pulangjiwo, lahirlah dua orang putera masing2 bernama Jokotole dan Jokowedi. Kedua putera tersebut ditinggalkan begitu saja dihutan. Putera yang pertama, Jokotole, diketemukan oleh seorang Pandai Besi bernama Empu Kelleng didesa Pakandangan, didalam keadaan disusui oleh seekor kerbau yang putih. Sedangkan putera yang kedua, Jokowedi, diketemukan di Pademawu, juga oleh seorang Empu.
Kesenangan Jokotole sejak kecilnya ialah membuat senjata- senjata, seperti keris, pisau dan perkakas pertanian. Bahannya cukup dari tanah liat, akan tetapi Jokotole dapat merobahnya menjadi besi, demikian menurut ceritera. Pada suatu waktu Jokotole, setelah mencapai usia 6 (enam) tahun, Bapak angkatnya, Empu Kelleng Pakandangan, mendapat panggilan dari raja Majapahit (Brawijaja VII), untuk dimintakan bantuannya dalam pembuatan pintu Gerbang.

Djokotole bertugas di Madjapahit.
Selama 3 tahun dari keberangkatannya ke Majapahit, Empu Kelleng Pakandangan belum juga ada kabarnya, sehingga menggelisahkan dan mengkhawatirkan Nyai Empu Kelleng Pakandangan. Karena itu Nyai Emu Kelleng Pakandangan lalu menyuruh anaknya, yaitu Jokotole, untuk menyusul dan membantu ayahnya. Dalam perjalanannya melewati pantai selatan Pulau Madura, ia berjumpa dengan seorang tua didesa Jumiyang (Pandemawu) yang berseri-seri roman mukanya. Siapakah gerangan orang tua tersebut? Orang tua tersebut adalah pamannya sendiri, saudara dari ayahnja, yaitu Pangeran Adirasa, yang sedang bertapa didaerah itu. Orang tua tersebut memanggil Jokotole untuk datang kepadanya. Ketika Jokotole mendatanginya, Adirasa menceriterakan dari permulaan sampai akhir hal-ikhwal hubungan kekeluargaannya dan Juga ia memperkenalkan adik Jokotole yang bernama Jokowedi. Selain dari itu
Jokotole menerima nasehat – nasehat dari Adirasa, dan ia diberinya bunga melati oleh pamannya itu. Bunga melati itu disuruhnya makan sampai habis, supaya ia nantinya dapat menolong Bapak angkatnya yang mendapat kesusahan di Majapahit dalam pembuatan pintu Gerbang. Untuk penyelesaian pembuatan pintu Gerbang itu harus dipergunakan suatu alat perekat, perekat mana nantinya akan dapat keluar dari pusar Jokotole, sewaktu ia dibakar hangus. Karena itu nantinya ia harus minta bantuan orang – orang lain untuk membakar; dirinya, dengan pengertian kalau Jokotole telah hangus terbakar menjadi arang, perekat yang keluar dari pusarnya supaya segera diambil dan jika sudah selesai supaya ia segera disiram dengan air untuk dapat hidup kembali seperti sediakala. Jokotole diberinya petunjuk bagaimana caranya memanggil pamannya (Adirasa) apabila ia mendapat kesukaran. Selain mendapat nasehat – nasehat, juga ia men¬dapat seekor kuda hitam, bersayap (si Mega) sehingga kuda tersebut da¬pat terbang seperti burung Garuda, dan sebuah Cemeti dari ayahnya sendiri, Adipoday. Setelah Jokotole bersaudara dapat perkenan dari pamannya untuk berangkat ke Majapahit, sesampainya mereka dipantai Gersik men¬dapat rintangan dari penjaga – penjaga pantai, karena memang mereka mendapat perintah dari Rajanya untuk mencegat dan membawa dua orang bersaudara itu keistana. Perintah Raja ini berdasarkan mimpinya untuk mengambil menantu yang termuda dari dua pemuda sesaudara itu. Setelah diadakan pembitjaraan kompromis antara pihak pepatih dongan kedua orang bersaudara itu, datanglah mereka keistana. Ketika kedua orang sesaudara tadi diterima oleh Raja, diadakan ramah-tamah dan diutarakan niatan Raja menurut mimpinya. Karena itu dengan ikhlas Jo¬kotole meninggalkan adiknya dan melanjutkan perjalanannya menuju Majapahit. Setelah ia mendapat perkenan dari ayah angkatnya menemui Raja Majapahit, ia lalu ditunjuk oleh Raja sebagai pembantu Empu-empu. Pada saat bekerja sama dengan Empu-empu, Jokotole minta kepada Empu-empu, supaya dirinya dibakar sampai menjadi arang. Bila telah terbakar supaya diambilnya apa yang keluar dari pusarnya, danitulah nantinya dapat dijadikan alat perekat. Apa yang diminta oleh Jo¬kotole dikerjakan oleh Empu-empu sehingga pintu gerbang jang tadinya belum .dapat dilekatkan, maka sesudah itu dapat dikerjakan sampai selesai. Setelah bahan pelekatnya di¬ambil dari pusar Jo¬kotole, ia lalu disiram dengan air sehingga dapat hidup kembali seperti biasa.
Selanjutnja jang mendjadi persoalan jalah pintu gerbang tadi tidak dapat didirikan oleh Empu-empu, karena beratnya. Dengan bantuan Jo¬kotole yang memperoleh kekuatan dari pamannja Adirasa yang tidak menampakkan diri, pintu gerbang yang besar itu dapat segera ditegakkan, sehingga perbuatan tersebut menakjubkan bagi Raja, Pepatih, Menteri – menteri dan Empu-empu lainnya. Bukan saja dibidang tehnik, Jo¬kotole memberikan jasa- jasanya yang besar, bahkan dibidang pertahanan Kerajaan Majapahit banyak pula bantuannya, misalnya dalam pengamanan dan penaklukan Blambangan. Atas jasa- jasanya yang besar itu Raja Majapahit berkenan menganugerahkan puteri Mahkota yang bernama Dewi Mas Kumambang. Tetapi karena hasutan Pepatihnya, maka keputusan untuk mengawinkan Jo¬kotole dengan Dewi Mas Kumambang ditarik kembali dan diganti dengan Dewi Ratnadi yang waktu itu buta karena menderita penyakit cacar. Sebagai seorang ksatria Jokotole menerima saja keputusan Rajanya.

