Legenda Telaga Ngebel, Kabupaten ponorogo

Dahulu kala waktu Ki Ageng Mangir merantau ke Jawa Timur sampai di Daerah Kabupaten Ngrowo yang akhirnya menjadi Tulungagung sedang Istrinya bernama Roro Kijang yang ikut serta merantau, pada hari waktu Roro Kijang hendak makan sirih, dicarinya pisau untuk membelah pinang namun tak dapat menemukan, akhirnya minta pisau kepada Suaminya oleh Suaminya diberi Pisau Pusaka, Seking dengan berpesan kepada Istrinya :

– Agar lekas dikembalikan

– Jangan sekali pisau itu ditaruh dipangkuannya.

Pisau Pusaka Seking diterima dan terus dipergunakan untuk membelah pinang, sambil makan sirih ia duduk – duduk, dengan enak ia menikrnati rasa daun sirih dan Pinangnya.

Kemudian lupa pesan Suaminya dan pisau pusaka itu ditaruh diatas pangkuannya, tetapi apa yang teijadi ia amat terkejut dan heran karena pisau diatas pangkuannya seketika itu hilang musnah dicari kesana kemari tidak ada.

Dengan ratap dan tangis iamenceritakan apa yang terjadi dan yang telah dialami kepada Ki Ageng Mangir. Suaminya menerima kejadian itu dengan sabar hati, karena hal itu sudah menjadi kehendak Tuhan dan untuk menebus kesalahannya ini Roro Kijang harus bertapa di tengah – tengah Rawa.

Roro Kijang menerima segala kesalahan yang dilimpahkan kepadanya dan dengan rasa sedih hati ia melaksanakan perintah Suaminya bertapa di tengah Rawa sedang Ki Ageng Mangir lalu kembali bertapa di kaki Gunung Wilis sebelah barat.

Diceritakan bahwa Roro Kijang perutnya makin hari semakin bertambah besar seperti orang bunting, tepatnya waktu itu ia melahirkan tetapi apa yang teijadi, ia tidak melahirkan seorang anak manusia melainkan seekor

Jlar sekalipun ular tetapi tidak sembarang ular ia ular yang Ajalb kulitnya jercahaya berkilauan seperti emas kepalanya seperti Mahkota.

Roro Kijang terkejut dan sangat takut serta merasa malu untung tak ada rang mengetahuinya. Roro Kijang lalu mengambil sebuah Kelemting yang libawanya lalu dipasang pada leher si Ular kemudian di tutup dengan empayan setelah itu Roro Kijang pindah bertapa dilain tempat.

Bayi Ular semakin lama semain besar sehingga tempayan tempat ia erkurung makin lama makin sesak lama kelamaan tempayannya pecah dan alar dapat keluar.

Diluar ular makin lama bertambah semakin besar dan kuat kulitnya kena sinar Matahari semakin terang dan bercahaya gemerlapan.

Ia menjalar kesana kemari sambil menggerak – gerakan kepalanya sehingga kelenting dilehemya berbunyi : kelinting – kelinting, karena ia nerasa hidup sendirian maka timbulah pertanyaan dalam hatinya, siapakah yang melahirkan mereka / dirinya dan siapakah kedua Orang tuanya. Akhirnta timbulah niat untuk mencari kedua Orang tuanya dan dilihatnya iari jauh ada seorang sedang bertapa. Yang akhimya orang pertapa tadi idalah ibunya yaitu Roro Kijang, yang selanjutnya memberi nama kepada maknya dengan nama Baru Klinting.

Atas pesan dan saran Ibunya yaitu Roro Kijang. Baru Klinting disuruh nenyusul / mencari orang tuanya yang sedang bertapa digunung Wilis, Baru klinting lalu beijalan menuju ke gunung Wilis karena yang dituju jauh dan »udah payah lalu berhenti. Bekas tempat istirahat akhimya menjadi desa fang bemama Desa Baru Klinting masuk Kabupaten Tulungagung. Ki Ageng Vlangir setelah bertapa di Gunung Wilis ia berubah nama menjadi Ajar aolokantoro, ketika ia sedang bertapa datanglah Baru Klinting dihadapan- lya.

sebagai seorang pertapa yang telah tinggi Ilmunya, ia telah dapat mengetahui ipa yang telah terjadi, terutama rente tan dengan peristiwa hilangnya pisau 3usaka Seking dahulu.

Sedatangan Baru Klinting mengutarakan maksudnya sesuai petunjuk bunya Roro Kijang bahwa yang pertapa di sini adalah Ayahnya dan Ajar

Solokantoro mau mengaku sebagai ayahnya, tetapi sebelumnya harus menurut perintahnya dahulu yaitu : Lingkarilah Gunung Wilis ini kalau dari ujungekor sampai kepalamu cukup panjang untuk melingkari Gunung Wilis ini rnaka akan diterima sebagai anaknya.

Dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa maka Baru Klinting dapat melingkari kaki Gunung, ekor didepan sang pertapa dan kepala sampai menyentuh ekor tetapi tinggal sepanjang jari saja. Untuk mencapai Ekomya maka dengan seijinnya Baru Klinting mengeluarkan lidahnya dengan sepanjang-pan- jangnya sampai ke Ujung ekor, setelah lidah Baru Klinting dijulurkan sampai ke ekor maka pertapa lalu mencabut pisau, lidah Baru Klinting lalu di potong seketika itu juga putuslah lidah Baru Klinting yang sebelah dan lidah yang sebelah masih menyambung ekor sedang baru kliting sendiri kesakitan. Dengan menahan sakit maka marahlah Baru Klinting ditariknya ekor dan mengagah mulutnya akan menelan sang Ayah, tetapi setelah diberi penger- tian bahwa apabila ingin menjadi manusia agar jangan mempunyai lidah bercabang duajadi harus dip’otong yang satunya, atas saran sang Ayah maka ditelanlah potongan lidah yang satu tetapi harus dikeluarkan lagi dan jangan dikeluarkan melalui mulut.

Lidah dikeluarkan melalui telinga tetapi keluarlah sebuah pusaka yang disebut Tobak Baru Klinting yang kelak sangat bermanfaat untuk Baru Klinting.

Atas petunjuk Sang Ayah maka Baru Klinting meneruskan bertapa sampai berpuluh tahun didalam hutan. Lama-kelamaan badannya tertim- bun oleh daun daun dan tanah sehingga sebagian badan yang tidak terpen- dam kelihatan seperti batang kayu, bagian kepala saja yang dapat kelihatan terang muncul disuatu desa yang dinamakan desa “Sirah Naga” termasuk Kecamatan Millir Kabupaten Madiun.

Pada suatu hari didesa Ngebel dilereng Gunung Wilis akan mengadakan Bersih desa pelaksanaannya dipusatkan dirumah Kepala Desa segala biaya dipikul oleh Rakyat dalam desa untuk menghemat biaya semua warga desa laki-laki supaya masuk hutan mencari binatang buruan baik Kijang, Rusa ataupun yang lainnya untuk lauk pauk dalam pesta Rakyat nanti.

Pada pagi harinya orang desa yang laki-laki berduyun-duyun masuk n mereka membawa parang, kapak sabit dan, keranjang dan tali, mya nasib sedang sial padanya hampir seharian tak seekorpun dapat 1 buruannya, semua lelah dan payah, oleh Pimpinannya diperintahkan lk berhenti di tempat masing-masing sambil menunggu kalau ada tang yang terlihat diantara sekian banyak ada seorang yang sambil uk mengayunkan kapaknya ke batang kayu, anehnya kayu itu men- arkan darah, ia amat terkejut sambil berteriak. Karena batang kayu itu geluarkan darah maka yang lainpun mencoba mengiris batang kayu tapi . keluar darahnya.

