Museum Trowulan, Kabupaten Mojokerto

Museum Trowulan Terletak di wilayah Dusun Trowulan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan. Dapat dicapai menggunakan semua model transportasi melalui jalan raya Trowulan atau jalan Kecamatan tepat di seberang kolam Segaran.

Museum Purbakala Trowulan didirikan oleh Kanjeng Adipati Ario Kromojoyo Adinegoro bersama Ir. Henry Madaine Pont pada tahun 1942 dengan tujuan untuk menampung artefak hasil penelitian arkeologi di sekitar Trowulan.

Saat ini, museum yang juga dikenal sebagai Balai Penyelamatan Arca memiliki koleksi berbagai temuan di wilayah Jawa Timur. Untuk memudahkan pengunjung, benda-benda koleksi ini telah dilengkapi dengan keterangan singkat dalam dua bahasa, Indonesia dan bahasa Inggris.

Ruang museum terbagi dua bagian:

  1. Ruang Pamer, digunakan untuk memamerkan artefak berukuran relatif kecil, misal: mata uang, senjata, perisai, alat music dan peralatan rumah tangga.
  2. Pendopo, digunakan sebagai tempat pamer artefak berukuran relatif berat dan masif seperti area, relief, kala, yoni, dan lain-lain. Untuk memudahkan pengunjung disediakan fasilitas musholla, kafetaria dan toko souvenir.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Informasi Priwisata Kabupaten Mojokerto: DINAS PEMUDA, OLAHRAGA, KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA KABUPATEN MOJOKERTO, Juni 2011, Mojokerto, 2011

Museum Kesehatan

Museum Kesehatan DR Adhyatma, MPH
Lebih Dikenal Dengan
MUSIUM SANTET

Menyimpan benda tajam di bawah tempat tidur bagi perempuan yang habis melahirkan, menggunakan boneka dalam mendiagnosa penyakit, atau memanfaatkan benda pusaka sebagai penyangkal roh atau kekuatan jahat, mungkin merupakan hal yang aneh bagi sebagian orang khususnya masyarakat perkotaan yang merasa memiliki pola pikir modern.

Ritual tradisional semacam itu dianggapnya sebagai warisan nenek moyang yang saat ini tidak relevan lagi digunakan. Nyatanya, demikianlah bentuk ritual kesehatan asli masyarakat kita. Bahkan pada ritual yang lebih ekstrem sekalipun seperti memberi mengurung anak dalam kurungan ayam untuk menyembuhkan suatu penyakit tertentu.

Puluhan jenis benda yang menggambarkan simbol praktik kesehatan tradisional dikoleksi di Museum kesehatan DR Adhyatma, MPH di Jl Indrapura 17 Surabaya. Dalam museum yang diresmikan pada September 2004 tersebut, terdapat puluhan jenis benda kesehatan tradisional dari berbagai daerah, agama maupun suku di Indonesia yang diyakini sebagai sarana kesehatan atau mempunyai kekuatan khusus untuk menyembuhkan penyakit atau menolak gangguan kekuatan jahat. Di tengah masyarakat, museum ini lebih dikenal dengan nama “Museum Santet”

Seperti bambu bertuah atau ranting bambu yang bercabang untuk menolak segala penyakit yang ditemukan di Lamongan, alat pemotong tali pusat dari bambu yang berasal dari Papua, kayu santen dari Banyuwangi untuk menolak santet atau tenung, kumparan penangkal untuk menetralkan pengaruh gelombang elektromagnetik dari Surabaya, serta tumor yang berhasil diangkat melalui operasi tanpa luka dari Banyuwangi

Museum yang merupakan salah satu unit dari Pusat Peneli tian Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan Departemen Kesehatan RI ini juga menyimpan benda yang dihasilkan dari praktik metafisika berupa tenung atau santet yang berupa benang, karet, paku, atau benda asing lainnya yang berhasil dikeluarkan dari dalam tubuh orang yang terkena santet, serta media-media khusus yang digunakan dalam ritual penyantetan seperti, boneka kecil yang ditusuk benda tajam, telur ayam, serta air yang sudah berisi mantera khusus.

Sebagian benda yang ada dalam museum kesehatan tersebut menurut Penanggung Jawab Museum Kesehatan DR Adhyatma, MPH , Mabaroch, awalnya hanya koleksi pribadi seorang peneliti kesehatan yang juga perintis museum kesehatan bernama Hariyadi Soeparto. Dia mendapatkan bendabenda tersebut dari berbagai daerah di Indonesia saat dia melakukan penelitian. “Meskipun sudah ditetapkan sebagai museum umum, namun demi prinsip kelengkapan museum, pihak museum hingga kini masih menerima benda-benda kesehatan tradisional lainnya dari masyarakat yang layak untuk dikoleksi,” katanya, Selasa (24/1) .

