Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

dam-bagongTrenggalek merupakan kabupaten kecil, indah dan menarik. Banyak obyek yang bersifat khas daerah. Kabupaten yang kaya potensi wisata menarik yang dapat menjadi pilihan untuk dikunjungi, baik wisata alam maupun wisata budaya. Salah satu budaya yang terus dilestarikan oleh warga Trenggalek adalah Upacara Adat bersih Dam Bagong atau lebih dikenal dengan sebutan Tradisi Nyadran di Dam Bagong. Upacara adat merupakan salah satu bagian dari adat kebiasaan yang ada di masyarakat, yaitu bentuk pelaksanaan upacara adat yang di dalamnya terdapat nilai budaya yang tinggi dan banyak memberikan inspirasi bagi kekayaan budaya daerah yang dapat menambah keanekaragaman kebudayaan nasional. Upacara tersebut mengajarkan kepada manusia sebagai manusia berbudaya untuk ikut bertanggung jawab menjaga kelestarian alam seisinya, ikut meningkatkan harkat dan martabat manusia.

Nyadran merupakan tradisi dari daerah Trenggalek yang biasanya diperingati pada Jum’at Kliwon bulan Selo atau bulan jawa. Nyadran biasanya dilakukan di daerah Bagong yaitu tepatnya Dam Bagong dan dihadiri ribuan orang dari Trenggalek sendiri maupun dari luar Trenggalek. Dam Bagong adalah dam pembagi aliran sungai Bagong yang biasa digunakan untuk mengairi persawahan di Kota Trenggalek. Pertama kali Dam Bagong dibangun oleh Adipati Menak Sopal yang juga merupakan pendiri cikal bakal kota Trenggalek.

dam-bagongRitual upacara Nyadran diawali dengan tahlilan di samping makam Adipati Menak Sopal, dilanjutkan dengan ziarah makam yang diikuti oleh para pejabat daerah dan warga masyarakat. Sementara itu, di halaman sekitar komplek pemakaman disajikan hiburan tarian jaranan. Tarian kepahlawanan khas Trenggalek ini disajikan dengan penuh semangat, diiringi gamelan yang dinamis dan menghentak serta nyanyian dari pesinden yang jelita. Tarian ini sangat digemari karena identik dengan tarian magis yang bernuansa mistis. Tak jarang, para penari jaranan kesurupan saat menyajikan tarian ini.

Acara puncak yang paling ditunggu dalam ritual nyadran adalah pelemparan tumbal kepala kerbau atau larung. Dalam upacara Nyadran Dam Bagong ini dikorbankan seekor kerbau yang kemudian disembelih dan kepala, kulit beserta tulang-tulangnya dilempar ke sungai lalu diperebutkan oleh warga masyarakat sekitar. Tujuan ritual nyadran ini sebagai tolak balak, tidak hanya sebagai tolak balak upacara ini juga sebagai simbol agar kehidupan warga Trenggalek gemah ripah loh jinawi. Biasanya beberapa pemuda telah bersiap-siap di dalam sungai dengan bertelanjang dada untuk memperebutkan kepala kerbau yang dilarung. Sorak sorai kegirangan dan rona kegembiraan terpampang di wajah mereka dan wajah para penonton, kala kepala kerbau dan tulang-belulangnya berhasil diketemukan. Ada anggapan bahwa dengan mendapatkan kepala kerbau, mereka akan memperoleh berkah dalam hidupnya. Rangkaian upacara nyadran ditutup dengan pagelaran wayang kulit.

dam-bagong-300x200Dengan penyelenggaraan upacara yang serba lengkap menurut tradisi akan memberikan kemantapan batin kepada pelakunya dalam mengagungkan berkat, rahmat dan perlindunganNya. Hal ini diharapkan pula terjadi dengan dilaksanakannya upacara Tradi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek. Bagi masyarakat yang hidup dipedesaan, adat atau istiadat merupakan sesuatu yang melibatkan setiap orang di dalam setiap kegiatannya dan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga wajar apabila melahirkan kebersamaan dan pola tingkah laku dalam masyarakat yang bersangkutan. Adapun pelaksanaan tradisi upacara adat “Nyadran” ini oleh masyarakat Kelurahan Ngantru, sebagai ungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus sebagai upaya untuk mengenang jasa Adipati Menak Sopal yang telah berjuang untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakat Trenggalek yang mayoritas sebagai petani. Dalam upacara tradisi nyadran diperlukan kerjasama atau gotong-royong warga masyarakat sekitar Kelurahan Ngantru.

Gotong-royong adalah sekumpulan orang yang bekerja sukarela untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang mereka anggap merupakan kepentingan bersama dan kepentingan umum. Dalam pelaksanaan kegiatan upacara tradisi nyadran peran serta masyarakat sangatlah diperlukan demi kelancaran acara tersebut. Khususnya para petani di daerah tersebut yang mengairi sawahnya dari Dam Bagong. Mereka bergotong-royong dalam mempersiapkan perlengkapan apa saja yang dibutuhkan saat memperingati upacara tradisi nyadran. Dengan bergotong-royong ini pula masyarakat bisa lebih akrab antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya sekaligus mempererat tali silaturahmi antar masyarakat. Oleh karena itu, peneliti mengangkat judul “Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong-royong Para Petani Di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek”.

Latar Belakang Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Menurut R. Linton (dalam Elly, 2011:27-28), mengatakan bahwa Kebudayaan dapat dipandang sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang dipelajari, dimana unsur pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya.

Peringatan tradisi nyadran di Dam Bagong tidak terlepaskan dari memperingati dan mengenang Adipati Menak Sopal. Adipati Menak Sopal adalah seorang ulama yang berdakwah menyiarkan Agama Islam di wilayah Trenggalek, mulai dari lereng Gunung Wilis sebelah selatan sampai pantai selatan Samudra Indonesia, mulai dari perbatasan Sawo Ponorogo sampai Ngrowo-Boyolangu. Sehingga secara kuntitas penduduk Trenggalek beragama Islam seluruhnya.

Adipati Menak Sopal juga sebagai pahlawan pertanian di Kabupaten Trenggalek. Karena beliau telah membangun Dam Bagong yang terletak di Kelurahan Ngantru. Dam Bagong ini sangat bermanfaat bagi para petani di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pogalan karena dengan adanya dam tersebut mereka dapat mengairi sawahnya. Sehingga sangat pantas apabila jasa Adipati Menak Sopal itu diperingati setiap tahunnya oleh segenap lapisan masyarakat mulai dari pejabat dan rakyatnya khususnya para petani di Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pogalan.

Tradisi nyadran di Dam Bagong ini berawal dari kisah Adipati Menak Sopal yang berjuang membangun Dam Bagong di Kelurahan Ngantru. Sahibul Hikayat yang mengatakan bahwa ada seseorang yang berasal dari Mataram yang bertugas mengatur daerah di Timur Ponorogo yang sekarang disebut daerah Trenggalek atau biasa disingkat Ki Ageng Galek. Dahulu kala Ki Ageng Galek ditugasi untuk mengasuh seorang putri dari Majapahit yaitu Amisayu. Dinamakan Amisayu karena meskipun ayu atau cantik, sayangnya kaki putri tersebut berpenyakit dan berbau amis atau busuk.

Saat itu Ki Ageng Galek merasa bingung bagaimana cara mengobati kaki Putri Amisayu tersebut. Lalu Ki Ageng Galek menyuruh Dewi Amisayu untuk mandi di Sungai Bagongan yang terletak di Kelurahan Ngantru. Pada saat mandi di sungai tersebut tiba-tiba munculah Buaya Putih yang berubah wujud menjadi manusia yang sangat tampan yang bernama Menak Sraba. Kemudian Menak Sraba mengobati luka di kaki Dewi Amisayu dengan cara menjilati. Akhirnya penyakit di kaki Dewi Amisayu bisa sembuh dan Menak Sraba kemudian menikah dengan Dewi Amisayu.

Tidak lama setelah menikah Dewi Amisayu hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Menak Sopal sesuai dengan pesan Menak Sraba. Setelah Menak Sopal tumbuh dewasa kemudian dia bertanya kepada ibunya yaitu Dewi Amisayu siapa ayahnya yang sebenarnya. Dengan terpaksa Dewi Amisayu member tahu siapa ayahnya yang sebenarnya adalah buaya putih penjaga Kedung Bagongan. Ketika mengetahui siapa ayahnya Menak Sopal meminta izin kepada ibunya utuk menemui ayah kandungnya. Akhirnya Menak Sopal bertemu dengan ayah kandungnya yaitu Menak Sraba di Demak Bintara. Disana Menak Sopal diajari dan dididik mengenai ajaran Agama Islam.

Sepulang dari tempat ayahnya Menak Sopal berusaha untuk menyebarkan Agama Islam di Trenggalek. Karena pada saat itu mayoritas penduduk sebagai petani maka Menak Sopal berkeinginan membangun tanggul air atau dam yang bisa mengairi sawah mereka. Dalam pembangunan tanggul itu Menak Sopal dibantu warga masyarakat namun pembangunan tanggul itu selalu gagal. Lalu Menak Sopal meminta petunjuk kepada ayahnya bagaimana caranya agar tanggul air itu bisa berhasil dibangun. Menak Sraba (ayah Menak Sopal) memberikan petunjuk supaya ditumbali kepala Gajah Putih.

Menak Sopal mengikuti saran dari ayahnya lalu menyembelih Gajah Putih yang kepalanya dimasukkan ke dalam Sungai Bagongan dan dagingnya dibagikan kepada warga yang ikut bergotong-royong. Setelah diberi tumbal Gajah Putih akhirnya tanggul air bisa berhasil dibuat dan sekarang lebih dikenal dengan sebutan Dam Bagong. Dari hasil perjuangan Menak Sopal tersebut akhirnya sawah para petani bisa dialiri air dan hasil panen mereka meningkat. Sejak saat itu warga Trenggalek memeluk Agama Islam.

Dalam upacara tradisi nyadran terdapat unsur mistis dan unsur fungsional. Unsur mistis itu saat Dam Bagong meminta tumbal gajah putih agar pembuatan dam dapat terwujud dan dapat mengairi sawah para petani. Sedangkan unsur fungsional terlihat dari tujuan uapacara tradisi nyadran di Dam Bagong yaitu bersyukur kepada Allah SWT dan menghargai perjuangan Adipati Menak Sopal karena sudah membangun Dam Bagong yang mengairi sawah para petani sehinggan pendapatan petani semakin meningkat. Selain itu, agar terhindar dari berbagai macam bahaya atau bencana.

