Museum Huruf (Font Museum): Jember Punya Destinasi Wisata Literasi dan Sejarah Baru

Penulis:  Prita Hw
-September 5, 2017

Museum Huruf lahir atas dasar persamaan mimpi, kegelisahan, keinginan, dan asa ingin memberikan setitik sumbangsih. Juga kebanggaan bagi tempat dimana kami lahir dan tumbuh. Kami sebagai pemuda Jember mencoba untuk memberikan ruang media dialektika bagi generasi penerus bangsa dalam bentuk museum… – Ade Sidiq Permana

Sepenggal pembuka yang terkesan heroik dan menyimpan semangat luar biasa itu bisa dibaca pada lembar undangan pembukaan (grand opening) Museum Huruf (Font Museum) yang terintegrasi dengan Perpustakaan yang dibuka untuk publik. Pembukaan itu diadakan tepat sehari sebelum malam takbir Idul Adha 1438 H bergema, yaitu pada Rabu, 30 Agustus 2017.

Museum Huruf dan perpustakaan ini sendiri berada tepat di kawasan Semanggi, Jl. Bengawan Solo 27 Jember. Tak hanya museum dan perpustakaan saja, di tempat ini juga terdapat cafe, studio tattoo, souvenir shop Buncis Room, juga homebase sebuah creative advertising bernama MIxmedia yang dimotori oleh Erik, yang juga si empunya tempat.

Lengkaplah sudah tempat ini menjadi ruang publik yang bisa dikunjungi kapan saja. Jika arek lokal ingin menikmati suasana yang nyaman senyaman di rumah sendiri dengan teras yang asri, tempat ini bisa menjadi pilihan.

Terlebih, Museum Huruf dan Perpustakaannya bisa jadi rujukan baru untuk tempat mengenal sejarah bermulanya aksara yang saat ini diakumulasi dan dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis untuk pengentar percakapan kita sehari-hari. Meski ukurannya tidak bisa dikatakan besar, sebuah ruang display utama yang kira-kira berukuran 3 x 5 cm itu cukup padat memuat berbagai koleksi museum.

Berbagai koleksi Museum Huruf yang bisa dinikmati itu terdiri dari koleksi pra aksara, koleksi aksara tertua di Indonesia, koleksi aksara nusantara (Jawa, Bugis, dan lain-lain), koleksi braille, dan koleksi aksara dunia (Jepang, Korea, India, dan lain-lain).

Koleksi-koleksi yang sebagian besar dibuat sendiri serta mendapatkan donasi itu nantinya tidak akan stagnan loh arek lokal, tapi akan terus berkembang. Bahkan, publik juga bisa mendonasikan aksara yang dimilikinya dalam bentuk media cetak, atau yang lainnya.

“Museum ini telah resmi terdaftar di Asosiasi Museum Daerah Jawa Timur dan Direktori Museum Seluruh Indonesia. Kami juga sudah mengirimkan perwakilan untuk pertemuan nasional di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Teman-teman relawan juga dilatih untuk memiliki kemampuan guiding dengan baik.”, begitu ungkap Ade Sidiq Permana, inisiator gagasan pendirian museum yang sekaligus bertindak sebagai Direktur Museum.

Ade meyakini bahwa hidupnya selalu bertalian dengan museum. Laki-laki yang sehari-harinya juga berjibaku dengan permuseuman di Probolinggo ini merasa belum memberikan sesuatu yang berarti untuk kota asalnya sendiri, Jember tercinta. Karena itu, ia berharap, ada museum dan perpustakaan ini menjadi ikon baru sekaligus semangat untuk melestarikan budaya literasi, khususnya aksara, serta membuka wawasan mengenai sejarah, dan perkembangan aksara dan budaya.

Niat tulusnya itu didukung penuh oleh Erik, sahabat sekaligus pemilik tempat yang merasa memiliki visi sama dengan Ade. Meski baginya bukan soal Jembernya yang utama, tapi soal memberikan suatu alternatif ruang publik yang bisa dimaksimalkan untuk kegiatan positif secara komunal.

Ke depan, Museum Huruf dan Perpustakaan ini akan diusahakan untuk dinaungi dalam suatu yayasan yang direncanakan bernama Institut Museum dan Cagar Budaya Nusantara yang sedang dirintis badan hukumnya. Maka dari itu, malam itu juga dibuka public fundraising bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi. Juga akan dikembangkan museum shop yang juga akan menjadi sumber pemasukan lainnya.

Malam itu hadir pula perwakilan Bupati Hj. Faida (Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Jember), Ibu Desak (Kepala Museum dan Perpustakaan Tembakau Kabupaten Jember), juga  Bapak Haryanto (Direktur Kopi Kahyangan PDP Kabupaten Jember). Semua mengatakan rasa bangga dan kesiapannya untuk bersinergi bersama untuk mendukung keberadaan Museum Huruf dan Perpustakaan ini.

Pun dengan berbagai komunitas kreatif Jember yang juga menambah semarak malam pembukaan yang dilanjutkan dengan tur keliling museum dan dipandu relawan guide. Berbagai komunitas kreatif seperti Kampoeng Batja, Berbagi Happy, Blogger Jember Sueger, Youtuber Jember, Genbi, Komunitas Perupa Jember, Pena Hitam, dan sebagainya menyambut Museum Huruf dan Perpustakaan ini dengan semangat.

Buat arek lokal yang belum sempat berkunjung di malam pembukaan, tenang saja. Masih ada beberapa agenda menarik dalam waktu dekat yang bisa dipilih. Setelah sukses dengan workshopcetak saring dan sosialisasi program Museum Huruf dan Perpustakaan pada 2 September kemarin, pada 8 September pukul 19.00 juga akan ada launching koleksi aksara Sunda dan Seminar Sejarah Aksara Sunda. Dilanjutkan pada 9 Septembernya di waktu yang sama, akan diadakan apresiasi seni dan workshop penulisan aksara Sunda.

Jangan sampai ketinggalan ya rek! Catat juga jam buka dan official account nya :
Jam buka museum : 09.00 – 15.00

Sumber: https://lokalkarya.com/museum-huruf-jember.html

Asal Usul Nama Ponorogo

Mengenai asal-usul nama Ponorogo sampai dengan saat penyusunan naskah ini belum ditemukandan diketahui secara pasti. Berikut kami sampaikan beberapa analisa dari berbagai sumber yang diperkirakan ada kaitannya atau kemiripannya dengan sebutan nama Ponorogo.

Berdasarkan Legenda

  1. Di dalam buku Babad Ponorogo yang ditulis oleh Poerwowidjojo diceriterakan bahwa asal-usul nama Ponorogo, bermula dari kesepakatan dalam musyawarah antara Raden Katong, Kyai Mirah, Seloadji, dan Joyodipo pada hari Jumat saat bulan purnama, bertempat di tanah lapang dekat sebuah gumuk (wilayah Katongan sekarang). Di dalam musyawarah tersebut disepakati bahwa kota yang akan didirikan nanti dinamakan “Pramana Raga” akhirnya lama-kelamaan menjadi “Ponorogo”.
  2. Dari ceritera rakyat yang masih hidup di kalangan masyarakat terutama di kalangan genarasi tua, ada yang mengatakan bahwa nama Ponorogo kemungkinan berasal dari kata “Pono” = Wasis, pinter, mumpuni, mengerti benar. “Raga” = Jasmani, badan sakujur. Akhirnya menjadi Ponorogo.

 

Tinjauan Etimologi

Mengacu dari sumber-sumber ceritera di atas, jika ditinjau secara etimologi, akan kita dapatkan beberapa kemungkinan sebagai berikut:

  1. “Prama Raga” menjadi Panaraga.

Sebutan Pramana Raga terdiri dari dua kata yakni :

a. “Pramana” = Daya kekuatan, rahasia hidup, permono, wadi.
b. “Raga” = Badan, jasmani.

Dari penjabaran tersebut dapat ditafsirkan bahwa dibalik badan wadak manusia itu tersimpan suatu rahasia hidup (wadi) berupa olah batin yang mantap dan mapan berkaitan dengan pengendalian sifat-srfat amarah, aluwamah, shufiah, dan muthmainah.

  1. Ngepenakake raga menjadi Panaraga

Manusia yang memiliki kemampuan olah batin yang mantap dan mapan akan dapat menempatkan diri di mana pun dan kapan pun berada. Akhirnya apa pun tafsirannya tentang Ponorogo dalam wujud seperti yang kita lihat sekarang ini adalah tetap “Ponorogo” sebagai kota yang kita cintai, kita pertahankan, dan kita lestarikan sebagai Kota Reog yang menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo.

Berdirinya Kadipaten Ponorogo

  1. Beberapa Sumber yang Berkaitan dengan Berdirinya Kadipaten Ponorogo

Ada dua sumber utama yang kami jadikan bahan kajian dalam menelusuri Hari Jadi Kadipaten Ponorogo yakni:

a. Sejarah Lokal Baik Legenda maupun Buku Babad.

Banyak ceritera yang berkembang di kalangan masyarakat dan bahkan ada yang telah ditulis di dalam buku babad dan Iain-Iain. Menurut babad maupun ceritera rakyat, pendiri Kadipaten Ponorogo ialah Raden Katong putra Brawijaya V raja Majapahit dengan putri Begelen. Diduga berdirinya Kadipaten Ponorogo pada akhir abad XV.

b. Bukti Peninggalan Benda-benda Purbakala.

Kebudayaan seseorang itu bersumber dari masyarakatnya, dalam arti konsentrasi tertinggi adalah basis alam dari kehidupan kebudayaan itu sendiri. Masyarakat Wengker menganut kepercayaan Hindu yang jelas berakulturasi dengan tradisi-tradisi yang berlaku saat itu.

Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya peninggalan benda-benda purbakala antara lain:

  • Sebuah area Syiwa ;
  • Tiga buah area Durga ;
  • Lima buah area Ghanesa ;
  • Dua area Nandi;
  • Sebuah area Trimurti;
  • Dua area Mahakala sebagai Dwarapala ;
  • Sebuah Lingga;
  • Sebuah Yoni;
  • Sepasang Lingga Yoni;
  • Sembilan buah miniatur lumbung padi;
  • Area Gajah-Gajah Siwarata, kendaraan Bathara Indra berasal dari Timur;
  • Wisnoe berasal dari timur;
  • Ganesa-penunggu rumah dengan angka tahun 1355 saka = 1433 M ;
  • Umpak – terdapat di Pulung, dengan angka tahun 1336 saka = 1414 Masehi.. 31.
  • Sejumlah patung/ arca logam yang ditemukan di desa Kunti, Kecamatan Bungkal.

Disamping itu ditemukan pula peninggalan benda-benda purbakala di sekitar makam Bathoro Katong. Dari kompleks makam Ini diperoleh petunjuk angka tahun kapan kiranya Bathoro Katong mendirikan kadipaten Ponorogo. Di depan gapura pertama yang berdaun pintu atau gapura ke – 5, di sebelah utara dan selatan terdapat sepasang batu menyerupai tempat duduk yang menurut tradisi disebut Batu Gilang.

Pada batu tersebut tertukis candra sengkala memet dari belakang Ke depan berupa : manusia, pohon, burung (garuda), dan gajah.

manusia = angka 1 ;
pohon = angka 4 ;
burung (garuda ) = angka 1 ;
gajah = angka 8.
Berdasarkan kajian itu, Tim Sembilan menyimpulkan candra sengkala memet pada Batu Gilang tersebut menunjukkan angka tahun 1418 Saka.

  1. Bathoro Katong Diwisuda

a. Figur Seorang Bathoro Katong.

Nama Bathoro Katong sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Ponorogo. Bahkan nama itu seakan sudah menyatu dengan nama kota Ponorogo. Menurut pendapat para sarjana, ceritera rakyat, dan buku-buku babad, Bathoro Katong adalah pendiri Kadipaten Ponorogo yang selanjutnya berkembang menjadi Kabupaten Ponorogo. Hal itu sudah menjadi keyakinan masyarakat Ponorogo tanpa mempermasalahkan “siapa” dan “kapan” Bathoro Katong diwisuda sebagai adipati Ponorogo.

b. Kapan Bathoro Katong Diwisuda

Berdasarkan penelitian dan analisa sejarah dari berbagai sumber, terutama pengkajian terhadap peninggalan benda-benda purbakala yang berkaitan dengan masa pemerintahan Bathoro Katong, antara lain dapat kami sampaikan sebagai berikut:

  • Batu Bertulis Kucur Bathoro

Di Wilayah Kecamatan Ngebel ada lokasi/ tempat yang dinamakan Kucur Bathoro. Menurut Moh. Hari Soewarno, Kucur Bathoro itu diperkirakan tempat bersemedi Bathoro Katong pada saat akan memulai melaksanakan tugas di Bumi Wengker. Di tempat itu terdapat sebuah batu bertulis yang menunjukkan angka tahun 1482 Masehi.

  • Prasasti Batu Gilang di Makam Bathoro Katong.

Di Kompleks makam Bathoro Katong yaitu di depan gapura ke–5 terdapat sepasang batu yang disebut Batu Gilang oleh masyarakat Ponorogo. Pada Batu Gilang itu terlukis candra sengkala memet berupa gambar: manusia, pohon, burung (garuda), dan gajah, yang melambangkan angka tahun 1418 Saka atau tahun 1496 Masehi. Batu Gilang itu berfungsi sebagai prasasti “penobatan” yang dianggap suci.

Atas dasar bukti peninggalan benda-benda purbakala tersebut, dengan menggunakan buku Handbook of Oriental History halaman 37, dapat ditemukan hari wisuda Bathoro Katong sebagai adipati Kadipaten Ponorogo pada Ahad Peri. 1 Besar 1418 Saka bertepatan dengan 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dzulhijjah 901 H.

3. Penetapan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Di awali dengan tekat Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ponorogo yang mendasarkan pada usulan masyarakat Ponorogo dan perintah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Timur agar setiap Daerah Tingkat II memiliki Hari Jadinya maka Bupati membentuk dan menugaskan Tim Penyusun materi Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Selanjutnya Tim Penyusun materi Hari Jadi Kabupaten Ponorogo yang lebih dikenal dengan Tim Sembilan bekerja keras kurang lebih tiga bulan mengumpulkan bahan-bahan materi Hari Jadi maka pada tanggal 30 April 1996 diselenggarakan seminar sehari Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Hasil seminar menetapkan dan memutuskan hari, tanggal, dan tahun Hari Jadi Kabupaten Ponorogo.

Selanjutnya untuk lebih memantapkan keputusan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo maka naskah hasil seminar sehari Hari Jadi Kabupaten Ponorogo diajukan kepada DPRD Tingkat II Ponorogo untuk mendapatkan persetujuan penatapan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo pada hari Ahad Pon, tanggal 1 Besar tahun 1418 Saka atau tanggal 11 Agustus 1496 Masehi (1 Dzulhijjah 901 H.).

Atas dasar persetujuan DPRD Tingkat II Ponorogo, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Ponorogo menetapkan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo pada Ahad Pon, 1 Besar 1418 Saka bertepatan dengan tanggal 11 Agustus 1496 Masehi atau 1 Dzulhijjah 901 H.

Sumber : Toebari, dkk. Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Ponorogo : Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Ponorogo. 1996. CB-D13/1996-19[30]

MASJID JAMIK AL BAITUL AMIN JEMBER

masjid-jemberMasjid Jamik Al Baitul Amin kota Jember adalah masjid baru yang terletak di sebelah Utara masjid jamik yang la­ma, di seberang jalan raya yang membelah Alun-alun kota Jember,  terletak di sebelah Barat Alun-alun kota.

Pembangunan Masjid dipelopori oleh K.H. Ahmad Siddiq mewakili ulama dan Bapak Mulyadi, Kepala Dinas PUD Kabupaten Jember me­wakili pihak Pemerintah Daerah. Menurut informasi, dari kedua tokoh ini timbul ide perencanaan masjid ini dengan tema tawaf. Tawaf adalah suatu bagian dari ibadah haji di Tanah Suci di mana umat berlari-lari kecil mengelilingi Ka’bah. Ide itu akan dicerminkan dengan adanya bangunan pusat yang dikelilingi oleh sembilan bangunan pelengkapnya. Angka sembilan diambil dari angka keramat mubaligh Islam di tanah Jawa yakni Wali Songo yang sembilan orang itu,Maksud membangun masjid jamik dengan ide bentuk tawaf ini mendapat sambutan simpatik sekaligus ditunjukkan seorang perencana/arsitek berasal dari Ban­dung yakni Ir. Ya Ying K. Kesser.

Pada tahun 1978 bersama-sama dengan peresmian Pasar Besar “Tanjung” maka di- resmikan pula penggunaan Masjid Jamik ini dan dinamai Masjid Jamik “Al Baitul Amien” Jember. Masjid Jamik “Al Baitul Amien” dibangun diatas tanah seluas 1,75 ha, yang terdiri dari persil Kantor Kehutanan dan persil-persil milik masyarakat. Di sebelah Selatan Alun-alun terdapat kompleks Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Dati II Jem­ber, di sebelah Timur Alun-alun terdapat bangunan hotel dan kantor-kantor pemerintah, demikian pula di sebelah Utaranya merupakan daerah perkantoran pemerintah.

Jalan masuk samping ada dua buah masing-masing dapat dicapai dari Jalan Semeru dan dari Jalan Raya Sultan Agung. Halaman depan terasa amat sempit sedangkan halaman belakangnya cukup luas. Tata bangunan dibuat simetris yang terdiri dari satu bangunan berkubah besar dengan tiga kubah yang semakin mengecil di samping depan kiri dan samping kanan. Batas belakang dan samping areal  masjid dipagari de­ngan dinding tembok setinggi lebih kurang dua me­ter, sedangkan pada bagian depan diberi pagar besi dengan bentuk pola cekungan yang berulang, merupakan pola kebalikan dari pola bentuk yang cembung.

Kepengurusan masjid jamik lama dan masjid baru merupakan satu manajemen, karena tujuan awal pembangunan masjid jamik baru merupakan perluasan dan pengembangan dari mas­jid jamik lama. Dengan bertambahnya sarana baru ini maka kegiatannya kepengurusan masjid tetap menjadi satu.

Masjid Jamik Al Baitul Amien digunakan sebagai masjid jamik, artinya digunakan untuk kegiatan sembahyang Jumat dan sembahyang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sedangkan Sembahyang rawatib yang dikerjakan sehari-hari dilakukan di dua tempat dengan pembagian waktu tersendiri. Untuk waktu malam hari yakni untuk keperluan salat Maghrib, Isyak dan Subuh digunakanlah masjid baru sedang­kan masjid yang lama ditutup. Sedangkan pada siang hari untuk keperluan sembahyang Dhuhur dan Ashar disediakan di masjid lama, dan masjid baru ditutup. Aturan ini dimaksudkan agar kedua masjid ini masih tetap digunakan sehari-hari dan demi kepraktisan masjid lama dipakai sembahyang di siang hari karena di situ terdapat kegiatan Perpustakaan, Kantor Takmir Masjid dan Ruang Pengadilan Agama.