Jokotole dengan istrinya pulang ke Sumenep.
Setelah beberapa lama tinggal di Majapahit, Jokotole minta diri untuk pulang ke Madura dan membawa isterinya yang buta itu. Dalam perjalanan kembali ke Sumenep, sesampainya dipantai Madura, isterinya minta idzin untuk buang air. Karena di tempat tersebut tidak terdapat air, maka tongkat isterinya diambil oleh Jokotole dan ditancapkan ditanah, sehingga keluarlah air yang kebetulan mengenai mata yang buta itu, maka tiba- tiba Dewi Ratnadi dapat membuka matanya, sehingga dapat melihat kembali. Karena itu tempat tersebut diberi nama „Socah”, jang artinja mata. Didalam perjalanannya ke Sumenep banyaklah kedua suami isteri itu menjumpai hal- hal yang menarik dan memberi kesan yang baik. Misalnya sesam¬painya mereka di Sampang, Dewi Ratnadi ingin mencuci kainnya yang kotor karena ia sedang menstruasi (haid). Kain jang dicucinya itu dihanyutkan oleh air sehingga tidak dapat diketemukan lagi. Kain dalam ter¬sebut oleh orang Madura disebut „amben”. Setelah isterinya itu kehilangan amben, maka berkatalah Jokotole, mudah- mudahan sumber ini tidak keluar dari desa ini untuk selama-lamanja. Sejak itulah desa tersebut disebut orang desa Omben. Sewaktu Jokotole menemui ayahnja ditempat pertapaan digunung Geger, diberitahunja bahwa ia nantinja akan berperang dengan seorang perajurit yang ulung bernama Dempo Abang (Sampo Tua Lang), seorang Panglima perang dari Negeri Cina jang menunjukkan kekuatanya kepada semua Raja –raja ditanah Jawa, Madura dan sekitarnya. Pada suatu ketika (demikian menurut ceritera), waktu Jokotole bergelar Pangeran Secoadiningrat III memegang pemerintahan di Sumenep ( ± tahun 1415), datanglah musuh dari negeri Cina jang dipimpin oleh Sampo Tua Lang dengan berkendaraan Kapal Layar yang dapat berlayar dilaut, diatas gunung diantara bumi dan langit.
Didalam peperangan itu, Pangeran Secoadiningrat III mengendarai Kuda Terbang, sesuai dengan petujuk dari pamannya (Adirasa). Pada suatu saat setelah ia mendengar suara dari pamannya, yang berkata : „ Pukul maka Jokotole menahan kekang kudanya dengan keras sehingga kepala dari kuda itu menoleh kebelakang dan ia sendiri menoleh sambil memukulkan cemetinya (cambuknya) yang mengenai kendaraan musuhnya sehingga hancur luluh jatuh ditanah. Dari kejadian-kejadian inilah, maka kuda terbang yang menoleh kebelakang dijadikan Lambang bagi daerah Sumenep. Sebenarnya sejak Jokotole bertugas di Maja¬pahit sudah memperkenalkan lambang kuda terbang. Di pintu gerbang dimana Jokotole ikut membuatnya terdapat gambar seekor kuda memakai sayap, dua kaki belakang ada ditanah, sedang dua kaki muka diangkat kebelakang. Demikian pula di Asta Tinggi Sumenep di salah satu congkop (koepel) terdapat gambar kuda terbang yang dipahat diatas manner. Juga dipintu gerbang rumah Kabupaten (duhulu Keraton) Sumenep ada lambang kuda terbang. Di museum Sumenep juga terdapat lambang kerajaan yang ada kuda terbangnya. Karena itu sudah sewajarnyalah kalau sampai sekarang Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep mempergunakan lambang kuda terbang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEJARAH MADURA SELAYANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp, Sumenep 1971, hlm. 8-11

