Putri Cempo

Menanti Istri Setia di Makam Putri Cempo, Banyak orang berharap mendapat jodoh yang setia di Makam Putri Cempo. Karena berasal dari Campa, makamnya juga sangat dihormati oleh orang-orang Tionghoa. 

makam putri cempoBersama lima kawannya, Ahmad Muslih (25) terlihat khusyuk berdoa di serambi cungkup Makam Putri Cempo, Rabu (29/8) siang. Sudah dua hari, santri-santri Pondok Pesantren Darussalamah, Lampung Timur itu berada di makam yang terietak di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang tersebut. Sebeiumnya mereka telah betziarah ke beberapa makam wali yang ada di Jawa Timur dan Jawa-Tengah.

Mereka menjadikan wali atau tokoh yang dimakamkan di tempat-tempat itu sebagai wasilah (perantara) untuk menggapai cita-cita. Karena sebagai manusia merasa punya banyak dosa, mereka membutuhkan wali yang lebih dekat dengan Allah sebagai perantaranya. Dalam menjalankan perannya sebagai wasilah itu, masing-masing wali atau tokoh memiliki kelebihannya sendiri-sendiri.

makam putri cempo0002Orang yang memohon wasilahnya, melihat kelebihan itu dari cerita, sejarah, bahkan legenda sang tokoh. Seperti Ahmad Muslih dan kawan-kawan yang ingin men­dapat wasilah dari Putri Cempo agar suatu saat memperoleh jodoh yang baik. “Istri yang ideal, baik dalam segala hal, cantik dan setia. Layaknya kesetiaan Puteri Cem­po tertiadap Sunan Bonang,” jelas Ahmad Muslih yang diamini Mudzakir dan kawan- kawannya yang lain.

Cerita tentang Puteri Cempo memang menyiratkan pesan kesetiaan itu. Menurut

H. Abdul Wahid, juru kunci makam, Puteri Cempo adalah nama salah satu murid wanita Sunan Bonang. Dia berasal dari sebuah kerajaan di kawasan Vietnam sekarang. Setelah beberapa lama menjadi murid, sang putri diangkat menjadi pengajar di pesantren salah satu anggota walisongo itu.

“Perjalanan waktu rupanya membuat sang putri jatuh cinta pada Kanjeng Sunan dan ingin menjadi istrinya,” papar Wahid . Mendengar keinginan tersebut, keluar sebuah jawaban mengambang dari mulut Sunan Bonang. “Entenono,” kata Wahid menirukan jawaban Sunan Bonang. “Tunggu saja”, sebuah jawaban yang mem- beri makna tidak mengiyakan atau menolak permintaan sang putri.

Sang putri pun setia menunggu keputusan Sunan Bonang untuk menjadikannya sebagai istri. “Walau pada kenyataannya, keinginan itu tidak pernah tercapai hingga Sunan Bonang meninggal dunia,” jelas Wa­hid. Sunan Bonang sendiri selama hidupnya tidak pernah menikah, hingga dikerral dengan nama Sunan Wadat Anyakrawati.

IBU RADEN PATAH

Lepas dari pesan kesetiaan di atas, beberapa catatan sejarah mengungkap versi lain tentang cerita Puteri Cempo. Dalam “Tionghoa dalam Pusaran Politik”, Benny G. Setiono menulis Puteri Cempo adalah Dewi Kiem yang didatangkan oleh Sunan Ampel dari Cemboja untuk dihadiahkan kepada Prabu Kertabumi. Tujuannya untuk membobol benteng pertahanan Majapahit yang men­jadi penghalang bagi perjuangan para wali.

Temyata Kertabumi langsung menjadikan Dewi Kiem sebagai istrinya. Ketika Dewi Kiem mengandung tiga bulan, ahli nujum kerajaan meramalkan bahwa bayi yang dikandung Dewi Kiem kelak akan menjadi ra­ja besar di Jawa. Namun karena keamanannya tidak terjamin (waktu itu Majapahit tengah berperang melawan Kediri), Dewi Kiem diserahkan

kepada putranya, Arya Damar, yang menja­di adipati di Palembang. Beberapa bulan kemudian lahirlah dari rahim Dewi Kiem seorang putra yang diberi nama Raden v Hasan atau Pangeran Jin Bun. Kelak, Jin Bun yang dikenal dengan nama Raden Patah menjadi Raja Demak dan berhasil mengalahkan Majapahit.

H J. de Graff dkk. dalam “Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI – Antara Historisitas dan Mitos”, menyebutkan, Putri Cempa berjasa membawa keponakannya, Bong Swie Hoo alias Sunan Ampel, dari Campa ke Jawa untuk menyebarkan Islam. Dia meninggal dan dimakamkan di Trowulan pada 1448. Kemudian hari, kerangkanya dipindahkan oleh Sunan Bonang, putra Sunan Ampel, ke Karang Kemuning, Bonang. Ini dilakukan Sunan Bonang untuk menghormati nenek bibinya itu.

