Cungkup

Cungkup iyalah suatu bangunan yang didirikan diatas sebuah makam, dengan dibangunnya suatu cungkup dalam halaman ke III suatu komplex pemakaman pesisir Utara Jawa Timur, maka akan terjadi pulalah perulangan pembagian kedalam tiga bagian yaitu :

  1. Ruang a :

yang dibentuk oleh pemunculan sebuah kijing yang diberi berkiswa atau kelambu sebagai suatu peraduan, dan disinilah letak makam yang dimaksud.

  1. Ruang b :

yang dibatasi oleh dinding keliling dan membentuk suatu bilik makam.

  1. Ruang c. :

yalah lorong langkan yang mengelilingi bilik makam dan terbentuk karena adanya dinding cungkup.

Memperhatikan pembagian ruangan ini dalam tiga bagian tersebut, maka tidaklah berbeda keadaannya dengan suatu percandian sebagai suatu tempat pemakaman raja-raja dalam masa Jawa Timur ( abad X — abad XV ). Ruang a. dapat kita bandingkan dengan sumuran pada suatu percandian tempat peripih abu penjenazahan diletakkan sedang ruang b. dapat dipersamakan dengan bilik percandian. Ruang c. yang merupakan lorong langkan dalam suatu cungkup, akan tidak jauh berbeda pula dengan lorong-lorong langkan pradaksina atau prasavya dalam suatu prosesi keagamaan mengelilingi percandian-percandian. 16).

Kenyataan yang kitB hadapi hingga kini dalam suatu cungkup pemakaman antara lain yang terdapat didaerah Gersik, justru pada lorong langkan inilah banyak terlihat kitab suci al Qur’an atau Surat Yassin tersimpan dan ada kalanya para penziarah dapat melakukan pengajian dan bersembahyang dalam lorong langkan ini.

Dengan memperhatikan perbandingan ini serta mengingat kembali akan tanggapan-tanggapan pada fase-fase a, b, c, yang menganggap bahwa makam- makam tersebut sebagai tempat kediaman/tempat peristirahatan yang mewakilL suatu bentuk gunung maka terlihatlah lambang-lambang gunung menghiasi cungkup-cungkup ini. Pada puncak cungkup pemakaman umumnya terdapat mahkota atap yang melambangkan meru ( Mahameru ). Bidang-bidang pada dinding cungkup maupun tiang-tiangnya penuh dengan hiasan-hiasan motif tumpal ( antefix ), tepi awan, lidah api, meander, swastika, lengkung-lengkung kala merga dengan kepala ular naga atau singa-singa, bentuk-bentuk binatang yang distilir serta arabesque, untaian daun padma yang kesemuanya mewujudkan attribute-attribute mahameru.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Issatriadi: Kekunoan Islam Pesisir Utara Jawa Timur, Proyek Rehabilitasi Dan Perluasan Museum Jawa Timur 1976-1977, hlm. 10

Kota Malang di Jaman Penjajahan Jepang

7 Maret 1942, Kota Malang dan sekitarnya diduduki balatentara Jepang. Pengambilan alih pemerintah pada prinsipnya meneruskan sistem lama, hanya sebutan-sebutan dalam jabatan diganti dengan Bahasa Jepang. Selama penjajahan Jepang yang relatif pendek itu, Kotamadya Malang berhasil membuat 33 Peraturan Daerah.

21 September 1945, Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah dibentuk dan mengeluarkan pernyataan bahwa daerah Malang menjadi Daerah Republik Indonesia.

3 Oktober 1945 dilakukan pengambilan alih senjata dan pemerintahan dari Residen (Syutyokan) ke tangan Pemerintah Darurat yang dipimpin oleh Pejabat Residen yaitu Bupati R.A.A Sam, sedangkan Walikotanya adalah M. Sardjono Wirjohardjono.

22 Juli 1947 Belanda berusaha untuk kembali menjajah, dan meletuslah perang (Clash I) yang menyebabkan Pemerintah Daerah dengan perangkatnya mengungsi ke luar kota, kemudian sampai dengan tahun 1950 berlangsung pemerintah federasi.

2 Maret 1950 Pemerintah Daerah Republik Indonesia yang dipimpin oleh Walikota M. Sardjono Wirjohardjono kembali dari pengungsian dan menempati Balai Kota Malang. Sejak masa itu Pemerintah Kotamadya Malang berlangsung kembali di naungan Pemerintah Republik Indonesia dan diatur dengan Undang-undang Pemerintah Daerah yang terus berkembang hingga berlakunya Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah sampai sekarang ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Kota Malang Selayang Pandang, Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Malang, Tahun 1997/1998, hlm. 5

Kota Malang di Jaman Penjajahan Belanda

Tahun 1767, daerah Malang diduduki kompeni belanda, saat itu Malang yang dipimpin oleh Adipati Moeljo Koesoemo terpaksa menyerah kepada kompeni.

Tahun 1812, Malang kemudian masuk dalam wilayah Residensi Pasuruan dengan Bupati Raden Tumenggung Kartonegoro.

Tahun 1824, mulailah Malang dipimpin oleh seorang Asisten Residen.

Tahun 1903, lahirlah Undang-undang Desentralisasi.

Tahun 1905, untuk pertama kalinya Pemerintah Kotamadya dibentuk di Indonesia.

1 April 1914, Kotamadya (Gemeentle) Malang terbentuk. dan hingga tahun 1919 masih dipimpin oleh Pamong Praja

Tahun 1919, Kota Malang mulai dipimpin oleh Walikota (Burgemeester) bernama H. I. Bussemaker,namun sampai dengan tahun 1930 belum memiliki Dewan Perwakilan Rakyat.

Tahun 1930, kantor Balaikota diresmikan, beberapa desa dirubah menjadi Lingkungan serta mulai dibentuk Wethouderschap (Dewan Pimpinan Daerah) dengan anggota R. Soekardjo Wirjopranoto dan G. L. Kelder.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Kota Malang Selayang Pandang, Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Malang, Tahun 1997/1998, hlm. 4

Asal Mula Kota Malang

KOTA MALANG0002Dalam lambang Kota Malang tertulis sesanti berbunyi MALANG KUCECWARA yang berarti Tuhan menghancurkan yang bathil dan menegakkan yang baik. Sesanti itu disyahkan menjadi semboyan Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Malang pada tanggal 1 April 1914.

