RS. Citra Medika

RS. CITRA MEDIKA (Depan Pabrik Kertas Tjiwi Kimia)
Satu-satunya Rumah Sakit Milik Koperasi

RS. Citra Medika.0003    Prestasi membanggakan patut disematkan ke RS CITRA MEDIKA. Betapa tidak, melalui kegigihan para karyawan Tjiwi Kimia, RS Citra Medika yang hanya bermula dari poliklinik kecil ini bisa menjelma menjadi sebuah rumah sakit swasta type C-Plus yang modern, berteknologi tinggi dengan kapasitas lebih dari 110 tempat tidur. Barangkali, inilah satu-satunya rumah sakit yang bisa mandiri di bawah naungan Koperasi Karyawan PT. Tjiwi Kimia.
Kesan megah langsung terasa saat berkunjung ke Rumah Sakit Citra Medika. Sebuah bangunan tiga iantai berdiri kokoh di atas lahan seluas 10.000 meter dengan luas bangunan 8000 m2. Kemegahan itu semakin komplet karena ditunjang lokasi yang strategis di Jl. Surabaya-Mojokerto Km. 44 Sidoarjo, persis di depan PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia.
RS Citra Medika tidak saja menawarkan kemegahan bangunan, tetapi pelayanan dan fasilitas kesehatan juga sangat diutamakan. Begitu masuk, anda akan disambut petugas jaga dan petugas resepsionis yang ramah. Mereka akan memberikan pelayanan dan perawatan kesehatan terbaik dengan dasar ketulusan hati. Filosofi ini senantiasa melekat dalam hati baik di jajaran manajemen maupun seluruh staf rumah sakit.
Sebagai rumah sakit modern, Citra Medika juga ditunjang peralatan medis yang sangat modern. Tersedia ruang rawat inap mulai dari kelas bangsal hingga VVIP yang semuanya terjaga dengan rapi dan nyaman.

Berawal dari Sebuah Klinik
RS. Citra Medika.0001Sebelum berkembang menjadi rumah sakit swasta type C-Plus, RS Citra Medika mulanya adalah sebuah klinik kecil yang ditujukan untuk melayani karyawan dan anggota keluarga karyawan PT. Tjiwi Kimia. Ide pembentukan klinik tersebut bermula dari RAT Koperasi tahun 1999. Dimana, saat itu ada tuntutan dari anggota untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik dengan membentuk asuransi kesehatan dan poliklinik.
Ide tersebut ditindaklanjuti dengan pembentukan CIKKO (Tjiwi Kimia Karyawan dan Koperasi) PRIMA HUSADA pada tahun 2001, yang mendirikan poliklinik induk dan 3 poliklinik cabang, yakni Poli Tarik, Poli Jetis, dan Poli Gajah Mada Mojokerto.
Tahun 2001, Poliklinik Induk Cikko Prima Husada sudah mulai melayani rawat inap dengan 12 tempat tidur. Selanjutnya, pada Februari 2002, poliklinik induk berubah status menjadi Rumah Sakit Bersalin Cikko Prima Husada dengan 23 tempat tidur. Empat bulan kemudian, Juni 2003, rumah bersalin berubah status menjadi Rumah Sakit Citra Medika dengan kapasitas 30 tempat tidur.
RS Citra Medika, yang pada awalnya hanya diperuntukkan untuk karyawan dan keluarga karyawan PT. Tjiwi Kimia mulai banyak didatangi pasien umum. Untuk menampung itu, RS Citra Medika pun mulai melakukan pengembangan bangunan secara bertahap.
Peletakan batu pertama tiang pancang pembangunan pengembangan RS Citra Medika dimulai Agustus 2005. Tahap pertama pembangunan RS Citra Medika selesai pada Agustus 2006 dan selesai seluruhnya pada Juli 2007. Sementara, ijin operasional rumah sakit dari Dinkes Jawa Timur didapat pada Februari 2006.
Selain itu, RS Citra Medika juga sudah mendapat ijin yang dikeluarakan DEPKES RI melalui KEPMEN RI No.. HK. 07.06/111/4442/ 09 tentang ijin tetap penyelenggaraan operasional RSCM mulai pertanggal 30 Oktober 2009. Sementara, tentang penetapan kelas RS dengan klasifikasi C+ tertuang dalam KEPMEN RI No. 991/MENKES/ SK/XI/2009. Surat penetapan tersebut dikeluarkan tanggal 10 Nopember 2009.*sir

Tiga Layanan Unggulan

Persaingan dan tuntutan masyarakat terhadap peiayanan kesehatan yang bermutu, mendorong RS Citra Medika senantiasa memberikan peiayanan yang terintegrasi. Setidaknya, ada tiga layanan unggulan yang menjadi fokus RS Citra Medika. Yakni. Trauma Center, Obstetric Gynecology dan Teknologi.
TRAUMA CENTER
Ini merupakan pusat peiayanan trauma yang fasilitas kasus trauma yang lengkap ditunjang tenaga ahli yang profesional dan berpengalaman. Terdiri atas ahli bedah syaraf, ahli bedah ortopedik, ahli bidang umum, ahli anastesi dan ahli rehabilitasi medik. Selain itu, ditunjang pula dengan tenaga yang bersertifikat PPGD (Penanganan Pasien Gawat Darurat) dan ATLS (Advance Traumatic Life Support). Dengan fasilitas dan tenaga ahli ini, menjadikan RS Citra Medika yang mampu menangani kasus trauma dengan cepat secara komprehensif dan paripurna.
OBSTETRIC & GYNECOLOGI
Peiayanan ini memfokuskan diri pada peiayanan kesehatan bagi wanita yang bertujuan untuk upaya pencegahan dan deteksi dini kelainan. Dimulai sejak usia pranikah, kehamilan, persalinan, kelainan hormonal, infertilitas, menopouse serta berbagai masalah kandungan seperti kanker dan gangguan haid. Sebagai layanan unggulan, RS Citra Medika menyediakan fasilitas peralatan yang memadai ditunjang tim dokter ahli kebidanan yang profesional dan berpengalaman.

