Museum Huruf (Font Museum): Jember Punya Destinasi Wisata Literasi dan Sejarah Baru

Penulis:  Prita Hw
-September 5, 2017

Museum Huruf lahir atas dasar persamaan mimpi, kegelisahan, keinginan, dan asa ingin memberikan setitik sumbangsih. Juga kebanggaan bagi tempat dimana kami lahir dan tumbuh. Kami sebagai pemuda Jember mencoba untuk memberikan ruang media dialektika bagi generasi penerus bangsa dalam bentuk museum… – Ade Sidiq Permana

Sepenggal pembuka yang terkesan heroik dan menyimpan semangat luar biasa itu bisa dibaca pada lembar undangan pembukaan (grand opening) Museum Huruf (Font Museum) yang terintegrasi dengan Perpustakaan yang dibuka untuk publik. Pembukaan itu diadakan tepat sehari sebelum malam takbir Idul Adha 1438 H bergema, yaitu pada Rabu, 30 Agustus 2017.

Museum Huruf dan perpustakaan ini sendiri berada tepat di kawasan Semanggi, Jl. Bengawan Solo 27 Jember. Tak hanya museum dan perpustakaan saja, di tempat ini juga terdapat cafe, studio tattoo, souvenir shop Buncis Room, juga homebase sebuah creative advertising bernama MIxmedia yang dimotori oleh Erik, yang juga si empunya tempat.

Lengkaplah sudah tempat ini menjadi ruang publik yang bisa dikunjungi kapan saja. Jika arek lokal ingin menikmati suasana yang nyaman senyaman di rumah sendiri dengan teras yang asri, tempat ini bisa menjadi pilihan.

Terlebih, Museum Huruf dan Perpustakaannya bisa jadi rujukan baru untuk tempat mengenal sejarah bermulanya aksara yang saat ini diakumulasi dan dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi bahasa lisan dan bahasa tulis untuk pengentar percakapan kita sehari-hari. Meski ukurannya tidak bisa dikatakan besar, sebuah ruang display utama yang kira-kira berukuran 3 x 5 cm itu cukup padat memuat berbagai koleksi museum.

Berbagai koleksi Museum Huruf yang bisa dinikmati itu terdiri dari koleksi pra aksara, koleksi aksara tertua di Indonesia, koleksi aksara nusantara (Jawa, Bugis, dan lain-lain), koleksi braille, dan koleksi aksara dunia (Jepang, Korea, India, dan lain-lain).

Koleksi-koleksi yang sebagian besar dibuat sendiri serta mendapatkan donasi itu nantinya tidak akan stagnan loh arek lokal, tapi akan terus berkembang. Bahkan, publik juga bisa mendonasikan aksara yang dimilikinya dalam bentuk media cetak, atau yang lainnya.

“Museum ini telah resmi terdaftar di Asosiasi Museum Daerah Jawa Timur dan Direktori Museum Seluruh Indonesia. Kami juga sudah mengirimkan perwakilan untuk pertemuan nasional di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Teman-teman relawan juga dilatih untuk memiliki kemampuan guiding dengan baik.”, begitu ungkap Ade Sidiq Permana, inisiator gagasan pendirian museum yang sekaligus bertindak sebagai Direktur Museum.

Ade meyakini bahwa hidupnya selalu bertalian dengan museum. Laki-laki yang sehari-harinya juga berjibaku dengan permuseuman di Probolinggo ini merasa belum memberikan sesuatu yang berarti untuk kota asalnya sendiri, Jember tercinta. Karena itu, ia berharap, ada museum dan perpustakaan ini menjadi ikon baru sekaligus semangat untuk melestarikan budaya literasi, khususnya aksara, serta membuka wawasan mengenai sejarah, dan perkembangan aksara dan budaya.

Niat tulusnya itu didukung penuh oleh Erik, sahabat sekaligus pemilik tempat yang merasa memiliki visi sama dengan Ade. Meski baginya bukan soal Jembernya yang utama, tapi soal memberikan suatu alternatif ruang publik yang bisa dimaksimalkan untuk kegiatan positif secara komunal.

Ke depan, Museum Huruf dan Perpustakaan ini akan diusahakan untuk dinaungi dalam suatu yayasan yang direncanakan bernama Institut Museum dan Cagar Budaya Nusantara yang sedang dirintis badan hukumnya. Maka dari itu, malam itu juga dibuka public fundraising bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi. Juga akan dikembangkan museum shop yang juga akan menjadi sumber pemasukan lainnya.

Malam itu hadir pula perwakilan Bupati Hj. Faida (Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Jember), Ibu Desak (Kepala Museum dan Perpustakaan Tembakau Kabupaten Jember), juga  Bapak Haryanto (Direktur Kopi Kahyangan PDP Kabupaten Jember). Semua mengatakan rasa bangga dan kesiapannya untuk bersinergi bersama untuk mendukung keberadaan Museum Huruf dan Perpustakaan ini.