Dari uraian di atas peneliti berkesimpulan bahwa berkat perjuangan Menak Sopal tersebut maka setiap tahun sekali di bulan Selo selalu diperingati upacara tradisi nyadran di Dam Bagong sebagai rasa syukur warga Trenggalek. Namun dalam pelaksanaannya bukan gajah putih lagi yang dijadikan tumbal atau dilarung tetapi diganti dengan kerbau. Karena saat ini sudah tidak ada lagi gajah putih.

Bentuk Ritual Atau Tata Cara Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Walaupun namanya nyadran tetapi sasarannya jelas, bukan untuk makhluk halus tetapi untuk memperingati atas keberhasilan Adipati Menak Sopal membangun Dam Bagong untuk yang pertama kalinya. Pelaksanaan tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru itu dilaksanakan setiap tahun sekali. Biasanya tradisi nyadran itu dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon di bulan Selo. Tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang tetap diperingati sampai sekarang ini.

Berdasarkan hasil wawancara dalam peringatan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru masyarakat harus bergotong-royong dalam mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan saat pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut. Karena dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran tersebut banyak sekali perlengkapan yang harus dipersiapkan. Misalnya saja, sebelum pelaksanaan upacara tersebut masyarakat bergotong-royong membersihkan tempat atau makam yang akan digunakan untuk memperingati nyadran di Dam Bagong serta membuat panggung dan mendirikan terop.

Masyarakatlah yang mempersiapkan perlengkapan yang akan dijadikan sebagai perlengkapan nyadran dan ruwatan saat pelaksanaan upacara nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru. Karena banyak sekali bahan atau perlengkapan yang digunakan untuk sesaji dan ruwatan tersebut. Semua perlengkapan yang diperlukan untuk sesaji dan ruwatan itu harus lengkap atau dalam bahasa Jawa “Pepak”.

Kegiatan yang dilakukan dalam pelaksanaan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru antara lain sebagai berikut:

  • Penyembelihan kerbau (berkorban) yang dilakukan di dekat Dam Bagong yang bertujuan agar tidak terjadi banjir bandang lagi.
  • Bersesaji yang biasanya dilakukan oleh dalang ketika ruwatan. Banyak sekali perlengkapan yang digunakan untuk membuat sesaji misalnya saja, kembang telon, mule metri dan lain-lain.
  • Berdoa bersama saat melakukan sekarang di makam Adipati Menak Sopal sebagai penghormatan dan menghargai jasa-jasanya.
  • Berprosesi terlihat saat bapak bupati dan masyarakat berjalan dari makam Adipati Menak Sopal menuju Dam Bagong yang akan melemparkan kepala, kaki, kulit serta tulang kerbau ke dalam Dam Bagong.
  • Makan bersama yang dilakukan oleh para undangan dan masyarakat setelah acara larung selesai. Mereka semua makan daging kerbau yang sudah dimasak.
  • Ruwatan Wayang Kulit semalam suntuk yang bertujuan untuk keselamatan masyarakat Kabupaten Trenggalek demi menghindari bahaya dan bencana yang tidak diinginkan serta agar Dam Bagong tetap bisa mengairi sawah- sawah penduduk sehingga tetap bermanfaat.

Wayangan merupakan suatu akulturasi budaya yang sejak zaman kewalian (abad 14 oleh para wali) dijadikan sebagai hiburan dan alat dakwah. Selain itu, juga mampu menyampaikan pesan etis yang bermanfaat berupa pendidikan moral, keutamaan hidup pribadi dan masyarakat.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upacara nyadran sesuai dengan pendapat Depdikbud (1994:20), bahwa dalam suatu sistem upacara yang kompleks mengandung berbagai unsur yang terpenting antara lain sebagai berikut:

  • Sesaji

Pada banyak upacara bersaji, orang memberi makanan yang oleh manusia dianggap lezat, seolah-olah dewa-dewa atau roh itu mempunyai kegemaran yang sama dengan manusia.

  • Berdoa

Biasanya doa bersama diiringi dengan gerak dan sikap-sikap tubuh yang dasarnya merupakan gerak dan sikap menghormati dan merendahkan diri terhadap para leluhurnya, para dewa atau terhadap Tuhan. di dalam berdoa, arah muka atau kiblat merupakan suatu unsur yang amat penting dalam konsep religi. Dalam berdoa, ada pula suatu unsur yaitu kepercayaan bahwa kata-kata yang diucapkan itu mempunyai kekuatan gaib dan sering kali kata yang diucapkan itu dalam suatu bahasa yang tidak dipahami masyarakat, karena bahasa yang digunakan bahasa kuno. Tetapi justru itulah rupanya yang memberikan susunan gaib dan keramat kepada doa itu.

  • Makan bersama

Makan bersama juga merupakan suatu unsur perbuatan yang amat penting dalam upacara adat. dasar pemikiran di belakang perbuatan itu adalah untuk mencari hubungan dengan dewa-dewa, dengan cara mengundang dewa-dewa pada suatu pertemuan makan bersama. Perbuatan makan bersama terdapat dalam banyak upacara keagamaan di dunia, baik sebagai bagian dari upacara- upacara maupun sebagai upacara itu sendiri.

  • Berprosesi atau berpawai

Pada saat berprosesi sering dibawa benda-benda keramat seperti lambing, bendera, dengan maksud supaya kesaktian yang memancar dari benda-benda itu bisa memberi pengaruh pada keadaan sekitar tempat tinggal manusia dan terutama pada tempat-tempat yang dilalui prosesi atau pawai itu. Prosesi sering juga dimaksudkan untuk mengusir makhluk halus, hantu dan segala kekuatan yang menyebabkan penyakit serta bencana dari sekitar tempat tinggal manusia. Hal ini dilakukan tidak dengan benda sakti, tetapi dengan cara menakuti makhluk halus tadi dengan cara prosesi tersebut.

Ada beberapa niatan saat melakukan upacara tradisi nyadara misalnya sebagai berikut:

  1. Ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. (Tasyakuran atau syukuran) atas keberhasilan pembangunan Dam Bagong yang sangat besar manfaatnya bagi penduduk atau rakyat Trenggalek baik yang lama oleh Adipati Menak Sopal dan penggantinya, walaupun yang baru dibangun oleh Pemerintahan Hindia Belanda secara permanen.
    1. Mengenang tokoh pelaku Adipati Menak Sopal, Ki Ageng Galek, Rara Amiswati, Ki Demang Surohandoko dan lain-lain, untuk didoa’kan semoga diterima amalnya dan diampuni dosa-dosanya.
    2. Semua lillahi ta’ala untuk Allah SWT, tidak untuk makhluk halus (jin, syaitan, dan sebagainya).

Upacara tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek, Kabupaten Trenggalek mempunyai unsur-unsur upacara yang sama dengan upacara keagamaan pada umumnya.

Hakikat Gotong-royong Dalam Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Manusia tidak dapat memenuhi kebetuhan hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu manusia disebut sebagai makhluk sosial, pelaksanaan upacara tradisi nyadran di Dam Bagong masyarakat Trenggalek Keluraham Ngantru khususnya para petani bergotong-royong agar pekerjaan yang dilakukan bisa cepet selesai. Sistem tolong menolong yang dalam bahasa Jawa biasanya disebut “Sambatan” (Sambat=Minta tolong), atau secara umum oleh orang Indonesia disebut gotong- royong. Dalam gotong-royong ini masyarakat tidak memikirkan kompensasi, dalam masyarakat jawa gotong-royong seperti ini tidak hanya terjadi di bidang pertanian saja, namun juga dalam kegiatan pembangunan rumah, upacara adat, dan upacara kematian.

Jiwa atau semangat gotong-royong itu dapat kita artikan sebagai perasaan rela terhadap sesama warga masyarakat. Dalam masyarakat seperti ini, kebutuhan umum akan dinilai lebih tinggi dari pada kebutuhan pribadi, sehingga bekerja bakti untuk umum dinilai sebagai suatu kegiatan yang terpuji dan mulia. Hal ini sama halnya dengan yang dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek saat memperinganti upacara tradisi nyadran di Dam Bagong. Dalam bergotong-royong tidak terlihat pebedaan antara warga yang berkecukupan dengan warga yang kurang mampu.

Masyarakat sangat kompak pada saat menyiapkan kebutuhan dan perlengkapan yang digunakan saat peringatan upacara tradisi nyadran. Dengan bergotong-royong bisa meningkatkan rasa kebersamaan antar warga dan mempererat tali silaturahmi antar warga. Selain itu, bisa saling kenal antara warga yang satu dengan warga yang lain yang awalnya belum pernah kenal.

Persepsi Masyarakat Tentang Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Kabupaten Trenggalek

Nama nyadran kini “Nyadran Dam Bagong ” diganti dengan “Peringatan Dam Bagong” dan disosialisasikan kepada masyarakat agar tidak salah persepsi. Mayoritas warga masyarakat menganggap nyadran ini sebagai rasa syukur kepada Allah SWT. Selain itu, juga sebagai rasa terima kasih kepada Adipati Menak Sopal karena telah membangun Dam Bagong, yang sangan bermanfaat bagi masyarakat. karena dengan adanya dam itu para petani di Kelurahan Trenggalek dan Kelurahan Pogalan dapat mengairi sawahnya.

Prospektif Mengenai Tradisi Nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru Bagi Masyarakat di Masa Depan

Prospektif masyarakat ke depan mengenai tradisi nyadran di Dam bagong Kelurahan Ngantru, tradisi ini akan tetap dijaga dan dilestarikan, konon ceritanya dulu tradisi nyandran ini pernah tidak diperingaati terus pada tanggal 21 April 2006 di Trenggalek terjadi banjir bandang. Terus pada saat itu ada salah satu warga yang bermimpi kalau tradisi nyadran tersebut tidak diperingati akan terjadi banjir bandang yang lebih besar dari itu. Setelah mengetahui itu semua lalu tradisi tersebut diperingati dengan menyembelih 4 (empat) kerbau karena sudah empat tahun tradisi tersebut tidak diperingati oleh masyarakat Kabupaten Trenggalek.