Satu hari menarik yang patut dicatat dari versi – versi cerita di atas; bahwa orang- orang keturunan Tionghoa juga berjasa da­lam menyebarkan Islam di Jawa. Disebut keturunan Tionghoa, karena dari sisi etnis, orang-orang Campa mempunyai kemiripan dengan penduduk asli Tiongkok. Dari sisi geografis, letak Kerajaan Campa juga berbatasan dengan Tiongkok. Pada masa Ialu, kawasan Vietnam, tempat Kerajaan Campa itu berdiri, yang terpecah antara daerah Tonkin di utara dan Annam di selatan, juga pernah menjadi wilayah kekuasaan Kekaisaran Tiongkok.

Pada masa Kaisar Gia Long dari Dinasti Nguyen, negeri ini pernah meminta petunjuk Kekaisaran Tiongkok untuk memberi nama bam. Gia Long mengajukan nama gabungan An Nam dan Viet Thuong. Gabungan nama itu mengerucut menjadi Nam Viet, yang akhirnya menjadi Viet Nam sejak awal abad ke-19, hingga sekarang.

Marco Polo yang tiba di pantai Vietnam pada 1292, mencatat negeri itu bernama Caugigu. Nama ini berasal dari kata Giao Chi Quan yang diduga sebagai nama kaisar Tiongkok kuno dari Dinasti Han. Nama itu terus mengalami perubahan, sampai ahli geografi Denmark, Konrad Malte-Bume, pada awal 1800-an, menganggap kawasan di semenanjung itu terpengaruh dua kebudayaan, India dan Tiongkok (Cina). Sehingga semenanjung itu disebut Indocina. Nama ini sampai sekarang tetap dipakai untuk menyebut gabungan tanah Vietnam, Laos, dan Kamboja Dengan sejumlah fakta di atas, tak mengherankan bila Makam Puteri Cempo di Bonang maupun petilasannya yang ada di Trowulan juga sangat dihormati oleh orang- orang Tionghoa. Di waktu-waktu tertentu, akan terlihat asap hioswa berpadu dengan menyan dan kembang di dua tempat tersebut. “Beberapa tahun lalu, peziarah dari luar Jawa yang kebingungan mencari – mencari makam ini, justru bertanya di Klenteng Lasem,” ungkap Abdul Wahid. • hk

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2316, 11 – 20 September 2007, hlm. 6-9

 

Makam Panjang di Leran Kabupaten Gersik

BERBURU KESAKTIAN Dl MAKAM PANJANG

Makam Panjang0002Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur . Di komplek makam Siti Fatimah binti Maimun juga terdapat beberapa makam lain. Menurut Hasyim, makam-makam itu adalah makam para pengikut Siti Fatimah. Selain itu ada pula makam para juru kunci perawat makam tersebut.

Namun dari sekian banyak makam yang ada, tepat di sisi kiri dan kanan atau mengapit jalan menuju bangunan cungkup makam Siti Fatimah, terdapat dua buah makam dengan ukuran yang tidak umum. Makam ini memiliki panjang hingga sekitar tujuh meter. Masyarakat menyebutnya dengan makam panjang, karena memang ukurannya yang sangat panjang. Makam siapakah itu?

Hasyim menjelaskan bahwa dua makam panjang itu adalah makam dari pengawal setia Siti Fatimah semasa hidupnya. Dan makam yang dibuat panjang karena konon waktu itu jasad kedua senopati kerajaan Kedah ini akan dicuri oleh musuh-musuhnya. Karena itu sebelum keduanya meninggal, mereka berpesan agar jasadnya dikubur di dalam liang dengan ukuran sangat panjang. Hal ini untuk mengelabui musuh-musuhnya.

Namun lepas dari cerita itu, Hasyim mengatakan bahwa makam yang panjang itu sebenarnya adalah symbol dari penantian panjang manusia di alam kubur. Karena itu, agar di dalam penantian yang panjang itu bisa hidup tenang, hendaknya manusia selalu membekali dirinya dengan berbagai amal. Sebab amal-amal itulah nantinya yang akan menolong mereka di hari kiamat.

“Ukuran ini sebenarnya hanya simbol sehingga bagi mereka yangtahu akan bisa mengambil hikmahnya,” terang Hasyim.Dan seperti halnya di makam Siti Fatimah, di makam panjang ini sering pula terlihat para peziarah yang berlama- lama berdoa. hanya saja berbeda dengan yang diyakini dari makam Siti Fatimah, makam panjang para pengawal Siti Fatimah ini diyakini ampuh untuk meningkatkan olah kanuragan seseorang. Karena itu kebanyakan mereka yang bermeditasi di tempat ini adalah mereka yang tengah memperdalam  ilmu atau bahkan golongan paranormal *KL@-6

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2316, 11 – 20 September 2007, hlm. 7

Siti Fatimah binti Maimun

Jaminan Kesuksesan dari Makam Siti Fatimah binti Maimun

Siti Fatimah binti Maimun diduga sebdgai penyebar Islam pertama di tanah Jawa. Kini makamnya banyak didatangi Para peziarah yang meyakini, bahwa karomah dari sang,tokoh bisa membawa mereka meraih kesukseskan.