Pun dengan berbagai komunitas kreatif Jember yang juga menambah semarak malam pembukaan yang dilanjutkan dengan tur keliling museum dan dipandu relawan guide. Berbagai komunitas kreatif seperti Kampoeng Batja, Berbagi Happy, Blogger Jember Sueger, Youtuber Jember, Genbi, Komunitas Perupa Jember, Pena Hitam, dan sebagainya menyambut Museum Huruf dan Perpustakaan ini dengan semangat.

Buat arek lokal yang belum sempat berkunjung di malam pembukaan, tenang saja. Masih ada beberapa agenda menarik dalam waktu dekat yang bisa dipilih. Setelah sukses dengan workshopcetak saring dan sosialisasi program Museum Huruf dan Perpustakaan pada 2 September kemarin, pada 8 September pukul 19.00 juga akan ada launching koleksi aksara Sunda dan Seminar Sejarah Aksara Sunda. Dilanjutkan pada 9 Septembernya di waktu yang sama, akan diadakan apresiasi seni dan workshop penulisan aksara Sunda.

Jangan sampai ketinggalan ya rek! Catat juga jam buka dan official account nya :
Jam buka museum : 09.00 – 15.00

Sumber: https://lokalkarya.com/museum-huruf-jember.html

Museum dan Perpustakaan Bank Indonesia

Museum & Perpustakaan BI (2)De Javasche Bank salah satu bank terkemuka pada zaman kolonial Belanda yang didirikan di Batavia, tanggal 24 Januari 1828. Kantor pusatnya di Batavia de Javasche Bank, cabangnya di kota- kota seperti Surabaya, Yogyakarta, Solo, Cirebon, Makasar, Palembang dan Pontianak. Kantor cabang Surabaya dibuka 14Seprtember 1829. Gedungnya di pojok Schoolplein (sekarang Jalan Garuda No.1) dan Werfstraat (sekarang Jalan Penjara).

Pada tanggal 1 Juli 1953 Bank ini berubah menjadi Bank Indonesia dan gedung di Jalan Garuda No.1 masih dipakai sampai tahun 1973, sementara Bank Indonesia Surabaya pindah ke Jalan Pahlawan No.105.

Dari survey arkeologi menunjukkan bangunan itu menerapkan teknologi Belanda, antara lain bagian basement (R. Khazanah) dengan pintu besi besar dan lebar, almari besi kokoh, rak besi besar dan kuat., dinding tebal berlapis beton bertulang, kaca patri sebagai jalan cahaya, kisi-kisi tembok dan atap yang kokoh. Arsitektur ini adalah perpaduan dari bangunan Kolonial, Hindu dan Jawa Centris.

Perpustakaan Bank Indonesia secara resmi dibuka oleh Walikota Surabaya,Tri Rismaharini, dihadiri Wakil Gubernur Jatim, Syaifullah Yusuf, dan Deputi Gubernur Bank Indonesia (Bl), di Gedung Mayangkara, Surabaya, JawaTimur.

Gedung Mayangkara dulunya disebut Woning voor Agent van Javasche Bank merupakan rumah pejabat De Javasche Bank. Pada 1975-2004 gedung itu berfungsi sebagai Museum Mpu Tantular, dan telah ditetapkan oleh pemerintah kota setempat sebagai benda cagar budaya.

Museum & Perpustakaan BIPerpustakaan itu sendiri memiliki koleksi sedikitnya 17.000 buku, 11 ribu judul dimana 65 persen dari buku-buku tersebut adalah buku, jurnal dan referensi tentang ekonomi, moneter dan perbankan. Sisanya, koleksi buku untuk anak-anak, disediakan sarana bebas akses perpustakaan digital (cyber library) yang didukung 20 unit komputer, wi-fi gratis, area membaca yang nyaman dilengkapi sarana perpustakaan anak-anak, ruangan audiovisual dan juga tersedia kafe book.

 

