Dr. Akhmad Sukardi, M.M

Akhmad sukardi

Dr. Akhmad Sukardi, M.M, lahir di sebuah pesisir di Sumenep 14 Juli 1958, masa kecil dan remajanya dibentuk oleh karakter budaya Madura yang tegas dan religius. Mengenyam pendidikan dasar-menengah di Sumenep dan Pamekasan.
Selepas itu, melanjutkan studi Sarjana dan meniti karier sebagai PNS di Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Sejak awal karier pegawai dan studinya mendalami tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, dimulai dari Kepala Sub Bagian Pembinaan Anggaran Biro Keuangan Setda Jatim sampai menjadi Kepala Dinas Pendapatan Propinsi Jawa Timur.
Sebagai pejabat karier, ia masih termotivasi untuk memperdalam studi pada program Magister Manajemen Pascasarjana Universitas Airlangga, lulus tahun 1998- dan menyelesaikan Program Doktor llmu Administrasi Program Pascasarjana Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya tahun 2007.
Untuk mentransformasi keilmuan yang didapat dan mensharingkan kompetensinya dalam pengelolaan keuangan daerah, ia menjadi pengajar pada Badan Diklat Propinsi Jawa Timur dan beberapa perguruan tinggi di Surabaya.
Aktif sebagai narasumber dalam berbagai seminar dan workshop yang berkaitan dengan kompetensinya. Di samping kesibukannya yang cukup padat tersebut, ia juga membantu istri mengasuh dua orang anak di Surabaya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Dr. Akhmad Sukardi, M.M: Participatory Governance, 2009, hlm. Sampul Belakang. 

Adipati Sendang sedayu

 Ki Pitrang Bergelar Adipati Sendang sedayu, Serat Kuno Babad Majapahit dan Para Wali (33)

Pangeran Sendang dan istri pergi untuk menempati daerah kekuasaan pemberian Adipati Blambangan. Warga bersukacita menyambutnya bak pahlawan perang. Upacara penyambutan di alun-alun pun digelar dengan mementaskan berbagai kesenian rakyat.

ADA sebuah tamsil aneh yang terjadi dalam kisah Empu Supa, yakni tidak selamanya orang berbuat salah berbuah petaka. Setidaknya itulah yang ter- sirat dalam Serat Babat Majapahit dan Para Wali dalam cerita Empu Supa saat mencuri Keris Sengkelat dari Adipati Blambangan. Dengan kelicikannya, dirinya bisa nyusup ke dalam kerajaan di ujung timur Pulau Jawa itu tanpa mengundang syakwasangka dari para prajurit Blam­bangan.

Bahkan sang penguasa sang Adipati Blambangan pun bisa dikelabuhinya dengan cara dibuatkan Keris Sengkelat palsu, untuk selanjutnya yang asli diambilnya. Anehnya, sang Adipati tak merasa kalau dirinya dikelabuhi oleh seorang empu sakti itu. Malah sebagai bebungah, Sang Adipati memberi Empu Supa gelar baru bernama Ki Pitrang dan menjabat sebagai Pangeran Sendang, yang artinya penguasa tunggal di tlatah Sendhangsedayu.

Selanjutnya Ki Pitrang dikawinkan dengan putri sang Adipati, bernama Sugiyah. Namun jabatan dan istri itu sebenarnya diraihnya tanpa harus bersusah payah. Itu semua dilaluinya seperti sebuah mimpi dan hanya membalikkan telapak tangan. Inilah yang membuat hati Empu Supa menjadi gundah gulana. Apalagi ia adalah seorang empu sehingga dirinya harus bersikap kesatria. Tetapi apa yang dilakukannya di Blam­bangan terasa sebagai tipudaya sehingga sangat bertentangan dengan hati nuraninya. Nah, dalam suasana pikiran yang gamang, ia terlihat merenung dan berkata dalam hati. “Kalau saya berkata jujur kepada Adipati Blambangan tentang semuanya, pastinya aku akan mendapatkan hukuman,” resah hati Empu Supa.

Semalaman ia terpekur dalam galau. Hanya seorang diri dalam kesunyian alam. Malam pun makin cepat berlari. Bulan sabit di langit menampakkan sinarnya yang temaram, isyaratkan bari segera beranjak pagi. Empu Supa tetap duduk bersila di tikar usang, depan surau tak jauh dari tempat tinggalnya yang baru, Sendangsedhayu.

Tiba-tiba seekor burung hantu melintas di atas kepalanya. Suara kepak sayapnya membuyarkan lamunananya. “Hemm, isyarat apa ini,” gumam Empu Supa sembari mendongak ke atas. Na­mun burung itu sudah hilang di keremangan malam. Mata Empu Supa hanya bisa menangkap goyangan dahan pohon so- nokeling yang tak jauh dari tempatnya bersila. Dirinya meyakini, jika ada bu­rung hantu atau burung gagak terbang di tengah malam, akan terjadi sesuatu di luar jangkauan nalar manusia.

Sadar dirinya berada dalam bahaya, Empu Supa berdiri dari duduknya, berjalan ke arah surau, bersiap menjalankan salat malam. Usai salat, ahli pembuat pusaka ini bertafakur, mencoba kembali mengurai perjalanan hidupnya hingga dirinya sampai berada di Sendhangse­dayu. Setelah resmi mempersunting Sugi­yah, nama samarannya Ki Pitrang oleh Adipati Blambangan diganti dengan Pangeran Sendhang. Setelah itu, kedua mempelai, dari Blambangan menuju ke Sendhangsedayu. Nah, demi mendengar akan segera datang pangeran sarimbit (berserta istri) masyarakat desa di lereng gunung itu tak putus membicarakannya siang malam.

