Ita Purnamasari

 

Ita PurnamasariIta Purnamasari Lahir di Surabaya 15 Juli 1957,  Putri bungsu darl lima bersaudara pasangan H. Soekarmen dan Dyah ini tinggal di Jalan Pacar 3, Surabaya.
Lulus SMA Negeri 2 Surabaya tahun 1986. Lady rocker yang menyabet gelar The Best Award 1991 untuk kategori pop ini meraih gelar sarjana hukum di Universitas Surabaya (Ubaya) tahun 1993.
Karir Ita mulai mencuat berkat godokan perusahaan rekaman Billboard. Dalarn waktu singkat, albumnya pun bermunculan. Sukses “penari Ular”, terulang album- album berikutnya, “Ratu Disko, Rindu Sampai Mati, Cinta Bulan Desember, Swalayan.Selamat Tinggal Mimpi, Sanggupkah Aku, dan Biarkanlah”.
Mengawali karirnya dipanggung musik rock, ternyata mendapat tantangan dari kedua orang tuanya. “Mereka tidak mengizinkan, mungkin terlalu sayang pada saya. Bahkan kuatir, kalau-kalau sekolah saya terlantar, hanya karena terlalu asyik di dunia nyanyi”, katanya. Namun dia telah bertekad dan tak bisa dihalangi.
Kenapa aliran rock yang jadi pilihannya. “Sejak kecil sudah suka. Sebenarnya bukan hanya lagu-lagu keras, bagi saya merupakan suatu inspirasi yang dapat saya ekspresikan lewat lagu”, tambahnya.
Kiprahnya dipanggung rock, berawal ketika ia coba-coba beradu kemampuan vokal di festival se-lndonesia, dalam versi Lhog Selebor di Surabaya, 1984. la bergabung di Vocation Group. Kebetulan cewek yang mengikuti festival itu cuma dua orang. Ita dan seorang dari Medan. “Nah, untuk menjadi rocker, saya pikir festival itu suatu kesempatan baik”, kenangnya.
Ternyata Dewan Juri tidak memilih Ita sebagai juara. Tapi tidak membuatnya putus asa. Justru merangsangnya untuk tam- pil dan menunjukkan kebolehannya di setiap ada kesempatan “Walau tidak jadi ju­ara, tapi perasaan saya puas. Sebab, ketika saya menyanyi banyak penonton yang se- nang. Saya rasa,sambutan hangat ini sudah cukup bagi pendatang ba ru seperti saya”, katanya.
Yang patut dicatat, kualitas vokal Ita se- makin terasah. Karakter vokalnya yang nye mpling itu kini mulai memiliki vibrasi sekalipun “berteriak” dalam nada-nada tinggi dan panjang. Ini bisa disimak lewat ternbang Hura-Hura yang bertempo cepat dengan nuansa rock. (AS-4)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 108 (CB-D13/1996-…)

Trimarjono

TrimaryonoTrimarjono Lahir di Ngawi, 14 April 1933, beragama Islam.
Pendidikan:
Tahun 1944, Menamatkan pendidikan dasar di Lumajang,
Tahun 1947, Menamatkan pendidikan SMP di Probolinggo,
Tahun 1950, Menamatkan pendidikan Sekolah Guru B di Madiun,
tahun 1955,  Menamatkan pendidikan SMA di Madiun,
Tahun 1962, Memperoleh gelar Sarjana Hukum dari Universitas Gajah Mada
Karirnya diawali dengan menjadi perwira Angkatan Laut dengan pangkat letnan, sambil menjadi Sekretaris Wakil Ketua DPRGR (1963), Wakil Ketua OPRGR (1964), Kepala Kejaksaan KODAMAR VIII Semarang, Sekwilda Tk. I Jawa Timur hingga tahun 1967-1985, Wakil Gubernur Jawa Timur (1985-1990). Sekarang menjabat sebagai Ketua DPRD Tk. I Jawa Timur dengan pangkat Laksamana Pertama TNI AL (Purnawirawafi).
Selain itu ia menjadi anggota kehormatan PWI Jawa Timur, Dewan Penyantun IKIP Negeri Surabaya, Ketua Umum KAGAMA dan Ketua Umum KONI Jawa Timur, Ketua Umum Perkumpulan Epilepsi indonesia Cabang Jawa Timur Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, Rektor Univer­sitas Wijaya Kusuma Surabaya dan Iain-Iain.
Bersama istrinya, Harnani dikaruiai tiga orang anak. Masing-masing Astini, Andriyanto dan Avianti. Sekarang tinggal di Jl. Jemursari Selatan 1/30 A Surabaya, telepon 814130. Sehari-hari berkantor di Gedung DPRD Tingkat I Jawa Timur Jl. Indrapuri No. 1 Surabaya, telepon 338750.