MUSEUM BANK INDONESIA

Jl. Garuda No.1 Surabaya

Telp: +62 (31) 3531829

Fax: +62 (31) 3520025

——————————————————————————————134N70nulusDW

Museum Angkut, Kota Batu

museum angkut0001KOTA BATU SEMAKIN LAYAK MENJADI TUJUAN wisata di Indonesia, karena kota ini memiliki banyak pilihan tempat wisata. Sebut saja, Jatim Park I, Jatim Park II (Secret Zoo), Batu Night Spectacular (BNS), Agrowisata Kusuma. Pada awal 2014 Pemerintah Kota Batu kembali membuka satu wahana wisata yang diberi nama Museum Angkut dan Movie Star Studio. Museum ini merupakan konsep wisata pertama di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Bera di sini pengunjung akan terkagum-kagum saat melihat sejarah angkutan di dalamnya. Museum ini merupakan perpaduan tempat wisata yang sangat unik tentang sejarah dan perkembangan dunia angkutan yang dipadu dengan legenda Movie Stars atau para bintang film di jamannya dengan latar belakang kota-kota dan bangunan eksotis seperti di Batavia, Eropa, Amerika, Pecinan, dan sebagainya. Desainnyapun ditata dengan apik dan detail sehingga membuat para pengunjung seolah-olah berada di dalam wilayah nyata sesuai lokasi atau tema. Konsep ini sudah ada di Amerika, namun untuk wilayah Asia Teng¬gara baru pertama kalinya di Indonesia, khususnya di Kota Batu.
Terletak di lereng G. Panderman, pembangunannya di atas area tanah empat hektare, tersaji 300 lebih jenis koleksi angkutan, baik tradisional maupun modern. Museum ini resmi dibuka, masih soft opening, 9 Maret 2014 lalu. Ide ini dibangun untuk menghargai para pencipta berbagai jenis angkutan di dunia, mengingat perkembangan teknologi angkutan terus berkembang setiap saat. Bahkan dunia angkutan telah membawa perubahan berarti bagi kehidupan umat manusia, utamanya memberikan kemudahan untuk melakukan aktivitas dan perjalanan. Untuk menuju tempat ini bisa ditempuh dengan perjalanan dari Surabaya ditempuh dalam waktu 2-3 jam. Saat libur sekolah pengunjung bisa mencapai 15- 30 ribu orang. Di hari-hari biasa sekitar 5 ribu orang. Di museum ini kita seolah merasakan berkeliling dunia, menelusuri aneka kendaraan tempo dulu dan masa kini dari berbagai negara asal pembuatnya. Yang menarik, tidak seperti kebanyakan museum yang terkesan membosankan, kemasan Museum Angkut ini dengan konsep “Pintu Ajaib”.
museum angkut0002Gedung dan pintu masuk museum dibangun sangat menarik dengan dilengkapi menara Apollo yang bisa dinaiki para pe- ngunjung. Menara ini menyerupai sawat luar angkasa yang menjulang tinggi de¬ngan dihiasi warna merah, sehingga para pengunjung seperti menyaksikan peluncuran pesawat ruang angkasa ke bulan. Di dalam menara, pengunjung bisa me- lihat pemandangan yang ada di sekitarnya, seperti Agro Wisata Kusuma dan Jatim Park, Bahkan para pengunjung bisa melihat pemandangan Kota Batu yang indah. Salah satu koleksi yang bisa membuat pengunjung tertegun adanya helikopter Kepresidenan Pertama milik Indonesia. Doni, Marketing officer, menjelaskan, helikopter bagian dari faktor politik antara presiden pertama RI Ir. Soekarno dengan Pemerintah USA untuk pembebasan agen CIA Allen Pope yang terlibat pemberontakan PRRI Permesta, dan tertembak Mustang P41AURI ketika me- nerbangkan Bomber B26 di Laut Ambon.
museum angkut0003Pada pertengah- an 1960, Presiden AS John F. Kennedy memberi barter berupa 10 unit Hercules C-130 B Short Body, 1 unit Heli Bell- 47J Siwalet, 2 unit Executive Bizjet Jetstar Saptamarga dan Garuda, Mobil VVIP Limousine Chrysler Le Baron. Selain helikopter, juga ditampilkan mobil bekas Presiden RI pertama seri Chrysler Winsor Deluxe produksi 1952. Mobil ini baru saja dibawa dari IstanaBukit Tinggi, sehingga pengunjung bisa membayangkan bapak bangsa ada di atasnya menjelajah nusantara. Hall utama menampilkan miniatur kendaraan-kendaraan dari berbagai negara yang didisplay di balik kaca. Miniatur-miniatur itu diperoleh dari berbagai negara karena di Indonesia sangat sulit untuk memperoleh koleksi miniatur mobil. Di sisi lain, kereta kencana khas Yogyakarta, cikal bakal mobil balap F1 sebagai koleksi di Hall Utama. Masuk museum diawali dari lantai dasar, yang sudah menampakkan aroma alat angkutan mulai kereta kuda hingga mobil balap, beserta patung Michael Schumacer. Pengunjung bisa menyusuri perjalanan ke lantai dua dengan menaiki tangga ataupun lift. Bagi pengunjung yang menggunakan kursi roda atau membawa stroller bayi, tidak perlu khawatir, karena kondisi museum memungkinkan untuk para pengguna kursi roda dan stroller bayi untuk berkeliling dengan leluasa. Di lantai dua, pengunjung bisa menikmati view alam Kota Batu dari ujung Apollo yang menyerupai pesawat ruang angkasa. Untuk bisa masuk diperlukan kesabaran karena harus antri menaiki satu spot tertinggi di museum tersebut. Perjuangan untuk menaiki menara Apollo ini terbayar dengan pemandangan indahnya Kota Batu, dengan pepohonan dan pegunungan yang mengitari kota. Sejuknya Kota Batu saat berada di me¬nara, membuat pengunjung enggan turun dari menara dan bagi penggemar fotografi bisa mengabadikannya dari lokasi.
Salah seorang pengunjung dari Pemalang Jateng mengungkapkan, Museum Angkut merupakan tempat yang tepat menyalurkan hobi fotografinya. arsitekturnya di setiap bangunan dibuat penuh karya seni. Misalkan saja Zona Hollywood yang memamerkan kendaraan- kendaraan serta pernak-pernik khas Holly¬wood seperti Bat Mobile (Kendaraan Batman), atau patung Hulk yang sedang menghancurkan mobil. “Semua tempat di Museum Angkut sangat bagus diambil gambarnya, saya bahkan membawa beberapa model. Walaupun kami harus membayar lebih, rasanya tidak akan rugi,” katanya. Dari Apollo, rute selanjutnya membawa pengunjung menuju ke pameran koleksi kendaraan jaman dulu seperti becak yang dipajang di plafon. Setelah melewati aneka becak, pengunjung memasuki zona edukasi. Di zona ini, pengunjung bisa mendapatkan informasi sejarah angkutan darat, laut, dan udara baik tradisional khas Indonesia maupun di dunia. Para pengunjung bisa menemukan cara baru belajar yang menyenangkan dan interaktif.
