Sejarah Reyog Ponorogo

Reog Panaraga sebagai pertunjukan satire, olok-olok, atau sindiran, tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan sasaran yang dijadikan olok-olok tersebut. Sasaran itu bermacam-macam. Dapat menunjuk pada situasi masyarakat umum, atau tertentu, dalam kurun waktu tertentu pula, atau kepada seseorang tokoh terpandang, yang sedikit banyak mempunyai pengaruh terhadap kehidupan atau penghidupan orang banyak, biasanya seorang pejabat atau penguasa. Atau dapat pula merujuk kepada suatu keadaan politik. Menurut kamus Van Dale, satire berarti: “hekeldicht, hekelend geschrift; hekelende, bijtende uitdrukking; daad welke dient om ene andere (of een persoon) in een kwaad of bespottelijk daglicht te plaatsen,” yang artinya: “sastra atau’ tulisan” yang mengandung kebencian; ungkapan yang melontarkan rasa benci secara tajam; perbuatan (ulah) dengan maksud menempatkan sesuatu (atau seseorang dalam sorotan yang mengundang kebencian atau cemoohan.” Di sini terasa sekali tekanannya kepada “kebencian” ,sebagai motivasinya.

Tetapi suatu sifat yang khas dalam dunia kebujanggaan Jawa tempo dulu, yalah, bahwa satire-satire yang dllontarkan dalam berbagai ungkapan, (sastra, ulah, pertunjukan, dan lain-lain sebagilinya), betapa pun tajamnya, namun cenderung tidak inenaburklln rasa kebencian. Inilah yang membedakannya dengan satire-satire barat atau Indonesia modern. Ungkapan-ungkapan satire Jawa sudah dibesut sedemikian rupa, sehingga ketajaman olok-oloknya itu tidak lagi nampak , atau terasa, kalau tidak diterima dengan kearifan atau ketajaman tanggap rasa. Artinya, bagi yang tidak arif, satire demikian diterima apa adanya; sebagai lelucon, sebagai lawakan, membuat kita ketawa, membuat puas, habis. Biasanya, yang merasakan ketajaman olok-olok yang dilontarkan oleh satire-satire Jawa demikiap., yalah orang yang bersangkutan yang menjadi sasaran. Publik lain tidak merasakan olok-oloknya, atau tidak melihat adanya olok”olok yang ditujukan kepada sesuatu atau seseorang. Dengan demikian, maka sifat menghasut atau membangkitkan sentimen publik terhadap sasaran olok-olok, tidak ada sarna sekali. Di sini sifat rasa “ngeman” (sayang) lebih diutamakan.

Demikian pula Reog Panaraga sebagai pertunjukan satire Karena sublimnya penggarapan, tidak terasa betapa tajamnya sebenarnya olokolok yang ditujukan terhadap suatu keadaan. Untuk dapat menangkap apa yang tersirat dalam satire pertunjukan Reog Panaraga; kita perlu meninjau latar belakang sejarahnya. Jaman kapan terciptailya pertunjukan tersebut, siapa penciptanya, apa motivasinya, lalu · bagaimana perkembangan selanjutnya. Dari sumber tradisi seperti Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha, raja-raja Demak menyatakan dirinya sebagai keturunan dari Prabu Brawijaya, raja Majapahit. Bahkan di Purwaka Caruban Nagari, disebutkan dengan jelas, bahwa Raden Patah adalah anak Prabu Brawijaya Kertabumi (Brawijaya V). Raja Kertabumi ini merebut kekuasaan Majaphit dad tangan Bra Pandhan Salas Dyah Suraprabawa (Briwijaya IV) yang masih kemenakannya, dengan jalan menyingkirkannya dari keratonnya di Tumapel pada tahun Syaka 1390 (= 1468 Masehi). Pada tahun Syaka 1400 (1278 M) kekuasaan atas tahta kerajaan Majaphit dapatdirebut kembali oleh anak Bra Pandhan Salas, yaitu Dyah Ranawijaya Girindrawardana (Brawijaya VI) dengan mengadakan penyerangan ke Majapahit. Dalam penyerangan Ranawijaya ini Bra Kertabumi gugur di kraton. Peristiwa gugurnya Bra Kertabumi di kraton Majapahit ini tersimpul dalam candra sangkala “sirna-ilang-kertaning-bumi” (= 1400 syaka, atau 1478 Masehi).

Panaklukan kerajaan Majapahit kemudian oleh Demak, dapat dianggap sebagai tindakan balasan . Adipati Unus (anak Raden Patah) terhadap Girindrawardana Dyah Ranawijaya, yang telah mengalahkan neneknya Bra Kertabumi. Demikianlah gambaran sejarah Majapahit Akhir, yang ditandai aengan persaingan dan pertikaian antar kerabat raja, sehingga kedudukan kerajaan yang pernah mencapai puncak jaman keemasannya, makinlama makin suram dan goyah. Antara klik yang satu dan klik yang lain saling berebutan Pengaruh. Ditambah dengan masuknya agama Islam yang sudah mulai banyak dipeluk oleh kalanga·n kraton sendiri, semakin menambah tajamnya pertentangan. Dalam masa pemerintal}.an Bra Kertabumi, yang dalam sastra babad lebih dikenal dengan sebutan Brawijaya yang terakhir, (yang sebenarnya bukan terakhir), salah seorang pembesar pembantunya, seorang cendekia berpangkat Bujangga Anom bernama Ki Ageng Ktut Surya Alam, telah menyingkir dari ibukota. Iamelihat keadaan negara sangat menguatirkan terancam’ keruntuhan. Raja. tidak lagi berwibawa. Surya Alam menganggap Raja terlalu banyak memberikan konsesi kepada permaisurinya yang beradal dari Cina dan beragama Islam itu. Surya Alam adalah penganjur agama Buda, karena itu ia tidak sependapat dengan kebijaksanaan baginda, yang banyak dipengaruhi oleh permaisurinya orang asing itu, baik kebangsaan maupun agamanya: Sering ia memperingatkan baginda, tetapi rupanya peringatan itu tidak termakan.

Maka ia pun menarik diri, dan menyingkir ke daerah Wengker (daerah Panaraga sekarang), tinggal di desa Kutu. Di desa Kutu ini Ki Ageng Surya Alam mendirikan sebuah “paguron” (pergunlan), yang mengajarkan “ilmu kanuragan” (ilmu kekebalan, ilmu kesaktian), di.samping ilmu kebatinan dan keprajuritan (ilmu perang). Muridnya makin lama makin banyak, dan rata-rata masih muda-muda. Selama dalam pendidikan mereka dik-!nakan disiplin yang keras, dikumpulkan dalam sebuah pondhok paguron (asrama), dan harus mematuhi persyaratan yang berat. Salah satu persyaratan yang unik yalah pantangan berkumpul dengan perempuan. Mereka yang melanggar pantangan tersebut akan kehilangan kesaktiannya. Untuk menyalurkan nafsu berahinya, maka diadakanlah apa yang sekarang kita kenai sebagai “gemblak”. Yaitu anak laki-Iaki rupawan dan halus sikap pembawaannya, yang didandani seperti perempuan. Menggauli gemblak demikian tidak menjadi pantangan. Mereka yang sudah dinyatakan lulus dalam pendidikan , diberikan predikat “warok”. Dan warok-warok ini benar-benar kebal dan sakti.

Pantangan bergaul dengan perempuan tidak berlaku lagi bagi mereka, tetapi sifat dan sikap berani, jujur, dan rendah hati harus tetap dipegang teguh, tidak boleh dilepaskan selama hidup. Ini sudah menjadi semacam kode etik mereka. Lambat laun “perwarokan: ” dan ” pergemblakan” tersebut membudaya, dan akhirnya sudah demikian kuat berakar di masyarakat, sehingga sampai sekarang pun nama Panaraga tidak dapat dipisahkan dengan warok dan gemblaknya. Kembali kita kepada Ki Ageng Surya Alam . Setelah ia mendirikan paguron kanuragan di desa Kutu tersebut, namanya menjadi terkenal dengan panggilan Ki Ageng Kutu. Apa maksud. Ki Ageng Kutu mendirikall, tempat paguron semacam itu Kiranya mudah diterka, kalau kita hubungkan dengan sikapnya yang melawan kebijaksanaan rajanya, yaitu Bra Kertabumi. Memberontak, itulah kesimpulan yang gampang. Tetapi dalam cerita babad atau tutur belum pernah diungkapkan adanya niatan pemberontakan dad pihak Ki Ageng Kutu itu. Mungkin hanya usaha membuat suatu kubu pertahanan dengan para warok sebagai kekuatan tulang-punggung, kalau sewaktu-waktu ia mendapat serangan dari pihak raja.

Bagaimanapun juga, ia menyadari benar bahwa sikapnya selama ini cepat atau lambat akan dianggap sebagai pemberontakan terhadap kerajaan. Tetapi perjuangan Ki Ageng Kutu lebih diarahkan kepada perjuangan idiil, perjuangan cita-cita, yang bertentangan sifatnya dengan kebijaksanaan yang dianut oleh Prabu Kertabumi. Hal ini dapat kiranya dibuktikan dengan hal-hal yang dilakukan olehnya lebih ilanjut. Karena Ki Ageng Putu adalah seorang bujangga, jadi seorang seniman, maka dalam memperjuangkan “ideologinya”, ia menggunakan sarana keseniah. 1a mencipta sebuah karya seni yang kemudian dinamakan REOG. Reog asli yang diciptakannya itu hanya sederhana sekali, tidak menggunakan peraga lebih dari secukupnya saja, dengan tetabuhan yang minim juga. Dengan kesederhanaannya, dan peralatan yang minim itu, sangat memudahkan Ki Ageng Kutu untuk memperbanyaknya menjadi beberapa unit menurut keperluannya atu unit Reog hasil ciptaan Ki Ageng Kutu menurut aslinya, terdiri dari:

 

a. para pelakunya.

1. Singabarong dengan bulu meraknya;

2. Bujangganong atau Ganong;

3. dua Jathil, yaitu penari penunggang kuda kepang, laki-laki dengan dandanan perempuan.

 

b. tetabuhannya.

1. sebuah kendhang;

2. dua angkiung;

3 .sebuah kenong;

4. sebuah gong;

5. sebuah selompret.

 

c. pengiring, terdiri dari beberapa orang, yang tidak ditentukan jumIahnya. Tugasnya serabutan, membantu di mana diperlukan, dan terutama memeriahkan suasana dengan senggakan-senggakan dan sorak-sorainya yang riuh gemuruh.

 

Dengan penampilan kesenian Reog yang diciptanya itu, Ki Ageng Kutu ingin membuat “prasemon”, yaitu gambaran karikatural situasi negaraMajapahit pada waktu itu. Singabarong dimaksudkannya ‘ sebagai pengejawantahan ‘ raja Bra Kertabumi yang sedang berkuasa. Singabarong dalam kehidupan kawanan margasatwa diumpamakan sebagai raja. Tetapi Singabarong Reog ini menyunggi burung merak, yang melambangkan, bahwa permaisurinya, seorang puteri Cina, sedang menduduki kepala sang raja. Maksud kiasannya yalah, bahwa kewibawaan raja sudah dikalahkan oleh permaisurinya, sang puteri Cina yang cantik lagi congkak itu . Sebagaimana kita ketahui, burung merak adalah sejenis burung yang mempunyai bulu yang indah dan mewah, berwama hijau kemilauan. Dalam penampilannya tampak congkak dan angkuh.

Adapun Bujangganong atau Ganong adalah potret diri sang bujangga sendiri. Pangkat Bujangga Anom disandikan menjadi Bujangganong. Kecuali nama itu lucu kedengarannya, maksud sang bujangga Penampilan Bujangganong itusendiri sengaja dibuat lucu, baik dalam ulah ” tarian”nya, maupun ujudnya. Ujud ini digambarkan dalam bentuk topeng yang berwama merah (lambang keberanian), sepasang mata yang melotot (lambang “mampu melihat kenyataan”), hidung panjang, kumis panjang, dan rambut panjang (yang serba panjang ini melambangkan “mampu berpanjang nalar” ).  Ujud Bujangganong itu menakutkan, khususnya bagi anak-anak, tetapi pun membuat mereka ketawa senang, karena lucunya. Maksud pasemon ini yalah, bahwa sang bujangga bersungguh-sungguh, tidak main-main, yang dinyatakan dalam sikapnya yang terus-terang. Menentang kebijaksanaan raja, oleh sebab itu ditakuti oleh orang-orang yang bertingkah seperti kanak-kanak, yang dimaksudkan: para pejabat kerajaan Majapahit waktu itu, termasuk raja Kertabumi. Tetapi sebenarnya sang bujangga ingin berbuat senang bagi mereka, bahwa sang pujangga tidak perlu ditakuti, karena memang tidak ada maksud menakut-nakuti siapa pun.