Dengan demikian maka fungsi masjid sebagai pusat peribadatan diwujudkan pada masjid baru se­dangkan fungsi sebagai pusat kebudayaan diwujud­kan pada kompleks masjid lama.Bentuk Masjid Jamik Al Baitul Amin yang baru ini bulat denahnya dan dilindungi de­ngan bentuk kubah/dome dengan ditumpu oleh balok-balok beton berbentuk busur.  Dilihat dari komposisi massanya terlihat bahwa terdapat suatu komposisi yang seolah-olah terbentuk gambar abstrak yang memperlihatkan bentuk garuda yang baru terbang ke arah kiblat, dengan kepalanya berada pada mihrab masjid dan ekornya pada plaza di depan bangunan masjid.

masjid-lama-jemberKalau ide semula dari panitia bertemakan kegiatan tawaf yang mengelilingi Ka’bah, maka ide tersebut ternyata tidak tercermin di sini. Memang di tengah kita temukan bangunan berkubah yang terbesar tetapi bangunan yang lain tidak mencerminkan keadaan mengelilingi tetapi justru sebagai sayap, sayap kiri dan sayap kanan. Demikian pula angka 9 yang diambil dari Wali Songo itu tidak sempat terlaksana, dicerminkan dalam bangunan sekunder yang mengelilingi bangunan utama itu hanyalah berjumlah 6 saja. Bangunan utama yang terletak di tengah digunakan untuk liwan pria dan mihrab. Ba­ngunan ini memiliki denah bulat dengan diameter 34 m.

Bangunan kedua yang berada di samping depan kiri dan kanan berbentuk bulat berdiameter 20 m dan masing-masing digunakan untuk liwan untuk anak-anak dan liwan untuk wanita. Bangunan sam­ping yang kedua masing-masing berbentuk bulat de­ngan diameter 11 m digunakan untuk perluasan li­wan anak-anak dan perluasan untuk liwan wanita.

Sedangkan bangunan samping ketiga masing- masing berdenah bulat dan berdiameter 8 masing- masing digunakan untuk tempat wudu pria (Utara) dan tempat wudu wanita (Selatan). Tidak didapat keterangan apakah kanak-kanak wanita juga di li­wan kanak-kanak, dan di mana mereka mendapatkan tempat wudu.

Masing-masing bangunan samping ini dihubungkan oleh selasar terbuka. Sedangkan antara bangunan utama dan bangunan samping pertama, kiri dan kanan dindingnya relatif bersinggungan se- hingga di sana langsung dapat dihubungkan dengan pintu kaca, tanpa selasar lagi.

Bangunan utama ditumpu oleh empat busur balok beton yang dibagi menjadi dua kelompok yang bersilang tegak lurus. Keempat balok inilah yang mendukung atap melengkung dari beton bertulang. Bangunan ini terdiri dari dua lantai, yakni lantai bawah yang tingginya sekitar 160 cm dari muka tanah dan lantai atas yang merupakan lantai mezanin.

Lantai kedua ini ditumpu oleh enam belas tiang yang bentuknya bulat dengan komposisi berkeliling dan satu kolom berada di pusat lingkaran.

Sedangkan bangunan samping masing-masing ditumpu oleh dua balok busur beton bertulang yang menyilang tegak lurus satu sama lainnya. Sedang­kan bangunan samping yang pertama kiri dan kanan, maka di samping masing-masing ditumpu oleh dua balok busur masih ditumpu lagi oleh 16 kolom pinggir dari beton bertulang yang berkeliling mem- bentuk lingkaran pembatas ruang.

Pada kompleks masjid baru ini ternyata berbeda dengan pola masjid di Indonesia seumumnya. Di masjid ini tidak ditemukan serambi. Hal ini tidak ditemukan dalam pola masjid tradisional tetapi bisa terlihat pada pola bangunan langgar/surau. Sebagai gantinya terdapat teras depan yang terbuka dan merupakan anak tangga yang jumlahnya delapan ting- kat dan masing-masing lebarnya lebih 120 cm, jadi untuk satu saf sembahyang. Namun sayang, bentuk­nya yang melingkar ini menyebabkan arah makmum ini tidak semuanya ke arah kiblat tetapi justru ke arah tiang sentral bangunan utama. Di depan teras ini terdapat plaza yakni halaman depan yang dirata- kan dan diperkeras dengan pasangan batu bata jenis klinker. Plaza ini menghubungkan bangunan in- duk dengan Jalan Semeru di depan tapak. Di bagian yang berhubungan dengan jalan tersebut terdapat li­ma buah pintu masuk utama yang masing-masing lebarnya 5 m.

Di samping ketujuh bangunan berbentuk dome itu, di samping Selatan gerbang masuk utama terda­pat sebuah menara dengan denah bawah berbentuk bulat dengan diameter 3 m dan tinggi 33 m. Menara ini dibuat dengan struktur beton bertulang berbentuk bulat dan di tengahnya terdapat tangga melingkar ke atas, dan di puncaknya terdapat ruang untuk meletakkan 8 buah pengeras suara dan di atasnya ditutup dengan bentuk kubah dari metal dan terdapat simbol bulan bintang di puncaknya.

Program masjid jamik yang lebih ditekankan se­bagai pusat peribadatan ini terdiri dari ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Liwan dewasa pria lantai I …….. 910 m2
  2. Liwan dewasa pria lantai II …… 490 m2
  3. Liwan wanita ………………………. 314 m2
  4. Liwan anak-anak ………………….. 314 m2
  5. Liwan tambahan wanita ………… 95 m2
  6. Liwan tambahan anak-anak …… 95 m2
  7. Tempat wudu pria ………………… 50 m2
  8. Tempat wudu wanita…………….. 50 m2
  9. Mihrab, mimbar, ruang persiapan khatib dan ruang mekanikal 78 m2

Sistem penerangan pada bangunan liwan yang terdapat pada lima bangunan berkubah memanfaatkan sinar matahari secara optimal. Hampir semua dindingnya yang melingkar terbuat dari pintu dan jendela kaca yang lebar-lebar. Sedangkan penerangan di bangunan tempat wudu juga memanfaatkan sinar matahari melalui pembukaan bagian atas dinding. Penerangan malam hari menggunakan lam- pu listrik yang dikontrol dari ruang mekanik di sebelah Selatan mihrab. Lampu ditanam di langit-langit dengan pola bebas. Sedangkan lampu di liwan pria bagian bawah dipasang pada langit-langit dengan pola melingkar, yang sekaligus menyesuaikan ben­tuk melingkar dari pola langit-langitnya yang berorientasi ke titik pusat pada kolom sentral yang menyangga lantai mezanin itu. Sedangkan di tengah-tengah ruang mezanin ini tergantungkan lampu kristal yang anggun, tetapi tidak memiliki skala yang memadai dengan ukuran ruangannya.

Penghawaan juga memanfaatkan aliran udara dengan membuat jendela kaca dengan krepyak ka­ca Nako. Dengan demikian maka dapat terjadi ventilasi silang yang cukup. Dengan demikian maka kecuali ruang mihrab maka semua ruang lainnya tak menggunakan ventilasi buatan.

Perlu ditambahkan bahwa di bangunan utama terdapat ventilasi dan penerangan yang terletak pa­da atap dan terletak di antara dua balok busur yang searah.

Tata suara bentuk dome agak sulit mengingat bahwa bentuk atap yang cekung dapat memantulkan suara apalagi dengan material yang keras dan licin. Oleh karena itu maka langit-langit bangunan berkubah ini diselesaikan dengan penutup dari bahan karpet yang bertekstur kasar sehingga diharap- kan dapat menyerap suara. Pengeras suara dipa­sang di langit-langit secara merata sehingga dengan sekalian lampu-lampunya maka seolah-olah di la­ngit-langit terdapat banyak bintang bertaburan apa­lagi bentuk-bentuknya dipilih yang berpola bulat.

Sistem sanitasi diselesaikan secara baik de­ngan peralatan modern. Air bersih diambil dari tiga buah sumur. Dengan dua buah pompa air sumur disedot dan disalurkan ke bak reservoir yang terdapat pada masing-masing bangunan tempat wudu. Dari reservoir ini air baru disalurkan ke tempat wudu de­ngan kran-kran air yang mewah. Tempat wudunya dibuat melingkar dengan lorong sirkulasi yang cukup longgar. Dindingnya dilapisi porselin dan lantainya dibuat dari tegel wavel warna kuning. Di sini ternyata tidak tersedia tempat mandi dan WC, dan ti­dak terlihat jelas di mana tempat untuk berhajat itu harus dilakukan. Mungkinkan harus ke masjid lama di seberang jalan atau memang fasilitas itu tidak dianggap penting, atau fasilitas itu belum sempat di- bangun, tiada informasi yang didapat.

Kebersihan bangunan suci ini mendapat tempat utama. Pertama letak lantai bangunan yang tingginya lebih dari 150 cm di atas permukaan tanah sekitar, kedua bahan bangunan yang digunakan bermu- tu prima tahan lama dan mewah seperti tegel mar­iner ukuran 60 x 120 cm di ruang liwan, kaca jendela dan pintu yang lebar, langit-langit liwan pria bagian bawah yang terdiri dari garis-garis dari papan kayu jati kelas prima dengan dipolitur halus licin. De­mikian pula kolom beton yang berbentuk bulat diselesaikan dengan lapisan papan jati kualitet prima dan di bagian bawahnya terdapat cincin kuningan melingkar sebagai material transisi dengan lantai da­ri marmer. Dengan demikian maka tingkat kemewahannya ternyata juga memperoleh tempat prima.

