Upacara Temanten Kucing Ds. Pelem Kec. Campurdarat Kab. Tulungagung  

 

200712021418513Desa Pelem adalah sebuah desa yang terletak di wilayah Kecamatan Campurdarat, yaitu wilayah selatan Kabupaten Tulungagung. Adapun letak geografis desa Pelem adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara              : Desa Wates

Sebelah Selatan           : Desa Perhutanan

Sebelah Timur             : Desa Pojok

Sebelah Barat              : Desa Campurdarat

Luas areanya 525 hektar yang terbagi dalam lima dusun yaitu Dusun Sumberjo, Dusun Pelem, Dusun Tambak, Dusun Jambudan Dusun Bangak. Jumlah penduduk Desa Pelem seluruhnya 8.212 orang, dengan rincian laki-laki 4.114 orang dan perempuan 4.098 orang.

 Sejarah Upacara Temanten Kucing

Asal muasal ritual manten kucing itu mempunyai sejarah panjang, yang hingga sekarang masih dipercaya oleh masyarakat setempat. Dahulu, di desa pelem hidup seorang demang yang dikenal dengan sebutan Eyang Sangkrah. Ia adalah sosok linuwih dalam ilmu kejawen. Eyang Sangkrah memiliki seekor kucing condromowo (bulunya tiga warna) jantan dengan sepasang mata istimewa. Upacara ritual “Temanten Kucing” dirintis ratusan tahun silam. Awalnya, daerah Pelem dilanda kemarau panjang yang membuat warga kebingungan mendapatkan air. Sebagai seorang pemimpin desa, Eyang Sangkrah merasa bertanggungjawab atas nasib penduduknya. Berbagai ritual untuk memohon hujan dilakukan, tapi air tidak kunjung turun.

Eyang Sangkrah merasa kehabisan cara. Eyang Sangkrah, tokoh yang membabat Desa Pelem, suatu ketika mandi di telaga Coban. Dia mengajak serta seekor kucing condro mowo piaraannya. Sepulang Eyang Sangkrah memandikan kucing di telaga, tak lama berselang, di kawasan Desa Pelem turun hujan deras. Karuan saja, warga yang sudah lama menunggu-nunggu turunnya hujan tak bisa menyembunyikan rasa memandikan kucing condro mowo”. Ketika Desa Pelem dijabat Demang Sutomejo pada 1926, desa ini kembali dilanda kemarau panjang. Saat itulah, Eyang Sutomejo mendapat wangsit untuk memandikan kucing di telaga. Maka, dicarilah dua ekor kucing condro mowo. Lalu, dua ekor kucing itu dimandikan di telaga Coban. Dan, beberapa hari kemudian hujan mulai turun.

 

Pelaksanaan Upacara Temanten Kucing

Dalam upacara ini, sepasang kucing jantan dan kucing betina dipertemukan menjadi pasangan pengantin. Prosesi “Temanten Kucing” diawali dengan mengirab sepasang kucing jantan dan betina ,kucing warna putih yang dimasukkan dalam keranji.

Dua ekor kucing itu dibawa sepasang „pengantin‟ laki-laki dan wanita. Di belakangnya, berderet tokoh-tokoh desa yang mengenakan pakaian adat Jawa. Sebelum dipertemukan, pasangan “Temanten Kucing” dimandikan di telaga Coban. Secara bergantian, kucing jantan dan kucing betina dikeluarkan dari dalam keranji.

Lalu, satu per satu dimandikan dengan menggunakan air telaga yang sudah ditaburi kembang. Usai dimandikan, kedua kucing diarak menuju lokasi pelaminan. Di tempat yang sudah disiapkan aneka sesajian itu, pasangan kucing jantan dan betina itu „dinikahkan‟. Sepasang laki-laki dan perempuan yang membawa kucing, duduk bersanding di kursi pelaminan. Sementara dua temanten kucing berada di pangkuan kedua laki-laki dan wanita yang mengenakan pakian pengantin itu. Upacara pernikahan ditandai dengan pembacaan doa-doa yang dilakukan sesepuh desa setempat.

Tak lebih dari 15 menit, upacara pernikahan pengantin kucing usai. Lalu, prosesi “Temanten Kucing” dilanjutkan dengan pagelaran seni tradisional Tiban dan pagelaran langen tayub.

 Maksud dan Tujuan Upacara Temanten Kucing

Berkaitan dengan kepercayaan yang dianut masyarakat Desa Pelem Kecamatan Campursarat Kabupaten Tulungagung, Upacara Temanten Kucing yang selama ini dilakukan mempunyai tujuan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu Upacara Temanten Kucing yang dilakukan oleh warga masyarakat Desa Pelem digunakan sebagai sarana bagi masyarakat yang berharap agar Tuhan menurunkan hujan.

 Nilai – Nilai Yang Terkandung di Dalam Upacara Temanten Kucing

Nilai-nilai yang perlu dikembangkan dalam upacara Temanten Kucing adalah :

1) Nilai Religius. Nilai religius itu tampak dengan jelas, karena pada dasarnya Upacara Temanten Kucing bertujuan untuk mengharapkan agar Tuhan menurunkan hujan. Sedangkan Upacara Temanten Kucing sebagai medianya.

2) Nilai Gotong Royong. Dalam sistem nilai budaya orang Indonesia gotong-royong merupakan suatu hal yang tidak asing lagi, terutama pada masyarakat pedesaan. Praktek gotong-royong mewarnai hampir semua kegiatan dalam kehidupan masyarakat. Sebagaimana kodratnya bahwa t. Dalam kaitnnya dengan Upacara Temanten Kucing praktek gotong-royong tampak mulai dari persiapan sampai dengan pelaksanaan upacara. Upacara Temanten Kucing yang bersifat fisik hampir semuanya dilakukan dengan cara gotong-royong.

3) Nilai Persatuan. Dalam Upacara Temanten Kucing rasa persatuan tampak sekali diperlihatkan oleh warga masyarakat Desa Pelem. Rasa persatuan ini tampak terjalin dengan baik antara sesama warga masyarakat. Tanpa adanya persatuan diantara warga masyarakat tidak mungkin Upacara Temanten Kucing dapat berjalan dengan baik. Bukti lain adanya nilai persatuan adalah pada waktu upacara selamatan. Dimana warga masyarakat berkumpul disuatu tempat untuk mengucapkan rasa syukur dan makan brekat/ambeng secara bersama-sama. Hal yang demikian menunjukkan keterikatan rasa solidaritas dan persatuan antara sesame warga masyarakat.

4) Nilai Seni dan Keindahan. Hal ini tampak jelas pada saat warga masyarakat mengarak Temanten Kucing. Warga masyarakat memakai pakaian adat Jawa. Yang laki-laki menggunakan beskap dan yang perempuan menggunakan kebaya. Di samping itu nilai seni dan keindahan itu juga tampak pada berbagai macam kesenian yang disajikan seperti kesenian Langen Tayub dan Tiban.

——————————————————————————————-Rita Hajati,  Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Upacara Temanten Kucing Di Desa Pelem Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung.  Universitas Nusantara PGRI Kediri. 2016.

 

MASJID MUJAHIDIN SURABAYA

Masjid Mujahidin Surabaya

Masjid Mujahidin berlokasi di Jalan Tanjung Perak Barat No. 275 di daerah kawasan pelabuhan berada di Surabaya utara. Letaknya berada di tengah kawasan pemukiman dan daerah penunjang kegiatan pelabuhan. Keberadaan masjid ini seakan ditengah jalan sebab sekeliling masjid merupakan jalan, sebe­lah Timur jalan dua jalur Tan­jung Perak Timur dan Tanjung Perak Barat, samping Selatan dan Barat terdapat jalan masuk ke wilayah pemukiman dan sebelah Selatan berdampingan dengan Jalan Teluk Aru yang menuju ke daerah pemukiman. Jalan masuk utama terdapat di Jalan Perak Barat dan samping Utara.

Kawasan sekitar masjid  kini padat dengan bangunan, namun tetap teratur untuk memenuhi kebutuh­an penghawaan, penerangan alami dan penghijauan agar tetap tercukupi. Di samping kompleks masjid diseberang jalan masih terdapat areal untuk keperluan pendidikan keagamaan dan pemondokan. Halaman depan terdapat taman serta perluasan salat dan sebagian untuk tempat parkir. Hala­man belakang tidak ada namun terdapat dua halaman pada sisi kiri-kanan bangunan induk. Pengaturan ini agar masjid tetap mendapat prioritas utama sedangkan fasilitas pendidikan dan kemasyarakatan diletakkan pada bagian samping dan lantai kedua.

Sejarah Pembangunan Masjid.

Untuk menampung kegiatan peribadatan masyarakat, kawasan pelabuhan Tanjung Perak dan pangkalan Angkatan Laut Rl diperlukan adanya masjid jamik. Tersebutlah, H. Sabran Gazali ketua Panitia Pendiri Masjid Jamik Tanjung Perak Su­rabaya, pada tanggal 25 Agustus 1955 telah mendapat izin dari Direktur Pelabuh­an Surabaya untuk mendirikan kompleks masjid ja­mik itu pada sebidang tanah seluas kurang lebih 5022 m2 di Jalan Tanjung Perak Barat No. 275.  Akhirnya panitia berhasil membangun masjid yang diidamkannya, atap liwan berbentuk piramida dari genteng dengan kubah besar di atasnya, serta 2 buah kubah kecil pada kedua sudut depan.

Disamping kegiatan peribadatan masjid ini juga mengelola lembaga pendidikan yang semakin hari tumbuh dengan pesat, baik yang bersifat keagamaan maupun pendidikan umum. Maka untuk itu diperlukan sarana dan prasarana yang layak sebagai penunjang tercapainya tujuan pendidikan yang baik, maka diperlukan tambahan bangunan yang baru. Pada tahun 1979/1980 mendapatkan sumbangan dana dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sebesar US. $ 100.000-.

Pembangunan perluasan masjid ini dikelola sendiri oleh Yayasan dan tidak diborongkan kepada pihak lain. H. Djakfar Yasman, seorang purnawirawan TNI AL sebagai pimpinan yayasan, mengelola dana tersebut dengan tertib, jujur dan berwibawa, dengan sistem menejemen terbuka. Dibantu dengan dua tenaga dari Institut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) yang menangani bidang arsitektur dan bidang teknik sipil, Ir. Zein dan Ir. Udman Hnf. Selanjutnya mulailah pembangunan perluasan masjid ini. Diawali dari serambi depan yang terbuat dari konstruksi beton dibongkar dan dibuatlah bangunan berlantai dua bagaian bawah sebagai serambi masjid dan kantor serta pengelola masjid, adapun lantai atas digunakan untuk keperluan pendidikan dan pertemuan. Upaya perluasanpun tidak berhenti setapak demi setapak berjalan terus sesuai dengan laju perkembangan dana yang terkumpul. Maka dibangun lagi bagian utara untuk kegiatan pendidikan ba­ngunan dua lantai empat local, tempat wudu dibongkar dan dipindahkan di sebelah Selatan halaman depan.

Kegiatan dalam kompleks masjid jamik ini sudah demikian kompleks, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang yang dicakup juga cukup banyak yakni: peribadatan, pendidikan keagamaan, pendidikan umum, kesehatan, sosial-keagamaan dan sebagainya, dengan demikian pihak yayasan dirangsang untuk mengusahakan sarana dan prasarana yang layak.

Ketua Yayasan Masjid Mujahidin dibantu langsung oleh sekretaris, pembukuan, keuangan dan urusan material. Ketua membawahi unit-unit usaha yakni:

  • pendi­dikan meliputi, TK, SD, SMP, SMA, MTs, MA, PGA dan Pesantren,
  • BPH masjid memiliki Seksi Ibadah dan Seksi Ceramah,
  • Radio PTDI,
  • Badan Dakwah memiliki Seksi Perpustakaan, Seksi Majalah dan Seksi Wanita,
  • Unit Pramuka dan Kepemudaan mempunyai Seksi Bela Diri dan Gugus Depan Pramuka,
  • Poliklinik meliputi Pengobatan, BKIA. dan pengurus jenazah/ambulan.

