Musik pengiring Kesenian glipang

Kesenian glipang, kesenian asli tradisi Probolinggi ini kecuali disajikan dalam bentuk tari dan drama (sandiwara) juga diiringi musik dan vokal. Secara umum bisa dikatakan sebagai berikut, ciri-ciri dari penyajian keseni­an glipang. Pada pola penyajian keseni­an memiliki struktur tertentu dan tema tertentu, serta lagu-lagu yang dibawakan bernafaskan agama Islam.

Alat-alat nusik yang digunakan terdiri dari sebuah Jedhor, dua buah ketipung besar (lake’an dan bhine’an), tiga sampai lima terbang/kecrek. Pola permainan musik merupakan ansamble dari jedhor, terbang / kecrek dan vokal.

Bahasa yang digunakan dalam vokal/dialog adalah bahasa arab, Jawa dan Madura, unsur gerak kreativitas pribadi dari unsur – unsur gerak pencak silat. Tokoh-tokoh pelaku sesuai dengan lakon yang dibawakan.

 Alat musik yang digunakan.

Alat musik/karawitan glipang terdiri dari :

–     Dua buah ketipung besar.

Terdiri atas lake’an dan bhine’an, ditabuh tingkah meningkah (saling mengisi), ketipung laki-laki (lake’an) berfungsi memimpin dan memberikan tekanan-tekanan gerak.

–     Satu buah Jidhor.

memberikan tekanan-tekanan tertentu untuk semelehnya (konstan-nya) irama.

–    Tiga buah sampai lima buah terbang/keorek.

mengisi laga dengan cara memberikan suara diantara degupan.

Lagu-lagu yang dibawakan

–     Lagu Awayaro, sebagai lagu pembukaan menjelang penyajian tari kiprah glipang.

–    Pantun berlagu bebas, dibawakan secara bergantian pada penyajian tari pertemuan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R: Tari Dan Musik Glipang Di Kabupaten Probolinggo, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 1984, hlm.2-5

Kesenian Glipang 2

 Bentuk penyajian/pertunjukan  kesenian Glipang.

Oleh karena kesenian Glipang adalah merupakan suatu jenis kesenian pertunjukan, maka bentuk dan jenis pertunjukan kesenian Glipang disesuaikan dengan selera masyarakat penonton atau pihak yang monyelenggarakan pertunjukan (penanggap) Glipang ini, misalnya tentang thema lakon/isi lakon serta waktu yang dikehendaki, Pada umumnya masyarakat penonton menyukai penyelenggaraan dengan waktu yang lama atau semalam suntuk.

Penyajian dengan memakan waktu yang lama ini sempat disajikan berulang-ulang bagian-bagian tertentu dari seni glipang ini yang diinggap penting atau digemari masyarakat yang menganggapnya bahwa pengulangan-pengulangan bagian-bagian tertentu dari seni Glipang ini dirasa memantapkan penyajian kesenian glipang dan kenikmatan selera penonton.

Sebagai akibat adanya aspek kemantapan ini, maka usaha-usaha menata seni glipang antara lain dalam bentuk pemadatan penyajian dianggap menyalahi aturan yang sudah berlaku dalam hal penyajian seni glipang.

Dalam penyajian kesenian glipang semalam suntuk terbagi atas tahap-tahapan sebagai bejikut :

Tahap I : Tari Ngremo Glipang ( Tari Kiprah Glipang ).

Tari ini morupakan bentuk tari yang digunakan untuk mengawali pertunjukan seni glipang.

Tahap II : Tari Kiprah Glipang.

Tari ini dibawakan oleh para penari pria, biasanya disertai penampilan seorang pelawak pria.

Tahap III : Tari Pertemuan.

Tari ini dibawakan oleh penari pria dan wanita dalam kompo- sisi berpasangan disertai dua orang pelawak pria dan wanita. Peraga penari wanita dibawakan oleh penari laki-laki/pria dan dalam adegan ini kedua pelawak berdialog lucu (melawak),

Tahap IV : Sandiwara drama ).

Membawakan ceritera tertentu dengan thema tertentu pula yang bernafaskan agama Islam.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R: Tari Dan Musik Glipang Di Kabupaten Probolinggo, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 1984, hlm.2-5

Kesenian Glipang, Kabupaten Probolinggo

Kesenian Glipang berkembang dan dikenal di wilayah Kabupaten Probolinggo serta juga didaerah sekitarnya, diantaranya Kabupaten Lumajang, Kabupa­ten Jember, serta Kotamadya Probolinggo oleh karena kesenian Glipang ini meru pakan kesenian tradisional yang sangat digemari oleh rakyat di daerah Kabupa­ten Probolinggo dan daerah sekitarnya seperti Jember, Lumajang dan Pasuruan, maka jenis kesenian ini sangat populer di daerah-daerah tersebut dikalangan rakyat khususnya dikalangan anak-anak rnuda.

Sebagaimana jenis kesenian tradisional lainnya yang terdapat di pro­pinsi Jawa Timur yang mnsing-masing memiliki ciri-ciri khusus sehingga antara yang satu dapat dibedakan dengan yang lainnya, maka jenis kesenian Glipang ini dalam penampilannya mempunyai ciri tersendiri yang akan diuraikan dalam penjelasan selanjutnya dan juga mempunyai unsur pesona khusus, sehingga ditengah-tengah derasnya arus pengaruh kebudayaan asing yang kado.ngkala memukau masyarakat kita, kesenian Glipang di Jawa Timur ini masih bertahan hidup dengan ketegaran yang lcokoh bahkan menunjukkan gejala semakin meluasnya perkembangan seni Glipang khususnya Tari dan Musik Glipang setelah memperoleh penanganan Kantor Wilayah Dopartemen Pendidikan dan Kebudayaan Fropinsi Jawa Timur serta pemerintah daerah setempat.

Pengertian tentang Kesenian Glipang

Kesenian Glipang ialah suatu jenis kesenian pertunjukan, yang membawakan lakon-lakon tertentu (pertunjukan berlakon) yang biasanya dipergelarkan atau diselenggorakan semalam suntuk ; thema lakon atau ceritera berkisar atau bernafaskan ceritera-ceritera agama Islam antara lain tentang kejayaan Islam, ceritera tentang kehidupan masyarakat sehari-hari.

Istilah Glipang belum dapat dipastikan tentang asal usulnya demikian juga tentang arti kata glipang yang tepat ; namun menurut penjelasan dari bebere.pa sumber yang banyak menangani kesenian glipang ini, istilah gli­pang berasal dari istilah atau kata bahasa Arab “goliban”, yang mengandung makna tentang suatu kebiasaan kegiatan yang selalu dilakukan oleh parasanteri dipondoknya dalam kehidupannya sehari-hari.

