Sarip Tambakyoso

(Sinopsis Cerita Ludruk Produksi Grup Wijaya Kusuma Malang) Pimpinan Pelda Mulyono/Supriyadi

Sarip Tambakyoso sedang dikejar-kejar polisi dan lurah pemerintahan Belanda dengan tembakan-tembakan. Tetapi Sarip menantang mereka agar semua polisi dan lurah penjajah menghabiskan peluru untuk menembakinya karena Sarip mengetahui bahwa dirinya tak bakal mati ditembak dan tak dapat ditangkap. Sementara itu, Lurah Noto yang merasa sebagai jago penja­jah diserahi tanggung jawab menagih pajak kepada Mbok Sarip yang sudah menunggak selama tiga tahun.

Mbok Sarip menimbang-nimbang perasaannya terhadap anaknya yang tertua bernama Mualim dan adiknya bernama Sarip Tambakyoso. Ibarat telur satu sarang, setelah menetas berbeda warnanya. Sarip selalu menjadi pergunjingan tetangga dan masyarakat karena perbuatannya yang suka mencuri, merampok, dan membegal. Sedangkan Mualim rajin salat, pergi ke langgar, dan tekun mengaji agama di pondok. Tetapi, Mbok Sarip lebih cinta kepada Sarip daripada Mualim. 

Datanglah Lurah Noto menagih pajak kepada Mbok Sarip, tetapi Mbok Sarip tak dapat membayarnya pada hari itu. Akibatnya, Mbok Sarip dipukuli, walaupun usianya sudah tua dan minta waktu membayar sampai kedatangan Sarip. Tiba-tiba datanglah Sarip dan ketika melihat Mbok Sarip berlumuran darah, Sarip naik darah dan langsung saja Lurah Noto dibunuhnya dengan pisau belati dengan alasan bahwa Lurah Nato adalah lurah desa Gedangan yang tidak berhak menarik pajak di desa Tambakyoso, lagi pula telah berani menyiksa ibunya yang sudah tua itu. Setelah membunuh Lurah Noto tersebut Sarip menantang semua lurah dan polisi pemerintahan Belanda di seluruh Kabupaten Sidoarjo agar menghabiskan peluru untuk menembaki dirinya. 

Sarip tiba di rumah Mualim dengan ibunya yang babak belur dan berlu­muran darah. Mualim yang hanya pandai bicara tetapi tak banyak berbuat, serta-merta mencela Sarip yang tak waspada menjaga ibunya. Tetapi, setelah diceritakan Sarip bahwa Lurah Noto telah dibunuhnya, juga mencela perbuatan Sarip bahwa membunuh itu berdosa. Ditambah pula serentetan nasihat agar Sarip berhenti mencuri, merampok, dan membegal; dan mengikuti jejaknya, yaitu rajin salat, pergi ke langgar, dan mengaji di pondok agar kelak, jika mati, masuk surga. Sarip yang jengkel terhadap kakaknya, yang ternyata juga kikir terhadap ibunya itu, menjawabnya bahwa dia biarlah menjadi ma­ling dan menjadi penghuni neraka, sedangkan kakaknya biarlah tekun beribadat dan kelak, jika mati masuk surga. Sarip pun pergi meninggalkan kakak dan mboknya itu untuk merampok orang kaya.

Seorang kusir delman bernama Paidi adalah seorang pendekar, yang hari itu merasa paling pendekar karena telah dapat mengalahkan Sarip dengan memukulkan tongkat serandang,yaitu kayu penumpang delman dan membuang mayat Sarip ke sungai. Paidi tahu pula bahwa dirinya juga orang kepercayaan Pak Haji, ayah gadis cantik bernama Ning Saropah, dan sadar pula bahwa dirinya adalah anak kyai (ulama) di daerah Dorosmo. Hari itu Paidi ditugasi oleh majikannya untuk menjemput Ning Saropah yang sedang berkeliling menagih hutang dari seorang yang menggunakan uang ayahnya. Setelah berjumpa dengan Ning Saropah, kusir delman Paidi minta izin untuk memberi makan kudanya dan minta maaf terlambat menjemput karena lebih dahulu ia menjemput teledek (wanita penari harga murahan di desa).

Lalu datanglah Sarip, yang setelah menggoda Ning Saropah, segera meminta uang dan hendak merampas gelang perhiasannya. Tampillah Paidi pelindung Ning Saropah. Terjadilah perkelahian seru dan Sarip, setelah terkena pukulan tongkat serandang dari teras kayu kulintang (meranggai) yang telah lama direncam, seketika itu juga mati. Mayatnya dibuang ke sungai oleh Paidi dan sesudah itu mengantar Ning Saropah pulang. 

Ketika Mbok Sarip sedang mencuci pakaian istri Mualim di sungai. Tampaklah mayat Sarip yang sangat dicintainya itu terapung-apung di sungai. Dengan sekali panggil saja sambil mengucap “Sarip, belum waktunya kamu buyung”, maka seketika itu juga Sarip hidup kembali. Maka berceritalah ibunya itu bahwa dahulu ketika Sarip masih dalam kandungannya, ayahnya yang bertapa berpesan jika Sarip lahir supaya dijatuhkan dari para-para yang di bawahnya diletakkan tumbak sapu lidi yang sudah usang sebanyak seribu buah. Lagi pula, bayi Sarip harus disuapi tanah merah separuh dan separuh lagi dimakan ibunya. Dengan begitu, selama ibunya masih hidup, Sarip Tambakyoso tak akan bisa mati asalkan nama Sarip disebut oleh Mbok Sarip. Itulah sebabnya Sarip Tambakyoso selalu berteriak mengumandangkan diri­nya sebagai pendekar tanpa guru. 

Sekarang Sarip yang telah hidup kembali menaruh dendam dan mengancam Paidi untuk dilempari perutnya dengan pisau belati. Sarip berjumpa de­ngan seorang gadis bernama Karsinah, anak pemilik warung kopi, yang sebenarnya kekasih Paidi tetapi juga intim dengan Sarip. Sarip berpesan agar disampaikan kepada Paidi bahwa Sarip akan mengeluarkan isi perut Paidi dengan pisau belatinya. Tibalah saatnya Paidi datang ke warung kopi Pak Kacung, ayah gadis Karsinah. Pesan Sarip disampaikan, tetapi Paidi terheran-heran karena Sarip telah mati dan mayatnya dilempar ke sungai. Tiba-tiba muncullah Sarip yang segera duduk menghadapi Paidi di warung kopi. Setelah saling menyindir dan menantang, kedua pendekar itu berkelahi lagi dan kali ini perut Paidi berhasil ditusuk pisau belati dan mati seketika itu juga. 

Kini oleh pihak penjajah dilakukan pengejaran dan penggerebegan dilakukan terhadap Sarip Tambakyoso dengan mengerahkan polisi dan para lurah desa ke rumah Mbok Sarip. Mbok Sarip ditangkap dan disuruh mengaku menunjukkan rahasia kesaktian Sarip Tambakyoso itu. Mbok Sarip yang tak tahan lagi akan siksaan, akhirnya membukakan rahasia kesaktian Sarip, yaitu harus ditembak dengan peluru perak atau emas. 

Dalam pengejaran, setiap kali Sarip kena tembak terdengar suara Mbok Sarip memanggil nama Sarip, dan Sarip pun hidup dan bangkit melawan serta menyerang musuh-musuhnya. Diketahuilah tentang rahasia Sarip yang sebenarnya dan Mbok Sarip pun ditangkap serta dibungkam mulutnya. Maka Sarip Tambakyoso pun mati terkena tembakan peluru penjajah Belanda.

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mukhsin Ahmadi Widodo HS Mujianto Imam Syafi’ie: Aspek Kesastraan dalam Seni Ludruk
di Jawa Timur; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1987,  hlm.103

Banteng Surontanu (Joko Sendhang)

(Sinopsis Cerita Ludruk Produksi Grup Karta Jaya, Karangmojo Jombang)
Pimpinan S. Kartorejo

Dua jin bernama jin Kebobang dan jin Wilawuk ingin membalas dendam kepada musuhnya yaitu jin Kebo Kicak yang dahulu merintangi kedua jin tersebut untuk menjadi raja Majapahit. Dalam upaya membalas dendam ter­sebut, kedua jin itu masuk ke dalam perut banteng yang bertapak kaki emas. Dahulu, Kebo Kicak membuang batu besar ke dalam sungai Brantas sehingga mengganggu tempat tinggal jin Kebobang dan jin Wilawuk. 