Semboyan MALANG KUCECWARA erat kaitannya dengan asal mula Kota Malang yang pada masa Ken Arok lebih kurang 8 abad yang lampau menjadi nama tempat di sekitar candi bernama Malang. Letak candi itu masih menjadi tanda tanya dan memerlukan penelitian. Daerah Malang dan sekitarnya termasuk Singosari merupakan pusat kegiatan politik dan budaya sejak tahun 760 sampai dengan tahun 1414 berdasarkan tulisan batu di Dinoyo. Kegiatan selama masa itu diikuti oleh kegiatan budaya tidak dapat digambarkan sebagai perkembangan satu dinasti saja, melainkan merupakan rangkaian kegiatan politik dan budaya dari beberapa turunan.

Demikian diungkapkan oleh almarhum Prof. Drs. S. Wojowasito dalam tulisannya tentang sejarah dan asal mula Kota Malang.

Lebih jauh diungkapkan dari beberapa keturunan itu, ada yang jelas terpisah dalam arti tidak ada hubungan antara satu keturunan dengan keturunan lainnya, seperti keturunan Dewasimba, Gajayana di Dinoyo dengan keturunan Balitung, Daksa, Tulodong dan Hawa, akhirnya Sindhok. Keturunan berlangsung kepada Dharmawangsa, Airlangga hingga yang terakhir yaitu Kertajaya (1215- 1222).

Kemudian timbulnya dinasti Ken Arok merupakan estafet pertama dari raja- raja Majapahit sampai raja terakhir Bhre Tumapel (1447-1451). Pada waktu Ken Arok menampakkan kegiatannya, Tumapel hanya merupakan semacam Kabupaten dari daerah Jenggala yang pada waktu itu praktis berada di bawah kekuasaan Kertajaya dari Kediri.Batara Malangkucecwara, disebut di dalam piagam tahun 907 di Kedu dan dalam piagam tahun 908 dekat Singosari. Piagam tahun 907 itu menerangkan bahwa orang-orang yang mendapat piagam itu adalah pemuja-pemuja batara dari Malangkucecwara, Putecwara (mungkin sama dengan Putikcecwara yang disebut dalam piagam Dinoyo tahun 760), Kutusan, jlabhedecwara dan Tulecwara. Penyebutan nama-nama seperti Batara dari Malangkucecwara, Putecwara, Kutusan dan sebagainya membuktikan bahwa nama-nama itu adalah nama raja-raja yang pernah memerintah dan pada saat wafat dimakamkan di dalam candi lalu disebut Batara. Dengan disebutkannya piagam Dinoyo, sekarang adalah Kelurahan Dinoyo, maka masuk akal jika candi Malangkuceswara itu ada dekat Kota Malang sekarang.

Dari apa yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa lahirnya Kota Malang masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Peringatan Ulang Tahun Kota Malang setiap tanggal 1 April yang lebih tepat dikatakan sebagai Hari Ulang Tahun Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Malang.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Kota Malang Selayang Pandang, Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Malang, Tahun 1997/1998, hlm. 2-3

Sejarah Singkat Kota Malang

KOTA MALANG0001Kota Malang seperti halnya kota-kota lain di Indonesia pada umumnya baru tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Belanda. Fasilitas umum direncanakan sedemikian rupa agar memenuhi kebutuhan keluarga Belanda. Kesan diskriminatif itu masih berbekas hingga sekarang, Misalnya Ijen Boullevard dan kawasan sekitarnya.

Pada mulanya hanya dinikmati oleh keluarga-keluarga Belanda dan Bangsa Eropa lainnya, sementara penduduk pribumi harus puas bertempat tinggal di pinggiran kota dengan fasilitas kurang memadai. Kawasan perumahan itu sekarang bagai monumen yang menyimpan misteri dan seringkali mengundang keluarga-keluarga Belanda yang pernah bermukim disini untuk bernostalgia.

Tahun 1879, di Kota Malang mulai beroperasi kereta api dan sejak itu Kota Malang berkembang dengan pesatnya. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendaii. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.

Sejalan perkembangan tersebut di atas, urbanisasi terus berlangsung dan kebutuhan masyarakat akan perumahan meningkat di luar kemampuan pemerintah, sementara tingkat ekonomi urbanis sangat terbatas, yang selanjutnya akan berakibat timbulnya perumahan-perumahan liar yang pada umumnya berkembang di sekilar daerah perdagangan, di sepanjang jalur hijau, sekitar sungai, rel kereta api dan lahan-lahan yang dianggap tidak bertuan.

Selang beberapa lama kemudian daerah itu menjadi daerah kumuh, dan degradasi kualitas lingkungan hidup mulai terjadi dengan segala dampak bawaannya. Gejala-gejala itu cenderung terus meningkat, dan sulit dibayangkan apa yang terjadi seandainya masalah itu diabaikan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Kota Malang Selayang Pandang, Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Malang, Tahun 1997/1998, hlm. 1-2

Ram Soraya, Surabaya

ram soraya4 November 1949, Raam Lalchand Pridhani lahir di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Ram Soraya.

Ram Soraya merupakan seorang pengusah dan produser film. Merupakan pemilik rumah produksi Soraya Intercine Films. Ia juga merupakan salah satu alumni dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Ram Soraya sebelum terjun ke dunia perfilman, ia pernah jadi importir tekstil.

Ram Soraya Mempunyai dua orang anak; Sunil Soraya dan Rocky Soraya.

Tahun 1972 -1982, awal karier Ram Soraya di dunia film sebagai distributor film untuk daerah Jawa Timur

Tahun 1983, Ram Soraya mulai jadi produser dalam Budak Nafsu.

Tahun 1984, film Budak Nafsu merupakan hasil dari perusahaannya sendiri, PT. Soraya Intercine Films, meraih unggulan Film Terbaik pada FFI.

Tahun 1985, Ram Soraya dengan PT. Soraya Intercine Films membuat film Sembilan Wali,

Tahun 1986, Ram Soraya dengan PT. Soraya Intercine Films membuat film Permainan Yang Nakal,

Tahun 1987, Ram Soraya dengan PT. Soraya Intercine Films membuat film Saya Suka Kamu Punya. Di Tahun inilah Ram Soraya sebagai produser mencapai puncak karier, seteleh mengambil alih produksi film Warkop DKI dari tangan PT. Parkit Film pimpinan Raam Punjabi. Selain menggarap Warkop DKI lewat film layar lebar, antara lain Depan Bisa Belakang Bisa.