TEKNOLOGI
Diagnosa pemeriksaan pasien selain dilakukan berdasarkan pemeriksaan klinis, diperlukan pula pemeriksaan penunjang yang memadai dengan bantuan teknologi. Untuk menunjang itu, RS Citra Medika telah melengkapi peralatan penunjang medis berteknologi modern. Terbaru adalah CT scan Hi Speed Dual. Alat medis berteknologi modern ini mampu mendeteksi gangguan yang dialami pasien dengan detail. Alat ini unggul karena memiliki daya jelajah yang lebih detail dengan proses yang cepat dan menghasilkan gambar tiga dimensi. Tentu, dengan alat canggih ini keluhan pasien segera bisa terdeteksi dengan tingkat akurasi tinggi. Peralatan modern ini merupakan standar peiayanan rumah sakit masa kini. Barangkali di Sidoarjo, peralatan tersebut baru ada di RS Citra Medika.

Kerjasama Tangani Pasien Bibir Sum
RS. Citra Medika.0002TAK banyak rumah sakit yang mendapat epercayaan untuk menangani pasien bibir sumbing. Salah satu yang mendapat kepercayaan itu adalah RS Citra Medika. Saat ini, RS Citra Medika mendapat kepercayaan bekerjasama dengan Yayasan Smile Train, yang merupakan yayasan sosial dari luar negeri. “Kerjasama tersebut terutama dalam penanganan pasien bibir sumbing secara gratis,” terang Wasis SE, Direktur Administrasi dan Keuangan RS Citra Medika.
Program tersebut merupakan bentuk pelaksanaan misi sosial terhadap pasien bibir sumbing di Indonesia. Untuk tahap awal, RS Citra Medika menangani seratus pasien bibir sumbing. Sementara, tahap kedua akan ada dua ratus kasus pasien bibir sumbing. Dan, selanjutnya akan melakukan pengembangan program sebagai bentuk implementasi dari visi dan misi.
RS. Citra Medika.0004RS Citra Medika ditunjuk sebagai satu- satunya rumah sakit di Sidoarjo yang bisa menangani pasien bibir sumbing. Itu artinya, RS Citra Medika merupakan salah satu rumah sakit yang cukup mendapat perhatian dan kepercayaan di dunia internasional. Harapan ke depannya, rumah sakit ini semakin berkembang dan menjadi rumah sakit pilihan warga Sidoarjo, Mojokerto dan Jawa Timur pada umumnya.
Sebagai rumah sakit yang terus berkembang, manajemen RS Citra Medika senantiasa berbenah. Setidaknya, ada tiga hal yang akan dilakukan. Pertama, meningkatkan peiayanan. Kedua, melebarkan pasar ke pabrik-pabrik terdekat. Dan, ketiga menjalin kerjasama dengan berbagai pihak sehingga RS Citra Medika bisa menjadi rumah sakit rujukan.
RS. Citra Medika.0005Sementara itu, Drs Sunoto Santoso, MBA mengatakan, bahwa keberadaan RS Citra Medika memang tak bisa dilepaskan dari peran serta PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia yang merasa terpanggil untuk turut mendukung perusahaan dalam program kepedulian sosial CSR (Corporate Social Responsibility) yang mengambil tema Tjiwi Kimia Peduli Kesehatan. Sehingga, keberadaan rumah sakit ini juga merupakan bagian dari kepedulian dan tanggung jawab sosial Tjiwi Kimia untuk meningkatkan kualitas kesehatan karyawan, keluarga karyawan, masyarakat sekitar dan masyarakat umum. *sir

RS CITRA MEDIKA
Jl. Raya Surabaya – Mojokerto KM.44 HUNTING 0321-361000 (24 Jam) Telp./Fax: 0321-362858-9/362956

——————————————————————————————————————————

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Majalah ZONABIS Volume II, halaman16-17

RS. Citra Medika

RS. CITRA MEDIKA (Depan Pabrik Kertas Tjiwi Kimia)
Satu-satunya Rumah Sakit Milik Koperasi

RS. Citra Medika.0003    Prestasi membanggakan patut disematkan ke RS CITRA MEDIKA. Betapa tidak, melalui kegigihan para karyawan Tjiwi Kimia, RS Citra Medika yang hanya bermula dari poliklinik kecil ini bisa menjelma menjadi sebuah rumah sakit swasta type C-Plus yang modern, berteknologi tinggi dengan kapasitas lebih dari 110 tempat tidur. Barangkali, inilah satu-satunya rumah sakit yang bisa mandiri di bawah naungan Koperasi Karyawan PT. Tjiwi Kimia.
Kesan megah langsung terasa saat berkunjung ke Rumah Sakit Citra Medika. Sebuah bangunan tiga iantai berdiri kokoh di atas lahan seluas 10.000 meter dengan luas bangunan 8000 m2. Kemegahan itu semakin komplet karena ditunjang lokasi yang strategis di Jl. Surabaya-Mojokerto Km. 44 Sidoarjo, persis di depan PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia.
RS Citra Medika tidak saja menawarkan kemegahan bangunan, tetapi pelayanan dan fasilitas kesehatan juga sangat diutamakan. Begitu masuk, anda akan disambut petugas jaga dan petugas resepsionis yang ramah. Mereka akan memberikan pelayanan dan perawatan kesehatan terbaik dengan dasar ketulusan hati. Filosofi ini senantiasa melekat dalam hati baik di jajaran manajemen maupun seluruh staf rumah sakit.
Sebagai rumah sakit modern, Citra Medika juga ditunjang peralatan medis yang sangat modern. Tersedia ruang rawat inap mulai dari kelas bangsal hingga VVIP yang semuanya terjaga dengan rapi dan nyaman.