Di sawah, pos ronda, sampai di pasar-pasar. Mereka percaya, sang pan­geran akan memerintah wilayah desa yang subur itu dengan penuh kearifan. Oleh sebab itu, kedatangan Pangeran Sendhang dan istrinya benar-benar di- subyo-subyo (dielu-elukan) oleh pen- duduk.

Di setiap pojok kampung digelar pertunjukan kesenian hingga suasana kawasan Pedukuhan Sedhayu menjadi rejo (ramai). Melihat antusias warga yang begitu tinggi, hati Pangeran Sen­dang tak kuasa menyembunyikan rasa bahagiannya, demikian halnya dengan sang istri, Sugiyah. Ketika pesta telah usai dan masyarakat kembali pada kehidupan aslinya pergi ke sawah, pasar, dan ke surau ketika menjelang beduk magrib, hati Pangeran Sendhang kem­bali gundah.

Sebenarnya hati kecilnya tidak bisa menerima semua kenyataan ini. Namun ia tak kuasa menolak, apalagi mangkir dengan cara tinggal glanggang colong playu (memilih pergi meninggalkan tanggung jawab besar yang dibebankan kepadanya). Sekali lagi Empu Supa tak kuasa menjawabnya. Sebagai empu kondang dirinya merasa tak bisa men­gurai benang kusut yang sedang membelit pikirannya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. ABDURACHMAN: EDY WINARTO: posmo, EDISI 550, 2 Desember 2009, hlm. 32

 

 

Ponpes Menara Al Fattah, Kabupaten Tulungagung

Ponpes Menara Al Fattah.jpg ........Dalam perkembangannya, madrasah yang dirintis KHR.AbdulFattah menjadi cikal bakal ponpes tertua di wilayah Mangunsari, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Dan kini dikenal dengan nama Ponpes Menara. Berikut laporannya? 

AWALNYA KHR. Abdul Fattah mendirikan Ma­drasah, masjid, dan menara sebagai sarana ibadah bagi umat Islam di sekitar Desa Mangunsari, Kecamatan Kedungwaru, pada sekitar tahun 1354 H.

Dikatakan KH. Ibnu Katsir Siroj (71), salah seorang pengasuh Ponpes Menara, bahwa terbentuknya pesantren bermula dari madrasah yang dikenal dengan nama Madrasah Bundar. Madrasah ini berdiri tahun 1354 H, dalam proses pembangunannya terdapat keunikan tersendiri, yang berkaitan dengan karomah sang pendiri. Yakni pembangunan gedung madrasah ini hanya membutuhkan waktu 40 hari. Anehnya, konstruksi bangunan atap tembok tanpa menggu- nakan otot besi, maklum pada waktu itu otot besi tergolong langka sehingga beberapa lonjor bambu dijadikan otot bangunan.

Sementara itu, bangun­an tersebut sebagai gambaran terhadap kehidupan ahli ta- rekat bahwa ke- hidupannya harus melaksanakan sebagaimana ibarat bangunan ma­drasah ini. Terlihat dari bentuk luarnya persegi sedang dalamnya bulat (bundar), sedang atasnya mlenthu, maron mengkurep, kekep mengkurep makutho dhuwur, bulan bintang sembilan, dan lengser.

Seiring waktu, kegiatan ma­drasah ini beralih fungsi yang semula memakai metode pendi- dikan klasikal (perpaduan antara pengetahuan umum dan ilmu agama) seperti halnya kegiatan diniyah di lingkungan ponpes, menjadi ponpes sepenuhnya. “Akan tetapi santri juga ada yang khusus menghafal Alquran dan kitab kuning saja tanpa mondok, ada juga yang nyambi kuliah di lembaga pendidikan yang berada di luar ponpes,” kata KH. Ibnu Katsir Siroj ketika ditemui posmo menjelang salat magrib.

Simbol terse­but mengandung makna falsafahhidup, yaitu bagian luar berbentuk persegi bahw manusia hidup di dunia ini harus mampu menempatkan diri, jiwa raganya yang sesuai dengan tempatnya. Bagian dalam berbentuk bulat bahwa manusia harus mempunyai prinsip kebenaran sebagai falsafah hidup untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagian atas mlethu bahwa manusia harus memiliki cita- cita dan semangat hidup yang tinggi dan semakin tinggi.

Ma­ron mengkurep bahwa manusia harus berpegang teguh dengan perkara dunia akhirat. Kekep mengkurep bahwa manusia ha­rus mempunyai keahlian dan pengetahuan, mampu dan siap pakai. Makutho duwur bahwa manusia harus mempunyai jiwa ketauhidan. Bulan bahwa manu­sia harus mampu memberikan manfaat dan berguna bagi ma- syarakat sekitar.

Bintang sembilan bahwa ma­nusia harus menghiasi pribadinya dengan akhlak yang mulai laksana wali songo. Dan, lengser manusia harus serbaguna dan dapat berguna bagi orang lain.

Kuliah Subuh

Pondok yang terletak di Jalan Abd. Fatah Gg Menara, Tulungagung ini dihuni 250 santri putra dan putri dari berbagai daerah. Bagi warga Tulungagung dan sekitarnya, keberadaan Ponpes Menara Al Fattah Mangunsari sudah tak asing lagi. Selain cukup kesohor dengan jamaah kuliah subuhnya, sehari-hari juga untuk tempat menimbah ilmu agama.

Ponpes ini juga memiliki santri nonmukim yang lumayan banyak. “Sebut saja jamaah kuliah subuh yang mencapai 500 jamaah,” imbuhnya. Sementara itu, alumni Ponpes Mangunsari juga sudah tersebar luas seantero negeri untuk mengembangkan ilmunya di masyarakat.

