Sejarah Sekolah Lanjutan di Jawa Timur

Politik pendidikan yang dijalankan pada masa itu tidak lain hanya untuk mempersiapkan anak didik menjadi pegawai administrasi di kantor pemerintahan atau di perusahaan-perusahaan Belanda. Karena itu hanya sampai pada Sekolah Dasar Eropa. Tingkat kepandaiannva belum dapat menduduki jabatan yang lebih baik di pemerintahan. Sudah barang tentu jabatan yang lebih tinggi dari lulusan atau tamatan Sekolah Dasar Eropa masih di duduki oleh tenaga dari Negari Belanda yang pendidikannya lebih tinggi.

Selain pertimbangan itu pemerintah memperhatikan tindak lanjut dari pendidik yang telah ada agar modernisasi di bidang pendidikan segera dapat tercapai. Perhatian pemerintah itu di- dasarkan adanya beberapa usul dan desakan dari orang-orang Belanda sendiri untuk mendirikan sekolah lanjutan. Akan tetapi pelaksanaannya masih selalu mengalami kegagalan. Baru kemudian setelah Fransen Van der Putte dari golongan liberal tampil di dalam pemerintahan di Negeri Belanda mempunyai niat melak- sanakan pendidikannya bercorak liberal.

Mulai saat itu pendidikan yang diterapkan di Indonesia mengalami perluasan. Bukan hanya terbatas pada bangsa Belanda saja, tetapi juga untuk orang-orang bumiputera Fransen Vander Putte dikenal sebagai seorang tokoh liberal dan yang memperkenalkan pendidikan liberal di Indonesia. Karena itu menurut pen- dapatnya pengajaran untuk anak-anak bumiputera harus ada dan diperiuas. Tidak hanya terbatas pada usaha menyiapkan calon-calon pegawai pemerintah saja, tetapi seperti halnya di Nederland, sekolah juga ditujukan untuk memajukan penduduk. Pada masa itu di Jawa terdapat dua lapisan masyarakat yang masing-masing mempunyai kedudukan yang berbeda, baik dalam politik, ekonomi, sosial, dan kulturil. Perbedaan itulah yang mendorong mereka mempunyai sikap berlainan terhadap pendi­dikan yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Terlepas dari kemauan baik golongan liberal itu, mayoritas merintangi dan meragukan adanya modernisasi di Indonesia. Hal demikian tentu saja akan menghambat pula kemajuan pendi­dikan bagi anak-anak Belanda atau mereka yang dilahirkan di Indonesia. Akibatnya menimbulkan hambatan di dalam mempersiapkan pegawai negeri yang berasal dari keturunan Belanda di Indonesia untuk menduduki jabatan menengah apalagi jabatan yang tinggi. Nasib pendidikan lanjutan masih merupakan problem. Lebih-lebih pendidikan untuk anak-anak bumiputera betul- betul masih jauh dari perhatian pemerintah. Di antara orang-orang Belanda yang mempunyai minat di bidang pendidikan untuk bangsa Indonesia adalah Fransen van der Putie dan Baron van Hoevell. Baron van Hoevell adalah seorang pendeta yang bukan saja aktif di bidang keagamaan, tetapi ia juga berusaha meningkatkan tingkat hidup bangsa Indonesia melalui pendidikan. Menanggapi situasi yang wajar dalam konteknya dengan perkem- bangan imperialisme, ia menunjukan sikap tidak senang terhadap Pemerintah Belanda. Hasil sementara dari gerakkannya membawa perbaikan dan perubahan-perubahan dalam penyelenggaraan pengajaran menengah.

Sesudah mengalami proses yang berlarut-larut, akhimya Raja Willem II memberi kuasa untuk mendirikan Sekolah Menengah. Sekolah baru dibuka pada tahun 1860 dengan nama Gymnasium atau Sekolah Menengah. Sekolah tersebut merupakan sekolah menengah yang pertama di Indonesia dengan mengambil tempat di Batavia, yaitu yang terkenal dengan nama Gymnasium Wil­lem III. Pendidikan tersebut hanya diperuntukkan mendidik anak-anak orang Belanda. Pendirian sekolah menengah (Gym­nasium) akhirnya juga meluas sampai Surabaya, yang baru dibuka pada tahun 1875.

Gymnasium di Surabaya kemudian diubah namanya menja­di Hogere Burgere School (HBS). Sekolah inilah yang kemu­dian dapat menghasilkan seorang presiden dan dua menteri luar negeri Republik Indonesia Sebelum menempati gedung tetapnya yang sekarang yaitu di jalan Wijayakusuma, HBS bertempat di Instituut Buijs. Gedung tersebut terletak di Jalan Baliwerti dekat Alun-Alun Contong. Sekarang gedung itu dipakai oleh ITS (Institut Teknologi Surabaya). Pada tahun 1881 HBS dipin- dah ke sebuah gedung bekas rumah kediaman eks Bupati Sura­baya. Sekarang Kantor Pos Besar Surabaya yang terletak antara Jembatan Semut dan Mesjid Kemayoran. Baru pada tahun 1923 HBS Surabaya dipindah ke gedung yang dibangun di bagian daerah elite Belanda di Ketabang. Lama pendidikan HBS adalah lima tahun. Setelah kelas empat diadakan pembagian, yaitu cle wiskundige ufdeeling (bagian ilmu pasti-alam) dan de luerairt? ufdeeling (bagian sastra) di mana tidak banyak diajarkan ilmu- ilmu eksakta tetapi lebih banyak diajarkan sastra dan kebudc- yaan terniasuk bahasa Griek dan Latin.32) Lulusan HBS dapat diharapkan masuk Perguruan Tinggi. baik yang diselenggarakan di Negeri Belanda maupun di Indonesia scndiri seperti yang uda di Bandung.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986

Sejarah Sekolah Pertukangan, di Jawa Timur

Di negara jajahan seperti Indonesia tenaga terdidik untuk sekolah kejuruan sangat dibutuhkan sekali. Baik mereka itu berasal dari bangsa Belanda sendiri maupun dari bangsa Indonesia. Kenyataan itu memang benar-benar dirasakan sekali oleh pemerintah jajahan. Kecuali itu dengan dibukanya perkebunan-perkebunan di Jawa sangat besar kebutuhan tenaga terdidik. De­mikian pula timbulnya pabrik-pabrik seperti pabrik gula dan lain sebagainya kebutuhan tenaga untuk melayani dan menjaga besar sekali. Untuk itulah maka pemerintah akhirnya juga mendirikan sekolah-sekolah kejuruan.