Berawal dari Sebuah Klinik
RS. Citra Medika.0001Sebelum berkembang menjadi rumah sakit swasta type C-Plus, RS Citra Medika mulanya adalah sebuah klinik kecil yang ditujukan untuk melayani karyawan dan anggota keluarga karyawan PT. Tjiwi Kimia. Ide pembentukan klinik tersebut bermula dari RAT Koperasi tahun 1999. Dimana, saat itu ada tuntutan dari anggota untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik dengan membentuk asuransi kesehatan dan poliklinik.
Ide tersebut ditindaklanjuti dengan pembentukan CIKKO (Tjiwi Kimia Karyawan dan Koperasi) PRIMA HUSADA pada tahun 2001, yang mendirikan poliklinik induk dan 3 poliklinik cabang, yakni Poli Tarik, Poli Jetis, dan Poli Gajah Mada Mojokerto.
Tahun 2001, Poliklinik Induk Cikko Prima Husada sudah mulai melayani rawat inap dengan 12 tempat tidur. Selanjutnya, pada Februari 2002, poliklinik induk berubah status menjadi Rumah Sakit Bersalin Cikko Prima Husada dengan 23 tempat tidur. Empat bulan kemudian, Juni 2003, rumah bersalin berubah status menjadi Rumah Sakit Citra Medika dengan kapasitas 30 tempat tidur.
RS Citra Medika, yang pada awalnya hanya diperuntukkan untuk karyawan dan keluarga karyawan PT. Tjiwi Kimia mulai banyak didatangi pasien umum. Untuk menampung itu, RS Citra Medika pun mulai melakukan pengembangan bangunan secara bertahap.
Peletakan batu pertama tiang pancang pembangunan pengembangan RS Citra Medika dimulai Agustus 2005. Tahap pertama pembangunan RS Citra Medika selesai pada Agustus 2006 dan selesai seluruhnya pada Juli 2007. Sementara, ijin operasional rumah sakit dari Dinkes Jawa Timur didapat pada Februari 2006.
Selain itu, RS Citra Medika juga sudah mendapat ijin yang dikeluarakan DEPKES RI melalui KEPMEN RI No.. HK. 07.06/111/4442/ 09 tentang ijin tetap penyelenggaraan operasional RSCM mulai pertanggal 30 Oktober 2009. Sementara, tentang penetapan kelas RS dengan klasifikasi C+ tertuang dalam KEPMEN RI No. 991/MENKES/ SK/XI/2009. Surat penetapan tersebut dikeluarkan tanggal 10 Nopember 2009.*sir

Tiga Layanan Unggulan

Persaingan dan tuntutan masyarakat terhadap peiayanan kesehatan yang bermutu, mendorong RS Citra Medika senantiasa memberikan peiayanan yang terintegrasi. Setidaknya, ada tiga layanan unggulan yang menjadi fokus RS Citra Medika. Yakni. Trauma Center, Obstetric Gynecology dan Teknologi.
TRAUMA CENTER
Ini merupakan pusat peiayanan trauma yang fasilitas kasus trauma yang lengkap ditunjang tenaga ahli yang profesional dan berpengalaman. Terdiri atas ahli bedah syaraf, ahli bedah ortopedik, ahli bidang umum, ahli anastesi dan ahli rehabilitasi medik. Selain itu, ditunjang pula dengan tenaga yang bersertifikat PPGD (Penanganan Pasien Gawat Darurat) dan ATLS (Advance Traumatic Life Support). Dengan fasilitas dan tenaga ahli ini, menjadikan RS Citra Medika yang mampu menangani kasus trauma dengan cepat secara komprehensif dan paripurna.
OBSTETRIC & GYNECOLOGI
Peiayanan ini memfokuskan diri pada peiayanan kesehatan bagi wanita yang bertujuan untuk upaya pencegahan dan deteksi dini kelainan. Dimulai sejak usia pranikah, kehamilan, persalinan, kelainan hormonal, infertilitas, menopouse serta berbagai masalah kandungan seperti kanker dan gangguan haid. Sebagai layanan unggulan, RS Citra Medika menyediakan fasilitas peralatan yang memadai ditunjang tim dokter ahli kebidanan yang profesional dan berpengalaman.

TEKNOLOGI
Diagnosa pemeriksaan pasien selain dilakukan berdasarkan pemeriksaan klinis, diperlukan pula pemeriksaan penunjang yang memadai dengan bantuan teknologi. Untuk menunjang itu, RS Citra Medika telah melengkapi peralatan penunjang medis berteknologi modern. Terbaru adalah CT scan Hi Speed Dual. Alat medis berteknologi modern ini mampu mendeteksi gangguan yang dialami pasien dengan detail. Alat ini unggul karena memiliki daya jelajah yang lebih detail dengan proses yang cepat dan menghasilkan gambar tiga dimensi. Tentu, dengan alat canggih ini keluhan pasien segera bisa terdeteksi dengan tingkat akurasi tinggi. Peralatan modern ini merupakan standar peiayanan rumah sakit masa kini. Barangkali di Sidoarjo, peralatan tersebut baru ada di RS Citra Medika.

