Ngekak Sangger

Ngekak Sangger ,,Ngekak Sangger merupakan sebuah tradisi  Upacara adat pengantin desa Legung, kecamatan Batang-batang, Kabupaten Sumenep, Madura. Tradisi ini masih beralku dan dilaksanakan, sampai sekarang.

Dalam upacara pernikahan, sebelum calon mempelai pria dipersilakan memasuki tempat upacara, terlebih dulu pihak calon mempelai wanita meminta bayaran berupa kesanggupan pihak calon mempelai pria untuk melakukan Tayub/Tandhang.

Kemudian calon mempelai pria dipersilakan masuk dengan cara berjalan jongkok menuju tempat upacara akad nikah. Upacara akad nikah dilakukan sesuai ajaran agama Islam yang dipimpin oleh seorang penghulu. Setelah pelaksanaan upacara akad nikah.

Acara selanjutnya sebuah prosesi adat yang disebut ngekak Sangger, yaitu mempelai pria diwajibkan merangkai bilah-bilah bambu untuk alas tempat tidur,  mempelai pria terlebih dulu harus diuji keterampilannya, yang kelak merupakan bekal dalam mengarungi hidup berumah tangga serta dalam melindungi keluarganya.

Arti Penganten Ngekak Sangger, dengan pengertian bahwa pernikahan bukanlah sekedar pertautan kedua mempelai, namun dimaknai sebagi masuknya penganten pria dalam ikatan keluarga besar sang isteri, seperti halnya sangger.

Sangger adalah sebuah rangkain yang terdiri dari bilah-bilah bambu yang rapi tersusun dalam satu ikatan. Dalam simbol tersebut sangger mempunyai maknauntuk mendidik penganten pria untuk selalu arif dan tertip, memegang sopan santun sejajar dengan kerabat si Istri. Dilambangakan seperti dalam rangkaian Sangger.

 

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 330

 

Bubak Temanten

Upacara Bubak Temanten adalah suatu bentuk upacara yang dilaksanakan oleh seseorang pada saat mantu putra sulung, di daerah Kabupaten Blitar, masih banyakorang melaksanakan upacara Bubak Temanten.

Upacara daerah Bubak Temanten sudah sejak zaman dulu dilaksanakan dan sampai sekarang masih berjalan, konon budaya ini telah ada sejak tahun 1875, meskibudaya ini tampaknya ada gejala tersisih dan terdesak oleh budaya modern yang lebih menarik dan lebih singkat serta mudah dilaksanakannya, namun demikian masih banyak yang melakukan.

Diangkatnya upacara Bubak Temanten dalam fes­tival Upacara Adat Daerah dikandung maksud agar bisa diterima oleh generasi muda dan direstui oleh pejabat yang berwenang yang akhirnya upacara adat daerah Bubak Temanten ini bisa berkembang dan lestari.

Peralatan atau sesaji terdiri atas kemarang, berisi pisang raja setangkep, gula kelapa setangkep, kelapa satu butir, ayam yang masih kecil, cok bakal„ kinarigan, tikar yang masih baru dan dilapisi kain/mori putih, kendhil/klenthing sebanyak tiga buah, kendhil pertama berisi: beras ketan, beras merah, dan dua butir telur; kendhil kedua berisi: buah-buahan dan kue; kendhil ketiga berisi: kelapa muda berisi santan, dan kembar mayang.

Kendhil/klenthing adalah lambang dari cupu manik astagina. Cupu manik astagina merupakan tempat untuk menyimpan titipan wiji banyu suci purwitasari dari seorang laki-laki kepada istrinya, hal ini yang nanti akan dipergunakan untuk dialog antara ayah dan ibu calon temanten.

Ketan dan beras merah melambangkan rezeki dan berkah, dengan telah dilaksanakannya bubakan diharapkan rezeki dan berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa bisa lancar, baik rezeki untuk orang tua calon temanten maupun rezeki calon temanten, sedangkan kelapa muda yang diisi santan sebagai gambaran air susu.

