JB. Sumarlin, Kabupaten Blitar

JB. Sumarlin7 Desember 1932, Johannes Baptista Sumarlin lahir di Nglegok, Blitar, Jawa Timur. anak ketiga dari tujuh bersaudara. Selanjutnya lebih dikenal dengan panggilan JB. Sumarlin

Tahun 1944, Sumarlin sekolah SD Negeri I, Blitar.

Tahun 1947, Sumarlin sekolah SMP di Kediri dan melanjutkan di Yogyakarta.

Tahun 1949, sewaktu masih duduk di SMA beliau keluar dari sekolahnya dan bergabung menjadi Tentara Pelajar (agresi ke II, Belanda).

Tahun 1952, Sumarlin melanjutkan SMA di Yogyakarta dan melanjutkan pendidikan dan masuk di SMA Budi Utomo, Jakarta.Jakarta.

Tahun 1952-1957 sambil kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, beliau bekerja di swasta pada NV Stars Industri, Jalan Cikini Raya 78, Jakarta sambil mengajar asisten dosen di almamaternya, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI).

Tahun 1958, Sumarlin lulus S1 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI).

Tahun 1960, JB Sumarlin lulus master bergelar MA (Master of Arts) dari Universitas California, Berkeley, AS.

Tahun 1965 diangkat menjadi dosen di almamaternya, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI).

JB. Sumarlin 1Tahun 1968, JB. Sumarlin lulus doktor memperoleh gelar Ph.D dari Universitas Pittsburg, AS. Untuk gelar doktornya Sumarlin lulus dengan disertasi berjudul Some Aspects of Stabilization Policies and Their Institutional Problems: The Indonesian Case 1950-1960.

Tahun 1969 awal kebangkitan Orde Baru, Sumarlin selaku Deputi Bidang Fiskal dan Moneter Bappenas,  selalu mendampingi Ketua Bappenas Widjojo Nitisastro setiap Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekonomi, di Istana Negara.

Tahun 1970 – 1998, pada masa pemerintahan Orde Baru (Orba) J.B. Sumarlin dalam pengabdiannya berperan sentral di bidang perekonomian. Dalam pusat kebijakan ekonomi dan keuangan. J.B. Sumarlin salah seorang arsitek ekonomi Indonesia yang ‘dibesarkan’ Widjojo dan ‘diandalkan’ Pak Harto.

Tahun 1970-1973, J.B. Sumarlin menjadi Sekretaris Dewan Moneter. Di tahun ini pula (1970-1973) merangkap Deputi Ketua Bappenas bidang Fiskal dan Moneter

Tahun 1972-1988, JB. Sumarlin sebagai Anggota MPR.

Tahun 1973, sewaktu menjabat sebagai Deputi Bappenas, Sumarlin sangat intensif bekerja sebagai salah satu anggota Tim Penyempurnaan Bahan GBHN, yang dipimpin oleh Sudharmono selaku Sekretaris Kabinet. Setiap tahun Sumarlin bertugas menyiapkan penyusunan Lampiran Pidato Kenegaraan yang disampaikan oleh Pak Harto setiap tanggal 16 Agustus, di depan sidang DPR, yang merupakan laporan tahunan pelaksanaan Repelita.

Tahun 1973, Sumarlin juga aktif sebagai anggota Tim Penyempurnaan Naskah GBHN  pimpinan Sudharmono, anggota Dewan Pembina Harian Dharma Wanita pimpinan Amir Machmud (Menteri Dalam Negeri).

Tahun 1973-1982, J.B. Sumarlin sebagai Wakil Ketua Bappenas.

 Tahun 1973-1983, J.B. Sumarlin mengabdi pada Pemerintahan sebagai Ketua Opstib, merangkap Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara. Juga sebagai Deputi Bidang Fiskal dan Moneter Bappenas.

Tahun 1973, sebelumnya mengabdi pada Negara, Di masa revolusi fisik, JB. Sumarlin ikut bergerilya sebagai anggota Palang Merah Indonesia, dan sebagai anggota TNI di Jawa Timur. Atas pengabdiannya, ia menerima tanda kehormatan dari pemerintah RI berupa Bintang Mahaputra Adiprana III.

Tahun 1975, mendapatkan penghargaan Bintang Grootkruis in de Orde van Leopold II dari pemerintah Belgia.

Tahun 1978 – 1983, sebagai Wakil Ketua Tim Penghimpun Bahan-Bahan GBHN, pimpinan Sudharmono.

Tahun 1979, sebagai guru besar di almamaternya, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI).

Tahun 1980, Wakil Ketua Tim Pengendali Pengadaan Barang/Peralatan Pemerintah pimpinan Sudharmono, atau yang sehari-hari dikenal sebagai Tim Keppres 10

Tahun 1983-1988, ia menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Menneg PPN) merangkap Ketua Bappenas.

Tahun1985, J.B. Sumarlin ditunjuk sebagai Menteri Keuangan ad interim dan Menteri Pendidikan & Kebudayaan ad interim, menggantikan Prof. Dr. Nugroho Notosusanto yang wafat pada 1985.

21 Maret 1988-17 Maret 1993, J.B. Pada Kabinet Kabinet Pembangunan V, J.B. Sumarlin menjabat Menteri Keuangan.

Tahun 1993-1998, JB. Sumarlin dipercaya memimpin lembaga tinggi negara, selaku Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

JB. Sumarlin berIstrikan Th. Yostiana Soedarmi, dikaruniai 5 orang putra, dan 6 orang cucu. Di rumahnya yang luas itu, juga tinggal bergabung dengan anak dan beberapa cucunya empat orang anak.

Pernah mdenjadi Presiden Komisaris (Independen) Asuransi Ramayana Tbk. ( ASRM)=S1Wh0T0=

Jalannya Upacara, Parkawinan Adat Suku Jawa di Daerah Jawa Timur

Upacara “temu” atau “panggih” pengantin sebagai puncak acara dalam perkawinan adat daerah Jawa Timur, diawali dengan perjalanan pengantin puteri menuju ke pelaminan secara perlahan- lahan dengan diiringi penari “beskalan”, sehingga tampak anggun. Setelah sampai di tempat yang dituju, pengantin puteri lalu duduk di pelaminan, sedangkan penari yang mengiringinya meneruskan tariannya sampai selesai.

Sementara itu dari kejauhan terdengar suara “terbang jidor” sebagai tanda bahwa pengantin putera telah datang dengan para pengiringnya. Selanjutnya, dua orang pengganti pria yang telah dipercaya mengarahkan pengantin putera yang dipayungi oleh seorang joko/talang bagus menuju tempat penyambutan pengantin puteri, sedangkan di belakangnya berjalan secara teratur para pengiring pembawa rangkaian. Untuk lebih jelasnya di bawah ini diperlihatkan skema iring-iringan pengantin putera dalam upacara perkawinan adat daerah Jawa Timur.

Pengantin putri lalu bangkit dari tempat duduknya, kemudian dikawal oleh kedua orang tuanya dan diapit oleh para “pinisepuh” (orang tua-tua) atau orang pengasih berjalan secara perlahan-lahan menuju ke pintu tengah.  Berbagai perlengkapan upacara, seperti “sanggan”, “kloso”/ “bantal”, “ongkek”, “jodhang”, dan perlengkapan lainnya yang, dibawa para pengiring pengantin putera lalu diserahkan kepada orang tua pengatin puteri. Biasanya yang menerima berbagai perlengkapan tersebut adalah ibu pengantin puteri, yang kemudian disimpan atau dimasukkan ke dalam rumah.

Acara upacara perkawinan dilanjutkan dengan serah terima, pengantin yang dilaksanakan oleh pembawa “loro pangkon”. Dalam acara ini terjadilah dialog dengan wakil keluarga pengantin puteri melalui pantun-pantun jenaka. Selama berlangsungnya acara ini biasanya “loro pangkon” ditaburi dengan beras kuning dan kembang telon. Adapun kata “loro pangkon” sebenarnya mengandung arti bahwa kedua orang tua pengantin saling merengkuh, yaitu menyatukan dua keluarga antara pengantin puteri dan pengantin putera, disamping Juga keluarga dari pengantin puteri dan keluarga dari pengantin putera.

Sebelum kedua pengantin dipertemukan, terlebih dahulu dilakukan acara tukar-menukar kembang mayang yang kemudian dibuang di atas terob. Sehabis acara ini dilanjutkan dengan lempar- melempar “gantal”. Dalam hal ini pengantin puteri melempar “gantal” kepada pengatin putera. Demikian pula dengan pengantin putera, ia juga melakukan perbuatan yang sama. Jika kedua pengatin telah saling lempar-melempar, acara dilanjutkan dengan menginjak telor oleh pengantin putera sampai pecah, kedua pengantin lalu saling bersalaman. Selanjutnya, pengantin puteri mengambil posisi jongkok untuk mencuci kaki pengatin putera. Apabila hal ini telah dilakukan, pengantin puteri lalu berdiri dan berjalan ke kiri, menempatkan diri di sebelah kiri pengantin putera.

Pada saat itu ibu pengantin puteri lalu memberi minuman air putih kepada kedua pengantin. Selanjutnya, kedua pengantin bergandengan kelingking lalu berjalan mengitari “pasangan” sebanyak tiga kali. Hal ini melambangkan bahwa kedua pengantin sudah disatukan dengan tekat akan menghadapi semua rintangan secara bersama-sama. Sedangkan putaran sebanyak tiga kali melambangkan bahwa kedua pengantin tetap akan sehidup semati, baik pada saat permulaan hidup bersama (purwo), pacla pertengahan perjalanan hidup (madyo), maupun sampai akhir hayatnya (wasono).

Setelah kedua pengantin mengitari “pasangan”, acara dilanjutkan dengan “sungkeman”. Mula-mula kedua pengantin melakukan sungkem kepada kedua orang tua pengantin puteri, dan selanjutnya kepada kedua orang tua pengantin putera. Setelah acara ini selesai, kedua pengantin lalu berjalan secara perlahan-lahan menuju tempat duduk di pelaminan. Selanjutnya, kedua pengantin makan “nasi punar” dengan sendok yang bahannya terbuat dari janur. Hal ini melambangkan bahwa dalam mengarungi kehidupan kedua pengantin tetap dalam keadaan rukun, baik pada saat suka maupun duka.

Setelah kedua pengantin makan “nasi punar”, acara dilanjutkan dengan “bedol pengantin”, Di sini kedua pengantin serta kedua orang tua pengantin puteri dan pengantin putera tetap duduk di tempatnya masing-masing, menunggu ucapan selamat dari para hadirin. Dengan demikian maka berakhirlah prosesi “upacara temu” atau “panggih” pengantin.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Pandangan Generasi Muda Terhadap Upacara Perkawinan  Adat di Kota  Surabaya, Departemen Pendidikan dan  Kebudayaan RI Jakarta, 1998, hlm. 44- 47

Upacara Parkawinan Adat Suku Jawa di Daerah Jawa Timur

Upacara perkawinan adat suku Jawa di daerah Jawa Timur disebut dengan istilah temu atau “panggih/kepanggih” pengantin. Upacara ini merupakan satu di antara rangkaian upacara perkawinan adat yang paling menarik, dan sebagai puncak acara perkawinan adat dilaksanakan, karena mempelai laki-laki dan mempelai wanita saling bertemu. Biasanya mempelai laki-laki datang ke tempat mempelai wanita untuk bertemu.

Kedatangan mempelai laki-laki ke tempat mempelai wanita ini diiringi dengan suatu arak-arakan sambil membawa “sanggan”, “rontek”, “srasrahan”, dan “jagoan”. Di samping itu, biasanya juga membawa “panjang ilang”, “pasangan”, tempayan yang berisi air dan kembang setaman, telur ayam yang masih baru, “gantal”, dan tempat duduk pengantin. Semua barang-barang bawaan pengantin laki-laki ini pada dasarnya merupakan simbul kehidupan mempelai berdua.

“Kembar mayang”, yang juga disebut dengan istilah “gagar mayang” adalah suatu rangkaian bunga yang dibuat dari tunas pisang (batang pisang yang masih kecil), “janur” (daun kelapa yang masih muda), mayang (bunga pinang), dan daun beringin. Keempat unsur ini masing-masing mempunyai makna sendiri-sendiri. Pohon pisang dan pohon kelapa misalnya, baik batang, daun, akar maupun buah dari kedua jenis pohon ini dapat memberikan manfaat dalam kehidupan manusia.

Dengan demikian kedua pohon tersebut melambangkan agar nantinya kedua mempelai dapat menjadi suami-istri yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakatnya. Barang-barang lainnya, yaitu mayang dan daun beringin biasanya dipilih yang masih muda yang keduanya melambangkan bahwa kedua pengantin masih muda dan belum berpengalaman dalam berumah tangga. Dalam arak-arakan pengantin laki-laki biasanya ada orang yang diberi tugas membawa barang-barang yang ditempatkan dalam suatu wadah, yang dibawa dengan cara disangga.

Barang-barang itu di antaranya : “gedang ayu”, yaitu dua sisir pisang raja yang sudah tua; “susur ayu”, yaitu daun sirih yang masih muda; kembang telon; kisi; kapuk kapas, padi; “lawe saukel” atau benang satu ikal; kaca; sisir; menyan; minyak; asam; kunir (kunyit); cikal; dan uang. Oleh karena barang-barang tersebut dibawa dengan cara disangga, maka dalam upacara perkawinan adat Jawa Timur disebut dengan istilah “sangga”. Barang-barang ini nantinya diserahkan kepada orang tua pengantin wanita.

“Rontek” adalah umbul-umbul yang terbuat dari bahan kertas yang dilengkapi dengan kain yang warnanya beraneka ragam. “Rontek,” biasanya dilengkapi dengan sebuah tombak yang dibawa oleh orang yang diberi tugas khusus untuk membawanya dalam arak-arakan pengantin laki-laki, dan berada di barisan paling depan. Menurut kepercayaan orang Jawa di Jawa Timur, tombak ini merupakan simbol dari rasa hormat kedua pengantin terhadap orangtua dan siapa saja yang patut dihormati. Di samping itu, juga sebagai senjata jika arak-arakan pengantin laki-laki tersebut dalam perjalanannya ke tempat pengantin wanita menemui hal-hal yang tidak diinginkan.

“Srasrahan” adalah suatu peristiwa dalam upacara perkawian adat daerah Jawa Timur yang berkaitan dengan penyerahan beberapa benda dari pihak pengantin laki-laki kepada orang tua pengantin wanita. “Srasrahan” ini biasanya ditempatkan dalam suatu wadah yang disebut dengan istilah “jodhang”, yang isinya berupa kue dan nasi beserta ikannya. Apabila dalam perkawinan itu kedua mempelai masih berstatus jejaka dan gadis, maka di belakang “Jodhang” biasanya dilengkapi dengan barang-barang perlengkapan dapur. Barang-barang ini selama dalam perjalanan menuju ke tempat pengantin wanita biasanya dipukuli. Peristiwa ini disebut dengan istilah “bubak kawak”, yang artinya membuka keadaan baru dari tingkat remaja ke tingkat berkeluarga. Dengan adanya “srasrahan” ini diharapkan kedua mempelai dapat memperoleh rejeki yang banyak. Sementara itu dalam buku “Pengantin Malang Keputren” karangan Sri Jatiningsih (1997) dikatakan, bahwa peristiwa upacara perkawinan adat yang disebut “bubak kawak” tersebut di atas biasanya diadakan apabila pengantin wanita merupakan anak pertama atau anak sulung. Selanjutnya dikatakan, dalam upacara ini yang penting adalah tersedianya “ongkek”, yaitu alat atau wadah yang digunakan untuk membawa barang-barang perlangkapan dapur. Apabila pengantin wanitanya anak bungsu atau anak “ragil” maka peristiwa upacara perkawinannya disebut “tumplak punjen“. Dalam upacara ini biasanya disediakan uang logam, “bunga telon”, “kaji-kajian”, dan beras kuning. Beras kuning ini dimasukkan dalam kantong-kantong kampil yang nantinya dibagi-bagikan kepada para tamu yang hadir. Adapun banyaknya kampil-kampil tersebut diperhitungkan dari hari kelahiran (weton) kedua mempelai. “Jagoan” adalah sebuah istilah dari bahasa Jawa yang berasal dari kata “jago” mendapat akhiran “an”, yang artinya ayam jantan. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan jagoan adalah tiruan ayam jantan yang bahannya terbuat dari kertas. Ayam jantan tiruan (jagoan) ini akan diikutsertakan dalam arak-arakan apabila kedua pengantin masih berstatus jejaka dan gadis. Orang yang diberi tugas membawa jagoan biasanya akan berkokok, menirukan suara ayam jantan di sepanjang jalan yang dilalui arak-arakan pengantin laki-laki. Hal ini melambangkan bahwa pengantin laki-laki sedang merindukan pengantin wanita.

Panjang ilang” adalah sebuah bokor yang bahannya terbuat dari janur yang dianyam, sedangkap isinya adalah “sajen” berupa makanan yang jenisnya sama dengan makanan yang disajikan para tamu pada pesta perkawinan. Apabila upacara perkawinan sudah selesai maka “panjang ilang” beserta isinya biasanya lalu dibuang atau dihanyutkan ke sungai. Hal ini melambangkan pembuangan segala keburukan dan kejahatan, dengan harapan agar kedua pengantin, kerabat-kerabatnya dan orang-orang yang membantu selama berlangsungnya upacara perkawinan dapat memperoleh keselamatan dan kebahagiaan.

“Pasangan” adalah nama sebuah alat untuk menempatkan leher “lembu” atau kerbau pada luku atau garu, yang biasanya digunakan untuk mengolah lahan pertanian oleh para petani. Dalam upacara perkawinan adat daerah Jawa Timur, “pasangan” ini melambangkan agar kedua pengantin dapat hidup rukun dan bersama-sama dapat menghadapi bahaya dan derita guna mencapai kebahagiaan bersama. Oleh karena itu, “pasangan” ini biasanya diletakkan di serambi tempat bertemunya kedua pengantin.

“Tempayan” adalah suatu wadah yang bahannya terbuat dari tanah liat yang isinya berupa air dan kembang setaman, sedangkan kegunaannya untuk membasuh kaki kedua pengantin. Hal ini melambangkan pensucian dan pembersihan kedua pengantin dari keburukan atau noda-noda yang dibawa oleh roh halus. Dengan demikian maka kedua pengantin hatinya akan menjadi bersih dan siap menjalani kehidupan yang baru sebagai suami-istri.

Pada upacara perkawinan adat daerah Jawa Timur, tempat di dekat “pasangan” dan “tempayan” ini biasanya diletakkan telur yang masih baru atau segar. Telur ini nantinya diinjak oleh pengantin laki-laki pada saat kedua pengantin bertemu. Hal ini melambangkan berakhirnya masa remaja kedua pengantin dan mulai memasuki kehidupan berumah tangga.

“Gantal” adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Jawa yang digunakan untuk menyebut daun sirih yang digulung, yang di dalamnya diisi dengan gambir dan diikat dengan benang. Barang ini dibawa oleh kedua pengantin yang nantinya digunakan sebagai alat untuk saling melempar pada waktu kedua pengantin tersebut saling bertemu.

Dalam upacara temu, beberapa jenis barang tersebut di atas tidak boleh ditinggalkan. Dengan kata lain, barang-barang itu harus ada. Oleh karena itu, sebelum upacara ini dilaksanakan biasanya barang-barang itu selalu mendapatkan perhatian tersendiri, sehingga tidak terlupakan.

Sebelum dilaksanakan upacara temu atau panggih, ada beberapa rangkaian upacara yang harus dilaksanakan terlebih dahulu, seperti “upacara siraman”, “manggulan”, dan “upacara jomblakan” atau “rapak”. “Upacara siraman” adalah upacara memandikan calon pengantin. Tujuannya adalah untuk mensucikan jasmani dan rokhani calon pengantin, sedangkan pelaksanaannya biasanya sehari sebelum dilakukan upacara temu pengantin, yaitu antara pukul 11.00 sampai dengan pukul 15.00 WIB. Adapun alat-alat yang diperlukan untuk upacara ini adalah: sajen siraman, air tawar yang diambil dari tujuh sumber, bunga tujuh macam, mangir untuk membersihkan badan yang beberapa minggu sebelumnya telah dilulur, kendhi yang berisi air bersih untuk berwudhu, handuk dan pakaian untuk ganti.

Mengenai pelaksanaannya, sebelum calon pengantin dimandikan, terlebih dahulu melalukan “sungkem” kepada kedua orang tuanya lalu mengambil tempat yang sudah disediakan. Selanjutnnya, upacara siraman segera dimulai. Orang-orang yang memandikan calon pengantin biasanya jumlahnya ganjil, sedangkan orang yang berhak pertama kali memandikan calon pengantin adalah kedua orang tuanya, yang kemudian para keluarga yang dianggap berhak.

Pada malam hari sebelum esok harinya dilaksanakan upacara temu pengantin biasanya diadakan acara manggulan, yang artinya malam terakhir bagi calon pengantin puteri sebagai seorang remaja atau gadis. Pada malam tersebut calon pengantin puteri dirias secara sederhana untuk menjamu para kerabat dan handai toulan yang hadir dalam acara tersebut. Mereka ini pada umumnya adalah para remaja dan gadis-gadis untuk meminta bunga pengantin dengan harapan agar cepat mendapatkan jodoh.

“Upacara Jomblakan” atau “rapak” dilaksanakan bersamaan dengan waktu nikah atau ijab. Upacara ini biasanya hanya dihadiri oleh orang-orang tertentu, di antaranya penghulu (sebagai wakil pemerintah), kedua calon pengantin, orang tua/wali atau saudara, dan dua orang saksi: satu untuk pihak pengantin puteri dan yang satunya lagi untuk pihak pengantin putera.

Kedua orang saksi tersebut nantinya akan menjadi saksi dan akan menandatangani surat nikah. Mereka akan memberi kesaksian bahwa perkawinan kedua calon pegantin tidak dipaksakan, akan tetapi atas kemauan mereka sendiri. Sebagai pokok dari acara perkawinan adalah ijab yang lazimnya disebut dengan istilah “akad nikah”, sedangkan acara lain-lainnya sebenarnya hanya merupakan rangkaian saja. Dengan dilaksanakanya “akad nikah”, maka kedua pengantin telah dinyatakan resmi menjadi suami-istri. Jika upacara ini telah dilaksanakan, pengantin putera akan kembali ke pondokannya, sedangkan pengantin puteri kembali ke kamarnya. Adapun upacara “temu” atau “panggih” pengantin dilaksanakan setelah selesai dilaksanakan upacara akad nikah.

Di daerah Jawa Timur ada suatu perkawinan yang pantang dilakukan, yaitu perkawinan yang sifatnya mendahului atau melangkahi saudaranya yang lebih tua yang belum kawin. Apabila hal ini terjadi biasanya harus ditebus dengan suatu upacara yang disebut “upacara langkahan”. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada malam manggulan..

Pada malam tersebut sebelum banyak tamu calon pengantin puteri mohon doa restu dan meminta maaf kepada saudara tua yang dilangkahinya dengan cara sungkem. Selanjutnya, ia memberikan bungkusan kepada saudara tuanya itu yang isinya berupa pakaian “sak pengadek” (seperangkat pakaian). Setelah bungkusan tersebut diterima, si saudara tua lalu menuntun adiknya dengan tebu wulung. Dengan demikian upacara ini sebenarnya hanya diikuti oleh anggota keluarga yang bersangkutan saja.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pandangan Generasi Muda Terhadap Upacara Perkawinan  Adat di Kota  Surabaya,
Jakarta: Departemen Pendidikandan  Kebudayaan RI, 1998, hlm.34 – 40

Perlengkapan upacara Parkawinan, Adat Suku Jawa di Daerah Jawa Timur

Perlengkapan upacara perkawinan adat daerah Jana Timur pada dasarnya cukup bervariasi. Sebagian perlengkapan tersebut telah dikemukakan dalam uraian tentang upacara perkawinan adat, yakni “kembar mayang”, “sanggan”, “rontek”, “srasrahan”, “jagoan”, “panjang ilang”, “pasangan”, dan “gantal”.

Perlengkapan lainnya adalah busana pengantin yang memperlihatkan adanya pengaruh dari Kerajaan Majapahit. Hal ini terlihat dari busana pengantin yang dikenakan, dimana busana tersebut menunjukkan dominasi unsur-unsur busana Majapahit.

Ragam hias yang dituangkan antara lain : motif-motif Gringsing Majapahit, motif Surya Majapahit, motif Gerbang Waringin Lawang, motif Sulur Buah Maja, motif Sulur Bunga. Cempaka, motif Sulur Bunga Anggrek, dan motif Sulur Bunga Teratai. Di samping unsur-unsur dominasi tersebut, upacara perkawinan adat daerah Jawa Timur juga dilengkapi dengan baju “beskap” lengan panjang, “sumping”, “kelat bahu”, sabuk “pending”, “rapek”, dan selop.

Mengenai seperangkat busana pengantin yang dikenakan oleh pengantin pria dalam upacara perkawinan adat daerah Jawa Timur, dapat dikemukakan sebagai berikut Tutup kepala berupa mahkota model gelung keling warna dasar hitam, yang dihiasi dengan jamang kancing gelung motif “Surya Binelah” warna emas dan permata yang disesuaikan dengan jamang pengantin puteri.

1)       Sumping motif Sulur Bunga Cempaka rinenggo sekar karang melok.
2)       Kalung susun tiga motif “Wulan Manunggal”
3)       Kelat bahu motif Garuda Mungkur
4)       Ikat pinggang/sabuk pending motif Antaraksi warna emas, bisa dari kain sutra atau linen yang bagian tepinya disulam/diberi manik-manik warnna emas.
5)       Senjata berupa Keris Landrang yang dipakai di bagian depan rinenggo sekar melati roncen kolong keris.
6)       Mengenakan cincin dua buah.
7)       Bagian dalam mengenakan baju warna terang model taqwa yang
dihiasi kancing smas motif Surya Majapahit.
8)       Baju luar berupa baju beskap pajang sampai di atas lutut, di bagian tengah agak terbuka yang dihiasi dengan benang/manik- manik/monte warna emas dengan motif Sulur Bunga Cempaka/ Mojo, Surya Majapahit, Candi Waringin Lawang, dan Itik Modopuro.
9)       “Rapek” bersusun tiga motif “Surya Trimondo”
10)    Ilatan/koncer motif “Cawuto” berwarna hitam atau dapat pula menggunakan kain sutera.
11)    Dodot sinebab paniang dengan motif Surya Ginelar dibatik/ dipiodo/monte warna emas menyala.
12)    Celana gringsing motif Surya Majapahit yang dihiasi dengan benang/prodo/monte warna emas menyala.
13)    Alas kaki berupa “selop” yang dihiasi dengan monte/manik- manik warna emas.
Adapun mengenai seperangkat busana pengantin putrinya dapat dikemukakan sebagai berikut:

1)    Pada bagian kepala dibentuk gelung keling yang mengepal ke atas rinenggo “sekar panganti” (pandan wangi, gading, anggrek, dan melati), serta dilengkapi dengan “cunduk mentul” motif Suryo Sekar Mojo yang dihiasi permata, dan sebagian rambut diulur lepas terurai ke ba>vah sampai ke pinggul yang dililit dengan untaian bunga melati.
2)    Hiasan kepala bagian depan berupa jamang motif “Kancing Gelung Surya Binelah” yang pada bagian bawah dihiasi dengan untaian permata motif Tritis, dan diberi kain beludru lima lengkung, sedangkan pada sisi kanan dan kiri dilengkapi dengan untaian bunga melati sepanjang lebih kurang 30 cm yang di bagian ujungnya ditutup dengan bunga cempaka/gading.
3)    Subang/giwang motif Ponyok
4)    Sumping motif Sulur Bunga Cempaka “rinenggo karang melok”
5)    Kalung motif “Kebon Rojo/Kaae rinonce”
6)    Kelat bahu motif Garuda Mungkur
7)    Cincin motif Ronyok
8)    Gelang tangan motif Kono/Sigar Penjalin
9)    Ikat pinggang/sabuk pending motif Antaraksi warna emas, bisa juga dari kain sutera atau linen yang bagian tepinya disulam/ diberi manik-manik warna emas.
10)  Bagian dalam baju menggunakan mekak warna terang.
11)  Penutup badan bagian luar berupa baju panjang sampai di atas lutut, di bagian tengah agak terbuka dan dihiasi dengan benang/ manik-manik/monte warna emas dengan motif Sulur Bunga Mojo/Bunga Cempaka, motif Surya Majapahit, Candi Waringin Lawang, Itik Modopuro dan dilengkapi bros/peniti renteng rinenggo sekar melati rionce.
12)  Rapek bersusun tiga motif Surya Trimondo
13)  Ilatan/kancer motif Cawuto berwarna hitam, dapat pula menggunakan kain sutera.
14)  “Dodot sinebab” panjang dengan motif “Surya Ginelar” dibatik/ diprodo emas menyala.
15)  “Sinjang gringsing” motif Surya Majapahit dengan dihiasi benang/prodo warna emas menyala.
16)  Alas kaki berupi selop yang dihiasi dengan monte/manik-manik warna emas.

Upacara “temu” atau “kepanggih” merupakan puncak upacara adat, dan pada upacara ini perangkat busana pengantin putera dan puteri juga dikenal adaya busana pengiring, sehingga upacara tersebut kelihatan menarik baik dari segi etika, estetika, norma maupun adat. Adapun busana pengiring pengatin terdiri atas pakaian pria, pakaian wanita, pakaian remaja putera, pakaian remaja puteri, dan pakaian anak-anak. Sedangkan unsur-unsurnya di antaranya gelang keling, udet (ikat kepala, kebaya renda/bordir dengan motif Candi Waringin Lawang, baju beskap model taqwa; rantai jam gandul, peniti renteng, kain gringsing, sabuk otok, dan selop atau sepatu.

Rombongan pengiring pengantin pada dasarnya terdiri atas “cucuk tampah”; “gandik sakembaran”; “talang atur”; “pembawa payung”; “pengapit” (pembawa sekar rontek); “perawan suhthi” (pembawa peralatan temu pengantin; talang bagus (pengiring pengantin putera); orang tua; pembawa: “kloso bantal”, “jodang”, dan “bubak kawak”.

Beberapa peralatan yang dibawa oleh para pengiring pengantin adalah loro pangkon, yang terdiri dari : jagoan Jodang, bubak kawak, dan “kloso bantal”; “tumbak”; payung; “sekar rontek”; bokor isi beras kuning: dan baki yang isinya kendi, daun kelor, telor, gelas, dan bokor isi bunga setaman.

Secara traditional seluruh upacara perkawinan adat daerah Jawa Timur berlangsung di rumah keluarga atau orang tua pengantin puteri. Untuk itu, sebelum tiga sampai tujuh hari pelaksanaan perkawinan pihak yang punya gawe biasanya akan mendirikan terob atau tratak di depan rumahnya. Bahan-bahan yang digunakan untuk medirikan tratak adalah bambu yang fungsinya sebagai tiang penyangga dan atap yang bahannya terbuat dari anyaman dauh kelapa, atau bisa juga dari anyaman bambu (kepang). Selama mendirikan tratak biasanya ada wanita yang menumbuk lesung (kotekan). Hal ini dimaksudkan sebagai tanda bahwa di tempat tersebut ada yang akan mempunyai hajad. Apabila tratak sudah selesai dikerjakan, maka sebagai kelengkapan terob biasanya di pasang janur dan tetuwuhan.

 

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Pandangan Generasi Muda Terhadap Upacara Perkawinan  Adat di Kota  Surabaya, Departemen Pendidikandan  Kebudayaan RI Jakarta, 1998, hlm. 40- 44

Osing dan Banyuwangi

Mengapa Banyuwangi Mendapat Predikat Kota Osing?

Kabupaten Banyuwangi terletak di ujung paling Timur dari pulau Jawa. Secara admin­istratif berada di dalam wilayah pemerintahan Pembantu Gubernur di Jember, disamping kabupaten-kabupaten lainnya seperti Situbondo, Bondowoso dan Jember.

Berbeda dengan ketiga kabupaten tersebut, yang berkembang menjadi kota dengan usia relatif muda (mulai berkembang pada zaman penjajahan Belanda karena ditunjang oleh berbagai macam perkebunan di daerahnya masing-masing), maka sejarah perkembangan Kabupaten Banyuwangi agak lain.

Sejarah Kabupaten Banyuwangi dimulai dari zaman Kerajaan Blambangan di daerah Selatan (sezaman dengan kerajaan Majapahit), yang kemudian ibukotanya berpindah makin ke Utara sehingga menjadi kota Banyuwangi yang sekarang ini. Perkembangannya pada abad-abad terakhir dari segi ekonomi juga banyak didukung oleh berbagai macam per­kebunan yang banyak terdapat di wilayahnya. Perkebunan tersebut semuanya mulai dirintis sejak masa penjajahan Belanda.

Sebagai suatu daerah kebudayaan, Banyuwangi termasuk lingkungan kebudaya­an Jawa, sebagaimana halnya Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura. Akan tetapi kalau diteliti lebih mendalam, sebenarnya daerah ini secara kultural merupakan suatu wilayah tersendiri dengan segala kekhasannya.

Hal yang demikian karena didukung oleh keadaan wilayah, dimana batas-batas alam dan kultur telah “memagari” daerah tersebut. Di sebelah Utara. Timur dan Selatan Kabupaten Banyu­wangi dibatasi oleh laut, sedang di sebelah Barat oleh ketiga kabupaten tersebut diatas, yang notabene sebagai wilayah kebudayaan tergolong baru.

Keadaan Banyuwangi ini mengingatkan kita kepada pulau/propinsi Bali, yang karena letak geografisnya menyebabkan selama ini tetap mempunyai corak kebudayaan yang asli dengan segala adat istiadatnya.

ASAL MULA ISTILAH ASING

Banyuwangi sebagai suatu wilayah kebudayaan mempunyai kekhususan, yang membedakannya dengan daerah-daerah lain, baik ditinjau dari segi bahasa, kesenian maupun adat istiadat penduduknya.

Sebagai suatu kabupaten dengan ibukota yang terletak di tepi pantai (pelabuhan), maka Banyuwangi (sejak) masa-masa yang lalu banyak dikunjungi oleh penduduk dari daerah lain, baik itu oleh suku-suku lain di seluruh wilayah Nusantara, maupun oleh orang-orang asing.

Tidak mengherankan jika bahasa daerah Banyuwangi, yang pada dasarnya bahasa Jawa (kuno) itu banyak dipengaruhi oleh bahasa- bahasa lain, seperti bahasa daerah Bali. Madura, Melayu bahkan konon bahasa Inggris.

Bahasa daerah Banyuwangi mengenal perkataan nagud (jelek), yang konon berasal dari perkataan bahasa Inggris no good. Bahasa daerah Banyuwangi yang berakhir dengan huruf “i” biasanya diucapkan seperti pada umumnya orang Inggris mengucapkan huruf “i” (=ai). Contoh: iki (=ini) diucapkan ikai. Lali (=lupa) diucapkan lalai

Orang luar menamakan wilayah kebudayaan Banyuwangi sebagai “daerah osing”. Perkataan “osing” yang berarti “tidak” sebenarnya merupakan sinonim dari perkataan bahasa Jawa “ora” yang juga berarti “tidak”. Disini berperan pengaruh bahasa Jawa dan

Bali, karena sing dalam bahasa Banyuwangi juga berarti tidak. Sebagai sebuah perkataan untuk menyatakan “tidak” maka perkataan “osing meniru tatanan bahasa Jawa: “ora”. Didalam bahasa percakapan sehari-haripun kalau orang Banyuwangi menyatakan “tidak”, tentu “osing” bukan “using”.

Oleh karenanya maka penulis lebih cenderung memakai istilah osing dan bukan using, sebab tata bahasa asalnya (induknya) adalah ora, bukan ura.

Pemakaian istilah Osing sebagai suatu nama bagi wilayah kebudayaan Banyuwangi sebenarnya relatif muda, baru sekitar abad XVIII. Menurut hasil Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa IKIP-PGRI Banyuwangi jurusan Sejarah, istilah osing dilontarkan oleh para pendatang dari Jawa Tengah yang membuka dan mendiami kawasan hutan di daerah Banyuwangi Selatan. Para penduduk Banyuwangi di sebelah Utara mereka, mulai dari Cluring sampai Kalipuro, disebut dengan istilah orang Osing. Maksud­nya orang (penduduk), yang kalau menyatakan tidak bukan dengan ora melainkan osing.

Berdasarkan data tahun 1987, dari jumlah 175 Desa/Kelurahan di Kabupaten Banyu­wangi, 94 diataranya para penduduknya kebanyakan menggunakan bahasa Osing.

KESENIAN DAN ADAT ISTIADAT

Di bidang kesenian kita kenal kesenian khas Banyuwangi seperti gandrung, aljin, angklung caruk, kendang kempul dan seni drama khas Banyuwangi yang disebut janger Banyuwangi (=damarwulan).

Kalau seni musik yang terkenal di Indo­nesia ialah gamelan, maka di daerah Banyuwangi gamelan ini merupakan suatu perangkat instrumen yang agak berbeda dan dimainkan dalam bentuk-bentuk kombinasi sedikit lain daripada gamelan Jawa pada umumnya. Pada gilirannya gamelan khas Banyuwangi ini menunjukkan irama-irama yang lincah dan dinamis, mirip-mirip gamelan Bali.

Seni tari yang berhubungan dengan seni musik pada hakekatnya adalah sebuah bentuk drama. Ada tari-tarian rakyat dan ada pula seni tari dan drama profesional yang khusus diusahakan dan dimainkan oleh tenaga-tenaga terlatih. Hampir semua tarian khas daerah Banyuwangi menghendaki pakaian khusus dengan corak ragam hias yang berbeda-beda yang memantulkan kesan kaya dan gemeHapan.

Di bidang seni kerajinan rakyat, Banyuwangi juga mengenal seni membatik dengan motif yang sangat tersohor, ialah ba­tik Gajah Oling. Kerajinan anyaman bambu juga terkenal, yang menghasilkan alat-alat rumah tangga dengan anyaman yang halus dan indah.

Dalam seni masak-memasak, puteri- puteri Banyuwangi juga mempunyai resep- resep khusus, yang walaupun bahannya sederhana, akan tetapi mempunyai rasa tersendiri, sehingga tidak berlebihan kiranya apabila disebutkan sebagai makanan khas Banyuwangi, seperti misalnya rujak-soto, cit, manisan pala, selai pisang, kue bahagia (bakiak) dsb.

Di bidang adat istiadat kita mengenal upacara-upacara yang disebut Rebo pungkasan, 1 Suro, petik laut dsb. Juga adat perkawinan ala Banyuwangi asli dimana si pria harus lebih dahulu melarikan calon mempelai puteri sebelum mendapat penga­kuan sah sebagai suami isteri. Ada lagi tradisi berpacaran yang disebut gredoan, dimana sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta dapat melakukan dialog pada malam hari.

Adanya lompatan-lompatan kemajuan di dalam era pembangunan sekarang ini, khusus­nya di bidang pendidikan dan transportasi, telah menempatkan wilayah kebudayaan Banyuwangi (wilayah Osing) sejajar dengan daerah-daerah maju lainnya di Indonesia, dengan tidak menghilangkan ciri-ciri khas budaya Osing itu sendiri.

(*Penulis adalah mantan staf Pemerintahan pada Kantor Pembantu Bupati di Banyuwangi).

musik pada hakekatnya adalah sebuah bentuk drama. Ada tari-tarian rakyat dan ada pula seni tari dan drama profesional yang khusus diusahakan dan dimainkan oleh tenaga-tenaga terlatih. Hampir semua tarian khas daerah Banyuwangi menghendaki pakaian khusus dengan corak ragam hias yang berbeda-beda yang memantulkan kesan kaya dan gemeHapan.

Di bidang seni kerajinan rakyat, Banyuwangi juga mengenal seni membatik dengan motif yang sangat tersohor, ialah ba­tik Gajah Oling. Kerajinan anyaman bambu juga terkenal, yang menghasilkan alat-alat rumah tangga dengan anyaman yang halus dan indah.

Dalam seni masak-memasak, puteri- puteri Banyuwangi juga mempunyai resep- resep khusus, yang walaupun bahannya sederhana, akan tetapi mempunyai rasa tersendiri, sehingga tidak berlebihan kiranya apabila disebutkan sebagai makanan khas Banyuwangi, seperti misalnya rujak-soto, cit, manisan pala, selai pisang, kue bahagia (bakiak) dsb.

Di bidang adat istiadat kita mengenal upacara-upacara yang disebut Rebo pungkasan, 1 Suro, petik laut dsb. Juga adat perkawinan ala Banyuwangi asli dimana si pria harus lebih dahulu melarikan calon mempelai puteri sebelum mendapat penga­kuan sah sebagai suami isteri. Ada lagi tradisi berpacaran yang disebut gredoan, dimana sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta dapat melakukan dialog pada malam hari.

Adanya lompatan-lompatan kemajuan di dalam era pembangunan sekarang ini, khusus­nya di bidang pendidikan dan transportasi, telah menempatkan wilayah kebudayaan Banyuwangi (wilayah Osing) sejajar dengan daerah-daerah maju lainnya di Indonesia, dengan tidak menghilangkan ciri-ciri khas budaya Osing itu sendiri.

(Penilis mantan staf Pemerintahan pada Kantor Pembantu Bupati di Banyuwangi).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Abd. Gaffar. Gema Blambangan, Humas Pemerintah Kabuoaten Dati II Banyuwagi GB. No. 081 /1998, hlm. 37- 38