Selain itu masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti PHBI, Panitia Zakat Fitrah dan sebagainya. Pendidikan non formal juga dilaksanakan seperti kuliah subuh, kuliah bakdal isyak, ceramah radio, dan kursus bahasa Arab. Demikian kegiatan periba­datan, kemasyarakatan dan sosial untuk dewasa dan orang tua, pembinaan dan pendidikan bagi anak dan remaja, semua mendapatkan tempat yang luas, tercermin sudah fungsi masjid jamik ini sebagai pusat peribadatan sekaligus merupakan pusat kebudayaan. Namun pemugaran- pemugaran untuk perluasan sarana pendidikan atau sebagai pusat kebudayaan tetap mempertimbangkan kondisi semula bahwa fungsi masjid sebagai pusat peribadatan tidak terganggu, bahkan pengurus mengkondisikan dengan suasana yang saling menunjang. Dari jauh kompleks masjid ini ditandai dengan kubah besar yang menjulang tinggi sedangkan setelah sampai ke pintu gerbang atau halaman ditandai de­ngan bangunan serambi bertingkat yang tertib dan representatif.

Ruang – ruang yang terdapat di dalam kompleks Masjid terdiri:

Pada lantai bawah terdapat ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Liwan pria,
  2. Mimbar dan Mihrab,
  3. Ruang mekanik/monitoring (mezanine),
  4. Liwan wanita,
  5. Serambi,
  6. Ruang Guru,
  7. Ruang Keamanan Masjid,
  8. Kantor Badan Kerjasama Masjid Jawa Timur,
  9. Tata Usaha,
  10. Ruang Ketua Yayasan,
  11. Ruang Kepala SMP,
  12. Show room/Ruang kursus,
  13. Kamar mandi/WC,
  14. Tempat wudu pria,
  15. Tempat wudu wanita,
  16. Taman kanak-kanak/Pra karya,
  17. Kantin,
  18. Ruang Stasiun Radio PTDI,
  19. Ruang Kepala SD,
  20. Ruang kelas SD,
  21. Ruang kelas SMP,
  22. Garasi ambulance,
  23. Poliklinik – BKIA,
  24. Pemondokan pegawai masjid,
  25. Ruang Kepramukaan dan Pemuda,
  26. Telepon umum,
  27. Ruang mekanikal,
  28. Tempat sepeda murid.

Pada lantai dua terdapat ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Kelas-kelas untuk SMA
  2. Kelas-kelas untuk SMP
  3. Ruang Tata Usaha SMA
  4. Ruang Kepala SMA
  5. Koridor
  6. Ruang pertemuan Besar/guna ganda
  7. Ruang Osis
  8. Laboratorium Kimia
  9. Bak penampung air atas
  10. Ruang Pengawas.

Penerangan ruang sistem alami kecuali ruang mekanik memanfaatkan ruang bawah tangga yang tak berjendela. Penerangan malam hari, dalam ruangan menggunakan lampu TL untuk bagian luar lampu pijar/baret, aliran udara tak sampai ke dalam ruangan Liwan meskipun ketiga dindingnya terbuka, sehinga dipasang kipas angin beberapa buah pada langit-langit ruang liwan dan mihrab, ruang serambi dan kantor ventilasi cukup memadai. Sistem akustik memakai satu loudspeaker tunggal yang besar diletakkan di pojok depan sebelah Selatan ruang liwan, sehingga semua anggota jamaah dapat mendengarkan.

Lantai masjid tegel teraso ruang liwan ditutup dengan karpet warna hijau, semua tempat wudu hygienis dengan kran mancur dan dindingnya dilapisi porselin ukuran 11×11 cm. Tempat wudu pria dibuat relatif terbuka sedemikian sehingga mendorong secara psychologis agar para anggota jamaah yang bersuci untuk selalu mematuhi norma-norma kebersihan, tempat wudu wanita disediakan ruang wudu tersendiri yang lebih terlindung memegang norma kebersihan dan kesopanan. Kamar mandi dan WC tersedia di bagian de­pan dan samping Utara, dinding dilapisi porselin lantai dari mosaic tile dengan peralatan sanitasi modern.

Kesatuan ruang ibadat cukup terbina hampir dari setiap bagian ruang dapat melihat kearah mihrab dan mimbar, karena liwan dan serambi relatif terbuka dibatasi jendela dan pintu kaca dengan kosen alumunium. Antara liwan wanita dan liwan pria dibatasi oleh jendela dan pintu kaca yang tembus pandang. Koridor atas juga dilengkapi dengan jendela penghubung pandang ke li­wan pria/mihrab sehingga menyatukan kekompakan ruang.

Ruang-ruang kelas di samping atas Selatan yang digunakan untuk perluasan ibadah salat tarawih saat bulan Ramadhan, juga dibuat jendela penghubung pandang ke ruang liwan pria dan  dilengkapi pula de­ngan pengeras suara.

Ruang liwan, mihrab dan mimbar meniadakan ragam hias, warna dinding dan langit-langit didominasi warna putih. Warna lantai/karpet hijau dengan baris saf salat strip kuning kecoklatan.

Masjid ini cenderung sederhana, mimbar untuk berkhotbah dari papan kayu seperti layaknya mimbar untuk berpidato.

Kekhusyukan di dalam ruang liwan cukup terjaga, selain ruang-ruang pendidikan terpisah di luar atau di lantai atas, pada saat salat jamaah semua kegiatan dihentikan dan semua siswa dan guru bersama-sama mengerjakan ibadat.

Untuk memnampakan sebagai ba­ngunan masjid, maka tampak depan masjid jamik ini dibuat bentuk-bentuk lengkung yang sekaligus merupakan kerangka pemegang penyaring sinar matahari/sun screen. Jadi hiasan ini pun bersifat fungsional, bukan sekedar keperluan estetika semata.

————————————————————————————–———————————-Dinukil oleh: Dian K. (Pustakawan); 
dari: Koleksi Lokal Konten Deposit  Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur
Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur./Ir. Zein M. Wiryoprawiro/Surabaya: Bina Ilmu,  1986          CB-D13/1986-6[1]

Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto

Masjid-Agung-Al-Fattah

Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto terletak di jalan KH Hasyim As’ary 1, Kauman, Kota Mojokerto ini merupakan tempat ibadah umat Muslim tertua, dperkirakan berusia lebih dari satu abad. Masjid yang terletak persis di sisi barat Alun-alun  kota Mojokerto. Masjid Agung Al-Fattah didirikan oleh pada saat kepemimpinan Bupati Mojokerto RAA Kromojoyo Adinegoro. pembuktian tersebut dikuatkan dari catatan surat almarhum Mohammad Thohar, Panitera Pengadilan Negeri  yang sekaligus Pengurus Kas Masjid. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid ini dilakukan pada Ahad Pon 7 Mei 1877 atau 1294 Hijriyah. Pembangunan masjid ini memakan waktu yang cukup lama, hampir satu tahun. Karena mulai dari peletakan batu pertama seperti tersebut diatas baru bisa dipakai kali pertama salat pada 12 April 1878 M/1295 H.

Arsitektural pada bagian dalam interior Masjid terdapat Empat soko guru atau tiang penyangga setinggi 20 meter tanpa Sambungan sampai sekarang masih kokoh berdiri sebagai saksi sejarah, kayunya didapatkan dari Hutan Jabung. Soko Guru di sebelah barat daya merupakan wakaf dari Mbok Rondo Dadapan yang tinggal di Kecamatan Jetis. Seorang pengusaha perempuan pada waktu itu. Tampilan eksterior berupa kubah Stupa Limasan merupakan ide dari Raden Aeresedan putra dari Raden Bagus Anom Kromojoyo Adinegoro II dalam melakukan syi’ar agama Islam. Saat itu beliau memegang wilayah Kabupaten Lamongan, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang. Sehingga bentukan atap Stupa Limasan masjid pada tiga wilayah tersebut, memiliki bentuk kubah yang serupa. Hali ini dibuktikan dengan peninggalan prasasti yang masih bertahan, terdapat di masjid Baitul Amin yang berada di Perak-Jombang, serta masjid di Gemek Sooko-Mojokerto, berupa papan dengan aksara jawa, arab, latin juga di Masjid Al Mustofa di Losari Terusan-Mojokerto, dan Kubah Masjid Agung Kota Lamongan sampai sekarang masih dipertahankan.

Tanggal 1 Mei 1932, pertama kalinya masjid ini direnovasi oleh panitia pemugaran yang terdiri dari Bupati Kromojoyo Adinegoro dan diresmikan pada 7 Oktober 1934 oleh M.Ng Reksoamiprojo, pada masa bupati IV – V. Tanggal 11 Oktober 1966, masjid ini diperluas oleh R Sudibyo dan diresmikan pada 17 Agustus 1968. Setahun kemudian, tepatnya 15 Juni 1969 Bupati Mojokerto RA Basuni juga melakukan perluasan lagi, peresmian dilakukan bertepatan dengan moment peringatan 17 Agustus 1969. Perjalanan sejarah berdirinya masjid hingga setelah hampir 100 tahun berdiri, ternyata masjid ini masih belum memiliki nama. Kemudian melalui seorang Ulama terkenal ialah KH Achyat Chalimy pengasuh Ponpes Sabilul Muttaqin memberi nama masjid ini dengan nama Masjid Jami’ Al Fattah.

Tanggal 4 April 1986, pada masa jabatan Wali Kota Mojokerto Moh. Samiuddin bangunan masjid Jami’ Al Fattah mengalami pemugaran lagi, pemugaran tahap I. dilanjutkan pemugaran tahap II di lokasi sebelah timur atau depan masjid.  Pada masa pemerintahan walikota ini pulalah istilah Masjid Jami’ diganti dengan Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto.

Masjid Agung Al Fattah yang merupakan Masjid Waqaf  Kota Mojokerto tersebut, di kuatkan dalam Surat Sertifikat Waqaf  No. 559 diserahkan waqaf dari Haji Achmad Rifa’i Kepada Nadzir dengan susunan kepengurusan Haji Achmad Rifai sebagai Ketua Nadzir, Moch. Soeparlin sebagai sekretaris, H. Mas’ud sebagai Bendahara   yang diterbitkan pada 10 Juni 1994, selanjutnya Nadzir menunujuk Ta’mir Masjid Agung Al Fattah sebagai pelaksana kegiatan, dan untuk selanjutnya akan diperbaharui sesuai masa kepengurusan organisasi Takmir Masjid Agung Al Fattah selanjutnya. Selain itu Masjid Agung Al-Fattah Kota Mojokerto mengemban VISI dan MISI sebagai berikut.

VISI DAN MISI

MASJID AGUNG ‘’AL FATTAH ’’

Visi

Terwujudnya Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto sebagai tempat ibadah, pengembangan berbagai ilmu Pengetahuan  dan Pembangunan sosial keagamaan yang berasaskan Islam ahlus sunnah waljamaah

Misi

  1. Meningkatkan fungsi dan aktifitas masjid sebagai tempat peribadatan, dakwah, pendidikan, pengembangan kebudayaan, tempat musyawarah dan kegiatan sosial.
  2. Membangun suatu system pembinaan keilmuan yang mampu menghasilkan intelektual muslim yang berakhlakul karimah dan sanggup menghadapi tantangan
  3. Menjadikan Masjid sebagai media dakwah serta menjadi filter terhadap munculnya aliran Islam yang mengarah pada faham sekulerisme serta terjadinya pendangkalan agama dariberbagai sudut dan
  4. Menggali dan mengembangkan potensi jamaah masjid, sebagai upaya meningkatkan kwualitas kehidupan sosial ummat Islam serta sebagai upaya memakmurkan
  5. Memberikan pelayanan terbaik bagi ummat atas bernagai problema kehidupan yang mereka hadapai, sehingga mereka mendapat keamanan, kenyamanan, kemudahan serta ketentraman.

Setiap Rabu, diselenggarakan pengajian di tempat ini. Salah satu khotibnya adalah KH Masud Yunus yang lebih dikenal dengan panggilan Yai Ud (menjadi walikota Mojokerto  periode 20..-20..). , beliau sering memberi tauziyah saat pengajian Rebu, Orang nomer satu di Pemkot ini mempunyai jamaah pengajian yang dinamakan Al Umahaj. Hampir 10 ribu jamaah aktif.

Masjid Al-Fattah saat ini telah dilengkapi dengan fasilitas yang meliputi:

  • Perpustakaan,
  • taman pendidikan Al-Quran,
  • poliklinik,
  • koperasi,
  • tempat melaksanakan akad nikah.

Masjid Agung Al Fattah berusia lebih dari satu abad ini mulai 28 Mei 2015 di rehab dan direncanakan rampung akhir tahun 2018 mendatang, dalam rehabilitasi nantinya akan dilengkapi dengan empat kuba. Warna hijau akan mendominasi bangunan peribadatan yang berstatus waqaf,

Dari desain terlihat rehabilitasi akan mengubah drastis penampilan luar, Masjid Agung Al Fattah yang semula hanya memiliki satu menara itu akan dirombak menjadi bangunan baru lengkap dengan dua menara megah di sudut belakang. Nantinya masjid ini berlantai dua dengan empat kuba, dengan satu kuba utama. Rehabilitasi itu melibatkan arsitek yang memahami lanskap sejarah budaya masjid agung agar nilai historisnya tetap terjaga.

