Masjid di Jawa Timur

Kata msgd, terbentuk dari asal kata s-g-d yang berarti menyerahkan diri, menyujudkan diri, meniarapkan diri ( to prostrate oneself ). Dalam bahasa Aramea kata tersebut berarti tonggak prajasti ( semacam Yupa ), tiang suci ( menhir ) atau mungkin pula berarti tempat pemujaan. Masjid dalam bahasa Arab, rupanya berasal dari kata bahasa Aramea tersebut atau mungkin merupakan bentukan dari kata bahasa Arab ‘sujada’, yang juga berarti menyujudkan diri. 20.)

Kata masjid dalam al Qur’an terutama dipergunakan untuk menyebut al Masjid al Haram serta al Masjid al Aksa, demikian juga dipergunakan untuk menyebut tempat-tempat suci lainnya yang tidak diperuntukkan bagi agama Islam. Di Mekah pada mulanya masyarakat Islam tidaklah memiliki tempat khusus untuk melakukan salat. Muhammou sendiri bersama-sama Ali dan pengikut- pengikutnya yang pertama, melakukan salat disuatu lembah sempit yang tersembunyi letaknya. Kemudian hari dilakukannya disamping ka’bah atau dirumahnya sendiri.

Dengan demikian nampaklah bahwa bagi Muhammad, bangunan suci bukanlah merupakan suatu kebutuhan yang fundamentil. Setiap tempat adalah sama bagi Tuhan, karnanya maka menyujudkan diri dimanapun juga dapat dilakukan. Muhammad berkata bahwa ia telah diberikan seluruh dunia untuk dijadikan sebagai suatu masjid. Sementara itu Muhammadpun pernah melakukan salat dalam suatu Gereja dan berkata : ‘Dimanapun kamu berada, bila waktu salat telah tiba, kamu harus melakukan salat dan itulah Masjid’. 21.)

Di Madinah Muhammad membeli sebidang tanah dari dua orang anak yatim piatu untuk dijadikan masjid dan menurut tradisi letaknya pada tempat untanya berhenti ketika akan memasuki kota tersebut. Tempat ini penuh dengan makam-makam, puing-puing dan pohon-pohon kurma yang diper­gunakan untuk menambatkan unta. Tempat ini dibersihkan, pohon-pohon kurma ditebang dan bangunanpun didirikan. Bangunan ini dibuat dari batu bata yang dijemur dalam terik panasnya matahari ( labin ), dan terwujudlah sebuah masjid yang merupakan sebuah halaman dikelilingi tembok bata dengan dasar batu, dan memiliki tiga buah pintu masuk. Pintu-pintu tersebut terbuat dari batu. Pada sisi kibla ( yaitu dinding Utara ), batang-batang kurma ditegak- kan sebagai tiang-tiang dan beratapkan daun kurma yang dilapisi dengan tanah liat. Disisi Timur dua buah pondok didirikan dengan menggunakan bahan yang serupa, dan diperuntukkan bagi istri-istri nabi. Pondok-pondok ini kian lama bertambah jumlahnya. Ketika kibla dipindahkan, atap pada dinding utara dibiarkan tinggal tetap dan ruangan ini kemudian disebut Suffa atau Zulla, yang dipergunakan sebagai tempat berteduh bagi mereka yang tak memiliki rumah. Diselatanpun pada sisi kiblanya kemungkinan diberi pula beratap dan dipergunakan oleh nabi untuk tempat berkhotbah.

Masjid ini merupakan halaman rumah nabi yang sering dipergunakan sebagai tempat-tempat pertemuan, dan sebagai tempat salat bersama. Jelas pada mulanya masjid tak menunjukkan sifat-sifat sacraal keagamaan. Masjid adalah tempat melakukan jema’ah bersama sekeliling nabi serta tempat ber- langsungnya kehidupan social. Dari tempat ini Muhammad mengatur kehidupan agama dan politik masyarakat Islam. Dalam perkembangan selanjutnya, dengan perluasan agama Islam, masjid lebih disempurnakan dan memperoleh bentuk berbagai macam gaya arkhitektur dari daerah-daerah yang didatanginya.