Didirikannya sasana kesehatan tradisional tersebut jelasnya, sematamata bukan untuk melegalkan fenomena kesehatan tradisional, namun sebagai upaya pencerahan bagi masyarakat bahwa di tengah-tengah mereka terdapat fenomena kesehatan warisan nenek moyang yang mungkin tidak dapat diterima secara medis dan akal sehat oleh sebagian orang, namun nyata keberadaannya.

Fenomena tersebut menurutnya justru menjadi tantangan bagi kalangan kedokteran khususnya mahasiswa kedokteran untuk meneliti lebih jauh dan mencari bukti-bukti ilmiah. Karena itu, selain untuk mengoleksi benda-benda kesehatan, museum juga digunakan sebagai laboratorium penelitian oleh Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, serta sejumlah perguruan tinggi lainnya di Indonesia.

Mabaroch berharap, museum kesehatan tersebut dimanfaatkan sebagai sarana memperluas wawasan tentang kesehatan. “Jika di kampus mereka oanyak mengenyam teori kedokteran modern, di museum ini diharapkan mereka dapat memperluas wawasan tentang kesehatan.khususnya kesehatan tradisional, ini agar mereka tidak lagi terkejut jika di tengah masyarakat menemui hal-hal yang tidak biasa, namun sering dilakukan masyarakat,” katanya.

Seperti santet misalnya, hingga kini belum ada teori kedokteran yang mampu menjelaskan secara medis metode transformasi bagaimana benda-benda santet tersebut bisa masuk ke dalam tubuh manusia, karena saat difoto, dalam tubuh korban diketahui ada benda asing, namun saat dioperasi, benda-benda tersebut tidak ditemukan.

Terpisah , Ketua Program Studi Pengobatan Tradisional Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dr Arijanto Jonosewojo, membenarkan adanya fenomena kesehatan tradisional tersebut, dia beranggapan bahwa pengobatan tidak selalu dapat dilakukan dengan cara modern. Kini , pengobatan juga dilakukan dengan cara-cara tradisional atau dalam ilmu kedoketeran disebut pengobatan komplementer alternatif. Pengobatan ini menurutnya berasal dari praktik-parktik tradisional atau dengan ramuan-ramuan khas alami dari tumbuhan atau bijui-bijian yang mengadung zat tertentu yang dapat menyembuhkan sejumlah penyakit.

“Dulu, pengobatan tradisional memang dipandang sebelah mata oleh kalangan kedokteran, mereka beralasan efektifitas pengobatan tradisional tidak dapat dibuktikan secara medis maupun ilmiah, namun hanya berbasis keyakinan semata,” ujar Ketua Perhimpunan Peneliti Bahan Obat Alam (Perhiba) Jatim ini.

Namun beberapa tahun terakhir, kesehatan tradisional dijadikan sebuah pengobatan alternatif yang terjangkau khususnya bagi pasien yang kurang mampu melakukan pengobatan modern, asalkan cara pengobatan tradisional tersebut seblumnya sudah melalui penelitian ilmiah.

“Pengo batan modern dan pengobatan tradisional saat ini dapat berjalan bersama dan saling mengisi, dengan menjunjung tinggi prinsip bahwa karena tidak semua penyakit dapat disembuhkan secara tradisional, dan sebaliknya semua penyakit juga t idak dapat disembuhkan secara modern,” katanya.

Ada em pat kategori pengobatan tradisional yang biasa dilakukan masyarakat di negeri ini, yakni melalui keterampilan, seperti pijat dan akupuntur, melalui ramu-ramuan atau jamu, melalui kekuatan supranatural, dan melalui praktik keagamaan.

Hingga saat ini, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RImasih melegitimasi dua kategori pengobatan tradisional untuk dijadikan sebagai unit layanan pada rumah sakit umum milik pemerintah yakni keterampilan, seperti pijat dan akupuntur, dan ramu-ramuan atau jamu. Bahkan di kota Surabaya, ada dua puskesmas percontohan untuk layanan pengobatan tradisional, yakni di kecamatan Medokan Ayu, dan Pegirikan.

Untuk jamu, menurut Arijanto, pemerintah tengah gencar melakukan program saintifikasi jamu, program ini mewajibkan para produsen jamu untuk melakukan penelitian ilmiah terlebih dahulu pada sebuah ramuan sebelum dikonsumsi di pasaran. Hal ini untuk memastikan bahwa ramuan tersebut paling tidak mengandung unsur keamanan jika dikonsumsi oleh penderita sakit.

Tradisi lokal

Perintis Museum Kesehatan, Haryadi Suparto mengatakan, koleksi benda kesehatan tradisional tersebut sebagai upaya mempertahankan tradisi kesehatan masyarakat asli Indonesia yang kini mulai pudar dan bahkan ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri.

” Praktik kesehatan tradisional memang lebih identik dengan masyarakat pedalaman yang secara finansial tidak mampu menjangkau biaya pengobatan modern. Buktinya, air Ponari dari Jombang begitu banyak diminati dan diyakini masyarakat menengah ke bawah untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit,” jelas Haryadi.