Meskipun terhitung rehab berat, namun nilai historis masjid tetap dijaga.  Rehabilitasi masjid agung masjid seluas 2.874 meterpersegi ini, mengembalikan khazanahnya sebagai ikon Kota Mojokerto. Zona inti masjid tetap dipertahankan, soko guru atau tiang penyangga akan tetap dipertahankan.  Panitiaan rehab dikawal 46 anggota kepanitiaan dari berbagai unsur dan elemen masyarakat, antara lain Wakil Gubernur Jawa Timur, Walikota Mojokerto dan unsur Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), para kyai dan tokoh masyarakat proaktif melakukan penggalangan dana. Diantaranya, membuka rekening donasi dan kupon donasi infaq dan sodaqoh.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi Dian K: Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2013

dari:
Profil Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto
Brosur  Panitia Rehab Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto
Nara sumber:
Bpk. Choirul Anwar / Pertengahan 2015.

Masjid Al Akbar Surabaya

KOMUNITAS - Copy

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masjid bukan hanya tempat ibadah namun juga merupakan pusat kegiatan berdimensi luas, di masjid orang bermusyawarah, mengurus jenazah, melaksanakan manasik haji, menyelenggarakan wisata religi dan bahkan mengatur strategi perang. Maka tidak mengherankan bahwa di zaman modern ini banyak masjid dilengkapi dengan perpustakaan, sarana olah raga, fasilitas penyelenggaraan akad nikah dan sebagainya.

Surabaya ibukota Jawa Timur dan kota terbesar nomor dua di Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 4 juta jiwa dan 90% beragama Islam, Tidaklah berlebihan jika dikatakan disini bahwa perjuangan rakyat Surabaya di tahun 1945 adalah perjuangan umat Islam tercermin dalam pekikan takbir “Allahu Akbar”,  sebagai ajakan berjuang untuk arek-arek Suroboyo. Begitu pula semangat perjuangan rakyat Surabaya dalam menegakkan syi’ar Islam dan mendirikan masjid, terbukti dengan hadirnya 2000-an masjid. Meskipun memiliki cukup banyak masjid, masyarakat Surabaya berkeinginan untuk memiliki masjid berskala nasional baik fisik maupun fungsi ibadahnya.

Masjid Al-Akbar Surabaya merupakan wujud Impian umat Islam di kota ini. Masjid Al-Akbar didirikan di atas tanah seluas 11,2 hektar. Luas bangunan 28.509 m2 dengan kapasitas 36.000 jamaah, berlokasi di kawasan Pagesangan Surabaya Selatan, tepatnya di tepi jalan tol Surabaya-Malang. Masjid Al Akbar dibangun pada tanggal 4 Agustus 1995 atas gagasan Mantan Walikota Surabaya Soenarto Soemoprawiro. Sedang peletakan batu pertama oleh Wapres Try Sutrisno dan diresmikan Presiden KH Abdurrahman Wahid, 10 November 2000.

Salah satu daya tarik Masjid Al-Akbar Surabaya, adalah kubah masjid yang berbeda dari bentuk dan warna kubah masjid umumnya. Keunikan bentuk kubah ini bentuk kubah yang hampir menyerupai setengah telur dengan 1,5 layer memiliki tinggi sekitar 27 meter. Bentuk ini menumpu pada bentuk piramida terpancung dalam 2 layer setinggi kurang lebih 11 meter dengan bentang tumpuan atau diameter 54 m x 54 m.

Salah satu keunggulan corak Masjid Al-Akbar Surabaya, ialah menonjolnya corak ukiran dan kaligrafi yang menghiasi berbagai elemen di Masjid Al-Akbar Surabaya, banyak sekali dimunculkan ornamen ukir dan kaligrafi sebagai pelengkap struktur utama masjid. Secara umum, kondisi ini hampir sama dengan bentuk ornamen interior masjid jaman dahulu. Dimana bentuk ukiran dan kaligrafi banyak sekali menjadi penghias masjid-masjid besar di tanah air. Beberapa bagian yang umumnya dihiasi dengan ukiran dan kaligrafi adalah pintu, hiasan dinding di atas yang sering di ukir dengan kaligrafi, podium, dan beberapa elemen yang sering kali menghiasi masjid-masjid tempo dulu.

Beragam bentuk ukiran dan kaligrafi yang bisa disaksikan di Masjid Al-Akbar Surabaya ini, hendak memasuki masjid pengunjung sudah disambut oleh 45 pintu ukir dari kayu jati. Di serambi depan masjid nampak bedug besar yang berciri khas ukiran khusus, juga terdapat kentongan. Lebih masuk kedalam masjid, pengunjung akan disuguhi oleh ornamen ukir dan kaligrafi yang sangat dominan menguasai dinding-dinding masjid. Di mihrab, di relung imam, dan di dinding-dinding utama, di tempat-tempat rak Al-Qur’an yang tersebar di seluruh penjuru masjid, ukiran-ukiran bernuansa khas indonesia menghiasi dengan cantik dan anggun. Pun di ornamen atas yang penuh dengan kaligrafi Al-Qur’an sepanjang 180 meter dengan lebar 1 meter. Semua elemen ukir dan kaligrafi itu menambah keagungan dan keteduhan Masjid Al-Akbar Surabaya.

Keindahan masjid, adalah salah satu sentuhan yang menjadi perhatian penting, dukungan keindahan dalam hal penerangan Masjid Al-Akbar Surabaya, PT. Philips Ralin Electronics yang menata seluruh kebutuhan penerangan, dari kebutuhan penerangan dalam gedung, halaman, taman, hingga lampu yang menerangi kubah dan menara. Kelengkapan dan kemutakhiran teknologi dalam hal penerangan itulah, yang menjadi salah satu titik keindahan Masjid Al-Akbar Surabaya, pada malam hari jika seluruh tata lampu yang dimiliki dinyalakan secara menyeluruh. Menjadi pemandangan yang indah dan menyejukkan ketika malam hari.

Penunjang keindahan yang lain, adalah elemen interior seperti hiasan kaca patri, kaca ukir seni ini merupakan kekuatan dan keindahan tersendiri di bidang eksterior dan interior. Hiasan kaca patri yang dipergunakan, dibuat dengan sistem pelapisan panel kaca patri atau panel bevel dengan kaca tempered. Sistem ini selain bermanfaat menghemat energi, juga sangat baik untuk keperluan peredam suara bising. Pada jaman dahulu, dalam pembangunan masjid-masjid kuno, hiasan sejenis ini memang telah dipergunakan, dari segi corak, motif dan keindahan, kadang memiliki kekuatan yang sama.

Dalam menjalankan proses Pewarnaan, dipergunakan sentuhan warna elegan yang bisa memberikan suasana kesejukan bagi Masjid Al-Akbar Surabaya. Semua titik diberi warna yang serasi, dengan dominasi warna cerah. Hasilnya, dari segala sudut, Masjid Al-Akbar Surabaya nampak anggun, tenang dan nyaman. Sebuah kondisi yang dibutuhkan untuk menemukan titik konsentrasi ketika menghadap ke Illahi Robbi. Warna-warna cerah yang anggun ini, secara umum sama dengan kondisi pewarnaan pada masjid-masjid jaman dahulu. Kalu toh ada perbedaan, mungkin hanya sekedar pada tataran selera dan kemajuan teknologi.

Tapi yang jelas, walaupun perbedaan yang ada hanya beberapa, namun dengan sentuhan teknologi mutakhir dan dengan penggarapan finishing yang sempurnanya, Masjid Al-Akbar Surabaya nampak lebih agung, tenang dan membuat orang betah untuk tinggal berlama-lama menjalankan aktifitas perjalanan rohani didalamnya.

Lantai sebagai salah media yang berhubungan langsung dengan jamaah yang sholat di Masjid Al-Akbar Surabaya, panitia pembangunan proyek masjid mendatangakan langsung marmer dengan kualitas pilihan dari perbukitan di propinsi Lampung. Dipilih marmer yang berasal dari Lampung, karena ternyata kualitas lebih bagus dan harga sangat murah.  Marmer Lampung memiliki jumlah yang relatih banyak untuk bisa memenuhi selera warna sesuai kebutuhan. maka panitia pembangungan bisa leluasa menentukan titik-titik warna sesuai dengan kebutuhan. Dan keinginan untuk bisa menghadirkan warna-warna yang sejuk, damai, tenang dan nyaman di Masjid Al-Akbar Surabaya bisa dengan mudah direalisasikan.

VISI:

“Menjadi Rujukan Nasional dalam Da’wah, Ibadah, Pendidikan dan

Manajemen menuju Masyarakat Madani”
MISI :

Mengembangkan Da’wah dan Ibadah

Mengembangkan Pendidikan Akhlaqul Karimah

Mengembangkan Manajemen Masjid

Mengembangkan Fasilitas dan Arsitektur

MOTTO

“Ikhlas Profesional”
Motto ini mengandung arti bahwa: Pengelolaan MAS berorientasi pada ibadah semata, hanya mencari ridha Allah SWT, ditangani oleh personal yang ahli di bidang masing-masing. Unggul dan berdayaguna

NILAI :

Nilai yang dijadikan pedoman adalah Amanah, Istiqomah, Uswah, Mas’uliah dan Li jami’ il-Ummah

Amanah: Dipercaya dalam mengemban visi dan misi

Istiqamah: Konsisten dalam mengemban visi misi dan terus mengadakan inovasi.

Uswah: Menjadi teladan masjid lain dalam berbagai aspek.

Mas’uliah: Setiap langkah dan keputusan dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Allah, umat dan stakeholders.

Li jami’ il-Ummah: Setiap praktek ibadah dapat diterima oleh semua umat Islam, sesuai syara’ dan peraturan perundangan yang berlaku.

PROGRAM UNGGULAN SETIAP DIREKTORAT MAS

  1. Direktorat Idarah : Menyempurnakan Implementasi Manajemen Sistem ISO 2001
    b. Direktorat Imarah/Ijtima’iyyah : Merealisasikan Jama’ah Satisfaction dalam 19 poin layanan
    c. Direktorat Shiyanah : Mewujudkan Kapasitas 80.000 jama’ah
    d. Direktorat Ma’had Aly : Mencetak Sarjana al Qur’an dengan 15 juz hafalan

 

menara

Fasilitas

  1. Masjid bertaraf Nasional,
  2. Dukungan Pemerintah Kuat,
  3. Kapasitas 75.000 orang jama’ah,
  4. Lokasi strategis, memiliki akses tool,
  5. Manajemen handal , memperoleh ISO 9001 – 2008,
  6. Dukungan dana masyarakat kuat,
  7. SDM pendukung sangat kuat,
  8. Area Parkir Luas dan Aman,
  9. Mengakomodasi seluruh faham / aliran,
  10. Imam para qori’ dan huffadz,
  11. Jadwal kegiatan padat terstruktur,
  12. Jejaring dengan masjid sekitar kuat ( 80 masjid pendukung binaan),
  13. fasilitas pendidikan PG/TK / RA , MI dan Ma’had Aly (mulai PG sd Perguruan Tinggi),
  14. Penggunaan IT dalam memasyarakatkan program,
  15. Menjadi tujuan wisata religi regional (masuk dalam paket wisata)
  16. Perpustakaan,
  17. Poliklinik,
  18. Thibbun Nabawi,
  19. Menara,
  20. Radio,
  21. Gedung,
  22. Infaq,
  23. Fasilitas Database Jama’ah,
  24. Konsultasi,
  25. Bimbingan Muallaf,
  26. Ayo Ngaji,
  27. TPQ,
  28. LAZ MAS.

 PROGRAM LAYANAN JAMA’AH MAS 
1. Sholat yang tepat waktu
2. Kebersihan tempat sholat terjaga
3. Imam / Khotib / Penceramah qualified
4. Sound system jelas
5. Pengatur shof yang menata
6. Bulletin yang cukup
7. Muadzin yang nyaman didengar
8. Air wudlu yang cukup dan bersih
9. Tempat wudlu tidak bau dan tidak licin
10. Kamar kecil tidak bau dan tersedia sabun
11. Tempat sepatu/sandal bersih dan aman
12. Kotak saran cukup dan responsif
13. Tempat parkir rapih dan aman
14. Tim pengaman yang melayani
15. Pusat informasi yang menjelaskan
16. Guide yang siap dan mampu
17. Ta’jil ramadlan yang cukup dan layak
18. Pelayan ta’jil yang damai dihati
19. Manajemen yang komit terhadap kepuasan jamaah

MITRA DAKWAH

  1. Remas,
  2. Pengamal,
  3. Hisamal,
  4. Karang Werda,
  5. Club Jantung Sehat,
  6. Forkomas.

————————————————————————————–Dinukil oleh: Dian K.
Sumber: Sekretaeiat Masjid Alakbar

 

MASJID JAMI’ PENELEH Surabaya

penelehMasjid Jami’ peneleh surabaya ini merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga (Sunan Ampel), namun keberadaannya kurang dikenal kecuali warga Peneleh sendiri. Masjid ini berdiri di tengah pemukiman padat penduduk, tepatnya terletak di Jalan Peneleh V nomor 41, Surabaya.  Masjid jami’ peneleh surabaya ini berdidiri pada sebidang tanah yang status Wakaf.