Pria yang pernah menjadi guru sekolah Dasar pada tahun 1950-1953 ini memang sebagai pekerja keras. Tanggung jawab dalam mengemban tugas dan kegi- gihan serta keuletannya dalam menjalankan prinsip-prinsipnya selalu dipadukan de­ngan gayanyayang blakblakan. “Semua itu harus dipadukan, baru dijadikan gerakan,” tandasnya.
Konsep itu digali berdasarkan pengalaman-pengalamannya jauh sebelum men­jabat sebagai Ketua DPRD. Semenjak menjalani pendidikannya sudah hidup di lingkungan para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan aspriasi rakyat kecil. “Maklum saya ini orang desa, jadi harus berani mengadakan terobosoan-terobosan,” katanya. Maka tak heran kalau di usia senja ini ia masih tetap eksis dan konsisten terhadap apa yang men­jadi kebijaksanaannya. Sehingga tenaga dan pikirannya masih saja dimanfaatkan di berbagai tempat.
“Sebenarnya resepnya mudah saja. Kita harus menyenangi tugas yang dipercaya- kan dan menjalankannya dengan penuh ra­sa tanggung jawab. Kepercayaan harus disyukuri disertai rasa pengabdian,” tambah- nya.

Meski begitu ia menyadari setiap lem- baga apapun pasti ada saja permasalahan- nya. Hanya saja sejauh mana permasalahan dapat segera diredam, ini yang menjadi tanggung jawab pemimpin yang bersangkutan. Untuk itu, menurutnya pemimpin ha­rus berani mengambil resiko. Permasalahan di saring sedemikian rupa sehingga bisa dengan mudah mengambil keputusan. Makanya seorang pemimpin harus selalu me-ngontrol anak buahnya.
Dalam hal ini Trimarjono lebih senang memakai manajemen by beras kencur. Artinya harus diubleg, di bolak-balik sehingga tidak menep dan rasanyapun tidak berubah. “Jadi apa yang saya pimpin itu selalu saya ubleg, saya gerakkan terus melalui kontak ataupun komunikasi. Dengan begitu banyak hal yang akan bisa diketahui. “Suatu contoh kalau ada kunjungan kerja komisi saya selalu ikut, tapi bukan sebagai ketua melainkan sebagai pengikut. Lha yang memimpinya ketua komisi itu sendiri,” katanya.
Malah ia juga pernah menghadap sekaligus memberikan laporan kepada Komisi E Bidang Kesejahteraan Rakyat. “Selaku ke­tua yayasan orang tua, kusta juga epilepsi saya menghadap komisi yang bersangkutan bersama para ahli kusta, psikologi dan pakar-pakar lainnya, hampir sehari pe- nuh. Padahal Ketua DPRD nya juga saya. Ini bukan show, tapi benar-benar saya lakukan dan saya tak merasa canggung, biasa saja,” jelasnya.
Nampaknya Jawa Timur yang semakin pesat pembangunannya ini membutuhkan figur sepertinya. Terbukti sudah enam kali pergantian gubernur namun ia masih tetap difungsikan di pos-pos penting Pemerintahan Daerah Tingkat I Jawa Timur. “Memang kepemimpinan itu harus terbuka, meskipun tidak seluruhnya. Dengan memberitahu tugas dan kewajiban anak buah, beban pimpinan akan berkurang. Sehingga kalau sudah menjadi sistem kita tinggal mengontrol,” tambahnnya.
Menurut peraih bintang kehormatan Jalasena Nararnya dan Satya Lencana Kesetiaan XXIV tahun ini, pimpinan itu ibarat barang dagangan harus dijaga bagaimana agar tetap laku. Tidak usah ikul kroyokan, memberi kesempatan pada stafyang lain, bersikap bijak, berani mengambil keputusan dan Iain-Iain. Dan dalam posisi yang terjepit, seorang pemimpin harus memiliki tempat bertahan. “Seperti cerita kucing yang dikejar macan. Pada keadaan ke- pepet kucing memanjat pohon. Lha si- macan nggak bisa mengejar, Cuma melihat dari bawah. Ini ilmu perlambang. Menafsirkannya terserah,” lanjutnya.
Yang tak kalah menariknya dari pria asli Jawa Timur ini adalah konsepnya dalam menangkal pendapat sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa wakil rakyat (DPR) biasanya hanya duduk, diam dan dapat duit.” Itu masih sayatambah dengan dengkur dan dableg,” tandasnya.
Selanjutnya dijelaskan, sebagai waikil rakyat, mereka seharusnya memumpuk diri agar bisa memenuhi konsep ABCD (Aspiratif, Berani bicara, Control dan Demokratis). “Bagaimanapun juga sekarang ini masyarakat cenderung lebih kritis menilai tugas dan tanggung jawab para wakil rakyat,” ungkapnya. (AS-8)

Panut Darmoko

panutPanut Darmoko lahir di Nganjuk, 10 September 1931. Pendidikan formal yang pernah dikenyam Konservatori Solo (kini Sekolah Menengah Kesenian Indonesia). Pendidikan informal, di antaranya kursus pedalangan HBS Solo dan Pamarsudi Putri Solo.

Pensiunan guru SPG Negeri Nganjuk (1990) ini lebih dikenal sebagai dalang wayang purwo gaya Surakarta, Pimpinan Paguyuban Karawitan dan Kursus Pedalangan Larasmaya, Sekretaris PEPADI Pusat. Pada tahun 1980 memperoleh hadian seni dari Presiden Suharto. Pernah mendalang di Tokyo, Washington, New York, London, Paris, Pert, Canbera, Sidney, dan Adelaide.

