Andiyanto

Andiyanto16 September I960 Andiyanto lahir di Surabaya. Agama Kristen.

Pendidikan      :

SD di Batu Malang, 1972.

SMP Santo Yusuf Malang, 1976.

SMA Santo Yusuf Malang, 1979.

Kursus :

Tata rias rambut, dasar dan terampil

Tata rias wajah pengantin.

Tata rias rambut tingkat lanjutan.

Alamat kantor Jl. Pejompongan Raya 1/2 Jakarta Pusat Telep Telepon 582795, Alamat rumah      Jl. Trapesium IV Blok A3 No. 7 Taman Kedoya Permai, Kebun Jeruk Jakarta Barat. Setiap kali diadakan lomba kecantikan dan tata rias, kreasi laki-laki berkacamata minus tebal ini, nyaris selalu menang. Bila tidak juara umum, minimal meraih juara dua atau tiga. Itu sebabnya para peserta dan juri sangat akrab dengan kreasi-kreasinya. Bila ada kreasi rumit dan sukar dibuat, para juri pasti menyebut itu kreasi Andiyanto.

Pria berbadan tambun ini, memang spesialis lomba. Hampir setiap ikut lomba ia berhasil meraih juara. Begitu ia mengundurkan diri dari ajang lomba dan memfokuskan diri mengajar, kembali murid-muridnya yang selalu meraih tempat terhormat dalam setiap lomba.

Ornamen rambut yang dibuat pengagum penyanyi Crisye ini, memang agak unik. Ia mampu membuat bentuk rambut menjadi berdiri tinggi tanpa alat bantu. Itu memang kelebihannya. Tahun 1983, pada lomba tingkat ASEAN, Andi, begitu panggilan akrabnya, mengikuti sekaligus dua katagori. Ia berhasil menjadi juara I pada fantasi make-up dan juara II pada evening style.

Andi kemudian merasa bosan ikut lomba, apalagi beberapa juri menyarankan agar ia tidak usah ikut lagi. “Beri kesempatan pada yang lain,” kata Andi mengulangi anjuran seorang juri kepadanya. Sejak itu, bapak beranak satu ini jarang mengikuti lomba. Ia hanya mendidik panata rias yang akan ikut lomba. Andi pun mampu mengorbitkan puluhan muridnya menjadi juara di setiap lomba. Pernah pada suatu lomba, seorang muridnya berhasil menyabet tiga gelar juara sekaligus.

Karier pria yang suka warna hitam dan warna lembut ini, berawal di kota Surabaya. Ia memang lahir di sana, 16 September I960. Masa kecilnya banyak dihabiskan di sebuah kota kecil berhawa dingin, Batu, Malang.

Mulanya, ia sama sekali tidak tertarik pada dunia yang kini di- gelutinya itu. “Sampai saya berhasil menyelesaikan studi di sekolah menengah atas, saya belum memikirkan cita-cita,” aku pria yang menggemari olahraga bulu tangkis ini. Akan tetapi diakuinya, memang ada keinginan dalam hati untuk mendalami dunia seni.

Sejak SD, ia telah menyukai bidang lukis-melukis. Setiap waktu libur, Andi kecil selalu menghabiskan waktunya dengan melukis dan membuat kerajinan tangan. Sayang, kedua orang-tuanya tidak menyetujui keinginan anaknya. “Kamu tidak bakal hidup layak,” kata Andi mengulangi alasan kedua orang-tuanya waktu itu. Alasan ini keluar karena Andi sangat dimanja orang-tuanya, khususnya sang ibu.

Inilah yang menyebabkan laki-laki pengumpul benda-benda seni ini agak kecewa. Ia tidak mau meneruskan sekolahnya setelah tamat SMA di Malang. Dalam kebingungan itulah, salah seorang kakaknya mengajak tinggal di Surabaya. Kakaknya kebetulan ingin mendalami tata rias rambut. Mulanya ia hanya menunggui sang kakak pulang dari kursus. Lama-lama, ia merasa tertarik pada dunia yang sedang ditekuni kakaknya itu.

Andi kemudian minta kepada kakaknya ikut kursus kecantikan rambut. Tentu saja keinginan adiknya ini membuat terkejut sang kakak. Melihat kesungguhan adiknya, akhirnya dia rela menjadi teman sekelas Andi.

Meskipun tergolong muda di kelas itu, Andi cepat menyesuaikan diri. Awalnya memang ada sedikit rasa nervous dalam dirinya. Maklum, dari seluruh murid, hanya ada dua yang berjenis kelamin laki-laki. “Waktu itu, saya sangat lamban. Say a baru bisa menyelesaikan satu kepala contoh dalam satu hari penuh,” cerita Andi mengenang masa lalunya.

Siapa nyana, ketika berlangsung ujian akhir, Andi berhasil keluar dengan nilai tertinggi. “Dari dulu saya punya sifat jelek, tidak pernah mau kalah. Kalau ada orang yang bisa begitu, kenapa saya tidak bisa,” urainya.

Selesai mengikuti pendidikan rambut di Citra Henny, Andi mulai menekuni kariernya sebagai penata rambut. Ia mencoba untuk buka salon kecil-kecilan di rumahnya. Selain itu, melihat bakat besar dalam diri Andi, pimpinan Citra Henny pun memintanya untuk mengajar di tempat kursus tersebut.

Cukup lama Andi mencurahkan perhatiannya menjadi guru kecantikan di Surabaya. Sambil mengajar, ia selalu mengembangkan keahlian di bidang hair ornament. Keahlian inilah yang kemudian hari niembuat namanya besar dan dikenal orang.

Selain mengajar dan membuka salon, anak ketujuh pasangan Nyo Ting Yong dan Poo Kim Tia ini, terus mengikuti perlombaan. Hampir setiap lomba selalu diikuti dan menang. Kondisi ini membuatnya jenuh. “Saya tidak berkembang kalau terus di sini,” celoteh penata rias yang berpandangan hidup ini siapa menabur akan menua.

Akhirnya Andi nekad ke ibukota. Seperti para urban lainnya, Jakarta adalah tumpuan masa depan. Begitu juga yang tergambar dalam kenak penggemar masakan khas Jawa ini. Kebetulan nasib baik memang sedang mengikutinya. Apalagi Andi punya keahlian khusus.

Martha Tilaar, seorang ahli kecantikan yang sudah punya nama waktu itu, mengajak Andi bergabung dengannya. Tentu saja setelah Martha kenal dan melihat bakat besar dalam diri Andi. Tahun 1983, Andi resmi bekerja di lembaga pendidikan kecantikan rambut milik Martha. Ia ditempatkan sebagai guru tata rias rambut tingkat lanjutan.

Cukup lama ia ditempatkan di bagian ini. Melihat keseriusan dan keahlian Andi, selain mengajar, pria yang punya hobi memasak dan mencicipi makanan ini juga di tempatkan di bagian artistik Sari Ayu Puspita Martha. Salah satu bidang usaha yang dimiliki Martha Tilaar.

Ketekunan dan keseriusannya, membuat Martha Tilaar sangat menyukai hasil kerja Andi. Lima tahun bekerja di Martha Tilaar, bukanlah waktu yang singkat.

Berbagai pengalaman dan pengetahuan juga diperolehnya. Beberapa kali Marta Tilaar mengirim Andi untuk belajar ke luar negeri atau mengikuti seminar. Ia pernah dikirim ke Hongkong untuk memberikan makalah di hadapan hairdresser dunia. “Padahal saya belum tahu apa-apa,” katanya merendah.

Tahun 1986, ketika masih aktif mengajar di lembaga pendidikan Puspita Martha, Andi juga mencoba membuka salon. Ruangan kecil di depan rumah yang dikontraknya disulap menjadi salon. Sayang kesibukan mengajar membuat salon ini tidak dapat digarap serius.

Melihat kondisi ini, Andi minta pada Martha Tilaar untuk memberikannya dispensasi. Beruntung, Martha bersedia memberinya kesempatan dengan bekerja part time. Dari pagi sampai siang ia mengajar di Martha. Siangnya laki-laki yang bercita-cita ingin hidup tenteram di hari tua ini, mengelola salon. “Bu Martha banyak berjasa pada saya,” kenangnya.

Salon Andi sedikit tertolong. “Salon itu usaha jasa, bagaimana mungkin maju kalau kita tidak ada di sana,” katanya. Makin lama, salon milik Andi kian berkembang. Kursi yang tadinya tersedia, terpaksa di tambah seiring dengan semakin ramainya langganan. Begitu juga peralatan salon.