Namun beberapa tahun terakhir, praktik kesehatan tradisional dilirik masyarakat menengah ke atas sebagai pengobatan alternatif khususnya yang bersifat supranatural. Sebagian masyarakat kelas atas khususnya pejabat negara maupun perusahaan swasta memanfaatkan praktik supranatural tradisional ini bukan hanya dalam hal pengobatan, namun untuk tujuan lain seperti meningkakan kharisma, mencari kedudukan, atau menjatuhkan lawan bisnis.

Haryadi menjelaskan, bahwa kesehatan tradisional supranatural memang tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, karena lebih pada hal yang bersifat metafisika yang kasat mata. Parktik kesehatan ini mengolah perasaan dan keyakinan pasien tanpa atau melalui media suatu benda.

Dia sangat mendukung jika salah satu bagian dari kesehatan tradisional seperti ramuan atau jamu dilegalkan pemerintah sebagai alternatif pengobatan masyarakat, namun pemerintah dituntut tegas dalam aturan yang dibuat untuk mengkhususkan produk jamu asli Indonesia. “Hal ini bukan hanya untuk melindungi produksi jamu dalam negeri, namun juga sebagai upaya mempertahankan budaya luhur bangsa dalam membuat ramuan kesehatan,  katanya. Achmad Faizal

TRANSPORTASI JAWA TIMUR,  EDISI KE TUJUH, PEBRUARI 2012, hlm. 30

Keraton Sumenep

Keraton Sumenep melanglang ke tempo dulu.

Keraton Sumenep menjadi satu-satunya bekas kadipaten atau keraton di Pulau Madura yang masih tersisa. Wajar jika penduduk atau masyarakatnya terkesan lebih halus, dengan tutur kata dan budi bahasa yang khas layaknya ‘laladan’ (wilayah) bekas kerajaan atau keraton, seperti Ngayogyakarta Hadiningrat, Surakarta Hadiningrat, Cirebon dan lainnya. Mengunjungi kompleks keraton Sumenep, kita seolah-olah dibawa ke suasana tempo dulu. Suasana keraton yang memiliki nuansa kewibawaan tinggi. Beberapa bangunan yang tetap tegar dan tegak berdiri ditunjang penanda-penanda tata kehidupan kala itu, merepresentasikan betapa Sumenep adalah keraton yang adiluhung, yang terjaga hingga sekarang.

Keraton Sumenep dikenal pula dengan sebutan Potre Koneng (Putri Kuning). Julukan ini muncul karena di bekas Keraton Sumenep pemah hidup seorang perrnaisuri keraton, Ratu Ayu Tirtonegoro, yang memiliki kulit kuning bersih yang berasal dari negeri China. Untuk menghormati sang perrnaisuri, atap Keraton Sumenep diberi wama kuning cerah. Sebelum memasuki keraton, pengunjung akan disambut gapura dengan nama Labang Mesem. Dalam bahasa Indonesia labang berarti pintu, dan mesem adalah senyum. Gapura ini melambangkan keramahan keraton terhadap para tamu yang berkunjung. Di sisi kanan keraton, terdapat Kantor Koneng, yaitu ruang kerja raja Sumenep, yang sekarang difungsikan sebagai museum. Ruangan ini berisi koleksi peralatan rumah tangga keraton. Di luar keraton, wisatawan juga dapat mengunjungi Masjid Jamik Sumenep yang usianya tak jauh berbeda dengan usia Keraton Sumenep.

Sumenep (dalam bahasa Madura: Songeneb) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.093,45 km2 dan populasi ± 1 juta j iwa. Ibukotanya adalah Kota Sumenep. Kabupaten Sumenep pada mas a kolonial dikuasai oleh keluarga Kadipaten Madura, yaitu keluarga Cakraningrat. Kabupaten ini terletak di ujung timur Pulau Madura. Kabupaten Sumenep selain terdiri wilayah daratan juga terdiri dari berbagai pulau di Laut Jawa, yang keseluruhannya berjumlah 126 pulau. Pulau yang paling utara adalah Pulau Karamian dalam gugusan Kepulauan Masalembu dan pulau yang paling timur adalah Pulau Sakala. Batas-batas kabupaten ini adalah sebagai berikut. Sebelah selatan berbatasan dengan Selat Madura, sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, aebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pamekasan, dan sebelah timur berbatasan dengan Laut JawaILaut Flores. Kabupaten ini memiliki 27 kecamatan, baik di daratan Pulau Madura maupun di gugus kepulauan.

