Tiban, Kabupaten: Kediri, Trenggalek, Tulungagung dan Blitar

Permainan Tiban masih bisa dinikmati di Kabupaten : Kediri, Trenggalek, Tulungagung dan Blitar (Jawa Timur).

T I B A NNama Permainan.

Istilah “Tiban” berasal dari kata dasar “tiba” bahasa Jawa yang berarti “jatuh”. “Tiban mengandung arti timbulnya sesuatu yang tidak diduga semula, tidak diketahui bagaimana, Suatu analogi : “sumur tiban” = sumur yang semula tiada, suatu ke­tika tiba-tiba ada. Dukun tiban = seseorang yang mendadak menjadi dukun, mahir dalam segala jampi-jampi, padahal sebelumnya orang biasa saja. Dalam konteksnya dengan peristiwa di desa Purwokerto tersebut, maka tiban di sini menunjuk kepada hujan yang jatuh de­ngan sekonyong-konyong, tahu-tahu ada begitu saja, seolah-oleh jatuh dari langit.  yang dalam percakapan sehari-hari disebut udan tiban, udan = hujan”.  Latar Belakang Sosial Budaya.

Kapan timbulnya permainan tiban tidak dike­tahui. Yang pasti, menurut informan, sudah beberapa generasi, jauh lebih dini. Hal ini dikaitkan dengan cerita yang menuturkan asal mula terjadinya Tiban itu sendiri. Jauh di masa lampau, demikian dikisahkan, entah kapan, da­taran lembah Brantas yang terapit oleh gunung Wilis dan Kelud sangatlah subur. Usaha pertanian menghasilkan panen yang sangat berlimpahan setiap tahun. Dan penduduk pun menjadi kaya raya. Tetapi manusia adalah manusia dengan segala kelemahannya. Keka­yaan materiil- yang berlimpahan ternyata membuat manusia lambat laun lupa diri, dan akhirnya dikuasai oleh rasa egoisme yang menjadi- jadi. Timbul persaingan pribadi antara satu dengan yang lain, yang sering kali berubah menjadi permusuhan, hingga menumbuhkan pe­rasaan tak aman lagi dalam hati masing-masing.

Orang dulu masih percaya benar akan kekuatan-kekuatan ma­gis, yang mampu memberikan kekebalan orang untuk menguasai dan sekaligus pun untuk perisai diri terhadap “kejahatan” lawannya ber­saing. Demikianlah rasa keguvuban dan kerukunan semula menjadi langka, dan orang sudah berprasangka buruk terhadap sesamanya. Pada suatu ketika datang musibah yang menimpa daerah yang subur makmur itu. Musim kemarau berkepanjangan. Hujan tak per­nah kunjung tiba. Sawah ladang menjadi kering, panen pun gagal. Timbul kelaparan dan penyakit. Banyak ternak dan penduduk yang mati.

Kepala desa Purwokerto (Ngimbang sekarang, kecamatan Ngadiluwih, sebelah selatan kota Kedir)i, orangnya tua dan saleh lagi baik hati. Melihat penduduknya menderita, ia tidak sampai hati. Maka dilakukannya “tapa pepe”, yakni pertapa dengan menjemur diri di bawah terik matahari. Maksudnya memohon pengampunan kepada Tuhan bagi rakyatnya, agar dibebaskan dari penderitaan, dan desa Purwokerto diberi hujan, agar pulih kembali kesuburan tanah­nya seperti semula.

Sudah berhari-hari ia melakukan “tapa pepe”, namun Tuhan rupanya belum mengabulkan. Diteruskannya tapanya dengan tekun dan khidmat, tiada putus asa. Penduduk sekitar yang melihatnya menjadi iba, tergerak hatinya untuk solider ikut melakukan tapa pepe. Lambat laun menyusul juga yang lain-lain, seorang demi se­orang, akhirnya menjadi banyak.

Pada suatu hari, seperti dalam mimpi, sang Kepala desa men­dengar suara nyaring membisikkan peringatan, bahwa manusia telah berbuat dosa karena berpaling dari Tuhan untuk memuja kebendaan dan bernafsu memperoleh kekuasaan dengan mengandalkan kekuatan kekebalan. Kembalilah kepada Tuhan, dan manusia akan selamat tan­pa kekebalan sebab kekebalan itu sendiri pun dosa, karena hanya mengundang musuh dan mengingkari kekuasaan Tuhan. Tebuslah dosa dengan menyiksa diri dan mengorbankan darah ma­nusia menitik ke bumi.

Suara itu lenyap. Sang Kepala desa menyudahi tapanya diikuti oleh yang lain. Sejak itu ia memeras otak untuk mencari jalan apa yang harus dilakukan untuk memenuhi tebusan dosanya, dosa ma­nusia. Mengorbankan darah manusia, bagaimana caranya ? Tetapi yang didengarnya dalam tapanya, menitikkan darah manusia ke bumi dengan menyiksa diri.Tiba-tiba tahulah ia hikmah kata-kata itu. Maka diperintahkannya anak buahnya dan orang-orang yang te­lah ikut melakukan tapa pepe untuk membuat beberapa cambuk dari “sada aren” yang kuat dengan ujungnya sengaja dibuat kasar dengan simpul-simpul kecil dari potongan sada aren pula, sehingga mirip kawat berduri layaknya. Dalam pada itu disampaikan maksudnya dengan cambuk itu sebagai sarana penebus dosa.

Pada suatu hari penduduk desa Purwokerto digemparkan oleh tamasya mengerikan yang belum pernah mereka saksikan selamanya- Di halaman yang luas di muka rumah pak Kepala desa, pak  Kepala desa sendiri bersama beberapa orang lainnya menyiksa diri dengan melecut-lecutkan cambuk sada aren ke punggung dan dada masing-masing yang tiada berbaju itu. Babak belur luka memar memenuhi dada dan punggung, tetapi tak setitik pun darah menetes. Ternyata dengan melecuti badan sendiri, tidak memenuhi harapan. Maka pak Kepala desa mengubah cara. Mereka berpasang-pasangan dan saling melecut, dengan demikian lecutan lebih keras menimpa dan mengucurkan darah. Demikianlah tamasya itu berlangsung cukup lama, darah pun sudah banyak bercucuran di tanah namun rupanya mereka belum berniat menyudahi, bahkan ulah mereka semakin gila seperti keranjingan layaknya.

Tiba-tiba terjadi mujijat. Cuaca mendung, hawa pun terasa semakin sejuk, dan akhirnya turun hujan lebat seperti tercurahkan dari langit. Lecut-melecut berhenti. Semua bersyukur. Waktu itu bertepatan dengan tibanya bulan Suro. Dengan peristiwa mengesankan tersebut penduduk desa Purwokerto (Ngimbang namanya kemudian), pada tiap-tiap bulan Suro atau kalau musim kemarau panjang, memperingati dan merayakan dengan membuat tradisi upacara Tiban.

Latar Belakang Sejarah Perkembangan.

Setelah Tiban menjadi tradisi dari tahun ke tahun, maka lambat laun mengalami perkembangan dan perubahan dalam pelaksanaan Peraturan permainan diadakan demi keamanan dan kejujuran bagi para pelakunya, sehingga pelaksanaannya tidak dilakukan secara serampangan asal jadi saja, melainkan harus mengikuti ketentuan-ketentuan obyektif yang sudah dimufakati bersama. Misalnya jarak antara yang melecut dan yang dilecut harus sedepa, tidak boleh jauh, karena lecutan dari jauh sangat berbahaya. Barangkali untuk mengon-trol jarak ini, para pelaku diharuskan mengenakan kain panjang yang dililitkan di pinggang sebagai sabuk, dengan simpulnya di depan, se-hingga pelaku yang mendapat giliran melecut dapat memegang ujung kain lawannya yang terjumbai dengan tangannya yang satu. Tetapi hal ini tidak selalu dipatuhi, mungkin karena sudah rutin, pelaku masing-masing sudah dapat mengatur dan menjaga sendiri jarak yang sudah ditentukan.

Karena “Tiban” pun menjadi suatu upacara ritual, maka untuk lebih memantapkan sifat-sifat kesakralannya, orang lalu menambah­kan hal-hal yang dipandang sebagai suatu kelengkapan sesuatu upacara, yaitu saji-sajian (Jawa = sajen) berikut segala perinciannya, dan lain-lain. Salah satu kelengkapan upacara khusus untuk Tiban ialah disiapkan sebelangan dhawet semacam air cendol, yang pada akhir upacara disirat-siratkan ke atas sampai habis, sebagai prasemon lam­bang turunnya hujan. Upacara tiban memang dimaksudkan sebagai upacara minta hujan. Sementara kelompok tiban yang lain ada juga yang mengambil sebagian dhawet untuk diberikan kepada para pe­laku untuk diminum.

Peserta dan Pelaksana.

Jumlah peserta dalam permainan tiban tidak tetap. Sebab di­lakukan secara berpasang-pasangan, paling sedikit tentunya dua orang tetapi hal demikian tidak pernah terjadi. Biasanya puluhan orang yang datang. Maka singkat atau lamanya permainan bergantung ke­pada kecil atau besarnya jumlah peserta. Semuanya laki-laki dewasa antara 20 — 40 tahun. Di samping itu masih ada seorang wasit yang memimpin jalan­nya permainan, dan dua orang pelandang sebagai pembantunya. Katiganya termasuk sebagai dedengkot tiban maka usianya pun rata- rata lebih dari 40 tahun dan menguasai benar-benar seluk beluk per­mainan “tiban” sampai mendetail. Karenannya kewibawaan mereka pun cukup besar. Hal ini diperlukan untuk memelihara sportifitas dalam permainan.

Selain orang-orang yang tampil di depan layar tersebut, masih terdapat kelompok lain yang bekerja di belakang layar yaitu penabuh gamelan, biasanya 4 orang seorang penggendang, seorang penggam- bang, dan dua orang pemain thongthongan. Karena tiban pada hakekatnya permainan upacara minta hu­jan, yang erat hubungannya dengan dunia pertanian, maka perserta- nya adalah petani, dengan segala tradisi kepercayaan dan struktur kehidupan masyarakat yan& komunal. Maka karakter yang menonjol pada permainan tiban ialah sifat-sifat nya yang loyal, guyub, rukun, toleran dan sportif. Sifat komunal ini tidak saja dibawakan antara sesama warga satu desa saja, melainkan meluas antara warga desa yang satu dengan yang lain­nya, bahkan sampai-sampai keluar melibat daerah yang lebih besar lagi. Bukan hal yang luar biasa, apabila suatu ketika kita menyaksi­kan orang-orang dari berbagai daerah, dalam hal ini sudah barang ten­tu daerah Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Blitar, bertemu di satu arena permainan.

Tempat, Peralatan dan Perlengkapan lain-lain.

Untuk tempat dilakukan tiban, diperlukan adanya sebuah arena, dapat berupa tanah lapangan atau halaman, atau sebuah pang­gung terbuka. Pada awal mulanya memang digunakan tanah lapangan atau halaman yang luas. Untuk arenanya sendiri cukup dengan ukuran kira-kira 5×5 meter persegi, atau tepatnya sebuah lingkaran dengan radius 3 meteran, selebihnya untuk penonton. Karena sifatnya yang konumal dan tiban pada dasarnya bukan suatu tontonan, maka batas antara penonton dan pemain sebenarnya tidak ada. Arena dibuat sen­diri oleh penonton yang berdiri atau berjongkok paling depan yang membentuk sebuah lingkaran. Kalau toh diperlukan sebuah panggung maka panggung itu dibuat setinggi 1,25 meter, dan ukuran luasnya 5×5 meter persegi seperti tersebut di atas.

Alat permainan yang pokok ialah cambuk, atau istilah setem­pat pecut, terbuat dari sada aren. Bahan ini mudah didapat karena daerahnya memang kaya akan pohon aren atau enau ini. Proses pembuatannya seikat lidi aren terdiri atas ±15 batang lidi yang terpilin menjadi satu. Dibeberapa bagian diberikan suli, yaitu pengikat terbuat dari anyaman kulit pelepah aren itu sendiri,atau dari kulit bambu yang teranyam halus. Untuk satu cambuk diperlukan 3 ikat yang dipilin lagi menjadi satu, sehingga kita mendapatkan sebuah eambuk yang kuat, lentur, dilengkungkan sejadi-jadinya tidak akan Patah, dan dapat dilecutkan secepat kilat dengan mudah. Dari tengah sampai ujungnya dipasang simpul-simpul kecil dari potongan lidi sehingga cambuk itu pada bagian ujung nampak seperti kawat uri. Untuk mericegah hal-hal yang tidak diharapkan, cambuk di­capkan oleh panitia. Tidak diijinkan pemain membawa cambuknya s° Tentang busana sebenarnya tidak ada ketentuan yang mengikat, terserah kepada selera masing-masing, tetapi badan bagian atasharus telanjang. Namun terdapat kelompok tiban yang dalam upacara ritualnya semua mengenakan baju dan celana komprang berwarna hitam, dengan kain panjang batik yang dililitkan sebagai ikat pinggang -sebagai simpulnya di muka dan kedua ujungnya menjulur ke bawah. Sebagai tutup kepala mereka mengenakan udheng ikat kepala bukan dhesthar blangkon. Kalau permainan dimulai, maka mereka baru membuka bajunya masing-masing.