Jadi pada acara bubak temanten ada seorang putra menyerahkan kelapa muda kepada ibu, dengan maksud sebagai persembahan seorang putra yang sudah dewasa kepada ibunya, mengingat bahwa pada masa anak-anak disusui oleh ibunya. Telur melambangkan bahwa manusia berasal dari benda yang berwarna merah dan putih

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 73-74

TUMURUNING KEMBAR MAYANG

Tumuruning Kembar Mayang , merupakan prosesi upacara Perkawinan di Kabupaten Nganjuk
Kabupaten Nganjuk berada di wilayah provinsi Jawa Timur, namun dalam peta budaya tradisional Nganjuk banyak mendapat pengaruh dari Jawa Tengah khususnya Surakarta.
Hal ini dapat dilihat dari bahasa, seni tari, karawitan, pedalangan, dan lain – lainnya sangat dipengaruhi budaya Surakarta. Keadaan ini sudah berjalan sejak lama dan masih hidup dan berkembang hingga saat ini.
Demikian pula mengenai upacara adat khususnya Upacara Perkawinan, secara adat tata cara tidak jauh berbeda dengan tata cara yang ada di Surakarta, Jawa Tengah, bahkan akhir-akhir ini terdapat kecenderungan makin berkembang.
Hal ini satu kenyataan bahwa peta budaya dapat berbeda dengan peta wilayah pemerintahan. Oleh karena itu, dalam Festival Upacara Adat, Kabupaten Nganjuk menampilkan upacara adat daerah Tumuruning Kembar Mayang bergaya Jawa Tengah, bukan berarti ingin menonjolkan budaya daerah lain, tetapi semata-mata hanya didasarkan atas kenyataan yang berkembang di dalam masyarakat.
Namun demikian, karena perbedaan tempat dan latar sejarah, kiranya tidak mungkin secara bulat praktik upacara tradisional yang berasal dari Jawa Tengah dapat persis seperti yang ada di tempat asalnya. Tentunya akan ada perbedaan yang disebabkan oleh kondisi daerah yang bersangkutan. Jadi prinsipnya pada Festival Upacara Adat Daerah ini untuk
Kabupaten Nganjuk tetap membawa bendera budaya Nganjuk yang bertumpu pada nilai-nilai tradisi yang hidup dan berkembang di masyarakat Nganjuk. Kabupaten Nganjuk termasuk berkultur area Jawa Tengah, khususnya Surakarta.

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm 534

Loro Pangkon

Sangat beragam adat pengantin di Jawa Timur salah satunya adalah upacara adat temu temanten di Kota Mojokerto, yang selalu dilaksanakan secara tradisional secara turun temurun.
Upacara tersebut dilengkapi dengan berbagai persyaratan yang harus dipatuhi oleh semua pihak baik kedua mempelai maupun semua pelaksana upacara tradisi tersebut.
Sebelum mempelai pria dipertemukan, terlebih dulu diarak mengelilingi desa, membawa perlengkapan, berupa 2 buah kembar mayang, 2 pucuk tombak, pelarang, jodhang, lara pangkon, dan pengiring secukupnya.
Lara pangkon sebagai akronim dari lara sadurunge kelakon. Lara pangkon diperagakan oleh 2 orang membawa jago-jagoan yang dihias sedemikian rupa, dan dilengkapi sebuah bokor berisi beras kuning.
Peragaan itu diawali gending Jula-Juli Surabayan. Salah seorang pelaku menggendong jago-jagoan dan menari tari Remo. Sementara itu datang seorang pelaku lain menyambutnya.
Isi percakapan dua orang pelaku ialah serah terima pengantin laki-laki kepada pihak keluarga pengantin perempuan.