Perkembangan pesat ini membuat Andi mulai berhati-hati untuk menjaga klien dan langganan. Ia tidak mau setengah-setengah lagi namun ia masih terikat kontrak dengan Martha. Dua tahun setelah Andi mulai merintis salon, tepatnya tahun 1989, ia minta berhenti kepacia Martha Tilaar dan ingin mandiri dengan mengelola salon sendiri.

Sejak berhenti dari Martha, Andi semakin serius mengembangkan salonnya. Selain itu, ia juga terus menerima murid untuk belajar tata rias rambut. Dalam mengajar, Andi berbeda dengan lembaga pendidikan rambut atau kosmetik lainnya. Ia hanya menerima murid yang sudah tahu dunia salon. “Saya ingin membuat mereka profesional,” kilahnya.

Dalam lembaga pengajaran milik Andi, murid dibatasi paling banyak lima orang. Jumlah ini sangat dibatasi untuk meyakinkan pelajaran benar-benar dapat diterima murid. Biasanya murid yang ikut pendidikan di tempat Andi, telah mengadakan perjanjian sebelumnya. Kebanyakan yang ikut belajar di sini adalah pemilik salon dan ibu-ibu.

Sebagai teman seprofesi dan guru, Andi disukai banyak orang. Ia memang tipe penata rias yang low profile. Dalam membagi ilmu, Andi tidak pernah pelit dan setengah-setengah. Begitu juga di organisasi Tiara Kusuma. Dalam wadah ahli kecantikan Indonesia tersebut, laki-laki yang suka membaca kisah perjalanan hidup orang terkenal ini dipercaya membawahi bidang lembaga.

Itulah Andi yang terus berkiprah di bidangnya. Ia senantiasa belajar dari pengalaman dan memetik hikmah setiap kegagalan. Akan halnya hikmah yang diperoleh di lembaga pendidikan Martha Tilaar, selain pengalaman dan pengetahuan juga seorang istri yang cantik dan kini telah memberinya seorang putra.

Sewaktu mengajar di Puspita Martha, seorang gadis manis berdarah Batak bernama Hermilan Yasmin Simanjuntak telah mencuri hatinya. Hampir setiap hari Andi mengimpikan agar dapat terus mengajar dan bertemu dengan si pencuri hatinya itu. Beruntung, cinta peranakan Cina ini tidak bertepuk sebelah tangan.

Dua tahun berpacaran, akhirnya mereka memutuskan menikah. Waktu itu Andi masih mengajar di Puspita Martha dan mulai membuka salon di rumahnya. Cukup berat perjuangannya mempersunting si gadis pujaan. Maklum, cukup banyak perbedaan di antara mereka. Kedua orang-tua masing-masing, terutama orang-tua Andi, sangat menentang perkawinan ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Top Tokoh Kecantikan/editor Hambali; [et al]. Jakarta: Ciptawidya Swara, 1992, hlm. 51-57

Prof. Ir. R. Goenarso, Kabupaten Ponorogo

gunarso22 Oktober 1908, Prof. Ir. R. Goenarso lahir di Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia.

Tahun 1935, Goenarso lulus sebagai insinyur sipil dari Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung – yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung – ITB).

Tahun 1942, masa pendudukan Jepang echnische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung) ditutup.

1 April 1944, masa pendudukan Jepang, bersama seniornya Roosseno, Goenarso dan beberapa alumni TH Bandung lainnya diangkat menjadi staf pengajar di Bandung Kogyo Daigaku (BKD – Sekolah Tinggi Teknik yang didirikan pemerintah pendudukan Jepang di lokasi TH Bandung). Walaupun sebagai insinyur sipil, Goenarso mengajar mata pelajaran Ilmu Pasti dan Fisika.

Agustus 1945, Bandung Kogyo Daigaku diambil alih dan dibuka kembali dengan nama Sekolah Tinggi Teknik Bandung (STT Bandung), Goenarso pun turut mengajar di sana.

November 1945, STT Bandung dipindahkannya ke Yogyakarta dengan sebutan STT Bandung di Yogya, Goenarso pun turut hijrah ke Yogya.

2 Oktober 1946, Goenarso adalah Menteri Muda Pengajaran pada Kabinet Sjahrir III periode 2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947,

Tahun 1958-1960, menjabat sebagai Ketua Departemen Matematika di ITB.

2 Maret 1959 – 1 November 1959, Goenarso termasuk dalam panitia persiapan pendirian “Institut Teknologi” di Kota Bandung dan diangkat sebagai anggota Presidium ITB untuk menjalankan tugas-tugas administrasi penyelenggaraan ITB sejak ITB diresmikan. Prof. Ir. R. O. Kosasih diangkat sebagai Rektor ITB yang definitif.

Tahun 1959-1967, Goenarso menjabat Ketua Departemen Geofisika dan Meteorologi. Goenarso memang lebih banyak berkecimpung di bidang Matematika walaupun sebagai pengajar luar biasa Departemen Teknik Sipil ITB.

Presidium tersebut dipimpin Prof. Ir. R. Soemono yang beranggotakan Prof. Ir. Goenarso; Prof. dr. R. M. Djoehana Wiradikarta; Prof. Ir. Soetedjo; Panitera: Prof. Dr. Ir. R. M. Soemantri Brodjonegoro.

Prof. Ir. R. Goenarso adalah guru besar Teknik Sipil dan Matematika Institut Teknologi Bandung, dan tokoh yang turut membuka Sekolah Tinggi Teknik (STT) di Bandung, turut memindahkan STT Bandung ke Yogyakarta, dan turut mempersiapkan pengalihan Kampus Ganesha menjadi Institut Teknologi Bandung. Beliau Menteri yang pertama kali menggalakkan pemberantasan buta huruf di Indonesia.

Goenarso selain di ITB beliau juga pernah mengajar di beberapa perguruan tinggi lain termasuk Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD).

6 Maret 1992, pada umur 83 tahun Prof. Ir. R. Goenarso – meninggal. =S1Wh0T0=

Sejarah Jawa Timur

Jawa Timur merupakan satu dari delapan daerah propinsi tertua dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia. Pembentukan propinsi tersebut berlangsung hanya dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, yaitu ketika pada tanggal 19 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia — atau Panitia Kemerdekaan — memutuskan untuk membagi wilayah Republik Indonesia menjadi delapan propinsi yang masing-masing dipimpin oleh seorang gubernur. Sekalipun pelantikan para gubernur di delapan propinsi itu bukan dilakukan pada tanggal 5 September 1945.

Kedelapan propinsi tersebut adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan, Sunda Kecil, Sulawesi, dan Maluku. Propinsi Jawa Timur beribukotakan Surabaya dengan gubernurnya yang pertama R.M.T.A. Surjo.

Proses pembentukan pemerintah daerah Keresidenan Surabaya dapat digambarkan sebagai berikut: Setelah Pemerintah Pusat RI di Jakarta pada tanggal 22 Agustus 1945 mengin­struksikan agar daerah-daerah di selu­ruh Indonesia segera mendirikan Ko­mite Nasional Indonesia (KNI), warga kota Surabaya — dimotori oleh Ang­katan Muda — pada tanggal 28 Agus­tus membentuk KNI Daerah Surabaya

Hingga sekarang masih ada te­ka-teki yang belum terjawab secara pas­ti tentang kelahiran pemerintahan daerah propinsi RI di Jawa Timur dan pemerintahan daerah RI di Surabaya. Sebab belum dijumpai data yang pasti tentang tanggal dan bulan terbentuk­nya pemerintah daerah propinsi RI Ja­wa Timur. Sementara peristiwa terbetuknya pemerintah daerah Keresidenan Surabaya tercatat dengan jelas 3 Sep­tember 1945

Dalam sejarah pertumbuhan pe­merintah RI di Jawa Timur, Surabaya merupakan kota yang pertama kali mencatat riwayat sebagai pusat peme­rintahan daerah yang dapat menja­lankan perannya baik ke dalam mau­pun ke luar. Ketika pemerintah daerah RI di Surabaya sedang mengonsoli­dasikan usaha-usaha pemerintahan ke dalam, banyak persoalan dengan bala tentara Jepang yang harus diselesaikan dengan jalan perundingan. Hal serupa juga harus dihadapi dengan wakil-wa­kil tentara Sekutu.