Iringan / Tetabuhan.

Instrumen yang digunakan untuk mengiringi permainan “tiban” berupa sebuah gambang, sebuah kendhang besar, dan sebuah thongthongan (kadang pun dua : besar dan kecil). Gambang adalah sejenis alat gamelan, terbuat dari bahan kayu, berupa bilahan sebanyak 18 buah, tersusun berurutan dari nada yang rendah sampai nada yang tinggi. Nada rendah ditandai dengan bilah tipis panjang, nada tinggi dengan bilah tebal pendek. Di antaranya terdapat nuansa-nuansa nada-nada yang tersusun berurutan mulai yang rendah sebelah kiri (bilah tipis panjang) ke kanan semakin me-ninggi (bilah semakin tebel memendek). Bilah-bilah tersebut tersusun berjajar bertopang pada kotak resonansi, yang bentuknya memanjang sesuai dengan ukuran bilah-bilanya. Sepasang alat penabuhnya terbuat dari bahan kayu atau tanduk, berbentuk bundar pipih bergaris tengah ± 6 sentimeter, pada pinggirnya dililitkan kain atau benang lawe. Akhirnya diberi bertangkai sepanjang +-30 sentimeter.

Dalam permainan tiban, peranan gambang membawakan sebaris lagu yang pendek, yang selalu diulang-ulang, dengan tehnik pukulan yang improvisataris. Peranan gendhang memberikan jiwa pada gerakan-gerakan tertentu yang dibawakan oleh setiap pemain. Tetapi karena kendhang-nya semacam kendhang ghede, (yang biasa digunakan untuk mengiringi gendhing-gendhing gedhe di Jawa Tengah), maka suaranya tidak selantang kendhang yang berukuran lebih kecil. Hal ini memang sengaja dibuat demikian, karena iringan tetabuhan adalah sekunder. Perhatian penonton harus dipusatkan kepada permainan Tibannya, bukan pada iringannya.

Suatu instrumen lagi ialah thongthongan, terbuat dari seruas bambu yang diberi garis lubang di satu sisinya. Ketika memain­kannya, thongthongan dipukul secara ritmis, dan tangan yang mahir mampu membuat suara yang cukup bervariasi. Lebih lagi kalau meng­gunakan dua thongthongan, yang karena ukurannya berbeda menge­luarkan nada bunyi yang berbeda pula, maka variasi tersebut dapat diperkaya. Ketiga jenis instrumen, yang sayup-sayup membawakan alunan musik yang sederhana melatarbelakangi permainan tiban demikian itu ternyata mampu menimbulkan bermacam-ragam perasaan yang menyatu : sendu, gembira, dan ngeri, namun sekaligus menarik.

Jalan Permainan

Jika demikian akan dimulai, maka iringan tetabuhan pun sege­ra berbunyi. Sementara itu tampil dua orang pelandang, masing- masing, menempati sisi yang berhadapan. Mereka memanggil jago ma­sing-masing sedang seorang membantu mencatat nama dan daerah tempat tinggal, (jaman dulu pencatatan demikian tidak dilakukan). Kedua jago tampil, saling bersalaman, dan wasit menyerahkan sebuah cambuk seorang, tiap jago memilih sendiri sekian cambuk yang disiap kan, kemudian dipertimbangkan berapa kali lecutan dilakukan ber­dasarkan kedudukan ranking (junior atau senior) serta kondisi pisik kedua jago masing-masing. Sekalipun sudah ada peraturan permain­an yang sudah sama-sama di ketahui, namun masih juga diperingat­kan oleh wasit bagian-bagian badan mana yang boleh dilecut, mana yang tidak. Sasaran lecut ialah punggung dan badan bagian depan di atas pusar. Daerah larangan ialah bagian pusar ke bawah, dan kepala. Setelah dilakukan “sut”, yaitu mengundi dengan mengadu jari untuk menentukan siapa yang melecut dulu, maka mulailah permainan.

Paling menarik kalau yang bertanding senior lawan senior yang masing-masing telah memiliki tehnik menyerang dan bertahan yang sempurna, sehingga kadang-kadang lama juga menunggu kesem­patan untuk melecutkan cambuknya tepat mengenai sasaran. Setiap lecutan yang jatuh, kena atau tidak, pihak menyerang lalu me­neriakkan “jailaaak!” sebagai isyarat pergantian giliran, pihak penye- rang kini menjadi pihak yang bertahan. Istilah jailaak tidak diketa­hui lagi apa artinya dan dari mana asalnya.

Meskipun permainan tiban dilihat dari lahiriahnya bersifat “sadistis”, namun tidak seorangpun dari peserta yang menampilkan diri sebagai seorang sadis penuh dendam amarah.Semua menampakkan wajah yang cerah, bersenyum sekalipun lecutan mengena menimbulkan rasa nyeri. Memang ada kalanya wajahnya bersungguh-sungguh, yaitu pihak penyerang, tetapi kesungguh-sung-guhannya itu untuk konsentrasi pikiran mencari sasaran dan saat yang tepat. Sebaliknya pihak lawannya siap menerima lecutan den-ngan senyum ngece mengejek, dan wiraga gaya gerakan yang meng-goda. Tetapi begitu lecutan jatuh, begitu pula wajah yang bersungguh-.sungguh berubah menjadi cerah, sedang yang terkena lecutan, meski-pun kena tepat, masih berjogedan, seolah-olah ingin menyatakan,”aku tidak merasakan apa-apa”.

Dengan ulah demikian, kesan sadisme seolah-olah tertawarkan (neutralized), lebih lagi kalau kedua pelandang yang sudah lanjutusia itu pun ikut berjcgedan mengikuti irama gamelan dengan gaya yang kocak, maka suasana menjadi lebih meriah.

Demikian seterusnya sampai batas berapa lecutan yang diten-tukan selesai. Maka jago-jago yang habis bertarung saling bersalaman lagi dan mundur digantikan oleh pasangan yang lain berikutnya. Dan permainan berulang lagi.

Setiap akhir penampilan, kedua, pelandang dan wasit secara bersama mengadakan penilaian untuk menentukan siapa pemenang-nya. Mereka yang lebih banyak terkena lecutan, yang tampak jelas dari bekas-bekasnya/dinyatakan kalah. Namun pernyataan kalah me-nang ini tidak ada kaitannya dengan hal-hal yang bersifat lomba. Tiban adalah permainan, bahkan permainan yang mengarah kepada upacara ritual. Jadi tidak dilombakan untuk memperebutkan hadiah misalnya. Landasan prinsipnya ialah rasa kebanggaan. Kebanggaan karena menjadi tumbal demi kesejahteraan bersama. Boleh dikatakan semacam kebanggaan seorang martir.

 

Peranan Sekarang.

Zaman semakin maju dan banyak mengubah struktur kehidupan di segala bidang. Selera manusia berubah. Kebutuhan manusia pun dengan sendirinya ikut berubah juga. Ilmu pengetahuan dan menyingkirkan kepercayaan yang dianggap tak-temunalar (ira- sionil). Namun demikian upacara ala tiban minta hujan tetap dipeli­hara kaum petani di pedesaan di daerah Tulungagung, Trenggalek, Kediri dan Blitar.

Hanya untuk tidak ketinggalan jaman, kelompok kelompok tiban sekarang sering bermain untuk mengisi acara-acara tertentu, misalnya untuk suguhan tamu negara, untuk pariwisata, peringatan hari-hari nasional dan upacara lainnya seperti yang diurai­kan di bagian awal tulisan ini. Jelasnya, di samping peranannya yang lama sebagai inti upacara minta hujan yang sudah klasik itu, masih berperan lagi sebagai sarana hiburan, dalam hal ini tiban benar-benar berfungsi sebagai permainan yang sesungguhnya dalam arti kata yang murni.

Tanggapan Masyarakat

Bagaimana tanggapan masyarakat, kiranya tidak perlu diurai­kan panjang lagi. Jelas masyarakat tetap menyukai, tidak saja masya­rakat di lingkungan sendiri, bahkan masyarakat dari luar daerah yang jauh-jauh pun. Tidak berlebih-lebihan agaknya kalau dikatakan,bah­wa tiban mampu menjadi permainan kebanggaan nasional. 53-63

Syiar Islam dengan Bubur, Kabupaten Tuban

sYIAR iSLAM DENGAN bUBUR001Setiap bulan Ramadhan, ma­syarakat Tuban, biasanya suka menikmati kelezatan Bubur Muhdhor. Kuliner ini biasanya pula dibagikan secara gratis sebagai takjil ketika berbuka puasa. Takmir Masjid Al Muhdhor, Agil Al Bunumay, mengatakan, pembuatan bubur merupakan tradisi setiap Ra­madhan yang sudah dilakukan turun temurun sejak 1937. Agil menje­laskan, bubur dibuat sebagai takjil bagi umat Islam yang saat itu masih banyak yang hidup serba kekurangan. Bubur dibagikan secara gratis kepada siapa saja, termasuk ke musala dan masjid yang dekat dengan Masjid Al Muhdhor.

Menjelang buka puasa, ruas Jalan Pemuda Kota Tuban, tepatnya di Mas­jid Al Muhdhor, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Tuban, dipenuhi warga mulai anak-anak hing­ga orang tua yang berdesakan sambil menenteng piring atau mangkuk. Mereka antre menunggu pembagian bubur. Salah seorang penikmat bubur Muhdhor, Muhammad bin Alwi, mengatakan, sebenarnya tidak ada perbedaan cara pembuatan bubur Muhdhor dengan bubur lainnya. Hanya saja, rasa bubur sangat khas. “Setiap hari saat Ramadhan saya antre di sini. Tidak ada yang berbeda sih tapi rasanya lebih gurih,” ujar Mu­hammad.

Bubur dibuat dari beras biasa de­ngan campuran bumbu gulai, santan, dan rempah-rempah. Sekali membuat, penyelenggara bisa menghabiskan beras sampai 30 kilogram. Bubur yang dibagikan secara gra­tis ini dibuat langsung di halaman Masjid Al Muhdhor oleh enam sam­pai 10 laki-laki warga keturunan Arab. Pembuatannya sudah dimulai sejak pukul 13.00 WIB. Untuk itu dibutuhkan waktu dua jam guna me­ngolah beras menjadi bubur hingga siap disantap untuk takjil berbuka puasa.

Beras dimasak di sebuah tungku be­sar setinggi satu meter menggunakan api dari gas. Sedang pembagiannya dilakukan mulai pukul 17.00 WIB. Nah, begitu bedhug Maghrib ditabuh, pemandangan menarik terlihat di masjid ini di mana masyarakat secara berjamaah menyantap bubur simbol kepedulian umat Islam pada kaum dhuafa ini. Semangkuk bubur yang melambangkan syiar Islam di telatah Tuban.

“Walisongo menyebarkan Islam dengan beragam cara. Ada yang pakai gamelan dengan gamelan sekaten di Yogya, ada yang pakai kesenian wa­yang, dan di sini bubur, yang memang sangat dibutuhkan warga miskin saat itu. Seperti Walingoso, dakwah me­mang harus menyentuh kebutuhan langsung rakyat, tak hanya ceramah. Seperti dakwah bubur ini,” kata Su-priyono, warga Langitan Widang, yang juga mengaku suka dengan bu­bur tersebut, (gus)

SUARA DESA, Edisi 05  15 Juni -15 Juli 2012. hlm. 42

Megengan, Kabupaten Magetan, Bangkalan, Gresik, Tulungagung

Megengan Tradisi Perekat Silaturahmi, ragam tradisi megengan tumbuh semarak di masyarakat sebagai bentuk akulturasi Isla dan budaya lokal.

MEGENGANSalah satu pengaruh Islam di lingkungan masyarakat Islam Jawa adalah tradisi megeng-an. Megengan sering diartikan ritual mapag atau menjemput tanggal satu Bulan Ramadlan. Secara harfiyah megengan berasal dari kata “megeng” yang berarti menahan diri dari semua perbuatan yang mendatangkan dosa. Itu sebabnya, secara filosofis megengan bermakna sebagai media permohonan maaf atas segala dosa para leluhur, sekaligus sebagai momentum mengenang dan meng­hormati atas segala kebajikannya.

