K. ABDOELLAH ISKANDAR, Lamongan

Lamongan0005K. ABDOELLAHISKANDAR Kiai pejuang sebagai politisi unggul dari PNU pembina kepanduan.
K.Abdoellah Iskandar berprofesi sebagai guru agama dan pendidik yang cakap, tercatat sebagai pejuang empat lima lalu terjun ke dunia politik sejak usia muda baik di tingkat Kabupaten Lamongan maupun di Provinsi Jawa Timur. Pemuda ini pintar berpidato dan berceramah serta termasuk orang yang setia dalam tugas pengabdian dan hidup sederhana.
Nama kecil beliau adalah Abdoellah putera dari seorang santri – pedagang dari Pambon – Brondong bernama Iskandar, setelah besar nama ayah dirangkum menjadi Abdoellah Iskandar yang berwajah ganteng. Beliau adalah anak ke-6 dari 8 saudara yang dilahirkan di Pambon tahun 1919, nama saudara- saudaranya ialah:
1. Kiswati ( keluarga Machinu, Bulu – Sekaran )
2. K.H. Achmad Zaini ( Guru Madrasah Sawahan )
3. Chunaimah
4. Chanah ( di Pambon )
5. H. Masroer ( di Pambon )
6. K. Abdoellah Iskandar ( di Lamongan )
7. Animah ( di Lamongan)
8. Insijah ( di Lamongan)
Pada masa muda Abdoellah Iskandar digembleng di Ponpes Langitan bersama K.H.Achmad Zaini yang masih termasuk
kerabat pondok pesantren ini. K. Abdoellah Iskandar meninggal pada 16-09-1991 karena usia lanjut 72 tahun dan dimakamkan di kuburan sebelah barat kampung Pagerwojo Lamongan.
Pendidikan Kiai ini ialah SR VI tahun, Tsanawiyah Pondok, Madrasah Aliyah Pondok Langitan serta berijazah Pondok. Dalam perjalanan hidupnya beliau menikah dua kali yaitu pertama menikahi gadis Lamongan bernama Rochimah lalu bercerai tidak mempunyai anak. Setelah itu menikahi gadis Gresik bernama Ma’soemah dikaruniai 6 putera sebagai berikut:
1. Izzatul Lailah ( artinya kemuliaan malam )
2. Drs. Mohammad Djunaedi ( artinya tentara kecil terbaik )
3. Drs. Azam Kamal, SH (artinya keinginan yang sempurna)
4. Nailun Nusra (artinya Sungai Nil yang memberi pertolongan)
5. Ir. Agus Sihabudin ( artinya obor agama yang baik )
6. Dra. Wiwik Mujasaroh ( artinya yang dimudahkan ) Pesan K. Abdoellah Iskandar kepada anak-anaknya sebelum beliau wafat ada 3 hal yaitu :
a) Jangan sampai bermusuhan (geger) dengan saudara atau kawan akibat masalah harta-benda, sebab harta-benda mudah dicari namun persaudaraan dan kekerabatan bila putus sulit dan lama untuk menyambung kembali
b) Bergaullah di semua lapisan masyarakat.
c) Jangan sampai hidup ini menggantungkan diri pada orang lain.
Pada masa pendudukan Jepang pemuda Abdoellah Iskandar aktif dalam kepanduan Hisbul Waton dan kepanduan Ansor. Jiwa kepanduan ini dibawa sebagai bekal perjuangan ikut mempertahankan Republik Indonesia dengan bentuk memimpin sebuah kompi Hisbullah berpangkat Kapten. Anak buahnya yang gugur dan mengawali dimakamkan di Taman Bahagia Lamongan adalah Letnan Muda Choiroel Hoeda, anak buahnya yang lain yaitu Letnan Muda Choesnan Marzoeki, Letnan Muda Maksoem Irfan, Letnan Gufron (G. D wipayana pencipta boneka Unyil), Sersan Achmad Djaelani.
Perjuangan K. Abdoellah Iskandar bersama anak buah berada di front Benjeng, Metatu, Balongpanggang dan bertahan di Mantup, Beliau memperoleh berbagai tanda penghargaan dan tidak mengurus tunjangan veteran seperti beberapa temannya bahwa berjuang mengusir orang kafir Belanda adalah jihadu fisibilillah sebagai rasa cinta kepada bangsa dan negara (khubbul waton). Sepulang dari perang dan selamat adalah nikmat anugerah Allah yang patut disyukuri yang penting Indonesia tetap merdeka.
Jabatan K. Abdoellah Iskandar dalam kemasyarakatan tercatat sebagai berikut:
1. Dewan Pertimbangan Ponpes Langitan (1970-1991)
2. Ketua Takmir Masjid Jamik Lamongan (1980-1985)
3. Nadzir Waqfiyah Sawahan Lamongan (1982-1991)
4. Dewan Penasehat Bazis Lamongan (1990-1991)
5. Ketua Tanfidiyah dan Rois, Suriah NU di Lamongan (1960-1991)
6. Ketua Dewan Pertimbangan PPP Lamongan (1977-1987)
7. Ketua DPRD Kabupaten Lamongan (1960-1966)
8. Anggota DPRDS Kabupaten Lamongan 1951-1956-1960)
9. Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur (1977-1982)
10. Kepala PGANU Lamongan (1982-1987)
Jika sedang berkhutbah Jumat di Masjid Jamik Lamongan (kini Masjid Agung Lamongan) K.Abdoellah Iskandar selalu mengajak kebaikan dan persatuan serta peningkatan kualitas hidup dan beragama hal ini dilakukan dengan suara keras, lantang, menantang kemungkaran, tegas, berisi muatan kehidupan masa depan. Beliau mengajar mengaji kitab kuning di rumahnya kampung Mojo, Demangan, Kauman, Sawahan, Karangasem dan terakhir di Perumnas Made, juga aktif mengajar di PGANU dan Madrasah Mualimin NU Lamongan.
Penulis sangat akrab dengan K. Abdoellah Iskandar yang merupakan Guru tercinta, dan juga telah lama bersama sebagai guru PGANU sejak tahun 1968, Penulis juga sebagai Sekretaris beliau di Yayasan Wattarbiyah Sunan Giri Sawahan Lamongan sejak tahun 1982 sampai wafatnya beliau dan sampai saat ini.
Selama bergaul dengan K. Abdoellah Iskandar ini Penulis banyak menimba ilmu dan dapat memberikan penilaian serta kenangan di bawah ini, bahwa beliau memiliki sifat:
a. Jiwa kejuangan yang tinggi dan tanpa pamrih.
b. Bila berjanji bertemu dan mengadakan rapat selalu tepat waktu.
e. Selalu menjaga kesehatan, berkaca mata minus.
d. Berpakaian rapi perlente, bersongkok dalam acara resmi, dan sering bersarung jika bergaul dalam dunia santri.
e. Gemar bela diri silat dan gemar makanan enak bergizi.
f. Arif, sederhana, tidak materialis, sehingga memiliki rumah pribadi baru tahun 1985 di Perumnas Made.
g. Jujur dan betul-betul memperhatikan dunia pendidikan.
h. Bicara harian pelan, ramah, tegas, namun jika berkhutbah lantang.
i. Berjuang di jalan politik dalam PNU dan PPP
j. Mendapat julukan dari orang NU ” Dua Serangkai Politikus ” terdiri K. Abdoellah Iskandar Dan KH. Sjoekran. k. Mendapat julukan dari orang Lamongan ” Trio Santri Unggul ” terdiri K. Abdoellah Iskandar, R.H. Moeljadi, H. Ali Affandy yang ketiganya adalah jebolan Ponpes Langitan.
1. K. Abdoellah Iskandar berwajah ganteng simpatik, tidak pernah berbuat yang tercela dalam hidup dan perjuangannya.
m. Dalam tahun 1980-1990 K. Abdoellah Iskandar bersama KH. Asjikin Ghozali menjadi rujukan orang-orang NU Lamongan
K. Abdoellah Iskandar bekeija sebagai Pegawai Negeri Sipil di KUADepartemen Agama Kab. Lamongan sejak tahun 1950 dan pensiun pada tahun 197.6.
Keahlian yang mendalam K. Abdoellah Iskandar ialah bidang Tarikh Islam, Feqih, Syariah,. Dalam hal ubudiyah dan fatwa hukum Islam beliau sangat berhati-hati. Salah satu keistimewaan beliau adalah sebagai pendidik lapangan (tipe luar) jarang istiqomah mengajar di rumah kecuali isterinya yang istiqomah mengajar mengaji di rumah.
Sebuah perbuatan yang baik selalu dilakukan beliau yaitu senang bersilaturahmi dengan naik sepeda pancal ke rumah kawan, murid dan keluarganya, beliau tidak pernah mempertentangkan masalah khilafiyah namun selalu menunjukkan kebenaran Islam dalam faham Ahlussunnah waljamaah yang sesuai A1 Qur’an dan A1 Hadits.
Beliau sangat sedih jika melihat ada sebuah Madrasah NU dan Madrasah Muhammadiyah yang bubar tidak ada muridnya.Kepada Penulis beliau berpesan agar benar-benar mendalami A1 Qur’an dan Sunnah Rasul jika ingin menjadi orang pintar yang beriman.
Pada tahun 1990 setahun sebelum wafat K.Abdoellah Iskandar memberikan argumentasi kepada Penulis sehubungan adanya upaya agar beliau aktif di Golongan Karya, kata beliau:
Hei! Chambali, anda salah satu santriku yang menjadi abdi negara, abdi pemerintah, berbuatlah kejujuran dimana kau berada! Anda tahu Saya aktif di PPP bersama Kiai Abdul Aziz Choiri karena untuk menjaga keseimbangan pembangunan bangsa lewat jalur Ulama. Jadi tidak semua Ulama harus di Golongan Karya, biarkan ulama di PPP, di PDI, di Golkar, yang penting pengabdiannya. Bila Anda sebagai pegawai negeri terpaksa ” di- Golkarkan” maka jadilah orang baik , jadi kader yang tangguh dan bertaqwa pada Allah Swt!”
Pada tahun 1965 dan 1966 K.Abdoellah Iskandar menjadi figur orang NU yang disegani dan dikenal orang sebagai pelopor pembasmian PKI di Kabupaten Lamongan bersama KH.Moch. Mastoer Asnawi yang memberi fatwa dibantu KH. Sjoekran,
beserta tokoh lain yang mendapat dukungan ABRI saat itu dan para eksponen 66 di Lamongan.
Ada beberapa komentar dari beberapa orang kalangan NU tentang pribadi K. Abdoellah Iskandar yaitu :
1. H. M. Maksoem Abdoerrachman
Selama saya bergaul dengan K. Abdoellah Iskandar selaku senior Saya, maka melihat adanya sifat kesederhanaan, tegas dan moderat.
2. KH. M. Ghufron Sholichin
Selama Saya berkawan dengan Dia, sampai sama-sama di MUI dapat melihat K. Abdoellah Iskandar pandai membina kader santri dan tentara, beliau berpesan menjadi Ulama itu harus hati-hati, menjaga diri dan harga diri yang tetap menjadi panutan. Kepada pemuda beliau mengharap agar banyak belajar yang konferehensif.
3. KH. Suudi Karim
Selaku senior Saya, K. Abdoellah Iskandar termasuk tipe orang ikhlas, apabila ada permintaan yang bisa dibantu maka dengan segera beliau memberikan sesuai kemampuan.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Enam Figur Ketua DPRD Kabupaten Lamongan (1951-2004),  halaman 13-20