Hanya yang berbuat tidak benar itulah yang merasa takut. Maka dalam gerak tariannya pun,  Bujangganong kadangkala mendekat berhadapan muka dengan Singabarong, maksudnya mengajak berdialog, tetapi kalau singabarong menjadi marah dan hendak menerkamnya, maka Bujangganong menghindar lari menjauh, kadang-kadang berada di belakang Singabarong, tetapi tidak meninggalkannya. Maksudnya: Sang Bujangga mendekati sang Prabu, berdialog, menasehati, memperingatkan, tetapi kalau sang Prabu menjadi marah, sang Bujangga mengundurkan diri, tetapi masih tut-wuri, tidak mau meninggalkan. Jadi tidak ada niatan untuk memberontak atau mengkhianati. Sepasang penari jathilan menggambarkan prajurit Majapahit, tetapi dengan dandanan seperti perempuan, solah tingkahnya pun kewanitawanitaan, artinya: prajurit Majapahit sudah kehilangan kejantanannya.

Namun yang demikian itu tidak menjadi perhatiannya. Disiplin prajuritnya sudah demikian merosotnya, sampai-sampai ibarat si prajurit sudah berani duduk di atas kepala sang raja.  Dalam tiap , pertunjukan Reog Panaraga pasti terdapat adegan penari Bunyi tabuhan yang riuh, dibarengi dengan sorak-sorai senggakan senggakan yang riuh pula, menggambarkan usaha sang Bujangga untuk menari perhatian rakyat agar mau menyaksikan tingkah laku raja. Senggakan-senggakan yang bernada olok-olok yang sering ditujukan kepada Singa barong .. mengandung maksud, bahwa rakyat memperolok-olok.

Demianlah Reog Panaraga benar-benar merupakan suatu pertunjukan yang sangat istimewa tidak sekadar main akrobat atau pun demonstrasi, kekuatan otot singo barongan megang peranan, yang pada jaman permulaannya kekuata otot ini dulu dibarengi dengan kekuatan dalam , kekuatan kanuragan, yang dilakukan oleh warok-warok. Juga bukan sekadar suatu show seperti sekarang yang siap dijual murah untuk konsumsi wisatawan , Satire yang terkandung di dalamnya tetap merupakan cermin peringatan sepanjang masa, juga bagi kita semua. Setiap saat peristiwa semacam gejala ketahan Majapahit tetap mengancam ketahanan nasional kita. Tentu saja si burung merak sudah berganti rupa, entah apa. Dengan demikian para pujangga muda kita harus tetap waspada untuk tidak perlu harus menjadi bujangganong. Para prajurit harus tetap jantan untuk tidak menjadi prajurit jathilan yang menari di atas kuda kepang. Itulah amanat hakiki sang Bujangga Ki Ageng Kutu yang disiratkannya melalui Reog Panaraga karya ciptaannya.

Dalam pada itu Prabu Brawijaya Kertabumi tidak tinggal diam. Ia mengutus salah seorang puteranya, Raden Kebokenanga alias Raden Katong, mengadakan penglacakan terhadap Ki Ageng Surya Alam , yang disinyalir konon berada di daerah Wengker. Raden Katong berangkat dengan lebih dulu singgah di Bintara, menghadap kakaknya, yaitu Adipati Bintara, Raden Patah. Raden Patah ini putera Prabu Brawijaya Kerta bumi lahir dari ibu seorang puteri Cina, permaisuri baginda. Setelah dewasa ia diangkat oleh baginda menjadi Adipati Bintara, dan di sinilah Raden Patah merintis pemekaran agama Islam bersama-sama para wali. Raden Patah pun merencanakan untuk mengIslamkan daerah Wengker, yang masyarakat penduduknya kebanyakan- masih memeluk agama Budha. Dari Sunan Kalijaga, seorang dari kesembilan wali, Raden Patah mendapat info asli, bahwa Ki Ageng Surya Alam, penganjur agama Budha yang berada di Wengker itu, merupakan kelilip yang membahayakan bagi kedudukan kadipaten Bintara dan agama Islam.

Maka kedatangan Raden Katon ibarat pucuk dicinta ulam tiba. Disarankannya kepada Raden Katong untuk memeluk agama Islam, dengan demikian rintisan peng Islaman daerah Wengker dapat dipercayakan kepadanya disamping tugasnya melcak Ki Ageng Surya Alam. Untuk memikat masyarakat penduduk derah Wengker yang masih percaya kepada Dewa-dewa, maka disarankan Dia agar Raden Katong menambahkan gelar Bathara di depan namanya. maka berangkatlah Bathara Katong ke Wengker, dengan didampingi oleh seorang ulama yang menjadi penasehatnya. Tidak perlu diceritakan, betapa Bathara Katong membuka hutan, mempersiapkan daerah pemukiman di kawasan Wengker, dan betapa pula ia berhasil memperoleh banyak pengikut diri sedikit ke sedikit, kini langsung dituturkan, bahwa ia akhirnya berhasil pula bertemu dengan teman lama yang dicarinya: Ki Ageng Surya Alam. Mereka lalu mengadakan pertemuan.

Akan tetapi dalam pertemuan itu mereka tidak mendapatkan persesuaian pendapat. Perang tidak dapat dihindarkan, karena masing-masing pihak mempertahankan prinsipnya sendiri.  Pada babakan-babakan pertama Bathara Katong menderi kekalahan. Ki Ageng Surya Alam adalah lawan yang tangguh. Tetap, Bathara Katong pun bukan orangnya yang mudah menyerah kalah. Ia mencari bantuan pada seorang bernama Ki Ageng Muslim, yang di desanya lebih dikenal dengan panggilan Ki Ageng Mirah. Tetapi Mirah ini sebenarnya bukan namanya sendiri, melainkan nama anak gadisnya. Nama aslinya Anggajaya, semula pengikut dan murid Ki Ageng Kutu juga. Jadi ia pun seorang warok yang sakti pula. Kemudian memisahkan diri, lalu masuk agama Islam. Sejak itu ia berganti nama Ki Ageng Muslim. Tetapi karena desa yang ia tempati adalah hasil cikal bakalnya sendiri yang Juga dinamakan desa Mirah, maka nama yang tetap populer baginya yalah Ki Ageng Mirah.

Bantuan Ki Ageng Mirah membuka lembaran baru bagi perjuangan Bathara Katong, karena pengaruh Ki Ageng amat besar dan banyak pula pengikutnya. Tetapi bagi Ki Ageng Kutu merupakan titik balik. Dalam menanggulangi serangan-serangan gadungan Bathara Katong – Ki Ageng Mirah ini, sering Ki Ageng Kutu tetpaksa berpindah-pindah tempat. Banyak anak buahnya yang gugur, dan akhirnya Ki Ageng Kutu sendiri pun harus mengakui keunggulan lawan. Ia tewas. Konon menurut kepercayaan orang, ia muksa bersama raganya.  Sepeninggal Ki Ageng Kutu, kesenian Reog yang sudah membudaya dan berurat-akar di masyarakat, diteruskan oleh Ki Ageng Mirah, tetapi segala unsur yang mengingatkan kepada kejayaan Ki Ageng Kutu dihapus.

Akar-akar atau naluri yang menebalkan kepercayaan tentang dunia perwarokan dihilangkan. Motivasi satirik penciptaan Reog Panaraga yang ditujukan untuk menjatuhkan nama Prabu Brawijaya Kertabumi dibuang dan diganti dengan latar belakang legendarik yang diambilkan dari cerita Panji. Tokoh-tokoh peran yang semula tidak ada, ditambahkan, seperti Kelana Sewandana, Sri Genthayu, Dewi Sanggalangit, dan seterusnya, ‘makin lama m,akin banyak menurut perkembangannya kemudian. Penggantian motivasi satirik dengan latar belakang legendarik tersebut tidak mengalami kesukaran, sebab lahiriah hampir tidak mengalami perubahan, kecuaIi menambah tokoh Sewandana dan lain-lain. Sebagaimana dipaparkan di muka, satire yang dituangkan dalam kesenian Reog sudah demikian sublimnya, sehingga tidak sembarang orang manyadari adanya olok-olok yang sengaja ditujukan kepada sesuatu atau seseorang. Bagi Ki Ageng Mirah sendiri, hal itu sudah barang tentu bukan rahasia lagi, karena ia memang bekas kepercayaan Ki Ageng Kutu.

Dengan timbulnya perpecahan dan permusuhan antara Ki Ageng Kutu dan Ki Ageng Mirah yang sama-sama waroknya dan berasal dari satu paguron yang sama, kemudian saling berpisah mengikuti alirannya masing-masing, Yang satu berkiblatkan kepada pandangan agama Budha yang dipertahankan, yang lain menganut ajaran agama Islam yang bersikeras hendak menghapus agama Budha, dapat kita bayangkan betapa dunia perwarokan yang semula utuh itu lantas mengalami perpecahan yang semakin lama semakih parah. Dengan dihilangkannya akar-akar atau naluri kepercayaan masyarakat terhadap dunia perwarokan oleh Ki Ageng Mirah dalam usahanya menghapus pengaruh Ki Ageng Kutu, maka paguron kanuragan sebagai pusat pengadaan kader-kader warok, dengan sendirinya dilarang. Tetapi dunia perwarokan yang sudah membudaya dan berakar di masyarakat tidak mudah dihilangkan begitu saja, terutama bagi mereka yang tetap setia menganut ajaran Ki Ageng Kutu.

Mereka meneruskan paguron tersebut secara perorangan (privaat), dan tidak terang-terangan melainkan terselubung dalam ulah kegiatannya. Dalam hal ini ulah kesenian Reoglah satu-satunya peninggalan Ki Ageng Kutu yang mendapat legalisasi, meskipun dengan inotivasi lain. Tidak mengherankan, bahwa dalam waktu yang tidak lama munculnya kelompok-kelompok unit Reog seperti jamur di musim hujan layaknya. Rertahun-tahun kemudian, setelah masa pertentangan antara penganut aliran Ki Ageng Mirah dan Ki Ageng Kutu terlampaui, dan keadaan lambat laun mereda dan semakin stabil , maka kelompok-kelompok unit Reog yang sekian banyaknya tanpa koordinasi ilu cenderung berkembang sendiri-sendiri menurut iradatnya masing-masing, dan sayang tidak tanpa ekses. Egoisme manusia mengambil peranan menonjol justeru .dalam keadaan yang sudah aman dan damai, karena “semangat kesaktian dan perjuangan” yang tersimpan menumpuk dalam dada para warok itu memerlu kan penyaluran keluar dan mencari sasaran.

Sasaran itu ditemukan pada sesama warok ‘ melalui unit-unit Reog yang mereka wakili masing-masing, tidak jarang terjadi. Sangat boleh jadi pada awal mulanya sebagai semacam “pertunjukan pameran”, suatu “exibition show”, akan tetapi lambat laun terdapatlah ekses-ekses yang pada akhirnya membuat arena ‘ pertunjukan Reog sering berubah meiljadi kancah perkelahian masal; unit Reog yang satu melawan unit Reog yang lain, termasuk para penabuh dan pengiring kedua belah pihak. Dalam istilah mereka. perkelahian masal demikian dinamakan “tempuk”. Tentang “tempuk” ini dapat dituturkan sebagai berikut. Biasanya padii” bulan Besar banyak orang mempunyai hajat mengawinkan anaknya. Maka sering kali terjadi beberapa rombongan perarakan pengantin saling berpapasan dalam perjalanan pulang kembali dari kenaiban . atau waktu berangkatnya. Karena adanya persaingan satu sarna lain , warok yang satu ingin mengungguli wilTok’ yang lain. maka perkelahian tidak dapat dihindarkan. Masing-masing lalu mencari lawannya sejenis: Singabarong lawan Singabarbng, Bujangganong lawan Bujangganong, Jathilan lawan Jathilan , penabuh lawan penabuh. dan bahkan pun kuda tunggangan mempelai kedua belah . pihak dihasut untuk saling bertarung. Keruan saja terjadi kekalutan hebat, yang berakhir dengan rusaknya peralatan, pakaian, dan perhiasan. serta jatuhnya korban luka-luka.

Kalau pihak yang satu berhasil menyingkirkan piliak lawannya, maka dengan penuh rasa bangga pillak yang menang itu pun meneruskan perjalanan semlfari berjogedan dan bersorak-sorai. Kadang~kadangpun dengan membawa rampasan berupa barang.barang hiasan piliak yang dikalahkan. Biasanya saban unit reog memasang genta pada ujung kanan dan kiri kedhok dhadhakmeraknya, . yang pada tiap gerakan mengeluarkan bunyi. Kalau unit reog demikian sedang berpapasan dengan unit yang lain, ‘ dan keduanya membiarkan genta masing-masing berbunyi, maka itu berarti sarna-sarna berani, dan pasti bertarung. Tetapi kalau salah satu pihak, entah karena tidak berani, atau malas berkelahi, atau menjaga keselamatan, maka gentanya disumbat dengan secarik kain atau lainnya, sehingga tidak akan mengeluarkan bunyi.