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya, Surabaya Intelektual Club (SIC), Surabaya, 2008, hlm. 263

PENGANTIN JADUR, KABUPATEN GRESIK

Desa Lumpur adalah salah satu desa yang terletak di daerah pesisir utara kota Gresik. Konon menurut cerita desa ini berasal dari tepian pantai yang berlumpur dan mengendap. Karena perubahan alam dan kebutuhan penduduk maka tepian pantai tersebut menjadi suatu pemukiman yang dinamakan Desa Lumpur.
Berdasarkan letaknya di tepi pantai maka mata pencaharian penduduknya mayoritas sebagai nelayan, walaupun ada sebagian kecil dari mereka berdagang. Agama yang dianutnya adalah Islam, namun demikian mereka tetap memegang teguh adat istiadat yang ada.
Ucapan para sesepuh selalu menjadi panutan dalam kehidupannya, sehingga timbul perasaan takut bila melanggar kebiasaan-kebiasaan yang berlaku atau kebiasaan-kebiasaan yang sudah ditentukan oleh sesepuhnya. Misalnya, bila seseorang hendak mempunyai hajat, baik pengantin maupun khitan, diwajibkan nyekar dan berziarah para sesepuhnya, di antaranya ke makam Mbah Abdullah Sindujoyo.
Beliau seorang ulama yang dulunya pernah tinggal di sekitar Lumpur dan Kroman. Dari segala ucapan dan perilakunya sudah menjadi panutan penduduk sekitarnya. Bila suatu saat mereka lupa atau melanggar kebiasaan-kebiasaan ini, akan teijadi suatu bencana atau gangguan bagi mereka yang melaksanakan hajat tersebut.
Salah satu adat yang ada di daerah Lumpur adalah pelaksanaan adat pengantin yang lebih dikenal dengan nama Penganten Jadur Gresik. Adat pengantin ini sudah ada sejak abad XIX, sedangkan istilahnya diambil dari alat bunyi kelompok pencak silat yang ikut mengiringi kirab pengantin. Adapun kelompok pencak silat tersebut, meliputi:
 penabuh jidor,
 penabuh gendang,
 pesilat dengan dandanan gondoruwo, macan dan kera.

Petugas pembawa jodhang berangkat menuju ke rumah orang tua mempelai wanita untuk memberitahu akan kehadiran calon mempelai pria. Petugas pembawa jodhang berkata, “Bu, ngaturaken salame saking keluarga kemanten jaler, mbenjing kemanten jaler ndugi mriki”.
Sebelum pengantin pria berangkat dari rumahnya, segala perlengkapan untuk acara kirab pengantin harus disiapkan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Urut-urutan upacara adat pengantin ini diawali pengantin lelaki keluar dari rumahnya. Kemudian pengantin lelaki dikirab keliling kampung dan balai-balai (tempat peristirahatan para nelayan), iring – iringgan terdiri dari:
 pembawa obor (paling depan) sebagai penerang dan penunjuk jalan di waktu malam hari,
 kelompok pencak silat,
 pembawa lamaran,
 pembawa kembar mayang,
 pengantin lelaki didampingi kedua orang tuanya,
 pembawa paying,
 barisan yang terakhir adalah kelompok hadrah.
Setelah pengantin pria dirias, diantar ke orang tuanya untuk sungkem, memohon doa restu agar selamat dalam menempuh hidup berumah tangga. Pada saat pengantin pria sungkem kepada ibunya, ibunya berkata,
“Takdongakna nak, nyandhunga cepaka sak wakul, ojok repot-repot Lan ojok golek-golek duraka, demurusa sampek tuwa, sampeka nini-nini Ian kakek-kakek.”
Kemudian kedua orang tuanya mengantar pengantin pria ke depan rumah dan salah seorang sesepuh dari para pengiring mengucap,
“Kanca-kanca kemantene arepe berangkat, ayo,.. ayo,… surak,… surak,…!”
Dijawab serentak oleh para pengiring,
“Hooorrreee”
Dilanjutkan irama kelompok hadrah diawali,
“Allahummah Sholiala Muhammad!” (dari salah seorang pimpinan hadrah),
kemudian dijawab serentak oleh para pengiring:
“Allahumma Sholialaih…. “sampai lagu hadrah selesai.