 

Minarni Soedaryanto, Kabupaten Pasuruan

10 Mei 1944, Minarni Soedaryanto atau Minarni Sudaryanto lahir di Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia.

Tahun 1959, saat berusia 15 tahun Minarni sudah menjadi pemain pelatnas.

Tahun 1960, Juara Malaysia Terbuka  tunggal putri.

Tahun 1962, ganda putri Minarni/ Retno Koestijah meraih Medali Emas Asian Games dan pada Asian Games tunggal putri meraih Medali Emas.

Tahun 1966, Juara Malaysia Terbuka  tunggal putrid; ganda putri Minarni/ Retno Koestijah;  ganda putri Minarni/ Retno Koestijah Juara Malaysia Terbuka dan meraih Emas Medali Pada Asian Games.

Tahun 1967, ganda putri Minarni/ Retno Koestijah Juara Malaysia Terbuka dan  Juara Malaysia Terbuka  tunggal putri.

Tahun 1968, All England, PB PBSI yang mengirimkan Rudy Hartono, Ang Tjin Siang, Minarni Soedaryanto, dan Retno Kustiyah berhasil mencatatkan prestasi yang gemilang. Rudi Hartono meraih juara, Muljadi meraih medali perunggu, Minarni meraih medali perak tunggal putri, dan ganda Minarni/ Retno Koestijah meraih juara. Minarni menjadi pemain bulu tangkis putri Indonesia pertama yang bisa mencapai babak final kejuaraan All England. Tahun ini Minarni Finalis All England  tunggal putrid dan  Minarni/ Retno Koestijah ganda putri Juara All England.

Tahun 1969, ganda putri Minarni/ Retno Koestijah Juara AS Terbuka;  Juara AS Terbuka  tunggal putrid; Minarni/ Retno Koestijah ganda putri Juara Kanada Terbuka;  ganda campuran Minarni / Darmadi Juara Kanada Terbuka; Finalis Piala Uber  Tim Indonesia tunggal putrid;  Minarni dan kawan-kawan gagal meraih gelar juara karena dikalahkan Jepang dalam babak final Piala Uber 1969 (skor 1-6) dan 1972 (skor 1-6).

Tahun 1972,  sebagai Finalis Piala Uber Tim Indonesia tunggal putri.

Tahun 1975, Juara Piala Uber  Tim Indonesia tunggal putrid . Pada perebutan Piala Uber 1975 di Jakarta, Tim Indonesia yang diperkuat oleh Theresia Widiastuti, Imelda Wigoena, Utami Dewi, Tati Sumirah, Minarni Soedaryanto, dan Regina Masli berhasil mempersembahkan Piala Uber untuk pertama kalinya bagi Indonesia setelah di final menundukkan Jepang dengan skor 5-2. Kemenangan ini menjadi pembalasan.

Setelah pensiun dari pemain, kemudian berkarier sebagai pelatih bulu tangkis di pelatnas serta aktif dalam organisasi PB PBSI.

14 Mei 2003, Minarni Soedaryanto  meninggal dunia dalam usia 59 tahun di RS Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan karena komplikasi radang paru-paru dan lever. Jenasah dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan.

KH. Hasan Abdullah Sahal, Kabupaten Ponorogo

KH-Hasan-Abdullah-Sahal24 Mei 1947, KH. Hasan Abdullah Sahal lahir di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. putera keenam dari KH Ahmad Sahal.

Tahun 1959, Hasan Abdullah Sahal menyelesaikan pendidikan dasar (SD) di Gontor.

Tahun 1965, menyelesaikan pendidikan di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor.

Hasan Abdullah Sahal melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD (ISID-red)) sekaligus mengajar di KMI selama dua setengah tahun.

Tahun 1967 beliau mendapat kesempatan melanjutkan studi di Fakultas Da’wah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah. Pada tahun 1992 mengambil spesialisasi Hadits di Universitas Al-Azhar Mesir.