Pola Masjid ‘Baitul Amin’ Jember merupakan satu-satunya pola baru yang lama atau pola lama yang baru, khususnya di Jawa Timur dan mungkin satu-satunya di Indonesia. Dengan demiki­an maka ternyata dalam alam kemerdekaan di mana telah muncul tenaga-tenaga ahli muslim bangsa sendiri serta kesempatan membangun yang memadai dan luput dari dunia kemiskinan, kungkungan penjajah atau tekanan dari kaum komunis, maka bermunculanlah kreasi-kreasi baru pada arsitektur masjid di Jawa Timur yang ikut memperkaya khasanah arsitektur masjid di persada Indonesia tercinta.
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Dian K, Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur; Ir. Zein M. Wiryoprawiro
Penerbit Impresium: Surabaya: Bina Ilmu,  1987
CB-D13/1986-6[1] DDC: 726.2

Pengrajin Bedug dan Alat Musik Rebana Kediri

Kerajinan pembuatan Bedug dan Alat Musik Rebana yang ada di RT 01 RW 01 Dusun Karang Nongko Desa Sumberagung Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri ini dirintis oleh Bapak Purnomo mulai tahun 1998, diawali dengan belajar secara otodidak dari Jombang dan Jepara pertama kali dibuat dengan alat produksi yang sangat sederhana dan modal seadanya, namun setelah mendapatkan bantuan peralatan dari Dinas Koperindag Kabupaten Kediri berupa mesin bubut, maka hasil produksi bedug dan alat musik rebana kualitasnya semakin baik dan meningkat, sehingga sangat berpengaruh terhadap pemasaran hasil produksi, utamanya untuk pangsa pasar Kediri dan sekitarnya serta permintaan dari luar kota mulai banyak.Bedug Kediri.

Bedug senantiasa dikaitkan dengan media panggil peribadatan. Ada pendapat tradisi bedug dikaitkan dengan budaya Cina. Adanya Bedug dikaitkan dengan ekspedisi pasukan Cheng Ho abad ke-15. Laksamana utusan kekaisaran Ming yang Muslim itu menginginkan suara bedug di masjid- masjid, seperti halnya penggunaan alat serupa di kuil-kuil Budha di Cina. Ada pula pendapat bedug berasal dari tradisi drum Cina yang menyebar ke Asia Timur, kemudian masuk Nusantara.

Bedug Kediri...

Bedug adalah alat musik tabuh seperti gendang. Bedug merupakan instrumen musik tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional, baik dalam kegiatan ritual keagamaan maupun politik. Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengenai waktu salat atau sembahyang. Bedug terbuat dari sepotong batang kayu besar atau pohon enau sepanjang kira-kira satu meter atau lebih. Bagian tengah batang dilubangi sehingga berbentuk tabung besar. Ujung batang yang berukuran lebih besar ditutup dengan kulit binatang yang berfungsi sebagai membran atau selaput gendang. Bila ditabuh, bedug menimbulkan suara berat, bernada khas, rendah, tetapi dapat terdengar sampai jarak yang cukup jauh.dari masjid atau mushola, sehingga alat ini sangat diperlukan untuk memperbesar syiar Islam.

Bedug Kediri0002

Pembuatan Bedug dan alat musik Rebana terdiri dari, Kayu, Cat, Dempul, Plitur, Paku dan Kulit hewan yang biasa dibuat sebagai bahan baku bedug antara lain kulit kambing, sapi, kerbau, dan banteng. Kulit sapi putih memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan kulit sapi coklat. Sebab, kulit sapi putih lebih tebal dari pada kulit sapi coklat, sehingga bunyi yang dihasilkannya akan berbeda disamping, keawetannya yang lebih rendah. Kemudian, kulit tersebut direndam ke dalam air detergen sekitar 5-10 menit. Jangan terlalu lama agar tidak rusak. Lalu, kulit dijemur dengan cara dipanteng (digelar) supaya tidak mengerut. Setelah kering, diukur diameter kayu yang sudah dicat dan akan dibuat bedug. Seteleh selesai diukur, kulit tersebut dipasangkan pada kayu bonggol kayu yang sudah disiapkan. Proses penyatuan kulit hewan dengan kayu dilakukan dengan paku dan beberapa tali-temali.

Bedug Kediri..

Proses pembuatan Bedug ini akan memakan waktu 2 (dua) minggu dengan catatan cuaca panas dan tidak terjadi hujan. Dengan middle standar berdiameter 1 m dan kayu mahoni, sedangkan untuk alat musik Rebana 1 (satu) Set terdiri dari 6 terbang, 3 bungo, 2 bass serta 1 perkusi. Sedangkan tenaga kerja dalam pembuatan bedug dan alat musik Rebana ini dilaksanakan oleh anggota keluarga sendiri. **

Bedug Kediri,

Kontak Person Bapak Purnomo Dusun Karangnongko RT. 01 RW. 01 Desa Sumberagung Kecamatan Plosoklaten Kabupaten Kediri Nomor HP. 085855892095(wk-kominfo)

Majalah GEMA KELUD, Edisi 2 / April-Juni 2013 halaman 38

Pulau Bawean 1

Pulau Bawean sebagai sebuah pulau yang berada di Laut Jawa, yaitu di antara Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan, Pulau Bawean memiliki posisi geografis yang cukup strategis. Untuk mencapai bagian timur kepulauan Nusantara, Pulau Bawean ikut memegang peranan sebagai salah satu lokasi transit bagi alat perhubungan laut di masa lalu. Mengingat kedudukannya sebagai salah satu mata rantai dari jalur perdagangan dan politik, tidak heran apabila Pulau Bawean sejak dulu merupakan tempat yang selalu diperebutkan oleh kelompok-kelompok kekuatan tertentu.

Berdasarkan beberapa sumber, diketahui bahwa suatu kelompok kekuatan di Pulau Jawa ikut memperebutkan Pulau Bawean. Di bawah pimpinan Ratu Kalinyamat yang meninggal sekitartahun 1579, Jepara sebagai salah satu pusat perdagangan dan politik di pesisir utara Pulau Jawa memiliki pengaruh yang cukup besar di wilayah perairan Laut Jawa. Untuk mempertahankan hal itu, pada tahun 1593, Pangeran Jepara — kemenakan sekaligus anak angkat Ratu Kalinyamat– yang menjadi penguasa Jepara, memerintahkan pasukannya untuk menduduki Pulau Bawean (Graaf & Pigeaud,1985).

Selanjutnya pada tahun 1619 ketika kota Tuban ditundukkan oleh Sultan Agung dari Mataram, Pulau Bawean dijadikan tempat pelarian oleh Pangeran Dalem, penguasa Tuban (Graaf & Pigeaud,1985). Tidak diperoleh keterangan tentang kelompok kekuatan mana yang waktu itu memegang kekuasaan atas Pulau Bawean. Hanya pada tahun 1622, seperti yang disebut oleh sumber Belanda, diketahui bahwa Pulau Bawean merupakan wilayah yang dikuasai Surabaya (Graaf, 1986).

Sumber lain juga menyebutkan adanya utusan Sunan Giri yang sempat menetap di Pulau Bawean dalam pelayarannya menyebarkan agama Islam ke Pulau Kalimantan dan pulau-pulau kecil di bagicin timur Nusantara. Kisah tentang kejadian ini masih hidup dalam bentuk cerita turun-temurun pada masyarakat Pulau Bawean sekarang. Begitu pula halnya dengan kisah kedatangan tokoh-tokoh lain dari berbagai tempat dan maksud ke Pulau Bawean.

Dapat disebutkan di sini adanya orang asing yang menulis tentang Pulau Bawean, walaupun tidak secara khusus meneliti data arkeologi, yakni JE Jasper (1906) dan C Lekkerkerker (1935). Selain itu, peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pernah pula berkunjung ke pulau tersebut pada tahun 1970-an. Di luar hasil kerja mereka, informasi yang berhubungan dengan sumberdaya arkeologi Pulau Bawean masih sangat terbatas.

B.  PERMASALAHAN
Dari berbagai sumber sejarah yang ada, diketahui bahwa di masa lalu Pulau Bawean mempunyai peran yang cukup penting dalam percaturan politik maupun ekonomi. Meskipun demikian, belum banyak yang diungkapkan mengenai bukti-bukti fisik yang menunjang keterangan yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah tersebut di atas. Permasalahan yang akan diungkapkan melalui penelitian ini adalah sejauh mana bukti fisik atau data arkeologis dapat menunjang keterangan yang disebutkan dalam sumber- sumber sejarah. Selanjutnya akan diupayakan untuk mengungkapkan pula beberapa aspek kehidupan di Pulau Bawean di masa lalu melalui tinggalan arkeologis maupun etno-arkeologisnya, misalnya saja aspek sosial-budaya dan sosial-ekonomi

C.  TUJUAN DAN SASARAN PENELITIAN
Penelitian arkeologi Islam di Pulau Bawean tentu tidak lepas dari masalah yang berkaitan dengan proses Islamisasi di Nusantara. Hingga saat ini, Pulau Bawean sebagai salah satu lokasi transit, yang menempatkannya sebagai pusat berkumpulnya manusia dengan berbagai ragam budaya dan kepentingannya di masa pertumbuhan dan perkembangan Islam di Indonesia, belum banyak diteliti.

Mengingat hal tersebut di atas, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang karakter sisa budaya di Pulau Bawean. Dengan mengetahui karakter sisa budaya tersebut, diharapkan dapat diungkapkan pula berbagai aspek kehidupan masyarakat Bawean di masa lalu. Dengan demikian kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya mencari, mengumpulkan, dan melengkapi informasi mengenai sumberdaya arkeologi wilayah tersebut, khususnya yang bercorak Islam. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat menunjang usaha pengungkapan berbagai aspek kehidupan budaya masyarakatnya pada masa pertumbuhan dan perkembangan Islam. Keseluruhannya dapat pula dikaitkan dengan upaya pengamanan dan pelestarian sisa hasil budaya masyarakat Indonesia masa lampau, serta kemungkinan pengembangan dan pemanfaatannya.

Berkenaan dengan hal itu, sasaran penelitian kali ini adalah seluruh tinggalan di wilayah Pulau Bawean Semuanya diarahkan untuk menjaring pengenalan berbagai sumber daya arkeologinya, baik dari segi seni bangun atau seni hias, pola penyebaran situs dan tinggalan lepasnya, maupun latar belakang sejarah dan etnografis.

D. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian bertipe eksploratif dengan penalaran induktif. Gambaran karakter sisa kebudayaan diharapkan terjaring melalui generalisasi atas hasil analisis terhadap setiap bentuk data yang didapat di lapangan. Sebagai suatu kegiatan eksploratif maka penelitian dilakukan dalam bentuk survei. Pelaksanaan survei meliputi langkah-langkah sebagai berikut.

1.    Plotting situs yang dijumpai di wilayah penelitian.
2.    Observasi dan pencatatan objek-objek arkeologi berikut kaitannya dengan lingkungan di mana objek tersebut berada.
3.    Perekaman data dalam bentuk gambar dan foto.
4.    Wawancara terbatas untuk keperluan arkeologi sehubungan dengan keberadaan situs.

Hasil survei tadi, dalam batas tertentu merupakan data yang akan dianalisis. Pelaksanaan analisis itu sendiri merupakan proses pengolahan atas data arsitektural, seni hias, dan sebagainya. Tahapannya meliputi analisis awal yang dilakukan secara umum terhadap objek arkeologi selama kegiatan survei berlangsung dan analisis lain yang berkonteks, misalnya analisis lokasional.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Berita Penelitian arkeologi N0. 4, Hasil Budaya Masyarakat Pulau Di Pulau Bawean, Jawa Timur. Yogyakarta 1998, hlm. 1-3

 

To’-oto’

To’-oto’ Sebagai Tindakan Sosial-ekonomi, tujuan dilakukannya kegiatan arisan dalam strata sosial apapun di Indonesia ini memiliki dua tujuan mendasar, yakni mengakrabkan sesama anggotanya dan adanya motif ekonomi. Hanya saja motif mana dari kedua motif tersebut yang lebih dominan pada tiap-tiap kelompok arisan akan berbeda. Demikian pula dengan to’oto’ sebagai kelompok arisan orang Madura di Surabaya. Sesuai dengan keberadaan mereka sebaqai kaum pendatang dengan tingkat sosial-ekonomi yanq rata-rata termasuk golongan menengah ke bawah, motivasi didirikannya suatu kelompok to’-oto’ pasti pada mulanya didasari oleh unsur kekerabatan/kesukuan pada saat ini lebih didominasi motif-motif ekonomi.
Pada awal perkembangannya to’-oto’ (yang secara harafiah artinya: kacang, yakni makanan ringan yanq selalu disuguhkan setiap kali diadakan pertemuan kelompok orang-orang Madura) adalah perkumpulan kedaerahan orang-orang dari Sampang dan Banqkalan yang berada di perantauan yang bertujuan untuk menguatkan ikatan kekerabatan dan ikatan persaudaraan antar sesama daerah asal. Perkumpulan kedaerahan ini adalah fenomena yang umum didapati pada kaum perantauan dari dan di daerah manapun untuk saling bertukar pengalaman dan berbagai alasan primordial lainnya seperti untuk mempererat kekerabatan dan keakraban sesama perantau dari daerah asal yang sama. Demikianpun dengan to’-oto’ pada saat mulai berdirinya, seperti yanq dikemukakan oleh salah seorang informan (yang kebetulan adalah seoranq ketua kelompok to’- oto’) bahwa ketika pertama kali mendirikan to’-oto’ niatnya adalah mengumpulkan saudara dan sanak famili yang masih satu daerah yang tersebar di wi1ayah Surabaya agar ikatan kekerabatan mereka tidak hilang serta untuk membatasi budaya lain masuk.
Di dalam pertemuan-pertemuan tersebut selain dilakukannya saling tukar pikiran mengenai berbagai hal, saling berbagi perasaan sebagai sesama kaum pendatang di kota serta saling bersilaturahmi, kemudian muncul usulan dari yang hadir untuk saling membantu antar sesama yang hadir dalam masalah ekonomi. Usulan disetujui oleh yang hadir dalam pertemuan tersebut untuk selanjutnva dikoordinasikan oleh penyelenggara pertemuan. Semula sumbangan dari masing-masing yang hadir bersifat sukarela sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk kemudian disimpan oleh koordinator perkumpulan atau orang yang ditunjuk sebagai pemegang uang untuk mencatatnya dalam sebuah buku untuk kemudian diberikan dan atau dipinjamkan kepada angaota kelompok yang paling membutuhkan. Sesudah berjalan cukup lama akhirnya muncul ide agar kegiatan saling membantu ini dilembagakan dalam suatu kegiatan semacam arisan; yakni dengan menentukan batas minimum uang yang disumbangkan sedangkan akumulasi uang sumbangan yang terkumpul diberikan kepada setiap anggota kelompok secara bergiliran berdasarkan prioritas kebutuhan, yakni apabila ada warga yang membutuhkan uang atau untuk kepentingan yang mendesak maka ia dapat giliran memperoleh uang terlebih dahulu.

Waktu pertemuannya pun kemudian disepakati secara periodik dalam jangka waktu tertentu. Demikianlah dari suatu kegiatan sosial yang bersifat informal kemudian berkembang sebagai kegiatan ‘formal’ dalam arti memiliki aturan-aturan tertentu yang disepakati bersama.Dalam perkembangan selanjutnya ketika manfaat ekonomis dari arisan to’-oto’ ini semakin dirasakan para anggota dan semakin populer di kalangan para pendatang, mulailah bermunculan kelompok-kelompok to’-oto’ baru yanq sengaja didirikan oleh orang-perorang maupun oleh kelompok kekerabatan tertentu. Dalam konteks ini sifat keangqotaannyapun mengalami perubahan, dari yang semula orang-orang yang masih sekerabat dekat atau sekelompok setane’an menjadi tidak dibatasi oleh hal-hal tersebut Masing-masing orang bisa menentukan sendiri ke kelompok mana ia akan bergabung. Pertimbangan-pertimbangan yang mempengaruhi kecenderungan seseorang, memasuki kelompok to’-oto’ tertentu biasanya adalah figur ketua kelompok to’-oto’ tersebut serta ‘kredibilitas’ kelancaran kelompok tersebut. Seorang informal mengatakan:
“… kalau mau ikut to’-oto’ lihat ketuanya dulu. Kalau ketuanya berwibawa, jujur dan bisa mengatur anggotanya maka to’-oto’nya akan maju. Kalau ketuanya sembarangan saja to’oto’nya cepat bubar…”.
Jadi dalam menentukan kelompok mana yang akan dimasuki seorang calon anggota diandaikan telah memiliki rasionalitas tertentu, baik oleh rasionalitas nilai maupun rasionalitas formal-instrumental.

Sebagai suatu bentuk Wolompok arisan, berbeda dengan arisan pada umumnva, to’-oto’ mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut.:
(1) Kalau pada umumnya arisan-arisan di pulau jawa lebih banyak dikerjakan oleh wanita yang memegang keuangan keluarga, namun pada kelompok to’oto’ beranggotakan para pria yang notabene adalah kepala keluarga.
(2) Kalau pada arisan umumnya diperlukan waktu hanya beberapa jam dari Jam pelaksanaannya, maka pada to’-oto’ dibutuhkan waktu hingga dua hari.
(3) Dalam hal hidangan makanan dan hiburan, biasanya pada arisan dihidangkan sewaiarnva, tetapi pada kegiatan to’-oto’ dihidangkan dalam berbagai macam makanan dan diundangnya grup-grup kesenian tertentu seperti sandur. Hal ini tergantung dari jenis to’-oto’ yang dilaksanakan. Dalam hal ini dibedakan ada 3 (tiga) jenis to’- oto’ yakni: to’-oto’ lit-dulit yang paling sederhana karena tanpa hiburan dan dengan hidangan yang secukupnya sehingaa membutuhkan biaya yang lebih sedikit. Selanjutnva to’-oto’ piringan yang menggunakan hiburan seperti tape recorder, orkes maupun karaoke dan dengan bermacam suguhan yang diletakkan di atas piring dengan demikian membutuhkan biaya yang relatif lebih banyak. Sedangkan biaya yang lebih banyak lagi akan dikeluarkan apabila jenis to’-oto’ yang diselenggarakan adalah to’-oto’ sandur karena mengundang grup kesenian khas Madura sandur (seni tayub atau tandhak yang khas Madura. Selain itu dalam to’-oto’ jenis ini juga menghidangkan makanan yang lebih beragam dan dengan prosesi kegiatan yanq lebih rumit dan formal yang ditandai dengan dikenakannya pakaian adat Madura oleh ketua, para pengurusnya dan pengurus kelompok lain yang diundang.
(4) Dalam arisan umumnya jumlah iuran anqqota sudah ditentukan nilai nominalnva dan dibayarkan secara rutin sebesar nilai nominal tersebut, sedangkan dalam to’-oto’ meskipun besarnya uang nominal iuran sudah ditentukan tetapi kenyataan yanq ada lebih mirip buwuhan, yakni seorang anggota memberikan uanq di atas nominal uanq vanq diberikan oleh penyolenggara to’-oto’ (tuan rumah) dibanding ketika yang bersangkutan datang ke rumahnya saat dirinya menjadi ‘tuan-rumah’ to’-oto’ pada peri ode yang telah lalu. Kelebihan uang dari jumlah simpanan pokok disebut tumpangan yang bisa dipahami sebagai semacam pinjaman lunak antar anggota yang wajib di kembalikan pada waktunya nanti.
(5) Anggota kelompok tertentu bisa berpartisipasi pada kegiatan to’-oto’ yanq diadakan anggota kelompok yang lain, atas selain ketua kelompok dimana ia tergabung secara resmi. Hal ini sering disebut dengan istilah tumpangan antar kelompok. Sehingga ketika ia sendiri menyelenggarakan to’-oto’, orang yang memperoleh tumpangan tadi pada saatnya nanti akan bertandang ke rumahnya untuk membalas tumpangannya tadi, sehingga dengan demikian ia berharap akan momperoleh ‘hasil’ yang lebih banyak lagi yang tidak semata-mata dari kelompoknya.