Bukti otentik ataupun referensi mengenai Masjid jami’ peneleh ini sangat kurang, namun masyarakat setempat mempercayai bahwa Masjid Jami’ Peneleh dibangun oleh Sunan Ampel pada tahun 1421 lebih tua dari Masjid Ampel. Keyakinan itu diperkuat dalam isi buku ensiklopedia Indonesia disusun oleh Prof. Dr MR TGS Mulia dan Prof. Dr. KAH Hadding, disebutkan bahwa Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) berpindah dari kampung Kembang Kuning ke Peneleh. Selanjutnya beliau mendirikan masjid yang lebih besar dari musala tiban Kembang Kuning. Diperkirakan, Rahmatullah mendirikan masjid di tempat itu karena dulunya merupakan daerah ramai, karena kampung Peneleh berada tepat di sisi timur Kali Mas, yang merupakan sungai yang menjadi urat nadi lalu lintas perairan pada masa itu. Sunan Ampel menyebarkan Agama Islam dari tempat ini benar –benar sangat strategis.

Masjid jami’ peneleh surabaya merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga yang terlupakan, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 950 meter persegi, Sejak abad ke-18, Surau tersebut berubah menjadi masjid bangunannya sungguh kokoh dan bentuknya eksotik, gaya arsiteturnya merupakan  aliran neuw imperial, diperkirakan ini adalah hasil renovasi saat itu.  pada tahun 1970-an serambi masjid ini diperluas tidak mengubah ornamen dalam, kemudian pada 1986 masjid direnovasi kembali juga tidak merubah bentuk aslinya. Masjid ini memiliki menara yang besar kesan kekunoannya semakin nampak jelas jika melihat interior bagian dalam, arsitetur bagian dalam masjid benar-benar menakjubkan. 600 tahun silam, ketika Raden Rahmat mendirikan masjid ini. Seluruh penyangga dan karangkanya terbuat dari bahan kayu jati pilihan, Bahan bangunan yang langka ditemukan saat ini, termasuk rangka Langit-langitnya yang berhiaskan huruf Arab yang memuat nama empat sahabat Nabi Muhammad, yakni Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Tembok masjid dikelilingi 25 ventilasi dan lima daun jendela. Di masing-masing ventilasi tersebut terdapat hiasan aksara Arab berupa nama-nama 25 nabi.

Ada 10 tiang tiang utama penyangga atap menjulang yang saling menyambung di bagian langit langitnya, yang disebut Soko Guru, jarak atap dengan lantai masjid setinggi 9 meter,  Dipadu dengan banyak permainan kayu serta kisi-kisi udara juga menggunakan permainan sirip serta kaca kaca patri menghiasi angin angin di sela-sela atap, kaca ukir yang cantik dan unik di setiap jendela masjid, menambah keindahan bangunan masjid. Tingginya atap serta permainan kisi-kisi inilah yang menjadikan masjid ini terasa sejuk meski cuaca kota Surabaya panas. Bangunan dalam Masjid ini masih dipertahankan keasliannya.

Mihrabnya terbagi tiga tempat. Sebelah kiri untuk menempatkan jam duduk, bagian tengah sebagai tempat salat imam, dan bagian kanan untuk mimbar khutbah. Sayang tidak ada satupun peninggalan prasasti di tempat ini. Uniknya, sampai kini masjid tersebut masih menggunakan jam istiwa untuk pedoman melihat waktu salat, jam istiwa adalah penunjuk waktu berdasarkan arah condong matahari. Tapi tidak setiap hari digunakan, kunci jam istiwa yang berada di bagian depan masjid itu dibuka oleh pengurus masjid dan melihatnya pada saat-saat tertentu, utamanya setiap lima hari sekali, keunikan lain masjid dari masjid jami’ ini bentuk bangunannya menyerupai kapal terbalik.

Pada masa perang kemerdekaan 1945, kubah masjid itu pernah tersambar meriam Belanda yang ditembakkan dari arah Jembatan Merah. Tapi kubah itu tidak hancur dan hanya bagian sisi timur yang sedikit mengalami kerusak. Langit-langit yang jebol kena meriam itu langsung diganti.  Masjid ini juga dijadikan markas oleh Laskar Hizbullah melawan penjajah. Untuk mengelabui musuh, dari luar tampak seperti masjid yang berfungsi untuk beribadah dan sebagaimana mestinya. Padahal, semua dokumen dan tempat diskusi Laskar Hizbullah berada di dalam masjid. Bahkan, jika ada musuh yang melintas, tidak mudah meringkusnya, sebab kawasan terebut dari dulu sudah merupakan daerah padat penduduk. Meski bangunan merupakan peninggalan sejarah, namun pengurus masjid tidak berrencana memasukkannya sebagai cagar budaya. Alasannya, masjid ini dibangun dan direnovasi adalah dari swadaya masyarakat.

Didalam masjid Jami’ peneleh tersebut juga terdapat Bedug yang berdiameter kurang lebih satu meter dan panjang dua meter yang dulu ditemukan hanyut disekitaran Kali Mas, tepat berada di depan kampung Peneleh, bedug tersebut terhenti di aliran Kalimas. Warga mengambilnya dan membawanya ke Masjid Jami’, namun bedug tersebut tidak digunakan karena rencananya akan digunakan di Masjid Sunan Ampel. Selanjutnya bedug tersebut dipindahkan ke Masjid Ampel, namun ketika bedug digunakan suaranya tidak sempurna. Selanjutnya, bedug dipindahkan ke Masjid Kemayoran di kawasan Indrapura, saat digunakan hasilnya sama seperti sebelumnya, bedug tersebut tidak terdengar nyaring. Kemudian, bedug  dikembalikan dan dicoba di Masjid Jami’, saat dicoba di masjid Jami’ sangat berbeda suara  Bedug terdengar keras dn nyaring. Sehingga warga akhirnya memilih mempergunakannya di Masjid Jami’. Keanehan muncul saat Bedug berada di masjid. Puing – puing kecil dari kayu Bedug ini dipunguti oleh warga. Dan mempercayainya dapat menyembuhkan penyakit.  Sehingga beberapa warga tanpa sepengetahuan pengurus masjid sering mengambil secuil – secuil kayu Bedug. Akhirnya pada tahun 1986 saat merenovasi masjid, takmir masjid Jami’ sepakat melapisi Bedug ini dengan kayu biasa yang sudah dihiasi ukiran kaligrafi  untuk menghindari perbuatan yang tidak diinginkan.

Tidak hanya beduk itu saja, Sunan Ampel saat mendirikan juga menggali sumur tepat berada di samping masjid. Tujuannya memudahkan jamaah mencari air wudhu. Sumur buatan Sunan Ampel itu terletak di luar masjid sebelah kiri, sehingga sumur itu umurnya setua umur masjid. Air sumur tersebut banyak diburu orang sampai saat ini,  air sumur yang diyakini banyak orang, memiliki tuah.  Kini, menghindari pengkultusan dan merusak Aqidah, pengurus akhirnya menutup sumur tersebut.


‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi – Wahyu DP : Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2015

MASJID JAMI’ PENELEH Surabaya

penelehMasjid Jami’ peneleh surabaya ini merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga (Sunan Ampel), namun keberadaannya kurang dikenal kecuali warga Peneleh sendiri. Masjid ini berdiri di tengah pemukiman padat penduduk, tepatnya terletak di Jalan Peneleh V nomor 41, Surabaya.  Masjid jami’ peneleh surabaya ini berdidiri pada sebidang tanah yang status Wakaf.

Bukti otentik ataupun referensi mengenai Masjid jami’ peneleh ini sangat kurang, namun masyarakat setempat mempercayai bahwa Masjid Jami’ Peneleh dibangun oleh Sunan Ampel pada tahun 1421 lebih tua dari Masjid Ampel. Keyakinan itu diperkuat dalam isi buku ensiklopedia Indonesia disusun oleh Prof. Dr MR TGS Mulia dan Prof. Dr. KAH Hadding, disebutkan bahwa Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) berpindah dari kampung Kembang Kuning ke Peneleh. Selanjutnya beliau mendirikan masjid yang lebih besar dari musala tiban Kembang Kuning. Diperkirakan, Rahmatullah mendirikan masjid di tempat itu karena dulunya merupakan daerah ramai, karena kampung Peneleh berada tepat di sisi timur Kali Mas, yang merupakan sungai yang menjadi urat nadi lalu lintas perairan pada masa itu. Sunan Ampel menyebarkan Agama Islam dari tempat ini benar –benar sangat strategis.

Masjid jami’ peneleh surabaya merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga yang terlupakan, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 950 meter persegi, Sejak abad ke-18, Surau tersebut berubah menjadi masjid bangunannya sungguh kokoh dan bentuknya eksotik, gaya arsiteturnya merupakan  aliran neuw imperial, diperkirakan ini adalah hasil renovasi saat itu.  pada tahun 1970-an serambi masjid ini diperluas tidak mengubah ornamen dalam, kemudian pada 1986 masjid direnovasi kembali juga tidak merubah bentuk aslinya. Masjid ini memiliki menara yang besar kesan kekunoannya semakin nampak jelas jika melihat interior bagian dalam, arsitetur bagian dalam masjid benar-benar menakjubkan. 600 tahun silam, ketika Raden Rahmat mendirikan masjid ini. Seluruh penyangga dan karangkanya terbuat dari bahan kayu jati pilihan, Bahan bangunan yang langka ditemukan saat ini, termasuk rangka Langit-langitnya yang berhiaskan huruf Arab yang memuat nama empat sahabat Nabi Muhammad, yakni Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Tembok masjid dikelilingi 25 ventilasi dan lima daun jendela. Di masing-masing ventilasi tersebut terdapat hiasan aksara Arab berupa nama-nama 25 nabi.

Ada 10 tiang tiang utama penyangga atap menjulang yang saling menyambung di bagian langit langitnya, yang disebut Soko Guru, jarak atap dengan lantai masjid setinggi 9 meter,  Dipadu dengan banyak permainan kayu serta kisi-kisi udara juga menggunakan permainan sirip serta kaca kaca patri menghiasi angin angin di sela-sela atap, kaca ukir yang cantik dan unik di setiap jendela masjid, menambah keindahan bangunan masjid. Tingginya atap serta permainan kisi-kisi inilah yang menjadikan masjid ini terasa sejuk meski cuaca kota Surabaya panas. Bangunan dalam Masjid ini masih dipertahankan keasliannya.

Mihrabnya terbagi tiga tempat. Sebelah kiri untuk menempatkan jam duduk, bagian tengah sebagai tempat salat imam, dan bagian kanan untuk mimbar khutbah. Sayang tidak ada satupun peninggalan prasasti di tempat ini. Uniknya, sampai kini masjid tersebut masih menggunakan jam istiwa untuk pedoman melihat waktu salat, jam istiwa adalah penunjuk waktu berdasarkan arah condong matahari. Tapi tidak setiap hari digunakan, kunci jam istiwa yang berada di bagian depan masjid itu dibuka oleh pengurus masjid dan melihatnya pada saat-saat tertentu, utamanya setiap lima hari sekali, keunikan lain masjid dari masjid jami’ ini bentuk bangunannya menyerupai kapal terbalik.

Pada masa perang kemerdekaan 1945, kubah masjid itu pernah tersambar meriam Belanda yang ditembakkan dari arah Jembatan Merah. Tapi kubah itu tidak hancur dan hanya bagian sisi timur yang sedikit mengalami kerusak. Langit-langit yang jebol kena meriam itu langsung diganti.  Masjid ini juga dijadikan markas oleh Laskar Hizbullah melawan penjajah. Untuk mengelabui musuh, dari luar tampak seperti masjid yang berfungsi untuk beribadah dan sebagaimana mestinya. Padahal, semua dokumen dan tempat diskusi Laskar Hizbullah berada di dalam masjid. Bahkan, jika ada musuh yang melintas, tidak mudah meringkusnya, sebab kawasan terebut dari dulu sudah merupakan daerah padat penduduk. Meski bangunan merupakan peninggalan sejarah, namun pengurus masjid tidak berrencana memasukkannya sebagai cagar budaya. Alasannya, masjid ini dibangun dan direnovasi adalah dari swadaya masyarakat.

