Upacara Ruwat, Kabupaten Bondowoso

PERKATAAN ruwat (Jawa) atau arokat (Madura) berasal dari bahasa Sansekerta atau Jawa kuno yaitu rwad yang kemudian berubah bentuk menjadi rod atau root (Inggris) yang berarti akar (urat, oyot, atau ora’ dalam bahasa Madura). Dari kata rwad itulah dalam bahasa Jawa baru menjadi ruwat (luwar). Diruwat berarti dibebaskan dari dosa karena termakan sumpah atau janji. Ngluwari ujar berarti melaksanakan janji, nazar, sumpah, atau melaksanakan wasiat si mayat, sehingga yang ngluwari ujar itu terlepas dari rasa berdosa.

Perkataan root yang berarti akar itu kemudian disingkat dengan huruf kapital R dan menjadi lambang panjang separuh dari garis tengah suatu lingkaran. Dengan demikian muncullah rumus luas lingkaran yaitu 2 PI x R2. Adapun PI adalah panjang busur lingkaran dibagi panjang garis tengah (=3,14159), seberapa pun besarnya lingkaran. Angka itu tetap saja menjadi keliling lingkaran yaitu PI x 2 R (R adalah jari-jari lingkaran).

Budaya ruwat atau arokat adalah upacara selamatan bagi anak-anak yang dilahirkan dalam susunan keluarga yaitu:

  1. Anak tunggal
  2. Dua orang anak (laki-laki dan perempuan)
  3. Tiga orang (perempuan diapit lelaki atau lelaki diapit perempuan)
  4. Lima orang (laki-laki semuanya menyerupai Pandawa)

Di tanah Jawa masih banyak lagi yang harus diruwat, antara lain orang yang periuknya roboh saat menanak nasi, orang yang me- nanam waluh (labu) di muka rumah, anak yang selalu sakit-sakitan, anak yang sangat nakal, dan sebagainya.

Upacara ruwat diadakan supaya si anak terlepas dari bahaya. Menurut kepercayaan Jawa, bahaya itu berupa sergapan Batara Kala yang oleh para dewa sudah ditentukan mangsanya. Upacara itu di Jawa dilakukan dengan pertunjukan wayang purwa, sedangkan upacaranya lazim disebut “Hamurwakala”, artinya mengembalikan anak pada asal mulanya, bukan dibunuh melainkan diserahkan kepa­da Zat yang menciptakan kala (waktu). Bukankah menurut keper­cayaan Jawa, waktu dipandang sebagai kekuatan Maha Agung yang menentukan kemalangan, musibah, dan bahagia bagi manusia?

Sedangkan wayang purwa berarti wayang yang sangat awal. Ini adalah gambaran kepercayaan asli masyarakat Jawa zaman dahulu ketika masih memuja Waktu atau Kala.

Lakon cerita wayang pada upacara ruwat sebenarnya adalah lakon Batara Kala. Siapakah Kala itu? Kala adalah putra Batara Surya (Dewa Matahari). Bukankah matahari itu menjadi titik pangkal perhitungan hari atau waktu (kala)? Itulah sebabnya Dewa Kala (Batara Kala) atau Waktu dinamakan “Putra Batara Surya”. Artinya, “waktu” atau “kala” dihasilkan oleh lamanya planet-planet (bumi dan lain- lain) atau satelit (bulan) menjelajahi angkasa mengitari matahari seba­gai induknya. Itulah sebabnya Batara Kala disebut juga Surya Atmaja (Putra Batara Surya).

Masyarakat Jawa pada zaman dahulu telah mengenal perhitungan “hari yang tujuh”, yaitu nama-nama hari: Dite, Soma, Nggara, Buda,

Respati, Sukra, dan Tumpak (Sabtu). Nama-nama itu diambil dari nama-nama planet yang berjumlah tujuh (pada waktu itu). Sekarang telah ditemukan dua planet lagi men)adi sembilan. Menilik hal itu, dahulu masyarakat Jawa menggunakan tahun syamsiah (lamanya bumi mengitari matahari dalam setahun). Kemudian dengan kedatangan Islam, maka diperkenalkanlah tahun qomariah (lamanya bulan mengi­tari bumi dalam setahun). Gabungan antara tahun Saka (lama) dan tahun Qomariah (Islam) itulah yang membentuk perhitungan bulan Jawa sekarang.

Upacara ruwat (arokat) dimaksudkan untuk menyerahkan kembali nasib anak yang diruwat kepada Zat Asal yang menciptakan kehidupan ini, supaya si anak terlepas dari bencana siksa-Nya. Ini sama dengan tobat nasuha dalam ajaran Islam, suatu tobat yang tak akan mengulangi kesalahan lama dan menutupi kesalahan-kesalahan serta dosa dengan kebaikan. Secara simbolis orang tua perlu bertanya kepada diri sendiri, bagaimana anak itu kedka berada dalam kan- dungan sang ibu dan apa yang dilakukan orang tua selama anak berada dalam kandungan. Ruwat pada hakikatnya adalah belajar introspeksi dan retrospeksi

Upacara ruwat di Bondowoso diwujudkan dalam modifikasi budaya Jawa dengan wayang purwa. Bukan dengan mengadakan pertunjukan wayang sebenarnya melainkan dengan fragmen “adegan wayang orang” (wayang topeng) dengan lakon Batara Kala. Ini dilaku­kan karena ontowacana dengan bahasa Jawa, apalagi Jawa Kawi tak mungkin dapat dilakukan.

Dalam pertunjukan wayang topeng itulah dalang berperan menghidupkan cerita. Dalang mampu mengalihkan jalan cerita ke bahasa Madura. Di sana-sini ada selingan humor supaya pertunjuk­an menjadi menarik. Dialog-dialog yang diucapkan dalang, diperan- kan oleh pelaku wayang, hampir-hampir menyerupai pantomim dengan mengikuti suara dalang.

Sebelum pertunjukan dimulai, dalang membacakan mantra atau doa memohon keselamatan. Mantra dibacakan di atas kepulan asap dupa (kemenyan) di tengah malam. Sedangkan anak yang di-rokat dimandikan dengan air bunga. Maksudnya agar segar, bersih, dan beraroma harum. Ini adalah simbol budaya membersihkan anak dari segala ancaman dan sergapan Batara Kala.

Pertunjukan itu dilakukan sampai larut malam seperti halnya wayang purwa. Tidak lupa sahibul hajat menyediakan “sesaji” makanan kenduri nasi serta lauk pauk berupa panggang ayam putih mulus yang dipersembahkan kepada leluhur yang telah wafat. Lalu dibacakanlah doa, nasi kenduri pun mulai dimakan. Setelah usai, dalang beserta para pelaku wayang menerima imbalan uang jasa dan transportasi (bagi dalang dan niyaga-nya). Ada kalanya mereka diberi seperangkat alat dapur.