Suatu ketika, seorang pemuda bernama Joko Sendhang sedang berburu di hutan raya. Ia bertemu dengan seekor banteng yang pandai berbicara. Banteng itu terus menyembah ingin mengabdi kepada Joko Sendhang. Ban­teng ini adalah banteng yang bertapak kaki emas yang bernama Banteng Tracak Kencana. Joko Sendhang menerima pengabdian Banteng dan bersumpah sehidup-semati. Sejak itu pula Joko Sendhang bernama Banteng Surantanu. Joko Sendhang alias Banteng Surontanu pulang bersama banteng kesayangannya menghadap neneknya,Ki Ageng Tarup alias Joko Tarub. Di hadapan neneknya ini, Joko Sendhang alias Banteng Surontanu yang sudah dewasa itu menanyakan asal-usulnya, siapa ayahnya, dan siapa ibunya. Ki Ageng Tarub tak dapat mengelak lagi dan menerangkan bahwa ibu Banteng Surontanu adalah Dewi Nawangsih putra putri Dewi Nawangwulan. Dewi Nawang Wulan ini dahulu adalah istri Joko Tarub. Sekarang Dewi Nawangsih, ibu Banteng Surontanu, berada di kahyangan untuk melengkapi jumlah bidadari supaya menjadi empat puluh empat. Ayah Banteng Surontanu adalah Pangeran Lembu Peteng yang berada di istana Majapahit. Banteng Surontanu boleh menyusul ayahnya, tetapi harus lebih dahulu berguru ke Tebu Ireng. Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat diberikan oleh Ki Ageng Tarub kepada Ban­teng Surantanu supaya lebih terampil dalam pergaulan dengan orang-orang pandai. 

Di Tebu Ireng, Joko Sendhang (Banteng Surontanu) mendapat seorang guru bernama Kiyai Sumoyono. Suatu saat Tebu Ireng terkena penyakit besar. Penduduk banyak yang mati, sakit sore pagi mati, sakit pagi sore mati. Kiyai Sumoyono memanggil Banteng Surontanu dan mengatakan bahwa menurut bisikan gaib, wabah penyakit yang melanda bisa disembuhkan hanya dengan tetes darah Banteng Tracak Kencana. Banteng Surontanu tak dapat memenuhi permintaan gurunya untuk berkorban bagi kepentingan rakyat Tebu Ireng karena ia telah terikat sumpah dengan Banteng Tracak Kencana untuk sehidup semati. Oleh karena itu, Banteng Surontanu diusir dan tidak diakui lagi sebagai murid oleh Kiyai Sumoyono. 

Kiyai Sumoyono memanggil muridnya yang tersakti, yaitu Kebo Kicak yang menjadi Tumenggung di Desa Karang Kejambon, diperintahkan untuk menangkap dan menyembelih Banteng Tracak Kencana. Kebo Kicak menyanggupi permintaan gurunya karena tahu bahwa yang berada di perut Banteng Tracak Kencana adalah jin Kebobang dan jin Wilawuk, yaitu musuh besarnya sejak dahulu. Terjadilah perkelahian. Kedua murid seperguruan ini sama-sama saktinya dan satu persatu sekutu Banteng Surontanu maupun Kebo Kicak mati dalam perkelahian. Setiap kematian seorang sekutu menandai terjadinya nama suatu daerah di wilayah Tebu Ireng. Akhirnya perke­lahian terbuka satu lawan satu antara Kebo Kicak dan Banteng Surontanu. Banteng Surontanu dengan ilmu lari cepatnya dan Kebo Kicak dengan ilmu pembau (penciuman) yang sangat tajam bertarung mati-matian. Akhirnya kedua saudara seperguruan ini mati secara bersama-sama di sebuah telaga. Kiyai Sumoyono bersama rekan-rekannya Kiyai Pranggang memetik pelajaran dari kesalahan mendidik murid agar kelak tidak teijadi peristiwa

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mukhsin Ahmadi Widodo HS Mujianto Imam Syafi’ie: Aspek Kesastraan dalam Seni Ludruk
di Jawa Timur; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1987,  hlm.103

Pengertian Ludruk

Pembicaraan mengenai pengertian ludruk dan erat perkembangannya sangat diperlukan sebagai bahan untuk melandasi pembicaraan teoritis selanjutnya.

Menurut Pak Kibat, tokoh Besutan Malang
Ludruk sebagai nama dapat dicari makna etimologinya yang diperoleh dari berbagai informasi yang relevan. Informasi itu berasal dari dua informan tokoh seniman dan budayawan ludruk. Hal ini menunjukkan bahwa dalam penelitian ini dilakukan studi eksplorasi dan kajian buku bacaan.

Dari informasi yang diperoleh itu dapat dikatakan bahwa ludruk berasal dari kata-kata molo-molo dan gedrak-gedruk. Molo-molo berarti mulutnya penuh dengan tembakau sugi dan kata-kata, yang pada saat hendak keluar, tembakau sugi itu dimuntahkan dan keluarlah kata-kata yang membawakan kidung dan seterusnya berdialog, sedangkan gedrak-gedruk berarti kakinya menghentak pada saat menari di pentas.

Menurut Markaban Wibisono dan Kancil Sutrisno (2 tokoh ludruk RRI Surabaya)
Sehubungan dengan itu, ludruk berasal dari kata-kata gela-gelo dan gedrak-gedruk. Perkataan gela-gelo berarti bergeleng-geleng pada saat menari, dan perkataan gedrak-gedruk berarti menghentakkan kaki pada saat menari di pentas.

Bertolak dari kedua pendapat di atas; maka nama ludruk atau pengertian ludruk adalah gerak dan verbalisasi kata-kata. Gerak terutama tampak pada saat menari di pentas serta gerak-gerak lain yang menunjukkan bahwa ludruk termasuk dalam kategori seni yang menggunakan unsur gerak sedang verba­lisasi kata-kata pada mulanya terutama terlihat pada saat kidung dibawakan oleh seorang atau dua orang pengidung.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mukhsin Ahmadi Widodo HS Mujianto Imam Syafi’ie: Aspek Kesastraan dalam Seni Ludruk
di Jawa Timur; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1987,  hlm.7

Ludruk dan Perkembangan

Menurut tulisan Bambang Andrias dan Dida Tukini (wartawan) dan Goprak Harsono (redaktur) pada majalah Topik No. 18 Thn, XIII, 18 Juli 1984

Era perkembangan bentuk ludruk ini dapat diklasifikasikan atau dibagi atas beberapa bentuk, yaitu bermula dari ludruk “Bandhan” yang sudah lahir abad XII— XV. Ludruk “Bandhan” ini mempertunjukkan sejenis pameran kekuatan dan kekebalan yang lebih bersifat magis dengan menitikberatkan pada pameran kekuatan batin. Sekitar abad XVI—XVII “Lerok” yang dipelopori oleh Pak Santik dari Jombang. Kata ‘lerok’ diperkirakan berasal dari kata ‘lira’ yaitu alat musik yang berbentuk seperti kecapai (cimplung siter) yang dipetik sambil bersenandung mengeluarkan isi hati. Saat itu Pak Santik menghias dirinya dengan cara mencorat-coret muka, memakai ikat kepala, dada telanjang, celana panjang berwarna hitam, serta memakai selendang sebagai “sampur” sebagai iringan musik atau gamelannya Pak Santik memakai mulutnya sendiri. Sampai tahun 1914 ciri khas ikat kepala harus berwarna merah.

Karena perubahan zaman, maka gendang mulai digunakan cimplung (semacam ketipung), dan jidor (tambur besar) mulai dipakai sejak tahun 1915. Sedangkan perbendaharaan kidung mengikuti irama parianyar, besakalan, kalongan, dan jula-juli.

Setelah permainan bertambah menjadi tiga orang timbullah nama ludruk “Besutan” yang diambil dari tokoh utama yang bernama Besut dan pemain lainnya bernama Asmonah (istri Besut) dan Paman Jamino. Pada tahun 1931 ludruk berubah menjadi ludruk sandiwara dengan tokoh yang semakin ber­tambah jumlahnya dengan mempertahankan ciri tarian remo, kidung (nyanyian lirik), dagelan (lawak) dan cerita.

Pada tahun 1937, dengan munculnya tokoh seniman ludruk Surabaya yang bernama Cak Durasim, ludruk mulai menggunakan legenda cerita rakyat dan dalam bentuk drama.

Menurut James L. Peacock (1968: 29 – 32)
Pertunjukan ludruk sebagai seni panggung telah ada sejak abad XIII zaman kerajaan Majapahit (L. Poerbokoesoemo Ludruk dari Segi Sejarah serta Perkembangannva, 1960) dengan sebuatan “ludruk bandan” dan “ludruk lirok”. Sedangkan ludruk sebagai pertunjukan telah tercatat pada tahun 1822 (Th. Pigeaud, Javaanse Volksvertoningen, 1938), yang menampilkan dua orang pelaku laki-laki: seorang pelawak yang membawakan cerita lucu dan seorang penari yang berdandan wanita.