Jalannya Kirab

Upacara Pengantin Jadur, dilaksanakan acara prosesi (kirab) calon pengantin pria menuju ke rumah calon mempelai wanita diiringi hadrah. Biasanya jika pengantin pria sampai di perempatan jalan lalu berhenti. Di sinilah kelompok pencak silat yang mengikuti acara kirab mengadakan demontrasi. Setelah sejenak mengadakan demontrasi, acara prosesi dilanjutkan hingga sampai di depan rumah calon pengantin wanita.
Pengiring berhenti sejenak kemudian serah terima kembar mayang dan seperangkat lamaran dan kedua orang tua calon pengantin saling bertemu dan berjabat tangan dengan maksud sebagai tanda penerimaan calon pengantin pria ke hadapan keluarga calon mempelai wanita. Kemudian orang tua calon pengantin pria menghantar calon pengantin pria ke hadapan orang tua calon pengantin wanita untuk sembah sungkem.
Dilanjutkan seorang perias mempertemukan kedua pengantin sambil berdoa, setelah itu keduanya menuju ke kamar (bilik) untuk menyerahkan mas kawin dari pengantin pria kepada pengantin wanita. Perias mengantar kedua mempelai ke hadapan orang tua pengantin pria, pengantin wanita sembah sungkem ke orang tua pengantin pria tersebut.
Dilanjutkan kedua pengantin diantar duduk ke pelaminan. Selanjutnya orang tua pengantin pria berpamitan ke orang tua pengantin wanita untuk kembali bersama pengiringnya. Seorang perias mengantar kedua pengantin dari pelaminan ke kamarnya disusul kedua orang tua dan kerabatnya.

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm 245/368../533..

Busana Pengantin Mojokerto

Terdapat versi lain mengenai busana pengantin Mojokerto. Busana pengantin Mojokerto terdiri dari elemen-elemen masa kejayaan Majapahit dan modifikasi busana tempo dulu. Penutup kepala berbentuk blangkon meruncing ke depan/ke atas (model serban), bagian belakang terdapat dua pelipitan yang posisinya menjorok ke bawah (samping kiri-kanan) dengan dasar motif gringsing.

Baju takwa dengan potongan leher tegak berlengan panjang dan bersaku tiga, dihias kancing emas berlambang surya Majapahit.Celana panjang model potongan biasa/kolor (dari mata kaki sampai pinggang). Kain sinjang batik gringsing yang digunakan sebagai pelengkap busana khas pria, dipakai dari pinggang sampai di atas lutut, dilipat tanpa diulur ke bawah dan lipatannya agak’dilebihkan ke kanan serta memakai sabuk otok. Alas kaki berupa selop/cripu (sepatu polos).

 

Busana pengantin Pria

Busana pengantin pria adalah tutup kepala berupa kulukdengan motif garudha mungkur warna dasar kuning emas, dihiasi perrru (putih, hijau, kuning), sumping motif bunga cempaka, kalung bersusun  kelat bahu dengan motif ceplok bunga teratai atau simbar dengan war kuning emas. Cincin 2 buah salah satu dipakai di jari telunjuk, kain penuti badan berupa baju beskap lengan panjang dengan potongan kerah berd dibagian tengah terbuka dihiasi benang emas, berkancing dinar berlambai suiya Majapahit.

Celana panjang agak komprang dipakai di bagian dalam dc ditutup dengan kain kampuh/dodot terdiri dua lapis dengan motif bat gringsing yang diprada warna emas dengan motif bunga-bunga sebag, ciri khas Mojokerto. Wastra atau bebed motif sulur bunga cempak dengan warna emas, dapat dikombinasi warna hijau pradan. Ikatpinggang/sabuk pendhing motif gringsing dari kain sutra atau liner bagian tepi diberi warna kuning emas. Senjata berupa keris disesuaika: warna kuning pada sarung kerisnya, dipakai di bagian depan, lilitai bulat di bagian depan dan panjang di sisi samping kanan/kiri dihias benang/monte warna emas. Alas kaki, selop dengan warna disesuaikan dan dihias dengan monte/benang warna emas.