Berakhirnya Pemerintahan Jokotole (tahun 1460).

Berakhirnya Pemerintahan Jokotole (tahun 1460).

Pada akhirnya diceriterakan bahwa Jokotole (Secoadiningrat III) memegang pimpinan pemerintahan di Sumenep sampai berumur lanjut dengan sangat memuaskan bagi semua lapisan masyarakat. Pada suatu waktu datanglah utusan dari Bali dengan menaiki sebuah kapal dan membawa surat, bahwa putera mahkota Bali akan datang berkunjung ke Sumenep, kedatangan mereka disambut dengan baik oleh raja Sumenep. Tetapi sesampainya diistana, entah sebab apa, mereka tiba – tiba mengamuk sehingga banyak orang – orang yang mati terbunuh atau luka – luka. Juga Jokotole mendapat luka – luka. Ia lalu dibawa lari dengan dipikul memakai tandu menuju kekeraton lama di Banasareh. Diperjalanan Jo­kotole meninggal dunia. Ditempat, dimana ia meninggal dunia, sukar sekali dicari air untuk memandikan jenazah. Karena itu Raden Ario Begonondo (putera Djokotole) menancapkan tongkat ibunya yang dipakai di Socah, dan keluarlah air dari tanah.

Tempat itu lalu disebut desa Sa-asa, jang artinja tempat untuk mencuci.

Jokotole lalu dikuburkan didesa Landjuk berbatasan dengan Sa-asa, sekarang termasuk kecamatan Manding. Adik dari Jokotole, Jokowedi mendengar adanja pertempuran dengan orang – orang  Bali di Sumenep. Ia segera datang untuk membantunya. Setelah orang – orang Bali melihat Jokowedi, dikiranya Jokotole dapat hidup kembali, karena wajah Jokowedi mirip sekali dengan wajah kakaknya. Dengan demikian orang – orang Bali ketakutan dan lari tunggang langgang kekapalnja. Ceritera kehidupan dan perjuangan Jokotole banyak mengandung legenda.

Sampai dimanakah batas – batas kebenarannya, jika ditinjau dari segi sejarah, kami tidak berani menentukan, karena persoalan ini masih raemerlukan penyelidikan yang lebih mendalam. Kami telah mengadakan peninjauan ke „ kuburan nyamplong “, dimana Adipoday dimakamkan, demikian pula kekuburan Jokotole, tetapi kedua tempat yang dianggap keramat oleh rakyat itu, tidak menunjukkan bentuk kuburan zaman Jokotole. Kemungkinan besar bentuk kuburan yang lama telah diganti sama sekali dengan bentuk kuburan zaman sekarang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 31-33

Adipoday dipulau Sepudi.