Di Pesantren Sukorejo, Asembagus, Situbondo, ada sebuah buku doa Pangrukat yang berasal dari Kiai Abdul Latief, saudara dari Kiai Syamsul Arifin (alm.). Doa itu dibacakan pada upacara selamatan pekarangan, tegalan, tanaman, kendaraan, perahu atau motor.

Di samping itu ada doa rokat dengan menyembelih kambing hitam. Gunanya untuk menolak serangan wabah penyakit. Kambing disembelih di tengah desa atau di tengah pekarangan. Yang menyem­belih harus menghadap ke kiblat, setelah kambing disembelih maka dagingnya dibagikan kepada masyarakat. Kikil (kekot) dan tulang- tulangnya tidak dimakan namun ditanam di tempat penyembelihan kambing tersebut (Kitab ]aami’ud da’awaat).

Dari budaya ruwat ini tersimpan filosofi bahwa:

a. Masalah takdir harus diyakini adanya. Manusia tidak perlu lari pada hal-hal yang musyrik, menyembah waktu seperti pada zaman dahulu: matahari dan bulan disembah. Nabi Ibrahim telah menolak keyakinan bahwa Tuhan itu berupa matahari atau bulan (QS 16: 74-83).

  1. Letak susunan anak dalam keluarga memang secara psikologis ada pengaruhnya. Anak tunggal biasanya dimanjakan. Begitu pula anak bungsu atau anak tunggal yang diapit dua-tiga anak yang berlainan jenis kelaminnya. Anak-anak yang lelaki semua akan sulit dibina. Biasanya mereka saling berebut kekuasaan. Begitu juga jika semua anak adalah perempuan. Pada umumnya anak kedua suka meninggalkan rumah karena tekanan anak sulung. Kalau orang tua tidak adil dan pilih kasih dalam memberikan layanan pendidikan, maka bencana perkelahian, pertentangan, atau tekanan batin akan muncul. Hal itu akan menyulitkan orang tua untuk mengantarkan anak menuju masa kedewasaannya.

Dengan menghargai waktu untuk mengisi kehidupan maka kebahagiaan hidup akan tercapai. Islam sangat menghargai waktu. Disiplin salat mengarah pada disiplin pribadi dan berguna bagi pembentukan watak pribadi kelak. Allah berfirman dalam surat Al-Jumu’ah: Apabila telah usai salat Jumu’ah, bertebaranlah kau di muka bumi mencari rejeki karunia lllahi (QS 62: 10).

 

Upacara Khitanan, Kabupaten Bondowoso

Pelaksanaan Upacara Sunat di Bondowoso, seperti juga upacara molangare, upacara khitanan dimeriahkan dengan pembacaan selawat Nabi (diba’ atau barjanji). Anak yang disunat dituntun untuk berjabatan tangan dengan para undangan (kedka hadirin berdiri). Ini dimaksudkan sebagai upacara menyambut kehadiran muslim baru yang mulai mualaf (dipandang sudah mampu dibebani syariat salat). Menilik hal itu nyatalah bahwa budaya khitanan dijadikan upaya “pengislaman” bagi anak yang telah Kebudayaan Islam di Bondowoso dikhitan.

Upacara khitanan itu berbeda-beda pelaksanaannya di beberapa tempat. Di Caruban, Madiun, masih ada upacara “arak sunatan”. Anak yang disunat itu mengendarai kuda, berpakaian “mempelai”, bertopi “pacul gowang (bagian belakang topi itu terbuka), diarak sepanjang jalan, serta dimeriahkan dengan hadrah dan burdah, serta dilagukan syair kasidah barzanji.

Di Bondowoso ada juga yang dimeriahkan dengan acara khataman Alquran pada malam sebelum anak dikhitan. Alquran dibaca bergandan seperti pada kegiatan khatmil Quran. Tetapi ada yang hanya membaca dga belas surat pendek pada jus amma (Surat 102- 114) oleh anak yang baru sembuh dari sunat. Artinya, upacara sunat­an itu dilakukan setelah beberapa hari seorang anak disunat. Hal ini dimaksudkan untuk mendidik anak menjadi muslim dengan kemampuan membaca Alquran dan salat.

Kini budaya sunat bukan lagi menjadi monopoli umat Islam, melainkan telah mendunia, dimiliki oleh siapa saja yang merindukan kesehatan dan kebahagiaan. Yang disunat bukan lagi hanya anak- anak muslim, namun juga kaum non-muslim. Bukan saja saat masih kanak-kanak, bahkan ada yang sudah setengah baya minta disunat (dengan pergi ke dokter). Ini merupakan sumbangan umat Islam kepada umat manusia. Semakin nyata bahwa agama Islam adalah agama Allah (QS 3: 19) yang diserukan kepada umat manusia [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm.

R. Bagus Assrah Pendiri Bondowoso

SEMASA pemerintahan Bupati Ronggo Kiai Suroadikusumo di Besuki, daerah Besuki mengalami kemajuan dengan berfungsinya Pelabuhan Besuki yang mampu menarik minat kaum pedagang luar, utamanya dari Pulau Madura, yang kemudian menetap di Besuki. Tak dapat dipungkiri bahwa suasana Besuki semakin ramai dan semakin padat penduduknya sehingga kemudian perlu dilakukan pengembangan wilayah. Untuk itu perlu dibuka wilayah baru ke arah tenggara dengan membuka hutan, kemudian menjadikannya daerah hunian dan bisa didirikan kota.

Perlu diketahui bahwa daerah baru yang hendak dibuka itu belum bernama, karena daerah itu berupa hutan belukar yang dalam bahasa kuno disebut wana-wasa. Oleh karena itu perlu dicari orang yang mampu melaksanakan tugas tersebut.

Ketika rencana itu dibahas di tingkat kabupaten, Kiai Patih Alus mengusulkan agar Mas Astrotruno, putra angkat Bupati Rongg° Suroadikusumo, menjadi orang yang menerima tugas tersebut- Alasannya, ia telah mampu melaksanakan tugas-tugas kenegaraaf1

yang diberikan padanya sehingga sekarang perlu diberikan tugas- tugas baru yang lebih berat.

Usui itu diterima oleh Kiai Ronggo-Besuki, dan Mas Astrotruno juga sanggup memikul tugas itu. Sebagai seorang ayah angkat, Kiai Ronggo Suroadikusumo perlu terlebih dahulu menikahkan Mas Astrotruno dengan salah seorang putri dari Bupati Probolinggo Joyolelono, yaitu Roro Sadiyah. Sebagai bekal dalam melaksanakan tugasnya, mertua Mas Astrotruno menghadiahinya seekor kerbau putih (bule) yang dongkol (tanduknya melengkung ke bawah). Kerbau putih itu untuk dijadkan teman perjalanan sekaligus penuntun mencari daerah-daerah yang subur. Kerbau itu bernama “Melati”.