Tahun 1993, menerima Penghargaan Mujimun Awards karena pengumpulan penonton terbanyak selama 5 tahun untuk film-film Warkop.

Tahun 1995-1997,  Ram Soraya juga membuat versi sinetronnya lewat Warkop DKI.

=S1Wh0T0=

Kerajaan Singasari, Malang, Jawa Timur

KERAJAAN SINGASARI SELAYANG PANDANG

Sumber sejarah yang tertua yang memberitakan tentang daerah Malang berupa prasasti yang dikenal dengan prasasti Dinoyo. Prasasti ini berangka tahun yang berbentuk candrasangkala yang berbunyi: nay ana vasu rasa, yang berarti tahun saka 682 atau tahun masehi 760. Di dalam prasasti tersebut dikemukakan tentang silsilah Raja yang memerintah di Kanjuruhan yaitu Raja Dewa Simha yang kemudian mempunyai putra yang bernama Liswa yang setelah menggantikan ayahnya bergelar Gajayana. Kemudian Raja Gajayana memiliki seorang Putri yang bernama Uttejana. Hasil budaya yang memiliki hubungan dengan Kerajaan Kanjuruhan ini adalah berupa Candi yaitu Candi Badut. Yang terletak kurang lebih tiga kilometer di sebelah barat kota Malang.

Dalam kaitannya dengan upaya penelusuran terhadap unsur-unsur budaya yang berupa hiasan maupun pola-pola busana maka kiranya sumber yang tertua ini masih sangat terbatas karenanya kami kemudian berusaha menggali dari sumber yang lebih kemudian yaitu dari hasil budaya yang berasal dari zaman Kerajaan Singasari. Sehubungan dengan itu dalam bab ini akan sedikit dipaparkan tentang kehidupan politik serta perkembangan budaya pada Kerajaan Singasari.

KEHIDUPAN PEMERINTAHAN

Kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok, yang mulai berkembang dari tahun 1222 sampai tahun 1292 Masehi. Cerita tentang tokoh ini secara panjang lebar terdapat dalam kitab Pararaton, yang di perkirakan di tulis pada akhir abad XV. Lebih dari seperdua bagian buku ini menceritakan tentang Ken Arok, karenanya buku ini juga disebut katuturan ira Ken Arok (kisah Ken Arok).

Di dalam Pararaton diceritakan bahwa Ken Arok berasal dari keturunan Dewa Brahma dengan wanita dari Desa Pangkur, di lereng Gunung Kawi. Saat muda, ia hidup sebagai anak yang nakal, sebagai penyamun yang sangat ditakuti, dan sulit untuk menangkapnya. Syukurlah ada seorang Brahmana yang baik hati yang bernama Loh Gawe yang berhasil melunakkan hati Ken Arok, mengangkatnya sebagai anak yang kemudian atas tanggungannya berhasil diterima mengabdi kepada Bupati Tumapel, Tunggul Ametung.

Terkesan akan penampilannya maka Tunggul Ametung segera meng­angkatnya menjadi pengawal Istana, sehingga karenanya Ken Arok menjadi

dekat baik dengan sang Bupati maupun dengan istrinya, Ken Dedes. Dalam suatu perjalanan dengan kereta Ken Arok melihat sinar yang memancar dari Ken Dedes. Peristiwa ini membuat Ken Arok jatuh hati kepadanya. Dengan tipu muslihatnya yang cerdik Ken Arok dalam waktu yang singkat berhasil membunuh Tunggul Ametung, dan kemudian menggantikan kedudukan sebagai Bupati di Tumapel serta mempcrsunting Ken Dedes.

Kehendak hati Ken Arok masih belum puas hanya menduduki jabatan sebagai Bupati, namun …. terus menginginkan jabatan yang lebih tinggi yaitu sebagai Raja. Pada saat itu Tumapel adalah merupakan bagian/Kabupaten dari Kerajaan Kediri, yang di perintah oleh Raja Kertajaya. Keperkasaan Raja ini membuatnya sombong, yaitu tidak mau menghormati kaum Brahmana, bahkan mewajibkan para Brahmana untuk menyembahnya sebagai menyembah Dewa Siwa. Kebijaksanaannya ini menyebabkan kaum Brahmana marah yang kemu­dian berpihak kepada tokoh yang sedang tumbuh yaitu Ken Arok.

Meningkatnya kekuasaan Ken Arok merupakan tantangan bagi Raja Kertajaya sehingga pertumpahan darah tak dapat dihindarkan. Dalam pertempuran di desa Ganter pada tahun 1222 pasukan Kadiri pada di kalahkan, Raja Kertajaya tewas, sehingga Ken Arok mengambil alih semua kekuasaan. Dari peristiwa ini maka Ken Arok muncul sebagai satu-satunya pemegang kekuaasaan di Jawa Timur dan mendirikan Kerajaan Singasari dengan gelar Sri Ranggah Rajasa sang Amurwabhumi, yang memerintah dari tahun 1222 sampai 1227.

Bagaimanapun upaya untuk menutup-nutupi peristiwa pembunuhan Tunggul Ametung akhirnya tercium juga. Putra Tunggul Ametung dengan Ken Dedes yang bernama Anusapati mengetahui perbuatan ayah tirinya yang kemudian melampiaskan amarahnya dengan membunuhnya. Ken Arok me­ninggal yang kemudian dimakamkan di Kagenengan, sebelah selatan Singasari, dalam bangunan suci yang bersifat Siwa dan Budha. Kapan meninggalnya Ken Dedes tak dapat diketahui dengan pasti, namun arca Prajnaparamita yang cantik dan berasal dari Candi Singasari diperkirakan sebagai Arca perwujudan­nya. Arca ini dapat dijadikan sumber untuk menggali Tata Rias dan Tata Busana Pengantin Malang Keputren.

Anusapati memerintah selama 21 tahun, yaitu dari tahun 1227 sampai tahun 1248. Dalam tahun 1248 tersebut karena ia lengah maka berhasil dibunuh oleh Tohjaya putra Ken Arok dengan Ken Dedes. Anusapati dimakam­kan di Candi Kidal yang terletak di sebelah tenggara Malang.