“Usai salat subuh para santri mengaji kitab Tafsifal Ibris, Tan­bighul Ghofilin, Bulughul Mahram, Riyadus Sholihin, Daqoiqul Akbar, Bahjatul Wasail, Minahus Saniyah, Irsyadul ‘Ibad, Tafsiriyah’ serta Yasin,” ujar KH. Ibnu Katsir Siroj.

Ditambahkan Kiai Katsir Siroj-santri biasa memanggilnya bahwa Tanbighul Ghofilin menjadi kegiatan rutin pengajian setiap-Ahad sebagai pengingat bagi umat Islam agar tidak lalai. “Makna Tanbighul Ghofilin ini berarti mengingatkan orang- orang yang lalai,” tegasnya.

Lebih lanjut, Kiai Katsir Siroj mengatakan bahwa santri juga mewarisi amaliah yang biasa dilakukan KHR. Abdul Fattah, yakni Rotibul Haddad, yang merupakan aurat dari Syekh Abdullah bin Alawi bin al Haddad. Selain sebagai amaliah yang langsung diturunkan Kiai Fattah, cfijelaskan Kiai Katsir Siroj bahwa amaliah ini sebagai cara untuk bertawasul kepada Allah SWT agar lebih mendekatkan diri kepada-Nya. “Selain mendapatkan berkah dari Kiai Fattah selaku pewaris amaliah, kegiatan yang digelar setiap Jumat ini juga sebagai sarana Taqarrub llallah,” pungkasnya. ® HUDA

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Posmo, EDISI 550, 2 Desember 2009, hlm. 10

Tradisi Maulid Hijau dan Larung, Kabupaten Lumajang

Lumajang0001Tradisi Maulid Hijau dan Larung, selain menghijaukan hutan di sekitar lereng Gunung Lemongan, dalam acara yang digelar setiap tahun itu. Warga setempat juga berharap, agar sanak keluarganya yang merantau ke luar negeri dijauhkan dari balak dan diberi kesela­matan serta kesehatan.

Pagi itu, mendung yang terlihat memayung di Desa Tegalrandu, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, seakan mendukung sekerumunan lelaki desa memapah serta menarik seikat bambu keluar dari gerobak kayu.

Seorang lelaki lanjut usia juga tampak sibuk dengan beberapa helai daun kelapa. Wajahnya yang keriput tampak serius seiring dahinya berkenyit memasukan satu persatu daun kelapa itu ke dalam sela-sela jarinya.

Lelaki itu tengah membuat anyaman mirip gedhek. Anyaman itu sendiri akan digunakan sebagai dinding penutup sesaji. Seperti yang diucapkan Mantruki (80), selaku tetua Desa Tegalrandu kepada LIBERTY.

Lumajang0002Selain itu, sebagian warga desa ada yang menyiapkan bahan makanan untuk sesaji, tumpeng maupun rakit untuk melarung ke Ranu Klakah. Ternyata kesibukan warga Tegalrandu pada saat itu merupakan rangkaian dari tradisi Maulid Hijau yang meru­pakan singkatan dari kata Maulid Nabi dan Penghijauan yang selalu diadakan bersamaan atau setelah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

 

Larung sesaji

Kata Matruki, format kegiatan dalam tradisi itu adalah penggabungan antara kegiatan pelestarian lingkungan dan seni budaya yang sebenarnya selama ini telah ada dan eksis secara turun temurun di masyarakat Tegalrandu. “Seperti halnya penghi­jauan di sekitar Ranu Klakah, pagelaran kesenian tradisional, kompetisi perlombaan tradi­sional serta upacara selamatan desa,” katanya kepada LIBERTY.

Sebab, masih kata Matruki, kegiatan sela­matan adat Ranu Klakah ini merupakan kegiatan rutin tahunan yang sudah berlangsung secara turun temurun di desanya. Ke­giatan ini biasanya dilakukan dalam bentuk se­lamatan dan do’a bersama dengan para sesepuh desa sesuai den­gan tradisi agama Islam. Kemudian, dilanjutkan dengan melarungkan se­saji ke tengah Ranu Klakah.

Adapun sesaji yang dilarungkan di Ranu Klakah tersebut berbentuk boneka kecil yang terbuat dari tepung terigu. Kata Matruki, ketika disinggung mengenai bentuk boneta sebagai pelengkap larungan

Konon menurut ceritanya, dulu di dalam Ranu Klakah terdapat seekor ular besar piaraan Dewi Rengganis yang oleh masyarakat sekitar dinamai Ular Selanceng. “Ular ini berbahaya dan kerap mencelakai penduduk setempat,” kata Matruki.

lumajang 3Hingga suatu ketika datanglah Syeikh Maulana Ishak bersama teman karibnya Kyai Atmari dari Prajekan, untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. “Dalam perjalanan terse­but, kedua ulama tersebut singgah di Ranu Klakah dan mengetahui perihal Ular Selanceng. Melihat berbahayanya ular tersebut, Syeikh Maulana Ishak mencoba menanam pohon bunga  Ashoka di pinggir Ranu Klakah dan memberi makan ular tersebut dengan kue yang terbuat dari tepung yang dibentuk menyerupai boneka.

Dan sejak saat itu, ular tersebut tidak pernah lagi mencelakai penduduk di sekitar Ranu Klakah,” terang Matruki. Tradisi inilah yang oleh masyarakat di Ranu Klakah terus dilestarikan dan masih dipercaya oleh masyarakat, jika ular tersebut kerap menampakan diri. Karena itulah dalam sajen yang dilarung ke ranu itu, selain berupa boneka yang menyerupai bayi (ditubuh boneka tersebut juga diolesi darah ayam), juga diisi oleh aneka makanan lain. Seperti tumpeng, bunga setaman, jajanan, telor, rokok kretek dan dua daun sirih yang dibentuk mengerucut. Semua ditaruh dalam rakit buatan berukuran 2×3 meter yang telah dihias dengan kertas samak dan aneka daun-daunan. Matruki juga menjelaskan, garis besar dari upacara itu untuk menolak bala akan terjadinya bencana. Sembari berbicara ringan menjelaskan rincian acara itu, seiring kaki kami melangkah lebih dalam masuk ke mulut desa, ibu- ibu serta remaja putri juga tidak kalah sibuknya dengan kaum pria.

