Latar Belakang Sejarah Pondok Pesantren Gontor

Sejarah GontorPada sekitar pertengahan abad ke 18 (sekitar tahun 1742 ) hiduplah seorang kyai terkenal bernama ” Kanjeng Kyai Hasan Bashari” atau “Besari” disebuah desa terpencil kurang lebih 10 Km disebelah selatan kabupaten Ponorogo. Desa yang diapit oleh dua buah sungai itu bernama “Tegalsari” dimana terdapat sebuah pondok pesantren yang kemudian kesohor dengan nama “Pondok Tegalsari”. Karena kealiman dan kharisma Kyainya maka berdatanganlah para santri hingga jumlahnya ribuan, berasal dari seluruh tanah Jawa dan sekitarnya,sehingga seluruh desa menjadi pondok bahkan melimpah hingga desa-desa sekitarnya, seperti desa Jabung (Nglawu), desa Josari dan lain-lain.
Pada suatu hari tepatnya tanggal 30 Juni 1742 kerajaan Kartasura mendapat bencana hebat, pemberontakan Cina yang dipimpin oleh RM Garenda Susuhunan Kuning terjadi dimana-mana, sehingga keraton dalam keadaan bahaya. Karena hebatnya serangan dan keadaan yang kurang aman maka Paku Buana II atau Sunan Kumbul pergi dengan diam-diam meninggalkan keraton menuju ketimur gunung lawu. Setelah menempuh perjalanan yang panjang siang dan malam bersama para pengkutnya, ia menemukan sebuah perguruan Islam atau pesantren yang telah kesohor dengan nama Tegalsari itu. Dalam keadaan prihatin dan gelisah ia datang berserah diri kepada Kanjeng Kyai Hasan Bashari dan tinggallah ia disana untuk bertafakkur, dan bermunajat pada Allah dibawah bimbingan Kyai. Dan berkat keuletan dan kesungguhannya dalam berdoa serta keikhlasan bimbingan dan doa Kyai, Allah mengabulkan doanya. Api pemberontakan akhirnya reda dan bahkan padam sama sekali, akhirnya Paku Buana II kembali ke keraton dan menduduki lagi tahtanya. Dan sebagai balas budinya, semenjak itu Tegalsari menjadi suatu daerah merdeka, bebas dari segala kewajiban terhadap kerajaan. Daerah yang bebas dari kerajaan ini disebut “PERDIKAN” atau “PERDEKAN”. (Lihat Babad Perdek- an Tegalsari)
Sejarah pondok Gontor.Pondok Pesantren Tegalsari terus hidup dari generasi ke generasi dan terus berkembang. Banyak alumninya yang menjadi tokoh masyarakat yang tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia,diantaranya adalah Pujangga Jawa kenamaan Raden Ngabehi Ronggo- warsito (wafat th.1803), tokoh pergerakan Nasional H.O.S.Cokroaminoto (wafat 1923) dan lain lain. Dan tidak sedikit pula alumninya yang menjadi Negarawan, Pejabat pemerintahan, pengusaha, ulama, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Namun pada pertengahan abad 19 atau pada generasi keempat keluarga Kyai Bashari Pesantren Tegalsari mulai surut.
Pada masa kepemimpinan Kyai Chalifah (putera Kyai Hasan Bashari) seorang dari antara santrinya bernama Sulaiman Jamaluddin datang dari daerah Pasundan tepatnya Cirebon. Ia sangat dekat dengan Kyai nya karena kecerdasannya, Kyai pun sangat sayang padanya, maka setelah Sulai¬man Jamaluddin dirasa telah cukup belajarnya ia lalu diambil menantu oleh Kyai dan jadilah ia Kyai muda yang sering dipercaya menggantikan Kyai, saat Kyai berhalangan. Dan ka- rena kealimannya yang semakin menonjol diberilah ia suatu tempat di- tengah hutan belantara ( kurang lebih 3 Km sebelah timur Pondok Pesantren Tegalsari ) dan 40 orang santri untuk mendirikan Pondok Pesantren seperti Tegalsari. Dengan 40 orang santri (salah satu syarat syahnya sha- lat Jum’at) dan seorang istri berangkatlah Kyai Sulaiman Jamaltiddin ke suatu tempat diseberang sungai Malo.Dan disanalah Kyai muda itu mendirikan pondokan bersama para santrinya. Tempat itu kini diberi nama “Gontor” . Kyai Sulaiman Jamaluddin asal Cirebon itu ternyata adalah salah seorang putera Penghulu Jamaluddin. Penghulu Jamaluddin adalah putera Pangeran Hadiraja atau Sultan Kesepuhan Cirebon.
Sejarah pondok Gontor..Pesantren Gontor yang dirintis oleh Kyai Sulaiman Jamaluddin ini berkembang pesat, khususnya ketika dipimpin oleh puteranya, Kyai Archam Anom Besari. Santri-santrinya berasal dari berbagai daerah di Jawa, konon banyak pula santri-santri dari daerah pasundan Jawa Barat. Setelah Kyai Archam wafat pesantren ini dilanjutkan oleh generasi ketiga yaitu Kyai Santoso Anom Besari putera Kyai Archam Anom Besari. Namun pada generasi ketiga ini pondok Gontor mulai surut, kaderisasi dalam keluarga untuk kelanjutan hidup pesan¬tren Gontor kurang diperhatikan dan tinggallah Kyai Santoso Anom Besari beserta seorang istri, 4 orang putera dan 3 orang puteri, dengan sebuah masjid kecil yang tidak lagi ramai oleh santri. Meskipun Pesantren Gontor sudah tidak semaju dizaman ayah dan neneknya namun Kyai Santoso tetap bertekad menegakkan agama didesa Gontor. Ia tetap figur Kyai di desa Gontor dan sekitarnya. Dalam usia yang belum begitu lanjut Kyai Santoso dipanggil Allah SWT. Saudara-saudaranya tidak ada yang sanggup menggantikannya.Dan tinggalah seorang istri berserta ketujuh putera puterinya. Dengan peninggalan sebuah rumah sederhana dan masjid tua warisan nenek moyangnya itu Ibu Santoso mendidik putera-puterinya.
Putera Pertamanya, R.Rahmat Sukarto kemudian menjadi Kepala Desa Gontor. Sedang ketiga putera lainnya dimasukkan Pesantren guna memperdalam agama, dan dengan berbagai macam cara ketiganya dididik dibesarkan agar dapat meneruskan perjuangan nenek moyangnya, yaitu memperbaiki kembali pondok pesantren yang telah lama mati. Ketiga puteranya itu adalah : Ahmad Sahal (Putera kelima) Zainuddin Fannani (Putera keenam ) Imam Zarkasyi (Putera ketujuh) Belum lagi selesai masa belajar dan belum pula cukup dewasa keti¬ga orang ini harus mengalami cobaan yang sangat berat, Ibunda tercinta dipanggil Allah SWT. Namun hal itu tidak mengecilkan hati mereka, dengan keadaan ekonomi yang serba kurang mereka terus belajar dari satu tempat ketempat lainnya hingga selesai.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Kenang-kenangan Pringatan delapan Windu 1926-1990, Pondok Medern Darussalam Gontor Ponorogo 8 Windu/ halaman 10-13

Babad Perdekan Tegalsari / Awal Mula Pondok Tegal Sari

Babad Perdekaan TegalsarirI. Pada abad ke 18 (lebih kurang dalam tahun 1710 berdirilah desebuah desa yang bernama Tegalsari-Sebuah pondok (pesantren), dengan Kyai Ageng Hasan Bashori sebagai Kyai-nya yang pertama. Pondok ini terletak ditepi dua buah kali, yaitu antara kali Keyang dan kali Malo. Pondok (Pesantren) itu lazim disebut PONDOK TEGALSARI. Beliau adalah Kyai, Ulama Bangsawan Besar. Beliau adalah keturunan atau percampuran darah :
PEJAJARAN dengan HARJO BANGAH.
MOJOPAHIT dengan Demang NGORAWAN.
KYAI AGENG TARUP • BONDAN KEJAWAN.
IRAHAMI ASMARA dengan SUNAN NGAMPEL.
KYAI AGENG PEMANAHAN dengan PANGERAN BUNTARAN.
II. Kyai Ageng Hasan Bashori mempunyai 9 orang putera. Salah seorang diantaranya bernama H.Zaenal Abidin yang menjadi mantu dan akhirnya menjadi raja di Selangor Raya. Pecahan dari putera-puteranya yang 9 orang itu tersebar diseluruh Jawa Tengah. Beribu-ribu dari keturunan beliau itu menjadi ,ulama, intelek, pegawai negeri, bupati, penghulu, penganjur dalam segala tingkatan pergerakan masyarakat. Di antaranya, ialah Raden H.O.S. Cokroaminito. Beliau ini adalah keturunan yang ke V dari Kyai Ageng Hasan Bashori.

III. Dalam Pondok Tegalsari pada zaman dahulu itu terdapat ribuan santri, yang berasal dari seluruh tanah jawa dan sekitarnya, dan terdiri dari bermacam-macam tingkat golongan masyarakat, yaitu dari kalangan putera tani yang serendah-rendahnya, sampai golongan putera- putera bangsawan yang setinggi- tingginya.

IV. Pada tahun 1742, yaitu pada tang gal 30 Juni- menyerbulah musuh, yaitu R.M.Grendi Susuhunan Kuning dengan pasukan Tionghoa-nya kedalam keraton Paku Buana II, yang terkenal dengan nama Susuhunan Kumbul. Karena serbuan yang hebat ini, maka terpaksa Paku Buana II pergi meninggalkan kerajaan, melarikan diri kesebelah timur gunung Lawu. Di sana bertemulah Paku Buana II dengan Kyai Ageng Bashori. Tingallah Paku Buana II ini beberapa masa lamanya di Tegalsari. Kepada Kyai Ageng Hasan Bashori inilah Susuhunan Kumbul minta pertolongan, sehingga akhirnya dapatlah Susuhunan Kumbul itu menduduki tahta kerajaannya kembali. Semenjak dari saat itu, maka Tegalsari menjadi suatu daerah merdeka. Daerah bebas dari kewajiban terhadap kerajaan. Daerah bebas dari kerajaan ini disebut “PERDEKAN”. Ia bebas dari segala pajak dan cukai.

V. Setelah Kyai Ageng Hasan Bashori meninggal maka kedudukan beliau digantikan oleh putera beliau yang ke VII, bernama Kyai Hasan Yahya. Kyai Hasan Yahya kemudian digantikan oleh Kyai Bagus Hasan Bashori II. Pada tahun 1800 kedudukan beliau diganti pula oleh Kyai Hasan Anom. Pada tahun 1830, Tegalsari berada di bawah pemerintahan “Gouvernement Campagnie”. Namun demikian, kemerdekaannya tetap diakui seperti semula. Besluit Perdekan Tegalsari diperbaharui dalam tahun 1853, yaitu pada tanggal 23 Desember 1853, staatsblad no.77. Pada tanggal 9 Januari 1862, Kyai Bagus Hasan Bashori wafat dengan meninggalkan 94 putera dan 44 cucu dan piut.

[Dari kutipan catatan-catatan Mr. Fokkens, Pegawai PamongPraja (Bestuur Ambtenaar) pada tahun 1877, dan sesudah itu disahkan oleh para darah keturunan Tegalsari juga (tahun 1942)].

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kenang-kenangan Pringatan delapan Windu 1926-1990, Pondok Medern Darussalam Gontor Ponorogo 8 Windu/ 1991/halaman 10-13

Asal-Usul Desa Tlemang, Kabupaten Lamongan

Menurut ceritera dari masyarakat setempat, sekitar tahun 1677 ketika terjadi pergolakan di kerajaan Mataram, seorang pemuda yang bernama R. Nurlali salah seorang putra dari R. Trunodjojo dari kerajaan Mataram, meninggalkan kerajaan tersebut. Ia pergi mengembara, mengikuti Sunan Giri.

Ketika itu di sebelah Timur pulau Jawa masih banyak orang-orang yang hidupnya tersesat. Mereka hidup dari mencuri, me­rampok, membegal, dan sebagainya. Melihat kenyataan yang demikian terketuklah hati R. Nurlali untuk turut serta mem­berantas kejahatan tersebut.

Kemudian Sunan Giri memerintahkan R. Nurlali memberantas perbuatan yang tidak terpuji serta me­nyebarkan agama Islam. Kemudian dengan mengendarai kudanya berangkatlah R. Nurlali menuju daerah Lamongan. Di tengah per­jalanan R. Nurlali menemui seorang wanita yang sedang dijarah kawanan perampok. R. Nurlali menolong, serta mencoba me­nyelamatkan wanita tersebut, sehingga terjadilah kejar mengejar antara R. Nurlali dengan kawanan perampok tersebut.

Akhirnya R. Nurlali mencari siasat dengan masuk ke dalam hutan. Dan tibalah mereka di atas suatu bukit, yang kemudian diberi nama Bukit Inggil. Pada waktu itu kuda R. Nurlali sangat kelelahan sehingga mengeluarkan air liur mak tlemong (bahasa Jawa, me­netes dengan tiba-tiba), sehingga tempat perhentian itu akhirnya disebut Tlemang yang berasal dari kata tlemong.

Akibat kejadian tersebut Kanjeng Sunan Prapen (Sunan Giri) memberi tugas R. Nuriali untuk memberantas para durjana di daerah itu. Dengan dibekali sebuah piandel (Bahasa Jawa, Senjata Sakti) berupa keris yang diberi nama SENGGRUK SEMALANG GANDRING. Keberhasilan R. Nurlali dalam menegakkan ketentraman dan memberantas kejahatan itu tentu saja sangat menye­nangkan hati Sunan Giri.

Sebagai penghormatan terhadap jasanya itu, kemudian R. Nurlali diangkat menjadi pemimpin masyarakat desa Tlemang. Untuk meresmikan pengangkatannya itu, maka secara formal diadakan upacara wisuda, yang dihadiri Sunan Giri (Kanjeng Sunan Prapen). Upacara wisuda itu dilaksanakan tepat pada tanggal 27 Jumadilawal.

Untuk menghormat para tamu khususnya Sunan Giri dan para pengikutnya, R. Nurlali mengerahkan warganya untuk menyaji­kan masakan yang dibuat secara sederhana dari hasil daerah se­tempat dengan bumbu seadanya. Bahkan yang memasakpun hanya kaum laki-laki saja. Kegiatan wisuda inilah oleh masyarakat setempat diberi nama Sanggring yang dilestarikan sampai sekarang.

Dalam pelaksanaan upacara itu dibuatlah sesaji berupa 8 pi­ring sayur sanggring yang ditujukan untuk arwah kedelapan orang wali, maksudnya agar masyarakat desa Tlemang dan sekitarnya selalu mendapat rahmat dan keselamatan. Berkat pusaka yang dimilikinya, R. Nurlali menjadi seorang yang sakti yang disegani oleh lawan maupun kawan. Setelah tua R. Nurlali yang sakti itu sering diberi gelar Kaki Terik.

Mengapa R. Nurlali kemudian diberi gelar Kaki Terik? Pada usianya yang se­makin lanjut, R. Nurlali mempunyai pusaka sakti yang diberi nama Teken Wuluh Gading. Teken berarti tongkat, Wuluh berarti bambu, dan Gading berarti kuning, jadi Teken Wuluh Gading itu mempunyai makna tongkat bambu kuning.

Tongkat bambu kuning yang dimiliki oleh Raden Nurlali itu berupa sebatang bambu kuning yang sudah sangat kering, seakan-akan siap untuk dibakar. Meskipun bambu itu sudah sangat kering, ia masih mam­pu untuk tumbuh lagi pucuk-pucuk mudanya, yang dalam bahasa Jawa disebut trubus atau terik.

Karena kehebatan tongkat kuning yang sudah kering yang masih mampu tumbuh lagi itulah maka Raden Nurlali itu digelari Kaki Terik. Kaki Terik mempunyai beberapa sahabat, yakni Kaki Bromo geni yang mempunyai ke­saktian untuk menciptakan api tanpa menggunakan sarana apapun. Ia menciptakan api dengan tenaga batinnya yang sangat sakti.