Pada abat ke-20 terdapat suatu bentuk luduk bernama Besut yang ditandai dengan pelawak Besut yang menari, menyanyi (mengidung), dan berjenaka (melawak) dan seorang teledhek (penari) pria berdandan wanita (female impersonator) yang menari dan mengidung. Kira-kira tahun 1920 ludruk Besut mengalami beberapa elaborasi dengan mengubah dua pemain menjadi tiga tokoh pelaku cerita. Di sini Besut mencari istri, Asmunah, yang dimainkan oleh seorang impersonator wanita, dan paman Asmunah bernama Paman Jamino. Ludruk ini sekarang disebut ludruk Besutan. Kemudian pelaku keempat, yaitu Juragan Cekep sebagai pemeran orang kaya dalam kampung yang menjadi lawan Besut. Setelah debut Juragan Cekep ini lakon Besut lalu disebut Besep.

Pada tahun 1930 Cak Gondo Durasim mengorganisasi kelompok ludruk Surabaya dan menjadi suatu tipe ludruk yang baru yang disponsori Dr. Soetomo. Pada tahun 1942 tentara pendudukan Jepang menggunakan ludruk sebagai alat propaganda “Kemakmuran Asia Timur Raya” (Greater East Asia Co-Prosperity Sphere). Pada suatu ketika di bawah pengawasan Jepang, Durasim menampilkan permainannya dengan kidungan “pegupon omahe doro, urip melu Nipon tambah sengsara”, “pegupon: rumah burung merpati, hidup ikut Nipon bertambah sengsara”. Karena kidungan itu ia ditahan Jepang dan akhirnya meninggal pada tahun 1944. Kemudian setiap pertunjukan ludruk merupakan kebulatan dari genre: ngremo (tari kepahlawanan), dagelan ‘lawak’ selingan (sisipan), dan cerita.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mukhsin Ahmadi Widodo HS Mujianto Imam Syafi’ie: Aspek Kesastraan dalam Seni Ludruk di Jawa Timur; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta 1987,  hlm.8

Pakaian Tradisi Adat Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Tradisi Adat Jawa Ponoragan, Kabupaten Ponorogo ,pakaian resmi pria dewasa bangsawan, nama pakaian bagian atas baju wakthung dan baju kuthungan, bagian bawah : Celana gombor maro gares.

Unsur perlengkapan pakaian :

Bagian kepala memakai tutup kepala: Blangkon Ponoragan terbuat dari kain batik, berwarna hitam atau biru, motifnya cemukiran, namanya udeng cemukiran dan lain-lainnya bermotif kembang melati merata di tepi ikat kepala, namanya udeng gadung melati. Ukurannya sesuai dengan kepala si pemakai, sedangkan bentuknya seperti pada umumnya ikat kepala (blang- kon), tetapi di bagian belakang ada mondolannya. Mondolan adalah : Suatu bagian paling bawah daripada ikat kepala tepatnya terletak di atas tengkuk manusia dan berbentuk bulat panjang. Mondolan ini fungsinya untuk menyimpan rambut si pemakai yang panjang dengan cara ditekuk-tekuk. Konon pada jaman dahulu orang laki-laki di Ponorogo umumnya mempunyai rambut panjang. Oleh sebab itu bila mema­kai blangkon, rambutnya yang panjang harus digelung dulu dan setelah digelung diberi sisir penyu sebagai penguat gelung, kemudian di taruh di bagian belakang blangkonnya. Itulah sebabnya blangkon orang Ponorogo sekarang ada mondolannya. Sedang gelungnya disebut: gelung kadal menek, artinya seperti kadal yang merayap ke atas.

Topi Ponorogo ada 2 macam yaitu, Peci Pacal Gowang, yaitu bentuk tutup kepala yang krowak atau ber- lobang di bagian belakang kepala dan dipakai sete­lah memakai ikat kepala (udeng). Oleh sebab itu ikat kepala jenis jingkingan ini tidak memakai tan- duk seperti ikat kepala jenis pancalan.   Peci-Dines Bentuk tutup kepala ini seperti topi kondektur kereta api dan di bagian muka terdapat hiasan ber­bentuk krown (mahkota). Bahannya kain dril yang tebal, berwarna hitam. Fungsi pada jaman dahulu untuk pakaian pengantin laki-laki.

          Bagian atas memakai Baju wakthung, artinya krowak di buthung atau krowak di bagian punggung. Bahannya dahulu dipakai kain laken, tetapi sekarang dipakai kain catarina, yang berwarna hitam, polos, ti­dak bermotif. Ukurannya disesuaikan dengan badan si pemakai. Model baju dibuat tidak memakai krah, pan jang lengannya sampai pergelangan tangan, bagian bela­kang di “krowak” atau terpotong sampai di atas ikat pinggang. Kancing baju ada 5 biji dengan susunan : di atas 2 biji, di tengah 2 biji dan di bawah 1 biji. Pola pa­kaian.

Baju kuthungan ialah baju bagian dalam yang berlengan pen- dek dan memakai gulon atau krah. Bahannya kain mori, berwarna putih kecuali krahnya berwarna merah, tidak bermotif, ukurannya disesuaikan dengan badan si pemakai. Bentuknya seperti hem lengan pendek, panjangnya hanya sampai pinggang. Jumlah kancing 5 buah (lihat gambar). Perhiasan di dada, bagi bangsawan yang berada (mampu), biasanya pada baju wakthung dilengkapi dengan hiasan dada berupa : jam saku lengkap dengan rantai peraknya (Ponorogo : Perde). Selain jam saku dengan rantainya, ada juga yang me­makai hiasan lain berupa gandul krepyak uang emas yang terdiri dari : dinar ringgit, dinar repes, dinar ukon, dinar talen, dinar ece/ketip. Uang-uang emas ini disusun (ditata) menjadi satu deret- an dari yang terkecil sampai dengan yang terbesar dan digantungkan dari saku kanan ke saku kiri atau dari saku kiri ke kancing baju bagian atas. Bagi rakyat biasa yang kurang mampu, hanya memakai gandul kuku macan. Unsur perhiasan di tangan berupa Cincin yang terbuat dari emas, berwarna kuning dengan motif cere gancet. Ukurannya dibuat sesuai menurut ke­mampuan. Bentuk cere gancet seperti anjing kawin atau anak coro yang berhimpitan.

Bagian bawah Celana gombor maro gares, yaitu celana yang panjang­nya hanya setengah lutut atau separuhnya tulang ke- ring, memakai koloran dari benang lawe yang dipilin atau ditampar/dikelabang menjadi tali, dengan bahan la- kan dan warna hitam, tidak bermotif. Ukurannya agak longgar (gombor). Model celana dibuat longgar atau gombor, di bagian atas diberi jahitan untuk tempat ko­loran dari tali lawe. Celana dibuat tanpa memakai un- juk-unjuk. Panjang celana hanya setengah lutut atau te- patnya di bawah dengkul. Pola celana : lihat gambar. Celana gombor ini ada 2 macam yaitu, Celana gombor maro gares dan Celana gombor dingkik’ an, seperti celana gombor maro gares tetapi di samping dengkul ada kancing 3 biji.

Jarit (kain panjang), bahannya kain mori (batik), berwarna hitam dengan latar ireng, motifnya parang barong atau lar-laran, dengan ukuran seperti kain panjang pada umumnya. Bentuknya empat persegi panjang, jumlah wiron tidak ada ketentuan dan ukuran wiron kurang lebih 2,5 cm. Ikat pinggang terdiri dari 2 macam yaitu :

ü   Sabuk ubet, bahan sabuk ubet ini adalah kain hitam, tidak ber­motif, dengan ukuran panjang ± 1 meter dan lebar ± 20 cm berbentuk panjang.