Dengan demikian tidak akan terjadi perkelahian. Mereka akan berpapasan dengan ·aman. Namun demikian, sudah barang tentu pihak yang mengalah itu harus pandai-pandai menahan hati untuk tidak terbakar oleh sikap ‘ dan lagak rombongan reoglawannya yang memamerkan kebesaran dan . :esombongannya, yang, kalau ditanggapi, memang sangat menjengkelkan dan menyakitkan hatibenar. Sejak kapan tepatnya “tempuk” demikian mulai timbul, tidak diketahui dengan pasH. Tetapi pada permulaan abad ke-20, tepatnya pada tahun 1912, pernah terjadi pertarungan seru antara dua orang warok bernama Pardi dan Kardjan, berikut unit reognya masjng-masing, yang berakhir dengan bacokan hingga keduanya tewas. Sejak itu pemerintah kolonial Hindia Belanda meiarang adanya pertunjukan reog.  Tetapi Panaraga tanpa reog, agaknya merupakan keganjilan yang tak bertemu nalar. Hal ini dirasakan benar oleh seorang Wedana distrik Arjawinangun , dan melalui Bupati Panaraga Raden Tumenggung Syam, diusulkannya kepada pemerintah Hindia Beianda untuk menghapus larangan tersebut, dan mengijinkan kembali pertunjukan Reog Panaraga. Usul diterima dengan syarat tidak boleh mcmbuat keonllran, bersedia mematuhi segala ‘peraturan pemerintah , dan ikut menjaga ketcrtiban umum. Itu terjadi pada tahun 1936, berarti Reog Panaraga sempat tidur lelap selama 24 tahun. Namun ketinggalan 24 tahun terkejar juga akhirnya.

Pada jaman penjajahan Jepang tahun 1942 – 1945, Reog Panaraga mengalami pasang surutnya kembali. Reog sebagai kesenian rakyat tidak mendapatkan tempat dan peluang untuk berkembang secara wajar scperti yang sudah. Semua anggota unit-unit Reog tidak luput dari bermacammacam kewajiban yang digerakkan oleh pemerintah Balatentara Dai Nippon untuk membantu memenangkan Perang-Asia-Timur-Raya-nya (Perang Dunia lI). Mereka diikutkan dalam gerakan Seinenda (pemuda), Keibodan (pembantu keamanan desa), kinrohoosyi (gcrakan gugur gunung), Romusha (kuli paksa), Heiho (prajurit Dai Nippon) dan sebagainya. Waktu dan enerji mereka praktis tidak tersisa untuk mengurusi kesenian Reog.

Tetapi harapan cerah kembali ketika tahun 1945 tiba dengan jatuhnya Jepang. Bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya kepada dunia, tetapi segera terlibat dalarn kancah revolusifisik rnelawan BeIa:nda yang ingin menjajah kern bali. Reog yang rnulai dikenal kernbali rnernpunyai potensi .penggerak ,rnassa yang dinilai sangat efisien, rnendapat peluang · untuk ‘ bangkit dan . berkernbang lagi. Tetapi sayang untuk rnengalami rnalapetaka yang .lebih parah lagi, dengan dilibatkannya dalam satu gerakan petualangan politik rnelawan pernerintah sendiri pad a waktu itu, yang terkenal dengan Affair Madiun (1948). Akibatnyaparah sekali. Reog, yang sernula tersebar di tiap-tiap desa, setelah Affair Madiun, yang segera disusul dengan perang kernerdekaanII, hanyalah tinggal yang berada di ibukota-ibukota kecarnatan, yang langsung rnendapat pernbinaan dari pernerintah seternpat rnelalui KODIM (Kornando Distrik Militer). Luka .yang ditirnbulkan Affair Madiun rnulai terobati lagi. Sedikit demi sedikit nampak kesernbuhannya untuk kernudian pulih giat kernbali seperti sernula. Menyambut hari depan.

Tetapi rupanya hari depan itu tidak secerah diharapkan. Percobaan kedua datang rnenjelang dengan berdirinya sebuah organisasi yang dinamakan Barisan Reog Panaraga, atau disingkat BRP, di bawah panji-panji Partai Kornunis Indonesia (1955), sebagai alat untuk mengikat rnassa dalarn rangka rnemenangkan suara daliun pernilihan umurn. Agaknya orang-orang kornunis Indonesia tahu benar’ kernarnpuan Reog Panaraga sebagai penggerak rna.ssa. Tanpa ragu-ragu Reog ditungganginya lagi seperti di tahunl948. Hanya bedanya tahun 1948 secara illegal, sedang tahun 1955 secara legal , karena pada tahun 1955 itu hak hidup Partai Kornunis Indonesia diakui secara hukurn. Tetapi kekuatan politik di hiar .PKl cukup waspada. BRP ditandingi oleh Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan BREN-nya (Barisan Reog Nasional) dan oleh Nahdiatul ‘Ulama (NU) dengan Reog Cakranya.

Dengan demikian kesenian Reog menjadi selubung pertarungan sengit antara partai-partai politik. Ada juga unit-unit Reog yang berada di luar itu sernua, tetapi jurnlahnya tidak seberapa. Dengan pecahnya pernberontakan G.30S PKI tahun 1965, maka Reog rnendapat pukulan berat lagi, terutama yang tergabung dalam BRP. Menurut catatan Kantor Seksi Kebudayaan Kabupaten Panalaga, yang sarnpai 1965 tercatat 385 unit Reog, gada tahun 1969 tinggal 90 unit.

Kini, tahun 1979, sepuluh tahun kemudian, belum diketahui berapa jumlahnya, tetapi jelas mengalami kebangkitannya kembali dengan lebih dewasa lagi, melalui penertiban integral dalam era pernbangunan budaya bangsa. Panaraga. memang tidak dapat dilepaskan dari Reognya. Reog Panaraga mengalami pasang naik dan . pasang surutnya sejalan dengan pasang naik dim pasang turunnya ·perjuangan bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaannya. Demfkianlah gambaran sekilas latar belakang sejarah Reog Panaraga dan perkembangannya dari masa ke masa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog di Jawa Timur. Jakarta:  Proyek Sasana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm. ………99

Reog Tulungagung

Reog Tulungagung ini merupakan gubahan tari rakyat, yang menggambarkan arak-arakan prajurit pasukan Kedhirilaya tatkala mengiring pengantin “Ratu Kilisuci” ke gunung Kelut, untuk menyaksikan dari dekat hasil pekerjaan Jathasura, sudahkah memenuhi persyaratan pasanggirinya atau belum. Dalam gubahan tari reog ini barisan prajurit yang berarak diwakili oleh enam orang penari.

Yang ingin dikisahkan dalam tarian tersebut yalah, betapa sulit perjalanan yang harus mereka tempuh, betapa berat beban perbekalan yang mereka bawa, sampai terbungkuk-bungkuk, terseok-seok, menuruni lembah-lembah yang curam, menaiki gunung-gunung yang terjal. Sesampainya di puncak gunung, bagaimana mereka mengelilingi kawah seraya melihat melongok-longok ke dalam, kepanikan mereka, ketika “sang puteri” terjatuh masuk kawah, disusul kemudian  dengan pelemparan batu dan tanah yang mengurug kawah tersebut, sehingga Jathasura yang terjun menolong “sang puteri” tewas terkubur dalam kawah, akhirnya kegembiraan oleh kemenangan yang mereka capai.

Semua adegan itu mereka lakukan melalui simbol-simbol gerak tari yang ekspresif mempesona, yang banyak menggunakan langkahlangkah kaki yang serempak dalam berbagai variasi, gerakan-gerakan lambung badan, pundak, leher dan kepala, disertai mimik yang serius, sedang kedua tangannya sibuk mengerjakan dhugdhug atau tamtam yang mereka gendong dengan mengikatnya dengan sampur yang menyilang melalui pundak kanan. Tangan kiri menahan dhugdhug, tangan kanannya memukul-mukul dhugdhug tersebut membuat irama yang dikehendaki, meningkahi gerak tari dalam tempo kadang-kadang cepat, kadang-kadang lambat. Demikian kaya simbol-simbol yang mereka ungkapkan lewat tari mereka yang penuh dengan ragam variasi, dalam iringan gamelan yang monotoon magis, dengan lengkingan selompretnya yang membawakan melodi terus-menerus tanpa putus, benar-benar memukau penonton, seakan-akan berada di bawah hipnose.

Busana penari adalah busana keprajuritan menurut fantasi mereka dari unit reog yang bersangkutan. Di Tulungagung dan sekitar, bahkan sampai di luar daerah kabupaten Tulungagung, sekarang sudah banyak bersebaran unit-unit reog sejenis, dan mereka memiliki seleranya masing-masing dalam memilih warna. Unit-unit yang terdiri dari golongan muda usia, biasanya memilih warna yang menyala, merah misalnya.

Sebuah unit reog dari desa Gendhingan, kecamatan Kedhungwaru, kabupaten Tulungagung, beranggotakan orang-orang dewasa, bahkan tua-tua. Mungkin karena kedewasaannya itu mereka  sengaja memilih warna hitam sebagai latar dasar busananya, sedang atribut-atributnya berwarna cerah. Busana itu terdiri atas:

  1. baju hitam berlengan panjang, bagian belakang kowakan untuk keris. Sepanjang lengan baju diberi berseret merah atau kuning, juga di pergelangan.
  2. Celana hitam, sempit, sampai di bawah lutut. Di samping juga diberi berseret merah memanjang dari atas ke bawah.
  3. kain batik panjang melilit di pinggang, bagian depan menjulai ke bawah. Sebagai ikat pinggang digunakan setagen, kemudian dihias dengan sampur berwarna.
  4. ikat kepala berwarna hitam juga, diberi iker-iker (pinggiran topi) tetapi berbentuk silinder panjang bergaris tengah 3 cm, dililitkan melingkari kepala. Warnanya merah dan putih.
  5. Atribut-atribut yang dipakai:
  • kacamata gelap atau putih;
  • sumping di telinga kanan dan kiri;
  • epolet di atas pundak, dengan diberi hiasan rumbai-rumbai dari benang perak;
  • sampur untuk selendang guna menggendong dhugdhug;
  • kaus kaki panjang.

Busana yang dikenakan oleh unit reog dari golongan muda usia, tidak jauh berbeda, hanya warna mereka pilih yang menyala, di samping hiasan-hiasan lain yang dianggap perlu untuk “memperindah” penampilan, misalnya rumbai-rumbai yang dipasang melingkar pada iker-iker, pada kaki kiri dipasang gongseng, yaitu gelang kaki yang bergiring-giring.

Tentang gamelan yang mengiringi dapat dituturkan sebagai berikut. Keenam instrumen dhugdhug, sebangsa kendhang atau ketipung, tetapi kulitnya hanya sebelah, ‘yang ditabuh oleh penarinya sendiri, terbagi menurut fungsinya: dhugdhug kerep, dhugdhug arang, timbang-timbangan atau imbalan, keplak, trentheng, dan sebuah lagi dipukul dengan tongkat kecil disebut truthong. Di luar formasi ini ditambah dengan tiga orang pemain tambahan sebagai pemukul kenong, pemukul kempul, dan peniup selompret. Kenong dan kempul secara bergantian menciptakan kejelasan ritma, dan selompret meinbuat melodi lagu-lagu yang memperjelas pergantian-pergantian ragam gerak.

Berbeda dengan Reog Tulungagung yang ada di desa Gendhingan, pada reog sejenis di desa Ngulanwetan, kabupaten Trenggalek, si penabuh kenong tidak menganlbil tempat kumpul bersama kedua rekannya penabuh, melainkan ikut di arena, walaupun tidak menari, hanya mondarmandir, atau berjalan keliling, atau menyelinap di antara keenam penarinya, sembari memukul kenong yang diayunkan ke depan dan ke belakang ia pun mengenakan busana serupa dengan busana penari, hanya dengan warna lain, dan tahpa iker-iker pada ikat kepalanya.

Lagu-lagu pengiringnya dipilih yang populer di kalangan rakyat, misalnya Gandariya, Angleng, Loro-loro, Pring-padhapring, Ijo-ijo, dan lain-lain. Terdapat kecenderungan pada reog angkatan tua, (khususnya yang ada di desa Gendhingan), untuk menggunakan irama lambat dan penuh perasaan, yang oleh angkatan mudanya agaknya kurang disukai. Mereka, angkatan muda ini, lebih senang menggunakan irama yang “hot”, sesuai dengan gejolak jiwanya yang “dinamik”. Dalam hal ini AM Munardi menuliskan tanggapannya sebagai berikut:

Legendanya tarian itu mengiring temanten. Memang peristiwa ritual kita pada masa lampau tidak terlepas dari existensi tari. Sampai sekarang Reog Kendhang (Reog Tulungagung) juga sering ditampilkan orang dalam kerangka pesta perkawinan ataupun khitanan. Dalam perkembangan akhir-akhir ini kemudian dipertunjukkan dalum pawai-pawai besar untuk memeriahkan hari-hari besar nasional.Untuk kepentingan yang akhir inilah kemudian orang membuat penampilan tari Reog Kendhang identik dengan “drum-band” . Maka gerak-gerik yang semula dirasa refined dan halus, cenderung dibuat lebih keras dan cepat. Derap-derap genderang ditirukan dengun pukulan-pukulan dhogdhog. Terompet bambu-kayu semacam sroten itu pun ditiup dengan lagu-lagu baru. Akibatnya musik diatonis itu pun di paksakan dalam nada-nada pelog pentatonis.

Dalam timbre yang tak mungkin berkwalitas sebuah drum-band modern, maka cara seperti itu menjadi berkesan dangkal. Pada suatu kesempatan menonton pertunjukan Reog Kendhang di desa Gendhingan, kecamatan Kedhungwaru, Tulungagung, maka terasa benarlah bahwa proses penampilan Reog Kendhang yang pada umumnya dipopulerkan oleh para remaja itu cenderung menuju ke pendangkalan. Penampilan oleh para penari golongan tua di desa tcrsehut tcrasa benar bobotnya. Geraknya yang serba tidak tergesa-gesa lebih memperjelas pola tari yang sesungguhnya cukup refined. Kekayaan pola lantainya terasa benar menyatu dengan lingkungan.