Sahabatnya yang lain ialah Kaki Ngembes (ada juga yang me­nyebut Ki Bromo Gedali) yang dapat menciptakan air/sumber mata air walaupun di tempat yang kering kerontang sekalipun. Beliau bertempat tinggal di Ngembes, ketika meninggal ia di makamkan di sebuah tempat yang kemudian disebut Ngembes pula. Sahabat Kaki Terik yang lain ialah Kaki Gereng.

Pada masa mudanya Kaki Gereng adalah seorang tokoh hitam di desa Tle­mang yang sangat ditakuti oleh rakyat kecil. Namun, setelah para Sunan berhasil menaklukkannya akhirnya Kaki Gereng bertobat dan patuh kepada para Wali dan Sunan. Kaki Gereng akhirnya menjadi tokoh yang sangat disegani karena menjadi orang saleh yang sangat budiman.

Sampai sekarang ini rakyat desa Tlemang beserta para kerabat desanya selalu setia memberikan sesaji untuk arwah para wali yang dimakamkan di desa Tlemang. Sesaji itu berupa sayur sanggring delapan piring untuk arwah delapan wali. Adapun maksud dan tujuannya ialah agar para kawula alit di desa Tlemang beserta para pemimpinnya mendapat rahmat dan keselamatan dari Tuhan Yang Maha Pengasih.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional Mendhak/ Nyanggring di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan , Propinsi Jawa Timur. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Th. 1991, hlm. 15-17

Ki Terik.1, Kabupaten Lamongan

Latar belakang , Upacara Tradisional Mendhak/ Nyanggring di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan , Propinsi Jawa Timur.

Ki Terik adalah merupakan tokoh pertama atau cikal bakal masyarakat Desa Tlemang. Beliau masih termasuk keluarga raja Mataram. Mengenai siapa sebenarnya Ki Terik itu dan bagaimana ia dapat sampai di Desa Tlemang, menurut keterangan warga ma­syarakat Desa Tlemang ada dua versi. Pertama, keterangan dari sebagian warga masyarakat Desa Tlemang yang mengatakan bahwa Ki Terik itu dahulunya bernama Raden Nurlali. Beliau me­ninggalkan Kerajaan Mataram karena merasa tidak senang adanya campur tangan Belanda terhadap pemerintahan Kerajaan Mata­ram.

Dalam pengembaraannya ini Raden Nurlali menuju ke Jawa Timur, mengabdi dan berguru kepada Sunan Giri di Gresik. Sete­lah beberapa waktu berguru dan ia dipandang cakap oleh Sunan Giri, maka Raden Nurlali diberi tugas untuk menyebarkan agama Islam di daerah Lamongan bagian barat daya. Di samping menyebarkan agama, Raden Nurlali oleh Sunan Giri juga diberi tugas untuk memberantas brandal atau perampok yang mengganggu keamanan dan ketentraman daerah Lamongan. Brandal atau perampok-perampok itu umumnya bersembunyi di daerah Lamongan bagian barat daya yang sekarang dikenal dengan Desa Tlemang.

Dalam melaksanakan tugasnya ini, Raden Nurlali oleh Sunan Giri (Sunan Prapen) diberi senjata atau pusaka andalan yaitu Sanggruk Semalang gandring. Dengan bekal pengetahun dan sen­jata/pusaka yang didapat dari Sunan Giri itu, ternyata memper­mudah tugas Raden Nurlali. Dalam waktu yang relatif singkat, Raden Nurlali dapat dikatakan berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik, terutama dalam hal menegakkan ketenteraman dan membrantas kejahatan di ‘daerah Lamongan bagian barat daya. Semua brandal-brandal yang bersembunyi di daerah ini, satu persatu dapat ditundukkan oleh Racjen Nurlali. Bahkan oleh war­ga masyarakat daerah ini Raden Nurlali kemudian diangkat menja­di pemimpin mereka.

Raden Nurlali memang termasuk orang yang terkenal dan di­anggap sangat sakti oleh warga masyarakat di daerah Lamongan bagian barat daya. Beliau selain memiliki pusaka andalan Sang­gruk Semalang Gandring, juga masih mempunyai pusaka andalan yang lain, yaitu berupa tongkat wasiat yang diberi nama Wulung Gading. Tongkat ini jika ditancapkan pada tanah dapat tumbun daun yang muda (terik/tukul). Bahkan ada yang menceriterakan bahwa kesaktian Raden Nurlali dapat menumbuhkan daun muda itu tidak hanya terbatas pada tongkat wasiatnya saja. Beliau juga dapat menumbuhkan daun muda pada setiap kayu yang sudah ke­ring, jika kayu itu ditancapkan ke dalam tanah. Oleh karena itu­lah kemudian dan sampai sekarang Raden Nurlali dikenal dengan sebutan Ki Terik.

Keberhasilan Raden Nurlali dalam menegakkan ketentraman dan membrantas kejahatan itu tentu saja sangat menyenangkan Sunan Giri. Sebagai penghargaan jasanya, kemudian Raden Nurlali diangkat menjadi pemimpin masyarakat Desa Tlemang. Untuk meresmikan pengangkatannya itu, maka secara formal diadakan Upacara Wisuda. Upacara wisuda ini dihadiri oleh Sunan Giri IV (Sunan Prapen), para pejaat yang lain, dan para tamu yang terdiri dari sahabat-sahabat Raden Nurlai atau Ki Terik.

Untuk menghormat para tamu dan khususnya Sunan Giri beserta para pengikutnya, maka Ki Terik mengerahkan warganya untuk menyajikan masakan yang dibuat secara sederhana dari hasil daerah setempat dengan bumbu seadanya. Bahkan yang memasak – pun hanya orang laki-laki saja. Kegiatan Wisuda inilah oleh masya­rakat setempat diberi nama selamatan Sanggring yang dileluri sampai sekarang. Perlu ditambahkan di sini bahwa Raden Nurlali yang kemudian dikenal Ki Terik itu mempunyai dua orang saudara seperguruan. Masing-masing dari saudara seperguruannya ini juga dikenal me­miliki kesaktian. Tetapi antara yang satu dengan yang lain, kesak­tiannya itu sangat berbeda. Yang satu dapat menciptakan api, se­hingga ia kemudian lebih dikenal dengan sebutan atau nama Ki Bromogeni. Sedangkan yang satunya lagi dapat menciptakan sum­ber air, sehingga ia lebih dikenal dengan sebutan atau nama Ki Ngembes dan juga ada yang menyebut Ki Bromogedali.

Mengenai tempat kedudukan kedua orang saudara sepergu­ruan Raden Nurlali atau Ki Terik ini ialah Ki Bromogeni di Nyungyang dan Ki Ngembes (Bromogedali) di Ngembes. Sampai sekarang kedua desa tersebut masih ada dan leaknya tidak terlalu jauh de­ngan desa Tlemang. Bahkan warga masyarakat ketiga wilayah desa itu sampai sekarang masih merasa terikat sebagai saudara atau sa­habat yang akrab.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional Mendhak/ Nyanggring di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan , Propinsi Jawa Timur. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Th. 1991, 33-35

Ki Terik 2, Kabupaten Lamongan

Ki Terik 2

Latar belakang , Latar belakang , Upacara Tradisional Mendhak/ Nyanggring di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan , Propinsi Jawa Timur,  Versi yang kedua.

Menurut sebagian warga masyarakat Desa Tlemang yang lain, mengatakan bahwa Ki Terik itu pada ma­sa mudanya bernama Raden Panji Putro. Beliau ini masih termasuk salah satu diantara putra saudara muda raja Mataram.

Mengenai bagaimana Raden Panji Putro itu dapat sampai di Desa Tlemang, ceriteranya sebagai berikut. Dahulu, raja Mataram mempunyai seorang putri yang sakit buduk (kusta). Karena raja merasa malu, putri ini dibuang ke te­ngah laut dengan sebuah perahu. Namun karena nasib baik, ia di­tolong oleh seorang pedagang Belanda dan dipelihara sampai sem- buh. Bahkan setelah sembuh, putri tersebut diambil menjadi istri-
nya.

Dari hubungan perkawinan antara pedagang Belanda dengan putri raja Mataram yang dibuang itu lahirlah seorang anak yang bernama New Steber. Setelah besar dan atas petunjuk ibunya, New Steber meminta warisan sebagian tanah kepada raja Mataram. Karena dapat membuktikan bahwa ia masih cucunya sendiri, maka permintaan New Steber dikabulkan oleh raja Mataram.

Keputusan raja ini ternyata ditentang oleh saudaranya (adik-nya), sehingga terjadilah pertengkaran dan bahkan konflik fisik antara kelompok New Steber (Belanda) dengan keluarga paman- nya. Dalam konflik fisik ini New Steber yang dibantu oleh pa-
sukan Kompeni Belanda berhasil membunuh pamannya.

Namun tiga orang anaknya berhasil lari menyelamatkan diri. Ketiga orang bersaudara ini lari ke timur dan mengembara hingga sampai ke daerah wilayah Lamongan. Salah satu dari ketiga orang bersaudara itu bernama Raden Panji Putro. Dalam pengembaraannya itu Raden Panji Putro ber-hasil membuka hutan di witeyah Desa Tlemang sekarang. Bahkan kemudian oleh masyarakat Desa Tlemang Beliau diangkat menjadi pimpinannya.

Raden Panji Putro memang terkenal sebagai sakti dan dikagu-mi oleh warga masyarakat Desa Tlemang. Beliau dapat menum-buhkan daun muda pada setiap tongkat atau kayu yang sudah ke-ring, apabila tongkat atau kayu itu ditancangkan ke dalam tanah.Karena kemampuannya itulah kemudian sampai sekarang Raden Panji Putro dikenal dengan sebutan atau nama Ki Terik. (Terik artinya thukul atau tumbuh).

Seperti halnya Raden Panji Putro kedua saudaranya juga me- miliki kesaktian. Yang seorang dapat menumbuhkan sumber air, sehingga kemudian ia dikenal sebutan Ki Ngembes atau Ki Bromo-gedali. Sedangkan yang seorang lagi dapat menciptakan api, sehing-ga kemudian ia lebih dikenal dengan sebutan Ki Bromogeni. Se-lanjutnya Ki Bromogeni berkedudukan di Nyungyang dan Ki Bro-mogedali berkedudukan di Ngembes.

Setelah tiga orang bersaudara itu berhasil menyelamatkan diri dan membuka hutan untuk daerah pemukiman baru, maka mereka mengadakan upacara selamatan. Upacara  Selamatan ini dimaksud kan sebagai sarana mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melindungi dari bencana, dan selain itu juga se­bagai cara wisuda bagi kepemimpinan Ki Terik di wilayah Desa Tlemang.

Perlu dijelaskan di sini, bahwa mengingat daerah baru yang dibuka ini belum banyak menghasilkan, maka upacara selamatan wisuda diadakan secara sederhana atau seadanya saja. Bahkan yang memasakpun hanya terdiri dari kaum laki-laki saja. Namun demi­kian, upacara selamatan ini dapat dilaksanakan dengan hikmat dan mendapat dukungan dari semua warga masyarakat. Kegiatan upacara selamatan inilah oleh masyarakat setempat diberi nama selamatan Nyanggring dan dileluri sampai sekarang.

Terlepas dari kebenaran dua versi ceritera tersebut di atas, ternyata sampai sekarang, meskipun Ki Terik telah tiada, Beliau masih tetap dihormati oleh warga masyarakat Desa Tlemang. Ki Terik selain dianggap memiliki kesaktian yang istimewa, Beliau juga dianggap sebagai cikal bakal Desa Tlemang. Oleh sebab itulah setiap tahun sekali yaitu pada tanggal 27 Jumadilawal masyarakat Desa Tlemang menyelenggarakan Upacara tradisional Mendhak atau Nyanggring.

Adapun maksud dan tujuan diselenggarakan Upacara Tradisio­nal Mendhak/Nyanggring ialah untuk menyatakan rasa syukur ke pada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan dan rejeki yang telah diterima oleh warga masyarakat Desa Tlemang. Selain itu, upacara ini juga untuk memperingati hari wisuda Ki Terik sewaktu Beliau diangkat menjadi pimpinan masyarakat Desa Tlemang.

Bagi warga masyarakat Desa Tlemang, hari wisudanya Ki Terik menjadi pimpinan ini memang sangat penting arti nya, ka­rena peristiwa itu merupakan awal adanya tatanan baru yang sa­ngat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat. Setelah Ki Te­rik resmi menjadi pimpinan, kehidupan dalam masyarakat menjadi tentram penuh kesejahteraan lahir dan batin.

Semua brandal yang selama ini menjadi perusuh menjadi takut dan kembali ke jalan yang benar. Mereka bersama-sama dengan warga yang lain ikut membangun desa dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh ka­rena itu, sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Ki Terik dan untuk menghormat arwah Beliau, maka diselenggarakanlah Upaca­ra Mendhak/Nyanggring

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional Mendhak/ Nyanggring di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan , Propinsi Jawa Timur. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Th. 1991, hlm 35-37

Gempuran, Permainan Masyarakat Madura

Deskripsi Permainan

Gempuran adalah suatu permainan anak-anak yang artinya
menggempur atau menghancurkan. Menurut kamus bahasa Jawa,
kata gempur adalah “remuk ajur” atau dalam bahasa Indonesia

mempunyai makna usaha atau tindakan menghancur leburkan. Nama ini. jika dikaitkan dengan permainan mempunyai motivasi untuk menghancurkan tumpukan pecahan gerabah yang merupa­kan alat perlengkapan dari permainan.

Kaitannya dengan peristiwa lain baik upacara yang bersifat keagamaan atau pun upacara tradisional lainnya tidak ada. Per­mainan ini sifatnya hiburan dimana anak-anak melakukannya se­bagai suatu aktivitas untuk mengisi kekosongan waktu senggang baik siang hari mau pun sore hari misalnya pada waktu istirahat di sekolah atau sepulang dari sekolah dan setelah membantu orang tuanya. Permainan gempuran tidak diiringi dengan musik atau pun nyanyian-nyanyian apa pun. Jika terdengar suara bersiul-siul atau pun berasendelan, ge’lak tawa, sindiran dan ejekan teriakan, hal itu merupakan variasi dari para pemain untuk mengungkapkan cita rasa kegembiraan sehingga permainan tersebut menjadi lebih se­marak.

Jumlah para pelaku permainan tidak ditentukan, lebih banyak jumlahnya akan lebih serulah permainan ini. Biasanya permainan ini dilakukan oleh dua puluh orang, dan jumlah itu dibagi dua ke­lompok. Masing-masing kelompok sepuluh orang. Peserta permain­an ini adalah anak laki-laki yang berusia antara sembilan sampai dengan empat belas tahun. Permainan ini mudah dimainkan dan tidak memerlukan biaya, karena yang dibutuhkan hanyalah ke­kuatan fisik, kecerdikan, akal, ketrampilan dan mampu memper­kirakan.

Peralatan sebagai alat pelengkap dari permainan gempur sa­ngat sederhana, sesuai dengan kondisi alam yang dan latar bela­kang sosial budaya agraris, yakni beberapa keping pecahan gera­bah, tembikar atau kereweng yang jumlahnya sama dengan jumlah anak yang bermain. Alat ini harus cukup keras, dan kuat, serta ti­dak mudah pecah, serta dapat disusun dalam tumpukan yang ting­gi di atas tanah dalam keadaan labil.

Selain pecahan itu, diperlukan pula sebuah bola. Bola ini digu­nakan sebagai alat pelempar, yang terbuat dari sisa-sisa kain (per­ca) atau daun pisang kering yang digulung-gulung sampai berben- tuk semacam bola bergaris tengah sekitar sepuluh sentimeter. Ke­mudian dililit dengan tali temali sehingga bola itu tetap pejal dan utuh bentuknya. Atau dapat juga dibuat dari anyaman janur delih halaman yang luas atau suatu lapangan, “nilai” sebagai keme­nangan dinyatakan dengan hitungan suatu petak “sawah”.