Dan yang lebih penting lagi, megengan merupak­an pernyataan sikap dengan diiringi keihlasan tinggi untuk mapag kedatangan Bulan Suci Ramadlan. Itu sebabnya, warga muslim selalu sibuk menyiapkan diri dengan melakukan berbagai ritual selama tujuh hari menjelang Puasa Ramadlan.

Tradisi megengan di setiap daerah banyak ragam­nya, tetapi membersihkan diri, membersihkan masjid, dan ziarah kubur adalah jamak dilakukan masyarakat. Doa dengan menggelar kenduri bersama di masjid juga mewarnai ritual megengan sebagai ungkapan rasa bersyukur atas kedatangan Ramadlan.

MEGENGAN 0Warga Desa Tamanarum, Kec. Parang, Magetan, setiap menyambut bulan suci selalu mengadakan ro’an atau kerja bakti membersihkan masjid kuno dan sarean(makam) pendiri masjid. Masjid kuno di Desa Tamanarum adalah peninggalan KH Imam Nawawi. Dilihat dari pahatan mustaka melati dan wuwungnya persis dengan makam KGRay Maduretno istri Adipati Maospati Rangga Prawirodirdjo III, yang berangka 1810. Ini bisa diartikan masjid di desa ini usianya sama dengan berdirinya Kabupaten Magetan.

“Seperti biasanya kita menyambut Bulan Suci Ro-madhan ini dengan membersihkan masjid, karena akan digunakan untuk sholat taraweh dan kegiatan selama romadhan. Lemari- lemari tempat penyim­panan kitab-kitab dan al-Qur’an kuno juga kita ber­sihkan, selesai masjid kita kerja bakti membersihkan makam,” jelas KH Hamid, Pengasuh masjid At Taqwa yang juga keturunan dari KH Imam nawawi ini.

Biasanya selesai membersihkan masjid dan makam, malam harin­ya dilaksanakan kirim doa kepada keluarga yang sudah meninggal, kemudian   dilanjutkan   dengan

selamatan “Ambengan”(membawa tumpengan atau makan satu ember penuh yang di penuhi berbagai jenis menu dan jajan) di bawa ke masjid, dan di makan bersama- sama di se­rambi masjid.

MEGENGAN001“Tradisi seperti ini adalah sim­bol kebersamaan yang tercipta sejak mbah kita dulu, tidak ada unsur apa-apa dalam pelaksanaannya, ya kar­ena tradisi saja, kami melakukannya sebatas ngeluri budaya, karena kalau tradisi seperti kerja bakti ini tidak sering kita adakan akhirnya akan ter­bangun sifat individualis seperti yang ada di kota- kota besar” kata Lanjar Karni, Kepala Desa Tamanarum.

Soal membersihkan makam, ma­syarakat Bangkalan lebih unik, sebab makam keluarga tidak hanya dibersi­hkan tetapi batu nisannya diperbaiki dan dicat dengan warna warni yang mencolok, seperti kuning, merah, hijau, biru dan lainnya. “Ka­lau rumah kita yang masih hidup dibersih­kan dan dipercantik, maka makam keluarga kita yang sudah wafat juga perlu dirawat kein­dahannya,” kata Mail warga Bangkalan.

Makam para wali juga menjadi jujugan masyarakat sesaat sebelum Bulan Puasa tiba. Makam Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Malik Ibrahim, Sunan Drajat dan Sunan

Bonang dan puluhan sunan lain­nya selalu ramai diziarahi. “Menjelang Ramadlan jumlah peziarah lebih ban­yak dari hari-hari biasa, “kata Hasyim pegawai Makam Sunan Drajat.

Megengan dalam makna lain ada­lah media perekat antar umat Islam. Tali persaudaraan terikat kuat kar­ena didasari hati, pikiran dan jiwa yang saling bersilaturrahmi. “Dengan megengan yang sangat sederhana mendatangkan hikmah yang besar,” ungkap Asrori Kepala Desa Tiudan Kecamatan Gondang .

Menurut Asrori yang juga sebagai Ketua AKD Kabupaten Tulungagung tradisi megengan di desanya setiap tahun ditandai dengan membuat jajanan seperti apem,pisang,bahkan tumpengan yaitu nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya seperti ayam lodho,sambal goreng kentang,dan tempe,urap-urap,ke timun,kelapa goreng alias srondheng.

Dia menjelaskan makanan khas yang selalu mengisi acara megengan adalah pembagian kue apem dan pi­sang. Uniknya di daerah Tulungagung hanya dua jenis kue itu yang dibagikan antara tetangga.” Ini tentu mengandung makna atau filosofi tersendiri dibalik penggunaan kue apem dan pisang raja dalam acara megengan,” bebernya. Kue apem bila disatukan dengan pi­sang raja akan berbentuk payung. Pi­sang berfungsi sebagai penyanggah dan kue apem sebagai payungnya. “Payung itu sendiri melambangkan perlindungan dari segala rintangan dan halangan selama menja­lankan ibadah di Bulan Suci Ramadan,” jelasnya Ada juga yang bilang kalau kue apem ini be­rasal dari perkataan Arab “afwan” yang be­rarti “maaf. Meminta maaf dan memberi maaf sebelum Ramadlan tiba memang lebih baik di­banding setelah berpuasa sebulan penuh.

Megengan berarti juga acara saling mem­beri ransum ( nasi beserta sayur ayam ) kepada para sanak saudara dan orang tua. Dalam hal ini megengan bukan sekedar ung­kapan syukur dan gembira atas da­tangnya bulan Ramadhan, namun sekaligus sebagai ajang mempere­rat silaurrahmi dan persaudaraan. Ada sebuah pepatah jawa yang men­gatakan ” pager mangkok luwih kuat tinimbang pager tembok ” yang artin­ya saling memberi hadiah makanan ( arti dari mangkok) adalah lebih kuat menjaga tali persaudaraan. Islam di Jawa tumbuh subur berkat akulturasi dengan tradisi yang berkembang di Jawa, sehingga khazanah keislaman berupa tradisi megengan ini tetap hidup dan menghidupi pembentukan masyarakat yang saling menghargai dan mencintai sesama.(Sum, Sak)

SUARA DESA,  Edisi 05, 15 Juni -15 Juli 2012, hlm. 59

Sri Bintang Pamungkas, Kabupaten Tulungagung

Sri Bintang Pamungkas25 Juni 1945, di Tulungagung, Jawa Timur lahir Sri Bintang Pamungkas dari pasangan ayah seorang hakim, Moenadji Soerjohadikoesoemo, dan ibu Soekartinah.

Tahun 1964, Setelah lulus dari SMA Negeri I, Surakarta,.

Tahun 1966-1968, sebagai anggota Komisi Pendidikan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa.

Tahun 1967-1979, Masa mahasiswanya diisi dengan kegiatan ekstra. Di ITB, menjadi Ketua Biro Pendidikan Himpunan Mahasiswa Mesin

Tahun 1971. Ia lulus , Bintang masuk jurusan Teknik Penerbangan ITB untuk mengejar cita-citanya menjadi insinyur yang bisa membuat pesawat terbang namun karena tak ada industri pesawat, sehingga ketika melanjutkan belajar ke jenjang master di University of Southern California, Amerika, ia berbelok ke Teknik Industri. Belum sampai selesai kuliahnya, beasiswanya habis. Daripada menganggur, Bintang belajar manajemen bisnis.

 

Tahun 1971, bekerja di pabrik perakitan sepeda motor Honda milik Astra, PT Federal Motor. Di sini ia bertahan sampai tahun 1974, terakhir sebagai engineering manager.

Tahun 1972 – 1974, sewaktu bekerja di pabrik tadi Bintang juga merangkap menjadi konsultan di Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi UI, dan menjadi staf pengajar tetap di Fakultas Teknik UI sampai sekarang.

Tahun 1974 – 1977, di samping itu, Bintang bekerja sebagai instruktur pada Program Perencanaan Nasional.

Tahun 1975, Bintang menulis buku “Getaran Mekanis”

 

Tahun 1979, ia melanjutkan studi di Teknik Industri, Universitas Southern Carolina dan memperoleh gelar master (MSISE) (master of science in industrial system engineering).

 

Tahun 1984, Bintang tertarik belajar ekonomi, dan atas bantuan Georgia Institute of Technology ia bisa mengikuti program doktor di Iowa State University. ia meraih doktor PhD
Bintang telah mengajar beberapa mata kuliah di Teknik Industri UI, termasuk Proses Manufaktur, Corporate Finance, dan Pengantar Ekonomi. Minat penelitiannya ‘adalah di bidang Ekonomi Industri dan bidang Manajemen Keuangan.

 

Dari 1985-1987,  menjadi ahli senior di Yayasan Bina Pembangunan. Ketika ICMI berdiri, ia ditunjuk menjadi Majelis Musyarokah Indonesia dan terpilih menjadi anggota Dewan Pakar.

Tahun 1986, Bintang adalah anggota senior Ikatan Sarjana Teknik dan Manajemen Industri.

Tahun 1986 – 1991 menjadi konsultan senior PT Summa International.

Tahun 1989, Bintang menulis buku “Metode Numerik”.

Tahun 1990, Bintang menulis buku  “Manajemen Industri”.

Tahun 1992, Bintang menulis buku “Teknik Sistem”.

Tahun 1993, menjelang pemilu, Bintang masuk ke PPP. Hebatnya, ketika itu nama Bintang langsung populer. Padahal ia bukan kader PPP. “Saya ini bukan kader PPP.  Bintang tak mau setengah-setengah dengan pilihannya, masuk PPP bukan tanpa cita-cita. Karena melihat umat Islam kurang maju, kurang daya pukulnya. Bintang bercita-cita agar PPP menjadi partai yang besar. Untuk itu Bintang mengaku sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Baik istri maupun keenam anaknya sudah diajaknya bicara.

Tahun 1993, menjadi anggota Dewan Arbitrase Indonesia,  sebagai keaktifannya berorganisasi di dunia usaha.

Tahun 1994, Bintang menulis buku “rancangan Pokok-pokok Pikiran Sri-Bintang”  sepanjang 3 jilid .

tahun 1995, Tak jelas kenapa dalam Muktamar ICMI, Bintang tak terpilih lagi menjadi anggota Dewan Pakar. Bisa jadi karena ia dituduh menghina Presiden RI.

Sejak terjun ke politik praktis tingkat nasional, Bintang memilih, berjuang untuk demokrasi dan kesejahteraan rakyat. Sasaran perjuangan saat ini adalah menegakkan hal-hal yang dianggap harus berjalan dalam sebuah negara demokrasi. Misalnya, masalah tak berfungsinya, menurut penilaian Bintang, lembaga perwakilan rakyat. “Jangan dikira kalau ada pengaduan kemudian akan diselesaikan oleh DPR. Nonsense. Kalau ada image bahwa DPR itu telah membela rakyat, itu bohong,” kata bekas anggota DPR-RI ini. Bintang sadar yang dilakukannya sekarang adalah pilihan yang mengandung risiko.

“pamungkas” berarti “terakhir”( Jawa), sehingga orang mengira Sri Bintang Pamungkas adalah anak terakhir. Ternyata bukan itu maksudnya, Lahirnya bayi yang kemudian dinamakan Pamungkas. “diharapkan menandai perang yang terakhir yang terjadi di Indonesia, sehingga penjajahan selesai,” tutur si empunya nama.=S1Wh0T0=

Krupuk Rambak, Kabupaten Tulungagung

Pengrajin Krupuk Rambak

Daerah terjepit bukit berbatuan lalu menjadikannya miskin? Contohlah Tulungagung. Kabupaten di bibir laut Selatan ini, memiliki potensi alam yang besar, namun justru karena sumberdaya manusianya yang unggul, Tulungagung tampil sebagai daerah yang kaya dengan home industry.

Di setiap daerah memiliki potensi yang tumbuh berbeda dengan daerah lainnya. Desa pengrajin konveksi, desa batik, desa produsen peralatan dan asesoris TNI/Polri dan desa krupuk rambak semua tetap bertahan meskipun sering digoyang pesaing dari dalam negri dan luar negri.

Pengusaha konveksi misalnya, sejak diserbu baju-baju model terbaru berharga murah dari China, ozet penjualannya turun drastis kalah bersaing. Pengusaha konveksi pun harus berputar otak untuk bisa berkembang menghadapi serbuan pasar.

Ini berbeda dengan krupuk rambak. Meskipun belum disaingi produk luar negri, krupuk rambak juga mengalami penurunan produk akibat kekurangan bahan baku, terutama krupuk rambak dari kulit kerbau. “Saat ini sudah semakin seret bahan baku rambak dari kulit kerbau,” kata Arifin pengusaha krupuk rambak dari Desa Sembung, Tulungagung.