Mereka tengah berbenah mengumpulkan ‘salaran atau jimpitan’ berupa beras, telor dan uang, yang secara sukarela dikumpulkan seluruh warga desa. Hasil ‘jimpitan’ itu sendiri nantinya digunakan untuk kegiatan upacara adat, baik untuk perlengkapan tarian ataupun untuk pembelian benih ikan yang akan dilepaskan di Ranu Klakah.

Menurut A’ak Abdulah Al Kudus (35), tckoh pemuda, selamatan desa yang diadakan kali ini jauh lebih meriah ketimbang tahun sebelumnya. Pria yang aktif di dunia buruh migran dan juga ketua Laskar Hijau ini menambahkan, selain meminta tolak bala kepada Tuhan agar dihindarkan dari tragedi balak, upacara itu juga disembahkan untuk meminta doa kesela- matan bagi para buruh migran yang tengah merantau di luar negeri. Sebab, di sekitar Ranu Klakah ini bermukim kurang lebih 4.564 jiwa atau 1.171 kepala keluarga yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian petani dan buruh migran.

Jadi tidak mengherankan jika sebagian masyarakat yang ikut dalam acara tersebut keluarga ataupun mantan buruh migran. Selain itu, jika upacara wajib itu luput diadakan, kekhawatiran akan dua peristiwa itu bakal terjadi. Jadi tidak mengherankan jika persiapan acara itu dilakukan penuh seksama serta ketelitian.

 

KESURUPAN

Sejurus kemudian, masih diselimuti cuaca mendung, sesajen yang sejak pagi tadi dibuat, nyatanya sore itu sudah dipikul empat pemuda den­gan mengenakan baju adat desa dan siap untuk diberi doa-doa oleh ulama setempat.

Langkah Matruki dan A’ak yang semenjak tadi menemani LIBERTY itu pun mulai menjauh dari jalan desa dan mendekati panggung sambil meli- hat sesajen yang sudah dipikul empat pemuda itu. Selanjutnya, sesajen yang sudah disusun sesuai urutan pengiring siap untuk dikirab keliling desa. “Urutan tersebut sesuai. Dari depan para pemuda yang memer- ankan teaterikal 1hancurnya alamku karena pembalakan liar’, dan dibelakangnya para gadis desa yang siap menarikan tarian Glipang dan yang terakhir adalah sesajen itu sendiri,” ucapnya Matruki.

Setelah doa dan dzikir dipanjatkan, tanpa dikomando, sebagian warga desa yang berkerumun disekitar sesajen langsung menjauh ketika tarian Glipang mulai ditarikan. Sebab ada keper- cayaan, jika tarian Glipang ini sudah ditarikan, maka para penari tersebut bakal kesurupan. Praktis warga enggan untuk mendekati mereka.

Kemudian, setelah tarian tersebut usai dilakukan, secara perlahan-lahan iring-iringan sesajen mulai dikirap ke­liling desa. Menariknya, sesosok pria tanpa baju dengan rambut panjang memegang toples berisi benih ikan, berjalan paling depan. Kata Matruki, sosok pria tersebut berfungsi sebagai pemangku spiritual kirab. Pemangku juga diwajibkan mengenakan jala ikan dengan cara dililitkan di tubuhnya yang fungsinya sebagai penyeimbangan larung sesaji. “Selain penyeimbang, agar pemangku kirab tersebut tidak kesurupan,” lanjut Matruki.

Kemudian, kurang lebih 500 meter berjalan, kirab itu pun akhirnya tiba di pintu masuk Ranu Klakah. Selanjut­nya, pemangku kirab berjalan perla­han-lahan menuruni anak tangga dan baru berhenti ketika sudah tiba di bibir ranu.

Lantas, benih ikan itupun dituangkan di atas ranu dengan disusul peletakan sesajen diatas rakit. Bersamaan dengan itu, entah faktor kebetulan atau tidak, hujan yang tadinya sempat turun tiba-tiba berhenti.

Kemudian, Matruki mengambil alih peletakan sesajen dengan menaiki rakit untuk dilabuhkan di tengah ranu. Sepeningal Matruki melabuhkan sesaji ke tengah ranu, tarian Glipang kembali ditarikan disekitar bibir ranu.

Benar dugaan, kurang dari 10 menit tarian itu dijalankan, dua dari penari tersebut kesurupan. Bahkan dua pemuda yang memerankan teaterikal kondisinya tak jauh beda dengan para penari. Dan aksi kesuru­pan itu baru berhenti ketika Matruki dan ulama setempat memberikan doa-doa kepada mereka.

Namun terlepas dari itu semua, warga berharap, hasil tangkapan ikan di sekitar ranu berlimpah dan para keluarganya yang merantau di luar negeri diberi kesehatan serta kesela- matan. « D2ng

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY,
1-10 Juni 2009

Pusara Raja, Blitar

Pusara Raja itu, Melahirkan Banyak Naga

Makam Raja0001Selain Bung Karno, Blitar juga menjadi pusara beberapa raja besar. Di antaranya Anusapati, Ranggawuni atau Wisnuwardhana, dan Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardhana. Inikah sebabnya, banyak tokoh lahir dari kota ini?