Setelah semua peralatan yang diperlukan telah siap, dan jum­lah para pelalu telah mencukupi serta tempat untuk bermain telah disepakati pula maka permainan pun dapat dilakukan. Sebe­lum permainan dimulai terlebih dahulu dilakukan suatu konsensus berapa “sawah” yang harus dicapai oleh setiap kelompok dalam permainan ini. Misalnya ditentukan sejumlah “sawah lima”. Maka kelompok yang memperoleh “sawah lima” terlebih dahulu dinya­takan menang. Begitu pula peijanjian yang menyangkut jenis hu­kuman bagi kelompok yang dapat dikalahkan, misalnya kelom­pok yang kalah harus menggendong kelompok yang menang pada jarak kejauhan tertentu.

Apabila semua pemain telah sepakat, maka dibentuklah ke­lompok pemain. Dalam melakukan pemilihan kawan kelompok, mereka membanding-bandingkan sesama pemain agar dua orang yang berlawanan itu setidak-tidaknya yang sebaya, sama tinggi, sama kuat dan sama besar. Selanjutnya masing-masing pasangan melakukan “suten”. Pihak yang kalah suten bergabung dengan yang kalah, dan pihak yang menang bergabung dengan yang me­nang. Jika penentuan anggota kelompok bermain ini telah diten­tukan, kemudian mereka melakukan “suten” lagi untuk menentu­kan kelompok pemenang. Salah seorang sebagai wakil dari kelom­poknya melakukan suten kembali, untuk menentukan siapa yang menjadi besang dan siapa yang menjadi pelempar bola. Misalnya kelompok A yang menang sulten menjadi pelempar dan kelompok B yang kalah menjadi besang.

Pihak yang kalah (kelompok B), mengambil beberapa keping pecahan gerabah atau tembikar, dan menumpuknya dalam susunan labil di tengah lapangan permainan. Setelah itu, kemudian diten­tukan sebuah titik yang berjarak kurang lebih tiga sampai lima langkah dari tumpukan pecahan gerabah tadi. Dari titik inilah, ke­lompok pemenang (kelompok A) satu persatu melemparkan bola ke arah tumpukan gerabah tadi (lihat gambar).

Pihak yang kalah (kelompok B) berjaga di sekitar tumpukan gerabah, secara tersebar, merata, dengan perhitungan bahwa mere­ka siap menangkap bola sewaktu-waktu bola dilempar lawan. Ke­lompok yang menjaga inilah yang disebut besang. Kemudian pihak

yang menang .(kelompok A) bersiap-siap di sekitar titik lempar, lalu satu persatu melempar bola ke arah tumpukan gerabah dengan tujuan meruntuhkan dan menghancurkan. Setiap pelempar hanya berhak melempar sampai tiga kali. Bila si pelempar sampai tiga kali melempar belum juga berhasil menentukan tumpukan pecahan gerabah, maka tugasnya segera digantikan teman berikutnya. Dan jika seluruh anggota kelompok tidak ada satu pun berhasil, maka kelompok itu ganti berfungsi sebagai besang. Kelompok yang tadi berjaga (kelompok B) kini menjadi pelempar bola.

Sebaliknya apabila salah satu lemparan dari kelompok A me­ngenai sasaran, maka besang (kelompok B) harus secepatnya me­nangkap bola dan berusaha menembakkan bola ke arah tubuh la­wan (kelompok A si pelempar bola), atau melemparkannya pada temannya yang lain dari kelompok B. Maksudnya agar teman ter­sebut (kelompok B) segera melemparkan bola untuk “ditembak­kan” ke arah salah satu tubuh lawan (kelompok A si pelempar bo­la). Pembawa bola itu harus tetap berada di suatu tempat tertentu. Tetapi apabila tidak membawa bola, ia boleh mencari tempat yang strategis untuk siap menerima bola dan menembakkannya ke arah salah satu musuhnya yakni kelompok A.

Ada pun pihak pelempar bola (kelompok A) yang sekarang menjadi sasaran tembakan bola lawan (kelompok B), harus ber­usaha menghindar dari kemungkinan ditembak dengan bola.. Me­reka akan lari bercerai-berai menjauhi pemenang bola (anggota kelompok B). Ketika bola ditembakkan dan tidak mengenai tubuh salah, satu pemain lawannya (kelompok A), ada kalanya bola itu jauh terpelanting dan tidak tertangkap oleh si besang (kelompok B). Bila teijadi demikian maka si pemenang (kelompok A)harus berusaha menumpuk kembali pecahan gerabah yang porak poran- da tadi. Bila ini berhasil tanpa terkena tembakan bola, maka sece­patnya anak yang bersangkutan meneriakkan kemenangannya de­ngan kata “sawaaaahhh ….” Ini berarti kelompok pemenang (ke­lompok A) memperoleh satu nilai atau sawah satu. Dan permainan pun dimulai lagi seperti semula. Demikianlah seterusnya sampai salah satu kelompok mencapai “sawah lima” berdasarkan kese­pakatan bersama sebelum permainan dimulai. Jika ada kelompok yang memperoleh “sawah lima” terlebih dahulu, maka kelompok itulah yang dinyatakan menang.

Selanjutnya kelompok yang kalah harus dihukum, yakni meng­gendong kelompok yang menang pada jarak yang telah ditentu­kan sebelumnya. Demikianlah permainan tersebut biasanya ber­langsung lama, karena untuk mencapai “lima sawah” itu cukup sulit dan benar-benar memerlukan keija sama kelompok yang sebaik-baiknya.

Analisa

Gempuran merupakan permainan anak-anak yang sangat di­gemari oleh para penggemarnya, di mana sekelompok anak laki-laki dengan puasnya melempar rekan sepermainan dengan sebuah bola. Dan di tengah halaman rumah terlihat pecahan-pecahan tem­bikar atau kereweng yang berserakan. Dilihat dari peralatan yang mereka pergunakan, seperti halnya dengan pecahan tembikar, ke­reweng atau gerabah dan bola yang terbuat dari sisa-sisa kain per­ca atau pun dedaunan pisang kering yang digulung-gulung sampai berbentuk bola, maka dapat dipastikan bahwa permainan ini merupakan permainan anak-anak petani yang sangat sederhana.

Jika dilihat dari kata yang menjadi permainan gempuran itu sendiri sudah menunjukkan asal-usul permainan ini, karena kata gempur sering dipergunakan untuk menyebut suatu aktivitas menghancurkan atau meruntuhkan atau merobohkan. Menghan­curkan batu, cadas, tebing atau meruntuhkan bukit, tanggul, se­muanya dikatakan dengan kata “digempur”. Dan aktivitas ini ba­nyak teijadi pada usaha pertanian.

Selanjutnya kalau kita memperhatikan alat-alat yang dipergu­nakan juga sangat sederhana. Pecahan gerabah, kereweng atau tembikar, sangatlah mudah diperoleh karena benda-benda itu me­rupakan sisa-sisa peralatan rumah tangga yang dibuat dari kalang­an kehidupan pedesaan. Biasanya penduduk desa di samping seba­gai petani mereka juga membuat kerajinan dengan industri gera­bahnya. Hal ini pada umumnya mereka lakukan untuk mengisi ke­kosongan waktu ketika akan menunggu panen tiba.

Alat yang lainnya, yakni bola; Bola terbuat dari sisa-sisa per­ca atau daun pisang kering yang digulung-gulung berbentuk bola kecil, dan dililit dengan tali apa saja yang dapat diperoleh di sekitarnya, atau anak-anak yang telaten sering menggunakan anyaman janur. Pohon ini pun banyak diperoleh di desa-desa di mana pohon kelapa tumbuh tidak terlalu tinggi. Bola ini juga di­hasilkan dari alam pertanian setempat.

Selain itu ada pula istilah yang menunjukkan latar belakang budaya pertanian, yakni untuk menyebut “nilai” sebagai angka kemenangan yang diperoleh dalam permainan dikatakan dengan kata “sawah”. Jadi untuk menyebut setiap nilai diibaratkan mem­peroleh “sawah”. Dengan demikian dapatlah dikesimpulkan bahwa permainan ini muncul sebagai kreativitas anak-anak dengan berlatar belakang sosial budaya agraris.

Hal seperti tersebut di atas dapatlah dikatakan bahwa per­mainan gempuran adalah permainan anak-anak petani, karena pa­da dasarnya bahwa permainan apa pun tidak akan dapat mening­galkan warna kehidupan budaya masyarakat yang dimilikinya.

Seperti diketahui masyarakat pedesaan yang mata pencaharian pokoknya adalah agraris di mana dalam kehidupan bermasyarakat­nya masih bergotong royong. Hidup bergotong-royong ini telah tertanam dalam kehidupannya sebagai ciri dari masyarakat ter­sebut. Ada pun kehidupan bergotong-royong ini dapat pula di­katakan dengan keija sama untuk mencapai sesuatu, walau pun demikian kadang-kadang keija sama tidak identik dengan gotong- royong. Tetapi yang dimaksud di sini identik dengan gotong- royong, karena gotong-royong tidak dapat dipisahkan dengan keija sama untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, misalnya dalam permainan. Salah satunya adalah permainan gempuran itu tadi.

Permainan gempuran seperti yang telah disebutkan sebelum­nya, yakni suatu permainan yang muncul karena adanya kegiatan untuk menghancurkan atau merobohkan tanggul yang sehubung­an dengan aktivitas dari usaha pertanian, misalnya untuk men­dapatkan air. Air bagi masyarakat petani sangat diperlukan, karena itu mereka berusaha dengan mengalirkan air atau membuat sungai baru sehingga seluruh desa dapat dialiri air. Dalam hal ini, pem­bagian air yang merata sehingga semua masyarakat desa yang mem­punyai sawah ladang mendapatkan bagian air secara merata. Ke­hidupan ini dilakukan oleh masyarakat desa dengan bergotong- royong. sehingga kerukunan terjalin dengan baik. Kerukunan untuk bergotong royong merupakan bagian dari kehidupan masya­rakat desa yang harus mereka tanamkan. Untuk itu mereka mengungkapkan kepada anak-anak melalui permainan, di antara­nya permainan gempuran.

Kapan permainan itu sendiri mulai dimainkan, dan oleh siapa mula-mula melakukannya tidak banyak diketahui. Yang jelas, permainan itu sudah ada sejak dahulu. Kemungkinannya timbul karena sebagai kreativitas yang diilhami oleh latar belakang budaya agraris.

Gempuran itu sendiri sebagai suatu permainan hiburan, sifat­nya kompetitif, karena si pemain berusaha untuk memenangkan permainan. Dan di dalam permainan’ tersebut terkandung dua unsur gabungan, yakni unsur bermain dan berolah raga.

Dalam suatu permainan yang tidak sungguh-sungguh, sehingga anak benar-benar menikmatinya sebagai permainan yang sangat meng­hibur; Unsur olah raganya terlihat pada fungsi permainan yang cocok untuk melatih ketangkasan dan ketrampilan anak-anak sehingga gerak badan yang ditimbulkan seolah-olah sedang berolah raga. Sebagai suatu permainan, gempuran dimainkan tanpa takut mengalami konsekuensi kekalahan, yang ada dalam perasaan mereka adalah rasa puas yang bersifat sementara jika menjadi pemenang. Sebaliknya rasa tidak puas yang bersifat sementara bagi yang kalah. Hal ini tampak apabila telah selesai bermain maka anak-anak akan bersatu kembali, seolah-olah kelompok yang kalah dan yang menang tidak ada sama sekali.

Apabila kita kaji latar belakang sosial budaya permainan ini, di mana permainan tersebut berasal dari kalangan para petani yang dalam pelaksanaannya tidak memandang stratifikasi sosial maupun pendidikan.” Jadi siapa saja boleh turut dalam memainkan, sehingga permainan gempuran muncul sebagai suatu p&rmainan yang benar- benar merakyat. Kemudian mendukung semangat mereka ber­kreasi sambil berolah raga, karena itulah pada dasarnya permainan ini tidak akan dapat meninggalkan warna kehidupan masyarakat agraris yang dimilikinya.

Selanjutnya, juga dalam masyarakat agraris kehidupan ber­gotong-royong selalu tertanam karena ini merupakan ciri yang khas dari latar belakang budaya agraris. Akan tetapi yang dimak­sud gotong-royong dalam bentuk permainan ini, yakni adanya kerja sama yang dikaitkan dengan kehidupan masyarakat. Kerja sama di dalam permainan ini terlihat adanya kerja sama untuk memainkan permainan, yakni untuk mencapai sesuatu yang di­inginkan, dalam hal ini kemenangan. Ada pun istilah di dalam per­mainan gempuran angka kemenangan yakni “sawah”.

Nilai-nilai yang terkandung dalam permainan gempuran ini, antara lain: rasa gotong-royong, demokrasi, persatuan dan ke­patuhan.

a. Unsur gotong royong. Kegotong-royongan dalam melaku­kan permainan ini sangat tampak, yang dimaksud dengan ke­gotong-royongan dalam permainan seperti yang telah disebutkan di atas, yakni keija sama untuk mencapai sesuatu. Misalnya, ke­tika salah seorang dari anggota kelompok A (pelempar bola) tidak

tugasnya digantikan oleh temannya yakni dari kelompok yang sama. Begitu pula bagi kelompok B (besang), apabila lawannya (kelompok A) berhasil melempar dan mengenai sasaran tumpukan gerabah, maka bola harus segera ditangkap dan lalu melemparkan­nya kepada temannya yang sekelompok agar segera menembak­kan ke arah salah satu tubuh lawan (kelompok A). Jadi maksud­nya, agar kelompoknya (kelompok B) berganti fungsi jadi pe­lempar bola. Dengan demikian di sini tampak sekali keija sama di antara para pemain.

  1. b.                     Unsur demokrasi. Yang dimaksud dengan demokrasi di sini adalah dalam pemilihan kawan sekelompok, yakni mereka membanding-bandingkan sesama pemain agar dua orang yang berlawanan itu setidak-tidaknya sebaya, sama tinggi dan sama kuat, sehingga dua kelompok itu mempunyai dua kekuatan yang sama. Caranya, yakni dengan melakukan “suten”. Pihak yang me­nang bergabung dengan kelompok yang menang dan yang kalah bergabung dengan yang kalah.
  2. c.                      Unsur persatuan. Rasa persatuan di dalam memainkan permainan ini tampak, yakni ketika kelompok A akan melawan kelompok B. Di sini masing-masing anggota kelompoknya bersatu sehingga menjadi suatu permainan yang benar-benar kompak.
  3. d.                     Kepatuhan Ketika salah satu kelompok telah berhasil memenangkan sawahnya dengan jumlah yang telah ditentukan se­belumnya, maka kelompok yang menang itu harus digendong oleh kelompok yang kalah. Hal ini merupakan konsekuensi dari kalah menangnya suatu permainan yang harus dilaksanakan.

Selain unsur-unsur tersebut di atas, dalam permainan ini tampak adanya pengembangan fisik mau pun mental. Dalam peng­embangan fisik yakni ketangkasan dan ketrampilan, sedangkan dalam pengembangan mental yakni kecermatan karena dapat memperkirakan. Contohnya, ketika salah seorang dari anggota kelompok A akan meruntuhkan tumpukan gerabah, di sini tampak bahwa si pelempar dengan cermat dan dapat memperkirakan bisa meruntuhkan tumpukan gerabah.

Pada saat ini permainan gempuran mengalami kemunduran bahkan hampir punah, padahal permainan tersebut sebagai salah satu bentuk kreatifitas yang sehat. Banyak nilai edukatif yang mendapat perhatian. Hal ini. dikarenakan para pendidik dan orang tua kurang menyadari manfaat permainan ini bagi perkembangan anak-anak. Malahan kadang kala dianggap permainan yang meng­ganggu, karena rusaknya halaman, debu yang beterbangan, ke­gaduhan suasana dan mengganggu lalu lintas orang di tepi jalan atau pun di halaman rumah. Atau dapat pula karena anak-anak lebih menyenangi permainan yang sudah modern, karena masuk­nya teknologi modern.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Madura- Jawa Timur, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai Nilai Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1991.