Memperbandingkan Reog Kendhang di Gendhingan ini dengan Reog Kendhang para remaja pada umumnya menjadi sernakin jelas adanya keinginan untuk tampilnya garapan-garapan baru, tetapi tidak dimulai dengan pendasaran yang kokoh. Ya, kadang-kadang orang terlaiu ccpat mengidentikkan arti “dinamika” dengan gerak yang serba keras dan cepat.

Seperti halnya dengan rekannya Reog Dhadhak merak di Panaraga, maka sebagai tontonan rakyat, Reog Tulungagung (Reog Kendhang) pun tidak akan kehilangan peranannya sebagai penghibur atau pemeriah suasana di mana saja warga desa mempunyai hajat. Perkawinan, khitanan, kelahiran, tingkeban, bersih desa, musim panen, dan lain sebagainya.

Mungkin sekarang tidak selaris dulu, sebelum musik pop berirama dangdut merajai pasaran di mana-mana. Namun pada hajat-hajat yang masih ada hubungannya dengan kepercayaan yang bersifat sakral atau yang masih mempunyai sifat-sifat tradisi maka, kesenian reog masih diperlukan. Dalam perarakan pengantin misalnya, maka fungsi reog Kendhang tidak saja sebagai pengiring yang memeriahkan suasana atau sekadar menghibur semata-mata, melainkan bahkanpun sebagai penjaga keselamatan mempelai laki-laki yang diarak. Mungkin ini sisa-sisa kepercayaan legendarik, bahwa reog dulunya  atau sang pengantin “Ratu Kilisuci”. Kepercayaan itu menjadi naluri yang masih terus dipelihara, walaupun tinggal sepercik upacara simbolik belaka atau hanya tiru-tiru.

Tetapi yang jelas, apakah itu upacara atau pun tiru-tiru, tiap-tiap hajat selalu mengharapkan keselamatan, dalam hajatan ini terutama keselamatan perkawinan kedua mempelai tentunya. Jadi reog berfungsi sebagai penolak bala, begitulah kira-kira. Formasi perarakan itu tersusun demikian, paling depan sang pengantin laki-laki. Memang, biasanya pengantin laki-lakilah yang diarak, yaitu ketika menuju ke rumah pengantin perempuan calon isteri. Pengantin laki-laki itu diapit oleh sanak keluarga dekat atau handaitolan yang akrab, di belakang mereka beberapa lapis pengarak inti, lalu menyusul barisan reog kendhang. Lebih dulu keenam penari dhogdhog dalam formasi berpasangan dua-dua, lalu ketiga penabuh gamelan lainnya: dua di muka, yaitu peniup selompret dan penabuh kenong, di belakang mereka penabuh gong (atau kempul). Gong (atau kempul) ini digantungkan pada sebuah standar yang dinamakan gayor, dipikul oleh dua orang pembantu. Di belakang barisan reog menyusul para pengiring lainnya.

Terdapat dua orang lain, seolah-olah berada di luar formasi perarakan itu. Yang salu membawa boneka ayam jantan (jago), terbuat dari kayu yang disengkelit di bawah ketiaknya. Ia mengenakan ikat kepala jilidan berwarna merah, baju merah, celananya pun merah. Namanya “Jaka Pangkon”. Tidak diketahui pasti asal-usul nama itu, tetapi merupakan bagian dari upacara perarakan pengantin. Kawanya membawa “iyan” (= nyiru, atau tampah, bentuknya bujur sangkar, tempat pendingin nasi yang baru dientas dari nanakan), dan “ilir” (= kipas, bentuknya pun bujur sangkar, tapi lebih kecil: garan pemegangnya di pinggir, jadi modelnya semacam bendera). Mereka berdua berjalan bebas. Kadang-kadang di samping perarakan, kadang-kadang di muka, mondar-mandir saling berpapasan. Setiap kali pemegang iyan dan ilir memukulkan ilirnya pada iyan sehingga berbunyi “blek-blek-blek”, maka setiap kali pula si Jaka Pangkon mengeluarkan suara lantang menirukan keluruk ayam jantan: “cukukeruyuk”, yang disambut gegap gempita oleh pengiring-pengiring lainnya. Sementara gamelan reog terus berbunyi dengan lagu-lagu yang dilengkingkan oleh selompret yang nada larasnya agak-agak sumbang, tetapi justeru mengasyikkan, sedang penarinya menari sembari memukul irama dhogdhog.

Di tempat lain perarakan itu diatur lain lagi, “jaka Pangkon” tidak ditampilkan. Maka keenam penari menari di luar formasi barisan. Mereka kadang-kadang berada di samping, tiga di sebelah kanan, tiga di sebelah kiri. Lalu maju mendahului pengantin menari di depan, saling berpapasan, beralih tempat  pendek kata menggunakan arena sekitar pengantin untuk menari. Bagi mereka yang percaya kepada mistik, hal tersebut adalah untuk menjauhkan sang penganten dari gangguan dari luar, tidak disebutkan apa, tetapi yang jelas paling tidak dibebaskan dari gangguan anak-anak yang banyak berduyun-duyun menyaksikan perarakan dari depan atau dari samping di tepi jalan yang dilewati.

Pada hajat-hajat lain yang tidak memerlukan perarakan, maka Reog Kendhang menggunakan halaman rumah yang punya hajat untuk arena pertunjukan. Penontonnya bebas, ada yang berjongkok. ada yang berdiri, mengelilingi membuat suatu lingkaran, atau bentuk tapal kuda untuk memberi kesempatan kepada yang punya rumah dan tamu-tamunya ikut menyaksikan. Di luar hajat warga masyarakat desa, sering juga Reog Tulungagung atau Reog Kendhang dikerahkan secara massal, terdiri atas beberapa unit, untuk memeriahkan pawai-pawai dalam rangka hari-hari nasional seperti Hari Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Hari Raya ldul Fitri, atau peresmian gedung ini itu, pekan ini itu, dan lain-lain.

Bahkan sejak jaman kolonial Hindia Belanda pun kegiatan demikian sudah dilakukan, misalnya peringatan jubileum pemerintahan ratu Belanda Wilhelmina, hari pertunangan dan perkawinan puterinya Juliana, dan sebagainya. Di samping yang diselenggarakan oleh rakyat warga desa sendiri, biasanya dalarn satu keluarga turun-temurun, Reog Tulungagung atau Reog Kendhang diselenggarakan pula di sekolah-sekolah, dilakukan oleh murid-murid di bawah asuhan guru atau seorang pelatih/pembina yang piawai di bidang pereogan. Tetapi kegiatan mereka merupakan bagian dari kegiatan olah seni, pemupukan bakat seni, dan penarnpilan mereka di depan umum hanya terbatas yang khusus dalarn rangka peringatan-peringatan resmi oleh pemerintah atau intern sekolah sendiri, atau dalam pekan-pekan kesenian.

Dengan kegiatan-kegiatan di sekolah ini, nyatalah, bahwa Reog Tulungagung mempunyai masa depan yang cerah, karena mampu merebut apresiasi yang merata ke seluruh lapisan masyarakat: tua, muda, laki perempuan (karena penari-penari perempuan sudah bermunculan pula), golongan atas, tengah, bawah, kaum elit, kaum rakyat, pendeknya semua. Dengan demikian Reog Tulungagung akan lebih pesat laju perkembangannya dibandingkan dengan rekannya di Panaraga, Reog Dhadhakmerak.

Dengan konstatasi ini, mungkinkah kelak Reog Panaraga akan kalah lalu, untuk kemudian secara lambat laun punah? Hal ini melihat kenyataan tidak adanya kaderisasi lewat sekolah-sekolah. Kiranya hanya rakyat daerah Panaraga sendirilah yang tahu jawabannya. Kembali kepada pertanyaan semula, sejak kapankah adanya Reog Tulungagung? Untuk menjawabnya, baiklah kita kutip pernyataan AM Munardi dalam salah satu artikelnya: Menurut Jaap Kunst dalam “Hindu-Javanese Musical Instruments”, arti Reog sama dengan Dhogdhog, yaitu bentuk kendhang dengan membran pada satu sisi saja. Kendhang semacam ini memang dipakai sebagai perlengkapan pokok dari tarian tersebut (Reog Tulungagung, S.Tm.). Bahkan sampai sekarang instrumen kendhang yang terbesar di antara enam kendhang yang dipakai dalam tarian itu disebut juga “Dhogdhog”.

Bentuk instrumen musik semacam ini sudah terlukis pada relief candi Penataran (abad XIV) dan berbagai kota di istana Majapahit. Dalam bentuknya yang agak berbeda, tetapi dalam deretan penari (pemain musik) pada relief Prambanan yang mirip dengan susunan penari Reog masa kini, menimbulkan dugaan bahwa tarian semacam ini sudah lama sekali dikenal di Indonesia. Selanjutnya Munardi menyatakan, bahwa kalau toh ada pengaruh invasi barat, mengingat kostumnya yang mirip-mirip kostum serdadu kumpeni Belanda, atau kalau ada pengaruh prajurit Bugis jaman perang Trunajaya, mengingat ikat kepalanya yang berbentuk dhesthar tinggi dengan dilingkari iker-iker yang mirip-mirip ikat kepala saudara-saudara kita di Sulawesi Selatan, atau kalau sebagai ganti dhogdhog semula digunakan kenthongan bambu, seperti konon yang terjadi pada Reog Kendhang di Trenggalek, namun ….. , setidak-tidaknya prototype tarian itu sudah ada sejak sebelum abad VII (Sic!). Setiap jaman orang mcngisi tema dan atributnya, sehingga terjadilah bentuk seperti sekarang ini.

Dengan ungkapan-ungkapan Munardi tersebut, kiranya menambah kejelasan bagi kita akan kedudukan Reog Tulungagung ini. Yaitu, bahwa secara fisik (corak) maupun idial (karakter) tidak ada kaitannya saran sekali dengan Reog Panaraga. Lebih jelas lagi kalau kita perhatikan tiadanya kesamaan motif dalam penciptaan kedua jenis kesenian rakyat tersebut. Lahirnya Reog Panaraga sama sekali tidak didasarkan pada motif dalam penciptaan kedua jenis kesenian rakyat tersebut. Lahirnya Reog Panaraga sama sekali tidak didasarkan pada motif penciptaan tari (versi Kutu), sebaliknya Reog Tulungagung adalah benar-benar ciptaan komposisi tari. Kalau pun terdapat unsur-unsur yang seolah-olah mengaitkan yang satu dengan yang lain, maka unsur-unsur itu iyalah, bahwa keduanya menggunakan nama yang sama: reog, dan tema yang sama pula: Panji.

Tentang nama reog dapat kita kembalikan kepada arti yang sebenarnya, yaitu kata sinonim (atau nama jenis lain) dari “kendhang” atau “dhoghog”. Baik Reog Panaraga maupun Reog Tulungagung menggunakan “kendhang” (atau “dhogdhog”, atau “reog”) sebagai unsur music pengiringnya yang pokok. Ternyata kesenian “reog” di Pasundan, (dalam karangan ini tidak dibicarakan), yang seperti adanya sekarang tidak mempunyai persamaan bentuk dan karakter dengan kedua rekannya “reog” di Jawa Timur itu pun menggunakan “dhogdhog” sebagai unsur musik pengiringnya yang pokok.

Tentang tema Panji sebenarnya tidak ada relevansinya bagi Reog Panaraga, sebab sejak semula Reog Panaraga memang tidak pernah menggunakan tema Panji (Versi Kutu). Tema Panji itu baru kemudian ditampilkan oleh Ki Ageng Mirah untuk menghilangkan tema yang khas versi Kutu tersebut. Tetapi bagi Reog Tulungagung, mungkin memberi perspektif yang lebih luas untuk penciptaan komposisi tan baru atas dasar pola lama yang sudah berabad-abad umurnya, dan terus dipelihara turun-temurun. Maka lahirlah Reog Tulungagung. Untuk membedakan dari Reog Panaraga, maka Reog Tulungagung disebut “Reog Kendhang”. Reog Panaraga disebut “Reog Dhadhakmerak”. Untuk Reog Kedhiri tersedia nama sebutan “Reog Jaranan”.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog di Jawa Timur. Jakarta:  Proyek Sasana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm.102  – 114.

Kapat, Upacara Tradisi Masyarakat Tengger

Upacara Kapat, Meminta Selamat

Pada setiap tanggal 4 bulan Kapat, masyarakat Tengger melakukan upacara-upacara yang bermaksud mencapai keselamatan untuk umat ma­nusia, tanaman dan hewan piaraan. Upacara bulan Kapat ini sebenarnya berhubungan dengan siklus pertanian. Upacara ini lebih menekankan ke­pada usaha masyarakat untuk menolak-bala agar terhindar dari berbagai bencana yang dapat merugikan manusia, tanaman dan binatang piaraan.