Berdasarkan prospektif masyarakat sampai kapanpun tradisi nyadran di Dam Bagong Kelurahan Ngantru akan tetap diperingati. Karena sudah menjadi kebudayaan dan icon pariwisata Kabupaten Trenggalek.

——————————————————————————————-Tahes Ike Nurjana, Suwarno Winarno, Yuniastuti. Tradisi Nyadran Sebagai Wujud Pelestarian Nilai Gotong-Royong Para Petani Di Dam Bagong Kelurahanngantru Kecamatan Trenggalek Kabupaten Trenggalek. Universitas Negeri Malang

Sumber Gambar:  wisatatrenggalek.com/2016/09

Edit: 84N70

 

Trenggalek Masa Pra Perdikan

Sebelum diketemukan sumber yang bersifat tertulis maka daerah itu mengalami masa Prasejarah. Sedangkan di Trenggalek jaman Sejarah akan ditandai dengan adanya prasasti yang pertama kalinya muncul berbentuk prasasti Kampak atau dikenal dengan nama lahirnya Perdikan Kampak.

Pada jaman pra sejarah, Trenggalek telah dihuni oleh manusia dengan bukti diketemukannya benda-benda yang merupakan hasil jaman Nirlekha. Dari hasil penelitian serta lokaei benda-benda pra sejarah tadi dapatlah direkonatruksikan, per jalanan manusia-manusia pemula di daerah Trenggalek itu dalam beberapa jalur, yaitu :

Jalur Pertam, dari Pacitan menuju Panggul perjalanan diteruskan ke Dongko, dari Dongko menuju ke Pule kemudian – menuju ke Karangan dari sini dengan menyusuri sungai Ngasinan menuju ke Durenan. Kemudian  manusia – manusia Trenggalek purba itu melanjutkan perjalanan ke Wajak daerah Tulungagung.

Jalur kedua, berangkat dari Pacitan ke Panggul menuju Dongko, kemudian melalui tanjakan Ngerdani turun kedaerah Kampak laju ke Gandusari, dari sini perjalanan dilanjutkan ke Tulungagung.

Jalur ketiga, beranjak dari Pacitan menuju ke Panggul menyusuri tepi Samudra Indonesia menuju ke Munjungan, diteruskan ke Prigi lalu ke Wajak.

Demikianlah rekonatruksi perjalanan manusiar-manusia pra sejarah yang berlangsung bolak-balik antara Pacitan dengan Wajak. Jalur-jalur perjalanan tersebut dapat dibuktlkan dengan diketemukannya artefak-artefak jaman batu besar sepert: menhir, mortar, batu saji, batu dakon, palinggih batu, lumpang batu dsb. Yang kesemuanya benda-benda tadi tersebar di daerah-daerah bekas Jalur-jalur lalu-lintas mereka Itu.

HR. van Heekeren menyatakan bahwa Homowajakensis (manusia purba Wajak) hidup pada masa Plestosin atas, sedangkan peninggalan-peninggalan Pacitan berkisar antara 8.000 sampai 35.000 tahun yang lalu. Akibatnya masa megaliticum atau masa Neoliticum itulah yang meliputi daerah Trenggalek ketika dihuni oleh manuala Trenggalek purba.

Satu hal yang perlu dicatat disini bahwa manusia-manusia Trenggalek pada waktu itu dapat direkonstruksikan lebih tua dibandingkan dengan manusia Wajak dan lebih muda di banding dengan manusia-manusia Sampung Ponorogo.

Mengingat masa itu masyarakatnya sudah mengenal pertanian, maka dari segi soslal, masyarakat tadi sudah mengenal struktur atau stratifikasi sosial walaupun dalam bentuk sangat sederhana. Sedangkan masalah perekonomian dan kebudayaan telah pula mereka kenal dan mereka anut serta dikerjakan oleh masyarakat pendukungnya.

Beakhirnya masa prasejarah berarti dimulainya masa sejarah dimana tulisan mulai dikenal pada saat itu. Untuk itu perdikan Kampak merupakan tonggak sejarah Kabupaten – Trenggalek yang tidak dapat diabaikan. Lahirnya perdikan Kampak ditandai dengan adanya prasasti Kampak yang dibuat oleh raja Sindok pada t ahun 651 Syaka atau 929 Masehi. Dari prasasti itu dapat diketahui bahwa Trenggalek pada masa itu sudah memiliki daerah-daerah yang mendapatkan hak otonomi atau swatantra. Lebih jelas lagi diketengahkan bah­wa perdikan Kampak berbatasan dengan mahasamudra ( Samudra Indonesia ) disebelah Selatan yang pada waktu itu wilayahnya meliputi Panggul Munjungan dan Prigi. Selanjutnya disinggung pula daerah Dawuhan yang sekarang daerah ini juga masih dap at dijumpai di Trenggalek.

Setelah masa Pu Sindok dengan melalui masa raja Dharmawangsa lahirlah di Java Timur kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh raja Airlangga. Hanya sayangnya pada masa ini tidak banyak diketahui kesejarahannya, dikarenakan tidak ditemuinya data atau mungkin belum diketemukannya data tentang ma­sa tersebut. Namun tidak dapat disangkal bahwa wilayah Trenggalek termasuk dalam kawasan Kahuripan yang kemudian berkesinambungan menjadi wilayah kerajaan Kediri. Dari jaman Kediri hanya ada beberapa hal yang dapat dicatat, utamanya pada masa ini dengan munculnya prasasti- Kamulan yang terletak didesa Kamulan Kecamatan Durenan – Kabupaten Trenggalek. Bertolak dari prasasti Kamulan dapat1ah diajukan suatu masa yakni lahirnya perdikan Kamulan.

Di dalam prasasti Kamulan dicantumkan tahun pembuatannya yaitu tahun 1116 caka atau tahun 1194 Masehi. Prasasti tadi dikeluarkan oleh raja Sri Sarweswara Triwikramawataranindita Sragga Lancana Dikwijayotunggadewa atau biasa dikenal dengan naoa Kertajaya. Raja inilah yang berhasil mengusir musuh-musuhnya dari daerah Katang-katang berkat bantuan rakyat Kamulan. Berdasar atas prasasti inilah ditetapkan “Hari Jadi Kabupaten Trenggalek pada hari  Rabu Kliwon ” tanggal 31 bulan Agustufi tahun 1194.

Hari dan tanggal tersebut dijadikan hari jadi atau hari la­hirnya Kabupaten Trenggalek berdasarkan data sejarah yang ditemui di Trenggalek antara lain :

Pertama, Prasejarah daerah Trenggalek menunjukkan – bahwa daerah itu telah dihuni manusia, tetapi jaman ini bersifat masih nisbi sekali.

Kedua, Prasasti Kampak tidak jelas hari dan tanggalnya kapan prasasti itu dilaksanak an isinya.

Ketiga, Hanya prasasti Kamulan yang memi1iki informasi cukup lengkap sehingga mampulah prasasti Kamulan dijadikan – tonggak sejarah lahirnya  Kabupaten Trenggalek secara analitis, historis, yuridie formal yang dapat dipertanggung jawabkan.

 

Drs. MUKAYAT, Tim Sejarah Kabupaten Trenggalek Dan Tim Konsultan IKIP MALANG: Ringkasan Sejarah Trenggalek , Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek Pebruari 1982, hlm.7-10

Trenggalek di Gabungkan

Sejak tahun 1926 telah diadakan perubahan pemerintahan oleh pihak Belanda,perubahan ini di Trenggalek dilaksanakan pada tahun 1935, sejak saat ini Trenggalek digabungkansebagian daerahnya dimasukkan kabupaten Tulungagung dan sebagian yang lainnya dimasukkan kabupaten Pacitan.

Akibatnya hal ini Sama dengan pada masa sebelum adanya kabupaten Trenggalek awal,penggabungan ini mengakibatkan Trenggalek kurang mendapat perhatian. Dengan demikian maka keadaan Trenggalek pada masa itu tidak banyak yang dapat dicatat.

Trenggalek pada masa Revolusl Fisik ditandai dengan masuknya daerah itu kedalam wilayah negara Republik Indonesia.  Berita masuknya daerah Trenggalek kedalam negara Kesatuan – Republik Indonesia meskipun secara tidak resmi telah terdengar secara lisan dan tersebar serta didengar oleh seluruh penduduk desa-desa di Trenggalek.

Dalam masa ini Trenggalek juga mendapat perhatian dari pembesar-pembesar negara antara lain : Menteri AgamaKyai Haji Masjkur yang didampingi oleh Mr. Sunaryo sebagai sekjen Depag. Datang pula Menteri Dalam negeri Drs.Susanto Tirtoprodjo, SH serta menteri Negara dr. Sukiman Wirjosandjojo yang sampai di daerah Trenggalek dengan jalan kaki.Panglima Besar Jendral Sudirmanpun pernah dua kali mengunjungi Trenggalek. Kunjungannya yang terakhir pada tanggal 24 Januari 1949 menuju desa Nglongsor.

Sekitar Konfrensi Meja Bundar yang membuahkan pemerintahan Republik Indonesia Serikat imbasnya terasa pula di Treng­galek,hal ini dapat diketahui dengan adanya serah terima kekuasaan yang dilakukan oleh Mukardi, R. Roestamadji dan Sukardjono dari pihak RI di Trenggalek dengan Mayor Craan dan Karis Sumadi sebagai wakil pihak Belanda.

Dengan demikian selesailah masa penggabungan di Treng­galek yang dipenuhi oleh peristiwa-peristiwa duka dan lara. Namun berkat rachmat Tuhan Yang Maha Esa fajar telah menyingsing dan Trenggalek mengalami masa cemerlang serta masa pembangunan demi tercapainya keagungan bangsa dan negara.

Sejarah Kabupaten Trenggalek memang unik, hal ini tercermin dalam periodisasinya yang pernah mengalami masa penggabungan Periode Trenggalek awal yang mengetengahkan perkembangan dinamika poleksosbud Trenggalek – 1830 M sampai 1932 yang dilanjutkan dengan masa Trenggalek digabungkan yang meliputi awal Proklamasi sampai Revolusi Fisik.