Maka sekitar dua pekan setelah Proklamasi Kemerdekan Surabaya telah memiliki pemerintahan daerah sendiri dengan residennya yang pertama R. Soedirman. Bersamaan dengan itu di- bentuk pula Badan Keamanan Rakyat (BKR) di bawah pimpinan Sungkono, Dr. Mustopo, Muhammad Yonosewoyo dan beberapa tokoh lainnya. Angkatan Lautnya dipimpin oleh Atmadji

Pembentukan pemerintahan dae­rah Keresidenan Surabaya itu menim­bulkan sengketa dengan pihak Jepang yang beranggotakan 32 orang dan di­pimpin oleh Cak Doel Arnowo, Bambang Suparto dan Dwidjosewojo, ma- sing-masing sebagai ketua I, II, dan III.

Kendati pada waktu itu sudah ter­bentuk KNI Daerah Surabaya, Kere­sidenan Surabaya masih belum memi­liki alat kekuasaan atau pemerintahan daerah RI. Segala sesuatunya masih dipegang oleh penguasa pendudukan Jepang dengan berbagai peraturan mi­liternya. Melihat kenyataan itu bebera­pa tokoh KNI Daerah Surabaya, terma­suk Doel Arnowo, Dr. Angka Nitisastro, Mr. Dwidjosewojo, dan S. Hardjadinata, mengadakan pertemuan di bekas Kan­tor BPP (Badan Pembantu Prajurit) yang terletak di Juliana Buolevard (kini Ja­lan Cendana) Surabaya. Pertemuan ter­sebut memutuskan untuk membentuk pemerintahan daerah, sesuai bunyi Proklamasi Kemerdekaan, guna meng­gantikan kedudukan Syuucokna Jepang dengan seorang residen Indonesia.

Dengan demikian, secara resmi pemerintah daerah Propinsi Jawa Timur baru dapat memulai kegiatannya se­telah Gubernur R.M.T.A Surjo tiba di Kota Surabaya pada tanggal 12 Okto­ber 1945. Dengan cepat dia menyusun staf gubernur yang antara lain terdiri dari Cak Doel Arnowo, Ruslan Abdul Gani, Mr. Dwidjosewoyo, Bambang

Sebab setelah menyerah tanpa syarat kepada pasukan Sekutu, pihak militer Jepang harus tetap memegang kekua­saan sampai Sekutu datang. Jepang dilarang menyerahkan kekuasaan dan persenjataannya kepada siapa pun, ke­cuali kepada Sekutu. Dengan kata lain Indonesia merupakan “barang mati” yang harus dikembalikan kepada pe­miliknya lama: Belanda. Akibatnya, pertempuran antara tentara Jepang dan arek-arek Suroboyo, yang berusaha me­rebut persenjataan dari tangan Jepang, tidak terhindarkan.

Dalam situasi seperti itu pada tanggal 12 Oktober 1945 datang RMTA Surjo di kota Surabaya untuk memang­ku jabatan sebagai Gubernur Jawa Ti­mur. Sebetulnya dia baru dilantik Pe­merintah Pusat sebagai gubernur pada tanggal 5 September. Namun ketika itu Surjo masih disibukkan pembentukan pemerintahan daerah Keresidenan Bo­jonegoro, di mana dia menjadi residen­nya. Dia meletakkan jabatan tersebut pada tanggal 11 Oktober untuk me­mangku jabatan baru sebagai Guber­nur Jawa Timur.Suparto, dan beberapa tokoh lainnya.

Tetapi sama seperti pemerintah­an propinsi-propinsi lainnya, pemerin­tahan Propinsi Jawa Timur juga tidak dapat berjalan lancar karena timbul­nya pergolakan-pergolakan memper­tahankan kemerdekaan. Kedatangan kembali pasukan Belanda dan peja­bat-pejabat Netherland Indies Civil Ad­ministration (NICA) dengan membon­ceng kedatangan tentara Sekutu mem­buat keadaan cepat panas dan genting karena Belanda berusaha merongrong dan menghancurkan pemerintahan Republik Indonesia yang baru saja la­hir.

Hiruk-pikuk kegembiraan me­nyambut Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dengan cepat berubah menjadi suasana persiapan perang begitu pasukan Sekutu merapat di pan­tai Surabaya pada bulan September. Pa­ra tokoh Jawa Timur mencium keha­diran pasukan Belanda dan pejabat- pejabat NICA di belakang tentara Se­kutu untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan militer Jepang yang telah menyerah tanpa syarat kepada Seku­tu menyusul penghancuran Nagasaki dan Hirosima dengan bom atom.

Apa yang dikhawatirkan oleh para pemimpin pemerintahan nasional Pro­pinsi Jawa Timur menjadi kenyataan ketika Gubernur R.M.T.A. Surjo, yang sedang mengadakan rapat di Guber- nuran pada tanggal 25 Oktober 1945, didatangi oleh dua perwira Inggris utus- an Brigjen AWS Mallaby. Mereka me­maksa gubernur menghadap ke kapal perang Sekutu, yang saat itu berlabuh di pelabuhan Tanjung Perak, Suraba- ya. Sudah barang tentu permintaan ini ditolak tegas. Penolakan ini ternya­ta kemudian berkelanjutan dengan pendaratan pasukan Sekutu dan Be­landa/NICA dengan maksud untuk merebut kekuasaan di kota Surabaya. Keadaan inilah yang kemudian mem­bakar pecahnya perang besar 10 No­vember 1945 di Surabaya — suatu pe­ristiwa yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Pada pagi hari itu pasukan Sekutu, yang diwakili Inggris, dengan peralat­an lengkap, tank dan mortir dan didu­kung pula oleh pesawat-pesawat uda­ra menyerang kota Surabaya. Per­tempuran besar-besaran yang melan­da kota Surabaya memaksa Gubernur Suryo, atas saran Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk memindahkan kedudukan pemerintahan daerah ke Mojokerto.

Selama pusat pemerintahan dae­rah berada di Malang terjadi mutasi di kalangan pejabat pemerintah daerah setempat. Gubernur Surjo diangkat menjadi Dewan Pertimbangan Agung RI di Yogyakarta dan sebagai peng­gantinya ditunjuk R.P. Suroso. Tetapi penunjukan ini ternyata menimbulkan reaksi yang keras, sehingga kemudian Pemerintah RI menetapkan Dr. Moer- djani pada bulan Juni 1947 untuk meng­gantikan Suroso. Sementara pertempuran-pertem­puran untuk mempertahankan kemer­dekaan terus berlangsung, Pemerintah Daerah Jawa Timur terus mengadakan konsolidasi dan pembenahan admi nistrasi pemerintahan. Namun berhu­bung keadaan di wilayah Kediri sema­kin mencekam, kedudukan pemerintah daerah terpaksa dipindahkan lagi ke kota Malang pada bulan Februari 1947. Di kota ini pulalah dari tanggal 25 Februari sampai 6 Maret 1947 dise­lenggarakan Sidang Pleno ke-5 Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di gedung yang sekarang ini dikenal de­ngan Gedung Sarinah.

Persidangan KNIP tersebut ter­nyata banyak menarik perhatian du­nia luar dandiikuti pula oleh banyak ta­mu dan wartawan-wartawan luar ne­geri. Persidangan itu pulalah yang me­nentukan nasib diterima-tidaknya nas­kah Persetujuan Linggarjati yang di­tandatangani pada tanggal 15 Februari 1947 oleh KNIP. Berdasarkan keputus- an sidang pleno itulah maka pada tanggal 25 Maret 1947 Persetujuan Ling­garjati ditandatangani oleh Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Belanda. Situasi yang semakin gawat me­nyebabkan seminggu kemudian yaitu pada tanggal 17 November 1945, kedu­dukan Pemerintah Daerah Propinsi Ja­wa Timur dipindahkan lagi ke Kediri.

Sementara itu Belanda yang me­nyadari bahwa untuk mengembalikan penguasaannya atas Indonesia seperti sebelum perang (Perang Dunia II) tidak mungkin sama sekali, mencetuskan gagasan untuk membentuk “Negara Indonesia Serikat.” Gagasan tersebut mulai dibicarakan oleh Gubernur Jen­deral Belanda H.J. van Mook pada Kon­ferensi Malino, sebuah kota kecil di tenggara Makassar (Ujungpandang) pada bulan April 1946. Kemudian ga­gasan -ini lebih dipertegas lagi dalam Konferensi Denpasar tanggal 24-28 De­sember 1946 Dalam Konferensi Denpasar ini­lah Belanda membentuk “Negara In­donesia Timur” (NIT) yang merupakan negara bagian pertama dari negara serikat yang akan didirikan tersebut. Sesudah Konferensi Denpasar, Belan­da semakin meningkatkan gerakannya membentuk negara-negara baru di se­luruh Indonesia. Selain itu untuk mem­perlemah kedudukan Negara Republik Indonesia yang pada masa itu sudah pindah ke Yogyakarta, Belanda dengan cepat mengadakan gerakan-gerakan militer. Maka belum lagi dua bulan peme­rintahan Gubernur Dr. Moerdjani ber­jalan, Belanda mengerahkan kekuatan militernya secara besar-besaran pada pukul 24.00, 21 Juli 1947, yang dikenal dengan “Aksi Militer I.” Padahal ketika itu Belanda masih terikat dengan Per­setujuan Linggarjati dan perjanjian gen­ catan senjata yang berlaku sejak tang­gal 14 Oktober 1946. Namun sebelum Aksi Militer I Belanda memang telah melanggar persetujuan gencatan de­ngan menyerbu dan menduduki Krian, Sidoarjo, dan Mojokerto.

