Trenggalek Masa Pra Perdikan

Sebelum diketemukan sumber yang bersifat tertulis maka daerah itu mengalami masa Prasejarah. Sedangkan di Trenggalek jaman Sejarah akan ditandai dengan adanya prasasti yang pertama kalinya muncul berbentuk prasasti Kampak atau dikenal dengan nama lahirnya Perdikan Kampak.

Pada jaman pra sejarah, Trenggalek telah dihuni oleh manusia dengan bukti diketemukannya benda-benda yang merupakan hasil jaman Nirlekha. Dari hasil penelitian serta lokaei benda-benda pra sejarah tadi dapatlah direkonatruksikan, per jalanan manusia-manusia pemula di daerah Trenggalek itu dalam beberapa jalur, yaitu :

Jalur Pertam, dari Pacitan menuju Panggul perjalanan diteruskan ke Dongko, dari Dongko menuju ke Pule kemudian – menuju ke Karangan dari sini dengan menyusuri sungai Ngasinan menuju ke Durenan. Kemudian  manusia – manusia Trenggalek purba itu melanjutkan perjalanan ke Wajak daerah Tulungagung.

Jalur kedua, berangkat dari Pacitan ke Panggul menuju Dongko, kemudian melalui tanjakan Ngerdani turun kedaerah Kampak laju ke Gandusari, dari sini perjalanan dilanjutkan ke Tulungagung.

Jalur ketiga, beranjak dari Pacitan menuju ke Panggul menyusuri tepi Samudra Indonesia menuju ke Munjungan, diteruskan ke Prigi lalu ke Wajak.

Demikianlah rekonatruksi perjalanan manusiar-manusia pra sejarah yang berlangsung bolak-balik antara Pacitan dengan Wajak. Jalur-jalur perjalanan tersebut dapat dibuktlkan dengan diketemukannya artefak-artefak jaman batu besar sepert: menhir, mortar, batu saji, batu dakon, palinggih batu, lumpang batu dsb. Yang kesemuanya benda-benda tadi tersebar di daerah-daerah bekas Jalur-jalur lalu-lintas mereka Itu.

HR. van Heekeren menyatakan bahwa Homowajakensis (manusia purba Wajak) hidup pada masa Plestosin atas, sedangkan peninggalan-peninggalan Pacitan berkisar antara 8.000 sampai 35.000 tahun yang lalu. Akibatnya masa megaliticum atau masa Neoliticum itulah yang meliputi daerah Trenggalek ketika dihuni oleh manuala Trenggalek purba.

Satu hal yang perlu dicatat disini bahwa manusia-manusia Trenggalek pada waktu itu dapat direkonstruksikan lebih tua dibandingkan dengan manusia Wajak dan lebih muda di banding dengan manusia-manusia Sampung Ponorogo.

Mengingat masa itu masyarakatnya sudah mengenal pertanian, maka dari segi soslal, masyarakat tadi sudah mengenal struktur atau stratifikasi sosial walaupun dalam bentuk sangat sederhana. Sedangkan masalah perekonomian dan kebudayaan telah pula mereka kenal dan mereka anut serta dikerjakan oleh masyarakat pendukungnya.

Beakhirnya masa prasejarah berarti dimulainya masa sejarah dimana tulisan mulai dikenal pada saat itu. Untuk itu perdikan Kampak merupakan tonggak sejarah Kabupaten – Trenggalek yang tidak dapat diabaikan. Lahirnya perdikan Kampak ditandai dengan adanya prasasti Kampak yang dibuat oleh raja Sindok pada t ahun 651 Syaka atau 929 Masehi. Dari prasasti itu dapat diketahui bahwa Trenggalek pada masa itu sudah memiliki daerah-daerah yang mendapatkan hak otonomi atau swatantra. Lebih jelas lagi diketengahkan bah­wa perdikan Kampak berbatasan dengan mahasamudra ( Samudra Indonesia ) disebelah Selatan yang pada waktu itu wilayahnya meliputi Panggul Munjungan dan Prigi. Selanjutnya disinggung pula daerah Dawuhan yang sekarang daerah ini juga masih dap at dijumpai di Trenggalek.

Setelah masa Pu Sindok dengan melalui masa raja Dharmawangsa lahirlah di Java Timur kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh raja Airlangga. Hanya sayangnya pada masa ini tidak banyak diketahui kesejarahannya, dikarenakan tidak ditemuinya data atau mungkin belum diketemukannya data tentang ma­sa tersebut. Namun tidak dapat disangkal bahwa wilayah Trenggalek termasuk dalam kawasan Kahuripan yang kemudian berkesinambungan menjadi wilayah kerajaan Kediri. Dari jaman Kediri hanya ada beberapa hal yang dapat dicatat, utamanya pada masa ini dengan munculnya prasasti- Kamulan yang terletak didesa Kamulan Kecamatan Durenan – Kabupaten Trenggalek. Bertolak dari prasasti Kamulan dapat1ah diajukan suatu masa yakni lahirnya perdikan Kamulan.

Di dalam prasasti Kamulan dicantumkan tahun pembuatannya yaitu tahun 1116 caka atau tahun 1194 Masehi. Prasasti tadi dikeluarkan oleh raja Sri Sarweswara Triwikramawataranindita Sragga Lancana Dikwijayotunggadewa atau biasa dikenal dengan naoa Kertajaya. Raja inilah yang berhasil mengusir musuh-musuhnya dari daerah Katang-katang berkat bantuan rakyat Kamulan. Berdasar atas prasasti inilah ditetapkan “Hari Jadi Kabupaten Trenggalek pada hari  Rabu Kliwon ” tanggal 31 bulan Agustufi tahun 1194.

Hari dan tanggal tersebut dijadikan hari jadi atau hari la­hirnya Kabupaten Trenggalek berdasarkan data sejarah yang ditemui di Trenggalek antara lain :

Pertama, Prasejarah daerah Trenggalek menunjukkan – bahwa daerah itu telah dihuni manusia, tetapi jaman ini bersifat masih nisbi sekali.

Kedua, Prasasti Kampak tidak jelas hari dan tanggalnya kapan prasasti itu dilaksanak an isinya.

Ketiga, Hanya prasasti Kamulan yang memi1iki informasi cukup lengkap sehingga mampulah prasasti Kamulan dijadikan – tonggak sejarah lahirnya  Kabupaten Trenggalek secara analitis, historis, yuridie formal yang dapat dipertanggung jawabkan.

 

Drs. MUKAYAT, Tim Sejarah Kabupaten Trenggalek Dan Tim Konsultan IKIP MALANG: Ringkasan Sejarah Trenggalek , Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek Pebruari 1982, hlm.7-10

Trenggalek di Gabungkan

Sejak tahun 1926 telah diadakan perubahan pemerintahan oleh pihak Belanda,perubahan ini di Trenggalek dilaksanakan pada tahun 1935, sejak saat ini Trenggalek digabungkansebagian daerahnya dimasukkan kabupaten Tulungagung dan sebagian yang lainnya dimasukkan kabupaten Pacitan.

Akibatnya hal ini Sama dengan pada masa sebelum adanya kabupaten Trenggalek awal,penggabungan ini mengakibatkan Trenggalek kurang mendapat perhatian. Dengan demikian maka keadaan Trenggalek pada masa itu tidak banyak yang dapat dicatat.

Trenggalek pada masa Revolusl Fisik ditandai dengan masuknya daerah itu kedalam wilayah negara Republik Indonesia.  Berita masuknya daerah Trenggalek kedalam negara Kesatuan – Republik Indonesia meskipun secara tidak resmi telah terdengar secara lisan dan tersebar serta didengar oleh seluruh penduduk desa-desa di Trenggalek.

Dalam masa ini Trenggalek juga mendapat perhatian dari pembesar-pembesar negara antara lain : Menteri AgamaKyai Haji Masjkur yang didampingi oleh Mr. Sunaryo sebagai sekjen Depag. Datang pula Menteri Dalam negeri Drs.Susanto Tirtoprodjo, SH serta menteri Negara dr. Sukiman Wirjosandjojo yang sampai di daerah Trenggalek dengan jalan kaki.Panglima Besar Jendral Sudirmanpun pernah dua kali mengunjungi Trenggalek. Kunjungannya yang terakhir pada tanggal 24 Januari 1949 menuju desa Nglongsor.

Sekitar Konfrensi Meja Bundar yang membuahkan pemerintahan Republik Indonesia Serikat imbasnya terasa pula di Treng­galek,hal ini dapat diketahui dengan adanya serah terima kekuasaan yang dilakukan oleh Mukardi, R. Roestamadji dan Sukardjono dari pihak RI di Trenggalek dengan Mayor Craan dan Karis Sumadi sebagai wakil pihak Belanda.

Dengan demikian selesailah masa penggabungan di Treng­galek yang dipenuhi oleh peristiwa-peristiwa duka dan lara. Namun berkat rachmat Tuhan Yang Maha Esa fajar telah menyingsing dan Trenggalek mengalami masa cemerlang serta masa pembangunan demi tercapainya keagungan bangsa dan negara.

Sejarah Kabupaten Trenggalek memang unik, hal ini tercermin dalam periodisasinya yang pernah mengalami masa penggabungan Periode Trenggalek awal yang mengetengahkan perkembangan dinamika poleksosbud Trenggalek – 1830 M sampai 1932 yang dilanjutkan dengan masa Trenggalek digabungkan yang meliputi awal Proklamasi sampai Revolusi Fisik.

 

Drs. MUKAYAT, Tim Sejarah Kabupaten Trenggalek Dan Tim Konsultan IKIP MALANG: Ringkasan Sejarah Trenggalek , Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek Pebruari 1982. Hlm. 15-16


Kabupaten Trenggalek Awal

Yang dlmaksud dengan Trenggalek Awal   ialah timbul tenggelam pemerintahan  yang mengemudikan kabupaten Trenggalek Peristiwa sebelum 1830 yang menggoncangkan pulau Jawa adalah peristiva pembunuhan penduduk Cina di Batavia secara besar-besaran yang dilaksanakan oleh VOC pada tanggal 10 Oktober 1940  yang dikenal dengan nama perang Pacino atau geger Pacinan.

Akibatnya Mas Garendi yang bergelar Sunan Kuning membantu penduduk Cina dan mengadakan penberontakan menyerang Kartasura pada 30 Juni 1742. Akibat dari peberontakan ini Sunan Paku Bumana II terpaksa melarikan diri ke Ponorogo, Dengan bantuan Bupati Mertodiningrat dari Ponorogo Sunan Paku Buvana II berhasil menumpas peaberontakan tadi yang mengakibatkan putra Bupati tadi diangkat sebagai Bupati Trenggalek yang pertama pada tahun 1743. Bupati Treng­galek pertama inilah yang bernama Sumotruno. Bupati Sumotruno digantikan oleh saudaranya sendirl Bupati Jayanagara yang merangkap penguasa tunggal di Sawo Ponorogo.

Waktu perang Mangkubumen, penguasa Trenggalek adalah Ngabei Surengrana yang pada awalnya membantu Mas Said kemudian berganti haluan menggabungkan diri dan mengikuti jejak Sultan Hamengkubuwana I. Pada akhrir peperangan Mangkubumen yang mencetuakan perjanjian fiiyanti pada 13 Pebruari 1755 mengakibatkan Trenggalek dibagi menjadi dua bagian, bagian Timur masuk wilayah Ngrawa dan bagian Barat serta Selatan termasuk kabupaten Pacitan. Hal inl dapat dlbuktlkan dengan diketemukannya tugu perbatasan dari batu yang terdapat didesa Gayam kecamatan Panggul.

Baru pada tahun 1830 setelah perang Diponegaran selesai daerah Trenggalek langsung menjadi milik Belanda. Susunan tata pemerintahan pada waktu itu tidak banyak diketahui hanya dapat diperkirakan kalau tidak terlampau jauh bedanya dengan daerah-daerah wilayah kerajaan Mataram yang lain.

Pada tahun 1842 Bupati Trenggalek Raden Tumenggung Mangunnagoro meninggal dan digantikan oleh Raden Tumenggung Ariyakusuma Adinoto yang sejak awalnya menjabat sebagai bupati Besuki. Raden Tumenggung Ariyakusuma Adinoto pada tahun 1843 dipindahkan ke Berbek daerah Nganjuk, sehingga jabatan bupati daerah Trenggalek masa ini lowong, Untuk mengisi kekosongan ini diangkatlah Raden Ngabei Joyopuspo yang pada awalnya menjabat Patih Trenggalek menjadi bupati Trenggalek dengan gelar Raden Tumenggung Pusponagoro. Tidak selang lana Raden Tumenggung Pusponagoro wafat, sebagai gantinya diangkatlah Wedono Tulungagung : Raden Gondokusumo menantu Bupati Tulungagung se­bagai bupati Trenggalek dengan gelar Tumenggung Sumoadiningrat pada tahun 1845 M.

Secara berurutan Bupatl-bupati Trenggalek awal adalah sebagai berlkut :

Sumotruno                                        1743    –           …..

Joyonagoro                `                       …..     –           …..

Mangundirono`                               …..      –           …..

MangunnagoroI                              1830    –          …..

MangunnagoroII                            …..       –           1842

Aryokusumo Adinoto                     1842             1843

 Pusponagoro                                   1843               1845

Sumo diningrat                                1845              1850

Mangundiredjo                                1850               1894

Widjojokusumo                               1894                1905

Purbonagoro                                     1905     –         1932

 

Drs. MUKAYAT, Tim Sejarah Kabupaten Trenggalek Dan Tim Konsultan IKIP MALANG: Ringkasan Sejarah Trenggalek , Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek Pebruari 1982, hlm. 13-15

Lambang Daerah Kabupaten Trenggalek

 

Arti Lambang Daerah Kabupaten Trenggalek

Arti Lambang Daerah Kabupaten Trenggalek.docx

Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1965

1.   Sudut lima perisai mengingatkan kita pada kelima unsur-unsur yang tercantum pada Pancasila, maksuknya rakyat Trenggalek menerima Pancasila sebagai Dasar Negara.

Warna dasar hijau berarti ketenteraman, maksudnya rakyat Trenggalek seperti yang dilambangkan ialah berada dalam ketenteraman. Berbingkai kuning emas artinya dinamis, maksudnya rakyat Trenggalek didaam ketenteraman selalu berjiwa dinamis.

2.  Selendang warna dasar merah, berhuruf putih, mengingatkan kita kepada shang dwiwarna, ialah keberanian yang berdasarkan kepada kesucian untuk mencapai apa yang termaksud dilam semboyan lambang : YWALITA PRAJA KARANA (ialah cemerlang karena rakyat ).