Semua riang gembira barang yang disangka kayu itu dipotong-potong mjangbadannya. Merekaberamai-ramai membawa pulanghasilburuan- dan dimasak bersama-sama dirumah Kepala Desa. Sehari semalam di dopo Kepala Desa diadakan keramaian, semua Rakyat didesa laki-laki :mpuan, tua muda datang melihatnya Orang tua didalam Rum ah dan k-anak di halaman rumah. Sewaktu anak-anak sedang bermain di luar irnan rumah, datanglah seorang anak compang-camping Pakaiannya dan yak luka di badannya, dimana anak itu datang mendekati anak-anak a itu datang menjauh.

eka merasa muak melihat anak itu datang merasa dihina oleh kawan- rannya, maka ia lalu pergi ke Dapur minta nasi, semua orang benci ihatnya dan tak ada seorangpun mau memberi nasi. Kemudian datang rang nenek tua yang memberi nasi sebungkus penuh dengan pindang ing sate nasi diterima terus saja dimakan sebentar saja habis. Perutnya yang dan badannya menjadi kuat, aneh bin Ajaib semua luka-luka di lannya hilang sama sekali dan bentuk badannya menjadi baik seperti Lk-anak di desa itu.

Ia mendekati nenek tua itu yang telah memberi nasi tadi dan berpcsan iada nenek tadi apabila ada apa-apa agar nenek tadi membawa entong idok nasi) dan lekas saja naik lesung, anak itu lalu meninggalkan nenek i dan berkumpul dengan anak-anak desa itu.

Dengan membawa sebuah lidi sapu ia masuk kelingkaran tempat anak- ik bermain seraya menantang kepada anak-anak desa itu, bahwa siapa yang bisa mencabut lidi yang baru ditancapkan ditanah akan diberi hadiah sebungkus nasi penuh dengan daging. Semua anak datang mencobanya tetapi tak berhasil malahan orang tuapun datang ingin mencobanya men­cabut lidi tetapi juga tidak adayang berhasil. Dengan berpesan kepada orang desa itu bahwa orang kikir itu tidak baik dan tidak mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan jangan berlagak sombong dan suka menghina orang lain. Akhirnya anak kecil itu dengan perlahan-lahan mencabut lidi sapu yang tertancap di tadi dengan mudahnya seolah-olah timbul sebuah mata air yang besar dan menggenangi halaman dan pekarangan kepala desa.

Oleh karena derasnya air maka anak-anak dan Orang tua jatuh tenggelam semua orang mati dan segala Bangunan roboh terapung- apung sebentar saja desa itu tenggelam dan menjadi Danau yang selanjutnya dinamakan ” danau Ngebel “.

Hanya dua Orang yang selamat yaitu nenek tua dan anak kecil tadi dimana setelah mengetahui ada air datang ia langsung naik lesung sebagai perahunya dan Entong sebagai alat pendayung. Nenek tua bersama anak kecil tadi menjalankan perahunya ketepi danau lalu mendarat. Tempat mendarat ini ditepi pasar Ngebel nenek tua tadi tinggal dan menetap disitu sampai ajalnya dan dimakamkan ditengah-tengah Pasar Ngebel. Akhirnya nenek tua itu disebut “Nyai Latung” dan telaga tadi disebut dengan sebutan ” Telaga Ngebel

Diceritakan bahwa Baru Minting yang sedang berta pa dalam hutan karena perbuatan penduduk Ngebel maka badannya telah hancur tinggal bagian Kepalanya saja. Kepalanya menjadi batu terletak di Desa sebelah Barat dari Desa Ngebel. Tempat kepala ini akhirnya dinamakan Desa “Sirah Naga”. Dengan takdir Illahi Baru Klinting setelah hancur badannya menjelma menjadi seorang anak kecil dan disebut anak bajang dan si Bajang inilah yang membuat permainan lidi sapu tadi. Setelah si Bajang berpisah dengan nenek tua lalu ia mencari Orang tuanya ditinggalkannya Danau Ngebel, lalu pergi ke Gunung-gunung mencari tempat Orang tuanya bertapa. Setelah bertemu lalu menghadap Orang tuanya (Ayahnya) sambil menyampaikan bahwa perintah Ayahnya telah dilaksanakan dengan baik.

Sang Ayah akhimya mengakui bahwa ia anaknya dan diberi nama “Joko Baru” dan diberinya sebuah Pusaka Tombak bemama “Tombak Baru Kuping” Joko Bam dengan rasa ham bersujud dan menerima sebuah pusaka dari Ayahnya. Setelah menerima Pusaka Joko Baru diberi nasehat- nasehat dan disuruh pergi ke arah timur Gunung Wilis dan jangan berhenti kalau belum sampai ke sebuah Rawayang luas dan Ayahnya berpesan bahwa disitulah tempat Tumpah darah Joko Baru. Setelah sampai ditempat itu agar nanti Joko Baru membangun tanah kelahirannya, sebab dengan pusaka ini nanti Joko Bam akan menjadi Orang Besar dan setelah itu dicarilah Ibunya dan dipeliharalah bersamamu dengan baik.

Setelah cukup pesan Ayahnya Joko Bam bersujud dan mohon diri untuk melaksanakan perintah Ayahnya. Joko Bam tems pergi kearah timur Gunung Wilis setelah berjalan berhari-hari sampailah di tanah Ngrowo dan bertemu dengan ibunya serta diterima dengan senang hati.

Akhirnya pusaka Bam Kuping menjadi Pusaka Wasiat Kabupaten Bonorowo yang ahimya pindah ke utara menjadi Kabupaten Tulungagung.

Demikian cerita singkat/Legenda Telaga Ngebel mudah-mudahan men­jadi obyek Wisata yang baik.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Legenda Telaga Ngebel; Kabupaten Dati II Ponorogo, Madiun, Cabang Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur di Madiun , th.1995, hlm. 1-6

Legenda Pusaka Gong Kyai Pradah, Kabupaten Blitar

Sejarah Mengenai Upacara Tradisional Siraman Gong Kyai Pradah / Pusaka Gong Kyai Pradah Di Kel. Kalipang Kec. Sutojayan Lodoyo Blitar

Tersebutlah dalam kisah, antara tahun 1704 – 1719 Masehi di Surakarta bertahtalah seorang Raja bemama SRI SUSUHUN AM PAKU BUWONO I. Raja ini mempunyai saudara tua yang lahir dari istri ampeyan (bukan Permaisuri) bernama PANGERAN PRABU.

Pada saat penobatan SRI SUSUHUNAN PAKU BUWONO I sebagai Raja, hati PANGERAN PRABU sangat kecewa karena sebagai saudara tua PANGERAN PRABU tidak dinobatkan sebagai Raja di Surakarta sehingga timbullah keinginannya untuk membunuh SRI SUSUHUNAN PAKU BUWOONO I

Namun akhirnya keinginun PANGERAN PRABU tersebut tercium oleh SRI SUSUHUNAN PAKU BUWONO I dan sebagai hukumannya PANGERAN PRABU diperintahkan untuk membuka hutan di daerah Lodoyo yang pada saat itu merupakan hutan yang sangat lebat yang dihuni oleh binatang – binatang buas serta hutan tersebut dianggap sebagai tempat yang sangat angker dimana banyak rokh – rokh jahat berkeliaran disana.

Hukuman yang diberikan oleh Raja SRI SUSUHUNAN PAKU BUWONO I kepada PANGERAN PRABU itu sebenarnya ialah agar PANGERAN PRABU menemui ajalnya di tempat hukuman karena dimakan oleh binatang – binatang buas atau sebab – sebab lain yang bisa terjadi di hutan yang masih liar tersebut PANGERAN PRABU mengakui akan kesalahannya serta bersedia melaksanakan hukuman yang diberikan oleh Raja yaitu membuka hutan di daerah Lodoyo.