Makam Siti maimunSUARA ADZAN terdengar menggema dari sebuah langgar kecil di dekat gerbang makam Siti Fatiraah binti Maimun. Beberapa orang warga Desa Leran, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur pun tampak berjalan bergegas menujif- ke langgar tersebut, untuk menjalankan sholat Ashar. Ibadah memang menjadi hal yang paling utama dalam kehidupan masyarakat Gresik dan sekitarnya. Karenanya, suara adzan bagi para warga tersebut ibarat panggilan yang tak bisa ditawar. Sebab itu, meski sesibuk apapun, mereka akan berusaha meninggalkan kesibukan itu. Dan bergegas memenuhi ‘panggilan’ itu.

Pola hidup seperti mi bukanlah hal yang baru bagi mereka. Sebab secara umum tingkat spiritualitas masyarakat di wilayah pesisir utara Jawa Timur ini memang cukup tinggi. Sehingga tidak heran kalau di hamper setiap sudut kehidu- pan masyarakat ini, nuansa religius tampak begitu mewarnai. Mulai dari pakaian hingga pola perilakunya. Makanya sebutan kota santripun layak disandang kota ini. Sebutan ini tentu tidak terlalu berlebihan bila melihat kondisi yang terjadi di sana. Selain mayoritas penduduknya beragama Islam. Di kota ini pula dimakamkan para tokoh penyebar agama Islam yang dikenal dengan sebutan wali songo. Yang sangat berperan dalam membentuk perilaku masyarakat Gresik, hingga menjadi sangat religious.

Adalah Syeh Maulana Malik Ibrahim yang dikenal sebagai bapak para wali. Lalu Sunan Giri yang dikenal sebagai pemimpih di Kerajaan Giri Kedaton. Kemudian Sunan Prapen, dan masih banyak lagi. Keberadaan tokoh-tokoh inilah yang memiliki peran besar dalam perkembingan agama Islam di kota ini. Dan dari sekit.n banyak tokoh penyebar agama Islam yang pernah ada di kota Gresik, salah satunya adalah Siti Fatimah binti Maimun.

WALI PERTAMA

Sayangnya catatan sejarah mengenai tokoh yang satu ini terbilang sedikit. Se­hingga kiprahnya di masa lalu terutama dalam kaitannya dengan penyebaran aga­ma Islam belum banayk diketahui. Namun demikian, Siti Fatimah binti Maimun diyakini sebagai tokoh penyebar agama Islam per- tama yang datang ke tanah Jawa sebelum kehadiran para wali.

Dugaan ini didasarkan pada pahatan tulisan di batu nisan yang menunjukkan tarikh tahun 475 H atau sekitar tahun 1082 M. Hal ini menunjukkan bahwa Siti Fatimah telah datang saat di tanah Jawa masih berdiri kerajaan Kahuripan yang dipimpin Prabu Airlangga.

Dan bila benar demikian, berarti agama Islam telah lama masuk ke tanah Jawa. Hanya saja waktu itu belum terlalu menyebar seperti saat munculnya wali songo.

Agama Islam hanya ber­kembang di wilayah-wilayah pesisir yang me­mang sangat mungkin karena banyak disinggahi oleh para pedagang dari berbagai negeri, termasuk Arab dan Persia yang umumnya beragama Islam.

“Desa ini bernama Leran yang diambil dari kata lerenan atau tempat pemberhentian. Karena waktu itu setiap pedagang dari negeri lain banyak yang singgah di wilayah Gresik. Dan salah satunya adalah rombongan Siti Fatimah binti Maimun ang berasal dari Kedah Malaysia.

Rombongan ini kemudian singgah (leren) dan menginap di tempat ini. Sampai akhirnya berkembang menjadi desa,” ungkap Hasyim, juru kunci makam Siti Fatimah binti Maimun kepada LIBERTY.

Sebagai seorang muslim yang singgah di daerah yang belum Islam, naluri untuk mengajak orang lain memeluk Islam muncul dalam hatinya. Karena itu sedikit demi sedikit penduduk yang ada di sekitar tempat itu mulai mengenal dan memeluk agama Islam. Hanya saja impiannya untuk semakin mengembangkan agama tersebut kandas setelah wabah ganas menyerang wilayah tersebut hingga merenggut nyawanya beserta beberapa orang pengikutnya.