Pada mulanya sekolah kejuruan di Indonesia didirikan oleh fihak swasta, yaitu sekolah pertukangan yang dibuka pada ta­hun 1856 di Batutulis, Betawi. Sekolah tersebut didirikan oleh agama Kristen dan lebih bercorak sekolah dasar dengan ciri-ciri pertukangan. Sedangkan sekolah pertukangan pertama yang didi­rikan oleh fihak pemerintah dibuka pula pada tahun 1860 di kota Surabaya. Pada saat itu sekolah diperuntukkan bagi anak-anak Eropa, tetapi belum dapat hidup lama. Hal ini agaknya di samping sedikitnya peminat yang datang, orang Belanda sendiri juga belum banyaknya anak-anak Belanda. Sedangkan pada masa itu industri gula belum berkembang luas di Jawa. Namun juga kebutuhan akan tenaga tukang yang terdidik besar dirasakan sewaktu industri gula mulai berkembang dengan pesat di Jawa Timur. Adanya permintaan yang seolah-olah sangat mendesak ini merangsang pemerintah mengadakan pendidikan pertukangan dengan segera. Karena itu pada tahun 1877 dibuka kursus malam yang dikaitkan dengan HBS di Surabaya. Agaknya pembukaan kursus ini untuk segera memenuhi permintaan, dan tidak mungkin untuk mendidik anak-anak dalam jangka waktu yang cukup singkat, sehingga hasilnya dapat segera dimanfaatkan. Lama kursus 2 tahun, dan dalam tahun 1885 diperpanjang menjadi tiga tahun. Tidak lama kemudian kursus pertukangan ini melepaskan diri dari HBS, sehingga menjadi sekolah yang berdiri sendiri. Setelah mengalamai pembenahan organisasi dalam tahun 1894, maka lama belajar diubah menjadi empat tahun. Mengingat lamanya belajar, maka bersama itu pula diadakan spesialisasi, sehingga me- mudahkan masing-masing pelajar menekuni apa yang menjadi bidangnya atau keahliannya. Deferensiasi sekolah pertukangan ini ialah jurusan pengairan, pekeijaan umum, kadaster (pengukuran tanah), dan mesin. Adanya deferensiasi itu sebenarnya untuk diarahkan pada ujian akhir, agar nantinya anak-anak yang telah selesai itu benar-benar mempunyai bidang keahlian khusus.

Sekolah pertukangan ini pada mulanya untuk anak-anak orang Eropa. Tetapi kemudian anak-anak bumiputera juga diperbolehkan masuk. Hal ini mengingat semakin meluasnya perkebunan di Jawa Timur sebagai akibat Politik Pintu Terbuka dari Pemerintah Hindia Belanda. Karena itu bukan hanya industri gula tetapi juga perkebunan lain seperti perkebunan temba- kau, kopi, teh, karet, dan lain-lainnya memerlukan tenaganya.

Selain itu kemajuan di bidang kerajinan rakyat pun menuntut perhatian. Sehingga pada tahun 1904 mulai ada percobaan untuk membuka Sekolah Kerajinan Rumah, yang memberikan pelajaran mengukir dan menganyam. Sekolah itu berada di bawah pimpinan RMT. Oetoyo, Bupati Ngawi. Ketika itu sudah ada beberapa sekolah pertukangan yang didirikan oleh Zending (yang pertama didirikan oleh Zending ialah di Mojowarno pada tahun 1893).

Didesak oleh makin majunya perindustrian bangsa Eropah, yang banyak membutuhkan tukang-tukang berpendidikan, maka pada tahun 1909 pemerintah membuka 3 sekolah pertukangan di Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Pengajaran pertukangan terse­but mempunyai dua macam tujuan yaitu membentuk tukang-tukang yang biasa, dan membentuk tukang-tukang yang dapat mengisi jabatan-jabatan rendah seperti: masinis, montir, dan sebagainya.

Untuk golongan ke-1 diadakan pendidikan selama dua tahun. Yang diterima sebagai murid ialah mereka yang telah tamat dari Sekolah Kelas II. Pada sekolah itu ada dua bagian yaitu bagian kayu dan besi. Pendidikan selama 2 tahun itu diikuti oleh kursus sambungan selama setahun untuk vak-vak khusus, seperti montir mobil, tukang listrik, tukang kayu, dan tukang batu. Untuk go­longan ke-2 diadakan sekolah-sekolah pertukangan yang pendidikannya 3 tahun. Sekolah ini diperuntukkan bagi mereka yang telah mengikuti pelajaran rendah barat (Belanda) sampai ta­mat.

Karena semua murid tidak mendapat pendidikan untuk berdiri sendiri, maka tamatan sekolah itu tidak ada yang sanggup untuk mendirikan perusahaan sendiri atau memperbaiki keadaan pertukangan di desa-desa, melainkan mencari pekeijaan pada perusahaan-perusahaan orang Eropa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.

Sejarah Sekolah guru di Jawa Timur

Pemerintah Hindia Belanda yang pada waktu itu sudah banyak menerima pengaruh aliran liberal, telah mulai memper- hatikan kehidupan rakyat Indonesia. Bidang pengajaran yang di­buka bukan hanya untuk anak-anak orang Belanda, tetapi sudah memperhatikan juga keputera-putera bangsa Indonesia, terma- suk anak-anak orang kebanyakan.

Pemerintah selain memperhatikan bidang pendidikan ke- juran seperti pertukangan, juga memperhatikan Sekolah Pendi­dikan Guru (Kweekschool). Sekolah Guru yang pertama didirikan di Jawa Timur pada tahun 1875 di kota Probolinggo. Tahun- tahun sebelum itu kota-kota lain di luar Jawa Timur telah lama pula didirikan sekolah guru. Antara lain Bukittinggi (1856), Tanahbatu (1864; Tapanuli), Surakarta (Solo), dan Magelang. Sekolah guru di Surakarta merupakan sekolah guru yang pertama dibuka oleh pemerintah pada tahun 1852. Sekolah ini pada ta­hun 1875 kemudian dipindahkan ke Magelang.