Salah satu upacara yang dikenal ialah upacara Liliwet. Pada upa­cara ini, sesajen yang dihidangkan ialah: nasi putih, ayam brumbun (tidak berbulu, kecuali bulu-bulu halus), gubahan bunga senikir 7 pasang, pisang ayu. Upacara ini dipimpin oleh Dukun, serta diikuti oleh setiap rumah. Secara bergiliran Dukun mengujubkan upacara dan sekaligus memantrai bagian rumah atau pekarangan agar terhindar dari malapetaka. Tempat-tempat itu ialah: dapur, pintu, tamping, sigiran, pekarangan di empat penjuru. Biasanya sebelum upacara Liliwet, ladang untuk semen­tara tidak boleh digarap.

 Kalau hasil pertaniannya tidak menguntungkan, bahkan sangat rugi, diadakan upacara “sengkolo”, untuk menolak kerugian yang akan datang dan untuk meminta ampun atau tobat kalau ada kesalahan yang tidak terasa atau terlupakan. Menurut kepercayaan orang Tengger keru­gian dalam pertanian atau kesengsaraan juga penyakit yang diderita merupakan hukum karma, karena ada suatu perbuatan yang tiada baik. Kerugian itu menurut kepercayaan mereka karena lupa akan nadar, tidak dilakukan sajian ke kawah gunung Bromo. Oleh karena itu pada setiap hari Kasada kalau mempunyai nadar harus melakukan korban ongkek ke kawah gunung Bromo.

Upacara juga dilakukan terutama yang berhubungan dengan ta­naman jagung yang menjadi makanan pokok masyarakat Tengger. Per­hitungan untuk melakukan upacara dihitung dari hari kelahiran pemi­lik ladang. Hari yang baik untuk melakukan upacara, sehari setelah hari kelahirannya. Kalau hari lahirnya Hari Jum’at Pon, maka hari yang baik untuk menanam jagung pada hari Sabtu Wage. Upacara liwet dila­kukan di rumahnya masing-masing dengan dipimpin oleh Dukun Desa. Upacara untuk menanamnya dilakukan oleh pemilik ladang itu sendiri.  

Upacara di ladang pertama-tama kemenyan dibakar, kemudian pemilik ladang membaca mantera penanaman. Benih yang akan ditanam dimasukkan terlebih dahulu kedalam tempat yang ada “pengilon, suri, batu dan bedak” (cermin, sisir, batu dan bedak). Maksudnya supaya benih itu mendapatkan berkah dari dewi tanah yang menjaga kesuburan tanah.

Pada waktu mendirikan rumah atau pindah rumah juga dilakukan upacara. Upacara untuk mendirikan rumah diselenggarakan dengan “Liliwet”. Membuat rumah dilakukan dengan bergptong-royong, sesuai dengan welas asih terhadap sesama hidup. Setelah blandar tiang ter­akhir dipasang, semua tiang digantungi dengan tebu, pisang, baju dan alat-alat bangunan. Sajian terlebih dahulu disediakan berupa jagung, padi, bendera merah putih. Jagung dan padi bertujuan agar supaya di tempat rumah baru dan mudah mendapatkan sandang pangan. Tebu dan pisang dimaksudkan agar supaya selalu selamat sentosa tinggal di rumah. Merah putih mengingatkan akan asal manusia yaitu darah merah dan darah putih.

Sebelum mendirikan rumah, terlebih dahulu mengadakan se­lamatan dengan dipimpin oleh dukun. Setelah itu dicari hari baik untuk memulai mendirikan rumah tersebut. Perhitungan didasarkan atas ra- malan-ramalan seperti di bawah ini, di antaranya:

  1. “Pitutur” yang berarti kalau diam di rumah tersebut akan meng- kibatkan banyak perkara yang dihadapi. Oleh karena itu kalau ramalan jatuh seperti itu, waktu pendirian rumah dibatalkan dan dicari lagi waktu yang baik ramalannya.
  2. “Demang kenduruan” yang meramalkan kalau diam di rumah itu akan banyak menderita penyakit. Perhitungan itu akan ditinggal­kan dan dicari perhitungan yang sekiranya dapat menguntungkan atau menyelamatkan.
  3. “Satriyo pinayungan” suatu ramalan yang dapat menjadikan peng­huni rumah selalu dalam keadaan selamat. Perhitungan ini yang diinginkan dan kalau bisa diikuti dengan ramalan berdasarkan per­hitungan.
  4. “Mantri sinoro rejo” suatu perhitungan yang meramalkan kalau tinggal di rumah yang didirikan pada waktu itu akan mengakibatkan banyak disenangi orang.
  5. “Macan ketawang” suatu perhitungan yang meramalkan bahwa orang yang tinggal di rumah yang dibangun pada waktu itu akan mengakibatkan selalu bertengkar. Ramalan itu tidak disenangi dan dicari lagi waktu yang baik.
  6. “Nuju pati” suatu perhitungan yang dapat meramalkan akan selalu berduka cita. Ramalan ini yang paling jelek. Oleh karena semua orang akan menghindarkan pembuatan rumah yang dimulainya pa­da waktu tersebut.

            Suatu contoh yang pernah dilakukan diantaranya orang yang men­dirikan rumah mulainya pada hari Jum’at Kliwon atau pada Sabtu Kli­won, akan meramalkan “Demang kenduruan” (Tidak baik). Sabtu Legi akan meramalkan “Mantri sinoro rejo” (baik). Pada waktu pindah rumah diadakan selamatan dengan sesajen dan sajian jenang merah dan jenang putih, gedang ayu,, dan nasi piring 7 pi­ring. “Gedang ayu” adalah dua buah pisang yang didempetkan dan di tengah-tengahnya diberi sirih kapur dan gambir. Kebanyakan orang Tengger kalau pindah rumah baru mengadakan selamatan Liliwet.

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 90-92

 

Asal mula upacara Karo, Legenda Tengger

Asal mula upacara Karo itu menurut legendanya sebagai berikut: Konon, pada jaman dahulu, adalah dua orang sahabat yang sangat erat ikatan persaudaraannya, ialah Nabi Muhammad dan Adji Saka. Adapun tempat kediaman kedua orang sahabat itu di Mekah. Mereka itu masing-masing mempunyai seorang hamba kesayangan yang sangat patuh dan setia = Hamba Nabi Muhammad bernama Setya, sedang hamba Aji Saka bernama Satuhu. Pada suatu hari, berundinglah Nabi Muhammad dengan Aji Saka. Dalam perundingan itu ditetapkannyalah, bahwa Nabi Muhammad tetap tinggal di Mekah memimpin bangsanya, sedang Aji Saka harus pergi ke pulau Jawa dan memimpin, menolong serta membebaskan bangsa tersebut dari penindasan seorang raja yang sangat kejam. Putusan tersebut dilaksanakan, dan berangkatlah Aji Saka ke pulau Jawa, dengan diikuti oleh hamba kesayangannya, Satuhu. Sesampai di pulau Jawa, diketahuinyalah, segenap penduduk pulau Jawa senantiasa hidup dalam ketakutan dan kecemasan. Adapun yang

menyebabkan ketakutan dan kecemasan itu ialah: karena raja mereka, Prabu Dewatacengkar, gemar memakan daging manusia. Tiap-tiap hari, raja itu mewajibkan rakyatnya menyerahkan anaknya untuk dimakan. Mereka cemas, takut anak mereka akan habis dimakan oleh raja mereka, menjadi korban keganasan nafsu kebinatangan Prabu Dewatacengkar. Aji Saka berhasil membunuh Prabu Dewatacengkar dan dengan demikian segenap penduduk pulau Jawa dapat terhindar dari bahaya kecemasan yang senantiasa menyiksa sepanjang hidupnya. Betapa besar hati dan terimakasih penduduk pulau Jawa tidaklah terhingga. Atas penghargaan terhadap jasa Aji Saka yang tak ternilai besarnya itu, mereka menobatkan Aji Saka menjadi raja, sebagai peng­ganti Prabu Dewatacengkar yang lalim dan tidak berperikemanusiaan itu. Di bawah pemerintahan Prabu Aji Saka, segenap rakyat pulau Jawa hidup dalam tenteram sejahtera. Setelah beberapa saat memerintah di pulau Jawa, ingatlah Prabu Aji Saka akan keris pusakanya yang ditinggalkan di Mekah dititipkan kepada Nabi Muhammad. Maka Setuhu lalu dipanggil, disuruhnya kem­bali ke Mekah menjemput keris pusaka tersebut. Kepada hamba keperca­yaannya itu, Prabu Aji Saka berpesan: “Hanya engkaulah yang kupercaya menerima keris pusaka itu dari tangan Nabi Muhammad dan membawa kemari, menyerahkannya kepadaku.” Rupanya Prabu Aji Saka lupa, bahwa dahulu, waktu menitipkan keris pusaka tersebut kepada Nabi Muhammad, ia berpesan: “Keris pusaka ini jangan diserahkan kepada siapapun juga. Kelak setelah tenteram hidupku di pulau Jawa, aku sen­diri akan menjemputnya kemari.”

Sementara itu, di Mekah, Nabi Muhammad ingat akan keris pusaka titipan Aji Saka. Sudah lama di nanti-nantikannya, Aji Saka tak kunjung datang, bahkan beritanyapun tidak. Setelah ingat akan keris titipan itu, berpikirlah Nabi Muhammad, “Mungkin keris pusaka itu sangat dibutuh­kan oleh Aji Saka, untuk menghindarkan bencana yang menempuh hi­dupnya sewaktu-waktu.” Maka dipanggilnyalah Setya, hamba kepercaya­annya itu, disuruhnya menyerahkan keris pusaka itu kepada Aji Saka, sambil pesannya: “Keris ini adalah keris pusaka Aji Saka. Hanya engkau­lah yang kupercaya menyerahkannya kepada pemiliknya! Ingat! Jangan sampai ada seorangpun berhasil merebutnya dari tanganmu.”

Kebetulan di tengah perjalanan antara Mekah dengan pulau Jawa, bertemulah Setya dengan Satuhu. Karena kedua orang itu telah saling mengenal, maka berhentilah mereka sejenak untuk bercakap-cakap. Bermacam-macam persoalan mereka perbincangkan dalam perjumpaan itu. Pada akhirnya, setelah percakapan mereka telah sampai pada per­soalan keris pusaka, berselisihlah kedua oran itu, yang masing-masing bermaksud menjunjung tinggi pesan tuannya.

Perselisihan itu makin lama makin sengit, hingga terjadilah suatir perkelahian yang seru, memperebutkan keris pusaka tersebut. Perkela­hian itu barulah selesai setelah kedua-duanya mati tertikam oleh keris lawannya. Mayat kedua orang itu tergeletak di tengah jalan didekat keris pusaka Aji Saka. Sepeninggal hamba kesayangannya, Prabu Aji Saka ingat akan pe­sannya dahulu kepada Nabi Muhammad. “Kalau Nabi Muhammad meme­gang teguh pesan saja, tentu saja tak akan mau menyerahkan keris pusaka itu kepada Satuhu.” Demikian pikir Aji Saka. “Lebih baik aku menyusul ke Mekah, agar jangan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan”. Maka berangkatlah Aji Saka ke Mekah.

Begitu pula halnya Nabi Muhammad. Sepeninggal Setya yang di­suruhnya menyerahkan keris pusaka kepada Aji Saka, mulailah timbul perasaan tidak enak pada hatinya, sebab ingat akan pesan Aji Saka dahulu. Segeralah Nabi Muhammad berangkat menuju ke pulau Jawa, menyusul Setya dan akan menemui Aji Saka. Kebetulan sekali, Nabi Muhammad dan Prabu Aji Saka saling ber­temu, tepat di tempat mayat-mayat Setya dan Satuhu itu tergeletak.

Melihat hamba kesayangannya kini telah menjadi mayat, sedihlah hati mereka berdua. Mereka mengakui bahwa kematian hamba kesayang­an mereka itu hanyalah karena kelalaian dan kekhilafan mereka. Mereka tahu, bahwa Setya dan Satuhu itu mati karena kesetiaan dan kepatuhan­nya menjunjung tinggi perintah tuannya. Untuk memperingati kematian Satya dan Satuhu yang mati tanpa dosa itu, Prabu Aji Saka memerintahkan kepada segenap rakyatnya, agar menyelenggarakan selamatan atau upacara. Upacara peringatan itu diselenggarakan setahun sekali,  Upacara tersebut sampai sekarang tetap diselenggarakan se­tahun sekali dikalangan masyarakat Tengger, disebut selamatan Karo.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 65-84

Pujan Karo, Upacara Tradisi Masayarakat Tengger

Upacara Karo, Rekaman Kesetiaan Dua Abdi Setya dan Setuhu

Pada setiap tanggal 16 bulan purnama bulan Karo, masyarakat Tengger merayakannya dengan permainan Sodoran dan mengeluarkan Jimat Klontong untuk dibersihkan. Pada saat itu seluruh masyarakat merayakannya dengan sukacita, saling berkunjung untuk mempererat tali persaudaraan. Berbagai makanan baik yang berupa Tumpeng, kue- kue dan sesanding untuk dibawa ke Sanggar Punden, dan untuk dima­kan bersama-sama.