Cu-Cuan, Permainan Masyarakat Madura

Deskripsi Permainan

“Cuuuuuuu……………….”, itulah suara yang diserukan oleh anak-anak yang ditugasi untuk mengejar lawannya bermain. Oleh karena itu, permainan ini disebut cu-cuan Cu-cuan berarti bermain cu. dan kata cu di sini tidak mengandung pengertian apa-apa selain tiruan suara cu yang panjang tersebut.

Permainan cu atau cu-cuan ini sangat digemari oleh anak-anak petani di daerah Bangkalan, Madura. Pada umumnya yang me­lakukan permainan ini adalah anak-anak petani. Dalam kaitannya dengan peristiwa lain, baik upacara keagamaan atau upacara tra­disional lainnya tidak ada sama sekali. Permainan ini sifatnya hiburan untuk mengisi kekosongan waktu yang terluang di siang hari, setelah pulang dari sekolah atau setelah melakukan pekeijaan yang harus dilakukan di rumahnya.

Dalam pelaksanaannya, permainan cu-cuan tidak diiringi nyanyian atau pun musik gamelan, yang terdengar hanya suara “cuuuuu     “ke luar dari mulut anak yang sedang mencari atau mengasyikkan karena selain sederhana, permainan ini sangat mudah dimainkan. Hal ini, karena yang diperlukan menguji ke­mampuan fisik seperti kegesitan, keuletan dan mengatur pernapas­an serta mengasah kecerdasan dan kecerdikan. Selain sifatnya hiburan, permainan ini juga bersifat kompetitif karena ada lawan bermain dan ada ketentuan kalah menang.

Permainan cu-cuan dimainkan oleh anak-anak yang beijumlah anak-anak sebanyak sepuluh orang. Jumlah itu lalu dibagi dua kelompok dengan kekuatan yang seimbang, dan para pemain ini rata-rata berusia sekitar antara sembilan sampai dengan dua belas tahun. Permainan tersebut selain dimainkan secara berkelompok dapat pula dimainkan secara perorangan, yakni satu lawan satu hanya saja bila dimainkan terasa kurang mengasyikkan. Oleh karena itu lebih sering dimainkan secara berkelompok sehingga permainan tersebut menjadi lebih meriah dan semarak.

Pada umumnya cu-cuan dimainkan oleh anak laki-laki, namun tidak menutup kemungkinan bagi anak perempuan untuk memain­kannya. Hanya saja biasanya anak perempuan sebagai penonton, sebab dalam permainan memerlukan kegesitan serta ketahanan napas sehingga permainan tersebut seolah-olah hanya dilakukan oleh anak laki-laki.

Peralatan yang dipergunakan dalam cu-cuan ini tidak ada, kecuali sebuah tonggak atau pohon atau pun bengko untuk tem­pat hinggap yang disebut “penclokan”, tetapi jika ini tidak ada dapat pula dibuatkan sebuah lingkaran kecil di atas tanah.

Apabila para pelaku permainan telah mencukupi, maka dicari­lah lapangan permainan yang ada pohonnya, atau tonggak sebagai bengko (rumah) tempat hinggap “penclokan”. Kemudian dilaku­kan konsensus dalam pemilihan anggota kelompok. Pada mulanya anak-anak mengambil pasangannya yang dianggap sebaya, sama besar dan sama tinggi serta diperkirakan pula seimbang kekuatan fisiknya. Masing-masing pasangan tersebut melakukan “suten”. Pihak yang kalah “suten” berkumpul dalam satu kelompok, demikian pula yang menang suten berkumpul dalam satu kelom­pok. Dengan demikian terjadilah masing-masing kelompok pemain yang sepadan kekuatannya, kemudian wakil atau pemimpin dari masing-masing kelompok melakukan suten kembali untuk menen­tukan kelompok yang dadi, yang berperan sebagai pengejar, dan kelompok yang bertahan. Kelompok yang dadi ini menguasai sebuah penclokan (tempat hinggap) yang merupakan pangkalan mereka yang netral, sedangkan kelompok yang bertahan mengu­sai seluruh halaman. Misalnya, kelompok A .yang dadi dan kelom­pok A yang dadi dan kelompok B yang bertahan.

Setelah diketahui bahwa kelompok A yang dadi dan kelompok B yang bertahan, maka permainan pun dimulai. Kelompok A yang gerombol di penclokan. Kelompok B yang bertahan berpencaran di halaman dan bersembunyi. yang dapat dilakukan secara bergantian dengan sesama teman kelompoknya. Di sini pimpinan kelompoklah yang berkewajiban mengatur dan menyusun urutan gilir sebelumnya. Untuk turun ke lapangan ini tidak boleh dilakukan lebih dari dua orang, tetapi harus ada yang tinggal menjaga penclokan. Hal ini penting sebab apabila teman kelompoknya (kelompok A) yang turun ke lapang­an kehabisan suara, ia akan kembali ke penclokan dalam kejaran lawan (kelompok B). Oleh karena itu, untuk menghindari ter­tangkapnya teman sekelompok (kelompok A) maka si penjaga penclokan segera ganti mengejar lawannya yang mengejar teman sekelompoknya (kelompok A) sambil bersuara “cuu-uuku               ………………………………”.

A j yang diperintah untuk turun ke lapangan ini lalu melaku­kan pencaharian. Ia (Aj) sambil bersuara “cuuuuu . . . .” mencari tempat persembunyian lawannya, (kelompok B). Bila berhasil diketemukan, maka lawan (kelompok B) yang bersembunyi di­kejarnya sampai dapat, tetapi jika hampir kehabisan napas harus segera kembali ke tempat pangkalan untuk mengambil napas dan kemudian turun ke lapangan kembali untuk mencari dan mengejar sambil bersuara “cuuuuuuu                …………………………….”. Hal ini dilakukan karena pada waktu mencari dan mengejar, “cuuuuuu……………………” tidak boleh terputus.

Apabila A^ berhasil mengejar dan menggapai salah seorang lawannya (kelompok B) dengan sempurna, artinya sebelum suara “cuuuuu……………………   ” terputus karena kehabisan napas maka kelompok B dinyatakan kalah. Tetapi bila A| belum berhasil menggapai lawan, namun sudah merasa akan kehabisan napas, Aj harus segera kembali ke penclokan sebelum “cuuuu . . . … ” terputus di tengah jalan. Dan setelah berhasil ia hinggap di penclokan. maka seorang kawan sekelompoknya (misal A->) menggantikannya dan segera turun untuk mengejar lawan sambil menyuarakan  “cuuuuuu……………             ” secara terus menerus pula. Sasarannya tidak perlu orang yang sama, tetapi dapat berganti-ganti mana yang paling baik untuk memberi peluang.

Begitu pula jika Aj belum berhasil menggapai lawan, namun sudah terlanjur kehabisan napas sehingga'”cuuuu . . . .” terputus. Maka situasi pengejaran berubah, Aj yang semula mengejar kini berbalik dikejar oleh bekas buruannya bersama-sama dengan teman-teman sekelompoknya (kelompok B). Dalam pengejaran berhasil menghindar dan selamat kembali ke penclokan (pangkal­an), berarti bebaslah ia dari kejaran. Sebaliknya, kawanan kelom­pok B yang mengejar harus waspada, sebab begitu Aj hinggap di penclokan, salah seorang pengganti Ai, yakni A-> sudah siap me­nyergap mereka sambil menyuarakan “cuuuuu……………”

Sebaliknya, jika A j belum berhasil menggapai lawan, tetapi “cuuuu . . . .!” sudah terputus karena kehabisan napas, sedangkan dalam usahanya untuk menghindarkan diri dari kejaran lawan (kelompok B) untuk kembali dengan selamat ke pangkalan pun tidak berhasil. Ia (Aj) tertangkap. Dengan demikjan, maka ke­lompok A dinyatakan mati, dan teijadilah pergantian peran. Kelompok B kini menguasai penclokan dan berperan sebagai pe­nyerang. Sedangkan’kelompok A menjadi pihak yang bertahan memencar meliput seluruh halaman. Akan tetapi sebelum teijadi pergantian peran tersebut, maka kelompok yang kalah (kelompok A) harus menggendong kelompok B.

Demikianlah permainan cu-cuan itu berlangsung sampai anak- anak merasa lelah, biasanya permainan tersebut berlangsung lama karena di sini dilakukan cara selamat-menyelamatkan teman se­kelompoknya.

Analisa.

Bangkalan terletak di Pulau Madura, di mana penduduknya sebagian besar bermata pencaharian pokok bertani. Bertani mereka lakukan di sawah dan di ladang. Di peladangan biasanya banyak bermacam-macarp jenis serangga yang menyerang tanaman, baik itu tanaman palawija maupun padi. Suara-suara serangga ini oleh anak-anak ditirunya, misalnya suara tawon atau lebah. Suara ini oleh anak-anak diimajinasikan ke dalam bentuk permainan, yakni permainan cu-cuan.

Jika dilihat dari kata cu-cuan itu sendiri menunjukkan asal-usul permainan ini. Karena suara yang dilakukan oleh permainan dalam permainan cu-cuan ketika sedang mengejar lawannya mengeluar­kan suara yang berbunyi “cuuuuu            “.

Bunyi “cuuuuu        ” ini ada kemiripan dengan suara tawon atau lebah ketika sedang terbang atau jika ada yang mengganggunya. Begitu pula jika dilihat dari perlengkapan permainan ini hanya memerlukan sebuah tong juga mirip dengan lebah. Serangga ini biasanya akan bersarang di pohon atau pun di atap rumah penduduk. Lebah yang bersarang ini tidak hanya satu atau dua ekor yang hinggap tetapi akan ber­gerombol jika bersarang. Karena itulah, kemungkinan permainan cu-cuan diilhami dari serangga tersebut.

Permainan cu-cuan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yakni suatu permainan yang muncul karena diilhami oleh kehidup­an serangga yakni lebah, di mana lebah bergerombol untuk meng­umpulkan madu. Begitu pula kehidupan masyarakat pedesaan yang agraris, mata pencaharian pokoknya adala!it)ertani. Di mana kehidupan masyarakatnya masih bergotong-royong, sikap ini telah tertanam dan merupakan bagian dari kehidupannya sebagai ciri dari masyarakat agraris. Kegotong-royongan ini mereka ungkapkan ke dalam bentuk permainan itu tadi.

Permainan itu sendiri kapan mulai dimainkan dan siapa-siapa yang mula-mula melakukannya tidak banyak diketahui, yang jelas permainan itu sudah ada sejak dahulu. Kemungkinannya timbul karena sebagai kreativitas yang diilhami oleh latar belakang budaya agraris. Seperti diketahui, masyarakat penduduk di daerah Bang­kalan ini terdiri atas dua suku. yakni suku Madura sebagai pen­duduk asli daerah itu dan suku Jawa sebagai penduduk pendatang yang kemudian menetap di sini. Walaupun demikian kedua suku tersebut berbaur dengan masing-masing mempunyai kebudayaan, serta masing-masing tetap mencerminkan aspirasi ketradisionalan yang dimiliki oleh” masyarakat pedesaan yang agraris. Kebudayaan kedua suku ini mempunyai banyak persamaan, karena seperti diketahui letaknya Madura di ujung Jawa Timur. Karena itulah pengaruh kuat kebudayaan Jawa ini tidak dapat dipisahkan, salah satu di antaranya ke dalam bentuk permainan yakni per­mainan cu-cuan. Karena permainan tersebut juga terdapat di Jawa, walaupun namanya berlainan tetapi cara memainkannya dan jalannya permainan mempunyai banyak persamaan.

Cu-cuan itu sendiri sebagai suatu permainan hiburan bersifat kompetitif, karena si pemain berusaha untuk memenangkan per­mainan. Sebagai suatu permainan hiburan, permainan tersebut di dalamnya mengandung dua unsur gabungan, yakni unsur bermain dan berolah raga. Dalam bermain, si anak yang bermain benar-benar menikmatinya sebagai suatu permainan yang tidak sungguh-sungguh.

Sedangkan unsur olah raga yang terlihat pada fungsi permainan ini cocok untuk melatih kecekatan, kecermatan, dan kewaspadaan serta pengaturan napas. Dan sebagai suatu permainan, cu-cuan dimainkan tanpa takut mengalami konsekuensi kekalahan. Yang ada dalam perasaan mereka adalah rasa puas yang bersifat semen­tara jika menjadi pemenang. Sebaliknya, rasa tidak puas dan pe­nasaran yang sifat sementara juga. Hal ini tampak apabila permain­an tersebut sudah selesai dimainkan, si anak yang menang dan yang kalah akan bersama-sama kembali sehingga kekalahan bagi kelompok yang kalah dan yang menang terasa tidak ada sama sekali.

Apabila kita kaji latar belakang sosial budaya permainan ini. berasal dari anak-anak petani yang suka meniru suara serangga. Dalam pelaksanaannya mereka tidak memandang stratifikasi sosial maupun pendidikan, sehingga permainan tersebut sebagai permainan yang benar-benar merakyat. Permainan ini juga men­dukung semangat mereka untuk berkreasi .sambil berolahraga. Pada dasarnya permainan cu-cuan tidak dapat meninggalkan warna kehidupan budaya masyarakat yang dimilikinya, misalnya ke­hidupan bergotong-royong. Untuk itu, mereka ungkapkan ke dalam bentuk permainan cu-cuan. Di sini tampak sekali, jalannya permainan diilhami dari serangga

Nilai-nilai yang terkandung dalam permainan cu-cuan ini. antara lain yakni gotong-royong, rasa persatuan, kepatuhan akan peijanjian dan demokrasi.lebah yang suka bergerombol dan bergotong-royong ketika mencari madu.

Unsur gotong royong. Gotong royong yang dimaksud di sini yakni suatu cara untuk mencapai sesuatu yang diinginkan, yang harus dilakukan secara bersama-sama. Karena keija sama identik dengan gotong royong yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Misalnya dapat dilihat pada jalannya permainan ketika pemimpin kelompok A menyuruh salah seorang anggotanya (Aj) untuk turun ke lapangan melakukan pengejaran terhadap lawan (kelompok B) dapat dilakukan secara bergantian dengan sesama rekan kelompoknya. Di sini pimpinan kelompoklah yang berkewajiban mengatur dan menyusun urutan gilir. Dengan de­mikian pula antara pemimpin kelompok dengan anggota-anggota- nya. Begitu pula kelompok yang “bertahan” kelompok B, me­lakukan keria sama vakni ketikA’ melakukan balik pengejaran yang semula mengejar dikejar oleh bekas buruannya bersama- sama dengan

Rasa persatuan. Rasa persatuan tampak ketika kelompok yang “dadi” yang mempunyai penclokan (tempat hinggap) seluruh ang­gotanya ditugaskan untuk turun, maka pasti ia akan kembali ke tempat asalnya.teman sekelompoknya (kelompok B).

Kepatuhan akan perjanjian. Yang dimaksud di sini adalah kon­sekuensi kalah menang dari permainan. Dalam konsekuensi kalah menang ini ada suatu peijanjian yakni yang kalah harus meng­gendong yang menang. Di sini tampak ketika kelompok A kalah, maka dilakukan pergantian peran. Akan tetapi sebelum pergantian dilakukan, kelompok A sebagai kelompok yang kalah menggen­dong kelompok B yang menang.