Jika kita ingin melihat masa lampau Sumenep, datanglah ke keraton Sumenep. Di sa.tla masih terjaga beberapa peninggalan yang dimuseumkan. Ya, di sekitar keraton terdapat museum yang berisi barang-barang bersejarah peninggalan zaman kerajaan Sumenep lampau. Kita seolalkolah dibawa berkelana atau melanglang ke tempo dulu dalam suasana keraton yang adiluhung. Keraton Sumenep merupakan salah satu bagian dari museum yang ada di Kota Sumenep. Museum ini hanya terdapat di Kota Sumenep, karena pusat pemerintahan Madura dulunya berada di kota ini. Nama Keraton yang merupakan bagian dari komplek museum ini adalah Keraton Panembahan Sumolo yang dibangun pada tahun 1762 M yang terdiri dari Bangunan Induk Keraton, Taman Sare, dan Labang Mesem. Sayang, pengunjung tidak dibolehkan masuk bangunan induk keraton, apalagi ke ruang-ruang dalam keraton. Mereka hanya bisa masuk di museum. Padahal di dalam ruang keraton itu terdapat beberapa ruangan yang konon dipakai sebagai semedi atau sembahyang orang-orang tertentu.

Menurut salah satu pegawai keraton sekaligus pendapa, Gus Dur (almarhum) yang mantan Presiden RI, kemudian Imam Utomo (mantan Gubernur Jatim) dan beberapa pejabat lainnya,juga pernah masuk dan sholat di salah satu ruang yang dianggap berkharisma. “Tidak semua orang boleh masuk ke sana,” kata pegawai itu. Beruntunglah wartawan Derap Desa (DD) bisa mendapatkan kesempatan memotret ruang-ruang tersebut, sambi! ditemanijurukunci. Ada empat ruangan yang tampaknya adalah seperti kamar tidur dan tempat bersembahyang. Barang-barang yang di dalamnya masih terjaga utuh berikut ukiran dan ornamen khas Sumenep. Tapi yangjeIas, dengan melihat-lihat benda peninggalan keraton yang masih tersimpan di museum, setidaknya kita memiliki gambaran dan bayangan akan keberadaan keraton Sumenep kala itu. Tepat berada di depan keraton, misalnya, ada sebuah gedung tempatrombongan atau pengunjung yang harus lapor ke penjaga museum, sekaligus membayar iuran.

Tidak mahal tetapi itu semua untuk kas. Di museum ini Anda bisa menemukan segala sesuatu yang berhubungan dengan keraton Sumenep. Ada meriam lama, ada baju tradisional khas Sumenep yang dipakai Pangeran dan Putri Sumenep, ada kamar tidur Raja Sumenep yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung dan masih banyak lagi yang lain. Tiket masuk tak mahal, cuma Rp 5.000 dan Anda mendapatkan panduan tur lang sung dari petugas yang ada. Di museum ini juga bisa menyaksikan pemandian para putri kerajaan keraton Sumenep ini. Dulunya pemandian ini dibuka untuk umum dan orang-orang bisa berendam tapi entah kenapa sekarang ditutup dan dijadikan kolam ikan.

AI-Quran dan Kereta Kencana
Di dalam museum tersimpan banyak sekali barang yang penuh dengan cerita di masanya dulu. Misalnya baru masuk saja, kita sudah disambut oleh sebuah AI-Qur ‘an berukuran raksasa dengan ayat-ayat sucia yang tertempel indah. Juga ada salah satu kereta kencana yang digunakan Keraton Sumenep, yang menurut keterangan merupakan hadiah dari Kerajaan Inggris di masa Pemerintahan Sultan Abdurrachman (tahun 1812-1854 M). Di salah satu ruangan museum juga tertempel foto raja-raja Sumenep dari masa ke masa. Bahkan daftar nama raja-raja Sumenep tertulis mulai dari raja pertama seperti Aria Banjak Wide, Ario Bangah, Ario Danurwendo, Ario Asrapati, Panembahan Djokarsari. Itulah 5 nama Raja/Gelar Radja/Bupati Pertama Sumenep.

Kemudian ada seperangkat sarana pengadilan yang digunakan pada saat berlangsung pengadilan di Keraton Sumenep pada era pemerintahan R.Ayu Tumenggung Tirtonegoro, tahun 1750-1762 M. Koleksi yang dipamerkan kursi pengadilan (tempat duduk raja ketika mengadili), rotan bundar (tempat terdakwa), dan kotak segi empat (tempat berkas/surat). Koleksi lainnya yang ada di museum adalah sebuah jambangan yang berasal dari Thailand sekitar abad XVII M. Jambangan ini dihiasi motif binatang dan tumbuhan, berwarna kuning di bawah glasir cokelat. Pada saat zaman kerajaan berfungsi sebagai wadah air atau tanaman hias. Tak ketinggalan lampu duduk yang dibuat dari logam, dihiasi motif sulur-suluran dengan teknik kerawangan x.usia sedang duduk di bola.