 

Drs. MUKAYAT, Tim Sejarah Kabupaten Trenggalek Dan Tim Konsultan IKIP MALANG: Ringkasan Sejarah Trenggalek , Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek Pebruari 1982. Hlm. 15-16


Kabupaten Trenggalek Awal

Yang dlmaksud dengan Trenggalek Awal   ialah timbul tenggelam pemerintahan  yang mengemudikan kabupaten Trenggalek Peristiwa sebelum 1830 yang menggoncangkan pulau Jawa adalah peristiva pembunuhan penduduk Cina di Batavia secara besar-besaran yang dilaksanakan oleh VOC pada tanggal 10 Oktober 1940  yang dikenal dengan nama perang Pacino atau geger Pacinan.

Akibatnya Mas Garendi yang bergelar Sunan Kuning membantu penduduk Cina dan mengadakan penberontakan menyerang Kartasura pada 30 Juni 1742. Akibat dari peberontakan ini Sunan Paku Bumana II terpaksa melarikan diri ke Ponorogo, Dengan bantuan Bupati Mertodiningrat dari Ponorogo Sunan Paku Buvana II berhasil menumpas peaberontakan tadi yang mengakibatkan putra Bupati tadi diangkat sebagai Bupati Trenggalek yang pertama pada tahun 1743. Bupati Treng­galek pertama inilah yang bernama Sumotruno. Bupati Sumotruno digantikan oleh saudaranya sendirl Bupati Jayanagara yang merangkap penguasa tunggal di Sawo Ponorogo.

Waktu perang Mangkubumen, penguasa Trenggalek adalah Ngabei Surengrana yang pada awalnya membantu Mas Said kemudian berganti haluan menggabungkan diri dan mengikuti jejak Sultan Hamengkubuwana I. Pada akhrir peperangan Mangkubumen yang mencetuakan perjanjian fiiyanti pada 13 Pebruari 1755 mengakibatkan Trenggalek dibagi menjadi dua bagian, bagian Timur masuk wilayah Ngrawa dan bagian Barat serta Selatan termasuk kabupaten Pacitan. Hal inl dapat dlbuktlkan dengan diketemukannya tugu perbatasan dari batu yang terdapat didesa Gayam kecamatan Panggul.

Baru pada tahun 1830 setelah perang Diponegaran selesai daerah Trenggalek langsung menjadi milik Belanda. Susunan tata pemerintahan pada waktu itu tidak banyak diketahui hanya dapat diperkirakan kalau tidak terlampau jauh bedanya dengan daerah-daerah wilayah kerajaan Mataram yang lain.

Pada tahun 1842 Bupati Trenggalek Raden Tumenggung Mangunnagoro meninggal dan digantikan oleh Raden Tumenggung Ariyakusuma Adinoto yang sejak awalnya menjabat sebagai bupati Besuki. Raden Tumenggung Ariyakusuma Adinoto pada tahun 1843 dipindahkan ke Berbek daerah Nganjuk, sehingga jabatan bupati daerah Trenggalek masa ini lowong, Untuk mengisi kekosongan ini diangkatlah Raden Ngabei Joyopuspo yang pada awalnya menjabat Patih Trenggalek menjadi bupati Trenggalek dengan gelar Raden Tumenggung Pusponagoro. Tidak selang lana Raden Tumenggung Pusponagoro wafat, sebagai gantinya diangkatlah Wedono Tulungagung : Raden Gondokusumo menantu Bupati Tulungagung se­bagai bupati Trenggalek dengan gelar Tumenggung Sumoadiningrat pada tahun 1845 M.

Secara berurutan Bupatl-bupati Trenggalek awal adalah sebagai berlkut :

Sumotruno                                        1743    –           …..

Joyonagoro                `                       …..     –           …..

Mangundirono`                               …..      –           …..

MangunnagoroI                              1830    –          …..

MangunnagoroII                            …..       –           1842

Aryokusumo Adinoto                     1842             1843

 Pusponagoro                                   1843               1845

Sumo diningrat                                1845              1850

Mangundiredjo                                1850               1894

Widjojokusumo                               1894                1905

Purbonagoro                                     1905     –         1932

 

Drs. MUKAYAT, Tim Sejarah Kabupaten Trenggalek Dan Tim Konsultan IKIP MALANG: Ringkasan Sejarah Trenggalek , Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek Pebruari 1982, hlm. 13-15

Lambang Daerah Kabupaten Trenggalek

 

Arti Lambang Daerah Kabupaten Trenggalek

Arti Lambang Daerah Kabupaten Trenggalek.docx

Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 1965

1.   Sudut lima perisai mengingatkan kita pada kelima unsur-unsur yang tercantum pada Pancasila, maksuknya rakyat Trenggalek menerima Pancasila sebagai Dasar Negara.

Warna dasar hijau berarti ketenteraman, maksudnya rakyat Trenggalek seperti yang dilambangkan ialah berada dalam ketenteraman. Berbingkai kuning emas artinya dinamis, maksudnya rakyat Trenggalek didaam ketenteraman selalu berjiwa dinamis.

2.  Selendang warna dasar merah, berhuruf putih, mengingatkan kita kepada shang dwiwarna, ialah keberanian yang berdasarkan kepada kesucian untuk mencapai apa yang termaksud dilam semboyan lambang : YWALITA PRAJA KARANA (ialah cemerlang karena rakyat ).

3.  Padi dan Kapas yang berarti lambang kemakmuran sandang dan        panganmaksudnya rakyat Trenggalek bercita-cita untuk tidak kurang sandang pangan

4.Lingkaran artinya kebulatan. Warna merah artinya berani. Rantai artinya persatuan. Warna putih artinya suci.

Rantai dan lingkaran maksudnya rakyat Trenggalek cinta kepada persatuan yang bulat / utuh.

Warna merah dan putih menunjukkan sifat rakyat Trenggalek yang berani karena benar.

5.  Padi 17 butir, Kapas 8 buah, dan Rantai 43 buah mengingatkan kepada hari lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia 17 A gusius 1945.

6.  Kantil tegak artinya bangunan Warna hitam artinya kokoh/kuat. Warna putih arrtinya cinta

Tonjolan tiga adalah trilogi, artinya raky.it Trenggalek tetap berfegang teguh kepada :

1.     Pancasila.

2.     Undang – Undang Dasar 1945

3.     Ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat.

7.   DENGAN IMAN, ILMU DAN AMAL.

Bintang ialah lambang Ketuhanan Yang Mahaesa, maksudnya rakyat Trengga­lek mempunyai Kepercayaan kuat kepada Agama yang berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa. Berwarna kuning emas, berarti kebesaran / keagungan Tuhan.

 

Drs. MUKAYAT, Tim Sejarah Kabupaten Trenggalek Dan Tim Konsultan IKIP MALANG: Ringkasan Sejarah Trenggalek , Pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Trenggalek Pebruari 1982, hlm. i

 

Sejarah Kabupaten Trenggalek

Zaman sejarah Trenggalek ditandai dengan adanya prasasti yang pertama kalinya muncul berbentuk prasati Kampak atau dikenal dengan nama lahirnya Perdikan Kampak yang dibuat oleh Raja Sindok pada tahun 851 Syaka atau 929 Masehi.

Dari Prasasti itu dapat diketahui balnva Trenggalek pada masa itu sudah memiliki daerah-daerah yang mendapatkan hak otonomi atau Swatantra. Lebih jelasnya diketengahkan balnva Perdikan Kampak berbatasan dengan Maha Samudra (Samudra Indonesia discbelah Selatan yang pada waktu itu wilayahnya meliputi Panggul, Munjungan dan Prigi. Juga daerah Dawuhan yang sekarang ini masih dapat dijumpai di Trenggalek. Setelah masa Mpu Sindok dengan melalui masa Raja Dharmawangsa lahirlah di Jawa Timur Kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh Raja Airlangga. Hanya sayangnya pada masa ini tidak banyak diketahui kesejarahannya, dikarenakan tidak diketcmukannya data tentang masa tersebut.

Namun tidak dapat disangkal bahwa wilayah Trenggalek termasuk dalam kawasan Kahuripan yang kemudian berkesinambungan menjadi wilayah Kerajaan Kcdiri. Dari jaman Kcdiri hanya ada beberapa hal yang dapat dicatat, utamanya pada masa ini dengan munculnya Prasasti Kawulan yang terlctak di desa Kamulan Kecamatan Durcnan Kabupatcn Trenggalek.

Bcrtolak dari Prasasti Kamulan dapatlah diajukan suatu masa yakni lahirnya Perdikan Kamulan. Di dalam Prasasti Kamulan dicantumkan tahun pembuatannva yakni tahun 1116 Caka atau tahun 1194 Masehi. Prasasti tadi dikeluarkan oleh Raja Sri Sarweswara Trikramawa- taranindita Srengga Lencana Dikwija- yotungadewa atau biasa dikenal dengan nama Kcrtajaya. Raja inilah yang berhasil mengusir musuh-musuhnya dari daerah Katang-Katang berkat bantuan rakyat Kamulan. Berdasar atas Prasati inilah ditetapkan “Hari Jadi Kabupaten Trenggalek ” pada hari ” Rabu Kliwon tanggal 31 Agustus tahun 1194. Hari dan tanggal tersebut dijadikan Hari Jadi atau Hari lahirnya Kabupaten Trenggalek berdasarkan data sejarah yang ditemui di Trenggalek, antara ain :

  • Pertama, Prasejarah daerah trenggalek menunjukkan bahwa daerah itu telah dihuni manusia tapi jaman ini bersifat masih nisbi sekali.
  • Kedua, Prasasti kampak tidak jelas hari dan tanggalnya kapan Prasasti itu dilaksanakan isinya.
  • Kctiga, hanya Prasasti Kamulan yang mcniiliki informasi cukup lengkap.

sehingga mampulah Prasasti Kamulan dijadikan tonggak sejarah lahirnya Kabupaten Trenggalek secara analitis, historis, yuridis formal yang dapat di pertanggung jawabkan.

Sejarah Kabupaten Trengalek mcmang unik, hal ini tercermin dalam periodisasinya yang pernah mengalami masa penggabungan.Periode Treng­galek awal yang mengetengahkan perkembangan dinamika poleksosbud Trengalek kurang lebih 1830 M sampai 1932 yang dilanjutkan dengan masa Trenggalek revolusi fisik.