Pada tahun 1966 mendalang di Istana Bogor, dan 3 kali men­dalang di Istana Merdeka. Pada tahun 1984 menunaikan ibadah haji. Perkawinannya dengan Sulasmi, dikaruniai 5 orang anak. Bersama keluarga tinggal di Jl. Sikatan 1/5 Nganjuk-64417.

Nama Ki H. Ahmad Panut Sosro Darmoko, bagi masyarakat pecinta wa­yang kulit di Jawa Timur dan sekitarnya bukanlah sesuatu yang asing. Dalang kon- dang gaya Surakarta ini selalu menjadi panutan bagi dalang-dalang lain di Jawa Timur.

Penampilannya yang kalem, andhap-asor, dan selalu santun kepada siapa sajayang menjadi lawan bicaranya; menandai dirinya sebagai budayawan dan seniman yang teduh. Dalam hidupnya ia telah mencapai kesempumaan lahir dan batin.

Menanggapi perkembangan wayang kulit pada era globalisasi informasi sekarang ini, Ki Panut Darmoko mengibaratkan perang. Kalaupun diumpamakan manusia, ya seperti sesak napas, Di tengah-tengah perubahan sosial-budaya sekarang ini, orang mempunyai banyak alternatif, apa yang akan ditanggap. Berbeda dengan zaman dulu tidak ada tanggapan band, ndangndut, rock, vidio, dan yang lain. Orang hanya bisa memilih antara tayuban dan wayang kulit.

“Pagelaran jangan seadanya. Perlu adanya rekayasa agar menjadi tontonan yang menarik. Yang tidak kalah dengan seni-seni modern. Namun perlu diingat, bahwa wayang kulit selain sebagai ton­tonan sekaligus sebagai tatanan dan tun- tunan. Itulah sebabnya yang perlu direkayasa hanya sebatas sebagai tontonan. Sedangkan sebagai tatanan dan tuntunan harus tetap diagungkan dan dilestarikan, tidak dapat diuthakathik,” tuturnya ketika dimintai tanggapan tentang pergelaran wayang kulit. (AS-10)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 19  (CB-D13/1996-…)

KARTOLO

Kartolo lahir di Pasuruan, 2 Juli 1947. Beragama Islam. Pendidikannya hanya sampai di Sekolah Rakyat selesai tahun 1958 di kota kelahi rannya.
Sebelum mendirikan group lawak Kartolo Cs, pernah bergabung dengan group kesenian ludruk Dwikora, Marinir, RRI dan Persada Lama.
Menikah dengan Kastini dlkaruniai tiga anak masing- masing Kristianing dan Dewi Antriali sedang putra pertamanya meninggal saat melahirkan. Kartolo bersama keluarga tinggal di Jalan Kupang Jaya 1/12-14 Darmo Satelite, telepon (031) 710555 Surabaya.
Namanya tak bisa dipisahkan dengan Kastini, istrinya. Maklum, pasangan ini sama-sama pelawak kondang di Jawa Timur yang bernaung dalam satu groupnya, yakni Kartolo Cs.
Arek Surabaya ini mengaku tak punya kiat khusus hingga eksistensinya bertahan sampai sekarang. Namun tokoh lawak satu ini mengaku tak mau mengandalkan bakat alam semata. “Biasa saja. Belajar dari pengalaman.
Yang penting lagi, mau belajar apa saja untuk menambah wawasan dan pengetahuan,” ujar pelawak yang suka bermain karawitan dan menari ngremong. Meski. hanya berpendidikan formal di Sekolah Rakyat, Kartolo yang mulai berani melawak sejak usia remajatetap rajin mem- baca literatur bahkan senang mencari informasi untuk memperkaya cakrawala sebagai bahan lawakannya yang kreatif.
Kalau hanya mengandalkan bakat alam saja, kata- nya seorang lawak bakal menjadi kering dan tak berkembang. “Padahal, perubahan dan perkembangan masyarakat pencinta seni lawak dewasa ini khan., semakin maju pesat. Tentu saja, hal ini yang menjadi tuntutan dan selera para penontonnya, agar dunia lawak tak akan ditinggalkannya,” katanya.
Segudang pengalamannya, memang patut dicatat tersendiri. Hampir setiap waktu ia mendapat tawaran di luar daerah. Baik itu di JawaTimur, Jateng & DIY, Jabar maupun sampai di luar Jawa. Baginya, ia memang harus siap selama masih dibutuhkan.
Selain mendapat tawaran pentas di luar daerah, ia juga sering di mintai melawak di berbagai perguruan tinggi swasta di Jawa Timur. (AS-4)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa & Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 60 (CB-D13/1996-…)