Ternyata Tohjaya menduduki tahta dalam waktu yang sangat singkat, yaitu beberapa bulan saja, karena putra Anusapati yang bernama Ranggawuni berhasil pula membalas dendam atas ke mati an ayahnya. Dalam pertempuran itu Tohjaya mengalami luka parah dan melarikan diri keluar  kota, namun karena lukanya sangat parah akhirnya meninggal di desa Katang Lumbang, yang letaknya sampai sekarang belum diketahui.

Setelah dapat mengalahkan Tohjaya maka Ranggawuni naik tahta dengan gelar Wisnuwardhana. Ia mengendalikan pemerintahan bersama Mahesa Campaka, putra Mahesa Wong Ateleng. Mahesa Campaka mendapat gelar Ratu Angga Bhaya, yaitu pejabat yang bertanggung jawab atas keamanan (bahaya). Dalam pemerintahannya, Singasari terasa aman. Salah satu tindakan Wisnu­wardhana yang bijaksana adalah mengangkat putranya, Kertanagara, menjadi raja muda (yuwa raja) pata tahun 1254. Jabatan yuwa raja adalah sebagai Raja Muda, Putra Mahkota yang kelak akan menggantikan Raja setelah sang Raja wafat. Suatu langkah kaderisasi yang patut diteladani. Wisnuwardhana memerintah antara tahun 1248 sampai tahun 1268. Ia merupakan satu-satunya raja Singasari yang meninggal secara wajar. Abunya ditempatkan di Waleri dalam perwujudannya sebagai Siwa dan Jajaghu (Candi Jago) sebagai Budha Amughapasa. Sedangkan Mahesa Campaka tidak lama kemudian menurunkan Lembu Tal, dan dari Lembu Tal lahirlah Raden Wijaya, yang kemudian diambil menantu oleh Raja Kertanegara dan menjadi pendiri Kerajaan Majapahit.

Pada saat Kertanegara memerintah sebenarnya sudah melakukan pen­dekatan yang baik dengan keturunan Raja Kadiri, yaitu mengambil Ardharaja sebagai menantunya. Namun rasanya Jayakatwang sebagai keturunan Raja Kadiri belum puas hanya dijadikan besan saja. Karenanya pada suatu saat memerintahkan putranya, Ardharaja untuk mbalelo dan bersama-sama meng­gempur Kertanegara. Singasari dapat dikalahkan dengan cepat. Hal ini disebab­kan karena sebagian pasukan Singasari menunaikan tugas Pamalayu di Suma- tera. Di samping itu siasat Jayakatwang dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh Ardharaja dapat berjalan dengan lancar.

Raden Wijaya sebagai salah satu menantu Kartanegara yang lain tetap setia terhadap Singasari, yang dengan sisa pasukannya yang kecil melarikan diri ke arah utara. Dengan menyeberangi kali Porong dan Mas, akhirnya Raden Wijaya dapat melepaskan diri dari kepungan musuh dan mendapat bantuan dari lurah desa Kudadu. Dalam pelarian ini prajurit yang memandu Raden Wijaya, berpakaian kain geringsing yang berwarna merah karena darah yang keluar dari lukanya. Supaya dapat berjalan dengan cepat maka kain itu harus diikat ke atas. Dari sinilah lahir istilah Gringsing Bang (kain batik gringsing yang berwarna merah) yang dipakai oleh para prajurit yang berjasa (ksatria), Karenanya busana Pengantin Malang Keputren adalah dalam bentuk seorang ksatria dengan kain Gringsing Bang dan keris yang berada/dipakai didepan.

Dengan runtuhnya Singasari dalam pemerintahan Kertanegara maki sejarah kerajaan Singasari yang berlangsung tahun 1222 sampai 1292 mengalam masa kehancuran, yang kemudian disusul dengan peijuangan Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit.

 

PERKEMBANGAN BUDAYA

Dalam masa kehidupannya yang relatif singkat, yaitu selama 70 tahun (1222-1292) maka Kerajaan Singasari telah menghasilkan kaiya-karya budaya yang banyak dan mengagumkan. Karya-karya tersebut berupa candi maupun Arca-arca yang berada di dalam dan sekitarnya yang apabila diidentifikasi­kan atribut-atributnya maka akan dijumpai karakteristik/ciri-ciri khas seni dari zaman Singasari. Dari sinilah nanti yang ingin dikembangkan sebagai ciri-ciri khusus Pengantin Malang Keputren.

Adapun candi-candi serta arca-arcanya yang berasal dari zaman Singasari yang akan dijadikan rujukan:

CANDI KIDAL

Seperti telah diketahui bahwa candi ini merupakan Dharma dari Raja Anusapati, dalam arca perwujudan sebagai Siwa. Arca Siwa ini sekarang tidak berada ditempat, namun disimpan di Museum Royal Tropical Institut di Amsterdam. Sebagai perwujudan dari Dewa maka patung ini memiliki empat tangan. Tangan kedewataan yaitu dua tangan dibelakang memegang camara dan aksamala (Tasbih), sedang dua tangan yang didepak (tangan manusianya) memegang bunga padma. Di kanan kiri patung tersebut terdapat bunga padma yang sedang mekar yang keluar dari umbinya.

Di atas pintu masuk candi terdapat relief kala yang di atasnya terdapat tumbuhan yang menggambarkan nirwana yang disebut pohon parijata. Selain itu di Candi Kidal juga terdapat relief Garuda, yang menggambarkan salah satu adegan dari cerita Garudeya. Cerita ini memaparkan peijuangan Garuda untuk membebaskan ibunya yaitu sang Winata dari perbudakan saudaranya yaitu Kadru Dalam upaya tersebut Garuda berhasil memperoleh amrta (air kehidupan) sebagai penebus ibunya. Model hiasan kendi di sini dapat dijadikan sumber untuk peralatan upacara adat.

CANDI JAJAGHU (JAGO)

Raja Wisnuwardhana di Dharmakan di Candi Jajaghu dalam perwujudan sebagai Budha. Candi ini diperkirakan selesai dibangun tahun 1280 yaitu tepat 12 (dua belas) tahun setelah wafatnya. Upacara 12 tahun sesudah seorang raja wafat disebut upacara Craddha.