Keberangkatannya diikuti oleh istrinya yaitu Putri WANDANSARI serta abdi kesayangannya bemama KI AMAT TARIMAN dengan membawa Pusaka berupa bende yang disebut Kyai Becak. Pusaka tersebut akan digunakan untuk tumbal hutan Lodoyo yang dianggap angker serta banyak dihuni oleh roh – roh jahat.

Menurut beberapa cerita bahwa bende Kyai Becak pernah digunakan oleh Demang Bocor untuk memadam- kan pemberontakan KI AGENG MANGIR seorang sakti yang tidak setia kepada Raja.

PANGERAN PRABU beserta pengikutnya berangkat dari Surakarta menuju kearah timur. Selang beberapa bulan mereka sampai di daerah Lodoyo.

Pertama – tama mereka datang di rumah seorang janda bemama NYI PARTASUTA di hutan Ngekul.

PANGERAN PRABU yang masih merasakan penderitaan dan kesedihan itu tidak lama tinggal di rumah janda NYI PARTASUTA dan ingin bertapa di hutan Pakel ( Wilayah Lodoyo bagian barat) dan untuk itu Pusaka Kyai Becak dititipkan kepada NYI PARTASUTA dengan pesan agar:

  1. Setiap tanggal 1 Syawal (bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri ) dan setiap tanggal 12 Rabiulawal ( ber­tepatan dengan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW) Pusaka tersebut harus dimandikan dengan air bunga setaman.
  2. Air bekas memandikan Pusaka ter­sebut dapat digunakan menyembuhkan penyakit serta dapat menentram kan hati bagi siapa yang mau meminumnya.

 

Pada suatu waktu KI AMAT TARIMAN sangat kebingungan karena terpisah dengan PANGERAN PRABU, sehingga akhirnya KI AMAT TARIMAN ingin mencoba membunyikan Gong Kyai Becak sebanyak tujuh kali dengan maksud agar apabila PANGERAN PRABU Mendengar bunyi bende / Gong tersebut tentu akan mencari kearah sumber suara itu.

Tetapi yang datang ternyata bukan PANGERAN PRABU seperti yang diharapkan namun beberapa ekor harimau besar. Anehnya harimau – harimau itu tidak mengganggu kepada KI AMAT TARIMAN bahkan memberikan petunjuk dimana PANGERAN PRABU berada sehingga Kyai Becak juga disebut Kyai Macan atau Kyai Pradah.

Di pesanggrahan hutan Pakel hati PANGERAN PRABU tetap tidak dapat tenang sehingga PANGERAN PRABU akan meninggalkan tempat itu namun pakaiannya tetap ditinggalkan di Padepokan hutan Pakel dan sampai sekarang tempat itu masih dikeramatkan oleh penduduk setempat dan sekitarnya.

Dari Pesanggrahan Pakel PANGERAN PRABU menuju kearah barat namun tidak lama berselang mereka bertemu dengan para prajurit – prajurit utusan dari Kerajaan Surakarta yang akhimya timbul perselisihan dan terjadilah peperangan yang di menangkan oleh PANGERAN PRABU. Setelah keadaan dianggap aman PANGERAN PRABU masih menunggu di bukit Gelung kemungkinan masih ada perajurit Surakarta yang datang kembali.

Setelah dirasa sudah betul – betul aman PANGERAN PRABU melanjutkan perjalanannya menuju kearah barat yaitu kehutan Keluk yang sekarang di sebut Desa Ngrejo. Di tempat ini PANGERAN PRABU memangkas rambutnya  dan ditanam bersama – sama dengan mahkota kebangsawanannya. Tem­pat penanaman itu sampai sekarang masih dikeramatkan oleh penduduk setempat dan sekitarnya.

PANGERAN PRABU melanjutkan perjalannya menuju hutan Dawuhan. Di tempat itu PANGERAN PRABU membuka ladang pertanian dengan menanami padi Gaga. Namun karena tanahnya pusa sehingga tanaman padi Gaga tersebut tidak dapat dipanen dan akhirnya tempat itu diberi nama Gagawurung.

Dari Gagawurung PANGERAN PRABU melanjutkan perjalanan menuju kearah timur dan sampailah mereka di hutan Darungan. Di tempat ini istrinya melahirkan seorang putra namun putra tersebut tidak berumur panjang karena meninggal dunia dan dimakamkan di gunung Pandan disebelah utara gunung bebek.

Perjalanan PANGERAN PRABU dilanjutkan lagi menuju kearah timur melewati Jegu dan sampailah di hutan Kedungwungu. Beberapa bulan di tem­pat ini NY I WANDANSARI akhimya mengalami hamil tua. Oleh PANGERAN PRABU, NYI WAN­DANSARI diajak naik ke gunung di Kaulon dan disinilah NYI WANDAN­SARI melahirkan putra kembar namun putra kembar tersebut juga tidak ber umur panjang dan meninggal dunia.

Semua itu karena tidak adanya piranti atau alat yang dapat digunakan untuk membantu dalam melahirkan anaknya. Sampai sekarang gunung tersebut di kenal dengan nama gunung Peranti.Sampai disini putuslah kisah PANGERAN PRABU dan tidak diketahui bagaimana kelanjutannya.

Kembali kepada janda NYI PAR­TASUTA dimana sepeninggal PANGERAN PRABU selalu melak- sanakan segala yang pernah dipesankan oleh PANGERAN PRABU kepadanya tentang Pusaka Kyai Becak. Setelah NYI PARTASUTA meninggal dunia, Pusaka Kyai Becak diserahkan kepada KI REDIBOYO di Ngekul.

Dari KI REDIBOYO, pusaka Kyai Becak diturunkan kepada KI DALANG REDIGUNO di Kepek. Dari KI DALANG REDIGUNO Pusaka Kyai Becak diturunkan kepada KYAI IMAM SAMPURNA.

Pada suatu ketika, karena KYAI IMAM SAMPURNA dipanggil ke istana Surakarta, maka Pusaka Kyai Becak atau Kyai Pradah diserahkan kepada adiknya bemama KYAI IMAM SECO yang berdiam di Sukoanyar (sekarang disebut Desa Sukorejo), yang pada waktu itu menjabat sebagai wakil Pengulu di Blitar.

Pada tahun 1793 KYAI IMAM SECO meninggal dunia dan Kyai Pradah dirawat dan dipelihara oleh RadenRONGGOKERTAREJO dan ditempatkan di Desa Kalipang Lodoyo sampai sekarang. (pada waktu itu Sukoanyar masih berawa – rawa).

Bentuk Kyai Pradah berupa Gong (kempul) laras lima yang dahulu dibalut/ ditutup dengan sutera Pelangi / Cinde dan disamping itu masih ada juga beberapa wayang krucil, kecer dan beberapa benda lainnya.

Sampai sekarang pesan PANGE RAN PRABU untuk memelihara Pusaka Kyai Pradah tetap dilaksanakan dengan baik serta menjadi suatu Upacara Adat / Tradisional Siraman Pusaka Kyai Pradah setiap tanggal 1 Syawal dan setiap tgl. 12 Rabiulawal dan Upacara yang terakhir ini biasanya dikunjungi oleh puluhan ribu manusia baik dari dalam maupun luar daerah. Demikian sejarah ringkas Pusaka Kyai Pradah di Lodoyo yang dikutip dari ceritera Babat Pusaka Kyai Pradah di Lodoyo menurut Serat Babat Tanah Jawi. 