Wabah itu sendiri konon adalah kiriman dari Sultan Mahmud Syah Alam orang tuanya. Sebab menurut kabar yang beredar, Siti Fatimah hendak dinikahi raja di tanah Jawa (kemungkinan Prabu Airlangga). Dan orang tuanya tidak setuju. Alasannya, dia takut kalau Siti Fatimah nantinya akan berpindah keyakinan. Dan misinya untuk menyebarkan agama Islam gagal di tengah jalan.

Akhirnya demi untuk ‘menyelamatkan’ sang anak, Sultan Mahmud syah Alam ber- doa agardiberikan jalan keluar. Sebuah mu- sibah berupa pageblukpun datang menerpa rombongan Siti Fatimah. Banyak para pe­ngikutnya yang tiba-tiba sakit dan langsung meninggal. Tak terkecuali Siti Fatimah sendiri bersama para dayang setianya. Me- reka akhirnya juga tewas diserang wabah penyakit misterius itu.

Namun versi lain mengatakan bahwa Siti Fatimah atau yang dijuga dikenal dengan sebutan Putri Dewi Retno Swarsi sengaja dibunuh dengan cara disantet oleh seorang raja di Jawa yang hendak menikahinya. Hal ini karena Siti Fatimah menolak pinangan sang raja.

Siti Fatimah beserta para dayangnya Putri Kucing, Putri Seruni, Putri Kambuja, dan putri Keling, kemudian dimakamkan di Desa Leran. Dan demi untuk melindungi makam tersebut, beberapa pengikut Siti Fatimah yang masih hidup membuatkan bangunan cungkup dari batu kapur dengan dinding yang sangat tebal.

“Sebagian besar dari bangunan makam itu masih asli. Hanya beberapa buah batu sempat diganti karena dikhawatirkan runtuh dan membahayakan para peziarah. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kuatnya bangunan itu,” terang Hasyim.

JAMINAN KESUKSESAN

Kini makam Siti Fatimah banyak dikunjungi para peziarah. Tak hanya datang dari wilayah Gresik saja. Banyak peziarah yang datang dari luar kota dan bahkan dari luar negeri terutama Malaysia. Hal ini tak lain karena Siti Fatimah berasal dari Malaysia.

Ada keyakinan dari masyarakat yang datang ke sana bahwa dengan berziarah dan berdoa di makam ini, maka segala keinginan pasti akan terkabul. Bahkan bagi beberapa kalangan, mereka meyakini bahwa karomah dari Siti Fatimah bisa meningkatkan der- ajat. Karena itu tak jarang yang dating ke sana adalah orangorang dari golongan pejabat. Selanjutnya bagi para pedagang, berdoa di makam ini konon adalah jaminan kesuksesan dalam usaha yang dijalankannya.

Para peziarah yang dating umumnya cukup hanya membawa sebungkus bunga setaman. Bunga itu selanjutnya diserahkan ke juru kunci untuk didoai sambil menyampaikan hajatnya. Kemudian dengan diantarkan sang juru kunci, para peziarah bisa melanjutkan untuk berdoa dan bermunajat di samping makam Siti Fatimah.

Hanya saja ruangan cungkup makam terbilang sempit. Karena itu biasanya jumlah peziarah yang masuk akan dibatasi. Apalagi saat malam Jumat. Peziarah yang dating jumlahnya sangat banyak. Hingga untuk bisa masuk ke dalam makam harus bergiliran. • KL@-6

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2316, 11 – 20 September 2007, hlm. 6-9

Kanjeng Sepuh Sedayu

Umar bin  Khatab asal Sedayu

 

Masjid Knjeng Sepuh Sedayu.Tokoh lain yang juga tak kalah berperan dalam perkembangan Islam di wilayah Gresik adalah Kanjeng Sepuh Sedayu. Namanya mungkin masih asing bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Namun bagi warga Kabupaten Gresik di Jawa Timur, tokoh yang satu ini bukanlah orang sembarangan. Dia begitu dihormati oleh semua kalangan. Baik dari kalangan pejabat sampai rakyat jelata.

Selain dikenal sebagai seorang wali yang kerap mengajarkan ajaran-ajaran kebajikan, semua tentu tak lepas dari keberaniannya dalam menentang penjajah Belanda di zaman perjuangan. Dia sangat menentang kebijakan diskriminasi atau pengelompokan ma­syarakat berdasarkan kelas dan golongan yang dilakukan Belanda. Sebab dalam pandangannya, semua manusia itu sama. Yang mem- bedakan di hadapan Tuhan hanyalah amal dan ketaqwaannya.

Kanjeng Sepuh Sedayu juga menentang pengenaan pajak yang begitu tinggi yang diberlakukan Belanda. Hal ini membuat Belanda sangat marah, hingga menempatkan Kanjeng Sepuh Sedayu atau yang bergelar Kyai Panembahan Haryo Soeryo Diningrat sebagai salah satu musuh besar pemerintah kolonial. Sebab apa yang di­lakukan oleh Kanjeng Sepuh Sedayu jelas-jelas merugikan pemerin­tah kolonial Belanda.