Busana Pengantin Wanita

Berikut ini deskripsi mengenai buasana pengantin wanita Mojokerto. Pada bagian kepala dibentuk sanggul keling yang mengepal ke atas dan diulur lepas ke bawah sampai di pinggul dan dililit dengan untaian bunga melati serta diberi rangkaian karang melok pada sisi kanan-kiri dan dilengkapi cucuk mentul motif bunga cempaka serta motif ronyok yang diberi permata warna- wami (kuning, hijau dan merah). Hiasan kepala bagian depan berupa jamang, kancing gelung motif garudha mungkur yang pada garis bawahnya diberi untaian permata (wama hijau, kuning dan merah/putih) atau dihiasi dengan kain beludru lima lengkung, subang/giwang motif ronyok dengan hiasan permata (kuning, hijau dan merah), Sumping motif bunga cempaka wama disesuaikan, penutup badan berupa baju panjang sampai batas lutut, dihiasi benang/manik wama emas dengan motif sulur bunga campaka dan motif surya Majapahit, dilengkapi dengan bros/paniti renteng (ceplok bunga anggrek).

Sinjang motif gringsing warna cerah dan hijau, wastra wama merah cerah dengan hiasan benang/monte warna emas. Kampuh motif ceplok bunga cempaka/ anggrek diprada warna emas. Koncer motif cawuto berwarna hitam dapat digunakan kain sutra. Kemer/punding diberi perhiasan tiruan permata (warna kuning, hijau dan merah). Manggala dari kain kasa tipis/kain sutra warna disesuaikan. Gelang tangan motif kuno/sigar menjalin dihiasi dangan permata tiruan (kuning, hijau dan merah). Kelat bahu motif
tridhatu yaitu untaian tiga warna/tiga unsur. Cincin dapat dibuat motif ganda, memakai kalung dangan motif kebon raja dan untaian bunga melati dangan motif cengkehan. Alas kaki, selop dihiasi manik/monte/benang warna emas.

 

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 79-81

Payung Siti Hinggil

Payung Siti Hinggil Hilang, Empat Nyawa Melayang

Setelah 4 warga meninggal secara misterius, Paguyuban Olah Rasa Sejati mengganti payung- payung keramat yang hilang dari petilasan Raden Wijaya Siti Hinggil. Benarkah kematian mereka akibat kutukan leluhur Majapahit?

Aroma magis langsung terasa, begitu berada di Siti Hinggil, situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang berada di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Wangi asap kemenyan dan kembang

sekaran seolah tidak pernah tidak ada dari tempat keramat itu. Di tempat inilah Minggu (16/4) pekan lalu Paguyuban Olah Roso Sejati menggelar ritual penggantian payung cungkup Raden Wijaya yang beberapa waktu lalu hilang dicuri orang.Bukan hanya payung

di cungkup Raden Wijaya saja yang diganti dalam upacara tersebut, tetapi juga payung Garwapadmi Gayatri. Sedang tiga pa­yung lain milik selir dan abdi dalem yang berada dalam satu kompleks Siti Hinggil yang sudah terlihat lusuh juga turut dicuci.

Setelah melakukan kontak batin sesaat dengan para le­luhur Majapahit di depan Sanggar Pamujan yang terletak di sudut Siti Hinggil, tim yang beranggotakan sekitar 25 orang ini langsung mensucikan ketiga payung itu de­ngan menggunakan air sumur yang Siti Hinggil yang berada di sekitar kompleks tersebut. Setelah disucikan, payung-payung itu ditempatkan dalam Sanggar Pamujan Siti Hinggil. “Karena bukan pa­yung sembarangan, sehingga diperlukan upacara khusus jika ingih menggantinya,” kata Sunar, juru bicara Paguyuban Olah Roso Sejati. Lebih jauh dikemukakan, dengan ditempatkannya payung-payung itu di Sanggar Pamujan, maka akan mengembalikan kekuatan gaib dari sejumlah payung tersebut.

Berkah

Payung-payung terse­but banyak dipercaya kalangan spiritual memili- ki kekuatan khsusus. Sa- lah satunya bisa menambah kewibawaan dan kharisma bagi siapapun yang bisa memilikinya. Tak heran, jika sebelum diganti oleh Paguyuban Olah Roso Sejati dua pa­yung di petilasan Raden Wijaya dan permaisuri- nya hilang dicuri. Pencurinya pun, banyak diper­caya warga setempat memiliki kesaktian luar biasa. Mungkin karena ini pula, hingga sekarang kasus pencurian payung bertuah itu belum terungkap.