Didalam masjid Jami’ peneleh tersebut juga terdapat Bedug yang berdiameter kurang lebih satu meter dan panjang dua meter yang dulu ditemukan hanyut disekitaran Kali Mas, tepat berada di depan kampung Peneleh, bedug tersebut terhenti di aliran Kalimas. Warga mengambilnya dan membawanya ke Masjid Jami’, namun bedug tersebut tidak digunakan karena rencananya akan digunakan di Masjid Sunan Ampel. Selanjutnya bedug tersebut dipindahkan ke Masjid Ampel, namun ketika bedug digunakan suaranya tidak sempurna. Selanjutnya, bedug dipindahkan ke Masjid Kemayoran di kawasan Indrapura, saat digunakan hasilnya sama seperti sebelumnya, bedug tersebut tidak terdengar nyaring. Kemudian, bedug  dikembalikan dan dicoba di Masjid Jami’, saat dicoba di masjid Jami’ sangat berbeda suara  Bedug terdengar keras dn nyaring. Sehingga warga akhirnya memilih mempergunakannya di Masjid Jami’. Keanehan muncul saat Bedug berada di masjid. Puing – puing kecil dari kayu Bedug ini dipunguti oleh warga. Dan mempercayainya dapat menyembuhkan penyakit.  Sehingga beberapa warga tanpa sepengetahuan pengurus masjid sering mengambil secuil – secuil kayu Bedug. Akhirnya pada tahun 1986 saat merenovasi masjid, takmir masjid Jami’ sepakat melapisi Bedug ini dengan kayu biasa yang sudah dihiasi ukiran kaligrafi  untuk menghindari perbuatan yang tidak diinginkan.

Tidak hanya beduk itu saja, Sunan Ampel saat mendirikan juga menggali sumur tepat berada di samping masjid. Tujuannya memudahkan jamaah mencari air wudhu. Sumur buatan Sunan Ampel itu terletak di luar masjid sebelah kiri, sehingga sumur itu umurnya setua umur masjid. Air sumur tersebut banyak diburu orang sampai saat ini,  air sumur yang diyakini banyak orang, memiliki tuah.  Kini, menghindari pengkultusan dan merusak Aqidah, pengurus akhirnya menutup sumur tersebut.


‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi – Wahyu DP : Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2015

MASJID AGUNG ASY- SYUHADA’ Kabupaten Pamekasan

pamekasanMasjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan bermula dibangun di tempat yang sama yaitu tempat  Masêghit Rato atau masjid raja karena yang mendirikan masjid yang mula-mula tersebut adalah Raja Ronggosukowati. Raja Ronggosukowati memang merupakan raja Pamekasan yang pertama beragama Islam. Dengan demikian masjid yang ada saat ini merupakan pengembangan dari Masêghit Rato  tersebut. (masèghit Rato sebutan masjid yang dibangun oleh raja). Hal tersebut karena raja membuat tempat syujud atau masjide, pemberi nama ini datang dari kelompok keturunan langsung Ronggosukowati antara lain marga Adikara. Namun setelah Madura dikuasai Mataram yang kemudian oleh Mataram diterimakan kepada Belanda, semua yang berbau Madura dikecilkan dan pada hakikatnya Stigma bagi Madura mulai terasa. Sebutan langgar adalah pantas bagi Madura menurut mereka bahkan Raden Pratanupun disebutnya sebagai Pangeran Langgar, karena itu sejarawan di Jawa hanya mengenal seorang  pangeran di Madura yaitu Pangeran Langgar yang tertulis di makam Sunan Kalinyamat di Jawa Tengah. Karena itu pula setelah jaman berikutnya terutama setelah Bupati Hindia Belanda yang Pertama di Pamekasan (1804) Masèghit Rato disebut juga dengan sebutan Langghâr Rato.

LOKASI  MASJID
Hampir seluruhnya langgar yang dibangun masyarakat Islam saat itu di Madura dibuat dari kayu dan beratapkan rumbia. Bangunan Masjid Rato berdiri di atas tanah (yang tentunya milik raja) tepat berada di tepi sungai. Penempatan di tepi sungai Kampung Masèghit yang lokasinya di sisi barat sungai dekat masjid raja hingga kiri-kanan masjid merupakan tempat pekerja/pemelihara masjid. Pada bagian sisi utara masjid di dibuat taman, maka kampong masèghit menjadi ciut dan yang tersisa di bagian sisi barat sungai, sampai saat ini masih bernama Kampung Masèghit. Sedangkan bagian kampong Masèghit dibagian sisi utara masjid lalu menjadi Kampung Taman dan di kanan mesjid berubah pula namanya dari kampong Masèghit menjadi Kampung Barat Pos setelah Pemerintah Jajahan mendirikan kantor yang berfungsi Jasa Pos, di ujung Jalan Masigit yang sekarang. Namun perubahan pekerja /pemelihara masjid terus berlangsung. Setelah dynasti Ronggosukowati yaitu pewaris sebagai pemilik lokasi mesjid / sebagai pewaris dari raja yang memndirikan masjid rato satu demi satu tidak lagi berkuasa di Pamekasan, Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1804 mengangkat saudara Sultan Bangkalan menjadi Bupati Pamekasan, dan pengurusan masjid diangkat pegawai dari kerabat kaum bangsawan dengan pangkat panggilan Tumenggung, yang ditempatkan di perkampungan yang namanya Kampung Tumenggungan yang hingga saat ini diteruskan oleh pelanjut keturunannya.
 PEMUGARAN DAN PERLUASAN MASJID
Perkembangan Masjid Raja kemudian selalu mengikuti jaman para penguasa di Pamekasan yang terus berlangsung dari masa ke masa yang tidak terlepas dari perkembangan arsitektur masjid yang ada di Jawa Timur, sebagaimana yang terlihat kemudian sampai saat ini seperti. Langgar masjid zaman wali, langgar masjid zaman penjajahan dan langgar masjid zaman kemerdekaan. Masjid Raja ini kemudian direnovasi oleh para Bupati / penguasa setelah masa-masa berikutnya. Setelah Madura ditaklukkan Mataram, Sultan Agung memerintahkan penggusuran Masjid Raja dan di atas lokasinya tersebut dibangun kembali bentuk mesjid yang umum di Pulau Jawa saat itu yaitu Mesjid Langgar Mataram dan telah disetujui Sultan Agung yaitu bangunan tajung tumpang tiga bagaikan bangunan meru tempat peribadatan masyarakat agama Budha. Perubahan ini dilaksanakan ketika pemerintahan Adipati yang  bernama Raden Gunungsari bergelar Adikoro I. Pada saat VOC jatuh pada Tahun 1799, semua daerah koloninya diserahkan kepada Pemerintah Belanda di Negeri Belanda  termasuk  daerah Madura. Kemudian jajahan VOC tersebut oleh Belanda dinamakan Hindia Belanda dan Madura termasuk di dalamnya. Selama itu hingga tahun jatuhnya VOC Masjid Pamekasan belum direnovasi baik fisik dan tatanan pemeliharaannya atau ketip-ketipnya. Namun semula Masjid Raja (1530) atau masjid renovasi tahun 1672 dilakukan cuma sekedar untuk syahnya shalat Jum’at untuk menampung jamaah sebanyak 40 orang menurut mazhab As-Syafii. Pada  pemerintahan Bupati R. Abd Jabbar gelar R. Adipati Ario Kertoamiprojo, yang memerintah dari tahun 1922 s/d 1934’ Masjid rehap tahun 1672 tersebut diperluas ke samping dan ke depan yang demikian karena makin banyaknya jamaah khususnya saat mendirikan shalat Jum’at dan pada hakikatnya masjid sedang diarahkan untuk menjadi masjid jamik Kota Pamekasan.

Pada tahun 1804 Pemerintah Penjajahan Hindia Belanda mengangkat saudara dari Sultan Bangkalan yang bernama Abdul Latif Palgunadi sebagai Bupati Pertama Hindia Belanda  di Pamekasan. Tepatnya pada tanggal 10 Nopember 1804 yang kemudian dikukuhkan dengan SK Tanggal, 27 Juli 1819 sebagai Panembahan Pamekasan dengan gelar Panembahan Mangkuadiningrat. Sejalan dengan pengukuhan tersebut Pemelihara masjid atau ketip masjid dipercayakan kepada Pejabat yang diangkat oleh Pemerintah Panembahan Pamekasan dengan pangkat Tumenggung yang ditempatkan di tanah milik Pemerintah Panembahan Pamekasan di sekitar masjid sebagai perluasan dari Kampung Masèghit (kampung Masjid)  yang sudah ada yang saat ini masih berbekas di Kampung Tumenggungan.

Namun kemudian pada tahun 1939, saat Pamekasan diperintah oleh Bupati R. A. Asiz (R. Abd Azis (SIS)  berkuasa dari tahun 1939-1942) atas anjuran Gubernur Jawa Timur saat itu yaitu van derPlaas, masjid rato yang telah beberapa kali mengalami renovasi tersebut dirombak total dan di atasnya di bangun mesjid styel Walisongo yaitu segi empat beratap tajung tumpang tiga. Tetapi  masjid yang dibangun masa pemerintahan Bupati R. A. Abdul Azis ini tidak sepenuhnya menurut styel walisongo, sebab tidak memiliki serambi. Bahkan Tiang agungnya terdiri dari 16 batang tiang bukan empat. Tiang sebanyak itu untuk menunjukkan bahwa masjid ini dibangun di atas tanah masjid yang mula-mula yaitu Masêghit Rato yang dibangun pada abad Ke-16. Setelah renovasi pada tahun 1939 yang diresmikan pada tanggal 25 Agustus 1940 masjid ini lalu dinamakan Masjid Jamik Kota Pamekasan dengan dua buah menara kembar di kanan-kiri masjid, menara setinggi 20 meter. Nama masjid jamik ini bertahan hingga tahun 1980, bahkan tidak sedikit penduduk Pamekasan yang menyebutkan demikian hingga saat ini.

Pada tahun 1980 masjid ini diperluas ke depan sejauh lima meter, tambahan ini merupakan serambi. Penambahan ini dilakukan atas perintah Bupati Pamekasan, Mohammad Toha yang memerintah pada tahun 1976 sampai dengan tahun 1982. Dengan demikian hasil Renovasi ini membuahkan masjid ini memiliki serambi yang tertutup dan perubahan ini bisa diterima karena masjid-masjid di jaman walisongo semuanya memiliki serambi.

Bangunan kantor Takmir Masjid Agung Asy-Syuhda’ Kabupaten Pamekasan tahun 1939 bertahan hingga renovasi tahun 1995. Namun kolam bundar untuk mengambil air wudhu sudah tergusur dan pengambilan air wudhu ditempatkan di bagian utara depan menara.  Selain itu untuk mengenang para Syuhada’ yang syahid pada waktu Serangan Umum pada tanggal 16 Agustus 1947, yang dilakukan oleh para pejuang Republik Indonesia di Madura terhadap pendudukan serdadu Belanda di kota Pamekasan. Mereka yang gugur, semuanya dikubur di depan Masjid Jamik sebelah sisi utara dan kemudian di situ didirikan monumen Taman Makam Pahlawan(TMP). Namun kemudian di tahun 1974 para Syuhada yang terkubur di Taman Makam Pahlawan tersebut seluruhnya dipindah ke Taman Makam Pahlawan di Jalan Panglegur seperti adanya saat ini. Sebagian bekas taman makam pahlawan di depan masjid tersebut bagian tepi barat sudah menjadi Jalan Masigit setelah  ada pelebaran jalan depan masjid pada tahun 2004. Serangan Umum tanggal 16 Agustus 1947 tersebut oleh seorang wartawan perang Belanda, Wim Horman,  menyebutkan  dalam ungkapannya :

Renovasi tahun 1980-1985
Pada tahun 1985 oleh Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan, Masjid  kembali mendapat renovasi berupa pelebaran ke samping kanan dan kiri sejauh lima meter dengan jalan menggusur tempat untuk berwudhu’ yang kemudian tempat air wudhu’ tersebut dipindah ke bagian depan sebelah utara. Nama masjid kemudian ditambah dari Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan menjadi Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan.