  • Sabuk epek lengkap dengan ketimangnya berbahan kain beludru, sedang untuk ketimangnya dari besi, kuningan, perak atau emas. Warnanya hitam untuk epeknya dan untuk keti­mangnya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Motif hiasan borci atau dibordir dengan benang emas (untuk epeknya), sedangkan untuk ketimang­nya polos. Ukuran panjang ± 1 meter dan lebar- nya ± 20 centimeter. Bentuk seperti ikat pinggang pada umuinnya.
  • Senjata atau gaman untuk melengkapi pakaian adat ini terdiri dari 2 macam yaitu : 1.Pedang wesi aji lengkap dengan anggarannya, yaitu tempat untuk mengaitkan pedang. Bahannya dari besi untuk pedangnya, sedangkan ang­garannya terbuat dari kulit harimau. Warnanya putih untuk pedangnya, sedangkan anggarannya berwarna coklat, bermotif polos. Bentuknya seperti pedang pa­da umumnya, hanya untuk pedang wesi aji ini diberi anggaran dari kulit harimau, biasanya hanya dipakai oleh golongan bangsawan saja. 2. Keris (Ponorogo : Gabelan) Selain pedang wesi aji, para orang tua di Ponorogo juga memakai atau melengkapi dirinya dengan keris, dari besi berwarna putih, motifnya blangkrak, dengan ukuran seperti ukuran keris pada umumnya. Bentuk seperti bentuk keris pada umumnya. Keris ini diletak- kan di belakang, condong ke sebelah kanan. Oleh se­bab itulah maka bajunya wakthung atau pakal kro­wak di punggung. Keris ini dipergunakan andaikata sudah terdesak sekali untuk menyelamatkan dirinya. Bila hanya bahayaa ringan yang menyerang, maka yang dipergunakan terlebih dahulu adalah pedang.

Alas kaki Unsur perlengkapan bagian kaki memakai alas kaki, disebut selop atau eripu, dengan bahan dan kulit, ber­warna hitam polos. Ukurannya tidak ada ketentuan, jadi sesuai dengan kaki pemakai. Bentuknya, bagian de­pan tertutup rapat dan tinggi selop sejajar. Cripu ini khusus dipakai oleh para bangsawan saja, orang biasa tidak berani memakai.

Cara berpakaian, mula-mula memakai celana gombor maro gares warna hitam dengan kolor lawe. Celana tersebut diikat kencang di pinggang dengan kolor lawe dan setelah diikat, kolornya dibiarkan ngle- wer supaya kelihatan. Setelah itu dipakai kain panjang yang su­dah diwiru besar-besar dengan cara dililitkan melingkari badan dari arah kanan ke kiri, dipakai dari batas pinggang sampai di atas mata kaki.

Kemudian memakai ikat pinggang sabuk ubed warna hitam, seperti memakai setagen yaitu dililitkan di ping- gang. Sabuk ubed ini berfungsi sebagai pengikat antara kain pan­jang dengan pinggang si pemakai agar kain panjang tidak mudah lepas. Setelah itu dipakai ikat pinggang sabuk epek lengkap de­ngan timangnya, agar kain lebih kuat lagi. Lalu dipakai senjata, pedang wesi aji lengkap dengan anggarannya. Pedang ini diletakkan di belakang. Kemudian dipakai ikat kepala blangkon Ponoragan lengkap dengan hiasan mondolannya. Ada pun cara me­makai ikat kepala ini bagi golongan bangsawan disebut “jingking- an” yaitu ikat kepala yang tidak memakai semacam tanduk se­perti halnya ikat kepala jenis pancalan. Setelah itu dipakai peci pacul gowang dan talinya dikaitkan atau diikatkan dengan mon­dolannya agar tidak jatuh, baru dipakai baju kuthungan warna putih. Kelima kancingnya dikancingkan semua. Kemudian dipa­kai baju wakthung, kelima buah kancing dikancingkan semua (tertutup rapat). Setelah itu dipakai alas kaki selop atau cripu. Kemudian memakai keris motif blangkrak. Keris ini diletakkan di belakang, condong ke sebelah kanan dan diselipkan di dalam ikat pinggangnya. Kalau dipakai perhiasan di dada berupa gandul krepyak uang emas atau gandul kuku macan dan perhiasan di tangan berupa cincin.

Fungsi pakaian, ialah untuk bepergian, misalnya melawat ke daerah-daerah lain atau bilamenemui tamu-tamu da­ri luar daerah dan menyambut tamu agung. Selain itu juga dipakai untuk menghadiri acara resmi dalam pesta perkawinan.

  1. Arti simbolis. untuk warna hitam pada baju wakthung dan celana gombor maro gares ialah; Warna hitam dipandang dari segi religius adalah melambangkan ketenteraman dan kelanggengan (abadi). Bahwa orang Ponorogo dahulu mengingin- kan hidupnya tenteram. Bagi masyarakat Ponoro­go, warna hitam merupakan warna yang bersifat langgeng. Oleh sebab itu warna hitam pada baju dan celananya sudah tidak bisa diubah lagi dengan warna yang lain.Warna hitam dipandang dari segi historisnya ialah karena kena pengaruh kebudayaan Solo yang menyenangi warna hitam. Selain itu juga karena daerah Ponorogo merupakan daerah atau tempat pembuangan dari Majapahit (daerah wetan Nglawu) yang pada waktu itu merupakan tempat kegelapan.
  2. Arti simbolis jumlah kancing 5 biji pada bajunya ialah melambangkan bahwa kekuatan manusia itu terletak pada lima jari.
  3. Arti simbolis warna merah’pada krah baju kuthungan atau baju dalamnya ialah bahwa warna merah bagi orang Ponogoro melambangkan keberanian dan juga ka­rena ada pengaruh politik, sehingga sampai sekarang warna tersebut masih tetap dipakai.
  4. Arti simbolis daripada kolor pada celana gombor maro gares ialah karena pada kolor ini ada unsur magisnya dan bagi orang Ponorogo, kolor merupakan senjata ampuh. Menurut sumber keterangan dari salah seorang informan, bahwa yang sungguh-sungguh ampuh itu justru terletak pada kantongannya karena di dalamnya diisi dengan jimat-jimat berupak menyan, rajah atau macam-macam kepercayaan orang. Selain itu agar dapat betul-betul ampuh bila difetakkan di tempat yang keramat (Jawa : disotrekkan), artinya dikeramatkan. Kolor yang ada isinya ini justru diikatkan di luar jarik (kain panjangnya), jadi bukan di dalam celananya.
  5. Arti simbolis motif lar-laran pada kain panjangnya ialah karena motif ini adalah suatu gambaran yang membedakan antara bangsawan dan rakyat biasa atau sebagai simbol status sosial. Jadi yang boleh memakai motif ini hanyalah kaum bangsawan. Demikian juga halnya de­ngan pemakaian selopnya. Selop ini hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan saja, karena dari selop tersebut dapat menunjukkan tentang status seseorang yaitu bang- sawan. Dalam hal ini rakyat biasa juga tidak boleh me­makainya.
  6. Arti simbolis pemakaian anggaran (bagian dari senjata) yang memakai bahan dari kulit harimau ialah bahwa orang yang memakai anggaran pada senjatanya dikata- kan seperti raja. Maksudnya bila seseorang memakai pakaian adat lengkap dengan senjata dan anggarannya, maka berarti orang tersebut sudah mengenakan pakaian kebesaran sepertilayaknya seorang raja Seseorang yang mengenakan pakaian ini mempunyai maksud agar dihor- mati dan disegani orang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm.127-134

Pakaian Tradisi Adat Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Sehari-hari anak laki – laki  Rakyat biasa, nama pakaian bagian atas Baju Pesa’an, bagian bawah Celana gomboran (dahulu), serta unsur perlengkapan berpakaian  diantaranya:

Bagian kepala kopyah hitam atau tanpa peci, bahan sejenis beludru, motif polos, warna hitam, ukuran di sesuaikan dengan kepala si pemakai, bentuk seperti peci.

Bagian atas : Baju Pesa’an Bahan : kain cina (dahulu) kain katun (sekarang) Motif : polos Warna : segala warna Ukuran : serba longgar tidak pas badan. Bentuk : baju ini berlengan panjang yang longgar cenderung komprang. Bentuk leher bulat tanpa ke- raaig. Saku pada baju 3 buah, yaitu 1 buah di kanan atas dan di kanan-kiri bawah masing-masing 1 buah. Pada samping kiri-kanan baju terdapat belahan. Baju ini tidak memakai kancing, walaupun di bagian kanan atas baju terdapat lubang kancing. Lubang kancing di sini fungsinya hanya sebagai hiasan saja, ciri khas dari baju pesa’an ini terletak pada klimannya se- lebar ± 15 cm. Bagian bawah Celana gomboran Bahan kain katun Motif  polos Warna bebas, Ukuran serba longgar tidak pas badan. Panjang cela­na sampai mata kaki, bentuk : seperti pada umumnya celana panjang, tetapi tidak memakai kolor. Adapun ciri khas dari ben- tuknya, ialah jika dibentangkan lurus seperti sarung. Celana ini mempunyai keliman selebar ± 15 cm.

Sarong Plekat bahan katun, motif  kotak-kotak besar maupun kecil, warna warna-warni, bentuk seperti pada umumnya sarung yang lain.

Alas kaki terompah Bahan kulit sapi motif polos, bentuk seperti sandal  dengan tali lebar.

Cara memakai pakaian. dimulai  memakai celana gomboran dengan cara ke kaki di masukkan dalam pipa celana. Celana tersebut bagian pinggangnya digulung seperti pada umumnya kalau memakai sarung. Setelah itu mengenakan baju pesa’an. Sebagai perlengkapan biasanya memakai sarung yang diselempang miring dari pundak ke badan- nya. Perlengkapan yang terakhir dipakai adalah kopyah (peci) yang dikenakan di kepala dan terompah sebagai alas kaki.

 Fungsi pakaian bagi kalangan anak rakyat biasa mempunyai fungsi ganda. Pakaian ini dapat dipergunakan untuk bermain atau untuk menunaikan ibadah, yaitu sholat (sembahyang) di mesjid. Pada zaman dahulu sebelum ada sekolah formal ke- biasaan anak Madura baik pagi-siang dan sore mengaji di su- rau, maka jika saat mengaji atau sholat di masjid tiba sarung yang diselempangkan tersebut dipakai selayaknya sebagai sarung. Jadi dalam hal ini sarungpun mempunyai fungsi gan­da, yaitu untuk bermain atau keperluan lain sehari-hari dan untuk sholat. Bila waktunya tiba mereka langsung ke surau tanpa pulang lebih dahulu dengan tidak mengotori/mena- jiskan sarung karena tidak di pakai langsung (fungsi praktis). Sampai saat ini kebiasaan mengaji di surau masih dilaksana- kan di desa maupun di kota di Madura, hanya saja sekarang baju pesa’annya diganti dengan kemeja lengan pendek dan ce­lana pendek biasa. Adapun fungsi sarung sampai sekarang ma- sih tetap seperti dulu. Mengenai warna baju saat ini cende- rung berwarna bebas.

Arti simbolis dari warna baju, warna yang beraneka ragam mencerminkan suatu kecerian, kegembiraan sebagaimana yang dialami pada masa kanak-kanak.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 73-75

Pakaian Adat Tradisi Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Resmi Bangsawan Wanita Dewasa , nama Pakaian bagian atas klambi kebaya panjang  bagian bawah Jarit (kain panjang). Sedangkan sebagai unsur perlengkapan pakaianadalah sebagai berikut:

 Bagian kepala :

Wajah Rias wajah dengan menggunakan.

(a)  Wedak gadhung dan wedak teles atau wadak dari bahan beras. Cara membuat wedak gadhung adalah sebagai berikut • Beras direndam dalam air selama kurang lebih 5 atau 7 hari. Tiap hari airnya harus diganti. Setelah itu ditumbuk atau diremas dan di- diamkan untuk beberaoa waktu. Setelah lembut di saring dan sisa/ampas dari beras yang halus itu di­beri ramuan wangi-wangian dari bunga kenanga, kantil dan daun pandan. Kemudian dibentuk bulat- bulat dan dijemur sampai kering. Setelah itu dipo- leskan ke seluruh wajah. Adapun fungsinya agar muka tampak cantik dan segar.

(b)  Celak yaitu hiasan berupa garis di atas dan di ba­wah kelopak mata. Bahannya langes (bahasa Jawa) yaitu, asap api yang mengeras. Warnanya biasanya hitam.

(c)  Nginang (makan sirih), salah satu kebiasaan orang-orang tua di Ponorogo adalah nginang yaitu : mengunyah sirih dengan segala bumbu-bumbunya antara lain : enjet (kapur- sirih), gambir dari isi buah pinang. Sirih ini diku- nyah sampai lembut/halus, setelah itu dibuang dan di bersihkan dengan tembakau yang telah dibentuk bulat. Fungsi daripada makan sirih (nginang) ini adalah untuk menguatkan gigi dan memerahkan bibir.

Rambut

Memakai sanggul gelung konde, di atas sanggul dipakai hiasan bunga melati. Hiasan lain berupa 2 buah tusuk (cucuk) konde. Bahannya emas bermata intan, perak atau baga. Ben­tuknya Sendokan (seperti sendok) dan manggaran (se­perti bunga kelapa).

Telinga

Hiasan di telinga ialah suweng gem bung dengan temung- gul atau intan yang besar di tengah-tengah, serta di ling- kari oleh 8 intan yang kecil-kecil. Di belakang temung- gul ada semacam sekrup dari tembaga sebagai (alat un­tuk mengunci antara suweng dengan telinga agar tidak mudah lepas. Suweng yaitu subang bahannya terbuat dari emas dengan banyak permata, biasanya permata intan atau berlian. Dasar suweng berwarna hitam terbuat dari bahan beludru.

Orang perempuan yang memakai subang sejenis ini, lobang telinganya harus besar (± diameter 1 centime­ter). Jadi bagian dari subang yang akan dimasukkan ke dalam lobang telinga ini bentuknya cukup besar, tidak seperti subang biasanya. Adapun cara untuk memperbesar lobang telinga ini ialah dengan diberi merang atau batang padi. Jika menginginkan lobang tersebut ditambah, maka setiap hari jumlah merangnya harus ditambah pula. Lobang itu semakin hari semakin besar, sam­pai akhirnya cukup untuk diberi subang gembung.

Bagian atas :

Leher

Hiasan di leher berupa kalung rantai terbuat dari emas untuk pelengkapnya dipakai liontin ada beberapa ben­tuk liontin, yitu:

  • Bentuk keris dengan mata beijumlah 9 buah.
  • Bentuk bulan dengan mata beijumlah 6 buah. Ba­han dari emas dan matanya dari intan.

ü   Bentuk kuku macan, bagi mereka yang kurang mampu. Bahannya berupa kuku macan asli dengan warnanya putih kekuningan.

Kebaya panjang dengan memakai Kutubaru. Bahannya kain beludru, berwarna hitam polos. Bentuk­nya seperti pada umumnya kebaya Jawa, ukuran pan­jang kebaya sampai di bawah pinggul atau di bawah pan- tat/menutupi pantat.

Hiasan pada baju kebaya berupa peniti rantai, yang ter­buat dari emas. Bahan emas, motifnya bentuk huruf S atau motif kembang atau motif tebu sekeret.

Bagian dada, dipakai kutang sebagai sarana penutup buah dada supaya bentuknya bagus.

  • Kemben, yaitu sepotong kain penutup dada dan dipa­kai setelah memakai setagen, dari kain batik, bermotif jemputan atau lompong keli, yang berwarna-warni. Ukuran panjang ± 2 meter, lebar ± 40 centimeter.
  • Selendang ciut, yaitu sepotong kain kecil sebagai pelengkap kalau me­makai kain kebaya, bahannya kain batik. Motifnya truntum (satu stel dengan kain panjangnya), dengan warna hitam, ukuran panjang ± 2 meter dan lebar ± 40 cm. Bentuk seperti selendang pada umumnya, yaitu persegi-empat panjang.

Bagian tangan, hiasan di tangan berupa gelang penuh permata yang ber- nama gelang tretes terbuat dari emas. Bentuknya ulan-ulan yaitu menyerupai lilitan ular, atau bentuk untir-untir yang menyerupai spiral (pir).

Bagian bawah :

Kain panjang atau jarit yaitu sehelai .bahan berbentuk empat persegi panjang, berukuran 2% x 1 meter, ter­buat dari batik yaitu kain mori yang dilukisatau digambar, dengan motif bledak atau truntum dengan hiasan lar-laran. Ukuran seperti kain panjang pada umurnya yaitu panjang 2 meter dari lebarnya ± 1 meter. Bentuk empat persegi panjang dengan jumlah wiron antara 20 dan 22.

Setagen

Setagen yaitu sepotong kain yang panjang dan sempit terbuat dari kain tenun yang kuat dipergunakan untuk mengikat antara kain panjang dengan badan (pinggang). Bahannya kain tenun, dengan warna hitam. Ukuran pan­jang ± 5 meter, lebar ± 15 cm.

Alas kaki

Namanya selop beludru atau sandal yang bersulam hias­an mote (manik-manik). Bahannya kulit, berwarna hi­tam dan dihias manik-manik yang berwarna-warni. Fungsinya sebagai pelindung dan penghias kaki. Bentuk selop, tertutup bagian depannya dan tidak terlalu ting- gi, sedangkan sandalnya kadang-kadang terbuka bagian depannya.

