Ny. Djohar Insiyah Suharso

11 Desember 1920, Djohar Insiyah lahir di Ngawi, Ia adalah puteri dr. R. Agusdjam yang. Ibunya bernama RA Sudjarah yang berasal dari Magelang. R. Agusdjam adalah lulusan Indisch Art STOVIA Batavia tahun 1913 ia mula-mula bertugas di RS Tepra Plentungan Kendal kemudian dipindahkan ke Rumah Sakit Mata di Ngawi.

Djohar Insiyah adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara,hubungan Djohar dengan orang tua dan saudara-saudaranya tampak serasi dan bahagia. Sebagai kanak-kanak ia hidup senang dan berkecukupan. Mereka tujuh orang bersaudara hidup rukun dibawah asuhan orang tua yang disegani masyarakat Di samping sekolah mereka diharuskan belajar mengaji dengan mendatangkan seorang guru wanita. Dalam waktu dua tahun Djohar sudah lancar membaca Al-Qur’an.

Tahun 1925, Djohar mulai masuk sekolah saat itu ia berumur empat setengah tahun. Ia masuk Frobelschool (SekolahTaman Kanak-kanak) di Susteran Kotholik Pontianak.

Tahun 1926 dalam usia lima setengah tahun ia pindah ke Europese Lagere School (ELS). Ia senang belajar ilmu bumi dan sejarah di samping pelajaran kepandaian puteri. Setamat E.L.S. Djohar masuk Van Deventer School di Semarang pada tahun 1934. Sekolah ini mendidik gadis-gadis menjadi guru sekolah kepandaian putri dan guru sekolah Taman Kanak-Kanak. Di sekolah Djohar menjadi kapten kelas baik dalam belajar maupun olahraga. Ia juga gemar membaca buku-buku di perpustakaan sekolah sehingga ilmu pengetahuannya bertambah luas.

Tahun 1937, Djohar lulus dari Van Deventer School saat itu ia berumur 17 tahun. Ia merasa masih terlalu muda untuk terjun ke masyarakat. Ia kemudian minta izin untuk memperpanjang masa belajarnya. Ternyata permintaannya dikabulkan. Ia bergabung dengan saudara-saudara kandungnya di Jakarta. Di sini ia mengambil kursus- kursus di Institut Schaver, yaitu program bahasa Inggris dan Perancis. Kecuali itu juga mengambil kursus stenografi, Bond A dan mengetik. Di Jakarta kegiatannya beralih ke dunia bisnis dan pergaulannyapun makin luas. Bersama teman-temannya seperti Rusiah (Saijono), Hurustiati (Subandrio), (Prof. Dr.) Soelianti dan lain-lain mereka membentuk perkumpulan wanita “Huise Vrouwen Vereniging”.

Tahun 1939, setelah cukup dengan berbagai kursus Djohar kembali ke Pontianak. Ia membantu lbunya yang aktif dalam kegiatan ma­syarakat muslim. lbunya menjadi Ketua Aisiah Pontianak yang bertugas menghimpun dana untuk menyelenggarakan sekolah Taman Kanak- kanak, pengajian dan organisasi sosial yang lain. Disinilah Djohar mulai belajar berorganisasi dan teijun secara aktif dalam kegiatan.

7 September 1941 Djohar menikah dengan dr. Suharso seorang dokter muda lulusan NIAS (Nederlands Indische Artsen School) Surabaya yang bertugas di rumah Sakit Ketapang. Setelah menikah Djohar mendampingi suami bertugas sebagai dokter ahli bedah. Djohar mencoba membimbing muda-mudi Ketapang dalam cara berpakaian dan masak-memasak. Mereka kemudian dikaruniai tiga orang anak yaitu TunjungSulaksono. Tunjung Wijayanto dan Tunjung Hamurdoyo; dua diantaranya dokter dan satu insinyur.

27 Desember 1941 kota-kota di Kalimantan Barat diduduki Jepang, didahului dengan serangan pesawat-pesawat udara Jepang terhadap Kota Pontianak Dalam pendudukan Jepang, keluarga dr. Suharso merasakan tekanan dan tindakan keras Jepang.

Tahun 1943, Djohar bersama suami menjalani cuti ke Jawa (Solo), untuk mengurangi ketegangan dan kecurigaan Jepang.

Tahun 1944, terjadi musibah atas diri dr. R. Agusdjam. Ayah Djohar bersama tokoh- tokoh masyarakat dan kaum pergerakan Pontianak dibunuh oleh Jepang. Kedukaan Djohar tidak dapat terobati begitu saja apalagi dr. Suharso yang bertugas di Solo juga diintai oleh Kempetai. Pada masa perang kemerdekaan , Djohar kembali ke Surakarta. Di Solo ia aktif membantu P.M.I, di Purbayan dan menyelenggarakan dapur umum bersama-sama Ny. Margohutomo dan Ny. Sugondo Notodisuijo. Sehingga praktis kegiatan beroganisasinya sudah tumbuh sejak ia masih remaja.

Tahun 1942, ia menjadi anggota Fu Jin Kai Ketapang,

Tahun 1944, kegiatan beroganisasinya berlanjut menjadi anggota Fu Jin Ki Solo.

Tahun 1949-1952,  menjadi anggota Perwari ranting Jebres kemudian pindah ke jalan Slamet Riyadi 240. Setelah terbentuk Ikatan Istri Dokter Indonesia.

Tahun 1950, Djohar menjadi anggota IIDI cabang Surakarta.

Tahun 1963-1964. menjabat sebagai Ketua IIDI cabang Surakarta.

5 Februari 1953, Djohar ikut merintis terbentuknya Yayasan Pemeliharaan Anak anak Cacat. Yayasan Pemeliharaan Anak-anak Cacat (YPAC) adalah suatu organisasi sosial untuk merehabilitasi anak-anak cacat yang berumur 3 sampai 18 tahun, sehingga mereka masih mendapat kesempatan untuk menjadi orang yang berguna dikemudian hari. Melalui YPAC anak-anak penderita cacat memperoleh pertolongan sehingga mereka dapat ikut merasakan hidup yang layak seperti halnya anak-anak yang sehat. Mereka merasa tidak canggung dan rendah diri dalam menghadapi pergaulan dengan anak-anak lain.Dalam Yayasan tersebut Djohar mula-mula menjadi sekretaris I.

Tahun 1954, ia terpilih menjadi ketua umum YPAC. Djohar dan kawan-kawannya mulai membina YPAC dari awal sekali dengan bekal sedikit pengalaman, beberapa petunjuk dari dr. Suharso, serta sedikit literatur dan majalah tentang rehabilitasi. Di samping itu banyak belajar dan melihat dari panti-panti semacam YPAC di luar negari. Dalam mengunjungi kongres-kongres dan pertemuan lainnya di luar negeri ia pergunakan untuk belajar dan melihat lalu diterapkan di Indonesia. Ia memang selalu mempergunakan kesempatan untuk belejar dan melihat. Hal itu ia lakukan untuk mengimbangi pendidikannya, yang tidak sampai memperoleh gelar. Dahulu orang mengira, bahwa dengan meninggalnya dr. Sukar SD YPAC akan mati. Dugaan tersebut ternyata tidak benar. YPAC bahkan semakin berkembang. Ny. Suharso tidak sekedar berada di bawah bayangan-bayangan suaminya, tetapi mampu ia bergerak sendiri.

Keberhasilannya membawa YPAC ke tingkat yang sekarang ini tidak lepas dari sifat-sifat pribadinya. Kepribadiannya cukup kuat untuk menunjang semua cita-citanya.Ia memang seorang yang cerdas, tekun, tegas disiplin dan berpendirian teguh.Bila ia sudah mengambil suatu keputusan tidak akan mudah untuk digoyahkan. Tetapi sebelum ia mengambil keputusan, ia telah membicarakan dengan beberapa stafnya. Sebagai pemimpin ia sangat memperhatikan anak buahnya. Ia suka bergaul dan sangat terbuka. Bila seorang anak buahnya berbuat salah , ia akan langsung memarahinya, tetapi kemarahan itu akan cepat hilang dan segera melupakannya. Ia memang bukan seorang pendendam.

Bila ia menyerahkan suatu tugas pada seorang anak buahnya, ia akan sepenuhnya mempercayai orang tersebut. Dengan demikian yang diserahi tugaspun akan bertindak sebaik mungkin, karena sadar akan tanggung jawabnya. Di samping itu sebagai pimpinan ia menghendaki segala sesuatunya hitam diatas putih. Misalnya, bila seorang melapor tentang suatu alat yang rusak haruslah disertai buktinya. Hal ini ia lakukan untuk menjaga kedisiplinan anak buahnya. Ia juga seorang yang mau mengakui kekurangannya. Misalnya saja, karena merasa tidak mampu mendalami semua masalah satu persatu, ia selalu melihat bagan atau skema. Sebagai imbangan ia menguasai beberapa bahasa asing dan pengetahuanya tentang medis cukup luas , sehingga ia tidak mudah ditipu perawat atau bahkan dokter.

Selain hal-hal tersebut di atas, ia adalah seorang yang sangat mencintai penca (penderita cacat), penuh inisiatif dan dedikasinya besar pada YPAC. Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diambilnya bisa diterima oleh semua pihak. Antara lain ia memutuskan agar pengurus yayasan tidak menjadi pegawai YPAC. Hal ini dimaksudkan agar pengurus dapat mengontrol pegawai

Keberhasilannya Ny. D.I. Suharso tidak hanya diakui di Indonesia saja, tetapi juga oleh dunia mternasional. Ia memang seorang yang memiliki kemampuan bertaraf internasional. Sejak YPAC menjadi anggota Rehabilitation International (RI) ia hampir tidak pernah absen duduk dalam kepengurusan badan dunia tersebut. Dalam kongres-kongres yang dikunjunginya ia tidak hanya sebagai peserta saja, tetapi juga sebagai pemrasaran Ia banyak menulis tentang rehabilitasi di berbagai konferensi/kongres baik ditingkat nasional, Asia maupun dunia.

Dalam kongres Rehabilitation Internasional ke-XII di Sydney, Aus­tralia, salah seorang pengurus YPAC Australia mengatakan kekagumannya atas besarnya dan sistimatisnya organisasi sosial YPAC Indonesia. Adapun peserta kongres dari Asia merasa heran dan kagum atas kemajuan yang di capai YPAC Indonesia melebihi YPAC mereka, sekalipun keadaan masing-masing negara umumnya tidak berbeda dalam perawatannya. Sistem non panti yang diterapkan Ny. Djohar Insiyah Suharso belum dapat diterapkan di negara mereka.

Sebagi wanita karir yang berhasil Ny. Djohar Insiyah Suharso tidak pernah meninggalkan sifat kewanitaannya Ia tetap memiliki keluwesan seperti layaknya seorang ibu Dari wajahnya yang lembut terpancar keramahan dan kecerdasannya. Ia selalu hati-hati dalam berceritera, tegas tetapi tetap lembut, alami dan pembicaraan tidak kosong. Pantaslah ia menjadi lambang wanita Indonesia masa kini

Dengan keberhasilan yang dicapainya sekarang terwujudlah sebagian dari cita-citanya semasa kecil, yaitu menjadi Raden Ayu, yang menurut pengertian Ny. Djohar Insiyah Suharso adalah seorang puteri sejati yang mempunyai kedudukan dalam masyarakat. Seorang wanitayang luhur budinya, yang dapat dipandang dan disegani masyarakat karena pertolongan dan kelakuan baik.

Keberhasilan Ny. Djohar Insiyah Suharso dapat juga dilihat dari penghargaan-penghargaan yang di perolehnya. Ia dapat beberapa penghargaan baik dari dalam maupun dari luar negeri.

Tahun 1954, mendapat penghargaan World Veterans Federation Award di Vienna.

20-12-1961, mendapat penghargaanSatya Lencana Kebaktian Sosial dari Presiden RI.

19 September 1969, mendapat penghargaanAlbert Lasker Award yang diberikan oleh Albert and Mery Lasker Foundation pada Kongres Dunia ISRD yang ke XII di Dublin Ireland.