Sejahrawan tersohor Romo DR FX Baskara T Wardaya Sj menyatakan keheran- nya, dengan banyaknya orarrg Blitar yang menjadi tokoh. Keheranan tersebut disampaikan di kompleks Perpustakaan Bung Karno, di sela-sela acara bedah buku karyanya: “Mencari Soeprijadi”.

“Mengapa ya orang Blitar pandai- pandai, dan bisa ngangkat jadi pahlawan?” demikian Baskara mempertanyakan keheranannya kepada seja-rahwan dari Blitar Heritage Society, Endah Iriani Spd Mpd. Endah pun segera menjelaskan, bahwa yang “diminum” orang Blitar itu rumeseping ratu semua.

“Lha makam ratu itu ada di Blitar semua. Mulai dari Anusapi, Rangga­wuni, Raden Wijaya dan terakhir Bung Karno. Jangan heran kalau nanti Satrio Piningit itu muncul dari Blitar. Sebab, yang diminum orang Blitar itu tidak sama dengan yang lainnya,” demikian Endah Iriani menguraikan jawabannya.

Aspek geografis Blitar pun, menurut Endah Iriani sangat mendukung. Di bagian selatan Blitar merupakan pegunungan kapur yang kaya sekali akan mineral. Kemudian di bagian utara Blitar, terda- pat gunung berapi aktif Kelud. Blitar pun dibelah Sungai Brantas yang berbentuk gelang, yang juga sangat kaya akan sumber mineral.

Tetapi, potensi Blitar sebenarnya bukan hanya itu saja. Sejak zaman dulu, Blitar ini selalu menjadi perhatian raja karena memiliki aspek spiritual yang sangat dahsyat. “Inilah sebab­nya, banyak raja mendirikan bangunan suci (candi) di berbagai tempat di Blitar,” ungkap Endah Iriani. “Candi tersebut, ada yang berfunsi sebagai tempat pemujaan, tetapi ada pula yang berfungsi sebagai makam raja,” imbuhnya.

CANDI SIMPING

Makam Raja0003Candi sebagai makam raja yang terkenal adalah Candi Simping. Candi ini terletak di kawasan Blitar Selatan. Tepatnya, di Kelurahan Sumberjadi, Kecamatan Kademangan. Dalam Nagarakertagama    disebutkan,

Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya (1293-1309) yang meninggal pada tahun 1309 M ‘didharmakan’ atau dimakamkan di candi ini dengan sifat Siwaitis dan di Antapura dengan sifat Budhistis.

Pada tahun 1361 M, Raja Hayam Wuruk (1350-1389) mengunjungi makam leluhurnya itu. Dalam Nagarakretagama disebutkan, menara candi itu miring sehingga sang baginda memerintahkan untuk menegakkannya kembali. Hayam Wuruk kembali berkunjung ke Simping pada tahun 1363 M untuk memindahkan candi makam Kertarajasa.

Sebelum mengunjungi Candi Sim­ping, pada tahun 1361 M Raja Hayam Wuruk juga mengunjungi beberapa tempat suci di Blitar. Di antaranya Candi Palah (sekarang. orang menye- butnya Candi Penataran). Bangunan suci yang berfunsi sebagai tempat pemujaan ini terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, tepatnya di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok.

Bernet Kempers menyatakan, Candi Penataran mencakup masa 250 tahun, dari tahun 1197 (masa Kerajaan Kadiri) hingga 1454 Masehi. Gugusan candi ini ditujukan untuk memuja Dewa Siwa sebagai Dewa Gunung.

Selain berziarah, Hayam Wuruk mengunjungi tempat ini dalam upaya menguatkan legitimasinya. Ia juga bersembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati, memohon keselamatan semua makhluk dari bencana letusan Gunung Kelud.

CANDI SAWENTAR

Makam Raja0002Bangunan suci yang diduga seba­gai maka» raja lainnya adalah Candi Lwangwentar. Candi ini terletak di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro. Masyarakat setempat dan sekitaranya lebih akran dengan sebutan Candi Tawang Sawentar atau Candi Sawentar. Raja Hayam Wuruk disebut- sebut dalam Negarakertagama pernah bersemedi di candi ini.

Bentuk bangunan Candi Sawentar nyaris sama dengan Candi Kidal yang terletak di Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Malang, Jatim. Candi ini dibangun pada masa Singosari sebagai bentuk pernghormatan atas jasa-jasa besar Anusapati, raja ke 2 Singosari (1227-1248).

Menurut Pararaton, Anusapati dicandikan di Kidal. Tetapi sebuah penelitian menyebutkan, besar kemungkinan makam Anusapati ada di dua tempat. Selain di Kidal, juga di Candi Sawentar.

Lazimnya, raja-raja besar dima- kamkan atau dicandikan di lebih dari satu tempat. Seperti halnya Kerta­rajasa Jayawardhana, selain dican­dikan di Simping juga di Antahpura. Atau candi makam Narasinghamurti, selain di Kumitir juga di Redi Kuncir. Begitu juga dengan makam Wisnu- wardhana atau Ranggawuni, selain di Candi Mleri juga di Candi Jajagu atau Candi Jago.

CANDI MLERI

Makam Raja0004Candi makam lainnya di Blitar terdapat di Desa Begelen, Kecamatan Srengat. Namanya Candi Wleri atau Mleri. Tetapi banyak pula yang menyebut Kekunoan Mleri. Warga setempat yang mengeramatkan kompleks tersebut malah menyebutnya punden Ki Ageng Mleri.

Candi Mleri terdapat di kaki Gunung Pegat. Candi ini tidak jauh dari Candi Pertapan yang terletak di puncak Gunung Pegat. Jika Candi Pertapan sebagai tempat pemujaan yang diban­gun oleh Raja Kertajaya dari Kediri, maka bangunan Candi Mleri dibangun semenjak zaman Kediri mulai Raja Kameswara sampai zaman Singosari akhir atau Majapahit awal.

Sementara dugaan menyebutkan, selain sebagai tempat pemujaan, funsi Candi Mleri juga berfungsi sebagai makam Raja Wisnuwardhana atau Ranggawuni.

Di dalam bangunan cungkup di kompleks Kekunoan Mleri ini memang terdapat dua buah bangunan yang tersusun dari batu-batu candi. Susunan

batu-batu candi itu membentuk ma­kam. Juru kunci setempat, Jaenab (60) menyebutnya sebagai makam Rangga­wuni atau Wisnuwardhana dan istrinya. “Memang tidak ada penjelasan yang pasti, yang satu itu makam permaisuri atau selir Ranggawuni,” jelasnya.

NAGA

Maka, Blitar pun bak “Kota Pusara” yang menyimpan banyak “Naga”. Pendapat ini dikemukakan oleh Nurhadi Rangkuti, seorang peneliti di Balai Arkeologi Yogyakarta. Menurutnya, naga merupakan makhluk mitologi. Keberadaannya hampir selalu dikait- kaitkan dengan penciptaan alam semesta, dan legitimasi kekuasaan politik penguasa.

Sejarah pun meneguhkan, Blitar sejak zaman Majapahit menjadi tem­pat “ziarah” penguasa di pusat. Mereka ziarah ke tempat-tempat naga, untuk tujuan keagamaan dan politik. Dalam kenyataannya, Blitar tidak hanya tem­pat “bersembunyi” para naga-naga kuno. Tetapi juga melahirkan naga-naga zaman modern dengan makna baru. Sebut saja Bung Karno, yang bisa diju- luki “naga dunia” karena kiprah dan kepiawaian politiknya diakui dunia.

Presiden SBY pun tidak lepas dari pengaruh “alam” Blitar. Restu ibundanya yang bermukim di Blitar, membuatnya menjadi “naga Indonesia”. Akankah Prof Dr Boediono yang digandeng calon incumbent SBY sebagai cawapresnya dalam Pilpres 2009 kelak juga akan menjadi “naga”? • emte

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY,  1 – 10 Juni 2009. hlm.

Pertumpahan Darah di Majapahit

Darah dan Dendam dalam Pergulatan Meraih Tahta,

Putera-putera terbaik Majapahit gugur satu persatu akibat ulah licik salah seorang pejabat keagaaman Keraton Majapahit. Kerajaan Majapahit yang masih berusia muda pun berjalan dengan tertatih-tatih Peperangan besar baru saja usai. Darah merah membanjiri lapangan luas di sepanjang Sungai Tambak Beras di perbatasan selatan Kadipaten Tuban.

Tubuh- tubuh bergelimpangan tak bernyawa. Erangan beberapa parjurit yang terluka parah masih belum surut. Di kejauhan, umbul-umbul berwarna gula kelapa, bendera khas Keraton Majapahit berkibar-kibar seperti tengah mengabarkan kemenangan pada peperangan yang baru usai itu. Itulah peristiwa pada awal tahun 1295, saat terjadi pemberontakan bersenjata yang dipimpin Adipati Tu­ban Rangga Lawe.

Adipati Tuban itu tewas dalam perang tandingdengan senapati Ma­japahit, Kebo Anabrang, di dalam Sungai Tambak Beras yang cukup deras airnya. Rangga Lawe yang sangat sakti, ternyata menjadi lemah saat adu kanuragan di dalam air.

Sementara lawannya, mantan prajurit pilihan Keraton Singasari yang sempat bertugas dalam ekspedisi Pamalayu pada zaman Prabu Kertanegara di Singasari, adalah jagoan dalam air. Anabrang sendiri nampaknya sangat paham, meng- hadapi Rangga Lawe yang digdaya di darat adalah dengan menggiringnya berkelahi di dalam air.

Rangga Lawe memang terbukti bisa dikalahkan Kebo Anabrang melalui serangkaian pertarungan sengit di dalam air. Namun, Kebo Anabrang akhirnya juga harus tewas dalam perkelahian yang sejatinya sangat seimbang itu. Ia ditikam keris oleh salah seorang punggawa Majapahit, saat lengah karena didera kekalahan yang luar biasa. Ironisnya, punggawa yang menikamnya adalah Lembu Sora, yang masih terhitung merupakan paman dari Rangga Lawe, dan juga merupakan pejabat tinggi di lingkungan Keraton Majapahit.

Banyak pertanyaan yang mengemuka, kenapa Rangga Lawe yang se­jatinya sebagai pendiri Majapahit malah melakukan pemberontakan terhadap kerajaan yang didirikannya itu? Ternyata, pemicunya adalah pengangkatan Nambi sebagai patih amangkubumi oleh Prabu Kertajasa Jayawardhana.

Sebenarnya, Rangga Lawe tak mempersoalkan pengangkatan tersebut. Karena, menurutnya, Nambi adalah teman seperjuangan, karena bersama Nambi, dirinya mengawali membuka Hutan Tarik menjadi daerah terbuka dan menjadi cikal bakal Kerajaan Majapahit. Ber­sama Nambi pula, bahu membahu memerangi tentara Tartar utusan Kaisar Kubilai Khan dari Cina.

Dan juga, nambi adalah saudara sepupunya, karena ayahnya – Adipati Sumenep Arya Wiraraja – bersaudara dengan ayah Nambi yang bernama Arya Pranaraja atau Mpu Sina. Yang menjadi biang keladi dari semua permasalahan hingga mengakibatkan perang besar itu adalah Mahapati. Mahapati ini pula yang kemudian memicu pertumpahan darah di zaman Prabu Kertarajasa hingga zaman Prabu Jayanegara.

Sebagai pejabat keagamaan Hin­du Syiwa, Mahapati sangatlah dekat dengan Prabu Kertarajasa. Ia ternya­ta punya ambisi tersembunyi sangat ingin diangkat menjadi patih amang­kubumi. Ambisinya yang besar ini mendasari sikapnya yang menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Mahapati memakai taktik adu domba di kalangan orang-orang sekitar raja yang berpeluang menjadi patih amangkubumi. Strategi adu domba itu mulai dijalankan ketika raja mengangkat Nambi sebagai patih.

Mahapati tahu jika Rangga Lawe sangatlah kecewa, sebab dalam beberapa kali pasewakan agung. Lawe tidak datang. Ma­hapati kemudian memprovokasi Rangga Lawe. Ditekankannya, bahwa pengangkatan Nambi adalah bentuk ketidaksukaan Sang Prabu kepada dirinya.

Sebaliknya, kepada Sang Prabu, Mahapati melaporkan bahwa Rangga Lawe yang mulai jarang mengikuti pasewakan agung merupakan tanda-tanda jika Adipati Tuban itu mbalela. Kesalahpahaman pun akhirnya memuncak menjadi perlawanan bersenjata. Memang, pemberontakan itu akhirnya bisa ditumpas. Rangga La­we dan Kebo Anabrang juga banyak sekali prajurit mati sia-sia akibat hasutan busuk Mahapati.

Satu pesaing telah hilang. Ma­hapati masih tetap berniat untuk menjatuhkan Nambi. Namun dalam benaknya, bila dia berhasil menyingkirkan Nambi, bukan dirinya yang akan diangkat menjadi patih. Tapi calon lain yang dianggap lebih kuat, bila patih Nambi tersingkir, hanyalah Lembu Sora, yang masih terhitung paman dari Rangga Lawe.

Mahapati kemudian menjalankan politik adu domba, antara pihak-pihak yang memungkinkan bertikai. Antara lain, Kebo Taruna anak Kebo Anabrang yang dihasut untuk membalas dendam, Patih Nambi sendiri, dan terakhir Sang Parbu.

Kepada keempat pihak itu, Ma­hapati memberi info yang berbeda- beda. Kepada Lembu Sora ia mem- bisik agar berhati-hati terhadap Kebo Taruna, yang berniat membalas ke- matian ayahnya. Taruna meminta bantuan kepada Patih Nambi yang masih terhitung pamannya juga.

Kepada Patih Nambi sendiri, Ma­hapati mengatakan, bahwa Prabu Kertarajasa sudah tidak menyukai lagi Lembu Sora dan akan mencopot jabatannya untuk segera diisi oleh Kebo Taruna. Dilaporkan juga, bahwa Taruna bermaksud untuk menghabisi nyawa Sora Akhirnya, akibat politik adu doma, Lembu Sora yang mencoba menghadap raja, dikeroyok oleh para prajurit Majapahit atas perintah Nambi.

Ber­sama Juru Demung dan Gajah Biru, Sora gugur dalam perkelahian tersebut. Pesaing utama ke kursi kepatihan tinggal Patih Nambi sendiri. Namun sampai Sang Prabu Kerta­rajasa mangkat pada tahun 1309, ambisi Maha­pati belum berhasil diwujudkan. Tampuk pemerintahan lantas digantikan oleh Raden Kalagemet yang bergelar Prabu Jayanegara dan menjadi patih amangkubumi masih Nambi.

Keinginan Mahapati untuk menjadi pa­tih, setelah terkubur selama 14 tahun, ternyata belum juga mereda. Mahapati mulai mendekati Nambi. Dengan bisikan ja- hatnya, Mahapati berkata bahwa Pra- bu Jayangera sebenarnya tidak menyukainya. Waktu penantian Mahapati akhirnya tiba. Kabar bahwa ayah Nambi, Arya Pranaraja, yang berkedudukan di Lumajang sedang sakit keras, dijadikan peluang Mahapati untuk meng- habisi Nambi.

Pranaraja meninggal, sebelum Nambi tiba di Lumajang. Atas saran Mahapati pula, yang ketika itu ikut melayat’ke Lumajang, Nambi diminta memperpanjang cutinya. Patih amangkubumi yang tak sadar akan kelicikan Mahapati, mengiyakan. Bahkan meminta tolong agar Ma­hapati menyampaikan sendiri ke Prabu Jayanegara.

Kepada Sang Prabu, Mahapati mengatakan lain. Ketidakmunculan Nambi melewati batas waktu cuti yang diizinkan, adalah bukti keengganannya kembali ke Majapahit, bahkan berniat memberontak kepa­da pemerintahan Prabu Jayanegara.

Dalam laporannya, Mahapati juga menga­takan bahwa Nambi tekah melatih orang- orang di Lumajang un­tukmemberontak, bahkan mendirikan benteng-benteng per- tahanan yang kuat.

Raja termakan omongan provokatif Sang Mahapati. De­ngan mengirim ribuan tentara, yang dipimpin sendiri oleh Mahapati, Lumajang digilas. Nambi dibunuh beserta seluruh pengikut-pengikut setianya. Peristiwa penghancuran Luma­jang itu terjadi tahun 1316.

Ambisi Mahapati akhirnya terwujud. Terlaksana dengan penuh kelici­kan dan pengkhianatan. Mengorbankan kawan dan menghabisi orang yang menganggapnya saudara. Ma­hapati menjadi patih amangkubumi sejak 1316 – 1323 Masehi, dengan gelar Rakai Dyah Halayudha #c 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, 52, Januari 2009, hlm.62-63

Kebo-Keboan, Kabupaten Banyuwangi

Pada puncak acara Kebo-Keboan, masyarakat saling berebut bibit padi yang ditunggui kerbau jadi-jadian. Bibit padi  itu dianggap bisa sebagai sarana tolak bala maupun pembawa keburuntungan jika dibawa pulang.

kebo- keboan

Malam semakin larut di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi. Para ibu masih sibuk memasak kue dan menyiapkan perlengkapan sesaji di dapur. Berbagai jenis hewan ternak telah terlelap tidur di kandangnya masing-masing.

Di sisi lain, suara ramai namun damai terlihat di sepanjang jalan utama desa. Laki-laki tua-muda, anak-anak, dan perempuan ikut membantu menyiapkan dan memasang hiasan perlengkapan upacara yang terdiri dari pala gumantung (buah-buahan yarig bergantung, seperti pisang, jeruk, durian, dan mangga), pala kependhem (umbi-umbian dalam tanah, seperti ubi kayu, ketela, kacang tanah, kentang, talas, ganyong, jahe, dan lengkuas), dan pala ke- sampir (polong-polongan seperti kacang panjang, kecipir, kara, dan buncis). Kesemuanya ditata dan dihias rapi sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan.

Itulah gambaran suasana yang terlihat pada awal sebuah upacara ritual kesuburan yang dilakukan masyarakat Using di Desa Alas Malang, yang selalu digelar pada setiap Suro. Ritual Kebo-Keboan pada 2009 mendatangkan, Pemda Banyuwangi mengagendakan jatuh pada 11 Januari. Jika berminat melihat atau mengikuti ritual itu, usahakan datang pada malam menjelang upacara berlangsung. Sebab, pada saat itu juga banyak rangkaian acara yang menarik untuk diikuti.

Menurut para sesepuh Desa Alas Malang, upacara Kebo-Keboan bertujuan untuk mendapatkan kesela- matan, penyembuhan, kesuburan, dan pembersihan diri dari Tuhan Yang Maha Esa. Ternyata ritual ini tidak hanya menarik wisatawan domestik, tapi juga wisatawan manca negera, khususnya Eropa.

Bila upacara itu telah tiba, pemandangan di desa itu sungguh menakjubkan. Berbagai pernik ornamen hiasan sudah terpajang, umbul-umbul, killing (baling-baling kicir angin), paglak (dangau tinggi di tengah sawah) terlihat megah di hamparan sawah dengan latar belakang Pegunungan Raung, Ijen, dan Gunung Merapi. Semua warga desa sudah siap dengan kue tradisional serta sesaji untuk upacara ritual. Hampir semua orang tampak anggun dengan busana adatnya.

Prosesi upacara diawali dengan selamatan di tengah jalan utama desa. Semua panganan diletakkan di atas tikar, lembar-lembar daun, na­si tumpeng di atas ancak (tempat yang terbuat dari batang daun pisang dan bambu). Lengkap dengan lauk pauk dan sayur yang ditata dalam takir (tempat yang ter­buat dari daun pisang) serta masakan khas pecel pitik (ayam pang gang yang diurap kelapa) telah siap. Seluruh elemen kampung terlibat, dari orang dewasa hingga anak-anak. Doa dipimpin oleh seorang Kiai, kemudian nasi tumpeng dan kue dibagikan kepada para pengunjung dan warga setempat sebagai berkat. Tak hanya untuk keluarga terdekat, tiap-tiap warga juga menyiapkan kue-kue untuk para kerabat atau pengunjung yang datang dari jauh.

Setelah upacara selamatan selesai, selanjutnya acara Ider Bumi (prosesi mengelilingi kampung dari hilir hingga ke hulu kampung). Upa­cara bersama ini begitu unik dan menarik sekaligus memiliki dimensi dari masyarakat yang akar kepercayaan agraris dan spiritualnya masih kuat.

Acara ritual ini melibatkan seluruh elemen di kampung, mulai dari laki-laki, perempuan, tua-muda, dan anak-anak sampai sanak famili yang berada di luar kampung. Bahkan hampir seluruh kesenian adat yang ada di Banyuwangi juga terlibat. Ada gandrung, barong, janger, patrol, balaganjur, angklung paglak, jaranan, kuntulan, dan wayang kulit. Upacara ini tidak melulu seni pertunjukan terpadu tapi juga sebagai seni instalasi komunal yang memperlihatkan energi kualitas dan spiritual bersama.

Pada acara Ider Bumi, ritual Kebo-Keboan ini diawali dengan visualisasi Dewi Sri (Dewi Padi) yang ditandu oleh beberapa pengawal dengan pakaian khas. Puluhan laki-laki bertubuh kekar dengan dandanan dan bertingkah aneh seperti kerbau dihalau oleh para petani yang membawa hasil panennya. Suasana kian meriah karena diiringi alunan musik tradisional khas Using yang hinggar binggar.

Pada bagian akhir upacara adalah prosesi membajak sawah dan menanam bibit padi. Para kerbau manusia seperti kesurupan mengejar siapapun yang mengambil bibit padi yang ditanam. Masyarakat berebut, ikut berkelit untuk mendapatkan bibit padi itu karena dipercaya bisa digu- nakan sebagai tolak bala maupun keberuntungan. Kegiatan berakhir pada tengah hari. Para lelaki yang berseragam kerbau membersihkan diri di sungai-sungai yang airnya bersih. Para pengunjung pun pulang ke rumahnya masing-masing sambil membawa bibit padi yang akan digunakan sebagai tolak bala atau keber­untungan di tahun kerbau ini.

Sementara itu, pada sore hari dan malam hari, kesenian tradisional disajikan, termasuk pementasan wa­yang kulit semalam suntuk. Jadi bisa dibayangkan betapa meriahnya Desa Alas Malang pada perayaan Kebo-Keboan itu • RUD

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, 1-10 Januari 2009, hlm. 32-33