Besarnya uang yang diterima oleh seorang penvelenggara to’-oto’ berbeda-beda tergantung dari besarnya uang angsuran dan jumlah anggota kelompok serta sering-tidaknya ia mengikuti to’-oto’ kelompok lain. Besarnya iuran pada masing-masing kelompok berbeda berdasarkan kemampuan ekonomi rata-rata anggota kelompok tersebut yang sebelumnya disepakati bersama oleh ketua dan anggotanya. Dalam satu periode putaran (yakni sesuai dengan jumlah anggota) jumlah iuran tetap sedangkan besarnya tumpangan bebas dengan nilai minimal sebesar pokok angsuran. Dalam putaran periode berikutnya besarnya iuran pokok bisa ditingkatkan jumlahnya setelah melalui musyawarah anggota. Jumlah anggota kelompok juga bervariasi tergantung sudah lama atau belum kelompok tersebut berdiri serta sejauh mana kredibilitas ketua dan kelompok tersebut di kalangan orang-orang Madura di Surabaya. Jumlah anqgota masing-masing kelompok to’-oto’ berkisar antara 20 orang sampai 70 orang. Kelompok yanq anggotanya sedikit (kurang dari 20 orang) biasanva adalali kelompok yanq relatif belum lama berdirinva sedangkan kelompok yang beranggotakan lebih dari 50 anggota biasanya adalah kelompok yang sudah lama bertahan, beberapa di antaranya ada yang sudah berusia 30 tahun.

Semakin banyak jumlah anggota dalam suatu kelompok serta anggota kelompok lain yang ikut ‘nimbrung’ dalam kelompok tersebut semakin banyak jumlah uang yanq diperoleh anggota yang mengadakan atau mendapat giliran melaksanakan kegiatan to’-oto’. Berdasarkan informasi seorang pedagang mebel antik Madura diketahui bahwa besarnya perolehan uang bervariasi mulai dari yang jumlahnya hanya ratusan ribu rupiah sampai puluhan juta rupiah, informasi terakhir dari informan tersebut. disebutkan bahwa kerabatnya pernah memperoleh uang sekitar 60 juta rupiah dalam satu kali pelaksanaan to’-oto’. Uang yang diperoleh tersebut, setelah dikurangi biaya administrasi untuk sekretaris dan bendahara (ketua tidak menerima upah) serta untuk biaya operasional seperti menyewa kursi, sound sistem dan lainnya, akan digunakan untuk berbagai keperluan yang dianggap penting seperti menambah modal usaha dalam berdagang, membangun atau memperbaiki rumah serta berbagai keperluan lain yang dianggap mendesak. Dalam beberapa kasus (meskipun jarang) perolehan uang tersebut juga digunakan sebagai ongkos naik haji. Hal yang terakhir ini bisa dipahami sebab memang bagi orang-orang Madura naik haji adalah obsesi umum orang Madura. Bergelar haji berarti memiliki gengsi sosial yang tinggi, yang sekaligus mencerminkan keberhasilan seseorang secara ekonomi, mengingat untuk bisa naik haji dibutuhkan uang yang tidak sedikit.
Berdasarkan informasi dari para anggota dan pengurus to’-oto’, jumlah kelompok yang terdapat di Surabaya saat ini diperkirakan sekitar 77 kelompok to’-oto’ yang tersebar di berbagai wilayah, dengan konsentrasi terutama di wilayah Surabaya Utara yang merupakan kantong-kantong pemukiman kaum pendatang dari Madura. Meskipun demikian karena terdapat anggota kelompok-kelompok tersebut berdomisili serara tersebar di barbagai wilayah Surabaya, maka pelaksanaan kegiatan to’-oto’ juga tersebar di berbagai wilayah tersebut sesuai dengan alamat. anggota yang mendapat giliran.
Berdasarkan observasi diketahui bahwa pada saat ini kegiatan to’-oto’ ini sudah menyebar ke berbagai kota di Jawa Timur seperti Malang dan Madiun, juga didapati di Jogjakarta, di Jakarta bahkan di kota Banjarmasin atau kota-kota lain yang terdapat cukup banyak migran yang borasal dari Sampang dan Bangkalan. Bahkan di Sampang dan Bangkalan pun kegiatan to’-oto’ ini dicoba diintrodusir oleh sebagian warganya, tetapi berdasarkan kesaksian beberapa informan, kegiatan di tempat asal kaum migran ini justru tidak jalan atau tidak lancar sebagaimana halnya kegiatan to’oto’ di daerah rantau.

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Drs. Edy Herry Pryhantor: Kegiatan To’-Oto’ Di Kalangan Etnik Madura Surabaya; Studi Tentang Mekanisme Survival Etnik Pendatang di Kota Berkebudayaan Majemuk, Surabaya: Lembaga Penelitian Universitas Airlangga. hlm. 17 – 25

Aduan Sapi

Aduan Sapi merupakan salah satu obyek wisata berupa pertunjukan tradisional di Bondowoso Jawa Timur, merupakan satu-satunya di Indonesia. Setidak-tidaknya di pulau Jawa. Aduan Sapi ini patut ditonton oleh segala usia. Terlebih lagi, atraksi tradisional ini selain sebagai hiburan bagi masyarakat Bondowoso dan Jawa Timur, juga mempunyai daya tarik kepariwisataan. Sekaligus melestarikan budaya tradisi masyarakat.
Aduan sapi merupakan kebanggaan bagi masyarakat untuk dapat di pertontonkan kepada wisatawan Nusantara ataupun yang dari Mancanegara. Bagi masyarakat kabupaten Bondowoso, acara ini tidak dapat dilewatkan begitu saja. Aduan sapi dapat saja diadakan dalam waktu tiga bulan sekali atau kurang. Sekurang-kurangnya setiap tahun mesti ada paling sedikit dua kali acara Aduan Sapi.

Tempat Atraksi Aduan Sapi

Arah utara kota Bondowoso pada jalan raya Bondowoso—Situbondo, pada kilometer 6, kita akan tiba di Kecamatan Tapen. Tempat itulah merupakan arena Aduan Sapi, kira-kira berjarak satu kilometer sebelah timur jalan raya. Arena itu sendiri hanya berjarak kira-kira 500 meter dari Dam (Bendung) Sampeyan Baru.
Arena mengadu sapi itu memang cukup luas. Kira-kira memakan areal 2 hektar bahkan lebih. Cukup luas untuk tempat parkir kendaraan, untuk orang-orang sekitar berjualan dan gelanggangnya sendiri. Gelanggang aduan yang selebar kira-kira hampir satu hektar dikelilingi oleh pagar dari bambu. Benar-benar berbentuk pagar, karena dianyam jarang-jarang dan sebagian dengan bambu-bambu utuh. Tinggi pagar tersebut sampai dua meter lebih, dan cukup kokoh.
Tentunya untuk menjaga kalau-kalau sapi-sapi yang diadu itu menjadi kalap, juga untuk menjaga agar penonton pendukung masing-masing jagonya tidak memasuki gelanggang aduan. Sekeliling gelanggang yang luas dan di belakang pagar ter¬sebut, dibuat bangku-bangku dari batang-batang bambu yang kokoh. Bersusun hingga lima tingkat seperti bangku – bangku dalam stadion olah raga diatur mengelilingi seluruh gelanggang, diberi atap dari daun tebu. Teduh dari sinar matahari. Karena susunan bangku-bangku yang bertingkat, pintu masuk pun dari bagian bawah bangku-bangku tadi. Pada bagian gerbang utama terdapat podium khusus dengan beralaskan anyaman bambu (gedek ; Jawa) dan untuk memasukinya harus memanjat tangga bambu yang dibuat seperti tangga naik rumah. Tempat tersebut untuk para undangan dan panitia. Di sampingnya masih ada podium lagi yanq ukurannya lebih kecil. Kalau pada podium bagi undangan diberi kursi-kursi, maka pada podium ini orang duduk di lantai gedek. Ini tempat anggota panitia, juri dan pengamat.
Di gelanggang aduan sendiri, terdiri dari tanah bekas sawah yang dikeringkan dan keras. Memang, aduan sapi pada umumnya dilakukan pada musim-musim kemarau di musim yang menurut perhitungan sudah tidak ada hujan lagi. Ada juga melesetnya, seperti aduan sapi pada bulan Mei yang jatuh pada tanggal-tanggal 13, 14, 27 dan 28. Nyatanya, hujan masih turun dengan lebat. Salah satu obyek wisata berupa pertunjukan yalah Aduan Sapi di Bondowoso. Justru pertunjukan ini merupakan satu-satunya atraksi demikian di Indonesia. Setidak-tidaknya di pulau Jawa.Secara tradisional, Aduan Sapi hanya dilangsungkan di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Sapi-sapi jantan yang dilagakan itu saling menanduk lawannya tanduk pun ikut berperan, namun tak setetes pun darah keluar. Sehingga Aduan Sapi patut ditonton oleh segala usia. Terlebih lagi, atraksi tradisional ini selain sebagai hiburan bagi masyarakat Bondowoso, juga mempunyai daya tarik kepariwisataan. Sekaligus melestarikan tradisi budaya masyarakat.