Peraturan Pemerintah yang dikeluarkan pada tahun 1871 berdasarkan beslit kerajaan, artikel 1, mengatur sekolah pendidi­kan guru atau Kweekschool dengan pertimbangan bahwa pemben- tukan sekolah dasar bumiputra harus didahului dengan pemben- tukan tenaga pengajarnya. Karena sekolah ini akan mengeluar- kan tenaga pengajar atau guru, maka jelas sudah bahwa di seko­lah ini diberikan pelajaran bahasa Belanda. Bahasa Belanda merupakan mata pelajaran wajib yang sebenarnya sudah diberi­kan sejak tahun 1865. Mata pelajaran itu diberikan karena Kweek­school dianggap sangat penting kedudukannya dalam rang- ka perluasan sekolah-sekolah dasar bumiputera48) sehingga jumlahnya diperbanyak oleh pemerintah. Agaknya sekolah semacam ini belum dapat menarik perhatian. Karena itu perlu adanya rangsangan untuk menggairahkan para pemi- nat. Maka oleh pemerintah gaji guru lulusan Kweekschool dari f 30,- sampai f 50.- dinaikan menjadi f 75.- sampai f 150,- setiap bulan. Namun demikian rangsangan itu masih belum menarik perhatian anak-anak priyayi tinggi. Karena itu banyak pelajar yang berasal dari anak-anak priyayi kecil, pedagang, dan rakyat biasa. Jumlah lulusan sekolah guru ini tidak banyak, sebab di samping mata pelajaran yang banyak dan bertumpuk- tumpuk, bahasa Belanda dianggap sebagai mata pelajaran wajib yang sulit. Karena itu kekurangan tenaga guru tidak dapat mengharapkan dari lulusan sekolah guru itu. Hal demikian menyebabkan pemerintah mengangkat guru melalui ujian.

Sejarah Lembaga pendidikan madrasah, di Jawa Timur

Lembaga pendidikan madrasah yang didirikan dan dipelopori oleh Nizam El Muluk, seorang menteri dari dunia Arab, diperkenalkan dan kemudian berkembang di Jawa Timur. fada sistem pesantren tidak terdapat standar antara satu dengan yang lain. Tetapi pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 madrasah-madrasah mulai memperkenalkan pembagian menurut tingkat kemampuan dan prestasi murid, kelompok umur, dan digunakan pula metode klasikal. Artinya seorang guru mengajar di hadapan banyak murid dalam satu kelas. Sistem dan metode ini sedikit banyak dipengaruhi oleh sistem baru yang menggu- nakan sekolah

berjenjang. Dalam pendidikan madrasah diutama- kan keselarasan otak (perkembangan akal), hati (perkembangan perasaan dan kemauan), dan tangan (perkembangan kecekatan ketrampilan). Sedangkan pelajaran-pelajaran yang diberikan me- liputi tiga kelompok yaitu kelompok pelajaran agama, kelompok pelajaran pengetahuan alam, dan kelompok pelajaran kerajinan tangan.

Pada pendidikan pesantren, mata pelajaran serta lamanya belajar tidak sama. Pesantren kecil dengan jumlah santri yang menetap amat sedikit lebih tepat disebut pengajian. 48) Keba- nyakan santrinya adalah anggota masyarakat yang terdekat.

2. Bidang Pendidikan

Sampai dengan tahun 1900 himpunan buku-buku berupa suatu perpustakaan di pesantren belum ada. Buku-buku disimpan pada pemilik masing-masing, dan merupakan koleksi pribadi di antara para kiai, badal, ustad, dan santri.

Yang terpenting ialah mengetahui isi dan hubungan antara satu buku dengan buku lainnya. Masalah ini amat rumit. Tetapi di sinilah letak kunci pembuka pengertian untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kawasan ilmu yang diajarkan dalam lingkungan pesantren. Pada hakekatnya apa yang diajurkan dalam lingkungan pesantren itu adalah untuk mempelajari satu kitab saja, yaitu Al Qur’an.

Pusat ilmu semenjak berkembangnya agama Islam adalah bangunan mesjid di Negara Arab. Lembaga pendidikan madra­sah telah dikenal sejak abad ke-10. Pada abad ke-11 sistem pen­didikan madrasah diperbaharui oleh Menteri Nizam Al Muluk dari Negara Arab. Semula madrasah hanya memberikan hal-hal yang bertalian dengan theologi saja. Tetapi setelah itu ilmu as- tronomi dan obat-obatan juga diberikan di madrasah. 49 ] A1 Qur’an dikaji secara benar sehingga anak-anak mendapatkan pe- ngertian tentang ayat-ayat Al Qur’an secara benar pula. Kemu- dian memahami maknanya yang meliputi tafsir serta bagaimana cara mengamalkannya.

Mengaji di pesantren bermula pada Al Qur’an dan berakhir pada Al Qur’an pula. Setelah itu dibutuhkan kitab-kitab yang disebut ilmu alat. Dari segi lain Al Qur’an merupakan induk atau sumber bagi lahir dan berkembangnya cabang-cabang ilmu lain yang kemudian ditulis dan dihimpun menjadi berbagai kitab.

Dari ayat-ayat A1 Qur’an mengenai hukum melahirkan ilmu Fiqih. Fiqih itu banyak sekali jumlahnya dan mempunyai mad- zhab dengan kecenderungan titik berat yang berbeda-beda. Mad- zhab Imam Syafii disebut Syafiiah, dan banyak didapati di pesan­tren-pesantren Jawa Timur.  Dari ayat-ayat Al Qur’an yang memberikan petunjuk mengenai pendekatan

dari manusia de­ngan Allah, menimbulkan mistik Islam atau tassawuf. Kaum Suffi mengajarkan tarekat. Dari ayat-ayat Al Qur’an yang me- nerangkan kejadian alam benda sebagai tanda kebesaran Allah menimbulkan ilmu alam kodrat. Menurut keterangan dari beberapa kalangan para ulama terdahulu mengeluarkan kitab-kitab ilmu falak, ilmu aljabar, dan ilmu sistem angka 0 (nol) yang dipergunakan sekarang.

Kitab-kitab tariqh yang disusun oleh para ulama di masa yang lalu keluar dari ayat-ayat A1 Qur’an. Kitab tersebut mene- rangkan kehidupan umat terdahulu. terutama sejarah para nabi dan rasul. Kitab ilmu Hadith juga merupakan hasil penelitian yang luas dari para ulama mengenai Sunnah Rasul yang menjadi pegangan ajaran Islam sesudah Al Qur’an.