Candi ini mengandung unsur sinkretis antara Hindu dan Budha,

karena rellefoya terdapat baik cerita dari agama Hindu (Prathayjna, Arjuna

JViwaha, Kresnayana) maupun cerita dari agama Budha (Kunjarakarna). Dari penggambaran relief-reliefnya ini didapati keunikan-keunikannya antara lain terdapatnya tokoh ponokawan yang selalu mendampingi seorang ksatria, serta bentuk relief yang menyerupai wayang yaitu penggambaran tokoh dengan badan berbentuk miring yang tiga perempat wajahnya kelihatan. Dari wajah serta ornamentasi relief-reliefnya dapat ditelusuri pola asesori yang dipakainya untuk menunjukkan status dari seorang tokoh.

Selain itu juga terdapat empat arca yang merupakan tokoh dhajani Budha dan empat tara yaitu Cyamatara, Sudhanakumara, Hayagriva dan Bhrkuti. Sebagai suatu contoh dapat dikemukakan bahwa pada arca Bhrkuti adalah memiliki empat tangan. Dua tangan yang didepan (sebagai tangan manusia) pada tangan yang kiri memegang kamandalu atau kendi. Bentuk kendinya sangat bagus. Di samping busananya, lipatan kain yang tipis sangat menakjubkan serta sabuk yang penuh hiasan. Di kanan kiri patung ini terdapat bunga padma yang sedang mekar yang keluar dari umbinya.

 

CANDI SINGASARI

Candi ini terletak di Kecamatan Singasari Kabupaten Malang, kurang lebih 12 km arah utara Kota Malang. Raja Kertanagara setelah wafat abunya diperabukan di dua tempat yaitu di Candi Jawi di dekat Tretes, Kabupaten Pasuruan dan yang lain di Candi Singasari.

Candi ini bersifat siwaistis, terlihat dari Dewa dan Dewi keluarga Siwa yang menghuni bilik-bilik candi yaitu Arca Dewi Durgamahisasuramardhini, Ganeca, Siwa Mahakala, Siwa Mahaguru (Agastya). Namun patung-patung ini sekarang tidak ada ditempatnya, sudah lama diboyong ke museum Leiden di Negeri Belanda, kecuali arca Siwa Mahaguru. Arca-arca tersebut diambil dari tempatnya tahun 1804 dan di bawa ke Nederland tahun 1819, sebagai koleksi Museum Leiden untuk menunjukkan kepada pengunjung-pengunjung Eropa betapa indahnya patung Jawa-Hindu. Arca-arca yang terdapat di kompleks candi ini pun menunjukkan tanda-tanda khas Singasari yaitu di kanan kiri tokoh/arca tersebut terdapat hiasan lotus/bunga padma yang sedang mekar yang keluar dari umbinya.

Demikian pula arca yang indah yang berasal dari salah satu Candi Singasari (diperkirakan dahulu Candi Singasari terdiri dari beberapa Candi) yang dikenal dengan patung Prajnaparamita. Patung ini merupakan lambang kebijaksanaan dari agama Budha, dengan sikap tangan Dharmacakramudra (memutar roda dunia). Tanda utama yang lain adalah sebuah buku yang diletakkan di atas 4otus/padma. Seperti patung-patung lainnya dari periode

Jawa Timur, patung ini dapat ditafsirkan sebagai patung seorang Raja Putri, yang dalam kaitan ini dihubungkan dengan tokoh Ken Dedes. Pitung yang sangat indah ini disimpan di Museum Leiden, namun sejak periode 90-an telah dikembalikan ke Indonesia dan sekarang menjadi penghuni Museum Pusat Jakarta. Dari patung ini dapat diketahui betapa indahnya asesori yang melekat pada tubuhnya.

Dari pelbagai sumber di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa tanda- tanda khas dari periode Singasari adalah bunga padma yang sedang mekar yang keluar (berasal) dari umbinya bukan dari Vas seperti dari periode Majapahit. Karenanya Harpi Melati Kabupaten Malang menjadikan ciri khas ini yaitu bunga padma (lotus) yang keluar dari umbinya dengan segala variasinya dijadikan dasar untuk mengembangkan tata rias dan tata busana Pengantin Malang Kaputren.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kota Malang Selayang Pandang, Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Malang (tahun 1997/1998),Malang, 1997,

Tedhak Siten, Kabupaten Blitar

Upacara Tedhak Siten

Apabila usia bayi telah mencapai tujuh bulan (jawa 6 lapan), maka dirayakan dengan upacara yang disebut Tedhak Siten, yang oleh sementara orang disebut pitonan/mitoni. Upacara Tedhak Siten biasanya ada ketentuan hari untuk melaksanakannya, yaitu disesuaikan dengan hari lahir (neton atau weton : bahasa jawa) si anak. Adapun sarana yang harus disediakan dalam upacara Tedhak Siten, ialah :

a             Jambangan (bak mandi) yang diisi dengan air bunga setaman.

b             Sangkar ayam (kurungan : bahasa jawa).

c              Benda-benda yang diletakkan dalam kurungan, diantaranya: padi, kapas, alat-alat tulis dan bokor yang berisi beras kuning.

d             Tikar yang masih baru (ukuran 8 meter x 3,5 meter) sebagai alas kurungan.

e             Tangga terbuat dari tebu.

f              Juadah (nasi ketan yang telah dilumatkan), juadah ini terdiri dari tujuh warna : merah, putih, hitam, biru, kuning, ungu, dan merah jambu.

g      Sajian untuk kenduri yang terdiri dari nasi tumpeng, panggang ayam dan lauk pauknya kulupan. Serta dilengkapi pula seperti : jajan pasar, bubur putih dan bubur sengkala.

 

Adapun jalannya upacara, yaitu setelah segala sarana upacara ter­sedia maka pemimpin upacara (dhukun bayi) membimbing anak yang diselamati untuk menginjak satu kali setiap jenis juadah dari ketujuh jenis tersebut. Kemudian anak dibimbing untuk menaiki tangga kecil yang terbuat dari pohon tebu yang mempunyai tujuh buah tangga satu kali. Selanjutnya anak di dimasukkan kedalam kurungan yang dialasi tikar dan didalamnya telah disediakan padi, kapas, alat-alat tulis, serta bokor yang berisi beras kuning dan uang logam.