Upacara Karo di awali dengan kunjungan ke Sanggar Pundon, tem­pat makam cikal bakal desa. Kemudian dilanjutkan mengadakan upacara pujan di Sanggar, dengan maksud mengucapkan terimakasih kepada Hong Pokulun, atas hasil panen yang baik. Tidak lupa pula setelah selesai dari Sanggar Pamujan dan dilanjutkan berziarah ke makam leluhur, per­arakan ke Punden cikal bakal itu menjadi ramai karena hunyi gamelan yang mengiringinya. Di tempat suci tersebut, Dukun mulai mengujub- kan dengan membaca mantra-mantra, sementara alunan gamelan dengan gending Rancagan meningkahi ucapan Dukun yang mengucap mantra. Seusai Dukun membacakan mantranya, yang hadir disitu kemudian mem­beri sesajen yang berupa juadah, pipis, tumpeng panggang ayam, gedang ayu. Sesajen itu dimaksudkan sebagai sandingan arwah leluhur.

Selesai dengan upacara di Punden, kemudian mereka pulang ke- rumahnya masing-masing. Tumpeng dan lauknya yang telah dimantrai dibawa pulang untuk dimakan bersama dengan seluruh keluarga.

Di dalam pujan Karo, dilangsungkan beberapa kegiatan yaitu So­doran, Selamatan Tumpeng Gede di tempat petinggi, menyediakan se­sanding di rumah masing-masing, diakhiri dengan Ngeraon.

Dalam rangkaian upacara Karo itu, Sodoran merupakan pertunjuk­an yang menarik seluruh masyarakat. Lazimnya penyelenggaraannya di tempat petinggi atau Balai Desa, yang diatur sebara bergiliran penyeleng­garaannya Sodoran menurut dongengannya berhubungan dengan penghor­matan turunnya Jimat Klontong dari tempat penyimpanan. Tempat pe­nyimpanan Jimat Klontong, bergiliran antara desa yang satu dengan yang lain. Bagi masyarakat Tengger Jimat Klontong dikramatkan, mereka percaya bahwa Jimat Klontong itu merupakan jimat tiban, artinya datang sendiri tidak diketahui asal usulnya. Orang pertama yang menjumpainya ialah pendeta yang bernama Kyai Dadap Putih. Kepercayaan itu terutama dikalangan masyarakat desa Ngadisari dan sekitarnya.

Tetapi menurut kepercayaan masyarakat Tengger yang tinggal di daerah Tosari dan Wonokitri, yang termasuk Kabupaten Pasuruan, Jimat Klontong itu diketemukan oleh dua orang pertapa yang bernama Kyai Tunggak dan Kyai Tompo, setelah kedua orang itu bertapa selama 40 hari. Maksud diadakannya Sodoran, bagi masyarakat desa Tosari dan “Wonokitri, adalah untuk memperingati arwah leluhur orang Tengger yang bernama Ajisaka serta pengikutnya. Di kalangan masyarakat Ngadisari, sodoran diadakan untuk memperingati pertandingan dua abdi yang sa­ngat setia yang bernama Satya dan Satuhu. Diceritakan pula bahwa baju Ontokusumo itu oleh Kyai Dadap Putih disimpan di Tosari, sedangkan pengaronnya disimpan di Ngadisari.

Jimat Klontong itu berupa:

  1. Delapan batang Sodor yang tangkainya terbuat dari bambu apus se­besar tangkai sapu, sepanjang 3 m. Warnanya kehitam-hitaman seperti hangus, pada ujung sodor itu diikatkan sabut kelapa pada dua tempat
  2. Pengaron kanteng, yang lebih kecil dari pengaron keramat tempat baju klontong, pada sebelah luar dibubuhkan kapur melingkar. Sedangkan dibagian dalam tertera gambar gambar memakai kapur juga, meling­kari dalam jarak yang sama. Gambar itu berupa.
  3. Empat buah tanduk banteng, berwarna hitam.
  4. Kendi kecil berwarna hitam.
  5. Tabung dari bambu dengan tutup kayu. Garis tengahnya 20 Cm, ting­ginya 20 Cm. Di dalamnya terdapat Oeangg Republik Indonesia (ORI) lama, beberapa helai uang Jepang.
  6. Dua buah kapak batu monolitik.

Dalam pertunjukan Sodoran, benda-benda tersebut mempunyai tugas ma­sing-masing, kecuali tabungan (celengan) dan kendi.

Suasana Sodoran benar-benar merupakan pesta antara penduduk desa di Ngadisari, Jetak, Wonotoro, dan Ngadas. Mereka memang meng­anggap pertemuan Sodoran itu antara dua fihak yang akan besanan. Kedua kepala desa yang mengadakan sodoran seolah-olah besan antara dua belah fihak. Pada tahun 1955 Petinggi Ngadisari yang menjadi tuan rumahnya, sedang petinggi Wonotoro sebagai besannya (tamunya). Petinggi Jetak sebagai pengiring. Pada tahun 1978, Petinggi Jetak sebagai tuan rumah yang mempunyai hajat, sedang petinggi Ngadisari sebagai besannya, sedang petinggi Wonotoro sebagai pengiring.

Pada waktu yang telah ditentukan bersama, biasanya sekitar jam 10.00 pagi, datanglah rombongan petinggi dan pengiring yang akan men­jadi tamu. Petinggi berjalan paling depan diiringi dengan gamelan yang terdiri dari kendang, kenong, slompret dan kendang kecil yang bernama ketipung. Keseluruhan gamelan itu kemudian dikenal dengan nama Ke­tipung.

Sesampainya di tempat petinggi, yang menjadi tuan rumah, segera mempersilahkan tamunya masuk ke pendopo. Di tempat itu telah terse­dia bangku panjang, tempat para peserta sodoran. Peserta dibagi menjadi dua, sesuai dengan kedudukan mereka sebagai tuan rumah dan tamunya. Di sanapun telah disediakan sajian berupa kue pasung, pipis juadah, je­nang, nasi, pisang ayu. Semua makanan sajian itu ditempatkan di takir kawung, yang di alas dengan ajang malang.

Sebelum sodoran mulai petinggi yang menjadi tuan rumah mem­beritahukan maksud sodoran dan meminta agar para pesertanya mema­tuhi aturan yang ditetapkan. Setelah itu, petinggi menyerahkan kuasa kepada orang yang telah ditunjuknya untuk memimpin sodoran. Pemim­pin itu membaca mekakat, yang merupakan pengantar dimulainya so­doran.

Sang pemimpin sodoran mengucapkan mantra yang maksudnya mengundang para roh halus dengan berbagai perwujudannya untuk meng­hadiri sodoran itu. Sesudah itu mulailah ia meresmikan kedudukannya dengan sebutan yang dijabatnya. Oleh karena pekerjaannya ialah menjadi pemimpin yang memberi aba-aba dalam sodoran, ia disebut Prentah. Pembantu-pembantunya juga disebut menurut jabatannya yaitu: Kerti- jaya, Tunggur, Senapati, Lurah Kebolengan dan Kepetengan. Peserta harus menyebutnya dengan nama jabatan itu, dan dilarang keras menye­but namanya yang sebenarnya.

Setelah persiapan untuk Sodoran selesai, Prentah menyilakan Le­gen dari desa tuan rumah mengawali tarian sebagai pembukaan. Sikap tarian itu ialah, tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan diangkat ke atas, hingga jari-jari setinggi telinga kanan, jari telunjuk diluruskan.

Selama tarian itu berlangsung, gending Rancangan mengiringi si penari. Si penari memutar mutarkan jari telunjuknya sambil sebentar- sebentar merendahkan badannya sedikit, dengan menekukkan lututnya sedikit dan lurus kembali. Kemudian kaki diayunkan kedepan sampai tiga langkah. Setiap langkah bertepatan dengan irama gong, berhenti sejenak, menunggu gong berikutnya menapak lagi dan menapak lagi. Apa­bila sudah tiga langkah maju, maka ia kembali menuju ke tempat semula. Langkah waktu kembali itupun harus tiga langkah. Waktu memutar un­tuk berbalik harus ke arah kiri, bukan sebaliknya. Gerakan gerakan itu diulangi ke sana ke mari sampai tiga kali. Pada babak berikutnya, bunyi gamelan Rancagan makin menggebu, kendang semula dipukul dengan tangan, diganti dengan pukulan kayu.

Si penari itu kemudian mengajak seorang Legen tamu untuk menari bersama, keduanya berdiri berhadap-hadapan dalam jarak 6 meter. Ke­tika dua fihak penari mulai menari, irama gamelan berbunyi seperti irama permulaan, gerakannya pun mengulang seperti yang pertama. Ketika irama gamelan mulai menggebu lagi, keduanya mengambil sodor yang sudah di sediakan.

Cara memegang sodor ialah tangan kiri berkacak pinggang, tangan kanan mengepit sodor, dengan bagian ujung yang ada serabutnya di muka. Kalau irama gamelan cepat penarinya melangkah ke depan sampai tiga langkah dan kembali ke tempat semula, tiga langkah juga.

Apabila kedua Legen itu selesai dengan tariannya, maka Prentah berseru: Sarak, kedua Legen itu mengambil tanduk banteng masing-masing seorang. Tanduk itu berisi air, dan tanduk ini setelah penarinya selesai menari, diberikan kepada peserta Sodoran untuk berganti menari Antara So­doran babak pertama dengan babak berikutnya, selalu diselingi dengan semacam teka-teki, antara Prentah dengan Kertijaya, serta Tunggur.

Percakapan itu antara lain berbunyi:

Prentah            :”Kertijaya, dos pundi ajengane Brang ler?”(Bagaimana kehendak kelompok utara, Kertijaya?)

Kertijaya         : “ngGih, sampun sedeng kantos.” (Ya, sudah sedang menunggu.)

Prentah            :”Sabrang kidul?” (Bagaimanakah kelompok selatan.)

Tunggur           : “nggih, sampun sedeng kantos.” (Ya, sudah sedang menanti.)

Prentah            :”reh denten sampun kantos, maesa berik, kang di pundut.” (oleh karena sudah dinanti, yang diminta untuk dijawab “Maesa berik”) Maesa berik artinya kerbau yang berlaga, maka Prentahpun menyerukan “Wayon”, agar gending dipukul dengan Rancagan lagi.

Wayon artinya perintah untuk memukul gamelan lagi. Sesudah adanya aba-aba Prentah itu sodoran mulai lagi. Setiap kali Sodoran itu diakhiri dengan aba-aba Sarak, artinya menyerahkan tanduk, sampai se­luruh peserta Sodoran selesai dengan tanda Sodorannya.

Pasangan tarian biasanya dua orang yang saling berlawanan, ini melambangkan dua utus­an Setya dan Setuhu. Kemudian juga terjadi antara dua pasang, yang jumlahnya 4 orang. Sebagai tari pembukaan, bukan hanya Legen saja, kadang-kadang 5 orang yaitu, Petinggi dengan 4 orang pengiringnya.

Prentah selalu mengucapkan aba-aba: Gayung, setiap babak teka- teki selesai untuk diteruskan dengan teka-teki yang lain. Jawaban teka- teki itu sudah dihafal benar, sehingga jawabannya pasti tepat. Berikut ini beberapa contoh tentang teka-teki serta arti jawabannya:

  1. Maesa berik                          = bentelan, tetel
  2. Raga ebah                            = awak mosik, ikan osik

seperti api yang padam karena air pencuri menjauh tidak berani perbuatan tenungpun sirna.

Kemudian terdengarlah gending Jaten meningkah di udara. Dengan gending’ itu dimaksud sebagai suatu pemberitahuan bahwa para istri yang melakukan sodoran telah datang menjemput dengan membawa ma­kanan. Setelah terdengar gending giro, memberi tahukan bahwa istri-istri itu sudah boleh menemui suaminya. Segeralah timbul suasana akrab, dan makan bersama terjadilah. Setelah istirahat, sodoran dilanjutkan lagi sampai sekitar jam 15.00. Sodoran ini ditutup dengan bacaan mantra oleh Dukun dan mempersilakan para roh-roh halus yang diundang pulang ke asalnya. Sajian-sajian yang ada di atas meja dibagikan kepada yang hadir, dan Petinggi yang menjadi tuan rumah menjamu tamunya dengan makan minum. Jimat Klontongan dimasukkan kembali ketempatnya, siap untuk dipindahkan penyimpanannya ke desa yang akan menjadi tuan rumah. Pengiringnya laki-laki dan perempuan. Apabila jimat Klon tong itu sudah berada di tempat yang baru, disimpan di sanggar penyim­panan dan akan dikeluarkan lagi. pada upacara Karo tahun berikutnya.

Selesai upacara Sodoran di tempat Petinggi diadakan selamatan Tumpeng Gede. Sajian itu terdiri dari:

  1. Sajian Sanggar Ageng
  2. Sajian Tumpeng Ageng
  3. Sajian Sesanding.

Sajian Sanggar Ageng disebut juga dandosan resik, yang disediakan pe­tinggi di rumahnya sendiri. Sajian ini ditujukan untuk arwah leluhur agar desa dan penduduknya tidak diganggu. Di samping itu juga disampaikan untuk Hong Pokulun serta Aji Saka.

Tumpeng Ageng, yaitu sajian yang dikumpulkan dari penduduk yang dikumpulkan di rumah Petinggi. Suatu sajian yang lengkap ini ter­diri dari: Nasi tumpeng berbentuk kerucut, ayam panggang, pisang setangkap (dua sisir) kuwe pipis (nagasari dari gandum), juadah, kuwe pasung, agem yaitu bunga senikir yang disisipkan pada daun pisang, kelapa jejangan, sirih (dahu sepikul), pinang. Tumpeng Ageng ini dibagi- bagikan kepada yang hadir dalam Sodoran.