Masjid Jawa Timur

Bagaimanakah halnya dengan masjid-masjid dipesisir Utara Jawa Timur ? Kemungkinan keadaannya tidaklah jauh berbeda dengan kenyataan-kenyataan tersebut diatas. Bagi pendatang-pendatang Islam dipesisir Utara Jawa Timur, pada mulanya masjid bukanlah merupakan kebutuhan yang sangat pokok, karena dimanapun mereka datang dan berada, mereka dapat melakukan salat ataupun dakwah dan itulah sesungguhnya masjid bagi mereka. Tetapi bila harus ditanyakan bagaimanakah bentuk dan wujud masjid-masjid pertama dipesisir Utara Jawa Timur, kiranya sulitlah untuk diperoleh suatu jawaban yang meyakinkan, karena memang pada kenyataannya hingga kini kita telah ketiadaan berita-berita tertulis. Berdasarkan tradisi serta leluri-leluri dipesisir Utara Jawa Timur, beberapa makam dan masjid dikatakan kuno, kramat dan merupakan peninggalan-peninggalan Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Nur Rachmat, Ibrahim Asmara dan Sunan Bonang.

Walaupun disana sini jejak-jejak kekunoannya masih dapat terlihat bahkan disertai pula dengan angka-angka tahun dan candrasangkala, sebagai yang terdapat pada Masjid Giri dan Sendang Duwur, namun dalam bentuk keseluruh- annya tidaklah dapat lagi dikatakan berasal dari masa-masa hidupnya para Sunan tersebut diatas. Angka-angka tahun yang terdapat, diantaranya menun­jukkan saat-saat pemugaran dilakukan, bahkan perbaikan-perbaikan dan pe- nambahan-penambahan bagian-bagiannya tetap berlangsung terus dan ada kalanya tanpa sepengetahuan dan pengawasan Lembaga Purbakala hingga sulit untuk ditrasir kembali bentuknya yang semula.

Usaha-usaha untuk mencoba mengetahui bagaimana bentuk semula dari masjid-masjid dalam kehadirannya dipesisir Utara Jawa Timur muncul dari beberapa sarjana sejarah antara lain sebagai berikut. Menurut penelitian Dr. W.F. Stutterheim, bangunan masjid tersebut dasarnya diambil dari bentuk bangunan gelanggang sabungan ayam dengan pertimbangan bahwa bangunan inilah yang terbesar, yang dijumpai pada saat masyarakat Islam di Jawa me- merlukan adanya bangunan masjid untuk salat bersama. 22.)

Pendapat ini disangkal oleh Dr. H.J. de Graaf dengan dasar :

  1. Gelanggang ayam adalah suatu tempat untuk berjudi, tak mungkin orang-orang Islam akan memilih bangunan yang kurang pada tempatnya ini.
  2. Gelanggang-gelanggang sabungan ayam yang pernah ada, tak memiliki atap bertingkat.
  3. Gelanggang-gelanggang sabungan ayam ini hanya terdapat di Bali dan Jawa tetapi mengapa pengaruhnya demikian luas ?

De Graaf menekankan bahwa prototype masjid-masjid di Jawa berasal dari Gujarat karna pada umumnya masjid-masjid ini mempunyai atap bertingkat serta dilingkungi parit-parit sebagai selokan untuk mengambil air wudlu. 23.)

Hal ini kurang dapat diterima oleh Dr. Soetjipto Wirjosoeparto dengan melihat kenyataan bahwa denah masjid di India tersebut berlainan, disamping itu masjid yang terdapat di Gujarat tak memiliki selokan untuk berwudlu. Dalam usahanya memecahkan persoalan ini selanjutnya Soetjipto Wirjosoeparto mencari prototype bangunan masjid di Jawa pada pandapa-pandapa rumah dengan pertimbangan bahwa :

  1. Bangunan masjid di Jawa dalam keseluruhannya mengambil bentuk bangunan yang telah ada sebelumnya.
  2. Pandapa-pandapa denahnya persegi ( perhatikan pandapa-pandapa yang masih terdapat dikomplex pemakaman Sunan Bonang dan Sunan Drajat).
  3. Atap masjid adalah merupakan penyempurnaan bentuk atap joglo. 24.).