Dalam aksi militer tersebut de­ngan cepat pasukan-pasukan Belanda berhasil menduduki kota-kota besar dan daerah-daerah RI yang penting. Di daerah-daerah yang sudah dikuasainya itu Belanda bergegas mempersiapkan pembentukan negara-negara seperti NIT. Aksi militer Belanda menyebab­kan kota Malang sudah tidak aman la­gi sehingga Pemerintahan Daerah Pro­pinsi Jawa Timur dipindahkan lagi ke kota Blitar. Aksi Militer I berakhir setelah di­capai Persetujuan Renville pada tang­gal 17 Januari 1948. Tetapi sebagai aki­bat dari persetujuan itu kekuasaan Pe­merintah Daerah Jawa Timur semakin sempit, yaitu hanya meliputi Keresi­denan Madiun, Kediri, Bojonegoro ser­ta sebagian Keresidenan Surabaya dan Malang. Pasukan-pasukan RI yang ber­ada di daerah kekuasaan Belanda harus hijrah ke daerah Republik Indonesia..

Di daerah-daerah yang dikua­sainya, Belanda seperti telah direnca­nakannya segera membentuk nega­ra-negara baru seperti “Negara Madu­ra” pada 20 Februari 1948 dan “Negara Jawa Timur” tanggal 26 November 1948. Keberadaan negara-negara boneka ini juga merupakan pengepungan terhadap wilayah Republik Indonesia.  Namun dalam keadaan yang ser­ba sulit itu pemerintah Republik Indone­sia masih harus berhadapan pula de­ngan pemberontakan PKI di Madiun pada tanggal 18 September 1948. Pemberontakan yang tak terduga ini dalam waktu yang relatif singkat dapat ditumpas oleh Tentara Republik Indonesia (TNI). KolonelSungkono di­tetapkan sebagai Komandan dan Gu­bernur Militer Jawa Timur. Tetapi se­bagai akibat pemberontakan ini kedu­dukan Republik Indonesia yang sudah lemah menjadi semakin lemah lagi. Situasi ini digunakan sebaik-baiknya oleh Belanda untuk meruntuhkan RI dengan melancarkan Aksi Militer II pada tanggal 19 Desember 1948. Ibukota Republik Indonesia Yo­gyakarta diserang dan diduduki. Be­landa menawan Presiden Soekarno, Wa­kil Presiden Mohammad Hatta dan beberapa pejabat tinggi pemerintahan RI Di daerah Jawa Timur sendiri aksi militer yang kedua kalinya ini segera membawa perubahan pada roda pe­merintahan daerah, karena kota Blitar yang saat itu menjadi kedudukan pe­merintahan propinsi diserbu dan di­duduki Belanda tanggal 21 Desember 1948. Karena itu Gubernur Dr. Moerdjani dan staf terpaksa menyingkir dan bergerilya di lereng Gunung Willis. Da­ri sana dia melanjutkan pemerintah­an bersama-sama Gubernur Militer Kolonel Sungkono.

Tetapi lereng Gunung Willis juga tak luput dari serbuan Belanda. Pada tanggal 24 Februari 1949, kedudukan pemerintah daerah diserang dan Belan­da menangkap Gubernur Moerdjani dan Wagub Doel Arnowo serta bebe­rapa pejabat pemerintah daerah lain­nya. Mereka kemudian dibawa ke Sura­baya dan ditahan di Hotel Sarkies. Da­lam peristiwa terpisah, Menteri Pem­bangunan dan Pemuda RI Supeno gu­gur ditembak oleh pasukan Belanda di Desa Ganter, Nganjuk. Untuk mengatasi keadaan maka Gubernur Militer Jawa Timur Kolonel Sungkono menugaskan Wakil Guber­nur Jawa Timur Samadikun mene­ruskan perjuangan dari daerah Blitar Selatan (Lodoyo) bersama-sama dengan Bupati Blitar Darmadi.

Aksi Militer II Belanda berakhir dengan tercapainya Persetujuan Roem- Royen tanggal 7 Mei 1949 yang isinya antara lain mengembalikan Presiden dan Wakil Presiden RI ke Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 1949. Sebagai kelanjutan dari R-R State­ments itu, maka dari tanggal 23 Agustus sampai 2 November 1949, di Denhaag diadakan Konferensi Meja Bundar (KMB) yang menghasilkan Piagam Pengakuan Kedaulatan Negara Repu­blik Indonesia Serikat (RIS) oleh Kera­jaan Belanda. Di Amsterdam pengaku­an kedaulatan tersebut dilaksanakan oleh Ratu Juliana kepada Wakil RIS Mohammad Hatta, dan di Jakarta di­lakukan antara Wakil Tinggi Mahkota „ Belanda Dr. Lovink kepada Wakil RIS Sultan Hamengku Buwono IX pada tanggal 27 Desember 1949.

Segera sesudah keputusan KMB ditandatangani pada tanggal 2 Novem­ber 1949, di seluruh Indonesia —ter­masuk di daerah Jawa Timur— ber­langsung peralihan kekuasaan dari Belanda kepada Pemerintah RIS. Pada tanggal 15 November 1949 berlangsung pengembalian daerah Madiun, lalu di­susul dengan pengembalian daerah Bo­jonegoro tiga hari berikutnya. Selan­jutnya pasukan Belanda ditarik dari Kediri. Kejadian itu diikuti dengan tin­dakan Gubernur Militer Kolonel Sung- kono dan Gubernur Samadikun mema­suki kota Surabaya tanggal 24 Desember 1949 untuk melanjutkan pemerintahan daerah Republik Indonesia Serikat da­lam masa peralihan Dengan berpindahnya kekuasaan dari tangan pemerintah Belanda ke ta­ngan Pemerintah RIS, mulailah terasa adanya perbedaan dalam soal kebe­basan rakyat. Keinginan rakyat untuk menyatakan pendapat yang sewajar­nya mulai dapat terwujud.. Dalam tempo singkat rakyat di se­luruh Jawa Timur dengan tegas menun­tut dibubarkannya Negara Jawa Timur. Aspirasi yang sudah lama dipendam itu akhirnya meletus dengan hebat. Beratus-ratus mosi dan resolusi dike­luarkan oleh organisasi-organisasi ke­masyarakatan yang mendesak kepada Pemerintah Daerah Jawa Timur agar Negara Jawa Timur dilikuidasi dan di­lebur ke dalam Republik Indonesia.

Kehadiran Negara Jawa Timur su­dah tak dapat dipertahankan lagi. Ka­rena itu pada tanggal 13 Januari 1950 Wali Negara Jawa Timur mengajukan permintaan kepada Pemerintah RIS supaya menyelenggarakan pemerin­tahan Negara Jawa Timur. Sebagai ke­lanjutannya maka pada tanggal 19 Ja­nuari 1950 Wali Negara Jawa Timur menyerahkan mandatnya kepada Pemerintah RIS. Selanjutnya pada tang­gal 25 Februari 1950 dalam resolusi bersama yang diambil oleh DPR Negara Jawa Timur dan Pemerintah Negara Jawa Timur diputuskan bahwa mulai hari itu daerah Negara Jawa Timur se­cara resmi dinyatakan sebagai bagian wilayah negara Republik Indonesia Perkembangan di Jawa Timur menjadi pendorong yang amat kuat bagi rakyat “Negara Madura” untuk me­nuntut pembubaran negara itu. Setelah mengalami pergolakan-pergolakan po­litik yang cukup keras, maka pada tanggal 28 Januari 1950 Wali Negara Madura menyerahkan kekuasaannya kepada DPR Madura Sebagai kelanjutannya maka satu bulan kemudian pejabat wali negara melaporkan situasi di Madura kepada Pemerintah RI di Yogyakarta dan me­mohonkan keputusan bahwa Madura sudah menjadi wilayah RI. Tetapi ka­rena Surat Keputusan tidak segera diterima, pada tanggal ,4 Maret 1950 dikirim delegasi menemui Gubernur Jawa Timur, yang melahirkan surat ke- putusan Gubernur Jawa Timur No. 24/ A/50 tanggal 7 Maret 1950 dan ke­mudian Surat Keputusan Presiden RIS nomor 110 tanggal 9 Maret 1950 yang menetapkan Madura sebagai daerah keresidenan Republik Indonesia.

