Pantai Gua Cina, Kabupaten Malang

Malang memang terkenal dengan pariwisatanya yang lengkap, mulai dari gunung, tebing, air terjun, hingga berbagai jenis pantai jika dikuiijungi satu-satu tidak akan habis dalam sehari. Salah satu pantai di selatan Malangyang masili sedikit diketaliui wisatawan adalah Pantai Gua Cilia.

Pantai Gua Cina0001BANYAK sebutari imtuk Pantai Gua Cina ini. Ada yang memberi julukan perawan yang sedang mekar di Ma- lang, atau eksotisme Malang Selatan, dan entah sebutan apa lagi. Namun yang jelas Pantai Gua Cina yang terle tak di Desa Sitiarjo, Kecamatan Sum- bermanjing Wetan, Kabupaten Malang Selatan, ini masih belum begitu ramai karena jarang orang mengetahuinya.
Pantai Gua Cina0005Kesan pertama kali yang muncul adalah Pantai Gua Cina ini sungguh alami dengan warna laut yang jernih dan bersih, dibalut pasir putih yang lembut. Pantai ini memang menawarkan keaslian, pasirnya yang lembut dan putih sehingga membuat pantai ini indah dan asri. Ditambah lagi pemandangan sekeliling yang memesona, berpadu dengan air pantai yang bening dan dingin. Deburan ombaknya yang mengalun terdengar begitu merdu.
Pantai Gua Cina0002Konon, nama pantai ini diawali seki- tar tahun 1930, ketika seorang pengembara Tionghoa dari Surabaya bernama Hing Hook, terdampar di sebuah pan¬tai tersembunyi di Malang Selatan itu, Hati sang pengembara bersedih karena kemiskinan yang terns menderanya. Ia kemudian menyendiri di sebuah gua yang berada di salah satu pulau kecil yang ad a di sana. Dia sendirian, tak ada yang menemani akhirnya maut menjemputnya. Ia meninggal dalam kesepian di gua itu. Jasadnya ditemu- kan beberapa hari kemudian dan dimakamkan penduduk di tempat lain. Sejak saat itu, pantai terkenal dengan nama Pantai Gua Cina.
Bila ingin menuju Pantai Gua Cina dari Malang, arahkan kendaraan menuju Gadang, Turen. Jangan khawatir, karena banyak papan petunjuk sepanjang perjalanan. Sekitar 1,5 km sebelum pantai Sendang Biru, akan bertemu pertigaan. Selanjutnya belok kanan mengarah ke Pantai Bajul Mati. Setelah 5 km, di sebelah kiri jalan ada papan penunjuk Pantai Gua Cina. Lalu belok kiri dan melalui jalan makadam kira-kira 800 meter sampai akhirnya ada loket tiket masuk Pantai Gua Cina.
Pantai Gua Cina0006Selama perjalanan, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang menawan, Hamparan sawah serta pe~ gunungan kapur yang hijau seolah memanjakan mata. Kini, Pantai Gua Cina yang dikelola Perhutani ini mulai banyak dikenal para pelancong. Setiap akhir pekan pantai ini mulai dipenuhi pengunjung. Mereka berasal dari Sura¬baya, Sidoarjo, Malang, bahkan tidak sedikit turis mancanegara.
Tak salah bila muncul tren baru, Pantai Gua Cina kini sebagai jujugan utama pengunjung. Pantai Gua Cina0004Tren ini muncul mungkin karena orang sudah jenuh dengan pantai-pantai di sekitarnya yang sudah dikenal lebih dulu sehing¬ga butuh suasana baru. Maka, Pantai Gua Cina menjadi pilihartnya.Byan

Pantai Gua Cina0003Bila ingin menuju Panta Gua Cina dari Malang, arahkan kendaraan menuju Gadang, Turen. Jangan khawatir, karena banyak papan petunjuk sepanjang perjalanan. Sekitar 1,5 km sebelum pantai Sendang Biru, akan bertemu pertigaan. Selanjutnya belok kanan mengarah kle Pantai Bajul Mati. Setelah 5 km, di sebelah kiri jalan ada papan penunjuk Pantai Gua Cina. Lalu belok kiri dan melalui jalan macadam kira-kira 800 meter sampai akhirnya ada loket masuk Pantai Gua Cina.