Demokrasi. Yang dimaksud dengan demokrasi yakni adanya keterbukaan dalam melakukan pemilihan anggota kelompok. Dalam melakukan pemilihan ini. masing-masing pasangan memilih pasangannya yang sama kuat, sama sekali dan sama tinggi dengan cara melakukan suten. sehingga masing-masing kelompok mem­punyai kekuatan yang seimbang

Selain unsur-unsur di atas. pengembangan, mental maupuft fisik juga terlihat dalam permainan. Dalam pengembangan mental tampak sekali kewaspadaan dan kecermatan dari para pemain. Sedangkan dalam pengembangan fisiknya terdapat kegesitan dan kecerdikan serta ketangkasan dalam permainan ini. Jadi dapatlah disimpulkan bahwa motivasi dari permainan ini adalah untuk menguji kemampuan fisik dan pernapasan di samping mengasah kecerdasan dan kecerdikan seperti yang telah disebutkan se­belumnya. Karena untuk berlari-lari, berkejaran, jelas diperlukan tubuh yang sehat, sementara mengeluarkan kata “cuuuuuuu. . . .” sambil berlari merupakan latihan ketahanan napas. Anak. yang turun ke lapangan mengejar lawannya harus memperhitungkan dua faktor berlawanan sekaligus. Si pengejar ingin berhasil menangkap (menggapai) lawan dengan resiko mengejarnya sejauh mungkin, tetapi dalam pada itu berusaha jangan sampai jauh-jauh meninggal­kan pangkalan agar tidak mendapatkan kesulitan untuk mencapai­nya kembali sewaktu kehabisan napas. Demikianlah kombinasi kemampuan fisik pernapasan dan kecerdasan si anak dituntut un­tuk membuktikan keunggulannya dalam memperebutkan prestasi.

Setiap anak secara naluriah bergelitik rasa kebanggaannya ber­prestasi, dan permainan cucuan membuka peluang menyalurkan rasa. kebanggaan si anak itu. Itulah sebabnya cu-cuan mengasyik­kan dan sekaligus memberikan kegembiraan.

Pada saat ini permainan ini masih dimainkan, walaupun sudah agak jarang. Karena tergeser oleh permainan yang lebih menarik, dalam kemajuan teknologi. Anak-anak lebih menyukai permainan yang baru daripada permainan tradisional. Begitu pula generasi sebelumnya kurang memberi perhatian. Oleh karena itu kemungkinan besar permainan ini akan hilang begitu saja dan hanya tinggal namanya. Padahal permainan cu-cuan ini sangat baik bagi perkembangan anak untuk belajar berkreasi sambil) berolah raga. karena di dalamnya terkandung nilai-nilai yang sangat baik untuk pembentukan jiwa anak.

Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Madura- Jawa Timur, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai Nilai Budaya, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1991.

Le-alle Bengko

Deskripsi Permainan

Le-alle bengko adalah suatu permainan anak-anak yang bersifat kompetitif. Le-alle bengko ini terjadi dari dua kata. yakni le-alle dan bengko. Le-alle berasal dari kata alle berarti pindah”, jade le-alle berarti “berpindah-pindah” Bengko berarti “rumah”. Apabila kita tejemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara harfiah, kata le-alle bengko berarti “berpindah-pindah rumah”. Pengertian “rumah” di sini bukanlah rumah yang sebenarnya, tetapi adalah “tiang”, tempat pangkal anak bermain yang diumpamakan rumah, dan tiang tersebut adalah tiap rumah atau tiang teras rumah (da­lam bahasa Madura: “soda”). Rumah tanyyan lanjang (halaman panjang) ini adalah rumah yang terdiri dari beberapa petak dan menyatu. Petak-petak ini ditempati oleh suatu keluarga besar, sehingga rumah itu berbentuk empat persegi panjang yang berke- lilingnya pada “soda” (teras) bertiang.

Rumah tanyeyan lanjang mempunyai tiang-tiang pada setiap sudut “soda”. Tiang sudut “soda” inilah yang diumpamakan se­bagai rumah bengko) oleh anak-anak dalam permainan le-alle bengko.

Permainan ini tidak ada kaitannya dengan peristiwa lain yang bersifat religius magis seperti upacara siklus hidup seseorang, upa­cara bersih desa, sedekah laut ataupun dengan upacara keagamaan. Olah karena itu, permainan le-alle bengko hanya merupakan per­mainan rekreatif yang sifatnya hiburan untuk mengisi waktu seng­gang baik pada siangkah maupun pada malam hari.

Permainan le-alle bengko ini sangat digemari oleh anak-anak. Karena selain mudah dimainkan juga tidak memerlukan beaya. Ada pun aturan dan cara permainannya pun sangat sederhana dan tidak rumit. Yang diperlukan dalam permainan ini hanyalah tenaga •dan kegiatan semalta-mata.

Pelaku-pelaku permainan ini terdiri dari dua kelompok yang berlawanan. Masing-masing kelompok terdiri dari empat orang anak, jadi jumlah pemain seluruhnya delapan orang anak. Satu kelompok (empat orang anak) seperti “penjaga rumah”, sedangkan satu kelompoknya lagi sebagai kelompok “penyetgap” yang ber­siap-siap untuk memperebutkan rumah-rumah tersebut.

Kedelapan anak pemain ini rata-rata berusia antara delapan sampai dengan dua belas tahun. Kelompok pemain tidak boleh campuran antara anak laki-laki dengan anak-anak perem­puan. Kelompok bermain harus anak-anak sejenis, laki-laki saja atau perempuan saja. Hal ini disebabkan, karena dalam permainan ini ada konsekuensi kalah menang, yakni kelompok yang kalah harus menggendong kelompok yang menang.

Peralatan yang dipergunakan dalam permainan le-alle bengko hanya empat bilah tiang “soda” (teras) rumah yang sudah ada. Untuk peserta anak laki-laki biasanya dipilih tiang-tiang “soda” rumah teneyan lanjang, maksudnya agar jarak dari tiang ke tiang agak jauh. Sedangkan anak-anak perempuan memilih rumah taneyan lajang yang tidak panjang. Tiang-tiang ini harus kuat dan dari tiang ke tiang tidak ada perintang.

Peramainan le-alle bengko ini tidak diiringi irama gamelan musik atau pun nyanyian, akan tetapi yang terdengar hanya suara teriakan-teriakan yang selalu menyertai permainan ini, mi­salnya teriakan memperingatkan kawannya, teriakan terkejut atau teriakan-teriakan yang memberi semangat serta gertak sebagai siasat.

Apabila pelaku-pelaku permainan ini telah berkumpul, lalu diadakan suatu konsensus terhadap aturan-aturan permainan, seperti:

  1. Pemilik rumah tidak boleh terlalu lama tidak pindah rumah, apabila terlalu lama mereka akan diperingati oleh kelompok lawannya.
  2. Suatu rumah tidak boleh direbut oleh dua orang anak dalam satu kelompok.

Kemudian apabila masing-masing telah mengetahui aturan- aturan permainan dan para pelaku telah berkumpul, maka dila­kukanlah pemilihan dalam kawan kelompok. Dalam memilih ka­wan kelompok ini, mereka banding-bandingkan sesama pemain, agar dua orang yang berlawanan itu setidak-tidaknya seusia, dan sebanding pula ketrampilannya, kegiatan serta kekuatan fisiknya. Setelah mereka membagi dua-dua yang seimbang lalu mereka melakukan “suten”. Pemenang sama-sama pemenang kelompok, yang kalah masuk kelompok yang kalah. Jika penentuan anggota kelompok bermain ini telah ditentukan, kemudian mereka mela­kukan “suten” lagi untuk menentukan kelompok pemain dan pe- nyergap. Salah seorang sebagai wakil dari kelompoknya melakukan “suten” dengan kelompok lawannya, misalnya kelompok A yang menang “suten” dan kelompok B yang kalah “suten”. Yang me­nang (kelompok A) mendapat kesempatan bermain lebih dahulu, yaitu menjadi “pemilik” dan sekaligus sebagai “penjaga rumah”; sedangkan yang kalah (kelompok B) menjadi “penyergap”.

Setelah diketahui kelompok yang menang dan kelompok yang kalah, serta telah ditentukan tempat permainan maka permainan pun dimulai. Kelompok A sebagai pemenang; masing-masing ang­gota memiliki tiap (rumah) yang dijaga oleh seorang pemain. Tiang pertama dijaga oleh A, tiang kedua oleh A2, tiang ketiga oleh A3, dan tiang ke empat oleh A4. Sedangkan kelompok B sebagai ke­lompok “penyergap” untuk merebut rumah yang kosong berdiri di tengah-tengah, seperti BI. berdiri di antara Al – A2; B2 di an­tara A2 – A3; B3 di antara A3 – A4 dan B4 diantara Al – A2 (lihat gambar).

Dalam permainan ini Al harus berhasil-pindah ke A2, lalu ke A3 dan ke A4 sehingga kembali lagi ke A1; jika berhasil maka me­nanglah kelompok A. Usaha pindah rumah harus teijaga. Caranya, dengan segera diganti oleh kawan kelompoknya, sebab lawannya selalu mengincar kekosongan rumah tersebut. Kalau rumah tidak teijaga, atau diganti/ ditempati oleh teman kelompoknya, maka rumah tersebut akan segera direbut dan diduduki oleh lawan ke­lompoknya. Apabila teijadi hal yang demikian, teijadilah pergan­tian kelompok, lawannya (kelompok B) sekarang sebagai “pemil- lik” atau “penjaga rumah”. Pindah rumah dari satu rumah ke rumah lainnya, menurut arah jarum jam (lihat denah arena per­mainan).

 

Jadi Al berusaha pindah ke A2, dan bersamaan dengan itu A2 berusaha pindah ke’ A3 dan A3 berusaha pindah ke A4. karena itulah tim atau kelompok A harus kompak, keijasama yang rapi, dan selalu mencari kesempatan kelengahan lawan, agar serempak bisa pindah rumah sehingga rumah yang ditinggal tidak dapat direbut. Kegesitan, siasat dengan gertak pura-pura betul-betul diwujudkan dengan pindah rumah, sehingga lawannya kelabakan. Karena itu sebelum permainan dimulai kelompok-kelompok ter­sebut menentukan siasat bersama. Misalnya dalam gertak pertama, kedua dan ketiga (dalam usaha pindah rumah yang pertama) ada­lah gertak pura-pura; tetapi gertak yang keempat adalah betul- betul pindah rumah. Bila berhasil ganti siasat, gertak pertama dan kedua pura-pura, tetapi gertak yang ketiga betul-betul pindah rumah. Begitulah selanjutnya.

Bila Al berhasil pindah ke A2, lalu ke A3 lalu berhasil ke A4 dan kembali lagi ke Al, juga teman-temannya berhasil pindah maka menanglah kelompok A, dan mereka berhak memperoleh gendongan dari lawannya (kelompok B) dari tiang Al berkeliling

rumah sampai ke A1 lagi.

Begitu pula kelompok B adu siasat, di samping harus selalu waspada agar siap-siap menyergap merebut rumah yang kosong. Sekali pun BI harus berdiri di tengah-tengah Antara Al – A2 (begitu pula kelompok B yang lain), tetapi dengan siasat pemba­gian tugas pengawasan sehingga tidak sampai terjadi tabrakan sesama teman. Artinya, satu rumah diperebutkan oleh dua orang temanya (B). Karena itu, pembagian perebutan diatur seteman, seiring berlawanan dengan jarum jam (lihat dengan arena per­mainan) atau sebaliknya. Apabila satu rumah berhasil direbut berarti semua rumah jatuh kepada lawannya. Pihak yang pindah rumah selalu dicari yang lemah oleh lawannya, karena itu salah seorang pemilik rumah yang lemah selalu menjadi incaran lawan­nya.

Apabila kelompok A sulit untuk pindah rumah, sanksinya ialah ganti tempat bermain. Artinya kelompok A menyerah se­hingga kelompok B sekarang pemilik rumah, sedangkan kelompok A ganti berusaha memperebutkan rumah B. Demikian seterusnya sampai anak-anak merasa bosan bermain dan lelah. 

Analisa 

Permainan le-alle bengko merupakan suatu permainan anak- anak yang hanya terdapat dr pulau Madura, yakni di bagian barat kota Sampang dan di desa-desa pesisir. Permainan ini menggambar­kan. suatu permainan anak-anak khas Madura yang mempunyai ciri dari alat permainan yang dipergunakan yakni berupa tiang dari teras rumah taneyan lanjang. Apabila kita artikan kata “le-alle bengko” ini, terdiri dari dua kata yakni alle dan bengko. Alle artinya “pindah” sedangkan bengko artinya “rumah”,. Kata bengko itu sendiri yang diumpamakan “rumah”, Pengerfian “rumah” di sini bukanlah rumah yang sebenarnya, akan tetapi tiang tempat pangkal anak-anak bermain yang diumpamakan rumah.

Seperti telah diketahui bahwa permainan le-alle bengko ini merupakan gambaran dari bentuk kebudayaan Madura, yang telah melatar belakanginya, karena alat yang dipergunakan adalah tiang rumah yang telah tercipta dalam arsitektur daerah itu. Hal ini, karena bentuk rumah-rumah di pulau Madura mempunyai gaya arsitektur yang tersendiri, di mana setiap sudut mempunyai tiaiig teras yang dalam bahasa Madura disebut “soda”, dan sudut “soda” rumah inilah yang diumpamakan sebagai bengko (rumah) dalam permainan.

Penduduk Madura merupakan suatu kelompok besar. Dalam pengelompokan masih terdapat beberapa kelompok kecil antara lima sampai sepuluh rumah dengan jajaran rumah yang memanjang atau saling berhadapan dan merupakan suatu keluarga besar atau keluarga luas (extended family), yang disebut “taneyan lanjang” (yang berarti halaman panjang). Rumah taneyan lanjang umumnya dihuni oleh satu keluarga besar (extended family) yang terdiri dari kakek — nenek dan anak-anaknya, termasuk anak yang sudah ber­keluarga. Jadi satu keluarga satu petak. Tiga atau empat keluarga (yang sudah berkeluarga), terdiri dari tiga – empat petak menyatu dalam satu atap rumah yang memanjang ke sisi, terjadilah rumah- rumah dengan taneyan lanjang. Hal ini sesuai dengan falsafah hi­dup orang Madura di desa-desa yang menyatakan “makan tidak makan pokoknya kumpul” yang memungkinkan terbentuknya rumah taneyan lanjang ini, sekali pun hidup mereka kekurangan.

Rumah-rumah tempat tinggal yang terletak dalam satu taneyan lanjang (halaman panjang) ini tidak dibatasi pagar. Rumah yang satu dengan rumah yang lain saling berdekatan dan berderet men­jadi dua baris yang berhadap-hadapan, dan di tengah-tengah inilah anak-anak melakukan permainan dengan menggunakan tiang-tiang pada setiap sudut ” soda” rumah yang mereka umpamakan sebagai “bengko” (rumah) oleh anak-anak dalam permainan le-alle bengko.

Permainan le-alle bengko ini sudah lama dikenal dan dimain­kan oleh anak-anak. Kapan permainan ini dimulai dan siapa yang mula-mula memainkan tidak ada yang mengetahui. Yang jelas per­mainan ini sudah ada sejak dahulu dan biasa dimainkan oleh anak-anak. Anak-anak sangat menggemarinya, karena le-alle bengko ini sangat mudah dimainkan selain tidak perlu mengeluar­kan biaya karena yang menjadi alat utama adalah tiang rumah yang sudah ada, juga aturan-aturan dari permainan ini tidaklah rumit. Oleh karena itu permainan le-alle bengko dikatakan merak­yat, sebab dapat dimainkan oleh siapa saja dengan tidak memba­tasi kelompok sosial. Di samping itu cara memainkannya pun sa­ngatlah sederhana, sesederhana cara berpikir dan pola hidup orang desa. Jadi penduduk desa yang petani, peternak, buruh tani, ne­layan atau pun pelaut sama saja. Artinya anak-anaknya akibat pe­ngaruh kemampuan orang tuanya yang hidup rata-rata di bawah garis kemiskinan sering memainkan permainan-permainan yang se­derhana tidak memerlukan biaya.