Di satu sisi zona edukasi ditempeli papan yang diberikan simbol tanda tanya dan di bawahnya terdapat tombol berwarna merah jika ditekan maka akan mengeluarkan bunyi menyerupai klakson kereta api atau knalpot kendaraan tertentu. Pengunjung bisa menebak bunyi apakah yang dimaksud. Untuk jawabannya, pengunjung bisa melihat di balik simbol tanda tanya.
Tidak hanya tebak suara, pengunjung juga bisa menjawab pertanyaan yang diberi¬kan di monitor touch screen di area yang sama dengan tebak suara. Pertanyaannya sekitar jenis angkutan dan sejarahnya. Setelah puas bermain dengan fasilitas zona edukasi, para pengunjung juga bisa mempelajari jenis-jenis mesin dan cara kerjanya. Ternyata banyak hal tidak diketa- hui masyarakat umum mengenai cara kerja mesin berdasarkan jenisnya. Misalkan saja mesin diesel berbeda dengan mesin berba- han bakar premium Seusai mempelajari jenis-jenis mesin, pengunjung menyusuri jalanan dan dibawa ke sebuah zona yang bernama Batavia dan Pecinan. Di satu sisi khas angkutan dan budaya Batavia, sedangkan sisi lainnya khas angkutan dan budaya Pecinan. Satu tempat dengan perpaduan budaya ini sangat menarik untuk dikunjungi. Bahkan pengunjung merasa senang untuk mengam- bil gambar. Zona ini seperti replika kota tua di Jakarta dan kawasan pecinan. Ada sketsel Pelabuhan Sunda Kelapa, Sta- siun Jakarta Kota di sana. Di tempat ini, pengunjung harus mengantri untuk berfoto di spot-spot unik yang tersedia. Berbagai alat transportasi mulai dari kereta roda yang ditarik sapi, sepeda, hingga mobil tua ada di sana.
Dari zona Batavia dan pecinan, rute selanjutnya mengantar pengunjung menuju pameran koleksi sepeda dari jaman bahela. Bahkan ada roda kendaraan terbesar dan terkecil juga ditampilkan. Setelah melalui itu semua, tibalah pe¬ngunjung ke tempat yang bernama zona Gangster atau Gangster Town. Saatnya beraksi dan siap membawa pengunjung terlibat di dunia gangster, serta broadway street yang menjadi tempat impian para artis tersohor dunia. Di sini banyak pengunjung yang mengambil foto dengan kendaraan- kendaraan yang biasa digunakan para gangster yang ditampilkan di televisi. Sua- sananya agak panas karena memang tidak ada tempat berteduh untuk di zona ini. Di sekitarnya, terdapat toko oleh-oleh yang menjual pernak-pernik seperti baju, gantungan kunci, juga dijual minuman dan makanan ringan. Namun sayang, pernak- perniknya hanya sedikit yang menyantum- kan nama Museum Angkut. Setelah itu pengunjung akan memasuki dimensi benua Eropa atau yang disebut Zona Eropa. Zona ini menggambarkan kota-kota di Eropa seperti Italia dengan ken-daraan vespanya, Perancis, Jerman dengan kendaraan VWnya, dan Inggris. Dalam sketsa-sketsa yang dibuat berdasarkan negara-negara di Eropa, terdapat koleksi kendaraan lengkap dengan spot foto yang mewakili ikon masing-masing negara.
Pencahayaan di Zona Eropa ini cenderung agak gelap, sehingga bagi penikmat fotografi harap memperhatikan setting pencahayaan kamera masing-masing untuk memperoleh hasil yang baik.
Keluar dari Zona Eropa, pengunjung disambut dengan air mancur dan taman- taman indah. Dengan bunga-bunga khas pegunungan, menyimbolkan pengunjung akan memasuki zona Istana Buckingham. Suasanya pun sejuk sekali dengan cipratan air dari air mancur. Replika Istana Buckingham yang memiliki nilai sejarah, kini hadir sebagai salah satu koleksi historical building dengan nuansa yang romantis. Di dalam istana, pengunjung bisa menjumpai mobil-mobil mewah khas kerajaan yang biasa ditumpangi para raja, ratu, ataupun pangeran. Di atas plafon dipasang lampu-lampu Kristal yang kisaran harganya sekitar Rp 10 juta per lampu. Bagi yang lelah mengelilingi museum, para pengunjung bisa duduk di kursi-kursi menyerupai mobil. Lepas dari zona Istana Buckingham, pengunjung akan memasuki zona Las Vegas. Kota Las Vegas yang dihiasi dengan gemerlap dunia malam. Hadir dengan beberapa mobil jenis limousine yang sangat panjang, di dalamnya ada beberapa televisi. Berikutnya pengunjung langsung menuju zona Hollywood. Di zona ini, pengunjung bisa menemukan replika tokoh-tokoh film terkenal Hollywood beserta angkutan fa- voritnya. Ada patung iconic yang ada di zona itu yakni Patung Hulk yang menginjak mobil. Pengunjung ramai sekali untuk mengambil foto dengan berbagai pose di patung hulk ini.
Zona Hollywood merupakan sket terakhir dari seluruh rangkaian di Mu¬seum Angkut. Keluar dari zona tersebut, pengunjung akan digiring untuk memasuki sensasi simulator gerbong kereta api yang dibuat persis bergerak seperti jika kita menaiki kereta api jaman dahulu untuk kemudian berhenti di area food market dan pasar seni, Pasar Apung.
Sebelum memasuki museum, sebaiknya para pengunjung makan dan minum secu- kupnya terlebih dahulu. Sebab di dalam lokasi, kita tidak diijinkan untuk mem- bawa makanan dan minuman dari luar. Sedangkan pos penjualan minuman ber- ada agak jauh di dalam (dekat spot theater). Bagi mereka yang berkunjung sore hari, ada baiknya membawa jaket atau minimal pasmina sebagai penghangat badan. Suhu udara di luar ruangan sangat dingin.
Di museum ini pengunjung juga bisa menikmati berbagai penampilan. Antara lain Welcome to Gangster Town (pukul 14.00-14.30), Super Hero Costume in Hollywood (15.00-15.30), Three Elements Show (pukul 19.45), serta parade (weekend dan holiday season pukul 17.00 WIB) start dari Buckingham Palace – Las Vegas – Broadway – Gangster Town – Sunda Kelapa, dan finish di Hollywood.