————————————————————————————————————————-

 dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : majalah SAREKDA Jawa Timuran/edisi; 020/2014/halaman 42-43

Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep

Pulau Gili Iyang0001

KEINDAHAN alam Jawa Timur sudah cukup terkenal ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Gunung Bromo, Kawah Gunung Ijen, pasir pantai-pantainya yang putih, hingga berbagai air terjun yang tersebar di berbagai dae- rah. Obyek wisata yang belum terlalu kondang, namun layak diperhitungkan adalah Pulau Gili Iyang.
Pulau ini terletak di sebelah timur Kabupaten Sumenep, Madura. Pulau ini memiliki udara dengan kadar oksigen cukup tinggi, mencapai 21%. Angka ini tertinggi setelah sebuah danau di Yordania yang dikenal sebagai Laut Mati. Selain itu Pulau Gili Iyang juga memiliki pantai dengan pasir putih dengan kelembutan menawan.
Keberadaan Pulau Gili Iyang sebenarnya sudah diketa- hui masyarakat Sumenep. Yang belum banyak diketahui adalah keistimewaannya. Bahkan warga dua desa, Desa Banra’as dan Desa Bancamara yang tinggal di pulau itu juga baru belakangan tahu jika pulau yang mereka tinggali memiliki keistimewaan luar biasa.
Pulau Gili Iyang0002Untuk mengunjungi pulau ini, memang butuh “perjuangan” Gambarannya begini: dari Surabaya menuju Sumenep ditempuh perjalanan darat dengan waktu antara 3,5 – 4 jam. Namun bagi mereka yang berduit, bisa “terbang” dengan pesawat kecil menuju Bandara Trunojoyo Sumenep. Sekadar diketahui, sejak Juli 2014, bandara ini sudah resmi dioperasikan untuk penerbangan komer- sil. iVlaskapai yang melayani PT Trigana Air.
Selanjutnya untuk menuju Pulau Gili Iyang harus menyeberang menggunakan perahu yang biasa digunakan para nelayan dari pelabuhan kecil bernama Pelabuhan Dungkek. Untuk sekali penyeberangan yang memakan waktu sekitar 40 menit, biayanya Rp 10.000 per orang. Se- tiap perahu hanya berlayar satu kali perjalanan. Artinya, dari Sumenep jadwal menyeberang sekitar pukul 07.00 dan untuk kembali lagi ke Sumenep penumpang harus sudah siap di dermaga perahu-perahu nelayan berlabuh sekitar pukul 14.00 dengan perahu berbeda. Namun jika berombongan, bisa menyewa satu perahu seharga Rp 500.000 untuk pulang pergi.
Pulau Gili Iyang0003Sejak dalam perjalanan laut menuju pulau seluas ham- pir 9 kilometer persegi itu, pengunjung sudah bisa melihat jelas keindahan pulau. Pengunjung juga bisa menikmati pemandangan para nelayan yang tengah menebar jala dan menjaring ikan sebagai mata pencarian sebagian besar penduduk Gili Iyang yang berjumlah sekitar 394 jiwa. Semakin mendekat ke pulau, kian jelas deretan perahu khas Madura yang bersandar di bibir pantai.
Begitu perahu penumpang sandar di dermaga kecil Desa Banra’as, terasa sekali menghirup udara begitu ri- ngan. Ditambah hempasan angin sepoi yang membelai
halus rambut dan kulit. Suasana ini sangat berbeda dibanding ketika bernapas di wilayah perkotaan yang terasa cukup berat. Bahkan udara perkotaan seperti Surabaya terkadang membuat sesak napas, Kadar oksigen dalam udara perkotaan rata-rata berkisar antara 16-17 % saja, sementara di Gili Iyang bisa mencapai 21%.
Ketika tim liputan Majalah Potensi berjalan menyusuri jalan setapak pedesaan, terasa langkah kaki begitu ringan. Berjalan sepanjang 2-3 km pun seakan tanpa beban, kondisi udara yang cukup bagus itu tak membuat napas tersengal-sengal, meski berjalan jauh.
Pantauan Satelit
Pulau Gili Iyang0004Carik Desa Banraas, Mutawajih, menuturkan, keistimewaan udara di pulau ini diketahui tahun 2006 lalu. Saat itu, peneliti di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mendapati dari pantauan satelit bahwa kandungan oksigen di pulau tersebut cukup tinggi. Akhirnya LAPAN melakukan penelitian selama tiga bulan di tempat itu dengan menebar delapan alat pengukur kandungan oksigen di udara.