Cara berpakaian

Mula-mula dipakai jarit (kain panjang) yang sudah diwiron de­ngan cara dililitkan di badan sampai ke mata kaki. Setelah itu di­pakai setagen yang dililitkan di pinggang agak kencang agar kain tidak mudah terlepas. Kemudian dipakai kemben, yaitu sepo­tong kain batik yang berfungsi sebagai penutup bagian dada sam­pai ke pinggang. Setelah itu dikenakan kebaya panjang, lalu dipa­kai selop dan terakhir selendang.

Fungsi

Fungsi pakaian adat ini ialah untuk pakaian bepergian, misal­nya menghadiri pesta perkawinan atau menyambut tamu agung. Sedangkan fungsi hiasan adalah untuk suatu kebang- gaan atau perlambang suatu kekayaan.

Arti simbolis:

  • Arti simbolis kuku macan sebagai leontin/bandul ka­lung : kecuali untuk perhiasan, pada kuku macan terse- but ada yoni yaitu unsur kekuatan gaib yang fungsinya menjaga keselamatan si pemakai.
  • Arti simbolis warna dasar hitam yang dipakai untuk ke- baya/busana wanita-wanita bangsawan di Ponorogo umumnya melambangkan : kelanggengan dan keabadian atau kewibawaan si pemakai.
  •  Arti simbolis motif truntum pada kain panjang yaitu suatu penghargaan yang diberikan pada mempelai ber- dua, jika kain ini dipakai pada saat menghadiri upacara perkawinan. Selain itu juga memberikan arti suatu kebahagiaan dan keselamatan bagi seluruh tamu yang di- sambut. Sedangkan motif  lar-urip (sayap) adalah suatu gambaran yang membedakan antara bangsawan dan rak­yat biasa (suatu simbol status sosial). Jadi motif  lar- urip ini tidak boleh dipakai oleh rakyat biasa dan yang boleh mempergunakan hanyalah kaum bangsawan saja. Demikian juga halnya dengan selop (sandal). Selop ini hanya boleh dipakai oleh kaum bangsawan, karena selop itu menunjukkan tentang status seseorang yaitu bangsa­wan. Rakyat biasa tidak boleh memakainya.
  • Arti simbolis bunga melati pada sanggul yang dipakai adalah suatu perlambang keharuman, keagungan, kesu- cian dan suatu kharisma seorang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 123-127

Pakaian Adat Tradisi Jawa, Kabupaten Ponorogo

Pakaian Resmi Wanita Remaja Bangsawan, nama Pakaian bagian atas klambi kebaya panjang, bagian bawah Jarit (kain panjang). Unsur Perlengkapan Pakaian pada  bagian kepala:

Wajah memakai wedak teles, Rias wajah memakai wedak gadung atau wedak te­les atau wedak yang dibuat dari bahan beras. Ada- pun cara membuat wedak gadung adalah sebagai berikut : Beras direndam dalam air selama 5—7 hari. Tiap hari airnya diganti. Setelah beras diren­dam kemudian ditumbuk (diremat) dan disaring. Setelah lembut, didiamkan untuk beberapa waktu. Sisa atau ampas dari beras yang halus tersebut diberi ramuan wangi-wangian dari bunga kenanga, kantil dan daun pandan. Kemudian dibentuk bu- lat-bulat dan dijemur sampai kering. Cara pema- kaian wedak aden ini ialah dicampur dengan air, lalu dipoleskan ke seluruh wajah. Fungsi wedak adem ialah agar muka tampak cantik berseri-seri.

Celak yaitu hiasan berupa garis di atas dan di ba­wah kelopak mata, bahannya ialah langes (bahasa : Jawa) yaitu asap api yang mengeras. Biasanya api dari lampu teplok yang nyalanya besar biasa mengeluarkan asap ba- nyak dan lama-lama menebal serta mengeras. Jela- ga yang telah mengeras itu berwarna hitam. Inilah yang dijadikan celak.

Rambut, untuk remaja putri biasanya dipakai sanggul berupa gelung konde dengan hiasan di atasnya 2 buah cucuk (tu­suk) konde, bahannya emas, perak atau tembaga, dan bentuknya menyerupai sendok dan manggaran menyerupai manggar (bunga kelapa).  Hiasan telinga memakai gondel (anting-anting), terbuat dari emas, berwarna kuning po­los. beratnya tidak ada ketentuan, biasanya disesuai­kan dengan kemampuan.  Bentuknya seperti bentuk setengah lingkaran.

Bagian atas,  Hiasan di leher berupa kalung rantai (menyerupai se­perti rantai). Bila dari kalangan orang berada atau mampu, maka diberi gandul atau leontin dinar (uane Arab). Bahannya emas, dengan warna kekuning-kuningan de­ngan bentuk seperti rantai dan liontinnya bulat seperti uang logam. Klambi kebaya panjang tanpa Kuthubaru. Bahan pakaian ini ialah beludru berwarna hitam. Bentuknya seperti umumnya kebaya Jawa, dibuat tan­pa memakai kuthubaru, tetapi menggunakan benik atau kancing dinar sebanyak tiga atau lima buah. Ukurannya panjang kebaya sampai di bawah pineeul. Pola badan dan lengan dibuat mengepas di badan agar terlihat jelas bentuk badannya. Itulah tujuannya kebaya remaja putri dibuat tanpa kuthu baru. Kutang sarana penutup buah dada supaya bentuknya bagus dan menarik, bahannya kain mori atau kain belacu yang agak halus biasanya warnanya pada umumnya putih atau hitam, dan bentuknya seperti bentuk kutang pada umumnya. Ukurannya sesuai dengan besar kecilnva dada si pemakai dan biasanya dibuat agak pas agar kelihatan badannya singset dan kencang.

Kemben bahannya kain batik berwarna merah, de­ngan motif cinde atau pelangi. Ukurannya panjang 2,5   meter dan lebar ± 40 centimeter. Fungsinya untuk penutup bagian dada dan sekalian juga untuk penutup stagen. Selendang Cinde bahan selendang ini ialah kain batik dengan warna bermacam-macam. Motifnya ialah udan liris, sinatrio manah atau sido mukti (biasanya satu stel dengan kain panjangnya). Ukuran panjang 2,5 meter dan lebar lebih kurane 40 centimeter.

Fungsi sebagai pelengkap kain kebaya. Hiasan di tangan berupa Gelang rantai atau gelang penuh permata yang bernama gelang tretes. Bahannya emas dan permatanya dari intan. Ben­tuknya seperti rantai biasa dan bentuk ulan-ulan yaitu menyerupai lilitan ular. Cincin dibuat dari emas bermata merah dan putih. Bentuknya cere gancet yaitu bentuk anak coro yang se­dang berdempetan tumpeng tindih. Menpenai beratnya tidak ada ketentuan, disesuaikan denean kemampuan.

Bagian bawah : Jarit (kain paiyang) terbuat dari mori, dengan warna latar pu­tih. Motifnya bahan liris atau sinatrio manah, dengan ukuran seperti kain panjang pada umumnya yaitu, pan­jang 2,5  meter dan lebar satu meter. Bentuk kain empat persegi panjang dengan jumlah wiron panjil, antara sebelas sampai dengan sembilan belas. Setagen dibuat dari kain tenun kentel, berwarna hitam ukuran panjang ± 5 meter dan lebar ± 15 centimeter, stagen berfungsi untuk pengikat kain panjang denpan pinggang agar kain tidak lepas atau melorot dari pinggang. Alas kaki selop atau sandal, Selop dibuat dari bahan beludru, sedangkan sandal di­buat dari bahan kulit. Warnanya biasanya hitam. Model selop, bagian depannya tertutun dengan hak tidak terla- lu tinggi sedang sandal, model srempang (seperti sandal jepit).

Cara berpakaian, Mula-mula dipakai kain panjang yang sebelumnya sudah diwiron dengan jumlah ganjil. Kain dipakai dengan cara dililitkan meling- kari badan dari arah kiri ke kanan, yang panjangnya dari batas ninggang sampai batas mata kaki. Setelah itu, dipakai setagen sebagai pengikat kain panjang di ba­dan (pinggang) agar kain panjang terse but dengan erat dan baik, sehingga tidak mudah lepas. Ada pun memakainya juga dengan cara dililitkan di pinggang dan waktu melilitkannya, setagen ter- sebut agak ditarik supaya ketat dan sinpset. Kemudian, dipakai kemben dengan cara dililitkan pula dari batas dada sampai ke pinggang. Ada pun memakai kemben adalah se­bagai penutup dada, sekaligus untuk menutupi setagen agar tam- nak lebih rapi. Setelah yang baru dipakai klambi kebaya panjang kemudian benik atau kancing dinarnya dikancingkan semua. Kemudian, dipakai selop atau sandal, dan selendang cinde.