Apabila kita kaji dari pola permainan le-alle bengko ini sangat­lah sederhana, diperkirakan bahwa permainan ini asli dimainkan oleh anak-anak petani di daerah ini yaitu di daerah yang berumah taneyan lanjang. Sedangkan dilihat dari kata le-alle bengko berarti yang telah disebutkan di atas, mungkin bisa diartikan rumah yang berpindah. Dahulu pemindahan rumah di desa berbeda dengan di kota. Jika di kota, yang pindah adalah orangnya tetapi rumahnya tidak turut pindah. Sebaliknya di desa-desa Madura umumnya dan khususnya di daerah Sampang, yang pindah adalah rumahnya ke­mudian menyusul orangnya. Rumah yang pindah ini adalah ke­rangkanya yang dipikul beramai-ramai oleh para sanak dan tetang­ganya secara bergotong-royong.

Hal seperti di atas sesuai dengan permainan le-alle bengko yang merupakan suatu permainan khas sesuai dengan kondisi ling­kungan di mana keadaan sosial masyarakatnya telah melatar be­lakangi budaya dalam bentuk permainan ini, yang memperlihatkan

adanya keija-sama yang didukung oleh faktor kegotong-royongan di antara warga masyarakat yang masih terjalin baik.

Kaitan antara permainan le-alle bengko dengan pemindahan rumah secara bergotong-royong agar anak-anak tersebut melalui rekreasi selalu mengingat sikap kegotong-royongan, yang menda­sari pemindahan rumah salah seorang warga desanya atau kam­pungnya. Oleh karena itulah permainan ini, merupakan usaha me­lestarikan nilai dan sikap yang baik. Yang jelas permainan seder­hana ini memang timbul dari masyarakat itu sendiri, yang kemu­dian diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, per­mainan le-alle bengko sebagai salah satu permainan rakyat mem­punyai arti yang sangat penting di dalam upaya meningkatkan nilai-nilai budaya, karena di dalam permainan ini tergambar ke­hidupan masyarakat petani yang telah melatarbelakangi bentuk kebudayaan mereka.

Apabila kita kaji permainan ini, maka akan tampak nilai-nilai yang tergambar di dalamnya. Ada pun nilai-nilai ini, antara lain:

  1. Rasa disiplin, yakni para pemain harus mematuhi aturan- aturan yang telah ditetapkan dalam permainan berdasarkan konsensus bersama. Seperti, “pemilik rumah” tidak boleh terlalu lama tidak pindah rumah, dan satu rumah tidak boleh direbut oleh dua orang dalam satu kelompok.
  2. Unsur gotong-royong atau kerja-sama. Unsur gotong- royong di |sini tampak sekali, yakni ketika akan berpindah dari satu tiang ke tiang lain, usaha pindah ini haruslah segera diikuti oleh anggota kelompoknya. Misalnya, kelompok A sebagai “pen­jaga rumah” di mana masing-masing anggotanya mempunyai tiang Al, A2, A3, dan A4) (lihat dengan arena permainan). A1 berusaha pindah ke A2, dan bersamaan dengan itu A2 berusaha pindah ke A3 dan A3 berusaha pindah ke A4, begitu pula A4 harus berusaha pindah ke Al. Dalam usha pindah rumah ini, jangan sampai ru­mah tidak terjaga karena bila rumah tidak dijaga maka akan ditem­pati oleh lawan kelompoknya, dan kelompok “panjaga rumah” berarti kalah. Oleh karena itulah, rumah yang kosong harus segera diisi, dengan segera oleh kawan kelompoknya, sebab lawannya selalu mengincar kekosongan rumah tersebut. Lantaran itulah tim atau kelompok A harus kompak, kerja sama rapi dan selalu jeli, mencari kesempatan akan kelengahan*lawan, agar serempak bisa pindah rumah sehingga rumah yang ditinggal tidak dapat direbut. Begitu pula kelompok B sebagai kelompok “penyergap”, mereka harus bekeija sama sesama anggota kelompoknya.

Selain itu melalui permainan ini anak-anak dapat mengem­bangkan fisik, terbina kecekatannya dan ketangkasan; sedangkan dalam pengembangan terbina keberanian dan kecerdasan. Dengan permainan ini dapat dididik anak-anak baik dalam sikap maupun dalam gerak. Di dalam sikap si anak belajar menghormati peratur­an-peraturan yang dibuat dan disetujui sendiri, disiplin, memilih dan menentukan bersama suatu siasat, menjaga keijasama dan kekompakan, kewaspadaan menjaga milik sendiri, serta menangkis kemungkinan-kemungkinan ancaman dari luar. Sedangkan gerakan yang menyatakan adalah kegesitan bergerak, cepat lari, kemung­kinan menghindari tubrukan yang melatih gerak naluriah lebih tajam.

Selaputnya apabila kita lihat dari latar belakang para pemain, bahwa permainan ini tidak boleh dimainkan campuran jenis anak laki-laki dengan anak perempuan, jadi kelompok bermain harus­lah anak-anak sejenis ini, karena dalam permainan ada konsekuen­sinya, apabila kalah maka kelompok yang kalah harus menggen­dong kelompok yang menang. Tidaklah pantas jika anak perem­puan harus menggendong anak laki-laki atau sebaliknya anak laki- laki harus menggendong anak perempuan.

Pada saat ini ^permainan le-alle bengko sudah mulai kurang berkembang bahkan mulai punah. Walau pun masih ada anak-anak yang memainkan permainan le-alle bengko ini. namun dapat di­hitung dengan jari. Seperti juga dengan permainan-permainan tra­disional lainnya,, maka permainan ini makin lama makin terdesak oleh bermacam-macam persoalan atau terdesak oleh kesibukan- kesibukan anak itu sendiri seperti: menyelesaikan tugas-tugas pelajaran sekolah; kegiatan-kegiatan sekolah; membantu orang tua, mencari nafkah; cara, antara lain, menunggu warung atau berkeli­ling beijualan kue-kue. Kesempatan bermain di siang hari makin berkurang, sehingga permainan le-alle bengko ini, seringkali di­mainkan pada malam hari menjelang bulan purnama.

Disayangkan sekali bila permainan ini menjadi punah. Padahal apabila kita lihat permainan le-alle bengko ini sangatlah baik untuk pembinaan anak-anak (proses sosialisasi), karena permainan itu sendiri mempunyai nilai-nilai yang dapat membentuk jiwa dan si­fat anak agar beijiwa sportif, trampil dan sigap. Dengan melalui permainan ini, si anak akan berkembang daya pikirnya dan pula
sifat kegotong-royongan yang telah tertanam di desa akan selalu terbawa dalam pembentukan pribadinya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Madura- Jawa timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, 1991. hlm. 24-42

Pe-sapean

Deskripsi Permainan.

Pe-sapean adalah permainan rakyat tradisional yang hanya terdapat di Kabupaten Sumenep, tepatnya di daerah Kecamatan Ambunten yakni di desa-desa Ambunten Tengah dan Tamba Agung Barat Kabupaten Sumenep. Secara harfiah kata pe-sapean (bahasa Madura) berarti sapi akan tetapi maksudnya bukan berarti sapi sebenarnya, namun menyerupai bentuk sapi.

Permainan pe-sapean bersifat religius magis, karena permainan ini merupakan bagian dari upacara minta hujan, yang mempunyai kaitan kepercayaan yang kuat dengan kehidupan petani dan pe­ternak sapi, yang kegiatannya tergantung pada perubahan musim, seperti kemarau yang panjang akan menyebabkan pertanian ter­hambat. Permainan ini dilaksanakan waktu upacara minta hujan yakni pada musim kemarau, di waktu siang hari. Pe-sapean dapat pula etangga (diundang bermain) untuk selamatan perkawinan, yang dalam pelaksanaannya terpisah dari upacara minta hujan. Akan tetapi yang mengundang harus memenuhi persyaratan, yakni harus menyediakan sesajen tertentu.

Bagi para petani, permainan ini merupakan suatu permainan yang khas, karena di dalamnya terkandung unsur religius ^magis di mana ada sa’saba (sesajen) yang diunjukkan kepada Se Araksa (Yang Kuasa), lengkap dengan pembacaan do’a secara Islam, untuk memohon keselamatan dan kebahagiaan segenap penduduk desa; dunia akherat, agar segera diturunkan hujan sehingga panen­nya berhasil.

Para pelaku dari permainan pe-sapean ini terdiri dari enam atau tujuh orang. Dua orang yang memakai topeng sapi dan masing- masing ada yang menjadi pengendali sapi dengan memegang tali kendali lalu dua atau tiga orang lagi bertopeng yang menjadi badut. Semua pemain ini terdiri dari para petani laki-laki dewasa atau agak tua. Laki-laki yang menjadi sapi ini memakai topeng sapi, sedangkan yang menjadi badut juga memakai topeng yang aneh-aneh tetapi lucu.

Peralatan yang dipergunakan untuk permainan pe-sapean ini terdiri dari topeng berikut segala perlengkapannya, ba’saba (sesa­jen) serta satu stel gamelan sronen. Perlengkapan topeng yang menyangkut permainan pe-sapean terdiri dari: empat buah rape (perlengkapan penutup bagian badan sapi di depan), empat buah jamang (mahkota di kepala sapi), empat buah sabbau (untaian kain yang dikaitkan-di leher), sampur yang dipakai sapi dan peng­endali masing-masing selembar; jadi berjumlah enam lembar, empat buah kalembang (sayap) yang dipakai oleh sapi, empat buah gungseng (genta) yang ditaruh di kaki sapi, dua utas tali atau selendang pengikat lengan sapi agar bergandengan menjadi satu, dua untai bunga merah yang ditaruh di atas tali, pengikat lengan sapi yang digandeng masing-masing seuntai dan masing-masing empat stel baju dan celana tanggung yang dipakai sapi. Baju ter­sebut berwarna biru dan celana berwarna hijau. Juga tidak lupa pakaian adat desa yang berwarna hitam dan kaos lurik merah untuk kedua pengendalinya. Tiga atau dua topeng berikut baju yang lucu, yang dipakai badut-badut, dan dapat pula ditambahkan dua buah cambuk yang dipegang oleh kedua pengendali sapi. Sedangkan perlengkapan ba’saba’ (sesajen) untuk searaksa terdiri dari sebuah anjer (bambu panjang yang dipancangkan di tempat upacara dengan dihiasi umbul-umbul), dan sebuah ancak yang terbuat dari pelepah pisang dan dibangun seperti meja kecil segi empat untuk tempat sesajen. Ancak berikut sesajen ini ditaruh di bawah anjer, yang terdiri dari: nasi putih, sekkol (dibuat dari parutan kelapa), kembang bubur (bunga irisan pandan harum damar kembang (lampu minyak kelapa bersumbu kapas), aeng merra (air merah, dapat pula terbuat dari strup merah) di dalam gelas dengan bunga mawar merah dan jajan pasar yakni kue-kue yang dijual di pasar yang terbuat dari tepung beras dan dicetak menyerupai binatang. Apabila yang diundang itu orang? maka pengundang permainan itu yang harus menyediakan sesajen be­rupa beras yang ditempatkan di pennay (semacam kuali dibuat dari tanah dibakar), sebuah kelapa dan seekor ayam berbulu putih mulus. Dan sesajen tersebut nantinya diberikan kepada para pe­main.

Ba’saba (sesajen) disediakan untuk se araksa. Dan yang me­nyiapkannya adalah para wanita yang suci. Maksudnya, wanita yang sedang datang bulan tidak boleh turut bekerja.

Apabila waktu dan tempat untuk melaksanakan permainan ini telah ditentukan, juga para pelakunya telah ada, serta peralatan untuk memainkan permainan pe-sapean ini telah disiapkan, maka permainan pun dapat dimulai. Dalam pelaksanaannya, permainan ini diiringi gamelan sronnen, karena sronnen sebagai gamelan pengiring dari permainan pe-sapean ini merupakan kesatuan. Sronnen sebagai gamelan pengiring permainan pe-sapean ini ter­diri dari: sebuah kendang kecil dan sebuah kendang besar, sebuah gong kecil dan gong besar, sebuah atau dua buah sronnen (se­macam klarinet khas Madura).

Karena permainan pe-sapean ini merupakan bagian dari pada upacara minta hujan, maka yang diutamakan adalah penyelengga­raan upacara itu sendiri. Upacara itu diselenggarakan di tengah ladang. Sebagai tanda pusat upacara, maka di sana dipancangkan anjer umbul-umbul dan di bawahnya diletakkan ba’saba yang di­tempatkan di atas ancak. Di dekatnya selalu mengepul asap ke- -menyan dupa. Penduduk desa lalu mengitari tempat pusat upacara yang akan diselenggarakan.

Kemudian salah seorang dari pemimpin upacara membacakan do’a secara Islam. Setelah dibacakan do’a permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang maksudnya agar terkabul hajat pen­duduk desa serta kebahagiaan dunia akheral, maka ke luarlah para pemain pe-sapean dengan diiringi irama sronnen. Sapi-sapi tiruan yang berpakaian dengan perlengkapannya lalu menggerak-gerakkan tubuhnya yang seakan-akan sedang menari sambil menelusuri ladang-ladang gersang di tempat upacara itu. Gerakan-gerakan permainan dari dua orang manusia bertopeng sapi yang masing-masing orang ada pengendalinya itu mengge­rak-gerakkan, seluruh tubuhnya seperti sapi yang sedang mem­bajak tanah-tanah ladang. Dan di depan pasangan sapi-sapian itu ada dua atau tiga orang badut yang bertopeng. Badut-badut yang bertopeng, menyerupai kucing, lalu menari-nari dan menimbulkan gerak gerakan yang lucu seakan-akan menunjukkan jalan, ladang  mana yang akan dibajak.

Gerakan-gerakan ritus dari pe-sapean itu tidak berlangsung lama, kira-kira hanya antara setengah atau satu j&m sudah selesai. Dengan selesainya permainan pe-sapean, maka selesai pula upacara minta hujan di desa tersebut.

Sehari sebelum upacara minta hujan dimulai, di ladang yang akan ditempati upacara, telah ramai orang yang berjualan, meski­pun di situ tidak ada tontonan. Apabila etangga (diundang) orang untuk meramaikan upacara khitanan maka permainannya agak. lama, dan gerakan-gerakannya pun lebih bebas di mana para badut­nya lebih lucu tingkah lakunya. Sebelum bermain, sesajen yang harus disediakan oleh pengundang terlebih dahulu dibakari ke­menyan dan diberi bunga. Hal ini dimaksudkan agar permainan itu berlangsung Tancar dan selamat.

Analisa.

Pulau Madura umumnya dan khususnya Kabupaten Sumenep merupakan penghasil ternak sapi terbesar di Jawa Timur. Para peternak dan petani Madura sangat mencintai sapinya, seperti yang diungkapkan dalam pepatahnya yang berbunyi se ngorebi sengko area yang artinya “yang menghidupi aku ini ialah sapiku”. Oleh karena itulah, banyak unsur-unsur kebudayaannya mem­visualisasikan keakraban mereka dengan sapi, di antaranya dalam permainan rakyat tradisional yakni pe-sapean.

Permainan pe-sapean ini hanya terdapat di daerah Kecamatan Ambunten, di Kabupaten Sumenep. Situasi daerah ini telah me­latarbelakangi kebudayaan dari permainan tersebut, karena daerah itu terletak di daerah pegunungan yang curah hujannya kurang sekali. Sebagian besar daerah ini terdiri dari tanah ladang serta sawah tadah hujan yang tergantung pada turunnya hujan. Tanah ladang ini menghasilkan jagung yang terbesar di pulau Madura, sedangkan sawah tadah hujan, menghasilkan padi yang cukup untuk daerahnya saja.

Seperti diketahui desa-desa di Kecamatan Ambunten ini, sebagian besar tanah ladangnya merupakan tanah tandus. Ladang- ladang itu merupakan tempat tumpuan harapan petani, begitu pula sapi adalah binatang ternak yang sangat berharga bagi mereka. Oleh karena itu, hidup ternak tersebut sangat diperhatikan dan diutamakan. Penduduk yang hidupnya tergantung pada hujan, se­tiap tahunnya di akhir musim kemarau selalu menghadapi masalah kekurangan air.