Imam Oetomo

imam oetomo001Mayor Jenderal TNI AD Imam Oetomo ini kelahiran Jombang pernah menjabat sebagai Danrem 084/Bhaskara Jaya tahun 1989- 1992, Kasdam VI Brawijaya tahun 1992 dan Asisten Personalia (Aspers) Kepala Staf Angkatan Darat. Sekarang menjabat sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya.
Bersama keluarga tinggal di Jl. Raya Darmo No. 100, Surabaya, telepon 510100. Sehari hari berkantor di Jl. Raden Wijaya No. 1, Surabaya, telepon 512455.
Selaku Pangdam V/ Brawijaya, ia meng. inginkan masyarakat Jawa Timur mempunyai kekuatan yang mampu menangkal berbagai permasalahan di kemu- dian hari. Membuat ruang, alat dan kondisi yang tangguh. “Tidak hanya kekuatan mi-ii- ternya, tetapi secara keseluruhan kita ajak masyarakat membantu pembangunan,” ungkapnya.
Sejak dulu, ia selalu ingin dekat dengan rakyat, demikian jugadi pasukan. Sehingga ia mengerti apa maunya mereka itu. Jadi dalam menentukan kebijakan-kebijakan juga tepat. “Sekarang ini di Jawa Timur perkem- bangan industrialisasi sangattinggi. Akibat- nya, masalah buruh dan tanah, yang akan diperguna kan untuk meluaskan pabrik, menjadi peka. Sehingga dibutuhkan pende- katan yang akan menyangkut hajat hidup rakyat itu sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, dampak industrialisasi di antaranya orang kaya akan lebih banyak, demikian juga orang miskin semakin ba¬nyak, sehingga akan menimbulkan kesen- jangan ekonomi-sosial yang tinggi. Hal itu perlu untuk diwaspadai. Karena kesenjangan sosial yang tinggi bisa menyebabkan masalah SARA. “Jadi menurut saya, potensi kerawanan di Jatim antara lain soal buruh, tanah dan SARA,” tegasnya.
Sebagai contoh soal buruh, kalau tuntutan kebutuhan hidup tidak terpenuhi, walau upah minimal sudah diumumkan, bisa menjadi permasalahan. Kalau misalnya yang didemonstrasi itu warga negara keturunan, akhirnya menjadi masalah SARA.
Untuk itu ia akan memberikan perhatian khusus dan pembinaan terhadap para USaha dan buruh. “Jangan sampai stabilitas keamanan terganggu oleh kerawanan-kerawanan tadi. Pangdam itu melakukan pembinaan teritorial supaya stabilitas daerah terjaga. Artinya, kita tidak sekedar menjadi pemadam kebakaran, ketika timbul masalah. Panglima akan selalu melihat situasi yang sebenarnya terjadi,” paparnya.
Dalam menghadapi permasalahan dan melakukan pendekatan kepada masyarakat ia menerapkan falsafah Jawa, yaitu ngudarasa, among rasa, mijil tresna, agawe karva. Ngudarasa, mengatur perasaan diri sendiri lebih dulu, sebelum berbagi rasa dengan orang lain. Apabila masing-masing telah mampu mengatur rasa dirinya, maka akan saling menghormati. Dan kemudian mijil tresna atau muncullah cinta. Apabila satu sama lain bisa saling mengerti ten- tunya kita bisa saling mencintai. Kalau su- dah saling cinta maka mengerjakan apa pun akan menjadi mudah.”
Hal itu, menurutnya bisa juga diterapkan pada para pengusaha. Dekati bawahan de¬ngan baik, sehingga produktivitas akan le¬bih tinggi. Cobalah selami apa yang dirasakan buruh. Lakukan pendekatan manusiawi. Kalau sakit diberi pengobatan, diberi kesempatan beribadah, kalau lebaran diberi USaha dan buruh. “Jangan sampai stabilitas keamanan terganggu oleh kerawanan-kerawanan tadi. Pangdam itu melakukan pembinaan teritorial supaya stabilitas daerah terjaga. Artinya, kita tidak sekedar menjadi pemadam kebakaran, ketika iimbul masalah. Panglima akan selalu melihat situasi yang sebenarnya terjadi,” paparnya.
Dalam menghadapi permasalahan dan ,nelakukan pendekatan kepada masyarakat ia menerapkan falsafah Jawa, yaitu ngu- darasa, among rasa, mijil tresna, agawe karva. Ngudarasa, mengatur perasaan diri sendiri lebih dulu, sebelum berbagi rasa dengan orang lain. Apabila masing-masing telah mampu mengatur rasa dirinya, maka akan saling menghormati. Dan kemudian mijil tresna atau muncullah cinta. Apabila satu sama lain bisa saling mengerti ten- tunya kita bisa saling mencintai. Kalau su- dah saling cinta maka mengerjakan apa pun akan menjadi mudah.”
Hal itu, menurutnya bisa juga diterapkan pada para pengusaha. Dekati bawahan de-ngan baik, sehingga produktivitas akan le¬bih tinggi. Cobalah selami apa yang dirasakan buruh. Lakukan pendekatan manusiawi. Kalau sakit diberi pengobatan, diberi kesempatan beribadah, kalau lebaran diberi THR. “Saya yakin, apabila orang diperlakukan demikian oleh pimpinannya, mereka akan bekerja lebih baik. Manajemen modern harus memanusiakan manusia,” ungkapnya.
Sebagai orang kelahiran JawaTimur, sikapnya sama seperti orang Jatim kebanyakan. Thas-thes, tak senang ngomong, senang juga ngomong. Itu keterbukaan. la lebih menyukai hal seperti itu. Kalau ada orang yang tidak senang lalu ngomong, ia lebih menyukai.
Masyarakat Jawa Timur diakuinya memang ceplas-ceplos dan terbuka. Akan tetapi di balik itu, khususnya di daerah pe- desaan, mereka masih memandang hormat para ulama dan tokoh masyarakat. “Seba¬gai contoh di Madura, ulama masih begitu dihormati dan ditaati. Oleh sebab itu harus diadakan pendekatan ke sana. Saya juga akan banyak turun ke masyarakat.”
Baginya, jabatan sebagai panglima, akan diemban dengan penuh rasa tang- gungjawab. Kalau orang mengatakan, wah jadi panglima senang yaitu yang dilihat glamornya saja. Ini tanggung-jawabnya besar, pengorbanan juga harus lebih banyak. “Apa pun yang terjadi, saya siap untuk berkorban. Saya akan memegangteguh kepercayaan pimpinan dan tidak setitik pun akan saya nodai. Itu yang saya pegang sejak jadi letnan,” tegasnya. (AS-3)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: editor Setyo Yuwono Sudikan: Apa &  Siapa Orang Jawa Timur Edisi 1995-1996., Semarang: Citra Almamater 1996. hlm. 92-93 (CB-D13/1996-…)