Kulit kerbau menurut pengrajin rumah tangga telah menjadi produk unggulan desa. Rasanya lebih renyah dan lebih gurih dibanding dengan krupuk berbahan baku dari kulit sapi. Harga krupuk rambak kulit kerbau juga lebih tinggi, sehingga keuntungannya juga lebih bagus. Namun akibat jumlah persediaan kulit kerbau terbatas, padahal jumlah permintaan terus meningkat akhirnya banyak warga yang mendatangkan kulit kerbau dari luar Pulau Jawa seperti Nusa Tenggara Timur dan Kalimantan. “Kalau kulit sapi, kami tidak mengalami kesulitan, bahkan Stoknya melimpah, tetapi kalau kulit kerbau sulit didapat,” ujar Arifin.

Zaenab pengusah krupuk di Desa Sembung mengakui setiap dua minggu sekali dirinya mendatangka kulit kerbau dari NTT melalui mitra kerjanya di sana. “Rata-rata dalam seminggu kami mendatangkan kulit kerbau sebanyak 2 kwintal,” kata pemilik usaha krupuk rambak “Lestari” ini.

Karena lebih banyak diminati pasar dan bahan bakunya lebih sulit, secara otomatis, harga krupuk rambak dari kulit kerbau jauh lebih mahal dari kulit sapi. Harga satu bungkus krupuk rambak kulit kerbau mencapai Rp95.000 per bungkus, sedangkan krupuk rambak sapi hanya Rp75.000 per bungkus. “Faktornya ya itu tadi, bahan sulit dan peminat lebih banyak dibanding krupuk rambak dari kulit sapi,” kata Djaenab. Desa Sembung merupakan salah satu sentra krupuk rambak di Kecamatan Kota Tulungagung. Hampir semua rumah tangga di desa ini memproduksi krupuk yang terbuat dari kulit sapi dan kerbau.Industri rumah tangga jenis ini, menurut Djaenab, merupakan usaha turun temurun warga di Desa Sembung. Kedua orang tuanya juga produsen krupuk rambak.

Kisah sukses bisnis krupuk rambak juga dinikmati Slamet Mujito pewaris dari MbahTawi yang memulai usahanya sejak 1945. Menurut Slamet, “Awalnya saya tidak tertarik untuk meneruskan usaha krupuk rambak. Karena selain sulit membuat, menjualnya juga sulit. Namun berkat semangat dan dorongan sang istri yang dinikahi tahun 1997, dengan senang hati ia meneruskan usaha orang tuanya itu.

Tahun 2000 penjualan krupuk masih menggunakan sepeda onthel. Roda kehidupan mulai berubah pola penjualannya menggunakan sepeda motor, kemudia pada tahun 2007 Sla­met menggunakan mobil pickup de- _ ngan jangkauan pemasaran wilayah kota Tulungagung, Blitar, Malang, Batu, Trenggalek, Kediri, Kertosono, Jombang dan Surabaya.

Saat ini krupuk rambak merk UD Harapan Jaya miliknya telah mencapai omset 2,5 juta rupiah per hari. Ia dibantu 7 karyawan perempuan dan 5 karyawan laki-laki yang diberi upah kerja rata-rata 25 ribu rupiah per hari. Untuk memperbesar volume usaha, Hartini Slamet bulan Juni 2011 membeli mesin oven berkapasitas 60 kg sehingga dalam 1 hari dapat memproses 120 kg (2 kali pengolahan). Selain itu Hartini juga membuka kios di depan stasiun Tulungagung dan menambah aneka macam camilan, seperti krupuk ceker ayam, krupuk kuku macan, krupuk bawang, kripik ubi ungu, kripik gadung, sous kering dan kripik tempe. “Usaha kita seperti ini setelah jatuh bangun diterpa perlbagai masalah seperti karyawan yang sudah ahli pindah tempat keija, persaingan antar pengusaha krupuk rambak maupun kekurangal modal usaha,” katanya, (nf)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:SUARA DESA | Edisi 07 | 15 Agustus -15 September 2012. Hlm. 30

Reog Tulungagung

Reog Tulungagung ini merupakan gubahan tari rakyat, yang menggambarkan arak-arakan prajurit pasukan Kedhirilaya tatkala mengiring pengantin “Ratu Kilisuci” ke gunung Kelut, untuk menyaksikan dari dekat hasil pekerjaan Jathasura, sudahkah memenuhi persyaratan pasanggirinya atau belum. Dalam gubahan tari reog ini barisan prajurit yang berarak diwakili oleh enam orang penari.

Yang ingin dikisahkan dalam tarian tersebut yalah, betapa sulit perjalanan yang harus mereka tempuh, betapa berat beban perbekalan yang mereka bawa, sampai terbungkuk-bungkuk, terseok-seok, menuruni lembah-lembah yang curam, menaiki gunung-gunung yang terjal. Sesampainya di puncak gunung, bagaimana mereka mengelilingi kawah seraya melihat melongok-longok ke dalam, kepanikan mereka, ketika “sang puteri” terjatuh masuk kawah, disusul kemudian  dengan pelemparan batu dan tanah yang mengurug kawah tersebut, sehingga Jathasura yang terjun menolong “sang puteri” tewas terkubur dalam kawah, akhirnya kegembiraan oleh kemenangan yang mereka capai.

Semua adegan itu mereka lakukan melalui simbol-simbol gerak tari yang ekspresif mempesona, yang banyak menggunakan langkahlangkah kaki yang serempak dalam berbagai variasi, gerakan-gerakan lambung badan, pundak, leher dan kepala, disertai mimik yang serius, sedang kedua tangannya sibuk mengerjakan dhugdhug atau tamtam yang mereka gendong dengan mengikatnya dengan sampur yang menyilang melalui pundak kanan. Tangan kiri menahan dhugdhug, tangan kanannya memukul-mukul dhugdhug tersebut membuat irama yang dikehendaki, meningkahi gerak tari dalam tempo kadang-kadang cepat, kadang-kadang lambat. Demikian kaya simbol-simbol yang mereka ungkapkan lewat tari mereka yang penuh dengan ragam variasi, dalam iringan gamelan yang monotoon magis, dengan lengkingan selompretnya yang membawakan melodi terus-menerus tanpa putus, benar-benar memukau penonton, seakan-akan berada di bawah hipnose.

Busana penari adalah busana keprajuritan menurut fantasi mereka dari unit reog yang bersangkutan. Di Tulungagung dan sekitar, bahkan sampai di luar daerah kabupaten Tulungagung, sekarang sudah banyak bersebaran unit-unit reog sejenis, dan mereka memiliki seleranya masing-masing dalam memilih warna. Unit-unit yang terdiri dari golongan muda usia, biasanya memilih warna yang menyala, merah misalnya.

Sebuah unit reog dari desa Gendhingan, kecamatan Kedhungwaru, kabupaten Tulungagung, beranggotakan orang-orang dewasa, bahkan tua-tua. Mungkin karena kedewasaannya itu mereka  sengaja memilih warna hitam sebagai latar dasar busananya, sedang atribut-atributnya berwarna cerah. Busana itu terdiri atas:

  1. baju hitam berlengan panjang, bagian belakang kowakan untuk keris. Sepanjang lengan baju diberi berseret merah atau kuning, juga di pergelangan.
  2. Celana hitam, sempit, sampai di bawah lutut. Di samping juga diberi berseret merah memanjang dari atas ke bawah.
  3. kain batik panjang melilit di pinggang, bagian depan menjulai ke bawah. Sebagai ikat pinggang digunakan setagen, kemudian dihias dengan sampur berwarna.
  4. ikat kepala berwarna hitam juga, diberi iker-iker (pinggiran topi) tetapi berbentuk silinder panjang bergaris tengah 3 cm, dililitkan melingkari kepala. Warnanya merah dan putih.
  5. Atribut-atribut yang dipakai:
  • kacamata gelap atau putih;
  • sumping di telinga kanan dan kiri;
  • epolet di atas pundak, dengan diberi hiasan rumbai-rumbai dari benang perak;
  • sampur untuk selendang guna menggendong dhugdhug;
  • kaus kaki panjang.

Busana yang dikenakan oleh unit reog dari golongan muda usia, tidak jauh berbeda, hanya warna mereka pilih yang menyala, di samping hiasan-hiasan lain yang dianggap perlu untuk “memperindah” penampilan, misalnya rumbai-rumbai yang dipasang melingkar pada iker-iker, pada kaki kiri dipasang gongseng, yaitu gelang kaki yang bergiring-giring.

Tentang gamelan yang mengiringi dapat dituturkan sebagai berikut. Keenam instrumen dhugdhug, sebangsa kendhang atau ketipung, tetapi kulitnya hanya sebelah, ‘yang ditabuh oleh penarinya sendiri, terbagi menurut fungsinya: dhugdhug kerep, dhugdhug arang, timbang-timbangan atau imbalan, keplak, trentheng, dan sebuah lagi dipukul dengan tongkat kecil disebut truthong. Di luar formasi ini ditambah dengan tiga orang pemain tambahan sebagai pemukul kenong, pemukul kempul, dan peniup selompret. Kenong dan kempul secara bergantian menciptakan kejelasan ritma, dan selompret meinbuat melodi lagu-lagu yang memperjelas pergantian-pergantian ragam gerak.

Berbeda dengan Reog Tulungagung yang ada di desa Gendhingan, pada reog sejenis di desa Ngulanwetan, kabupaten Trenggalek, si penabuh kenong tidak menganlbil tempat kumpul bersama kedua rekannya penabuh, melainkan ikut di arena, walaupun tidak menari, hanya mondarmandir, atau berjalan keliling, atau menyelinap di antara keenam penarinya, sembari memukul kenong yang diayunkan ke depan dan ke belakang ia pun mengenakan busana serupa dengan busana penari, hanya dengan warna lain, dan tahpa iker-iker pada ikat kepalanya.

Lagu-lagu pengiringnya dipilih yang populer di kalangan rakyat, misalnya Gandariya, Angleng, Loro-loro, Pring-padhapring, Ijo-ijo, dan lain-lain. Terdapat kecenderungan pada reog angkatan tua, (khususnya yang ada di desa Gendhingan), untuk menggunakan irama lambat dan penuh perasaan, yang oleh angkatan mudanya agaknya kurang disukai. Mereka, angkatan muda ini, lebih senang menggunakan irama yang “hot”, sesuai dengan gejolak jiwanya yang “dinamik”. Dalam hal ini AM Munardi menuliskan tanggapannya sebagai berikut:

Legendanya tarian itu mengiring temanten. Memang peristiwa ritual kita pada masa lampau tidak terlepas dari existensi tari. Sampai sekarang Reog Kendhang (Reog Tulungagung) juga sering ditampilkan orang dalam kerangka pesta perkawinan ataupun khitanan. Dalam perkembangan akhir-akhir ini kemudian dipertunjukkan dalum pawai-pawai besar untuk memeriahkan hari-hari besar nasional.Untuk kepentingan yang akhir inilah kemudian orang membuat penampilan tari Reog Kendhang identik dengan “drum-band” . Maka gerak-gerik yang semula dirasa refined dan halus, cenderung dibuat lebih keras dan cepat. Derap-derap genderang ditirukan dengun pukulan-pukulan dhogdhog. Terompet bambu-kayu semacam sroten itu pun ditiup dengan lagu-lagu baru. Akibatnya musik diatonis itu pun di paksakan dalam nada-nada pelog pentatonis.

Dalam timbre yang tak mungkin berkwalitas sebuah drum-band modern, maka cara seperti itu menjadi berkesan dangkal. Pada suatu kesempatan menonton pertunjukan Reog Kendhang di desa Gendhingan, kecamatan Kedhungwaru, Tulungagung, maka terasa benarlah bahwa proses penampilan Reog Kendhang yang pada umumnya dipopulerkan oleh para remaja itu cenderung menuju ke pendangkalan. Penampilan oleh para penari golongan tua di desa tcrsehut tcrasa benar bobotnya. Geraknya yang serba tidak tergesa-gesa lebih memperjelas pola tari yang sesungguhnya cukup refined. Kekayaan pola lantainya terasa benar menyatu dengan lingkungan.

Memperbandingkan Reog Kendhang di Gendhingan ini dengan Reog Kendhang para remaja pada umumnya menjadi sernakin jelas adanya keinginan untuk tampilnya garapan-garapan baru, tetapi tidak dimulai dengan pendasaran yang kokoh. Ya, kadang-kadang orang terlaiu ccpat mengidentikkan arti “dinamika” dengan gerak yang serba keras dan cepat.

Seperti halnya dengan rekannya Reog Dhadhak merak di Panaraga, maka sebagai tontonan rakyat, Reog Tulungagung (Reog Kendhang) pun tidak akan kehilangan peranannya sebagai penghibur atau pemeriah suasana di mana saja warga desa mempunyai hajat. Perkawinan, khitanan, kelahiran, tingkeban, bersih desa, musim panen, dan lain sebagainya.