Beralih ke ruangan lain, kerangka ikan paus yang mempunyai panjang 13 m tinggi 1.75 mdan berat 4 ton tersimpan di salah satu bagian museum ini. Paus ini terdampar di desa Kertasada Kecamatan Kalianget pada tahun 1977. Kemudian di antara koleksi itu ada beberapa alas kaki yang bernama Gamparan Tonggulan berada di balik kaca. Alas kaki ini pada umurnnya dibuat dari kayu bentaos. Gamparan ini termasuk sederhana, cara menggunakannya dengan menjepit antara ibujari kaki danjari pertama. Ada pula beberapa gamparan yang dihiasi dengan ukiran. Dalam perkembangannya peran gamparan ini terdesak oleh jenis sandal yang lebih praktis dan ringan. (edt)

Bercorak Budaya Jawa hingga Eropa
Mengunjungi dan menyimak Keraton Sumenep, kita disuguhi sebuah ornamen khas yang merupakan perpaduan agama dan budaya mancanegara. Keraton yang terletak di tengah-tengah kota itu dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo I tahun 1762. Bangunan keraton ini mempunyai corak budaya Jawa, Islam, China dan Eropa. Di dalam keraton terletak peninggalanpeninggalan bersejarah seperti Pendopo Agung, kantor Koneng, dan bekas Keraton Raden Ayu Tirtonegoro yang sa at ini dijadikan tempat penyimpanan benda-benda kuno. Bangunan Keraton Sumenep didirikan pada paruh kedua abad ke-18 atas prakarsa Raja Sumenep, yaitu Penembahan Sumolo atau Tumenggung Arya Nata Kusuma.

Keraton ini diarsiteki oleh seorang China bernama Liaw Piau Ngo. Melalui tangan Liaw Piau Ngo inilah lahir sebuah bangunan keraton yang unik, yang memadukan gaya arsitektur Eropa, China, dan Jawa. Mengunjungi keraton ini, wisatawan dapat melihat lang sung hasil akulturasi budaya Jawa, Islam, Eropa, dan China yang membentuk bangunan Keraton Sumenep. Pada bangunan Keraton Sumenep, pengunjung dapat melihat nuansa keraton Jawa dengan pilar-pilar dan lekuk ornamennya yang bergaya Eropa serta rangkaian atap yang menyerupai kelenteng China. Secara umum komposisi bangunan pada Keraton Sumenep tidak berbeda dengan keraton-kera- ton di Jawa, misalnya sarna-sarna memiliki pendopo yang cukup luas untuk menerima tamu, ruang peristirahatan raja, serta lokasi pemandian untuk permaisuri dan putri-putri raja.

Pendopo Agung sampai saat ini masih dipakai sebagai tempat diadakannya acara-acara kabupaten seperti penyambutan tamu negara atau provinsi, serah terima jabatan pemerintahan dan acara kenegaraan lainnya. Sedangkan kantor Koneng yang berarti kantor raja dahulu adalah ruang kerja Sultan Abdurrachman Pakunataningrat I selama masa pemerintahannya tahun 1811 sampai 1844 Masehi. Selain ketiga ruangan tersebut, di kompleks keraton terdapat Taman Sare, yaitu tempat pemandian putri raja yang masih terlihat asri dan indah sampai sekarang. Bagian lain dari keraton Sumenep adalah pintu gerbang Labang Mesem, yang artinya pintu/gerbang tersenyum yang melambangkan keramah tamahan masyarakat Sumenep terhadap setiap orang yang datang ke keraton.

Museum terbagi menjadi tiga bag ian yang terletak di depan/luar keraton dan di dalam keraton. Bagian pertama, di luar keraton, adalah tempat menyimpan kereta kuda/kencana kerajaan Sumenep dan kereta kuda pemberian ratu Inggris, yang sampai sekarang masih dapat digunakan dan dikeluarkan pada saat upacara peringatan hari jadi kota Sumenep. Bagian kedua dan ketiga terdapat di dalam keraton Sumenep, yang di dalamnya menyimpan alat-alat untuk upacara mitoni atau upacara tujuh bulan kehamilan keluarga raja, senjata-senjata kuno berupa keris, clurit, pistol pedang bahkan semacam samurai dan baju besi untuk perang, AI-Qur’an yang ditulis oleh Sultan Abdurrachman.

Di sam ping keraton ada sebuah kolam yang bernama Taman Sare. Konon menurut pendapat masyarakat setempat, apabila kita membasuh muka dengan air kolam ini niscaya akan awet muda. Kolam ini berisi air tawar beserta aneka ikan-ikan yang seolah bahagia berada di dalam satu bag ian dalam Keraton. Di antara keraton dan kolam Taman Sare juga tumbuh sebatang pohon beringin besar dan sangat tua. Beringin ini merupakan salah satu saksi sejarah perkembangan Kerajaan Sumenep dari tahun ke tahun, karena melihat umurnya yang diperkirakan ratusan tahun. (ins, edt)