Hari Jadi Kabupaten Nganjuk

Hari Jadi Kabupaten Nganjuk : 10 APRIL 937.

Kabupaten NganjukBeberapa tesis yang sekaligus merupakan kesimpulan untuk dijadikan landasan berpijak dalam penentuan Hari Jadi Nganjuk.

Ada tiga sumber epigrafis yang ditemukan didaerah Kabupaten Nganjuk sekarang, yaitu : Prasasti Kinawe, dari Tanjung Kalang, Prasasti Hering, dari Kujon Manis, Warujayeng, dan Prasasti Anjukladang, dari desa Candirejo.

(1), Prasasti Kinawe, merupakan sumber tertulis paling tua yang ditemukan didaerah Kabupaten Nganjuk, yang memuat nama Sri Maharaja Wawa. Prasasti ini diumumkan bertepatan dengan tahun masehi, hari Kamis Wage, bulan Nopember 928. Walaupun prasasti ini termasuk sumber tertulis paling tua yang dikeluarkan oleh seorang pejabat tinggi Rake Gunungan Dyah Muatan, bersama ibunya Dyah Bingah, tidak memuat data yang dapat dihubungkan dengan sejarah pemerintah Kabupaten Nganjuk secara langsung. Didalamnya memuat pembebasan desa Kinawe dari pungutan pajak, serta mendapat hak sebagai desa Sima. Didalamnya memuat nama Pu Sindok Sri Isana wirakrama sebagai Rakriyan Mapatih, pada masa pemerintahan Sri Maharaja Wawa. Prasasti ini tidak mengungkapkan peranan Pu Sindok, sebagai panglima perang yang menyelamatkan serangan dari Sriwijaya, seperti diisyaratkan dalam hipotesa Proff.J.G. de Casparis. (de Casparis, 1958). Atas dasar kenyataan itu prasasti ini tidak dapat dijadikan landasan yang kuat untuk dipilih sebagai hari jadi Kabupaten Nganjuk.

(2)      Prasasti Hering, dari Kujon manis daerah Waruj/yeng, Nganjuk timur. Prasasti ini dikeluarkan pada hari Kamis Wage, 22 Mei 934, oleh Sri Maharaja Pu Sindok Sri Isanawikrama Dharmmotunggadewa, berisi antara lain tentang jual beli tanah sawah.

(3)      Dalam sumber tertulis inipun tidak menyebutkan toponimi yang secara langsung dapat dikaitkan dengan nama Nganjuk, baik sebagai nama wilayah maupun nama pusat pemerintahan yang berhubungan dengan Kabupaten Nganjuk sekarang. Nama Hering, Marganung, Kadangan, Hujung, walaupun nama tersebut mungkin sama dengan Keringan, Ganung, Kandangan dan Ngujung, namun kurang memenuhi kriteria sebagai sumber untuk dijadikan dasar penentukan Hari Jadi Nganjuk.

(4)       Prasasti Anjukladang, dari kompleks reruntuhan Candi Lor, J’ desa Candirejo, merupakan sumber tertulis tertua yang memuat toponimi Anjukladang sebagai satuan teritorial Watek, yang dikepa^1 seorang Samgat dan seorang Rama. Prasasti ini dikeluarkan ole Sri Maharaja Pu Sindok Isanawikrama Dharmmotunggadewa, serta nama para pejabat tinggi kraton maupun pejabat daerah. Prasasti ini memuat desa Anjukladang yang dianugerahi status otonomi atau swatantra serta daerah yang dibebaskan dari para pemungut pajak. Penetapan desa Anjukladang sebagai perdikan, dikaitkan dengan pemeliharaan bangunan suci yang bernama : Sang Hyang Prasada Kabaktyan i Sri Jayamrata i Anjukladang. Disamping itu juga dikaitkan dengan suatu monumen kemenangan, berupa Jayastamba. Prasasti Candi Lor ini dibandingkan dengan prasasti Kinawe dan Hering. memiliki nilai historis dan arkeologis. karena memuat nama desa Anjukladang. yang dalam perkembangan sejarah di daerah itu selama 10 abad masih tetap bertahan, walaupun telah mengalami perubahan ucapan. Namun tidak dapat disangkal. bahwa ada kedekatan yang menunjukkan hubungan yang nyata antara nama Anjukladang merupakan sumber tertulis tertua yang ada. yang menunjukkan kedekatan ucapan dengan nama Nganjuk. Ber- dasarkan data epigrafis itu, tahun penetapan anugrah watek Anjuk­ladang, sebagai desa swatantra, dapat dipilih untuk Hari Jadi Nganjuk. Menurut unsur penanggalannya, maka tanggal 12 bulan Caitra. Krsnapaksa, HA PO SO, bertepatan dengan tahun masehi: 10 April 937, secara lengkap jatuh pada hari SENIN PON, HARI YANG (SADWARA) BENTENG (TRIWARA), WUKU SINTA, 10 APRIL 937. Itulah tanggal yang sesuai dan layak sebagai Hari Jadi Nganjuk.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Harimintadji, dkk. Ngamjuk dan Sejarahnya, Ngnjuk :Keluarga, 1994. hlm. 64-66