2 Mei 1977,  Ny. Djohar Insiyah Suharso menerima Piagam Hadiah Pendidikan dari Menteri P dan K Sjarif Thajeb sebagi Perintis Pembinaan Pendidikan Luar Biasa (Anak Cacat).

Maret 1981, ia memperoleh “Kartini Group Medalle” sebagai Ibu Sosial dari Kartini Group.

Di samping penghargaan-penghargaan tersebut, masih ada beberapa sertificat,

Tahun 1954,  ia memperolehyaitu sertificat sebagai National Secretary.

Septem­ber 1969, ia memperoleh sertificat sebagai Vise Chairman (1969-1972).

Tahun 1978, ia memperolehsertificat sebagai member of the Council,

Di rumah tangga pun ia merupakan seorang ibu yang berhasil dalam mendidik anak-anak. Ia berhasil mengantarkan tiga orang anak laki- lakinya menjadi “orang”. Anak sulungnya meneruskan karir ayahnya sebagai dokter bedah di R.C. Surakarta. Anaknya kedua seorang insinyur yang saat ini bertempat tinggal di Surabaya. Sedang anak bungsunya juga seorang dokter, kini tinggal di Medan.

Daftar Pustaka

  1. Bahan Angket Ny. Djohar Insiyah Suharso, naskah ketikan, Surakarta 4 Juli 1977.
  2. Daftar Riwayat Hidup Ny. Djohar Insyiah Suharso Ketua Umum Y.P.A.C. Pusat Surakarta, naskah ketikan.
  3. Ny. Djohar Insiyah Suharso, Sejarah dan Proses Rehabilitasi Para Penderita Cacat Anak-anak di Y.P.A.C. naskah ketikan.
  4. Ny. Djohar Insiyah SuharsoKompas Minggu, 1 Maret 1981.
  5. Riwayat Singkat Yayasan Pemeliharaan Anak-anak Cacat, Pengurus Besar Y.P.A.C. Surakarta.

Ensiklopedi Tokoh Budaya,  Departemen Pendidikan Dan KebudayaanDirektorat Jenderal Kebudayaan Direktoratsejarah Dan Nila1tradisional Proyekinventar1sasi Dan Dokumentasisejarah Nasional, Jakarta 1994, hlm. 81-87


Kusbini, Kabupaten Mojokerto

1 Januari 1910, Kusbini lahirdi  desa Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur. Ayahnya bemama Koesnio seorang manteri kehutanan (bosch hoofsiner boswessen), sedangkan lbunya bersama Moesinah asal Trenggalek, Jawa Timur. Sebagai seorang anak manteri kehutanan, masa kecil Kusbini bersama keluarganya sering berpindah-pindah tempat dari satu rumah dinas ke rumah dinas yang lain yang terletak di kawasan hutan di Pojok, Kertosono, caruban, dan saradan Madiun Karena pengaruh lingkungannya pada masa kecil itulah yang menyebabkan Kusbini begitu hirau dengan nasib sesamanya, nasib bangsanya yang tertindas oleh kaum penjajah. Kusbini melihat sendiri bagaiman kesengsaraan hidup yang dialami bangsanya disekitar tempat tinggalnya.Keadaan demikian menimbulkan rasa kebangsaan dalam dirinya.

Tahun 1926, kala Kusbini sedang bersekolah di HIS, di Jombang Rasa kebangsaannya berkembang lagi pada waktu la melanjutkan pendidikannya di MULO dan bahkan di sekolah dagang S de Senerpont Domis di Surabaya, di mana Kusbini banyak berkenalan dengan rakyat biasa sampai kepada para cendikiawan yang aktif digaris depan. Akhirnya Kusbini menemukan jalan yang cocok baginya untuk menuangkan semangat perjuangannya melalui dunia musik yang memang ia cintai sejak kecil.Pada mulanya Kusbini belajar musik sendiri tanpa guru (autodi dakt) bersama dengan kakaknya Kusbini Ia bermain musik dalam orkes “YISTO” (Yong Indisce Stnjk Tekkel Orkest) di Surabaya dan mengumpulkan lagu-lagu keroncong serta stambul guna kepentingan orkesnya.

Tahun 1927—1930 Kusbini baru mengikuti pendidikan musik umum (Algemene Muziekleer) pada sekolah musik “Apollo” di Malang di bawah pimpinan Kitty Ament dan M. Mirop. Ia belajar bermain biola + 3 tahun lamanya.

Tahun 1935—1939,nama Kusbini mulai dikenal sebagai penyanyi dan pemain biola pada siaran radio “NIROM” (Nederlands Indisce Radio Omreep), memimpm studio Orkes Surabaya (SOS) merangkap penyanyi keroncong bersama S. Abdullah, Miss Netty dan Soelami. Di samping itu Kusbini juga merangkap pembantu penyiar “CIRVO” (Chines Inheemse Radio Luisteraars Vereniging Oest java) dan bekeija juga sebagai penggubah lagu di pabrik piringan hitam “Hoo Sun Hoo”.

Tahun 1941,bersama dengan pertumbuhan perfilman di Indonesia, Kusbini bekerja pada Majestic Film Company yang berpusat di Malang di bawah pimpinan Freed Young. Dan studio dan piringan hitam Kusbini beranjak ke layar putih. karena kegiatan dan pembuatan film oleh Ma­jestic Film Company banyak dilakukan di Jakarta, maka Kusbini pindah ke Jakarta.

Di sini Kusbini banyak mendapat kesempatan untuk mengembangkan bakat dan menunjukan prestasinya. Kemudian dia juga mencipta lagu-lagu khusus untuk cerita-centa film pada waktu itu, antara lain dikenal dengan cerita “Jantung Hati” dan Air Mata Ibu” dengan syair Nyoo Cheng Seng (Monsieur d’Amor). Di sinilah ia menciptakan lagu langgam keroncong “Jantung Hati” yang kemudian diorkestasikan dengan 60 orang pemain yang dipimpin oleh Kusbini sendiri. Dengan lagu Kusbini ingin mempertebal semangat nasional yang dipegangnya dengan teguh, karena sejak awal memang telah diyakininya sebagai sumbangsih dalam ikut mempeijuangkan nasib bangsanya yang teijajah. Lahirlah lagu keroncongnya,” Kewajiban Manusia”, lagu yang syairnya benntikan ajakan menggalang persatuan bangsa.

Di zaman Jepang Kusbini tetap bekega di Jakarta yaitu pada siaran radio (Hoso Kenn Kyoku) yang dipimpin oleh Utoyo Ramelan SH Bersama dengan Ibu Sud, Kusbini mencipta lagu-lagu yang membangkitkan gairah, semangat dan kesadaran anak-anak Indonesia yang mencita-citakan kebebasan tanah air dan bangsanya. Kedua tokoh ini berhasil dengan baik. Pada kesempatan ini Kusbini mencipta lagu- lagu Indonesia yang dimainkan oleh orkes pimpinannya sendiri Di samping lagu Indonesia.

Beberapa lagu yang diciptakannya antara lainBagimu Negeri (1942), Bersatu (1942), Nyanyian Bunga (1944), Cinta Tanah Air (1945), Pembangunan (1945), dan lain-lain dari sekian banyak lagu kanak-kanak ciptaan Kusbini, Lagu Bagimu Negeri terpilih menjadi lagu wajib di sekolah-sekolah mulai dari SD sampai tingkat perguruan tinggi dan juga sudah sejak lama Lagu Bagimu Negeri ini dialunkan di RRI maupun TVRI sebagai lagu penutup siaran. Lagu Bagimu Negeriinilah karya terkenal dari Kusbini

Tahun 1942 1945,lagu-lagu yang diciptakan Kusbini dimaksudkan untuk mengimbangi lagu-lagu Jepang yang membanjir ke Inddonesia. karena itu lagu-lagunya jelas mengandung semangat perjuangan nasional.Sebagai ahli musik Kusbini diakui oleh masyarakat luas, sehingga Bung Karno mengangkatnya sebagai anggota Panitia Lagu Kebangsaan Indonesia Raya bersama dengan Ki Hadjar Dewantara, Muh. Yamin,  Ibu Sud, C. Simanjutak, Sanusi Pane dan lain-lain dibawah pimpinan Bung Karno. Pekerjaannya dimulai di zaman Jepang, kemudian dilanjutkan di zaman kemerdekaan di Yogyakarta sampai sekarang. Sebelum ke Yogyakarta ia bekeija pada ALRI di Lawang Jawa Timur dan kemudian pada Badan Penerima Kesatria I (Angkatan Darat) di Madiun, semuanya sebagai ahli musik.

Di Yogyakarta Kusbini berkarya terus, mencatat berbagai lagu, termasuk lagu-lagu daerah, mengaransir dan mencipta lagu serta bekeija sama dengan pengarang yang lain. Bertolak dari ciptaanva keroncong, menghilangkan ciri-cirinya yang kampungan, Si Buaya keroncong itu telah berhasil mengumpulkan berbagai lagu untuk dipelajari, diteliti dan dicatat kemudian menjadi “dokumentasi keroncong” yang berharga untuk bahan sejarah musik Indonesia.

1 April 1943, berdirinya Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shideshe), yang berkantor di Jalan Noordewijk (sekarang Jalan Ir. H. Djuanda) Jakarta, Kusbini terpilih sebagai wakil ketua Bagian Musik.

19 Maret 1943, berdirinya PUTRA (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh Bung Karno, para seniman dan seniwati mendapat peluang yang lebih luas Dengan pergaulan yang erat antara seniman-seniman, sastrawan dan pimpinan-pimpinan bangsa, Kusbini banyak mendapat ilmu dan gagasan-gagasan di dalam menciptakan lagu-lagunya. Ia tidak saja mencipta lagu dengan syair, tetapi tidak sedikit pula syairnya ditulis oleh kawan-kawan seniman dan sastrawan, antara lain Padi Menguning (syair Armin Pane), Ronce melati (syair Akhdiat kartamihardja), Laguku atau Lagu Kasihku (syair Kardjomuljo) dan Suka Rayu, Smara Turun, Ratapan Ibu (syair Kama Djaya).

Tahun1953, menulis buku Kamus Musik, penerbit, UP. Indonesia, Yogyakarta.

Tahun 1963,  Tujuh Lagu Wajib, terbitan PN Balai Pustaka.

Tahun 1965, Merdu dan Gembira, penerbit PT. Pembangunan Jakarta.

Tahun 1965, Lagu Wajib, penerbit UP Indonesia, Yogyakarta.

17 Agustus 1972, buah ketekunan dan keahlian Kusbini dalam hal keroncong telah diakui terbukti dengan diperolehnya Anugrah Seni dari Departemen P dan K.

Tahun 1973, sebagai pegawai pada Departemen P dan K, menjabat sebagai kepala Seksi Seni Suara Urusan pension, khusus di bidang keroncong.

Tahun 1975, terlah terbit buku Indonesia Yang Kucinta. penghimpun M. Pardosi Siagian, penerbit Penyebar Musik Indonesia, Yogyakarta.

Januari 1977, memperoleh Piagam penghargaan atas segala bantuan dan pengabdiannva pada Sekolah Menengah Musik di Yogyakarta dikeluarkan oleh Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan dan ditandatangani oleh Drs Sunaijo M.Sc.

Tahun 1978, Kusbini telah menulis naskah Keroncong Indonesia : Sejarah dan Perkembangannva yang disusun sejak tahun 1924 sampai tahun 1978.

Tahun 1978, Mengenai lagu “Bagimu Negeri” ciptaan Kusbini ini pernah terjadi kesalahpahaman di dalam masyarakat baik mengenai notasinya, maupun judulnya, pernah dihebohkan tentang penciptanya antara Kusbini atau J. Semedi. Namun demikian Kusbini tetap bertahan berdasarkan Undang-Undang Hak Cipta tahun 1912 yang tetap masih berlaku sampai sekarang, maka jelas Kusbinilah yang memiliki “Hak Cipta” atas lagu “Bagimu Negeri” (1942) dan juga lagu- lagu lain ciptaannya.

4 April 1979, memperoleh Piagam penghargaan atas pengabdiannva pada bidang seni suara keroncong dalam rangka Ketahanan Nasional dikeluarkan oleh Panglima Komando Wilayah Pertahanan II, Letjen Widodo.

Tahun 1979 UP (Urusan Penerbitan) Indonesia Yogyakarta mulai menerbitkan himpunan lagu- lagu bersama kawan-kawan.

Pada usia lanjut ini Kusbini tidak lagi tampak mencipta lagu-lagu baru, tetapi masih tetap bekerja menyusun berbagai sistem dan metode bermain musik disanggar Olah Seni Indonesia. Ia telah menemukan sistemnya sendiri dalam bermain gitar dan biola dan diajarkan di sanggamya dengan berhasil. Ia juga menekuni sistem bermain kelintang dan angklung untuk tenaga pengajar maupun untuk para murid-muridnya.

Tahun 1951, Kusbini mendirikan Sanggar Olah Seni Indonesia (OSI), dalam masa pensiunnyaKusbini tidak pernah lelah atau capek karena musik, tanpa memaksakan diri Kusbini masih tetap tegar membimbing murid-muridnya di bidang pendidikan musik di sanggar OSI di rumahnya sendiri yang sederhana di Jalan Pengok Yogyakarta.

40 tahun di sana Kusbini bersama istrinva tercinta bernama Ngadiyem dan sebelas orang putra-putrinya menerapkan konsep pendidikan musik yang aartistik, idiil, religis, histens dan pelitis Dengan prinsip itu pendidikan-pendidikan tidak hanva diarahkan untuk menjadi instrumentalis atau vokalis saja, tetapi juga ke arah bangsa yang kuat dalam membawakan kebudayaannya.

Banyak sudah yang telah diperbuat oleh si buaya keroncong ini, yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk meningkatkan citra seni di Indonesia. Dari membangkitkan semangat patnotisme, cinta tanah air, sampai kepada tanggung jawab yang besar dalam mempertahankan mutu dan nilai kepribadian Indonesia dalam budaya seni musik kita.

Hasil dari gemblengan Kusbini melalui sanggar OSI-nya, lahirlah seniman-seniman musik yang tangguh dan berpengaruh, antara lain MP. Siagian, Ketua Komponis Nasional Indonesia, penyanyi seriosa Prawaningrum, penyanyi keroncong Subardjo HS dan banyak lagi yang lain-lain.

Daftar Pustaka

1.          Kamajaya, Sejarah Bagimu Negeri, Lagu Nasional, Penerbit U.P Indonesia,Yogyakarta, 1979.

2.          Kusbini, 16 Lagu wajib, Penerbit U.P Indonesia, Yogyakarta, 1966.

3.          Kamajaya, Riwayat Hidup Kusbini, U.P Indonesia, Yogyakarta, 1965. 4 Harian Kompas Minggu, 30 Desember 1979, Kusbini.

4.          Dibukukan, Siapa Pencipta Lagu Bagimu Negeri, Sinar Harapan Minggu, 8 April 1979.

5.          Tim Penulis, Butet Kartaredjasa dkk, 33 Profil Bu day a wan Indonesia. Penerbit Direktorat Televisi c/q Televisi RI Stasiun Yogyakarta, PT. Pustaka Sinar Harapan, PT. MTU Harian Suara Pembaharuan, PT. Gramedia-Devisi Penerbitan Buku, Percetakan PT. Intermasa, Jakarta. 1990.

6.          S. Sumardi, Drs. Sarijah Bintang Sudibyo (Ibu Sud) karya dan pengabdiannva, Depdikbud, Ditjarahnitra, Proyekl SDN, Jakarta, 1984.

Ensiklopedi Tokoh Budaya,  Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktoratsejarah Dan Nila1tradisional Proyekinventar1sasi Dan Dokumentasisejarah Nasional, Jakarta 1994, hlm. 159-164

Prasasti Hering.

Prasasti dari desa Kujon Manis, Warujayeng, ini ditemukan dan dilaporkan pertama kali pada tahun 1869. Menurut pembacaan Brandes prasasti ini dikeluarkan oleh raja Sindok pada tahun Saka 859. (Brandes, 1886 : 146 ; 1913 : 89 – 94). Sesuai dengan nama desa yang disebut didalamnya, yaitu Hering watek Marganung, I oleh karena itu prasasti ini juga disebut prasasti Hering.

Berdasarkan unsur penanggalannya, Damais berpendapat prasasti itu dikeluarkan pada tahun Saka 856. Yang bertepatan dengan tanggal 22 Mei 934 masehi atau pada hari Kamis Wage, 22 Mei 934 (Damais, 1952 : 60 – 61 ; 1955 : 182). Di dalam prasasti ini mpu Sindok disebut dengan gelar : Sri Maharaja Mpu Sindok Sri Isanawikrama Dharmmotunggadewa. Gelar itu hanya menyebutkan Sri Maharaja, tanpa tambahan gelar jabatan Rakai Hino, Halu, Srimahamantri dalam prasastinya yang lebih tua maupun dari masa kemudian. (Damais : 19562 : 56 – 63).

Maklumat dalam prasasti ini cukup panjang, terdiri atas 35 baris di bagian muka, di bagian belakang mulai dari baris 11 hingga baris 38, bagian samping kiri 45 baris, dan samping kanan 47 baris. Isinya antara lain tentang jual beli tanah sawah. Juga menyebutkan para saksi yang terdiri dari pejabat kerajaan hifigga pejabat tingkat desa.

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Harimintadji, dkk. Ngamjuk dan Sejarahnya, Ngnjuk :Keluarga, 1994. hlm. 55-56

Prasasti Kinawe

Prasasti Tanjung Kalang dari daerah Berbek ini, untuk pertama kalinya dilaporkan oleh Hoepermans dalam Hindoe-oudheiden van

Java (1864 – 1867). Selanjutnya dicatat dalam Notulen tahun 1889 dan dibahas oleh Rouffaer, dan diberi kode D. 66 (Rouffaer, 1909). Prasasti yang terdiri dari 13 baris itu, berasal dari tahun saka 849, dikeluarkan oleh seorang Pejabat tinggi Rake Gunungan Dyah Muatan. bersama ibunya yang bernama Dyah Bingah.

Didalamnya juga menyebut nama Raja Wawa, serta nama pejabat tinggi Rakriyan Mapatih Mpu Sindok Isana Wikrama. (Brandes, 1913 : 49). Berdasarkan nama desa yang disebut dalam prasasti piagam yang dikeluarkan bertepatan dengan tahun masehi 28 Nopember 928 ini, disebut prasasti Kinawe (Damais, 1952 : 55 ; 1955 : 53 – 54).

Prasasti ini meresmikan desa (wanua) Kinawe watek Kadangan, dengan hak Sima sebagai desa yang dibebaskan dari pembayaran kepada raja. Berdasarkan unsur penanggalannya, prasasti ini dikeluarkan bertepatan dengan hari pekan Sadwara, Wurukung (hari ke tiga), Wagai hari Pancawara. Wrhaspati hari ke 5 Saptawara. Dapat disimpulkan bahwa prasasti Kinawe dari desa Tanjungkalang ini, dikeluarkan pada hari Kamis Wage tahun 928 masehi, atau secara lengkap bertepatan dengan hari : Kamis Wage bulan Nopember 928.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Harimintadji, dkk. Ngamjuk dan Sejarahnya, Ngnjuk :Keluarga, 1994. hlm. 55

Prasasti Anjuk Ladang

OLYMPUS DIGITAL CAMERAPrasasti Anjuk Ladang berbentuk batu (Linggo Pala), sebenarnya bernama Prasasti candi Lor. Diberi nama demikian karena Prasasti tersebut diketemukan disebuah Situs bernama Candi Lor, terletak didesa Candirejo kurang lebih empat kilometer disebelah selatan kota Nganjuk, tetapi sebelah barat jalan raya yang menghubungkan Nganjuk – Kediri. Nama prasasti Anjuk Ladang dipakai karena dalam prasasti itu disebut toponimi (nama tempat) Anjuk Ladang yang dianggap sebagai asal-usul nama Nganjuk sekarang.

Laporan pertama tentang reruntuhan Candi Lor yang oleh masyarakat setempat disebut dengan nama Candi – Batu (Karena dibuat dari bahan batu-bata) dilakukan pada masa kekuasaan Letnan Gubernur Thomas Stanford Rattles (berkuasa pada tahun 181′ 1816 M). Untuk kepentingan penyelamatan dan penelitian prasasti Anjuk ladang kemudian dipindahkan tempatnya kehalaman kediaman Residen Kediri. Karena dianggap mempunyai nilai yang sangat penting akhirnya prasasti ini diangkat dan disimpan di Museum Pusat Jakarta, sebagai koleksi benda purbakala dan diberi kode D. 59. Guritan aksara yang dipergunakan pada prasasti Anjuk Ladang adalah abjad Jawa Kuno dan mempergunakan bahasa Jawa Juno Pula. Karena selama ditempat aslinya kurang terpelihara, maka sebagian tulisan prasasti mengalami kerusakan termasuk tulisan angka tahun prasasti ABKLATSCH yang dibuat untuk memudahkan pembacaan prasasti juga kurang memberikan hasil yang memuaskan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERATranskripsi (alih abjad) prasasti Anjuk Ladang dibuat oleh J.L.A. Brandes (tahun 1887 ?) dan dimuat dalam buku Oud Javansche Oorkonden (Kumpulan prasasti berbahasa Jawa Kuno) yang diterbitkan oleh N.J. Krom pada Tahun 1913. Sedangkan transliterasi (alih bahasa, terjemahan) secara lengkap sampai sekarang belum pernah dilakukan. Para ahli yang meneliti prasasti Anjuk Ladang umumnya hanya membahas bagian-bagian tertentu, atau membicarakan garis besar isinya saja. Prasasti ini memuat tulisan pada bagian depan (Recto) sebanyak 49 baris dan bagian belakang (Verso) sebanyak 14 baris. Walaupun keadaan (tulisan) prasasti Anjuk Ladang sebagian rusak, tetapi dengan membandingkan prasasti tersebut dengan prasasti-prasasti Sri Maharaja mpu Sindok yang lain (jumlahnya kurang lebih tiga puluh buah), prasasti Anjuk Ladang dapat direkonstruksi dan sebagian besar isinya dapat diketahui.

Skema struktur prasasti Anjuk Ladang secara garis besar adalah sebagai berikut :

(1)  Kalendriks, unsur penanggalan.

(2) Raja yang memerintahkan pembuatan prasasti yaitu Sri Maharaja mpu Sindok Isana Wikrama Dharmmotunggadewa. Birokrasi, Sistem dan Struktur pejabat pemerintahan terutama pejabat yang dilibatkan dalam pembuatan prasasti mulai dari pejabat tinggi atau pejabat Pemerintah Pusat, pejabat menengah sampai pejabat tingkat rendah yaitu pejabat perangkat desa.

(3) Sambandha  Alasan (latar belakang) pembuatan prasasti.

(4) Mangilala dwryahaji

Yaitu pejabat-pejabat pemungut (penarik) pajak yang sejak ‘dikeluarkannya prasasti tidak lagi diperkenankan memasuki desa yang telah dijadikan desa suci (sakral) atau desa Otonom (perdikan) bebas pajak dan disebut Sima Swatantra. Pejabat pemungut pajak tersebut jumlahnya cukup banyak dalam prasasti Anjuk Ladang disebutkan lebih dari enampuluh pejabat, diantaranya yang terkenal adalah : pangkur, tawan, tirip.

(5)  Pasak-Pasak

Yaitu hadiah atau persembahan yang disampaikan oleh sekelompok orang yang memperoleh anugerah dari Sang Maharaja (dalam hubungannya dengan pemberian perdikan atau status otonom, bebas pajak Desa Anjuk Ladang) kepada pejabat-pejabat pemerintahan yang hadir dalam upacara. Dalam prasasti Anjuk Ladang. jumlah pejabat penerima pasak ada 43 Orang. Pasak-Pasak itu berwujud Emas dalam berbagai ukOran/ satuan dan pakaian. Besar kecilnya pasak-pasak disesuaikan dengan tinggi rendahnya pejabat yang menerima.

(6)   Upacara ritual

Yaitu upacara penetapan Anjuk ladang sebagai desa perdikan Sima Swatantra yang dilakukan dengan melaksanakan seperangkat upacara suci (ritual) upacara ini melibatkan sejumlah petugas, alat-alat, dan barang-barang sesaji. Upacara tersebut disebut manasuk sima. Benda-benda sesaji dan alat- alat yang dipergunakan antara lain : Telur, Ayam, Kepala Kerbau, Alat-alat dapur, Kalumpang, dll. Sedang petugas upacara disebut madukur.

(7)  Sapatha atau kutukan.

Sebagai upacara penutup adalah kutukan dan sumpah serapah bagi siapa saja yang melanggar dan tidak mematuhi isi prasasti, serta Do’a keselamatan dan kesejahteraan bagi yang mematuhinya. Kutukan itu diungkapkan dalam berbagai pernyataan yang menyeramkan dan mengerikan. Misalnya : Semoga dikoyak-koyak badannya oleh para dewa, dicaplok harimau bila masuk hutan, dimakan buaya bila mandi di sungai, disambar petir bila hujan, dipathuk ular berbisa. disiksa dewa maut, dimasukkan dalam bejana penyiksaan (tamragomukha) dineraka nanti bila sudah mati.

Seperti halnya prasasti Hering, angka tahun yang dipahatkan sudah aus, dan angka yang masih cukup jelas menunjukkan angka 8 diikuti dua angka yang sudah kabur. Brandes membacanya 8 (5) 7 Saka (Brandes, 1913 : 84). Dikemudian hari bacaan itu diragukan ketepatannya oleh L.C. Damais, dan menurut penelitiannya, angka tersebut haruslah dibaea 859 Saka. (Damais, 1952 : 60 ; 1955 : 156 – 158).

Perbedaan hasil bacaan angka satuan oleh keduanya, antara lain disebabkan hasil cetakan (abklatsch) yang tidak jelas, demikian pula hasil foto yang dibuat Van Kinsbergen dengan nomor 212, 212 a-e, tampak kabur. Apalagi angka Jawakuno untuk 7 dan 9 sering ditulis hampir sama bentuknya. Untunglah unsur penanggalan tahunnya selain ditulis dengan angka, juga digubah dengan eandrasengkala (Chronogram) yaitu gambar naga, yang bernilai 8, Cakra dengan satu tangan. bernilai 5, dan gambar siput (Sangka) mengandung nilai 9. Angka 9 itu juga dilambangkan dengan gambar dewa Kuwera. (Damais, 1952 : 60 – 61).

Walaupun unsur penanggalannya sudah aus, ada unsur lain yang dapat membantu pemecahannya, karena prasasti itu memuat nama raja yang mengeluarkannya, yaitu mpu Sindok. Sebagaimana prasasti Sindok di daerah Nganjuk yang lain, maklumatnya ditulis pada bagian muka dan belakang prasasti. Di bagian muka (Recto) terdiri atas 49 baris. antara baris ke-5 sampai baris ke-8 sudah sangat aus, sehingga tidak terbaca lagi. Mulai awal baris ke-2 yang memuat unsur kalendriknya juga tidak terbaca karena keausan hurufnya. Di bagian belakang (Verso) segaris dengan baris 23 berakhir pada baris ke 36, sebagai bagian yang memuat harapan agar yang dituliskan dalam prasasti ini, dipatuhi hingga akhir zaman.

Prasasti Candi Lor ini. juga dikenal dengan nama prasasti Anjuk Ladang. menurut nama desa atau satuan wilayah yang disebutkan berkali-kali, dalam kaitan maksud pengeluaran prasasti tersebut, (Sambandha). Berikut ini kami kutipkan bagian penting yang memuat unsur penanggalannya, raja serta para pejabat tinggi yang mendapat anugerah kedudukan sebagai Swatantra, dengan hak Sima. Menurut bacaan Brandes yang telah dibetulkan oleh Damais, sebagai berikut:

  1. // swasti sakawarsatita 8 — caitramasa tithi dwadasi krsna paksa. ha.–.–.wa
  2. ra . aisyanyastha — – —. satabhisanaaksatra .barunadewata . brahmayoga . kolawakarana irika diwa.
  3. sa ny ajna sri maharaja pu sindok sri isanawikrama dharmmotunggadewa tinadah rakryan mapinghai kalih rakai
  4. hino pu sahasra rakai wka pu baliswara umingsor i rakai kanuruhan pu da kumonakan ikanang lmah sawah kakatikan

5… sususkan …………………………  marpanakan i bhatar i sang hyang prasada kabhaktyan i dharma sangat anjuk ladang pu ki — — (Damais, 1955 : 156 – 157)

6…………………………………………………… sri maharaja i sri jayamrata

……………………………….  sri maharaja bhatara ………………………………  sima

pumpunana

7……………………………………….. pratidina mangkana ………………………………sri maha raja ……………………………………..  rikanang sawah kakatikan

8… n i bhatara i sang hyang i sang hyang prasada kabhaktyan i sri jayamerta mari ta yan lmah sawah kakatika

9. . n iyanjukladang tutugani tanda sambandha ikanang rama iyanjukladang tutugani tanda kanugrahan de sri maharaja …………………………………………………………….. Manglaga                (Brandes, 1913 : 84 – 85)

Dari kutipan sembilan baris tersebut diatas, akan dibahas beberapa data terpenting yang berhubungan dengan nama Nganjuk. serta data penanggalan tertua yang berkenaan dengan asal usul nama Nganjuk, atau sejarah tertua desa Nganjuk yang dalam perjalanan sejarahnya menjadi nama satuan wilayah administratif  kabupaten Nganjuk sekarang.

Dari kutipan sembilan baris tersebut diatas, pertama, dapat diketahui nama raja serta para pejabat tinggi yang diperintah untuk melaksanakan keputusan raja, dalam kaitan maksud dikeluarkannya prasasti itu. Kedua, unsur penanggalan yang dapat dijadikan dasar sebagai bukti serta pendapat yang berhubungan dengan arti prasasti itu bagi sejarah daerah yang kelak menjadi Kabupaten Nganjuk.

1. Prasasti Anjuk Ladang ini, dikeluarkan oleh seorang raja yaitu, Sri Maharaja Pu Sindok Sri Isanawikrama Dharmmotunggadewa. Pejabat tinggi kerajaan yang menerima perintah disebutkan Rakai Hino Pu Sahasra dan Rakai Wka Pu baliswara. Perintah itu selanjutnya diteruskan kepada Rakai Kanuruhan Pu Da. Data tersebut juga tercantum dalam prasasti Hering tahun 856 Saka atau 934 masehi, tanpa perbedaan sedikitpun.

Dari data tersebut menunjukkan bahwa ada keistimewaan dari gelar raja Sindok yang dituliskan dalam prasasti yang ditempatkan di daerah Nganjuk, dibandingkan dengan prasasti ditempat lain dari masa yang lebih tua maupun dari zaman yang lebih muda.

Memang gelar Pu Sindok sebagai kepala negara dan kepala wilayah ditulis dengan berbagai sebutan yang tidak sama, sehingga menimbulkan kesan tidak konsisten. Ada kalanya ia disebutkan bersama dengan permaisurinya seperti dalam prasasti Cunggrang II tahun 851 Saka, Prasasti Geweg dari daerah Jombang, tahun 855 Saka, walaupun angka tahunnya mungkin sekali sepuluh tahun lebih tua dari angka tahun yang tertulis di piagamnya. (L.C.Damais, 1952 : 58 – 59). Sebagaian besar prasasti yang dikeluarkannya, mencantumkan gelar jabatan rakai Halu, rakai Hino bahkan rakriyan Mapatih, disamping gelar Sri Maharaja, atau Paduka Sri Maharaja. Demikian pula nama diri sang raja sering ditulis dengan nama yang berbeda kecuali namanya sebagai wamsakarta atau pendiri dinasti, yaitu Sri

Isanawikrama.

2. Unsur penanggalan yang berkaitan dengan prasasti Anjuk Ladang, memang terdapat dua versi yang berbeda, khususnya tentang angka tahun. Dr. Brandes membacanya 857 Saka, Suklapaksa atau paro terang. (Brandes, 1913 : 84). Hasil bacaannya itu kemudian dikoreksi oleh L.C. Damais, bahwa prasasti Anjuk Ladang dikeluarkan pada tahun 859 Saka bertepatan dengan Krsnapaksa. Ia juga berhasil menemukan unsur hari pekan (wara) yaitu (HA) riyang, dalam konteks tanggal 12 bulan Caitra. Dalam hal ini kedua pakar itu tidak berbeda pendapat. kecuali yang menyangkut saat siklus hari edar bulan antara Suklapaksa dan Krsnapaksa. .

Dengan membandingkan seluruh prasasti semasa pemerintahan Pu Sindok yang dikeluarkan pada bulan Caitra Sukla tanggal 1, dan tanggal 12, dalam padanannya dengan tarikh Masehi, dapat disimpulkan sebagai berikut :

Tanggal 1 Sukla bulan Caitra tahun 857 Saka bersamaai» dengan tanggal 8 Maret 935 Masehi. Pada tanggal 12 Krsnapaksa bulan Caitra, bertepatan dengan hari HA KA SU 3 April 935 atau tanggal 4 April WU U SA. Sementara itu tanggal 1 Sukla bulan Caitra tahun 859 Saka, bertepatan dengan tanggal 15 Maret 937 Masehi, sedang tanggal 12 Krsnapaksa bulan Caitra tahun 859 Saka, jatuh pada tanggal 10 April 937 Masehi, dengan hari pekan HA PO SO atau WU WA ANG. Dalam prasasti Anjuk Ladang itu unsur hari pekannya terbaca Ha atau Hari yang dalam pekan Sadwara, atas dasar data itu bersesuaian dengan PO atau Pon pekan Saptawara, serta bertepatan dengan hari SO atau Soma pekan Saptawara. Dengan demikian berdasar- kan data penanggalan yangtercantum pada prasasti Anjuk Ladang yaitu tanggal 12 bulan Caitra dengan hari pekan Hari yang jika tahunnya dibaca 857 Saka menurut Brandes, terdapat ketidak sesuaian antara unsur hari pekannya antara Sadwara, Paneawara. dan Saptawara.

Oleh karena itu dengan menggunakan rumus perhitungan yang disusun oleh L.C. Damais, hari pertama tahun Saka 859, menurut siklus Wuku dengan sistim hari-hari pertama dimulai hari Tu = Tunglai Sadwara, PA = Pahing Pancawara, dan A = Aditya Saptawara, maka hari pertama tahun 937, jatuh pada hari kedua sesuai dengan Ha Sadwara, atau PO Pancawara, atau SO Saptawara. Atas dasar perhitungan tersebut, data penanggalan prasasti Anjuk Ladang tanggal 12 Krsnapaksa Ha bulan Caitra tahun 859 Saka, bersesuaian dengan 10 April 937 Masehi. (Damais 1955 : 156 – 158).

3. Peristiwa apakah yang diungkapkan dalam prasasti Anjuk Ladang dan apakah makna yang terungkap dalam prasasti itu dalam konteks sejarah Nusantara dan sejarah regional Jawa Timur pada awal abad X ?.

Berikut penafsiran yang pernah dikemukakan oleh pakar epigrafi dan sejarah klasik Indonesia, Prof.Dr.J.G. de Casparis, 34 tahun yang lalu.

“…………………… Pada tahun 928 atau 929 atau satu dua tahun

kemudian pasukan dari Melayu ialah daerah Jambi yang patuh kepada Sriwijaya mendarat di Jawa Timur. Pasukan itu sampai dekat Nganjuk, tetapi disana menderita kekalahan oleh laskar Jawa yang dipimpin oleh Pu Sindok. Peristiwa yang penting itu kita ketahui dari sebuah prasasti Sindok yang berangka tahun 937 (?). Prasasti itu mengenai sebatang tugu kemenangan (Jaya stambha) bertempat di Anjuk Ladang, beberapa kilometer sebelah selatan kota Nganjuk yang sekarang. Peristiwa itu dapat menjelaskan dua soal yang sebelumnya tidak mendapat penyelesaian yang memuaskan. Yang pertama mengenai kedudukan Pu Sindok yang oleh penyelidik lebih dulu dianggap sebagai teka teki. Maklumlah karena nama Sindok sudah kita temui dalam beberapa prasasti sebelumnya pemerintahannya sebagai seorang pegawai tinggi (Rakai Halu dan Rakai Hino), tetapi tidak lazim di Jawa bahwa seorang prabu digantikan oleh menterinya. Akan tetapi pergantian luar biasa memang mungkin dalam keadaan luar biasa. Andaikata kita berpendapat bahwa Sindoklah yang menjadi penyelamat negara selaku panglima perang, maka

dapat dimengerti bahwa tahta kemudian diserahkan kepadanya”

“Soal yang lain yang sekarang dapat dimengerti, ialah sebab perpindahan kraton ke Jawa Timur …. Sekarang ternyata bahwa pemindahan itu dapat kita fahami sepenuhnya. Dalam taraf pertama raja-raja Mataram lama seperti Balitung sampai dengan Wawa, lebih mementingkan Jawa Timur daripada Jawa Tengah. Karena keinsyafan akan pentingnya perniagaan antar pulau. Dalam taraf yang kedua pemimpin pemimpin Jawa menghadapi serangan oleh Sriwijaya, dan memutuskan hanya akan membela bagian kerajaan yang dipentingkan itu. Lembah rendah sungai barat dari itu termasuk Jawa Tengah dibiarkan saja” (J.G. de Casparis, 1958).

Hipotesa yang menggambarkan Prasasti Anjuk Ladang sebagai suatu monumen kemenangan terhadap serangan musuh secara langsung tidak didukung oleh prasasti itu sendiri. Apalagi jika dikaitkan dengan jasa Pu Sindok sebagai penyelamat dan panglima perang, yang menjadikan ia dipromosikan sebagai raja. Ketika Sindok memerintahkan untuk menetapkan Watek Anjuk ladang sebagai desa Swatantra, dalam kalimat:

…………………… “sawah kakatikan iyanjukladang tutugani tanda

swatantra”, sehingga desa itu dibebaskan dari pajak, ia telah menjadi raja selama delapan tahun. Dengan kata lain jika memang terbukti sima anjuk ladang itu ada hubungannya balas budi Sindok kepada penduduk watek Anjuk Ladang, ketika masih memangku jabatan rakai Mapatih, atau rakai Halu atau Hino, prasasti manakah yang memberikan keterangan tentang kemenangan terhadap musuh dari Sriwijaya itu. Tampaknya prasasti Kinawe dari raja Wawa (928 – 929) yang berasal dari daerah Berbek tidak memberi dukungan hipotesa tersebut.

Suatu data yang tidak diragukan adalah adanya hubungan antara penetapan swatantra kepada kepala desa (Rama) di Anjuk Ladang itu, dengan sebuah bangunan suci seorang tokoh yang cukup penting yaitu : bhatara i sang hyang prasada kabaktyan i dharma samgat pu anjukladang atau samgat anjukladang. Bangunan suci itu juga disebut : sang hyang prasada kabaktyan

isri jayamarta ………………..  Sima punpunana bhatara (baris 6 dan

8) Sedang bangunan tugu kemenangan terdapat dalam kalimat : “sang hyang prasada ateherang jayastama” (14).

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa nama desa Anjukladang berkaitan dengan pejabat Watek, Rama, dan Samgat, serta bangunan suci Sri Jayamrata, barangkali sebuah Patirtan yang terletak tidak jauh dari Candi Lor sekarang. Ataukah bangunan yang disebut “sang hyang prasada kabaktyan i dharma samgat i anjukladang” itu, pada abad X tidak lain Candi Lor sekarang. Di tempat candi itu berdiri terletak desa Candirejo, disitulah pada tahun 1913, ditemukan sejumlah patung perunggu yang menggambarkan pantheon Budhisme Mahayana, dari sekte yang khas mengungkapkan tradisi kerajaan setempat. (ROD 1913: 59 gambar nomor : XII – XXIII). Penemuan arkeologis disekitar desa Candirejo tempat Candi Lor itu berdiri, membuktikan bahwa ditempat itulah pada abad X merupakan Watek Anjuk Ladang, tempat berdirinya bangunan suci “Sang Hyang Prasada Kabaktyaan i Anjukladang”, yang tertulis dalam baris 27 prasasti Candi Lor itu. Nama itu hidup terus sejak 10 abad lalu dan dalam perjalanan sejarah tetap lestari meskipun dalam ucapan yang telah berubah.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Harimintadji, dkk. Ngamjuk dan Sejarahnya, Ngnjuk :Keluarga, 1994. hlm. 56-

Masjid Agung Baitus Salam, Kabupaten Nganjuk

Masjid Agung Baitus SalamMasjid Agung Baitus Salam terletak disebelah barat Alon- alon Nganjuk. Melihat letak dan posisinya ada kemungkinan bangunan Masjid ini dibangun berdasarkan konsep kosmologi dan magis religius. Berdasarkan konsep tersebut, bangunan masjid memang selalu melengkapi bangunan kraton, terletak di dekat Alon-alon, yang pada hakekatnya adalah sesuai dengan azas “Mocopat” dari jaman prasejarah. Berdasarkan azas tersebut disekeliling alun-alun biasanya terdapat bangunan Istana, masjid, pasar dan rumah penjara. Kota Nganjuk jika dikaitkan dengan konsep tersebut justru lebih lengkap :

  • Sebelah timur Alun-alun terdapat Pendopo Kabupaten
  • Sebelah Selatan terdapat pusat pertokoan (pasar)
  • Sebelah barat terdapat masjid dan rumah penjara
  • Sebelah utara terdapat Kantor Polisi (keamanan) dan sekolahan (pusat Pendidikan)

Sesuai dengan fungsinya, masjid yang berada di pusat kota akan digunakan untuk sembahyang warga kota secara berjamaah, apakah itu sembahyang Jum’at, sembahyang lima waktu maupun sembahyang hari raya Islam lainnya. Masjid yang berfungsi demikian lazim diberi nama Masjid Agung atau Masjid Raya. Dan untuk memudahkan klasifikasi masjid di Nganjuk telah ditetapkan sebagai berikut :

  • Masjid Agung untuk masjid yang berada dikota Kabupaten.
  • Masjid Besar untuk masjid yang berada dikota Kecamatan.
  • Masjid Jammi untuk masjid yang berada ditingkat desa.

sejarah Berdirinya Masjid

Tahun 1884, berdasarkan angka tahun yang terdapat di Mimbar masjid, dapat dikatakan bahwa Masjid Agung Baitus Salam ini dibangun, dimasa pemerintahan Bupati Nganjuk I (RT. Sosrokoesoemo III), sedangkan yang menjabat  Penghulu Landrad Kabupaten Nganjuk. yaitu Raden Haji Moh. Yakub.

Data Fisik Bangunan Masjid.

Bangunan Masjid Agung yang megah ini berdiri diatas tanah seluas : 2.424 M: dan luas bangunannya : 1.124 M-

Disebelah timur bangunan terdapat 3 pintu masuk, pintu utama (paling lebar) terdapat ditengah, sedangkan disebelah kanan (selatan) dan kiri (utara) pintunya lebih kecil. Memasuki halaman depan kita segera memasuki serambi masjid yang disangga oleh tiang beton yang kokoh berjumlah 6 buah. Dibagian selatan serambi terdapat bedug besar.

Dari serambi memasuki ruang utama terdapat 5 pintu dengan motif relung yang berukuran sama. Masjid Agung ini disangga oleh 8 tiang utama. 4 tiang berbentuk persegi panjang terbuat dari beton dan 4 tiang lagi berbentuk bulat panjang yang berukuran lebih tinggi dari 4 tiang lain, karena tiang tersebut langsung menyangga atap utama yang tertinggi. Pada dinding kanan dan kiri terdapat 2 pintu dan 6 Cendela yang semuanya dengan motif relung.

Disebelah barat ruang utama terdapat Mihrab yang relatif luas, yang dikanan kirinya terdapat kamar yang dipergunakan sebagai tempat menyimpan benda/barang. yang ada kaitannya dengan kegiatan Masjid. Selain itu kamar tersebut juga digunakan untuk tempat penjaga dan petugas kebersihan masjid. Di mihrab ini terdapat sebuah mimbar yang berukir indah dengan motif daun. Mimbar yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran Jepara ini terdapat tulisan Arab pegon (candra sengkal) yang berbunyi :

1. a.Sebelah Utara (luar) : Hingkang yasa mimbar punikoKyai Haji Penghulu bagus Alhaji Mohamad Yacub. Dados Penghulu wonten ing Negara Berbek Walandi 1863.

b.Dibagian dalam : Adegipun Masjid kita Nganjuk tahun Jawi 1814, tahun Walandi 1884.

  1. a. Sebelah Timur (luas) : Tahun Jawi 1813 Dal Hijrotun Nabiyl dadosipun mimbar.

b. Dibagian dalam : Hijrotun Ghoziyatun.

  1. a. Sebelah selatan (luar) : Ngalihipun negari saking Berbek, Bupati Kanjeng Adipati Sosrokoesoemo tahun walandi 1880, tahun 28 – 3 1901 lajeng gentos putro Kanjeng Raden Mas Sosrohadi Kusumo.

b. Dibagian dalam : Ngalihipun negara Sanata Hijroti 1296 (Arab)Jawi 1888.

  1. a. Disebelah Barat (luar) : Tukang anami Mohamad Sholeh blakang Gunung Jepara.

b. Dalam : Nopember ing kuto lami Berbek.

Melalui tangga yang terdapat dipojok depan selatan kita dapat naik ke lantai dua. Lantai dua bangunan ini berbentuk “U”. disebelah timur terdapat lantai yang luas dengan dihiasi 6 cendela. Disebelah utara dan selatan masing-masing dihiasi 12 cendela.

Disebelah selatan bangunan masjid terdapat bangunan tempat wudhu, kamar mandi serta menara masjid yang cukup besar tinggi dan kokoh. Disebelah utara bangunan masjid terdapat bangunan yang dipergunakan untuk tempat Perpustakaan Islam, TPA dan Jam Iyatul Qurro serta Kantor Majelis Takmir. Masjid Baitus Salam, Disebelah baratnya terdapat tempat wudhu.

Bangunan Masjid yang cukup luas dengan bentuk atap tumpang ini tiap hari Raya Islam dan Hari Jum’at pasti dipenuhi oleh Jamaah. Begitu banyaknya jamaah, maka tiap hari Jum’at bisa terkumpul sumbangan lewat kotak amal antara Rp. 160.000.00 – Rp.200.000.00.

Sejak didirikan pada tahun 1884 mesjid ini telah mengalami beberapa kali penambahan bangunan dan pemugaran. Mula-mula yang dibangun adalah bangunan induknya (ruang utama), kamar mandi dan tempat wudhu yang terletak di kanan dan kiri bangunan utama.

Tahun 1886, dibangun serambi depan yang cukup luas dengan tiang yang kokoh serta pintu- pintu dengan motif relung.  Sejak didirikan, model atap mengingatkan kita pada bangunan punden berundak pada jaman pra sejarah dan jaman Hindu, yaitu model atas tumpeng (cucu R. Haji Moh Yacub) yang saat ini (1993) berusia 105 tahun. Ketika masjid tersebut dibangun oleh kakeknya sudah beratapkan seng dan berlantai marmer. Kesaksian ini dibenarkan oleh H. Soehoed (95 Thn) yang pada masa mudanya bertugas sebagai merbot masjid (petugas pejaga & membersikan masjid). Masjid kemudian dilengkapi dengan menara yang dibangun disebelah kanannya. Kapan mulai dibangun menara ini tidak dapat ditentukan dengan pasti, namun yang jelas pembangunannya diselesaikan oleh R. Haji Imam Syafi’i (ayah R. Ayu Imam Zamachsarie) pada tahun 1914. Secara kronologis memang sulit diungkapkan mengenai perkembangan masjid ini, karena tidak adanya sumber tertulis yang ada„ Namun berdasarkan informasi, masjid ini mula-mula beratapkan seng, kemudian diganti genting. Demikian juga saat diadakan pemugaran pada tahun 1987, terlihat oleh para pekerja bahwa ketika diadakan penggalian fondasi baru, sudah terdapat 2 fondasi lama yang berukuran lebih kecil. Ini berarti bahwa masjid ini sudah beberapa kali mengalami perubahan dan perluasan bangunan. Perluasan terakhir pembangunannya dimulai pada tanggal 7 Januari 1987, dan selesai 20 Pebruari 1993 dengan hasil & wujud seperti yang kita lihat sekarang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Nganjuk dan Sejarahnya
, (Th. 1994).  hlm. 150-154

Kesenian Sandhur, Kabupaten Nganjuk

Sejarah Timbulnya Kesenian Sandhur

Kesenian Sandhur yang kini sudah tidak begitu dikenal masyarakat luas, khususnya masyarakat Nganjuk, pernah memiliki masa lalu yang menggembirakan. Mengenai kapan dan dimana kesenian ini muncul pertama kali, tidak dapat ditentukan dengan pasti. namun yang jelas bahwa kesenian ini pernah ada dan berkembang pesat di daerah Ngluyu, Senggowar dan Gondang.

Ada yang berpendapat bahwa kesenian Sandhur berasal dari daerah Ngluyu dan sudah dikenal masyarakatnya sejak sekitar tahun 1900. Ada pula yang berpendapat, bahwa kesenian Sandhur berasal dari desa Senggowar, yaitu suatu desa yang terletak di sebelah utara desa Gondang Kulon. Berawal dari seringnya menonton kesenian ini di desa Senggowar ada beberapa pemuda Gondang Kulon berhasrat untuk membentuk kelompok kesenian yang sama di desa Gondang Kulon tempat mereka bermukim. Dalam perkembangannya kesenian ini di daerah asalnya sudah tidak berkembang lagi, dan sampai saat ini tinggal ada satu perkumpulan kesenian ini, yaitu di Desa

Gondang Kulon, Kecamatan Gondang.

Kesenian ini inti ceriteranya menggambarkan pembukaan daerah baru (babat alas), yang menurut beberapa sumber menceriterakan babat alas Sumedang Kawit (?) yang diciptakan oleh Ki Demang Mangunwijaya (?). Inti ceritera ini jika dikaitkan dengan kemungkinan daerah kelahirannya, memang lahir di daerah kawasan hutan, sehingga alur ceriteranya tidak dapat dilepaskan dari upacara selamatan membuka hutan.

Pemain Sandhur berjumlah 6 orang, terdiri dari 4 orang pemain inti yang memainkan tokoh Petak, Belong, Cawik dan Tangsil. Yang 2 orang sebagai pemain Jaran Kepang Somba dan Dawuk.

Pengrawit yang mengiringi kesenian ini berjumlah 5 orang disesuaikan dengan jumlah alat musiknya yang hanya 2 macam, yaitu terdiri dari gendang dan alat musik dari bambu besar yang berfungsi sebagai gong (Gong Bumbung), sedangkan 3 orang yang lain berfungsi sebagai panjak ore (penggerong).

Dalam tata rias kesenian ini memiliki ciri yang khusus dan terkesan rias realistik, sebab rias disini hanya berfungsi untuk mempertebal garis wajah yang sudah ada agar tampak lebih tampan dan cantik. Busana yang dipakai para pemain tidak selengkap busana para pemain. Mung Dhe dan terkesan lebih sederhana.

Misalnya :

1. Petak dan Belong :

Dua pemain ini menggambarkan 2 orang pemuda kakak beradik yang mengenakan rias tampan dan gagah, dengan busana dan hiasan irah-irahan (jamang), sumping, stagen hitam, epek timang, kain panjang dan celana panji.

  1. Cawik :

Tokoh yang memerankan wanita cantik. Busananya irah- irahan (jamang), sumpung, kalung susun, kebayak panjang, sampur, kain panjang dan stagen.

  1. Tangsil :

Tokoh ini berperan sebagai punokawan, maka pakaiannya terkesan seadanya, yaitu pakai udheng, kaos singlet, sarung batik dan celana panjang.

  1. Penari Jaranan :

Alat utama jaran kepang, dengan busana iket batik, ikat pinggang (othog), celana tiga perempat hitam terumbai.

Tata panggung kesenian Sandhur sangat sederhana sekali, sebab pada hakekatnya kesenian ini bisa dipentaskan dimana saja dan tidak memerlukan tempat khusus. Umumnya selalu dipentaskan di tempat terbuka, seperti halaman rumah, lapangan ataupun tempat terbuka lainnya. Namun beberapa hal sebagai kelengkapan pementasan mutlak harus ada, seperti meja tempat sesaji dan tempat jaran kepang biasanya ditempatkan di tengah- tengah pentas. Untuk membatasi antara pemain dan penonton diberi pembatas berupa tali yang diikatkan pada pathok di pojok-pojok tempat pentas. Di tiap sudut pentas diberi kursi untuk tempat duduk para pemain.

3.3.    Pementasan dan jalan cerita Sandhur.

Pementasan Sandhur diawali dengan gendhing pembuka, yaitu serangkaian tembang yang menggambarkan para pemain sedang menyiapkan segala keperluan pentas, seperti menyiapkan lokasi pentas, memberi tali pembatas, meletakkan meja dan sesaji, kursi, jaran kepang, rias para pemain, pembacaan do’a dan persiapan pentas lainnya. Setelah pembacaan do’a selesai,

dilanjutkan dengan dilantunkannya 2 buah gendhing Kembang Klurak dan Long Kalongke. Saat dikumandangkan 2 buah tembang ini keempat penari Petak, Belong, Cawik dan Tangsil menari bersama. Untuk selanjutnya para pemain ini memerankan tokoh sesuai dengan alur ceritanya. Pementasan diakhiri tari jaranan oleh 2 orang penari Somba dan Dawuk. Dua penari terakhir inilah ketika masih jaya-jayanya kesenian ini digunakan sebagai sarana pengobatan orang sakit. Caranya, dua penari jaran kepang ini menari mengitari

meja tempat sesaji sampai si penari mengalami/dalam keadaan in trance (Jawa = dadi). Dalam keadaan demikian 2 orang penari ini dijadikan sarana untuk mengobati orang sakit.

Sejak keberadaannya yang pertama sampai Sandhur hampir dilupakan orang. Jalan dan materi ceritanya tidak pernah berubah, atau dengan kata lain dalam kesenian ini hanya ada satu ceritera. Ceritera dimulai dengan pengembaraan Petak untuk mencari pekerjaan, penebangan hutan dan pernikahan Petak. Untuk lebih jelasnya dibawah ini akan diuraikan alur cerita secara ringkas.

Bermula dari kisah kakak beradik Petak dan Belong yang sedang bertengkar. Pertengkaran ini disebabkan memperebutkan siapa yang lebih tua usianya. Kemudian diketahui bahwa yang lebih tua usianya adalah Petak. Setelah itu Petak berkeinginan untuk mengubah nasib dengan jalan mengembara untuk mendapatkan pekerjaan. Ditengah perjalanan Petak bertemu dengan Germo dan mendapat petunjuk agar pergi ke Hutan Sumedang Kawit untuk menebang kayu-kayuan dan lahannya dapat dimanfaatkan sebagai tempat tinggal dan lahan pertanian. Disaat Petak sedang menebang kayu di hutan, muncul raksasa hutan dan menghalangi pekerjaan Petak. Selanjutnya terjadilah keributan diantara keduanya dan terjadilah dialog sebagai berikut:

Raksasa : He sapa kuwi

Petak : Aku, Petak

Raksasa : Ana parigawe apa kowe kok wani-wani ngambah papanku kene

Petak : Aku arep babat alas, banjur arep tak dadekake sawah lan karang padesan

Raksasa : Ora, ora bisa.

Petak : Amarga iki kewajibanku sing kudu tak tindakake, mula arep kepriye bae alas iki tetep tak babat.

Ternyata antara Petak dan Raksasa tidak ada yang mau mengalah maka terjadilah perkelahian. Diakhir perkelahian Raksasa berpesan kepada Petak dengan cuplikan dialognya, sebagai berikut:

Raksasa : Petak, kowe oleh babat alas kene sing arep kok dadekake sawah lan karang padesan, nanging sumurupa Petak, supaya slamet anggonmu makarya syarate kudu kok sediake sajen sewelas cacahe. Sajen sewelas cacahe mau yaiku sego wuduk wadhah ngaron, iwak pitik panggang utuh, sambel gebel, kupat lepet, jenang sengkala, karuk gringsing, degan sejodho, cunduk kembang, kembang setaman, kembang telon, kembang wangi lan beras kuning.

Petak : Iya dak sediyani apa sing dadi penjalukmu.

Setelah merasa aman dan melanjutkan menebang kayu, tiba-tiba Petak merasa sangat kelelahan sampai tertidur. Dalam tidurnya Petak mimpi berjumpa dengan wanita cantik dan saat terbangun dari tidurnya dengan perasaan tidak percaya Petak telah berhadapan dengan wanita cantik yang ada dalam mimpinya tadi. Merekapun berkenalan, ternyata wanita itu bernama Cawik dan Petak yang telah lama membujang ingin mengawininya.

Karena tidak memiliki bekal yang cukup untuk menikah

timbul niat jelek di hati Petak, yaitu mencuri kuda lurah Karangdenowo. Ulah jelek Petak ini membuat gempar rakyat Karangdenowo. Mereka mencari kuda Pak lurah yang hilang dan ternyata pencurinya adalah Petak. Petak ditangkap dan diserahkan kepada yang berwajib untuk mempertanggung- jawabkan perbuatannya.

Setelah beberapa waktu masuk penjara, Petak bebas dan kembali ditengah-tengah masyarakat. Suatu ketika Petak bertemu lagi dengan Cawik dan seperti janjinya dulu untuk menikah. Sejak saat itu Petak sadar bahwa jalan satu-satunya untuk membiayai pernikahannya adalah dengan bekerja keras. Setelah bekal dan biaya pernikahan dirasa cukup, maka pernikahan antara Petak dan Cawik berlangsung di akhir cerita ini.

.5. Pasang Surut Kesenian Sandhur.

Kesenian Sandhur yang keberadaannya tidak dapat ditentukan secara pasti kapan dan dimana lahir, memang pernah mengalami kejayaan (1947 – 1952). Kesenian yang cukup sederhana dalam pementasannya ini disamping sebagai sarana hiburan oleh masyarakat setempat, juga digunakan sarana untuk penyembuhan berbagai penyakit. Sampai akhirnya kesenian ini lebih populer sebagai alat penyembuhan daripada keseniannya itu sendiri. Akibat dari itu semua, pementasannya menjadi sewaktu-waktu dan bahkan tidak sempat meminta ijin dari yang berwajib. Padahal setiap pementasan penontonnya pasti banyak, mereka disamping mencari hiburan juga mencari obat untuk penyembuhan penyakitnya.

Hal demikian ini yang dikhawatirkan oleh aparat keamanan dapat mengganggu ketertiban umum, karena dinilai melanggar pasal 510 KUHP tentang Pelanggaran Ketertiban Umum, yang pada setiap pementasannya tidak memiliki ijin.

Demikian juga tentang praktek pengobatan yang

dilakukannya, karena tidak memiliki ijin praktek pengobatan non medis maka dilarang. Jadi disini yang dilarang bukan kesenian Sandhurnya, tetapi pementasan yang tanpa ijin itulah yang dilarang. Demikian juga praktek pengobatan tradisional pada setiap pertunjukannya, karena tidak memiliki ijin praktek pengobatan non medis maka dilarang. Karena adanya larangan itu, maka para seniman Sandhur tidak berani lagi mengadakan pementasan. Mereka merasa takut berurusan dengan aparat keamanan yang dahulu pernah menahan mereka. Kini jaman sudah berubah mereka sudah saatnya mengadakan pendekatan kepada aparat yang terkait, demikian juga kepada pihak yang berwenang untuk melaksanakan pembinaan para seniman Sandhur yang umumnya sudah berusia lanjut.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Nganjuk dan Sejarahnya
, (Th. 1994).  hlm. 222-228

Kesenian atau tari Mung Dhe, Kabupaten Nganjuk

Kesenian atau tari Mung Dhe , adalah salah satu dari berbagai kesenian khas Nganjuk yang berasal dari Kabupaten  Nganjuk. tari Mung Dhe menggambarkan gerakan perjuangan.

Sejarah kelahiran Kesenian Mung Dhe tidak dapat dilepaskan dari kejadian di Jawa Tengah pada awal abad kel9, yaitu terjadinya Perangan Diponegoro 1825 – 1830. Kegagalan perjuangan Diponegoro di Jawa Tengah mengakibatkan pengikutnya tersebar ke seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di tempat yang baru ini ada diantara mereka yang sekedar mengungsi untuk menyelamatkan diri, dan ada juga yang terus melanjutkan perjuangan walau dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang melalui dakwah keagamaan, lewat kesenian tertentu dan ada juga yang terang-terangan.

Seperti halnya kesenian Mung Dhe yang ada sekarang ini, semula diciptakan oleh sisa-sisa Prajurit Diponegoro yang menetap di Desa Termas Kecamatan Patianrowo. Kesenian ini diciptakan secara bersama-sama oleh 14 orang yang kesemuanya masih ada hubungan keluarga. Ke 14 orang itu adalah : Kasan Tarwi, Dulsalam, Kasan War, Kasan Taswut, Mat Khasim, Suto, Samido, Rakhim, Mat Ngali, Mat Ikhsan, Mat Tasrib, Baderi Mustari dan Soedjak.

Penciptaan kesenian ini dimaksudkan untuk mengumpulkan prajurit Diponegoro yang tersebar di berbagai daerah. Dengan gerakan-gerakan yang khas (menggambarkan gerakan perjuangan), yaitu latihan baris berbaris dan adegan perang, tari ini memang sarat dengan nilai perjuangan. Cara seperti ini mereka tempuh untuk mengelabuhi Belanda yang selalu mengikuti dan mengintai kemana sisa-sisa prajurit Diponegoro berada, ternyata penyamaran mereka tidak diketahui oleh Belanda. Belanda tidak mengetahui kalau para anggota kesenian Mung Dhe tersebut adalah para prajurit yang sedang berlatih baris berbaris dan latihan perang. Pimpinan prajurit itu menyamar (menutupi wajahnya) dengan memakai topeng, dengan gerakan-gerakan yang lucu sebagai penthul dan tembem. Kesenian ini kemudian keliling (mengamen) dari suatu tempat ke tempat lainnya, sehingga akhirnya menjadi tontonan rakyat yang digemari dan berkembang pesat tidak hanya di Desa Termas saja tetapi terus berkembang di daerah sekitarnya.

Seni sebagai alat komunikasi yang halus atau sebagai alat penghubung antar jiwa manusia, semua orang tentu sudah maklum. Demikian juga seni tari. Sebagai alat komunikasi seni tari menggunakan gerakan-gerakan anggota tubuh tertentu dengan penuh makna sebagai ungkapan jiwa. Sebagai salah satu alat penyampai pesan gerakan tari harus komunikatif, agar mudah diterima oleh penerima pesan atau penonton. Ungkapan gerakan tari dari awalnya hingga akhir memiliki suatu kesatuan makna dan sekaligus nama. Misalnya : Tari Merak, Tari Tani, Tari Perjuangan, Tari Pergaulan dan lain-lainnya gerakan tarinya tentu menggambarkan gerakan yang diwakilinya. Dalam mengekpresikan suatu tarian yang diwakilinya dituntut kesesuaian tema, makna serta karakter dari tarian yang dibawakannya, sehingga tuntutan kaidah suatu komposisi tari dan ciri khas dari tarian itu sendiri bisa terpenuhi.

Pemeran dan Musik Kesenian Mung Dhe.

Semula secara keseluruhan kesenian ini melibatkan 14 orang pemain dengan masing-masing peran, 2 orang prajurit, 2 orang pembawa bendera, 2 orang botoh dan 8 orang pemain musik dan pengiring. Alat musik sebagai pengiring yang digunakan :

penitir (semacam kempul dalam ukuran kecil yang berbunyi Mung),

Bendhe (semacam kempul yang berbunyi Dhe),

Jur (semacam kempul yang agak pipih yang berbunyi Jur/Gur),

Derodog (semacam tambur),

kempyang (kencer),

Timplung,

Kendang,

Suling.

Dalam perkembangan sekarang ini kesenian Mung Dhe tidak melibatkan 14 pemain, tetapi 12 pemain saja. Pengurangan 2 pemain itu disesuaikan dengan jumlah alat pengiring yang meliputi 6 macam, yaitu penitir, timplung, bendhe, jur, kempyang dan derodog. 

Tata Rias dan Busana

Tata rias muka para pemain kesenian Mung Dhe menggambarkan seorang prajurit bangsawan yang gagah, yakni hanya penambahan atau mempertebal bagian tertentu pada wajah, seperti alis mata, kumis, godhek dan jawas. Tetapi untuk peran botoh yaitu Penthul memakai topeng warna putih dan Tembem menggunakan topeng warna hitam.

Tata busana semua pemain pada dasarnya sama, yaitu berbusana seorang prajurit, sedangkan letak perbedaannya pada masing-masing peran. Warna busana banyak didominasi oleh perpaduan warna hitam, merah dan putih.

Busana asli yang berperan sebagai prajurit adalah irah- irahan merah agak tinggi, sumping, kace berwarna merah, baju putih, memakai klat bahu, keris, selendang merah, setagen hitam, epek timang, berkain kuning, jarit parang putih dan celana panji hitam. Busana sekarang memakai blangkon hitam bervariasi kuning keemasan dengan diikat udheng gilig (merah putih), kain merah, selendang merah, baju putih, memakai keris, setagen hitam, sampur merah dan sampur putih, jarit parang kuning dan celana panji hitam.

Busana asli yang berperan sebagai pembawa bendera, memakai irah-irah merah agak pendek dengan variasi kuning keemasan, sumping, kace berwarna merah, baju putih. memakai klat bahu, selempang merah, setagen hitam, epek hitam, kain kuning. jarit parang putih dan celana panjang putih. Busana sekarang sama dengan busana baru peran prajurit, bedanya tidak memakai sampur merah dan sampur putih.

Busana asli peran pengiring, memakai udheng cadhung hitam yang diikat udheng gilig merah putih, kace berwarna merah, baju putih, keris, selempang merah, setagen hitam, epek timang, kain kuning, jarit parang putih dan celana panji hitam. Busana baru sama dengan busana pembawa bendera.

Busana asli peran botoh (Penthul), memakai udheng cadhung hitam dengan diikat udheng gilig merah putih, kace merah, sampur merah dikalungkan pada leher, baju lengan panjang putih, keris, setagen hitam, epek timang, kain kuning, jarit parang putih dan celana panjang warna putih. Busana baru hampir sama dengan busana baru pembawa bendera ditambah memakai topeng warna putih dan sampur putih yang dikalungkan pada leher.

Busana asli peran botoh (Tembem), hampir sama dengan busana asli peran botoh (Penthul) bedanya topeng hitam tidak memakai keris dan celana panjangnya berwarna hitam. Busana baru peran Tembem memakai blangkon ikat kepala warna merah putih, topeng hitam, sampur hijau dikalungkan pada leher, baju lengan panjang hitam dan celana kombor hitam.

Karena kesenian ini juga menggambarkan peperangan, maka bagi mereka yang berperan kalah memakai kace hitam, sampur hijau dan topeng hitam, sedangkan pihak yang menang memakai kaca merah dan sampur putih dan topeng putih.

Gerak Kesenian Mung Dhe.

Sebagai kesenian keprajuritan kesenian ini tidak memerlukan ragam gerak yang banyak dan hanya memiliki 8 ragam gerak. Jadi walaupun dipentaskan cukup lama para pemeran hanya akan melakukan gerakan tertentu saja yang diulang-ulang. Delapan (8) ragam gerak tersebut secara ringkas tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut :

  1. Kirapan, jalan berbaris diiringi musik Mung Dhe.
  2. Jalan berpedang, jalan dengan pedang diputar-putar didepan dada, tangan kiri dipinggang (malang kerik).
  3. Maju – mundur, gerakan seperti jalan berpedang dengan gerakan maju mundur.
  4. Gontokan, adu kekuatan di tempat saling merapatkan bahu dikanan kiri dengan pedang.
  5. Perangan Lombo Rangkep, pedang ditepiskan pada tanah, saling serang lamba rangkep (lambat – cepat).
  6. Perangan rangkep, saling berhadapan adu kekuatan pedang saling serang maju mundur.
  7. Perang Berhadap, berhadapan adu pedang atas – bawah secara cepat, lalu pedang ditepiskan pada tanah diadu.
  8. Srampangan, penari saling menyerang (melempar pedang) pada kaki lawan secara bergantian dan saling menangkis.
  9. Tangkisan,  gerakan saling menyerang dan menangkis bergantian yang pertama diatas kepala dan yang kedua didepan dada. 

Upaya Melestarikan Kesenian Mung Dhe.

Sebagai salah satu aset budaya daerah jenis kesenian ini perkembangannya kurang menggembirakan. Untuk waktu yang lama kesenian ini tenggelam oleh kesenian lain, namun sejak tahun 1982 kesenian ini digali dan dikembangkan terutama di daerah asalnya, yaitu oleh SDN Garu II, Kecamatan Baron. Berawal dari SDN ini kesenian Mung Dhe kemudian mulai dikenal kembali oleh masyarakat luas di Kabupaten Nganjuk.

Pada tahun 1985 atas prakarsa Bapak Bupati Drs. IBNU SALAM dikumpulkan para tokoh seni tari di Nganjuk, disamping mendatangkan seniman dari Yogyakarta untuk mengadakan pembaharuan seperlunya dengan tanpa mengurangi keasliannya, ternyata dapat menghasilkan gerak tari yang enak untuk ditonton. Dalam rangka untuk lebih dikenal oleh masyarakat luas, kesenian ini pernah dipentaskan secara massal oleh siswa SDN Kecamatan Nganjuk dalam acara pembukaan PORSENI se Kabupaten Nganjuk. Dalam kesempatan lain kesenian ini diikutsertakan dalam festival tari tradisional di Surabaya dan mendapat penghargaan 10 besar.

Selanjutnya agar kesenian ini tidak tenggelam oleh waktu dan kesenian lain yang baru, perlu diambil langkah demi perkembangan dan kelestariannya, antara lain:

v   Menumbuhkan rasa dan sikap memiliki, turut mengembangkan dan melestarikan, kepada masyarakat terutama tokoh masyarakat, tokoh seni anak sekolah dan organisasi pemuda.

v   Mengusahakan agar kesenian Mung Dhe senantiasa ikut ditampilkan dalam setiap acara yang memerlukan hiburan, diikut sertakan lomba/festival atau acara budaya lainnya.

v   Dalam rangka menunjang kegiatan pariwisata kiranya keseniaan ini bisa ditawarkan sebagai salah satu alternatif kepada wisatawan domestik maupun asing.

v   Mementaskan kesenian Mung Dhe pada kawasan wisata, akan dapat lebih banyak mengundang wisatawan datang ke tempat tersebut. perhatian untuk memperkenalkan kesenian ini.

Dalam kesempatan demikian wisatawan dapat menikmati beberapa jenis kesenian sekaligus pada tempat yang sama, yaitu wisata alam dan wisata budaya. Kesenian Mung Dhe yang merupakan kesenian khas Nganjuk, jika lebih sering ditampilkan pada acara budaya akan dapat mendatangkan keuntungan ganda, yaitu disamping dalam upaya melestarikan kesenian tradisional, menambah semaraknya acara budaya dan juga dapat menambah penghasilan para pemainnya. Dengan bertambahnya penghasilan yang mereka dapatkan tentu akan dapat menimbulkan hasrat dan semangat untuk mengembangkan dan melestarikan kesenian ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Nganjuk dan Sejarahnya
, (Th. 1994).  hlm. 216-222

Desa Perdikan Pakuncen dan Masjid Baitur Rohman, Kabupaten Nganjuk

Desa Pekuncen, Kecamatan Patianrowo (Sekitar 6 Km arah utara Kertosono), berpenduduk 43 KK, 201 Jiwa, mempunyai keluasan wilayah 11,170 Ha, berupa sawah bonorowo 2,5 Ha, selebihnya berupa tanah tegalan dan pekarangan, seperti lazimnya kawasan tanah desa pada umumnya.

Dilihat dari jumlah penduduk, desa ini tidak memenuhi syarat sebagai desa, Menurut Peraturan Mendagri No.4 Tahun 1981. Menetapkan bahwa pembentukan desa setidak-tidaknya memiliki 500 KK atau sedikitnya memiliki 2500 Jiwa. Namun dengan berbagai pertimbangan, Pakuncen tetap dianggap sebagai desa yang sejajar dengan desa lainnya. 

Asal Mula Desa Pakuncen/Kadipaten Posono.

Tahun 1651, Nur Jalipah bersama 2 Orang saudaranya membuka lahan sebagai pemukiman seluas kurang lebih 10 Ha. Nur Jalipah seorang petani yang ulet, juga mempunyai ilmu agama Islam dan Ilmu kekebalan yang tinggi. Layaknya pemeluk agama Islam yang taat dan mampu, maka didirikanlah masjid ditempat yang baru dibuka itu. Masjid yang didirikan tersebut atap dan dindingnya terbuat dari kayu. Bangunan ini kemudian dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan siar agama Islam,  murid-muridnya banyak dari daerah lain, sehingga desa baru ini semakin ramai, karena itulah penghuni daerah baru ini semuanya pemeluk agama Islam yang taat.

Selanjutnya desa baru itu berubah menjadi pusat Pondok Pesantren, sehingga semenjak itu daerah baru ini mendapat julukan desa Kauman. Tahun 1700 M, datanglah orang utusan dari Mataram (Ngayogyokarto) dipimpin oleh RT Purwodiningrat, yang ditugasi oleh Paku Buwana I untuk mendirikan kota kepatihan yang letaknya ditepi sungai Brantas.  R.T. Purwodiningrat kemudian mengadakan pendekatan serta berunding dengan Nur Jalipah, yang akhirnya dicapai kata sepakat serta mendapat dukungan dari para santri-santrinya, Nur Jalipah sendiri, serta masyarakat sekitar. Karena dukungan dari berbagai pihak, maka berdirilah Kota kepatihan baru yang diberi nama Kadipaten Posono dan patih pertamanya RT. Purwodiningrat.

Atas jasa-jasanya Nur Jalipah dalam keberhasilan berdirinya Kadipaten Posono, serta melihat kebijaksanaan dan kepandaiannya, maka Nur Jalipah diangkat menjadi Talang Pati (Senopati) dan merangkap menjadi Demang. Saat permaisuri patih RT Purwodiningrat wafat, timbul masalah dimana jenasah permaisuri itu harus dimakamkan. Sebab yang meninggal masih kerabat dekat keraton Mataram (Ngayogyokarto). Akhirnya Paku Buwana I setuju, jenasah dikebumikan di Bumi Nur Jalipah, yang letaknya dibelakang masjid Kauman.

Karena Tanah Nur Jalipah digunakan untuk tempat makam keluarga dari Paku Buwana I, maka kemudian atas petunjuk Paku Buwana I diadakan perjanjian antara Ngayogyokarto dengan Nur Jalipah yang isinya :

  1. Tanah Nur Jalipah seluas ± 10 Ha dibebaskan dari pembayaran pajak (Desa Perdikan).
  2. Nur Jalipah diangkat menjadi Juru Kunci yang pertama untuk menjaga dan mengawasi makam keluarga RT Purwodiningrat beserta programnya yang harus dilaksanakan secara rutin dan turun temurun.
  3. Dusun Kauman diganti dengan Pakuncen, penyerahan kunci cungkup/makam pesarehan keluarga RT Purwodiningrat menjadi tanggung jawab Nur Jalipah.

Untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut, Nur Jalipah mengambil kebijaksanaan sebagai berikut :

Pakuncen hanya boleh dihuni keluarga, bahkan keluargapun bila tidak mematuhi peraturan, diusir dari bumi Pakuncen. Peraturan ini dibudayakan dan menjadi adat sampai saat ini.  Pesarehan dibagi menjadi dua pintu gerbang :

  • Gerbang 1: Makam keluarga Nur Jalipah,
  • Gerbang 2: Makam keluarga RT Purwodiningrat.

Adapun orang-orang dari desa lain seperti masyarakat Rowomarto dibenarkan dikebumikan di Pakuncen, sebab sudah ada perjanjian antara Nur Jalipah dengan rakyat Rowomarto dengan ditukar bumi, sama dengan cara yang dibuat dari keluarga Yogjakarta untuk menjadikan desa Perdikan. RT Purwodiningrat menjabat Tumenggung di Posono tidak dapat ditentukan dengan pasti berapa tahun lamanya, namun setelah isterinya wafat dan dimakamkan di Pakuncen beliau dipanggil ke Mataram (Ngayogyokarto), dan kemudian menjadi Tumenggung di Magetan.

Kedudukan Tumenggung Posono kemudian digantikan oleh RM Sosrodiningrat yang juga masih keturunan darah Mataram (Ngayogyokarto). Isterinya wafat dan dimakamkan dipemakaman Pakuncen juga lalu beliau ke Mataram (Ngayogyokarto). Sejak itu Kadipaten Posono perkembangannya tidak jelas, kemudian Ibukota Kadipaten dipindah keselatan (Kertosono sekarang). Yang menjadi Tumenggung adalah R. Wiryonegoro, merupakan pejabat Tumenggung yang terakhir di Kertosono, dan ketika beliau wafat dimakamkan di Besuk, Patianrowo, dekat Pabrik Gula Lestari.

Tiga  (3) hal  isi perjanjian Nur Jalipah dengan Kesultanan Mataram (Ngayogyokarto), oleh keturunan Nur Jalipah tetap dilaksanakan hingga sekarang, sehingga jabatan juru kunci yang merangkap sebagai Kepala Desa selalu dijabat oleh Keturunan langsung Nur Jalipah. Hal ini berlangsung sampai sat ini mulai dari:

  • Nur Jalipah,
  • Marsongko,
  • Kertosari,
  • Keromosari,
  • Martojo,
  • Keromorejo,
  • H. Nursalam,
  • Mashuri,
  • Khoiri.

Desa Pekuncen yang unik ini sampai saat ini tidak memiliki Sekdes dan perangkat desa lain, semua tugas perangkat desa dari Kepala Desa sampai modin dijabat satu orang. Keadaan seperti ini tentu aneh, namun Pemerintah Daerah menyadari keunikan desa Pekuncen ini, sehingga sampai sekarang tidak dituntut harus memiliki/melengkapi pejabat perangkat desanya.

Tahun 1990, Mashuri meninggal dunia dalam usia yang relatif muda (43 tahun), timbul kesulitan untuk mencari pengganti dari keturunan langsung Nur Jalipah. Untuk mengisi kekosongan jabatan kepala desa Pakuncen, pada tahun 1990 diadakan pemilihaan secara demokratis. Dari hasil pemilihan tersebut yang berhasil meraih suara terbanyak adalah Munandar yang bukan keturunan langsung Nur Jalipah.

Berdasarkan kesepakatan antara Kepala Desa terpilih dengan pihak keluarga Nur Jalipah ditetapkan bahwa sebagai Juru Kunci, Perawat Makam dan Masjid peninggalan Nur Jalipah tetap diserahkan kepada keturunan langsung Nur Jalipah, yaitu Khoiri (Kakak Mashuri).

Peninggalan Bersejarah.

Didesa Pakuncen bagian utara terdapat Masjid Kuno dan kompleks makam (sehingga orang disitu memberi nama masjid MAKAM), yang dibangun oleh Nur Jalipah pada pertengahan abad ke 17. Masjid kuno ini semula terbuat dari Kayu (tiang dan atap dari kayu), namun dalam perkembangannya Masjid ini telah mengalami perbaikan. Atas prakarsa Menteri Penerangan H Harmoko kemudian dilaksanakan perbaikan, atap yang semula dari kayu (sirap) kemudian di ganti genting, lantai dan penambahan serambi. Masjid kuno ini sekarang lebih dikenal dengan nama “Baitur Rohman”.

Dibelakang Masjid terdapat kompleks makam, memasuki kompleks makam Melalui pintu sebelah selatan masjid, ditengah-tengah makam terdapat sebuah bangunan berfungsi sebagai tempat menerima tamu, tempat selamatan dan membaca do’a bagi yang melaksanakan nadar. Diutara bangunan tersebut terdapat bangunan cungkup yang tertutup rapat, yang didalamnya terdapat 22 makam. Diantaranya terdapat 4 makam yang ditutup kelambu putih. Menurut data yang ada disitu terdapat makam :

  1. RA. Tumenggung Purwodiningrat, isteri Tumenggung Posono I
  2. RA. Tumenggung Sosrodiningrat, isteri Tumenggung Posono II
  3. R. Soerjati (Kusumaningrat).
  4. RA. Kusiyah (Kartodiningrat).

Diluar cungkup terdapat makam para bangsawan tinggi lainnya, antara lain RT. Koesoemaningrat, mantan Bupati Ngawi, R. Mangunredjo, Patih Kuto Lawas dan Notosari Patih Magetan. Disebelah barat cungkup utama terdapat makam Nur Jalipah. Sedangkan diluar kompleks cungkup terdapat ratusan makam penduduk desa Pakuncen dan sekitarnya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Nganjuk dan Sejarahnya, th. 1994, hlm. 142-147

Asal Nama Nganjuk

anjuk ladangMenurut cerita rakyat yang masih hidup dikalangan penduduk setempat. bahwa desa tempat didirikannya Candi Lor dahulu bernama Desa Nganjuk, yang berasal dari kata “ANJUK”. Tetapi setelah Nganjuk dipergunakan untuk nama daerah yang lebih luas, maka nama desa tersebut diubah namanya menjadi “Tanggungan”. Tanggungan berasal dari kata “Ketanggungan” (Jawa : mertanggung). Istilah ini mengandung makna, bahwa nama Nganjuk tanggung untuk digunakan sebagai nama dari desa tersebut karena sudah digunakan nama bagi daerah yang lebih luas. Oleh karena itu sudah tidak berarti lagi (tanggung atau mertanggung) desa sekecil itu disebut Nganjuk.

Mengenai arti dan makna dari kata : Anjuk Ladang, Prof Dr. J.G. de Casparis menjelaskan sebagai berikut :

Anjuk : berarti tinggi, tempat yang tinggi atau dalam arti simbolis adalah : mendapat kemenangan yang gilang gemilang. Ladang : berarti tanah atau daratan.

Dari latar belakang sejarah dapat diinterpretasikan bahwa Nganjuk dahulu diambil dari nama sebuah tempat atau desa : Anjuk Ladang. Yang karena memiliki nilai sejarah tentang kepahlawanan prajurit prajurit dibawah pimpinan Pu Sindok dapat menaklukkan bala tentara dari kerajaan Sriwijaya, maka kemudian “Nganjuk” diabadikan sebagai Nama Daerah/Wilayah yang lebih luas dan tidak hanya nama sebuah desa kecil, yakni Kabupaten Nganjuk yang sekarang ini. Nganjuk yang diambil dari kata Anjuk berarti “Kemenangan dan Kejayaan”.

Selain keterkaitan yang berlatar belakang sejarah sebagaimana telah dikemukakan diatas, hubungan kata Anjuk dengan nama : Nganjuk dapat dijelaskan dari sudut perkembangan bahasa. Perubahan kata : Anjuk menjadi kata : Nganjuk merupakan hasil proses perubahan morphologi bahasa, yang menjadi ciri khas dan struktural bahasa Jawa. Perubahan kata dalam bahasa Jawa ini terjadi karena :

  1. Gejala usia tua (waktu) ;
  2. Gejala informalisasi ;

disamping adanya kebiasaan menambah konsonen sengau “NG” (nasalering/Belanda) pada lingga kata yang diawali dengan suara Vokal. Nada “NG” menunjukkan : Tempat. Contoh :

  1. Aliman menjadi Ngaliman
  2. Amarta menjadi Ngamarta
  3. Asem menjadi Ngasem
  4. Astina menjadi Ngastina
  5. A w i menjadi Ngawi
  6. Ujung menjadi Ngujung
  7. Omben menjadi Ngomben

Dengan demikian jelas kiranya bahwa Nganjuk yang berasal dari kata Anjuk berarti suatu tempat : Kemenangan dan Kejayaan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Nganjuk dan Sejarah,th, 1994, hlm. 67-69