Kerjasama Tangani Pasien Bibir Sum
RS. Citra Medika.0002TAK banyak rumah sakit yang mendapat epercayaan untuk menangani pasien bibir sumbing. Salah satu yang mendapat kepercayaan itu adalah RS Citra Medika. Saat ini, RS Citra Medika mendapat kepercayaan bekerjasama dengan Yayasan Smile Train, yang merupakan yayasan sosial dari luar negeri. “Kerjasama tersebut terutama dalam penanganan pasien bibir sumbing secara gratis,” terang Wasis SE, Direktur Administrasi dan Keuangan RS Citra Medika.
Program tersebut merupakan bentuk pelaksanaan misi sosial terhadap pasien bibir sumbing di Indonesia. Untuk tahap awal, RS Citra Medika menangani seratus pasien bibir sumbing. Sementara, tahap kedua akan ada dua ratus kasus pasien bibir sumbing. Dan, selanjutnya akan melakukan pengembangan program sebagai bentuk implementasi dari visi dan misi.
RS. Citra Medika.0004RS Citra Medika ditunjuk sebagai satu- satunya rumah sakit di Sidoarjo yang bisa menangani pasien bibir sumbing. Itu artinya, RS Citra Medika merupakan salah satu rumah sakit yang cukup mendapat perhatian dan kepercayaan di dunia internasional. Harapan ke depannya, rumah sakit ini semakin berkembang dan menjadi rumah sakit pilihan warga Sidoarjo, Mojokerto dan Jawa Timur pada umumnya.
Sebagai rumah sakit yang terus berkembang, manajemen RS Citra Medika senantiasa berbenah. Setidaknya, ada tiga hal yang akan dilakukan. Pertama, meningkatkan peiayanan. Kedua, melebarkan pasar ke pabrik-pabrik terdekat. Dan, ketiga menjalin kerjasama dengan berbagai pihak sehingga RS Citra Medika bisa menjadi rumah sakit rujukan.
RS. Citra Medika.0005Sementara itu, Drs Sunoto Santoso, MBA mengatakan, bahwa keberadaan RS Citra Medika memang tak bisa dilepaskan dari peran serta PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia yang merasa terpanggil untuk turut mendukung perusahaan dalam program kepedulian sosial CSR (Corporate Social Responsibility) yang mengambil tema Tjiwi Kimia Peduli Kesehatan. Sehingga, keberadaan rumah sakit ini juga merupakan bagian dari kepedulian dan tanggung jawab sosial Tjiwi Kimia untuk meningkatkan kualitas kesehatan karyawan, keluarga karyawan, masyarakat sekitar dan masyarakat umum. *sir

RS CITRA MEDIKA
Jl. Raya Surabaya – Mojokerto KM.44 HUNTING 0321-361000 (24 Jam) Telp./Fax: 0321-362858-9/362956

——————————————————————————————————————————

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Majalah ZONABIS Volume II, halaman16-17

Kawin Ngeleboni

        Pada tradisi perkawinan masyarakat Osing di Kabupaten Banyuwangi terdapat adat yang di sebut “Kawin Ngeleboni”. Bentuk perkawinan ini terjadi karena pihak keluarga laki – laki tidak menyetujui anaknya menikah dengan gadis pilihannya sendiri.

Karena takut tidak bisa mempersunting gadis pilihannya itu, maka lelaki bersangkutan datang sendiri dan meminta kepada orang tua perempuan idamannya agar dapat diterima sebagai menantu.

Sementara perkawinannya belum disetujui dan diresmikan oleh orang tua masing-masing, laki-laki bersangkutan meminta agar diperkenankan tinggal di rumah keluarga si gadis.

Apabila permintaan lelaki tersebut disetujui oleh orang tua dan kerabat pihak si gadis, maka pelaksanaan pernikahannya sama seperti upacara pernikahan jenis colongan. Upacara perkawinan ngeleboni berlangsung sekitar tiga sampai empat hari setelah colok dari pihak perempuan mengutarakan masalah kepada fihak lelaki.

 Selama perkawinan belum diresmikan, kedua calon suami-isteri tidak diperkenankan hidup bersama. Upacara perkawinan selalu disertai acara makan bersama. Hidangan utama yang disediakan dalam upacara adalah tumpeng serakat dan pecel ayam.

congkok/colok

Perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Congkok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (Melayokaken) atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm. 115-116

Kawin Colongan

Kawin Colongan, merupakan salah satu tradisi perkawinan masyarakat Using/Banyuwangi

Masyarakat Using/Banyuwangi memiliki beragam tradisi perkawinan salah satunya adalah “Kawin Colongan. Perkawinan jenis ini berdasarkan rasa saling mencintai, namun orang tua sang gadis tidak menyetujui. Karena tak direstui Sang jejaka dan Sang gadis sepakat bahwa pada hari tertentu Sang jejaka akan membawa lari Sang gadis.

Ketika melaksanakan colongan “mencuri gadis”, Sang jejaka biasanya ditemani oleh salah seorang kerabatnya yang mengawasi dari jauh. Dalam waktu ddak lebih dari 24 jam Sang jejaka harus mengirim seorang colok yaitu orang yang memberitahu keluarga Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri untuk dinikahi. Orang yang dijadikan colok tentu saja sosok yang mempunyai kelebihan dan kepandaian serta dihormati.

Utusan (colok) akan memberitahu orang tua Sang gadis bahwa anak gadisnya telah dicuri dan tinggal di rumah orang tua Sang jejaka melalui ungkapan “sapi wadon rika wis ana umabe sapi lanang, arane si X”. Yang dimaksudkan sapi wadon adalah Sang gadis dan sapi lanang adalah Sang jejaka.

Ketika mendapat pemberitahuan demikian, pihak orang tua Sang gadis yang semula kurang setuju biasanya tidak akan menolak karena beranggapan anak gadisnya tidak suci lagi. Kedua belah pihak kemudian mengadakan pembicaraan untuk merundingkan pernikahan mereka.

Colongan dalam masyarakat Using/Banyuwangi bukan dianggap sebagai perbuatan salah. Bahkan colongan dianggap sebagai bukti keberanian dan sekaligus simbol kejantanan, serta peredam konflik antara dua keluarga.

congkok/colok

Perantara yang bertugas sebagai penghubung pihak keluarga calon pengantin laki-laki dengan pihak keluarga calon pengantin perempuan yang hendak dinikahkan. Congkok diberi tugas untuk menghubungi keluarga perempuan yang dilarikan oleh pacarnya (melayokaken), atau menghubungi keluarga seorang laki-laki yang telah ngeleboni (memberi tahu bahwa anak gadisnya telah dibawa lari untuk dinikahi). Seorang colok menjelaskan keberadaan kedua calon pengantin dan sekaligus memusyawarahkan hari pernikahan mereka.