Salah seorang warga setempat yang mengikuti jalannya upacara penggantian payung di Siti Hinggil mengaku amat senang dengan prosesi tersebut. “Saya senang kalau ada yang mau mengganti payung milik Gusti Prabu Raden Wijaya,” katanya. “Ya, karena sejak payung itu hilang ada saja kejadian aneh di desa ini,” lanjut lelaki itu tanpa bersedig menyebutkan namanya.

Kejadian aneh yang dimaksud, antara lain sakitnya seorang warga setempat yang secara tiba-tiba hingga terenggut jiwanya. “Sejak payung itu hilang sekitar bulan Suro lalu, sedikitnya ada empat warga sini yang meninggal dunia tanpa sebab yang jelas,” lanjutnya serius. “Makanya, kami hanya bisa berucap teri- ma kasih, kalau ada yang mau mengganti payung Gusti Ra­den Wijaya,” tandas laki itu.

Lalu benarkah kasus hilangnya payung-payung terse­but mengakibatkan kutukan bagi warga di sekitarnya? Berdasarkan olah spiritual dari leluhur Paguyuban. Olah Roso Sejati pada Gaib Raden Wija­ya, sebenarnya leluhur Majapahit ini tidak mempermasalahkan hilangnya payung-payung tersebut. “Tapi bisa jadi ada aparat gaib dari Kerajaan Majapahit yang tidak terima bila payung milik rajanya hilang begitu saja. Nah itu juga bisa berarti macam-macam kan,” ungkap Sunar mencoba menerjemahkan peristiwa aneh di balik hilangnya payung- payung bertuah tersebut menurut kacamata spiritual.

Menurut Sunar, meskipun Kerajaan Majapahit sudah hilang dari jagad raya ini, namun aura gaib kerajaan itu hingga kini masih ada di seputar Siti Hinggil dan kawasan .Bejijong. Bahkan secara gaib pula, wujud fisik kerajaan itu berikut para punggawanya masih bisa dilihat. Bebe- rapa warga sekitar Siti Hinggil bahkan mengaku, sesekali melihat “penampakan” sosok-sosok berpenampilan ala prajurit-prajurit kera­jaan. “Ya, kami mengira sosok-sosok misterius itu sebagai arwah tentara Ma­japahit yang kama- nungsan,” paparnya.

Kilatan Aura

Pagi hari sekitar pukul 9.00 wib, pro­ses pencucian dan penyucian payung selesai. Dua buah Payung Jagat milik Raden Wijaya dan Garwapadmi Gayatri serta tiga payung milik selir dan abdi dalem langsung di- buka serentak oleh para sesepuh pagu­yuban. Saat membuka kelima payung inilah, beberapa anggota paguyuban mendadak mengarahkan pandangannya pada pohon yang memayungi petilasan Raden Wijaya itu.

Ada apa? “Kalau tadi Anda melihat, waktu sesepuh paguyuban membuka payung, ada kilatan cahaya yang keluar di atas petilasan selama beberapa detik. Mirip lampu blitz kamera,” ungkap Sunar yang diamini beberapa anggota pagu­yuban. Rupanya kilatan cahaya ini sempat pula terekam oleh kamera salah satu anggota paguyuban.

Kilatan cahaya misterius ini terekam pada saat anggota paguyuban mencuci ketiga payung milik selir dan abdi dalem di sekitar lokasi sumur. Dalam dokumentasi foto itu, terlihat bayangan putih me­mayungi mereka yang sedang mencuci payung. Sesepuh paguyuban menyebutkan, baya­ngan putih tersebut sebenarnya aura dari payung-payung bertu­ah yang akan disucikan. “Hasil terawangan gaib kami mengatakan, itu adalah bukti bahwa para leluhur Majapahit merestui apa yang sudah kami lakukan. Ya, semoga saja payung-payung itu tetap bisa mengayomi rakyat seperti yang dilakukan oleh Majapahati waktu dulu,” begitu hasil rapat Paguyuban Olah Roso Sejati. ■ lay

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, EDISI 2267, 1-10 MEI 2008