Derap Desa, Edisi 49, Nopember 2011, hlm. 46

Museum Daerah Tulungagung

-2002-
Penulisan benda berharga ini ditujukan untuk memperkenalkan kepada masyarakat sebagian dari koleksi yang terdapat di Museum Daerah Tulungagung. Catatan ini diharapkan dapat menyebarluaskan informasi tentang keberadaan Museum dan Koleksi Museum Daerah Tulungagung kepada khalayak ramai, terutama pengunjung Museum Daerah. Yang pada akhirnya informasi tersebut akan berkembang sehingga menimbulkan rasa kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya serta menimbulkan minat untuk ikut berperan serta dalam upaya pelestarian nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Dari informasi ini diharapkan pula agar masyarakat luas akan mengenal dan akhirnya akan akan memanfaatkan keberadaan Museum sebagai salah satu pusat Ilmu Pengetahuan, pusat penelitian dan sebagai obyek tujuan Wisata Budaya. Museum Daerah Tulungagung merupakan Museum Umum dimana koleksinya terdiri dari kumpulan dan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi.

Dari berbagai jenis benda warisan budaya yang menjadi koleksi Museum Tulungagung, masih di dominasi dengan Koleksi Arkeologi yang banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Tulungagung, yang semula koleksi Museum tersebut disimpan di ruangan Pendopo Kabupaten Tulungagung.

Gagasan didirikannya Museum Daerah ini dimaksudkan selain sebagai wadah/tempat penyelamatan warisan budaya diharapkan juga dijadikan tempat tujuan studi, rekreasi, baik pelajar mahasiswa maupun masyarakat luas. Museum Daerah Tulungagung dibangun pada akhir tahun 1996, berlokasi di Jalan Raya Boyolangu, Km. 4, Komplek SPP/SPMA Tulungagung.

Bangunan Museum Daerah berukuran 8 x 15 m, dengan luas lahan 4.845 m², letaknya sangat strategis karena berada di wilayah Kec. Boyolangu yang sangat sarat/potensi dengan Benda Cagar Budaya yang tidak bergerak dan merupakan jalur utama menuju ke Obyek Wisata Pantai Popoh, Pantai Sine dan Kerajinan Marmer.

KOLEKSI MUSEUM DAERAH TULUNGAGUNG
1.   Patung DURGA (batu Andesit) 1 buah
2.   Patung AGASTYA (batu Andesit) 2 buah
3.   Patung JALADWARA (batu Andesit) 1 buah
4.   Patung WISNU (batu Andesit) 2 buah
5.   Patung LlNGGA SEMU (batu Andesit) 1 buah
6.   Patung DWARAPALA (batu Andesit) 17 buah
7.   Patung KEPALA IKAN (batu Andesit) 2 buah
8.   Patung NANDI (batu Andesit) 1 buah
9.   Patung KALA (batu Andesit) 2 buah
10. Patung BUDHA (batu Andesit) 2 buah
11. Patung ASMA (batu Andesit) 1 buah
12. Patung SELUBUNG TIANG (batu Andesit) 1 buah
13. Patung YONI (batu Andesit) 3 buah
14. Patung NARASHIMA (batu Andesit) 1 buah
15. PRASASTI (batu Andesit) 9 buah
16. ARCA (batu Andesit) 1 buah
17. Patung SKANDHA (batu Andesit) 1 buah
18. Patung SIWA MAHAKALA (batu Andesit) 1 buah
19. Patung PARWATI (batu Andesit) 1 buah
20. AMBANG PINTU (batu Andesit) 1 buah
21. Patung GANESHA (batu Andesit) 4 buah
22. BATUCANDI (batu Andesit) 44 buah
23. KERIS (Tilam Upih & Tilam Sari) 2 buah
24. Foto Peninggalan Sejarah berupa Candidan Goa di Kab. Tulungagung

BUDDHA AKSOBHYA
Merupakan Koleksi yang terbuat dari bahan Batu Andesit, ukuran Panjang 83 cm, ukuran lebar 72 cm, ukuran tinggi 146 cm, keadaan baik, pahatan halus. Bentuk gambaran Arca duduk Yogasana di atas Padmasanaganda, di belakang kepala sisi kiri ada prabha. Rambut keriting, telinga panjang, tangan kanan hilang, tangan kiri dalam posisi Dhyanamudra. Memakai upawita, lipatan-lipatan dan tepian kain tampak, asana sisi kiri hilang. Pada sisi samping asana samar-samar, ada prasasti dua baris melingkari asana.

AGASTYA
Area berdiri samabanga di atas asana. Di belakang terdapat stela, arca berperut buncit, bertangan empat, tangan belakang memegang Trisula (kanan) dan sesuatu yang tidak jelas (kiri). Tangan depan memegang pundi-pundi (kiri) dan menggenggam (kanan), area berkumis panjang dan berjenggot. Memakai giwang dan kelat bahu sederhana. Bahan Batu Andesit ukuran panjang 27 cm,  ukuran lebar 16 cm dan ukuran tinggi 46 cm.