Dalam menghadapi musim kemarau yang mengakibatkan bencana kekurangan air ini, masyarakat berembuk untuk mengatasi­nya. Mereka berusaha dengan jalan meminta kepada Yang Kuasa agar diturunkan hujan yakni dengan cara mengadakan upacara.

Seperti diketahui penduduk desa ini semuanya beragama Islam, di mana unsur-unsur kebudayaan Islam tampak jelas ter­lihat pada masyarakat petani dalam melaksanakan upacara adat, di antaranya upacara minta hujan. Dalam mengawali kegiatan upa­cara minta hujan, dari segi agama berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa; sedangkan dari segi kepercayaannya masih tampak ada­nya sisa-sisa kepercayaan tradisional. Mereka masih piengikuti jejak para leluhur dengan menyediakan ba’saba untuk Searaksa yang memohon agar hujan segera diturunkan. Namun demikian, do’a yang diucapkan adalah do’a dalam ajaran agama Islam.

Upacara yang bersifat religius magis itu melibatkan segala aspek dalam kehidupan para petani dan peternak, karena di dalam­nya berkaitan satu dengan yang lainnya seperti keperluan per­tanian dan peternakan. Dalam pertanian, mereka membutuhkan agar diturunkan hujan sehingga sawah dan ladangnya berhasil di­panen. Begitu pula dalam peternakan, di mana sapi sangat berharga bagi mereka di samping, untuk membajak sawah dan ladang juga dapat menghasilkan. Oleh karena itulah, dalam upacara ini dilibat­kan sapi, sehingga lahirlah permainan pe-sapean.

Pe-sapean itu sendiri seperti yang telah disebutkan di atas, artinya sapi; akan tetapi bukanlah berarti sapi yang sebenarnya, tetapi berhak seperti sapi. Dalam permainan ini, pemain memakai topeng sapi dan di belakangnya dikendalikan sehingga seolah-olah petani yang sedang membajak ladangnya karena tanahnya gembur oleh hujan yang telah membasahinya. Sapi bagi mereka merupakan bagian dari hidupnya yang mahal. Oleh karena itulah peranan sapi yang digantikan oleh dua orang petani dengan memakai topeng kepala sapi melakukan gerakan-gerakan tiruan sedang membajak ladang. Sapi-sapi tiruan itu dilengkapi dengan perlengkapan se­perti yang telah disebutkan terdahulu, jadi seakan-akan bukan sapi biasa

Sapi yang oleh penduduk desa dianggap penting, karena selain menghasilkan juga dapat digunakan untuk menggarap sawah ladang, karena itu mereka viasualisasikan sapi yang sedang mem­bajak ladang petani dalam bentuk permainan. Dalam mengvisuali- sasikan permainan ini, mereka lakukan dalam bentuk kehidupan petani yang sedang melaksanakan pekeijaannya, selalu bergotong- royong. Hal ini, dapat dilihat dalam menghadapi musim kemarau, penduduk desa secara berembuk memecahkan masalah. Di sini kehidupan masyarakat desa untuk bergotong-royong masih ter­tanam, karena kehidupan gotong-royong merupakan bagian dari kehidupan para petani yang tidak dapat dipisahkan. Misalnya, ketika musim kemarau yang terlalu lama sehingga mengakibatkan tanahnya menjadi tandus maka mereka berusaha agar desanya dituruni hujan. Untuk itulah mereka berembuk mengadakan upa­cara minta hujan agar oleh Yang Maha Kuasa diberi secepatnya turun hujan.

Permainan pe-sapean sudah ada sejak dahulu, karena memang merupakan bagian dari upacara minta hujan yang dalam pelaksa­naannya bersamaan dengan dilakukannya upacara tersebut. Per­mainan ini mempunyai arti yang sangat penting dalam meningkat­kan nilai-nilai budaya, karena di dalamnya terdapat unsur-unsur rasa persatuan, religius magis dan gotong royong yang ditanam dalam kehidupan masyarakat petani. Permainan itu sendiri berasal dari kehidupan para petani dan peternak, yang kesemuanya ter­cermin dalam bentuk permainan. Bentuk permainan itu sendiri bukanlah merupakan permainan yang kompetitif, tetapi permain­an yang sifatnya hiburan dan di dalamnya terkandung unsur religius magis. Selain dilakukan pada upacara minta hujan juga dapat dilakukan ujituk selamatan lainnya, seperti perkawinan atau pun khitanan. Walau pun demikian unsur religius masih tampak, yakni ketika akan diselenggarakan orang yang mempunyai hajat harus menyediakan sesajen yang diberikan kepada para pemain. Maksudnya agar yang dianggap mempunyai kekuatan magis dapat memberi rahmat kepada para pelaku permainan maupun kepada orang yang sedang melakukan perhelatan tersebut, sehingga para pemain dan para penyelenggara tidak kena amarah dari Yang Kuasa.

Apabila kita kaji dari latar belakang upacara minta hujan ini, dapat kita simpulkan bahwa upacara minta hujan ini melibatkan suatu permainan rakyat yakni permainan tradisional. Walaupun permainan ini merupakan bagian dari upacara minta hujan karena yang dituju adalah memohon kepada Yang Kuasa agar diberi hujan, tetapi di sini melibatkan suatu permainan di mana sapi yang menjadi alat utamanya. Karena sapi merupakan bagian dari kehidupan petani yang tidak dapat dipisahkan. Ada pun nilai-nilai yang terkandung dalam permainan ini, yakni rasa solidaritas yang spontanitas, kegotong-royongan dan religius magis.

a.       Rasa Solidaritas. Di sini tampak rasa solidaritasnya, yakni para pemain yang menjadi “sapi”. Karena permainan pe-sapean ini untuk kepentingan,bersama, maka mereka rela untuk melaku­kan permainan tersebut.

b.       Kegotong-royongan Unsur kegotong-royongannya tampak jelas, dalam melakukan permainan pe-sapean. yakni yang ber­topeng sapi (menjadi sapi) dikendalikan oleh orang yang me­megang tali kendali. Sapi tersebut dikendalikan untuk melakukan pekeijaan seolah-olah sedang membajak ladang, yang kemudian ketika permainan ini dilakukan diiringi oleh sronnen. Sronnen dengan permainan tersebut merupakan kesatuan yang tidak boleh dipisahkan, karena apabila tidak diiringi sronnen, permainan tidak akan terlaksana. Begitu pula dengan badut-badutqya yang mem­berikan variasi terhadap jalannya permainan itu. Pelaksanaan per­mainan merupakan hasil rembukan dari para warga desa yang merasa gelisah karena tanahnya tandus. Sehingga dalam melaksana­kan permainan dilakukan secara bersama-sama dengan bergotong- royong baik dalam materiil maupun moril.

c.        Religius magis. Unsur religius magis tampak, sebelum permainan ini dilakukan, terlebih dahulu disediakan perlengkapan ba’saba (sesajen) untuk Searaksa. Sesajen tersebut harus dilakukan oleh para wanita yang suci, maksudnya yang sedang datang bulan tidak boleh turut bekerja. Kemudian, juga dilakukan pembacaan do’a-do’a yang memohon agar terkabul keinginannya. Jadi dengan demikian permainan ini sangat sakral bagi penduduk desa itu, karena di dalamnya terkandung unsur religius magis. Nilai-nilai di atas, satu dengan yang lainnya berkaitan yang tidak dapat dipisahkan, karena kehidupan magis religius dalam kehidupan masyarakat terutama, masyarakat petani sangat mem­pengaruhinya. Demikian pula bila kita kaji dari latar belakang pelaku permainan, di’mana pelaku-pelaku permainan tersebut harus laki-laki dewasa, atau yang agak tua, hal ini karena di dalam gerak-geriknya sangat berat, jadi memerlukan fisik dan tenaga yang kuat.

Permainan pe-sapean itu sendiri,  bukan merupakan permainan yang kompetitif. Akan tetapi merupakan permainan yang sifatnya hiburan yangsdi dalamnya terkandung unsur religius magis. Ketika akan dilaksanakan sebelumnya harus disediakan perlengkapan ba’saba (sesajen) seperti yang telah disebutkan di atas. Selain itu, permainan pe-sapean dapat pula dilakukan untuk perhelatan lain­nya, yang terlepas dari upacara minta hujan. Tetapi si penyeleng­gara harus pula.menyediakan sesajen untuk Searaksa. Maksudnya, agar yang dianggap mempunyai kekuatan magis dapat memberi­kan rahmat baik kepada para pelaku permainan miu pun kepada yang punya hajat perhelatan. Oleh karena itulah permainan ini masih dianggap sakral. Adapun sifat hiburan yang terdapat dalam permainan ini, yaitu ketika permainan ini dimainkan ada badut- badut yang lucu, yang menyebabkan permainan pe-sapean juga berfungsi sebagai tontonan yang bersifat menghibur penduduk.

Pada saat ini, permainan pe-sapean masih merupakan bagian dari upacara minta hujan di desa Ambunten Tengah dan Tamba Agung Barat. Bahkan permainan tersebut kini telah diorganisir dan diajarkan pula kepada para pemuda dan gadis-gadis dengan gerakan-gerakan yang divariasikan sedemikian rupa, sehingga mengena pada selera masyarakat pada masa kini. Akan tetapi, tujuannya bukan untuk dikomersilkan, hanya maksudnya agar permainan tersebut beserta alat-alatnya tidak terbengkalai dan kelestariannya tetap terjaga. Selanjutnya juga agar permainan ter­sebut tidak hanya setahun sekali muncul di dalam upacara, tetapi dapat juga .dipertunjukkan untuk meramaikan perhelatan, seperti perhelatan perkawinan, khitanan atau remo (upacara peralatan), asalkan saja yang menyelenggarakan harus menyediakan sesajen yang telah ditentukan karena masih dianggap sakral.

Jadi dengan demikian dapatlah disimpulkan, bahwa sampai sekarang penduduk Madura masih dapat menerima, dan bahkan mempelajari permainan tradisional sebagai warisan dari leluhur­nya. Hal ini, karena permainan tersebut dapat mendidik anak-anak untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, untuk berperilaku dan bermental baik sesuai dengan norma-norma agama di dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga sebagai generasi penerus tidak saja kaya akan ilmu pengetahuan tetapi didukung pula oleh ilmu agama sebagai pengendali moral.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Madura- Jawa timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, 1991. hlm. 52 -60

Dukka Ronjangan

Deskripsi Permainan

Dukka ronjangan-adalah suatu permainan rakyat yang berasal dari daerah Bangkalan – Madura. Dukka ronjangan terdiri dari dua kata yakni dukka dan ronjangan. Dukka berarti membunyikan ronjangan dengan memukulkan alat semacam alu. Sedangkan ronjangan berarti tempat untuk menumbuk padi yang bentuknya memanjang, terbuat dari kayu. Jadi apabila kita teijemahkan se­cara harfiah ke dalam bahasa Indonesia dukka ronjangan berarti memukul ronjangan atau membunyikan ronjangan. Dukka ron­jangan, suatu permainan di kalangan petani untuk bergembira ria setelah panen padi.

Dukka ronjangan ini adalah permainan yang khas di kalangan petani Madura dalam menunjukkan kegembiraan mereka karena panen sangat memuaskan. Sambil menumbuk padi wanita-wanita petani itu mempermainkan gentongnya (alu) ke sisi ronjangan se­hingga menimbulkan suara. Karena berat gentong itu berbeda dengan yang lain, maka bunyi yang ditimbulkan berbeda pula. Ronjangan yang dipergunakan untuk bermain sambil menumbuh padi itu cukup menampung empat pasang penumbuk. Bunyi yang ditimbulkan oleh gentong-gentong (alu) yang epakotek (dipukul­kan) pada sisi ronjangan itu menimbulkan bunyi-bunyi yang bersi­fat menghibur kelelahan mereka. Sambil mempermainkan gentong- gentong para penumbuk padi, dapat menimbulkan bunyi yang beraneka ragam dan serasi, sehingga menguatkan mereka untuk menumbuk padi selama mungkin.

Permainan ini umumnya dimainkan pada siang hari. bersama­an dengan waktu orang menumbuk padi. Tetapi karena permainan ini sangat digemari para petani, maka dalam menyelenggarakan selamatan pun dukka ronjangan ini dimainkanorang pula. Dimain­ kannya sesuai dengan sifat selamatannya. Apabila dimainkan un­tuk selamatan perkawinan, maka permainan ini dilakukan pada malam hari, sedangkan untuk selamatan khitanan dapat dimain­kan pada pagi hari atau malam hari. Malah kadang-kadang pagi- pagi buta sudah dimainkan orang, bersamaan dengan disembelih- nya sapi untuk selamatan itu. Selain itu dukka ronjangan dapat pula dimainkan sewaktu-waktu, ada kematian, yang kegunaannya untuk memberitahu penduduk, akan tetapi dimainkan dengan ritme yang khusus.

Hal seperti di atas menunjukkan bahwa permainan dukka ronjangan selain untuk menghibur atau penghibur pelepas lelah juga berkaitan pula dengan upacara-upacara selamatan (misalnya, perkawinan, khitanan) dan sebagai penyampaian berita kematian. Memang sebelum ronjangan ini dimainkan, baik untuk kepen­tingan apa pun juga, permainan maka permainan ini selalu didahu­lui dengan membakar kemenyan dan menyediakan menangan (tempat sirih pinang) yang tutupnya dibuka dan ditaruh (tutup­nya) di dalam lobang ronjangan tersebut, sehingga waktu edukka menimbulkan bunyi gemerincing. Akan tetapi, tutup menangan tersebut tidak ditaruh dalam lobang ronjangan apabila sedang me­numbuk padi. tetapi ditaruh di sisi ronjangan berikut menangan­nya. Bunyi yang ditimbulkan oleh dukka tersebut tidaklah me­ngandung irama seperti gambang atau alat musik kolintang yang dapat membawakan satu lagu. Bunyi dukka ronjangan hanya se­kedar sekumpulan bunyi yang tidak dapat membawakan irama lagu (nyanyian). Ronjangan memang tidak dibuat dengan tujuan untuk alat musik,tetapi untuk menumbuk padi.

Pelaku permainan dukka ronjangan ini terdiri dari wanita yang berusia antara lima belas sampai dengan tiga puluh tahun, yaitu mereka yang fisiknya cukup kuat. Sebenarnya dapat saja dimain­kan wanita yang berusia kurang dari lima belas tahun, tetapi biasanya mereka memainkan masih kurang mantap, sebab mereka umumnya gi’jar ajar (masih belajar). Dapat juga yang ikut bermain wanita yang usianya lebih dari tiga puluh tahun, akan tetapi ke­mungkinan mereka hanya kuat memainkan beherapa set irama sa­ja, kemudian sudah merasa lelah. Oleh karena itulah wanita-wanita yang sudah tua atau berusia lanjut hanya bertugas mengajar, mem­bina, menilai dan kalau perlu membetulkan permainan wanita- wanita muda itu agar bunyi irama dukka ronjangan menjadi sera­si dan enak didengar.