Akhirnya bagaimanapun juga, sampai sedemikian jauh, masih tetap belum diperoleh suatu kepastian tentang bentuk semula dari masjid-masjid yang pertama kali didirikan dipesisir Utara Jawa Timur sebagai akibat ketiadaan data-data arkheologis.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Issatriadi: Kekunoan Islam Pesisir Utara Jawa Timur, Proyek Rehabilitasi Dan Perluasan Museum Jawa Timur 1976-1977, hlm. 15 – 17

KH. Ahmad Sahal, Kabupaten Ponorogo

22 mei  1901, KH. Ahmad Sahal lahir di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. putera kelima dari Kyai Santoso Anom Besari.

Sekolah  Rendah (Vervolk School) atau Sekolah  Ongko Loro. Setamat  Sekolah   Rendah   beliau  mondok di berbagai  pondok pesantren diantarnya adalah pondok  pesantren  Kauman Ponorogo; pondok  Joresan Ponorogo; pondok Josari  Ponorogo; Pondok Durisawo  Ponorogo; Siwalan Panji Sidoarjo; Pondok Termas Pacitan.

Tahun 1919-1921, beliau  masuk  ke sekolah Belanda Algemeene Nederlandsch Verbon  ( Sekolah pegawai di Zaman penjajahan Belanda).

Tahun 1926, menjadi utusan ummat Islam daerah Madiun ke Kongres Ummat Islam Indonesia di Surabaya. Di tahun ini pula membuka kembali Pondok Gontor dengan program pendidikan yang dinamakan “Tarbiyatu-l-Athfal“.

Tahun 1927,  mendirikan Pandu Bintang Islam dan klub olah raga dan kesenian yang diberi nama “RIBATA” (Riyadhatu-l-Badaniyah Tarbiyatu-l-Athfal).

Tahun 1929, mendirikan kursus Kader dan Barisan Muballigihin yang berakhir hingga tahun 1932.

Tahun 1935, beliau mengetahui Ikatan Taman Perguruan Islam (TPI), yaitu suatu ikatan sekokolah-sekolah yang didirikan oleh alumni-alumni TA di desa-desa sekitar gontor.

Tahun 1937, mendirikan organisasi pelajar Islam yang di beri nama “Raudlatu-l-Muta’allimin”. Selain itu beliau juga mendirikan dan memimpin Tarbiyatu-l-Ikhwan (Barisan Pemuda) dan Tabiyatu-l-Mar’ah (Barisan Wanita).

9 April 1977 tepat jam 19.00 WIB,  beliau wafat menghadap Allah SWT, pada umur 76 tahun. Meninggalkan seorang istri (Nyai Sutichah Sahal) dan sembilan orang putra dan putri, mereka itu adalah:

1) Drs. H. Ali saifullah, alumni Fak. Pedagogy UGM,

2) Ir. Moh. Ghozi, alumni Fak. Pertanian UGM,

3) Siti Arsiyah Zaini (istri Drs. H.M. Zainy).

4) Dra. Ruqoyyah Fathurrahman, alumni Fak. Ilmu Pendidikan IKIP Jakarta.

5) Siti Utami Bakri SH., alumni Fak. Hukum Unibraw Malang,

6) KH. Hasan Abdullah Sahal, alumni Universitas Islam Madinah dan Al-Azhar Cairo, salah seorang Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor,

7) Dra. Aminah Mukhtar, M.Ag., alumni S 2 Universitas Muhammadiyah Malang, Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper, Jetis , Ponorogo.

8) H. Ahmad Tauhid Sahal, Guru KMI Pondok Modern Darussalam Gontor.

9) Drs Imam Budiono, alumni Fak. Tarbiyah IAIN Yogyakarta

KH. Ahmad Sahal  salah satu Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo bersama 2 orang lainnya KH Zainuddin Fananiedan KH Imam Zarkasyi.

=S1Wh0T0=

Sumber: http://gontor.ac.id/pimpinan/kh-ahmad-sahal