Mungkin sekarang tidak selaris dulu, sebelum musik pop berirama dangdut merajai pasaran di mana-mana. Namun pada hajat-hajat yang masih ada hubungannya dengan kepercayaan yang bersifat sakral atau yang masih mempunyai sifat-sifat tradisi maka, kesenian reog masih diperlukan. Dalam perarakan pengantin misalnya, maka fungsi reog Kendhang tidak saja sebagai pengiring yang memeriahkan suasana atau sekadar menghibur semata-mata, melainkan bahkanpun sebagai penjaga keselamatan mempelai laki-laki yang diarak. Mungkin ini sisa-sisa kepercayaan legendarik, bahwa reog dulunya  atau sang pengantin “Ratu Kilisuci”. Kepercayaan itu menjadi naluri yang masih terus dipelihara, walaupun tinggal sepercik upacara simbolik belaka atau hanya tiru-tiru.

Tetapi yang jelas, apakah itu upacara atau pun tiru-tiru, tiap-tiap hajat selalu mengharapkan keselamatan, dalam hajatan ini terutama keselamatan perkawinan kedua mempelai tentunya. Jadi reog berfungsi sebagai penolak bala, begitulah kira-kira. Formasi perarakan itu tersusun demikian, paling depan sang pengantin laki-laki. Memang, biasanya pengantin laki-lakilah yang diarak, yaitu ketika menuju ke rumah pengantin perempuan calon isteri. Pengantin laki-laki itu diapit oleh sanak keluarga dekat atau handaitolan yang akrab, di belakang mereka beberapa lapis pengarak inti, lalu menyusul barisan reog kendhang. Lebih dulu keenam penari dhogdhog dalam formasi berpasangan dua-dua, lalu ketiga penabuh gamelan lainnya: dua di muka, yaitu peniup selompret dan penabuh kenong, di belakang mereka penabuh gong (atau kempul). Gong (atau kempul) ini digantungkan pada sebuah standar yang dinamakan gayor, dipikul oleh dua orang pembantu. Di belakang barisan reog menyusul para pengiring lainnya.

Terdapat dua orang lain, seolah-olah berada di luar formasi perarakan itu. Yang salu membawa boneka ayam jantan (jago), terbuat dari kayu yang disengkelit di bawah ketiaknya. Ia mengenakan ikat kepala jilidan berwarna merah, baju merah, celananya pun merah. Namanya “Jaka Pangkon”. Tidak diketahui pasti asal-usul nama itu, tetapi merupakan bagian dari upacara perarakan pengantin. Kawanya membawa “iyan” (= nyiru, atau tampah, bentuknya bujur sangkar, tempat pendingin nasi yang baru dientas dari nanakan), dan “ilir” (= kipas, bentuknya pun bujur sangkar, tapi lebih kecil: garan pemegangnya di pinggir, jadi modelnya semacam bendera). Mereka berdua berjalan bebas. Kadang-kadang di samping perarakan, kadang-kadang di muka, mondar-mandir saling berpapasan. Setiap kali pemegang iyan dan ilir memukulkan ilirnya pada iyan sehingga berbunyi “blek-blek-blek”, maka setiap kali pula si Jaka Pangkon mengeluarkan suara lantang menirukan keluruk ayam jantan: “cukukeruyuk”, yang disambut gegap gempita oleh pengiring-pengiring lainnya. Sementara gamelan reog terus berbunyi dengan lagu-lagu yang dilengkingkan oleh selompret yang nada larasnya agak-agak sumbang, tetapi justeru mengasyikkan, sedang penarinya menari sembari memukul irama dhogdhog.

Di tempat lain perarakan itu diatur lain lagi, “jaka Pangkon” tidak ditampilkan. Maka keenam penari menari di luar formasi barisan. Mereka kadang-kadang berada di samping, tiga di sebelah kanan, tiga di sebelah kiri. Lalu maju mendahului pengantin menari di depan, saling berpapasan, beralih tempat  pendek kata menggunakan arena sekitar pengantin untuk menari. Bagi mereka yang percaya kepada mistik, hal tersebut adalah untuk menjauhkan sang penganten dari gangguan dari luar, tidak disebutkan apa, tetapi yang jelas paling tidak dibebaskan dari gangguan anak-anak yang banyak berduyun-duyun menyaksikan perarakan dari depan atau dari samping di tepi jalan yang dilewati.

Pada hajat-hajat lain yang tidak memerlukan perarakan, maka Reog Kendhang menggunakan halaman rumah yang punya hajat untuk arena pertunjukan. Penontonnya bebas, ada yang berjongkok. ada yang berdiri, mengelilingi membuat suatu lingkaran, atau bentuk tapal kuda untuk memberi kesempatan kepada yang punya rumah dan tamu-tamunya ikut menyaksikan. Di luar hajat warga masyarakat desa, sering juga Reog Tulungagung atau Reog Kendhang dikerahkan secara massal, terdiri atas beberapa unit, untuk memeriahkan pawai-pawai dalam rangka hari-hari nasional seperti Hari Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Hari Raya ldul Fitri, atau peresmian gedung ini itu, pekan ini itu, dan lain-lain.

Bahkan sejak jaman kolonial Hindia Belanda pun kegiatan demikian sudah dilakukan, misalnya peringatan jubileum pemerintahan ratu Belanda Wilhelmina, hari pertunangan dan perkawinan puterinya Juliana, dan sebagainya. Di samping yang diselenggarakan oleh rakyat warga desa sendiri, biasanya dalarn satu keluarga turun-temurun, Reog Tulungagung atau Reog Kendhang diselenggarakan pula di sekolah-sekolah, dilakukan oleh murid-murid di bawah asuhan guru atau seorang pelatih/pembina yang piawai di bidang pereogan. Tetapi kegiatan mereka merupakan bagian dari kegiatan olah seni, pemupukan bakat seni, dan penarnpilan mereka di depan umum hanya terbatas yang khusus dalarn rangka peringatan-peringatan resmi oleh pemerintah atau intern sekolah sendiri, atau dalam pekan-pekan kesenian.

Dengan kegiatan-kegiatan di sekolah ini, nyatalah, bahwa Reog Tulungagung mempunyai masa depan yang cerah, karena mampu merebut apresiasi yang merata ke seluruh lapisan masyarakat: tua, muda, laki perempuan (karena penari-penari perempuan sudah bermunculan pula), golongan atas, tengah, bawah, kaum elit, kaum rakyat, pendeknya semua. Dengan demikian Reog Tulungagung akan lebih pesat laju perkembangannya dibandingkan dengan rekannya di Panaraga, Reog Dhadhakmerak.

Dengan konstatasi ini, mungkinkah kelak Reog Panaraga akan kalah lalu, untuk kemudian secara lambat laun punah? Hal ini melihat kenyataan tidak adanya kaderisasi lewat sekolah-sekolah. Kiranya hanya rakyat daerah Panaraga sendirilah yang tahu jawabannya. Kembali kepada pertanyaan semula, sejak kapankah adanya Reog Tulungagung? Untuk menjawabnya, baiklah kita kutip pernyataan AM Munardi dalam salah satu artikelnya: Menurut Jaap Kunst dalam “Hindu-Javanese Musical Instruments”, arti Reog sama dengan Dhogdhog, yaitu bentuk kendhang dengan membran pada satu sisi saja. Kendhang semacam ini memang dipakai sebagai perlengkapan pokok dari tarian tersebut (Reog Tulungagung, S.Tm.). Bahkan sampai sekarang instrumen kendhang yang terbesar di antara enam kendhang yang dipakai dalam tarian itu disebut juga “Dhogdhog”.

Bentuk instrumen musik semacam ini sudah terlukis pada relief candi Penataran (abad XIV) dan berbagai kota di istana Majapahit. Dalam bentuknya yang agak berbeda, tetapi dalam deretan penari (pemain musik) pada relief Prambanan yang mirip dengan susunan penari Reog masa kini, menimbulkan dugaan bahwa tarian semacam ini sudah lama sekali dikenal di Indonesia. Selanjutnya Munardi menyatakan, bahwa kalau toh ada pengaruh invasi barat, mengingat kostumnya yang mirip-mirip kostum serdadu kumpeni Belanda, atau kalau ada pengaruh prajurit Bugis jaman perang Trunajaya, mengingat ikat kepalanya yang berbentuk dhesthar tinggi dengan dilingkari iker-iker yang mirip-mirip ikat kepala saudara-saudara kita di Sulawesi Selatan, atau kalau sebagai ganti dhogdhog semula digunakan kenthongan bambu, seperti konon yang terjadi pada Reog Kendhang di Trenggalek, namun ….. , setidak-tidaknya prototype tarian itu sudah ada sejak sebelum abad VII (Sic!). Setiap jaman orang mcngisi tema dan atributnya, sehingga terjadilah bentuk seperti sekarang ini.

Dengan ungkapan-ungkapan Munardi tersebut, kiranya menambah kejelasan bagi kita akan kedudukan Reog Tulungagung ini. Yaitu, bahwa secara fisik (corak) maupun idial (karakter) tidak ada kaitannya saran sekali dengan Reog Panaraga. Lebih jelas lagi kalau kita perhatikan tiadanya kesamaan motif dalam penciptaan kedua jenis kesenian rakyat tersebut. Lahirnya Reog Panaraga sama sekali tidak didasarkan pada motif dalam penciptaan kedua jenis kesenian rakyat tersebut. Lahirnya Reog Panaraga sama sekali tidak didasarkan pada motif penciptaan tari (versi Kutu), sebaliknya Reog Tulungagung adalah benar-benar ciptaan komposisi tari. Kalau pun terdapat unsur-unsur yang seolah-olah mengaitkan yang satu dengan yang lain, maka unsur-unsur itu iyalah, bahwa keduanya menggunakan nama yang sama: reog, dan tema yang sama pula: Panji.

Tentang nama reog dapat kita kembalikan kepada arti yang sebenarnya, yaitu kata sinonim (atau nama jenis lain) dari “kendhang” atau “dhoghog”. Baik Reog Panaraga maupun Reog Tulungagung menggunakan “kendhang” (atau “dhogdhog”, atau “reog”) sebagai unsur music pengiringnya yang pokok. Ternyata kesenian “reog” di Pasundan, (dalam karangan ini tidak dibicarakan), yang seperti adanya sekarang tidak mempunyai persamaan bentuk dan karakter dengan kedua rekannya “reog” di Jawa Timur itu pun menggunakan “dhogdhog” sebagai unsur musik pengiringnya yang pokok.

Tentang tema Panji sebenarnya tidak ada relevansinya bagi Reog Panaraga, sebab sejak semula Reog Panaraga memang tidak pernah menggunakan tema Panji (Versi Kutu). Tema Panji itu baru kemudian ditampilkan oleh Ki Ageng Mirah untuk menghilangkan tema yang khas versi Kutu tersebut. Tetapi bagi Reog Tulungagung, mungkin memberi perspektif yang lebih luas untuk penciptaan komposisi tan baru atas dasar pola lama yang sudah berabad-abad umurnya, dan terus dipelihara turun-temurun. Maka lahirlah Reog Tulungagung. Untuk membedakan dari Reog Panaraga, maka Reog Tulungagung disebut “Reog Kendhang”. Reog Panaraga disebut “Reog Dhadhakmerak”. Untuk Reog Kedhiri tersedia nama sebutan “Reog Jaranan”.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Reog di Jawa Timur. Jakarta:  Proyek Sasana Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978/1979. hlm.102  – 114.

Jigang Jaya

JIGANG JAYA YANG MENGUASAI TELAGA MADIRDA Diambil dari cerita bahasa Jawa, daerah Tulungagung.  Di desa Sawo, kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, yakni di dukuh Buret terdapat bekas peninggalan sejarah yang berupa sebuah telaga. Kabarnya telaga itu dapat dimanfaatkan oleh rakyat sejumlah tiga desa, antara lain desa Sawo, Gedangan, dan desa Ngrem- pong. Konon penduduk dari tiga desa tersebut masih ketat sekali dalam mempercayai nilai magis telaga peninggalan itu. Penguasa telaga yang kabarnya angker itu adalah Jigang Jaya namanya. Adapun sejarahnya sebagai berikut :

Suatu hari terkisahlan serombongan penunggang kuda yang tak diketahui hendak ke mana arah tujuannya. Rombongan tersebut terdiri beberapa orang, antara lain Jigang Jaya, Kademdem, Malang Jaya, Truna- Jaya dan beberapa pengikut lainnya. Di dalam rombongan penunggang kuda, Jigang Jaya bertindak sebagai pemimpinnya, sambil menggendong seorang bayi yang masih minum susu. Langkah-langkahnya terlihat bak prajurit yang baru saja meninggalkan medan pertempuran. Mereka nam­pak lesu letih sekali, ada yang pucat, ada yang sempoyongan dan bebe rapa orang pengiring yang tak berdaya.