Satu stel pasangan pemain pada setiap ronjangan terdiri dari sebelas orang wanita. Mereka mempunyai tugas bagian bunyi ter­tentu, sehingga mereka juga tetap pada posisi tertentu pula. Arti­nya, ia harus berada di bagian mana dan harus memukul di bagian mana pula serta gentong yang mana yang menjadi pegangannya. Kaum pria tidak mempunyai keahlian dalam dukka ronjangan ini, karena dukka ini berkembang dari pekerjaan noto padi (me­numbuk padi), dan yang mempunyai kewajiban menumbuk padi hanya kaum wanita saja. Para pria hanya membantu mengeluarkan dan mengusung ronjangan itu ke luar dari tempat penyimpanan­nya. Memang tidak disediakan tempat penyimpanan yang khusus, akan tetapi umumnya ronjangan tersebut ditaruh di sisi rumah, terlindung dari panas matahari dan air hujan, dan jauh dari bina­tang rayap. Bagi yang sudah berumur tua, maka perawatannya lebih teliti, sebab bisa terjadi ronjangan yang berkualitas baik yang tentu bunyinya baik, dapat dicuri orang, sekali pun beratnya lebih dari dua kwintai

Alat perlengkapan permainan ini adalah sebuah ronjangan (tempat untuk menumbuk padi) dan sebelas buah gentong (alat penumbuk). Ronjangan ini terbuat dari kayu camplong atau kayu nangka. Panjang ronjangan sekitar tiga meter dengan garis tengah­nya enam puluh sentimeter. Bagian yang berlobang (tempat padi ditumbuk) sepanjang dua meter, lebar empat puluh sentimeter dan dalam lobang sekitar tiga puluh sentimeter. Bagian yang tidak berlobang masih merupakan kayu yang bulat, bagian bawahnya ditipiskan, sedangkan bagian atas ronjangan diratakan. Selain itu ada dua potong pohon sebagai pengganjal yang ditaruh di bawah ronjangan, maksudnya agar tidak mudah rusak beradu dengan tanah. Sedangkan gentong yang dipakai sebagai alat penumbuk terbuat dari kayu nangka atau camplong yang panjangnya satu setengah meter dengan garis tengahnya sepuluh sentimeter, berat­nya tiga kilogram, dan di bagian tengah gentong itu diberi lekuk untuk tempat pegangan.

Permainan dukka ronjangan ini tidak diiringi oleh musik atau pun nyanyian ketika permainan ini berlangsung. Permainan ini sifatnya spontanitas. Begitu ada bunyi “dung-dung” berkali-kali sudah cukup dimaklumi, bahwa bunyi yang berasal dari pukulan gentong pada ronjangan itu merupakan ajakan untuk noto padi (menumbuk padi) dan bisa juga untuk memberitakan berita duka.

Mereka yang kebetulan tidak bekerja atau yang mempunyai waktu senggang segera mendatangi asal bunyi ronjangan itu.

Seperti yang telah disebutkan di atas, mungkin saja panggilan “dung-dung” itu merupakan ajakan untuk membantu menumbuk padi atau hanya untuk mengajak bermain dukka ronjangan. Tidak lama kemudian permainan dukka ronjangan sudah kedengaran ke . seluruh dusun. Tetapi sebelum permainan ini dimainkan, pe­miliknya terlebih dahulu membakar kemenyan atau dupa serta menaruh menangan terbuka di dekat ronjangannya tersebut.

Apabila yang datang lebih dari sebelas orang, maka bergantian­lah mereka bermain. Umumnya ronjangan tidak kosong begitu saja, tetapi dukka membunyikan ronjangan dengan gentong (alu) mengiringi penumbukan padi. Ada kalanya pemberitahuan secara beranting, bahwa di suatu tempat besok orang akan menumbuk padinya. Maka tanpa diundang mereka yang kebetulan tidak mem­punyai tugas di rumahnya, selalu datang untuk membantunya. Begitulah mereka sambil menumbuk padi. memainkan dukka, bersenda gurau bergantian menumbuk padi sehingga tanpa terasa pekeijaan menumbuk padi itu selesai.

Pemain-pemain yang baik, seringkali diundang untuk bermain di perhalatan atau selamatan, misalnya perkawinan, khitanan. Misalnya di perhalatan perkawinan dipinjam ronjangan yang baik dan para pemainnya pun tanpa diupah. Hanya diberi makan minum saja serta diberi berkat secukupnya. Apabila dalam per­kawinan itu, persiapan-persiapannya sudah diselenggarakan se­belumnya, misalnya membuat dodol, menyembelih sapi dan se- bagainya, maka irama-irama dukka ronjangan itu pun disesuaikan dengan selamatan yang akan dilaksanakan. Misali)ya. waktu me­nyembelih sapi, irama yang dibunyikan adalah nyambeli sape. Waktu membuat dodol, iramanya juga aola dudul (membuat dodol). Setiap pemain mempunyai keahlian khusus dalam dukka, ada yang bagian “dung-dung”, ada yang bagian kotek. bagian ngojur. “Dung-dung” dapat disamakan iramanya dalam gamelan dengan gong. sedangkan ngojur sama dengan gendang. Dalam se­lamatan perkawinan di malam hari, maka dukka ronjangan ini mulai bermain sekitar pukul 19.00 dan berakhir sampai dengan pukul 24.00

Analisa

Dukka ronjangan sebagai suatu permainan rakyat di Madura ini, mempunyai ciri dan khas rakyat Madura, khususnya masya­rakat petani. Hal ini, karena bentuk permainan dukka ronjangan sebagai ciri dari permainan para petani alatnya adalah berupa gentong (alu) dan ronjangan (lesung) tempat menumbuk padi. Kata dukka ronjangan itu sendiri yang terdiri dari dua kata, yakni dukka dan ronjangan. Dukka artinya “menyembunyikan ronjang­an”, sedangkan ronjangan artinya “tempat untuk menumbuk padi”.

Padi biasanya ditanam oleh para petani. Pada umumnya pen­duduk Madura ini bersifat agraris, karena mata pencaharian pokok penduduk adalah sebagai petani sesuai dengan iklim tropis yang memungkinkan mereka untuk bercocok tanam. Oleh karena itu, di,daerah ini banyak sawah. Sebagian besar sawah-sawah ter­sebut merupakan sawah tadah hujan, artinya hanya dapat di­tanami padi sekali dalam setahun. Jika musim panen tiba, ber­duyun-duyunlah mereka untuk menuai padi. Pada umumnya kaum wanitalah yang memotong padi, begitu pula pekeijaan menumbuk padi dilakukan pula oleh kaum wanita. Mereka tidak memanfaat­kan mesin penggiling padi (huller), karena mereka lebih senang menumbuk padinya di ronjangan sambil bermain dengan cara mempermainkan gentongnya (alunya) ke sisi ronjangan sehingga menimbulkan suara.

Pekerjaan menumbuk padi biasanya dikeijakan bersama-sama dengan sanak keluarga atau dengan tetangga sedesa bergotong- royong secara spontanitas. Kegiatan gotong-royong ini merupakan ciri masyarakat petani pedesaan, sehingga keakraban antara pen­duduk nampak jelas. Pekeijaan menumbuk padi yang dilakukan oleh kaum wanita ini, merupakan suatu ciri adanya pembagian tugas antara kaum wanita dengan kaum laki-laki dalam masyarakat petani. Kaum laki-laki biasanya mencangkul dan membajak se­dangkan kaum wanita menyiangi, menuai padi sampai menumbuk padi untuk dijadikan beras.

Kaum wanita sebagai penumbuk padi, biasanya sambil ber­main karena ketika menumbuk badan pun turut bergerak seperti sedang melakukan gerak badan. Oleh karena itulah yang akhli dukka (membunyikan ronjangan) hanyalah kaum wanita. Bunyi dukka yang terdengar di kampung inilah yang akan memberikan semangat keija para petani yang sedang bekeija di sawahnya. Irama dukka bagi mereka merupakan bagian dari hidupnya, karena dapat memberi semangat keija, menghibur dirinya dan menjadi bagian yang meramaikan upacara selamatan serta menjadi alat penyampaian berita kematian warga desanya.

Apabila dilihat dari bentuk permainan’ini, permainan dukka ronjangan merupakan suatu permainan khas para petani dengan kondisi lingkungan di mana keadaan sosial masyarakatnya telah melatarbelakangi budaya dalam bentuk permainan rakyat.yang memperlihatkan adanya keija sama, didukung pula oleh faktor kegotong-royongan di antara warga masyarakat yang masih ter­jalin dengan baik.

Dukka ronjangan memang sudah ada sejak dahulu. Siapa yang mula-mula melakukan tidak ada yang mengetahui, yang jelas per­mainan ini memang sudah ada dan digemari oleh masyarakat petani. Kemungkinan karena alat permainan ini adalah alat yang biasa digunakan untuk menumbuk padi, maka semula alat-alat tersebut berfungsi untuk menumbuk padi, tetapi karena ketukan- ketukan akibat terbenturnya gentongan (alu) dengan ronjangan (tempat untuk menumbuk padi) menimbulkan bunyi yang berlain­an, maka hal itu melahirkan suatu keinginan untuk menyerasikan bunyi itu sedemikian rupa sehingga enak kedengarannya. Bunyi yang berlainan itu diperoleh dari tumbukan-tumbukan gentongan (alu) pada tempat-tempat yang berlainan di ronjangan, yaitu di bagian dalam, sisi atau di bagian ronjangan yang tebal dan juga karena alu (alat penumbuk padi) itu dibuat dari bahan yang tidak sama. Begitulah dukka ronjangan tidak saja terjadi karena sedang menumbuk padi di ronjangan, tetapi juga terjadi waktu sedang tidak menumbuk padi yaitu untuk mengisi waktu terluangnya dengan hiburan. Akhirnya orang-orang mengkhususkan diri pada pukulan di bagian tertentu di ronjangan yang menimbulkan bunyi tertentu pula. Sehingga dalam permainan kelompok, setiap orang sudah mempunyai keahlian pada bagian-bagian bunyi tertentu.

Permainan dukka ronjangan sebagai salah satu permainan rakyat tradisional, mempunyai arti yang sangat penting dalam meningkatkan nilai-nilai budaya, terutama bagi pelaksana per­mainan ini, karena permainan tersebut menunjukkan rasa ke­akraban antara penduduk sehingga sifat kegotong-royongan ter­pupuk terus.

Dukka ronjangan itu sendiri merupakan suatu permainan yang bersifat hiburan, di mana sifat kompetitif tidak ada sama sekali. Akan tetapi, permainan ini mengandung dua unsur gabungan, yakni unsur bermain dan berolah raga sehingga para pemain ter­libat menikmatinya; dan unsur olah raga yang terlihat pada fungsi permainan ini cocok untuk melatih ketrampilan. Selain itu, para pelaku yang memainkan permainan ini di samping bermain juga dapat menghasilkan. Maksudnya, ketika para pelaku sedang me­numbuk padi maka hasil tumbukannya dapat menjadi beras. Oleh karena itulah, seperti yang telah disebutkan di atas mereka lebih

senang menumbuk padinya untuk dijadikan beras darf’pada meng­gunakan mesin penggiling padi (huller).

Apabila kita kaji latar belakang sosial budaya permainan dukka ronjangan, di mana permainan tersebut berasal dari permainan para petani, yang di dalam pelaksanaannya tidak memandang stra­tifikasi sosial mau pun tingkat pendidikan maka permainan ini benar-benar merakyat. Kemudian permainan ini juga mendukung semangat mereka untuk berekreasi sambil berolah raga. Tehnik memainkan permainan dukka ronjangan itu hanya .memerlukan ketrampilan pada pukulan di bagian tertentu di ronjangan dan pen­dengaran yang tajam, sehingga menimbulkan bunyi tertentu pula. Dan dalam permainan kelompok, setiap orang sudah mempunyai bagian-bagian bunyi tertentu sehingga pada waktu permainan ini dimainkan dapat menimbulkan irama-irama yang enak didengar.

Nilai-nilai yang terkandung dalam permainan ini tampak sekali, yang kesemuanya tergambar dari latar belakang permainan saat para pelaku memainkan dukka ronjangan. Ada pun nilai-

nilai yang terkandung, antara lain:

  1. Rasa solidaritas. Di sini kesadaran antar warga terasa sekali, misalnya jika terdengar suara “dung-dung” yang berasal dari pukulan gentong atau alu pada ronjangan mengajak menumbuk padi, maka akan berduyun-duyunlah mereka mendatangi suara itu. Begitu pula suara “dung-dung” bukan hanya untuk mengajak menumbuk padi, tetapi dapat pula suara itu sebagai pemberitahu­an bahwa ada salah seorang warga yang dapat musibah umpama­nya kematian. Di sinilah terlihat rasa solidaritas di antara warga masih teijalin dengan baik.
  2. Kegotong-royongan. Di sini faktor kegotong-royongan yang tampak yakni ketika mengajak menumbuk padi, maka mereka beramai-ramai menumbuk padi. Dalam melakukan dukka ronjang­an, suara dari gentong ke sisi maupun ke dalam ronjangan oleh para pelakunya dilakukan saling bersahutan sehingga menimbulkan irama yang enak kedengarannya, karena masing-masing pemain atau pelaku mempunyai tugas bagian bunyi yang tertentu sehingga mereka tetap pada posisi tertentu. Artinya, ia harus berada di bagi­an mana dan harus memukul bagian mana serta gentong yang mana pula yang harus menjadi pegangan. Selanjutnya, walaupun dukka ronjangan ini hanya dimainkan oleh kaum wanita bukan berarti kaum pria tidak boleh turut campur. Akan tetapi kaum pria turut pula membantu yakni mengeluarkan dan mengusung bersama-sama ronjangan itu ke luar dari tempat penyimpanannya, begitu pula kalau selesai bermain diusung kembali oleh kaum pria. Di sinilah letak kegotong-royongan dari dukka ronjangan sehingga antar warga terjadi keakraban yang sangat erat.
  3. Unsur relegius. Unsur keagamaan pada dukka ronjangan juga menonjol, di sini dapat dilihat yakni permainan dukka ronjangan selain untuk menghibur juga berkainan dengan upacara-upacara selamatan. Biasanya sebelum dukka ronjangan dimainkan untuk kepentingan apapun juga, terlebih dahulu harus dilakukan pem­bakaran kemenyan dan disediakan menangan (tempat sirih pi­nang). Maksudnya, adalah agar dewi sri tidak marah. Hal ini, karena ronjangan yang merupakan alat atau tempat padi ditumbuk ak an d ipergunakan.

Apabila dilihat dari latar belakang para pelaku dukka ronjang­an, di mana para pelakunya hanya terdiri dari wanita yang berusia antara lima belas tahun sampai tiga puluh tahun. “Hal ini, karena fisiknya masih kuat. Sebenarnya dapat saja wanita yang berusia kurang dari lima belas tahun, tetapi umumnya permainannya masih kurang mantap sebab mereka masih belajar. Sedangkan wa­nita yang berusia di atas tiga puluh tahun biasanya sudah tidak begitu kuat lagi berdiri lama-lama untuk menumbuk padi apa lagi bermain-main dukka yang memakan waktu yang agak lama. Oleh karena itulah tugasnya hanya mengajar, membina, menilai dan kalau perlu membenarkan permainan dari gadis-gadis petani itu untuk tahu cara bermain dukka agar bunyi irama dukka ronjangan menjadi serasi dan enak didengar. Kesatuan bunyi yang serasi itu dapat mengandung irama-irama tertentu, misalnya ngondu asem (menganduh asem), nyambeli sape (menyembelih sapi) dan se- bagainya.

Karena dengan hal yang demikian, maka dukka ronjangan dari fungsi menghibur di kalangan terbatas, kemudian fungsi menghiburnya lebih meluas lag] dengan bermain di waktu ada selamatan perkawinan atau khitanan. Selanjutnya, dukka dapat pula dimanfaatkan untuk memberitakan kematian.

Sampai sekarang perkembangan dukka ronjangan makin man­tap, meskipun tidak ada organisasi akan tetapi banyak yang meng­gemarinya .yang kesemuanya dilakukan secara spontan. Artinya kalau terdengar bunyi dukka, maka berdatanganlah wanita-wanita di sekitarnya untuk turut serta memainkan. Selain permainan tradisional ini dapat dipertahankan terus, maka juga sifat-sifat tradisional seperti gotong royong untuk saling membantu dalam kehidupan apapun juga terkait erat dengan permainan ini, artinya masih terus hidup. Sekali pun banyak pengaruh dari luar datang sebagai akibat sistem komunikasi dengan dunia luar makin membuka, tetapi tidaklah banyak mempengaruhi permainan.

Pada masa yang lalu orang yang memiliki ronjangan itu terbatas, tetapi sekarang hampir setiap keluarga yang memiliki sawah mempunyai ronjangan sekali pun kualitasnya tidak semua baik. Oleh karena itulah, dukka ronjangan hingga sekarang bagi para petani menjadi alat komunikasi yang efektif mengingat rumah mereka satu dengan yang lain berjauhan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Madura- Jawa timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, 1991. hlm.42-52