Tahun 1985 – sekarang,  Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo. bersama 2 orang lainnya Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A dan KH Syamsul Hadi Abdan, S.Ag.

Tahun 1989, Pendiri Pondok Pesantren Putri al-Mawaddah Coper, Jetis, Ponorogo.
Tahun 1992, Pendiri dan Pengasuh Pondok Tahfidz Qur’an Al-Muqoddasah Nglumpang, Mlarak, Ponorogotahun.
Tahun 1977 – sekarang, Dosen Institut Studi Islam Darussalam(ISID) Ponorogo.

Tahun 1993, Mengikuti Seminar Bahasa Arab di Brunei Darussalam.
Tahun 1999, Da’wah di Malaysia.

Tahun 1999 dan 2000, Hongkong.

Tahun 1999, Korea Selatan.

Tahun 2001, Jepang.
Tahun 1999, Kunjungan luar negeri lainnya, yaitu ke Singapura.

Tahun 2002, Jordan, Syiria, Israel, Turki, Jerman, Prancis, dan Belgia dan Australia.

Tahun 2003, Saudi Arabia, Mesir, Thailand, India, serta Pakistan.

KH Hasan Abdullah Sahal juga menghasilkan Karya Tulis diantaranya: 1. Membina Keluarga Muslim. 2. Pegangan Para Qori. 3. Obsesi Hasan Abdullah Sahal. 4. Ceramah-ceramah Kontemporer.

KH Ahmad Sahal adalah putra salah seorang dari tiga Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor (KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi. =S1Wh0T0=

Sumber: http://www.putri1.gontor.ac.id/kmi/pendiri-pondok

 

Herman Cornelis Hartevelt, GubernurJawa Timur (9 Juli 1941-1942)

Mr. H.C. HARTEVELTHerman Cornelis Hartevelt, lahir di Leiden pada tahun 1890. Ia menyelesaikan pendidikannya di Eindexamen Gymnasium, Eindexamen Nederlandsch-Indie Administratie Dienst, Doctoraal Examen Nederlandsch Indie Recht dan Klein Notariaat.

Kariernya dalam pemerintahan diawali sebagai Adspirant Controleur di Keresidenan Kedu, melalui besluit penunjukkan tanggal 27 Agustus 1917, No. 69. Pada saat itu ia mendapat gaji f300,- per bulan dalam usianya yang masih 27 tahun. Kariernya terus meningkat ketika ia diangkat lagi sebagai Asisten Resident voor de Politie di Residensi Malang pada tanggal 27 Juni 1928 No. 10 dengan f775,- per bulan.

Hartevelt pernah diangkat sebagai Residen Pekalongan, sebelum diangkat sebagai Gubernur Jawa Timur. Dedikasinya yang tinggi dalam pemerintahan membuatnya terpilih sebagai Gubernur Jawa Timur melalui Besluit Gubernur Jenderal tanggal 9 Juli 1941.

Sebagai seorang intelektual yang juga notaris, Hartevelt menguasai 3 bahasa asing, yaitu: Inggris, Perancis dan Jerman. Kepandaiannya bergaul dengan pribumi dimanfaatkan untuk belajar bahasa daerah di mana dia bertugas. Meskipun tidak terlalu pandai, ia cukup mampu berkomunikasi dalam bahasa Melayu, Jawa dan Sunda.

Berdasarkan catatan conduite staat yang dikeluarkan oleh Departemen van Binnenlandsch Bestuur diketahui bahwa ia seorang yang penuh ide cemerlang. Ia cakap dan tanpa ragu memimpin daerah yang menjadi tanggung jawabnya. Ia pernah menjadi anggota Raad van Regentschappen dan College van Gemiteerden. Dia mampu bekerja sama dengan anggota-anggota lain dalam menjalankan pemerintahan daerah. Tidak aneh jika pemerintah memberikan jabatan yang lebih tinggi atas prestasi yang diraih, yaitu Gubernur Jawa Timur.

Selama masa pemerintahannya, tidak banyak kebijakan yang diambil. Itu bisa dipahami, karena ia tidak lama menjabat sebagai Gubernur di Jawa Timur. Mula-mula ia mengusulkan Mr. Ali Sastroamidjojo untuk mengisi lowongan anggota komisi Verzoekschriften dalam Provinciaal Blad dan Jawa Timur. Usul ini disampaikan pada Provinciaal Raad melalui College van Gedeputeerden.

Pada saat yang sama Gubernur Hartevelt juga menyampaikan usulan peraturan tunjangan perjalanan bagi para pejabat di Propinsi Jawa Timur. Pada Provinciaal setempat. Di dalamnya berisi apa macam perjalanan yang diberi tunjangan, besarnya tunjangan, siapa saja yang berhak menerima, berapa lama, dan lain-lain. Usulan peraturan-peraturan tunjangan perjalanan diterima dewan dan diputuskan pada tanggal 5 Agustus 1941 N. P 1/9/15.

Dalam rangka pemilihan anggota Dewan Kabupaten Banyuwangi (Regentschaap Raad), Gubernur Hartevelt mengusulkan pada Dewan Propinsi Jawa Timur, untuk menunjuk sejumlah pribumi (bukan orang-orang Belanda) sebagai anggota dewan Kabupaten Banyuwangi serta menunjuk daerah-daerah pemilihnya. Ada 7 anggota pribumi-non Belanda yang dipilih. 7 orang dari distrik Banyuwangi, 2 orang dari distrik Genteng, 2 orang dari distrik Rogodjampi, dan 1 orang dari distrik Blambangan.

Masalah pengairan rupanya menjadi dilema kota dari masa ke masa. Mengingat kesulitan air minum yang dialami warga Surabaya dan sekitarnya. Gubernur Hartevelt berinisiatif mengajukan pinjaman uang untuk mendanai pengadaan pipa air minum baru bagi kotapraja Surabaya. Ternyata masalah air minum ini sudah ada sebelumnya. Ini terbukti dengan adanya surat dari Fuchter, Burgermeester pada Dewan Propinsi Surabaya yang kemudian ditindaklanjuti oleh Gubernur Hartevelt.

Usul pinjaman uang untuk pembangunan pipa air minum baru ini melibatkan banyak pihak, seperti: Burgermeester Surabaya, Residen dan Ketua Komisi Irigasi Pasuruan di Malang, bagian anggaran (Begrooting en Comptabiliteit), Kepala Provinciale Waterstaat van Oost-Java, Kepala Proncialen Dienst der Vollsgezonheid, Provincialen Kas Houder, dan Bagian Algemeene Zaken. Usulan ini pun akhirnya disetujui oleh Dewan Propinsi yang dituang dalam keputusan tanggal 5 Agustus 1941.

Khusus mengenai anggota Dewan Propinsi Jawa Timur, Gubernur Hartevelt berkirim surat pada Gubernur Jenderal Hindia Belanda melalui Direktur Binnenland Bestuur, mengenai alasan penunjukan RAA. Moh. Notohadisoeijo. Melalui surat rahasianya, ia menyebutkan bahwa ada 2 calon anggota Dewan Propinsi. Calon pertama adalah M. Soedarman, Patih Panaroekan dan calon kedua adalah Mr. R. Soejotjokro, ketua Landraad Situbondo (Panaroekan). Keduanya tidak disetujui oleh sejumlah partai politik.

Sementara RAA. Moh. Notohadisoerjo, dia adalah mantan Bupati Banyuwangi yang tinggal di Kalibaru, tidak didukung oleh partai politik. Akhirnya Raad van Nederland Indie dalam rapat tertutupnya memberikan saran pada Dewan Propinsi. Melalui surat Sekretaris Pemerintah pada Direktur Binnenland Bestuur, ditunjuklah Mas Soedarman sebagai anggota Dewan Propinsi Jawa Timur dan disetujui oleh berbagai pihak.