Upacara Tradisional Siraman Gong Kyai Pradah di Kabupaten Dati II Blitar Jawa Timur, Madiun, Cabang Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Daerah T1ngkat I Jawa Timur di Madiun, 1995, hlm. 1-5

Upacara Siraman Gong Kyai Pradah (2), Kabupaten Blitar

PENYELENGGARAAN

  1. Setiap tanggal 1 Syawal (bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri ) dan setiap tanggal 12 Rabiulawal ( ber­tepatan dengan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW) Pusaka tersebut harus dimandikan dengan air bunga setaman. 
  2. Berlokasi di Kelurahan Kalipang Kecamatan Suto jayan Lodoyo Kabupaten Blitar. 
  3. Air bekas memandikan Pusaka ter­sebut dapat digunakan menyembuh- kan penyakit serta dapat menentram kan hati bagi siapa yang mau memi numnya.

UPACARA YTRADISIONAL SIRAMAN GONG KYAI PRADAH

MAKSUD DAN TUJUAN

Disamping untuk memandikan / membersihkan Pusaka GONG Kyai Pradah juga dimaksud untuk memohon berkah agar masyarakat mendapatkan ke selamatan dan rejeki serta ferhindar dari marabahaya.

SUSUNAN ACARA

ACARA POKOK

  •   Kebersihan masal;
  •   Malam tirakatan;
  •    Pembuatan sesaji;
  •   Penanaman Kepala Kambing di Petilasan;
  •    Serah terima Sesaji di Sanggar;

Siraman Pusaka Kyai Pradah.

ACARA HIBURAN

  • Pasar malam;
  • Langen Beksan di Pendopo Pembantu Bupati;
  • Wayang Kulit semalam;

Dari berbagai acara yang mempunyai makna tersebut masih di lakukan setiap penyelenggaraan Penyiraman Pusaka GONG Kyai Pradah, seperti:

  • Kebersihan masal dengan tujuan agar suasana lingkungan masyarakat kelihatan asri dan bersih.
  • Malam tirakatan yang dilaksanakan oleh Masyarakat khususnya Kelurahan Kalipang umumnya masyarakat Kecamatan Sutojayan dengan membaca puji – pujian, tahlil, do’a – do’a, dengan maksud agar terkabul cita – citanya dalam penyelenggaraan upacara penyiraman pusaka GONG Kyai Pradah.
  • Pembuatan sesaji. Pembuatan sesaji dilakukan di tempatnya juru kunci. Sedang Wujud sesaji yang ada terdiri dari:
  1.           Pisang Raja 2 ( dua) sisir;
  2.           Buceng;
  3.           Jenang merah;
  4.           Jenang sengkolo;
  5.           Bunga setaman;
  6.           WaluhGodog;
  7.           Kepala Kambing dan Had limpa.

Penanaman Kepala Kambing. Penanaman Kepala Kambing ini dibarengi dengan Pemberangkatan sesaji dari Sanggar ke tempat petilasan munculnya Pusaka GONG Kyai Pradah, di Desa Kedung Bunder di Dukuh Dadapan Kec. Sutojayan dengan diiringi Prajurit dan Putri – putri yang telah dibentuk oleh Panitia, dengan memakai pakaian Kejawen. Acara ini dimuali Jam 7.00 sampai selesai.

  • Serah terima sesaji. Serah terima sesaji ini dilakukan oleh Juru kunci kepada Anggota Muspika bertempat di Sanggar yang telah tersedia.
  • Acara Siraman / Pemandian Pusaka Kyai Pradah. 

Acara siraman ini merupakan acara Pokok yang dilaksanakan di alon – alon Lodoyo dengan susunan acara sebagai berikut:

  1. Semua Muspika menuju ke Sanggar tempat disemayamkan pusaka GONG Kyai Pradah.
  2. Mengiring Pusaka ke tempat Peman­dian Pusaka GONG Kyai Pradah.
  3. Bupati / Pejabat lain yang mewakili menuju ke tempat Pemandian / ke menara pemandian.
  4. Pembacaan sejarah oleh petugas yang di tunjuk.
  5. Penabuhan Pusaka GONG Kyai Pradah oleh Bupati atau yang mewakili.
  6. Pembungkusan Pusaka GONG Kyai Pradah.
  7. Pemberangkatan Pusaka menuju ke tempat persemayaman terakhir / ke Sanggar.
  8. Selamatan ke Pendopo Kawedanan.
  9. Hiburan langen beksan.
  10. Sedang untuk malam harinya diadakan pasar malam dan Wayang kulit semalam.
  11. Penyiraman Pusaka GONG Kyai Pradah yang dilakukan oleh Bupati / pejabat lain yang mewakili. 

Alat yang diperlukan dalam penyiraman Pusaka GONG Kyai Pradah:

– Kembang setaman dan air sebanyak 7 tempayan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional Siraman Gong Kyai Pradah di Kabupaten Dati II Blitar Jawa Timur, Madiun, Cabang Dinas Pariwisata Daerah Propinsi Daerah T1ngkat I Jawa Timur di Madiun, 1995, hlm. 1-5

Jenis Bentuk Instrumen Gamelan

Bila ditinjau dari segi bentuknya, pada dasarnya gamelan dapat dikelompokkan kedalam 2 golongan, yaitu : Gamelan Pencon dan Gamelan Ricikan atau Wilahan. Kendatipun keduanyadibuat dengan teknik tempa, tetapi karena bentuknya yang berbeda, maka proses pembuatannyapun sedikit berbeda. Sebelum melanjutkan tinjauan tentang proses pembuatan gamelan secara terperinci, Iciranya perlu pula terlebih dahulu mengenal nama-nama bagian dari gamelan baik gamelan Ricikan maupun gamelan Pencon. Hal ini sangat penting artinya karena proses pembuatan gamelan pada prinsipnya merupakan rangkaian pentahapan kerja yang tiap-tiap tahapan kerja bertujuan membentuk bagian-bagian dari gamelan tersebut. 

GAMELAN PENCON

GONG001Yang dimaksud dengan gamelan pencon adalah suatu jenis gamelan yang mempunyai bagian khusus yang disebut pencu, yaitu merupakan tempat pukulan pada saat gamelan tersebut dibunyikan. Jenis gamelan yang termasuk kelompok gamelan pencon, meliputi: Bonang, Kenong, Ketuk, Kempul dan Gong Besar. Jenis Bonang, Kenong maupun Ketuk, Kempul dan Gong Besar. Jenis Bonang, Kenong maupun Ketuk, bentuknya sama; perbedaanya terletak pada ukurannya. Ukuran Kenong jauh lebih besar bila dibandingkan dengan Bonang ataupun Ketuk. Bahan yang dipergunakan untuk membuat Kenong hampir sama dengan bahan yang dipergunakan untuk membuat kempul. Sedangkan Bonang dan Ketuk baik bahan bentuk maupun ukurannya tidak jauh berbeda. Kempul dan Gong mempunyai bentuk yang sama; perbedaannya terletak pada ukurannya , karena bahan yang dipergunakannyapun berbeda pula. Gong-Totogan termasuk gamelan yang memiliki ukuran paling besar. Untuk jenis kempul, ukurannya berbeda-beda; Kempul barang dan Kempul manis ukurannya sama, kempul enem sedikit lebih besar bila dibandingkan dengan kempul barang atau kempul manis. Sedangkan Kempul dhadha dan Kempul Suwukan besarnya hampir sama, sedikit lebih besar bila dibandingkan dengan jenis Kempul Enem.

BONANG001Perbedaan bentuk gamelan pencon disamping mempengaruhi banyaknya bahnan yang dipergunakan, juga berpengaruh terhadap jumlah tenaga kerja yang diperlukan dan lamanya waktu memprosesnya. Untuk jenis Bonang dan Ketuk, melibatkan tenaga pande sekitar 4 hingga 5 orang dan tenaga pengikir antara 2 hingga 3 orang. Untuk jenis Kenong dan Kempul, diperlukan tenaga pande antara 6 hingga 7 orang dan tenaga pengikir antara 2 hingga 3 orang. Sedangkan untuk jenis Gong-Totogan diperlukan tenaga pande antara 12 hingga 14 orang dan tenaga pengikir antara 3 hingga 4 orang. Waktu pengerjaannyapun berbeda pula. Untuk jenis Bonang atau Ketuk dalam satu hari dapat diproduksi sebanyak 2 hingga 3 buah. Untuk jenis Kenong ataupun Kempul dalam satu hari dapat dihasilkan 1 buah. Sedangkan untuk Gong-Totogan yang berukuran garis tengah sekitar 77 Cm dapat selesai dikerjakan dalam satu hari.