Bahasa Al Qur’an itu sendiri setelah diperdalam menim­bulkan ilmu bahasa Arab sampai pada perinciannya yaitu bayan, ba’di, syorof, nahwu. dan cara mengucapkannya dipelajari dalam pelajaran tajwid. makhrad dan balagah. Bahasa kitab ini disebut fasa, berbeda dengan bahasa amiyah yang digunakan secara umum dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam pesantren diusahakan pengajaran Al Qur’an secara utuh seperti di jaman para nabi di mana para murid duduk ber- kumpul memahami dan mempelajari ayat-ayat yang telah di- turunkan. Cara mempelajari ialah dengan cara tadarus. yaitu di- baca berulang-ulang sampai hafal.

Kcpada setiap orang yang telah menerima pelajaran Al Qur. an dikenakan tusias untuk mengajar lebih lanjut kepada kaum kerabat dan orang-orang lain dalam lingkungannya. A1 Qur’an tidak boleh dijadikan seperti buku undang-undang yang hanya dibuka lembarannya bila diperlukan untuk diperiksa salah satu ayatnya. Dengan selalu tadarus akan timbullah pengertian baru yang membangkitkan kita kepada usaha mengembangkan ilmu dan mendapatkan banyak petunjuk.  Al Qur’an merupakan qalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw secara keseluruhan.

Dalam kitab Tariqhut Tasyiri yang disusun oleh Alqhud- dari disebutkan bahwa jangka waktu nuzul ayat-ayat Al Qur’ an dari awal sampai akhir meliputi waktu 20 tahun 21 bulan dan 22 hari. Jangka waktu ini diperhitungkan sejak dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari milad Nabi sampai dengan tanggal 9 Dzulhijah, dari Haji Akbar tahun 10 Hijriah atau tahun 63 dari Milad Nabi. Di sana didapatkan masa turunnya Al Qur’an yang dapat dibagi menjadi 2 periode dengan masing-masing mempu- nyai tanda-tanda dalam bentuk dankandunganisisecara umum.

Periode pertama, yaitu masa ketika Nabi masih bermukim di Mekah. Ia menerima wahyu pertama pada tanggal 17 Ramadhan tahun 41 dari Milan

sampai dengan awal Rabiulawal tahun 54 dari Milan, meliputi masa 12 tahun 5 bulan 13 hari. Periode ini disebut ayat-ayat Maqqiyah. Semuanya meliputi jumlah 86 surah yang memuat 4780 ayat. Ciri-ciri umum ayat-ayat Maqqiyah itu ialah susunannya pendek-pendek. Isinya mengenai dasar keya- kinan atau aqidah tentang ada dan ke-esaan Allah. Atau Tauhid- dulah tentang hal-ikhwal azab dan nikmat di hari kemudian. Ayat-ayat ini memuat seruan kepada segenap manusia. Oleh karena itu diawali dengan kalimat-kalimat Ya Ayyuhannasu

Periode kedua, yaitu masa sesudah Nabi hijrah, bermukim di Madinah mulai tahun 54 sampai dengan tahun 63 Milad Nabi. Begitu pentingnya peristiwa hijrah sehingga kemudian dijadikan awal tahun dalam perhitungan tahun di kalangan umat Islam. Ayat-ayat yang nuzul dalam periode ini disebut ayat-ayat Mada- niah, yang semuanya meliputi 28 Syurah. dan memuat 1450 ayat. Ciri-ciri umum ayat-ayat ini susunan pada masing-masing Surahnya panjang-panjang. Kandungan isi ayat-ayatnya menge­nai masalah-masalah hukum dan kemasyarakatan. Oleh karena ayat-ayat yang memuat perintah dan larangan itu adalah bagi orang-orang yang telah beriman, maka banyak ayat-ayatnya yang dimulai dengan Ya Ayyuhaladzina …………………………………………..

Para sahabat Nabi membagi surah-surah dalam AlQur’an menjadi 4 bagian menurut panjang pendeknya isi syurat. Pertama, ialah 7 syurat yang terpanjang yang disebut de­ngan syurat-syurat Assab’uth-thiwaal. Kedua ialah syurat yang terdiri dari 100 ayat atau lebih sedikit yang disebut syurat Mi’ in atau Mi’un. Ketiga, syurat yang kurang dari 100 ayat yang disebut Alretsani. Keempat, syurat yang amat pendek yang di­sebut A1 Mufashal.

Penelitian terhadap ayat-ayat Al Qur’an baik mengenai lafal sampai kepada hitungan jumlahnya telah dilakukan dengan kecennatan yang amat subi’il. Abdullah Ibnu Katair adalah salah seorang tokoh peneliti hitungan ahli Mekah di masa lalu. Hitungan ahli Madinah diteliti oleh Abu Ja’far Ibnu Jazid. Hitungan ahli di Qufah dipelopori oleh Abu Abdirachman Asyalami. Hitungan ahli Basrah dilakukan oleh Aksin bin Asjjaj. Sedangkan bentuk ahli Syam penelitiannya dilakukan oleh Abdullah Ibnu Amir A1 Yahs- habi. Mereka itulah yang amat terkenal, di samping masih banyak lagi ulama yang lain. Sebagai peneliti syurat dan ayat-ayat Al Qur’an, sesudah terhimpun dalam Mushafat semuanya sepakat bahwa dalam Mushafat itu terdapat 114 syurat. Apabila ternyata ada segolongan kecil kaum Syi’ah yang menyebut 116 syurat, itu karena dimasukkannya 2 syurat-syurat Qunut A1 Khala dan A1 Hafadh. Menurut pentahkiban Abu Bakhar A1 Bagilani dalam kitab I’l

Jajul Qur’an. 2 buah doa Qunut itu karena ditulis oleh Ubay di kulit Mushab. Maka timbullah perkiraan sebagian orang sebagai dua buah syurat seperti yang lain. Perbedaan ini mudah saja dijelaskan karena syurah-syurah itu jelas ciri-cirinya, dan jumlahnyapun tidak banyak. Akan tetapi dalam penelitian hi- tungan-hitungan. ayat dalam Mushaf kadang-kadang terdapat perbedaan angka yang besar. Hal ini disebabkan lafadh Basmalah pada awal syurah diperhitungkan sebagai ayat dan sebagian ti­dak. Demikian pula untuk lafadh yang disebut Fawaathussuwari, yaitu pembuka syurah yang berbentuk huruf-huruf seperti alf- lam-mim, dan sejenisnya, tidak diperhitungkan sebagai ayat. Per­bedaan hitungan dalam penelitian ini tidak menyalahi kenya- taan bahwa isi Mushaf itu pada tiap syurah dari ayat sampai hu- rufnya sama.