Tidak banyak berita yang bisa diambil pada masa pemerintahan HC Hartevelt. Ini karena tidak lama ketika pemerintahannya berlangsung, Jepang menduduki wilayah Jawa. Sejak itu pula tidak ada sumber tertulis dan arsip yang menyebut keberadaan Gubernur HC. Hartevelt. Ini bisa dimaklumi, karena Jepang memang memporakporandakan pemerintah Belanda, bahkan semua yang berbau Belanda.

Sebagai gambaran akhir pemerintahan Gubernur Hartevelt dan awal pendudukan Jepang di Jawa Timur, disebutkan catatan harian seorang pedagang Belanda. Dia mencatat keadaan perekonomian di Surabaya dan sekitarnya pada sekitar Maret 1942. Angkutan kereta api masih tetap berjalan dari Malang menuju Gempol. Kereta api dari Porong menuju Wonokromo dan kembali lagi. Tetapi pada esok harinya, semua penumpang dan barang bawaannya terpaksa harus berhenti di tengah jalan. Untuk melanjutkan perjalanan, mereka harus jalan kaki atau naik dokar. Untuk satu kali perjalanan, seorang kusir meminta imbalan uang 1 gulden.

Situasi amat mencekam dan tegang. Banyak kanor dan toko orang Belanda tutup. Demikian pula Pecinan terasa lengang. Banyak toko dan keluarga yang kekurangan barang kebutuhan karena lalu lintas terhambat. Digambarkan tentara Jepang berhasil menduduki Gedung Lindeteves, Handels Vereeniging, kantor Eerdmann dan Sielcken, kantor van de Internatio dan Borsumij. Pasar tidak berani lagi melakukan aktivitasnya, dan harga-harga melambung tinggi.

Keadaan makin tidak menentu dari hari ke hari, selama beberapa tahun. Orang-orang Belanda banyak yang ditawan oleh tentara Jepang. Tidak ada berita dan sumber tertulis yang menyebut Gubernur terakhir Jawa Timur ini. Hingga akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945, Ir Soekarno dan beberapa tokoh bangsa Indonesia lain mengumumkan proklamasi kemerdekaan. Dan ini menandai lahirnya negara baru Republik Indonesia.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Profil gubernur Jawa Timur Masa Hindia Belanda Tahun 1928-194. Surabaya: Badan Arsip Propinsi Jawa Timur, 2003. hlm, 13-15

JHB Kuneman, Gubernur Jawa Timur (1 Juli 1933-30 April 1936)

LONDO 3JHB Kuneman diangkat sebagai Gubernur Jawa Timur pada periode 1933-1936 menggantikan GH. De Man. Kariernya dalam pemerintahan diawali setelah ditunjuk sebagai Adspirant Controleur Majalengka pada tanggal 30 November 1909. Ia pernah pula menjadi Bestuur Academie Controleur pada tanggal 21 April 1911. Pada tahun 1930, ia ditunjuk sebagai Sekretaris di Keresiden Cirebon.

Kariernya semakin menanjak setelah ia menjadi Residen Priangan Tengah sejak tanggal 1 November 1931. Dia sempat dicalonkan sebagai Gubernur Jawa Timur menggantikan W.Ch. Hardeman. Pencalonan ini terpaksa ditunda karena dianggap ia masih terlalu muda dan ada calcn lain yang dianggap lebih mampu memimpin Jawa Timur. Jabatan Gubernur Jawa Timur diterima setelah G.H. de Man mengakhiri jabatannya karena mengajukan pensiun.

Pada masa pemerintahannya, banyak kebijakan politik ekonomi dan sosial telah dikeluarkan untuk memajukan masyarakat Jawa Timur. Dalam hal pembangunan fisik diketahui bahwa telah dilakukan pembangunan, perbaikan, perawatan terhadap dam, pengairan, tanggul penahan air, serta penyambungan pipa air untuk kepentingan masyarakat. Sebagai konsekuensi terhadap eksploitasi PAM dikenakan tarif baru.

Meskipun begitu banyak kasus yang muncul berkaitan dengan tarif sewa meteran air, seperti usul Dewan Kabupaten Bangkalan yang mengajukan mosi tidak percaya terhadap layanan PAM. Hal ini memicu perubahan tarif yang kemudian disetujui oleh Dewan Propinsi Jawa Timur.

Untuk menghindari kerusakan lebih lanjut terhadap sarana jalan raya, dilakukan perbaikan dan penutupan untuk jenis angkutan tertentu, seperti cikar. Dalam ketetapan itu juga disebutkan batas kecepatan bagi kendaraan yang melewati. Di bidang telekomunikasi, ia membuat perubahan dalam pemasangan kabel telepon dan telegraf bawah laut dari wilayah Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi menuju Tjandikusumo (Bali) dan ini berakhir di Blimbingsari.

Di bidang kehutanan, mengingat pentingnya konservasi hutan bagi kelangsungan ekosistem dan juga kepentingan umat manusia, maka dibuatlah peraturan perlindungan hutan di Jawa Timur. Peraturan ini dibuat dengan merubah peraturan yang sudah ada. Ini terpaksa dilakukan untuk menghindari kerusakan hutan lebih lanjut akibat ulah orang- orang tidak bertanggungjawab Di samping itu juga perlu disadari bahwa hampir seluruh wilayah Jawa Timur dikenal sebagai penghasil kayu jati.

Masalah pengangkutan penumpang, barang serta hewan ternak melalui pengangkutan laut juga menjadi perhatiannya. Untuk menjaga ketertiban dan kelancaran pelayaran tersebut, serta menjaga arus transportasi antara wilayah di Jawa Timur yang terpisah dengan pulau-pulau maka dibuat peraturan. Peraturan ini dibuat untuk melengkapi aturan yang sebelumnya dan dikeluarkan oleh Residen Pasuruan pada tanggal 21 September 1906. Di dalamnya telah tercakup berbagai ketentuan mengenai penumpang, juragan, pelayaran tradisional, jumlah penumpang yang boleh naik, jumlah barang maupun ternak termasuk di dalamnya sangsi bagi yang melanggar peraturan.

Sebagai seorang gubernur, banyak sisi menarik dari JHB Kuneman dalam membuat kebijakan di pemerintahannya. Banyak permasalahan pegawai pemerintah yang akhirnya memerlukan campur tangannya untuk menyelesaikan, seperti masalah permohonan cuti pegawai, pemberhentian pegawai karena kasus penyelewengan, penggelapan uang pada proyek pembangunan PAM Bangil oleh AE Davidz, pembayaran pensiun pada janda pejabat-pejabat pribumi, dan lain-lain. Segala keputusan dan ketetapan yang dibuat, dilakukan melalui kesepakatan dengan Dewan Propinsi Jawa Timur dan College van Gedeputeerden.

Penggelapan uang rupanya telah menjadi bagian dari budaya pegawai pemerintah semenjak masa lampau. Banyak penyimpangan keuangan terjadi pada mereka yang pekerjaannya terkait dengan uang. Masalah penggelapan terbanyak terutama mengenai pembayaran uang garam yang tidak disetorkan. Akibatnya beberapa mantri garam terpaksa harus membayar ganti rugi dan mengembalikan setoran. Beberapa kasus menyebabkan mereka terpaksa ditahan bahkan dicopot dari jabatannya. Meskipun demikian ada pula yang berkeras bahwa ia sudah menyetorkan kekurangan uang. Sehingga meminta hak dan nama baiknya dikembalikan. Ada pula diantara mereka yang keberatan atas sejumlah ganti rugi yang harus dibayar.

Campur tangan Gubernur Kuneman tampak pula dalam masalah perekonomian masyarakat. Ini terlihat dari dikeluarkannya instruksi-instruksi untuk kepala pasar dan pegawai bawahannya di Bondowoso. Ini dilakukan untuk menghindari penyelewengan dan permainan harga oleh pedagang luar. Dengan demikian pemerintah bisa mengendalikan perdagangan tembakau yang saat itu menjadi primadona dalam komoditi dagang.