Sajian Sesanding, dibuat oleh masing-masing penduduk, dimaksud­kan untuk keperluan seluruh keluarga. Sajian ini biasanya diatur di atas balai-balai bambu, dengan dialasi tikar dan daun pisang yang lebar. Sajian itu terdiri dari: tumpeng kecil yang berjumlah 11 atau 22, 33, 44 asal habis dibagi dengan 11. Cara menghidangkannya disejajarkan kesamping. Nasi dengan lauk pauk, bermacam-macam kue, pisang ayu, sirih.

Di belakang jajaran tumpeng itu di tempat yang tinggi ditempatkan sebuah Agem. Agem yaitu bunga senikir yang disisipkan pada sehelai daun pisang. Agem ini dipegang pada waktu mengadakan upacara me­nyembah leluhurnya. Agen ini dijepit di antara jari-jari, dan digerak- gerakkan tiga kali, seperti dalam sikap menyembah. Sesanding itu disiap­kan oleh masing-masing rumah tangga. Upacara Karo yang berlangsung hingga 7 hari itu diakhiri dengan Ngeraon sebagai tanda syukur kepada Hong Pokulun, serta penghormatan kepada roh leluhur di Sanggar Punden.

Upacara Karo bagi masyarakat Tengger kiranya dapat dibandingkan dengan hari raya Idul Fitri bagi orang-orang Islam. Upacara Karo menu­rut keterangan Dukun Ngadisari untuk mengingatkan kisah dua orang abdi yang setia dari Aji Saka dan Nabi Muhammad.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 65-84

“Entas-entas”, Upacara Tradisi Masyarakat Tengger

Upacara  setelah keseribu-harinya kematian. Upacara ini dinamakan “entas-entas”. Petra dibuat dengan secara besar- besaran yang dibuat dari bunga pisang, buah kelapa, lawe, daun pokok, rumput, telur dan diberi pakaian. Petra dibuat seperti orang-orangan yang dibentuk secara duduk. Petra merupakan tempat arwah yang akan diupacarakan oleh pemimpin upacara yakni Dukun desa. Pelaksanaan upacara sama seperti pada waktu meninggalnya. Selesai upacara di dalam rumah kemudian petra dibawa ke Pandanyangan untuk dibakar ditungku yang telah disediakan pada Pandanyangan. Pada pandanyangan juga di­bakar dupa dan sesajen. Lamanya upacara entas-entas sampai sehari semalam.

Upacara entas-entas untuk menyempurnakan keabdian arwah hi­dup di alam lelangit. Semua kesengsaraan di alam lelangit akan musnah kalau sudah diupacarakan entas-entas. Arwah yang tidak diselamati akan mengganggu keluarganya yang masih hidup. Apalagi kalau ada orang yang mati pada hari Jumat, dianggap tidak baik dan menurut kepercayaan akan mengakibatkan kematian lagi dari keluarganya. Oleh karena itu ke­luarganya sedapat mungkin diupacarakan dengan upacara “tulak sengko- lo” (penolak bahaya). Sampai sekarang bagi masyarakat Tengger ada ke­biasaan pergi mengunjungi kuburan pada hari Jumat Legi dan pada hari Karo.

Pendanyangan merupakan suatu tempat yang penuh tumbuh-tum­buhan. Pada hutan kecil ini semua tumbuh-tumbuhan harus hidup se­bagaimana alamnya. Tidak boleh ada yang mengganggu, ditebang atau di­tanami seperti tanah pertanian yang lainnya. Hutan ini harus sebagaimana aslinya. Keaslian inilah menyebabkan tempat ini menjadi suci karena ti­dak pernah diganggu oleh tangan-tangan yang banyak dosa. Terkecuali dukun-dukun yang dianggap mempunyai kekuatan sakti dan bisa mensu- cikan diri. Pendanyangan ini merupakan tempat para Danyang yaitu para arwah nenek moyang serta para penunggu yang memegang peranan dalam kehidupan manusia. Pendanyangan ini merupakan jalan pintu masuk arwah memasuki alam lelangit.

Pada pendanyangan ini terdapat sebuah bangunan suci tempat me­lakukan samedi dan upacara pembakaran petra. Pada upacara ini merupa­kan jalan pelepasan arwah yang akan memasuki alam lelangit. Kalau akan melakukan sesuatu atau akan mengadakan selamatan apapun harus pergi dulu kepada Pendanyangan ini. Akan tetapi pergi ke Pandanyangan tidak sembarangan saja, semuanya harus seijin dan sepengetahuan Dukun, apa yang menjadi tujuannya. Untuk upacara-upacara besar Dukun itu sendiri yang memimpinnya.

Pada bangunan Pandanyangan terdapat tungku pembakar Petra yang terletak di samping kanan dari pintu masuk sedangkan di depan berhadapan dengan pintu masuk di sudut sebelah ka­nan terdapat Danyang, tempat pembakaran dupa dan tempat sesajen. Pada Pendanyangan ini biasanya terdapat pula Puser Desa. Sebuah tugu yang dianggap suci karena puser itu sama pusat (pancer) yang menjadi inti kehidupan masyarakat desa, hidupnya masyarakat desa. Dari sinilah tersebar keempat penjuru angin di sekitar desanya.

Upacara yang lebih besar lagi diadakan setelah keseribu-harinya. Upacara ini dinamakan “entas-entas”. Petra dibuat dengan secara besar- besaran yang dibuat dari bunga pisang, buah kelapa, lawe, daun pokok, rumput, telur dan diberi pakaian. Petra dibuat seperti orang-orangan yang dibentuk secara duduk. Petra merupakan tempat arwah yang akan diupacarakan oleh pemimpin upacara yakni Dukun desa. Pelaksanaan upacara sama seperti pada waktu meninggalnya. Selesai upacara di dalam rumah kemudian petra dibawa ke Pandanyangan untuk dibakar ditungku yang telah disediakan pada Pandanyangan. Pada pandanyangan juga di­bakar dupa dan sesajen. Lamanya upacara entas-entas sampai sehari semalam.

Upacara entas-entas untuk menyempurnakan keabdian arwah hi­dup di alam lelangit. Semua kesengsaraan di alam lelangit akan musnah kalau sudah diupacarakan entas-entas. Arwah yang tidak diselamati akan mengganggu keluarganya yang masih hidup. Apalagi kalau ada orang yang mati pada hari Jumat, dianggap tidak baik dan menurut kepercayaan akan mengakibatkan kematian lagi dari keluarganya. Oleh karena itu ke­luarganya sedapat mungkin diupacarakan dengan upacara “tulak sengko- lo” (penolak bahaya). Sampai sekarang bagi masyarakat Tengger ada ke­biasaan pergi mengunjungi kuburan pada hari Jumat Legi dan pada hari Karo.

Pendanyangan merupakan suatu tempat yang penuh tumbuh-tum­buhan. Pada hutan kecil ini semua tumbuh-tumbuhan harus hidup se­bagaimana alamnya. Tidak boleh ada yang mengganggu, ditebang atau di­tanami seperti tanah pertanian yang lainnya. Hutan ini harus sebagaimana aslinya. Keaslian inilah menyebabkan tempat ini menjadi suci karena ti­dak pernah diganggu oleh tangan-tangan yang banyak dosa. Terkecuali dukun-dukun yang dianggap mempunyai kekuatan sakti dan bisa mensu- cikan diri. Pendanyangan ini merupakan tempat para Danyang yaitu para arwah nenek moyang serta para penunggu yang memegang peranan dalam kehidupan manusia. Pendanyangan ini merupakan jalan pintu masuk arwah memasuki alam lelangit.

Pada pendanyangan ini terdapat sebuah bangunan suci tempat me­lakukan samedi dan upacara pembakaran petra. Pada upacara ini merupa­kan jalan pelepasan arwah yang akan memasuki alam lelangit. Kalau akan melakukan sesuatu atau akan mengadakan selamatan apapun harus pergi dulu kepada Pendanyangan ini. Akan tetapi pergi ke Pandanyangan tidak sembarangan saja, semuanya harus seijin dan sepengetahuan Dukun, apa yang menjadi tujuannya. Untuk upacara-upacara besar Dukun itu sendiri yang memimpinnya.

Pada bangunan Pandanyangan terdapat tungku pembakar Petra yang terletak di samping kanan dari pintu masuk sedangkan di depan berhadapan dengan pintu masuk di sudut sebelah ka­nan terdapat Danyang, tempat pembakaran dupa dan tempat sesajen. Pada Pendanyangan ini biasanya terdapat pula Puser Desa. Sebuah tugu yang dianggap suci karena puser itu sama pusat (pancer) yang menjadi inti kehidupan masyarakat desa, hidupnya masyarakat desa. Dari sinilah tersebar keempat penjuru angin di sekitar desanya.

Upacara yang lebih besar lagi diadakan setelah keseribu-harinya. Upacara ini dinamakan “entas-entas”. Petra dibuat dengan secara besar- besaran yang dibuat dari bunga pisang, buah kelapa, lawe, daun pokok, rumput, telur dan diberi pakaian. Petra dibuat seperti orang-orangan yang dibentuk secara duduk. Petra merupakan tempat arwah yang akan diupacarakan oleh pemimpin upacara yakni Dukun desa. Pelaksanaan upacara sama seperti pada waktu meninggalnya. Selesai upacara di dalam rumah kemudian petra dibawa ke Pandanyangan untuk dibakar ditungku yang telah disediakan pada Pandanyangan. Pada pandanyangan juga di­bakar dupa dan sesajen. Lamanya upacara entas-entas sampai sehari semalam.

Upacara entas-entas untuk menyempurnakan keabdian arwah hi­dup di alam lelangit. Semua kesengsaraan di alam lelangit akan musnah kalau sudah diupacarakan entas-entas. Arwah yang tidak diselamati akan mengganggu keluarganya yang masih hidup. Apalagi kalau ada orang yang mati pada hari Jumat, dianggap tidak baik dan menurut kepercayaan akan mengakibatkan kematian lagi dari keluarganya. Oleh karena itu ke­luarganya sedapat mungkin diupacarakan dengan upacara “tulak sengko- lo” (penolak bahaya). Sampai sekarang bagi masyarakat Tengger ada ke­biasaan pergi mengunjungi kuburan pada hari Jumat Legi dan pada hari Karo.

Pendanyangan merupakan suatu tempat yang penuh tumbuh-tum­buhan. Pada hutan kecil ini semua tumbuh-tumbuhan harus hidup se­bagaimana alamnya. Tidak boleh ada yang mengganggu, ditebang atau di­tanami seperti tanah pertanian yang lainnya. Hutan ini harus sebagaimana aslinya. Keaslian inilah menyebabkan tempat ini menjadi suci karena ti­dak pernah diganggu oleh tangan-tangan yang banyak dosa. Terkecuali dukun-dukun yang dianggap mempunyai kekuatan sakti dan bisa mensu- cikan diri. Pendanyangan ini merupakan tempat para Danyang yaitu para arwah nenek moyang serta para penunggu yang memegang peranan dalam kehidupan manusia. Pendanyangan ini merupakan jalan pintu masuk arwah memasuki alam lelangit.

Pada pendanyangan ini terdapat sebuah bangunan suci tempat me­lakukan samedi dan upacara pembakaran petra. Pada upacara ini merupa­kan jalan pelepasan arwah yang akan memasuki alam lelangit. Kalau akan melakukan sesuatu atau akan mengadakan selamatan apapun harus pergi dulu kepada Pendanyangan ini. Akan tetapi pergi ke Pandanyangan tidak sembarangan saja, semuanya harus seijin dan sepengetahuan Dukun, apa yang menjadi tujuannya. Untuk upacara-upacara besar Dukun itu sendiri yang memimpinnya.

Pada bangunan Pandanyangan terdapat tungku pembakar Petra yang terletak di samping kanan dari pintu masuk sedangkan di depan berhadapan dengan pintu masuk di sudut sebelah ka­nan terdapat Danyang, tempat pembakaran dupa dan tempat sesajen. Pada Pendanyangan ini biasanya terdapat pula Puser Desa. Sebuah tugu yang dianggap suci karena puser itu sama pusat (pancer) yang menjadi inti kehidupan masyarakat desa, hidupnya masyarakat desa. Dari sinilah tersebar keempat penjuru angin di sekitar desanya

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 96-99

 

Mengantar ke Tanah Arwah, Uapacara Tradisi Masyarakat Tengger

  • Mengantar ke Tanah Arwah

    Begitu ada seorang yang meninggal segera keluarganya memberita­hukan kepada Petinggi dan dukun desa. Seluruh keluarga diberitahu ke­pada Petinggi dan dukun desa. Seluruh keluarga diberitahu demikian juga tetangganya yang dekat. Pengurusan mayat baru diselenggarakan setelah seluruh keluarga, dukun desa dan para pamong desa telah datang.

    Sambil menunggu keluarga yang agak jauh dan menunggu dukun serta para pejabat desa, keluarga yang ditinggalkan segera menyembelih biri-biri atau kambing, bahkan bagi yang kaya menyembelih kerbau atau sapi untuk mengadakan selamatan dan menjamu yang akan ikut mengu­burkan. Biasanya sebelum mayat diurus, makanan dan sajian telah disiap­kan.