Tetapi yang berukuran garis tengah diatas 80 Cm, kadang-kadang harus dikerjakan hingga 2 hari. Hasil produksi gamelan jenis pencon yang dihasilkan oleh pande gamelan di daerah Kidal, sedikit berbeda dengan hasil produksi pande gamelan dari daerah Bekonang atau Jatiteken Kabupaten Sukoharjo. Gamelan pencon jenis Kenong atau Kempul yang diproduksi di Kidal pada umumnya tidak diberi tikel (cekungan kecil yang melingkari pencu gamelan). Sedangkan gamelan pencon hasil Produksi pande gamelan dari daerah Sukoharjo pada umunnya dilengkapi dengan tikel. Oleh karena itu banyak pande gamelan dari daerah Kidal tidak memiliki alat untuk membuat tikel yang biasa disebut Bubutan. Perbedaan lain terletak pada bentuk bahunya. Bentuk bahu gamelan yang dibuat di Kidal relatif lebih melengkung bila dibandingkan dengan bahu gamelan yang

GAMELAN RICIKAN ATAU WILAHAN 

gamelan001Jenis gamelan yang tergolong gamelan Ricikan adalah; Gender, Slentem, Demung, Saron,, dan Peking. Bentuk dasar dari gamelan Ricikan adalah empat persegi panjang. Dalam kenyataannya bentuk dasar tersebut dikembangkan bagian atasnya, sehingga dikenal bentuk ‘sigar penjalin’ dan bentuk ‘blimbingan’. Perkembangan bentuk tersebut sebenarnya tidak merubah warna suara yang dihasilkannya; semata-mata bertujuan untuk mempercantik bentuk. Bentuk sigar penjalin biasanya dipakai untuk Slentem, Demung, Saron dan Peking. Sedangkan untuk gender, pada umumnya memakai bentuk Blimbingan. 

Pemberian nama ‘sigar penjalin’ didasarkan pada keadaan bentuknya yang mirip dengan belahan rotan (sigar = belah atau pecah, dan penjalin = rotan). Nama ‘blimbingan’ didasarkan pula pada keadaan bentuknya, khususnya bentuk wilahan tersebut memiliki sudut-sudut yang mirip dengan buah blimbing. Ditinjau dari cara pengerjaannya, wilahan bentuk blimbingan lebih sukar mengerjakannya bila dibandingkan dengan wilahan bentuk sigar-penjalin.

Sebagaimana halnya gamelan jenis pencon, gamelan wilahanpun mempunyai bagian-bagian dengan nama-nama tertentu dan berlaku untuk wilahan bentuk sigar- penjalin maupun wilahan blimbingan. Mengenal nama bagian-bagian dari gamelan jenis wilahan/ricikan mempunyai arti yang penting untuk mengenal lebih dalam teknik pembuatan gamelan wilahan tersebut. Secara umum teknik pembuatan gamelan jenis wilahan relatif lebih muda pengerjaannya bila dibandingkan dengan teknik pembuatan gamelan pencon. Demikian pula kerawanan kerjanya. Hal ini disebabkan karena gamelan jenis wilahan relatif lebih tebal bila dibandingkan dengan gamelan jenis pencon. Oleh karena itu tenaga yang mengerjakannypun relatif lebih sedikit jumlahnya. Demikian pula waktu yang diperlukan untuk mengerjakannya

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Proses Pembuatan Gamelan: di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur, Surabaya, 1995, hlm. 3843

Memalu

Memalu adalah salah satu proses Pembuatan Gamelan  di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, yang disebut memalu adalah pekerjaan menempa dengan sebuah alat yang disebut palu. Dalam suatu bengkel gamelan, tenaga yang bertugas memalu, jumlahnya tidak tetap. Hal ini tergantung dari jenis gamelan yang sedang dibuatnya.

Sementara pekerjaan berlangsung, jumlah tenaga yang bertugas memalu sekurang-kurangnya 2 orang dan sebanyak-banyaknya 4 orang. Untuk mengerjakan sebuah Gong Besar atau Gong Totogan diperlukan 4 orang pegegang palu. Bahkan seringkah dipersiapkan pula beberapa orang cadangan. Sedangkan untuk membuat jenisgamelan yang berukuran lebih kecil dari Gong -Totogan, sering dilakukan oleh 3 orang pemalu; misalnya pada saat membuat berbagai macam kempul dan kenong. Dan untuk membuat jenis bonang, bisa dilakukan oleh 2 orang pemalu.

Dalam suatu bengkel gamelan, tenaga yang bertugas melakukan pekerjaan memalu, mempunyai sebutan sesuai dengan posisi pada saat melakukan pekerjaan. Secara berurutan dapat disebut sebagai berikut: Palu -Ngarep, Palu – Tengah, Palu – Apit dan Palu – Tepong. Bila ditinjau dari kedudukan dalam arti tingkat kemampuan, dapat disebut dalam urutan sebagai berikut : Palu – Ngarep, Palu- Tepong, Palu – Tengah dan Palu – Apit.

Tenaga pande gamelan yang bertugas memegang Palu- Ngarep, pada umumnya memiliki kepandaian setingkat dibawah panji. Dalam praktek sehari-hari, seringkali membantu pekerjaan Panji, misalnya “ngider” atau membantu membentuk gamelan pada saat pekerjaan hampir selesai. Tingkat dibawah Palu – Ngarep adalah Palu – Tepong. Kendatipun dalam praktek kerja Palu – Tepong berada pada posisi yang paling akhir, tetapi ditinjau dari segi tingkat kemampuannya, setingkat lebih tinggi bila dibandingkan dengan Palu – Tengah atau Palu – Apit.

Palu – Tengah merupakan palu penutup kegiatan menempa..Bila dibandingkan dengan Palu-Ngarep, Palu- Tengah dan Palu-Apit; cara memegang palu yang dilakukan oleh Palu-Tepong berbeda. Untuk Palu-Ngarep, Palu-Tengah dan Palu-Apit; cara memegang palu dilakukan dengan tangan kanan berada di depan atau berada di dekat mata palu, tangan kiri berada pada ujung tangkai palu. Sedangkan untuk Palu-Tepong, justru tangan kiri berada didekat mata palu dan tangan kanan berada pada ujung tangkai palu. Pekerjaan memalu dengan tangan kanan berada didepan disebut “nengen”. Dan bila tangan kiri yang berada didepan disebut “ngiwo”.

Peranan Palu-Ngarep dan Palu-Tepong cukup penting; hal ini terlihat jelas dalam praktek sehari-hari. Dilingkungan pande gamelan jumlah pemegang palu paling banyak 4 orang, dan paling sedikit 1 orang. Keempat palu baru dipergunakan untuk membuat gamelan yang berukuran besar, misalnya Gong Totogan, Kempul Suwukan dan Kempul Dhadha. Untuk jenis gamelan berupa Kempul lainnya dan Kenong, diperlukan tiga palu, yaitu Palu-Ngarep, Palu-Tengah dan Palu-Tepong. dan untuk membuat bonang biasanya diperlukan 2 palu, yaitu Palu Ngarep dan Palu- Tepong. Sedangkan untuk membuat jenis Wilahan, biasanya diperlukan 1 palu.