 

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm. 114-115

Kawin Angkat- Angkat, Kabupaten Banyuwangi

Jenis perkawinan yang dilaksanakan di daerah Kabupaten Banyuwangi ini,  karena kehendak orang tua dari kedua belah fihak (fihak laki-laki dan fihak perempuan), sebelum pernikahan dilangsungkan terlebih dahulu dilakukan acara lamaran oleh keluarga calon pengantin laki-laki kepada pihak keluarga calon pengantin perempuan.

Pada umumnya, lamaran dilakukan pada waktu sore hari sekitar pukul 17.00. Dalam acara lamaran ini, pihak laki-laki membawa penganggo komplit “pakaian dan perhiasan lengkap” seperti gelang, cincin, baju, kain panjang (sewek), sabun, wiski maupun anggur. Penganggo komplit ini tidak boleh dikenakan sebelum perkawinan disahkan, sebab apabila pernikahan batal, benda-benda tersebut harus dikembalikan kepada pihak laki-laki (dalam kasus-kasus tertentu pihak laki-laki terkadang menolak pengembalian penganggo bukan karena alasan menolak pembatalan perkawinan, melainkan karena persoalan harga diri).

Pihak laki-laki juga membawa peras suwun yakni perlengkapan berupa:

  • gedang sri,
  • kembang andong,
  • kembang macan,
  •   godhong ketirah,

perlengkapan ini mempunyai makna tertentu. Gedang sri mempunyai makna sebagai simbol orang yang masih jejaka. Kembang andong mempunyai makna pihak yang mengadakan perhelatan. Kembang macan mempunyai makna agar pihak yang dilamar tidak marah. Sementara godong ketirah mempunyai makna agar gadis yang dilamar bersedia mengikuti pihak laki-laki.

Sebelum upacara pernikahan berlangsung, biasanya baik di rumah laki-laki maupun di rumah perempuan diadakan “ngersaya“, yaitu kerja gotong royong dari para kerabat dan tetangga untuk mempersiapkan tempat dan

perlengkapan upacara. Kedua calon pengantin dilarang bepergian. Agar calon pengandn perempuan kelihatan segar dan candk pada waktu pesta, maka diadakan upacara “ngasap” (meratakan gigi) dan badannya “dilurus” (luluran). Pada malam harinya, sebelum pesta pernikahan dihelat diadakan acara melek-melekan “tidak tidur” semalam suntuk oleh keluarga dan tetangga.

Menurut kepercayaan orang Using melek-melekan ini merupakan sarana untuk memohon keselamatan dan terhindar dari gangguan dari roh-roh jahat. Setelah melangsungkan akad nikah atau ijab secara Islam di hadapan penghulu, kedua mempelai melakukan upacara makan bersama dengan sajian hidangan berupa kokoh kelor dan keluthuk jagung (brondong).

Kokoh kelor mengusung pesan agar kedua mempelai dapat menjalani kehidupan dan dapat berkembang dengan mudah seperti tanaman kelor. Sementara brondong jagung mempunyai makna agar kedua mempelai dapat dengan gampang mencari sumber penghidupan bagi kelangsungan bahtera rumah tangga dan keluarga yang baru dibangun.

Pelaksanaan upacara perkawinan biasanya berlangsung pada senja hari setelah warga selesai bekerja di sawah. Upacara ini dimulai dengan upacara “surup” yaitu upacara mempertemukan kedua mempelai di kursi pelaminan, di rumah orang tua mempelai perempuan.

Pada umumnya mempelai wanita mengenakan pakaian gaya Sritanjungan dengan gelung melingkar ala Damarwulan. Mempelai kemudian diarak dari tempat rias menuju ke tempat penyelenggaraan pesta. Dalam arak-arakan tersebut mempelai laki-laki biasanya naik kuda sedangkan mempelai perempuan ditandu.

Prof. Dr. Ayu Sutarto, M.A.: Kamus Budaya dan Religi Using, Lembaga Penelitian Universitas Jember, Jember, 2010. Hlm113-114

Ijo dan Abang, Menjadi JOMBANG

Konon, kata “Jombang” merupakan akronim dari kata berbahasa Jawa “ijo” dan “abang”. Ijo mewakili kaum santri (agamis), dan abang mewakili kaum abangan (nasionalis atau kejawen). Kedua kelompok tersebut hidup berdampingan dan harmonis di Jombang. Bahkan kedua elemen ini digambarkan dalam warna dasar lambang daerah Kabupaten Jombang. Sementara lambang Kabupaten Jombang menyimpan makna filosofls tersendiri. Berbentuk perisai, di dalamnya berisi gambar: padi dan kapas, gerbang Mojopahit dan benteng, Balai Agung (Pendopo Kabupaten Jombang), menara dan bintang sudut lima diatasnya berdiri pada beton lima tingkat, gunung, dua sungai satu panjang satu pendek.

Ada pun arti gambar lambang Kabupaten Jombang terdiri dari beberapa hal. Gambar Perisai: Mengandung arti alat untuk melindungi diri dari bahaya. Gambar Padi dan Kapas: berarti kemakmuran, sebagai harapan masyarakat jombang, khususnya bangsa Indonesia umumnya. Gambar Gerbang Mojopahit: berarti jaman dahulunya Jombang wilayah kerajaan Mojopahit wewengkon krajan sebelah barat. Gambar Benteng: berarti jaman dulunya Jombang merupakan benteng Mojopahit sebelah barat, hal ini menyebabkan masyarakat bermental kuat, dinamis dan kritis. Gambar Balai Agung: berarti para pejabat daerah dalam membimbing masyarakat bersifat mengayomi seperti tugas balai yang tetap berdiri tegak dan kukuh, guna memelihara persatuan/kesatuan rakyat di dalam daerahnya. Gambar Tangga Beton Lima Tingkat: berarti terus tetap berpegang teguh pada landasan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, demi persatuan kesatuan bangsa dan negara Republik Indonesia. Warna Putih berarti dalam menjalankan tugas tetap berpegang pada kesucian, sepi ing pamrih rame ing gawe. Gambar Bintang Sudut Lima dan Menara: berarti Ketuhanan Yang Maha Esa. Jombang terkenal di segala penjuru tanah air sebagai tempat yang banyak Pondok Pesantren. Pondok-pondok tersebut adalah Tebuireng, Rejoso, Denanyar, Tambak Beras dan sebagainya. Gambar Gunung: berarti Jombang selain terdiri dari daerah rendah, sebagian terdiri dari tanah pegunungan. Warna Hijau berarti banyak membawa kemakmuran. Gambar Dua sungai: berarti Kesuburan Jombang dialiri oleh 2 (aua) sungai yaitu Sungai Brantas dan Sungai Konto yang banyak membawa kemakmuran bagi daerah Jombang.

Sedang Makna filosofis warna dari symbol Kabupaten Jombang terdiri dari tercermin dalam beberapa jenis warna. Warna Hijau dan Merah tua: warna dari perisai berarti perpaduan 2 warna Jo dan Bang (Ijo dan Abang) sama dengan Jombang. Hijau: Kesuburan, ketenangan, kebaktian kepada Tuhan Yang Maha Esa. Merah: Keberanian, dinamis dan kritis. Biru Langit Cerah, juga berarti kecerahan wajah rakyat yang optimis. Coklat: Warna Tanah Asli, segala sesuatu menampakkan keasliannya. Kuning: Warna keagungan dan kejayaan. Putih: Kesucian.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Sejarah Singkat Kabupaten Jombang dalam Biografi Para Bupati Jombang, Pemerintah Kabupaten Jombang, th, 2010, hlm. 8-16

Sejarah Kabupaten Jombang

KAB. JOMBANGPenemuan fosil Homo Mojokertensis di lembah Sungai Brantas menunjukkan bahwa seputaran wilayah yang kini adalah Kabupaten Jombang diduga telah dihuni sejak ribuan tahun yang lalu. Pada tahun 929 Masehi menurut berita prasasti Turnyan yang ditemukan secara in situ (masih berada di tempat pertama kali ditemukan), Mpu Sindok peletak Dinasti Isyana atau Isyana Wangsa di Jawa Timur telah memindahkan ibukota kerajaannya ke Tamwlang. Letak Tamwlang ini diduga di daerah Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang. Kemudian pada tahun 937 Masehi menurut berita prasasti Anjuk Ladang, Nganjuk, ibukota tersebut dipindah oleh Raja Dharmawangsa Teguh ke Watugaluh. Watugaluh ini diduga sekarang adalah Desa Watugaluh di wilayah Kecamatan Diwek, Jombang.3

Tahun 1006 Masehi, sekutu Sriwijaya dari kerajaan Wora-wari (letak kerajaan ini mungkin sekitar Ponorogo) menghancurkan ibukota Kerajaan Mataram Hindu Medang dan menewaskan Raja Dharmawangsa Teguh. Airlangga, sang menantu putera Raja Udayana Bali yang ketika itu masih sangat muda, berhasil meloloskan diri dari kepungan musuh. Bukti petilasan sejarah Airlangga ketika menghimpun kekuatan kini dapat dijumpai di Sendang Made, Kecamatan Kudu. Tahun 1019, Airlangga mendirikan kerajaan baru yang wilayahnya meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali.

Tahun 1042 Masehi, Airlangga turun tahta dan membagi dua kerajaannya. Sebelah barat disebut Kadiri (Kediri) dengan ibukotanya yang baru yakni Daha. Sedangkan di sebelah timur disebut Janggala dengan ibukotanya yang lama yakni Kahuripan. Bila melihat peta perkembangan kekuasan Dinasti Airlangga maka tidak mengherankan bila ketika itu Jombang sudah menjadi lalu lintas yang kerap dilalui.

1293-1500 Masehi, ditandai dengan berkuasanya Majapahit sebagai kerajaan Hindu terakhir di Semenanjung Malaya. Kerajaan Majapahit tercatat sebaga sal ah satu Negara terbesar dalam sejarah Indonesia. Kemudian data etnografi yang menyisir seberapa akurat cerita babad, mitos, dan legenda menjadi rujukan penting bagi Hari Kelahiran kota.

Pada masa Kerajaan Majapahit, wilayah yang kini disebut sebagai Kabupaten Jombang merupakan gerbang Majapahit. Gapura barat adalah Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang, sedang gapura selatan adalah Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng. Hingga sekarang banyak dijumpai nama-nama desa atau kecamatan yang diawali dengan prefiks “mojo”, di antaranya .Mojoagung, Mojowarno, Mojojejer, Mojotengah, Mojongapit, dan sebagainya. Salah satu peninggalan Majapahit di Jombang adalah Candi Arimbi di Kecamatan Bareng.

Sehubungan dengan merosotnya Kerajaan Majapahit, Agama Islam mulai berkembang di kawasan ini, di mana penyebarannya dari pesisir pantai utara Jawa Timur. Jombang kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Mataram Islam. Seiring dengan surutnya pengaruh Mataram, kolonialisasi Belanda menjadikan Jombang sebagai bagian dari wilayah VOC pada akhir abad ke-17, yang kemudian sebagai bagian dari Hindia Belanda. Etnis Tionghoa juga berkembang; Kelenteng Hong San Kiong di Gudo (konon didirikan pada tahun 1700) yang masih berfungsi hingga kini. Sampai sekarang masih ditemukan di sejumlah kawasan di Jombang yang mayoritas penduduknya adalah etnis Tionghoa dan Arab.

Ini menjelaskan posisi Jombang sebagai daerah kota raja yang diperhitungkan sejak jaman Kerajaan Majapahit. Sebaliknya, karena menjadi pusat perkotaan maka ada konsekuensi yang muncul dalam dinamika kehidupan masyarakat Jombang. Sejak jaman dahulu Jombang menjadi wilayah yang terbuka dalam menerima semua unsur perdagangan dan kebudayaan yang masuk dari luar. Baik itu melalu kehidupan agrarisnya maupun melalui peran-peran perguruan-perguruan dan padepokan-padepokan. Dan bukan unsur-unsur dari dalam Pulau Jawa saja tetapi juga meliputi aspek-aspek dari luar Jawa.