Dalam situasi yang krisis ini, mereka sempat melepaskan lelah di tepi sebuah hutan rimba. Betapa tidak menyayat hati, sang bayi yang berada di bopongan Jigang Jaya menangis karena kehausan, mungkin pula kelaparan. Apa gerangan yang hendak diperbuat Jigang Jaya. Maka dengan segala kemampuan yang ada Jigang Jaya segera menggali sebuah lubang untuk mendapatkan air yang dapat diminum, terutama bagi sang bayi. Sambil memohon kemurahan Tuhan Jigang Jaya terus melakukan usahanya. Maka tak lama kemudian memancarlah air dari tanah yang di­galinya. Air yang memancari itu bukan hanya berupa sumber yang kecil belaka tetapi airnya menggenang laksana telaga yang agung. Karena air sumber dan kemurahan Tuhan, maka selamatlah jiwa sang bayi. Oleh sebab itu maka sampai saat ini telaga yang terus dengan derasnya meman­car air itu diberi nama telaga “Madirda”.

Tepat pada bulan Selo, bertepatan pula pada hari Jum’at legi yakni sebelum rombongan kuda pimpinan Jigang Jaya meninggalkan tempat tersebut, maka terlebih dulu berpesan kepada para penduduk desa yang ikut memanfaatkan airnya agar sudi merawat telaga Madirda tersebut sebaik-baiknya. Dan apabila tidak maka meraka akan mendapat kutukan dari Yang Maha Esa. Di samping itu, hendaknya setiap tahun, yakni pada bula Sela, hari Jum’at legi mereka sudi mengirimkan sesajian untuk menghormati para dayang telaga. Sebelumnya sesajian itu tidak boleh dicicipi lebih dahulu, jika melanggar akan mendapat kutukan juga. Memang benar, rupa-rupanya perintah dan larangan Jigang Jaya tak seorang pun berani melanggarnya. Kemungkinan pula sampai se­karang juga.

Kembali pada Jigang Jaya yang meneruskan perjalanannya ber­sama rombongan. Hari demi hari sang bayi itu pun bertambah besar, tumbuh dan berkembang dengan cepat. Anak kecil ini mempunyai ke­senangan menyabung ayam. Sedang ayam yang dimilikinya tidaklah sama dengan jenis ayam yang lain. Ayam aneh itu disebut Kutuk Andong. Kegemaran sang adinda yang kecil senantiasa dapat melupakan makan minum walaupun dalam jarak yang jauh. (Hingga saat kini ayam jenis Kutuk Andong masih dianggap memiliki suatu yang sakral dan jarang dimiliki orang). Tidak terasa perjalanan mereka telah sampai di suatu tempat Rawa Remang namanya.

Di Rawa Remang itu Jigang Jaya juga meninggalkan pesan pada penduduk desa. Bahwasannya mereka tak seorang pun diperbolehkan mengenakan ikat kepala yang sama dengan milik Jigang Jaya, dan tidak seorang pun diperkenankan menunggang kuda seperti milik Jigang Jaya, yakni kuda Pancal Panggung jika melanggar akan terkutuk pula.

Ada lagi suatu hal yang dianggap erat kaitannya dengan perintah Jigang Jaya, yaitu segala macam ikan dan binatang yang berada di se­panjang sungai yang berasal dari telaga Madirda tak seorang pun berani mengambilnya, apalagi membunuhnya. Dari serentetan peristiwa yang berkenan dengan perjalanan Jigang Jaya beserta perintah atau larangannya sampai sekarang masih ada bahkan menjadi adat penduduk setempat, yaitu adat kepercayaan yang sulit dihilangkan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Cerita Rakyat Jawatimur, DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN,

82 -83

Makam Mbah Sunan Kuning, Tulungagung

Ritual Pesugihan di Makam Mbah Sunan Kuning Tulungagung, Jatim Kabulkan Permintaan Orang yang Kecingkrangan

Keberadaan sejarah makam tidak diketahui, namun masyarakat mempercayai yang sumare di dalam pusara itu adalah tokoh sakti yang sanggup mengabulkan  semua permintaan. Karena itulah banyak pelaku ngalap berkah hingga pemburu pesugihan melakukan ritualdi pusara ini.

DALAM penelusuran tempat- tempat mistik di kawasan Tulungagung, posmo mendapati sebuah makam misterius yang dijadikan sarana ngalap berkah para peziarah termasuk orang-orang yang gandrung memburu pesugihan gaib. Konon, setiap hari Kamis malam mereka menggelar atur sesaji dan ubarampe di pelata ran makam dengan sejuta hara-pan muncul agar setelah hajatan apa yang menjadi kehendak hati bisa terkabul. Itu adalah gambaran sekilas yang tampak di Makam Mbah  Sunan Kuning yang berada di Dusun Gajah, Desa Macanbang,    Kec. Ngondang, Tulungagung, Masyarakat setempat tidak begitu paham sejak kapan makam itu ada di desanya. Menurut penduduk setempat makam itu dulunya ada juru kuncinya, namanya Mbah Kandar. Setelah beliau  meninggal diganti oleh Mbah Mohammad Syaidin. Ketika beliau meninggal yang menjadi juru kunci sudah tidak ada lagi.

Setiap orang yang datang ke makam mempunyai maksud dan tujuan bermacam-macam. Bisa jadi, mereka ingin menjadi kaya atau agar masalah yang se­dang dihadapi selekasnya men­emukan jalan keluarnya. “Ban­yak tujuan orang yang datang ke makam. Biasanya mereka langsung nyekar lalu berdoa di makam,” jelasnya. Bahkan tak jarang peziarah menggelar selamatan di pela­taran makam. Dipercaya mer­eka yang datang dan menggelar selamatan merupakan orang-orang yang telah terkabul permohonannya, termasuk nazar dimu­rahkan rezekinya yang banyak diartikan sebagai ritual pesugi­han. Peziarah setelah melaku­kan ritual nyekar acap kali kem­bali datang untuk selanjutnya menggelar selamatan.

Tokoh Mataram
Siapa sejatinya Mbah Sunan Kuning? Sejarah tutur setempat menyebut, beliau hidup sekitar tahun 1500-an. Asalnya diya­kini dari tlatah Mataram. Aji ke­saktian yang dimiliki membuat beliau dikenal sebagai sosok yang pemurah. Suka membantu antarsesama sekaligus berjiwa dermawan.

Selanjutnya tak ada data resmi, apa sebab beliau sampai keplayu (melarikan diri) ke Tulungagung. Tetapi penduduk setempat meyakini, beliaulah yang mbabat alas ka­wasan Desa Lemahbang hingga pada akhirnya makamnya dite­mukan di desa tersebut.

Hajatan untuk mengenang jasa-jasa almarhum dilak­sanakan warga setiap malam Kamis, dengan mengambil tem­pat di pelataran makam. Cukup banyak yang datang. Saat bersa­maan, lazim terjadi masyarakat bertafakur di makam, memohon kemurahannya terkait dengan masalah yang dihadapi. Terma­suk meminta kelancaran rezeki bahkan ada yang menyebut ber­buru pesugihan.

Namun, menurut warga, semua itu berpulang pada hati masing-masing yang datang un­tuk berziarah. “Ya, kita sama-sama tidak mengerti, apa yang diminta oleh mereka,” menurut beberapa warga. Sebab, makam Mbah Kuning memang tidak ada juru kuncinya. Jadi setiap orang bebas datang kapan pun, demikian juga dengan per­mintaan yang disampaikan.■EDY WIENARTO

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Posmo, edisi 606,  29 Desember 2010

Manten Kucing Untuk Memanggil Hujan

Mungkin banyak orang yang tidak percaya jika hujan bias didatangkan lewat ritual khusus. Caranya pun cukup unik yakni dengan memandikan sepasang kucing berlainan jenis di sebuah sendang atau coban.

Ada tradisi unik di Desa Pelem Kecamatan Campur-darat, Kabupaten Tulung­agung. Warga di desa tersebut sangat percaya jika kemarau panjang bisa diakhiri dengan ritual khusus yakni “Man-ten Kucing.”

Ketika musim penghujan tak kunjung turun dan tanah-tanah persawahan mulai mongering, warga desa mengadakan satu ri­tual yang dipercaya bisa menu­runkan hujan yakni “Manten Ku­cing”. Tetapi jangan membayang­kan jika ritual ini adalah ritual perkawinan kucing. Ritual yang di­percaya ada sejak masa peme­rintahan Belanda ini, hanya me­mandikan dua ekor kucing berla­inan jenis di sendang atau coban, tidak jauh dari desa bernama Co­ban Kram.

Lantas mengapa dikatakan manten? Ketika ditelisik lebih da­lam, ternyata ritual memandikan dua ekor kucing ini diupacarakan menyerupai ritual sepasang pe­ngantin menusia. “Karena itulah ri­tual tersebut yang lantas mendasari nama manten kucing,” kata Kepala Desa Palem, Nugroho Agus.

Ketika ditanya kapan pertama kali ritual Manten Kucing digelar, Agus tidak bisa mengatakan pasti. Hanya saja menurut lelaki ber­kumis tebal ini, ritual asli Tulung­agung tersebut, ada sejak ratusan tahun lalu saat pemerintahan Be­landa oleh Eyang Sangkrah pembabat alas desa setempat Kala itu, terjadi musim ke-

marau panjang yang membuat persawahan, sungai, dan telaga (kolam air untuk minum warga) kering. Para penduduk yang ma­yoritas bekerja sebagai petani pun resah. Beberapa ritual keper­cayaan telah dilakukan dengan tujuan agar hujuan segera turun. Namun tak setitik air pun turun meski semua warga desa me­mohon pada sang pencipta.

Ditengah-tengah kegelisahan tersebut tanpa sengaja saat Eyang Sangkrah mendi di sen­dang. Tiba-tiba kucing Condro-mowo (kucing yang memiliki tiga warna berbeda) miliknya ikut mandi.

Sepulang Eyang Sangkrah memandikan kucing di telaga, tak lama berselang, di kawasan Desa Pelem turun hujan deras. Karuan saja, warga yang sudah lama menunggu-nunggu turun­nya hujan tak bisa menyembu­nyikan rasa riangnya. “Mereka yakin, hujan turun ini ada kaitannya dengan Eyang Sangkrah yang baru saja memandikan kucing Cpndromowo,” tutur Agus men­ceritakan asal muasal sejarah ‘Temanten Kucing”.

Ketika Desa Pelem dijabat Demang Sutomejo pada 1926, desa ini kembali dilanda kemarau panjang. Saat itulah, ungkap Nu­groho Agus, Eyang Sutomejo mendapat wangsit untuk me­mandikan kucing di telaga. Maka, dicarilah dua ekor kucing Condro-mowo yang diambil dari arah barat dan timur desa. Lalu, dua ekor ku-

cing itu dimandikan di Coban yang berjarak sekitar satu kilo meter dari desa Palem. Dan, beberapa hari kemudian hujan mulai meng­guyur di Desa Pelem dan seki­tarnya. “Saat ini, kami menggelar ritual “Temanten Kucing” bukan semata-mata untuk minta hujan. Tapi, tradisi ini kami lestarikan untuk nguriruri warisan nenek moyang,” kata Nugroho Agus yang masih ada hubungan cucu dengan Eyang Sutomejo.

Mulai Dipercaya

Sejak saat itu, jika musim ke­marau panjang melanda desa Pelem, warga akan meminta ke­pala desa menggelar ritual ter­sebut. Seiring perkembangan bu­daya, tradisi, dan zaman, ritual “Manten Kucing” pun dilengkapi beberapa sajian kesenian khas Jawatimuran. Jika dulu kucing dibawa tanpa hiasan, maka sejak 1980-an, ritual melibatkan sejum­lah adat dan kesenian. Seperti si pembawa kucing terdiri dari laki-laki dan perempuan yang mema­kai pakaian layaknya orang mau menikah. Selain itu ada juga iring-ringan warga desa dan sesepuh. Tepat di belakang pembawa ku­cing, terdapat dua orang dayang laki-laki membawa payung pusaka.

Untuk menambah kemeriah­an ritual, terdapat beberapa anak yang memainkan jaranan, sete­lah itu baru rombongan dari para sesepuh desa, dimana mereka juga terdiri dari Mbah Kakung (kakek) dan Mbah Putri (nenek), yang juga memakai pakaian adat. Kemudian rombongan tersebut, berjalan menuju sendang.