JHB. Kuneman mengakhiri jabatannya sebagai gubernur Jawa Timur dan digantikan oleh Ch. O van der Plas pada tahun 1936. Meski demikian tidak berarti ia berhenti dari pemerintahan. Ia masih ditunjuk sebagai anggota sekaligus pendiri Dewan Kolonisasi berdasarkan besluit tanggal 12 Januari 1937 No. 23. Beberapa saat kemudian ia ditunjuk sebagai Komisi pusat untuk migrasi dan kolonisasi pribumi. Dan masih banyak lagi jabatan lain yang diemban setelah itu.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Profil gubernur Jawa Timur Masa Hindia Belanda Tahun 1928-194. Surabaya: Badan Arsip Propinsi Jawa Timur, 2003. hlm,7-9

G.H. de Man, Gubernur Jawa Timur (14 April 1931 – 21 Juni 1933)

Pemerintahan Jawa Timur Masa Gubernur G.H. de MAN (14 April 1931 – 21 Juni 1933)

G.H. de MANG.H. de Man mengawali kariernya dalam pemerintahan dimulai ketika dia diangkat sebagai Ambtenaren ter beschikking di Agrarische Zaken pada tanggal 26 Oktober 1906. Ken\mudian dia diangkat sebagai Controleur daerah Genteng pada Standplaatsen van de overige, Controleur en adspirant Controleurs di Binnenlandsch Bestuur op Java en Madoera (Besuki) pada tanggal 28 Juli 1908. Kariernnya dalam pemerintahan semakin menanjak hingga akhirnya ditunjuk sebagai residen Surabaya, sekaligus anggota dan ketua NIAS, Surabaya pada tahun 1928.

Seiring dengan pengangkatan W.Ch. Hardeman sebagai anggota Raad van Indie di Batavia, de Man ditunjuk sebagai gubernur pengganti di Jawa Timur berdasarkan besluit tanggal 14 April 1931, No. 32 dengan gaji f2000 per bulan. Proses penunjukan sebagai gubernur sendiri tak urung menimbulkan beberapa polemik. Ada beberapa calon yang sebenarnya diajukan untuk mengisi kekosongan gubernur ini, seperti: de Brinks, H.H. de Cock, C.A. Schnitzler. Tetapi dengan berbagai pertimbangan, pilihan jatuh pada G.H. de Man.

Pemilihan de Man sebagai gubernur Jawa Timur ini tidak lepas dari campur tangan pendahulunya. Hardeman lebih condong pada G.H. de Man. Menurut Hardeman, G.H. de Man dianggap orang yang cocok menggantikannya. Dia mempunyai kemampuan dan kepribadian yang baik untuk memimpin Propinsi Jawa Timur. Di samping itu, Hardeman sudah tahu betul kualitas de Man. Ia abdi pemerintah yang taat.

Hardeman pernah bekerja sama dengannya sebelum itu. Itulah yang disampaikan Direktur Binnenlandsch Bestuur pada Gubernur Jenderal di Batavia dalam surat rahasianya. Banyaknya calon yang diajukan untuk maju dalam pemilihan Gubernur Jawa Timur ini juga mengundang campur tangan Raad van Indie. Maka ia pun turut memberikan sumbang sarannya. Bahkan ia menambahkan kandidat baru dalam bursa

calon gubernur, yaitu JHB Kuneman, residen Priangan Tengah. Pada akhirnya Raad van Indie menyetujui G.H. de Man sebagai gubernur Jawa Timur dengan pertimbangan bahwa sejauh ini dia memiliki prestasi yang bagus dalam pemerintahan.

Penunjukan G.H. de Man sebagai gubernur ini tak ayal juga menimbulkan sakit hati dari residen Probolinggo, G. Scholten. Ia merasa telah disepelekan karena tidak tercantum dalam daftar calon. Karena itu ia berkirim surat pada Direktur Binnenlandsch Bestuur atas kejadian yang menimpanya. Ia menceritak bahwa selama 5 tahun menjadi residen di Probolinggo, ia mampu bekerja sama baik dengan Gubernur saat itu. Ia juga banyak membawa perubahan dalam pemerintahan termasuk sebagai ketua Gemeente Raad van Probolinggo.

Dalam suratnya Scholten menyebutkan banyak kesuksesan yang telah dicapai selama menjadi residen. Sayangnya gubernur Hardeman tidak mempertimbangkan ini, dan mengajukan nama de Man sebagai penggantinya. Itu sebabnya Scholten terpaksa meminta penjelasan pada Direktur Binnenlandsch Bestuur tentang hal ini.

Selama menjadi gubernur, G.H. de Man melanjutkan kebijakan yang telah mulai dilakukan oleh Hardeman. Untuk menambah modal pembangunan, ia mengusulkan peminjaman likuasi sebesar f 340.000,- yang akan dibayar dalam tempo 19 tahun mulai 1933 sampai 1951. Usul pinjaman ini diketahui oleh Provinciaal Raad van Oost Java yang akhirnya menyetujui sejumlah pinjaman itu untuk modal pembangunan pipa air minum bagi wilayah Surabaya Selatan, Bangkalan, Lumajang, Pamekasan, dan lain-lain.

Dalam perpajakan, bersama Provinciaal Raad menentukan daftar pajak untuk jalan, pengurangan taksiran pajak kendaraan bermotor. Meskipun begitu ada yang keberatan atas pajak jalan yang telah ditentukan, seperti: NV Mineraal Waterfabriek Hellfach & co, Surabaya. Akhinya gubernur De Man menetapkan besarnya pajak yang harus dibayar.

Dalam bidang keuangan, gubernur de Man memberikan subsidi pada beberapa rumah sakit dan klinik baik swasta, pemerintah dan keagamaan, seperti RS. Zending, RS. PKO Muhamadiah. Ia juga membantu subsidi bagi perkumpulan, seperti: rumah yatim piatu, perkumpulan pemuda, Museum. Ia banyak memberi perhatian pada kaum pengangguran dengan memberi subsidi berdasarkan kelas-kelasnya. Ini membuktikan bahwa de Man konsen terhadap krisis yang melanda penduduk pada saat itu.

Pada bidang pertanian, ia menyarankan pada para petani dan pengusaha perkebunan untuk menggunakan pupuk guna peningkatan produktivitas. Diharapkan penggunaan pupuk ini dapat disebarluaskan pada masyarakat yang mayoritas bergerak di sektor agraris.

Beratnya tugas yang harus diselesaikan, ditunjang daya tahan tubuh yang tidak begitu kuat, membuat G.H. de Man jatuh sakit. Menurut dokter yang memeriksa, gubernur menderita komplikasi bludrek. Ini membuat kondisinya lemah dan tidak dapat berpikir berat. Dokter menyarankan agar ia beristirahat di Pacet, sehingga benar-benar lepas dari rutinitas kantor. Atas saran dokter pula ia mengajukan permohonan cuti pada Gubernur Jenderal. Di samping itu sudah 5 tahun ini ia belum pernah mengajukan cuti. Gubernur Jenderal melalui besluit tanggal 8 Oktober 1932, No. 32 memberikan cuti selama 1 bulan dan mengijinkan untuk dibawa ke Pacet bersama anak istrinya.

Pada awal tahun 1933, secara tiba-tiba Gubernur de Man mengajukan permohonan diri untuk pensiun dari dinas karena ingin kembali ke tanah air bersama keluarganya. Saat itu ia telah berusia 45 tahun dan telah 25 tahun mengabdikan diri pada pemerintah. Pada Direktur Binnenlandsch Bestuur, ia telah merencanakan untuk memesan tempat di kapal Sibajak dari Stoomvaart Mij. Rotterdamsche Lloyd.

G.H. de Man akhirnya diberhentikan dengan hormat dari dinas melaui besluit tanggal 10 Maret 1933 No. 23 sejak tanggal 21 Juni 1933. Ia juga berhak atas sejumlah pensiun dari Directeur van Financien. Atas pengunduran dirinya, ia mengadakan kunjungan resmi pada Gubernur Jenderal. Di samping telah berpamitan melalui surat.

Berkaitan dengan pengunduran dirinya pula, de Man telah menyampaikan memori pengunduran diri pada Direktur Binnenlandsch Bestuur sebagai pertanggungjawaban. Di dalamnya ia menyampaikan berbagai kebijakan yang dilakukan selama menjadi Gubernur dari tanggal 1 Mei 1931 – Juni 1933, di antaranya Bestuur Politie, Indeeling en Bestuur, dan lain-lain.

Dengan berhentinya G.H. de Man, ada kekosongan jabatan di Jawa Timur. Gubernur Jenderal dalam suratnya memberikan pandangannya mengenai kandidat gubernur di Jawa Timur. Di antara calon yang disebut adalah: residen Kuneman, residen de Brinks, de Vrees, dan lain-lain. Rupanya pemerintah pusat lebih condong pada JHB. Kuneman yang sebelumnya adalah residen. J.H.B. Kuneman akhirnya ditunjuk sebagai pengganti GH. De Man menjadi gubernur Jawa Timur.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Profil gubernur Jawa Timur Masa Hindia Belanda Tahun 1928-194; Badan Arsip Propinsi Jawa Timur, 2003. hlm, 4-5

W.Ch Hardeman, Gubernur Jawa Timur (1 Juli 1928 – 31 Maret 1931)

Pemerintahan Jawa Timur Masa Gubernur W.Ch Hardeman (1 Juli 1928 – 31 Maret 1931)

W.Ch HardemanWillem Charles Hardeman lahir di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1884. Ia adalah putra dari J A. Hardeman dan W.C.G. van Zijl de Jong. Ayahnya pernah menjabat sebagai residen di Jawa dan Madura. Dia menjalani pendidikannya di Eindexamen HBS, Groot Ambtenarenexamen dan Klein Notaris Examen. Kariernya dalam pemerintahan diawali dengan diangkatnya sebagai pegawai di Dinas Sipil, melalui besluit tanggal 21 Oktober 1903 No. 20

Sebagai intelektual muda, ia menguasai beberapa bahasa asing, seperti: Jerman, Perancis dan Inggris. Karena seringnya bertemu dengan berbagai suku penduduk pribumi, membuatnya mampu berkomunikasi dalam berbagai daerah, seperti: Jawa, Melayu, Sunda, dan Madura. Semua ini menambah semakin baik penilaian atas dirinya di mata pimpinan Binnenlandsch Bestuur Kemampuannya yang tinggi dalam berkomunikasi dengan semua pihak membuat kariernya semakin menanjak. Perlahan tetapi pasti berbagai jabatan diraih. Ini terlihat dari urutan jabatan yang pernah dipegang pada masa-masa berikutnya.

Berdasarkan catatan Binnenlandsch Bestuur, terlihat bahwa ia adalah orang yang memiliki banyak inisiatif, sekalipun belum memiliki banyak pengalaman dalam pemerintahan. Ia menjalin komunikasi dengan penduduk maupun dengan sesama pejabat Belanda. Dia termasuk orang yang teliti, rajin bekeija, dan bijak dalam mengambil keputusan. Karena prestasinya, membuat pemerintah memberikan penghargaan yang sangat tinggi padanya.

Pada tahun 1926, ia menggantikan J.M. Jordaan sebagai residen di Surabaya. Dalam pengangkatan ini sekaligus ia juga diangkat sebagai Ketua dan anggota NIAS (Nederland lndisch Artsen School) Surabaya. Jabatan ini

biasanya dipegang oleh residen yang bertugas di Surabaya. Pengangkatan Hardeman sebagai ketua NIAS ini disetujui oleh kepala Dinas Kesehatan Rakyat di Weltevreden, setelah melalui persetujuan Gubernur Hindia Belanda.

Pada saat itu pemerintah mulai membentuk wilayah-wilayah (geweest) baru, seperti: Geweest Oost Java, Middle Java, West Java, dan lain-lain. Pemerintah merasa perlu menempatkan gubernur di daerah-daerah tersebut. Mengingat dedikasi W.Ch. Hardeman terhadap pemerintah demikian tinggi, maka melalui besluit pemerintah tanggal 6 Juni 1928 No. 32, diangkatlah ia sebagai Gouverneur van het Geweest Oost-Java mulai tanggal 1 Juli 1928. Bersamaan itu pula diangkat PJ van Gulik, Residen Semarang sebagai Gubernur Jawa Tengah. W.Ch. Hardeman juga mengeluarkan Memorandum antara tahun 1928 sampai Maret 1931 yang isinya antara lain, Pembagian dan Pemerintah.

Pada 1 Juli 1928 pembagian administrasi baru dilakukan dimana didaerah-daerah lama seperti Surabaya, Madioen, Kediri, Pasuruan, Besuki, Madura dan separo Rembang dibagi dalam 15 afdeling yang sama didaerah bentukan Jawa Timur ( Staatblad 1927 No. 558 jun to 1928 No. 1945, diputuskan dengan Staatblad 1928 No. 334.

Dengan diangkatnya Hardeman sebagai Gubernur Jawa Timur, otomatis tanggung jawabnya terhadap pemerintah bertambah besar. Itu sebabnya ia diberhentikan dengan hormat sebagai ketua dan anggota NIAS sekaligus Residen Surabaya. Untuk menggantikan kedudukan sebagai residen, ketua dan anggota NIAS telah ditunjuk  G.H. de Man.

Pada akhir tahun 1928, terjadi perubahan lagi dalam pembagian administrative pemerintahan. Pembagian wilayah yang semula Geweest ditingkatkan sebagai propinsi. Maka berdasarkan besluit tanggal 17 Desember 1928 No. lx, W. Ch. Hardeman diangkat lagi sebagai Gubernur Propinsi Jawa Timur mulai tanggal 1 Januari 1929 dengan gaji f .2000 per bulan.

Di dalam membangun daerahnya, Hardeman terpaksa harus mengupayakan pinjaman uang untuk modal pembangunan. Ia merencanakan peminjaman lunak uang sebesar f. 37.500,- yang akan dibayar selama 20 tahun. Akhirnya Dewan Propinsi meluluskan permohonan Gubernur Hardeman dan memberi sebesar f. 750.000,- dengan bunga pinjaman sebesar 5% per tahun. Pinjaman ini akan dibayar kembali secara berangsur selama 19 tahun, mulai tahun 1930 sampai 1948. Rencananya, uang pinjaman itu akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek pembangunan fisik yang di Propinsi Jawa Timur, seperti: bangunan pasar, saluran pengairan, pipa air minum, dll.

Pada akhir masa pemerintahannya, Hardeman menyampaikan laporan pertanggungjawaban sebagai gubernur dari bulan Juli 1928 sampai Maret 1931. Ia juga menyampaikan apa saja yang telah dilakukan selama itu. Ada beberapa hal yang disampaikan, seperti masalah pembagian wilayah dan pemerintahan, masalah politik dan peradilan, kehutanan, lalu lintas jalan, bidang purbakala, dan lain-lain. Selepas jabatannya sebagai Gubernur Jawa Timur, Hardeman masih ditunjuk sebagai anggota Raad van Indie di Batavia. Adapun sebagai penggantinya, ditunjuk sebagai Gubernur Jawa Timur adalah G.H. de Man yang sebelumnya menggantikan dirinya sebagai residen dan ketua NIAS, Surabaya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Profil gubernur Jawa Timur Masa Hindia Belanda Tahun 1928-194; Badan Arsip Propinsi Jawa Timur, 2003. hlm, 1-3

Prasasti Masjid Cheng Hoo (ZHENG HE)

PRASASTI MASJID (LAKSAMANA) MUHAMMAD CHENG HOO (ZHENG HE)

Cheng Hoo (Zheng He, 1371 -1435), marga aslinya: “MA” atau Mohammad dan bernama “HE” (artinya damai) alias “San Bao” (berarti anak tersayang yang ketiga). Zheng He terkenal sebagai Kasim “Sam Po” (ejaan menurut dialek FUJIAN) dan keturunan etnis (suku) “Hui” yang berasal dan Xi Yu (Bukhara di Asia Tengah, kini termasuk Propinsi Xinjiang), dan turun-temurun menganut agama Islam. Kemudian mereka pindah ke Kunming, Propinsi Yunnan, Tiongkok barat daya dan menetap di situ.

Konon dikisahkan bahwa salah satu nenek moyangnya adalah Zaidinsyeh Syamsuddin, seorang raja di Xian-yang Propinsi Yunnan. Moyang prianya bernama Bay An. Sedang Kakeknya Medina dan Ayahnya Myrikin. Baik kakek maupun ayahnya sudah menunaikan ibadah fardu haji ke tanah suci Mekah. Karena itu mereka dihormati dengan nama panggilan “Hazhi” (“haji” dalam bahasa Tionghoa). Ayahnya yang dipanggil sebagai Ma Hazhi, terkenal sangat bijak dan murah hati yang suka menolong kaum fakir-miskin dan yatim-piatu janda/duda, sehingga amat disegani oleh masyarakat-penduduk di lingkungannya.

Sejak kecil, Cheng Hoo (Zheng He) sudah terkesan amat pintar dan cerdas; bersifat cermat dan rendah hati. Hingga dewasa, watak pembawaannya berkembang menjadi sangat cakap dan tampan; tulus, simpatik dan pandai bergaul. Wawasan dan visinya yang luas jauh kedepan tercermin jernih, mantap dan mudah dipahami untuk diikuti. Zheng He berjasa besar dalam banyak pertempuran selama mengikuti pasukan di bawah pimpinan Zhu Di, Raja Van yang kemudian menjadi Kaisar Vong be. Karena itulah oleh Kaisar Zhu Di, MA HE dianugerahi marga “Zheng” serta dipromosi menjadi kasim-perdana, berkuasa penuh untuk memimpin semua kaum kasim intern di istana kerajaan.

Pada tahun 1405, dengan mengemban misi yang dititahkan oleh kaisar dinasti Ming, dan sebagai panglima armada dan seorang muslim yang saleh, Laksamana Cheng Hoo (Zheng He) memulai pelayarannya yang berturut-turut “Tujuh Kali Mengarungi Samudra Hindia”, berlangsung dengan melawan gulungan gelombang dan badai yang dahsyat di lautan samudra.

Selama 28 tahun (1405-1433), Cheng Hoo (Zheng He) telah memimpin awak kapal yang berjumlah lebih dan 27,800 or­ang yang terlatih sempurna; berdisiplin tinggi dan terorganisir secara solid, dilengkapi armada terbesar di dunia waktu itu, yang terdiri dan ratusan kapal kuat dan berkualitas tinggi. Misi utamanya adalah untuk melangsungkan dan memperbanyak kunjungan muhibali yang timbal balik antara Tiongkok dengan negara-negara kerajaan di Asia-Afrika dan sekitarnya; mempererat hubungan kebudayaan dan perdagangan antar bangsa; merintis dan memperlancar jalur dan frekwensi lalu lintas pelayaran diantara kawasan-kawasan dimaksud.

Akhirnya Cheng Hoo (Zheng He) berhasil menunaikan misinya yang berat dan mulia itu dengan sempurna. Sehingga Cheng Hoo (Zheng He) patut dihargai sebagai muslim Tiongkok yang taat; penuh rasa tanggung jawab, disamping sebagai duta / diplo­mat perdamaian yang terbaik demi memajukan hubungan kerukunan dan persahabatan antara Tiongkok dengan negara-negara kerajaan yang dikunjunginya. Berdasarkan catatan sejarah mi, maka Laksamana Cheng Hoo (Zheng He) bukan saja hanya tercatat sebagai bahariawan yang terbesar di sejarah Tiongkok, tetapi juga pelayar perintis yang luar biasa tangguh dan berbobot dalam catatan di sepanjang sejarah navigasi dunia.

Armada Cheng Hoo (Zheng He) sudah muncul jauh sebelum “Period ofthe Great Navigation”yang diperagakan oleh konvoi kapal dagang Eropa pada waktu menampakkan dirinya di samudra. Apabila diperbandingkan masa penjelajahannya dengan bahariawan Itali, Christopher Columbus, yang menyeberangi Samudra Atlantik dan berhasil menemukan Benua Amerika; dan bahariawan Portugis, Vasco da Gama, yang menempuh dan membelok pelayarannya di Tanjung Harapan lalu memasuki Samudra Hindia; kemudian menyusul bahariawan Portugis lainnya, Ferdinand Magellan, yang telah mengelilingi dunia, maka sesungguhnya, masa penjelajahan yang dilakukan oleh Laksamana Cheng Hoo (Zheng He) masing-masing menjadi lebih dini (awal) 87 tahun, 92 tahun dan 116 tahun ketimbang ketiga bahariawan dunia tersebut di atas. Dan kesemua ini sudah merupakan fakta authentic sejarah yang tak terbantahkan.

Armada raksasa yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Hoo (Zheng He), telah berhasil merintis jalur pelayaran langsung dan Tiongkok ke Samudra Hindia Laut Merah dan pantai timur Benua Afrika. Di sepanjang pelayarannya, Cheng Hoo (Zheng He)

telah menelusuri lebih dan 50 negara kerajaan dan region-wilayah yang dikunjunginya dan dibukanya pula 40 lebih rute pelayaran yang serba baru antar benua, negara dan bangsa. Jumlah seluruh jarak lalu lintas pelayaran yang ditempuh armada Laksamana Cheng Hoo (Zheng He), adalah lebih dan 160.000 mil laut atau sama dengan 296.000 Km lebih. Bersamaan dengan itu, telah dikumpulkan pula berbagai data peta dan skema pelayaran yang signifikan dan sangat bernilai benikut gambar peta pelayaran yang terawal di dunia yang memperkaya pengetahuan umat manusia tentang ilmu bumi dunia dan teknologi maritim. Dan sesungguhnya, dibawah naungan armada Laksamana Cheng Hoo (Zheng He) sejarah pembaharuan dan kemajuan navigasi! pelayaran dunia sudah tercapai puncak-klimaksnya pada waktu itu.

Laksamana Zheng He telah mencurahkan segenap jiwa raganya demi usaha navigasi pelayaran dan berhasil merintis “Jalan Sutera dan Porselin”, memantapkan saling pengertian dan persahabatan antara Tiongkok dengan berbagai negara kerajaan di Samudra Hindia. Di samping itu telah ditingkatkan pula kemakmuran dan perkembangan ekonomi antar bandar dan kota-kota di Asia Tenggara.

Kisah Kasim Sam Po “Tujuh Kali mengarungi Samudra Hindia” pada 600 tahun yang silam sungguh merupakan suatu prestasi yang luar biasa dan jasanya pasti akan tercatat di sepanjang sejarah! Selama perjalanan navigasinya, armada Laksamana Zheng He telah membentangkan layarnya dan berusaha maju siang malam dalam gelombang yang bergulung-gulung. Di antara negara-negara kerajaan yang dikunjunginya di Asia dan di Afrika, terdapat Kerajaan Majapahit di Jawa, (bekas) Kerajaan Samboja di Palembang dan Kerajaan Samudra Pasai di Aceh, Sumatera.