Fungsi pakaian untuk menutup bagian tubuh dan alat ke- indahan dalam menghadiri acara-acara resmi pada pesta per- kawinan serta acara resmi dalam menyambut tamu-tamu. Arti simbolis : Kebaya remaja putri ini yang tidak memakai kuthubaru mempunyai makna bahwa remaja putri itu belum pernah mempunyai putra. Hal ini dilambanpkan denpan bentuk badannya yang masih kencang (singset) teruta- ma pada bagian buah dada, sehingga tidak perlu lapi kuthu baru pada kebayanya.  Warna merah dan nutih pada cincin cere gancet, melambangkan bahwa asal manusia adalah dari Bopo dan Biyung (Bapak dan Ibu).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 119-122

Pakaian Adat Tradisi Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian Resmi Wanita Remaja Rakyat Biasa, nama pakaian, bagian atas kebaya rancongan, bagian bawah : Sarung tenun atau sarung batik. Unsur Perlengkapan Pakaian: Bagian kepala Pada Wajah memakai jimpit di bagian kening kanan, kiri atau di dahi, tempat yang dijimpit disebut leng-pelenpan, bahan dibuat dengan cubitan tangan (dahulu). Sedang saat ini memakai alat kosmetik (lipstik). warna merah. Ukuran : ± 2 cm., bentuk berupa garis kecil membujur.

Hiasan mata celak, bahan dari cairan atau bubuk seperti pasir halus yang didapatkan dari tanah Mekkah Arab, warna hitam pekat atau hitam keabu-abuan, ukuran sepanjang kelopak mata bagian bawah, bentuk berupa garis kecil memanjang mengikuti lengkung kelopak mata bagian bawah.

Rambut disisir ke belakang, kemudian digelung sendhal, gelung Madura ini pada umumnya agak tinggi letaknya, bahan rambut asli (membuat sendiri) tanpa cemara,  bentuk agak bulat penuh (padat) dengan kuncir atau ekor yang merupakan sisa rambut dan terletak tepat di tengah-tengah sanggul.

Harnal Bahan emas bermata selong warna kuning emas Ukuran ± panjang 12 centimeter. Bentuk seperti harnal pada umumnya tetapi agak besar. Hiasan Rambut Terdiri :

Cucuk Bahan dari emas, motif mata uang talenan, warna kuning emas, ukuran bergaris tengah 2 centimeter, bentuk seperti sebuah busung yang terdiri dari untaian mata uang emas (sekeping atau dua keping), tetapi adakalanya terdiri dari uang talenan atau ukonan. Jumlah untaian mata uang ini tergantung kemampuan si pemakai bagi yang mampu uang ini berjumlah sampai 10 buah atau lebih. Te­tapi bagi masyarakat yang tidak mampu jumlahnya hanya 3 atau 5 buah.

Cucuk Dinar, bahan emas, warna kuning emas, ukuran bergaris tengah 3 centimeter, motif  mata uang (dollar) Amerika, bentuk  seperti sebuah busur yang terdiri dari beberapa kepingan dollar Amerika.  Tapi adakala­nya hanya terdiri dari sebuah dollar saja. Karena ke 2 cucuk (cucuk sisir maupun cucuk di­nar) tersebut terbuat dari emas dan harganya mahal, maka demi keamanannya cucuk tersebut diberi tali dari benang atau kain untuk diikatkan di pangkal sanggul agar tidak mudah lepas.

Bangun tuluk bahan bunga alami, misalnya kembang melati atau tanjung, warna putih, Ukuran : panjang ± 10 centimeter, bentuk diuntai (dironce) menyerupai bentuk busur.

Tutup kepala memakai leng-oleng yang diletakkan di atas kepala, bahan handuk besar atau kain yang tebal. Hiasan telinga Anteng cap-cap bahan emas , motif  polos warna kuning emas, ukuran, bentuk bulat kecil berantai.

Hiasan leher  kalung  bahan emas, motif  Pale obi, mon-temonan atau Brondong. warna kuning emas, ukuran berat kalung ini tergantung dari kemampuan ekonomi si pemakai. Kadang-kadang beratnya  sampai 1 ons atau lebih. Tapi bagi masyara- kat biasa beratnya hanya ± 5 s/d 10 gram. Panjang ± 30 s/d 40 centimeter atau tergantung selera si pemakai, bentuk corak pale obi bentuknya menyerupai batang ubi melintir. Sedang corak mentemonan bentuknya seperti biji buah mentimun yang disambung satu persatu (diuntai) memanjang sampai ukurannya sesuai dengan ukuran lingkar leher. Motif Brondong adalah suatu motif yang menyeru­pai biji jagung yang disambung satu persatu (direnteng) sampai ukurannya seperti kalung. Bentuk ka­lung brondong ini sampai sekarang masih banyak dipakai oleh wanita Madura. Dan motif ini adalah motif  khas kalung Madura.

Kalung tersebut biasanya dikenakan bersama liontin atau bandul, bahan emas warna kuning emas, ukuran tergantung dari bentuk dan kemampu an ekonomi dari si pemakai. Akan tetapi berat bandul ini pada umumnya ± 5 s/d 15 gr, bentuk liontin pada jaman dahulu pada umumnya berbentuk mata uang dollar Amerika (dinar). Untuk saat ini wanita Madura juga banyak mempergunakan liontin yang berbentuk mirip bunga matahari dengan bulatan menonjol di tengah serta kelopak kecil-kecil di pinggirnya.

 Bagian Atas

Kebaya rancongan, bahan dahulu pada umumnya memakai bahan tenun. Saat sekarang memakai bahan elastis, misalnya kain brokat. Motif kain tenun motif polos. Kalau kain brokat berbunga-bunga besar atau kecil dan tembus pandang. Warna kalau dahulu berwarna hitam atau biru. Seka­rang pada umumnya memakai warna-wama menyolok, misalnya merah muda, merah tua, hijau pupus atau ku­ning. Adakalanya warna-warna yang dipakai untuk saat ini  kombinasikan dengan benang-benang emas atau perak yang mengkilap. Bentuk seperti kebaya pada umumnya tetapi tanpa memakai kutu baru. Di bagian pinggang ada 6 buah kupnat, 3 di pinggang kanan dan 3 di pinggang kiri. Keba­ya rancongan ini ciri khasnya pada kelimannya yang lebar ± 15 centimeter.

Kutang bahan katun, motif polos, warna biasanya menyolok kontras dengan kebayanya, misalnya  merah, hijau daun pupus atau biru benhur. Ukuran sesuai badan (ketat). Panjang kutang ada yang pendek ada pula yang panjang sampai ke perut. Bentuk seperti kutang pada umumnya, tetapi bukannya terdapat di depan. Penutupnya bisa kancing, bisa pula tali ikatan. Pada bagian kiri bawah ada 1 buah saku tempat menyimpan uang.

Perhiasan kebaya Peniti Dinar ranteng bahan emas, motif nolos warna kekuning-kuningan, ukuran sesuai dengan kemampuan ekonomi si pemakai. Hiasan tangan gelang dipakai ditangan kanan dan kiri masing-masing 1 buah. Bahan emas memakai mata selong, motif tebu saeros, warna kekuning-kuningan, ukuran tergantung pada lingkar tangan si pemakai. Bentuk seperti keratan tebu. Hiasan jari Cincin 1 buah di tangan kanan atau kiri, bahan emas, motif tebu saeres, warna kekuning-kuningan, ukuran tergantung pada lingkar jari si pemakai, bentuk seperti keratan tebu.

Bagian bawah

Odhet bahan kain motif tenunan polos warna merah, kuning atau hitam ukuran 1,5 meter. Bentuk Lebar 15 centimeter. Panjang lebih kurang seperti zetagen Jawa pada umumnya. Sarung bahan batik Madura memakai tumpal, para gadis pada umumnya senang menggunakan motif batik Storjoan yang berwarna merah agak coklat atau dengan kombinasi bunga hijau dan biru, Ukuran seperti pada umumnya sarung yang dipakai oleh kebanyakan orang. Bentuk : seperti kain panjang hanya tanpa wiru.

Hiasan kaki memakai penggel dipakai pada pergelangan ke dua kaki masing- masing satu buah, bahan perak atau emas, motif polos atau berukir ujungnya dengan gambar kepala ular atau lain-lainnya, warna jika terbuat dari perak berwarna putih dan bila terbuat dari emas berwarna kekuning-kuningan. Ukuran lingkar pergelangan disesuaikan dengan kaki si pemakai, dan beratnya disesuaikan dengan kemam- puan ekonomi pemakainya jika terbuat dari perak ada yang beratnya sampai 3 kg sebuah, dan yang terbuat dari emas tentunya tidak seberat itu.Alas kaki Sandal japit bahan kulit (dahulu), plastik (sekarang). Warna menyolok. Ukuran tergantung kaki si pemakai. Bentuk : seperti sandal japit pada umumnya.