    Kalau tempat penguburan jauh dipuncak gunung, terlebih dahulu sebelum mayat diujubkan dan dimandikan, semua orang yang akan mengantarkan mayat dijamu diberi makan terlebih dahulu. Setelah itu barulah dukun desa mulai dengan upacara pengujuban.

    Mayat dibaringkan dengan mengarah ke Timur, di samping kaki mayat ditaruhkan sajian berupa gedang ayu, nasi sepiring dengan lauk pauknya. Kemudian dukun desa duduk bersila menghadap mayat dekat kepalanya. Terlebih dahulu dukun memakai selendang suci. Dupa dibakar dan mantera pengujuban dibacakan. Sambil membacakan mantera itu air yang telah disediakan oleh Legen (pembantu dukun) dicipratkan (diper­cikkan) sebanyak tiga kali kepedupaan dan kepada mayat. Selesai mem­bacakan mantera pengujuban, selendang suci dibuka dan-diberikan ke­pada pembantunya untuk disimpan.

    Kemudian mayat diangkat ke tempat pemandian dan dimandikan dengan pimpinan Legen. Pemandian dilakukan oleh keluarga si mati. Yang pertama mengguyurkan air adalah isterinya atau suaminya serta di­susul oleh keluarga yang tertua dan kemudian oleh keluarga lainnya dengan urutan umur. Selesai dimandikan kemudian mayat dibungkus dengan kain kafan. Pembungkusan dilakukan sebanyak tiga lapis dan dilakukan di atas “pendoso” (pasaran). Pendoso ini dibuat dari bambu yang dilapisi dengan kain samak.

    Selesai pembungkusan mayat, mayat siap untuk diangkat dan di­angkut menuju tempat penguburan. Pengusung harus dari keluarga ter­dekat sebanyak empat orang, baru setelah dijalan, diganti oleh orang lain yang bersedia untuk mengusung. Di setiap persimpangan ditaburkan uang logam, sebagai tanda labuh (korban). Pembuangan ini dimaksudkan untuk menghindarkan “sengkolo” dan sebagai penebus dosa yang me­ninggal. Orang yang paling depan harus wong sepuh yang menjadi penun­juk jalan bagi arwah yang meninggal.

    Setelah sampai di kuburan, usungan mayat diputar sebanyak tiga kali. Keliling tiga kali itu dimaksudkan sebagai “ketuk pintu” karena akan memasuki alam kubur. Setelah di kelilingkan kemudian “dienjat” (diturun-naikkan) sebanyak tiga kali pula. Maksud diturun-naikkan itu sebagai tanda permisi dari arwah si mati, karena akan memasuki alam kubur. Barulah mayat dimasukkan ke dalam kuburan. Pandoso di buka dan bambu-bambunya dipotong-potong dan dijadikan penahan tanah (sama dengan kayu padung). Kemudian samak ditutupkan. Lobang-lo­bang yang masih terbuka ditutup dengan alang-alang atau daun-daunan, barulah kemudian ditimbun dengan tanah sambil diinjak-injak sampai padat sekali.

    Di tengah-tengah timbunan tanah kuburan kemudian diberi kayu nisan. Kemudian upacara pengujuban dilkukan oleh dukun sebagai pe­nyerahan yang meninggal ke alam lelangit (kuburan). Selesai pengujuban bunga-bunga ditaburkan oleh keluarganya berganti-ganti dan diatasnya ditaruh sajian. Barulah kemudian dibagi-bagi sajian tumpeng dan ikan ayam panggang, terutama kepada para penggali kubur dan para pengu­sung. Selesailah penguburan.

     

    Sore harinya diadakan selamatan di rumah keluarga yang me­ninggal. Upacara pengujuban dilakukan oleh dukun desa dan para “Bes- po” (petra). Benda suci ini dibentuk seperti orang-orangan. Benda ini dianggap tempat tinggal sementara arwah yang .baru meninggal atau tem­pat para arwah yang sedang diupacarakan. Demikian sakti petra ini se­hingga bisa menampung para arwah yang sedang diundang atau diupaca­rakan. Petra terbuat dari daun-daunan “nangkuh”, bunga “seni kikir”, bunga “tanlayu”, daun “andong” daun janur, daun “pampung”. Semua itu tumbuh di daerah pegunungan Tengger. Daun-daun dan bunga-bunga itu disusun demikian rupa sehingga menyerupai orang duduk. Kalau arwah yang diundang atau yang diupacarakan itu laki-laki Petra diberi pakaian laki-laki. Demikian juga kalau wanita diberi pakaian wanita. Petra banyak dipergunakan pada upacara “Entas-entas”, atau pada waktu upacara kematian.

    Upacara yang lebih besar lagi diadakan setelah keseribu-harinya. Upacara ini dinamakan “entas-entas”. Petra dibuat dengan secara besar- besaran yang dibuat dari bunga pisang, buah kelapa, lawe, daun pokok, rumput, telur dan diberi pakaian. Petra dibuat seperti orang-orangan yang dibentuk secara duduk. Petra merupakan tempat arwah yang akan diupacarakan oleh pemimpin upacara yakni Dukun desa. Pelaksanaan upacara sama seperti pada waktu meninggalnya. Selesai upacara di dalam rumah kemudian petra dibawa ke Pandanyangan untuk dibakar ditungku yang telah disediakan pada Pandanyangan. Pada pandanyangan juga di­bakar dupa dan sesajen. Lamanya upacara entas-entas sampai sehari semalam.

    ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
    Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 96-99

     

Pujan Kasanga, Upacara Tradisi Masyarakat Tengger

Pujan Kasanga, Usaha Bersih Desa  

Upacara Pujan Kasanga ditujukan untuk merawat desa dari segala penyakit, terutama yang disebabkan oleh gangguan roh-roh halus. Upaca­ranya dipimpin oleh Dukun, bertempat di Sanggar Pamujan. Apabila semua penduduk desa sudah berkumpul mulailah Dukun mengujubkan, serta mengadakan hubungan dengan para leluhur serta Hong Pukulun.

Upacara di Sanggar Pamujan antara lain mengadakan korban dengan menyembelih ayam, kemudian ditanam di halaman Sanggar Pamujan. Kemudian Sesajen diberikan berupa Tumpeng kecil dan besar sejumlah 11 buah; bambu 9 buah, nasi golong 7 buah, jenang lima macam, yaitu berwarna merah, putih, hijau, kuning dan hitam. Di samping itu juga rangkaian bunga senikir dan Tanalayu, sapu dan prasen.

Sajian untuk Pujan Kasangan itu sering juga disebut Sanggar Bu- wana, diletakkan di atas meja, di depan rumah, di tepi jalan besar meng­arah ke tempat Pendanyangan Desa. Macam sajian yang lengkap terdiri dari:

  1.  Nasi Tumpeng, ayam panggang, kuwe pipis, pasung, juadah, pisang ayu, kinang, ketan, jenang, wajik, apem, semuanya ditempatkan dalam takir kawung. ‘
  2. Munden 6 batang, yang dibuat dari daun kelapa muda (janur) yang dianyam seperti cambuk.
  3. Pada kaki meja sebelah belakang diikatkan pohon pisang sebuah dengan jantung dan buahnya. Di situ juga diikatkan batang tebu, daun beringin, daun bunga kelapa (manggar), dan dua buah kelapa muda pada setiap kaki meja yang disebelah belakang tadi.
  4. Di sebelah meja, di tanah, diletakkan sebuah ancak atau rigen dibu­at dari belahan bambu panjang yang dianyam jarang-jarang (ukur­an 1 x \Vi meter) di atas ancak dibentangkan kulit lembu lengkap dengan kepalanya. Di atas kulit lembu itu diletakkan apa yang disebut: Momotan Sarwo satus, yaitu seratus bungkus kuwe-kuwe dan nasi, masing-masing 50 biji. Pada mulut kepala lembu itu disi­sipkan sate mentah, yang disebut cokotan.

Sehabis upacara di Sanggar Pamujan biasanya dilanjutkan dengan arak- arakan anak-anak yang membawa gamelan untuk di bawa keliling desa. Instrumen yang dibawa antara lain terdiri: kendang, ketuk, kempul, genta yang dibawa oleh Legen.

Di samping itu dibawa pula cangkul dan sapu, sebagai lambang untuk membersihkan kotoran. Dengan Upacara Kasanga diharapkan desa sertta penduduknya akan hidup sejahtera, selamat sentausa. Pujan Kasanga diadakan pada tanggal 24 bulan Ka­sanga.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 96

Pujan Kawolu, Upacara Tradisi Masyarakat Tengger

Pujan Kawolu, Memperbaharui Ikatan Hidup dengan Alam Semesta.

Tanggal 1 bulan Kawolu merupakan hari untuk melaksanakan upa­cara yang bertujuan untuk memperingati terjadinya manusia. Perayaan itu dilangsungkan sebagai akhir megeng pada Pujan Kapitu. Upacara ter­sebut ditujukan untuk meminta selamat kepada Hong Pukulun, agar manusia serta alam sekelilingnya terhindar dari malapetaka. Upacara kawolu juga ditujukan untuk menghormati Bumi, sebagai tempat semua makhluk. Penghormatan kepada bumi juga dilambangkan sebagai ibu pertiwi. Unsur-unsur alam lain yang dihormati ialah: banyu (air), Geni (api), angin, bintang, bulan, matahari, dan akasa.

Sajian yang dihidangkan pada waktu pujan kawolu sama dengan pada waktu upacara Pujan Kapat. Manusia berusaha memperbaharui ikatannya dengan sang alam, Alam di luar kehidupan manusia, adalah suatu buana agung, yyaitu alam semesta. Sedang manusia adalah merupa­kan perwujudan dari buana kecil. Antara kedua buana harus terjadi keselarasan.

Manusia, dalam hidupnya di dalam masyarakat berusaha untuk menye­suaikan dirinya agar terjadi keselarasan antara buana besar (alam semesta) serta buana kecil, yaitu kehidupan manusia.

Malapetaka akan menimpa manusia jika terjadi ketidak seimbangan antara kedua Alam itu. Untuk mengatasi malapetaka yang mungkin berupa wabah penyakit, gempa, banjir, manusia harus mengadakan upa­cara barikan. Keseimbangan Alam semesta dengan alam manusia, harus selalu terjamin.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog  di Jawa Timur. Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979. hlm. 94

Megeng dan Patigeni, Upacara pada Bulan Kapitu, Masyarakat Tengger

Pada bulan Kapitu “masyarakat Tengger melakukan megeng. Megeng dapat dibandingkan dengan puasa, pada masa yang telah ditetapkan, se­lama sebulan masyarakat yang sudah mampu dan cukup umur melaku­kannya. Pada saat megeng, diharuskan menghindari apa saja yang me­nimbulkan kenikmatan atau kesenangan. Pada saat itu suasana kepri­hatinan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menjalan­kan megeng, jiwa raga harus bersih.

Pada pembukaan megeng, masing-masing kepala keluarga membawa tumpeng ke tempat petinggi untuk dimantrai oleh Dukun. Setelah di- mantrai tumpeng dibawa pulang ke rumah, dan hanya beberapa bagian saja yang ditinggalkan di tempat Petinggi pucuk tumpeng, panggang ayam dsb. Selama megeng, orang harus dapat menguasai hawa nafsu­nya, dan selama itu harus melakukan mutih. Mutih artinya makan de­ngan menghindari garam, gula, ikan, air putih, dan apa saja yang menye­babkan makanan enak. Selama megeng bagi Dukun serta para pembantu­nya mengurangi tidur, berbicara, makan, dan bersanggama. Pada bulan megeng ini, Padanyangan dan Sanggar Pamujan menjadi pusat kegiatan dalam kehidupan masyarakat. Di Pedangnyangan ini dilakukan pemba­karan Bespo/petro. Megeng itu berlangsung sejak matahari terbit hingga terbenam.

Bagi seorang dukun, legen ataupun Tiyang Sepuh menjelang Me­geng harus mensucikan diri dengan jalan kramas, dengan doa sebagai berikut:

Niat ingsun adus kramas ing tlogo nirmolo, banyune tirta kanggo anyuceni badan ingsun suci. Suci, Suci, Suci, sak kersaning Bapa Kuasa. Artinya: Saya berniat mandi kramas di telaga suci-nama, airnya tirta untuk menyucikan badan saya, suci atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

Setelah melakukan kramas, pada hari pertama para dukun melakukan pa- tigeni, yaitu tidak tidur, tidak makan minum serta tidak berkumpul dengan istri selama sehari-semalam. Patigeni ini diulangi lagi pada akhir megeng. Setelah Megeng berakhir, pendudukpun mengadakan selamatan di rumah Petinggi lagi dan seluruh upacara dipimpin oleh Dukun.

Upacara pada pujan Kapitu, ditujukan juga untuk mengingatkan orang agar selalu dapat mengendalikan hawa nafsu serta pengendalian diri sendiri. Hendaknya orang mampu menjauhi larangan selama ber­langsungnya megengan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Jakarta:  Upacara Kasada dan Beberapa Adat Istiadat Masyarakat Tengger, Proyek Sasana Budaya , Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 1978-1979,  hlm.93