Adipoday (ayah dari Jokotole) menjumpai Puteri Kuning (Ibu Jokotole) di Sumenep untuk diajak ke Sepudi. Waktu itu di Sepudi diperintah kakek dari Jokotole ialah Panembahan Blingi (Wlingi). Setelah beliau meninggal dunia, Adipoday menggantikan ayahnya dengan bergelar Penembahan Wiroakromo, menjalankan pemerintahan disemua kepulauan disekitar Sepudi. Panembahan ini terkenal sudah memeluk agama Islam, siang dan malam suka memegang tasbeh da­ri buah pohon nyamplong. Karena itu banyaklah orang dianjurkan menanam pohon nyamplong tersebut. Keraton yang ia tempati, disebut orang desa Nyamplong.

Adipoday juga meninggal ditempat itu dan kuburannya disebut Asta Njamplong, jang hingga sekarang masih juga banyak dikunjungi orang untuk berziarah.

Diceriterakannya bahwa Adipoday. memang menjalankan pemerintahan sangat bijaksana dan apa yang mendjadi cita -citanja dapat direalisir dengan baik. Pohon nyamplong yang dianjurkan untuk ditanam ternyata kayunya sangat baik untuk didjadikan alat- alat perahu. Pulau Sepudi sejak dahulu terkenal pula dengan sapinya. Sapi kerapan yang dilombakan di Madura, yang menang pada umumnya berasal dari Sepudi. Setiap tahun pulau Sepudi mengeluarkan sapi begitu banyak, yang kelihatannya ti­dak seimbang dengan keadaan dan luasnya pulau tersebut. Menurut kepercayaan orang, keadaan demikian itu disebabkan karena cara – cara Adipodaj memelihara ternak itu tetap tertanam dalam hati sanubari rakjat dan rakjat tidak berani merobahnya. Petunjuk- Petunjuk Adipoday da­lam pemeliharaan ternak dan pertanian dianggap mempunyai kekuatan magis untuk diikutinya. Pelanggaran dianggap akan menimbulkan bahaya. Juga menjadi kebiasaan rakyat Sepudi, jika ada wabah penyakit menyerang penduduk disana, mereka mengeluarkan alat – alat peninggalan Adipoday (Tjalo’, kodi dsb.nja) untuk diarak, guna menolak adanja wabah penjakit tersebut.

Keadaan pulau Kangean.

Pulau lain jang perlu disebut disini ialah pulau Kangean. Pulau ini juga sudah terkenal sedjak zaman Madjapahit. Prapanca dalam kitabnya Nagara-Kertagama menulis sebagai berikut :

Sjair 15 (2).

Kunang tekang nusa Madhura tanami lwir parapuri ir denjan tunggal mwang Yamadharani rakwekana dengu………………………

Sjair 14 (5). Ingkang sakasanusa Makasar Butun Bangawi Kuni Ggaliyao mwang i (ing) Salaya Sumba Solot muar………………………

Djadi pulau Sepudi pada zaman Madjapahit disebut Ggaliyao. Dipulau ini pada zaman itu sudah ditempatkan seorang Adipati. Semula pu­lau tersebut adalah tempat pembuangan orang – orang jang mendapat hukuman berat dari raja. Tetapi karena tanahnja subur (sawah, ladang) dan banyaknya penghasilan yang didapat dari lautan (ikan, akar bahar dsb. nya) beserta hasil hutannya, maka lambat laun pulau itu menjadi pusat perdagangan dan banyak orang- orang dari Sumenep dan dari daerah lain yang menetap di Kangean.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm. 12-13

Permulaan Sejarah Jawa Dan Madura

Menurut ceritera purbakala (± tahun 78) datanglah Aji Saka dari Negeri Campa yang memperkenalkan kebudayaan Hindu kepulau Jawa dan Madura. Pada saat itu mulai diadakan perhitungan tahun Saka dan memperkenalkan huruf: anacaraka, data sawala, padajayanya, magabatanga.

artinya : dua orang pengikut Aji Saka, tersentuh dalam perkelahian, sama-sama menunjukkan kekuatan, mereka hancur lebur menjadi bangkai.

Dengan demikian setahap demi setahap kebudajaan Hindu mulai tersebar dan menurut ceritera sekaligus orang Jawa dan Madura diperkenalkan kepada agama baru ialah adanya kepercayaan terhadap : Brahma, Syiwa dan Wisynu.