Namun sebelumnya, pada tanggal 4 Maret 1950 Pemerintah Pusat me­netapkan pembentukan Propinsi Jawa Timur dengan Undang-undang Nomor 2 tahun 1950. Berdasarkan UU tersebut, wilayah Propinsi Jawa Timur meliputi tujuh keresidenan — Surabaya, Ma­lang, Besuki, Kediri, Madiun, Bojone­goro, dan Madura — 29 kabupaten, 8 kota besar/kecil, 138 kewedanaan, 514 kecamatan dan 8.306 kelurahan, de­ngan jumlah penduduk seluruhnya 18.027.303 jiwa. Pada perkembangan selanjutnya, pemerintahan Gubernur Militer Jawa Timur dihapuskan sesuai dengan Pe­rintah Kepala Staf AD tanggal 30 Juni 1950 Nomor 338/KSAD/I.H. 50 dan Instruksi No. 48/KSAD/Inst. 50 Inte- rad tanggal 24 Juli 1950. Kemudian di­terbitkan pula Surat Keputusan Men­teri

Pertahanan tanggal 1 Agustus 1950 No. 357/MP/50. Maka pada tanggal 7 September 1950 diadakan serah te­rima antara Pejabat Gubernur Militer Kolonel Bambang  Sugeng kepada Gu bernur Jawa Timur R. Samadikun, yang menduduki jabatan tersebut sampai tahun 1957. Pada masa peralihan itu pemerin­tah sipil di bawah kepemimpinan Gu­bernur Samadikun menghadapi per­soalan keamanan yang tidak ringan. Gangguan keamanan yang paling seri­us datang dari kelompok Abdul Malik, bekas lurah Tromposari, Kecamatan, Jabon, Sidoarjo. Dia memimpin pem­berontakan melawan Pemerintah Dae­rah Propinsi Jawa Timur yang dalam sejarah militer terkenal dengan sebut­an “Palagan Ambarawa.” Pemberon­takan ini dinyatakan tamat riwayatnya pada bulan Agustus 1951, empat bulan Malik ditangkap bersama tujuh peng­ikutnya di Bangil dalam operasi pem­bersihan yang terkenal dengan nama “Operasi Merdeka Ter (teritorium) V.”

Penyelesaian masalah keamanan ternyata tidak menjamin lancarnya roda pemerintahan di daerah. Sebab pada waktu masih terjadi dualisme dalam sistem pemerintahan daerah. Di satu pihak ada pemerintahan pamong praja yang bergerak di bidang pemerintahan umum pusat di daerah dan dipimpin oleh kepala pemerintahan pamong praja. Di lain pihak ada pemerintahan daerah swatantra yang bergerak di bi­dang urusan rumah tangga daerah sendiri yang dalam hal ini dijalankan oleh DPRD dan DPD yang diketuai oleh kepala daerah. Akibatnya di Ja­wa Timur sampai ada Gubernur Samadikun sebagai kepala pemerintah­an pamong praja, juga ada R.T.A. Mi- lono sebagai kepala daerah swatantra tingkat I Jawa Timur. Dualisme tersebut berlangsung sampai diberlakukannya Undang-un­dang Nomor 6 Tahun 1959 tentang Pe­nyerahan Pemerintahan Umum Pusat kepada Daerah. Ketika UU ini diberla­kukan, Jawa Timur dipimpin oleh Gu­bernur R. Suwondo Ranuwidjojo se­bagai pengganti Gubernur Milono (1957-1959).

Pada tahun 1963 Jawa Timur men­catat pergantian gubernur dari Suwon­do Ranuwidjojo kepada Mohammad Wijono. Ketika itu penyelenggaraan pemerintahan di daerah masih belum stabil berhubung masih dalam tahap penyempurnaan melalui berbagai per- undang-undangan. Di samping itu Par­tai Komunis Indonesia mulai mening­katkan agitasinya yang mencapai kli­maksnya dengan peristiwa G-30-S/ PKI pada tahun 1965. Keadaan pemerintahan daerah di Jawa Timur menjadi semakin tidak me­nentu sesudah peristiwa G-30-S/PKI. Hal ini disebabkan antara lain oleh ada­nya sejumlah aparat pemerintahan daerah dan anggota DPRD yang secara langsung maupun tidak langsung ter­libat dalam peristiwa berdarah terse­but. Akibatnya sejumlah jabatan da­lam pemerintahan daerah menjadi ko­song. Pada tahun 1967 terjadi pergantian di pucuk pemerintahan. Brigjen Mo­hammad Wijono sebagai Gubernur Ke­pala Daerah Tingkat I digantikan oleh R.P. Mohammad Noer sebagai Pe­mangku Jabatan Gubernur Kepala Dae­rah Tingkat I, yang dari tahun 1971 hingga tahun 1976 menjadi gubernur definitif Ketika Mohammad Noer menjadi Pemangku Jabatan Gubernur Kepala Daerah, situasi keamanan di daerah Jawa Timur diguncang oleh “PKI Gaya Baru” yang memiliki basis pertahan­annya di Blitar Selatan.

Setelah aksi pengacauan PKI Gaya Baru ini berhasil ditumpas menjelang akhir tahun 1968, barulah keadaan membaik. Bersamaan dengan dicanang­kannya Repelita I oleh pemerintah Orde Baru, Jawa Timur mulai mengisi lem- baran-lembaran sejarahnya dengan pembangunan di segala bidang. Bah­kan berkat prestasinya di bidang pem­bangunan, Jawa Timur tampil sebagai satu-satunya propinsi di Tanah Air yang pertama kali dianugerahi Pataka Parasamnya Purnakarya Nugraha oleh Pe­merintah Pusat. Jika Jawa Timur dikenal sebagai daerah yang paling ” kaya” dengan gejo­lak, hal ini tampaknya menunjukkan dinamisme yang dimiliki oleh masya­rakatnya. Setelah Gubernur Moham­mad Noer digantikan oleh Soenandar Prijosoedarmo (1976-1983), dan selan­jutnya Wahono (1983-1988), lalu Sularso (1988-sekarang), Jawa Timur tetap tampil sebagai salah satu propinsi yang mencatat pertumbuhan ekonomi ter­tinggi. Dan prestasi ini terbukti dalam kemampuannya meraih penghargaan paling terhormat di bidang pemba­ngunan tersebut empat kali berturut-tu­rut, dari Pelita I sampai Pelita IV.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Profil Propinsi Republik Indonesia, Jawa Timur ,Jakarta, desember 1992, hlm. 1-10

 

Taman Hutan Raya R. Soerjo

Dewasa ini Pemerintah gencar mencanangkan kebijaksanaan di bidang Konservasi Sumber daya alam melalui konservasi jenis maupun konservasi pemanfaatan dalam rangka mempertahankan kelestarian alam dan lingkungan hidup demi pembangunan berkesinambungan. Hal ini berkaitan dengan semakin menurunnya kualitas dan kuantitas sumber daya alam tersebut.

Sejalan dengan strategi konservasi sumber daya alam, pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan pembangunan dalam kawasan pelestarian alam dalam bentuk Taman Masional, Hutan Lindung, Hutan suaka alam dan Taman Hutan Raya.

Kawasan pelestarian alam dalam Taman Nasional. Hutan Lindung, Hutan suaka Alam dan Hutan wisata sudah lama dikenal, sedangkan sistim Taman Hutan Raya (TAHURA) masih merupakan hal baru.

Sistim ini muncul setelah disadari bahwa kebijaksanaan dibidang perlindungan dan pelestarian sumber daya alam yang selama ini diselenggarakan sedikit sekali manfaatnya yang dapat dirasakan masyarakat luas, dengan demikian tidak dapat menimbulkan dan mendorong motifasi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan perlindungan dan pelestarian alam.

Sesuai UU No. 5 Tahun 1990, batasan Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan jenis asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya pariwisata dan rekreasi.

Pemanfaatan Hutan Raya secara optimal akan memberikan pengaruh yang positif terhadap perlindungan plasma nutfah, pengembangan ekonomi masyarakat disekitar kawasan.

Dasar pemilihan lokasi Taman Hutan Raya.