Everyday is Holiday
SEBAGAI KOTA WISATA, BATU MEMPUNYAI MOTTO “EVERYDAY IS HOLIDAY”.
Ini karena banyaknya pilihan tujuan wisata di Kota Batu. Semua bisa dinikmati setiap hari. Dibangunnya Museum Angkut (MA) sebagai salah satu alternatif tujuan wisata, menambah lengkap keragaman wisata Kota Batu. Sebagai bentuk diversifikasi wisata, MA lebih menonjolkan wisata transportasi, juga pendidikan. Dari segi pendidikan MA memberikan informasi tentang sejarah kendaraan baik dari dalam dan luar negeri. MA juga dilengkapi wisata kuliner yang menonjolkan masakan khas Kota Batu dan Kota Malang.
“Ke depan saya menyarankan untuk menambahkan hiburan berbentuk kabaret yang bertemakan angkutan,” kata Kepala Bidang Pengembangan Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Adiek Iman Santoso. Animo wisatawan dengan dibukanya MA bertambah 5-10%. Untuk menambah jumlah pengunjung ke MA, Pemkot Batu ikut aktif mempromosikan dengan mengikutsertakan dalam Anugrah Wisata Nusantara (AWN). Sebab MA merupakan obyek wisata kreatif, sehingga promosi itu bertujuan agar MA bisa dikenal masyarakat luas baik regional dan nasional.
Kota Batu juga mengembangkan Desa Wisata. Saat ini ada tiga dari 12 Desa Wisata yang sedang dikembangkan. Tiga desa tersebut yakni Gunungsari, Punten, dan Sumber Rejo. Desa Wisata Gunungsari mengunggulkan wisata petik mawar, karena wilayah itu merupakan pemasok mawar terbesar ke Jakarta. Tahun 2015 direncanakan Pemkot akan menambahkan anggaran Rp. 500 juta untuk pengembangan sarana dan prasarana di Gungungsari. Sedangkan Desa Wisata Punten memiliki potensi wisata petik apel dan flying fox. Sumber Rejo memiliki potensi wisata petik mawar dan kerajian cinderamata seperti keramik. “Kami optimis keberadannya mampu menarik turis mancanegara, karena pemkot membuat program desa wisata untuk mendukung konsep wisata internasional,” jelasnya.
Di setiap kecamatan akan dibuat Rest Area. Di Kec. Bumiaji sudah dilakukan pavingisasi. Tahun 2015 akan ditambahkan fasilitas MCK, map directory wisata , gazebo, dan kios-kios agar masyarakat sekitar bisa berjualan. Di rest area itu akan disediakan bus untuk menuju lokasi wisata yang diinginkan pengunjung. Ia menyadari, dengan topologi area pegunungan, Kota Batu susah menambah jalan. Karenanya dengan dibangunnya rest area, diharapkan akan mengurangi kemacetan yang kerap terjadi di Kota Batu. Pemkot memberi kemudahan perijinan bagi pelaku usaha di Kota Batu, serta memberi pengertian kepada pengusaha hotel agar memberi harga wajar atas harga yang diberlakukan saat weekdays dan weekend. Tiga variabel yang dibuat oleh Pemkot Batu untuk mempertahankan pengunjung yaitu daya saing tinggi, rasa aman dan nyaman, serta mengoptimalkan obyek wisata yang ada. “Wisata-wisata dengan minat khusus juga sedang kami kembangkan, seperti punden-punden, dan festival bantengan/’ tambahnya. Ia berharap, semakin banyak event tahunan provinsi yang dilaksanakan di Batu. Pemkot berupaya menjadikan Batu sebagai tujuan wisata kedua setelah Bali. “Kami akan terns bekerjasama dengan agen-agen travel
‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Buletin PRASETYA Volume 68b Agustus 2014, halaman 42-45