Beberapa abad kemudian, diceriterakan, bahwa ada suatu negara yang disebut Mendangkamulan dan berkuasalah seorang Raja yang bernama Sanghyangtunggal. Waktu itu pulau Madura merupakan pulau yang terpecah belah, yang tampak ialah Gunung Geger didaerah Bangkalan dan Gunung Payudan didaerah Sumenep. Diceriterakan selanjutnya bah­wa Raja itu mempunyai anak gadis bernama Bendoro Gung. Pada sua­tu waktu anak itu hamil dan diketahui oleh ayahnya. Ayahnya beberapa kali menanyakan, tetapi anaknya tidak tahu pula, apa sebabnya ia hamil. Raja amat marah dan dipanggillah pepatihnya yang bernama Pranggulang untuk membunuh anaknya itu.

Selama Pepatih itu tidak dapat membuktikan bahwa anak itu sudah dibunuh, ia tidak boleh kembali kekerajaan. Patih Pranggulang menyanggupinya dan ia terus membawa anak Raja yang hamil itu kehutan. Pranggulang sesampainya dihutan ia terus menghunus pedangnya dan mengayunkan keleher gadis itu. Tetapi setelah ujung pedang hampir sampai mengenai leher Bendoro Gung itu, pedang tersebut jatuh ketanah. Demikianlah sampai berulang tiga kali. Pranggulang akhirnya meyakinkan dirinya bahwa hamilnya Bendoro Gung bukanlah hasil karena perbuatannya sendiri.

Karena itu ia tidak melanjutkan untuk membunuh anak raja itu, tetapi ia memilih lebih baik tidak kembali kekerajaan. Pada saat itu ia merobah nama dirinja dengan nama Kiyahi Poleng dan pakaiannya diganti pula dengan poleng (arti poleng, ialah kain tenun Madura), Ia lalu membuat rangkaian kayu- kayu (bahasa Madura ghitek) dan gadis yang hamil itu didudukkan diatasnya, serta ghitek itu dihanyutkan menuju kepulau „Madu-oro”. Inilah asal nama pulau Madura. Sebelum berangkat Kiyahi Poleng memesan kepada Bendoro Gung, djika ada keperluan apa- apa, supaya ia memukul-mukulkan kakinya diatas tanah/lantai dan pada saat itu Kiyahi Po­leng akan datang untuk membantunya.

Selanjutnja „ghitek” itu terus menuju “madu-oro“ dan terdamparlah digunung Geger. Si-Gadis hamil itu terus turun.

Lahirnya Raden Sagoro.

Pada suatu saat sigadis hamil itu merasa perutnya sakit dan segera ia memanggil Kiyahi Poleng. Tidak antara lama Kiyahi Poleng datang dan ia mengatakan bahwa Bendoro Gung akan melahirkan anak. Tak lama lagi lahirlah seorang anak laki- laki yang roman mukanya sangat bagus dan diberi, nama „Raden Sagoro” (sagoro = laut). Dengan demikian Ibu dan anaknya yang bernama Raden Sagoro adalah menjadi penduduk pertama dari pulau Madura.

Perahu- perahu yang banyak berlayar disekitar pulau Madura sering melihat adanya cahaya yang terang ditempat dimana Raden Sagoro berdiam, dan seringkali perahu- perahu itu berhenti berlabuh dan mengadakan selamatan di­tempat itu. Dengan demikian tempat tersebut makin lama makin men­jadi ramai karena sering kedatangan tamu tamu terutama yang niatnya dapat terkabul untuk maksud maksud kepentingan peribadinya. Selain dari pada itu pa­ra pengunjung memberikan hadiah – hadiah kepada lbu Raden Sagoro maupun kepada anak itu sendiri. Selandjutnja setelah Raden Sagoro mentjapai umur 3 tahun ia sering bermain ditepi lautan dan pada suatu saat datanglah 2 ekor ular naga yang sangat besar mendekati dia. Dengan ketakutan ia lari menjumpai ibunya dan menceriterakan segala sesuatu apa yang dihatnya. Ibunya merasa sangat takut pula karena itu ia memanggil Kiyahi Poleng. Setelah Kiyahi Poleng datang, Bendoro Gung menceriterakan apa yang telah dialami oleh anaknya. Kiyahi Poleng mengajak Raden Sagoro untuk pergi ketepi pantai.