Di dalam kurungan si anak disuruh memegang (memilih) salah satu barang-barang yang disediakan di dalam kurungan. Pada saat itu hadirin yang mengikuti jalanya upacara diminta untuk menyaksikan benda apa yang dipegang oleh anak tersebut, karena menurut kepercayaan benda yang dipegang anak melambangkan mata penca­hariannya (nasib) si anak dikelak kemudian hari. Kemudian uang dan beras kuning yang ditaruh pada bokor, ditaburkan dan diperebutkan oleh anak- anak kecil yang mengikuti upacara. Setelah itu anak dikeluarkan dari sangkar, kemudian dimandikan didalam bak yang diisi air bunga setaman.

Setelah selesai dimandikan sianak diberi pakaian dan perhiasan baru. Kegiatan selan­jutnya adalah kenduri yang dipimpin oleh tukang kajat (modin). Dengan adanya kenduri tersebut, maka berakhirlah upacara Tedhak Siten, dan sejak saat itu anak sudah diperbolehkan bermain-main di tanah.

Menurut artinya Tedhak Siten berasal dari kata tedhak dan Siti. Tedhak artinya turun sedang siti berarti tanah. Dengan demikian maksud dari upacara Tedhak Siten adalah upacara turun ke tanah. Upacara Tedhak Siten diadakan karena merupakan suatu kepercayaan sementara orang, bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib yang dijaga oleh Bethara Kala. Adapun fungsi mereka menjalankan upacara Tedhak Siten, yaitu memperkenalkan anak pada Bethara Kala si penjaga tanah agar tidak marah. Sebab apabila Bethara Kala marah, akan menimbulkan suatu bencana bagi si anak.

50-52

Upacara Tingkeban, Kabupaten Blitar

Masyarakat Kecamatan Nglegok apabila ibu hamil atau mengandung, dan kandungannya telah berumur tujuh bulan maka diadakan upacara tingkeban, tetapi ada pula yang menyebutnya piton-piton (pitonan). Upacara Tingkeban hanya dilaksanakan oleh wanita yang baru hamil pertama kali, sehingga kehamilan yang kedua, ketiga dan seterusnya tidak diadakan upacara tersebut. Upacara Tingkeban terdiri dari beberapa tahapan kegiatan, dimulai dengan kenduri, siraman, membelah cengkir (kelapa muda), menjatuhkan teropong, berganti pakaian, menjual rujak dan diakhiri dengan jenang procot.

Adapun pelaksanaan upacara Tingkeban adalah sebagai berikut : setelah kandungan berumur tujuh bulan, maka ditentukan waktu yang baik untuk melaksanakan upacara Tingkeban. Mengenai waktu untuk melaksanakannya ada beberapa ketentuan sebagai pedoman. Ada yang mengambil pedoman hari kelahiran (neton atau weton) orang yang mengandung. Ada pula yang melaksanakan pada tanggal (hari) sebelum bulan purnama, misalnya : 1,2,5,7,9,11,13,dan 15. Pelaksanaan upacara ini ada yang melaksanakannya pada siang hari, tetapi ada pula yang me­lakukannya pada malam hari.

Upacara Tingkeban merupakan upacara terpenting diantara upacara- upacara lainnya pada waktu seseorang sedang hamil. Oleh karenanya, sajian yang disediakan banyak ragamnya. Perlengkapan upacara tersebut meliputi:

1.  Nasi tumpeng sebanyak tujuh buah dengan lauk pauknya gudhangan, yang dilengkapi dengan telur tujuh buah dan panggang ayam jantan seekor.

  1. Nasi wuduk (nasi yang memasaknya diberi santan sehingga gurih rasanya), maka dari itu nasi wuduk juga disebut nasih gurih. Nasi wuduk ini biasanya dilengkapi ingkung ayam (ingkung adalah ayam yang cara memasaknya tidak dipotong-potong, dan ayam tersebut direbus diberi bumbu opor).
  2. Nasi golong, yaitu nasi putih yang dibentuk bulat-bulat sebesar bola tenis yang bergaris tengah kurang lebih 6 (enam) sentimeter, berjumlah tujuh buah.
  3. Nasi punar sebanyak tujuh takir. Takir untuk tempat nasi tersebut dinamakan takir plonthang, yaitu takir yang tepinya diplisir dengan janur kuning dan dikancing pakai jarum bundel (dom bundel : bahasa jawa).
  4. Nasi (sego) rogoh, yaitu nasi putih biasa dan telur rebus dimasukkan kedalam kendil.
  5. Ketupat luar sebanyak 7 (tujuh) buah.
  6. Jenang procot, jenang sumsum (bubur dari tepung beras) yang diberi pisang untuk yang telah dikuliti.
  7. Jenang abang (bubur dari beras yang diberi gula merah) dan jenang putih (bubur beras putih); jenang sengkala, yaitu bubur merah yang diatasnya diberi bubur putih.
  8. Sampora, yaitu makanan yang terbuat dari tepung beras diberi santan kemudian dicetak seperti tempurung tertelungkup lalu dikukus.
  9. Apem  kocor, yaitu apem yang rasanya tawar, cara makannya dengan juruh (gula merah yang dicairkan).
  10. Ketan manca warna, yaitu nasi ketan (beras pulut) yang dibentuk bulatan bulatan sebanyak 5 (lima) buah, berwarna hitam, putih, merah, kuning, dan biru.
  11. Polo pendhemyang terdiri dari bermacam-macam ubi-ubian, antara lain: ubi jalar, ubi kayu, ketela rambat, talas, kentang hitam, gembili, dan lain sebagainya.
  12. Jajan pasar yang terdiri dari beberapa macam makanan kecil yang biasa dijual di pasar, antara lain : thiwul, canthel, kacang tanah, krupuk, dhondhong, pisang raja, dan lain sebagainya.
  13. Uler-uleran, yaitu makanan dari tepung beras yang diberi macam-macam warna.
  14. Pipis kenthel, yaitu makanan yang bahanya dari tepung beras dicampur dengan santan dan gula merah, adonan ini dibungkus daun pisang kemudian dikukus.
  15. Dhawet   adalah semacam minuman yang bahanya dari santan, juruh (gula merah yang dicairkan) diberi isi cendhol.
  16. Rujak legi bahannya terdiri dari bermacam-macam buah-buahan, ke­mudian dipasah dan diberi bumbu rujak..
  17. Pisang ayu, yaitu pisang raja dua sisir (yang biasanya dilengkapi dengan sebungkus sirih dan bunga).
  18. Bunga setaman, yaitu tujuh macam bunga yang diletakkan dalam suatu tempat, biasanya bokor yang telah diisi air.

Diusahakan kalau dapat bunga setaman tersebut beijumlah 7 (tujuh) macam, namun kalau tidak dapat paling sedikit harus ada 3 (tiga) macam.

Upacara tingkeban dilaksanakan, apabila saat yang telah ditentukan tiba, dan segala sesajian telah tersedia. Upacara Tingkeban biasanya didahului dengan kenduri, yang dipimpin oleh orang yang sudah banyak pengalaman dalam hal upacara adat, atau disebut pula dengan modin. Setelah orang- orang yang diundang datang, maka tuan rumah segera mengutarakan maksud dari hajatnya tersebut kepada pemimpin upacara (modin). Kemudian pemimpin upacara segera mengutarakan maksud hajat tersebut kepada para undangan, dan diteruskan membacakan doa yaitu doa selamat. Selanjutnya makanan (sajian) yang tersedia dibagi-bagikan kepada orang yang ikut kenduri. Setelah semua peserta mendapatkan makanan biasanya terus pulang. Sewaktu pulang mereka dilarang untuk berpamitan dengan empunya keija.

Menjelang berakhirnya kenduri, upacara siraman dimulai yang diikuti oleh para tamu wanita. Upacara siraman pelaksanaannya dipimpin oleh seorang dukun bayi kyang akan menolong besuk sewaktu melahirkan. Tempat untuk menjalankan upacara siraman di kamar mandi atau di halaman. Dikamar mandi telah disediakan bak besar (jambangan) yang telah diisi air dan didalamnya dimasukkan mayang (bunga jambe), daun andong, bunga kenanga, bunga kantil daun beringin, dan uang logam, serta bunga setaman mereka sebarkan dilingkungan tempat memandikan. Sedang alat untuk menyiramkan air pada waktu memandikan adalah siwur yang terbuat dari tempurung kelapa yang masih ada dagingnya dan diberi tangki.

Setelah perlengkapan untuk upacara siraman telah lengkap, maka dhukun membawa orang yang hamil dan suaminya ketempat pemandian. Selanjutnya dhukun menyebar kembang setaman disekitar tempat untuk

memandikan. Dhukun segera membaca doa, kemudian menyiramkan air ke kepala wanita yang hamil dan suaminya sebanyak tiga kali, yang dilanjutkan sanak keluarganya yang menghadiri upacara tersebut secara bergantian, urut dari yang tua sebanyak tujuh orang. Setiap orang menyiramkan air sebanyak tiga siwur. Pada waktu dimandikan, wanita yang hamil dan suaminya memakai pakaian basahan (kain yang dipakai pada waktu mandi) dan duduk diatas kursi atau dhingklik. Sehabis dimandikan suaminya membelah cengkir gading yang bergambar Aijuna dan Sembodro atau Kamajaya dan Dewi Ratih. Pada waktu cengkir dibelah sang dhukun mengucapkan kata-kata yang disesuaikan dengan gambar pada cengkir gadhing tersebut. Bila pada cengkir gadhing tersebut terlukis gambar Aijuna dan Sembodro, maka ucapan dhukun adalah demikian : “Yen lanang kaya Arjuna yen wadon kaya Sembadra”, yang maksudnya bila bayi lahir laki- laki diharapkan agar parasnya elok dan berbudi luhur seperti Aijuna. Tetapi bila lahir perempuan diharapkan berparas cantik dan berbudu luhur serta setia seperti Sembadra. Apabila cengkir gadhing bergambar Kamajaya dan Dewi Ratih, maka dhukun berkata : “Yen lanang kaya Kamajaya wadon kaya Dewi Ratih “, yang maksudnya agar bila perempuan seperti Dewi Ratih kalau laki-laki seperti Kamajaya.

Sesudah dimandikan kedua orang tersebut disuruh ganti pakaian yang kering dan bersih. Kain yang dipakai oleh wanita sedang hamil tersebut dikendorkan, kemudian antara perut dan payudara diikat dengan benang (lawe : bahasa jawa 3 (tiga) warna , yaitu warna merah, putih, dan hitam. Cara mengikat benang tersebut dikendorkan pula, sehingga ada antara (longgar) kain yang dipakai dengan perut. Melalui antara yang longgar ini dhukun atau mertuanya dapat meluncurkan teropong (alat untuk mengikat benang yang akan ditenun). Teropong yang diluncurkan atau dijatuhkan tadi ditangkap oleh ibunya sendiri atau dhukunnya sambil berkata : lanang arep, wadon arep janji slamet, yang maksudnya kelak bila bayi lahir laki-laki maupun perempuan mau, asal selamat. Upacara meluncurkan teropong ini dilakukan dimuka senthong tengah.

Dengan selesainya upacara meluncurkan teropong dan membelah cengkir gadhing, dilanjutkan dengan ganti pakaian tujuh kali. Pakaian ini berupa kain panjang dan kemben (penutup buah dada) yang beijumlah 7 (tujuh) macam, kain tersebut dipakai secara bergantian satu demi satu. Pada waktu memakai kain yang pertama, para tamu yang datang berkata : “durung patut”, yang artinya kain yang dipakai tadi belum pantas. Kemudian ganti pakaian yang lain juga diolok-olok lagi, demikian seterusnya samapi tujuh kali. Setelah memakai kain yang ketujuh, ibu-ibu yang mengikuti upacara mengucapkan kata : ” Wispantes, wis pantes “, yang artinya sudah pantas. Kain yang dianggap pantas, yaitu kain truntum atau toh watu diingin dengan kemben dringin. Setelah upacara tingkeban, ibu yang mengandung tidak boleh memakai perhiasan, misalnya : cincin, kalung, subang. Upacara selanjutnya adalah menjual rujak. Wanita yang mengandung dan suaminya disuruh menjual rujak, yang membeli adalah ibu-ibu yang mengikuti upacara ini. Wanita yang sedang mengandung (yang diselamati) menjajakan rujak sedang suamainaaya menerima uangnya. Menurut kepercayaan, kalau rujak yang dijual rasanya hambar, maka bayi akan lahir laki-laki. Tetapi apabila rujak rasanya sedap, bayi yang dikandung lahir perempuan. Dengan selesainya upacara menjual rujak, maka berakhir pulalah prosesi upacara Tingkeban.