Manfaat kesanian glipang

Dalam kehidupan sehari-hari nasyarakat Probolinggo, kesenian glipang sebagaimana telah diuraikan pada awal tulisan ini tetap semarak sebagai suatu jenis kesenian yang digemari rakyat. Kesenian glipang sering ditampilkan pada acara-acara rescpsi bersih desa, panen raya, hajatan keluarga dan sebagainya. Jelaslah bahwa kesenian glipang dapat dinanfaatkan sebagai suatu sosio drama, untuk menyanpaikan pesan-pesan pembangunan yang nenjadi program pemerintah, untuk menciptakan suasana persatuan dan kesatuan di kalangan rakyat dan secara khusus melestarikan warisan seni budaya yang memiliki nilai-nilai luhur*

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

 

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R: Tari Dan Musik Glipang Di Kabupaten Probolinggo, Kantor Wilayah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur, Surabaya, 1984, hlm. 1-2 Dan 5

Upacara Nadar, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur

Upacara Nadar, di Pinggirpapas Kabupaten-Sumenep-Madura-Jawa Timur

Masyarakat Pinggirpapas Kabupaten Sumenep dipulau Madura, setiap tahun pada musim garam menyelenggarakan sebuah yang diadakan sebanyak tiga kali/tahap. Upacara tersebut dalam bahasa Maduranya dikenal dengan istilah ( bahasa halus ) atau dalam sebutan yang agak kasar nyadar. Makna dari istilah nadar ialah niat, jadi upacara nadar rnaksudnya upacara pelepas niat. Melepas niat atau nadar karena keberhasilan mengusahakan garam, hal ini mengingat usaha garam/membuat garam merupakan mata pencaharian pokok bagi masyarakat Pinggirpapas,

Maksud_PenyeLenggaran Upacara

Tujuan pokok masyarakat Pinggirpapas mengadakan upacara nadar ialah memperingati serta sebagai rasa terima kasih atas jasa Syekh Anggasuta yang menurut kspercayaar mereka adalah merupakan orang pertarna yang menemukan cara pembuatan garam. Maksud lain dari diselenggarakannya upacara nadar tersebut ialah untuk mendoakan arwah para leluhur mereka (embah Anggasuta, embah Kabasa, embah Dukon dan embah Bangsa masing-masing bersama isteri) agar supaya diterima oleh Allah, sehingga mendapat tempat yang layak seperti – Nabi Muhammad, dengan demikian maka anak cucunya akan men dapat barokah dari Allah.

Waktu Penyelenggaraan Upacara.

Upacara pertama diselenggarakan pada waktu mulai pernbuatan garam, yaitu pada sekitar bulan Juli, Pada bulan Juli biasanya sudah ada tanda-tanda tibanya musim kemarau atau musim nemor, Musim nemor dalam bahasa daerah (Madura) artinya musim angin dari arah timur ( Te-mor ) yang kering. Dengan mulai datangnya musim kemarau, maka masyara­kat Pinggirpapas bersiap-siap untuk memulai membuat garam. Sebagai perwujudan dari rasa syukur serta memohon keselamatan maka diselenggarakanlah upacara nadar tahap pertama.

Tanggal/waktu yang dipilih untuk menyelenggarakan upacara nadar pertama tersebut ialah paling awal tanggal 13 dan paling akhir tanggal 19 tahun hijriah.  Penanggalan tahun hijriah dipergunaka sebagai dasar penentuan waktu, karena masyarakat Madura umumnya dan masyarakat Pinggirpapas khususnya adalah merupakan pemeluk Agama Islam yang taat. Pelaksanaan nadar tidak boleh diadakan tanggal 12 ka­rena tanggal tersebut ialah tanggal kelahiran Nabi Muhammad.

Upacara nadar selalu diadakan pada hari Jum1at dan Sabtu. hari Jum’at.ialah acara nyekar (menabur bunga) dimakam leluhur mereka, dilakukan antara jam 17.00 sampai jam 17.30 ( tidak boleh melewati waktu maghrib ). Upacara nadar ( sebagai upacara pokok ) diselenggara­kan pada hari Sabtu pagi, mulai jam 07,30 sampai jam 08,30*

Upacara nadar tahap kedua mengambil waktu satu bulan sesudah upacara nadar tahap pertama, cara penentuan hari dan tanggal sama ( hari Jum’at dan Sabtu antara tanggal 13 sampai dengan tanggal 19 penanggalan tahun hijriah ). Upacara tahap ketiga agak berbeda dengan upacara-upacara nadar tahap-tahap sebelumnya (tahap pertama dan kedua), disamping lokasi dan acara yang berbeda, juga dalam hal waktu ada sedikit perbedaan yang hal ini disesuaikan – dengan bentuk kegiatannya,

Penentuan hari dan tanggal sama dengan upacara tahap pertama dan kedua hanya bulannya berbeda, upacara tahap ke­tiga diadakan satu bulan setelah upacara tahap kedua. Pada upacara nadar tahap ketiga ini tidakada acara nyekar ( menabur bunga ) ke buju’ ( kuburan ), maka acara pada sore hari tidak ada. Acara baru dimulai pada malam hari, yaitu membaca layang ( ceritera yang ditembangkan atau dilagukan ) Jati Sara dan Purnana Sembah yang berlangsung dari jam 19.00 sal pai dengan jam 02,00. Pada pagi harinya mulai jam 07.00 sampai jam 08.00 – diadakan rosulan ( selamatan ) ditempat ( rumah ) embah – Anggasuta, dan embah Dukon (tempat membaca kedua layang – tersebut ).

Malam menjelang acara nadar (Jurn’at menjelang Saptu) peserta upacara sibuk memasak untuk selamatan pagi harinya. Memasak serta mempersiapkan segala keperluan selamatan mengambil tempat di­desa Kebondadap, dengan menumpang dirumah beberapa penduduk, desa Kebondadap, tempat menumpang ini untuk setiap ta­hun tetap sama ( tidak berganti tempat ). Upacara pokok nadar tahap pertama dan kedua yang berrupa selamatan diselenggarakan dikomleks buju’ gubang, Se­lamatan diadakan disebuah lapangan yang cukup luas didepai kompleks makam, tempatnya agak terlindung dari sinar mata- hari pagi karena berada dibawah sebuah pohon asam yang cu­kup besar. Upacara nadar tahap ketiga disebut juga upacara bungkoan, bungko dalam bahasa Madura artinya rumah jadi upa­cara bungkoan artinya upacara yang diselenggarakan dirumah, Mernang upacara nadar ketiga ini tidak diselenggara­kan di buju Gubang sebagaimana upacara nadar pertama dan kedua, melainkan diadakan didesa Pinggirpapas sendiri.

Mereka menyiapkan keperluan upacara (memasak) dilakukan dirumah mereka masing-masing, sedangkan acara pokok (mem­baca layng pada Jum’at malam dan rosulan atau selamatan pada Sabtu pagi) diselenggarakan ditempat kediaman embah Anggasuta dan embah Dukon. Kegiatan upacara nadar ketiga ( baik membaca layang Jati Suara dan Purnama Sembah maupun selamatan ) diadakan diserambi dan halaman rumah, ( rumah yang dahulu sebagai tempat tinggal embah Anggasuta dan embah Dukon). Dengan selesainya acara selamatan nadar ketiga, maka berakhirlah seluruh upacara nadar, Tempat Penyelenggaraan Upacara.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Upacara Tradisional Dalam Kaitannya Dengan Peristiwa Alam Daerah Jawa Timur.  Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan daerah, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Surabaya,  1983-1984. hlm. 81-105

Upacara Adat Perkawinan, Kabupaten Pacitan Jawa Timur

Upacara Adat Perkawinan masyarakat desa Sawoo dan Grogol

Perkawinan, Dalam rangkaian upacara di sekitar hidup individu, perkawinan merupakan peristiwa yang menandai peralihan dari masa remaja kepada golongan orang tua, Perkawin­an merupakan peristiwa yang terpenting dalam lingkaran hidup individu, Rangkaian peristiwa perkawinan didahuli dengan pe­milihan jodoSti, hal ini juga berlaku di kalangan masyarakat desa Sawoo dan Grogol, Pada jaman dahulu pemilihan jodoh di desa Sawoo dan Grogol sama seperti yang berlaku pada masya­rakat desa di Jawa pada umumnya, yaitu tergantung kepada orang tua.