Sebuah Rumah untuk Kenong

Mari kita mulai tulisan ini dengan sebuah kutipan dari esai Goenawan Mohamad yang dipublikasikan 10 Agustus 1985.

Sebuah pameran mempertontonkan diri ke khalayak…Orang banyak, orang ramai itu, harus dibujuk, dicolek, diseru.’

Itulah makna sebuah pameran, mengingatkan banyak orang tentang sesuatu, yang bahkan tak kita sadari. Dengan kata lain, pameran adalah sebuah rumah bagi sesuatu yang bisa terlupakan atau tak diperhatikan.

Dan, di Jember, pameran ‘Benda Cagar Budaya Jember dan Koleksi Museum Mpu Tantular’, 22-24 Juli 2011, di Kantor Pemerintah Kabupaten, menemukan konteksnya yang tepat.

Koleksi benda-benda cagar budaya yang terdata di Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Jember mencapai 466 buah.

Sebagian disimpan di salah satu ruangan di kantor Dinas Pendidikan Jember. Sekitar 30 buah di antaranya dipamerkan Juli silam.

Belum ada survei memang soal ini. Namun di tengah ketidaktertarikan publik terh­adap sejarah, layaklah kita skeptis: akankah publik mengetahui apakah itu batu kenong, jika pameran tersebut tak digelar.

Kita layak ragu, bahwa publik akan tahu, batu kenong memiliki andil penting dalam menjejaki dalam sejarah kota ini, jika sep­erti kata Goenawan, tak dibujuk, dicolek, diseru, dengan sebuah tontonan.

Batu kenong merupakan salah satu jenis batu cagar budaya yang dipamerkan. Batu ini menjadi koleksi terbanyak yang dimiliki Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Kementerian Budaya dan Pariwisata di Jember. Ada 280 batu kenong yang berhasil diinventarisasi di Desa Kamal Kecamatan Arjasa. Batu kenong adalah batu persembahan untuk orang yang su­dah meninggal dan masuk dalam kategori batu prasejarah.

Sejak lama, sudah ada keinginan untuk memberikan rumah sesungguhnya bagi bebatuan dan benda bersejarah itu: muse­um. Ini sebuah rumah permanen, dan bu­kan hanya sekadar pameran. Kepala Kantor Pariwisata Arief Tjahjono membenarkan, jika Jember sudah layak memiliki museum. “Minimal galeri. Ini agar benda-benda ca­gar budaya ini bisa diakses sebagai bahan belajar bagi mahasiswa dan siswa, untuk lebih mengenal akar budayanya sendiri,” katanya.

Bupati Jember sejak tahun 2009 sudah meminta kepada Kantor Pariwisata untuk mencari lokasi museum. Namun, hingga saat ini pembangunan museum belum terealisasi.”Ini karena skala prioritas, masih banyak’yang belum ditangani. Kalau pri­oritas pembangunan lebih penting sudah tertangani, mudah-mudahan atensi Pak Bupati cukup besar Kami berharap semua pihak mendukung,” katanya. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: HALO JEMBER edisi 7 tahun 2011, Purbakala 55

Peduli Batik di Alun-alun, Kabupaten Lumajang

Peduli Batik, Wujudkan Wisata Edukasi

Johan Adisanjaya,SKh : “Setiap Minggu Pagi, Gelar Sekolah Batik Gratis

Ada nuansa beda akhir – akhir ini ketika kita berkeliling Alun-alun Lumajang. Tepatnya di halaman parkir Bola Tenis, depan Pendopo Kabupaten, setiap Minggu pagi berkerumun anak – anak muda dan bahkan orang tua melakukan aksi bersama. Yang jelas, mereka, mereka tidak “berunjuk rasa” tetapi beraksi untuk belajar membatik. Ada puluhan anak dari berbagai daerah meminati kegiatan ini. Dengan gayanya masing-mading mereka memulai dengan mendulangkan

canting, kemudian mulai memoleskan cairan ke dasar kain warna warni. Ada banyak pilihan gambar dan tentu sesuai dengan selera pembatiknya. Menariknya, semua yang dilakukan para pembatik pemula ini dilakukan secara gratis dan diajar langsung oleh instruktur yang profesional dalam bidang batik membatik, Pihak Penyelenggaranya adalah Johan Adi Sanjaya, warga desa Yosowilangun , jebolan UGM Jurusan Kesehatan Hewan.