Dari A1 Qur’an ini, bukan hanya isinya saja yang dipegang teguh oleh para ulama tetapi juga cara penulisannya, kata Kyai Yusuf Ismail Yasir. Maksudnya ialah bahwa A1 Qur’an sebagai sumber dan ilmu tidak putus dari cabangnya. 55) Dari A1 Qur’ an ditulislah kitab-kitab yang memuat ilmu tafsir. Tafsir itu pada hakekatnya ialah mensyarahkan lafadh yang sukar dipahami dengan uraian yang menjelaskan maksud. Adakalanya dengan menyebut muradif (sinonim)nya, atau menjelaskan dengan cara dalalah (petunjuk) dan contoh.

Pada setiap kitab tafsir ayat A1 Qur’an aslinya selalu dituliskan. Disiplin ini kemudian diturun untuk penulisan kitab- kitab lain. Bahkan dengan cara yang seragam ayat-ayat pada kitab induk dituliskan pada bagian tepi. Sedangkan tafsir maupun komentarnya disebut sejarah, dan dituliskan pada kolom bagian tengah dari tiap lembaran atau halaman kitab.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.

Sejarah Pendidikan Dasar, di Jawa Timur

Sekolah pertama yang dibuka untuk anak- anak Belanda teriadi pada tanggal 24 Februari 181? di Batavia. Sekolah tersebut mencontoh sekolah dasar yang ada di Negeri Belanda, di lain tempat keturunan atau anak-anak Belanda juga ada, dan mereka juga memerlukan pendidikan. Maka jenis sekolah seperti yang terdapat di Batavia menarik perhatiannva.

Karena itu dari pada mengirimkan anak-anaknya ke Batavia memerlukan biaya yang cukup besar, maka perlu adanya sekolah di tempat-tempat yang ramai. Tempat itu menjadi semacam pemusatan bagi orang-orang Belanda, antara lain di kota-kota pelabuhan dan pusat-pusat perkebunan. Ternyata sekolah seperti di Batavia meluas ke daerah lain.

Di Jawa Timur misalnya, se­kolah semacam itu terdapat di kota Gresik dan Surabaya. Tetapi perluasan sekolah itu di Jawa Timur baru terjadi pada tahun 1820. Sekolah yang dibuka itu sebenarnya Sekolah Rendah Eropa atau lebih dikenal dengan Europeesche Lagere School (ELS).

Didirikannya sekolah tersebut dimaksudkan untuk menampung anak-anak Belanda yang tinggal di kota-kota Surabaya, Gresik dan daerah sekitamya. Sampai akhir tahun 1820 ternyata yang dapat menikmati pendidikan modern baru anak-anak bangsa Belanda, sedangkan bangsa Indonesia belum diperkenalkan. Di­dirikannya sekolah di Surabaya dan Gresik ternyata dapat memenuhi harapan orang-orang tua terutama bangsa Belanda. Namun demikian kehausan akan pendidikan melalui sekolah dirasakan masih sangat kurang.

Hal serupa dapat dilihat dari kelanjutan sekolah itu sendiri. Dan inilah yang nantinya mendorong Pemerin­tah Hindia Belanda untuk mengusahakan tempat-tempat pendidi­kan lagi. Keadaan semacam itu belum terhitung jumlah sekolah yang diselenggarakan oleh fihak swasta, terutama oleh agama Kristen Protestan dan Katholik. Kedua agama itu dalam aktifitasnya di Jawa Timur tidak mengesampingkan bidang pendidi­kan. Sejak pertengahan abad ke-19 kedua agama tersebut sudah aktif memperkenalkan pendidikan barat walaupun jumlah murid hanya sedikit. Jelas sekali sejak pertengahan abad ke-19 anak- anak bangsa Eropa telah dapat menikmati pendidikan. Secara kualitatif menurut ukuran orang Belanda, pendidikan yang ada pada waktu itu sangat menyedihkan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.hlm. 94

Sejarah Pendidikan Pondok Pesantren di Jawa Timur

Pesantren Sejarah pendidikan Jawa timur

Pendidikan di Pesantren bermula jauh sebelum kedatangan agama Islam di Jawa Timur.  Menurut Kern (Elettariashurbs, better according to Heyne: aschasrna foettcns megalocheilos, etc; canto 78 – 7). Kawikuan merupakan prototip dari pondok yang kemudian bernama pesantren. Pendirian pesantren dimulai darFpengakuan suatu masyarakat tertentu pada keunggulan se- orang yang memiliki ilmu. Karena banyak orang yang ingin mem- peroleh dan mempelajari ilmu, maka mereka berdatangan kepada tokoh tersebut untuk menimba pengetahuan. Keunggulan tokoh itu terutama ditekankan pada ketaqwaan kepada Vang Maha Tinggi, ajaran atau agama yang dianutnya. dan kepada kesalehan serta tingkah lakunya sehari-hari.

Syekh Malik Ibrahim (1419) sebagai pendiri pesantren di Jawa. Syekh Magribi merupakan pencipta pesantren yang per- tama di Gresik (Jawa Timur), Sunan Bonang di Tuban. Sunan Ampel di Surabaya, dan Sunan Giri di Sidomukti (Giri. keda- ton). Pesantren-pesantren ini tidak hanya didatangi dari Jawa saja. tetapi juga dari Madura. Lombok. Sulawesi.

Setelah Islam datang dan berkembang, sistem pesantren terns berlangsung hingga kini. Ciri-cirinya khas seperti sistem pendidikan padepokan yang terdapat pada masyarakat Hindu Jawa. Dapat dimengerti bahwa sebenarnyalah sistem pesantren dapat bertahan selama belasan abad karena sudah melembaga dalam masyarakat. Ketahanan sistem ini antara lain terletak pada daya tarik pribadi dari suatu tokoh central yangselain memiliki pengetahuan agama yang mendalam, juga mempunyai sifat- sifat yang mulia. Bahkan kerap kali dikeramatkan oleh masya­rakat. Kyai sebagai pendiri suatu pesantren pada umumnya me- wariskan pengetahuan spiritual, ketrampilan maupun harta du- niawi kepada anak keturunannya yang bakal melanjutkan kelang- sungan pesantrennya. Kyai dan pengasuh pesantren yang pada umumnya berasal dari keluarga berada, pada umumnya tidak memerlukan imbalan materiil.

Para santri berdatangan dari daerah- daerah seberang dengan membawa bekal dan kebutuhannya sendiri. Dahulu perbekalan dibawa dalam bentuk in natura. Apa- bila studinya berlangsung lama, mereka membantu menggarap sawah atau kebun milik sang Kyai atau tanah wakaf yang disum- bangkan oleh masyarakat. Para santri bertempat tinggal di pondok- pondok milik pesantren atau di rumah-rumah penduduk.