Pada September tahun 1995 di jaman pemerintahan Bupati Drs. H. Subagio, M.Si Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan direnovasi total kembali. Secara total Masjid dibangun dengan seluruhnya cor beton . Karena berada di tepi sungai yang rawan longsor  maka digunakan pasak bumi yaitu paku beton sepanjang 22 meter tertancap di bumi dasar mesjid sebanyak 360 batang dan setiap pasak dihubungkan dengan cor beton pula sehingga Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan renovasi 1995 ini terkesan bagaikan sangkar beton yang tertancap di bumi sebagai fondasinya. Masjid ini memiliki 3 lantai. Lantai pertama sebagian digunakan sebagai Gudang, Kantor Takmir, Ruang Pertemuan, Perpustakaan, Balai Pengobatan, sanitasi dan tempat ambil air wudhu’. Sebagian lagi tepatnya di bagian ke arah barat tertutup ditimbuni tanah. Lantai 2 sebagai ruang inti / haram dengan ukuran 50X50  meter dan samping kanan-kiri.  Bagian depan dibatasi dinding sebagai serambi masjid. Tiang utama 4 (empat) buah dengan demikian kembali ke styl masjid Mataram yang memiliki empat pilar tiang agung yang tertancap di dasar bangunan tembus ke lantai tiga. Lantai tiga juga dipersiapkan sebagai tempat sholat, dari lantai tiga ini  para jamaah dapat melihat imam shalat di lantai dua. Materi bangunan masjid banyak didatangkan dari luar Madura seperti marmar untuk lantai dari Tulungagung dan Lampung. Tembok dinding dilapisi dengan ukiran, juga pintu dari kayu berukir dan ukiran ini didatangkan dari Jepara di Jawa Tengah dan Karduluk di Sumenep. Secara keseluruhan masjid renovasi 1995 masih dalam bentuk masjid tradisional, berserambi, bertiang utama (tiang agung) empat buah, tetapi atapnya tidak lagi atap tajung tumpang tiga melainkan bergaya Timur Tengah, bentuk segi empat dan berkubah cor pasir dan semen. Nama masjid tetap Masjid Agung Asy-Syuhada’Kabupaten Pamekasan dengan daya muat sebanyak 4000 jamaah.

Renovasi total Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan berlanjut hingga pemerintahan Bupati Drs. H. Dwiatmo Hadiyanto, M.Si. Rehap dalam tahap akhir pemberian pagar dan gerbang masjid serta pelebaran Jalan Masigit khususnya di depan Masjid Agung Asy-Syuhada’Kabupaten Pamekasan dilaksanakan dalam pemerintahan bersama Bupati Drs. H. Ahmad Syafi’i, M.Si dan Wakilnya Drs. H. Kadarisman Sastrodiwirjo, M.Si yang memerintah dari tahun  2003 s/d 2008 sekaligus merestui Takmir Masjid Agung Asy-Syahada’ Kabupaten Pamekasan yang baru yaitu Drs. H.R. Abd. Mukti, M.Si sebagai Ketua Umum  Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan dan Drs. KH.M. Baidowi Ghazali, MM sebagai Ketua Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan. Pada saat tulisan ini disusun renovasi Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasanmemang sudah selesai  sesuai dengan konsep semula. Namun Wajah Masjid Agung Asy-Syuhada’Kabupaten Pamekasan terus-menerus dipercantik sebatas yang diperbolehkan agama, dan ragam rias ini selalu dalam pengamatan dan bimbingan langsung dari Bupati Kabupaten Pamekasan  Drs. KH. Kholilurrahman, SH.,M.Si dan Wakilnya Drs. H. Kadarisman Sastrodiwirjo, M.Si yang keduanya mulai menjabat dari tahun 2008 s/d 2013. Pada tahun 2011 tepatnya pada tanggal, 24 Mei 2011 Yayasan Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten dan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan di lebur menjadi satu dengan nama Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan yang di ketuai oleh Drs. H. RP. Abd. Mukti, M.Si.

KIBLAT
Dalam masalah kiblat ini Pamekasan yang termasuk daerah khatulistiwa, sebagaimana umumnya negeri kita, Indonesia. Apa yang mereka kerjakan.” ( Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat : 144 ).   Untuk daerah kita, telah diperhitungkan menurut azimuth yang sudah digunakan bagi seluruh tempat di tanah air dan bagi Pamekasan yaitu arah barat-barat daya atau kearah barat dan serong ke arah utara sebesar 23º, sehingga mengarah ke Masjidil Haram di Makkah. Dengan demikian Jhâlân Sè Jhimat yang mengarah dari simpang monumen Lancor di renovasi untuk disesuaikan sebab jalan tersebut dahulu dibuat dengan tujuan mengarah ke mihrab mesjid Rato dengan maksud si pejalan kaki merupakan sosok yang berjalan di jalan Allah menuju tempat untuk sujud kepada AllahNamun saat ini jalan Sè Jhimat tersebut sudah menjadi tempat parkir.  Wa Allâhu a’lam bi al sawhâb.

RUANG, INTERIOR DAN SARANA DI MASJID AGUNG ASY-SYUHADA
Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupten Pamekasan yang berlantai tiga ini mempunyai  banyak ruang  dengan fungsi yang berbeda seperti :

  • Ruang liwan, ruang inti tempat jamaah masjid melakukan sholat berjamaah, terdapat di lantai dua, juga terdapat di lantai tiga 30 X 1,20 m
  • Ruang Haram  / Liwan di lantai 2
  • Ruang Haram / Liwan di lantai 3
  • Serambi, serambi depan 9 X 55 m dan serambi samping kiri – kanan dengan ukuran  masing – masing 4,5 X 20,7 M di lantai dua,
  • Serambi samping kanan / utara , lantai 2,
  • Serambi  depan di lantai 2,
  • Serambi samping kiri / ruang liwan wanita di lantai 2,
  • Ruang istirahat Imam sejajar dengan ruang-ruang  mihrab dan mimbar dan ruang muadzin sekaligus sebagai ruang alat-alat elektronik. Masing-masing berukuran 5 X 3 m di lantai 2,
  • Ruang Mihrab dan mimbar,
  • Kantor Takmir, terletak di lantai satu berukuran  4 X 20 m.
  • Ruang Pertemuan, terletak di lantai satu dengan ukuran  8 X 21 m

Di samping ruang-ruang ini masih tersedia ruang-ruang lain seperti gudang tempat penyimpanan alat kelengkapan masjid seperti terpal, permadani dan lain-lain. Juga di sekitar atau bagian sisi utara dan barat masjid dibangun beberapa bangunan untuk tempat pendidikan dan kesenian. Walaupun tempat seperti terpisah tapi masih merupakan satu komplek dalam makna masih mencerminkan adanya hubungan orientasi antara komplek dan bangunan induk masjid.

  • Ruang Unit Radio “ Swara Gerbangsalam 88,6 FM “hasil kerja sama Majelis Ulama’ Indonesia Kab. Pamekasan, Lembaga Pengkajian dan Penerapan Syariat Islam Kab. Pamekasan, FOKUS Kab. Pamekasan dan Yayasan Takmir Masjid Asy-Syuhada’ Kab. Pamekasan dengan ukuran 3X3 M dan juga ada ruang tempat penyelenggaraan rekaman, relay / TV. Dan sekarang dikelola oleh Badan Pengelola Radiop Gerbang Salam 88,6 FM.
  • Ruang Wanita, ditempatkan terpisah dari jamaah pria yaitu di serambi bagian kiri di lantai 2 (selatan) Pemisahan tempat ini untuk menjaga agar tidak tergaggunya kekhusyukan, dari dua jamaah yang berbeda jenis kelamin, wanita-pria. Untuk hari-hari biasa, pada hari Jum’at tidak disediakan tempat Jamaah wanita hal ini karena bagi wanita shalat Jum’at merupakan  sunat (boleh melaksanakan boleh tidak) tetapi untuk hari-hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha disediakan di lantai tiga. Walaupun terjadi pemisahan seperti tersebut di atas, para jamaah wanita masih dengan sempurna hubungan pandangan  secara langsung ke ruangan pria yang demikian dimaksudkan agar herak-gerik imam atau khatib dapat diikuti secara langsung dari ruang wanita.
  • Tempat ruang sesuci / Wudhu’ dan Sanitasi,terdapat di lantai satu di kiri (Selatan)- kanan (Utara).Untuk wanita di bagian kiri, terdapat 6 (enam) sanitasi dan 27 kran untuk mengambil air wudhu. Sedangkan di bagian kanan untuk pria, terdapat 10 tempat sanitasi, 4 tempat kencing dan kran untuk mengambil air wudhu’ sebanyak 26 buah. Pemisahan kedua ruang sesuci antara pria dan wanita ini sudah sesuai dengan tuntunan ajaran Agama Islam bahwa manakala sesudah bersuci untuk sholat apabila terjadi persinggungan kulit antara dua jenis kelamin dan bukan termasuk muhrim maka ia menjadi batal, karena ia diharuskan mengambil wudhu’ kembali. Air yang digunakan  untuk air wudhu di Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan adalah air dari mata air yang ada di Pamekasan  melalui jasa PDAM Pamekasan. Pengambilan air wudhu’ disediakan kran sebagaimana tersebut di atas, hal ini untuk menjaga  agar air wudhu’ tetap hygienis. Demikian pula  kamar mandi dan WC yang  ruangnya tertutup  dan sopan sehingga menjamin tingkat privacy jamaah yang menggunakan.
  • Gedung Taman Pendidikan Al-Qur’an Asy-Syuhada’ Terletak di samping belakang bagian utara Komplek Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan,
  • Jam gantung 3 buah, papan publikasi 3 buah, mimbar 1 buahdan beduk 1 buah dan penitipan sandal.
  • Ruang alat elektro dan  pengeras suara.
  • Pertamanan terdapat di halaman masjid bagian tepi kiri – kanan,  Halaman bagian utara,  Halaman bagian selatan.
  • Ragam RiasMasjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan juga dihias dengan kaligrafi, dan beberapa gambar motif  bangunan masjid dan geometris.
    Menara , Masjid berujung berbentuk peluru (sesuai dengan penjelasan dari Arsitek Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan kepada beberapa orang jamaah di tahun 1996 ).
  • Tempat penitipan kendaraan jamaah di pusatkan di jalan Sè Jhimatyang sudah ditutup, di area Monumen Lancor

MENARA KEMBAR Tinggi 37 M

Menara oleh Islam difungsikan sebagai tempat muadzin mengumandangkan adzan agar adzan lebih jauh lagi didengar orang karena adzan  merupakan panggilan atau ajakan untuk melakukan sholat. Saat ini muadzin tidak perlu naik-turun menara yang tinggi dan melelahkan itu. Hal ini karena Islam juga telah menggunakan teknologi yang ada. Muadzin tidak perlu naik-turun menara. tetapi cukup menempatkan  pengeras suara di puncak menara dan muadzin cukup mengumandangkan panggilan shalat tersebut di ruang muadzin sebab dari tempat tersebut dihubungkan ke pengeras suara di puncak  menara menggnakan alat elektro.

Menara Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan tetap dua buah dan merupakan menara kembar sebagaimana menara masjid Jamik Pamekasan buatan tahun 1939 yang telah dibongkar, tetapi menara yang sekarang ujung atasnya berbentuk peluru, bentuk ini sebagai ungkapan bahwa Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan pernah menyaksikan serangan umum yang disebutkan di atas pada tanggal 16 Agustus 1947, saat itu Masjid Jamik Pamekasan dipenuhi lubang bekas peluru yang ditembakkan oleh tentara pendudukan Belanda ke arah masjid sebab di masjid banyak pejuang berlindung.

FUNGSI MASJID

Kegiatan dalam Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan sudah terlihat demikian kompleks. Bahkan dapat dikatakan makmur, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang yang dicakup juga cukup banyak yakni peribadatan,  pendidikan keagamaan, sosial keagamaan dan sebagainya. Justru dengan semakin makmurnya  kegiatan ini maka pihak pembina masjid yaitu Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan dirangsang untuk semakin dapatnya menyediakan sarana dan prasarana yang layak. Ketua Umum Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ Kabupaten Pamekasan selain mengawasi perkembangan fisik masjid juga membawahi unit-unit usaha, pendidikan, (Taman Pendidikan Al-Qur’an / TPA), badan dakwah, remaja masjid, keamanan, pemeliharaan fisik kompleks masjid, Unit Radio Swara Gerbangsalam sedangkan sekretaris membawahi  pembukuan, keuangan dan urusan material. Sedangkan pemeliharaan gedung ditangani oleh seksi tehnik dan karyawan masjid.