Bapak dua putra inilah yang menggagas sekolah batik citra di Alun-Alun Lumajang. Bersama para pemerhati dan pelaku bisnis batik, Johan terispirasi untuk menjadikan sekolah batik menjadi tujuan wisata edukasi. Mengapa menggunakaan Alun – Alun sebagai tempat belajar batik, tentu ada alasannya., ” Alun alun ini adalah jantung kota Lumajang, saya  ingin menunjukan masyakat bahwa kita bisa melakukan perubahan untuk mewujudkan Alun Alun ini sebagai tujuan wisata.

Dari pada Alun-alun digunakan tongkrongan anak – anak muda yang berpacaran atau aksi tanpa guna, lebih baik diarahkan untuk kegiatan positif,” begitu alasannya. Untuk menjadikan wisata edukasi ini, memang tidak mudah. Karena untuk kegiatan ini saja tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tetapi ternyata bagi Johan tidak menjadi kendala, ” Saya dapat dukungan banyak teman – teman yang peduli batik dan mereka siap mendukung berdirinya sekolah batik ini.

Karena apa yang saya lakukan bersama teman – teman, ingin menjadikan sebagai media edukasi, apresiasi dan promosi batik Lumajang dalam mewujudkan kedaulatan sandang, budaya dan ekonomi,” tandanya. Batik merupakan produk sandang berbasis budaya yang digerakkan oleh ekonomi kerakyatan, yang menurut Johan harus berdaulat secara sosial sehingga masyarakat lokal menjadi tuan rumah yang dapat mengakses dan mengontrol segenap sumberdayanya secara berdaulat pula untuk meningkatkan kesejahteraan dan martabatnya.

Sedangkan kedaulatan sandang, apa diwujudkan apabila mendapat dukungan para pemangku kepentikan yakni masyarakat, pengrajin, pengusaha, pemerintah, kolompok swadaya masyarakat dll. ” Kehadiran produk batik luar daerah dan impor yang menguasai Lumajang adalah bentuk dominasi dan penjajahan ekonomi dan budaya gaya baru yang mengancam kedaulatan sandang, budaya dan ekonomi,” tambah Johan yang meyakini idealisme ini perlu disikapi masyarakat.

Terkait dengan Sekolah Batik Citra, diawali dengan pengenalan dasar membatik. Kalau mereka sudah punya dasar dan kemampuan, bisa dikembangkan dengan mengolah sendiri, dasar dan gambar batiknya, ” Semua peralatan kami siapkan disini dan mereka bisa juga membeli peralatan ini kalau memang nantinya berminat untuk mengembangkan sendiri,” tukas Johan kemudian.

Johan sendiri, kini juga telah memiliki usaha sendiri dirumahnya. Ada 6 orang karyawannya yang menghasilkan karya batik tulis khas Lumajang,” Kedepan, saya berharap usaha batik bisa merakyat dan tidak dimiliki hanya beberapa pengusaha batik saja, kalau bisa dikembangkan masyarakat saya yakin prospeknya juga sangat baik untuk kesejahteraan Lumajang,” minokacnvn (JP)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Kirana, Edisi 2011, Lumajang, 2011,07  hlm.  38*39 komunitas

Koleksi Gedung induk Museum Erlangga

Pada Gedung induk Museum Erlangga yang berdiri megah ini, dimanfaatkan untuk menata koleksi archeologis. Tata pameran didasarkan atas kelompok jenis benda koleksi, karena langkah tersebut yang paling scderhana dan dapat jangkau. Arca Syiva dan lambangan sebagai M.P. nya

S I V A

Siva merupakan Dewa tertinggi Trimurti yang dianggap scbagai DevaPerusak. Dewa Siva digambarkan bertangan empat, masing-masing memegang camara, aksamala, kamandalu dan trisula . Di tengah mahkotanya terdapat simbul ardha candra kapala yaitu bulan sabit dan tengkorak, sedangkan pada keningnya terdapat mata ketiga/tri netra yang dapat membakar apa saja yang tidak dikehendaki Siva. Upawitanya berupa ular. Biasanya Siva diletakkan diruang utama candi Hindu.