Kanjeng Sepuh Sedayu sendiri adalah bupati dari Kabupaten Sedayu yang kini sudah dihapuskan. Sejak berdiri pada 1675, Kabupaten Sedayu dipimpin oleh sedikitnya sepuluh bupati. Bupati yang paling dikenal adalah Kanjeng Sepuh Sedayu, yang merupakan bupati ke-8.

Kanjeng Sepuh Sedayu - CopyKabupaten Sedayu sendiri posisinya berada sekitar 20 km di sebelah barat Kota Gresik. Di tempat ini sisa-sisa peninggalan kabu­paten berupa alun-alun masih bisa dilihat dengan jelas. Tak hanya itu, beberapa situs sisa-sisa bangunan kabupaten juga masih tersisa meski sudah nyaris tak berbentuk, karena tidak dirawat.

Pada 1910, kabupaten ini oleh Pemerintah Belanda diintegrasikan ke Kabupaten Jombang. Namun setelah proklamasi, akhirnya wilayahnya dimasukkan dalam wilayah Kabupaten Gresik.

Dan kecjekatan Kanjeng Sepuh Sedayu dengan rakyatnya bisa dikatakan sangat istimewa. Hampir tiap kali dia melakukan per- jalanan untuk menilik desa- desa di sekitarnya, sambutan yang mengelu-elukan dirinya datang silih berganti. “Kanjeng Sepuh Sedayu tahu bagaimana cara untuk bisa menentramkan rakyat. Karena itu dia begitu disanjung dan dipuji,” kata Mazumi, salah seorang pengurus Masjid Kanjeng Sepuh Sedayu yang berada satu komplek dengan makam sang tokoh, kepada LIBERTY.

Hubungan itu semakin erat manakala Kanjeng Sepuh Sedayu sering dipergoki mela­kukan perjalanan sendiri di malam hari untuk menemui rakyatnya. Rupanya dia ingin

meniru apa yang dilakukan oleh salah seorang anggota Khullafatur Rosyidin yaitu Umar bin Khatab. Yang selalu berusaha menegakkan keadilan di tengatvtengah rakyatnya, dengan langsung turun sendiri guna mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.

Demikian pula dengan Kanjeng Sepuh Sedayu yang juga senantiasa memberikan sumbangan kepada rakyatnya yang saat itu dilihatnya tengah mengalami penderitaan. Makanya begitu terjadi perang melawan penjajah, rakyat Sedayu dengan gagah berani maju melindungi pemimpinnya itu.

Kini makamnya tetap terawat dengan baik. Tiap tahun selalu diadakan acara haul untuk memperingati hari meninggalnya sang tokoh. Dan di tiap acara haul tersebut, ribuan warga masyarakat di sekitar Kecamatan Sedayu, Kabupaten Gresik, Jawa Timur tumpah ruah memenuhi halaman Masjid Kanjeng Sepuh Sedayu.

Selain ingin memberikan penghormatan di tengah iringan doa yang dipanjatkan, para warga ini meyakini bahwa Kanjeng Sepuh Sedayu adala seorang wali yang memiliki karomah. Dan karomah inilah yang menjadi rebutan para warga yang hadir. Efek dari karom­ah sang tokoh yang didapatkan, dipercaya mampu membuat kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Hal ini karena konon waktu itu setiap orang yang bisa bertemu dan bersalaman dengan Kanjeng Sepuh Sedayu, maka kehidupannya akan menjadi lebih baik. 

Dan agaknya keyakinan itu masih tetap dipegang teguh oleh masyarakat. Hingga pada puncak acara haul, mereka akan berebut untuk masuk ke dalam komplek makam. Dengan bisa berdoa sedekat mungkin dengan makam sang tokoh, maka apa yang diharapkan tersebut akan terlaksana. 9KL@-6 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2316, 11-20 September 2007, hlm. 10

Cak Sidik; H.M. Sidik Wibisono

6 November 1944, Lahir  Sidik Wibisono, akhirnya dikenal dan terkenal  dengan panggilan Cak Sidik, berIstrikan  Hj Surya Dewi dikaruniai lima anak : 1. Eka Suryanto Wibisono, 2. Dwi Agus Sugiono, 3. Mery Triana Dewi, 4.  Fifi Rosiana Dewi, 5. Yeni Erawati, dan telah menjadi kakek dari 11 cucu

H.M. SIDIK WIBISONO (Cak Sidik) menemukan jodohnya dalam dunia perLudruk pula,  dengan Ning Surya Dewi, pada saat itu keduanya sebagai anggota Ludruk RRI  Surabaya. Bisa dikatakan Cak Sidik kena cinlok (cinta lokasi), (almarhumah Ning Surya Dewi adalah istri sekaligus kawan main ludruk bagi Cak Sidik).