UPACARA DAN TATA CARA
Aduan Sapi tidak begitu saja dibuka. Ada upacaranya yang menarik yalah karena diawali dengan TARIAN ADUAN SAPI. Karena masyarakat Bondowoso boleh dikata kira-kira 70 persen bernenek moyang dari Madura, dengan sendirinya tarian tersebut dipengaruhi oleh gerak tari Madura. Setidak-tidaknya pengaruh dari tarian masyarakat di Sumenep. Selesai tari-tarian, panitia aduan menyatakan, bahwa segera diadakan aduan gelombang pertama. Suaranya yang bertalu-talu memekakkan telinga berkumandang ke seluruh lapangan. Panitia mulai minta beberapa ekor sapi yang akan diadu dibawa masuk ke gelanggang oleh para pemiliknya atau pengasuh sapi itu.
Beberapa ekor sapi yang masing-masing diapit oleh dua orang memasuki gelanggang yang mulai panas oleh terik matahari. Beberapa orang wasit dengan selendang diikat pada leher atau pinggangnya siap untuk melaksanakan tugasnya. Para wasit itu yang akan memimpin aduan. Tata cara aduan itu dilakukan secara terbuka di depan penonton yang memenuhi bangku-bangku bambu sekeliling gelanggang.
Kepada pemilik atau pengasuh sapi ditanyakan, apakah Umpamanya sapi pak Dollah berani ditandingkan dengan sapi pak Kusen ?. Kadang-kadang disebut “nama” sapi aduan yang diberikan oleh pemiliknya, seperti Bledek, Seno, Samson dan lain-lain. Pemilik atau pengasuh sapi aduan saling melihat calon lawannya. Apabila dianggap oleh salah satu fihaknya, bahwa sapi miliknya bukan ukurannya dengan lawan tandingnya, maka ia berhak tidak mempertandingkan. Dicarilah lewat wasit, calon yang berani melawan sapi yang ditawarkan itu.
Dalam menawarkan lawan aduan itu kadang-kadang memerlukan waktu cukup lama. Wasit pun ikut memegang peranan memberikan nasehat kepada yang akan mempertandingkan sapinya, kalau ukuran atau “peringkat” sapinya tidak seimbang. Jadi, tidak ada bedanya dengan peringkat – peringkat dalam pertandingan tinju. Apabila telah dicapai kesepakatan, dilaporkan pada panitia perlombaan dan segera diumumkan kepada seluruh penonton melalui pengeras suara. Dengan gaya membakar semangat yang saling mempertandingkan sapi aduannya, pembawa acara tersebut melalui pengeras suara kadang – kadang selain menyebut nama sapi (kalau oleh pemiliknya diberi nama), nama pemiliknya dan asal desanya.
Sementara satu pasangan sudah ditemukan untuk diadu, pemilik pasangan-pasangan lainnya berunding. Sedangkan pemilik atau pengasuh yang belum menemukan sapinya untuk diadu karena ukurannya tidak cocok, keluar gelang¬gang untuk memasuki tempat sapi-sapi dikumpulkan pada bagian belakang gelanggang. Menunggu giliran ukuran sapi lawannya yang cocok.

ADU KEPALA DAN TARIAN
Wasit mempunyai peran ganda. Selain memberi aba-aba agar aduan kedua ekor sapi dimulai, sekaligus mengawasi, memberi semangat pada dua pihak, dan juga ikut menari-nari dengan selendangnya. Sapi-sapi aduan tidak dilepas talinya. Meskipun tali itu hanya pendek saja untuk tidak mengganggu gerakan sang sapi. Masing-masing diapit oleh pemilik atau pengasuh- nya, seorang atau lebih.
Ketika dua ekor sapi jantan itu dihadapkan, segera saja saling maju dengan menundukkan kepala untuk mempergunakan tanduknya sebagai senjata. Karena masing-masing berusaha menanduk lawannya, maka yang beradu adalah kepala sapi-sapi itu untuk mendorong lawannya sekuat tenaga dengan kepalanya, diselingi teriakan, sorakan penonton, serta suara-suara memberi semangat untuk sapi-sapi yang bertanding itu melalui penge¬ras oleh pembawa acara.
Sering salah seekor, karena dorongan, terjatuh dan segera diserbu lawannya dengan menanduk bagian tubuhnya. Tetapi sapi yang terjatuh segera bangun menyerang lagi, dan kembali kepala lawan kepala. Kalau salah seekor merasa tidak kuat, maka sambil mundur didoroAduan Sapi merupakan salah satu obyek wisata berupa pertunjukan tradisional di Bondowoso Jawa Timur, merupakan satu-satunya di Indonesia. Setidak-tidaknya di pulau Jawa. Aduan Sapi ini patut ditonton oleh segala usia. Terlebih lagi, atraksi tradisional ini selain sebagai hiburan bagi masyarakat Bondowoso dan Jawa Timur, juga mempunyai daya tarik kepariwisataan. Sekaligus melestarikan budaya tradisi masyarakat.
Aduan sapi merupakan kebanggaan bagi masyarakat untuk dapat di pertontonkan kepada wisatawan Nusantara ataupun yang dari Mancanegara. Bagi masyarakat kabupaten Bondowoso, acara ini tidak dapat dilewatkan begitu saja. Aduan sapi dapat saja diadakan dalam waktu tiga bulan sekali atau kurang. Sekurang-kurangnya setiap tahun mesti ada paling sedikit dua kali acara Aduan Sapi.

Tempat Atraksi Aduan Sapi

Arah utara kota Bondowoso pada jalan raya Bondowoso—Situbondo, pada kilometer 6, kita akan tiba di Kecamatan Tapen. Tempat itulah merupakan arena Aduan Sapi, kira-kira berjarak satu kilometer sebelah timur jalan raya. Arena itu sendiri hanya berjarak kira-kira 500 meter dari Dam (Bendung) Sampeyan Baru.
Arena mengadu sapi itu memang cukup luas. Kira-kira memakan areal 2 hektar bahkan lebih. Cukup luas untuk tempat parkir kendaraan, untuk orang-orang sekitar berjualan dan gelanggangnya sendiri. Gelanggang aduan yang selebar kira-kira hampir satu hektar dikelilingi oleh pagar dari bambu. Benar-benar berbentuk pagar, karena dianyam jarang-jarang dan sebagian dengan bambu-bambu utuh. Tinggi pagar tersebut sampai dua meter lebih, dan cukup kokoh.
Tentunya untuk menjaga kalau-kalau sapi-sapi yang diadu itu menjadi kalap, juga untuk menjaga agar penonton pendukung masing-masing jagonya tidak memasuki gelanggang aduan. Sekeliling gelanggang yang luas dan di belakang pagar ter¬sebut, dibuat bangku-bangku dari batang-batang bambu yang kokoh. Bersusun hingga lima tingkat seperti bangku – bangku dalam stadion olah raga diatur mengelilingi seluruh gelanggang, diberi atap dari daun tebu. Teduh dari sinar matahari. Karena susunan bangku-bangku yang bertingkat, pintu masuk pun dari bagian bawah bangku-bangku tadi. Pada bagian gerbang utama terdapat podium khusus dengan beralaskan anyaman bambu (gedek ; Jawa) dan untuk memasukinya harus memanjat tangga bambu yang dibuat seperti tangga naik rumah. Tempat tersebut untuk para undangan dan panitia. Di sampingnya masih ada podium lagi yanq ukurannya lebih kecil. Kalau pada podium bagi undangan diberi kursi-kursi, maka pada podium ini orang duduk di lantai gedek. Ini tempat anggota panitia, juri dan pengamat.
Di gelanggang aduan sendiri, terdiri dari tanah bekas sawah yang dikeringkan dan keras. Memang, aduan sapi pada umumnya dilakukan pada musim-musim kemarau di musim yang menurut perhitungan sudah tidak ada hujan lagi. Ada juga melesetnya, seperti aduan sapi pada bulan Mei yang jatuh pada tanggal-tanggal 13, 14, 27 dan 28. Nyatanya, hujan masih turun dengan lebat. Salah satu obyek wisata berupa pertunjukan yalah Aduan Sapi di Bondowoso. Justru pertunjukan ini merupakan satu-satunya atraksi demikian di Indonesia. Setidak-tidaknya di pulau Jawa.Secara tradisional, Aduan Sapi hanya dilangsungkan di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Sapi-sapi jantan yang dilagakan itu saling menanduk lawannya tanduk pun ikut berperan, namun tak setetes pun darah keluar. Sehingga Aduan Sapi patut ditonton oleh segala usia. Terlebih lagi, atraksi tradisional ini selain sebagai hiburan bagi masyarakat Bondowoso, juga mempunyai daya tarik kepariwisataan. Sekaligus melestarikan tradisi budaya masyarakat.