Yang dimaksud dengan Trenggalek awal ialah masa dimana patut dibedakan pemerintahan timbul tenggclam yang mcngemudikan Kabupaten Trenggalek. Peristiwa sebelum 1930 yang meng- guncangkan pulau Jawa adalah peristiwa pembunuhan penduduk cina di Batavia secara besar-besaran yang dlaksanakan olch VOC pada tanggal 10 Oktober 1740 yang dikenal dengan nama perang Pacinon atau geger pacinan. Akibatnya Mas gerondi yang bergelar Sunan Kuning membantu penduduk cina dan mcngadakan pemberontakan menye- rang Kartas ura pada 30 Juni 1742. Akibat dari pemberontakan ini Sunan Paku- buwono II teraksa melarikan diri ke Ponorogo. Dengan bantuan Bupati Mertodiningrat dari Ponorogo. Sunan Pakubuwono II berhasil menumpas pemberontakan tadi yang mengaki- batkan Putra Bupati tadi diangkat sebagai Bupati Trenggalek yang pertama pada tahun 1743. Bupati Trenggalek yang pertamayang berama Sumotruno. Bupati Sumotruno digantikan oleh Saudaranya sendiri Bupati Jaya Negara yang merangkap penguasa timggal di Sawo Ponorgo.

Waktu perang mangkubumen; Penguasa Trenggalek adalah Ngabei Surengrana yang pada awalnya membantu Mas Said kemudian berganti haluan menggabungkan diri mengiktui jejak sultan hamengkubuwono I. Pada akhir peperangan mangkubumen yang mencetuskan perjanjian Giyanti pada 13 Pebruari 1755 mengakibatkan Trenggalek di bagi menjadi dua bagian, bagian timur masuk wilayah Ngrawa dan bagian barat dan selatan termasuk Kabupaten Pacitan. Hal ini dapat dibuk- tikan dengan diketemukannya tugu per- batasan dari batu yang terdapat didesa Gayam Kecamatan Panggul.

Baru pada tahun 1830 setelah perang Diponegaran selesai darah Trenggalek langsung menjadi milik Belanda, susunan tata pcmerintahan pada waktu itu tidak banyak dikctahui hanya dapat dipcr- kirakan kala tidak tcrlampau jauh bedanya dengan daerah-daerah wilayah Kerajaan Mataram yang lain.

Tahun 1926 diadakan perubahan pcmerintahan oleh pihak Belanda. Perubahan ini di Trenggalek dilaksanakan pada tahun 1935, sejak saat ini Trenggalek digabungkan, sebagian daerahnya dimasukkan Kabupaten Tulungagung dan sebagian lainnya dimasukkan Kabupaten Pacitan. Akibatnya hal ini sama dengan pada masa sebelum adanya Kabupaten Trenggalek awal.penggabungan ini mengakibatkan Trenggalek kurang mendapat perhatian. Dengan demikian maka keadaan Trenggalek pada masa itu tidak banyak yang dapat dicatat.

Trenggalek pada masa revolusi fisik ditandai dengan masuknya daerah itu ke dalam wilayah negara Republik Indo­nesia. Bcrita masuknya daerah Treng­galek ke dalam negara Kesatuan Republik Indonesia meskipun secara tidak resmi telah terdengar secara lesan dan tersebar serta didengar olch seluruh penduduk desa-desa di Trenggalek.

Dalam masa ini Trenggalek men­dapat perhatian dari pembesar-pembesar negara antara lain: Menteri Agama Kyai Haji Masjkur yang didampingi oleh Mr. Sunaryo sebagai sekjen Depag. Datang pula menteri Dalam Negcri Drs. Susanto Tirtoprodo, SH serta menteri Negara Dr. Sukiman Wirjosandjojo yang sampai didaerah Trenggalek dengan jalan kaki.

Panglima Besar Jenderal Sudirman pernah dua kali mengunjungi Treng­galek. Kunjungan yang terakhir pada tanggal 24 Januari 1949 menuju desa Nglongsor.

Konfrensi Meja Bundar yang membuahkan pemerintahan Republik Indonesia Serikat imbasnya terasa pula di Trenggalek. Hal ini dapat diketahui dengan adanya serah terima kekuasaan yang dilakukan oleh Mukardi, R. Roestamdji dan Sukarjono dari pihak RI di Trenggalek dengan Mayor Crcnn dan Karis Sumadi dari pihak belanda.

Dengan demikian selesailah masa penggabungan di Trenggalek yang dipenuhi dengan peristiwa – peristiwa duka dan lara. Namun berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa fajar telah menyingsing dan Trenggalek meng­alami masa cemerlang serta masa pembangunan demi tercapainya keagungan bangsa dan negara. (SIH) □

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: MIMBAR JATIM,
NOMOR 11, Juli – Agustus 1996, hlm. 41-42

Tiban, Kabupaten: Kediri, Trenggalek, Tulungagung dan Blitar

Permainan Tiban masih bisa dinikmati di Kabupaten : Kediri, Trenggalek, Tulungagung dan Blitar (Jawa Timur).

T I B A NNama Permainan.

Istilah “Tiban” berasal dari kata dasar “tiba” bahasa Jawa yang berarti “jatuh”. “Tiban mengandung arti timbulnya sesuatu yang tidak diduga semula, tidak diketahui bagaimana, Suatu analogi : “sumur tiban” = sumur yang semula tiada, suatu ke­tika tiba-tiba ada. Dukun tiban = seseorang yang mendadak menjadi dukun, mahir dalam segala jampi-jampi, padahal sebelumnya orang biasa saja. Dalam konteksnya dengan peristiwa di desa Purwokerto tersebut, maka tiban di sini menunjuk kepada hujan yang jatuh de­ngan sekonyong-konyong, tahu-tahu ada begitu saja, seolah-oleh jatuh dari langit.  yang dalam percakapan sehari-hari disebut udan tiban, udan = hujan”.  Latar Belakang Sosial Budaya.

Kapan timbulnya permainan tiban tidak dike­tahui. Yang pasti, menurut informan, sudah beberapa generasi, jauh lebih dini. Hal ini dikaitkan dengan cerita yang menuturkan asal mula terjadinya Tiban itu sendiri. Jauh di masa lampau, demikian dikisahkan, entah kapan, da­taran lembah Brantas yang terapit oleh gunung Wilis dan Kelud sangatlah subur. Usaha pertanian menghasilkan panen yang sangat berlimpahan setiap tahun. Dan penduduk pun menjadi kaya raya. Tetapi manusia adalah manusia dengan segala kelemahannya. Keka­yaan materiil- yang berlimpahan ternyata membuat manusia lambat laun lupa diri, dan akhirnya dikuasai oleh rasa egoisme yang menjadi- jadi. Timbul persaingan pribadi antara satu dengan yang lain, yang sering kali berubah menjadi permusuhan, hingga menumbuhkan pe­rasaan tak aman lagi dalam hati masing-masing.

Orang dulu masih percaya benar akan kekuatan-kekuatan ma­gis, yang mampu memberikan kekebalan orang untuk menguasai dan sekaligus pun untuk perisai diri terhadap “kejahatan” lawannya ber­saing. Demikianlah rasa keguvuban dan kerukunan semula menjadi langka, dan orang sudah berprasangka buruk terhadap sesamanya. Pada suatu ketika datang musibah yang menimpa daerah yang subur makmur itu. Musim kemarau berkepanjangan. Hujan tak per­nah kunjung tiba. Sawah ladang menjadi kering, panen pun gagal. Timbul kelaparan dan penyakit. Banyak ternak dan penduduk yang mati.

Kepala desa Purwokerto (Ngimbang sekarang, kecamatan Ngadiluwih, sebelah selatan kota Kedir)i, orangnya tua dan saleh lagi baik hati. Melihat penduduknya menderita, ia tidak sampai hati. Maka dilakukannya “tapa pepe”, yakni pertapa dengan menjemur diri di bawah terik matahari. Maksudnya memohon pengampunan kepada Tuhan bagi rakyatnya, agar dibebaskan dari penderitaan, dan desa Purwokerto diberi hujan, agar pulih kembali kesuburan tanah­nya seperti semula.

Sudah berhari-hari ia melakukan “tapa pepe”, namun Tuhan rupanya belum mengabulkan. Diteruskannya tapanya dengan tekun dan khidmat, tiada putus asa. Penduduk sekitar yang melihatnya menjadi iba, tergerak hatinya untuk solider ikut melakukan tapa pepe. Lambat laun menyusul juga yang lain-lain, seorang demi se­orang, akhirnya menjadi banyak.

Pada suatu hari, seperti dalam mimpi, sang Kepala desa men­dengar suara nyaring membisikkan peringatan, bahwa manusia telah berbuat dosa karena berpaling dari Tuhan untuk memuja kebendaan dan bernafsu memperoleh kekuasaan dengan mengandalkan kekuatan kekebalan. Kembalilah kepada Tuhan, dan manusia akan selamat tan­pa kekebalan sebab kekebalan itu sendiri pun dosa, karena hanya mengundang musuh dan mengingkari kekuasaan Tuhan. Tebuslah dosa dengan menyiksa diri dan mengorbankan darah ma­nusia menitik ke bumi.

Suara itu lenyap. Sang Kepala desa menyudahi tapanya diikuti oleh yang lain. Sejak itu ia memeras otak untuk mencari jalan apa yang harus dilakukan untuk memenuhi tebusan dosanya, dosa ma­nusia. Mengorbankan darah manusia, bagaimana caranya ? Tetapi yang didengarnya dalam tapanya, menitikkan darah manusia ke bumi dengan menyiksa diri.Tiba-tiba tahulah ia hikmah kata-kata itu. Maka diperintahkannya anak buahnya dan orang-orang yang te­lah ikut melakukan tapa pepe untuk membuat beberapa cambuk dari “sada aren” yang kuat dengan ujungnya sengaja dibuat kasar dengan simpul-simpul kecil dari potongan sada aren pula, sehingga mirip kawat berduri layaknya. Dalam pada itu disampaikan maksudnya dengan cambuk itu sebagai sarana penebus dosa.

Pada suatu hari penduduk desa Purwokerto digemparkan oleh tamasya mengerikan yang belum pernah mereka saksikan selamanya- Di halaman yang luas di muka rumah pak Kepala desa, pak  Kepala desa sendiri bersama beberapa orang lainnya menyiksa diri dengan melecut-lecutkan cambuk sada aren ke punggung dan dada masing-masing yang tiada berbaju itu. Babak belur luka memar memenuhi dada dan punggung, tetapi tak setitik pun darah menetes. Ternyata dengan melecuti badan sendiri, tidak memenuhi harapan. Maka pak Kepala desa mengubah cara. Mereka berpasang-pasangan dan saling melecut, dengan demikian lecutan lebih keras menimpa dan mengucurkan darah. Demikianlah tamasya itu berlangsung cukup lama, darah pun sudah banyak bercucuran di tanah namun rupanya mereka belum berniat menyudahi, bahkan ulah mereka semakin gila seperti keranjingan layaknya.