Kerja sama antara Panji dan pemegang palu dapat diamati dengan jelas pada saat kegiatan menempa sedang berlangsung. Bagian yang harus dipukul, diarahkan oleh Panji dengan jalan memutar-mutar bakal gamelan diatas landasan atau tandes. Gerakan memutar dilakukan setelah Palu-Tepong selesai memukul. Pukulan pertama dilakukan oleh Palu-Ngarep, dilanjutkan oleh Palu-Tengah, Palu-Apit dan ditutup oleh Palu-Tepong.

Pekerjaan semacam itu berulang-ulang dilakukan sampai keadaan lakar/bakal gamelan menunjukkan tanda-tanda tidak mungkin dipukul lagi. Berapa kali rangkaian pukulan tersebut dilakukan, untuk tiap tahap tidak selalu sama dan dalam hal ini Panji yang menentukan. Bila keadaan lakar menunjukkan tanda-tanda tidak memungkinkan untuk ditempa terus, maka Panji memberi aba-aba berhenti. Dalam hal ini pemegang palu harus taat menghentikan pekerjaannya.

Biladilanggar, resikonya cukup berat karena besar kemungkinan lakar gamelan itu pecah. Untuk men nulang pekerjaan menempa, lakar harusdibakarulang. Dan pada saat pembakaran sedang berlangsung, Panji melakukan pekerjaan memutar-mutar lakar atau membalik lakar tersebut agar pembakaran merata. Sementara itu pemegang palu Ngarep mempersiapkan palu yang akan dipergunakan dan pemegang palu lainnya mempersiapkan tandes, yaitu dibersihkan atau diberi tanah liat sebagai ganjal. Pekerjaan-pekerjaan tersebut dilakukan tanpa menunggu perintah, jadi berjalan secara otomatis.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Proses Pembuatan Gamelan: di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur, Surabaya, 1995, hlm. 10-12

 

Manjeni

Sistem Kerja Dalam Bengkel Gamelan di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan.

MANJENI 1Yang dimaksud manjeni adalah pekerjaan – pekerjaan di suatu pande gamelan, yang dilakukan oleh Panji.

Dalam hal ini panji merupakan pimpinan (mandor) dari kegiatan pekerjaan pande dalam suatu bengkel gamelan.

Dalam praktek sehari-hari pekerjaan panji sering kali ditangani oleh perkerja lain, tetapi tanggung jawab pekerjaan tidak dapat diwakilkan kepada orang lain.

Sebagai pimpinan teknis, seorang panji tidak duduk sambil memerintah semata-mata, namun  menangani pekerjaan yang biasa disebut “ngider” . Ngider adalah suatu pekerjaan  memutar-mutar lakar atau bakal gamelan yang sedang ditempa dan memegang palu bila pekerjaan telah sampai pada taraf membentuk sesuai dengan bentuk gamelan yang sedang dibuat.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Proses Pembuatan Gamelan: di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, Bagian Proyek Pembinaan PermuseumanJawa Timur, Surabaya, 1995, hlm. 10

Panji

Panji Bengkel Gamelan001Cara kerja serta istilah-istilah pekerjaan pada Bengkel gamelan di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan pada dasarnya sama dengan bengkel pandai gamelan pada daerah lain. Namun punya ciri kahas tersendir dalam.

Panji adalah seseorang yang bertanggung jawab atas kegiatan teknis di bengkel gamelan. Seorang panji pada umumnya memiliki kemampuan setingkat lebih tinggi bila dibandingkan dengan pekerja-pekerja lainnya.

Bahkan beberapa bengkel gamelan dikelola langsung olah panji, adakalanya seorang panji juga sebagai pemilik bengkel.

Pada jaman dahulu seorang panji yang telah mencapai taraf kepandaian yang tinggi disebut Empu. Pada umumnya seorang Empu sudah tidak aktif atau langsung menangani pekerjaan dalam bengkel gamelan.

Seorang Empu lebih banyak bertindak sebagai penasehat. Dengan demikian secara teknis panji yang bertanggung jawab selama pekerjaan berlangsung.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Proses Pembuatan Gamelan:
di Kidal desa Kauman, Kecamatan, Karangrejo, Kabupaten Magetan, Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman

Jawa Timur, Surabaya, 1995, hlm. 10

Pande Gamelan, Kabupaten Magetan

LATAR BELAKANG SEJARAH BERDIRINYA PANDE GAMELAN DI KIDAL

Menurut pengakuan para pande gamelan di daerah Kidal, dikatakan bahwa kegiatan pande gamelan di Kidal setidak-tidaknya sudah tiga keturunan hingga sekarang ini. Orang .pertama yang dianggap sebagai cakal bakal pande gamelan di Kidal bernama Kartodikromo. Kartodikromo adalah salah seorang anak dari Singolaksono yang semula berasal dari Surakarta. Siapa sebenarnya yang menurunkan Singolaksono ini tidak diketahui dengan jelas . Hanya dikisahkan bahwa salah seorang anaknya kawin dengan putri dari seorang yang bernama Djojobroto.

Sekitar tahun 1825, pada saat terjadi perang Diponegoro, salah seorang prajuritnya yang bernama Djojobroto terpaksa melarikan diri karena terdesak pasukan Belanda. Dan Ny. Djojobroto menyingkir ke dukuh Kidal, Desa Kauman, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan. Berkat perkawinannya dengan Djojobroto dikaruniai 4 orang putera, yaitu : Poncokenongo, Kudomarto, Martowikromo dan seorang putri yang tidak diketahui nama aslinya yang kemudian kawin dengan Kartodikromo anak dari Singolaksono. Anak Singolaksono seluruhnya berjumlah 5 orang, yaitu : Gijem, Kartodikromo, Mi, Singosemito dan Sodikromo

Perkawinan Kartodikromo dengan putri Djojobroto dikaruniai 8 orang putera. Dan diantara 8 puteranya tersebut 7 diantaranya melanjutkan pekerjaan yang dirintis ayahnya sebagai pande gamelan, demikian pula kepandaian yang dimilikinya diwariskan pula kepada anak-anaknya hingga sekarang ini. 8 putera Kardikromo tersebut,yaitu : Madrim, Kartodirjo, Sepiyem/Resodikromo, Kartoprawiro, Sepinah/Martodrikromo, Kartodikromo, Somo Djemali dan Sarimin.

Kepandaian yang dimiliki oleh keturunan dari Kartodikromo dalam hubungannya dengan kegiatan di pande gamelan, ternyata menekuni pada bidang-bidang yang tidak sama. Ada sementara yang menekuni sebagai pembuat gamelan atau biasa disebut panji, ada pula yang menekuni dibidang penglarasan gamelan, atau bahkan ada pula yang bekerja sebagai pembantu dalam pande gamelan.

Madrim mempunyai 7 orang putera, diantaranya 4 orang yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan, demikian pula beberapa orang cucunya. Keempat anak Madrim yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan, diantaranya : Martodihardjo, Mardi, Tjokrohartono dan Suwandi. Anak Martodikardjo yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan,yaitu Karjono, Karjoto dan Karjoso. Sebagai pewaris, Karjono tidak semata-mata mewarisi kepandaian dari orang tuanya, tetapi mewarisi pula peralatan pande gamelan dari orang tuanya. Dalam hal ini Karjono berlaku sebagai pengusaha pande gamelan dan bertindak sebagai panji sekaligus. Sedangkan kedua adiknya sebagai pembantu. Mardi mempunyai anak bernama Harsono yang juga sebagai pembuat gamelan. Tjokrohartono terkenal sebagai pembuat gamelan dan tukang laras gamelan. Sedangkan Suwandi salah seorang anak dari Madrim pula, juga sebagai pembuat dan tukang laras gamelan.

Keturunan Kartodikromo yang lain bernama Resodikromo, yang juga dikenal sebagai pembuat gamelan. Diantaranya 9 orang puteranya, tercatat 6 orang yang menekuni dibidang pembuatan gamelan. Keturunan dari keenam putera Kartodikromo inipun banyak pula yang meneruskan pekerjaan orang tuanya sebagai pembuat gamelan. Bahkan ada sementara yang pernah mendalami pekerjaan membuat gamelan di lingkungan Kraton Surakarta, yaitu yang bernama Sastrodihardjo alias Sastro Sipin. Keturunan SastroSipin kendatipun tidak menekuni pembuatan gamelan, tetapi tetap berupaya melestarikan warisan dari orang tuanya. Dari kelima anak Sastro Sipin, tercatat 2 orang yang aktif dibidang pembuatan gamelan, yaitu Moeljono sebagai penglaras gamelan dan Soejoed yang lebih banyak menekuni dibidang pemasaran gamelan.

Putera Resodikromo lainya yang menekuni pekerjaan dibidang pembuatan gamelan diantaranya; Atmodihardjo (sebagai penglaras gamelan), Somowidjojo (pembuat gamelan), Sasmohardjo alias Sikoen (penglaras gamelan), Ny. Ning, Ny. Manis Martokarso (pembuat gamelan).

Somowidjojo mempunyai 8 orang putera. Dari 8 orang itu beberapa diantaranya menekuni sebagai pembuat gamelan, yaitu Moenadi, Soemadji dan Wasito, Ny. Ning mempunyai 8 orang putera dan 4 orang yang bekerja sebagai pembuat gamelan, yaitu : Sadirin, Sadikun, Sadikin dan Dimun. Sedangkan Ny. Manis Mertokerso mempunyai 7 orang anak, 2 orang yang menekuni kegiatan pembuatan gamelan, yaitu Sardi dan Suradi.

Disamping keturunan dari Singolaksono sebagaimana diuraikan diatas, pande gamelan di Kidal ada sementara yang berasal dari jalur keturunan lain, tetapi masih mempunyai hubungan keluarga Singolaksono. Singolaksono sebenarnya mempunyai 2 orang saudara, yaitu; Kartisentiko dan Sodikromo. Dalam hal ini Kartosentiko. Dalam hal ini Kartosentiko mempunyai 4 orang anak yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan, yaitu; Loso, Rebo, Kisoet dan Poepon/ Wongsodidjono. Poepon atau Wongsodidjono juga mempunyai 2 orang anak yang bekerja sebagi pembuat gamelan, yaitu; Partoredjo dan Hardjodijono. Sedangkan Sodikromo yang dikenal pula sebagai pembuat gamelan mempunyai beberapa orang yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan pula. Diantaranya adalah, Karso alias Sadimin dengan 3 orang puteranya yang masing- masing juga sebagai pembuat gamelan, yaitu; Ny. Minih alias Karso Kanti, Karsoredjo alias Ngadi dan Madimin. Keturunan Karso Kanti yang membuat gamelan bernama Darmo alias Kamidi dan Madimin. Salah satu anak Madimin yang mewarisi kepandaian orang tuanya sebagai pembuat gamelan bernama Wakidi.

Martodikromo anak ke 5 dari Kartodikromo, mempunyai 8 orang putera, dua diantaranya yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan, yaitu Parno dan Sadi. Sedangkan Somo Djoemadi mempunyai 3 orang putera dua diantaranya bekerja sebagi pembuat gamelan, yaitu : Kasimin Kartowijono dan Sapardjo. Dari uraian diatas tampak jelas bahwa pekerjaann sebagai pande gamelan di Kidal ternyata dilakukan secara turun temurun. Dan dari kenyataan yang ada sekarang terlihat bahwa pekerja di pande gamelan yang tersebar di Kidal, satu dengan lainnya masih terikat hubungan kekeluargaan. Memang ada sementara yang tidak mempunyai hubungan keluarga yang dekat, tetapi pada umumnya mereka masih dalam taraf belajar atau sekedar bekerja untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ringan-ringan, misalnya; mengikir, menghaluskan dan lain sebagainya.

Kendatipun sekarang masih banyak keturunan dari Singolaksono, keturunan dari Kartosentiko maupun keturunan dari Sodikromo yang menekuni pekerjaan sebagai pembuat gamelan, tetapi tidak seluruhnya mempunyai besalen (tempat untuk melakukan kegiatan pembuatan gamelan). Beberapa besalen yang kini masih aktil melakukan kegiatan, diantaranya; besalen milik Somowidjojo, besalen milik Suparno, besalen milik Kamidi, besalen milik Sukimin, besalen milik Karjono dan besalen milik Kasimin.

Hubungan kerja dengan besalen yang berada di luar daerah Kidal, misalnya dengan Solo atau Sukoharjo; telah dirintis sejak semula dan hingga kini masih pula dilakukan. Salah satu pekerjaan yang dianggap paling berat dan banyak menanggung resiko dilingkungan pande gamelan adalah pekerjaan membuat Gong Besar atau Gong Totogan. Untuk mencukupi kebutuhan Gong Besar, seringkah harus memesan ke Solo atau ke Sukoharjo. Bahkan pernah pula Gong Besar dibuat di Kidal, tetapi untuk tenaga intinya terpaksa harus mendatangkan dari besalen di Sukoharjo. Namun demikian secara timbal balik, serinhg pula besalen di Sukoharjo terpaksa, memesan beberapa bagian dari gamelan yang kebutuhan tidak sempat diproduksi di Sukoharjo, misalnya komponen gamelan berupa wilahan. Kerja sama semacam ini dilakukan pada saat banyak yang memesan sedangkan waktu tidak mencukupi untuk dikerjakan sendiri.

Proses pembuatan gamelan di Kidal, desa Kauman, kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan; Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur, 1994 / 1995, hlm. 3-6

Thuk-thuk, Madura

THUK-THUK001Thuk-thuk merupakan sebuah peralatan tradisional masyarakat Madura yang berfungsi sebagai alat komunikasi yang diperlukan untuk memanggil dan mengumpulkan penduduk maupun perangkat-perangkat desa. Thuk-thuk yang ada pada gambar merupakan thuk-thuk yang berasal dari Madura, khususnya daerah Sumenep. Thuk-thuk ini bukanlah bentuk dari thuk-thuk yang asli, akan tetapi merupakan duplikatnya saja. Dibuat di Sumenep pada tahun 1992, milik seorang Budayawan bernama Edi Setiawan.

Pada pembuatan ukiran, maka hasil karya seniman sangat dipengaruhi oleh tempat, situasi dan kondisi dimana seniman itu berada. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila bentuk thuk-thuk asal Sumenep ini dibuat menyerupai bentuk perahu. Hal ini disebabkan karena seniman pembuat thuk-thuk bertempat tinggal dan berasal dari suatu wilayah kepulauan yang sudah tentu kehidupan utama bagi penghuninya adalah kehidupan lautan. Dengan demikian seniman ukir daerah Sumenep, ukirannya juga berkisar pada motif perahu atau yang berkaitan dengan perahu.

Selain berbentuk perahu, thuk-thukjugadihias dengan motif binatang naga. Naga bagi masyarakat Madura mempunyai arti sebagai lambang dari dunia bawah. Selain itu, pada masing-masing ujung badan thuk-thuk diperindah dengan ukiran kepala naga, mulutnya ferbuka lebar sehingga terlihat keempat taringnya yang tajam dan lidahnya yang menjulur keluar. Selain itu, masing-masing kepala naga juga diberi hiasan berupa mahkota dengan motif paruh burung phonix dan sulus daun yang distilir membentuk ekor burung phonix. Selain motif burung phonix, mahkota tersebut juga diperindah dengan motif bunga melati.

Adapun motif burung dan bunga melati bagi masyarakat Madura bukanlah merupakan sembarang motif yang diukir begitu saja oleh pengukirnya, akan tetapi motif tersebut memiliki makna tertentu sebagai filosofi masyarakat Madura. Motif burung khususnya burung phonix bagi masyarakat Madura merupakan motif sebagai lambang kehidupan, kebahagiaan dan lambang burung sorga serta sebagai lambang dari dunia atas. Begitu pula halnya dengan motif bunga melati yang dianggap sebagai

lambang dari sikap bangsa Madura yang cinta terhadap alam semesta dan juga mencerminkan rasa nasionalisme serta sebagai simbol dari keindahan dan romantik.

Bagian badan thuk-thuk diberi hiasan berupa ukiran badan dan ekor naga bersisik, sedangkan pada bagian kaki thuk-thuk, diukir membentuk huruf “M” dan diperindah dengan hiasan berupa kuntum bunga melati. Selain dari itu, bagian kaki juga dihias dengan uk-iran dua ekor Kuda Terbang. Motif Kuda Terbang ini merupakan “kebanggaan” bagi masyarakat Sumenep yang disebut juga sebagai Kuda Sembrani.

Fungsi Thuk – Thuk

Thuk-thuk seperti ini biasanya diletakkan pada setiap balai desa, yaitu sebagai kentongan yang berfungsi untuk memudahkan komunikasi antar penduduk dan perangkat-perangkat desa. Selain di balai desa, biasanya di setiap pedukuhan memiliki thuk-thuk atau kentongan yang bentuknya lebih kecil dari bentuk thuk-thuk yang ada di balai desa. Suatu saat apabila desa tersebut kedatangan tamu dan saat itu Kepala Desa tidak berada di tempat, maka thuk-thuk tersebut akan dipukul sehingga mengeluarkan suara yang keras dan nyaring. Bunyi thuk-thuk tadi nantinya akan terdengar ke seluruh lingkungan pedesaan.

Apabila saat itu Kepala Desa sedang berada pada salah satu dukuh, maka perangkat desa yang berada p’ada dukuh dimana Kepala Desa berada, akan membalas bunyi thuk-thuk dengan memukul thuk-thuk yang ada di dukuhnya. Dengan demikian segera dapat diketahui dimana Kepala Desa berada.

Alat pemukul thuk-thuk juga terbuat dari kayu, dimana bagian umumnya dibalut dengan kain. Untuk menggunakan alat pukul ini, harus dilakukan berdasarkan ketentuan tertentu. Misalnya untuk memanggil Kepala Desa, maka thuk-thuk hanya dipukul sekali saja dan untuk memanggil carik (Sekretaris Desa), maka thuk-thuk dipukul sebanyak dua kali. Dengan demikian wajarlah apabila penduduk dan perangkat-perangkat desa, mengetahui dan paham dengan makna dari jumlah b’unyi thuk-thuk yang dipukul.

Terdapat suatu sikap orang Madura terdapat seni ukir dimana di kalangan orang yang mampu (kaya) sangat bangga bila banyak memiliki barang-barang yang berukir. Hal ini desebabkan oleh adanya kesan bahwa niakin banyak barang-barang berukir yang dimiliki seseorang, maka makin kayalah orang tersebut dan akan naiklah statusnya, wibawadan martabatnya dalam masyarakat.

Cara Pembuatan Thuk-thuk

Adapun kayu yang biasa digunakan untuk membuat thuk-thuk adalah jenis kayu nangka. Jenis kayu nangka sebagai pilihan disebabkan oleh karena jenis kayu nangka dapat menghasilkah suara yang keras dan nyaring.

Cara membuat thuk-thuk sangat memerlukan ketelitian, kesabaran dan ketekunan, oleh karena itu mereka bekerja dengan sangat hati-hati agar dapat menghasilkan thuk-thuk yang sesuai dengan yang dikehendaki.

Cara membuat thuk-thuk, mula-mula kayu bulat besar dipotong sesuai dengan panjang badan thuk-thuk yang dikehendaki, yaitu sekitar 240 Cm. Kemudian kayu besar tersebut dibelah dua sehingga menjadi dua buah papan besar. Kedua papan tersebut lalu diukir secara simetris sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Dalam mengukir, khususnya ukiran Madura kemungkinan lebih banyak dikerjakan dengan palu dan pahat dari pada dengan penyol (pisau pengeruk dan meraut).

Setelah diukir, kedua papan tersebut dibentuk menyerupai bentuk perahu dan kemudian kedua papan di bagian tengahnya dibuat rongga, be gitu pula bagian atasnya dibuat rongga sehingga apabila kedua papan tersebut disatukan (ditemukan), maka bagian dalam dan atas thuk-thuk terdapat rongga sebagai sumber suara. Rongga bagian atas thuk-thuk berbentuk empat persegi panjang, dengan panjang rongga sekitar 50 Cm dan lebarnya sekitar 3 Cm.

Tahap selanjutnya adalah membuat ukiran kepala naga dengan sistem knock-down atau sistem bongkar pasang. Ukiran kepala naga ini akan dipasang atau diletakkan pada kedua ujung thuk-thuk. Begitu pula bagian kaki thuk-thuk juga dibuat ukiran dengan sistem knock-down atau bongkar pasang.

Setelah semua bagian thuk-thuk selesai dibuat dan diukir, maka tibalah saatnya-pada tahap pemberian warna. Dahulu dalam pemberian warna dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan pewarna alam. Misalnya untuk warna merah diperoleh dari bahan daun jati, warna kuning diperoleh dari buah kunyit dan warna hijau dipetoleh dari daun lamtoro (petai cina).

Saat ini pemberian warna pada thuk-thuk, tidak lagi menggunakan zat pewarna dari bahan tumbuh-tumbuhan, akan tetapi telah menggunakan cat.

Pada thuk-thuk terlihat adanya kombinasi pemberian warna berupa warna hijau, kuning keemasan, merah dan hitam. Bagi masyarakat Madura, pemberian warna merah diartikan sebagi lambang keberanian dan warna kuning keemasan diartikan sebagai lambang dari kebesaran, keagungan dan kesempurnaan. Sedangkan warna hitam diartikan sebagai lambang dari kelanggengan, kekekalan, ketenangan dan kemantapan dan warna hijau diartikan sebagi lambang dari kelembutan dan pengharapan.

 

THUK-THUK

No. Benda   : XXII. 10

Nama Benda : Thuk – Thuk

Asal Benda  : Surabaya (YPU)

Ukuran        : Ts ; 239 Cm, Lb : 67,5 Cm

Mputantular: Seri Mengenal koleksi museum Negeri Propinsi Jawa Timur, Surabaya: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur,1995, hlm. 5-7

Ukiran Topeng Madura

Pembuatan dan pengukiran topeng Madurabiasanyadilakukan pada jenis kayu jarananda, kayu dadap yang termasuk jenis kayu lunak, kuat dan tahan lama. Ukiran yang detail dititik beratkan kepada bagian rambut dan ornamen.

Bagian rambut selalu dibuat sebagian terjulai di atas dahi sampai bagian telinga, sebagian lagi tampak di atas ornamen kepala. Rambut yang terjulai di atas dahi diukir dalam bentuk garis ikal.

Pada ujung ikalan sering kali di beri hiasan permata, mutiara atau bunga melati merupakan salah satu hiasan kepala yang sangat penting, karena bunga melati dianggap sebagai lambang dari sikap bangsa Madura yang cinta tarhadap alam sekitar dan

jUaa mencerminkan ungkapkan nasionalisme, dan juga sebagai s., .ool keindahan dan romantik.

Selain melati, matahari, bulan dan bintang serta motif stilisasi dua tangkai batang padi berbentuk huruf V, juga merupakan ciri karakteristik topeng gaya Madura.

Adapun tekhnik ukir topeng Madura, khususnya ukiran bagian rambut disebut istilah ukiran kerawang (ajour).

Mputantular: Seri Mengenal koleksi museum Negeri Propinsi Jawa Timur, Surabaya: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur,1995, hlm. 38-3940-41