Namun demikian pada saat sekarang telah berobah, pemilihan jodoh terserah kepada pemuda/pemudi dan orang tua tinggal menyetujui, Namun demikian pemuda/pemudi itu juga harus mentaati ketentuan-ketentuan adat yang berlaku di daerah tersebut, misalnya adanya larangan perkawinan dengan sa udara pancer wali yaitu antara dua orang yang mempunyai hubungan sedemikian rupa sehingga pengantin laki-laki berhak menjadi wali penganten wanita, penganten laki-laki adalah generasi yang lebih muda dari pada penganten wanita, (misalnya kemenakan laki-laki dengan bibi).

Disamping itu juga perkawinan yang hari lahir penganten laki-laki dan wani­ta menurut perhitungan adat tidak cocok, Telah dikemukakan bahwa perkawinan merupakan peristiwa yang terpenting di sekitar lingkaran hidup individu, oleh sebab itu upacara perkawinan telah dipersiapkan dan direncana- kan secara matang beberapa bulan sebelumnya, Menurut keperca yaan bulan yang baik untuk melaksanakan perkawinan jatuh pa­da bulan Rejeb, Ruwah dan Besar, Menurut kepercayaan tiap pasangan yang kawin pada bulan tersebut akan mendapat kebahagiaan.

Rangkaian upacara:

Bagi muda-mudi yang orang tuanya telah mengikuti kemajuan, sebelum peminangan secara resmi dilakukan, mereka biasanya te­lah saling mengenal dan telah sepakat untuk mengadakan perkawinan, Setelah mereka saling cinta-mencintai dan telah sepa­kat untuk mengadakan perkawinan, maka diadakan upacara lamaran (pinangaan). Adat pinangan di desa Grogol sama seperti orang Jawa pada umumnya, tetapi di desa Sawoo mungkin berbeda dengan desa—desa lain di Jawa Timur, karena di desa tersebut pinangan datang dari pihak wanita, Adapun jalannya upacara pinangan adalah sebagai berikut pada hari yang telah ditentukan, wakil dari keluarga calon pengantin Puteri datang berkunjung ke rumah orang tua calon pengantin Pria untuk meminang (melamar), Setelah pinangan diterima, kemudian diterus- kan dengan masa pertunangan, Masa pertunangan kadang-kadang sangat singkat, bahkan adakalanya tidak diadakan, kemudian diteruskan dengan gethetan dino, yaitu penentuan hari untuk melaksanakan Upacara Perkawinan.

Menjelang upacara perkawin­an, beberapa orang utusan dari keluarga pengantin pria datang ke pihak pengantin wanita untuk mengantarkan hadiah perkawin an yang disebut srah – srahan yang biasanya terdiri dari uang, bahan makanan, dan lain sebagainya. Untuk keperluan upacara perkawinan itu 2 (dua) hari atau sehari sebelumnya di rumah orang yang mempunyai haj-ad (biasa- nya di rumah pihak wanita) memaeang tarub, yaitu Janur kuning dan daun-daun tertentu (tuwuhan), pada serambi rianah. Tuwuhan tersebut antara lain: daun beringin, daun kluwih, daun ilalang, daun Opo-opo, daun andong, bunga jambe (mayang), pahon tebu, pohon pisang raja dengan buahnya kelapa muda (Jawa: cengkir). Kemudian pada malam hari menjelang pesta perkawinan dia­dakan Upacara midodareni, Pada saat itu orang-orang tua dan sanak saudara orang yang punya hajad, mengadakan tirakatan hingga larut malam, bahkan ada kalanya

sampai pagi hari, Menurut kepercayaan, pada malam itu para bidadari turun dari kah- yangan, memberikan doa restu kepada mempelai, Pada malam itu juga perlengkapan upacara temu yaitu kembar mayang dan sadak, telah dipersiapkan.

Selanjutnya pada keesokan harinya, pada saat yang telah ditentukan berdasar perhitimgan adat Jawa, dilangsungkan upa­cara Ijab, Ijab ini dapat dilakukan di Kantor Urusan Agama S£ tempat, atau dapat juga dilaksanakan di rumah pengantin wani­ta, dengan mendatangkan PenghuflLu atau naib, Setelah ijab selesai, upacara selanjutnya ialah upacara temu yakni pertemuan pengantin Putera dengan pengantin Puteri, Kemudian kedua mempelai itu didudukkan di Pelaminan yang pada umumnya terletak di depan Senthoag tengah (petanen), Di muka petanen ini diada kan Upacara kacar.-kucur atau tampa kaya. Upacara ini mewujudkan pemberian nafkah mempelai Putera kepada isterinya.

Sebagai rangkaian upacara yang terakhir di dalam upacara temu ialah upacara dhadar kembul, di mana kedua mempelai ter­sebut saling menyuap nasi praiar (nasi kuning). Upacara ini mengandung suatu harapan, agar di kelak kemudian antara suami dan isteri dalam kehidupan sehari-hari selalu saling bantu-membantu di dalam kesulitan maupun kebahagiaan (Dharma, 1958)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur :Sistim Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah JawaTimur; Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1983/1984, hlm. 31-34

Thongthong, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur

L o k a s i.

THONGTHONGMasih di dalam kota Bandawasa, berada di sepanjang tepi jalan raya menuju kota Jember, sehingga jalan raya itu menjadi batas timur desa tersebut, desa Badean Kecamatan Kabupaten Kota Bandawasa Bandawasa, eks-karesiden- an Besuki, Jawa Timur membentang. Di sebelah utara dibatasi oleh Kota Kulon, kemudian di sebelah barat adalah desa Poncogati, dan Nangkaan membatasi desa itu pada sebelah selatan. Untuk me­nuju ke kantor desa kita dapat menyusuri jalan Ciptomangun Kusumo Di desa inilah permainan Thong-thong kita ketemukan.

Tetapi sesungguhnya bahwa permainan ini juga tersebar di desa- desa di wilayah Kabupaten Bondowoso, terutama desa-desa dengan ] duduk mayoritas masyarakat Peristiwa Permainan. Serombongan laki-laki yang tidak selalu pasti jumlahnya, ka­dang-kadang delapan, sembilan, sepuluh atau kurang dari itu, pada malam-malam hari bertugas meronda, berjaga-jaga semalaman menja­ga keamahan desa. Untuk menahan diri dari rasa kantuk, mereka me­nyusuri jalan-jalan desa dengan membawa peralatan yang disebut thong-thong. Alat musik dari bahan batang kayu yang ringan teta­pi keras itu,digores memanjang dan djciptakan ruangan di dalamnya, sehingga bil,a dipukul akan terdengar bunyi musik yang enak. Thong- thong dibuat bermacam ukuran sehingga hasilnya adalah nada-nada yang laras antara satu dan lainnya. ‘Kegembiraan yang terjadi karena pukulan-pukulan musik itu menyebabkan para peronda itu betah menjalankan tugas-tugasnya. Semenjak dari pos atau kantor desa, – tempat mereka berkumpul, mereka memainkan sepanjang perjala­nan. Diselingi dengan nyanyian-nyanyian rakyat yang mereka kenal atau kadang-kadang nyanyian yang sedang populer pada masanya mereka mengingatkan penduduk agar tidak terlalu lelap tidurnya yang nikmat, melainkan agak waspada juga terhadap kemungkinan terjadinya gangguan keadaan, misalnya pencurian ternak, perampo­kan, pencurian padi di sawah dan sebagainya. Lagi pula dengan se­lalu terdengarnya suatu thong-thong, maka bagi penjahat pun dira­sakan akan terlalu besar resiko yang ditanggungnya apabila mereka melakukan aksi kejahatannya.