  1. Hutan di lokasi Taman Hutan Raya memiliki potensi sumber daya alam yang cukup tinggi, baik berupa flora, fauna keunikan alam, keindahan alam maupun peninggalan budaya dari masa lampau.
  2. Hutan dimaksud masih mengalami banyak gangguan berupa pencurian hasil hutan, perburuan, vandalisme dan pencemaran lingkungan hidup, serta sering terjadinya kebakaran hutan.
  3. Adanya Taman Hutan Raya diharapkan keamanan kawasan terjaga disamping itu mampu meningkatkan fungsi hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya yang berada di sekitar hutan.
  4. Taman Hutan Raya dapat berfungsi sebagai pengatur iklim dan tata air terutama sumber mata air Sungai Brantas yang menghidupi ± 32 juta jiwa di Jawa Timur.

Prospek adanya Taman Hutan Raya.

  1. Daerah Batu dan sekitarnya sesuai dengan rencana induk pariwisata direncanakan sebagai pusat Agro Wisata. Dalam hal ini Taman Hutan Raya R. Soerjo dapat diandalkan sebagai salah satu lokasi tujuan Agro Wisata tersebut.
  2. Merupakan daerah tujuan wisata utama bagian selatan Jawa Timur, disamping itu potensi wisata di Taman Hutan Raya terutama sumber air panas mineral sangat menarik.
  3. Pembangunan Taman Hutan Raya diharapkan sebagai: Pelestarian plasma nutfah flora dan fauna hutan Indonesia. Sarana penelitian tipe-tipe vegetasi hutan pegunungan Indonesia. Sarana pendidikan, latihan dan penyuluhan cinta alam. Tempat/sarana wisata alam. Meningkatkan fungsi hidro orologi. Sarana pembinaan generasi muda. Lestarinya manfaat sumber daya alam dan ekosistemnya.

LETAK DAN LUAS
Kawasan Hutan Taman Raya R. Soerjoyang ditetapkan dengan Keputusan Presiden No. 29 tahun 1992 tanggal 20 Juni 1992 seluas ± 25.000 ha meliputi Kawasan hutan lindung Gn. Anjasmoro, Gn. Gede, Gn. Biru, Gn. Limas, seluas 20.000 ha dan Kawasan hutan Cagar Alam Arjuno Lalijiwo sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian, Nomor: 250/Kpts/Um/5/1972 tanggal 25 Mei 1972 seluas 4.960 ha serta tanah kebun penelitian Universitas Brawijaya seluas ±40 ha. Berdasarkan wilayah administratif pemerintahan terletak di 4 (empat) Kabupaten, Daerah Tk II, masing-masing Kabupaten Daerah Tk II Malang, Pasuruan, Mojokerto dan Jombang.

TOPOGRAFI LAPANGAN
Topografi Kawasan bergelombang dan bergunung-gunung dengan ketinggian 1.000-3.339 m dpl. Beberapa gunung yang termasukdidalam KawasanTaman Hutan Raya R. Soerjo sebagai berikut:

  1. Gunung Arjuno dengan puncak tertinggi 3.339 m dpl.
  2. Gunung Welirang dengan puncak tertinggi 3.156 m dpl.
  3. Gunung Anjasmoro dengan puncak tertinggi 3.217 m dpl.
  4. Gunung Kembar I dengan puncak tertinggi 3.061 m dpl.
  5. Gunung Biru dengan puncak tertinggi 2.337 m dpl.
  6. Gunung Kembar II dengan puncak tertinggi 3.256 m dpl.
  7. Gunung Ringgit dengan puncak tertinggi 2.474 m dpl.

Tingkat keterangannya mencapai (30-90) % adalah type C dan D dengan curah hujan tahunan berkisar antara 2500-4500 mm. Suhu udara pada malam hari berkisar antara 5°c-10°c . Sedangkan pada,musim kemarau dapat mencapai 4°c. Kelembaban udara cukup tinggi, berkisar antara (42-45) % (terendah) sampai (90-97) % (tertinggi).

IKLIM DAN KEADAAN TANAH
a. Type iklim ini disekitar Cagar Alam Arjuno Lalijiwo Tekanan udara antara 1007 -1017,5 mm hg.
b. Jenis tanah termasuk Regusol berasal dari abu vulkanis intermediair dengan warna coklat kekuning-kuningan dan bersifat sangat peka terhadap erosi.

AKSESIBILITAS
Jaringan jalan yang mendukung lancarnya perhubungan merupakan sarana yang sangat penting, kawasan Taman Hutan Raya, Malang, Pasuruan, Mojokerto dan Jombang.

Obyek-obyek wisata alam/budaya di Taman Hutan Raya R. Soerjo dapat dicapai dari daerah-daerah sekitarnya sebagi berikut.

  1. Route Malang – Batu Sumber Brantas – Jurang Kwali – Cangar ±38 km. Kendaraan Jeep/Sedan dapat mencapai daerah Cangar sedangkan Bus hanya sampai di Batu, karena jalan sempit dan berliku-liku.
  2. Rute – Mojokerto – Pacet – Cangar ±30 km. Kendaraan Jeep/Sedan dapat mencapai daerah Cangar, dari arah ini jalan kendaraan melalui Kawasan Taman Hutan Raya.
  3. Route Surabaya – Pandaan – Prigen – Tretes ±74 km. Kendaraan umum sampai Tretes selanjutnya berjalan kaki menuju Pondok Welirang, Padang Rumput Lalijiwo terus ke Gunung Welirang.
  4. Route Jombang – Wonosalam – Plumpung – Pengajaran – Wonosari ±57 km, kendaraan sampai Pengajaran dilanjutkan berjalan kaki sampai Air Terjun Tretes.
  5. Route Mojokerto Pacet – Trawas – Prigen – Tretes ±47 km, dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Pondok Welirang/sarana Lalijiwo, Gunung Welirang.
  6. Route Pandaan – Dayurejo – Tulungnongko ±19 km, kendaraan sampai di Tulungnongko melalui jalan Makadam selanjutnya berjalan kaki sampai Pertapaan Indrokilo (22 km )
  7. Route Pandaan – Purwosari – Tambaksari – Tambakwatu ±16 km, kendaraan sampai di Tambakwatu (batas hutan) dilanjutkan berjalan kaki sampai Pertapaan Abiyoso (22 km).

YANG KHAS DI TAMAN HUTAN RAYA R. SOERJO FLORA
Taman Hutan Raya R. Soerjo merupakan sebagian besar hutan lindung dan Cagar Alam, memiliki potensi yang khas dan bersifat endemik untuk kawasan hutan pegunungan di Propinsi Jawa Timur.

Di kawasan ini terdapat 3 (tiga) type vegetasi hutan yang relatif baik yaitu:

  1. Hutan Alam Cemara. Hutan Cemara( Casuarina yunghuniana) berada di lokasi Cagar Alam Arjuno Lalijiwo membentuk suatu tegakan homogin dengan tumbuhan bawah berupa beberapa jenis rumput dan semak. Tumbuhan ini merupakan jenis asli setempat dan dominan. Hutan ini dapat dijumpai pada ketinggian 1800 m dpl dengan kerapatan pohon rata-rata 55-80 pohon/ha dengan tinggi pohon antara 25-40 m dengan garis tengah antara 40-60 cm.
  2. Hutan Hujan Pegunungan. Type hutan ini berada di kawasan Cagar alamdengan ketinggian antara 2.000-2.700 m dpl, merupakan hutan campuran dari 3 tingkatan vegetasi semak dan vegetasi tumbuhan bawah.
  3. Padang Rumput. Areal ini seluas ±261 ha dijumpai pada perjalanan menuju Pondok Welirang. Merupakan tempat yang sesuai sebagai tempat breeding rusa, jenis rumput yang dominan adalah jenis padi-padian dan Kolonjono (Panicum repens) yang sangat disukai oleh rusa.

FAUNA
Jenis fauna yang terdapat di kawasan ini cukup banyak jenisnya yang dapat dilihat pada daftar jenis satwa pada bagian lain dari buku ini, beberapa diantaranya Rusa (Ceruus timorensis), Kijang (Muntiacus muntjak) dan babi hutan (Susscrofa )yang dapat dijumpai di padang rumput.