Tiba-tiba terjadi mujijat. Cuaca mendung, hawa pun terasa semakin sejuk, dan akhirnya turun hujan lebat seperti tercurahkan dari langit. Lecut-melecut berhenti. Semua bersyukur. Waktu itu bertepatan dengan tibanya bulan Suro. Dengan peristiwa mengesankan tersebut penduduk desa Purwokerto (Ngimbang namanya kemudian), pada tiap-tiap bulan Suro atau kalau musim kemarau panjang, memperingati dan merayakan dengan membuat tradisi upacara Tiban.

Latar Belakang Sejarah Perkembangan.

Setelah Tiban menjadi tradisi dari tahun ke tahun, maka lambat laun mengalami perkembangan dan perubahan dalam pelaksanaan Peraturan permainan diadakan demi keamanan dan kejujuran bagi para pelakunya, sehingga pelaksanaannya tidak dilakukan secara serampangan asal jadi saja, melainkan harus mengikuti ketentuan-ketentuan obyektif yang sudah dimufakati bersama. Misalnya jarak antara yang melecut dan yang dilecut harus sedepa, tidak boleh jauh, karena lecutan dari jauh sangat berbahaya. Barangkali untuk mengon-trol jarak ini, para pelaku diharuskan mengenakan kain panjang yang dililitkan di pinggang sebagai sabuk, dengan simpulnya di depan, se-hingga pelaku yang mendapat giliran melecut dapat memegang ujung kain lawannya yang terjumbai dengan tangannya yang satu. Tetapi hal ini tidak selalu dipatuhi, mungkin karena sudah rutin, pelaku masing-masing sudah dapat mengatur dan menjaga sendiri jarak yang sudah ditentukan.

Karena “Tiban” pun menjadi suatu upacara ritual, maka untuk lebih memantapkan sifat-sifat kesakralannya, orang lalu menambah­kan hal-hal yang dipandang sebagai suatu kelengkapan sesuatu upacara, yaitu saji-sajian (Jawa = sajen) berikut segala perinciannya, dan lain-lain. Salah satu kelengkapan upacara khusus untuk Tiban ialah disiapkan sebelangan dhawet semacam air cendol, yang pada akhir upacara disirat-siratkan ke atas sampai habis, sebagai prasemon lam­bang turunnya hujan. Upacara tiban memang dimaksudkan sebagai upacara minta hujan. Sementara kelompok tiban yang lain ada juga yang mengambil sebagian dhawet untuk diberikan kepada para pe­laku untuk diminum.

Peserta dan Pelaksana.

Jumlah peserta dalam permainan tiban tidak tetap. Sebab di­lakukan secara berpasang-pasangan, paling sedikit tentunya dua orang tetapi hal demikian tidak pernah terjadi. Biasanya puluhan orang yang datang. Maka singkat atau lamanya permainan bergantung ke­pada kecil atau besarnya jumlah peserta. Semuanya laki-laki dewasa antara 20 — 40 tahun. Di samping itu masih ada seorang wasit yang memimpin jalan­nya permainan, dan dua orang pelandang sebagai pembantunya. Katiganya termasuk sebagai dedengkot tiban maka usianya pun rata- rata lebih dari 40 tahun dan menguasai benar-benar seluk beluk per­mainan “tiban” sampai mendetail. Karenannya kewibawaan mereka pun cukup besar. Hal ini diperlukan untuk memelihara sportifitas dalam permainan.

Selain orang-orang yang tampil di depan layar tersebut, masih terdapat kelompok lain yang bekerja di belakang layar yaitu penabuh gamelan, biasanya 4 orang seorang penggendang, seorang penggam- bang, dan dua orang pemain thongthongan. Karena tiban pada hakekatnya permainan upacara minta hu­jan, yang erat hubungannya dengan dunia pertanian, maka perserta- nya adalah petani, dengan segala tradisi kepercayaan dan struktur kehidupan masyarakat yan& komunal. Maka karakter yang menonjol pada permainan tiban ialah sifat-sifat nya yang loyal, guyub, rukun, toleran dan sportif. Sifat komunal ini tidak saja dibawakan antara sesama warga satu desa saja, melainkan meluas antara warga desa yang satu dengan yang lain­nya, bahkan sampai-sampai keluar melibat daerah yang lebih besar lagi. Bukan hal yang luar biasa, apabila suatu ketika kita menyaksi­kan orang-orang dari berbagai daerah, dalam hal ini sudah barang ten­tu daerah Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Blitar, bertemu di satu arena permainan.

Tempat, Peralatan dan Perlengkapan lain-lain.

Untuk tempat dilakukan tiban, diperlukan adanya sebuah arena, dapat berupa tanah lapangan atau halaman, atau sebuah pang­gung terbuka. Pada awal mulanya memang digunakan tanah lapangan atau halaman yang luas. Untuk arenanya sendiri cukup dengan ukuran kira-kira 5×5 meter persegi, atau tepatnya sebuah lingkaran dengan radius 3 meteran, selebihnya untuk penonton. Karena sifatnya yang konumal dan tiban pada dasarnya bukan suatu tontonan, maka batas antara penonton dan pemain sebenarnya tidak ada. Arena dibuat sen­diri oleh penonton yang berdiri atau berjongkok paling depan yang membentuk sebuah lingkaran. Kalau toh diperlukan sebuah panggung maka panggung itu dibuat setinggi 1,25 meter, dan ukuran luasnya 5×5 meter persegi seperti tersebut di atas.

Alat permainan yang pokok ialah cambuk, atau istilah setem­pat pecut, terbuat dari sada aren. Bahan ini mudah didapat karena daerahnya memang kaya akan pohon aren atau enau ini. Proses pembuatannya seikat lidi aren terdiri atas ±15 batang lidi yang terpilin menjadi satu. Dibeberapa bagian diberikan suli, yaitu pengikat terbuat dari anyaman kulit pelepah aren itu sendiri,atau dari kulit bambu yang teranyam halus. Untuk satu cambuk diperlukan 3 ikat yang dipilin lagi menjadi satu, sehingga kita mendapatkan sebuah eambuk yang kuat, lentur, dilengkungkan sejadi-jadinya tidak akan Patah, dan dapat dilecutkan secepat kilat dengan mudah. Dari tengah sampai ujungnya dipasang simpul-simpul kecil dari potongan lidi sehingga cambuk itu pada bagian ujung nampak seperti kawat uri. Untuk mericegah hal-hal yang tidak diharapkan, cambuk di­capkan oleh panitia. Tidak diijinkan pemain membawa cambuknya s° Tentang busana sebenarnya tidak ada ketentuan yang mengikat, terserah kepada selera masing-masing, tetapi badan bagian atasharus telanjang. Namun terdapat kelompok tiban yang dalam upacara ritualnya semua mengenakan baju dan celana komprang berwarna hitam, dengan kain panjang batik yang dililitkan sebagai ikat pinggang -sebagai simpulnya di muka dan kedua ujungnya menjulur ke bawah. Sebagai tutup kepala mereka mengenakan udheng ikat kepala bukan dhesthar blangkon. Kalau permainan dimulai, maka mereka baru membuka bajunya masing-masing.

Iringan / Tetabuhan.

Instrumen yang digunakan untuk mengiringi permainan “tiban” berupa sebuah gambang, sebuah kendhang besar, dan sebuah thongthongan (kadang pun dua : besar dan kecil). Gambang adalah sejenis alat gamelan, terbuat dari bahan kayu, berupa bilahan sebanyak 18 buah, tersusun berurutan dari nada yang rendah sampai nada yang tinggi. Nada rendah ditandai dengan bilah tipis panjang, nada tinggi dengan bilah tebal pendek. Di antaranya terdapat nuansa-nuansa nada-nada yang tersusun berurutan mulai yang rendah sebelah kiri (bilah tipis panjang) ke kanan semakin me-ninggi (bilah semakin tebel memendek). Bilah-bilah tersebut tersusun berjajar bertopang pada kotak resonansi, yang bentuknya memanjang sesuai dengan ukuran bilah-bilanya. Sepasang alat penabuhnya terbuat dari bahan kayu atau tanduk, berbentuk bundar pipih bergaris tengah ± 6 sentimeter, pada pinggirnya dililitkan kain atau benang lawe. Akhirnya diberi bertangkai sepanjang +-30 sentimeter.

Dalam permainan tiban, peranan gambang membawakan sebaris lagu yang pendek, yang selalu diulang-ulang, dengan tehnik pukulan yang improvisataris. Peranan gendhang memberikan jiwa pada gerakan-gerakan tertentu yang dibawakan oleh setiap pemain. Tetapi karena kendhang-nya semacam kendhang ghede, (yang biasa digunakan untuk mengiringi gendhing-gendhing gedhe di Jawa Tengah), maka suaranya tidak selantang kendhang yang berukuran lebih kecil. Hal ini memang sengaja dibuat demikian, karena iringan tetabuhan adalah sekunder. Perhatian penonton harus dipusatkan kepada permainan Tibannya, bukan pada iringannya.

Suatu instrumen lagi ialah thongthongan, terbuat dari seruas bambu yang diberi garis lubang di satu sisinya. Ketika memain­kannya, thongthongan dipukul secara ritmis, dan tangan yang mahir mampu membuat suara yang cukup bervariasi. Lebih lagi kalau meng­gunakan dua thongthongan, yang karena ukurannya berbeda menge­luarkan nada bunyi yang berbeda pula, maka variasi tersebut dapat diperkaya. Ketiga jenis instrumen, yang sayup-sayup membawakan alunan musik yang sederhana melatarbelakangi permainan tiban demikian itu ternyata mampu menimbulkan bermacam-ragam perasaan yang menyatu : sendu, gembira, dan ngeri, namun sekaligus menarik.