Sejarah Kota Pasuruan

Letak Kota Pasuruan beradadi tepi pantai Utara Jawa Timur dan merupakan Kota Kuno setingkat kota bersejarah lainnya. Pada jaman kerajaan Airlangga disebut Paravan, selain itu disebut Kota Gembong, karena di tengah kota Pasuruandilaluisungai Gembongdengan pelabuhannva antar pulau.

Sejarah Kota Pasuruan dapat dirinci sebagai berikut:

Tahun 1671 – 1686, Pasuruan dibawah Pemerintahan Bupati Onggo Djojo yang berasal dari keturunan Kyai Brondong, yang kemudian mendapatkan perlawanan dari Untung Suropati. melarikandiri ke Kota Surabaya.

Tahun 1686 – 1706, Pasuruan dibawah Pemerintahan Djoko Untung Suropati dengan gelar Adipati Wironegoro.

Tahun 1706, sebagai akhir kekuasaannya menghadapi perang dengan VOC di Bangil dan beliau mengalami lukaberathinggameninggal yang sampai kini makamnya tidak diketahui tempatnya, namun yang bisa diketahui adanya petilasan berupa gua sebagai tempat persembunyian sewaktu dikejar tentara VOC di Pedukuhan Mancilan Desa Pohjentrek Kecamatan Purworejo Kotamadya Pasuruan.

Tahun 1707- 1743, Putera Djoko Untung Suropati yang bernama Rahmat menggantikan kedudukan ayahnya dan meneruskan perjuangannya sampai gugur dalam pertempuran melawan VOC Kerajaan Belanda.

Tahun 1743, Darmoyudo IV bernama Wongso Negoro Niti Negoro sebagai pengganti Rahmat, sejak saat itulah VOC dapat menguasai pantai Utara pulau Jawa termasuk Pasuruan.

VOC menganggap kota Pasuruan sebagai Kota Bandar karena keberadaan pelabuhannya untuk sarana transportasi perdagangan, akhirnya Belanda mengadakan kegiatan perekonomian dengan mendirikan PabrikGuladisekitar Pasuruan yang sampai sekarang masih nampak kegiatannya Pabrik Gula Kedawung.

Pada saat itu pula wilayah Pasuruan meliputi: Kabupaten/KotamadyaMalang, Kabupaten/Kotamadya Probolinggo dan Kabupaten Lumajang.

Juli 1916, dibentuknya Staatgementee Van Pasuruan. Bukti lain bahwa sejarah Kota Pasuruan yang dianggap kota penting oleh ahli Belanda.

Tahun 1926, ditetapkannya sebagai Pelabuhan Pasuruan Stbl. 1926 Nomor 521 dengan perubahan Stbl. 1926 Nomor 426.

14 Agustus 1950, sejak tanggal ini dinyatakan Kota Pasuruan sebagai Daerah Otonom yang terdiri 19 Desa dalam 1 Kecamatan.

21 Desember 1982, Kotamadya Pasuruan diperluas menjadi 3 Kecamatan dengan 19 Kelurahan dan 15 Desa. Dalam kurun waktu 1990 sampai 1994/1995 Kotamadya Pasuruan dikatagorikan sebagai Kota Sedang.

Tahun 1686, Kerajaan Belanda dengan kekuasaan VOC nya ingin menguasai wilayah Pasuruan yaitu wilayah yang disebutkan di atas.

Tahun 1743, Belanda menguasai Pasuruan bersama kepentingannya.

Tahun 1835, telah mendirikan bengkel-bengkel dan pabrik-pabrikgula termasuk pusat penelitian yang pada saat itu disebut PROOF STATION VAN JAVA dan sekarang berubah nama menjadi PUSAT PENELITIAN PERKEBUNANGULA INDONE­SIA (P3GI).

Tahun 1865, Selain itu Belanda (VOC) mendirikan pula bengkel-bengkel untuk menunjang kelancaran operasional pabrik, bernama DE BROMO.

Tahun 1971, DE BROMO berubah nama PN BOM A yang tergabung didalamnya PT BOMABISMAINDRA. Peninggalan lainnya setelah adanya penjajahan Belanda(VOC) adalah:

–         Pelabuhan Pasuruan sebagai pelayaran interinsuler/pelabuhan rakyat antar pulau.

–         Bangunan kuno yang mempunyai sifat arsitektur barat campur Jawa kuno, sebagai tempat tinggal pekerja Belanda.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: MIMBAR JATIM, Nomor 9, April – Mei 1996, hlm. 36

 

Sejarah Kabupaten Trenggalek

Zaman sejarah Trenggalek ditandai dengan adanya prasasti yang pertama kalinya muncul berbentuk prasati Kampak atau dikenal dengan nama lahirnya Perdikan Kampak yang dibuat oleh Raja Sindok pada tahun 851 Syaka atau 929 Masehi.

Dari Prasasti itu dapat diketahui balnva Trenggalek pada masa itu sudah memiliki daerah-daerah yang mendapatkan hak otonomi atau Swatantra. Lebih jelasnya diketengahkan balnva Perdikan Kampak berbatasan dengan Maha Samudra (Samudra Indonesia discbelah Selatan yang pada waktu itu wilayahnya meliputi Panggul, Munjungan dan Prigi. Juga daerah Dawuhan yang sekarang ini masih dapat dijumpai di Trenggalek. Setelah masa Mpu Sindok dengan melalui masa Raja Dharmawangsa lahirlah di Jawa Timur Kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh Raja Airlangga. Hanya sayangnya pada masa ini tidak banyak diketahui kesejarahannya, dikarenakan tidak diketcmukannya data tentang masa tersebut.

Namun tidak dapat disangkal bahwa wilayah Trenggalek termasuk dalam kawasan Kahuripan yang kemudian berkesinambungan menjadi wilayah Kerajaan Kcdiri. Dari jaman Kcdiri hanya ada beberapa hal yang dapat dicatat, utamanya pada masa ini dengan munculnya Prasasti Kawulan yang terlctak di desa Kamulan Kecamatan Durcnan Kabupatcn Trenggalek.

Bcrtolak dari Prasasti Kamulan dapatlah diajukan suatu masa yakni lahirnya Perdikan Kamulan. Di dalam Prasasti Kamulan dicantumkan tahun pembuatannva yakni tahun 1116 Caka atau tahun 1194 Masehi. Prasasti tadi dikeluarkan oleh Raja Sri Sarweswara Trikramawa- taranindita Srengga Lencana Dikwija- yotungadewa atau biasa dikenal dengan nama Kcrtajaya. Raja inilah yang berhasil mengusir musuh-musuhnya dari daerah Katang-Katang berkat bantuan rakyat Kamulan. Berdasar atas Prasati inilah ditetapkan “Hari Jadi Kabupaten Trenggalek ” pada hari ” Rabu Kliwon tanggal 31 Agustus tahun 1194. Hari dan tanggal tersebut dijadikan Hari Jadi atau Hari lahirnya Kabupaten Trenggalek berdasarkan data sejarah yang ditemui di Trenggalek, antara ain :

  • Pertama, Prasejarah daerah trenggalek menunjukkan bahwa daerah itu telah dihuni manusia tapi jaman ini bersifat masih nisbi sekali.
  • Kedua, Prasasti kampak tidak jelas hari dan tanggalnya kapan Prasasti itu dilaksanakan isinya.
  • Kctiga, hanya Prasasti Kamulan yang mcniiliki informasi cukup lengkap.

sehingga mampulah Prasasti Kamulan dijadikan tonggak sejarah lahirnya Kabupaten Trenggalek secara analitis, historis, yuridis formal yang dapat di pertanggung jawabkan.

Sejarah Kabupaten Trengalek mcmang unik, hal ini tercermin dalam periodisasinya yang pernah mengalami masa penggabungan.Periode Treng­galek awal yang mengetengahkan perkembangan dinamika poleksosbud Trengalek kurang lebih 1830 M sampai 1932 yang dilanjutkan dengan masa Trenggalek revolusi fisik.

Yang dimaksud dengan Trenggalek awal ialah masa dimana patut dibedakan pemerintahan timbul tenggclam yang mcngemudikan Kabupaten Trenggalek. Peristiwa sebelum 1930 yang meng- guncangkan pulau Jawa adalah peristiwa pembunuhan penduduk cina di Batavia secara besar-besaran yang dlaksanakan olch VOC pada tanggal 10 Oktober 1740 yang dikenal dengan nama perang Pacinon atau geger pacinan. Akibatnya Mas gerondi yang bergelar Sunan Kuning membantu penduduk cina dan mcngadakan pemberontakan menye- rang Kartas ura pada 30 Juni 1742. Akibat dari pemberontakan ini Sunan Paku- buwono II teraksa melarikan diri ke Ponorogo. Dengan bantuan Bupati Mertodiningrat dari Ponorogo. Sunan Pakubuwono II berhasil menumpas pemberontakan tadi yang mengaki- batkan Putra Bupati tadi diangkat sebagai Bupati Trenggalek yang pertama pada tahun 1743. Bupati Trenggalek yang pertamayang berama Sumotruno. Bupati Sumotruno digantikan oleh Saudaranya sendiri Bupati Jaya Negara yang merangkap penguasa timggal di Sawo Ponorgo.

Waktu perang mangkubumen; Penguasa Trenggalek adalah Ngabei Surengrana yang pada awalnya membantu Mas Said kemudian berganti haluan menggabungkan diri mengiktui jejak sultan hamengkubuwono I. Pada akhir peperangan mangkubumen yang mencetuskan perjanjian Giyanti pada 13 Pebruari 1755 mengakibatkan Trenggalek di bagi menjadi dua bagian, bagian timur masuk wilayah Ngrawa dan bagian barat dan selatan termasuk Kabupaten Pacitan. Hal ini dapat dibuk- tikan dengan diketemukannya tugu per- batasan dari batu yang terdapat didesa Gayam Kecamatan Panggul.