JALADWARA  
Kondisi baik, ukuran panjang 53 cm, ukuran lebar 19 cm dan ukuran tinggi 38 cm, terbuat dari batu andesit. Bagian depan berbentuk kepala naga (Makara) dengan  mulut menganga. Bagian belakang berupa bidang segi empat memanjang ke belakang dengan cekungan ditengah untuk saluran air. Bagian depan atas dihias dengan motif sulur (ukel, jawa). Diatas  terdapat lubang kecil untuk saluran air.

YONI
Keadaan baik, dengan ukuran panjang sisi 37,5 cm, ukuran tinggi 34 cm, terbuat dari batu andesit, berbentuk sederhana. Bagian tengah lebih kecil dari pada bagian atas dan bawah. Hiasan berupa garis-garis vertikal dan horizontal yang betingkat-tingkat. Terdapat cerat berukuran panjang 20 cm, ukuran lebar 13 cm, ukuran tebal 14 cm. Pada sisi atas terdapat cekungan bujur sangkar berukuran pajang sisi 14 cm, ukuran kedalaman 23 cm dan Yoni ini ukuran panjang selurnya 42, 5 cm dan  Ukuran Tinggi 46 cm.


WlSNU
Arca berdiri diatas padmasana ganda, terbuat dari  batu andesit dengan ukuran panjang 32 5 cm, ukuran lebar 23 5 cm dan ukuran tinggi 84 5 cm. Dibelakang arca terdapat stela, di belakang kepala terdapat prabha. Adabeberapa bagian yang rusak yaitu wajah, mahkota, kedua tangan depan dan atribut kanan belakang. Stela bagian atas rumpil tangan kiri belakang memegang sangka bersayap arca memakai giwang, hara (susun tiga). Kelat bahu, gelang polos (susun tiga), uncal, upawita, gelang kaki. Di kiri dan kanan arca menempel pada stela ada teratai  yang keluar dari kuncup.

DWARAPALA
Arca terbuat  dari batu Andesit dengan ukuran panjang 53 cm, lebar 53 cm, tinggi 103 cm. Rambut keriting panjang sepinggang, kaki kanan jongkok, kaki kiri di lipat kebelakang, bertumpu pada ujung jari. Kedua kaki diatas lutut kiri memegang gada yang menempel ke bahu kiri. Mata melotot mulut tertawa sehingga tampak gigi dan taringnya. Memakai giwang, upanita ular, gelang tangan, gelang kaki, perut buncit, hiasan asana berupa tengkorak samar samar tampak.

PRASASTI
Keadaan agak aus, berbentuk akolade, mempunyai ukuran panjang sisi atas 68 cm, panjang sisi bawah 57 cm, tinggi 127 cm dan lebar 19 cm. Dari sisa alur-alur yang ada, jumlah baris sisi depan 29, belakang 27, sisi kiri 24, sisi kanan aus. Dari bekas-bekas huruf  yang masih ada tipe huruf  Mojopahit berukuran 0,7 cm. Pada sisi depan atas tepat ditengah terdapat lanchana berbentuk lingkaran, didalamnya terdapat dua sayap

KALA 
Arca keadaan baik, pahatan halus, hanya bagian wajah merupakan sambungan atas beberapa bagian, Mata melotot, tinggal bagian kiri, Mulut tertawa, tampak gigi dan taring, Keadaan hidung mancung, pipi tembem, dibelakang bagian bawah ada tonjolan bidang persegi, terbuat dari batu Andesit dengan ukuran panjang 74 cm, ukuran Lebar 84 cm dan ukuran Tinggi 57 cm.

.

BHUDHA
Arca duduk bersila yogasana dengan Kedua tangan terbuka berada diatas lutut, diatasnya terdapat bunga stela berbentuk akolade, rambut bersanggul ke atas, Terbuat dari Bahan Batu Andesit dengan ukuran panjang panjang 28 cm, ukuran Lebar 19 cm sedangkan ukuran Tingginya 42 cm.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Seri mengenal : Koleksi Museum Daerah Kabuten Tulungagung. Tulungagung, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten tulungagung, 2002

Museum Cakraningrat. Kabupaten Bangkalan

-2011-
Mengenal Dari Dekat Museum Cakraningrat: di Kabupaten Bangkalan

Pada tahun 1974 Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bangkalan mendirikan sebuah Gedung Museum untuk penyimpanan benda-benda koleksi keluarga Kraton yang sudah diserahkan perawatannya kepada Pemerintah dengan ciri khas gerbang pintu adalah miniatur Bentar Makam Agung Arosbaya.

Kemudian pada tanggal 24 Juli 1975 dibuka untuk umum setiap hari pada pukul 08.00 sId 14.00 WIB. Dengan bentuk dan kondisi yang hanya satu ruangan tersebut, maka telah dapat ditampung beberapa macam benda koleksi Peninggalan milik perorangan maupun milik Keluarga Bangsawan Bangkalan.