Setelah selesai, kedua kucing kemudian duduk di singgasana dipangku dua pengiringnya. Tetua adat sudah mempersiapkan nasi tumpeng lengkap dengan lauk dan sayurnya serta jenang merah sebagai prasyarat. Tetua Desa pun langsung memanjatkan puja dan puji syukur atas nikmat Tuhan serta tak lupa meminta Tuhan se­gera mengirimkan hujan agar ti­dak terjadi kekeringan. Selesai pembacaan doa-doa, ritual dilanjutkan dengan acara Tiban, yakni saling menyabetkan sapu lidi yang diikat kepada lawan. Di­harapkan dengan tiban tersebut, hujan akan segera turun. “Keleng­kapan upacara adalah kebutuh­an, dan daya tarik tersendiri a-palagi ritual ini telah dimasukkan sebagai ikon kebudayaan Kabu­paten Tulungagung,” tuturnya.

Yang mengherankan meski pada uparara ritual sekarang ini tidak menggunakan kucing Condromowo melainkan kucing kampung biasa, namun selesai ritual hujan tetap turun. “Sekarang ini kucing Condromowo sudah tidak ada, karena itulah kami me­makai kucing kampung, tetapi toh hujan tetap turun juga,” ung­kapnya.

Seperti saat menggelar upa­cara di Taman Mini Indonesia In­dah (TMII) Jakarta pada 2005 lalu, kala itu Nugroho Agus menggu­nakan kucing jenis angora. Hasilnya taman mini diguyur hu­jan lebat. “Aneh memang, meski digelar tidak di Tulungagung dan kucingnya buka lokal, hujan tetap turun,” kata Kepala desa yang menjabat sejak 2007 ini bangga.

Diperebutkan

Yang membuat unik bukan hanya hujan langsung turun. Te­tapi setelah upacara memandikan kucing selesai, warga desa akan langsung berebut air bekas me­mandikan kucing itu. Mereka per­caya dengan membasuh muka dengan air, mereka akan men­dapat berkah. Bahkan ada juga yang bertiarap bisa awet muda. “Memang tidak masuk akal jika air bisa mendatangkan berkah, tetapi warga desa di sini sangat percaya akan hal itu,” kata Nugroho.

Selain air, kucing yang dipakai untuk ritual juga akan diperebut­kan untuk dijadikan hewan pe­liharaan, dengan harapan akan mendatangkan rejeki bagi sang pemilik. “Semua warga pasti ingin memiliki kicing yang telah dipakai untuk ritual. Selain dipercaya dapat mendatangkan rejeki, secara kua­litas baik kesehatan dan fisik, ku­cing ini pilihan, jadi sang pemilik tidak akan kesulitan merawatnya,” ujarrnya.

la berharap, ritual “Manten Ku­cing” bukan hanya menjadi ke-

banggaan kabupaten yang ter­letak pada ketinggian 85 m di atas permukaan laut tersebut, tetapi juga Jawa Timur secara umum. “Ini sangat unik dan baru Tunga-ngung yang punya. Jika dijadikan ikon Jatim saya rasa “Manten Kucing” sangat layak,” harapnya.

Mulai Ditinggalkan

Sayangnya, perhelatan ritual “Manten Kucing” kini tak sesakral tahun-tahun silam. Perhelatan ri­tual itu saat ini cenderung semakin instan. Banyak tradisi-tradisi unik yang merupakan bagian dari pro­sesi yang kini justru dihilangkan.

Beberapa tahun lalu, suasa­na sakral masih mewarnai pro­sesi ritual unik ini. Saat itu, prosesi ritual ini masih menampilkan sejumlah keunikan. Misalnya, ke­tika pasangan manten kucing dipertemukan menjadi pengantin di pelaminan, beberapa wanita tua ikut tampil melantunkan tembang dolanan khas Jawa.

“Uyek-uyek ranti,

ono bebek pinggir kali,

nuthuli pari sak uli,

Tithit tfiuiiit.. Kembang opo?

Kem­bang-kembang menur,

ditandur neng pinggir sumur,

 yen awan manjing sak dulur,

yen bengi dadi sak kasur.”

 

Begitu syair tembang dolanan berbahasa Jawa yang tiga tahun lalu masih dilantunkan wanita-wanita tua. Tembang dolanan itu dilantunkan seraya memegangi dua tangan pasa­ngan pengantin kucing.

Pada pagelaran ritual manten kucing yang terakhir yakni tahun 2007, prosesi dihelat dengan pembacaan doa yang diikuti se­jumlah sesepuh desa. Begitu doa-doa selesai, maka tuntas sudah perhelatan pengantin kucing. Sehingga timbul kesan, ritual “Manten Kucing” cenderung simpel dan instan.

Toh demikian, ritual “Manten Kucing” tetap saja berlangsung marak. Maklum, ritual ini memang diyakini warga setempat sebagai wahana untuk memohon turun­nya hujan. “Awalnya, tradisi ini, memang menjadi sarana nenek moyang untuk memohon turun­nya hujan,” kata Kepala Desa yang juga tokoh sentral penye­lenggara ritual ini. (Muhajir)

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:POTENSI JAWA TIMUR, EDISI 09, TAHUN VIII/2008

Manten Kucing, Tulungagung

“Manten Kucing” Ndudhuk, Ndhudhah, Lan Nggugah Warisan Tradisi Budaya Lokal

Oleb Agus Ali Imron Al Akhyar*

Hasanah budaya daerah merupakan cerminan bagi kebudayaan Nasional. Hal itu merupakan landasan utama untuk menunjukan jati diri Bangsa Indonesia. Berbagai macam tradisi budaya yang dimiliki Nusantara ini sangat beragam bentuknya, mulai dari budaya tradisi Ngaben di Bali , Sekaten di Yogyakarta , upacara Kasada di Bromo, dan budaya Manten Kucing di Tulungagung.

Prof. S. Budhisantoso mengungkapkan, bahwasanya setiap kali orang dapat berkata dengan bangganya, bahwa masyarakat Bangsa Indonesia yang majemuk ini sangat kaya dengan kebudayaan . Bahkan kebudayaan yang beraneka ragam itu dianggap sebagai modal utama yang dapat dipasarkan lewat pariwisata untuk meningkatkan penghasilan devisa. Namun demikian tidaklah banyak  orang yang mampu menjelaskan dengan baik di mana ke-bhineka-an (keragaman) serta ke-unggul-an masyarakat dan kebudayaan di Indonesia yang tersebar di Nusantara, dari Sa bang sampai Merauke (Zulyani Hidayah, 1999:ix).

Tradisi budaya lokal, potensinya sangat bagus apabila dikembangkan dengan serius. Sehingga dengan budaya lokal-Iah kita mampu mewujudkan budaya tingkat Nasional. Realitanya, banyak generasi muda di daerah tidak memperdulikan bahkan mereka tidak mengetahui tradisi budaya yang ada didaerahnya. Hal itu membuat keprihatinan tersendiri, sebab trend mode globalisasi lambat laun memusnahkan pola pikir anak terhadap tradisi budaya yang ada. Generasi muda lebih suka play station, game online dari pada melihat festival manten kucing.

Masyarakat yang dibantu oleh pemerintah , harus mampu menggali (Ndudhuk) potensi asset budaya daerah. Selain sebagai pendapatan daerah, tentunya budaya daerah tersebut dapat dijadikan sebagai simbol kedaerahan, atau cirri khas daerah. Ketika sudah menemukan (Ndudhah) tradisi yang ada maka untuk disegerakan pen gembangan dan memberdayakannya (Nggugah).

Kita tidak harus mengadili yang namanya trend globalisasi, sebab kalau kita berpikir secara aktif, dengan adanya perkembangan zaman tersebut kita mampu memanfaatkannya untuk mengembangkan budaya tradisi (Nggugah). Seperti halnya mempublikasikan melalui internet, media elektronik, dan facebook. Sehingga belum tentu perkembangan zaman ini akan memusnahkan keberadaan budaya tradisi daerah, melainkan kita harus mampu memanfaatkan perkembangan zaman ini untuk menumbuhkembangkan budaya tradisi kedaerahan.

Demikian pula seperti membangkitkan gairah pengembangan dan pemberdayaan tradisi lokal yang identik sebagai simbolisasi dalam memperkuat budaya Nasional. Manten Kucing, adalah tradisi budaya yang berada di Desa Pelem, Kecam atau Campurdarat, Kabupaten Tulungagung.

Tradisi budaya Manten Kucing ini merupakan tradisi masyarakat untuk meminta diturunkannya hujan, ketika musim kemarau panjang. Se hingga simbolisasi Manten Kucing ini ialah ritual untuk meminta hujan. Tradisi yang terkemas dalam wujud budaya, tentunya bisa dijadikan sebagai media pembelajaran. Orang Jawa, dalam tradisi budayanya memiliki unsur nilai-nilai tinggi, dan juga penyampaian pesan moral yang biasanya terwujud dalam bentuk upacara tradisi, seperti halnya; Manten Kucing, tradisi budaya yang terdapat di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat , Kabupaten Tulungagung ini dilaksanakan upacaranya setiap tahun oleh masyarakat sekitar, dan juga pemerintah peran serta didalam pelaksanaannya.

Selain dijadikan media pembelajaran, tentunya upacara tradisi budaya yang ada di daerahdaerah dapat dijadikan sebagai focus objek wisata loka!. Menggali (Ndudhuk) potensi upacara tradisi tersebut sangatlah diperlukan, kalau perlu kita mempelajari nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Seperti apa yang diungkapkan oleh Prof. Ayu Sutarta (2004:176), untuk membangun ketahanan budaya, kita harus menggali dan kemudian memilah-milah produk-produk budaya yang kita warisi dari para leluhur kita. Tidak semua produk budaya yang kita miliki konstruktif dan produktif. Ada beberapa produk budaya yang harus kita tinggalkan, karena tidak lagi sesuai dengan kebutuhan zaman dan tidak lagi mampu menjawab kebutuhan zaman.

Semakin majunya teknologi komunikasi di zaman sekarang, penulis merasa takut apabila warisan budaya tradisi leluhur hanya tersimpan dalam bentuk audio-vidio. Sedangkan wujud budaya aslinya sudah musnah ditelan perkembangan zaman. Sehingga melihat kondisi semacam itu, generasi muda juga harus menjadi objek didalam pembelajaran tradisi budaya. Pengembangan dan pemberdayaan tradisi budaya yang ada di daerah selayaknya mulai dini dikenalkan kepada generasi muda (pelajar), salah satunya dengan memuat kurikulum muatan lokal, sanggar budaya, cafe budaya dan festival budaya.
Festival Manten Kucing
Manten Kucing merupakan tradisi budaya dari daerah Tulungagung. Pada tahun 2010, keberadaan tradisi budaya Manten Kucing difestivalkan dalam rangka memperingati Hari Jadi Tulungagung ke-805. Festival Manten Kucing  tersebut di-ikuti 19 (Sembilan belas) kecamatan yang ada di Kabupaten Tulungagung. Acara tersebut dilaksanakan pada hari kamis, 25 November 2010, kegiatan festival Manten Kucing tersebut berpusat di kawasan Kota Tulungagung.

Festival tersebut baru pertama kalinya diadakan di Kabupaten Tulungagung, hal itu untuk memperkenalkan kepada generasi muda, bahwasanya Manten Kucing adalah tradisi budaya khas Tulungagung. Tradisi Manten Kucing biasanya diadakan di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat tersebut merupakan upacara tradisi untuk meminta diturunkan hujan.

Uniknya di festival tersebut terdapat kolaborasi antara Manten Kucing dengan kesenian lain, antara Manten Kucing dengan Reog Gendang, Jaranan Jawa dan Hadrah (sholawatan). Sehingga kolaborasi tersebut mendapat sambuatan hangat dari masyarakat, begitu pula para pelajar saat festival itu juga ikut serta menonton. Secara tidak langsung akan menumbuhkan pengetahuan, pemahaman serta mengenali asset budaya tradisi Manten Kucing.

Dalam satu sisi, diadakannya festival Manten Kucing ini memang baik untuk memperkenalkan asset wisata budaya daerah. Namun disisi lain, kesakralan upacara Manten Kucing didalam festiva l tersebut sudah tidak terasa kesakralannya lagi. Sebab budaya sudah menjadi tontonan, bukan lagi tuntunan. Penulis merasakan kesakralan upacara Manten Kucing saat mengikuti prosesi upacara di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat. Sehingga simpulan sederhana adalah kita harus mampu untuk memilah-milah didalam mengembangkan dan memberdayakan asset wisata daerah, agar nilai-nilai dan pesan moralnya tidak hilang, bukan hanya sekedar hiburan.

Pergeseran nilai yang sangat mengkhawatirkan tersebut dapat kita lihat jelas, karena menggejala secara mencolok di sekitar kita, yang antara lain adalah; (1). Nilai moral lebih murah daripada nilai materi; (2). Tuhan terasa jauh dan uang terasa dekat; (3). Produk-produk budaya asing lebih digandrungi daripada produk-produk budaya sendiri; (4). Kepentingan agama, politik, dan ekonomi dicampur adukan, sehingga batas-batasannya menjadi jelas; (5). Kekerasan sering digunakan untuk menyelesaikan perbagai persoalan dalam masyarakat (Ayu Sutarta, 2004:173).

Sehingga untuk Ndudhuk, Ndhudhah dan Nggugah asset budaya daerah harus memiliki konsep yang matang. Mengembangkan dan memberdayakan asset budaya daerah tidak harus mengorbankan unsur nilai-nilai positif yang sudah ada. Dari dulu hingga sekarang, budaya adalah pembelajaran yang . konkrit dan fleksibel.
Selayang Pandang Manten Kucing
Mengenai sejarah keberadaan Manten Kucing , penulis merangkainya dari beberapa sumber yang penulis anggap masih berkompeten. Tradisi budaya Manten Kucing ini berada di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Menurut warga sekitar Desa Pelem, bahwasanya tradisi budaya Manten Kucing ini selalu diselenggarakan setiap tahun, dan juga penuh dengan kesakralan.

Uniknya didalam upacara tradisi Manten Kucing ini adalah sepasang kucing jantan dan betina. Awalnya daerah Desa Pelem dan sekitarnya dahulu kala dilanda kemarau panjang, hingga warga kesulitan untuk mendapatkan air. Eyang Sangkrah adalah tokoh yang membabat Desa Pelem, suatu ketika Eyang Sangkrah mandi di sebuah telaga, yaitu Telaga Coban.

Ketika Eyang Sangkrah mandi di Telaga Coban, Beliau membawa serta seekor kucing di telaga tersebut. Kucing Condro Mowo, sebutan kucing yang dibawa oleh Eyang Sangkrah, setelah di Telaga Coban kucing tersebut dimandikan. Anehnya, sepulang dari mandi di Telaga Coban, di kawasan Desa Pelem turun hujan deras. Warga yang lama menunggu turunnya hujan, tidak bisa menyembunyikan perasaan syukur dan bahagia. Saat itulah, warga menyakini turunnya hujan tersebut ada kaitannya dengan peristiwa Eyang Sangkrah yang memandikan Kucing Condro Mowo. Sehingga tradisi tersebut menjadi tradisi, yang setiap tahun diselenggarakan oleh warga Desa Pelem , dengan sebutan tradisi budaya “Manten Kucing”.

Ketika Desa Pelem dijabat oleh Demang Sutomejo, tahun 1926, Desa Pelem , Kecamatan Campurdarat kembali dilanda kemarau panjang. Saat itu Demang Sutomejo mendapatkan wangsit (petunjuk) untuk mengadakan upacara memandikan kucing di Telaga Coban. Maka, dicarilah dua ekor kucing Condro Mowo. Kemudian, dua ekor kucing itu dimandikan di Telaga Coban . Akhirnya beberapa hari kemudian turunlah hujan mulai mengguyur di Desa Pelem dan sekitarnya.

Prosesi Manten Kucing ini, awalnya warga Desa Pelem mempersiapkan uburampe atau persiapan untuk mengadakan upacara Manten Kucing. Setelah persia pan selesai, maka prosesi kemudian adalah mengkirap kucing Condro Mowo yang diwadahi didalam keranji. Adapun kucing yang dimaksud didalam prosesi tersebut adalah berwarna putih dan hitam, yang terdiri dari kucing lanang (jantan) dan kucing wadon (perempuan). Saat pengkirapan tersebut, kucing lanang lan wadon berada di barisan paling depan sendiri, setelah itu di-ikuti oleh para sesepuh dan tokoh desa. Para sesepuh dan tokoh desa tersebut juga memakai pakaian khas adat Jawa.

Setelah sampai di Telaga Coban, kucing Condro Mowo dimandikan secara bergantian, sebelum ditemukan layaknya manten manusia. Kucing Condro Mowo tersebut dimandikan dengan air telaga yang dicampur dengan kembang setaman yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu.

Usai dimandikan, kedua kucing itu diarak menuju lokasi pelaminan. Di pelaminan tersebut sudah disiapkan aneka uburampe, pasangan kucing jantan dan betina itu dipertemukan. Laki-Iaki dan perempuan yang membawa kucing Condro Mowo, duduk bersandingan di kursi pelaminan. Sedangkan kucingnya, berada di pangkuan laki-Iaki dan perempuan yang juga memakai pakaian pengantin. Upacara pernikahan “Manten Kucing” tersebut ditandai dengan pembacaan doa-doa yang dilakukan oleh sesepuh desa setempat. Kurang lebih 15 (lima belas) menit upacara tradisi budaya Manten Kucing sudah selesai.

Uniknya pad a tahun 2007, atau tiga tahun yang lalu ketika upacara tradisi Manten Kucing digelar, terdapat kearifal lokal yang dimunculkan. Ketika dipertemukan antara kucing jantan dan kucing betina, orang yang sudah tua (sesepuh) duduk dipelaminan sambil menyanyikan lagu-Iagu tradisional, seperti;
Uyek-Uyek Ranti
Ono Bebek Pinggir Kali
Nuthuli Pari Sak Uli
Tithit Thuiiit .. . Kembang Opo?
Kembang-Kembang Menur
Ditandur Neng Pinggir Sumur
Yen Awan Manjing Sak Dhulur
Yen Bengi Dadi Sak Kasur

 
Setelah selesai prosesi Manten Kucing tersebut, maka acara selanjutnya adalah pagelaran seni budaya. Pagelaran seni tersebut adalah Tiban dan Langen Tayup. Kesenian Tiban disini adalah kesenian yang menggunakan cambuk yang terbuat dari lidi pohon aren yang dipilin sebagai alatnya. Ketika salah satu pemain Tiban tersebut mengeluarkan darah segar, maka menandakan prasyarat bahwa hujan akan turun.

Sehingga mulai dari prosesi Manten Kucing, Tiban, dan Langen Tayub, merupakan kesatuan ritual untuk memohon diturunkannya hujan. Tradisi budaya semacam itu merupakan simbolisasi nilai-nilai kearifan lokal orang Jawa. Saat ini tradisi budaya Manten Kucing bukan semata-mata meminta hujan,melainkan sudah menjadi upacara tradisi yang diadakan setiap tahun. Kalau tidak diselenggarakan, maka warga takut kalau terjadi kemarau panjang, maupun bala bencana melanda.

Konsep Tradisi Budaya
Tradisi budaya, merupakan dua suku kata, yaitu tradisi dan budaya. Sehingga dua suku kata tersebut merupakan gabungan kata yang menunjukan suatu keselarasan, yaitu; tradisi budaya. Menurut Kamus Lengkap Bahasa ‘Indonesia (Hoetomo, 2005:550), Trebekula adalah adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat; penilaian atau anggapan bahwa caracara yang telah ada merupakan cara yang paling baik dan benar, mentradisi: menjadi tradisi. Tradisional adalah sikap dan cara berpikir serta bertindak yang selalu berpegang teguh pad a norma dan adat kebiasaan yang ada secara turun temurun; menurut tradisi (adat). Adapun tradisionalisme adalah paham (ajaran dan sebagainya) yang berdasarkan pada tradisi.

Masyarakat adalah salah satu pencipta budaya, setiap masyarakat memiliki budaya yang berbeda. Sehingga dengan budaya, dapat membedakan antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. Disetiap masyarakat yang berbudaya akan menampakkan ciri khas yang berbeda, seperti; Manten Kucing dari Tulungagung , didalam upacaranya . menggunakan kucing sebagai media upacara. Kebudayaan mencakup suatu pemahaman komprehensif yang sekaligus bisa diurai dan dilihat beragam variab le dan cara pemahamannya. Kebudayaan dalam arti suatu pandangan yang menyeluruh menyangkut pandangan hid up, sikap, dan nilai. Atau menurut deskripsi Raymond Williams, “General state or habit of the mind general state of intellectua’l development in a society or a whole”. Disebutnya pula, “The general body of arts. A whole way of life, material, intellectual, spiritual”. (Jakob Oetam~, 2009:9, dalam bunga rampai judul buku Kumpulan Tulisan Koentjaraningrat Memorial Lectures I-V/2004-2008, Perspektif Budaya). Budaya orang Jawa, selalu menitikberatkan akan pentingnya pembentukan moral yang baik. Moral merupakan kunci utama untuk membentuk kepriadian manusia yang berbudi luhur. Sehingga Nampak sudah budaya orang Jawa itu selalu menunjukkan nilai-nilai dan pesan moral positif. Dari berbudaya yang baik, maka akan menghasilkan nilai positif bagi masyarakat. Kebudayaan orang Jawa selalu menampakkan nilai norma-norma positif yang dipegang teguh dalam kehidupan keseharian .

Kata budaya berasal dari kata Sankseke rta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata budhi yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa asing lainnya terdapat kata-kata seperti culture (Inggris), cultuur (Belanda), atau kultur (Jerman). Kata-kata itu sebenarnya berasal dari bahasa Latin colere yang berarti pemeliharaan, pengolahan , dan penggarapan tanah menjadi tanah pertanian. Dalam arti kiasan, katakata itu juga diberi arti “pembentukan dan pemurnian “, misalnya pembentukan dan pemurnian jiwa. Menurut kaidah bahasa, culture atau cultuur diartikan menjadi “budaya”, sedangkan cultural atau culturele menjadi “kebudayaan “. Budaya merupakan kata benda, sedangkan “kebudayaan” adalah kata sifat (Mochamoed Effendhie, 2000: 1).


Simpulan
“Manten Kucing” merupakan tradisi budaya yang terdapat di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Upacara prosesi Manten Kucing tersebut, terdapat nilai-nilai yang terkandung didalamnya, selain itu mempunyai pesan moral, seperti halnya; kita juga harus bersahabat dengan alam dan sekitarnya, guyub rukun dan saling tolong menolong.

Tradisi Manten Kucing sendiri pad a tahun 2010 yang bertepatan dengan Hari Jadi Tulungagung ke-805, dijadikan festival budaya. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan tradisi budaya Manten Kucing kepada khalayak umum, khususnya pelajar bahwasanya di Tulungagung terdapat tradisi · budaya Manten Kucing.

Adapun nilai-nilai yang dapat penulis tangkap dari prosesi Manten Kucing , diantaranya; Pertama, manusia memang diberi kelebihan oleh Sang Pencipta yang mempunyai, akal pikiran, budi pekerti, nalar, rasa dan karsa. Sehingga mewujudkan diri untuk memilik budaya positif. Sehingga dengan berbudaya yang baik, akan memberikan norma-norma positif di masyarakat.

Kedua, dengan adanya tradisi budaya Manten Kucing tersebut, warga saling dapat tolong menolong, hormat menghormati diantaranya. Sehingga kerukunan dan keselarasan hidup menjadi damai, tenang, dan sejahtera. Didalam prosesi Manten Kucing sendiri masyarakat diajak untuk Guyup Rukun.

Sebenarnya selain menjadi media pembelajaran, keberadaan Manten Kucing bisa dijadikan sebagai objek wisata loka!. Keberadaan asset wisata daerah itulah, maka akan menyokong keberadaan budaya Nasional. Dengan berbudaya yang baik, maka kita akan menjadi sosok manusia, masyarakat atau bahkan Negara yang berbudi luhur, saling menghormatu, tolong menolong, jujur dan sopan. Masyarakat Indonesia, khususnya di daerah-daerah dahulu terkenal dengan keramahtamahannya. Akankah dengan berbudaya baik, kita mampu mewujudkan sifat ramah dan tamah?

Sehingga istilah Ndudhuk, Ndhudhah dan Nggugah, merupakan rangkaian dalam menggali, menemukan dan mengembangan serta memberdayakan potensi budaya yang ada di daerah. Perkembangan zaman seperti sekarang ini, membuat tantangan tersendiri bagi kita untuk mampu mengolah perkembangan zaman itu untuk menumbuhkan asset budaya loka!. Berkat akal, pengalaman, dan kesadaran nurani, maka kita harus bergerak untuk mengolah potensi daerah menjadi asset yang berharga dan mempunyai nilai pendidikan.

Secara teoritis, kebudayaan akan mengajarkan nilai-nilai yang baik dan juga mencerminkan normanorma positif bagi generasi muda. Tinggal generasi muda (pelajar) mampu atau tidak untuk menangkap nilai yang terkandung didalam kebudayaan. Sebab kebudayaan sekarang ini sekedartontonan, bukan lagi sebagai tuntunan, realita yang ada.

*Stat Peneliti Kajian Sejarah,
Sosial dan Budaya
{KS2B}Kabupaten Tulungagung
 

BENDE, Media Informasi Seni dan Budaya, Edisi 87,  Januari 2011,