POTENSI WISATA
Potensi Wisata yang ada dapat dikelompokkan dalam:
a.  Obyek Wisata Utama, meliputi:

  • Sumber Air Panas Cangar dengan keunikannya airnya jernih tidak berbau belerang, temperaturnya sesuai dengan selera pengunjung, debitnya cukup besar Ada anggapan apabila orang mandi air panas tersebut menjadikan yang bersangkutan awet muda.
  • Gua Jepang Cangar dengan keunikan bangunannya yang masih utuh, berada ditengah hutan yang masih utuh.
  • Dengan mengenang Romusa pada waktu penjajahan Jepang, dari lokasi ini dapat dinikmati pemandangan puncak gunung Welirang yang memberikan panorama yang sangat indah pada pagi hari dan sore hari menjelang matahari terbenam.
  • Arboretum Sumber Brantas, tempat pengembangan proyek penghijauan untuk melindungi sumber mata air, sekaligus mengingatkan kepada kita bahwa tempat ini merupakan sumber mata air (paling hulu) Sungai Brantas yang sangat vital pemanfaatannya bagi daerah Jawa Timur, untuk pertanian, perikanan , air minum, industri, dll.
  • Pertapaan Indrokilo dan Abiyoso mempunyai keunikan tersendiri, bagi pengunjung tertentu dapat merupakan tempatyangcocokuntuknyepi, semedi atau bertapa.
  • Apabila nama lokasi ini dikaitkan dengan cerita wayang/pewayangan pertapaan Indrokilo merupakan pertapaan Raden Harjuno, penengah Pandowo yang sakti, sedangkan Abiyoso adalah nama eyang dari Pandowo, maka menurut cerita pewayangan lokasi ini dianggap sebagai pertapaan Begawan Abioso.
  • Air Terjun Tretes, memiliki keunikan, berupa tinggi air terjun ±169 m. Air terjun ini merupakan hulu sungai sumber watu Bongkok, memiliki pemandangan yang indah, berada di Gunung Jurang Guwah.
  • Air Terjun Watu Ondo dengan ketinggian±69 m, disekitarnya terdapat hutan alam yang masih asli, dari sumber air panas hanya ± 2 km.
  • Puncak Welirang, tempat tambang belerang yang masih aktif, dapat dinikmati pemandangan yang indah.

Untuk Tahun Anggaran 1989/1990 melalui crash Program Departemen Kehutanan antara lain:

  •   Pengadaan Generator 1 buah
  •   Pembuatan bak penampungan air bersih 1 buah
  •   Pembuatan dan pemasangan Instalasi air bersih 20 m
  •   Pembuatan f.atung prasasti 1 paket
  •   Pagar alam sepanjang 1 km
  •   Pembuatan bak penampungan air dan pipa besi 1 paket yang melalui APBD Tk I Jawa Timur, pembuatan talud disekitar pendopo.

Untuk Tahun Anggaran 1990/1991 melalui APBD Tk I Jawa Timur, antara lain:

  •   Pembuatan gapura 2 buah
  •   Pembuatan plaza 1 buah
  •   Pembuatan jalan masuk
  •   Instalasi listrik dan rumah kaca
  •   Rumah generator
  •   Pembuatan stasiun radiasi matahari
  •   Pembuatan Pos jaga
  •   Pengadaan hand tractor kecil

Untuk Tahun Anggaran 1991/1992 melalui APBD Tk I Jawa Timur antara lain:

  •   Pembuatan jalan batu 600 m²
  •   Pembuatan MCK 2 buah
  •   Bangunan pemandian air panas 50 m²
  •   Lapangan Parkir 300 m2
  •   Plengsengan pasangan batu 800 m²
  •   Pembuatan Land Scape camping ground 1.500 m2
  •   Kamar ganti 2 buah
  •   Jembatan Beton 2 buah
  •   Pembuatan saluran 300 m2²

b. Obyek Wisata Penunjang, meliputi:
Pemandangan alam yang dapat dinikmati dari beberapa lokasi pada ketinggian tertentu, yaitu berupa panorama lembah dan bukit-bukit dengan hijau pepohonannya serta pemandangan Kota Malang, Mojokerto, Batu, Gunung Arjuno, Gunung Kembar I, II, Gunung Ringgit, Gunung Semeru dan Gunung Penanggungan.
Jalur-jalur jalan setapak Lintas Alam antara lain route Tretes – Kokopan Rejo – Pondok Welirang – Puncak Welirang/Gunung Kembar, dengan kesegaran udara dan keindahan pemandangannya.
Aneka ragam kehidupan flora-fauna disepanjang dan disekitar route jalur-jalur jalan setapak Lintas Alam.

FASILITAS WISATA/REKREASI
Sebagai upaya dalam meningkatkan manfaat Taman Hutan Raya R. Soerjo telah dibangun beberapa Sarana & Prasarana yang telah adayang dapat menunjang kegiatan rekreasi/wisata antara lain:
Untuk tahun anggaran 1988/1989 melalui APBD Tk I Jawa Timur dan Yayasan Sarana Wana Jaya antara lain:

  •   Pondok Wisata 2 buah
  •   Pendopo 1 buah
  •   Pusat Informasi 1 buah
  •   Kantor Pengelola 1 buah
  •   Pondok Kerja 1 buah
  •   MCK 2 buah

Obyek-obyek Wisata disekitar kawasan Tahura R. SOERJO
Bendungan Selorejo: Terletak di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Tempat untuk memancing ikan, berperahu dan latihan Sky air, merupakan danau buatan, dapat ditempuh dengan segala macam kendaraan.

Bendungan Karangkates: Terletak 30 km dari kota Malang di Kecamatan Sumberpucung dapat ditempuh dengan segala jenis kendaraan, bendungan ini berupa Dam atau danau buatan. Terdapat acara memancing dan tempat latihan sky air, berperahu serta ada lapangan golf yang cukup baik di Jawa Timur.

Pemandian Air Panas Songgoriti: Terletak 30 km dari kota Malang, dapat ditempuh dengan Taxi merupakan tempat pemandian airpanas dan beristirahat sambil santai. Pemandian ini dikelilingi oleh hutan Cemara dan pemandangan alam yang indah.

Kebun raya Purwodadi: Terletak di Kecamatan Purwodadi ±65 km dari Surabaya. Tempat ini merupakan cabang dari Kebun Raya Bogor, untuk mempelajari tanaman-tanaman tropis. Di sebelah timur kebun raya terdapat Taman Wisata Gunung Baung yang ada air terjun Coban Baung.

Taman candra Wilwatikta: Terletak di Pandaan ±24 km dari Kabupaten Pasuruan, merupakan tempat pusat kegiatan pemantapan kesenian (sendratari khas Jawa Timur dengan pentas terbuka) lengkap dengan tempat-tempat Akomodasi (hotel), Bungalow, ruang pertemuan untuk konperensi dan sebagainya.

T r e t e s: Terletak ±9 km dari Pandaan. Merupakan tempat peristirahatan dengan pemandangan indah dan berhawa sejuk. Dapat naik kuda mendaki gunung. Terdapat hotel-hotel, Bungalow dan dapat dicapai dengan segala kendaraan.

Trawas: Terletak disekitar Tretes Kecamatan Prigen.

Kakek Bado: Terletak di Kecamatan Prigen. Atraksi wisata yang disajikan penangkaran rusa, perkemahan, lintas alam/hutan, air terjun alap-alap dan dilengkapi dengan pesanggrahan Mudah dicapai dengan kendaraan.

Taman Dayu: Terletak di Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen. Rencana akan dibangun Wana Wisata, kebun raya, taman-taman margasatwa, danau buatan, perkemahan, lapangan golf, taman bermain serta dilengkapi dengan fasilitas hotel, bungalow dan sebagainya.

Pacet: Termasuk Kabupaten Mojokerto. Terdapat pemandian Ubalan dan sumber mata air panas Padusan. Merupakan tempat rekreasi dan peristirahatan dipegunungan yang berhawa sejuk.

Wonosalam: Terletak di Wonosalam Kabupaten Jombang. Atraksi wisata yang disajikan pemandangan alam yang indah.

Wana Wisata Sumber Boto Kabupaten Jombang, didalamnya dilengkapi dengan kolam pemandian dan bumi perkemahan dan pemandangan yang indah

R. Soerjo

Monumen R. Soerjo dapat dilihat di hutan Mantingan ditepi jalan Raya Ngawi sangat berwibawa.

R. Soerjo adalah Gubernur Jawa Timur yang pertama. Sementara dalam kedudukannya sebagai kepala pemerintah daerah tingkat I Jawa Timur, tidak sedikit jasanya untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan RI tercinta ini.

Raden Soerjo dilahirkan di Magetan, 9 Juli 1898. Ayahnya, Raden Mas Wiryosumarto, adalah Ajun Jaksa di kota kelahiran R. Soerjo tersebut. Setelah menamatkan pendidik di OSVIA atau Sekolah Pamongpraja pada tahun 1918, Soerjo kemudian bekerja sebagai pamongpraja di Ngawi. Tahun 1920, ia dipindahkan ke Madiun sebagai Mantri Veldpolitie.