Materi yang diajarkan selain kitab-kitab A1 Qur’an dan Hadis, juga tentang Fiqih (hukum) dan Tassawuf (mistik). Untuk me- nguasai bahan tersebut diajarkan pula bahasa Arab dari semua segi termasuk gramatika (tata bahasa), morfologi, phonetika, dan sintaksis.

Jika suatu pesantren telah berkembang maka dapat pula didirikan pesantren-pesantren baru di bawah lingkungan penga- ruhnya. Pesantren lama dianggap sebagai pesantren induk. Pe­santren-pesantren yang ternama dan bersejarah antara lain ialah Pesantren Termas (Pacitan), Tebuireng (Jombang), dan Lirboyo (Kediri). Dari pesantren-pesantren bersejarah tersebut tumbuh pesantren-pesantren baru yang tersebar di seluruh pelosok Pulau Jawa. Pesantren Tegalsari (Ponorogo) memiliki santri tidak kurang dari 252.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.hlm. 66 – 67

Langgar

Langgar, Sejarah pendidikan di Jawa Timur, Langgar merupakan tempat pengajian di Jawa Timur. Ternpat tersebut dikelola oleh seorang petugas yang disebut modin.Petugas tersebut berfungsi ganda. Di samping memberikan doa pada waktu ada upacara keluarga atau desa, dapat pula berfungsi sebagai guru agama.

Pelajaran di langgar bersifat elementer. Mulai dari mempelajari abjad huruf Arab atau langsung menirukan apa yang dibaca oleh modin dari kitab A) Qur’an (sistim tusuk- an).  Tujuan pendidikan dan pengajaran di langgar ialah agar murid pada suatu saat dapat membaca lengkap dengan lagunya, menurut irama tertentu, seluruh isi A1 Qur’an. Murid diajar se- cara individual dan menghadap pada guru. Satu-persatu mereka bergantian, dan yang lain duduk bersila di sekeliling guru.

Di Jawa Timur cara demikian disebut sistim Sorogan. Murid bersila mengitari guru. Murid-murid lain tetap berlatih melagukan ayat-ayat suci menurut bagiannya masing-masing. Sedangkan guru mengadakan koreksi kepada murid-murid yang salah mengucapkan atau melagukan ayat-ayat menurut bagian­nya masing-masing.

Pelajaran biasanya diberikan pada pagi atau petang hari selama dua jam. Lama pelajaran sekitar satu tahun. tetapi kadang-kadang pada murid yang pandai lebih pendek dari itu. Di samping hanya pendidikan langgar masih ada pen­didikan yang disebut pesantren.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.

Pengembangan Pondok pesantren

Pengembangan pondok pesantren di Jawa Timur sampai abad ke-19

Pertumbuhan Islam di Jawa Timur mula-mula berada di daerah pelabuhan-pelabuhan. Di Ampel (Surabaya). Giri (Gresik), Drajat (Sedayu). Bonang (di Tuban), dan Bintoro (Demak) telah muncul pondok-pondok pesantren yang menggembleng tenaga-tenaga penyebar Islam. Setelah keluar dari suatu pesan­tren para ulama akan kembali ke masing-masing kampung atau desanya. Di tempat-tempat asalnya mereka akan menjadi tokoh keagamaan, menjadi kiai dan menyelenggarakan pesantren lagi. Di antara mereka mungkin ada yang berasal dari daerah peda- laman, sehingga muncullah pondok pesantren di pedalaman. Pengembangan pondok pesantren di daerah pedalaman ini mung­kin dipercepat dengan munculnya Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam yang pertama di Jawa.

Dalam jaman Kerajaan Demak peranan para wali bukan hanya memberikan da’wah Islamiah saja, tetapi juga sebagai dewan penasehat dan pendukung raja-raja yang memerintah. Da­lam kedudukan yang demikian sudah sewajarnyalah apabila para wali mengirimkan kader-kader tamatan pesantrennya untuk menjadi muballigh ke daerah pedalaman. Di mana mereka ber- ada di situlah mereka mendirikan langgar atau mesjid sebagai basis gerak agama. Lama-kelamaan jumlah pengikutnya makin banyak, sehingga berdirilah pondok pesantren sebagai tempat pembentukan kader pengembangan agama Islam selanjutnya. Penyiaran Islam selanjutnya mungkin dilaksanakan dengan mendatangi para ahli agama lama. Para ahli agama lama itu diajak berdiskusi, berdebat, dan adu kesaktian. Apabila para ahli agama lama itu dapat dikalahkan, maka biasanya ia mau memeluk agama Islam. Begitu pula para pembesar. para bupati dan raja-raja tidak luput dari metode itu. Bila perlu dengan menggerakkan suatu aksi militer untuk menyelesaikan persoalannya.

Dengan demikian maka pada jaman Kerajaan Demak pon­dok pesantren yang telah menyebar ke daerah pedalaman itu mempunyai peranan penting pula dalam rangka penyebaran agama Islam. Pondok-pondok pesantren ternyata mengalami perkembangan yang makin subur ketika jaman Kerajaan Mata- ram di bawah kekuasaan Sultan Agung. Pada tahun 1635 Sultan Agung memerintah di Mataram. Daerah Jawa Timur menjadi wilayah kekuasaan Mataram. Alas kebijaksanaan Sultan Agung, kebudayaan lama yang berdasarkan Jawa asli dan Hindu dapat disesuaikan dengan agama dan kebudayaan Islam. Selain itu Sultan Agung memerintahkan agar tiap-tiap ibukota kabupaten didirikan sebuah mesjid besar yang dikepalai oleh pengulu. Dan pada tiap-tiap ibukota distrik didirikan sebuah mesjid kewedanan yang diketuai oleh naib. Begitu pula pada tiap-tiap desa didirikan mesjid dewa yang diketuai oleh modin. Di setiap desa diadakan beberapa tempat pengajian dengan modin sebagai gurunya. Di situ antara lain diajarkan cara membaca A1 Qur’an, pokok-pokok, dan dasar-dasar ilmu agama Islam seperti cara ber- ibadat, rukun iman, dan rukun Islam. Pengajaran diberikan de­ngan cara menghafal semata-mata. Setelah mereka khatam da- pat meneruskan pelajarannya di tempat pengajian kitab, yaitu di pesantren atau pondok pesantren. Para guru agama yang mengajar di pesantren ini biasanya diberi gelar kiaianom

Di beberapa daerah kabupaten diadakan pesantren besar lengkap dengan pondok-pondoknya sebagai kelanjutan pendi- dikan dan pengajaran dari pesantren-pesantren desa. Gurunya diberi gelar kiai sepuh atau kanjeng kiai. Para guru itu adalab ulama kerajaan. Tingkat kedudukannya sama dengan penghulu kabupaten. Sedangkan kiai anom termasuk golongan ulama kabupaten yang kedudukannya setingkat dengan ketib.