 Cara memakai pakaian.

Mula-mula mengenakan kain tanpa wiru, caranya dengan melilit- kan ke pinggang dari kiri ke kanan. Memakai kainnya agak tinggi (nyingsing) sehingga betisnya kelihatan. Setelah itu mengenakan odhet dililitkan maka salah satu ujungnya yang sengaja dipanjang- kan sebagai tempat penyimpan uang atau benda berharga lainnya diikat simpul. Kemudian bagian atas kain yang masih bersisa dite- kuk ke luar untuk menutupi odhet, sehingga simpul adhet tidak kelihatan. Baru setelah itu mengenakan kotang dan terakhir me­makai kebaya. Sebagai penutup kepala memakai leng-oleng de­ngan cara dililitkan di atas kepala. Adapun cara memakai penggel, penggel dimasukkan ke pergelangan kaki (seperti gelang kaki). Langkah kaki pemakainya tentu saja agak dipaksa-paksa karena berat penggal yang dibawa ke dua kakinya.

Fungsi pakaian dipakai ke remo’ (acara resmi), misalnya menghadiri pesta rakyat dan upacara adat. Arti simbolis : Warna yang dipakai adalah warna-warna yang menyolok jika merah maka merahnya adalah merah darah. Jika hitam, hitamnya harus legam, demikian juga warna-warna yang lain. Orang Madura tidak mengenal warna-warna lembut dan ragu-ragu. Kesungguhan akan pemilihan warna yang me­nyolok menunjukkan karakter orang Madura, yaitu ti­dak pernah ragu-ragu dalam bertindak, bersifat pembrani. Semua warna dianggap suci bagi orang Madura. Selain itu Madura adalah daerah pantai yang seluruh kehidupannya berkaitan dengan unsur-unsur pantai, seperti misalnya : air dan matahari.

Bentuk ngepres (pas) badan untuk menunjukkan kein- dahan lekuk tubuh sipemakai. Hal ini berkaitan erat de­ngan jamu-jamu yang biasa diminum oleh wanita Madu­ra, pantangan beberapa makanan bagi wanita Madura serta pemakaian penggel yang semuanya bertujuan un­tuk membuat badan wanita Madura tersebut tampak indah.

(1)        Fungsi Hiasan : Jimpit Semula adalah sebagai cara pengobatan tradisional (se- macam kerokan kalau di Jawa). Tetapi kini merupakan hiasan kalau pergi ke pesta. Celak mata Untuk memperindah/memberi aksen pada bentuk mata agar kelihatan bulat dan besar. Harnal selain sebagai penguat gelung anita desa menggunakan harnal sebagai senjata jika sewaktu-waktu di serang oleh musuhnya. Khususnya untuk orang Madura baik laki- laki. Maupun perempuan tidak akan gentar jika berkela- hi untuk mempertahankan harga dirinya. Ujung harnal yang runcing seperti garpu adalah termasuk senjata yang paling praktis karena dapat diselipkan di rambut.

Leng-oleng, Untuk memperindah seluruh penampilan dan sebagai alas kalau membawa barang di atas kepala.

Penggel selain untuk menyimpan kekayaan, juga sebagai suatu alat memadatkan otot-otot paha dan pembentuk pantat yang padat.

Arti Simbolis  jimpit selain untuk keindahan, jimpit ini di pergunakan untuk daya tarik kepada lawan jenisnya. Celak mata keagamaan. Karena bahannya dibawa dari Mekkah, maka dianggap si pemakainya akan menuruti ajaran Nabi Muhaijimad s.a.w. Selain itu memakai celak berarti menghindari segala penyakit terutama mata. Anteng Cap-cap Menandakan bahwa pemakainya boleh dipinang. Penggel Lambang kebanggaan seorang wanita karena wanita desa di Madura akan amat bangga bila si suami atau ayahnya dapat memberi hadiah penggel kepadanya. Perhiasan keseluruhan

Bagi wanita Madura dari kalangan rakyat biasa perhiasan yang dipakai merupakan suatu kebanggaan di samping sebagai hiasan keindahan. Perhiasan tersebut merupakan kebanggaan akan hasil payahnya dalam bekerja keras, diperlihatkan melalui apa yang dipakai secara keseluruh­an, baik dari pakaian sampai perlengkapannya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm. 75-86

Pakaian Adat Tradisional Madura, Kabupaten Bangkalan

Pakaian adat upacara  untuk wanita masa dewasa rakyat biasa. Memakai pakaian yang dibedakan menurut letaknya, bagian atas Kebaya Rancongan, bagian bawah samper/sarong batik.

Sedangkan unsur perlengkapan pakaian

Bagian kepala

  • Rambut sebagai mahkota diatur dalam bentuk gellung sendhal, terutama yang berambut panjang. Bentuknya seperti gelung sehari-hari. Rambut disisir ke belakang, digelung dan diberi roncean bunga melati melingkari eellung.
  • Tusuk konde Cucuk harnal, terbuat dari emas atau selaka, berwarna kuning emas atau putih perak ukurannya kecil bergaris tengah ± 1 cm, dengan bentuk seperti harnal pada umumnya tetapi agak kecil.
  • Rias wajah dititik beratkan pada mata, bahannya dari tanah suci Mekkah, berwarna hitam. Bentuknya merupa­kan garis hitam di bawah mata. 

Bagian atas

Kebaya rancongan, bahannya brokat atau katun, dengan memakai model berbunga, atau polos. Adapun warnanya menurut selera, biasanya cenderung menyolok, dan warna yane kuat. Ukuran bagian badan dan lengannya mepres (nas) de­ngan si pemakai. Panjang kebaya persis di atas pinggul dan di bagian depan bentuknya runcing ciri khas dari ke­baya ini ialah pada kelimannya yang lebar ± 15 cm. Bentuk seperti kebaya pada umumnya tetapi tanpa memakai kutu baru. Di bagian pinggang ada 6 buah kup- nat, 3 di pinggang kanan dan 3 di pinggang kiri.

Kutang

Bahannya katun, tidak bermotif. Warnanya biasanya menyolok kontras dengan kebayanya, misalnya merah, hijau daun pupus atau biru benhur. Ukurannya pas ba­dan (ketat). Panjang kutang ada yang pendek ada pula vang panjang sampai ke perut. Bentuk seperti kutang pada umumnya tetapi bukannya terdapat di depan. Pe- nutupnya bisa kancing, bisa pula tali ikatan. Pada ba­gian kiri bawah ada 1 buah saku tempat menyimpan uang.

Perhiasan kebaya Peneti Dinar renteng

Bahannya emas, tidak bermotif, dengan warna keku- ning-kuningan, ukurannya sesuai dengan kemampuan ekonomi si pemakai. Bentuknya bundar berentang dari atas ke bawah semakin banyak jumlah dinarnya, berarti semakin panjang rentengannya.

Bagian bawah

Samper/sarong batik, bahannya kain batik tulis, bermotif bunga, atau bu rung. Warnanya merah soga dengan motif berwarna pu tih atau sebaliknya. Bentuknya seperti pada umumnya kain panjang (seperti pakaian remaja putri).

Alas kaki, untuk di rumah memakai alas kaki bacca.

Cara memakai pakaian

Sebelum gadis berpakaian lengkap, maka disaat upacara disiap- kan si gadis diberi pakaian berupa Samper (kain panjang) batik dan dipakai sampai sebatas dada. Sebelum dimandikan, gadis harus menyediakan bunga di macam. Setelah dimandikan dengan mengenakan samper sebatas dada, si gadis baru memakai pakaian lengkap yaitu kebaya, samper serta tidak lepas dari alas kaki sam­pai waktu menstruasi tersebut habis.

Fungsi pakaian ini, hanya untuk ke kegunaan praktis, selayaknya yang dipakai sehari-hari.

Arti simbolis :

  • Adalah menggambarkan suatu keceriaan kegembiraan (warna pakaian).
  • 41 bunga sebagai perlengkapan upacara iuempunyai arti suatu pengharapan agar kemuliaan dan kegembiraan ter- limpah pada hidupnya kelak.
  • Pada masa haid si gadis tidak diperkenankan menginjak kotoran karena jika ia menginjak kotoran akan mengakibatkan bau yang tidak sedap. Sehingga kelak jika sudah bersuami, suaminya akan menolak.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pakaian Adat Tradisional Daerah Jawa Timur, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta,  1987. hlm.116-118