Pada saat itu memang benar datanglah 2 ekor ular raksasa dan Kiyahi Poleng menyuruh Raden Sagoro supaya 2 ekor ular itu didekati dan selanjutnya supaya ditangkap dan dibanting ketanah. Setelah dikerjakan oleh Raden Sagoro maka 2 ekor ular raksasa tersebut berubah mendjadi 2 buah tombak. Tombak itu oleh Kiyahi Poleng diberi nama Si Nenggolo dan Si Aluqoro. Kiyahi Poleng mengatakan supaya si Aluqoro disimpan dirumah saja dan si Nenggolo supaya dibawa apabila pergi berperang. Setelah Raden Sagoro berumur 7 tahun berpindahlah tempat mereka dari Gunung Geger kedekat Nepa. Didesa Nepa itu memang penuh dengan pohon nepa dan letaknya sekarang ada di Ketapang ( Kabupaten Sampang) dipantai Utara jang sekarang banyak keranya.

Selanjutnja diceriterakan, Radja Sanghyangtunggal dinegara Mendangkamulan, kedatangan musuh dari negeri Cina. Didalam peperangan tersebut Mendangkamulan berkali-kali menderita kekalahan, sehingga rakyatnya hampir musnah terbunuh. Pada suatu malam ia bermimpi kedatangan seseorang jang sangat tua dan berkata bahwa di pulau Madu-oro (Madura) bertempat tinggal anak muda bernama Raden Sagoro. Raja dianjurkan untuk minta bantuan Raden Sagoro, jika didalam peperangan ingin menang.

Keesokan harinya Raja memerintahkan pepatihnya untuk datang ke Madu­ra, menjumpai Raden Sagoro guna minta bantuan. Sesampainya Patih tersebut di Madura, ia terus menjumpai Raden Sagoro mengemukakan kehendak rajanja. Ibu Raden Sagoro mendatangkan Kiyahi Poleng dan minta pendapatnya, apakah kehendak Raja dikabulkan atau tidak. Ternyata Kiyahi Poleng merestui agar Raden Sagoro berangkat kekerajaan Mendangkamulan untuk membantu Raja didalam peperangan. Raden Sagoro berangkat dengan membawa senjata si Nenggolo. Kijahi Poleng ikut serta, tetapi tidak tampak kepada orang. Sesampainya dikeradjaan Mendangkamulan terus berperanglah ia dengan tentara Cina. Begitu si Nenggolo diarahkan kepada sarang musuh, maka banyak tentara musuh tewas karena kena penjakit. Akhirnja raja Mendangkamulan atas bantuan Raden Sagoro menang didalam peperangan dengan tentara Cina dan setelah itu Raja mengadakan pesta besar karena dapat mengusir musuhnya. Raja bermaksud mengambil Raden Sagoro sebagai anak menantunya. Ditanyakanlah kepadanya, siapa sebenarnya orang tuanya. Raden Sa,goro minta idzin dahulu untuk pulang ingin menanyakan kepada Ibunya. Sesampainja di Madura ia menanyakan kepada Ibunya siapa gerangan ayahnya.

Ibunya kebingungan untuk menjawabnya. Pada saat itu pula Ibu dan anak nya lenyaplah dan rumahnya disebut keraton Nepa. Diceritakan selanjut­nya bahwa menurut kepercayaan orang, dua buah tombaknya (si Nenggolo dan si Aluquro) pada akhirnya, sampailah ketangan Pangeran Demang Palakaran, Raja Arosbaya. Karena itu sampai saat sekarang dua tombak tersebut menjadi pusaka Bangkalan.

Demikianlah diceriterakan adanya penduduk pertama dipulau Madura. Dari segi sejarah memang masih perlu dicek kebenarannya, tetapi ka­rena ceritera ini kuat beredar dan menjadi legenda (dongengan) dari generasi-kegenerasi, kami anggap perlu untuk dihidangkan kepada para penggemar sejarah. Ceritera-ceritera berikutnyapun masih juga mengandung ceriteraceritera yang ditulis dalam buku Babad jang masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut untuk dimasukkan didalam sejarah yang tujuannya mencari kebenaran dari obyeknya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: SEDJARAH MADURA SELAJANG PANDANG ; MELIPUTI KABUPATEN : SUMENEP, PAMEKASAN, SAMPANG, BANGKALAN, cet. II, aumatic the sun smp,Sumenep 1971, hlm.1-4