Latar Belakang Sosial Budayanya.

Sebenarnya kebiasaan meronda itu terdapat hampir di seluruh Indonesia, tetapi khusus permainan thongthong yang menyertai ke­giatan itu, hanya terdapat pada masyarakat Madura. Perbedaan yang paling tampak dan memberikan ciri khas, adalah alat- alat permainan musiknya yang khusus itu. Demikian pula dengan nyanyian-nyanyian yang dipergunakan pada umumnya adalah nya­nyian rakyat Madura. Seperti juga masyarakat Jawa lainnya, kego- tongroyongan dalam memikul beban kehidupan sehari-hari terwu­jud dalam bentuk-bentuk kegiatan bersama.

Demikianlah dalam menjaga keamanan kampung dilakukan pula prinsip itu. Setiap keluarga wajib mengirimkan salah seorang anggota keluarganya yang laki-laki dan masih kuat phisiknya, untuk pada waktu-waktu tertentu membentuk kelompok-kelompok ronda. Waktu-waktu itu diatur secara bergiliran oleh pamong desa yang berkewajiban untuk itu. Dengan demikian setiap malam selalu ada saja perondaan itu. Dan permainan thongthong pun dilakukan orang setiap malam.

Para Peserta/Pelaksana.

Peserta permainan ini adalah laki-laki dewasa yang bertugas .ronda. Mereka berumur sekitar 20-45 tahun. Dan sebagai mana pen-duduk desa, pekerjaan mereka pun bermacam-macam. Ada petani, buruh, pegawai negeri, guru dan sebagainya. Pendeknya semua laki-laki dewasa penduduk kampung. Mereka mengenakan pakaian mereka sehari-hari. Terutama sarung, selalu tidak pernah lepas dari tubuh mereka, karena kain sarung sangat praktis dalam melindungi tubuh dari udara dingin waktu malam. Di lain waktu dapat digunakan sekedar menutup bagian bawah tubuh. Atau selimut bila mereka men-dapat giliran tidur sejenak di pos penjagaan.

Peralatan /Perlengkapan Permainan

Batang-batang kayu dipotong dengan ukuran yang berbeda-beda dari yang besar sampai yang kecil. Yang terbesar berukuran panjang sekitar 50 — 60 cm dan garis tengah 20 — 30 cm. Dengan membuat goresan memanjang serta membuat ruangan di bagian dalam batang kayu tersebut maka terjadilah alat musik yang disebut thongthong itu. Ukuran ruangan dan goresan pun bermacam-macam sesuai dengan ukuran kayu dan hasil bunyi yang dikehendaki. Variasi bunyi pun menjadi bermacam-macam, tetapi dengan demikian terjadilah harmonisasi bunyi yang enak didengar. Alat-alat itu sendiri sering disebut Dhungdhungan, ataupun thongthong. Yang terbesar disebut ‘Pengorbi’; ukuran yang lebih kecil disebut ‘Pangothik’ atau ‘Penerus’; di bawahnya lagi disebut ‘Pembantu Pangotftik’; selanjutnya adalah ‘Pengemplang’ yang berfungsi sebagai komando
Permainan.

Selain alat-alat tersebut kelengkapan  orkestral dari alat permainan ini adalah Seruling dan Terbang (Rebana). Seruling terbuat dari buluh bambu dengan beberapa lobang pembentuk nada, dan sebuah lobang peniup. Rebana terbuat dari kayu yang dibentuk melingkar serta kulit lembu yang dibentangkan pada sisinya. Akan tetapi pada per­kembangan kini selain alat-alat musik lain seperti harmonika, gen­dang, atau segala benda yang menghasilkan bunyi. Penambahan alat- alat musik ini tidak ada tujuan lain kecuali memang sekedar bermain- main mengisi waktu perjalanan meronda. Jalan Permainan.

Dari gardu jaga, rombongan mulai berangkat untuk meronda – keliling desa, ‘Pangemplang’ dimainkan dengan suatu ritma tertentu, yang segera disambut oleh.’Pangothik’ kemudian ‘Pembantu Pango- thik’ disusul ‘Pangorbi’. Alat-alat lainpun segera meresponsenya da­lam irama tertentu. Seruling mengisi dengan melodi lagu-lagu rakyat ataupun lagu-lagu yang tengah populer masa kini. Lagu-lagu yang dimainkan antara lain : Kamantanan, Kemolangan, Perkenalan,Tan­duk Majeng, Fajar Laggu, Ande-ande Lumut dan sebagainya. Semen­tara lagu tetap berjalan, kadang-kadang dihentikan sejenak untuk melihat-lihat sekeliling apakah desa benar-benar aman dan tidak ada tanda-tanda ancaman bahaya.

Kemudian permainan pun dilanjutkan lagi. Di beberapa rumah penduduk ada kalanya salah seorang peronda mendekatkan alat mu­siknya kedinding sambil menyeru pada si empunya rumah, apakah tidak terlalu lelap tidurnya, atau menanyakan apakah cukup aman di rumahnya. Si “empunya rumah akan menjawab apa adanya dengan se- patah dua patah kata. Demikian sampai berjam-jam permainan itu di­lakukan sepanjang perjalanan meronda itu. Bila dipandang perlu bah­wa perondaan sudah cukup mereka purf kembali ke pos atau gardu jaga untuk bergilir istirahat dan perondaan dengan cara yang sama pun digantikan oleh kelompok yang lain. Sampai akhirnya matahari menjelang terbit permainan itu pun berangsur berhenti.

Peranannya Masa Kini dan Perkembangannya.

Karena penjagaan keamanan oleh masyarakat dengan cara me­ronda pada waktu ini justru dihidupkan dan sangat dianjurkan oleh pemerintah, maka sendirinya permainan thong-thong inipun masih selalu dilakukan orang. Malahan dengan dikenalnya alat-alat musik yang lain, maka adakalanya orang pun memasukannya juga sebagai kelengkapan. Misalnya harmonika, gendang, keluncing. Lagu-lagu baru yang populer pun dinyanyikan pula dengan ala-alat musik itu, terutama lagu-lagu melayu dan musik dhangdut.

Kecuali untuk kepentingan meronda, alat-alat permainan Thong-thong juga dipergunakan dan dimainkan orang pada peristi­wa lain yaitu pada permainan TOTTA’ AN DARA. maka desa menerima semacam ‘sindiran ‘atas kekalahannya. Desa yang menang akan memainkan thongthong dan berduyun-du­yun menuju desa yang kalah. Tentu saja desa yang kalah tak boleh marah dengan sindiran itu. Tetapi untuk menutup malunya biasanya pemilik-pemilik merpati itu bersembunyi saja di dalam rumah masing-masing sampai rombongan thongthong itu kembali ke desa asalnya.