Semarang dan Surabaya yang masing-masing di Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan kedua tempat/bandar persinggahan terpenting yang selalu dikunjunginya.

Muslim Ma Huan pembantu-dekat Laksamana Cheng Hoo (Zheng He) yang beberapa kali ikut dalam misi pelayarannya, mengisahkan pernah bertemu dengan sejumlah muslim Tiongkok yang menetap di Jawa ketika itu (di awal abad ke-15). mi berarti keberadaan muslim keturunan Tionghoa di Indonesia telah berpangkal dan bersejarah panjang. Pada tahun 1961, ulama besar dan cendekiawan Islam Indonesia terkemuka, Buya Haji Hamka, pernah menulis kata-kata yang patut direnungkan baik-baik yang antara lain mengatakan, bahwa: “Suatu nama Muslim dan Cina yang amat erat kaitannya dengan kemajuan dan perkembangan agama Islam di Indonesia dan tanah Melayu, adalah Laksamana Cheng Hoo (Zheng He).”

Sampai kini, tempat-tempat peninggalan yang pernah dijelajahi oleh Laksamana Cheng Hoo (Zheng He) yang bersejarah 600 tahun, tetap masih dapat ditelusuri. Muslim Cheng Hoo (Zheng He) yang berprestasi dan berjasa besar telah memperoleh penghormatan dan pujian tinggi serta luas di kalangan rakyat dan masyarakat. Untuk memonumentalkan catatan dan fakta perjalanan bersejarah Laksamana Cheng Hoo (Zheng He) sebagai bahariawan yang jaya, utusan perdamaian dan persahabatan yang

terpuji; seorang muslim yang taat dan saleh, kini MASJID LAKSAMANA CHENG HOO (ZHENG HE), sebagai Masjid perdana, dibangun di tengah-tengah Kota Pahlawan SURABAYA. Kami kaum muslim di Surabaya, bersama segenap muslim di Indonesiamerasa amat terharu dan bersyukur, terlebih lagi bila mengingat bahwa inilah mesjid pertama yang diberi nama Cheng Hoo (Zheng He) di atas bumi dunia ini. Disamping terharu dan bersyukur, maka kami pun bertekad-bulat untuk mempersembahkan segenap jiwa dan raga, demi Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, tanah air yang kita cintai bersama.

Bangunan  MASJID LAKSAMANA CHENG HOO (ZHENG HE) yang dimaksud berikut prasastinya yang terukir kini, hendaknya dapat dikenang dan dipahami oleh segenap generasi di masa mendatang. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Kuasa, memberkahi bahariyawan Laksamana Cheng Hoo (Zheng He) di surga. Amin!

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Brosur Panitia Pembangun MASJID LAKSAMANA CHENG HOO (ZHENG HE) di Surabaya. Beserta segenap muslim di JAWA TIMUR. Surabaya, Tahun Hijriah 1424, Rabiul Awal/Tahun Masehi 2003 M.

Bathara Kathong Membumikan Reog

-Desember 2003-

Reog identik dengan Ponorogo, kabupaten seluas 1.372,78 M2, di Jawa Timur. Daya ekspansi kesenian tradisional ini luar biasa hebat. Mampu menembus mancanegara. “Bahkan, Australia, Amerika Serikat, dan Belanda telah memasukkan kesenian tradisional reog menjadi bagian kurikulum pendidikan mereka, ” kata Bupati Ponorogo, Dr H Markum Singodimedjo, saat membuka lomba Langen Beksan, di pendapa kantornya.

Ketenaran kabupaten ini tak lepas dari sentuhan Batara Kathong, bupati pertama. Dialah yang “membumikan” reog di daerahnya. Lewat kesenian ini dia menyebarkan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat. Istilah warok (tokoh pemain reog) disinyalir berasal dari kata wara’a, orang yang menjaga diri dari perbuatan dosa. “Kesempurnaan diri itulah Ponorogo (sampurnaning raga),” kata RM. Soehardo, Ketua DPRD setempat.

Ihwal bupati pertama tersebut diyakini masih ada hubungan dengan Keraton Jogjakarta. Semasa keruntuhan Kerajaan Majapahit dan munculnya Kerajaan Demak, debut Batara Kathong dimulai. Pusat pemerintahan yang semula berada di sekitar Kelurahan Sentono, dipindahkan ke Kutha Tengah (pendapa kantor Bupati sekarang). Kelurahan Sentono berjarak sekitar 5 Km dari pusat kota arah ke timur. Dari Terminal Selo Aji dapat ditempuh dengan angkudes jurusan Jenangan, atau langsung naik ojek dari terminal. Ingin lebih santai lagi, pilih becak.

Jasa Betara Kathong meletakkan dasar-dasar pemerintahan di wilayah Ponorogo amat besar. Pantaslah mendapatkan penghargaan dan diingat perjuangannya. Kawasan makamnya cukup menarik. Tepat di gang Raden Kathong berdiri sebuah gapura. Konstruksi gapura itu lebih condong berbentuk kubah. Tak ada ornamen mencolok, warnanya pun putih. Tak berbeda jauh dengan lingkungan makam. Pagar dinding batu bata mengelilingi makam, dan membagi menjadi dua pintu. Pintu pertama masuk pada bagian pelataran. Dua batu besar tergeletak membujur ke pintu ke dua.

Memasuki kawasan utama kompleks makam Batara Kathong, disambut wangi pohon kamboja diiringi kicauan burung kutilang dan trocokan. Nuansa hening mencuat. Semilir angin dari barongan (serumpun bambu) menggerakkan bulu di kulit. Merinding. Untuk memasuki kompleks rnakarn ini pastilah melewati juru kunci. Mbah Mani namanya. Tanpa sepengetahuannya, dapat dipastikan tidak bisa melihat-melihat dari dekat cungkup (nisan) makam.

 Grebeg Sura
Setiap tanggal 1 Sura, masyarakat Ponorogo selalu menyambutnya dengan meriah. Begadang semalam suntuk. Tak boleh berteduh. Semua berjalan rnenuju ke alun-alun. Di sanalah mereka duduk dan menunggu saat pergantian tahun. Bupati Markum Singodimedjo melihat potensi peringatan satu Sura amat besar dijadikan even tahunan. Dalam kemasan Festival Reog Ponorogo, tradisi Suroan itu kian marak.

Perhelatan bermula di makam Batara Kathong di Desa Sentono, Kecamatan Jenangan. Upacara Boyong Pusaka (kirab pusaka) peninggalan bupati pertarna itu, diarak keliling kota menuju Kutha Tengah. Jauh hari sebelumnya, semua pusaka telah dibersihkan di Telaga Ngebel. Konon, sebelum memindah pusat pemerintahan, Batara Kathong sempat mensucikan diri di telaga ini. Grebeg Sura 1424 H, delapan bulan lalu saja, dimeriahkan 507 unit reog. Jumlah itu sama dengan umur Ponorogo, 507 tahun. Tahun 2004 nanti (1 Sura 1425 H) direncanakan lebih meriah lagi. “Semua seni budaya Ponorogo kami tampilkan. Tapi settingnya yang bagus,” kata bupati yang sudah dua periode memimpin “bumi reog” tersebut. Gayut dengan rencana itu dia telah memerintahkan Sekretaris Kabupaten, Toni, untuk menimba ilmu ke Negeri Cina. Pasalnya, sementara ini negeri tirai bambu itu sangat jago dalam menampilkan tari-tari kolosal. Nah, itu baru seru, kelak. Azmi

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, Edisi 24, 12 -26 Desember 2003, Tahun I