Jalan Permainan

Jika demikian akan dimulai, maka iringan tetabuhan pun sege­ra berbunyi. Sementara itu tampil dua orang pelandang, masing- masing, menempati sisi yang berhadapan. Mereka memanggil jago ma­sing-masing sedang seorang membantu mencatat nama dan daerah tempat tinggal, (jaman dulu pencatatan demikian tidak dilakukan). Kedua jago tampil, saling bersalaman, dan wasit menyerahkan sebuah cambuk seorang, tiap jago memilih sendiri sekian cambuk yang disiap kan, kemudian dipertimbangkan berapa kali lecutan dilakukan ber­dasarkan kedudukan ranking (junior atau senior) serta kondisi pisik kedua jago masing-masing. Sekalipun sudah ada peraturan permain­an yang sudah sama-sama di ketahui, namun masih juga diperingat­kan oleh wasit bagian-bagian badan mana yang boleh dilecut, mana yang tidak. Sasaran lecut ialah punggung dan badan bagian depan di atas pusar. Daerah larangan ialah bagian pusar ke bawah, dan kepala. Setelah dilakukan “sut”, yaitu mengundi dengan mengadu jari untuk menentukan siapa yang melecut dulu, maka mulailah permainan.

Paling menarik kalau yang bertanding senior lawan senior yang masing-masing telah memiliki tehnik menyerang dan bertahan yang sempurna, sehingga kadang-kadang lama juga menunggu kesem­patan untuk melecutkan cambuknya tepat mengenai sasaran. Setiap lecutan yang jatuh, kena atau tidak, pihak menyerang lalu me­neriakkan “jailaaak!” sebagai isyarat pergantian giliran, pihak penye- rang kini menjadi pihak yang bertahan. Istilah jailaak tidak diketa­hui lagi apa artinya dan dari mana asalnya.

Meskipun permainan tiban dilihat dari lahiriahnya bersifat “sadistis”, namun tidak seorangpun dari peserta yang menampilkan diri sebagai seorang sadis penuh dendam amarah.Semua menampakkan wajah yang cerah, bersenyum sekalipun lecutan mengena menimbulkan rasa nyeri. Memang ada kalanya wajahnya bersungguh-sungguh, yaitu pihak penyerang, tetapi kesungguh-sung-guhannya itu untuk konsentrasi pikiran mencari sasaran dan saat yang tepat. Sebaliknya pihak lawannya siap menerima lecutan den-ngan senyum ngece mengejek, dan wiraga gaya gerakan yang meng-goda. Tetapi begitu lecutan jatuh, begitu pula wajah yang bersungguh-.sungguh berubah menjadi cerah, sedang yang terkena lecutan, meski-pun kena tepat, masih berjogedan, seolah-olah ingin menyatakan,”aku tidak merasakan apa-apa”.

Dengan ulah demikian, kesan sadisme seolah-olah tertawarkan (neutralized), lebih lagi kalau kedua pelandang yang sudah lanjutusia itu pun ikut berjcgedan mengikuti irama gamelan dengan gaya yang kocak, maka suasana menjadi lebih meriah.

Demikian seterusnya sampai batas berapa lecutan yang diten-tukan selesai. Maka jago-jago yang habis bertarung saling bersalaman lagi dan mundur digantikan oleh pasangan yang lain berikutnya. Dan permainan berulang lagi.

Setiap akhir penampilan, kedua, pelandang dan wasit secara bersama mengadakan penilaian untuk menentukan siapa pemenang-nya. Mereka yang lebih banyak terkena lecutan, yang tampak jelas dari bekas-bekasnya/dinyatakan kalah. Namun pernyataan kalah me-nang ini tidak ada kaitannya dengan hal-hal yang bersifat lomba. Tiban adalah permainan, bahkan permainan yang mengarah kepada upacara ritual. Jadi tidak dilombakan untuk memperebutkan hadiah misalnya. Landasan prinsipnya ialah rasa kebanggaan. Kebanggaan karena menjadi tumbal demi kesejahteraan bersama. Boleh dikatakan semacam kebanggaan seorang martir.

 

Peranan Sekarang.

Zaman semakin maju dan banyak mengubah struktur kehidupan di segala bidang. Selera manusia berubah. Kebutuhan manusia pun dengan sendirinya ikut berubah juga. Ilmu pengetahuan dan menyingkirkan kepercayaan yang dianggap tak-temunalar (ira- sionil). Namun demikian upacara ala tiban minta hujan tetap dipeli­hara kaum petani di pedesaan di daerah Tulungagung, Trenggalek, Kediri dan Blitar.

Hanya untuk tidak ketinggalan jaman, kelompok kelompok tiban sekarang sering bermain untuk mengisi acara-acara tertentu, misalnya untuk suguhan tamu negara, untuk pariwisata, peringatan hari-hari nasional dan upacara lainnya seperti yang diurai­kan di bagian awal tulisan ini. Jelasnya, di samping peranannya yang lama sebagai inti upacara minta hujan yang sudah klasik itu, masih berperan lagi sebagai sarana hiburan, dalam hal ini tiban benar-benar berfungsi sebagai permainan yang sesungguhnya dalam arti kata yang murni.

Tanggapan Masyarakat

Bagaimana tanggapan masyarakat, kiranya tidak perlu diurai­kan panjang lagi. Jelas masyarakat tetap menyukai, tidak saja masya­rakat di lingkungan sendiri, bahkan masyarakat dari luar daerah yang jauh-jauh pun. Tidak berlebih-lebihan agaknya kalau dikatakan,bah­wa tiban mampu menjadi permainan kebanggaan nasional. 53-63

Wonocoyo Surga bagi Penyu, Kabupaten Trenggalek

Penyu hidup damai di Desa Wonocoyo Kecamatan Panggul Trenggalek karena masyarakat sekitarnya begitu peduli terhadap hewan yang dilindungi ini. Desa Wonocoyo Kecamatan Panggul Kabupaten Trenggalek, terkenal sebagai desa surga bagi penyu. Sebab, penyu bisa hidup damai di desa ini. Desa ini berjarak 54 km sebelah barat daya ibukota Trenggalek dan  km dari Kota Kecamatan Panggul, dengan luas wilayah 678,941 ha terdiri dari dataran seluas 370,941 ha dan perbukitan 308,000 ha. Ketinggian wilayahnya dari laut berkisar 0-100 meter, sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Hindia dengan pantainya yang membentang dari barat hingga ke timur wilayah Desa Wonocoyo. Bentangan pantai itu kemudian dikenal sebagai Taman Kili-Kili.

Tak jelas kenapa tempat itu diberi nama Taman Kili-Kili. Yang jelas di pantai dengan tepian ditumbuhi pohon pandan inilah pada sekitar bulan Mei sampai dengan Agustus warga masyarakat desa yang tinggal tidak jauh dari pantai, masyarakat Dusun Bendogolor, sering menemukan penyu laut bertelur di tempat itu.

Penduduk setempat menyebutnya “Pasiran Penyu laut (Pasiran) yang sering di-temukan di Taman Kili-Kili selama ini ada empat jenis, yakni penyu hijau atau dikenal dengan nama green turtle (Che- Ionia mydas), penyu sisik atau dikenal dengan nama Hawksbill turtle (Eret- mochelys imbricata), Penyu Abu-Abu/ Lekang (Lepidochelys olivachea) dan penyu Belimbing atau dikenal dengan nama Leatherback turtle (Dermochelys olivacea). Dari keempat jenis itu, pe­nyu Belimbing terbesar yang pernah mereka temukan. Yakni dengan ukuran sekitar dua meter dan berat kurang lebih 700 – 800 kg.

Karena kurangnya pemahaman bahwa penyu laut termasuk hewan yang dilindungi maka sering kali yang dilakukan masyarakat ketika menjumpai penyu laut bertelur adalah mengambil telur-telurnya untuk dijual atau dikonsumsi sendiri. Setiap tahunnya, menurut pengakuan mereka, tidak kurang dari 40 sarang telur penyu yang ditemukan dan diambil. Rata-rata setiap sarang tidak kurang dari seratus butir telur.

Namun setelah melalui penyuluhan dan sosialisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Wonocoyo bersama BPD (Badan Permusyawaratan Desa) kepada masyarakat Bendogolor dan beberapa tokoh masyarakat yang seka­ligus ditindaklanjuti dengan penyusu­nan Peraturan Desa (Perdes) tentang Konservasi Penyu, warga pun mulai mengerti. Kegiatan tersebut dilakukan oleh Pemerintahan Desa Wonocoyo se­telah mengikuti Workshop Konservasi Penyu yang diadakan oleh Departemen Perikanan dan Kelautan Pusat di Hotel Hayam Wuruk Trenggalek

Dalam sosialisasi yang dilakukan oleh Pemerintahan Desa Wonocoyo terhadap masyarakat Bendogolor pada tanggal 21 Mei 2011 terungkap bahwa Indonesia adalah rumah bagi enam dari tujuh spesies penyu di dunia, karena memberikan tempat yang penting untuk bersarang dan mencari makan. Warga pun senang mereka menjadi bagian dari penyediaan “surga” bagi penyu tersebut selama dua hari, tanggal 18 -19 Mei 2011 lalu.

Selain itu, Indonesia merupakan rute perpindahan yang penting di persim­pangan Samudera Pasifik dan Hindia. Namun, populasi enam spesies penyu laut terancam punah. Menurut IUCN Red List of Threatened Species (Daftar Merah Spesies Yang Terancam Menurut IUCN), ancaman utama yang dihadapi oleh penyu laut mencakup hancurnya habitat dan tempat bersarang, penangka­pan, perdagangan ilegal, dan eksploitasi yang membahayakan lingkungan.

“Warga akhirnya mengerti, bahwa penyu adalah spesies yang terancam punah menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dan harus dilindun­gi, penyu disebut sebagai hewan purba yang masih bertahan sampai saat ini dan memiliki peran penting dalam penyeimbang habitat laut. (gus)

SUARA DESA, Edisi 08, Januari-Februari 2013, hlm. 31

Badhan, Kabupaten Trenggalek

Sambil Ber-‘Badhan’ Perut Pun Kenyang

“seje desa mawa cara” Lain desa lain tradisi. Pepatah Jawa itu berlaku untuk mengungkapkan tradisi unik masyarakat di Indonesia yang banyak memiliki keragaman dalam mem­peringati Hari Raya Idul Fitri. Salah satunya di Dusun Krajan, Desa Karang Tengah, Kabupaten Trenggalek. Di desa terpencil yang masuk wilayah Kecamatan Panggul itu ada tradisi Kenduri (selamatan) yang dilakukan pada malam hari setelah pagi harinya masyarakat melaksanakan Sholat Idul Fitri.