Mengingat kekuasaan Majapahit saat itu terbentang dari Sumatra, Semenjanjung Malaya, Kalimantan, Bali bahkan sampai ke Phlipina. Inilah yang menjadi dasar historis kenapa kehidupan Jombang sangat majemuk.

Memasuki abad ke-14, pengaruh Majapahit berangsur-angsur melemah karena kerap teijadi perang saudara. Sementara pedagang-pedagang muslim dan para penyebar Agama Islam mulai memasuki nusantara. Memang pada kitab Nagarakertagama tidak menyebutkan tentang keberadaan Islam. Tetapi nampaknya pada waktu itu sudah ada keluarga Kerajaan Majapahit yang beragama Islam. Dalam tempo singkat, Agama Islam diserap oleh masyarakat. Karena siar Agama Islam dilakukan dengan cara yang sangat mentolelir kebudayaan awal. Bahkan termasuk kebudayaan di luar Jawa. Di bagian barat nusantara muncullah sebuah kerajaan perdagangan baru yang berdasarkan Agama Islam, yaitu Kesultanan Malaka. Yang kemudian disusul kesultanan-kesultanan Islam lainnya seperti Demak, Pajang dan Mataram. Kesultanan-kesultanan ini berusaha mendapatkan legitimasi politik atas kekuasan mereka melalui hubungan dengan Kerajaan Majapahit. Maka ketika kekuasaan Kerajaan Majapahit runtuh, Jombang menjadi bagian Kerajaan Mataram Islam. Pada abad ke-17, pengaruh Mataram melemah. Kolonialisasi Belanda menjadikan Jombang bagian dari VOC yang kemudian menjadi bagian dari Hindia Belanda.8

Tahun 1811, didirikanlah Kabupaten Mojokerto, di mana meliputi pula wilayah yang kini adalah Kabupaten Jombang. Jombang merupakan salah satu residen di dalam Kabupaten Mojokerto. Bahkan Trowulan (di mana merupakan pusat Kerajaan Majapahit), adalah masuk dalam kawedanan (onderdistrict afdeeling) Jombang.

Sekitar tahun 1900 penyebaran Agama Kristen yang dilakukan pendeta-pendeta dari Belanda dan daratan Eropa telah mendorong percepatan jumlah pengikut Agama Kristen, khususnya di wilayah Jawa Timur. Daerah Mojowamo, Jombang menduduki basis terbesar di wilayah karesidenan Surabaya dengan jumlah jemaat mencapai 4.528 jiwa, mengungguli wilayah Kediri dan Madiun 2.085 penganut, serta Swaru (Pasuruhan) sekitar 1.956 umat Kristiani. Ini sekaligus membuktikan betapa warga di wilayah Kabupaten Jombang sangat pluralis dan menjunjung tinggi toleransi dalam kebhinekaan.

Masa pergerakan nasional, wilayah Kabupaten Jombang memiliki peran penting dalam menentang kolonialisme. Beberapa putera Jombang merupakan tokoh perintis kemerdekaan Indonesia, seperti K.H. Hasyim Asy’ari (salah satu pendiri NU dan pemah menjabat sebagai ketua Masyumi) dan K.H. Wachid Hasyim (salah satu anggota BPUPKI termuda, serta Menteri Agama RI pertama). Undang-undang Nomor 12 Tahun menurut berbagai kisah, Candi Arimbi dibangun sebagai tempat perabuan Tribhuwanatunggadewi yang merupakan penjelmaan dari Dewi Parwati.

Selain itu, dalam kisahnya yang lain di Wonosalam, Wallace selain mengumpulkan berbagai jenis spisemen ayam hutan dan berbagai burung, utamanya burung merak, juga mengunjungi kebun-kebun kopi. Dan sampai sekarang, kopi tetap menjadi salah satu komoditas perkebunan utama petani di Wonosalam, selain cengkih dan kakao serta berbagai jenis durian utamanya durian bido.

Entah bagaimana keadaan kebun-kebun kopi di Wonosalam ketika itu. Kemungkinan kebun-kebun kopi dibangun bersamaan dengan kebijakan tanam paksa, yaitu pada masa Gubemur Jenderal Johannes van Den Bosch berkuasa pada pertengahan abad ke-18. Apalagi kawasan Mojowarno, kawasan barat daya dan berdekatan dengan Wonosalam, pada abad 18 merupakan pusat kebudayaan kolonial Belanda, yang tentu saja segala kebijakan kolonial akan “terpancar” ke sekitarnya. Jejak peradaban kolonial Belanda di Mojowarno hingga saat ini pun masih terlihat dengan peninggalan bangunan- bangunan rumah tua dan gereja-gereja, termasuk peninggalan Pabrik Gula Tjoekir di barat Mojowarno.

Tahun 1900-an, sekitar 40 tahun semenjak kedatangan Wallace atau sekitar awal perusahaan-perusahaan kolonial Belanda mulai menata dan membangun kembali perkebunan kopi di Wonosalam dengan sistem sewa lahan dengan “merayu” dan “memelihara” kalangan elite penguasa lokal. Perkebunan dicetak terutama di kawasan tinggi di lereng Gunung Anjasmoro, mulai dari Dusun Segunung (Desa Carangwulung) hingga berderet ke selatan sampai Dusun Sumbeijahe dan Sumberarum (Desa Sambirejo).

Tahun 1920an-awal di Dusun Segunung sejak awal sudah dibangun pabrik pengolah kopi. Bangunan ini bertahan hingga awal tahun 2000-an sebelum diruntuhkan oleh pemilik tanah saat ini.