3.  Padi dan Kapas yang berarti lambang kemakmuran sandang dan        panganmaksudnya rakyat Trenggalek bercita-cita untuk tidak kurang sandang pangan

4.Lingkaran artinya kebulatan. Warna merah artinya berani. Rantai artinya persatuan. Warna putih artinya suci.

Rantai dan lingkaran maksudnya rakyat Trenggalek cinta kepada persatuan yang bulat / utuh.

Warna merah dan putih menunjukkan sifat rakyat Trenggalek yang berani karena benar.

5.  Padi 17 butir, Kapas 8 buah, dan Rantai 43 buah mengingatkan kepada hari lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia 17 A gusius 1945.

6.  Kantil tegak artinya bangunan Warna hitam artinya kokoh/kuat. Warna putih arrtinya cinta

Tonjolan tiga adalah trilogi, artinya raky.it Trenggalek tetap berfegang teguh kepada :

1.     Pancasila.

2.     Undang – Undang Dasar 1945

3.     Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

7.   DENGAN IMAN, ILMU DAN AMAL.

Bintang ialah lambang Ketuhanan Yang Mahaesa, maksudnya rakyat Trengga­lek mempunyai Kepercayaan kuat kepada Agama yang berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa. Berwarna kuning emas, berarti kebesaran / keagungan Tuhan.

 

Drs. MUKAYAT, Tim Sejarah Kabupaten Trenggalek Dan Tim Konsultan IKIP MALANG: Ringkasan Sejarah Trenggalek , Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek Pebruari 1982, hlm. i

 

Spookhuis (ru­mah setan), Surabaya

gedung setanYang Lama yang Tinggal Puing. Dulu “Spookhuis” (Rumah Se­tan) di pojok Reiniersz-boulevard (sekarung bernama Jalan Diponegoro) JI.banyuurip, di Surabaya, yang dibangun oleh Kidder J A. Middelkoop, Pe­nguasa di Jawa Bagian Timur di Surabaya antara tahun 18 (H) – 1810, selanjutnya dijual oleh pe­miliknya kepada seorang dok­ter, wargakota Surabaya.

Sejak jaman kolonial belanda dahulu gedung itu memang sudah terkenal di kalangan masyarakat di kota Surabaya sebagai “ru­mah setan” atau “spookhuis”.

Menurut ceritera “ru­mah setan” ini ada dua versi. Versi pertama mengatakan bahwa salah-seorang puteri dari salah-seorang pemilik rumah itu membunuh anak-tirinya, hingga roh dari anak yang dibunuh itu gen­tayangan di sana.

Versi yang kedua mengatakan bahwa salah seorang dari pemi­lik gedung itu adalah seorang bekas budak dalam kapal, yang dipunggungnya ada cap bakarnya. Ia berpesan kepada ke­luarganya supaya bila ia meninggal, jenazahnya jangan sampai dimandikan. Mungkin Keluarga nya itu lupa pesan bekas budak itu dan jenazahnya toh diman­dikan, hingga rohnya gentaya­ngan di dalam rumah itu.

Untuk menyelidiki tentang kebenaran sassus tersebut memang mempunyai dasar atau tidak, di dalam rumah itu per­nah diselenggarakan apa yang dinamakan “seance spiritis­me”, tetapi selama diadakan “seance” itu tidak ada roh yang muncul.

Dibelakang “rumah setan” ini terdapat sebuah makam, dimana antara lain dikubur jena­zah dari Gubernur Jendral Carel Reiniersz, J.A. Middelkoop, serta is­trinya dan anak tunggalnya N.W. Middelkoop.

 

Jawa Pos. 13 Nopember 1982 , hlm. III. Kol. 1

Surabaya Tahun 1850 Belum Ada Penerangan Jalan

Penerangan Jalan di Surabaya Belum Ada pada Tahun 1850, Yang Jalan pada Malam Hari Harus Bawa Obor

Surabaya Terang002DI sekitar tahun 1850 di daLam kota Surabaya belum ada penera Agan jalan. Pada wak­tu itu penerangan jalan belum diperlukanwarga kota pada umumnya pada malam hari tinggal di rumah saja. karena di luar rumah pada malam hari toh tidak ada apa-apa. Apabila 0rangBelanda ingin pergi ke suatu penemuan maka ia menyuruh budaknya berjalan mendahuluinya dengan membawa sebuah lampu dan menunjukkan jalannya,

LAMPU UBLIK

Lain halnya dengan orang orang pribumi yang perlu jalan pada malam hari di kota Sura baya; orang-orang pribumi yang jalan di jalan umum pada malam hari diharuskan membawa penerangan, misalnya membawa obor atau upet (= sobekan dari mangcung-kelapa yang biasanya digunakan untuk menyala kan rokok). Ketentuan Pemerintah Belanda setempat ini baru dihapuskan pada tanggal 1 Maret 1864.

Baru pada tahun 1858 pihak Pemerintah Belanda di Surabaya menyelenggarakan penerangan jalan dalam bentuk lampu-lampu ublik yang menggunakan minyak kelapa.

Pelaksanaan menyelenggarakan penerangan jalan di kota Sura baya itu diserahkan kepada- seorang, pemborong Cina yang untuk itu ia menerima biaya 230 Gulden untuk satu bulan. Di samping uang 230 Gulden itu si pemborong juga mendapat bantuan berupa tenaga manula, yakni 20 orang hukuman karena Pelanggaran peraturan-peraturan.

Polisi yang bertugas menya­lakan dan mematikan lampu- lampu di jalan-jalan itu dan juga membersihkannya tiap hari Pada tahun 1863 kontrak dengan pemborong Cina itu dinyatakan hapus oleh pihak Pemerintah Belanda setempat, karena di anggap untungnya pemborong itu terlalu banyak.

LAMPU MINYAK TANAH

Setelah pelaksanaan penye lenggaraan penerangan jalan dengan lampu-ublik dihentikan, maka Pemerintah Belanda setem pat pada tahun 1864 mencoba untuk menggunakan lampu-lampu dengan minyaktanah un tuk penerangan jalan di kota  Surabaya.

Surabaya Terang001Dalam rangka proyek ini telah dibeli ratusan buah lampu yang menggunakan minyak-tanah dengan harga 2.500 Gulden.  Jumlah lampu yang  di dapat dari pembelian sebesar 2.500 Gulden itu ternyata tidak mencukupi untuk menerangi se luruh kota Surabaya tempat-tempat seperti Simpang, Kayun, Kaliasin, Keputran, Embong Malang dan Kupang belum mendapat  bagian lampu dan padfl malam hari tempat-tempat itu tetap berada dalam keadaan gelap

Pelaksanaan penyelenggara an penerangan jalan yang ke dua ini juga diserahkan kepada seorang pemborong. Pemborong yang baru ini orangnya memang cukup kreatip; ia berhasil men­cintakan lampu dengan bran der (mulut-api) yang banyak yang diberi nama “1000 bran dor

‘ Sekonyong-konyong pada tang gal 2 April 1867 pemborong itu menghentikan penerangan jalan yang penyelenggaraannya dise rahkan kepadanya, karena pena gihan biayanya dari pihak Porno lintah setempat sulit sekali. “iTnk ada uang, ‘tak ada pene rangan”, katanya.

Dalam rangka usaha rnenga tasi keadaan itu, Kesiden Sura baya membuat siirat-edaran untuk mengumpulkan dana un tuk membiayai suatu sistem pe nerangan jalan di kota Surabaya. Ternyata hasilnya hanya 307,25 Gulden, jumlah mana dengan sendirinya tidak cukup untuk „membiayai suatu sistem pene rangan jalan yang baik.

PENERANGAN GAS

Baru pada tahun 1877 di Surabaya diadakan persiapan untuk membangun sebuah pabrik gas di Gembong, setelah dari Pemerintah Belanda di Rotterdam di dapat suatu konsesi untuk mendirikan sebuah pabrik gas oleh pihak Nederlandsch –Indische Gas Maatschappij. Dan baru pada tahun 1879 pemasangan pipa-pipa gas di kota Surabaya sele sai dikerjakan. Pada bulan September 1879 pabrik-gas mulai menyalurkan gasnya ke rumah-rumah untuk penerangan di rumah-rumah.

Baru pada tahun 1881 lampu-lampu gas di jalan-jalan di kota Surabaya menyala. Pada tahun 1920 di kota Surabaya terdapat 1709 buah lampu-gas di jalan- jalan dan tempat-tempat umum lainnya.

Pada tahun 1923 penerangan di jalan-jalan dengan lampu- lampu gas diganti dengan lampu-lampu listrik.

Disadur dari: Oud Soerabaia, R. Singgih. Redaktur Jawa Pos. Jawa Pos Nopember 1982, hlm. III, kol. 1

Panji Seputra Kawin

Pada waktu itu di Kerajaan Jenggala, Sang Raja sedang mengada kan sidang paripurna. Segenap nayaka praja, terutama para pejabat hadir dalam persidangan. Para pejabat terus diajak untuk merundingkan Panji Seputra atau lazim juga disebut Panji Kuda Rawis Rengga. Pada waktu itu ananda Panji Seputra, sedang tergila-gila pada seorang putri yang cantik jelita putri Karandan, Semampir, Sanggrahan, Wanacatur, yang bernama Dewi Anggraini.

Oleh karena itu sang Raja akhirnya memutuskan untuk meng­utus ananda Brajanata, untuk pergi ke Semampir, guna membunuh Dewi Anggraini. Brajanata yang ditugasi ayahanda, segera berangkat untuk melaksanakan tugasnya yang tak ringan itu.

Pada waktu itu Sang Panji Seputra pun sedang berada di Semampir, sedang memadu kasih dengan kekasihnya yang tercinta, Dewi Anggra eni. Betapa gembira Panji dan Dewi mendapat tamu dari Jenggala, yang tidak lain adalah saudaranya sendiri, yakni si Brajanata. Setelah segala basa-basi berlalu, kemudian Brajanata pun menyampaikan maksud ke­datangannya ke Semampir. Tentu saja ia cukup pandai dan licik mencari alasan-alasan Brajanata mengatakan bahwa kedatangannya ke Semampir adalah merupakan duta raja Jenggala, dan bukan pribadi Brajanata. Atas nama Sang Raja Brajanata disuruh menyampaikan berita, bahwa Eyang Kilisuci sedang menderita gering. Kilisuci, pendeta di Kepucangan yang sedang menderita gering itu akan sembuh kembali, kalau sang pendeta mendapat pengobatan berupa empal daging banteng yang ada di hutan Lodaya. Oleh sebab itu sang Raja berkenan menghimbau kepada ananda Panji Seputra agar dapat memperoleh daging banteng di hutan Lodaya. Hanya kepada Panji Seputralah harapan ini tergantung.

Karena sangat kasih akan eyangnya, meski dalam keadaan mabuk asmara, akhirnya sang Panji segera berangkat mencari daging banteng ke hutan Lodaya. Ketika akan berangkat, Sang Dewi Anggraini mem­punyai sebuah permintaan, agar kelak sekembalinya dari mencari daging banteng di hutan Lodaya, Sang Panji pun berangkat diiringi oleh abdinya yang terkasih.

Pada waktu itu Sang Panji Brajanata sudah berangkat mendahului Panji Seputra. Akan tetapi Sang Panji Brajanata menyimpang jalan, tidak terus ke hutan Lodaya, tetapi kembali ke Tamansari menemui Dewi Anggraini Kepada Dewi Anggraini ia memberi kabar, bahwa sekarang Panji Seputra dalam keadaan bahaya, karena baru saja dipecundangi oleh seekor ban­teng yang sangat galak. Oleh sebab itu dimohon dengan segera Dewi Anggraini menyusulnya ke hutan Lodaya. Tanpa prasangka apa-apa Dewi Anggraini putri yang cantik jelita sambil berurai air mata berangkat me­nyusul Panji Seputra ke hutan Lodaya.

Brajanata yang mengemban tugas dari ayahanda untuk membu­nuh Dewi Anggraini, merasa tidak mampu, tidak tega melakukannya. Apakah dosa Dewi Anggraini? Seribu pertanyaan menghantui dirinya sehingga tugas berat yang dibebankan ayahanda padanya itu belum di­laksanakan. Setiap ia mau melaksanakan, saat itu juga melengking tan­tangan dari dalam nuraninya.

Tak mampu membendung gejolak perasaan yang terus memburu, akhirnya ia berterus terang pada Dewi Anggraini, bahwa sebenarnya ia datang ke Semampir dengan mengemban tugas yang amat berat. Tugas itu tak lain ialah agar Brajanata mengakhiri hayat Dewi Anggraini disebab kan oleh karena Panji Seputra akan dikawinkan dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana dari Kediri.

Mendengar keterus-terangan Brajanata itu, Dewi sangat kasihan pada Brajanata yang tak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Oleh sebab itu diam-diam Sang Dewi Anggraini mencari jalan untuk me­laksanakan tugas Brajanata. Sang Dewi pun akhirnya menemukan jalan, dikatakan pada Brajanata, bahwa saat itu sedang ada matahari kembar. Mendengar ucap Dewi Anggraini ini mendongaklah Brajanata. Pada saat itu juga Sang Dewi memasukkan keris pada dirinya. Maka ber­akhirlah kisah gadis jelita, yang menjadi idaman hati Sang Panji Seputra. Sang Brajanata sangat menyesal. Mayat Sang Dewi ditutup dengan daun-daun sana. Dengan hati yang tak menentu Brajanata melangkahkan kakinya ke Jenggala.

Terceritalah pada waktu itu Sang Panji Seputra bersama dengan dua orang abdi terkasihnya, untuk berburu banteng. Ternyata tidak gampang mencari daging banteng.

Karena tak seekorpun banteng pada waktu itu yang menampakkan diri dihutan perburuan. Rupanya nasib tidak begitu menguntungkan bagi Panji Seputra. Oleh sebab itu mereka bertiga mengambil keputusan un­tuk kembali terlebih dahulu. Hari-hari berikutnya, perburuhan itu dapat dilanjutkan lagi.

Maka mereka bertiga pun kembali ke Semampir. Tetapi dalam perjalanan pulang, teringatlah Panji Seputra akan pesan sang kekasih. Maka diutusnyalah kedua abdinya mencari bunga Sana. Demi dilihatnya pohon sana yang cabangnya sudah runtuh, maka didekatinya. Di situ mereka mencari bunga sana itu. Betapa terkejut mereka ketika melihat dalam tumpukan daun-daun sana itu, ada seorang wanita yang sudah menjadi mayat. Mereka segera melapor kepada tuannya. Sang Pgnji Seputra pun segera memeriksa mayat itu. Alangkah terkejutnya, ketika diketahui, bahwa mayat itu tidak lain adalah kekasihnya Dewi Anggraini. Terharu, sedih, kecewa, marah, berbauran dalam hatinya ketika itu. Panji Seputra sangat yakin, bahwa Brajanatalah yang melaku kan perbuatan keji dan terkutuk itu, Dengan hati hancur mayat kekasih nya digendongnya, mencari Brajanata untuk membalas sakit hatinya.