Cak Sidik kini masih aktif menjadi pembina Paguyuban Pencinta Kidungan Rek (PPKR), sebuah organisasi yang berisi penggemar Kidungan Rek, acara milik JTV.

Cak Sidik merasa Ludruklah yang membuatnya ia tetap hidup, ludruk merupakan segala-galanya bagi Cak Sidik.. ludruk bagi  Cak Sidik tidak tergantikan oleh apa pun.

Cak Sidik awalnya pegawai percetakan dengan gaji lumaya, pekerjaan di percetakan di lepas dan  Cak Sidik terjun total di dunia ludruk. Sebagai bantahan Cak Sidik bahwa dunia Ludruk kurang prospektif, Memang terbukti Cak Sidik punya rumah cukup nyaman dan tidak kekurangan satu hal apa pun, namun itu semua kalau betul-betul ditekuni dan total.

Cak Sidik  sendiri tak akan menyangka bahwa dirinya akhirnya kondang sebagai seniman ludruk yang cukup punya nama. Dulu sama sekali tak tebersit dalam cita-cita Cak Sidik untuk menjadi tukang ngeludruk. Menurut pengakuannya, dia sebenarnya orang yang tersesat dalam dunia ludruk.

Cak Sidik  adalah personel Band DAMRI dan BAT. Posisinya adalah vokalis merangkap rhythm guitar. Pernah mencoba untuk menjadi penyanyi Srimulat namun ditolak.

Cak Sidik  cukup dikenal saat itu. “Biasane sing nanggap yo instansi-instansi” kenangnya. Lagu-lagu yang biasa dia bawakan adalah milik Koes Plus dan oldies pop semacam Oh Carol.

Tahun 1969, Setelah dua tahun tidak ada perkembangan berarti di bandnya Cak Sidik mulai bimbang. Namun Cak Sidik  muda berkeinginan kuat untuk  mengembangkan karir pada dunia seni, kemudian disarankan ayahnya untuk melamar di Ludruk Tri Sakti di THR. Ludruk itu termasuk grup papan atas. Personelnya adalah pentolan-pentolan ludruk. Misalnya, Cak Meler, Cak Rukun, dan Cak Parmo. Sidik kemudian menuruti saran ayahnya. 

Cak Sidik  langsung disuruh mengisi bedayan (sesi awal lawak ludruk,  kidungan selama satu jam). Hal ini merupakan diluar dugaan Sidik.

Cak Sidik dengan sangat percaya diri menerima tantangan tersebut. Hasilnya luar biasa, Cak Sidik  berhasil melantunkan kidungan-kidungan milik Cak Meler dan memukau penonton selama hampir satu jam.
Cak Sidik  ternyata juga sering melihat ludruk. Cak Meler adalah salah satu favoritnya dan setiap melihat parikan Cak Meler, dia menghafalnya. 

Cak Sidik  belum punya parikan sendiri, sehingga dia selalu membawakan semua parikan Cak Meler yang dihafal. Mulai cengkok, syair, hingga intonasinya, semua ditiru persis. Yang tak kalah girang adalah para pentolan ludruk seperti Cak Meler sendiri dan Cak Rukun. Setiap selesai pentas, Cak Sidik langsung disalami para dedengkot ludruk tersebut. 

Cak Sidik  selanjutnya diajari langsung oleh Cak Rukun dan Cak Meler. Merekalah yang meletakkan dasar-dasar ludruk pada Cak Sidik.  Saat itu Cak Meler dan Cak Rukun mengarahkan Sidik ke kidungan dan lawakan.  Itulah titik balik Sidik dalam dunia ludruk.

Cak Sidik  bergabung dengan Ludruk RRI, setelah setengah tahun bersama di Ludruk Tri Sakti. Bersama Ludruk RRI inilah  Cak Sidik  mendapatkan masa keemasan. 

Tahun 006 awal, Hj Surya Dewi yang telah menemani Cak Sidik  hampir 40 tahun, meninggal dunia akibat tumor kandungan . =S1Wh0T0=

Sumber: www.jawapos.co.id [25 Maret 2007]

 

Religi dan Kegiatan Ritual, masyarakat Samin

mbah-hardjo-kardi-generasi-keempat-kaum-saminAda orang yang beranggapan Saminisme itu sebuah agam. Katanya Saminisme itu tidak kawin di masjid menurut Islam dan tidak pula di gereja menurut Kristen. Tidak melakukan sunat (khitan), dan tidak pernah pula menyebut nama Tuhan.

Dengan demikian, mereka berkesimpulan bahwa orang-orang Samin itu bukan penganut agama Islam, bukan penganut agama Kristen, bukan penganut agama Hindu dan Budha pula. Tetapi mereka mempunyai agama sendiri yaitu agama “Samin”.