Dengan demikian jelaslah bahwa jaman Mataram adalah jaman keemasan bagi pendidikan dan pengajaran Islam di tanah Jawa. Karena pada waktu itu pendidikan dan pengajaran Islam sudah mempunyai organisasi yang teratur dalam pemerintahan negara Islam. Maka itu merupakan suatu hal yang wajar apabila perkembangan pondok pesantren di Jawa Timur makin lama makin besar, sehingga Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-19 perlu mengadakan pengawasan. Demikianlah pada tahun 1882 oleh Pemerintah Hindia Belanda didirikan Priesterraden yang antara lain bertugas mengawasi pondok-pondok pesan­tren.

Tekanan yang halus dari fihak Pemerintah kolonial dan semakin berkembangnya lembaga pendidikan Barat yang ditu- jukan untuk membentengi Belanda dari volcano Islam (van der Prijs) mengakibatkan pengemhangar. pendidikan Islam maKin lama makin mundur. Namun demikian pendidikan dan penga­jaran Islam di Jawa Timur tetap tegak berdiri di pondok – pondok pesantren.

Adapun pondok-pondok pesantren yang dalam abad ke- 19 telah muncul di Jawa Timur antara lain ialah Pondok Pesan­tren Termas (dekat Pacitan) didirikan pada tahun 1823, Pondok Pesantren Jampes (Kcdiri). Pondok Pesantren Bendo (Kediri), Pondok Pesantren Pelangitan (Babat  berdiri pada tahun 1855.

Pondok Pesantren Probolinggo, Pondok Pesantren Bangkalan (di Madura), Pondok Pesantren Siwalan Panji (di Sidoaijo), dan Pondok  Pesantren di Jombang yang banyak sekali jumlahnya Nggendang, Keras, Tambak Beras, Den Anyar, Rejoso, Peterongan, Sambong, Sukopuro, Watu Galuh, Tebuireng).

Di antara pondok-pondok pesantren tersebut ternyata ada beberapa yang namanya telah termashur di Jawa Barat se­hingga di Pesantren Banten ada tradisi lama yang menganjurkan para santrinya apabila akan mendirikan pesantren baru terlebih dahulu harus mencari berkah dan menambah ilmu ke pondok Pesantren Jawa Timur tersebut. Pondok pesantren yang dimak- sudkan itu ialah Pondok Pesantren Termas di Pacitan, Pondok Pesantren Bangkalan di Madura, dan Pondok Pesantren Tebu­ireng di Jombang.

Di antara tiga pesantren yang termashur di Jawa Timur itu, ternyata Pondok Pesantren Tebuireng Jom­bang mempunyai sumbangan yang tidak sedikit terhadap perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai dan mempertahankan kemerdekaannya. Terwujudnya sumbangan pondok pesantren terhadap peijuangan bangsa Indonesia itu berkat bimbingan, asuhan, dan pengarahan dari pendiri pondok pesantren Tebu­ireng yang terkenal dengan sebutan Hadratus Syeh Hasyim Asy’ ari atau Kiai Haji Hasyim Asy’ari Tebuireng.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.

Prof. Dr. Moestopo, Kabupaten Kediri

MOESTOPO a13 Juli 1913, Moestopo lahir di Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur, Indonesia.  Anak keenam dari delapan bersaudara. Ayahnya, Raden Koesoemowinoto sudah meninggal ketika Moestopo baru kelas V HIS.

adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Jawa Timur dan juga seorang tokoh militer PETA, dokter gigi dan akademisi yang membidani lahirnya Universitas Prof Dr Moestopo (Beragama).

Ia Moestopo menempuh pendidikan diawali dari HIS, kemudian MULO. Setelah itu ia melanjutkan ke STOVIT (Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi) di Surabaya dan juga mengikuti pendidikan Orthodontle di Surabaya dan UGM, Yogyakarta. Setelah itu ia mengikuti pendidikan Oral Surgeon di Fakultas Kedokteran UI, Jakarta dan juga pendidikan sejenis di Amerika Serikat dan Jepang.

Mayor Jenderal TNI Purnawirawan Profesor Dr. Moestopo, Os.Orth.Opdent.Prosth. Pedo/D.H.Ed. Biol.Panc. Gelar di depan namanya umum pasti mengetahui. Namun gelar di belakang dirinci sebagai berikut: ahli ilmu bedah rahang mulut; ahli perawatan gigi; ahli pengawetan gigi; ahli kesehatan gigi masyarakat; ahli gigi palsu srta ahli dalam biologi.

Tahun 1937 – 1941, Prof. Dr. Moestopo mulai bekerja sebagai Asisten Orthodontle dan Conserven de Tandheeldunda.

Tahun 1941-1942 ia menjabat sebagai Wakil Direktur STOVIT, kemudian sebagai asisten profesor dari Shikadaigaku Ikabu (Sekolah Tinggi Kedokteran Gigi pada masa pendudukan Jepang di Indonesia).

Tahun 1952, Kolonel Moestopo, menjabat Kepala Bagian Bedah Rahang Rumah Sakit Angkatan Darat, Jakarta. Membuka Kursus Tukang Gigi, merupakan awal pengabdian Yayasan UPDM.  Disela  kesibukannya, Pak Moes mengabdikan diri pada dunia pendidikan, dengan mengelola ‘Kursus Kesehatan Gigi dr. Moestopo’, di rumah beliau di jalan Merak 8, Jakarta. Kursus ini berlangsung selama 2 jam, sejak pukul 15.00 sampai 17.00 dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan tukang gigi di seluruh Indonesia yang jumlahnya hampir 2.000 orang, agar dapat memenuhi kriteria minimal Ilmu Kedokteran Gigi dalam hal hygiene, gizi, dan anatomi sederhana, sesuai dengan himbauan Menteri Kesehatan dalam Konggres PDGI II tahun 1952.

Tahun 1957, dibuka sebuah kursus lagi yang dinamakan ‘Kursus Tukang Gigi Intelek’.