Konon kabarnya, menurut yang empunya ceritera, bangkai Dewi Anggraini yang digendongnya itu selalu mengucurkan darah. Darah itu oleh Sang Panji diusapkan pada batang sana itu. Oleh sebab itu getah sana sampai sekarang merah warnanya.

Makin lama mayat itu pun makin membusuk. Namun dengan penuh perasaan cinta dan kasih Panji Seputra terus menggendongnya, untuk mencari Brajanata. Demikianlah rambut Dewi Anggraini mulai pada rontok. Rambut yang rontok tadi ditempelkan pada sebatang po­hon yang sedang mengarang, terkena sabda kesaktian Panji Seputra jadilah pohon cemara. Kemudian ganti pipi sang Dewi, ditempelkannya pipi itu, kena sabda sakti Panji Seputra jadilah pohon tembakau, kelak tembakau itu akan diciumi orang yang menyenanginya.

Konon, bangkai itu pun terus dibawa kesana kemari. Dan berguguranlah rambut Sang Dewi, ditempelkannya pada batang pohon aren dan jadilah ijuknya yang hitam kelam.

Akhirnya, bangkai itu terus membusuk sama sekali, dan hampir tak dapat dibawanya lagi. Akhirnya bangkai itu dikuburkan oleh Sang Panji Seputra.

Pada saat itu Sang Panji terus segera mencari Brajanata. Sedang Brajanata telah lari dan bersembunyi di gunung Wilis dan menyepi pen­dekatan diri. Kedua abdinya di tengah perjalanan sempat mencegah maksud Sang Panji, agar tidak usah melanjutkan perjalanannya dan su­paya kembali ke Kediri tak usah ke Jenggala, agar terelak dari penjelma­an Anggraini yang mau kembali ke Kediri. Dan diharapkan agar ia men­jadi Kyai Lodaya, sedang para abdinya masing-masing Kyai Corekan dan Kyai Ndaka.

Mereka telah sampai di hutan Lodaya. Dan bertepatan saat itu pulalah Sang Prabu Amiluhur hendak mengarak penganten ke Kediri, Namun Panji Seputra belum datang. Perjalanan pengarakan penganten itulah dihalangi oleh Klana Sewandana, yang pada waktu itu sedang jatuh cinta pada Dewi Sekartaji Galuh Candra Kirapa. Oleh karena itu maka Klana Sewandana menjelma sebagai Panji Seputra, serta bergegas ia terus datang ke Jenggala, berbahagialah Prabu Jenggala atas kehadirannya, lalu segera dihadapkannya ke Kediri.

Pada saat itu Sang Prabu Kediri sedang duduk-duduk bersantai bersama putranda Gunungsari Mlayakusuma sambil membicarakan ten­tang perkawinan Dewi Sekartaji dengan Panji Seputra. Sang Prabu Kediri mengatakan pada putranda sang Gunungsari jika nanti saat perkawinan tiba, pertama ia diharap menjadi pelayan tamu kehormatan, kedua, su­paya ia mencari orangtua atau sesepuh yang dipandang perlu untuk ikut merestui perkawinan nanti, ketiga, orang-orang supaya mengadakan pembersihan, dan sebagainya.

Pada saat yang demikian Gunungsari sempat bertemu dengan Ki Gede Lodaya, ya Panji Asmarabangun, atau Panji Seputra. Dikabarkan, bahwa perkawinan di Kerajaan Kediri, yakni Dewi Sekartaji tak mau di­pertemukan dengan Panji Seputra penjelmaan Klana Sewandana, dan yang disembah saat itu adalah Ki Gede Seputra. Maka hal itulah yang membuat Sang Prabu kebingungan segera memanggil Kyai Ndaka agar memberikan penjelasan pada Sang Prabu. Akan tetapi Kyai Ndaka pura-pura kesurupan setan, dan ia berkata bahwa kendipratala yang berada di tempat pertemuan pengantin, itu dimintanya dan dipakai untuk meng­adakan sayembara, bahwa siapapun yang dapat memasuki kendi tersebut, ialah yang berhak jadi pengantin. Namun Klana Sewandana yang berhasil masuk ke dalam kendi itu. Tetapi oleh Kyai Ndaka kendi itu disumbat dan dibawanya ke alun-alun. Dan pecahlah kendi itu, kemudian muncul Klana Sewandana darinya. Peristiwa itu menyebabkan tercetusnya peperangan antara Panji Seputra dengan Klana Sewandana. Akhirnya Klana Sewandana mengala­mi kekalahan dan matilah ia, Kematian Klana Sewandana terdengar oleh kakanda Dewi Anggraini, ia marah dan ingin menuntut balas.

Panji Seputra merasa kewalahan, tetapi ia ingat dan mengerti bahwa Dewi Anggraini telah menyusup pada Dewi Kirana. Maka segera Panji Seputra menugaskan Gunungsari untuk memanggil Dewi Sekartaji. Sebab Sekartajilah yang merupakan tandingan Dewi Anggraini. Peperangan terus menjadi, menyusuplah sukma Dewi Anggraini pada diri Dewi Sekar taji Galuh Candra Kirana.

Peperangan telah berakhir, kekalutan telah punah pula, sebalik nya hadir sebuah bahana perdamaian di bawah panji-panji keagungan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Asmarabangun, bagai rembulan berja­jar, menyinari semesta alam dengan cahaya kesejahteraan dan ketente­raman.

 Diambil dari cerita bahasa Jawa, daerah Trenggalek

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Leo Indra Ardiana. Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur. Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, (1982-1983), 1984,  hlm. 88-92.

Panji Wuyung

Pada jaman dahulu kala, yang memerintah Kerajaan Kediri adalah Prabu Lembu Amilihur. Sang Raja mempunyai seorang putra yang gagah perkasa, Sang Panji Seputra namanya. Demikianlah kata yang empunya cerita, Sang Panji menjadi berubah akal, karena ditinggal mati oleh ke­kasihnya, yang sangat dicintainya, yakni Dewi Anggraeni. Sang Panji Seputra jatuh sakit memikirkan kepergian kekasihnya.

Tidaklah mengherankan bila penderitaan sang putra terkasih ini juga dirasakan oleh ayahandanya, Prabu Lembu Amiluhur. Negara seakan ditutup oleh awan mendung yang hitam kelam. Suasana mencekam, karena putra raja Sang Panji menderita sakit yang memang aneh dan lain dari pada yang lain. Para nayaka praja, santanakerajaan dan para kawula, benar-benar ikut prihatin akan penderitaan yang dia­lami oleh raja mereka. Sang Panji sakit, dan berubah ingatan. Tidak ada seorang pun yang mampu menyembuhkannya. Usaha-usaha untuk me­nyembuhkannya selalu mengalami kegagalan. Semua usaha telah dikerja­kan dan tak ada hasilnya.

Akhirnya Sang Raja Lembu Amiluhur, mengambil keputusan agar Sang Panji memperoleh pengobatan dan penyembuhan, dan diantar­kan pergi ke Ngurawan. Adiknya, Sang Panji Jayakusuma diutus untuk mengantarkan Sang Panji Seputra pergi ke Ngurawan.

Demikianlah, akhirnya setelah lama berada di Kerajaan Ngurawan Sang Raja Ngurawan mempunyai rencana akan mengawinkan Sang Panji Seputra dengan putera puterinya, Dewi Sekartaji Galuh Candrakirana. Demikianlah kehendak Sang Raja Ngurawan, Prabu Surenggana.

Para pendeta memberikan restunya, dan mereka meramalkan,

“Hanya Panji Seputra dan Dewi Sekartaji Candrakiranalah yang dapat menurunkan raja-raja Kediri di tanah Jawa ini. Sebab mereka me­rupakan pasangan yang sangat serasi. Lagi pula mereka masih bersaudara sepupu.

Kemudian Sang Raja Kediri mengutus Gunungsari Mlayakusuma Ringin Pitu untuk menghadap Sang Raja Ngurawan untuk menyerahkan surat lamaran, untuk meminang Dewi Sekartaji Galuh Candrakirana.

Setelah sampai di Ngurawan, maka Raden Panji Mlayakusuma Ringin Pitu pun menyampaikan maksud kedatangannya kepada Sang Raja NguraWan, Prabu Surenggana. Demikianlah lamaran itu diterima dengan senang hati, namun para utusan tidak diperkenankan pulang ter­lebih dahulu, sebab mereka akan disuguhi dengan makanan-makanan yang lezat dan tarian-tarian yang lemah gemulai yang akan diperagakan oleh para putri-putri Sang Raja Ngurawan. Demikianlah para tamu itu mendapat suguhan yang sangat nikmat, dan hiburan tari-tarian yang sangat mempesona. Betapa lemah gemulainya para penari-penari itu, yang tak lain adalah putri-putri Raja Ngurawan, Prabu Surenggana. Semua pengunjung sangat kagum akan ketrampilan dan keindahan gerak para penari-penari yang cantik jelita. Terlebih Raden Panji Gunungsari. Matanya bagaikan tak berkedip menyaksikan kecantikan salah seorang penari itu yang bernama Dewi Kusumadiningrat. Sebuah perasaan yang sangat aneh telah menjalari tubuhnya. Panah asmara, diam-diam telah menembus jantungnya. Panah asmara yang sangat hebat, telah merasuki dirinya. Demikian hebatnya panah asmara itu, sehingga ketika pertunjuk­kan itu usai, dan para tamu dipersilahkan beristirahat dengan damai dan tenang pada tempat yang telah disediakan, Raden Panji Gunungsari tidak dapat memejamkan matanya sepicing pun. Hanya sang dara cantik jelita yang selalu datang menggoda dalam bayangannya. Sang Panji Gunungsari pun menjadi gelisah.

Karena gejolak hatinya yang maha hebat, maka Raden Panji Gunungsari pun berbuat nekad, di luar kesadaran dan penalarannya sebagai seorang tamu dan ksatria sejati. Menurut kehendak hatinya, maka Raden Panji Gunungsari pun memberanikan diri masuk ke dalam keputren pada malam itu juga, untuk menemui sang dara cantik jelita yang telah merampas hatinya, Dewi Kusumadiningrat.

Tetapi betapa terkejut Sang Panji Gunungsari, ketika menyaksi­kan adegan yang sangat menyakitkan hatinya dalam taman keputren tersebut. Sang Dewi Kusumadiningrat sedang bercumbu rayu dengan Raden Panji Jayakusuma, adik Sang Panji Seputra. Kemarahan Sang Panji Gunungsari meluap sampai ke ubun-ubun. Akhirnya terjadilah perkela­hian yang sangat seru antara dua makhluk yang sedang dilanda asmara itu, memperebutkan seorang dara jelita, Dewi Kusumadiningrat.

Demikian Raden Panji Gunungsari bertempur dengan segala kemarahan­nya. Dan Panji Jayakusuma pun mempertahankan diri dengan gigihnya. Sebuah perkelahian yang betul-betul seru dengan taruhan jawa.

Namun akhirnya, Raden Panji Jayakusuma berhasil melukai Raden Panji Gunungsari. Tak kuat menahan sakitnya yang luka, dan tak kuat menahan gempuran-gempuran Panji Jayakusuma yang semakin

Diambil dari cerita bahasa Jaya, daerah Kediri.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur. DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, 1982-1983, hlm. 78-79.

Kanjeng Ratu Maduretna

Konon pada waktu itu yang memegang kekuasaan di Kadipaten Maospati adalah Pangeran Rangga Dirja ketiga. Sang Pangeran memerin­tah dan menguasai suatu daerah yang cukup luas, meliputi beberapa katumenggungan, di antaranya Katumenggungan Sumarata, Genengan dan sebagainya.

Pada waktu itu Pangeran Rangga Dirja ketiga mempunyai seorang guru yang limpad dalam hal ilmu kebatinan serta keagamaan, yakni Kyai Mokhamad Basori. Pada waktu itu Pangeran Rangga Dirja ketiga berke­inginan hendak menaklukkan Kabupaten Magetan. Maksud dan niatnya ini disampaikan kepada gurunya, Kyai Mokhamad Basori. Namun Kyai Mokhamad Basori sama sekali tidak menyetujuinya, dan menyarankan supaya gagasan itu dihilangkan saja. Maksud dan keinginan hendak ber­perang melawan Magetan supaya dibatalkan.

Tetapi Rangga Dirja ketiga tetap bersikeras pada pendiriannya.. Tetap akan menaklukkan Magetan. Kecewa akan sikap muridnya yang keras kepala ini, maka Kyai Mokhamad Basori lalu pergi meninggalkan Kranggan.t Dan sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa, maka Kyai Mokhamad Basori lenyap tanpa bekas sama sekali.

Demikianlah Rangga Dirja ketiga tetap memerangi Magetan, Rupanya karena tidak mendapat restu dari sang guru, Rangga Dirja mengalami kegagalan untuk menaklukkan Magetan. Rangga Dirja ketiga kalah.

Sangatlah kecewa hati Pangeran Rangga Dirja ketiga atas kegagal­annya tersebut. Maka, pergilah ia menghadap ayahandanya di Keraton Yogyakarta. Konon menurut kata yang empunya cerita, dalam menem­puh perjalanannya ke Yogyakarta, ia melewati kota Delangu. Di sana ia melihat ada orang menggembalakan kambingnya yang sangat banyak. Di antara kambing itu, ada seekor yang sangat indah warnanya. Gusti putri Maduretna istri Pangeran Ranga Dirja sangat tertarik akan kambing yang elok tadi. Maka ia pun menyampaikan keinginannya untuk memi­liki kambing itu, kepada suaminya. Rangga Dirja menjawab,

“Ya, walaupun kambing itu sangat indah, tetapi itu bukan milik kita”.

Namun Gusti Putri Maduretna tetap pada pendiriannya. Ia menangis, ingin memiliki kambing yang sangat elok itu. Karena sangat cintanya kepada istrinya, tak tegalah Pangeran Rangga Dirja ketiga membiarkan istrinya menangis. Maka dipanggilnyalah penggembala kambing itu, katanya,

“Kakek, kambingmu sangat banyak dan ada yang sangat baik, dan yang baik itu rupanya diingini oleh tuanmu putri. Seandai­nya kambing itu saya minta, apakah kamu rela? Orang,yang menggembala lalu menjawab” Tidak. Tidak tuan! Tuan beli pun tidak akan saya berikan.” Kemudian pangeran Rangga berkata lagi. “Dan kalau saya beli harganya berapa ?”

Orang yang menggembala kambing itu lalu menjawab lagi, “Walaupun tuan beli tidak akan saya berikan.”

Jawaban dari penggembala itu menjadikan beliau marah, dan orang yang menggembala kambing itu dibunuh.

Kemudian pangeran Rangga dan istrinya pergi ke Yogyakarta. Sepeninggal pangeran Rangga dan istrinya, lalu ada berita atau laporan dari keraton Sala, yang mengatakan bahwa pangeran Rangga Dirja telah membunuh seorang penggembala kambing, padahal kambing itu ke­punyaan Keraton Sala.

Setelah itu Keraton Sala minta keterangan kepada Sultan Yogya­karta yang maksudnya bertanya, bahwa jika ada orang yang membunuh orang bagaimana menurut hukum dan harus diberi hukuman apa orang tersebut, maka Sultan Yogyakarta menjawab bahwa orang yang mem­bunuh harus dibunuh. Kemudian Keraton Sala mengirim surat, ke Yogyakarta bahwa Pangeran Rangga Dirja harus dibunuh karena telah membunuh penggembala kambing.

Sultan Yogyakarta tidak tega untuk membunuhnya maka ter­paksa putranya tadi disuruh pergi mengembara dengan diiringkan oleh Patih Danurejo dan disertai pesan yang berbunyi,

“Jika jauh supaya didekati dan jika dekat supaya dijauhi.”

Inilah kemudian Keraton Sala merasa sungkan lalu membuat surat rahasia yang diberikan kepada Patih Danurejo. Dalam surat itu Keraton Sala berkata kepada Patih Danurejo,

“Apa kamu tidak senang mengganti Sultan di Yogyakarta, sebab Sultan Yogyakarta sudah lanjut usia. Nanti jika Sultan sudah meninggal dan Pangeran Rangga Dirja masih hidup beliau pasti akan menggantikan

Sultan Yogyakarta. Dan seandainya Pangeran Rangga Dirja sudah tiada pasti kamu yang akan diangkat menjadi Sultan Yogyakarta.” Setelah Patih Danurejo mengetahui hal itu maka beliau menjadi sangat bangga.

Kemudian Pangeran Rangga Dirja lalu diserangnya dan dibunuh. Setelah itu mayatnya dimakamkan di pemakaman Banyu Sumurup Yogyakarta. Sedangkan Putri Maduretna yang telah menderita sakit ditanya oleh gurunya sendiri yang bernama Kyai Mochamad Kayah, seorang alim ulama,

“Nek, . . . nanti jika sudah datang waktunya sebaiknya dimakam­kan di mana ?”

“Yang baik supaya dimakamkan di puncak gunung Ngrancang Kencana/Gunung Bancak” jawab Putri Maduretna.

Setelah itu Gusti Maduretna kemudian meninggal dunia dan se­perti yang dimintanya, beliau dimakamkan di puncak gunung Bancak. Menurut dongeng selanjutnya makam tadi dibangun menjadi sebuah cungkup, malahan yang dipergunakan untuk tiang cungkup itu ialah pohon sana yang besar-besar, dan batu merahnya mulai dari Maospati sampai di puncak gunung Bancak, cara mengangkutnya dilakukan dengan jalan beranting yaitu orang-orang berbaris berjejer-jejer dari Maospati sampai di puncak gunung Bancak itu dengan membawa sebuah batu bata yang kemudian diberikan kepada orang di sebelahnya. Demikian terus menerus akhirnya sampai berupa cungkup yang amat besar.

Berhubung Gusti Putri Maduretna dimakamkan di Giripurno, ini sudah barang tentu para kerabat dari ratu mempunyai pikiran, siapa yang harus disuruh menjaga dan memelihara makam itu.

Karena pada waktu itu orang yang paling tua umurnya di Bancak ini bernama Truno Sapa lalu para sanak saudara ingin agar Truno Sapa saja yang disuruh menjaga atau memelihara dan membersihkan sekitar desa Giripurno yang luasnya 405 ha. Dan ini sudah sebagai upah atas jerih payah orang yang disuruh menjaga tadi.

Mengingat Gusti Putri Maduretna sudah memeluk agama Islam dan Truno Sapa masih memeluk agama Budha, sudah barang tentu hal ini tidak cocok, sebab orang yang beragama Budha menjaga dan meme­lihara orang yang beragama Islam, dan selanjutnya ada laporan dari Truno Sapa bahwa dari keluarga Truno Sapa tidak menyetujui, jadi Truno Sapa tidak jadi memegang kepala Perdikan itu. Kemudian cara yang baik mengambil alim ulama dari Klantangan Magetan yang bernama

Kyai Nur Suhada yang disuruh menjaga dan memelihara makam Gusti Putri Maduretna yang kemudian diberi upah seperti yang telah disebut­kan di atas yaitu berupa tanah yang luasnya 405 ha. Ia juga dibebani tugas agar membuat tata tertib desa itu dan selanjutnya Kyai tadi ber­nama Kyai Puru Kunci, yang juga kepala Perdikan.

Diambil dari cerita bahasa Jawa, daerah Magetan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1982-1983, hlm. 96.

Legenda Gua Ngerit

Pada jaman dahulu, konon menurut yang empunya cerita, adalah seorang puteri yang cantik jelita, yang tinggal di tengah-tengah hutan belantara, di tepi sebuah sungai yang sangat jernih airnya. Sang putri rupawan itu, Putri Ngerit namanya. Konon kabarnya sang putri nan can­tik jelita ini berasal dari desa Pucung, daerah Kediri. Demikianlah kata sahibul hikayat, sang putri rupawan ini adalah putera seorang raja dari Kediri.

Sang putri mempunyai saudara berjumlah empat orang, di antara saudara-saudaranya, dia adalah satu-satunya putera raja Kediri yang dilahirkan sebagai seorang wanita. Sedangkan saudaranya yang lain ke­semuanya adalah pria.

Saudaranya yang sulung oleh sang ayahanda raja, dinobatkan menjadi raja yang akan menguasai tanah Jawa bagian utara. Saudaranya yang nomor dua dinobatkan menjadi raja yang menguasai tanah Jawa bagian sebelah timur. Sedangkan yang nomor tiga dinobatkan menjadi raja yang menguasai tanah Jawa bagian sebelah barat. Adapun Puteri Ngerit sebagai putera bungsu sang raja, dinobatkan menjadi raja yang akan menguasai laut Selatan. Demikianlah harapan ayahanda raja Kediri. Sang Puteri ini akan menguasai segala makhluk halus yang ada di laut Selatan. Sang Puteri yang cantik jelita ini akan memerintah jin, setan, peri, prayangan, di laut selatan. Kalau sekarang Sang puteri rupawan ini berada di sebuah hutan rimba belantara, sebenarnya Sang Puteri sedang bertapa, mengheningkan cipta, karsa dan rasa, agar supaya bisa menak­lukkan segala macam makhluk halus, jin, setan, peri, prayangan yang ada di lautan selatan.

Konon terkisahlah, di desa Pakel, Watulima, berdiamlah seorang demang, demang Tangar namanya. Demang Tangar masih berdarah bang sawan, keturunan bangsawan, Mbayat, Banten, Jawa Barat. Sang Demang sampai ke tlatah tersebut, konon seorang pelarian dari daerah Pacitan. Sebagai seorang bangsawan yang sangat mencintai agama Islam, Sang Demang ingin mendirikan sebuah mesjid.