Selama tiga bulan, penelitian dilakukan terus menerus, sampai akhirnya LAPAN benar-benar mendapati bahwa kandungan udara di Gili Iyang cukup tinggi. Bahkan sekali waktu, ketinggian kandungan oksigen di tempat itu mengalahkan Laut Mati di Yordania.
Penelitian itu diperkuat lagi dengan temuan Balai Besar Tekhnik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jawa Timur.
Temuan tim juga mengejutkan, mengingat peneliti mengambil sampel glukosa secara acak di dua desa, yakni Desa Ban. Hasilnya, berdasarkan sunvey sementara, kadar oksigen di pulau itu mencapai 21,5 persen. Hal itu tak jauh berbeda dengan hasil survey Badan Lingkungan Hidup (BLH) jatim 2011 silam.
Munculnya kandungan oksigen yang cukup tinggi itu karena pengaruh perputaran udara dari laut sekitar pulau itu. “Kawasan Pulau Gili Iyang itu masih belum banyak pencemaran udara, kawasannya masih alami dan bersih,” katanya.
Masih menurut Mutawajih, kualitas udara di desanya itu sudah terbukti dan dirasakan masyarakat setempat. Salah satu bukti adalah kualitas kesehatan masyarakatnya yang jarang terserang penyakit. Usia warga juga relatif lebih panjang.
Di Gili Iyang, kebanyakan yang lebih dulu meninggal laki-laki. Sebab mayoritas mereka itu perokok, sedangkan yang perempuan tidak. “Di sini perempuan usianya bahkan bisa sampai 100 tahun lebih,” katanya.
Ya, berdasar pengamatan, di pulau ini memang terlihat banyak perempuan yang usianya sudah sangat lanjut. Namun yang mengherankan, kondisi mereka cukup sehat untuk beraktivitas, seperti bercocok ta nam hingga mencari rumput untuk ternak. Sedangkan kaum laki-laki, terutama yang masih muda dan kuat, lebih memilih bekerja sebagai nelayan.
Satu hal menyenangkan mengunjungi pulau ini adalah masyarakatnya yang ramah menyambut ke- datangan tamu. Warga dengan suka rela bukan saja menyambut, namun juga baramai-ramai mengantar menuju lokasi-lokasi yang menjadi pendukung wisata di Pulau Gili Iyang, seperti Gua Mahakarya yang baru saja ditemukan warga dan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Sumenep.
Rumah Tinggal
Pulau Gili Iyang0005Diceritakan oleh Akhya, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Gili Iyang, konon Gili Iyang merupakan pulau tempat diasingkannya salah seorang selir raja Sumenep. Sebab itulah dalam sejarah raja-raja Sumenep cerita tentang selir dan pulau ini tidak pernah ada, karena selir dianggap sesuatu yang tidak baik bagi lingkungan kerajaan. Waktu itu pulau ini dikenal dengan sebutan Pulau Aulia. Konon kemudian ada seorang raden yang mengetahui dan tergila-gila pada selir yang tinggal di pulau ini. Akhirnya mereka pun hidup bersama dan menetap.
Menurut Akhya, karena begitu tergila-gilanya sang raden dengan putri dari pulau Aulia itulah sehingga pulau ini disebut dengan pulau Gili Iyang. Kini jalanan di pulau itu dinamakan Jalan Potre.
Akhya bertutur, saat ini warga Gili Iyang sudah mulai menyadari akan potensi wisata di kawasannya. Warga pun sudah mulai membuat buah karya atau kerajinan yang bisa dijadikan oleh-oleh. Antara lain, berbagai ikan yang diasinkan, mainan khas warga, hingga souvenir gelang, kalung dan kaos bertulis Pu¬lau Gili Iyang.
Setiap bulan, dipastikan selalu ada wisatawan yang berkunjung, antara 5-10 orang, Bahkan, kata Akhya, wisatawan beretnis china dari Jakarta berkunjung dengan tujuan agar kondisi kesehatannya semakin membaik. Pemkab Sumenep kini berminat mengembangkan. Rencana lokasi ini akan dijadikan wisata kesehatan dengan dibangun beberapa rumah tinggal agar ada swadaya dari warga setempat. (sti) •*•
majalah POTENSI, Edisi 44 / Agustus 2014, halaman 42-45