Baru pada tahun 1830 setelah perang Diponegaran selesai darah Trenggalek langsung menjadi milik Belanda, susunan tata pcmerintahan pada waktu itu tidak banyak dikctahui hanya dapat dipcr- kirakan kala tidak tcrlampau jauh bedanya dengan daerah-daerah wilayah Kerajaan Mataram yang lain.

Tahun 1926 diadakan perubahan pcmerintahan oleh pihak Belanda. Perubahan ini di Trenggalek dilaksanakan pada tahun 1935, sejak saat ini Trenggalek digabungkan, sebagian daerahnya dimasukkan Kabupaten Tulungagung dan sebagian lainnya dimasukkan Kabupaten Pacitan. Akibatnya hal ini sama dengan pada masa sebelum adanya Kabupaten Trenggalek awal.penggabungan ini mengakibatkan Trenggalek kurang mendapat perhatian. Dengan demikian maka keadaan Trenggalek pada masa itu tidak banyak yang dapat dicatat.

Trenggalek pada masa revolusi fisik ditandai dengan masuknya daerah itu ke dalam wilayah negara Republik Indo­nesia. Bcrita masuknya daerah Treng­galek ke dalam negara Kesatuan Republik Indonesia meskipun secara tidak resmi telah terdengar secara lesan dan tersebar serta didengar olch seluruh penduduk desa-desa di Trenggalek.

Dalam masa ini Trenggalek men­dapat perhatian dari pembesar-pembesar negara antara lain: Menteri Agama Kyai Haji Masjkur yang didampingi oleh Mr. Sunaryo sebagai sekjen Depag. Datang pula menteri Dalam Negcri Drs. Susanto Tirtoprodo, SH serta menteri Negara Dr. Sukiman Wirjosandjojo yang sampai didaerah Trenggalek dengan jalan kaki.

Panglima Besar Jenderal Sudirman pernah dua kali mengunjungi Treng­galek. Kunjungan yang terakhir pada tanggal 24 Januari 1949 menuju desa Nglongsor.

Konfrensi Meja Bundar yang membuahkan pemerintahan Republik Indonesia Serikat imbasnya terasa pula di Trenggalek. Hal ini dapat diketahui dengan adanya serah terima kekuasaan yang dilakukan oleh Mukardi, R. Roestamdji dan Sukarjono dari pihak RI di Trenggalek dengan Mayor Crcnn dan Karis Sumadi dari pihak belanda.

Dengan demikian selesailah masa penggabungan di Trenggalek yang dipenuhi dengan peristiwa – peristiwa duka dan lara. Namun berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa fajar telah menyingsing dan Trenggalek meng­alami masa cemerlang serta masa pembangunan demi tercapainya keagungan bangsa dan negara. (SIH) □

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: MIMBAR JATIM,
NOMOR 11, Juli – Agustus 1996, hlm. 41-42

Rebab, Instrumen Gamelan Jawatimuran

REBABRebab adalah jenis instrumen Chordophone,  pada kelompok instrumen gamelan Jawatimuran ada dua jenis instrument yang semacam ini, ialah tali yang cara memainkannya dengan digesek adalah Rebab, sedangkan tali yang cara memainkannya dengan dipetik adalah Clempung dan Siter. 

Rebab, instrumen ini hanya menggunakan dua tali dianggap sebagai instrumen absolut seperti biola atau cello, yang tidak mempergunakan “fret” pada lehernya.

Sejarahnya instrumen rebab ini berasal dari Mesir yang dibawa melalui India, Thailand dan Semenanjung Malaka. Sehingga daerah-daerah ini juga memiliki instrumen serupa aslinya yang bernama sama (Rebab).

Pada instrumen gamelan Jawatimuran, perangkat rebab ini bahan tubuh rebab dibuat dari “Galih Asam” bagian tengah dari kayu pohon Asam, yang ditakik dan dibentuk seperti daun. Sedangkan tali dari kawat tembaga, namun kini tali banyak menggunakan sling baja.
PENGGESEK REBABAwal mulanya sebenarnya perangkat rebab ini dibuat dari “batok kelapa” yang juga berbentuk daun yang lebarnya 19 cm dan panjang 20 cm. Sedangkan lehernya dengan panjang 70 cm dibuat dari “Galih Asem” dengan perbedaan bahwa untuk Rebab Slendro dengan leher yang diberi warna bahan kayu yang berwarna putih di sepanjang leher, sedangkan pada Pelog dengan warna aslinya-coklat tua.

 

Sebagai instrumen absolut yang sulit memainkannya, Rebab biasanya dimainkan pada introduksi Gending Gede yang kemudian disambut oleh Kendang dan instrumen-instrumen lainnya. =S1wh0T0= 

Sumber:

Proses Pembuatan Gamelam; Di Kidal Desa Kauman, Kec. Karangrejo, Kab. Magetan.: Bagian Proyek Permuseuman Jawa Timur 1994/1995.

Proses Pembuatan Gamelam: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Jakarta 1995/1996