JAMBANGAN BATU
Jambangan batu berbentuk menyerupai silinder tetapi berpenampang lonjong Hiasannya berupa bunga teratai. Benda dengan penampang mendekati lingkaran, biasanya dikaitkan artinya dengan asal mula hidup/padma mula. Oleh karena itu diperkirakan Fungsi jambangan sebagai wadah air suci. Hal ini didukung hiasannya berupa teratai yang merupakan lambang kesucian.

SIVANANDI
Siva adalah dewa tertinggi Trimurti yang dianggap sebagai Dewa Perusak. Ia digambarkan bertangan empat masing-masing membawa cemara, aksamala, kamandalu dan Trisula. Di tengah mahkotanya terdapat simbul Ardha Candra Kapala yaitu bulan sabit dan tengkorak, sedangkan pada keningnya terdapat mata ketiga : Trinetra. Biasanya Siva diletakkan di mang utama candi berpasangan dengan Yoni namun demikian, ada pula Siva yang digambarkan sedang mengendarai wahananya berupa nandi, sehingga disebut Sivanandi.

YONI
Yoni pada dasarnya membentuk balok dengan sebuah lubang di tengah, serta cerat pada salah satusisinya. Lubang tersebut berfungsi untuk menancapkan patung Siva/Lingga, sedang ceratnya berfungsi untuk mengalirkan air pembasuh arca Siva/Lingga tersebut sewaktu diadakan upacara. Di candi-candi Hindu, Yoni diletakkan diruang utama dengan ceratnya menghadap ke utara.

PRASASTI BATU
Prasasti bertulis huruf jawa kuno pada batu andesit. Sebagian  besar tulisan sudah rusak dan tidak terbaca. Ada yang pada seluruh permukaan pada ke empat sisinya berkeliling bertulis. Ada pula bagian bawah prasasti dihiasi dengan hiasan gambar flora.

ARDHANARI
Ardhanari merupakan lambing persatuan antara Dewa Siva dengan istrinya Parvati. Oleh sebab itu ia diwujudkan dalam bentuk setengah pria dan setengah wanita. Ardhanari digambarkan bertangan empat.
Dua tangan belakang masing-masing membawa aksamala dan
camara. Dua tangan depan diletakkan di depan perut.

PADMASANA
Kata Padmasana berasal dari kata padma = teratai dan asmana = alas /tempat duduk Padtnasana berarti alas/tempat duduk arca yang  berbentuk teratai.

VISHNU
Vishnu adalah salah satu Dewa Trimurti berkedudukan sebagai Dewa Pemelihara. Diceritakan bahwa pada waktu melawan Vitra, raksasa yang menguasai kekeringan ia menang sehingga kemudian Dewa Vishnu disembah sebagai atau memclihara dunia.

Dewa Vishnu biasanya digambarkan bertangan empat, masing-masing membawa sankha lambang pembebasan manusia dari kesulitan, cakra lambing perputaran dunia,gada lambang kekuatan, dan padma lambang kedewaan.

RELIEF MANUSIA
Umunmya relief manusia di candi Jawa Tengah digambarkan naturalistis dengan wajah menghadap ke muka, sedang relief manusia di Jawa Timur digambar-kan seperti wayang wajahnya menghadap ke samping (en profil). Terdapat pendapat munculnya relief demikian berhubungan dengan munculnya kembali pemujaan masyarakat kepada roh leluhur.

MINIATUR RUMAH
Miniatur rumah dari bahl ini berbenhlk seperti lumbung padi dan banyak ditemukan di sawah-sawah.
Oleh karena itu tcrdapat pendapat bahwa miniatur rumah batu
berkaitan fungsinya dcngan pcmujaan Dewi Sri scbagai Dewi Padi .
Di samping itu ada pendapat lain yang mengatakan bahwa fungsi miniatur rumah batu itu tersebut berhubungan dengan kematian, dengan alasan :

  1. Miniatur rumah batu ternyata tidak hanya ditemukan di sawah-sawah tetapi juga di hutan-hutan.
  2. Terdapat ragam hias berupa siput yang merupakan lambang pelepasan.
  3. Terdapat ukiran angka tahun yang mungkin dapat dihubungkan dengan waktu meninggalnya seseorang.

GENTONG BATU
Gentong batu mempunyai bentuk antara lain bulat dan kerucut terpancung. Penam pang lingkamya mungkin dapat dikaitkan dengan padma mula/asal mula kehidupan. Oleh karena itufungsi gentong dopat dikaitkan dengan air suci, yaitu sebagai wadalmya.

ARCA BUDDHIS
Dalam pantheon Agama Budha dikenal 3 macam Budha, yaitu :

  1. Manusia Budha yaitu Budha yang menjelma dalam bentuk manusia.
  2. Dhyani Budha yaitu Budha yang bersifat badan halus.
  3. Dhyani Bodhdisatva yaitu Budha sebagai makhluk kayangan.

Ketiga macam Budlla tersebut diarcakan sangat sederhana, tanpa memakai perhiasan. Adapun ciri-ciri pokoknya adalah “Unisha (ram but dan sanggul),

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Mimbar jatim, EDISI 152, APRIL 1993