Dua tahun kemudian, Soerjo mengikuti pendidikan polisi di Sukabumi. Seusai menamatkan pendidikan ini, ia bertugas jadi asisten wedana di beberapa tempat.

Karena berprestasi, Soerjo kemudian mendapat tugas belajar lagi di Bestuur Schooj Sekolah Calon Bupati di Jakarta. Setelah tamat, ia bertugas sebagai wedana di beberapa tempat.

Sampai akhirnya pada tahun 1938, Soerjo diangkat menjadi bupati di Magetan. Jabatan ini disandang sampai balatentara Dai Nippon menduduki Indonesia.

Semasa pendudukan Jepang, banyak bekas pejabat Hindia Belanda disingkirkan. Tetapi R. Soerjo justru diangkat menjadi Syuchokan atau residen di Bojonegoro. Setelah Indonesia merdeka, Soerjo diangkat menjadi gubernur Jawa Timur dan berkedudukan di Surabaya.

Beberapa saat setelah Soerjo menjalankan roda pemerintahan daerah Jawa Timur, tentara Inggris mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak. Tepatnya pada 23 Oktober 1945. Tugas tentara Inggris adalah melucuti tentara Jepang yang kalah perang.

Namun di belakang rombongan tentara Inggris, ternyata ikut membonceng pula pasukan NICA (Nederlandsch Ind Civiel Administration). Kehadiran NICA memancing kemarahan laskar rakyat Surabaya, sehingga terjadi bentrokan.

Dan di tengah bentrokan itulah komandan pasukan Inggris Brigadir Jendral Mallaby, terbunuh. Kematian jendral berbintang satu tersebut membangkitkan kemarahan pasukan Inggris. Akibatnya, ultimatum dijatuhkan. Semua orang Indonesia yang bersenjata harus menyerah, paling lambat tanggal 10 November 1945 pukul 06.00. Jika tidak dipatuhi, maka kota Surabaya akan dihancurkan dari darat, laut maupun udara.

Gubernur Jatim, R. Soerjo bersama TKR dan tokoh masyarakat ternyata bersepakat menolak ultimatum tersebut. Penolakan itulah yang kemudian menyulut pertempuran 10 November 1945. Selama seminggu, rakyat dan laskar Surabaya berjuang.

Tahun 1947, jabatan Gubernur Soerjo berakhir. Kemudian diangkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung. Pada tanggal 10 Nopember 1948 dalam perjalanannya Yogyakarta – Madiun, R. Soerjo diculik dan dibunuh oleh gerombolan PKI. Aksi itu merupakan bagian dari pemberontakan PKI Madiun pimpinan Muso. Empat hari kemudian jenazahnya diketemukan dan dimakamkan di Magetan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Mengenal Taman Hutan Raya R. Soerjo. [Ngawi]: Taman Hutan Raya R. Soerjo Prppinsi Jawa Timur, [1992]. hlm. 23-24.

Palagan Ngadirejo, Dasar Pemikiran Pembangunan Tetenger

DASAR PEMIKIRAN MEMBANGUN TETENGER PERTEMPURAN DI PALAGAN NGADIREJO

 

  1. Sejak tahun-tahun terakhir ini mulai bermunculan da­lam kelompok ex-TRIP, yang memperbincangkan tentang saran-saran dan usul-usul tentang perlu diba­ngunnya Tetenger di Palagan Ngadirejo, dimana Pa­sukan TRIP mengadakan penyerangan penghadangan terhadap Pasukan Belanda yang berpatroli, sehingga terjadi pertempuran sengit yang merupakan lampiasan puncak kegeraman dari kedua belah fihak.
  2. Peristiwa pertempuran antara Pasukan tentara kita dengan Belanda, maupun antara Pasukan TRIP dengan Pasukan tentara Belanda memang sudah biasa, tapi kebetulan apa yang terjadi di Palagan Ngadirejo ini agak istimewa, karena Pasukan Patroli Belanda sejak itu diperkuat oleh datangnya Pasukan Prinses Ireene Brigade, yang dipersenjatai dengan senjata-senjata yang modern serta peralatannya yang lebih baik.
  3. Menurut keterangan penduduk setempat, Pasukan tentara Belanda yang berpatroli ke jurusan utara kota Blitar menuju Nglegok dan Candi Penataran, adalah lebih banyak dari pada yang biasanya. Sedikitnya 2 peleton dengan persenjataan yang lebih lengkap dan kendaraan truck termasuk brencarier, telah digunakan saat patroli tersebut. Pasukan TRIP dengan taktik perang gerilya mengalami korban yang sangat minim dibanding dengan jumlah Pasukan TRIP yang terlibat dalam pertempuran saat itu. Tetapi sebaliknya fihak Pasukan tentara Belanda tidak menyangka akan menghadapi perlawanan Pa­sukan TRIP, sehingga mengalami cukup banyak kor­ban yang berjatuhan.
  4. Peristiwa heroik yang jarang terjadi ini perlu dikenang dan perlu diketahui oleh masyarakat luas maupun ge­nerasi mendatang, bahwa peristiwa tersebut merupakan momen-momen yang bersejarah.

Sebagai satu bahan pemikiran dapat diketahui, bahwa menurut ketentuan umum bagi seseorang, kelompok orang atau suatu peristiwa dapat dimonumenkan atau dibuatkan monumen/tetenger apabila:
a)  Peristiwa itu merupakan titik-balik (turning point) perang atau pertempuran oleh pasukan tempur ataupun perlawanan dari suatu pasukan gerilya, dalam hal ini adalah perlawanan antara Pasukan Tentara Belanda dengan Pasukan TRIP di Palagan Ngadirejo.
b)  Merupakan satu peristiwa dalam satu momentum bersifat taktis, tetapi mempunyai nilai strategis. Misalkan serangan yang dapat mematahkan ke­kuatan lawan dan membuat grogi lawan untuk meneruskan perlawanan/pertempuran.
c)  Peristiwa yang dianggap bisa merupakan satu mo­mentum penting untuk analisa ilmu perang, nilai segi kepemimpinan serta pengembangan olah pikir akademis dihidang strategi, operasi dan taktik.
d)  Peristiwa itu dapat menjangkau kedepan, dalam rangka meneruskan nilai perjuangan dan semangat patriotik dalam kurun sejarah perjuangan bangsa.

5.  Penjabaran dari pada jangkauan kedepan itu meliputi kegunaan sejarah itu sendiri yang mengandung nilai-nilai positif seperti:

a)   Kegunaan bersifat edukatif (pendidikan). Dimaksudkan, dengan menghayati makna sejarah dari suatu kenangan atau monumen atau tetenger, dapat mengarah pada langkah-langkah yang mem­bawa kemajuan dimasa sekarang maupun masa mendatang.
b)  Kegunaan bersifat instruktif (pengajaran) Dimaksudkan, dapat memberikan keterampilan atau pengetahuan dalam suatu bidang, dalam hal ini ialah taktik dan teknik bertempur.
c)   Kegunaan bersifat imspiratif (pengilhaman). Dapat mendatangkan ilham terhadap satu angan-angan dalam rangka upaya membina semangat dan jiwa kepahlawanan.
d)   Kegunaan bersifat rekreatif (perasaan senang). Seolah-olah dapat membawa pikiran kearah per­jalanan yang jauh dan menyenangkan, pada zaman lampau dan memberi warna yang berbeda.

6.  Kelaziman, bentuk monumen ini dapat terdiri dari:

a)  Papan bertulis, baik berupa inskripsi ataupun pia­gam.
b)  Berbentuk pepohonan (pohon beringin, lamtoro gung, cemara, nyiur, dsb)
c)  Berbentuk suatunlapangan atau areal tertentu, apakah dilaut, didarat* dihutan, dipulau, digunung atau di perbukitan.
d) Berbentuk satu bangunan (rumah, gedung, ben­teng, jembatan, menara).
e)  Berbentuk wahana/kendaraan (lokomotif, gerbong, kapal laut, pesawat terbang delman, dsb.).
f)   Bisa juga berbentuk tugu, batu tetenger, patung, relief, dsb.
g)  Lain-lain bentul yang mempunyai daya tahan lama dan tidak mudah rusak/punah oleh pengaruh mau­pun gangguan alam.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
 Buku Kenang-kenangan, sekitar Kisah Pertempuran  Sehari di Palagan Ngadirejo sektor pertempuran Blitar Utara (15 April 1949). Surabaya, 1992. hlm. 14-16