Selain dari yang telah melembaga seperti yang disebutkan di atas masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti Panitia Amaliyah Zakat Fitrah dan Mall, Panitia Amaliyah Idul Qurban, Panitia Santunan Anak Yatim, Panitia Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw, Panitia Maulid Nabi Muhammad saw. Di samping itu pendidikan non formal juga tidak dilupakan seperti kuliah subuh, kuliah pada malam nisfu sya’ban dan hari-hari besar Islam yang dirayakan di Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan, ceramah dan dialog interaktif Radio Swara Gerbangsalam 88,6 FM, akad nikah dan doa bersama seperti Istighatsah oleh berbagai golongan organisasi Islam. Juga dalam program pengembangannya Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan pada tahun Ajaran 2011 akan membuka Play Group, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Madrasah Diniyah dan Belajar Sampoa, belajar mengaji bagi Lansia.

Semua tercakup dalam pengelompokan, religi, pendidikan, sosial budaya dan ekonomi, kemasyarakatan dan kepemudaan.   Dengan demikian fungsi Masjid Agung Asy-Syuhada’ kabupaten Pamekasan sudah secara estafet, meneruskan budaya Islami yang selaras dengan budaya lokal, walaupun demikian warna kultur Islam masih dapat terlihat jelas, hal ini karena kultur Islam memiliki warna khas tersendiri.

——————————————————————————————-Oleh: Dian K ; dari Koleksi Muatan Lokal, Deposit, Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur; SEJARAH MASJID ANGUNG ASY-SYUHADA`  PAMEKASAN, A.Sulaiman Sadik. 
Pamekasan: Yayasan Takmir Masjid Agung Asy-Syuhada Pamekasan,  2011
CB.D13/1991-01[3]

MASJID SUNAN GIRI

masjid-sunan-giriSunan Giri alias Raden Paku Muhammad Ainul Yaqin, beliau mendirikan Masjid di atas sebuah bukit yang bernama Kedaton Sidomukti. Kawasan tersebut merupakan komplek Pondok Pesantren Giri Kedaton yang dipimpinnya sekaligus tempat Sunan bermukim. Awalnya tempat ibadat ini sederhana relatif kecil berbentuk langgar atau surau. Baru pada tahun 1407 M setelah beliau diangkat seba­gai penasihat Raden Patah, sekaligus sebagai ketua dari para wali maka langgar itu kemudian dijadikan masjid Jamik. Meskipun bangunan ini ukurannya relatif kecil namun cukup indah dan artistik, pondasinya terbuat dari batu-batu berukir sampai sekarang tetap dalam keadaan utuh di atas bukit Kedaton.

Tahun 1544 M, Masjid Sunan Giri dipindahkan dari Giri Kedaton ke Bukit Giri tempat makam Sunan Giri sekarang oleh cucu Sunan Giri ketiga, Nyi Ageng Kabunan (seorang janda). Dibuktikan hiasan bertulis huruf Arab di atas pintu utama masjid yang artinya: Masjid ini dibangun oleh seorang janda (perempuan) cucu Sunan Giri ketiga pada tahun 684 H atau 1544 M. Sedangkan bangunan Masjid yang dikhususkan untuk kaum wanita (masjid wedok) didirikan pada tahun 1857 M (1277) dan konon juga bekas masjid dari Sunan Prapen cucunda Sunan Giri juga.

Tahun 1789 M diadakan perluasan oleh H. Ya’kub Rekso Astono. Ada pendapat bahwa ba­ngunan masjid besar yang terlihat saat ini justru hasil karya H. Ya’kub ini, sedang masjid wanita itulah masjid dari Giri Kedaton. Tahun 1950 M terjadi gempa bangunan masjid Sunan Giri mengalami kerusakan, sang juru kunci makam H. Zaenal Abidin bersama masyarakat Giri memperbaikinya dalam waktu tiga bulan masjid telah kembali menjadi baik. Tahun 1957 M, oleh Panitia Kesejahteraan Makam dan Masjid Su­nan Giri memperluasan halaman masjid dengan memindahkan pendopo masjid dari halaman muka kesebelah utara halaman. Ju­ga penggantian atap masjid dari atap sirap menjadi atap genteng serta memperluas bak tampung air hujan guna keperluan air bersih. Tahun 1979 memperluas tempat wudu, dan sebagainya. oleh Panitia Perluasan Masjid Jamik Sunan Giri,

Kompleks Masjid dan makam Sunan Giri berada pada bukit Giri di puncak bukit cadas, jalan masuk melewati bertangga-tangga. Kompleks makam berada di sebelah barat sedangkan kompleks masjid berada di sebelah timurnya. Tapatnya Masjid Sunan Giri terletak sebelah barat Pabrik Semen Gresik dan dekat dengan Pabrik Petrokimia Gresik.

Pintu Gerbang Masjid berupa gapura yang depan menyerupai Candi Bentar dan bagian belakangnya menyerupai Kori Agung atau Paduraksa dua jenis gapura yang seperti bangunan pura di Bali. Dari jalan masuk belok ke kiri (menuju arah barat), terdapat tangga pertama ke arah utara menuju kompleks makam. Di sini terdapat tiga halaman berteras mempunyai ketinggian yang berbeda. Gapura pertama berbentuk Candi Bentar, yang kedua juga bentuk Candi Bentar dengan dua patung ular naga kembar di kiri kanannya, dan gapura yang ketiga/teratas berupa Kori Agung/Paduraksa, baru sampai ke halaman makam.

Lokasi puncak ini dipilih amat sesuai, untuk menunjukkan kesucian (sakral) kompleks ini. Setelah melewati gapura Paduraksa kompleks masjid tadi maka sampailah di halaman dalam masjid Jamik ini. Di sebelah barat halaman ini terdapat bangunan masjid jamik dan masjid wanita, di se­belah utara terdapat pendopo sebagai ruang istirahat tamu. Di sebelah utara pendopo ini terdapat jurang yang cukup dalam sehingga kalau kita memandang ke utara akan terlihat sebagian daerah kota Gresik. Di sebelah timur halaman ini terdapat ruang kuliah, kantor dan ruang penjaga masjid, serta sebuah trap menurun ke arah pemukiman di sebelah timur (bawah) kompleks masjid ini. Dari kompleks ini lewat di sebelah selatan mas­jid wanita dapat dicapai kompleks makam yang letaknya lebih tinggi lagi.

masjid-sunan-giriKegiatan masjid di sini mirip sekali dengan kegiatan Masjid Sunan Ampel juga, yakni lebih terarah sebagai pusat peribadatan terutama yang bertalian dengan salat, amalan-amalan dalam rangka ziarah kubur, dan kegiatan dalam upaya mendekatkan diri dengan Tuhan yakni yang tergabung dalam Thoriqot Sathoriyah yang sudah ada sejak Sunan Giri dahulu. (Ibid., 124).

Bidang pendidikan formal berupa madrasah dan sebagainya belum terdapat di sini. Bahkan meskipun disediakan ruang kuliah tetapi prakteknya ruang ini justru dipakai sebagai Musholla wanita. Tidak diketahui apakah di Giri Kedaton saat ini juga masih terda­pat Pondok Pesantren warisan Sunan Giri itu, seper­ti Pesantren Kembangkuning sebagai warisan dari Sunan Ampel.

Sebagai masjid makam, artinya di sini masjid yang berada di wilayah makam seperti kompleks Sunan Ampel, maka masjid ini lebih cenderung digunakan oleh para orang tua yang datang berziarah, sedemikian sehingga kegiatan remaja masjid belum begitu tampak.

Bangunan utama masjid terdiri dari ruang liwan/ haram pria yang berbentuk empat segi panjang de­ngan atap tajug tumpang tiga dan beratapkan genteng. Di samping depannya terdapat bangunan serambi masjid berbentuk empat segi panjang beratap genteng dengan topengan dari batu bata dan pada bagian depan terdapat hiasan lengkung struktural. (Periksa gambar foto/perspektif). Di bagian samping selatan Haram Pria itu terda­pat liwan wanita yang berdenah bujur sangkar de­ngan bentuk atap tajug tumpang dua, mempunyai skala yang lebih kecil dari liwan pria tersebut. Di atas atap tajug teratas terdapat ‘mustoko’ yakni suatu bentuk menyerupai mahkota dalam pewayangan, dan biasanya dianggap benda yang keramat. Benda ini terbuat dari tembaga.

Bangunan lain di depan dan di samping halaman masjid mempunyai bentuk yang sederhana de­ngan atap Kampung atau Limasan. Menara tidak ada di kompleks ini, sedangkan pengeras suara luar terdapat di bawah atap tumpang yang teratas. Seperti diuraikan di atas bahwa gapuranya terdiri dari bentuk Candi Bentar dan Paduraksa dengan mereduksi ragam hias yang banyak sekali.

Hal yang amat menarik adalah sistem instalasi air bersihnya. Ternyata di kompleks yang sudah tua ini pun telah berlaku prinsip hemat energi. Karena lokasinya yang berada di puncak bukit, maka untuk mendapatkan air tanah jelas amat sulit. Hal itu diatasi dengan mernbuat bak tampung air hujan yang cukup banyak dan cukup besar kapasitasnya. Jadi de­ngan menampung air hujan dari atap, kemudian air ini ditampung dan diendapkan di bak tampung tadi, baru kemudian disalurkan ke tempat wudu dan keperluan yang lain. Agar tidak memerlukan pompa maka tempat – tempat wudu dipilih di daerah yang letaknya lebih rendah, seperti di bagian bawah (basement) ruang serambi, dan sebagainya. Dengan demikian kompleks ini jarang kekurangan air bersih.

Perlu ditambahkan bahwa cungkup makam Su­nan Giri yang berada di sebelah barat kompleks masjid ini berbentuk bangunan tajug tumpang tiga, tetapi di antara atap tumpang ini tidak terdapat jendela penerangan, jadi relatif bertemu/berhubungan. Jadi di sini masih dapat dilihat betapa eratnya Sunan Giri dan keturunannya ini begitu mendekati kesenian tradisional masyarakat Jawa yang teiah mewarisi kesenian Hindu Jawa, sehingga bangunan yang ada amat dekat dengan bentuk bangunan yang telah pernah ada di masyarakat Jawa.

Selain bangunan, maka sunan ini juga menciptakan gending Jawa: Asmorodhono dan Pucung, serta permainan anak: Jelungan, llir-ilir, Jamuran, Cublak-cublak suweng, dan lain-Iain. (Ibid, 132).

Dengan cara itu maka syiar Islam dari daerah Giri ini menyinari penjuru tanah air terutama Nusantara bagian Tengah dan Timur. Terdapat hal yang menarik apabila benar bahwa Masjid Wedok yang beratap tumpang dua ini berasal dari masjid Sunan Giri yang dipindahkan dari Giri Kedaton.

Jumlah tumpang yang dua ini sama seperti yang terdapat pada Masjid Sunan Ampel di Sura­baya. Kalau hal ini benar maka Wali Songo awal ternyata tidak membuat atap masjid amat mirip dengan atap Meru yang selalu tumpang ganjil itu. Mungkin baru setelah wali – wali berikutnya membangun masjid tumpang tiga.

Kompleks masjid ini meliputi ruang-ruang seba­gai berikut: (Periksa juga gambar denah):’

  • Serambi,
  • Haram Pria,
  • Haram Wanita,
  • Bak tampung air hujan dan tempat wudu,
  • Ruang Penjagaan/tunggu,
  • Kantor Takmir masjid,
  • Dapur,
  • Ruang kuliah/Musholla wanita,
  • Pendopo (ruang istirahat).

Penerangan ruang dalam memanfaatkan cahaya matahari. Semua dindingnya ter­dapat pembukaan berupa jendela. Sedangkan di antara atap tumpang ditempatkan jendela penerangan atas. Dengan demikian untuk bangunan yang cukup besar ini suasana penerangannya menjadi agak temaram sehingga menambah kekhidmatan ruang suci ini.

Penghawaan ruang dalam juga sama halnya, artinya memanfaatkan hembusan angin yang selalu bertiup semilir karena bangunan ini berada di puncak bukit. Dari segi akustik juga cukup baik karena cukup banyak pembukaan dinding sehingga terhin- dar dari suara gema.

Ruang peribadatan pada umumnya tingkat kebersihannya cukup memadai. Hanya pada bagian Pendopo dan ruang umum lain yang bersifat profan perlu peningkatan hygienenya, misalnya membuat lantai yang bersih mengkilat, membuat ruangan yang relatif terbuka sehingga mendorong pengun- jung untuk tidak berbuat sesukanya. Di samping itu tiap ruang perlu disediakan perabotan yang pantas, sesuai dengan fungsinya masing-masing, sehingga pengunjung tidak lagi menggelar kain atau tikar se­sukanya. Dengan demikian untuk mendorong ke arah hygiene yang baik maka perlu diberi sarana yang memadai yang mendorong agar pengunjung tidak berbuat sesuka hatinya sehingga mengganggu kebersihan, ketertiban dan pandangan umum.