Alat musik thongthong yang tadinya sekedar alat per­mainan dalam mengisi kekosongan waktu meronda itu, selanjutnya ada juga yang dikembangkan menjadi alat musik pengiring lagu-lagu untuk pertunjukkan sebagai suatu penyajian seni musik. Pada per­kembangan ditampilkan biduan-biduan. Pertunjukkan semacam ini banyak diseleng­garakan untuk pesta-pesta hari besar nasional.

Nyanyiannya pun lagu-lagu yang populer, baik lagu melayu, langgam Jawa, ataupun dhang­dut. Namun sejauh itu latar belakang subkultur Madura masih te­tap mewarnai penyajiannya.

Tanggapan Masyarakat.

Kegiatan meronda itu sendiri merupakan aspek kerukunan sosial, kegotong-royongan, kewajiban bersama menghadapi masalah bersama, sehingga permainan thong-thong masih tetap diterima dan dilestarikan. Demikian juga dengan fungsinya di dalam Totta’an Dara, suatu permainan lain yang dianggap murah. Bagi para rema­ja dan beberapa orang tua, permainan thongthong pun masih banyak dipergunakan dan disukai. Sementara itu pengembangannya sebagai alat musik pengiring per­tunjukkan lagu-lagu populer daerah, dianggap sebagai peralatan yang tidak terlalu mahal dan cukup memenuhi kebutuhan masyarakat akan jenis-jenis hiburan murah namun tetap segar. Karena kaitan-kaitannya dengan kepentingan-kepentingan itu­lah maka permainan musik thongthong dapat dianggap masih tetap digemari oleh masyarakat setempat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:PERMAINAN
RAKYAT DAERAH
JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH 1983 – 1984, hlm. 143-148

Asal-Usul Desa Sawoo, Kabupaten Pacitan

Mengenai asal-usul desa Sawoo  ini erat hubungannya dengan Pangeran Kalipo Kusumo yang menurut kepercayaan masyarakat de­sa Sawoo dan sekitarnya dimakamkan di Gunung Bayangkaki yang letaknya tak jauh dari desa tersebut.

Siapakah sebenarnya Pangeran Kalipo Kusumo itu ?. Menurut ceritera masyarakat desa Sawoo dan sekitarnya, Panger­an Kalipo Kusumo adalah put era Paku Buwono: I dari Kartosurcj. Beliau tidak menginginkan kebahagiaan duniawi, tetapi ingin mencari ketenteraman lahir dan bathin, Wntuk itu beliau mening ga-lkan kerajaan, berjalan ke arah timur dan akhirnya sampai di suatu bukit yang sekarang oernama Gunung – Bayangkaki. Gunung ter sebut terletak di wilayah Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo-. Setelah berada di tempat tersebut, pada siang hari beliau mela kmkan semedi di puncak gunung, jika malam hari telah tiba, pin dah di suatu Gua yang terletak di gunung itu juga,

Semenjak Pangeran Kalipo. Kusumo. ber.tapa di puncak Gunung Bayangkaki, keadaan masyarakat di sekitarnya kelihatan tente- ram dan damai. Bahkan sawah ladangnya pun terhindar dari serangan hama, sehingga hasilnya berlipat ganda. Pangeran Kalipo Kusumo bersifat pengasih dan penyayang kepada sesama manusia , khususnya kepada orang-orang di sekitar pertapaannya. Oleh sebab itu beliau sangat disegani dan dihormati oleh penduduk di sekitar pertapaannya.

Setelah beberapa tahun Pangeran Kalipo Kusumo bertapa di Gunung Bayangkaki, di kraton Kartosuro terjadi peperangan yang dikenal dengan istilah Perang Cina Cperang candu yang terjadi di sekitar. tahun 17^2, Pada saat perang meletus Kartosuro ti­dak diperintah oleh Paku Buwono I, tetapi telah diganti oleh Paku Buwono II, yaitu adik Pangeran Kalipo; Kusumo. Pada peperangan itu Sunan Paku Buwono II terdesak dan akhirnya meninggalkan kraton, Dalam perjalanannya beliau menuju ke arah timur, bermaksud mencari kakaknya.

Setelah beberapa hari dalam perjalanan akhirnya Sunan Paku Buwono II dapat bertemu dengan Pangeran Kalipo Kusumo. Di dalam perjumpaan itu Paku Buwono II menceriterakan keadaan yang menimpa kraton Kartosuro. Mendengar. ceritera adiknya itu Pangeran Kalipo Kusumo sangat sedih. Beliau segera mengheningkan cipta, memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa. Setelah selesai semedinya, Pangeran Kalipo Kusumo memberi petunjuk kepada adiknya agar turun dari gunung tempat pertapaannya, supaya berjalan menuju ke arah selatan, jika di dalam perjalanan itu telah menemukan 2 (dua) batang pohon sawo (sawo  kembar) atau (Jawa Sawo  sakembaran), Paku Buwono II disuruh berhenti dan bertapa di bawah pohon tersebut.

Setelah beberapa saat lamanya bertapa (menurut keterangan selama 40 hari), Paku Buwono II naik ke Gunung Bayangkaki bermaksud minta diri kepada kakaknya untuk pulang ke Kartosuro. Setelah mendapat petunjuk-petunjuk dari kakaknya Sunan Paku Bu wono II segera meninggalkan Gunung Bayangkaki.

Dalam perialanannya kembali ke Kartosuro, Sunan Paku Buwono II singgah di desa Tegalsari di rumah Kyai Ageng Kasan Basari I. Di tempat ini beliau dijamu oleh Kyai Ageng. Sunan Pa­ku Buwono II sangat berkenan di hati atas segala kebaikan Kyai Ageng Kasan Basari. Oleh sebab itu, maka desa Tegalsari tempat tinggal Kyai Ageng Kasan Basari I dijadikan desa perdikan yang bebas dari pajak.

Kemudian Sunan Paku Buwono; II melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke kraton Kartosuro. Setelah sampai di sebuah de­sa, beliau merasa haus. Pada saat itu beliau bertemu dengan se orang nenek, lalu berkenalan dan berceritera, sehingga dalam waktu yang singkat sudah kelihatan sangat akrab. Oleh karena itu si nenek tidak segan-segan untuk memohon Sunan Paku Buwono II singgah di tempat tinggalnya. Sesampainya di rumah, si nenek segera memasak bubur (jenang Jawa). Setelah bubur itu masak segera disuguhkannya. Melihat bubur yang masih mengepul itu Sunan segera ingin menyantapnya, tetapi si nenek segera mencegahnya. Kemudian si nenek memberitahukan jika makan bubur

sebaiknya dari pinggir, jangan dari tengah. Karena kalau dari pinggir pasti tidak terasa panas dan segera habis. Anjuran si nenek ini ditaatinya oleh Sunan Paku Buwono II dan ternyata memang benar. Pada saat makan itu Sunan Paku Buwono II seperti mendapat firasat, bahwa cara makan bubur yang dimulai dari pinggir. itu dapat dipakai sebagai taktik untuk mengadakan perlawanan terhadap musuh yang telah menguasai Kraton Kartosuro. Maka dari itu beliau segera mencoba taktik yang baru ditemukannya, yakni menyerang pertahanan musuh dari tepi kemudian ke tengah dan akhirnya ke pusat pertahanan. Dengan taktik tersebut ternyata membawa hasil yang gemilang, pertahanan musuh dapat dihancurkan, sehingga Sunan Paku Buwono II dapat menduduki tahta kraton Kartosuro lagi. Untuk mengenang jasa nenek yang telah memberikan jalan terang bagi Sunan Paku Buwono II, maka desa tempat tinggal si nenek tersebut dijadikan perdikan yang kemu­dian dinamakan desa Menang.

Dengan adanya peristiwa kemenangan Sunan Paku Buwono II, di dalam melawan musuh yang menguasai kerajaan Kartosuro, maka Sunan Paku Buwono II lalu diberi julukan Pangeran Kumbul. Desa tempat Sunan Paku Buwono bertapa hingga sekarang dinamakan de­sa Sawoo dan tempat untuk bertapa dinamakan patilasan Sunan Kum­bul. Patilasan Sunan Kumbul hingga sekarang dikeramatkan oleh masyarakat desa Sawoo dan sekitarnya. Tiap-tiap hari tertentu, terutama malam Jum’at banyak orang yang berjiarah di tempat itu. Para pejiarah itu bukan hanya orang dari desa Sawoo saja, teta­pi juga dari daerah lain. Para pendatang itu pada umumnya mem puinyai rnaksud  tertentu, misalnya ingin agar usahanya maju, ingin agar naik kelas, agar sembuh dari penyakitnya, agar mendapat kedudukan di dalam tempat kerjanya dan lain sebagainya.

Pada saat Sunan Paku Buwono II mengadakan perlawanan ter­hadap musuh yang menduduki tahtanya, Pangeran Kalipo Kusumo tidak dapat ikut berjuang, tetapi berdoa di tempat pertapaannya. Hal ini disebabkan karena Pangeran Kalipo Kusumo telah bersumpah tidak akan meninggalkan tempat pertapaannya hingga akhir hayatnya. Setelah Pangeran Kalipo Kusumo tua dan merasa ajalnya sudah hampir tiba, tanpa diketahui siapapun juga, beliau membuat liang kubur yang kelak akan dipakainya sendiri. Setelah liang kubur itu jadi, maka beliau berpesan kepada para pengikutnya, agar kelak kalau beliau meninggal supaya dimakamkan di liang kubur yang telah dibuatnya sendiri. Liang kubur tersebut dibuat di puncak gunung Bayangkaki (tempat pertapaannya). Oleh sebab itu setelah Pangeran Kalipo Kusumoi wafat, oleh para pengikutnya dimakamkan di puncak gunung tempat pertapaannya.

Pada saat beliau meninggal, yang mengusung jenasahnya adalah arang laki-laki yang telah lanjut usia (Jawa: kaki-kaki) sehingga cara mengusung jenasah tersebut diangkat bersama de­ngan sangat hati-hati (Jawa: dibayang-bayang). Oleh sebab itu Gunung tempat Pangeran Kalipo Kusumo bertapa dan dimakamkan ini kemudian dinamakan Bayangkaki.(Balai Penelitian Sejarah dan Budaya Yogyakarta, 1981-1982).

Pada periode penjajahan Belanda, daerah Sawoo dan sekitar nya merupakan daerah yang aman. Saat itu Kepala desa yang memerintah di desa Sawoo adalah Bapak Ibrahim, setelah beliau wafat, diganti Bapak Sardjon© dan pada akhir penjajahan Belan­da hingga awal Kemerdekaan, Kepala desa Sawoo dipegang oleh Ba pak Supono, Pada saat itu masyarakat Sawoo keadaannya sangat menyedihkan.

Pada periode penjajahan Jepang, desa Sawoo juga merupakan desa yang aman. Pada saat itu Kepala desa dipegang oleh Bapak Supono. Menurut informasi dari Bapak Supono pen duduk desa Sa­woo, pada saat  itu sangat menyedihkan. Saat  itu penduduk dilarang masak nasi (beras), mereka dianjurkan untuk makan na­si tiwul. Semua hasil padi, harus diserahkan kepada Pemerintah Jepang, dengan alasan untuk memberimakan tentara kita. Disanping kekurangan makan, penduduk Sawoo dan sekitarnya juga kekurangan pakaian. Pada saat itu jarang kita jumpai penduduk yang memakai kain, mereka menutup anggata badannya dengan goni, bahkan di daerah pelosok ada yang tidak berpakaian sama sekali.

Walaupun daerah Sawoo merupakan daerah yang aman, namun tak luput dari semua peraturan-peraturan pemerintah Jepang yang diterapkan di seluruh Indonesia, Pada saat itu Jepang memerlukan tenaga kasar yang dikenal dengan istilah Romusya, Pada mulanya perlakuan Jepang terhadap Romusya cukup baik, tetapi lama kelamaan para romusya diperlakukan sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Para romusya banyak yang tidak kembali (mati), jika ada yang pulang tinggai kulit pembalut tulang saja,

Menurut informasi dari bapak Supono yang menjabat Kepala Desa pada saat itu penduduknya juga banyak yang menjadi korban romusya, Mereka ada yang dapat melarikan diri dalam perjalanan sehingga pulang dengan selamat, Bagi mereka yang ti­dak dapat meloloskan diri, sebagian besar banyak yang tidak pulang lagi. Mereka yang tidak pulang itu kemungkinan besar meninggal dalam melaksanakan tugas,

Pada periode kemerdekaan, khususnya pada waktu gerilya Jendral Sudirman daerah Sawoo termasuk didalam route perjalanannya, menurut inforraasi dari bapak Supono (bekas lurah desa Sa­woo). pada saat para gerilya berada di desa Ngindeng dan Tumpak Pelem bapak Sudirman sempat beristirahat di desa Sawoo selama sehari. Pada saat itu penduduk desa Sawoo ikut aktif di dapur umum, menyediakan makanan pasukan anak buah Jendral Sudirman,

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sistim Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah JawaTimur; Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1983/1984, hlm. 20-25

Panjak Hore, Kabupaten Tuban, Jawa Timur

Nama Permainan

PANJAK HORE001Panjak=niyaga (berarti pemukul gamelan). Namun pada “panjak hore”, gamelannya dengan mulut. Kalaupun ada instru­men, itu hanyalah terdiri atas sebuah gendang sebagai pengatur irama dan sebuah gong bumbung (=gong tiup) sebagai finalis. Selebihnya gamelan mulut yang menyuarakan kata-kata berirama : lelo-lale-lo-lalo …. dan seterusnya, diseling dengan bentuk parikan, dan di sa­na-sini senggakan “hore – hore – hore”.

Karena itu, permainan tersebut dina­makan “panjak hore”. Peristiwa Permainan. “Panjak hore” biasanya ditampilkan pada saat-saat sehabis mu­sim panen padi, dilakukan oleh kawanan penggembala ternak di dae­rah-daerah tersebut. Sebuah permainan yang membawakan suasana santai, sekaligus merupakan, hiburan ringan bagi masyarakat petani,  setelah berbulan-bulan bekerja berat menggarap sawah sejak mengolah tanah, menabur bibit, menanam sampai menuai padi. Tampilnya  permainan “panjak hore” sehabis panen memang merupakan pemili­han saat yang tepat, sebab bagi masyarakat petani, waktu banyak senggang ialah sesudah panen selesai. Sekaligus merupakan ungkapan rasa syukur, bahwa segala jerih payah yang mereka curahkan telah mencapai hasil panen yang baik. S. Latar Belakang Sosial Budaya.

Ungkapan rasa syukur itu menjadi lebih nyata lagi oleh penye­lenggaraan permainan “panjak hore” yang didahului dengan upacara yang mengarah kepada sifat-sifat ritual. Dalam pada itu disertai pula dengan sesaji segala, berupa tumpeng tanggung beserta lauk-pauk­nya di atas sebuah nyiru, sebuah nyiru lagi berisi peralatan dapur, antara lain : cobek, uleg-uleg (= alat pelumat cabe) dan beberapa lembar daun keluwih dan lain-lain. tidak ketinggalan dupa.

PANJAK HORE002Kelengkapan upacara demikian memang sudah mentradisi di kalangan masyarakat petani di daerah-daerah pedalaman. Kendatipun mereka memeluk agama Islam, namun sisa-sisa kepercayaan mistik Jawa kuno dan adat tata cara tradisional mereka tidak hapus melain­kan masih melekat pada alam kehidupan budaya mereka. Lebih-le­bih mereka jauh dari keramaian kota yang lebih materialistik corak budayanya, disebabkan letak daerah mereka yang jauh terpencil, se­hingga hidup mereka tidak mengenal kemewahan lahir. Mereka orang sederhana dalam pikiran dan dalam segala tingkah laku dan perbuat­an. Mereka terlalu sadar bahwa hidup mereka tergantung kepada . alam lingkungan mereka, karena itu mereka pun merasa hidup ber sama alam. Rasa syukur mereka panjatkan kepada Tuhan yang telah menjadikan mereka dan alam semesta, sesuai dengan ajaran agama, namun mereka juga tidak mengingkari jasa bumi yang langsung mem­beri mereka makan dan minum dan jasa langit yang memberikan hu­jan untuk mengairi sawah mereka. Kepada bumi dan langit mereka persembahkan sesajian sebagai tanda terima kasih. Kepada Tuhan me­reka panjatkan rasa syukur.

Sifat-sifat mistik religius demikian itu pun mewarnai kehidu­pan sosial budaya latar Belakang Sejarah Perkembangan. Mengingat letak daerah Kerek, Singgahan dan Bangilan yang satu sama lain terpencil dan terpisah-pisah oleh pegunungan dan hutan jati yang lebat, terutama perjalanan antara Kerek dan Singgahan yang harus melalui jarak jauh dan menaiki punggung bukit Kendheng lamun masing-masing memelihara sejenis permainan yang memiliki nama, pola dan gejala penampilan yang sama, kiranya dapatlah kita nenarik kesimpulan, bahwa di masa-masa jauh lampau permainan tersebut atau semacam itu, sudah umum dan menyebar luas di seluruh wilayah Kabupaten Tuban dan sekitarnya. Hanya masalahnya adalah apakah nama Panjak Hore sudah dikenal masyarakat sejak dulu, semasa kakek-kakek mereka, berlangsung sampai sekarang, dan pelaksanaannya pun masih tetap diadakan setelah musim panen. Jadi paling sedikit sudah tiga generasi.

Para pelaku dan Peserta Lainnya.

PANJAK HORE003Permainan “panjak hore” melibatkan banyak orang, semuanya  Laki-laki, muda dan tua, dengan tidak menentukan jumlahnya. Semakin banyak pesertanya semakin bersemarak, namun tidak akan me­lebihi batas muat arena yang digunakan. Biasanya arena tersebut berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 7 meteran tiap sisinya. Tidak menggunakan panggung, melainkan di atas tanah di tengah lapangan atau halaman luas direntangkan tali berkeliling terpancang pada tonggak tiap-tiap sudut untuk membentuk sebuah arena. Sebuah lampu, stormking ditempatkan di tengah arena, digantungkan pada atau disangga oleh sebuah tiang.

Sebagaimana disinggung di muka, pelakunya terdiri atas kawan­an penggembala ternak, namun merekapun tergolong masyarakat petani karena tugas mereka di samping menggembala ternak juga membantu menggarap sawah. Empat orang di antara mereka yang de­wasa, dipilih untuk menjadi pelaku Balong, Pethak, Tangsil, dan Ca wik. Cawik adalah peraga perempuan, dalam hal ini dimainkan oleh laki-laki. Balong dan Pethak peranan rupawan, sedang Tangsil peran­an jenaka.

Di samping keempat peranan tersebut, masih diperlukan 20 sampai 30 orang yang berperan sebagai “panjak”, terdiri atas anak remaja ataupun dewasa. Bahkan orang-orang tua pun ikut pula tetapi kehadiran mereka itu rupanya untuk menjaga kekompakan dan ke­tertiban dalam pelaksanaan.

Perlengkapan, Busana dan Peralatan Lain-lain.

Perlengkapan yang diperlukan untuk pelaku-pelaku utamanya, terdiri atas empat perangkat busana wayang wong dalam bentuk dan arti yang sederhana, yaitu: suatu.perangkat busana perempuan Cawik dan tiga perangkat busana laki-laki Balong, Pethak, Tangsil, dan ma­sing-masing perangkat dengan kacamatanya,karena dalam penampi­lan mereka, keempatnya menggunakan kacamata. Hanya sebagai irah-irahan tutup kepala pelaku Tangsil mengenakan pici. Selain itu merekapun memerlukan alat rias yang sederhana.

Perlengkapan upacara berupa sesaji, sudah diuraikan di satu nyiru berisi tumpeng dengan lauk-pauknya, suatu nyiru lagi berisi cobek, uleg-uleg, daun keluwih dan lain-lain. kemudian dupa. Kemudian empat tonggak tempat pemancang tali berikut talinya sekali untuk batas arena. Selanjutnya masih ada lagi sebuah lampu (stormking) dengan cagak penggantung atau penyangganya. Beberapa lembar tikar tempat duduk niyaga atau panjak diletakkan di tengah mengitari cagak lampu. Instrumen gamelan hanya sebuah kendhang dan sebuah gong bambu. Selebihnya gamelan mulut, jadi tanpa peralatan.

Iringan Permainan.

Lelagon (lagu-laguan) Jawa populer sering juga diselipkan an­tara lain lelagon sinten numpak sepur (siapa naik sepur). Lelagon ini mulai populer pada jaman revolusi fisik tahun 1945. Karena pabrik gula banyak yang tidak bekerja, maka sepur lori yang biasanya mengangkut tebu, dimanfaatkan sebagai pengangkutan umum, menggantikan bus dan opelet yang waktu itu mulai hilang. Selain penumpang umum, sering juga rombongan pejuang, laskar maupun tentara resmi, naik sepur lori tersebut, yang mereka istilah­kan sepur dhur (entah dari mana asal istilah itu). Dalam perjalanan naik sepur dhur demikian, mereka pun beramai-ramai menyanyikan “sinten numpak sepur, mbayare setali…………………………………………………….. ” dan seterusnya, beru­lang-ulang. Lelagon populer tahun 1945 itu rupanya sempat pula diaba­dikan oleh masyarakat “panjak hore”.

Jalan Permainan.

  1. Panjak menempati bagian tengah, duduk di atas tikar yang sudah disiapkan. Kemudian keempat orang pelaku, yaitu Balong,Pe­thak, Tangsil dan Cawik tampil bersama germa selaku sesepuh seka­ligus pengatur laku (sutradara). Keempat pemain tersebut masih tertutup mukanya dengan sepotong kain.
  2. Germa membuka permainan dengan semacam kata pendahu­luan yang menerangkan, bahwa seratus empat puluh empat orang bidadari kahyangan turun ke arcapada bumi. Seratus orang berada di luar arena, empat puluh berada di tengah arena bersama Panjak, dan empat orang bidadari sisanya telah lelagon dilanjutkan lagi, selalu dengan diawali dengan suara tunggal bagai pembuka (introduksi), baik oleh pemain atau oleh panjaknya
  3. Dari dialog ini dapat kita tangkap kisah yang ingin disampaikan, yang ringkasnya seperti berikut. Pethak berusaha mencari pekerjaan, dan datang kepada Balong. Tetapi tidak berhasil, kemudian berangkat menuju ke rumah Tangsil-orang petani.
  4. Di sini lamarannya diterima, lalu bekerja pada Tangsil penggarap sawah, menabur benih, menanam padi, sampai masa menuainya . Setelah masa panen selesai, dan hasil panennya bagus, mereka lalu menghibur diri dengan tandhakan, sebuah kesenian sejenis ronggeng.
  5. Ronggengnya adalah Cawik. Setelah ini selesailah acara utama permainan “panjak hore”. Dalam penutupnya, dinyanyikan slagon yang isi syairnya mengisahkan, bahwa para pemain telah melepaskan pakaiannya dan bidadari pun meninggalkan arcapada kembali kekahyangan.
  6. Sampai di sini permainan Panjak Hore sebenarnya sudah habis, tetapi nampaknya sekarang Panjak Hore tidak berdiri sendiri, melainkan bergabung dengan permainan lain yaitu Jaran Kepang, Kalonganlan Lawakan sebagai atraksi penutup. Kalau diurutkan permainanya maka acara pertama adalah Panjak Hore. acara kedua diisi oleh permainan Jaran Kepang (kuda lumping). Acara ketiga Kalongan, yang merupakan tontonan akrobatik, sedang lawakan menempati acara terakhir.
  7. Hal ini mungkin telah sama-sama dikehendaki, agar permainan tidak akan cepat berakhir, tetapi masih berkelanjutan dengan atraksi-atraksi lain, sehingga merupakan hiburan yang lengkap. Dengan bergabungnya beberapa atraksi tersebut, maka permainan berlangsung hampir semalam suntuk, dari sekitar jam 9 malam sampai jam 3 dinihari.
  8. Kata-kata pendahuluan yang dibawakan oleh Germa itu disebut tandhuk. Dalam penyampaian tandhuk, kalimat demi kalimat selalu disambut penonton dengan sorak-sorai. Begitu tandhuk selesai, dibukalah kerudung yang menutupi muka keempat pemain, yang langsung disambut oleh lelagon Panjak.
  9. Maka permainan pun mulai. Keempat pemain itu menari-nari mengitari Panjak , dengan jalan memutar ke kanan seperti arah jarum jam. Pada saat-saat tertentu lelagon berhenti guna memberi kesempatan kepada pemain untuk berdialog, yang sering diselingi humor dan lawak yang memang menjadi kesenangan masyarakat setempat.

10. Peranannya Masa Kini Kiranya sudah jelas peranan permainan Panjak Hore di masa kini, yakni tetap merupakan hiburan ringan bagi masyarakat petani setelah merampungkan pekerjaan berat berbulan-bulan menggarap sawah untuk mencapai hasil panen yang diharapkan.

Tanggapan Masyarakat.

Dan dengan dikaitkannya dengan upacara syukuran, yang membuat permainan sedikit banyak mendapat warna ritual, suatu tradisi yang masih cukup kuat berakar dalam tata kehidupan masyarakat setempat, semua itu merupakan jaminan, bahwa masyarakat masih menyukainya. Dan kenyataannya memang demikian, bahwa sampai
kini pun Panjak Hore masih tetap diselenggarakan, dengan penampilan yang sama, adegan yang sama, diulang, dan diulang, setiap tahun sehabis musim panen, seolah-olah orang tidak mengenal bosan masuk dan bersatu dengan Para pelaku : Balong, Pethak, Tangsil, dan Cawik.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : PERMAINAN RAKYAT DAERAH JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH 1983 – 1984, hlm. 30- 39

Labuh, Upacara Tradisional Jawa Timur

Penduduk desa Sawoo dan Grogol hampir seluruhnya petani, oleh karena itu menganggap upacara adat yang berhubungan dengan pertanian merupakan suatu peristiwa yang amat sangat penting bagi mereka, dan tidak boleh dilupakan.

Mereka percaya jika melalaikan hal tersebut, Akan banyak musibah yang menimpa, utamanya yang berhubungan dengan pertanian, misalnya, lahan pertanian/sawah diserang hama,  sawah kebanjiran dan lain sebagainya, yang membuat gagal panen.

Jenis upacara yang berkaitan dengan pertanian tersebut yang hingga sekarang masih dilaksanakan dan dipercaya, salah satunya adalah upacara labuh.

Upacara labuh yaitu upacara adat yang dilaksakan, pada saat akan mengerjakan sawahnya. Upacara ini diadakan di pintu air yang  disebut DAM.

Upacara labuh dilaksanakan oleh para pemilik sawah yang memanfaatkan air dari dam tersebut.

Pada saat selamatan labuhan para pengikut upacara membawa sajian nasi asahan. Disamping itu di dam tersebut mereka menyembelih kambing, yang dimasak dan dimakan bersama-sama di tempat itu juga.

Adapun maksud upacara tersebut ialah agar di dalam mengerjakan sawah tidak mendapat halangan.

Setelah upacara labuh sawah mulai dikerjakan, pada saat mengerjakan sawah ini tidak ada selamatan.

Ngurit, Upacara Adat Jawa Timur

Penduduk desa Sawoo dan Grogol sebagian besar menganut agama Islam. Namun demikian penduduk di kedua desa tersebut masih menjalankan upacara-upacara adat yang sebenarnya tidak termasuk dalam ajaran agama Islam. Penduduk di kedua desa tersebut semua percaya ada kekuatan gaib.

Hal ini tampak dalam beberapa upacara yang masih dilakukan hingga sekarang. Utamanya upacara yang berhubungan dengan pertanian,  Upacara-upacara tersebut dilaksakan, selain sebagai permohonan perlindungan, juga dimaksud sebagai ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Apabila sawah telah dikerjakan maka benih segera ditabur (ngurit). Pada saat ini diadakan selamatan de­ngan sajian nasi golong & Jenang abang jenang sengkolo cok bakal, jeroan ayam (isi perut ayam).

Maksud selamatan tersebut agar benih yang ditabur dapat tumbuh subur. Setelah upacara ngurit. upacara selanjutnya ialah pada saat tandur (menanam). Pada saat ini diadakan sajian sederhana yang berwujud cok bakal yang diletakkan di petak sawah, dimana tandur dimulai.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Sistim Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah JawaTimur; Proyek Inventarisasi Dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan 1983/1984