Maka pergilah sang Demang ke hutan belantara untuk mencari kayu yang sangat baik untuk bahan-bahan bangunan mesjid yang ia kehendaki. Memang lain dari pada yang lain, Sang Demang mencari dan memilih kayu hutan justru pada malam hari, karena pada waktu inilah yang dianggapnya saat yang paling tepat, ketika suasana alam menjadi tenang, tenteram dan damai. Dengan demikian Sang Demang dapat memilih kayu yang sangat baik untuk mesjid.

Demikianlah, pada suatu malam, pergilah sang Demang Tangar kehutan untuk memilih kayu yang baik untuk membangun sebuah mes­jid, seperti yang diimpikannya.

Pada waktu itu betapa terkejut ketika tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara tembang yang sangat merdu, dan sangat menyentuh hati. Tembang tersebut didendangkan oleh seorang wanita. Raden Mas Demang Tangar tidak begitu percaya akan pendengarannya. Kemudian ia berusaha keras untuk dapat menangkap suara tembang itu sejelas-jelasnya. Dan tiba-tiba terdengarlah suara yang riuh rendah seperti suara orang yang sedang ber main musik dengan lesung dengan irama yang tidak menentu dan kacau balau. Raden Mas Demang Tangar menjadi sangat marah. Karena kema­rahannya ini Raden Mas Demang Tangar mengucapkan kutuknya.

“Hai orang yang sedang bermain musik dengan lesung. Ini bukan waktunya. Hai wanita yang tidak tahu adat dan sopan santun. Dengarlah, engkau kelak akan menjadi perawan tua dan tidak akan menemukan jodohmu”.

Oleh sebab itu daerah tersebut hingga kini diberi nama desa Mbawuk sebab wanita-wanita sampai berusia tua tidak kawin (Bawuken). Demikianlah hingga kini banyak perawan-perawan yang tidak kawin di daerah itu.

Pada pagi buta itu jelas kelihatan sebuah gunung yang berada di sebelah utara dan kemudian gunung tersebut diberi nama gunung Wiling. Sebab pada waktu itu Raden Mas Demang Tangar miling-miling (menyelidiki).

Setelah mengucapkan kutuknya, Raden Mas Demang Tangar kemudian turun dari gunung Wiling. Ia berjalan lurus ke barat tanpa me­lihat kebelakang dan tanpa menoleh lagi. Sehingga ia tidak tahu kalau ada seseorang yang dijumpainya dalam perjalanannya. Dia adalah seorang duda yang pada waktu itu sedang mencari suara tembang yang diden­dangkan oleh sang putri tadi.

Karena Ki Demang Tangar begitu terpusat perhatian pada suara tembang yang sangat menyentuh hatinya itu, tanpa disadarinya maka ia bertabrakan dengan sang duda tadi. Mereka berdua sangat terkejut (jingkat), oleh sebab itu daerah tersebut disebut dengan daerah Jingkat. Di daerah ini banyak batu-batu yang besar-besar, salah sebuah batu yang besar diberi nama Watu Duda. Terletak di desa Pakel Kecamatan Watu-lima.

Hari pun menjelang pagi, jalan-jalan semakin jelas kelihatan. Demikian juga suara tembang sang putri itu semakin jelas terdengar, Akhirnya Raden Mas Demang Tangar menemukan juga tempat sang putri tersebut. Puteri yang cantik jelita, Lemah lembut sendirian tidak ada se­orang pun yang menemaninya (melik-melik). Oleh sebab itu desa itu se­karang diberi nama desa Melikan.

Dengan hati yang terpacu Raden Mas Demang Tangar mendekati sang puteri cantik jelita. Karena tidak kuat menahan perasaan hatinya maka berkatalah ia,

“Duh Tuan Putri cantik jelita, siapakah nama Tuan Putri ? Akan ke manakah Tuan Putri dan siapakah gerangan yang akan mengiring Tuan Putri?”.

Sang putri menjawab,

“Hamba adalah seorang pengembara dan di sini hamba bertapa, menempa jiwa raga, karena diperintahkan ramanda agar hamba mengu­asai dan memerintah jin, setan, peri, perayangan, ilu-ilu banaspati, gendruwo, tetekan, condong rindong-rindong dan segala macam makhluk halus yang menghuni laut selatan. Adapun nama hamba, hamba mohon ma’af dengan berat hati hamba tidak dapat mengatakan”

Akhirnya Raden Mas Tangar menarik nafas panjang dan berkata dalam hati.

“Hai gadis yang secantik jelita ini bakal sendirian merajai segala macam jin. Seumpama ia mau hidup bersama denganku, kebahagiaan hidupku di dunia ini tak terkatakan. Karena akan selalu bersanding dengan seorang yang cantik jelita.”

Raden Mas Demang Tangar tak dapat mengucapkan apa-apa, se­akan-akan ia terpaku dan membisu. Ia memandang sang putri itu dari atas kepala sampai kaki. Lamunan hatinya dan jangkauan cita-citanya yang demikian menggelora di dadanya akhirnya mendorongnya untuk bertanya.

“Duh Tuan Putri yang cantik jelita, Tuan Putri hidup sendirian di tengah hutan, menyiksa badan, apalagi di sini banyak gangguan binatang-binatang buas. Jika Tuan Putri berkenan hamba mengharap dengan sangat, Tuan Putri sudi singgah di tempat saya, di sebelah selatan sana di desa Tangar. Di sana Tuan Putri akan dapat menjumpai banyak teman’

Sang putri menjawab, “O, kisanak, sangat berat mengemban perintah ayahanda. Sebagai seorang wanita sejati lebih baik hamba mati dimakan harimau yang buas dari pada hamba menginkari janji, tidak memenuhi perintah ayahanda. Toh kalau sekarang hamba harus hidup berada di tengah hutan, itu sudah menjadi bagian perjalanan hidup hamba”.

Akan tetapi Raden Mas Demang Tangar terus membujuk sang putri. Akhirnya ia memaksa sang putri mau tidak mau akan diboyong ke Tangar.  Sang putri mencari daya upaya agar supaya usaha Ki Demang bisa digagalkan. Sang putri mempunyai sebuah permintaan, ia mau diboyong Raden Mas Demang Tangar asalkan dapat mewujudkan sebuah pertapaan yang indah dengan bunga-bungaan yang harum baunya.

Raden Mas Demang Tangar bersemadi dengan khidmatnya mo­hon pada Sang Maha Pencipta, agar supaya permintaan sang putri terse­but dapat terlaksana. Dan rupanya permohonan Raden Mas Demang Tangar terkabul. Sebuah pertapaan yang sangat indah, dengan taman yang penuh dengan anekaragam bunga yang harum baunya, tercipta seketika itu juga. Harumnya bau bunga menyebar mewangi (sumerit). Oleh sebab itu tempat tersebut kemudian diberi nama Gua Ngerit.

Namun sang putri masih mencari upaya agar supaya maksud Ra­den Mas Demang Tangar itu tidak terlaksana. Ia berjanji masih akan men jalankan tapa 40 hari lamanya. Sesudah selesai bertapa sang putri ber­sedia diboyong ke Tangar. Raden Mas Demang Tangar merasa puas akan janji sang putri tersebut. Namun sebenarnya ini hanyalah tipu daya sang putri belaka.

Diambil dari ceritera bahasa Jawa, daerah Trenggalek.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Leo Indra Ardiana. Cerita Rakyat Daerah Jawa Timur. Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, (1982-1983), 1984, hlm. 84-86.