Tradisi kenduri di Desa Karang Tengah itu dilakukan di setiap ru­mah secara bergiliran. Praktis ma­syarakat dan ustadz yang diundang untuk mengikuti kenduri harus ikut berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain dalam satu malam ba’dha Sholat Isya’.

Menariknya, setiap orang yang ikut kenduri wajib memakan makanan yang disediakan di setiap rumah. Biasanya, menu makanan yang di­sediakan cukup sederhana, soto ayam, gulai, atau kare ayam.

Saat mengikuti tradisi kenduri itu, tidak sedikit pengikut kenduri yang mengaku perutnya sakit karena ke­kenyangan. Bayangkan saja, bila ikut kenduri di sepuluh rumah, praktis ha­rus makan sepuluh piring plus minum segelas teh dan kopi. Belum lagi kue lebarannya. “Tapi asyik, la wong ini tradisi. Ada keyakinan kebaikan di da­lamnya. Ada rasa tenteram bila sudah ber-badhan. Ini yang indah, di luar makanannya yang bikin kenyang,” kata Sucipto, remaja desa setempat.

Bahkan, banyak pula pengikut ken­duri yang memilih tidak melanjutkan mengikuti “slametan” yang digelar di setiap rumah dalam satu dusun. Ten­tunya, mereka tidak bisa lanjut lan­taran perutnya sudah penuh sesak.

Memang, di Dusun Krajan, ma­syarakat memiliki kebiasaan me­nyuguhkan kopi setiap ada tamu yang sonjo (bertamu) ke rumahnya.

Tradisi kenduri di setiap rumah pada malam Lebaran di Dusun Krajan ini biasanya dilakukan sekaligus un­tuk “ber-badhan”. Istilah “Badhan” sendiri artiya adalah bermaaf-maafan antar warga.

Menurut beberapa tokoh masyarakat setempat, istilah badhan berasal dari kata “bodho” atau dalam bahasa Indonesia berarti “setatah”, sehabis atau pasca.

Maksud dari istilah “badhan” ada­lah tradisi bermaaf-maafan setelah menjalankan Puasa Ramadhan selama sebulan penuh.

Cara ber-“badhan”, masyarakat di Trenggalek pun sangat unik. Berbeda degan masyarakat di daerah lain di Jawa Timur. Di Trenggalek, masya­rakat yang muda wajib malakukan sungkem badhan kepada orang yang lebih tua.

Cara meminta maaf pun dilakukan cukup lama, sebab yang muda terlebih dulu mengucapkan kalimat permin­taan maaf yang sangat penjang. Be­rikutnya, yang lebih tua menjawab permintaan maaf sekaligus meminta maaf kepada yang muda dengan ka­limat yang sangat panjang pula.

Dalam setiap sungkem badhan, bisa memakan waktu 3-4 menit. Oto­matis, bila kita ikut melakukan ba­dhan bersama-sama ke rumah kerabat yang lebih tua, harus rela antre cukup lama.

“Kalimat maaf yang panjang itu seperti sudah pakem. Tapi sekarang agak dikurangi durasinya. Apa sih di zaman ini yang tidak dikurangi hal-hal tradisi yang sejatinya baik itu,” kata Lasmi, teman Sucipto. (gus)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SUARA DESA
; Edisi 05 I 15 Juni -15 Juli 2012, hlm. 29

Priyo Budi Santoso, Kabupaten Trenggalek

Priyo Budi Santoso30 Maret 1966, di sebuah kota kecil Trenggalek, Jawa Timur, lahir Priyo Budi Santoso. Dari pasangan ibun Hj. Suharyati, ayahan H. Soetadji serta isteri tercintanya Ir. Hj. Fenty Estiana dan keempat anaknya: Nadea Lazuardani Zahra, Andromeda Gereda Lazuardi,  Alma Mahira Lazuardani, dan Nadine Tsabita Lazuardani.

Tahun 1979, Priyo menempuh pendidikan Sekolah Dasarnya di SDN I Karanganom Trenggalek.

Tahun 1982, setelah menyelesaikan Sekolah Dasarnya Priyo melanjutkan di SMP Negeri I Trenggalek.

Tahun 1985, setelaha tamat SMP melanjutkan ke SMA Negeri 1 Trenggalek.

Tahun 1989-1990,  Ketua Sema Fisipol UGM Yogya; Ketua DPP Persatuan Mahasiswa Administrasi Indonesia.

Tahun 1992, Selepas SMA Negeri I Trenggalek, Priyo muda berlabuh di Kampus Biru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Ilmu Administrasi Negara di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Di universitas terkemuka di Indonesia itu ia semakin mematangkan inetelektualitas, jiwa aktivisnya. makin makin terpupuk. Jabatan Ketua Senat Mahasiswa Fisipol UGM disandangnya, di samping aktif di berbagai lembaga ekstra kampus, seperti HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan LDK (Lembaga Dakwah Kampus) cikal-bakal lahirnya KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia).

“Tumbangnya Sebuah Dinasti” menjadi salah satu tulisan heroiknya yang menggugat peran mahasiswa yang dinilai semakin nihil dalam pentas pergerakan dan perubahan sosial di tanah air saat itu. Mahasiswa, dalam pandangannya, adalah arsitek perubahan (agent of change), tidak sepatutnya hanya menjadi pengekor dan pembebek yang ter-ninabobo di menara gading, melupakan panggilan asasinya sebagai anak bangsa yang harus menyuarakan suara dan jeritan rakyat.

Karya bukunya yang lain berjudul “Birokrasi Pemerintah Orde Baru : Perspektif Kultural dan Struktural”, diterbitkan oleh Rajawali Pers dan telah beberapa kali naik cetak. Priyo telah menulis ratusan artikel, makalah, dan opini yang tersebar di berbagai media massa, buku ilmiah, seminar, kajian, dan diskusi.

Semasa mahasiswa, Priyo membekali dirinya dengan aktif di berbagai forum dan kelompok diskusi. Pada saat itu di berbagai kampus besar di Indonesia sedang menjamur lahirnya kelompok-kelompok diskusi seperti di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Makasar, dan Padang.

Priyo Budi Santoso mempunyai Istri bernama Fenty Estiana SP, serta tiga orang anak: Nadea Lazuardani Zahra, Andromeda Gereda Lazuardi, Alma Mahira Lazuardani, Nadine Tsabita Lazuardani

Tawaran sebagai dosen di civitas akademikanya setelah rampung kuliah, adalah sebagian dari puncak pembuktian dirinya tentang keseriusannya di bidang keilmuan, bukan semata terobsesi pada karier politis. Walaupun, tawaran itu terpaksa ditanggalkannya dan lebih memilih meniti karirnya di kota metropolitan, Jakarta.

Setelah diwisuda sebagai sarjana, di kota metropolitan Jakarta, selain menjadi dosen di Universitas Nasional (Unas) dan researcher di Lembaga Studi Pembangunan (LSP), Priyo muda kemudian bergabung di CIDES (Center for Information and Development Studies). CIDES adalah sebuah lembaga think tank yang didirikan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) yang kala itu dipimpin oleh Prof. Dr. Ing. BJ Habibie.

Priyo kemudian bergabung dengan Partai Golkar dan dipercaya menjadi konseptor pidato Ketua Umum Harmoko.

Tahun 1993-1996, sebagai Ketua Departemen Publikasi CIDES

Tahun 1996-1997, sebagai  Dosen Fisip UNAS.

Tahun 1997-1999,  dalam usia yang sangat muda, 30 tahun.  Karena kepintarannya yang menonjol, Priyo mampu menerobos antrian Partai Golkar yang begitu panjang untuk menjadi anggota DPR-RI. Dia adalah anggota dewan termuda kedua pada saat itu.

Tahun 1999,  Priyo kembali terpilih sebagai anggota DPR RI Periode 1999-2004. Karir politik Priyo terus menunjukkan grafik menaik. Kepercayaan demi kepercayaan dari partai politik, organisasi kemasyarakatan (Ormas), lembaga negara, dan organisasi olahraga terus diemban kepadanya.

Tahun 2006 – 2009, Priyo dipercaya oleh Partai Golkar sebagai Ketua Fraksi DPR RI,  Fraksi Terbesar di DPR RI pada periode tersebut,

Tahun 2004, terpilih kembali  menjadi Anggota DPR RI Periode 2004-2009

Tahun 2004 – 2006, menjabat Wakil Ketua Komisi II DPR RI

Selain sibuk menjalankan tugas di DPR RI, Priyo juga harus membagi waktu, energi dan pikirannya untuk beberapa organisasi kemasyarakatan sebagai berikut:

Tahun 2005 – 2010, menjadi Ketua Umum DPP Ormas MKGR (Musyawarah Kekeluargaan Gotong-Royong).

Tahun 2007 – 2012, Sebagai Ketua Dewan Pembina Forsis (Forum Silaturahmi Santri).

Tahun 2009-2014, adalah anggota sekaligus Wakil Ketua DPR mewakili Partai Golongan Karya dari Daerah Pemilihan Jawa Timur I (Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo). Juga sebagai Sebagai Ketua DPP Partai Golkar.

Terpilihnya Priyo Budi Santoso sebagai wakil ketua DPR mewakili Partai Golkar adalah suatu evolusi positif yang menunjukan peran anak muda di Partai Golkar semakin signifikan. Priyo Budi Santoso terpilih menjadi wakil ketua DPR dari Partai Golkar setelah melalui pemilihan dalam rapat pleno dan menyisihkan empat kandidat, Yakni, Enggartiasto Lukita Agus Gumiwang Kartasasmita, Rully Chaerul Azwar dan Airlangga Hartarto.

Tahun 2010 – 2015, menjadi Ketua Umum PB Lemkari (Lembaga Karate-Do Indonesia).  Presidium ICMI Pusat (Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia) periode 2010 – 2015. Ketua Dewan Pertimbangan Apkli (Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia) periode 2010 – 2015

Tahun 2010, Ketokohan Priyo di ranah politik semakin mendapat pengakuan dengan menyabet penghargaan diantaranya : Politisi Pria Terpopuler 2010 di Parlemen Senayan hasil polling Uvolution Indonesia dan Inilah.com; Tokoh Terpopuler 2010 kategori Lembaga Legislatif oleh Charta Politica .=S1Wh0T0=