Sistem sanitasi di sini cukup baik. Sistem instalasi air bersih alami yang hemat energi itu patut mendapat pujian, sedangkan rioieringnya juga cukup memadai dan tidak mengalami kesukaran karena lokasinya yang berada di puncak bukit ini maka pembuangan air kotor dapat disalurkan ke tempat yang rendah di sebelah Utara tapak.

Arah Kiblat di dalam masjid ini cukup jelas sebab arah shaf sesuai dengan arah melintangnya dinding masjid. Namun amat disayangkan antara liwan pria dan liwan wanita terpisah sama sekali dengan dinding yang masif. Dengan demikian maka jelas bahwa kaum wanita terpaksa membuat Imam tersendiri di dalam melakukan salat jamaah. Alternatif lain maka dinding pemisah tersebut transparan sehingga kaum wanita bisa memandang ke arah mihrab dan liwan pria. Di dalam ruang liwan, terutama pada liwan pria terdapat suasana yang agung dan tenang tertib. Skala vertikal dan horizon­tal yang cukup besar membuat suasana khidmat ka­rena ukuran menjadi relatif kecil terhadap ukuran ruang ini.

Ragam hias di ruang dalam ini cukup menonjol. Pintu masuk ruang haram pria misalnya, berbentuk mirip dengan Paduraksa dengan hiasan huruf Arab di sekeliling atas pintu. Tiang – tiang kayu yang cukup besar dan tinggi dihubungkan dengan balok sunduk antara satu dengan lainnya. Pada tiap pertemuan antara tiang dengan balok sunduk itu selalu diselesaikan dengan ragam hias yang cantik dengan gaya Mojopahit. Pengisi pembukaan jendela atas yang tidak digunakan untuk penerangan dan ventilasi dibuat hiasan dengan motif tulisan Arab.

Mihrab dan mimbar yang berbentuk lengkung dan di puncaknya masing-masing terdapat bentuk mahkota atau kuncup bunga. Sedangkan di dalam ruang mimbar dari kayu jati berukiran yang mirip bentuk singgasana. Ukirannya yang rumit, warna hijau keemasan dan bentuk yang anggun memberikan kenampakan yang mewah namun cukup sakral.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Dian K.: dari Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur; Ir. Zein M. Wiryoprawiro; Surabaya: Bina Ilmu,  1987; CB-D13/1986-6[1]
koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

MASJID AL BIRRU PERTIWI BOJONEGORO 

al_birru_pertiwiMasjid itu bernama Al-Birru Pertiwi atau biasa dikenal dengan masjid Kubah Emas, berada di Jl. Raya Dander KM No.10, Dander, Kec. Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Tepatnya masjid ini terletak di jalan raya Bojonegoro – Nganjuk 13 Km selatan Kota Bojonegoro. Masjid Al Birru Pertiwi dibangun sebagai wujud rasa syukur keluarga besar Santosa kepada Allah SWT serta persembahan bakti cinta kasih kepada kedua orang tua mereka. Desa Dander, adalah tempat kelahiran dan tempat leluhur seluruh putra putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi. Oleh karena itu masjid ini dibangun di wilayah desa Dender, Bojonegoro.

Selain sebagai tempat beribadah, masjid ini diharapkan menjadi pusat kegiatan Islam di Bojonegoro yang menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, diskusi, serta pengajian dalam upaya pendidikan dan syiar islam sebagai Rachmatan Lil Alamin serta pengembangan dan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Harapan tersebut bukanlah hal yang mustahil, sebab kemegahan Masjid Al-Birru Pertiwi merupakan modal utama serta didukung dengan sarana dan prasarana penunjangnya sebagia besar sudah terpenuhi.

al-birru-pertiwi

Masjid mulai dibangun pada tanggal 24 Maret 2012 yang ditandai dengan peletakan batu pertama dan diresmikan pada tanggal 25 Januari 2014 oleh Bapak Suyoto, Bupati Bojonegoro, dan mulai dimanfaatkan Februari 2014. Acara persmian dihadiri oleh seluruh keluarga besar Santosa, sanak keluarga, handaitaulan dan masyarakat Bojonegoro.

Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 3 hektare, tanah ini dahulunya adalah sawah tadah hujan peninggalan Ibu Pertiwi Santosa binti Karso Prawiro. Secara fisik, bangunan utama masjid Al-Birru Pertiwi berukuran sekitar 25 m (panjang) x 13 m (lebar), memiliki tiga lantai, lantai dasar dipergunakan sebagai ruang pertemuan, jama’ah pria menempati lantai satu, sedangkan  jama’ah wanita nenempati lantai dua. Sarana-sarana lain yang ada di sekitar masjid, adalah ruangan untuk pendidikan dan pelatihan, selain itu juga terdapat  perpustakaan. Masjid ini diharapkan mampu menampung sekitar 1.000 jamaah. Di halaman masjid ini terdapat taman-taman indah yang hijau.

Desain, perencanaan dan pembangunan Masjid Al-Birru Pertiwi dilakukan oleh PT. Garis Prada di bawah pimpinan Bpk. Uke Setiawan, arsitek yang telah ber pengalaman membangun masjid, Pimpinan Proyek adalah Bapak Edy Hendriyanto yang juga suami dari putri bungsu (menantu) Bapak/Ibu Santosa Hardjosuwito/Pertiwi.

Keberadaan masjid yang berkubah emas ini merupakan salah satu daya tarik, bagi masyrakat yang melintas di jalan raya Dander, baik yang hanya sebatas mampir menyaksikan kemegahan Masjid Al Birru Pertiwi, maupun untuk melaksanakan ibadah shalat. Pengunjung wisatawan domestik (wisdom) yang keliling Wali setelah dari Tuban, juga mampir ke Masjid Al Birru. Pengunjung bisa mencapai lima sampai enam bus/hari, belum terhitung wisdom, yang memakai kendaraan pribadi, lahan parkir khusus bus di lingkungan masjid cukup luas.

Masjid Al Birru, di kelola Yayasan Bakti Pertiwi Surabaya, semua biaya operasional masjid ditanggung Yayasan Bakti Pertiwi, pengelola masjid semuanya ada 23 petugas, di antaranya, tiga  ustadz putra dan dua putri,  empat orang Imam.

Meski tergolong masjid baru, namun Masjid Al-Birru Pertiwi, tidak mau ketinggalan dalam hal kegiatan ibadah.

  • Shalat Tarawih “One Night One Juz” (satu malam satu juz), selama 3 jam jam 19.00 sampai jam 21.00 WIB,
  • Buka bersama,
  • Pengajian “Tombo Ati” (setiap hari Minggu),
  • Memberi makan sahur kepada masyarakat yang melaksanakan i’tikaf,
  • Pelatihan bagi guru dan pelajar di bidang keAgamaan.

 Masjid Al Birru didirikan oleh keluarga besar Santosa, Putra Putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi melalui Yayasan Bhakti Pertiwi. Yayasan ini didirikan oleh empat Putra Putri Santoso:  Suprapto Santosa, Supramu Santosa, Widodo Santosa serta Wijiningsih. Putra Putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi yaitu:

  • Sugeng Santosa,
  • Suprapto Santosa,
  • Supramu Santosa,
  • Widodo Santosa,
  • Winarto Santosa,
  • Wijiningsih Santosa,

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
oleh: Wahyu DP /Tim Pustaka Jawatimuran

dari: ustazd Sholahuddin (Gus Udin); website resmi masjid Birru Pertiwi
Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

MASJID AL BIRRU PERTIWI BOJONEGORO 

al_birru_pertiwiMasjid itu bernama Al-Birru Pertiwi atau biasa dikenal dengan masjid Kubah Emas, berada di Jl. Raya Dander KM No.10, Dander, Kec. Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur. Tepatnya masjid ini terletak di jalan raya Bojonegoro – Nganjuk 13 Km selatan Kota Bojonegoro. Masjid Al Birru Pertiwi dibangun sebagai wujud rasa syukur keluarga besar Santosa kepada Allah SWT serta persembahan bakti cinta kasih kepada kedua orang tua mereka. Desa Dander, adalah tempat kelahiran dan tempat leluhur seluruh putra putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi. Oleh karena itu masjid ini dibangun di wilayah desa Dender, Bojonegoro.

Selain sebagai tempat beribadah, masjid ini diharapkan menjadi pusat kegiatan Islam di Bojonegoro yang menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, diskusi, serta pengajian dalam upaya pendidikan dan syiar islam sebagai Rachmatan Lil Alamin serta pengembangan dan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Harapan tersebut bukanlah hal yang mustahil, sebab kemegahan Masjid Al-Birru Pertiwi merupakan modal utama serta didukung dengan sarana dan prasarana penunjangnya sebagia besar sudah terpenuhi.

al-birru-pertiwi

Masjid mulai dibangun pada tanggal 24 Maret 2012 yang ditandai dengan peletakan batu pertama dan diresmikan pada tanggal 25 Januari 2014 oleh Bapak Suyoto, Bupati Bojonegoro, dan mulai dimanfaatkan Februari 2014. Acara persmian dihadiri oleh seluruh keluarga besar Santosa, sanak keluarga, handaitaulan dan masyarakat Bojonegoro.

Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 3 hektare, tanah ini dahulunya adalah sawah tadah hujan peninggalan Ibu Pertiwi Santosa binti Karso Prawiro. Secara fisik, bangunan utama masjid Al-Birru Pertiwi berukuran sekitar 25 m (panjang) x 13 m (lebar), memiliki tiga lantai, lantai dasar dipergunakan sebagai ruang pertemuan, jama’ah pria menempati lantai satu, sedangkan  jama’ah wanita nenempati lantai dua. Sarana-sarana lain yang ada di sekitar masjid, adalah ruangan untuk pendidikan dan pelatihan, selain itu juga terdapat  perpustakaan. Masjid ini diharapkan mampu menampung sekitar 1.000 jamaah. Di halaman masjid ini terdapat taman-taman indah yang hijau.

Desain, perencanaan dan pembangunan Masjid Al-Birru Pertiwi dilakukan oleh PT. Garis Prada di bawah pimpinan Bpk. Uke Setiawan, arsitek yang telah ber pengalaman membangun masjid, Pimpinan Proyek adalah Bapak Edy Hendriyanto yang juga suami dari putri bungsu (menantu) Bapak/Ibu Santosa Hardjosuwito/Pertiwi.

Keberadaan masjid yang berkubah emas ini merupakan salah satu daya tarik, bagi masyrakat yang melintas di jalan raya Dander, baik yang hanya sebatas mampir menyaksikan kemegahan Masjid Al Birru Pertiwi, maupun untuk melaksanakan ibadah shalat. Pengunjung wisatawan domestik (wisdom) yang keliling Wali setelah dari Tuban, juga mampir ke Masjid Al Birru. Pengunjung bisa mencapai lima sampai enam bus/hari, belum terhitung wisdom, yang memakai kendaraan pribadi, lahan parkir khusus bus di lingkungan masjid cukup luas.

Masjid Al Birru, di kelola Yayasan Bakti Pertiwi Surabaya, semua biaya operasional masjid ditanggung Yayasan Bakti Pertiwi, pengelola masjid semuanya ada 23 petugas, di antaranya, tiga  ustadz putra dan dua putri,  empat orang Imam.

Meski tergolong masjid baru, namun Masjid Al-Birru Pertiwi, tidak mau ketinggalan dalam hal kegiatan ibadah.

  • Shalat Tarawih “One Night One Juz” (satu malam satu juz), selama 3 jam jam 19.00 sampai jam 21.00 WIB,
  • Buka bersama,
  • Pengajian “Tombo Ati” (setiap hari Minggu),
  • Memberi makan sahur kepada masyarakat yang melaksanakan i’tikaf,
  • Pelatihan bagi guru dan pelajar di bidang keAgamaan.

 Masjid Al Birru didirikan oleh keluarga besar Santosa, Putra Putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi melalui Yayasan Bhakti Pertiwi. Yayasan ini didirikan oleh empat Putra Putri Santoso:  Suprapto Santosa, Supramu Santosa, Widodo Santosa serta Wijiningsih. Putra Putri Bapak Santosa Hardjosuwito dan Ibu Pertiwi yaitu:

  • Sugeng Santosa,
  • Suprapto Santosa,
  • Supramu Santosa,
  • Widodo Santosa,
  • Winarto Santosa,
  • Wijiningsih Santosa,

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
oleh: Wahyu DP /Tim Pustaka Jawatimuran

dari: ustazd Sholahuddin (Gus Udin); website resmi masjid Birru Pertiwi
Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur