KH. M. Hasyim Asy'ari pendiri pesantren Tebuireng

KH. M. Hasyim Asy'ari0001KH. M. Hasyim Asy’ari  juga sebagai pengasuh pesantren Tebuireng Periode Pertama (1899 – 1947), KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (selanjutnya disingkat Kiai Hasyim) adalah pendiri pesantren Tebuireng, tokoh ulama dan pendiri NU, organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Namanya sudah tidak asing lagi di telinga orang Indonesia. Pahlawan Nasional ini merupakan salah satu tokoh besar Indonesia abad ke-20.

Kelahiran dan Masa Kecil
Kiai Hasyim lahir pada Selasa Kliwon, 24 Dzul Qa’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M, di pesantren Gedang, desa Tambakrejo, sekitar 2 km. ke arah utara kota Jombang. Putra ketiga dari 11 bersaudara pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah. Kiai Asy’ari adalah menantu Kiai Utsman, pengasuh pesantren Gedang.
Dari jalur ayah, nasab Kiai Hasyim bersambung kepada Maulana Ishak hingga Imam Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir. Sedangkan dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng), yang berputra Karebet atau Jaka Tingkir. Dalam sejarah tercatat Jaka Tingkir adalah raja Pajang pertama (tahun 1568 M) dengan gelar Sultan Pajang atau Pangeran Adiwijaya.
KH. M. Hasyim Asy'ari0002Bakat kepemimpinan Kiai Hasyim sudah tampak sejak masa kanak-kanak. Ketika bermain dengan teman-teman sebayanya, Hasyim kecil selalu menjadi penengah. Jika melihat temannya melanggar aturan permainan, ia akan menegurnya. Dia membuat temannya senang bermain, karena sifatnya yang suka menolong dan melindungi sesama.
Pada tahun 1293 H/1876 M., tepatnya ketika berusia 6 tahun, Hasyim kecil bersama kedua orang tuanya pindah ke Desa Keras, sekitar 8 km. selatan pusat kota Jombang. Kepindahan mereka adalah untuk membina masyarakat di sana.
Di Desa Keras, Kiai Asy’ari diberi tanah oleh Kepala Desa, yang kemudian digunakan untuk membangun rumah, masjid, dan pesantren. Di sinilah Hasyim kecil mendapat pendidikan dasar-dasar ilmu agama dari orang tuanya. Hasyim juga dapat melihat secara langsung bagaimana ayahnya membina dan mendidik para santri. Hasyim hidup menyatu bersama santri. Ia mampu menyelami kehidupan santri yang penuh kesederhanaan dan kebersamaan. Semua itu memberikan pengaruh yang sangat besar pada pertumbuhan jiwa dan pembentukan karakter di kemudian hari. Hal ini ditunjang oleh kecerdasannya yang memang brilian. Dalam usia 13 tahun, Hasyim sudah bisa membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar daripada dirinya.
Disamping cerdas, Hasyim juga dikenal rajin bekerja. Watak kemandirian yang ditanamkan sang kakek, mendorongnya untuk berusaha memenuhi kebutuhan diri sendiri tanpa bergantung kepada orang lain. Itu sebabnya, Hasyim selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar mencari nafkah dengan bertani dan berdagang. Hasilnya kemudian dibelikan kitab dan digunakan untuk bekal menuntut ilmu.

Mencari Ilmu
Pada usia 15 tahun, remaja Hasyim meninggalkan kedua orang tuanya untuk berkelana memperdalam ilmu pengetahuan. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonorejo Jombang, lalu pesantren Wonokoyo Probolinggo, kemudian Pesantren Langitan Tuban, dan Pesantren Trenggilis Surabaya. Belum puas dengan ilmu yang diperolehnya, Hasyim melanjutkan rihlah ilmiyahnya ke Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, di bawah asuhan Kiai Kholil bin Abdul Latif yang terkenal waliyullah itu.
Setelah lima tahun menuntut ilmu di Bangkalan, pada tahun 1307 H/1891 M., Kiai Hasyim kembali ke tanah Jawa dan belajar di pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo, di bawah bimbingan Kiai Ya’qub. Pemuda Hasyim belajar selama 5 tahun di sana. Lalu pada usia 21 tahun, dia dinikahkan dengan Nafisah, salah seorang puteri Kiai Ya’qub. Pernikahan itu dilangsungkan pada tahun 1892 M/1308 H.
Tidak lama kemudian, Kiai Hasyim bersama istri dan mertuanya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Kesempatan di tanah suci juga digunakan untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Hampir seluruh disiplin ilmu agama dipelajarinya, terutama ilmu hadis. Tujuh bulan telah berlalu, Nyai Nafisah pun melahirkan seorang putera yang diberi nama Abdullah. Kiai Hasyim bersama istri dan mertuanya sangat bahagia dengan kelahiran bayi mungil tersebut.
Perjalanan hidup terkadang sulit diduga; gembira dan sedih datang silih berganti. Demikian juga yang dialami Kiai Hasyim. Di tengah kegembiraan memperoleh buah hati, sang istri mengalami sakit parah dan kemudian meninggal dunia di tanah suci Mekah.
Empat puluh hari kemudian, putra beliau, Abdullah wafat menyusul sang ibu. Kesedihan Kiai Hasyim nyaris tak tertahankan. Namun beliau selalu ingat kepada Allah dengan melaksanakan thawaf dan ibadah-ibadah lainnya. Beberapa bulan kemudian, Kiai Hasyim kembali ke Indonesia untuk mengantar mertuanya pulang.

Kembali ke Tanali Suci
Kerinduan akan tanah suci mengetuk hati Kiai Hasyim untuk kembali lagi ke kota Mekah. Pada tahun 1309 H/1893 M, beliau berangkat kembali ke Mekah bersama adik kandungnya, Anis. Namun Allah kembali menguji kesabaran Kiai Hasyim, karena tak lama setelah tiba di Mekah, Anis dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
Peristiwa ini tidak membuat Kiai Hasyim hanyut dalam kesedihan. Kiai Hasyim justru semakin mencurahkan seluruh waktunya untuk belajar dan mendekatkan diri kepada Allah. Di tengah-tengah kesibukan menuntut ilmu, beliau menyempatkan diri berziarah ke tempat-tempat mustajab, seperti Padang Arafah, Gua Hira’, Maqam Ibrahim, termasuk ke makam Rasulullah SAW. Setiap Sabtu pagi beliau berangkat menuju Goa Hira’ di Jabal Nur, kurang lebih 10 km. di luar Kota Mekkah, untuk mempelajari dan menghafalkan hadis-hadis Nabi.
Setiap berangkat menuju Goa Hira’, Kiai Hasyim selalu membawa al-Qur’an dan kitab-kitab yang ingin dipelajarinya. Beliau juga membawa perbekalan untuk dimakan selama enam hari di sana. Jika hari Jum’at tiba, beliau bergegas turun menuju Kota Mekkah guna menunaikan salat Jum’at di sana.
Kiai Hasyim juga rajin menemui ulama-ulama besar untuk belajar dan mengambil berkah dari mereka. Guru-guru Kiai Hasyim selama di Mekkah, antara lain: Syeikh Syuaib ibn Abdurrahman, Syekh Mahfudzh at-Turmusi, 7 Syekh Khatib al-Minangkabawi,8 Syekh Ahmad Amin al- Atthar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Said al-Yamani, Syekh Rahmatullah, dan Syekh Bafaddhal.
7Syekh Mahfudh at-Turmusi berasal dari Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Saat itu Syekh Mahfudh menjadi pengajar di Masjid al-Haram dan merupakan ulama ahli hadis berkaliber internasional di Makkah yang menjadi kebanggaan bangsa Melayu. Sama seperti Kiai Kholil Bangkalan, Syekh Mahfudh adalah murid Syekh Nawawi al-Bantany. Kiai Hasyim menjadi murid kesayangan Syekh Mahfudh, karena selain cerdas, Kiai Hasyim juga merupakan murid Kiai Kholil Bangkalan yang merupakan kawan seperguruannya.
8Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi merupakan ulama yang banyak terpengaruh oleh gerakan reformasi Muhammad Abduh di Makkah. Sewaktu berguru pada Syekh Ahmad Khatib ini, Kiai Hasyim belajar bersama Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syansuri, dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah). Mereka itu nantinya akan menjadi kiai-kiai besar di Indonesia.
Sejumlah sayyid juga menjadi gurunya, antara lain: Sayyid Abbas al-Maliki, Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani, Sayyid Abdullah al-Zawawi, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas, Sayyid Alwi al-Segaf, Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi, dan Sayyid Husain al-Habsyi yang saat itu menjadi mufti di Makkah. Di antara mereka, ada tiga orang yang sangat mempengaruhi wawasan keilmuan Kiai Hasyim, yaitu Sayyid Alwi bin Ahmad al-Segaf, Sayyid Husain al-Habsyi, dan Syekh Mahfudzh al-Turmusi.*,Dari Syeikh Mahfudh, Kiai Hasyim menganut faham bermadzhab dan memperoleh ijazah (legitimasi pewarisan) tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah. Di samping itu, Syekh Mahfudh sebagai isnad (mata rantai) terakhir dari 23 generasi penerima Shahih Bukhari yang ditulis ribuan tahun yang lalu, juga mengijazahkan isnad tersebut kepada Kiai Hasyim. Inilah diantara faktor yang menjadikan Kiai Hasyim sebagai kiai pertama di tanah Jawa yang mengajarkan kitab hadis lengkap dengan sanadnya.
Setelah ilmunya dinilai mumpuni, Kiai Hasyim dipercaya untuk mengajar di Masjidil Haram bersama tujuh ulama Indonesia lainnya, seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Anmad Khatib al-Minakabawi, dll. Di sana beliau mempunyai banyak murid dari berbagai negara. Diantaranya ialah Syekh Sa’dullah al-Maimani (mufti di Bombay, India), Syekh Umar Hamdan (ahli hadis di Mekkah), Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria), KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Tambakberas, Jombang), K.H.R. Asnawi (Kudus), KH. Dahlan (Kudus), KH. Bisri Syansuri (Denanyar, Jombang), dan KH. Shaleh (Tayu).
Pada tahun ketujuh di Makkah—tepatnya tahun 1899 (1315 H)— datang rombongan jamaah haji dari Indonesia. Diantara rombongan terdapat Kiai Romli dari desa Karangkates Kediri, beserta putrinya yang bernama hadijah. Kiai Romli yang bersimpati kepada Kiai Hasyim mengambilnya sebagai menantu untuk dijodohkan dengan Khadijah.
Setelah pernikahan di Makkah itu, Kiai Hasyim bersama istrinya pulang kembali ke tanah air. Pada awalnya, beliau tinggal di Kediri selama beberapa bulan. Menurut sumber lainnya, Kiai Hasyim langsung menuju pesantren Gedang yang diasuh oleh Kiai Usman, dan tinggal di sana membantu sang kakek. Setelah itu, Kiai Hasyim pindah ke Pesantren Keras untuk membantu ayahnya, Kiai Asy’ari, mengajar santri-santrinya. Kedatangan Kiai Hasyim disambut hangat oleh para santri. Bekal mencari ilmu selama puluhan tahun merupakan jaminan kualitas keilmuan Kiai Hasyim.

Mendirikan Pesantren
Tahun 1899, Kiai Hasyim membeli sebidang tanah dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng. Letaknya kira-kira 200 meter sebelah Barat Pabrik Gula Cukir, pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1870. Dukuh Tebuireng terletak di arah timur Desa Keras, kurang lebih 1 km. Di sana beliau membangun sebuah bangunan yang terbuat dari bambu (Jawa: tratak) sebagai tempat tinggal.
Dari tratak kecil inilah embrio Pesantren Tebuireng dimulai. Kiai Hasyim mengajar dan salat berjamaah di tratak bagian depan, sedangkan tratak bagian belakang dijadikan tempat tinggal. Saat itu santrinya berjumlah 8 orang, dan 3 bulan kemudian meningkat menjadi 28 orang.
Setelah dua tahun membangun Tebuireng, Kiai Hasyim kembali harus kehilangan istri tercintanya, Nyai Khodijah. Saat itu perjuangan mereka sudah menampakkan hasil yang menggembirakan.
Kiai Hasyim kemudian menikah kembali dengan Nyai Nafiqoh, putri Kiai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan Madiun. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 10 anak, yaitu: (1) Hannah, (2) Khoiriyah, (3) Aisyah, (4) Azzah, (5) Abdul Wahid, (6) Abdul Hakim (Abdul Kholik), (7) Abdul Karim, (8) Ubaidillah, (9) Masruroh, (10) Muhammad Yusuf.
Pada akhir dekade 1920an, Nyai Nafiqoh wafat sehingga Kiai Hasyim menikah kembali dengan Nyai Masruroh, putri Kiai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Pagu, Kediri. Dari pernikahan ini, Kiai Hasyim dikarunia 4 orang putra-putri, yaitu: (1) Abdul Qodir, (2) Fatimah, (3) Khodijah, (4) Muhammad Ya’kub.
Figur Pendidik
Selain mumpuni dalam bidang agama, Kiai Hasyim juga ahli dalam mengatur kurikulum pesantren, mengatur strategi pengajaran, memutuskan persoalan-persoalan aktual kemasyarakatan, dan mengarang kitab. Pada tahun 1919, ketika masayarakat sedang dilanda informasi tentang koperasi sebagai bentuk kerjasama ekonomi, Kiai Hasyim tidak berdiam diri. Beliau aktif bermuamalah serta mencari solusi alternatif bagi pengembangan ekonomi umat, dengan merujuk pada kitab-kitab Islam klasik (kitab kuning). Beliau membentuk badan semacam koperasi yang bernama Syirkatul Inan li Murabathati Ahli al-Tujjar.
Kiai Hasyim juga tipe pendidik yang sulit dicari tandingannya. Sejak pagi hingga malam, Kiai Hasyim menghabiskan waktunya untuk mengajar. Pada pagi hari, kegiatan beliau dimulai dengan menjadi imam salat subuh di masjid Tebuireng, yang berada tepat di depan kediamannya, dilanjutkan dengan bacaan wirid yang cukup panjang. Selesai wirid, beliau mengajar kitab kepada para santri hingga menjelang matahari terbit. Diantara kitab yang diajarkan setelah subuh adalah al- Tahrir dan Al-Syifa ft Huquq al-Musthafa karya al-Qadhi ‘Iyadh, (konon, saat mengaji beliau duduk di atas alas yang terbuat dari kulit kambing).
Setelah selesai mengaji, Hadlratus Syeikb yang terbiasa berpuasa itu menemui para pekerja yang sudah berkumpul di samping rumah. Beliau membagi tugas kepada mereka; ada yang ditugaskan merawat sawah, membenahi fasilitas pondok, membenahi sumur, dan lain sebagainya. Setelah itu, beliau mendengarkan laporan-laporan mengenai hal-hal yang pernah beliau perintahkan.
Sekitar pukul 07.00, Kiai Hasyim mengambil air wudlu’ untuk salat dhuha. Beliau biasanya mengambil air wudhu di jeding samping ndalem dengan hanya mengenakan sarung dan kaos putih. Setelah salat dhuha, dilanjutkan dengan mengajar santri senior. Tempatnya di ruang depan ndalem. Kitab yang pernah diajarkan antara lain al-Muhaddzab karya al-Syairazi dan Al-Muattha9 karya Imam Malik ra. Pengajian ini berakhir pada pukul 10.00.
Mulai jam 10.00 pagi sampai jam 12 adalah waktu istirahat, yang digunakan untuk agenda-agenda seperti menemui tamu, membaca kitab, menulis kitab, dan lain-lain. Sebelum azan zuhur, kadang kala beliau menyempatkan diri untuk tidur sebentar (qailulah), sebagai bekal untuk qiyamul lail dan membaca al-Qur’an. Ketika azan zuhur berkumandang, beliau bangun dan mengimami salat zuhur berjama’ah di masjid. Selepas salat zuhur, beliau mengajar lagi sampai menjelang waktu asar.
Kira-kira setengah jam sebelum asar, Kiai Hasyim memeriksa pekerjaan para pekerja yang ditugasinya tadi pagi. Setelah menerima laporan, beliau kembali ke ndalem kemudian mandi.
Setelah terdengar azan asar, beliau kembali ke masjid dan mengimami salat ashar, dilanjutkan dengan mengajar para santri di masjid sampai menjelang maghrib. Kitab yang diajarkan adalah Fatb al- Qarib. Pengajian ini wajib diikuti semua santri tanpa terkecuali. Hingga akhir hayatnya, kitab ini secara kontinue dibaca setiap selesai salat asar.
Setelah salat maghrib, Kiai Hasyim menyediakan waktu untuk menemui para tamu yang datang dari berbagai daerah, seperti Banyuwangi, Pasuruan, Malang, Surabaya, Madiun, Kediri, Solo, Jakarta, Jogyakarta, Kalimantan, Bima, Sumatra, Telukbelitung, Madura, Bali, dan masih banyak lagi. (Menurut sumber lain, Kiai Hasyim menerima tamu setelah salat isya’)
Dikisahkan oleh Nyai Marfu’ah, pembantu Kiai Hasyim, bahwa setiap harinya Kiai Hasyim menyediakan banyak makanan dan lauk-pauk untuk menjamu para tamu. Dalam satu hari, jumlah tamunya bisa mencapai 50 orang.
Setelah salat isya, beliau mengajar lagi di masjid sampai pukul sebelas malam. Materi yang biasa diajarkan adalah ilmu tashawuf dan tafsir. Dalam bidang tasawuf, beliau membacakan kitab Ihya3 Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali, dan untuk bidang tafsir membaca Tafsir al-Quran al-Adzim karya Ibnu Kastir.
Setelah itu Kiai Hasyim muraja’ah Al-Qur’an dengan disimak oleh beberapa santri. Beliau mengakhiri kegiatannya dengan beristirahat, mulai jam satu malam dan bangun satu jam kemudian untuk qiyamul lail dan membaca al-Quran. Menjelang waktu imsak (sekitar 10 menit sebelum Subuh), Kiai Hasyim berkeliling pondok untuk membangunkan para santri agar segera mandi atau berwudlu’ guna malaksanakan salat tahajjud dan salat subuh. Ketika usianya sudah beranjak sepuh dan harus memakai tongkat untuk menyangga tubuhnya, Kiai Hasyim tetap menjalankan aktivitasnya membangunkan para santri menjelang subuh.
Kiai Hasyim juga dikenal sangat mencintai para santri. Keadaan ekonomi bangsa yang masih sangat lemah, secara otomatis mempengaruhi kemampuan ekonomi santri. Ada yang mondok hanya dengan bekal sekarung beras, bahkan ada yang tanpa bekal sedikitpun. Karena itu, Kiai Hasyim memberikan jatah makan harian kepada para santri yang tidak mampu. Lalu setiap hari Selasa, Kiai Hasyim mengajak mereka untuk berwiraswasta atau pergi ke sawah untuk bertani.
Kecintaan Kiai Hasyim pada dunia pendidikan terlihat dari pesan yang selalu disampaikan kepada setiap santri yang telah selesai belajar di Tebuireng: “Pulanglah ke kampungmu. Mengajarlah di sana, paling tidak mengajar ngaji.”
Sistem Pendidikan
Sejak awal berdirinya hingga tahun 1916, sistem pengajaran di Pesantren Tebuireng masih menggunakan sistem sorogan dan bandongan, dengan materi Ilmu Pengetahuan Agama Islam dan Bahasa Arab. Bahasa pengantarnya adalah Bahasa Jawa dengan huruf pego (tulisan Arab berbahasa Jawa). Semua bentuk pengajaran tidak dibedakan dalam jenjang kelas. Kenaikan kelas diwujudkan dengan bergantinya kitab yang telah selesai dibaca (khatam).
Setelah salat isya, beliau mengajar lagi di masjid sampai pukul sebelas malam. Materi yang biasa diajarkan adalah ilmu tashawuf dan tafsir. Dalam bidang tasawuf, beliau membacakan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Imam al-Ghazali, dan untuk bidang tafsir membaca Tafsir al-Quran al-Adzim karya Ibnu Kastir.
Setelah itu Kiai Hasyim muraja’ah Al-Qur’an dengan disimak oleh beberapa santri. Beliau mengakhiri kegiatannya dengan beristirahat, mulai jam satu malam dan bangun satu jam kemudian untuk qiyamul lail dan membaca al-Quran. Menjelang waktu imsak (sekitar 10 menit sebelum Subuh), Kiai Hasyim berkeliling pondok untuk membangunkan para santri agar segera mandi atau berwudlu’ guna malaksanakan salat tahajjud dan salat subuh. Ketika usianya sudah beranjak sepuh dan harus memakai tongkat untuk menyangga tubuhnya, Kiai Hasyim tetap menjalankan aktivitasnya membangunkan para santri menjelang subuh.
Kiai Hasyim juga dikenal sangat mencintai para santri. Keadaan ekonomi bangsa yang masih sangat lemah, secara otomatis mempengaruhi kemampuan ekonomi santri. Ada yang mondok hanya dengan bekal sekarung beras, bahkan ada yang tanpa bekal sedikitpun. Karena itu, Kiai Hasyim memberikan jatah makan harian kepada para santri yang tidak mampu. Lalu setiap hari Selasa, Kiai Hasyim mengajak mereka untuk berwiraswasta atau pergi ke sawah untuk bertani.
Kecintaan Kiai Hasyim pada dunia pendidikan terlihat dari pesan yang selalu disampaikan kepada setiap santri yang telah selesai belajar di Tebuireng: “Pulanglah ke kampungmu. Mengajarlah di sana, paling tidak mengajar ngaji.”
Sistem Pendidikan
Sejak awal berdirinya hingga tahun 1916, sistem pengajaran di Pesantren Tebuireng masih menggunakan sistem sorogan dan bandongan, dengan materi Ilmu Pengetahuan Agama Islam dan Bahasa Arab. Bahasa pengantarnya adalah Bahasa Jawa dengan huruf pego (tulisan Arab berbahasa Jawa). Semua bentuk pengajaran tidak dibedakan dalam jenjang kelas. Kenaikan kelas diwujudkan dengan bergantinya kitab yang telah selesai dibaca (khatam).
Seiring perkembangan waktu, sistem dan metode pengajaran ditambah, diantaranya dengan menambah kelas musyawaroh sebagai kelas tertinggi. Santri yang berhasil masuk kelas musyawaroh jumlahnya sangat kecil, karena seleksinya cukup ketat.
Dalam 20 tahun pertama pertumbuhan Tebuireng, Kiai Hasyim banyak dibantu oleh saudara iparnya, KH. Alwi, yang pernah mengenyam pendidikan 7 tahun di Mekah. Tahun 1916, KH. Ma’shum Ali,
(KH. Ma’shum Ali merupakan salah seorang Kiai yang cukup produktif. Karya- karyanya terkenal dengan sistematikanya yang sederhana namun sistematis. Buku-buku kiai ahli Falak ini seringkali dijadikan rujukan di berbagai madrasah dan pesantren di Indonesia. Beliau antara lain menulis kitab Amtsilatut Tasbrifiyab, semacam kamus morfologi Bahasa Arab atau shorof, Badi’at al-Mitsal dan Durus al-Falakiyab (astronomi), Fath al-Qadir (menerangkan ukuran, takaran, dan timbangan Arab sesuai dengan ukuran Indonesia).
menantu pertamanya, mengenalkan sistem klasikal (madrasah). Sistem madrasah merupakan sistem pengajaran yang diadopsi oleh Hadratusy Syeikb dari Mekah.
Tahun 1916, Madrasah Tebuireng membuka tujuh jenjang kelas dan dibagi menjadi dua tingkatan. Tahun pertama dan kedua dinamakan sifir awal dan sifir tsani, yaitu masa persiapan untuk dapat mernasuki madrasah lima tahun berikutnya. Para peserta sifir awal dan sifir tsani dididik secara khusus untuk memahami bahasa Arab sebagai landasan penting bagi pendidikan madrasah lima tahun.
Mulai tahun 1919, Madrasah Tebuireng secara resmi diberi nama Madrasah Salafiyah Syafi’iyah dengan Kiai Maksum sebagai Kepala Madrasahnya. Kurikulum ditambah dengan materi Bahasa Indonesia (Melayu), matematika, dan geografi. Lalu setelah kedatangan Kiai Ilyas tahun 1926, pelajaran ditambah dengan pelajaran Bahasa Belanda dan Sejarah. Tahun 1928 kedudukan Kiai Maksum sebagai kepala madrasah digantikan Kiai Ilyas, sedang Kiai Maksum sendiri ditunjuk oleh Kiai Hasyim untuk mendirikan Pesantren Seblak (sekitar 200 meter ke arah barat Tebuireng).
Pengajian Shahih Bukhari-Muslim
Meskipun sistem pengajaran di Tebuireng sudah berkembang pesat, namun tradisi pengajian yang diasuh Kiai Hasyim tetap bertahan. Apalagi beliau terkenal sangat disiplin dan istiqamah mengaji. Para santri tidak pernah bosan mengikuti pengajian beliau.
Kegiatan mengajar Kiai Hasyim diliburkan 2 kali dalam seminggu, yaitu pada Hari Selasa dan Hari Jum’at. Kiai Hasyim biasanya memanfaatkan 2 hari libur itu untuk mencari nafkah seperti berdagang dan bercocok tanam. Beliau memantau perkembangan sawah dan ladangnya yang berada kurang lebih 10 km sebelah selatan Tebuireng. Beliau juga memberi kesempatan kepada para santri untuk mengadakan kegiatan kemasyarakatan seperti jam’iyah. Sedangkan pada Hari Selasa, selain pergi ke sawah Kiai Hasyim juga sering bersilaturrahim ke sanak famili dan para alumni yang mulai merintis pondok pesantren.
Hari libur dimanfaatkan oleh putranya, Abdul Wahid, untuk memberikan pelajaran bahasa asing, Inggris dan Belanda, kepada para santri. Meskipun pada awalnya Kiai Hasyim kurang setuju, namun
Abdul Wahid mampu meyakinkan bahwa materi bahasa asing sai penting bagi santri, sehingga Kiai Hasyim akhirnya membolehkan.
Selain mencari nafkah, pada hari Jum’at Kiai Hasyim memperbanyak membaca al-Qur’an. Kemudian setelah salat jur beliau memberikan pengajian umum kepada santri dan masyan Dalam pengajian ini, Hadratus Syekh membaca kitab Tafsir al-Jal karya Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin Al-Suyuthi ra.
Kebiasaan lain yang tak pernah beliau tinggalkan ialah mem shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau juga sering men: kitab Dalail al-Kbairat yang di dalamnya banyak terdapat shal; Ketika ada santri yang menganggur, beliau mengingatkannya i membaca shalawat agar waktu yang mereka miliki tidak sia-sia.
Pada bulan Ramadhan, Hadratus Syekh membacakan kitab S Bukhari (4 jilid) dan Shahih Muslim (4 jilid) secara rutin. Pengaji; dimulai pada tanggal 15 Sya’ban dan selesai pada tanggal 27 Ram; (kurang lebih 40 hari). Salah seorang gurunya bahkan pernah ikut kepada beliau. Menurut satu sumber, guru Kiai Hasyim yang p ngaji ke Tebuireng adalah Kiai Kholil Bangkalan, dan menurut si lainnya adalah Kiai Khozin Panji, Sidoarjo.
Dekat kepada Allah
Dikisahkan, ketika Hadratus Syeikh merasa amat letih karena siang harinya menghadiri kongres Nahdatul Ulama’ di Malang, beliau tidak bisa memberikan pelajaran di malam hari kepada para santri. Sehabis salat Isya beliau beristirahat tidur sangat pulas. Kiai Hasyim baru bangun pada pukul setengah tiga malam. Beliau langsung mengambil air wudhu, berpakaian rapi dan menjalankan salat tahajjud. Meskipun pada siang harinya belum makan, beliau tidak juga makan di malam hari, padahal persediaan makanan masih ada. Selesai salat tahajjud diiringi dengan wirid dan doa yang panjang, beliau mengambil al-Qur’an lalu dibacanya dengan perlahan-lahan sambil menghayati maknanya. Ketika sampai pada surat Ad-Dzariyat ayat 17-18 yang artinya:
Mereka (para shahabat Nabi) sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan di waktu sahur (akhir malam) mereka memohon ampun [ Ad-Dariyat: 17-18].
Seketika itu beliau menghentikan bacaannya. Lalu terdengar suara tangis terisak-isak. Sejurus kemudian air mata telah membasahi jenggot beliau yang sudah memutih. Kiai Hasyim merasa bahwa pada malam itu beliau terlalu banyak tidur. Sambil menengadahkan tangan ke langit, beliau berdo’a, “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah ini, dan berilah hamba kekuatan serta ketabahan untuk melaksanakan segala perintah-perintahMu.” Kemudian beliau bangkit dari tempat duduknya menuju tempat salat, lalu bersujud kepada Allah memohon ampun. Lisannya terus membaca tasbih.
Peristiwa seperti ini terjadi berulangkali. Setiap kali membaca ayat- ayat tentang siksa, ancaman, dan murka Allah, atau ayat-ayat yang menerangkan perintah-perintah Allah yang terlupakan oleh kaum muslimin, beliau selalu meneteskan air mata.
Suatu malam, Kiai Hasyim berniat tidur sejenak guna mengistirahatkan badan. Ketika sampai di tempat tidur, terdengar suara seorang santri dari masjid sedang membaca al-Qur’an, yang artinya:
“Wahai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari kecuali sedikit (dari padanya). Atau lebih dari seperdua (malam), dan bacalah al-Quran dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu di siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dialah) Tuhan masyriq dan maghrib, tiada tuhan melainkan Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung.” [al-Muzammil: 1-9]
Mendengar ayat itu, Kiai Hasyim yakin bahwa ini adalah teguran dari Allah Swt. melalui santrinya. Allah menegurnya agar tetap beribadah, jangan bermalas-malasan menuruti hawa nafsu. Akhirnya keinginan untuk tidur dibatalkan.
Diceritakan pula, pada tahun 1943, Kiai Hasyim diserang demam yang sangat hebat. Ketika telah masuk waktu zuhur, beliau memaksakan diri bangkit dari tempat tidur menuju kolam untuk mengambil air wudhu’. Beliau berjalan sambil dipapah oleh kedua putranya. Setelah mengambil air wudhu’, beliau memakai baju rapi disertai sorban untuk menuju masjid. Melihat hal ini, salah seorang putranya, Abdul Karim, berkata, “Ayah, demam ayah sangat parah. Sebaiknya ayah salat di rumah saja!”
Beliau menjawab, “Ketahuilah anakku, api neraka itu lebih panas dari pada demamku ini!” Kemudian beliau bangkit dari duduknya dan berjalan menuju masjid dengan dipapah.
Sepulang dari masjid, penyakitnya semakin parah. Sanak famili dan putra-putrinya berdatangan. Badannya terbujur lemah di atas tempat tidur. Kedua matanya terpejam tak sadarkan diri. Tapi tak lama kemudian, matanya terbuka seraya meneteskan air mata.
Adik perempuannya bertanya, “Di manakah yang terasa sakit, kakak?”
Dengan nada sedih, Kiai Hasyim menjawab, “Aku menangis bukan karena penyakitku, bukan pula karena takut mati atau berat berpisah dengan famili. Aku merasa belum mempunyai amal shaleh. Masih banyak perintah-perintah Allah yang belum aku kerjakan. Alangkah malunya aku menghadap Allah dengan tangan hampa, tiada mempunyai amal kebaikan. Itulah sebabnya aku menangis.”

KH. M. Hasyim Asy'ari0003

Karya-Karya Kiai Hasyim
Disamping aktif mengajar, berdakwah, dan berjuang, Kiai Hasyim juga penulis yang produktif. Beliau meluangkan waktu untuk menulis pada pagi hari, antara pukul 10.00 sampai menjelang dzuhur. Waktu ini merupakan waktu longgar yang biasa digunakan untuk membaca kitab, menulis, juga menerima tamu.
Karya-karya Kiai Hasyim banyak yang merupakan jawaban atas berbagai problematika masyarakat. Misalnya, ketika umat Islam banyak yang belum faham persoalan tauhid atau aqidah, Kiai Hasyim lalu menyusun kitab tentang aqidah, diantaranya Al-Qalaid fi Bayani ma Yajib min al-Aqaid\ Ar-Risalah at-Taubidiyab, Risalab Abli Sunnab Wa al-Jama’ab, Al-Risalab fi at-Tasawwuf] dan lain sebagainya.
Kiai Hasyim juga sering menjadi kolumnis di majalah-majalah, seperti Majalah Nahdlatoel Oelama’, Panji Masyarakat, dan Swara Nahdhotoel Oelama’. Biasanya tulisan Kiai Hasyim berisi jawaban- jawaban atas masalah-masalah fiqhiyyah yang ditanyakan banyak orang, seperti hukum memakai dasi, hukum mengajari tulisan kepada kaum wanita, hukum rokok, dll. Selain membahas tentang masail fiqbiyah, Kiai Hasyim juga mengeluarkan fatwa dan nasehat kepada kaum muslimin, seperti al-Mawaidz, doa-doa untuk kalangan Nahdhiyyin, keutamaan bercocok tanam, anjuran menegakkan keadilan, dan lain-lain.
Karya-karya KH. M. Hasyim Asy’ari yang dapat di telusuri hingga saat ini ialah:
 Al-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikbwan. Berisi tentang tata cara menjalin silaturrahim, bahaya dan pentingnya interaksi sosial. Tebal 17 halaman, selesai ditulis hari Senin, 20 Syawal 1360 H., penerbit Maktabah Al-Turats Al-Islami Ma’had Tebuireng.
 Mukaddimah al-Qanun al-Asasy Li Jam’iyyah Nahdhatul Ulama. Pembukaan undang-undang dasar (landasan pokok) organisasi Nahdhatul Ulama’. Tebal 10 halaman. Pernah dicetak oleh percetakan Menara Kudus tahun 1971 M. dengan judul, “Ihya* Amal al-Fudhala’ fi al-Qanun al-Asasy li Jam9iyah Nahdhatul Ulama'”.
 Risalah fi Ta’kid al-Akhdz bi Madzhab al-AHmmah al-Arba’ah. Risalah untuk memperkuat pegangan atas madzhab empat. Tebal 4 halaman, berisi tentang perlunya berpegang kepada salah satu diantara empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali). Di dalamnya juga terdapat uraian tentang metodologi penggalian hukum (istinbat al-ahkam), metode ijtihad, serta respon atas pendapat Ibn Hazm tentang taqlid.
 Mawaidz. Beberapa Nasihat. Berisi fatwa dan peringatan tentang merajalelanya kekufuran, mengajak merujuk kembali kepada al-Quran dan hadis, dan lain sebagainya. Pernah disiarkan dalam kongres Nahdhatul Ulama’ ke XI tahun 1935 di Kota Bandung, dan pernah diterjemahkan oleh Prof. Buya Hamka dalam majalah Panji Masyarakat no.5 tanggal 15 Agustus 1959, tahun pertama halaman 5-6.
 Arba’in Haditsan Tata’allaq hi Mabadi9 jam’lyah Nahdhatul Ulama\ 40 hadits Nabi yang terkait dengan dasar-dasar pembentukan Nahdhatul Ulama5.
 Al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin. Berisi dasar kewajiban seorang muslim untuk beriman, mentaati, meneladani, dan mencintai Nabi Muhammad SAW. Tebal 87 halaman, memuat biografi singkat Nabi SAW mulai lahir hingga wafat, dan menjelaskan mu’jizat shalawat, ziarah, wasilah, serta syafaat. Selesai ditulis pada 25 Sya’ban 1346 H., terdiri dari 29 bab.
 At-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna9 al-Maulid bi al-Munkarat. Peringatan-peringatan wajib bagi penyelenggara kegiatan maulid yang dicampuri dengan kemungkaran. Ditulis berdasarkan kejadian yang pernah dilihat pada malam Senin, 25 Rabi’ al-Awwal 1355 H. Pada halaman pertama terdapat pengantar dari tim lajnah ulama al-Azhar, Mesir. Selesai ditulis pada 14 Rabi’ at-Tsani 1355 H., terdiri dari 15 bab setebal 63 halaman, dicetak oleh Maktabah at-Turats al-Islamy Tebuireng, cetakan pertama tahun 1415 H.
 Risalah Ahli Sunnah Wal ]ama9ah fi Hadits al-Mauta iva Syarat as- Sa9ah iva Bayan Mafhum al-Sunnah wa al-Bid9ah. Risalah Ahl Sunnah Wal Jama’ah tentang hadis-hadis yang menjelaskan kematian, tanda-tanda hari kiamat, serta menjelaskan sunnah dan bid’ah. Berisi 9 pasal.
 Ziyadat Ta9liqat ala Mandzumah as-Syekh ‘Abdullah bin Yasin al- Fasuruani. Catatan seputar nadzam Syeikh Abdullah bin Yasin Pasuruan. Berisi polemik antara Kiai Hasyim dan Syeikh Abdullah bin Yasin. Di dalamnya juga terdapat banyak pasal berbahasa Jawa dan merupakan fatwa Kiai Hasyim yang pernah dimuat di Majalah Nahdhatoel Oelama’. Tebal 144 halaman.
 Dhau’ul Misbah fi Bayan Ahkam an-Nikah. Cahayanya lampu yang benderang menerangkan hukum-hukum nikah. Berisi tata cara nikah secara syar’i; hukum-hukum, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan. Kitab ini biasanya dicetak bersama kitab Miftab al-Falab karya almarhum Kiai Ishamuddin Hadziq, sehingga tebalnya menjadi 75 halaman.
 Ad-Durrah al-Muntasyirah Fi Masa’il Tis’a Asyarah. Mutiara yang memancar dalam menerangkan 19 masalah. Berisi kajian tentang wali dan thariqah dalam bentuk tanya-jawab sebanyak 19 masalah. Tahun 1970-an kitab ini diterjemahkan oleh Dr. KH. Thalhah Mansoer atas perintah KH. M. Yusuf Hasyim, diterbitkan oleh percetakan Menara Kudus.
 Al-Risalah fi al-‘Aqaid. Berbahasa Jawa, berisi kajian tauhid, pernah dicetak oleh Maktabah an-Nabhaniyah al-Kubra Surabaya, bekerja sama dengan percetakan Musthafa al-Babi al-Halabi Mesir tahun 1356 H./1937M. Dicetak bersama kitab Kiai Hasyim lainnya yang berjudul Risalab fi at-Tasbawwuf serta dua kitab lainnya karya seorang ulama dari Tuban. Risalah ini ditash-hih oleh syeikh Fahmi Ja’far al-Jawi dan Syeikh Ahmad Said ‘Ali (al-Azhar). Selesai ditashhih pada hari Kamis, 26 Syawal 1356 H/30 Desembe 1937 M.
 Al-Risalah fi at-Tasawwuf. Menerangkan tentang tashawuf; penjelasan tentang ma’rifat, syariat, thariqah, dan haqiqat. Ditulis dengan bahasa Jawa, dicetak bersama kitab al-Risalah fi al-(Aqaid.
 Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim fima Yahtaju ilaih al-Muta’allim fi Ahival Ta’limihi ivama Yatawaqqaf ‘alaih al-Muallim fi Maqat Ta’limihi. Tatakrama pengajar dan pelajar. Berisi tentang etika bagi para pelajar dan pendidik, merupakan resume dari Adab al-Mu’allint karya Syekh Muhammad bin Sahnun (w.256 H/871 M); Ta’lim al- Muta’allim fi Tbariq at-Ta’allum karya Syeikh Burhanuddin al-Zarnuji (w.591 H); dan Tadzkirat al-Saml wa al-Mutakallim fi Adab al-(Alim wa al-Muta3allim karya Syeikh Ibn Jama’ah. Memuat 8 bab, diterbitkan oleh Maktabah at-Turats al-Islamy Tebuireng. Di akhir kitab terdapat banyak pengantar dari para ulama, seperti: Syeikh Sa’id bin Muhammad al-Yamani (pengajar di Masjidil Haram, bermadzhab Syafii), Syeikh Abdul Hamid Sinbal Hadidi (guru besar di Masjidil Haram, bermadzhab Hanafi), Syeikh Hasan bin Said al- Yamani (Guru besar Masjidil Haram), dan Syeikh Muhammad cAli bin Sa’id al-Yamani.

Selain kitab-kitab tersebut di atas, terdapat beberapa naskah manuskrip karya KH. Hasyim Asy’ari yang hingga kini belum diterbitkan. Yaitu:
1. Hasyiyah ‘ala Fath ar-Rahman bi Syarh Risalah al-Wali Ruslan li Syeikh al-Islam Zakariya al-Anshari.
2. Ar-Risalah at-Tawhidiyah
3. Al-Qala’id fi Bay an ma Yajib min al-Aqa’id
4. Al-Risalah al-]ama’ah
5. Tamyiz al-Haqq min al-Bathil
6. al-Jasus fi Ahkam al-Nuqus
7. Manasik Shughra

NU dan Komite Hijaiz;
Penjajahan panjang yang mengungkung bangsa Indonesia, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Pada tahun 1908 muncul sebuah gerakan yang kini disebut Gerakan Kebangkitan Nasional. Se- mangat Kebangkitan Nasional terus menyebar ke mana-mana, sehingga muncullah berbagai organisai pendidikan, sosial, dan keagamaan, diantaranya Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) tahun 1916, dan Taswirul Afkar tahun 1918 (dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri atau Kebangkitan Pemikiran). Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar (Pergerakan Kaum Saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat.
Dengan adanya Nahdlatul Tujjar, maka Taswirul Afkar tampil sebagai kelompok studi serta lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota. Tokoh utama dibalik pendirian tafwirul afkar adalah, KH Abdul Wahab Hasbullah (tokoh muda sekaligus pengasuh PP. Bahrul Ulum Tambakberas), yang juga murid badratus syeikb. Kelompok ini lahir sebagai bentuk kepedulian para ulama terhadap tantangan zaman di kala itu, baik dalam masalah keagamaan, pendidikan, sosial, dan politik.
Pada masa itu, Raja Saudi Arabia, Ibnu Saud, berencana menjadikan madzhab Wahabi sebagai madzhab resmi Negara. Dia juga berencana menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam yang selama ini banyak diziarahi kaum Muslimin, karena dianggap bid’ah.
Di Indonesia, rencana tersebut mendapat sambutan hangat kalangan modernis seperti Muhammadiyah di bawah pimpinan KH. Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang menghormati keberagaman, menolak pembatasan madzhab dan penghancuran warisan peradaban itu. Akibatnya, kalangan pesantren dikeluarkan dari keanggotaan Kongres A1 Islam serta tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu’tamar ‘Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah, yang akan mengesahkan keputusan tersebut.
Didorong oleh semangat untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta rasa kepedulian terhadap pelestarian warisan peradaban, maka Kiai Hasyim bersama para pengasuh pesantren lainnya, membentuk delegasi yang dinamai Komite Hijaz. Komite yang diketuai KH. Wahab Hasbullah ini datang ke Saudi Arabia dan meminta Raja Ibnu Saud untuk mengurungkan niatnya. Pada saat yang hampir bersamaan, datang pula tantangan dari berbagai penjuru dunia atas rencana Ibnu Saud, sehingga rencana tersebut digagalkan. Hasilnya, hingga saat ini umat Islam bebas melaksanakan ibadah di Mekah sesuai dengan madzhab masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.
Tahun 1924, kelompok diskusi taswirul afkar ingin mengembangkan sayapnya dengan mendirikan sebuah organisasi yang ruang lingkupnya lebih besar. Hadratus syeikb KH. Hasyim Asy’ari yang dimintai persetujuannya, meminta waktu untuk mengerjakan salat istikharah, menohon petunjuk dari Allah.
Setelah sekian lama ditunggu, petunjuk itu belum datang juga. Kiai Hasyim sangat gelisah. Dalam hati kecilnya ingin berjumpa dengan gurunya, KH Kholil bin Abdul Latif Bangkalan.
Sementara nun jauh di Bangkalan sana, Syaikhona Kholil telah mengetahui apa yang dialami Kiai Hasyim. Kiai Kholil lalu mengutus salah seorang santrinya yang bernama As’ad Syamsul Arifin (kelak menjadi pengasuh PP Salafiyah Syafiiyah Asembagus Situbondo), untuk menyampaikan sebuah tongkat kepada Kiai Hasyim di Tebuireng. Pemuda As’ad juga dipesani agar setiba di Tebuireng membacakan surat Thaha ayat 23 kepada Kiai Hasyim.
Ketika Kiai Hasyim menerima kedatangan As’ad, dan mendengar ayat tersebut, hatinya langsung bergetar. “Keinginanku untuk membentuk jamiyah agaknya akan tercapai,” ujarnya lirih sambil meneteskan airmata.
Waktu terus berlalu, akan tetapi pendirian organisasi itu belum juga terealisasi. Agaknya Kiai Hasyim masih menunggu kemantapan hati.
Satu tahun kemudian (1925), pemuda As’ad kembali datang menemui Hadratus Syeikh. “Kiai, say a diutus oleh Kiai Kholil untuk menyampaikan tasbih ini,” ujar pemuda Asad sambil menunjukkan tasbih yang dikalungkan Kiai Kholil di lehernya. Tangan As’ad belum pernah menyentuh tasbih sersebut, meskipun perjalanan antara Bangkalan menuju Tebuireng sangatlah jauh dan banyak rintangan. Bahkan ia rela tidak mandi selama dalam perjalanan, sebab khawatir tangannya menyentuh tasbih. Ia memiliki prinsip, “kalung ini yang menaruh adalah kiai, maka yang boleh melepasnya juga harus kiai”. Inilah salah satu sikap ketaatan santri kepada sang guru.
“Kiai Kholil juga meminta untuk mengamalkan wirid Ya Jab bar, Ya Qahhar setiap waktu,” tambah pemuda As’ad.
Kehadiran As’ad yang kedua ini membuat hati Kiai Hasyim semakin mantap. Hadratus Syeikh menangkap isyarat bahwa gurunya tidak keberatan jika ia bersama kawan-kawannya mendirikan organisai/jam’iyah. Inilah jawaban yang dinanti-nantinya melalui salat istikharah.
Sayangnya, sebelum keinginan itu terwujud, Kiai Kholil sudah meninggal dunia terlebih dahulu.
Pada tanggal 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926M, organisasi tersebut secara resmi didirikan, dengan nama Nahdhatul Ulama’, yang artinya kebangkitan ulama. Kiai Hasyim dipercaya sebagai Rais Akbar pertama. Kelak, jam’iyah ini menjadi organisasi dengan anggota terbesar di Asia Tenggara.
Sebagaimana diketahui, saat itu (bahkan hingga kini) dalam dunia Islam terdapat pertentangan faham, antara faham pembaharuan yang dilancarkan Muhammad Abduh dari Mesir dengan faham bermadzhab yang menerima praktek tarekat. Ide reformasi Muhammad Abduh antara lain bertujuan memurnikan kembali ajaran Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang bukan berasal dari Islam, mereformasi pendidikan Islam di tingkat universitas, dan mengkaji serta merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan kehidupan modern. Dengan ini Abduh melancarakan ide agar umat Islam terlepas dari pola pemikiran madzhab dan meninggalkan segala bentuk praktek tarekat.
Semangat Abduh juga mempengaruhi masyarakat Indonesia, kebanyakan di kawasan Sumatera yang dibawa oleh para mahasiswa yang belajar di Mekkah. Sedangkan di Jawa dipelopori oleh KH. Ahmad Dahlan melalui organisasi Muhammadiyah (berdiri tahun 1912).
Kiai Hasyim pada prinsipnya menerima ide Muhammad Abduh untuk membangkitkan kembali ajaran Islam, akan tetapi menolak melepaskan diri dari keterikatan madzhab. Sebab dalam pandangannya, umat Islam sangat sulit memahami maksud Al-Quran atau Hadits tanpa mempelajari kitab-kitab para ulama madzhab. Pemikiran yang tegas dari Kiai Hasyim ini memperoleh dukungan para kiai di seluruh tanah Jawa dan Madura. Kiai Hasyim yang saat itu menjadi “kiblat” para kiai, berhasil menyatukan mereka melalui pendirian Nahdlatul Ulama’ ini.

KH. M. Hasyim Asy'ari0004Berjuang Mengusir Penjajah
Masa awal perjuangan Kiai Hasyim di Tebuireng bersamaan dengan semakin represifnya perlakuan penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia. Pasukan Kompeni ini tidak segan-segan membunuh penduduk yang dianggap menentang undang-undang penjajah. Pesantren Tebuireng pun tak luput dari sasaran represif Belanda.
Pada tahun 1913 M., intel Belanda mengirim seorang pencuri untuk membuat keonaran di Tebuireng. Namun dia tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh santri hingga tewas. Peristiwa ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk menangkap Kiai Hasyim dengan tuduhan pembunuhan.
Dalam pemeriksaan, Kiai Hasyim yang sangat piawai dengan hukum-hukum Belanda, mampu menepis semua tuduhan tersebut dengan taktis. Akhirnya beliau dilepaskan dari jeratan hukum.
Belum puas dengan cara adu domba, Belanda kemudian mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan pesantren yang baru berdiri sekitar 10 tahun itu. Akibatnya, hampir seluruh bangunan pesantren porak-poranda, dan kitab-kitab dihancurkan serta dibakar. Perlakuan represif Belanda ini terus berlangsung hingga masa-masa revolusi fisik Tahun 1940an.
Pada bulan Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, dekat Bandung, sehingga secara de facto dan de jure, kekuasaan Indonesia berpindah tangan ke tentara Jepang. Pendudukan Dai Nippon menandai datangnya masa baru bagi kalangan Islam. Berbeda dengan Belanda yang represif kepada Islam, Jepang menggabungkan antara kebijakan represi dan kooptasi, sebagai upaya untuk memperoleh dukungan para pemimpin Muslim.
Salah satu perlakuan represif Jepang adalah penahanan terhadap Hadratus Syeikh beserta sejumlah putera dan kerabatnya. Ini dilakukan karena Kiai Hasyim menolak melakukan seikerei. Yaitu kewajiban berbaris dan membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 pagi, sebagai simbol penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketaatan kepada Dewa Matahari (Amaterasu Omikami). Aktivitas ini juga wajib dilakukan oleh seluruh warga di wilayah pendudukan Jepang, setiap kali berpapasan atau melintas di depan tentara Jepang.
Kiai Hasyim menolak aturan tersebut. Sebab hanya Allah SWT lah yang wajib disembah, bukan manusia. Akibatnya, Kiai Hasyim ditangkap dan ditahan secara berpindah-pindah, mulai dari penjara Jombang, kemudian Mojokerto, dan akhirnya ke penjara Bubutan, Surabaya. Karena kesetiaan dan keyakinan bahwa Hadratus Syeikh berada di pihak yang benar, sejumlah santri Tebuireng minta ikut ditahan. Selama dalam tahanan, Kiai Hasyim mengalami banyak penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangannya menjadi patah tak dapat digerakkan.
Penahanan Hadratus Syeikh, menyebabkan kegiatan belajar-mengajar di Pesantren Tebuireng berhenti total. Penahanan itu juga mengakibatkan keluarga Hadratus Syeikh tercerai berai.
Isteri Kiai Hasyim, Nyai Masyruroh, harus mengungsi ke Pesantren Denanyar yang terletak di sebelah barat Kota Jombang.
Tanggal 18 Agustus 1942, setelah 4 bulan dipenjara, Kiai Hasyim dibebaskan oleh Jepang karena banyaknya protes dari para kiai dan santri. Selain itu, pembebasan Kiai Hasyim juga berkat usaha dari Kiai Wahid Hasyim dan Kiai Wahab Hasbullah dalam menghubungi pembesar-pembesar Jepang, terutama Saikoo Sikikan di Jakarta.
Tanggal 22 Oktober 1945, ketika tentara NICA (Netberland Indian Civil Administration) yang dibentuk oleh pemerintah Belanda membonceng pasukan sekutu yang dipimpin Inggris, berusaha melakukan agresi ke tanah Jawa (Surabaya) dengan alasan mengurus tawanan Jepang, Kiai Hasyim bersama para ulama menyerukan Resolusi Jihad melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris tersebut. Resolusi Jihad ditandatangani di kantor NU Bubutan, Surabaya. Akibatnya, meletuslah perang rakyat semesta dalam pertempuran 10 November 1945 yang bersejarah itu. Umat Islam yang mendengar Resolusi Jihad itu keluar dari kampung-kampung dengan membawa senjata apa adanya untuk melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris. Peristiwa 10 Nopember kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.
Pada tanggal 7 Nopember 1945—tiga hari sebelum meletusnya perang 10 Nopember 1945 di Surabaya—umat Islam membentuk partai politik bernama Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi). Pembentukan Masyumi merupakan salah satu langkah konsolidasi umat Islam dari berbagai faham. Kiai Hasyim diangkat sebagai Ro’is ‘Am (Ketua Umum) pertama periode tahun 1945-1947.
Selama masa perjuangan mengusir penjajah, Kiai Hasyim dikenal sebagai penganjur, penasehat, mufti, sekaligus jenderal dalam gerakan laskar-laskar perjuangan seperti GPII, Hizbullah, Sabilillah, dan gerakan rakyat.

Selimut Duka di Tebuireng
KH. M. Hasyim Asy'ari0005Malam itu, tanggal 3 Ramadhan 1366 H., bertepatan dengan tanggal 21 Juli 1947 M. jam 9 malam, Kiai Hasyim baru saja selesai mengimami salat Tarawih. Seperti biasa, beliau duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat. Tak lama kemudian, datanglah seorang tamu utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Kiai Hasyim menemui utusan tersebut didampingi Kiai Ghufron (pimpinan Laskar Sabilillah Surabaya). Sang tamu menyampaikan surat dari Jenderal Sudirman.
Kiai Hasyim meminta waktu satu malam untuk berfikir dan jawabannya akan diberikan keesokan harinya. Isi pesan tersebut adalah:
1. Di wilayah Jawa Timur Belanda melakukan serangan militer besar- besaran untuk merebut kota-kota di wilayah Karesidenan Malang, Basuki, Surabaya, Madura, Bojonegoro, Kediri, dan Madiun.
2. Hadiratus Syeikh KH.M. Hasyim Asy’ari dimohon untuk berkenan mengungsi ke Sarangan, Magetan, agar tidak tertangkap oleh Belanda. Sebab jika tertangkap, beliau akan dipaksa membuat statemen mendukung Belanda. Jika hal itu terjadi, maka moral para pejuang akan runtuh.
3. Jajaran TNI di sekitar Jombang diperintahkan untuk membantu pengungsian Kiai Hasyim.

Keesokan harinya, Kiai Hasyim memberi jawaban tidak berkenan menerima tawaran tersebut.

Empat hari kemudian, tepatnya pada tanggal 7 Ramadhan 1366 M., jam 9 malam, datang lagi utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Sang utusan membawa surat untuk disampaikan kepada Hadratusy Syeikh. Bung Tomo memohon Kiai Hasyim mengeluarkan komando jihad fi sabilillah bagi umat Islam Indonesia, karena saat itu Belanda telah menguasai wilayah Karesidenan Malang dan banyak anggota laskar Hizbullah dan Sabilillah yang menjadi korban. Hadratusy Syeikh kembali meminta waktu satu malam untuk memberi jawaban.
Tak lama berselang, Hadratusy Syeikh mendapat laporan dari Kiai Ghufron (pemimpin Sabilillah Surabaya) bersama dua orang utusan Bung Tomo, bahwa kota Singosari Malang (sebagai basis pertahanan
Hizbullah dan Sabilillah) telah jatuh ke tangan Belanc pejuang semakin tersudut, dan korban rakyat sipil 1 Mendengar laporan itu, Kiai Hasyim berujar, “Masy; Allah…” sambil memegang kepalanya. Lalu Kiai Hasyim diri.
Pada saat itu, putra-putri beliau tidak berada di Tebuireng tapi tak lama kemudian mereka mulai berdatangan setelah mendengar ayahanda tidak sadarkan diri. Menurut hasil pemeriksa Hasyim mengalami pendarahan otak (asemblonding) yan
Pada pukul 03.00 dini hari, bertepatan dengan tanggal 25 Juli 1947 atau 7 Ramadhan 1366 H, Hadratuys Syeikb KH.M. dipanggil yang Maha Kuasa. Inna liLlabi wa Inna Ilayb
Atas jasa-jasa Hadratus Syeikh selama perang melawan Belanda (1945-1947), terutama yang berka fatwanya yang sangat penting: Pertama, perang mel adalah jihad yang wajib dilaksanakan oleh semu Indonesia. Kedua, kaum Muslimin diharamkan melaku haji dengan kapal Belanda. Ketiga, Kaum Muslimi memakai dasi dan atribut-atribut lain yang menjadi ciri 1 Maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presi No. 249/1964 menetapkan bahwa KH. Muhammad I sebagai Pahlawan Nasional. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 38-66

KH. Abdul Karim Hasyim, Pengurus PP. Tebuireng Periode Ketiga

KH. Abdul Karim Hasyim.KH. Abdul Karim Hasyim pengurus Pondok Pesantren Tebuireng Periode Ketiga tahun 1950 sampai dengan tahun 1951
Selama Kiai Wahid Hasyim menjadi pengasuh Tebuireng, Kiai Abdul Karim Hasyim sudah dipercaya sebagai wakilnya sejak tahun 1947. Ketika Kiai Wahid diangkat manjadi Menteri Agama, kepemimpinan pesantren Tebuireng manjadi kosong sehingga keluarga besar Bani Hasyim memilih Kiai Karim sebagai penggantinya. Kiai Karim resmi menjadi pengasuh Tebuireng sejak tanggal 1 Januari 1950 M.
Di kalangan pesantren, Kiai Karim terkenal sebagai ahli bahasa dan sastra Arab. Beliau juga produktif menulis dengan nama samaran Akarhanaf\ singkatan dari Abdul Karim-Hasyim-Nafiqoh.
Kelahiran dan Pendidikan
Abdul Karim dilahirkan di Tebuireng pada tanggal 30 Septenber 1919 M./1338 H., dengan nama kecil Abdul Majid. Sejak kecil Abdul Karim dididik langsung oleh kakaknya, Kiai Wahid Hasyim, serta kakak iparnya, Kiai Baidlawi. Dia terkenal sebagai anak yang rajin belajar.
Masa pendidikannya lebih banyak dihabiskan di Tebuireng. Dia tercatat sebagai salah seorang siswa pertama Madrasah Nidzamiyah yang didirikan kakaknya, Kiai Wahid Hasyim.
Keluargfa dan Karier
Pada tahun 1943, ketika Jepang berkuasa di Indonesia, Kiai Karim menikah dengan Masykuroh, putri seorang kiai yang kaya raya di Jombang. Melalui perkawinan ini, Kiai Karim dikaruniai empat anak, yaitu Lilik Nailufari, Muhammad Hasyim Karim, Cicik Nafiqoh, dan Muhammad Natsir.
Selain aktif di Tebuireng, Kiai Karim juga bekerja sebagai KN I Kabupaten Jombang dan merangkap menjadi guru pada tahun 1945- 1948. Pada saat yang sama, Kiai Karim merangkap sebagai penghubung staf Grup M I di pulau Jawa.
Lalu pada tahun 1954, ketika sudah tidak menjabat sebagai pengasuh Tebuireng, Kiai Karim diangkat menjadi Ahli dan Pengawas Pendidikan Agama di Semarang. Lalu pada tahun 1960, Kiai Karim dipindahkan ke wilayah Surabaya dan Bojonegoro. Kemudian pada tahun 1968, dia diangkat menjadi dosen luar biasa pada Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Surabaya.
KH. Abdul Karim HasyimSaat itu, IAIN Sunan Ampel Surabaya hanya memiliki 1 Fakultas yaitu Fakultas Syari’ah, itupun merupakan cabang dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Lokasi IAIN Sunan Ampel juga masih berada di Wonokromo yang sekarang ditempati Yayasan Khodijah. Beliau mengajar Nushush Adab yaitu materi kuliah tentang syair-syair, terutama syair-syair yang berisi kritikan kepada pemerintah.
Sekitar tahun 1970-an, Kiai Karim masuk keanggotaan Partai Golkar. Sikap ini sangat kontroversial di kalangan pesantren, yang saat itu umumnya berpartai Islam. Konon, beliau masuk Golkar karena diajak oleh salah seorang pejabat di Jombang, dengan pertimbangan bahwa perjuangan Islam tidak selamanya hanya di pesantren. Dakwah juga tidak selamanya di dalam partai Islam. Di Golkar juga membutuhkan siraman rohani, sehingga pemerintahan Orde Baru yang semuanya anggota Golkar perlu mendapat siraman rohani dari orang pesantren. Dakwah seperti ini, menurut Kiai Karim, merupakan konsep saling mengisi antar ulama dan umaro.
Pada pemilu tahun 1971, di mana partai Golkar mendapat suara 62,8 % dan memperoleh 227 kursi di parlemen, Kiai Karim terpilih sebagai salah satu anggota DPR-RI dari fraksi Golongan Karya.
Kepemimpinan di Tebuirengf
Selama satu tahun memimpin Tebuireng, Kiai Karim banyak melakukan reorganisasi dan revitalisasi sistem madrasah. Pada masa kepemimpinannya, madrasah-madrasah di berbagai pesantren sedang mengalami masa-masa suram. Dikatakan suram karena sejak penyerahan Kedaulatan RI dari pemerintah Belanda kepada pemerintah RI tahun 1949, Pemerintah lebih memprioritaskan sistem persekolahan formal (schooling) daripada madrasah. Perlakuan diskriminatif lainnya terlihat dari keputusan bahwa yang diperbolehkan menjadi pegawai negeri adalah mereka yang lulusan sekolah umum.
Oleh sebab itu, madrasah-madrasah di Tebuireng pun akhirnya diformalkan sesuai dengan sistem persekolahan. Jika sebelumnya jenjang madrasah hanya dua tingkat, yakni Shifir dan Ibtidaiyah, pada masa Kiai Karim ditambah menjadi tiga tingkat. Yaitu Shifir dua tahun, Ibtidaiyah enam tahun, dan Tsanawiyah tiga tahun. Periode Kiai Karim merupakan masa transisi menuju integrasi sistem salaf dan sistem formal. Inilah tonggak awal dimulainya era pendidikan formal di Pesantren Tebuireng, yang kemudian diikuti oleh sejumlah pondok pesantren lain, khususnya di tanah Jawa.
Pada masa Kiai Karim, didirikan pula Madrasah Muallimin enam tahun. Jenjang ini lebih berorientasi pada pencetakan calon guru yang memiliki kelayakan mengajar. Selain pelajaran agama dan umum, para siswa Mu’allimin juga dibekali keahlian mengajar seperti didaktik- metodik dan ilmu psikologi. Dengan adanya jenjang Mu’allimin, permintaan tenaga guru dari berbagai daerah dapat dipenuhi.
Setelah satu tahun mengasuh Tebuireng, Kiai Karim menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Kiai Baidlawi, yang merupakan kakak iparnya sendiri. Pergantian jabatan pengasuh Tebuireng dari Kiai Karim kepada Kiai Baidhawi, merupakan hal yang baru dari sistem kepemimpinan Tebuireng, karena seorang menantu dapat menggantikan kedudukan anak kandung di saat si anak kandung masih hidup.
Meskipun kepemimpinan Tebuireng secara formal dipegang oleh Kiai Ahmad Baidhawi, namun Kiai Karim tetap aktif membantu segala kegiatan pondok. Segala bentuk administrasi pondok, termasuk
formalisasi sekolah, diurus oleh Kiai Abdul Karim. Sedangkan Kiai Ahmad Baidlawi lebih berkonsentrasi mengurus pondok bersama kakaknya, KH Idris Kamali. Jadi, secara de facto, peran KH Abdul Karim tetap berlangsung di saat kepengasuhan Tebuireng berada di tangan KH Ahmad Baidhawi. Meskipun secara de jure beliau sudah mengundurkan diri. Pada tahun 1950-1951, Kiai Karim mendirikan Pandu HIPPI (Himpunan Pandu Pelajar Islam)
Meningeal di Tanali Svtci
Pada tahun 1972, Kiai Karim menunaikan ibadah haji bersama Kiai Idris Kamali dan keluarga Pesantren Seblak. Ketika semua kegiatan Ibadah Haji selesai dan rombongan sudah bersiap-siap untuk pulang, kondisi fisik pemimpin rombongan, KH Abdul Karim, mulai menurun. Dokter lalu memberikan suntikan injeksi. Namun tak lama kemudian Kiai Karim tidak sadarkan diri. Akhirnya, pada 31 Desember 1972, Allah Swt memanggil Kiai Karim untuk selama-lamanya. Inna liLlahi wa inna ilaihi roji’un. ()18
18Pada saat itu, Kiai Abdul Karim masih tercatat sebagai anggota DPR-RI.

———————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 77-81

KH. Ahmad Baidhawi Asro pengasuh Tebuireng Periode Keempat

KH. Ahmad Baidhawi AsroKH. Ahmad Baidhawi Asro pengasuh Tebuireng Periode Keempat (1951 – 1952)
KH. Ahmad Baidhawi Asro merupakan pengasuh Tebuireng yang sangat konsens pada pendidikan dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Beliau benar-benar menekuni dunia pendidikan dan sedikitpun tidak terlibat urusan politik. Seorang figur pendidik yang sederhana dan bersahaja, ikhlas, tekun beribadah, dan tidak memiliki ambisi apa-apa.
Kepemimpinan Kiai Baidhawi merupakan hal yang baru di Tebuireng, di mana seorang menantu dapat menduduki posisi pimpinan pesantren di saat putra-putri Kiai Hasyim Asy’ari masih ada. Masa kepemimpinan Kiai Baidhawi berlangsung satu tahun, dari tahun 1951 sampai 1952 M.

Kelalahiran
Kiai Baidhawi lahir di Banyumas, Jawa tengah, pada tahun 1898 M. Ayahnya, Kiai Asro, merupakan kiai yang sangat terkenal di Banyumas. Salah seorang cucu Kiai Asro adalah KH. Saifuddin Zuhri, mantan Menteri Agama Republik Indonesia periode 1961-1967 yang juga mertua Gus Solah.

Pendidikan
Kiai Baidhawi memulai pendidikannya di HIS Banyumas, setelah itu dilanjutkan ke Pesantren Jala’an dan Pesantren Nglirep (keduanya di Kebumen), serta beberapa pesantren lain di Jawa Tengah. (kami kesulitan melacak data pesantren-pesantren di Jawa Tengah yang pernah “disinggahi” Kiai Baidhawi.) Setelah tamat, sang guru merekomendasikannya untuk melanjutkan studi ke Pesantren Tebuireng Jombang, yang saat itu diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari.
Selama nyantri di berbagai pesantren, Kiai Baidhawi terkenal sangat raj in belajar, baik mempelajari kitab yang telah dikaji ataupun yang belum. Ketekunan itu ditopang oleh kecerdasannya yang luar biasa. Dia selalu menarik simpati sang kiai, di manapun berada, tak terkecuali Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim sering menunjuk Kiai Baidhawi sebagai pengganti bila sedang berhalangan. Bahkan tidak jarang dalam masalah- masalah tertentu, Kiai Hasyim bermusyawarah dan meminta pertimbangan kepadanya.
Sebagai bentuk penghargaan kepada murid istimewanya itu, Kiai Hasyim memberangkatkannya ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu. Setelah itu, Kiai Baidhawi melanjutkan studinya ke al-Azhar Kairo, perguruan Islam tertua di dunia.

Berkeluarga
KH. Ahmad Baidhawi Asro.Sekembalinya dari Mesir, Kiai Baidhawi mengabdikan diri di Tebuireng dengan membantu Hadratus Syeikb mengajar. Tak lama kemudian, Hadratus Syeikh menjodohkannya dengan putri ketiganya, Aisyah. Dari pernikahan ini Kiai Baidhawi dikaruniai 6 putra-putri. Yaitu Muhammad, Ahmad Hamid, Mahmud, Ruqayyah (istri KH. Yusuf Masyhar MQ), Mahmad, dan Kholid.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Setelah dikaruniai anak yang ke-6, Nyai Aisyah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kesedihan melanda keluarga besar Kiai Baidhawi.
Atas restu keluarga, Kiai Baidhawi kemudian menikah lagi dengan Nyai Bani’, adik Kiai Mahfudz Anwar (Seblak). Dari perkawinan ini Kiai Baidhawi dikaruniai seorang putri bernama Muniroh.
Kemudian Kiai Baidhawi menikah lagi dengan keponakan Kiai Mahfudz Anwar bernama Nadhifah. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 5 putra-putri. Yaitu Muthohar, Hafsoh, Munawar, Munawir, dan Fatimah.
Pendidik Sejati
Kiai Baidhawi menjadi pengasuh Tebuireng setelah Kiai Karim memintanya untuk menggantikan kedudukannya. Salah satu peran penting Kiai Baidhawi di Tebuireng adalah pengenalan sistem klasikal (madrasah). Sebagaimana diketahui, sejak awal berdirinya, Tebuireng menggunakan sistem pengajian sorogan dan bandongan. Namun sejak tahun 1919, Kiai Baidhawi bersama Kiai Maksum mulai memperkenalkan sistem klasikal, meskipun materi pelajarannya masih terbatas pada kitab-kitab klasik (penambahan materi umum baru dilakukan oleh Kiai Wahid Hasyim sejak tahun 1935).
Dikisahkan, pada suatu hari di tahun 1919, Kiai Baidhawi sedang mengajar santri dengan papan tulis. Tangan kanannya memegang kapur dan menulis huruf-huruf Arab, dan tangan kirinya juga memegang kapur dengan menulis huruf-huruf latin (pada masa itu jarang sekali santri yang bisa menulis latin). Melihat hal ini, Kiai Hasyim Asy’ari tertarik dan mengatakan, “Tidaklah mungkin seseorang dapat melakukan sesuatu tanpa belajar terlebih dahulu.” Sejak saat itulah di Tebuireng diperbolehkan mengadakan sistem madrasah, yang kemudian diberi nama Madrasah Salafiyah Syafiiyah, dengan jenjang mulai sifir awal hingga qism as-sadis (kelas enam).
Sebagaimana telah disinggung di muka, selama masa pengabdiannya di Tebuireng, Kiai Baidhawi tidak pernah aktif dalam dunia politik praktis. Satu-satunya jabatan yang pernah dipegangnya adalah anggota Dewan Syuriah PBNU.
Selama masa kepemimpinannya, Kiai Baidhawi tidak melakukan perubahan sistem maupun kurikulum di Tebuireng. Beliau meneruskan dan memelihara sistem yang sudah ada.
Ketika kepengasuhan Tebuireng diteruskan oleh KH. Abdul Kholik Hasyim, Kiai Baidhawi tetap tekun mengajar di Tebuireng. Beliau terus membantu kepemimpinan adik iparnya itu. Kiai Baidhawi juga tetap aktif mengajar di Madrasah Salafiyyah Syafi’iyyah Tebuireng. Tak jarang, bila ada waktu longgar, beliau memantau para santri ke kamar-kamar.

Kepergian Sang Pendidik
Jumat sore di tahun 1955, cuaca di langit Tebuireng terasa sejuk. Kiai Baidhawi, yang pada siang harinya menjadi imam salat jumat dan ikut mendoakan korban bencana di Aceh, pada sore harinya mengalami demam tinggi. Demam itu terus dirasakan hingga malam hari.
Pada pertengahan malam, para santri dikejutkan oleh berita bahwa KH. Baidhawi telah berpulang ke rahmatullah. Inna liLlahi wa Inna ilahi Raji’un.
Jenazah KH. Baidhowi dikebumikan di area pemakaman keluarga di tengah-tengah Pesantren Tebuireng. Pada batu nisannya tertulis angka 8. Pesantren Tebuireng benar-benar merasa kehilangan, karena sejak saat itu Tebuireng hanya memiliki beberapa kiai yang termasuk pengajar kitab tingkat tinggi. Yaitu KH. Idris Kamali, KH. Adlan Ali, KH. Karim Hasyim, dan KH. Abd Mannan. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 82-86

KH. Ahmad Baidhawi Asro pengasuh Tebuireng Periode Keempat

KH. Ahmad Baidhawi AsroKH. Ahmad Baidhawi Asro pengasuh Tebuireng Periode Keempat (1951 – 1952)
KH. Ahmad Baidhawi Asro merupakan pengasuh Tebuireng yang sangat konsens pada pendidikan dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik. Beliau benar-benar menekuni dunia pendidikan dan sedikitpun tidak terlibat urusan politik. Seorang figur pendidik yang sederhana dan bersahaja, ikhlas, tekun beribadah, dan tidak memiliki ambisi apa-apa.
Kepemimpinan Kiai Baidhawi merupakan hal yang baru di Tebuireng, di mana seorang menantu dapat menduduki posisi pimpinan pesantren di saat putra-putri Kiai Hasyim Asy’ari masih ada. Masa kepemimpinan Kiai Baidhawi berlangsung satu tahun, dari tahun 1951 sampai 1952 M.

Kelalahiran
Kiai Baidhawi lahir di Banyumas, Jawa tengah, pada tahun 1898 M. Ayahnya, Kiai Asro, merupakan kiai yang sangat terkenal di Banyumas. Salah seorang cucu Kiai Asro adalah KH. Saifuddin Zuhri, mantan Menteri Agama Republik Indonesia periode 1961-1967 yang juga mertua Gus Solah.

Pendidikan
Kiai Baidhawi memulai pendidikannya di HIS Banyumas, setelah itu dilanjutkan ke Pesantren Jala’an dan Pesantren Nglirep (keduanya di Kebumen), serta beberapa pesantren lain di Jawa Tengah. (kami kesulitan melacak data pesantren-pesantren di Jawa Tengah yang pernah “disinggahi” Kiai Baidhawi.) Setelah tamat, sang guru merekomendasikannya untuk melanjutkan studi ke Pesantren Tebuireng Jombang, yang saat itu diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari.
Selama nyantri di berbagai pesantren, Kiai Baidhawi terkenal sangat raj in belajar, baik mempelajari kitab yang telah dikaji ataupun yang belum. Ketekunan itu ditopang oleh kecerdasannya yang luar biasa. Dia selalu menarik simpati sang kiai, di manapun berada, tak terkecuali Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim sering menunjuk Kiai Baidhawi sebagai pengganti bila sedang berhalangan. Bahkan tidak jarang dalam masalah- masalah tertentu, Kiai Hasyim bermusyawarah dan meminta pertimbangan kepadanya.
Sebagai bentuk penghargaan kepada murid istimewanya itu, Kiai Hasyim memberangkatkannya ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu. Setelah itu, Kiai Baidhawi melanjutkan studinya ke al-Azhar Kairo, perguruan Islam tertua di dunia.

Berkeluarga
KH. Ahmad Baidhawi Asro.Sekembalinya dari Mesir, Kiai Baidhawi mengabdikan diri di Tebuireng dengan membantu Hadratus Syeikb mengajar. Tak lama kemudian, Hadratus Syeikh menjodohkannya dengan putri ketiganya, Aisyah. Dari pernikahan ini Kiai Baidhawi dikaruniai 6 putra-putri. Yaitu Muhammad, Ahmad Hamid, Mahmud, Ruqayyah (istri KH. Yusuf Masyhar MQ), Mahmad, dan Kholid.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Setelah dikaruniai anak yang ke-6, Nyai Aisyah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kesedihan melanda keluarga besar Kiai Baidhawi.
Atas restu keluarga, Kiai Baidhawi kemudian menikah lagi dengan Nyai Bani’, adik Kiai Mahfudz Anwar (Seblak). Dari perkawinan ini Kiai Baidhawi dikaruniai seorang putri bernama Muniroh.
Kemudian Kiai Baidhawi menikah lagi dengan keponakan Kiai Mahfudz Anwar bernama Nadhifah. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai 5 putra-putri. Yaitu Muthohar, Hafsoh, Munawar, Munawir, dan Fatimah.
Pendidik Sejati
Kiai Baidhawi menjadi pengasuh Tebuireng setelah Kiai Karim memintanya untuk menggantikan kedudukannya. Salah satu peran penting Kiai Baidhawi di Tebuireng adalah pengenalan sistem klasikal (madrasah). Sebagaimana diketahui, sejak awal berdirinya, Tebuireng menggunakan sistem pengajian sorogan dan bandongan. Namun sejak tahun 1919, Kiai Baidhawi bersama Kiai Maksum mulai memperkenalkan sistem klasikal, meskipun materi pelajarannya masih terbatas pada kitab-kitab klasik (penambahan materi umum baru dilakukan oleh Kiai Wahid Hasyim sejak tahun 1935).
Dikisahkan, pada suatu hari di tahun 1919, Kiai Baidhawi sedang mengajar santri dengan papan tulis. Tangan kanannya memegang kapur dan menulis huruf-huruf Arab, dan tangan kirinya juga memegang kapur dengan menulis huruf-huruf latin (pada masa itu jarang sekali santri yang bisa menulis latin). Melihat hal ini, Kiai Hasyim Asy’ari tertarik dan mengatakan, “Tidaklah mungkin seseorang dapat melakukan sesuatu tanpa belajar terlebih dahulu.” Sejak saat itulah di Tebuireng diperbolehkan mengadakan sistem madrasah, yang kemudian diberi nama Madrasah Salafiyah Syafiiyah, dengan jenjang mulai sifir awal hingga qism as-sadis (kelas enam).
Sebagaimana telah disinggung di muka, selama masa pengabdiannya di Tebuireng, Kiai Baidhawi tidak pernah aktif dalam dunia politik praktis. Satu-satunya jabatan yang pernah dipegangnya adalah anggota Dewan Syuriah PBNU.
Selama masa kepemimpinannya, Kiai Baidhawi tidak melakukan perubahan sistem maupun kurikulum di Tebuireng. Beliau meneruskan dan memelihara sistem yang sudah ada.
Ketika kepengasuhan Tebuireng diteruskan oleh KH. Abdul Kholik Hasyim, Kiai Baidhawi tetap tekun mengajar di Tebuireng. Beliau terus membantu kepemimpinan adik iparnya itu. Kiai Baidhawi juga tetap aktif mengajar di Madrasah Salafiyyah Syafi’iyyah Tebuireng. Tak jarang, bila ada waktu longgar, beliau memantau para santri ke kamar-kamar.

Kepergian Sang Pendidik
Jumat sore di tahun 1955, cuaca di langit Tebuireng terasa sejuk. Kiai Baidhawi, yang pada siang harinya menjadi imam salat jumat dan ikut mendoakan korban bencana di Aceh, pada sore harinya mengalami demam tinggi. Demam itu terus dirasakan hingga malam hari.
Pada pertengahan malam, para santri dikejutkan oleh berita bahwa KH. Baidhawi telah berpulang ke rahmatullah. Inna liLlahi wa Inna ilahi Raji’un.
Jenazah KH. Baidhowi dikebumikan di area pemakaman keluarga di tengah-tengah Pesantren Tebuireng. Pada batu nisannya tertulis angka 8. Pesantren Tebuireng benar-benar merasa kehilangan, karena sejak saat itu Tebuireng hanya memiliki beberapa kiai yang termasuk pengajar kitab tingkat tinggi. Yaitu KH. Idris Kamali, KH. Adlan Ali, KH. Karim Hasyim, dan KH. Abd Mannan. ()

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Mubarok Yasin, A. dan Fathurrahman Karyadi. Profil Pesantren Tebuireng. Cetakan 1. Jombang, Pustaka Tebuireng: 2011. halama 82-86

Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Kabupaten Gresik

Silsilah Maulana Malik Ibrahim

“Menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya, silsilah Maulana Malik Ibrahim sampai kepada Zainal Abidin bin Sayyidina Husein bin Sayyidina Ali bin Abi Tluilib. Dengan demikian maka Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan Rasulullah saw, karena Ali bin Abi Thalib ra. adalah suami dari Sayyidatina Fathimah, puteri Rasulullah saw. yang kemudian menurunkan Sayyidina Husein itu.Adapun lengkapnya silsilah itu ialah sebagai berikut:

  1. Ali bin Abi Thalib ra memperisteri Fathimahtus Zahra.
  2. Berputera Sayyid Husein.
  3. Berputera Saryid Ali Zainal Abidin.
  4. Berputera Sayyid Muhammad Baqir.
  5. Berputera Sayyid Ja far Ash Shadiq.
  6. Berputera Sayyid Sayyid Muhammad Ali A1 Uraidi.
  7. Berputera Syeikh Isa Al Bashri.
  8. Berputera Syeikh Ahmad Al Muhajir.
  9. Berputera Syeikh Ubaidillah.
  10. Berputera Syeikh Muhamaad Shohib Marbaat.
  11. Berputera Syeikh Alwi
  12. Berputera Syeikh Abdul Malik. (Beliau dilahirkan di kota Ghasam dekat kota Tariem di daerah Hadramaut, lalu hijrah berdakvvah ke India dan di sana mendapat gelar Ahmad Khan).
  13. Berputera Syeikh Maulana Abdul Khan (Beliau ini lahir di India Karena ayahnya, yakni Syeikh Abdul Malik memperisterikan seorang puteri salah satu keluarga Raja, maka Maulana Abdullah Khan ini mendapat gelar Al Adjhmara (Amir Khan).
  14. Berputera Syeikh Maulana Ahmad alias Imam Ahmad Syah Jalul (Beliau menjadi muballigh yang masyhur yang daerah atau medan dakwahnya meliputi wilayah yang luas di seluruh jazirah India. Beliau akhirnya wafat di Pakistan sekarang ini).
  15. Berputera Syeikh Jamaluddin Akbar Al Husein. (Beliau inilah yang pertama kali berlayar ke Kamboja untuk menyiarkan Agama Islam, menikah dengan puteri Raja Kamboja).
  16. Berputera Syeikh Barebat Zainul Alam atau Syeikh Ali Nurul Alam atau Syeikh Jamaluddin Kubra. (Saudara kandungnya Syeikh Barebat Zainul Alam ada yang bernama Syeikh Ibrahim Al Ghozi alias Ibrahim Asmara yang kemudian menurunkan salah seorang Wali Songo bernama Raden Rahmat atau Sunan Ampel).
  17. Berputera Maulana Malik Ibrahim alias Maulana Maghribi, wali pertama dari Wali Songo di tanah Jawa.

Syeikh Jamaluddin Akbar Al Husein bersama puteranya, Syeikh Barebat Zainul Alam alias Jaaaluddin Kubra hijrah berdakwah menyiarkan Islam ke Kamboja dan berdomisili di Campa. Tetapi akhirnya Syeikh Jamaluddin Akbar Al Husein, nenek Maulana Malik Ibrahim, berlayar dan berdakwah ke Sulawesi dan meninggal di tanah Bugis daerah kerajaan Wajo, Sulawesi Selatan”.

Metode Dakwah Maulana Malik Ibrahim
“Sesampainya di desa Sembalo, dekat Leran, Maulana Malik Ibrahim mulai hidup di tengah-tengah masyarakat Jawa dan menyimak situasi medan dakwahnya. Setelah ber’nasil menyimpulkan langkah apa yang tepat untuk dilaksanakan di dalam menyiarkan Islam, maka beberapa metode dakwah pun dipraktekkan, antara lain adalah:

Berjualan keperluan hidup masyarakat sehari-hari
Berjualan dan berdagang bukanlah metode, tetapi sarana untuk melaksanakan metode yang paling tepat dengan berjualan yakni mengakrabi masyarakat. Masyarakat harus didekati dan diakrabi, hingga Maulana Malik Ibrahim mengenal mereka. Mulai nama orang, keluarganya, situasi sosial ekonomi dan kondisi kehidupannya, hobi dan wataknya serta sifat-sifatnya, bahkan hal-hal yang agak pribadi pun diketahuinya.

Hal itu memang penting untuk usaha menyentuh hati dan pemikiran mereka dari pintu yang mana bisa dimasuki unsur dakwah Islam. Maka Maulana Malik Ibrahim baru menolong atau membantu seseorang, meiigajak dan membimbing, menasehati maupun mengingatkan seseorang, melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar ataupun mengajak berdialog sampai berdebat sekalipun, adalah setelah mengetahui betul-betul kondisi seseorang.

Karena itulah beliau membuka warung di desa Romo, dan juga di desa Sembalo, yang menyediakan barang-barang yang diperlukan masyarakat sehari-hari. Dengan ini beliau bisa secara langsung berhubungan dengan rakyat di segala lapisan. Dari usaha ini beliau semakin terkenal sebagai orang yang ramah, baik hati, dan baik budi, jujur dan dapat dipercara, suka menolong sesama manusia, dan sifat- sifat mulia lainnya yang memikat hati masyarakat.

Pedagang yang jujur memang menjadi pujian orang, dan apalagi bila harganya lumayan relatif murah, tentulah banyak pelanggannya. Karena berdagang dengan tujuan dakwah dan menyiarkan Agama Is­lam, tidak semata-mata mencari keuntungan saja, maka nama Maulana Malik Ibrahim cepat terkenal di kalangan luas, terutama masyarakat kecil. Anggapan atau opini masyarakat terhadap beliau inilah yang membantu cepatnya keberhasilan dakwah Islam, karena masyarakat lalu tertarik kepada agama yang beliau bawa itu.”

Menjadi Tabib
“Apalagi beliau juga pandai mengobati berbagai macam penyakit, hal ini semakin mengharumkan nama beliau. kebanyakan orang-orang yang sakit berobat atau minta obat kepada beliau, menjadi sembuh. Orang yang sembuh dari penyakit karena diobati oleh Maulana Malik Ibrahim, menjadi tersebar beritanya ke seluruh kampung. Berita itu cepat tersiardari mulut ke mulut menyebabkan beliau menjadi orang terkenal di seantero daerah Leran Gresik dan sekitarnya (Sejarah dan dakwah Islamiyah Sunan Giri, Lembaga Research Pesantren Luhur Islam, 1973, hlm. 37).

Apalagi di dalam mengobati orang sakit itu beliau mendahuluinya dengan bacaan basmallah dan dengan doa-doa yang bisa didengar oleh orang yang menyaksikannya. Hal ini menjadikan Islam semakin terkenal di tengah-tengah masyarakat yang masih memeluk kepercayaan agama Siwa dan Kejawen.

Juga di dalam mengobati orang sakit itu pada prinsipnya beliau tidak memungut bayaran. Maka orang Jawa menganggap beliau sebagai “DewaPenolong” yang diharapkan bisa menyelamatkan banyak nyawa. Hal ini menyebabkan beliau terkenal dan sebagai tokoh kharismatik yang dihormati dan disegani masyarakat. Tak ada orang yang dendam dan curiga terhadap kehadiran beliau, sehingga beliau sebagai sosok yang menjadi tumpuan banyak harapan”.

Merakyat
Bukan dinamakan seorang ulama dan mubaligh, siapa yang tidak pandai menyelami hati masyarakat yang menjadi obyek dakwahnya. Demikian pula Maulana Malik Ibrahim, dengan menetapnya di desa Leran itu ia kemudian hidup di tengah-tengah masyarakat ramai atau rakyat jelata.

Iapun membuat sebuah warung. Dengan caranya berjualan itu ia dapat langsung berhubungan dengan rakyat kecil. Sehari-harian ia langsung dekat dengan masyarakat sehingga masyarakat mengerti bagaimana kebaikan akhlak serta contoh-contoh kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam yang dicerminkan oleh pribadi Maulana Malik Ibrahim sehari-hari.

Ia rajin mempelajari bahasa rakyat atau bahasa daerah sehingga dalam waktu yang tidak lama telah mahir dan dapat menguasai bahasa rakyat

Setelah bahasa daerah dikuasainya, maka Maulana Malik Ibrahim mengajarkan agama Islam kepada penduduk setempat. Ajakannya mendapat sambutan positif dan hangat dari penduduk yang kebanyakan merupakan rakyat jelata. Makin lama semakin banyaklah pemeluk agama Islam di Leran dan sekitarnya.

Berkat taktik dan sikap yang dijalankan oleh Maulana Malik Ibrahim itu Agama Islam dapat menarik perhatian rakyat. karena Maulana Malik Ibrahim memang pandai membawakan diri, pandai menyesuaikan diri, bersikap merakyat dan bijaksana.

Ia tidak tinggi diri dan bersikap “konfrontasi” terhadap falsafah atau pandangan hidup masyarakat, tetapi ia bersikap tidak membuka “front” perbedaan pendapat antara Islam dengan falsafah Hindu-Siwa. Ia bersikap “hati-hati” dan “tut wuri handayani” (mengikuti dari belakang sambil mempengaruhi) kepada masyarakat. Taktik ini rupa-rupanya berhasil, karena bila ia bersikap tajam dan dengan spontan menentang falsafah dan pandangan hidup rakyat yang Hindu-Siwa itu, tentunya mereka lari dari dakwahnya Maulana Malik Ibrahim saat itu.

Dengan keramah-tamahannya kepada masyarakat dan sikap “rendah dirinya” itu rakyat berbondong-bondong masuk Islam. Memang demikianlah taktik yang dijalankan Maulana Malik Ibrahim, dengan memikat rakyat jelata terlebih dahulu, kemudian untuk meminta pengakuan kepada baginda raja. Untunglah kalau nanti pihak atasan mau memeluk Agama Islam. Kalau toh tidak mau, Maulana Malik Ibrahim telah berhasil mendapatkan pengikut”.

Ajaran Kasta Hindu menguntungkan dakwahnya Maulana Malik Ibrahim
Di dalam dakwahnya kepada rakyat jelata, Maulana Malik Ibrahim menjelaskan kepada mereka bahwa menurut ajaran Islam tidak ada perbedaan kelas. Orang yang paling mulia di sisi Allah ialah mereka yang taqwa dan berbuat kebaikan. Maka tidak ada perbedaan antara yang kaya dan yang miskin, antara orang berpangkat dengan rakyat kecil, antara bangsawan dengan rakyat jelata.

Ajaran Islam itu ternyata menarik perhatian masyarakat, karena kebanyakan penduduk Leran dan sekitarnya adalah kaum tani dan nelayan, yang menurut pandangan kaum Hindu adalah tergolong kaum waisya dan sudra, termasuk kelas rendahan dan bahkan kaum yang hina.

Perlu diketahui bahwa bentuk masyarakat menurut Brahma, artinya, pembagian masyarakat menurut Hindu, dibagi menjadi empat golongan atau kasta, yakni:

  1. Kasta Brahmana, adalah kastanya kaum Brahmana, yang terdiri dari kaum pemuka agama, yang kewajibannya hanyalah belajar dan mengajarkan agama kepada manusia. Merekaterdiri dari kaum pendeta, guru, kadi, dan berhak menjadi Perdana menteri dalam pemerintahan.
  2. Kasta Kesatria, yang terdiri dari golongan prajurit dan para pahlawan. Tugas-tugas kasta Kestria adalah belajar, menyungguhkan kurban-kurban, membiayai keperluan-keperluan umum, dan memanggul senjata membela kepentingan negara.
  3. Kasta Waisya, yakni terdiri dari golongan petani dan pedagang Tugas mereka adalah bercocok tanam, berniaga, membelanjai perguruan-perguruan umum dan agama.
  4. Kasta Sudra, adalah golongan yang paling bawah, terdiri dari para pekerja dan kaum buruh. Tugasnya kaum Sudra hanyalah satu. yakni berkhidmat atau mengabdi kepada ketiga golongan di atas.

Kasta Waisya dan Sudra tidak dapat menikmati hak-hak azasi manusia karena dipandang rendah. Terutama kasta Sudra, di India masih menyedihkan nasibnya. Pada bulan Oktober 1981 di India timbul berita mengejutkan dengan masuknya hampir puluhan ribu orang dari kasta Sudra ke dalam Agama Islam, karena di dalam Hindu mereka dianggap hina.

Demikianlah dakwahnya Maulana Malik Ibrahim mendapat sambutan rakyat kecil atau rakyat jelata karena ajaran Islam membela kepentingan mereka. Di dalam Islam mereka menemukan kepribadiannya. Di dalam Islam mereka merasa “sebagai manusia” lagi, sebagai manusia sewajarnya yang mempunyai hak-hak yang sama dengan manusia lain. Mereka menjadi sederajat dengan siapa saja. Dengan demikian maka Islamlah yang mengangkat derajat mereka sama seperti manusia lain.

Tentu saja banyak di antara para bangsawan dan yang merasa sebagai golongan Brahmana dan Kesatria tidak tahan menerima perlakuan murid-murid Maulana Malik Ibrahim itu. Maka banyak di antara mereka yang meninggalkan desa Leran dan sekitarnya, pergi menyingkirkan diri menuju tempat-tempat yang masih inenganggap mereka sebagai “orang atas”

Membangun Masjid dan Pesantren Pertama di Jawa
“Setelah para pengikut Islam semakin banyak, maka Maulana Malik Ibrahim mendirikan sebuah masjid untuk berjamaah dan mengaji. memperdalam Agama Islam.

Tidak ada keterangan bahwa masjid yang dibangun Maulana Malik Ibrahim itu merupakan masjid yang pertama di tanah Jawa, karena mungkin sebelumnya para Tionghoa peranakan atau Tionghoa Islam di sepanjang pesisir utara Jawa telah membuat masjid.

Kecuali membuat sebuah masjid, berhubung minat orang-orang Islam untuk menuntut ilmu-ilmu agama semakin keras, dan karena juga banyak pemeluk Islam yang datang dari luar desa Leran dengan maksud mencari ilmu atau memperdalam agama Islam, maka Maulana Malik Ibrahim pun mendirikan pesantren Islam.

Itulah pesantren Islam pertama yang didirikan di Jawa. Dari pesantren inilahkemudianditelorkan banyak mubaligh yang akhirnya mereka menyiarkan agama Islam ke berbagai daerah.

Penduduk desa Leran dan para santri tentunya membutuhkan air untuk keperluan pengairan dan keperluan lainnya. Berhubung desa tersebut sering kekurangan air untuk itu, maka atas inisiatif Mulana Malik Ibrahim, dibuatlah sebuah saluran air yang mendapat aliran dari desa atau tempat lain. Aliran air itu dinamakan “pensucian” yang menjadikan desa Leran dan sekitarnya ramai karena menjadi pusat dakwah Islam dengan ulamanya yang terkenal serta dicintai rakyat, yakni Maulana Malik Ibrahim.

Hingga sekarang tempat air itu masih ada, yakni di desa yang namanya juga Desa Pesucian. Tempat air tersebut berada di depan sebuah masjid kuna yang diperkirakan dibuat pada tahun 1311 Saka atau tahun 1389 Masehi. Tempat air tersebut berupa telaga untuk mengambil air wudhu bagi orang yang akan sholat berjamaah di masjid tersebut.”

Ingin Mengislamkan Raja Majapahit
“Setelah beberapa tahun bermukim di Leran dan sekitarnya, Maulana Malik Ibrahim dapat mengetahui agak mendalam tentang masyarakat setempat, baik tentang adat istiadat maupun sosial budayanya. Mayarakat yang termasuk di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit, adalah sebagaimana kehidupan yang dirasuki perasaan kepatuhan dan ketundukan bersifat feodalistis di mana pun, masyarakat Jawa merupakan cermin yang mewakilinya.

Apalagi sebuah hadits Nabi Muhammad saw. menyebutkan bahwa rakyat itu mengikuti agama yang dipeluk rajanya, hal ini tambah meyakinkan tekad Maulana Malik Ibrahim yang menyimpan cita-cita betapa cepatnya Islam ini tersebar dan dipeluk oleh masyarakat Jawa seandainya raja Majapahit berkenan memeluk Agama Islam.

Keinginan itu pun disampaikan lewat surat kepada sultan Kedah, Sultan Mahmud Syah Alam, agar sang Sultan berkenan datang ke tanah Jawa dan bersilaturahmi kepada raja Majapahit, sekaligus mengajak raja Majapahit untuk memeluk Agama Islam.

Surat Maulana Malik Ibrahim itu disambut baik oleh Sultan Mahmud Syah Alam, dan beliau memang betul-betul datang ke Gresik beserta seorang puterinya yang berparas cantik. Oleh Maulana Malik Ibrahim sang puteri tersebut diupayakan agar dapat dipersunting oleh raja Majapahit. Tetapi sayang, upaya Maulana Malik Ibrahim untuk menawarkan sang puteri ini ditolak oleh raja Majapahit, sehingga harapan untuk mengislamkan raja Majapahit tersebut tidak berhasil”.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Machi Suhadi. Makam-makam Wali Sanga di Jawa. (Jakarta): Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. hlm. 115-122. (dikutip dari kitab Riwayat Maulana Malik Ibrahim oleh Umar Hasyim, “Menara Kudus” 1981, hlm. 10-11)

Sunan Ampel, Surabaya

Riwayat Hidup Sunan Ampel

“Sunan Ampel atau raden Rahmatullah adalah puteraSyeh Ibrahim Samarqandi atau sering disebut Ibrahim Asmara. Menilik namanya tentulah Ibrahim Samarqandi itu berasal dari negeri Samarkand. Syeh Ibrahim Asmara ini mula-mula berdakwah di negeri Campa (Cempa) yaitu di sebuah daerah kerajaan yang sekarang termasuk wilayah di Muangthai. Hingga sekarang wilayah Muangthai Selatan penduduknya masih beragama Islam dan taat menjalankan agamanya.

Atas keberhasilan Ibrahim Asmara dalam menyebarkan agama Islam ke negeri Campa, maka raja Campa kemudian mengambilnya sebagai menantu, dijodohkan dengan putri Campa yang bernama Dewi Candrawulan. Dari perkawinannya itu beliau dikaruniai dua orang putra, yaitu:

  1. Raden Santri (Sayyid Ali Murtolo)
  2. Raden Rahmatullah (Sunan Ampel).

Cara dakwah Sunan Ampel

Adapun adik Dewi Candrawulan yang bernama Putri Dwarawati diperistri oleh Prabu Kertabumi Brawijaya V. Dengan demikian Raden Rahmatullah adalah keponakan Ratu Dwarawati pemaisuri raja Majapahit. Pada masa itu suasana kerajaan Majapahit agak kacau balau. Banyak perampokan, pencurian, perjudian, pelacuran dan tindak kejahatan lainnya. Sang Prabu Brawijaya telah memerintahkan para pendeta Brahmana agar lebih banyak memberi penerangan kepada masyarakat agar tidak melakukan tindak kejahatan dan pelanggaran susila, namun kebiasaan rakyat Majapahit itu seolah-olah telah mendarah daging. Bahkan beberapa orang pangeran kerajaan ikut-ikutan meramaikan perjudian dan perbuatan asusila.

Prabu Brawijaya menjadi masgul dan pusing memikirkan keadaan itu. Suatu hari Ratu Dwarawati mengajak suaminya bermusyawarah. ‘”Kangmas Prabu…”, kata Ratu Dwarawati dengan suara lembut. ‘Bila rakyat dan para pembesar dibiarkan berlarut-larut dalam perjudian dan tindak kejahatan lainnya lama-lama kerajaan Majapahit akan menjadi hancur, “lalu harus bagaimana lagi,” sahut Prabu Brawijaya. Mereka tidak lagi menghormati dan mentaati ajaran para Brahmana. Sepertinya sudah tidak ada lagi orang yang mereka segani, ‘Saya mempunyai keponakan yang pandai mendidik masyarakat’, kata Ratu Dwarawati. ‘Namanya Raden Ali Rahmatullah. Wajahnya tampan, budi pekertinya sangat baik dan mulia. Saya yakin, keponakan saya itu akan menjadi panutan bila Kakangmas Prabu berkenan mendatangkannya ke istana Majapahit ini’. Baik, tidak ada salahnya mendatangkan keponakanmu itu , kata Prabu Brawijaya.

Demikianlah Raden Rahmatullah kemudian didatangkan ke istana Majapahit. Kedatangan Pangeran dari negeri Campa itu disambut dengan meriah oleh seluruh pembesar kerajaan Majapahit.Para bupati dari seluruh wilayah Majapahit turut diundang untuk menyambut si tamu agung. Prabu Brawijaya sangat terpesona atas kehalusan dan kebaikan budi pekerti yang diperlihatkan Raden Ali Rahmatullah. Pangeran dari negeri Campa itu bersedia bergaul dengan siapa saja dengan sikap yang ramah. Di samping sikapnya yang lemah lembut, wajahnya pun tampan dan menyenangkan setiap orang yang melihatnya. Untuk mengikat Raden Ali Rahmatullah agar betah dan krasan tinggal di Majapahit, maka Prabu Brawijaya mengumpulkan seluruh putrid istana, bahkan para putri bupati pun didatangkan ke istana Majapahit untuk dipilih sebagai isteri Raden Ali Rahmatullah.

Al-Kisah di antara sekian banyak wanita cantik, Raden Ali Rahmatullah berkenan memilih Nyai Ageng Manila sebagai istrinya. Raden Rahmat kemudian diberi tanah beserta bangunannya di daerah Ampeldenta sebagai pusat Padepokan. Para bangsawan, para pangeran dan para bupati diperintahkan berguru ilmu budi pekerti di Padepokan Ampeldenta. Karena kedudukannya selaku Mahaguru di Padepokan Ampeldenta maka Raden Rahmatullah kemudian disebut Kanjeng Sunan Ampel. Sunan Ampel memperkenalkan budi pekerti mulia sebagai ajaran pendahuluan sebelum pada akhirnya beliau memperkenalkan pencipta ajaran budi pe­kerti yang mulia tersebut yaitu Allah, Tuhan Pencipta Alam. Beliau menanamkan disiplin, dan watak kejujuran kepada setiap murid-muridnya.

Para pejabat kerajaan dianjurkan setia kepada sumpahnya selaku pengabdi negara dan rakyat. Para pedagang dianjurkan berlaku jujur dan menghindari kecurangan. Di antara ajaran beliau yang sangat terkenal ialah Moh Limo. Moh limo artinya tidak mau terhadap lima hal, yaitu:

(1)   Moh Main                   (tidak mau berjudi)

(2)   Moh Ngombe             (tidak mau minum yang memabokkan)

(3)   Moh Maling                                (tidak mau mencuri atau korupsi)

(4)   Moh Madat                 (tidak mau merokok candu atau ganja)

(5)   Moh Madon                               (tidak mau berzinah atau melacur).

Mula-mula ada saja yang membantah ajaran beliau. Di antara mereka ada yang berkata, “Kanjeng Sunan…. mengapa kita dilarang berjudi? Bukankah dengan berjudi kita bisa mendapatkan uang secara cepat tanpa bersusah payah?’. Yang lain juga berkata, ‘Dengan minum . arak kita dapat menghangatkan badan. Terutama bila sedang musim dingin, orang kedinginan bisa menimbulkan kematian. Lagi pula dengan memabokkan diri atau menghisap candu kita dapat melupakan sejenak beban derita yang kita sandang’.

Sunan Ampel hanya tersenyum mendengar pertanyaan nakal itu. Dengan arif beliau berkata, ‘pada waktu berjudi apakah Andika rela berada di pihak yang kalah?’,  ‘Tentu saja tidak mau Kanjeng Sunan….”

Ya, tentu saja tidak ada orang yang mau dirugikan’, sambung Sunan Ampel. ‘Bahkan orang yang kalah dalam perjudian hatinya akan menjadi panas, penuh dendam. Sementara itu untuk -menebus kekalahannya dia tidak segan-segan mempergunakan harta di rumah untuk dipergunakan main judi lagi. Bila harta di rumah sudah habis maka dia tidak segan-segan mencuri harta tetangganya atau bahkan menggelapkan uang negara. Inilah sebabnya perjudian harus dilarang .

‘Demikian pula halnya dengan minum arak atau mabok’, lanjut Sunan Ampel. ‘Orang yang suka mabok akalnya menjadi lemah, tak dapat membedakan lagi mana yang baik dan yang buruk. Waktu mabok dia dapat saja mengeluarkan kata-kata kotor tidak senonoh, membocorkan rahasia teman atau bahkan membocorkan rahasia negara. Inilah bahayanya orang yang suka mabok’

Menurut Sunan Ampel orang yang suka mabok badannya menjadi rusak, lebih-lebih mereka yang suka madat atau menghisap candu. Hidupnya hanya dipergunakan untuk berkhayal dan menjadi pemalas sehingga hanya menjadi beban orang lain saja. Orang mencuri jelas merugikan dirinya sendiri dan lebih-lebih lagi merugikan orang lain. Merugikan diri sendiri karena orang tersebut menjadi terbiasa hidup bergelimang dosa, dimana hidupnya menjadi tidak tenang, selalu dipertanyakan oleh hati nuraninya yang tak mau berdusta. Belum lagi rasa cemas akibat perbuatannya itu bahwa setiap saat dia selalu merasa dicurigai orang.

Maling tidak selalu bernasib baik, bahkan banyak mereka yang tertangkap dan dihajar beramai-ramai oleh penduduk setempat. Baik maling kecil atau maling besar, baik maling secara terang-terangan atau maling gelap-gelapan sama-sama merugikan orang, lebih-lebih maling negara rakyatlah yang akan menjadi korbannya. Madon atau berzinah atau melacur itu sangat merugikan para pelaku dan masyarakat di sekitarnya. Para pezina kebanyakan dihinggapi penyakit kotor.

Ajaran budi pekerti mulia ini ternyata menarik banyak minat masyarakat Majapahit. Bukan hanya para bangsawan dan keluarga keraton saja yang datang berguru kepada Sunan Ampel, banyak pula rakyat jelata yang rela menjadi murid beliau. Sejak adanya Sunan Ampel di Surabaya Prabu Brawijaya merasa tenteram. Banyak para keluarga keratin dan pejabat kerajaan yang insyaf, tidak lagi mengerjakan pekerjaan tercela. Sang Prabu pun sering memberikan bantuan materi untuk kelangsungan pendidikan di Ampeldenta. Ketika pada akhirnya Sunan Ampel mengumumkan bahwa ajaran budi pekertinya ada­lah ajaran agama Islam, sang Prabu tidak menjadi marah. Beliau menganggap Islam adalah ajaran budi pekerti yang tiada salahnya dianut oleh rakyat Majapahit.

Demikianlah cara-cara Sunan Ampel mulai menyebarkan agama Islam, bukan dengan cara menyebarkan slogan-slogan, maupun pidato- pidato saja melainkan dengan tingkah laku dan perbuatan nyata yang menjadi teladan dan panutan masyarakat. Dan hal itu langsung beliau sendiri yang memulainya. Bila beliau melarang orang berjudi maka beliau pun tidak pernah melakukan atau datang ke tempat perjudian. Bila beliau menganjurkan untuk menolong fakir miskin, maka beliaulah yang paling dahulu memberikan pertolongan kepada fakir miskin.

Tidak lama kemudian perguruan Ampeldenta ramai dikunjungi orang. Murid-murid Padepokan atau Pesantren Ampeldenta berdatangan dari segala pelosok negeri. Bahkan ada yang datang dari negeri Iran yaitu Ali Saksar. Ketika beliau hendak mendirikan masjid, maka tidak ada kesukaran dalam mencari dana, baik dana yang berasal dari masyarakat maupun dari pemerintah Majapahit. Pemerintah Majapahit menganggap Sunan Ampel sebagai salah seorang yang sangat berjasa bagi pembangunan mental masyarakat dan penduduk Majapahit”.

Murid-Murid Sunan Ampel

“Di antara sekian banyak murid-murid Sunan Ampel yang ter­kenal ialah :

(1)               Sunan Giri atau Raden Paku Maulana Ainul Yakin. Beliau ternyata mengikuti jejak gurunya, beliau menjadi seorang wali di antara sekian banyak waliullah di Tanah Jawa. Bahkan dalam Walisanga beliau pernah menjadi mufti atau pemimpin agama se Tanah Jawa, menggantikan kedudukan Sunan Ampel yang telah wafat. Di samping itu beliau adalah seorang Guru Besar dari Pesantren Giri, Gresik. Murid-muridnya tersebar di seluruh Nusantara.

(2)            Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim. Di samping murid Sunan Ampel beliau adalah putra Sunan Ampel sendiri yang terlahir dari Nyai Ageng Manila. Sunan Bonang ini berdak­wah di daerah Tuban. Makamnya terletak di sebelah barat alun-alun dan Masjid Agung Tuban.

(3)            Raden Syarifuddin atau lebih dikenal dengan nama Sunan Drajad; beliau berdakwah di daerah Sedayu dan sekitarnya.

(4)            Raden Umar Said yang lebih dikenal dengan nama Sunan Muria.

(5)            Raden Syahid atau Sunan Kalijaga.

(6)            Jafar Sodiq atau Sunan Kudus.

(7)            Fatahillah dan Syarif Hidayatullah.

(8)            Raden Fattah atau Raden Patah pendiri kerajaan Demak.

(9)            Batara Katong.

(10)        Ali Saksardari Iran.

(11)        Mbah Shanhaji dan Mbah Sholeh.

Itulah murid-murid Sunan Ampel di antara sekian banyak muridnya.” (Rahimsyah  1994: 26-27).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Wali Sanga,  M.B.Rahimsyah, Karya Anda, Surabaya, 1994, hlm. 13-27.

Riwayat Syekh Maulana Ibrahim Asmoroqondi

Mihrab Masjid  Ibrahim A. QondiSyekh Ibrahim Asmoroqondi atau Syekh Ibrahim as-Samarqandi yang dikenal sebagai ayahanda Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel), makamnya terletak di Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban. Syekh Ibrahim Asmoroqondi diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh kedua abad ke-14. Babad Tanah Jawi menyebut namanya dengan sebutan Makdum Ibrahim Asmoro atau Maulana Ibrahim Asmoro. Sebutan itu mengikuti pengucapan lidah Jawa dalam melafalkan as-Samarqandi, yang kemudian berubah menjadi Asmoroqondi. Menurut Babad Cerbon, Syekh Ibrahim Asmoroqondi adalah putera Syekh Karnen dan berasal dari negeri Tulen. Jika sumber data Babad Cerbon ini otentik, berarti Syekh Ibrahim as-Samarqandi bukan penduduk asli Samarkand, melainkan seorang migran yang orang tuanya pindah ke Samarkand, karena negeri Tulen yang dimaksud menunjuk pada nama wilayah Tyulen, kepulauan kecil yang terletak di tepi timur Laut Kaspia yang masuk wilayah Kazakhstan, tepatnya dia arah barat Laut Samarkand.

Dalam sejumlah kajian historiografi Jawa, tokoh Syekh Ibrahim Asmoroqondi acapkali disamakan dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim sehingga menimbulkan kerumitan dalam menelaah kisah hidup dan asal-usul beserta silsilah keluarganya, yang sering berujung pada penafian keberadaan Syekh Ibrahim Asmoroqondi sebagai tokoh sejarah. Padahal, situs makam dan gapura serta mihrab masjid yang berada dalam lindungan dinas purbakala menunjuk lokasi dan era yang beda dengan situs makam Maulana Malik Ibrahim.

Menurut Babad Ngampeldenta, Syekh Ibrahim Asmoroqondi yang dikenal dengan sebutan Syekh Molana adalah penyebar Islam di negeri Champa, tepatnya di Gunung Sukasari.Syekh Ibrahim Asmoroqondi dikisahkan berhasil mengislamkan Raja Champa dan diambil menantu.Dari isteri puteri Raja Champa tersebut, Syekh Ibrahim Asmoroqondi memiliki putera bernama Raden Rahmat. Di dalam Babad Risakipun Majapahit dan Serat Walisana Babadipun Parawali, Syekh Ibrahim Asmoroqondi dikisahkan datang ke Champa untuk berdakwah dan berhasil mengislamkan raja serta menikahi puteri raja tersebut. Syekh Ibrahim Asmoroqondi juga dikisahkan merupakan ayah dari Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Di dalam naskah Nagarakretabhumi, Syekh Ibrahim Asmoroqondi disebut dengan nama Molana Ibrahim Akbar yang bergelar Syekh Jatiswara. Seperti dalam sumber historiografi lain, dalam naskah Nagarakretabhumi, tokoh Molana Ibrahim Akbar disebut sebagai ayah dari Ali Musada (Ali Murtadho) dan Ali Rahmatullah, dua bersaudara yang kelak dikenal dengan sebutan Raja Pandhita dan Sunan Ampel.

Babad Tanah Jawi, Babad Risakipun Majapahit, dan Babad Cerbon menuturkan bahwa sewaktu Ibrahim Asmoro datang ke Champa, Raja Champa belum memeluk Islam. Ibrahim Asmoro tinggal di Gunung Sukasari dan menyebarkan agama Islam kepada penduduk Champa.Raja Champa murka dan memerintahkan untuk membunuh Ibrahim Asmoro beserta semua orang yang sudah memeluk agama Islam. Namun, usaha raja itu gagal, karena ia keburu meninggal sebelum berhasil menumpas Ibrahim Asmoro dan orang-orang Champa yang memeluk agama Islam. Bahkan, Ibrahim Asmoro kemudian menikahi Dewi Candrawulan, puteri Raja Champa tersebut. Dari pernikahan itulah lahir Ali Murtolo (Ali Murtadho) dan Ali Rahmatullah yang kelak menjadi Raja Pandhita dan Sunan Ampel Babad Tanah Jawi, Babad Risakipun Majapahit, dan Babad Cerbon menuturkan bahwa sewaktu Ibrahim Asmoro datang ke Champa, Raja Champa belum memeluk Islam. Ibrahim Asmoro tinggal di Gunung Sukasari dan menyebarkan agama Islam kepada penduduk Champa.Raja Champa murka dan memerintahkan untuk membunuh Ibrahim Asmara beserta semua orang yang sudah memeluk agama Islam. Namun, usaha raja itu gagal, karena ia keburu meninggal sebelum berhasil menumpas Ibrahim Asmoro dan orang-orang Champa yang memeluk agama Islam. Bahkan, Ibrahim Asmoro kemudian menikahi Dewi Candrawulan, puteri Raja Champa tersebut.Dari pernikahan itulah lahir Ali Murtolo (Ali Murtadho) dan Ali Rahmatullah yang kelak menjadi Raja Pandhita dan Sunan Ampel.

Menurut urutan kronologi waktu, Syekh Ibrahim Asmoroqondi diperkirakan datang ke Jawa pada sekitar tahun 1362 Saka/1440 Masehi, bersama dua orang putera dan seorang kemenakannya serta sejumlah kerabat, dengan tujuan menghadap Raja Majapahit yang menikahi adik istrinya, yaitu Dewi Darawati. Sebelum ke Jawa, rombongan Syekh Ibrahim Asmoroqondi singgah dulu ke Palembang untuk memperkenalkan agama Islam kepada Adipati Palembang, Arya Damar.Setelah berhasil mengislamkan Adipati

Palembang, Arya Damar (yang namanya diganti menjadi Ario Abdullah) dan keluarganya.Syekh Ibrahim Asmoroqondi beserta putera dan kemenakannya melanjutkan perjalanan ke Pulau Jawa. Rombongan mendarat di sebelah timur bandar Tuban, yang disebut Gesik (sekarang Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban).

Pendaratan Syekh Ibrahim Asmoroqondi di Gesik dewasa itu dapat dipahami sebagai suatu sikap kehati-hatian seorang penyebar dakwah Islam. Mengingat Bandar Tuban saat itu adalah bandar pelabuhan utama Majapahit.Itu sebabnya Syekh Ibrahim Asmoroqondi beserta rombongan tinggal agak jauh di sebelah timur pelabuhan Tuban, yaitu di Gesik untuk berdakwah menyebarkan kebenaran Islam kepada penduduk sekitar. Sebuah kitab tulisan tangan yang dikenal di kalangan pesantren dengan namaUsui Nem Bis, yaitu sejilid kitab berisi enam kitab dengan enam bismillahirrahmanirrahim, ditulis atas nama Syekh Ibrahim Asmoroqondi. Itu berarti, sambil berdakwah menyiarkan agama Islam, Syekh Ibrahim Asmoroqondi juga menyusun sebuah kitab.

Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, Syekh Ibrahim Asmoroqondi dikisahkan tidak lama berdakwah di Gesik. Sebelum tujuannya ke ibukota Majapahit terwujud, Syekh Ibrahim Asmoroqondi dikabarkan meninggal dunia. Beliau dimakamkan di Gesik tak jauh dari pantai. Karena dianggap penyebar Islam pertama di Gesik dan juga ayah dari tokoh Sunan Ampel, makam Syekh Ibrahim Asmoroqondi dikeramatkan masyarakat dan dikenal dengan sebutan makam Sunan Gagesik atau Sunan Gesik. Dikisahkan bahwa sepeninggal Syekh Ibrahim Asmoroqondi, putera-puteranya Ali Murtadho dan Ali Rahmatullah beserta kemenakannya, Raden Burereh (Abu Hurairah) beserta beberapa kerabat asal Champa lainnya, melanjutkan perjalanan ke ibukota Majapahit untuk menemui bibi mereka Dewi Darawati yang menikah dengan Raja Majapahit. Perjalanan ke ibukota Majapahit dilakukan dengan mengikuti jalan darat dari Pelabuhan Tuban ke Kutaraja Majapahit.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TUBAN BUMI WALI: The spirit of harmoni, Tuban: Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, 2013, hlm.183 – 191