Masa kehamilan untuk pertama kali bagi suatu keluarga baru merupakan peristiwa penting. Kehamilan merupakan harapan bagi kelang­sungan keturunan. Seorang ibu muda hamil merupakan lambang kesuburan, dan kepadanya diperlukan sikap yang menyenangkan.

Peristiwa kehamilan menimbulkan harapan sekaligus kecemasan, maka anak yang dikandungnya haruslah dijaga dengan baik-baik. Sang ibu yang mengandung dijauahkan dari suasana duka, sebaliknya diberikan suasana yang menggembirakan dan kesukaan. Adapun mereka melakukan hal yang demikian (upacara Tingkeban), karena upacara tersebut mempunyai fungsi mendoakan agar yang dikandung dapat lahir dengan selamat dan lancar, juga mencita-citakan agar anaknya berperilaku nantinya sesuai yang diharapkan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: WUJUD, ARTI, DAN FUNGSI PUNCAK-PUNCAK KEBUDAYAAN LAMA DAN ASLI BAGI MASYARAKAT PENDUKUNGNYA; Sumbangan Kebudayaan Daerah Terhadap Kebudayaan Nasional; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI, 1996/1997, hlm. 46-50

Upacara Ruwahan

Masyarakat dusun Sanan tidak saja mengenal dan melaksanakan upacara Lampet Bendungan, tetapi juga yang lainnya yaitu upacara Ruwahan. Menurut sejarahnya, kegiatan ruwahan ceritanya dilaksanakan semenjak nenek moyang mereka, yang tujuannya untuk menghormati cikal bakal dusun Sanan yaitu mbah Kentosuro-wijoyo. Mbah Kentosuro wijoyo merupakan seorang pengembara (ngumboro : bahasa jawa) dari Mataram yang menuju ke arah Timur, dan suatu saat masuk hutan di daerah Blitar (sekarang), ditempat ini dia membersihkan hutan tersebut. Sewaktu membersihkan hutan mbah Kentosurowijoyo menemukan sumber mata air, dan sejak saat itulah dia membuat gubuk atau rumah kecil untuk tempat tinggalnya (menyanggrah : bahasa jawa).

Upacara Ruwahan dilaksanakan oleh masyarakat dusun Sanan setiap Ruwah (bulan jawa) pada tanggal 15. Pada acara upacara Ruwahan ini, harus diisi hiburan berupa kesenian Jaranan Mentaraman. Mengingat kesenian Jaranan Mentaraman merupakan kesenian yang disenangi oleh mbah Kentosurowijoyo. Kesenian JarananMentaraman adalah kesenian yang berasal dari daerah Mataram, berupa seni tari dan memakai jar an­jar an an terbuat dari kepang dengan ukuran besar, dan para penarinya memakai seragam, yaitu : mengenakan blngkon, baju lengan panjang, selempang, stagen, epek timang, keris, dan celana panjang.

Pelaksanaan upacara Ruwahan di Dusun Sanan, berpusat di sumber mata air Sanan, yamg dianggap masyarakat setempat sebagai punden. Sumber mata air Sanan, sangat penting artinya bagi masyarakat dusun Sanan, karena selain dimanfaatkan untuk mengairi sawah, juga untuk mencuci dan mandi. Namun yang terpenting, dengan adanya sumber mata air di dusun sanan, maka sawah yang berada di Dusun Sanan dan sekitarnya tidak pernah mengalami kesulitan atau kekurangan air untuk pengairannya.

Peserta dari upacara Ruwahan ini, adalah penduduk dusun Sanan yang diprakarsai oleh Bapak Kepala Dusun. Untuk kelangsungan pelaksanaan upacara Ruwahan harus sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan seperti terurai diatas. Tetapi untuk memberi penghormatan terhadap Mbah Kentosurowijoyo, harus disediakan sesaji, yaitu berupa cok bakal, buceng, dan panggang ayam.

Adapun jalannya upacara, setelah tiba saatnya hari pelaksanaan upacara Ruwahan, semenjak pagi hari penduduk dusun Sanan berdatangan menuju ke punden (sumber mata air), sambil membawa ambeng berisikan buceng lengkap dengan lauknya, cok bakal, dan panggang ayam. Apabila ambeng dari bapak kepala dusun telah datang dan pemimpin upacara telah datang, maka upacara Ruwahan segera dimulai. Setelah semua warga dusun berkumpul, maka bapak kepala dusun memerintahkan untuk segera membersihkan dan memperbaiki sumber mata air telah selesai, maka dilanjutkan dengan persembahan yang dipimpin oleh pemimpin upacara, yaitu mengujubkan sesaji yang ditujukan pada pedanyangan yang berada di punden (sumber mata air). Dengan selesainya pengujuban sesaji dilakukan oleh pemimpin upacara, maka dilanjutkan kenduri bersama dan hiburan kesenian, maka dipergelarkan Jaranan Mataraman.

Masyarakat dusun Sanan mengadakan upacara Ruwahan di tempat Punden (suber mata air), karena upacara tersebut mempunyai fungsi untuk keselamatan bagi penduduk desa Sanan pada umumnya, dan para petani pada khususnya jangan samapi kekurangan air. Selain itu tempat punden (sumebr mata air) tersebut mempunyai fungsi penting bagi masyarakat dusun Sanan dan di luar dusun Sanan yang mempercayainya, sebab apabila akan mempunyai hajad biasanya mereka mengadakan sesaji di punden khususnya pada hari jum’at. maksud melakukan hal demikian, adalah agar dalam pelaksanaan hajad nanti dapat lancar tanpa ada gangguan apapun.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: WUJUD, ARTI, DAN FUNGSI PUNCAK-PUNCAK KEBUDAYAAN LAMA DAN ASLI BAGI MASYARAKAT PENDUKUNGNYA; Sumbangan Kebudayaan Daerah Terhadap Kebudayaan Nasional; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI, 1996/1997, hlm. 38-39