UPACARA DAN TATA CARA
Aduan Sapi tidak begitu saja dibuka. Ada upacaranya yang menarik yalah karena diawali dengan TARIAN ADUAN SAPI. Karena masyarakat Bondowoso boleh dikata kira-kira 70 persen bernenek moyang dari Madura, dengan sendirinya tarian tersebut dipengaruhi oleh gerak tari Madura. Setidak-tidaknya pengaruh dari tarian masyarakat di Sumenep. Selesai tari-tarian, panitia aduan menyatakan, bahwa segera diadakan aduan gelombang pertama. Suaranya yang bertalu-talu memekakkan telinga berkumandang ke seluruh lapangan. Panitia mulai minta beberapa ekor sapi yang akan diadu dibawa masuk ke gelanggang oleh para pemiliknya atau pengasuh sapi itu.
Beberapa ekor sapi yang masing-masing diapit oleh dua orang memasuki gelanggang yang mulai panas oleh terik matahari. Beberapa orang wasit dengan selendang diikat pada leher atau pinggangnya siap untuk melaksanakan tugasnya. Para wasit itu yang akan memimpin aduan. Tata cara aduan itu dilakukan secara terbuka di depan penonton yang memenuhi bangku-bangku bambu sekeliling gelanggang.
Kepada pemilik atau pengasuh sapi ditanyakan, apakah Umpamanya sapi pak Dollah berani ditandingkan dengan sapi pak Kusen ?. Kadang-kadang disebut “nama” sapi aduan yang diberikan oleh pemiliknya, seperti Bledek, Seno, Samson dan lain-lain. Pemilik atau pengasuh sapi aduan saling melihat calon lawannya. Apabila dianggap oleh salah satu fihaknya, bahwa sapi miliknya bukan ukurannya dengan lawan tandingnya, maka ia berhak tidak mempertandingkan. Dicarilah lewat wasit, calon yang berani melawan sapi yang ditawarkan itu.
Dalam menawarkan lawan aduan itu kadang-kadang memerlukan waktu cukup lama. Wasit pun ikut memegang peranan memberikan nasehat kepada yang akan mempertandingkan sapinya, kalau ukuran atau “peringkat” sapinya tidak seimbang. Jadi, tidak ada bedanya dengan peringkat – peringkat dalam pertandingan tinju. Apabila telah dicapai kesepakatan, dilaporkan pada panitia perlombaan dan segera diumumkan kepada seluruh penonton melalui pengeras suara. Dengan gaya membakar semangat yang saling mempertandingkan sapi aduannya, pembawa acara tersebut melalui pengeras suara kadang – kadang selain menyebut nama sapi (kalau oleh pemiliknya diberi nama), nama pemiliknya dan asal desanya.
Sementara satu pasangan sudah ditemukan untuk diadu, pemilik pasangan-pasangan lainnya berunding. Sedangkan pemilik atau pengasuh yang belum menemukan sapinya untuk diadu karena ukurannya tidak cocok, keluar gelang¬gang untuk memasuki tempat sapi-sapi dikumpulkan pada bagian belakang gelanggang. Menunggu giliran ukuran sapi lawannya yang cocok.

ADU KEPALA DAN TARIAN
Wasit mempunyai peran ganda. Selain memberi aba-aba agar aduan kedua ekor sapi dimulai, sekaligus mengawasi, memberi semangat pada dua pihak, dan juga ikut menari-nari dengan selendangnya. Sapi-sapi aduan tidak dilepas talinya. Meskipun tali itu hanya pendek saja untuk tidak mengganggu gerakan sang sapi. Masing-masing diapit oleh pemilik atau pengasuh- nya, seorang atau lebih.
Ketika dua ekor sapi jantan itu dihadapkan, segera saja saling maju dengan menundukkan kepala untuk mempergunakan tanduknya sebagai senjata. Karena masing-masing berusaha menanduk lawannya, maka yang beradu adalah kepala sapi-sapi itu untuk mendorong lawannya sekuat tenaga dengan kepalanya, diselingi teriakan, sorakan penonton, serta suara-suara memberi semangat untuk sapi-sapi yang bertanding itu melalui penge¬ras oleh pembawa acara.
Sering salah seekor, karena dorongan, terjatuh dan segera diserbu lawannya dengan menanduk bagian tubuhnya. Tetapi sapi yang terjatuh segera bangun menyerang lagi, dan kembali kepala lawan kepala. Kalau salah seekor merasa tidak kuat, maka sambil mundur didorong lawannya, kemudian melarikan diri. Di sini biasanya sang lawan yang menang itu masih memburunya keliling setengah lapangan, sambil diburu oleh pemiliknya untuk dihentikan.
Peraturannya, baik yang akan mengadu sapi maupun penonton “dilarang keras membawa senjata tajam dan jenis senjata lainnya”. Untuk itu dalam setiap diadakannya aduan sapi, dijaga oleh kesatuan Kepolisian. Malahan pada gerbang masuk tempat penjualan karcis untuk menonton aduan sapi, terdapat pos Polisi yang dijaga satu regu. Di tempat itu dipasang papan pengumuman tentang peraturan-peraturan menghadiri acara aduan sapi.
Yang menang menerima hadiah uang dan piala. Banyak penonton yang saling bertaruh. Begitulah ADUAN SAPI di desa Tapen, Bondowoso, berlangsung dari pagi hingga petang hari. Penonton bukan saja dari daerah-daerah di wilayah Kabupaten Bondowoso, tetapi juga dari kabupaten-kabupaten lainnya. Malahan beberapa orang wisatawan mancanegara ikut menyaksikannya.
Dalam aduan sapi itu tidak ada darah yang bercucuran dari binatang yang diadu tersebut. Sapi-sapi aduan tersebut cukup jujur. Bila merasa tidak kuat, lari! Tidak emosional. Tradisi masyarakat Bondowoso ini berlangsung terus – menerus yang kurang memungkinkan bila dipindahkan ke lain daerah. masalahnya, bukan hanya aduannya, namun ada rasa keterikatan tradisi dan minat antara acara aduannya dengan lingkungannya.

AduanSapi, DINAS PARIWISATA DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR, SURABAYA , 1990
ng lawannya, kemudian melarikan diri. Di sini biasanya sang lawan yang menang itu masih memburunya keliling setengah lapangan, sambil diburu oleh pemiliknya untuk dihentikan.
Peraturannya, baik yang akan mengadu sapi maupun penonton “dilarang keras membawa senjata tajam dan jenis senjata lainnya”. Untuk itu dalam setiap diadakannya aduan sapi, dijaga oleh kesatuan Kepolisian. Malahan pada gerbang masuk tempat penjualan karcis untuk menonton aduan sapi, terdapat pos Polisi yang dijaga satu regu. Di tempat itu dipasang papan pengumuman tentang peraturan-peraturan menghadiri acara aduan sapi.
Yang menang menerima hadiah uang dan piala. Banyak penonton yang saling bertaruh. Begitulah ADUAN SAPI di desa Tapen, Bondowoso, berlangsung dari pagi hingga petang hari. Penonton bukan saja dari daerah-daerah di wilayah Kabupaten Bondowoso, tetapi juga dari kabupaten-kabupaten lainnya. Malahan beberapa orang wisatawan mancanegara ikut menyaksikannya.
Dalam aduan sapi itu tidak ada darah yang bercucuran dari binatang yang diadu tersebut. Sapi-sapi aduan tersebut cukup jujur. Bila merasa tidak kuat, lari! Tidak emosional. Tradisi masyarakat Bondowoso ini berlangsung terus – menerus yang kurang memungkinkan bila dipindahkan ke lain daerah. masalahnya, bukan hanya aduannya, namun ada rasa keterikatan tradisi dan minat antara acara aduannya dengan lingkungannya.

AduanSapi, DINAS PARIWISATA DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR, SURABAYA , 1990

Rumah Sakit Darmo,Surabaya

Rebut Peluang, Kembangkan DCC

Secara fisik, RS Darmo sangat mengagumkan. Bangunan arsitektur heritagenya tetap terjaga, taman dengan tetumbuhan hijaunya tetap asri dan menyejukkan.

RS DARMOTak heran pula bila pada April 2010 lalu, rumah sakityang dibangun pada 1919 ini menjadi salah satu wakil Indonesia dari Jawa Timur ke seleksi internasional dalam ajang 2010 Unesco Asia Pasific Heritage Awards for Cultural Heritage Conservation di Bangkok.

Tak hanya bangunan arsitektur yang membanggakan, RS Darmo juga terus berupaya meningkatkan profesionalisme demi memuaskan pelanggannya. Sejak 2009 lalu dilakukan penandatanganan kerjasama dengan FK Unair, RSUD Dr. Soetomo dan beberapa pihak lainnya, terutama untuk ketersediaan dokter-dokter spesialis.

Semakin ke depan, RS Darmo pun makin mantap dalam menjaga kualitas dan pelayanan kepada masyarakat.’Tahun ini, RS Darmo mengembangkan berbagai layanan unggulan, terutama untuk operasi penanganan masalah ginjal (Kidney Center), Endoscopy dan Radiotherapy,”terang Laksma TNI (Purn) Imam Soewono, dr., SpPD, Direktur RS Darmo.

Beberapa layanan untuk bidang nephrology dan urology, bisa ditemukan di RS Darmo. Sedang untuk keperluan cuci darah (hemodialisis), RS Darmo akan melengkapinya menjadi 15 alat dari 7 mesin yang ada sekarang.

Untuk tindakan bedah urology pun, RS Darmo bisa menjadi rujukan utama sebab memiliki dokter ahli dan peralatan lengkap seperti tindakan PNL, ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) dan GLL (Green Light Laser).Teknologi GLL untuk menangani pembesaran prostat ini bisa ditemukan di RS Darmo.

Sementara untuk tindakan endoscopy, RS Darmo bisa memberikan pelayanan berupa Arthroscopy (persendian), Laparoscopy Endoscopy untuk penanganan berbagai kasus secara minimal invasif. Bahkan dengan teknologi ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography) yang menggunakan alat dengan cara melewati mulut hingga mencapai titik penyakit yang hendak dilakukan penanganan.

Teknologi ERCP ini pun masih sangat terbatas di Surabaya. Penanganan bedah menggunakan teknologi ini bisa

ditangani oleh RS Darmo dengan dukungan dokter spesialis yang sudah mumpuni dan team work yang terbangun rapi. Dengan kelengkapan itu, RS Darmo telah melaksanakan akreditasi 16 pelayanan.

Selain itu, RS Darmo juga tengah menyiapkan sebuah layanan baru khusus untuk tumbuh kembang anak, yang dikenal dengan DCC (Darmo Children’s Center). Di dalamnya terdapat layananan menyangkut tindakan preventif atau pencegahan mulai si ibu hamil dan bayi agar tetap sehat. Selain itu juga melakukan kegiatan promotive dengan mengadakan seminar, talkshow di media, dan semacamnya.

Setiap peluang bagi RS Darmo sangatlah berarti. Ke depan, masih minimnya tindakan penanganan seputar radiografi di Surabaya, akan disambut dengan rencana besar RS Darmo untuk melengkapi fasilitas layanannya di bidang ini.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SURABAYA CITY GUIDE FREE MAGZ, NOPEMBER 2013, hlm. 21