Pendapat seperti di atas itu tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya (Soepanto-Djaffar, 1962:39). Selanjutnya, Soepanto-Djaffar (1962:39), menyatakan saminisme bukan suatu agama, sebaliknya bukan pula tidak percaya kepada agama. Saminisme tidak membeda-bedakan agam. Semua agama itu baik, maka Saminisme tidak mengingkari agama. Dan itulah paham Samin yang pokok.

Menurut HarryJ. Benda (dalam Sastroatmodjo, 2003:48-49), orang Samin asli sering menyebut dirinya ” 13matting Agama Adam Kawitan”, yang meyakini tujuan hidup yakni kesempurnaan umat manusia, sedangkan manusia hidup di tengah-tengah Urip, sementara kehidupan ini abadi, dan manusia diikat oleh cakra panggilingan atau jalan karmanya sendiri-sendiri. Untuk menebus dosanya selagi di dunia, manusia harus mengalami reinkarnasi alias penitisan beberapa kali.

Di pihak lain, Benda (dalam Prasongko, 1981:36) gerakan Samin merupakan tradisi Abangan di Jawa Orang Samin mengaku menganut agama Adam. Tentang agama yang dianutnya ini mereka menegaskan bahwa “Agama nikugaman, Adampangucape, mangaman lanang . Tetapi orang Samin tidak membedakan agama yang ada,mereka menganggap semua agama baik, dan mereka merasa memilikinya:

“Agama Islam ya duwe, agama Katholikya duwe, Budha ya duwe, wong kabehne iku apik”

Agama Islam punya, agama Katholik  punya, agama Budha  punya, sebab semua itu  baik”

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm. 102 -103

Sumber gambar: Berita Jati.COM media online

Nina Tamam, Surabaya

nina tamam29 Maret 1975, Nuraini Sukoningrum Tamam lahir di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. lebih dikenal sebagai Nina Tamam, putri sulung musisi senior, Tamam Husein musisi senior.

Tahun 1989, Nina pernah menjadi juara pertama Pesta Musik YMI.

Tahun 1992, Nina sebagai anggota County Chorus di Easton, Amerika Serikat.

Tahun 1995, Nina bergabung dalam grup vokal Warna, bentukan ayahnya. Di tahun ini pula Nina berperan dalam sinetron yang berjudul Deasy (SCTV).

1995-2002, Nina membintangi iklan “Teh Sariwangi”.

Tahun 1996, mengisi acara Parade Keluarga Berbakat (Indosiar).

Tahun 1997, Nina sebagai presenter Ekspresi (Indosiar). Nina juga pernah menjadi penyiar di I-Radio dengan memandu acara Life Cycle of Music di Universitas Katolik Atmajaya, menggantikan posisi Tika Panggabean. Dalam acara off air itu, Nina mewawancarai Melly Goeslaw.

Tahun 1998, Nina bersama Warna mengeluarkan album “Dalam Hati Saja”.

Tahun 2000, Nina bersama Warna mengeluarkan album lanjutan “Cinta”.

29 Agustus 2002. Nina menikah dengan lelaki berdarah Toraja-Jawa, Erikar Lebang.

Tahun 2003, Nina bersama Warna mengeluarkan album The Best Of Warna.

2003-2004, Nina membintangi iklan “Bodrexin”.

23 Maret 2005,  Nina akhirnya keluar dari Warna untuk bersolo karier.

2005-2006, Nina membintangi iklan “Rinso”.

6 Mei 2005, obsesi Nina terpenuhi, merilis album solo berjudul “Nina”. Debut album ini menampilkan 10 tembang dengan muatan genre musik pop. Lagu “Ya…Ya…(Aku Bahagia)”, ciptaan Dewiq, didaulat menjadi single pertama. Tak ketinggalan ayahnya, Tamam Husein turut andil dengan menyumbangkan lagu berjudul “Kembali Padamu”.

2007-?, Nina membintangi iklan “Gaga” dan juga “Molto”.

Sekarang bersama dengan Rieka Roeslan, Iga Mawarni, Andien, dan Yuni Shara membentuk kelompok vokal beranggotakan lima orang dengan nama 5 Wanita. =S1Wh0T0=

 

 

Annie Carera, Madiun

Annie Carera1 Juni 1969 , Tri Nuryani  lahir dengan nama di Madiun, Jawa Timur, Indonesia. Akhirnya lebih dikenal dengan panggilan artisnya Annie Carera, anak ketiga dari pasangan Santosa dan Suwarti.

Sejak Sekolah Dasar Anie telah belajar vokal di tempat kelahirannya.

Tahun 1982, Anie meraih Juara Pertama Festival Musik Anak Tingkat Kabupaten Madiun, kemudian berlanjut menjadi Juara II Festival Musik Anak Tingkat Jawa Timur dan Nasional.