Tahun 1958, sepulang dari Amerika Serikat, Pak Moes mendirikan ‘Dental College Dr. Moestopo’. Dental college ini mendapat pengakuan resmi dari Departemen Kesehatan, Presiden Soekarno berkesempatan kunjung. Bung Karno memberikan pujian khusus kepada Dr.Moestopo, dianggap berhasil mendidik dan menelurkan tenaga kesehatan gigi yang terjangkau.

Tahun 1960, status dental college ditingkatkan menjadi ‘Akademi Tinggi Gigi’, status akademi ditingkatkan menjadi ‘Perguruan Tinggi Swasta Dental College dr. Moestopo’, selanjutnya ditingkatkan lagi statusnya menjadi ‘Fakultas Kedokteran Gigi Prof.Dr.Moestopo’

Tahun 1961 Pak Moes memperoleh gelar Guru Besar/Profesor dari Universitas Indonesia, dan dilantik oleh Prof. Ouw Eng Liang.

15 Februari 1961, Prof. Dr. Moestopo pejuang kemerdekaan, ilmuwan dokter gigi yang sangat peduli terhadap pendidikan bangsa Indonesia. Mendirikan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) UPDM (B).

Tahun 1962,  Prof. Dr. Moestopo bersama ibu R.A. Soepartin Moestopo mendirikan Yayasan Universitas Prof.Dr.Moestopo berdasarkan akte Notaris R.Kadiman No. 62. Untuk mendirikan Yayasan ini, Pak Moes selaku pendiri dan ketua Yayasan yang pertama, menggunakan tanah pribadi dan bangunannya di jalan Hang Lekir I no. 8. Jakarta dan sebuah mobil Opel Capitan tahun 1962 Nopol. B 311, sebagai salah satu modal pertama.

Tahun 1964, Prof. Dr. Moestopo mendirikan lembaga Pusat Perdamaian Dunia Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa pada. DEalam perjuangannya mewujudkan perdamaian dunia memalui lembaga inilah, Moestopo mengirim telegram yang ditujukan ke banyak pemimpin dunia, diantaranya Leonid Brezhnev, Paus Paulus II, Jimmy Carter, Ronald Reagan, Menachem Begin, Margaret Thatcher, Presiden Argentina, pemimpin Iran dan Irak.

29 September 1986, Prof. Dr. Moestopo wafat, pada umur 73 tahun Prof. Dr. Moestopo meninggal di Bandung, Jawa Barat. Namun perjuangan Ys UPDM sebagai wadah pengabdian keluarga Pak Moes kepada Negara dan bangsa harus tetap berlangsung. Untuk itu telah diwasiatkan kepada keluarga yang ditinggalkan dan keluarga besar Ys UPDM, bahwa yang menggantikan beliau sebagai Ketua adalah putra sulungnya, yaitu drg. J.M.Joesoef  Moestopo.=S1Wh0To=

Umar Kayam, Kabupaten Ngawi

64umar kayam30 April 1932,  Umar Kayam lahir di Ngawi, Jawa Timur, para temannya biasa menyapa UK.

Tahun 1955, Umar Kayam lulus sarjana muda di Fakultas Pedagogik Universitas Gadjah Mada. ketika menjadi mahasiswa, dikenal sebagai salah seorang pelopor dalam terbentuknya kehidupan teater kampus.

Tahun 1963, meraih M.A. dari Universitas New York, Amerika Serikat.

Tahun 1965, Umar meraih Ph.D. dari Universitas Cornell, Amerika Serikat.

Tahun 1966-1969, Umar menjabat Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film Departemen Penerangan RI.  Tokoh yang membuat kehidupan perfilman menjadi semarak

Tahun 1972, Seribu Kunang-kunang di Manhattan (kumpulan cerpen,) mendapat hadiah majalah Horison (1966/1967).

Tahun 1969-1972, Umar menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, dia mempelopori pertemuan antara kesenian modern dengan kesenian tradisional. Pada saat menjadi dosen di almamaternya, ia mengembangkan studi sosiologis mengenai sastra, memperkenalkan metode grounded dengan pendekatan kultural untuk penelitian sosial, memberikan inspirasi bagi munculnya karya-karya seni kreatif yang baru, baik di bidang sastra, seni rupa, maupun seni pertunjukan, mendirikan pasar seni di kampus, dan sebagainya.

Tahun 1973, sebagai anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara), dosen Universitas Indonesia, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, senior fellow pada East-West Centre, Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.

Tahun 1975, Totok dan Toni (cerita anak); Sri Sumarah dan Bawuk (1975)

Tahun 1975-1976, sebagai Diektur Pusat Latihan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Hasanudin, Ujungpandang.

Tahun 1976, Cerpen-cerpennya diterjemahkan oleh Harry Aveling dan diterbitkan dalam Sri Sumarah and Other Stories dan From Surabaya to Armageddon.

Tahun 1977-…, menjadi Direktur Pusat Penelitian Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.

Tahun 1978-1979, Umar menjabat Ketua Dewan Film Nasional.

umarTahun 1981-…, Ketua Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta. Hasil karyanya Seni, Tradisi, Masyarakat (kumpulan esai, 1981). Sri Sumarah (kumpulan cerpen, 1985, juga terbit dalam edisi Malaysia, 1981)

Tahun 1984,  Umar  memerankan Presiden Soekarno, pada film Pengkhianatan G 30 S/PKI.

Tahun 1985, Semangat Indonesia: Suatu Perjalanan Budaya (bersama Henri Peccinotti).

Tahun 1987, Umar Kayam memperoleh Hadiah Sastra Asean pada tahun.

Tahun 1988, sebagai anggota Akademi Jakarta (seumur hidup).

Tahun 1988-1997-pensiun, Umar sebagai Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, anggota penyantun/penasihat majalah ”Horison”.

Tahun 1992, Para Priyayi (novel) Mendapat Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K, diberikan pada tahun 1995.

1 September 1993, mengundurkan diri dari anggota penyantun/penasihat majalah ”Horison”bersama-sama dengan Ali Audah, Arif Budiman, Goenawan Mohamad, Aristides Katopo

Tahun 1997, Parta Karma (kumpulan cerpen).

Tahun 2000, hasil buah karyanya Jalan Menikung (novel).

 16 Maret 2002,  Umar Kayam wafat di Jakarta, pada umur 69 tahun. Setelah menderita patah tulang paha pangkal kiri. Umar Kayam meninggalkan seorang istri dan dua anak.=S1WhoT0=