Eksotisme Jombang selain yang terlukiskan dalam kunjungan Alfred Wallace di atas, berbagai macam obyek wisata di Jombang juga tak kalah menariknya jika dibandingkan dengan kabupaten lain. Seperti Goa Sigolo-golo, Sumber Boto, Kedung Cinet, Sumber Penganten, Goa Sriti, Sendang Made, Air Terjun Tretes, dan lain-lain.

20 Maret 1881, Jombang secara resmi memperoleh status kabupaten, dengan memisahkan diri dari Kabupaten Mojokerto.

Tahun 1920, Kabupaten Jombang baru mempunyai seorang Bupati yaitu Raden Adipati Arya Soeroadiningrat sebagai Bupati Jombang pertama. Hingga sampai dengan periode 2009- 2013, Kabupaten Jombang diteruskan dan dijalankan dengan gemilang beserta segala persoalannya oleh Bupati Suyanto.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: 
Biografi Para Bupati Jombang, Pemerintah Kabupaten Jombang, th, 2010, hlm. 8-16

Tahapan Upacara perkawinan Ngekak Sangger

PENGANTIN LEGUNGTahapan-tahapan dalam upacara perkawinan Ngekak Sangger di Legung, Kabupaten Sumenep, Madura:

Ngen-angenan atau Khabar; adalah suatu usaha orang tua anak laki-laki dewasa (baligh) yang mencarikan pasangan hidup (istrai) untuk anaknya, dengan jalan meminta bantuan kepada seorang perantara yang disebut dengan Pangadek..

Arabas Pagar; adalah tugas seorang pangadek mencari informasi/ keterangan calon penganten apakah sang calon yang dituju sudah atau belum tunangan.

Abakalan atau tunangan; setelah tugas pangadek  selesai dan si calon dinyatakan masih belum memiliki tunangan dan pihak orang tua serta calon pengantin laki-laki sudah cocok dengan pasangannya, maka tahap selanjutnya adalah Abakalan atau tunangan.

Nyabak Jajan atau Lamaran

BHAN – GHIBAN, adalah prosesi pihak keluarga (rombongan)  calon mempelai laki-laki berkunjung ke calon mempelai wanita, dengan membawa seperangk atalat-alat keperluan wanita seperangkat pakaian, seperangakat peralatan kecantikan dan perhiasan (bagi yang mampu), serta bermacam makanan dan kue..

Balessan atau Tongebbhan, setelah menerima pemberian maka pihak keluarga calon mempelai wanita membalas dengan memberi seperangkat keperluan calon laki-laki serta berbagai macam masakan atau makanan. Setelah proses tersebut berlangsungnya, maka mulai saat itu si gadis atau paraban sudah menjadi bakal  atau tunangan calon laki-laki.

Tradisi Sebelum Upacara Perkawinan

Menjelang hari-hari perkawinan, kedua mempelai mengadakan persiapan-persiapan diantaranya: 

  • Mamapar gigi, memperindah bentuk gigi (meratakan gigi).
  • Pingitan, calon pengantin wanita dipingit dengan orang tua supaya tidak diperbolehkan keluar pekarangan rumah bahkan takut terkena sarapat alias e rok-torok yaitu kerasukan roh halus.
  • Ijab Kabul, ( akad nikah ) untuk mengikuti sunnah Rasul, pelaksanaan di rumah mempelai perempuan.
  • Demar Kambheng, tradisi yang dilakukan oleh sesepuh wanita yang dituakan berpakaian serba tertutup, membawa kendi berisi air beserta dhamar kambhang (lampu minyak) untuk dituangkan sedikit demi sedikit sepanjang perjalanan yang akan dilalui oleh para tamu dan sepanjang perjalanan tidak boleh membalas teguran/sapaan orang membisu. setelah selesai maka sesepuh tadi kembali ke rumah pengantin wanita dan meletakkan dhamar kambhang di kamar si penganten. Prosesi ini dimaksudkan sebagai pembuka jalan demi keselamatan bagi kedua mempelai dalam melaksanakan upacara perkawinan. Acara ini dilaksanakan sehari menjelang pelaksanaan upacara perkawinan adat dengan bertempat di rumah penganten wanita.

Upacara Penganten Adat “ngekak sangger

  • Rombongan keluarga mempelai laki-laki membawa bermacam-macam berangkat menuju rumah mempelai wanita dengan diiringi musik saronen atau musik Hadrah bisa juga kedua kelompok musik tersebut mengiringi bersama-sama dengan aturan bergantian penampilannya.
  • Didalam iring-iringan ini Pengantin Pria seperti seorang raja menaiki Jaran Serek (kuda hias) mengenakan busana penganten yang belum lengkap.
  • Tiba didepan rumah mempelai wanita, rombongan mempelai pria akan disambut oleh seorang laki-laki dari keluarga mempelai wanita.
  • Selanjutnya Pangadek sebagai wakil bicara keluarga pengantin pria yanga menghadapi, dalam proses tersebut terjadi dialog dengan kata-kata kiasan atau parsemon yang intinya minta ijin.
  • Setelah pangadek sudah mendapat ijin dari pihak wakil keluarga mempelai wanita tadi, maka pengantin pria dipersilahkan masuk serambi rumah.
  • Di serambi depan rumah akan terdapat satu buah Sangger yang untaiannya lepas satu persatu. Dalam upacara adat ini penganten pria dituntut harus mengikat atau merangkai kembali untaian Sangger seperti semula, disinilah puncak proses dari upacara adat penganten tersebut dilaksanakan.
  • Selanjutnya penganten pria akan bebenah dengan memakai hiasan penganten lengkap untuk bersiapa-siap menjemput penganten wanita pada acara penganten ngarak dengan berkeliling kampung di desanya sebagai tanda memberitahukan kepada masyarakat bahwa mereka resmi menempuh hidup baru dalam rumah tangga.

Soetrisno R., Ensiklopedia Seni Budaya Jawa timur; Pendekatan Kajian Budaya,Surabaya Intelektual Club(SIC), Surabaya, 2008, hlm. 330