Tahun 1988, Pertama tampil Anie di TVRI Surabaya, Gombloh tertarik dengan penyanyi berbakat nan cantik Ini. Akhirnya mereka bekerjasama dalam proyek album perdana Anie berjudul “Janji Itu Manis” diciptakan oleh Gombloh dan meraih sukses. Tahun ini pula Anie membintangi film layar lebar pertamanya dengan judul Kamus Cinta Sang Primadona, sekaligus menyanyikan salah satu soundtrack-nya yang berjudul “Satukan Cinta Kami”.

Tahun 1989, Album keduanya “Walau Seribu Janji” ciptaan Pompi dan album ketiga “Sebaris Kalimat” (1989) , ciptaan Yadi Sukma tidak terlalu beruntung di pasaran. Setelah itu Anie memutuskan untuk vakum dulu dari dunia musik sebab dia ingin konsentrasi dengan kuliah serta pekerjaannya di BRI Surabaya. Tapi dia masih punya keinginan untuk menyanyi yang sudah jadi hobinya selain hiking dan touring.

Tahun 1992,  Meski sebagai karyawati BRI, Anie Carera kembali meluncurkan album untuk penggemarnya dengan judul “Terperangkap Dalam Duka” ciptaan Yadi Sukma. Anehnya album ini lebih terkenal di negeri jiran Malaysia daripada di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh album-album Nike Ardilla yang pada saat itu sedang merajai blantika musik Indonesia.

Tahun 1994,  Anie bekerjasama dengan Deddy Dores dalam album “Cintaku Takkan Berubah” di bawah label Metrotama Records. Album inilah yang kembali melambungkan nama Anie di dunia musik sejajar dengan Poppy Mercury, Inka Christie, Nicky Astria, Lady Avisha dan penyanyi rock wanita lainnya. Meskipun penjualannya masih dibawah album “Biarkan Cintamu Berlalu” milik Nike Ardilla, namun album ini meraih sambutan baik para pecinta musik.

Tahun 1995, Lagu “Cintaku Takkan Berubah” tetap menjadi radio hits.

Tahun 1996, Anie kembali dengan album “Cintaku Tak Terbatas Waktu” ciptaan Deddy Dores yang merupakan “The Biggest Album Of Anie Carera”. Album tersebut menjadi Anie Carera Signature Song.  Lagu tersebut menjadi Top Air Play di radio-radio nasional sampai akhir dekade ’90-an dan telah dibuat berbagai macam versi serta arransemen ulang.

Tahun 1997,  Anie berpindah label dari Metrotama Records ke Blackboard dan merilis album “Aku Benci” ciptaan Wahyu WHL. Album ini juga dirilis di Malaysia,  Diikuti hits-single Cintaku Terbang Di Langit Biru ciptaan Deddy Dores. Serta 20 Lagu Terbaik Anie Carera.

Tahun 1998, single “Cintaku Tak Terbatas Waktu (House Music Version)” dirilis Blackboard. Selain itu pihak Metrotama Records juga merilis kembali album ketiga Anie yang berjudul “Sebaris Kalimat”. Masih di tahun ini (1998),  Anie meluncurkan “Bagai Ikan Dalam Kaca” Album duet dengan Deddy Dores.

Tahun 1999,  Anie meluncurkan album kompilasi bertitle “Air Mata Rindu” dari lagu-lagunya yang hits. Album ini menampilkan single hits terbaru Air Mata Rindu, 2 lagu baru ditambah lagu-lagu hits lama seperti “Aku Benci”, “Cintaku Takkan Berubah”, “Cintaku Tak Terbatas Waktu”, dan lain-lain.

Masih di tahun ini (1999), Anie meluncurkan lagu daur-ulang milik Elisa yang berjudul “Cintaku Tak Sebatas Rindu”. Untuk versi Anie terdapat sedikit perubahan pada lirik, arransemen dan judul. “Hatiku Bagai Emas Permata” dipilih Deddy Dores untuk judul album Anie ini.

Tahun 2000-an, Anie mengeluarkan single “Air Mata Kesepian”, dan terakhir berkolaborasi dengan penyanyi hip-hop Saykoji pada single “Cintaku Tak Kan Berubah” yang cukup sukses.

Tahun 2001 Anie merilis album kesepuluh berjudul “Cintaku Masih Seperti Yang Dulu”. Karena minimnya promosi, album yang diedarkan oleh Atlantic Records ini kurang berhasil di pasaran.

Tahun 2007, Anie juga merilis CD dan VCD “Best Of The Best Anie Carera “

Singles dan Soundtrack yanglain : Selamat Malam Cinta; Cintaku Terbang Di Langit Biru; Air Mata Kesepian; Cintaku Tak Berarti; Cermin; Harapan Cinta dan Gubuk dan Istana.