Pengembangan wilayah itu selain bertujuan politis, juga untuk tujuan suci (mission sacre), yaitu upaya menyebarkan agama Islam mengingat di sekitar wilayah yang dituju penduduknya masih me- nyembah berhala (animisme). Tugas itu mulai dilaksanakan pada 1789.

Karena hutan yang ditebangnya itu sangat lebat, maka Mas Astrotruno dibantu oleh empat orang asisten yaitu Puspo Driyo, Jotirto, Wirotruno, dan Jiwo Truno. Dengan peralatan dan perbekalan secukupnya, Mas Astrotruno beserta rombongan berangkat melak­sanakan tugasnya menuju ke arah selatan, menerobos wilayah pegu- nungan sekitar Arak-arak (jalan lintas itu sekarang tidak diguna- kan)—di kemudian hari jalan itu sering disebut orang dengan sebut- an “Jalan Nyi Melas”. Rombongan lalu menerobos ke timur dan S’impailah mereka di Dusun Wringin, melewati gerbang yang disebut “Lawang Saketeng”.

Tim pembuatan sejarah Bondowoso mencatat nama-nama desa sepanjang jalan yang dilalui rombongan Mas Astrotruno, yaitu ringin, Kupang, Poler, dan Mandiro, lalu menuju selatan sampailah ereka di sebuah desa yang bernama Kademangan. Mereka mem- nSun sebuah pondok tempat peristirahatan di sebelah barat daya angan (diperkirakan di Desa Nangkaan sekarang).

Babad Bondomso yang ditulis M Soeroto mencatat nama-nama desa lama. Di sebelah utara adalah Glingseran, Tamben, dan Ledok Bidara. Di sebelah barat: terdapat Selokambang, Selolembu. Di sebelah timur adalah Tenggarang, Pekalangan, Wonosari, Jurangjero, Tapen, Prajekan, dan Wonoboyo. Di sebelah selatan terdapat Sentong, Bunder, Biting, Patrang, Baratan, Jember, Rambi, Puger, Sabrang, Menampu, Kencong, dan Keting. Menurut perhitungan, jumlah penduduk di seluruh wilayah adalah lima ratus orang, sedangkan di setiap desa dihuni dua, tiga, empat orang yang terdiri dari anak- anak, orang tua, pemuda, janda, dan duda.

Kemudian dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan Sungai Blindungan, di sebelah barat Sungai Kijing, dan di sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan). Tempat itu kemudian dikenal sebagai “Kabupaten Lama” Blindungan, terletak kurang leih 400 meter di sebelah utara Alun-alun. Pekerjaan membuka jalan itu berlangsung selama lima tahun (1789-1794). Untuk memantapkan wilayah kekuasaan baru di pedalaman, setelah kondisinya mapan, Mas Astrotruno pada 1808 diangkat menjadi demang dengan gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno, dan sebutannya adalah Demang Blindungan.

Pembangunan kota pun kemudian dirancang. Menurut catatan Babad Bondomso, alun-alunnya seluas empat bahu. Rumah kediaman penguasa menghadap selatan di utara alun-alun. Sedangkan di sebe­lah barat dibangun masjid yang menghadap ke timur. Masjid ini bukan hanya untuk keperluan ibadah melainkan juga dilengkapi ruang untuk melepaskan lelah setelah bekerja keras membabat hutan serta mem- bangun kota.

Menurut catatan Tim Tujuh Pembuatan Sejarah Bondowoso yang diketuai Soeroso, alun-alun itu semula adalah lapangan untuk meme- lihara kerbau putih kesayangan Mas Astrotruno, karena di situ tumbuh rerumputan makanan ternak. Lama kelamaan lapangan itu mendapatkan fungsi baru sebagai alun-alun kota.

Untuk menghibur para pekerja agar tidak jemu dan bisa melepaskan lelah, Mas Astrotruno memanfaatkan kesempatan itu untuk mengadakan berbagai tontonan, antara lain aduan burung puyuh {gemak), sabung ayam, kerapan sapi, dan aduan sapi.

Tontonan adu sapi itu menarik penonton dan sangat digemari oleh para peserta aduan. Kemudian acara ini diselenggarakan secara berkala pada saat-saat tertentu. Aduan sapi itu menjadi tontonan di Jawa Timur sampai 1998.

Berdasarkan catatan H Abd. Razaq Q dalam bukunya AsalMula Aduan Sapi dan Rangkaiannja dengan Babad Bondowoso yang ditulis dalam bahasa Inggris dan dicetak di New York disebutkan bahwa berdasarkan laporan-laporan Mas Astrotruno kepada Kiai Ronggo Besuki, Astrotruno kemudian diangkat sebagai Nayaka merangkap jaksa negeri, sebagai tanda terima kasihnya.

Dari Ikatan Keluarga Besar “Ki Ronggo Bondowoso” pada 1998 didapat keterangan bahwa pada 1809 Raden Bagus Assrah atau Mas Ngabehi Astrotruno diangkat sebagai patih berdiri sendiri (\elfstandig) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro. Beliau dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa peme- rintahan pertama [first ruler) di Bondowoso. Adapun tempat kediaman Ki Kertonegoro yang semula bernama Blindungan, dengan adanya pembangunan kota diubah namanya menjadi Bondowoso, sebagai ubahan perkataan wana wasa. Maknanya kemudian dikaitkan dengan perkataan bondo, yang berarti modal, bekal dan woso yang berarti hekuasaan. Makna seluruhnya demikian: terjadinya negeri (kota) adalah semata-mata karena modal kemauan keras mengemban tugas (penguasa) yang diberikan kepada Astrotruno untuk membabat hutan dan membangun kota.

Demikianlah makna perkataan “Bondowoso”, yang kemudian menjadi nama daerah (kota) yang dihuni Mas Ngabehi Kertonegoro Bondowoso secara normatif.

Pada waktu itu meskipun Belanda telah bercokol di Puger dengan pejabat kepanjangan tangan kekuasaannya, dan secara ad- ministratif yuridis formal Bondowoso dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaannya, namun dalam kenyataannya pengangkatan para per- sonil praja masih menjadi wewenang Ronggo Besuki. Maka tidak seorang pun yang berhak mengklaim lahirnya kota baru Bondowoso selain Mas Ngabehi Kertonegoro. Hal itu dinyatakan dengan pem- berian izin kepada beliau untuk terus bekerja membabat hutan sampai akhir hayat Sri Bupati di Besuki.

Pada 1819 Bupati Adipati Besuki Raden Ario Prawiroadiningrat meningkatkan statusnya dari Kademangan menjadi wilayah lepas dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama dengan gelar Mas Ngabehi Kertonegoro, serta dengan predikat Ronggo I. Peristiwa besar pengukuhan Kiai Ronggo Kertonegoro sebagai Bupati Adat dilaksanakan dalam suatu upacara adat yang khidmat secara ritual berupa penyerahan tombak Tunggul Wulung oleh Raden Ario Adipati Prawiroadingrat kepada Mas Ngabehi Kertonegoro atau Ronggo I. Acara ini berlangsung pada hari Selasa Kliwon, 25 Syawal 1234 Hijriah atau 17 Agustus 1819. Peristiwa itu kemudian dijadikan eksistensi formal Bondowoso sebagai wilayah kekuasaan mandiri di bawah otoritas kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso. Kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso meliputi wilayah Bondowoso dan Jember, dan berlangsung antara 1819-1830.

Pada 1830 Kiai Ronggo I mengundurkan diri dan kekuasaannya diserahkan kepada putra keduanya yang bernama Djoko Sridin yang pada waktu itu menjabat Patih di Probolinggo. Jabatan baru itu dipangkunya antara 1830-1858 dengan gelar M Ng Kertokusumo dengan predikat Ronggo II, berkedudukan di Blindungan sekarang, atau Jalan S Yudodihardjo (Jalan Ki Ronggo) yang dikenal masya- rakat sebagai “Kabupaten Lama”.

Setelah mengundurkan diri, Rangga I (Mas Ngabehi Kerto­negoro) giat menekuni bidang dakwah agama Islam, kemudian mengembangkan pengaruhnya dengan bermukim di Kebundalem Tanggulkuripan (Tanggul, J ember). Akhirnya Ronggo I wafat pada 19 Rabi’ulawal 1271 H atau 11 Desember 1854 dalam usia 110 tahun. Jenazahnya dikebumikan di sebuah bukit (Asta Tinggi) di Desa Sekarputih. Masyarakat Bondowoso menyebutnya sebagai “Makam Ki Ronggo”.

Pada saat itu Patih Puger merasa tersinggung karena wilayah kekuasaannya dibabat, ditebangi hutannya, lalu dijadikan sebuah kota baru yang diperintah oleh seorang Ronggo baru. Mengenai masalah tersebut Sabaroedin yang waktu itu (1967) sebagai pejabat di Bagian Politik/Keamanan Daerah Kabupaten Bondowoso, dalam tulisannya yang berjudul Sejarah Kota Bondowoso, memberikan komentar demikian: Patih Puger sangat tidak menyetujm kebijaksanaan Pangeran Prawiroadiningrat dalam cara menjalankan pemerintahan. Patih Puger mulai melakukan pemberontakan. Sebagai ksatria utamanya, diutus seorang kepala penyamun Ario Gledak, seorang yang ganas dan berani. Sasaran pertama adalah melumpuhkan kekuatan Pangeran Prawiroadiningrat di Bondowoso, yaitu menghadapi Ki Ronggo. [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 62-66

Upacara Selapan, Kabupaten Bondowoso

ISTILAH “selapan” (Jawa) berasal dari gabungan bentuk “sa+alap+an”, satu alapan, yaitu satu kali daur ulang dari kelahiran tiga puluh lima hari. Pada upacara selapan itu bertemulah nama hari dan “pasaran” ketika bayi dilahirkan. Di Madura upacara ini dikenal dengan istilah molang are (mengulang hari kelahiran). Hanya saja di daerah Madura, termasuk di Bondowoso, tidak dikenal hari pasaran (legi, pahing, pon, wage, kliwon) sebagaimana dalam budaya Jawa.

Sepekan di Madura sama dengan sepekan di Melayu yaitu tujuh hari. Hal ini dapat dibuktikan dengan hari daur ramainya pasar di Bondowoso, seperd Pasar Senin, Pasar Selasa, dan sebagainya, sama dengan di Jakarta (Pasar Minggu, Pasar Senen, dan sebagainya). Akhir-akhir ini perhitungan limaan {manes, paeng, pon, bagi, kalebun) itu mulai terpakai juga dalam menghitung hari di daerah Bondowoso. Jadi “selapan” bayi lamanya sama dengan sekali daur dari hari ke­lahiran, yaitu lima minggu atau tujuh kali lima pasaran yaitu tiga puluh lima hari.

Di Bondowoso ada kepercayaan hari selamatan molang are dga puluh lima hari jika bayi yang dilahirkan adalah perempuan. Maksudnya supaya kelak lekas mendapatkan jodoh. Namun jika anaknya lelaki, maka selamatan molang are itu dijatuhkan pada hari keempat puluh. Ini merupakan isyarat bahwa anak lelaki kelak harus bekerja keras untuk memberi nafkah istrinya. Jadi dibutuhkan masa muda yang lebih panjang untuk belajar dan bekerja.

Dalam budaya Jawa, ada juga upacara selapan bayi namun bukan upacara menyambut kelahiran bayi yang pertama karena upacara kelahiran bayi sebenarnya jatuh pada hari kelima yang lazim disebut “sepasaran bayi”. Biasanya jatuh pada saat si bayi “lepas dari pusarnya” (pupak pusar).

Pada malam sepasaran bayi diadakan acara macapat, yaitu membaca sastra Jawa yang mengandung pelajaran atau filsafat dari para pujangga seperd dari buku Wulang Keh, Wedatama,Serat Piwulang, Serai Kidungan, dan sebagainya. Kemudian setelah zaman Islam, buku-buku bercorak Islam ditulis dengan huruf Arabpegon, dikarang dalam bentuk tembang bahasa Jawa, seperti Lajang Ambiya (Surat Nabi-Nabi).

l^i Bondowoso, upacara molang are atau selapanan dimeriahkan dengan pembacaan selawat nabi (pembacaan diba’ atau barzanji). Ketika hadirin berdiri membacakan selawat nabi, sang bayi di- gendong oleh salah seorang keluarganya (lelaki) untuk diperkenalkan kepada seluruh majelis agar dimintakan restu dengan “mengusapkan air bunga” di kepala bayi, selain itu juga diminta menggunting dua atau tiga helai rambut sang bayi.

Upacara selapanan di Bondowoso ini mengingatkan kita pada upacara akikah (mencukur rambut) bayi. Adapun mengusap air bunga di kepala sang bayi dan membacakan selawat nabi harus di- pandang sebagai upacara menyambut kelahiran sang bayi muslim atau muslimah, yang kelak akan menjadi penganut agama Islam, umat Nabi Muhammad SAW.

Upacara molang are itu kemudian ditutup dengan pembacaan doa. Pesta kenduri pun dimulai, pulangnya tamu diberi berkat, tanda bahwa hajatnya semoga mendapatkan berkah dari Allah SWT. Dalam budaya Jawa, berkat atau lebih dikenal dengan “nasi brokoharT (dari istilah barokahan), dibagikan pada waktu upacara sepasaran (lima harinya) [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 112

Upacara Tingkeban di Kabupaten Bondowoso

Upacara tingkeban adalah selamatan memperingati kehamilan pertama seorang istri ketika kandungannya genap berumur tujuh bulan. Di Kabupaten Bondowoso sama dengan daerah lain di tanah Jawa upacara itu disebut tingkeban dan di Madura disebut melet kandung. Maksud keduanya sama. Istilah “tingkeb” artinya “menutup”, sama artinya dengan kata melet (Madura). Maksudnya adalah peringatan untuk “menutup kandungan”. Ini merupakan isyarat bagi suami agar sebaiknya tidak lagi melakukan hubungan badan dengan istrinya karena berbahaya bagi kandungan­nya.

Menurut adat istiadat di pelosok desa di Jawa, tingkeban dilakukan dengan “mandi bunga” bagi kedua mempelai. Suami-istri itu dimandikan oleh kedua orang tua dari kedua belah pihak, serta oleh para ibu sesepuh dari kedua keluarga itu. Upacara kemudian dilanjutkan dengan membelah nyiur gading sebanyak dua buah. Nyiur gading itu dilukisi gambar wayang. Yang satu dilukis gambar satria (Arjuna atau Raden Kamajaya, yaitu Dewa Linuwih yang bagus parasya), nyiru lainnya dilukisi putri cantik (Srikandi, istri Arjuna atau Dewi Ratih, seorang bidadari kayangan yang menjadi istri Raden Kamajaya).

Upacara itu diakhiri dengan penjualan rujak manis kepada ibu para tamu. Uang hasil penjualan rujak itu dimaksudkan sebagai sumbangan dari para undangan atau tamu kepada tuan rumah atau shahibul hajat. Di tanah Jawa ada kepercayaan bahwa jika sang suami membelah nyiur gading itu tidak tepat separuh, maka itu pertanda bahwa kelak bayi yang dilahirkan adalah laki-laki. Namun jika tepat separuh, maka anaknya yang bakal lahir adalah perempuan.

Lukisan wayang pada kulit nyiur melambangkan ide atau cita- cita suci dari kedua orang tua si bayi. Katakanlah sebagai “doa yang tak terucapkan” tetapi diungkapkan dengan lukisan. Kira-kira saja maksudnya, apabila anaknya lelaki semoga meniru Raden Kamajaya yang bagus parasnya atau seperti Arjuna yang tampan dan ksatria. Jika perempuan, semoga parasnya ayu serta patriotik seperti Srikandi, atau secantik seperti Dewi Ratih. Itulah bentuk bahasa yang berupa lambang benda-budaya.

Namun upacara tingkeban itu sebenarnya warisan dari keper­cayaan Hindu, yang tetap dilaksanakan meskipun pendukungnya telah memeluk agama Islam. Upacara ini dijadikan adat istiadat yang baku karena orang melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka pahami maksudnya. Itulah sistem budaya yang telah melembaga. Jika sistem ini diubah atau dihapuskan, dikhawatirkan akan me- munculkan keresahan dalam masyarakat.

Akhirnya perubahan itu terjadi juga karena pendukung budaya lama telah memperoleh pegangan hidup baru yaitu konsep agama Islam. Di daerah-daerah yang dahulunya bukan basis agama Hindu, misalnya di daerah Madura atau bekas Karesidenan Basuki, tempat tak diketemukannya patung-patung Hindu-Buddha, budaya tingkeban mengalami penggeseran dari corak Hindu ke corak Islam. Dalam hal ini terjadilah modifikasi budaya.

Ide pokoknya tetap dijalankan yaitu doa untuk anak yang dikandungnya. Dimohonkan kepada Allah SWT semoga anak yang lahir itu menjadi anak yang saleh atau salehah. Gambar wayang sebagai idola diganti dengan tokoh orang suci atau nama Nabi di dalam Alquran; abunya dibuang namun apinya dinyalakan. Upacara “mandi bunga” dan “penjualan rujak manis” di Bondowonso ditiadakan, kemudian diganti dengan pembacaan Alquran (surat Yusuf, Ibrahim, Luqman, atau Surat Maryam, dan sebagainya). Terjadilah transformasi nilai budaya baru berdasar syariat Islam. Upacara diakhiri dengan doa yang dibacakan oleh kiai, modin, atau tokoh agama, atau oleh sesepuh yang mengerti.

Di tanah Jawa kira-kira lima puluh tahun yang lalu, upacara tingkeban itu dilakukan meriah. Di dalam upacara selamatan itu dihidangkan “nasi uduk kabuli” sebanyak tujuh penai dan lauknya tujuh panggang ayam. Maksudnya agar terkabul doanya. Perkataan “uduk” dari perkataan Arab “ud’uu” (berdoalah), seperti pesan Al­quran (QS 40: 60).

Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan permintaanmu.

Sesungguhnya orang-orangyangsombongterhadapmenyembah Aku, nanti

mereka akan masuk ke dalam neraka serta hina

Sedang kata “kabuli” dari bahasa Arab “qabul” (Terimalah doaku).

Angka tujuh pada penai dan panggang ayam melambangkan bilangan absolut, tak terbatas. Jadi benda-benda tersebut sebenarnya merupakan doa yang tak terucapkan dengan kata-kata. Jika diucap- kan kira-kira sebagai berikut: Ya Tuhanku, aku memohon pertolongan kepada Engkau mengenai bayi dalam kandungan istriku.

Berilah

keselamatan dan jadikan anak yang saleh / salehah yang berbakti kepada Engkau, ya Tuhan, kabulkanlah doaku.

Pada malam itu diadakan jagong semalam suntuk (tidak tidur) Orang-orang sibuk membacakan kisah nabi-nabi dalam Buku Budaya Kitab Ambiya’ (nabi-nabi), suatu karya sastra Islam dalam bahasa Jawa bentuk tembang, tetapi dituliskan dengan huruf Arab- pegon. Kegiatan membaca buku-buku karya sastra Islam dalam ben­tuk tembang yang dilakukan itu disebut macapat (Jawa) atau dalam bahasa Madura disebut “mamaca”.[::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 112-114

Pemerintahan Bondowoso 1854 – 2007

PADA tahun 1854 Ki Ronggo I Kertonegoro wafat dan dimakam- kan di Asta Tinggi Sekarputih Bondowoso. Beliau menjabat antara 1819-1830. Penggantinya putra Ki Ronggo sendiri, bernama Djoko Sridin. Waktu menjabat (1830-1858) bergelar M. Ng. Kertokesumo dengan predikat Ronggo ke II. Berkedudukan di kabupaten lama Blindungan.

Pada tahun 1850 setelah 20 tahun Ronggo II memegang kendali pemerintahan, pemerintah Hindia Belanda mengangkat seorang Bupati untuk wilayah Bondowoso dan Panarukan dalam struktur pemerintah Hindia Belanda. Pejabatnya seorang Patih Probolinggo bernama Raden Abdoerachman, dengan gelar Raden Tumenggung Wirodipuro. Maka terjadilah dualisme dalam pemerintahan antara tahun 1850-1858.

R. Abdoerachman adalah garis keturunan keempat dari Ki Patih Alus Wirodipuro Besuki. Beliau adalah putra Sugoto alias Marto- dipuro, sedang Sugoto adalah putra R. Sahidurin alias R. Wirodipuro II. Sahidurin putra R Bagus Kasim alias R Wirodipuro I, yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Kiai Patih Alus.

Dalam menjalankan pemerintahannya, R. Tumenggung Wiro- dipuro menetap di Prajekan, menyadari bahwa pimpinan pemerin- tahan masih dijabat oleh Ki Ronggo II Mas Ngabehi Kertokesumo. Maka untuk mengatasi dualisme tersebut, pemerintah Hindia Belanda kemudian mengangkat Mas Ngabehi Kertokesumo menjadi Tumenggung Bondowoso, yang kemudian di pensiunkan.

Setelah dibangunkan kediaman di Nangkaan, maka Tumeng­gung Wirodipuro pindah. Mula-mula di kota Kulon, kemudian ke Nangkaan (gedung yang pernah di tempati asrama sosial Sukomulyo, di bawah Departemen Sosial). Dengan demikian Tumenggung Wiro­dipuro yang diangkat 1850 adalah Bupati pertama yang diangkat secara resmi oleh Gubermen Hindia Belanda sebagai Bupati (Re­gent) Kabupaten Bondowoso. Adapun putra M. Ng. Kertokesumo Ronggo II yang bernama Joko Suwondogeni, waktu itu masih kecil dan diasuh Tumenggung Wirodipuro. Setelah dewasa ia lalu di- nikahkan dengan salah satu putrinya yang bernama Jaleha.

Pada tahun 1879 Tumenggung Wirodipuro wafat. Jabatan Bupati Bondowoso digantikan kepada putranya menantu beliau, yaitu Joko Suwondogeni, dengan gelar R. Wondokusumo. Beliau memerintah antara tahun 1879-1891. Wilayah kekuasaannya meliputi Kabupaten Bondowoso,Jember, dan Panarukan (Situbondo sekarang). Dengan demikian jabatan bupati (regent) di Bondowoso kembali dipegang oleh keturunan langsung dari Kiai Ronggo I lagi. Kedudukan beliau kembali ke tempat lama di Jalan K Ronggo (Kabupaten Lama).

Pada tahun 1891 Bupati R Wondokusumo wafat, lalu digantikan putranya yang bernama Ismail dengan gelar R. Kertosubroto sebagai bupati Bondowoso. Pada tahun 1901 dibangunlah pendopo kabupa­ten Bondowoso sebagaimana yang ada sekarang ini. Pendopo ini ditempati beliau dari tahun 1902-1908 saat wafatnya.

Berikut nama-nama Bupati yang pernah memerintah di Kabupaten Bondowoso, yang secara formal mendapat pengesahan dari pejabat atasannya yang berwenang, sesuai peraturan yang berlaku saat itu, kecuali bupati adat Ki Ronggo Kertonegoro dan putranya Ki Kertokusumo atau Ronggo II :

  • RT Adipati Abdoerahman Wirodipuro (1850 – 1879)
  • RTA. Wondokusumo (1879 – 1891)
  • KRTAA. Kertosubroto (1891 – 1908)
  • RT. Senthot Sastroprawiro 1908 – 1925)
  • RTA. Tirtohadi Sewojo (1925 – 1928)
  • RT. Prodjodiningrat (Notodiningrat) (1928-1934)
  • RT. Herman Hidajat (1934 – 1938)
  • RT. Sjaifudin Admosoedirdjo (1938-1945)
  • RT. Soetandoko (1945 – 1946)
  • RT. Saleh Soerjoningpridjo (1946 – 1949)
  • RT. Badroes Sapari (1949 – 1950)
  • RT Koesno Koesoemowidjojo(1950 – 1951)
  • RT. Soedarmo Soemodiprodjo(1951 – 1956)
  • R. Soedjarwo (1957)
  • R. Soetowo (1957 – 1958)
  • Djoemadi Moespan (1958 – 1959)
  • R. Soetowo (1960 – 1964)
  • R. Soemarto Partomihardjo (1964 – 1965)
  • R. Arifin Djauharman(1965 – 1973)
  • R. Soerono (1973 – 1978)
  • Mochamad Suardhi (1978 – 1983)
  • Mochamad Riva’i (1983 – 1988)
  • H. Agus Sarosa (1988 – 1993)
  • H. Agus Sarosa (1993 – 1998)
  • Dr. H. Mashoed MSi (1998 – 2003)
  • Dr. H. Mashoed MSi (2003 – 2008)

hlm.  74

Pemberontakan Ario Gledak Ditumpas, Kabupaten Bondowoso

Negeri Puger kedatangan pemberontak. Patih Puger Reksonegoro belum sempat menghubungi Ki Kertonegoro di Bondowoso, tiba- tiba Puger telah dikacaukan dengan datangnya gerombolan pem­berontak sebanyak 400 orang yang dipimpin oleh Ario Gledak, dengan panglima perangnya Abdurrasid. Peristiwa ini terjadi antara 1816-1818.

Penduduk desa banyak yang menyerah. Alun-alun Puger di- duduki dan penduduk diperintahkan bersorak-sorai sebagai tanda kemenangan. Pendopo pun telah dikepung. Waktu itu Patih Puger ada di dalam puri, dan dia kebingungan. Hendak melawan namun jumlah musuhnya terlalu besar. Namun untuk menyerah pun dia merasa malu sekali. Mau lari, takut terbunuh. “Lebih baik berpura- pura saja,” pikirnya.

Tahu-tahu pemberontak masuk dengan pedang terhunus dan mengancamnya. Dia pun terpaksa menyerah. Lalu Patih dilepaskan. Kemudian Patih menyuruh juru tulisnya menulis surat kepada Ki Patih Bondowoso. Isinya memberi tahu bahwa Puger telah dikuasai musuh besar. Semua mantri Puger telah menyerah. Ia belum melakukan pertempuran namun telanjur ditodong oleh pemberon- tak. Ario Gledak dan Abdurrasid beserta pasukannya esok paginya diketahui akan berangkat menuju Bondowoso.

Begitu Ki Patih Kertonegoro membaca surat Patih Puger, beliau marah. Pasukan disiapkan untuk menghadang musuhnya. Pasukan telah siap di Desa Sumberpandan. Karena hari telah malam, maka atas saran mantrinya terpaksa malam itu ber-mesanggrah di situ. Esok paginya perjalanan dapat dilanjutkan.

Pada malam itu juga datanglah utusan Ki Patih Ario Gledak menyampaikan surat kepada Patih Kertonegoro. I si surat itu mem- beri tahu bahwa Ario Gledak esok pagi akan pergi menuju Besuki untuk “menata agama warga Besuki” (mendamaikan pertentangan agama). Untuk itu ia perlu singgah sebentar di Bondowoso. Diminta- nya Patih Kertonegoro untuk menyediakan jamuan bagi mantri dan pasukannya.

Sebagai orang yang telah menguasai surat-menyurat serta diperkaya dalam pengalaman membabat hutan yang memerlukan otot baja, maka kedua surat itu segera dapat ditangkap isinya: perlu berhati-hati serta waspada. Pertama, dipersiapkan medan untuk bertempur menghadapi lawan. Diadakanlah pertemuan untuk mem bicarakan di mana sebaiknya perang itu dilakukan. Dalam hal ini diperlukan siasat perang. Rapat memutuskan bahwa perang sebaik­nya dilakukan di Sentong. Kedua, perlu dibuat surat untuk Ki Patih Besuki yang isinya memberitahu bahwa Puger telah jatuh ke tangan musuh. Ki Patih dan para mantrinya telah menyerah, takluk kepada pemberontak. Besok pagi pemberontak akan tiba di Bondowoso.

Ketika menerima surat itu dan membacanya, Patih Besuki merasa heran. Bagaimana mungkin Patih Puger menyerah begitu cepat padahal belum melakukan perlawanan? Apakah ia sekadar mencari selamat? Tapi hal itu akhirnya disadarinya. Ia menyerahkan- nya pada kehendak Tuhan.

Sementara itu surat kepada Ario Gledak juga disusun dengan menggunakan kalimat-kalimat yang halus tetapi penuh makna yang dalam. Jika surat itu tidak dipahami benar-benar, surat itu akan memberi kesan bahwa Patih Kertonegoro telah menyerah. Isi surat itu menyebutkan bahwa Patih Kertonegoro senang sekali atas kehen- dak Ario Gledak singgah di Bondowoso. Telah disiapkan jamuan makan serta tempat peristirahatan secukupnya sebagai layaknya orang menyambut tamu. Hanya tinggal memotong lembu dan kambingnya. Kedatangan Ario Gledak sangat dinantikan. Hanya permintaan Ki Patih, jika benar Ario hendak berdamai, maka sebaik- nya persenjataan diletakkan, sebagai tanda hati yang suci, bebas dari rasa curiga dan syak-wasangka.

Ario Gledak merasa lega hatinya setelah membaca surat Patih Kertonegoro. Perang tanpa perlawanan. Tanda bahwa Patih Bondowoso menyerah. Buktinya ia bersedia menjamin menyediakan jamuan makan.

Ada beberapa versi cerita mengenai siasat Ki Patih Kertonegoro dalam menghadapi Ario Gledak. Naskah-naskah yang ditulis mutak- hir menyebutkan adanya siasat peperangan di jembatan Gronggong, sebelah utara Sentong. Sedangkan naskah lama, misalnya yang ditulis M Soeroto dalam Babad Bondowoso (1919) sama sekali tidak menye­butkan hal itu.

Setelah Ario Gledak dan pasukannya datang, peperangan pun tak terhindarkan. Perang tanding adu ketangkasan memainkan pedang dan parang berlangsung dengan sengit. Pasukan Ario Gledak akhirnya terdesak mundur. Mereka terus dike jar. Yang melawan di- bunuh, yang menyerah diborgol. Panglima perang Abdurrasid dapat dipenggal lehernya. Pasukan Bondowoso terus mengejar sisa-sisa pemberontak yang melarikan diri.

Akhirnya Ario Gledak pun tertangkap, kemudian dieksekusi. Kepalanya dan kepala Abdurrasid diarak oleh orang-orang ke lapangan Desa Mandar. Di sanalah kedua kepala pemberontak yang terpenggal itu diletakkan di dang pancang untuk dipertontonkan kepada khalayak ramai.

Patih Kertonegoro terus mengejar lawan. Tiba-tiba ia bertemu dengan Patih Puger yang bersikap “pura-pura” menyerah itu. Ki Patih Kertonegoro kemudian menghunuskan pedang Tunggul Wulung buatan Bawean kepada Patih Puger. Mendengar rintihan Patih Puger meminta belas kasihan, serta mengutarakan alasan se- benarnya ia menyerahkan diri kepada Ario Gledak, maka Ki Kertonegoro pun memaafkannya.

Dalam pengejarannya, Ki Kertonegoro sampai di Puger dan berhadapan dengan pasukan pemberontak yang menyerah. Mereka kemudian dibawa ke Bondowoso, lalu dibawa menghadap ke Residen Besuki. Tawanan itu akhirnya dibuang ke Banjarmasin.

Versi lain menyebutkan bahwa siasat Ki Patih Kertonegoro menghadapi Ario Gledak adalah dengan cara melepaskan atau mengendurkan pancang-pancang tiang jembatan Sungai Gronggong. Versi ini termuat dalam naskah sejarah:

  • Tulisan tangan Moen’am Wondosubroto, 1938, Babad Besuki, bersambung dengan Babad Bondowoso.
  • H. Abd. Razaq Q dan SS Sidik, 1974, The Origin of Bullfight Connected with the History of Bondowoso.
  • Sabarudin, Bagian Politik/Keamanan Daerah Kabupaten Bondowoso, 1967, Sejarah Kota Bondowoso.

Agak berlainan lagi hasil kerja Tim Tujuh Pembuatan Sejarah Bondowoso yang menyusun naskah Ringkasan Sejarah Berdirinja Kabupaten Bondowoso pada 1992. Seperti halnya tulisan Soeroto (1919), tim ini sama sekali tidak mengemukakan siasat “jembatan Sungai Gronggong”. Ketiga penulis sejarah di atas mendramatisasi- kan peristiwa tipu muslihat jembatan Sungai Gronggong dengan sangat indah. Disebutkan bahwa Ario Gledak, Abdurrasid, dan Pasukannya, dengan gembira menyambut penghargaan Patih

Kertonegoro. Jembatan itu dihiasi janur dan bunga-bungaan layaknya menyambut kedatangan tamu padahal tiang-tiang pancang jembatan itu sudah dilonggarkan supaya bisa runtuh kalau dilewati pasukan pemberontak.

Dibuatkan pula barak tempat perisdrahatan di sebelah utara sungai dan dihiasi janur kuning serta bunga-bungaan, juga tempat menjamu para tamu agung yang dilengkapi gamelan untuk meng- hibur. Untuk menjaga keamanan, di sebelah utara disiapkan pasukan pengawal dan penjaga keamanan dengan pakaian seragam dan per- senjataan lengkap. Tetapi di sebelah selatan sungai disiapkan pasukan penyamar yang terlatih di tempat-tempat strategis untuk memukul habis pasukan Ario Gledak.

Begitu Ario Gledak dan pasukannya datang, mereka disambut dengan bunyi gamelan yang bertalu-talu. Ario Gledak mengira bahwa ia disambut sungguh-sungguh. Tidak disadari bahwa gamelan di- bunyikan sebagai tanda mulai penyerangan.

Peperangan pun dimulai. Pasukan penyamar memukul dari selatan sungai, sedangkan pasukan dari utara terus mendekat ke tebing sungai di sebelah utaranya. Pasukan Ario masuk perangkap melewati jembatan, dan jembatan pun runtuh. Pasukan kuda dan lain-lainnya terjatuh ke sungai. Kesempatan baik bagi pasukan Padh Kertonegoro untuk membinasakannya. Ario Gledak dan Abdurrasid tertangkap lalu dipenggal lehernya. Sisa pasukannya lari terbirit- birit, mundur, menghilang untuk lapor kepada Patih Puger.

Pasukan Patih Kertonegoro terus mengejarnya. “Dua kepala pemberontak” Ario dan Abdurrasid dibawa ke Mandar, lalu digan- tung di tiang pemancang di tengah lapangan untuk dipertontonkan kepada rakyat. Penduduk sangat takut pada keberanian pasukan Patih Kertonegoro.

Ketiga penulis sejarah tersebut menyebutkan bahwa kepala Ario Gledak dan Abdurrasid itu kemudian ditanam di tengah alun-alun Bondowoso dengan upacara resmi. Naskah Abd. Razaq Q dan SS

Sidik yang menyebut upacara pemakaman kepala pemberontak di alun-alun Bondowoso dengan dihadiri segenap rakyatdari berbagai kalangan itu, adalah dongeng belaka.

Yang menarik, waktu pemakaman itu akan dimulai, Ki Ronggo masih sempat membacakan pidato berapi-rapi yang isinya meng- ancam siapa saja yang sombong dan hendak mengganggu serta meng- gulingkan pemerintah, akan bernasib seperti Ario Gledak dan Abdurrasid.

Demikianlah kisah pemberontakan Ario Gledak itu diakhiri dengan kemenangan di pihak Patih Kertonegoro. Atas jasa-jasanya, beliau dihadiahi uang sebesarf4.000. Puger pun dilepaskan menjadi Kademangan di bawah kekuasaan Ronggo Kertonegoro Bondowoso.

Sabarudin dalam naskahnya menafsirkan hadiah/ 4.000 itu sebagai akhir hubungannya dengan pemerintah Belanda. Kompeni merasa dilangkahi karena Ki Ronggo mengambil kebijakan sendiri tanpa seizin belanda. Itulah sebabnya pada 1830 beliau diberhenti- kan dari jabatannya sebagai Ronggo I dan digantikan oleh putra keduanya yaitu Raden Kertokusumo [::]

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. 68- 73

Dr. H. Mashoed MSi, Kabupaten Jombang, Kabupaten Bondowoso

Dr. H. Mashoed MSi.16 Agustus 1942, Dr. H. Mashoed MSi, lahir di Jombang, Jawa Timur, Indonesia.

Tahun 1956, Mashoed kecil menempuh  pendidikan di Sekolah Rakyat.

Tahun 1959, Mashoed muda melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru B.

Tahun 1962, Mashoed muda melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru A.

Tahun 1973, Mashoed menyelesaikan pendidikan dari Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan (FKK) Jurusan Administrasi Niaga Universitas 17 Agustus, Surabaya.

Tahun 1996, Mashoed menempuh lanjutan Pendidikan di Program Pasca Sarjana Universitas 17 Agustus, Surabaya (Magister).

Tahun 2004, Mashoed menempuh jenjang Doktor. Menulis disertasi dengan tema Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat Miskin di Desa Terisolasi.

Tahun 1962-1970, Mengawali karier sebagai guru dan dosen di Jombang.

Tahun 1984, Mengikuti pendidikan kedinasan dan tingkat Sekolah Pimpinan Administrasi Tingkat Madya (Sepadya) di Yogyakarta.

Tahun 1989, Dr. H. Mashoed MSi Sekolah Staf dan Pimpinan Administrasi (Sespa) di Jakarta.

Tahunn 1970-1983, mengawali kariernya di pemerintahan dimulai sebagai Kepala Bagian Keuangan Kabupaten Jombang.

Tahun 1983-1987, menjabat sebagai Kepala Bidang Penjenjangan Diklat Pemda Jawa Timur,

Tahun 1987-1992, menjabat sebagai Kepala TU Diklat Pemda Jawa Timur.

Tahun 1992-1994, menjabat sebagai Kepala Biro Kepegawaian Pemda Jawa Timur.

Tahun 1994-1997, dan Kepala Diklat Pemda Jawa Timur.  Sebagai Kadiklat dan Widyaiswara aktif mengajar di sekolah penjenjangan atau kedinasan antara lain, Kursus Bendaharawan, Pemerintahan, Sepada (Sekolah Pimpinan Tingkat Dasar), Sepala (Sekolah Pimpinan Tingkat Lanjutan), dan Sepadya (Sekolah Pimpinan Madya). Selain aktif memberikan ceramah di berbagai tempat, ia juga menghasilkan karya tulis yang berkaitan dengan motivasi, supervisi, kepemimpinan, dan dinas-staf.

Tahun 1998-2003, menjabat sebagai Bupati Bondowoso.

Tahun 2003, terpilih kembali sebagai Bupati Bondowoso periode 2003-2008. Memperoleh penghargaan ‘ dari pemerintah bidang Koperasi, Kesehatan, Pertanian, Ketahanan Pangan, Pramuka, dan Satya Lencana Karya Satya untuk 10,20, dan 30 tahun. Sebagai Bupati Bondowoso, banyak mencurahkan pikiran dan membuat kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat miskin dan marjinal di daerah terisolasi. Tidak hanya dalam bentuk program-program pembangunan, tetapi juga lewat pendidikan luar sekolah.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. H. Mashoed MSi. Sejarah dan Budaya Bondowoso. Surabaya, Papyrus, 2004. hlm. Sampul Belakang