Semua ini berkat upaya dan kerja keras serta kerjasama antara masyarakat, Pemerintah Daerah dan Kantor Departemen Dikbud Kabupaten Bangkalan. Mengingat perkembangan ilmu pengetahuan berikutnya, tugas dan fungsi Museum secara umum digambarkan:
– Mengumpulkan, mencatat
– Meneliti dan merawat
– Serta memamerkan benda-benda bernilai sejarah, budaya dan ilmiah.

Museum tidak hanya bersifat memperkenalkan benda-benda bernilai sejarah saja, akan tetapi juga merupakan “HUMAN RELATIONSHIP” sebagai sarana komunikasi dari generasi ke generasi, demikian ada keberadaan “MUSEUM DAERAH KABUPATEN BANGKALAN”

Sebelum memiliki gedung yang tetap seperti yang terjadi pada saat ini, terdorong oleh rasa bangga terhadap warisan nenek moyang kita, yang menggambarkan pembuktian manusia, alam dan kebudayaan, baik secara synchronis maupun pencerminan histories dari pada manusia, alam lingkungan dan kebudayaannya.

Transisi budaya di jaman klasik telah menimbulkan gejala-gejala: Syncretisme dan telah menunjukkan daya ungkapan kemajuan teknis dan teknologis dan kemajuan kreatif berupa pembangunan monumen-monumen keagamaan struktur organisasi pemerintahan dengan pusat-pusat pemerintahan yang mengenai desentralisasi dengan sistem viodalisme.

Dengan inilah maka tokoh-tokoh penerus yang merasa bertanggung jawab untuk melestarikan peninggalan yang masih tersisa, disuatu pihak mulai menghimpun peralatan bekas milik Kraton Bangkalan yang masih tersisa, dikumpulkan dan disimpan di gudang pengumpulan dan penyimpanan yang terletak di komplek pesarean “AER MATA” (Komplek pemakaman Raja-Raja di desa Buduran Kecamatan Arosbaya) usaha ini memenuhi saran Pini Sepuh Kabupaten Bangkalan diantaranya :
–     R.A. ROESLAN TJAKRANINGRAT
–     R.A. SALEHADININGRAT SURYOWINOTO
–     R.P. ABDULMADJID SURYOWINOTO
–     R.P. MACHMUD SOSROADIWINOTO
–     R.P. ABDUL HAMID NOTODIREJO

Usaha ini dilakukan sekitar tahun 1950-1955 guna mengurus dan merawat peninggalan ini maka terbentuklah suatu yayasan yang menamakan diri: “YAYASAN KONA”

Akhirnya Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Bangkalan atas nama Pemerintah Tingkat II yaitu: H.J. SOEDJAKI mendirikan gedung tempat koleksi tersebut. Setelah bangunan tersebut selesai maka bersama “YAYASAN KONA” yang pada waktu itu diwakili oleh:
–          R.A. MOCH. ANWAR TJAKRA ADIPOETRO
–          R.P. ABDUL MADJID SURYOWINOTO
–          R.P. ABDUL HAMID NOTODIREJO

Maka bersama-sama beliaulah Bupati Daerah Tingkat II Kabupaten Bangkalan juga bersama-sama dengan tokoh Pemerintah yaitu:
–          H.J. SOEDJAKI
–          R.A. SALEH SOSROADIWINOTO
–          R. ABDUL RACHMAN

Mereka merenakan untuk memindah Koleksi Kraton yang ada di komplek Pasarean ASTA AER MATA ke gedung penyimpanan baru yang ada di kompleks Perumahan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Bangkalan yaitu di Jalan Letnan Abdullah No.1 Bangkalan. Kemudian pada tanggal 24 Juli 1975 benda koleksi yang ada di AER MATA tersebut dipindah ke gedung yang baru disaksikan oleh GUSTI PEMBAJON Permaisuri R.A. ROESLAN TJAKRANINGRAT.

Sejak saat itulah benda-benda koleksi tersebut diresmikan menjadikoleksiMuseumdan benda-benda koleksi tersebut dipelihara dan dirawat langsung oleh Pemerintah Daerah bagian Urusan Rumah Tangga Kabupaten yaitu: R. ABDOERRAHMAN, adapun koleksi tersebut masih belum berfungsi. Kemudian pada awal tahun 1979 gedung tersebut diresmikan menjadi museum dan diberi nama : “MUSEUM DAERAH TINGKAT II KABUPATEN BANGKALAN”

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Brosur, Meseum Cakraningrat Kabupaten Bangkalan.

Museum dan Pusat Kajian Etnografi

-Mei 2010-
MUSEUM DAN PUSAT KAJIAN ETNOGRAFI
Jl. Airlangga 4-6Surabaya
Phone: +62 31503-4015/501-7429
Fax: 031501-2445
 


Boleh jadi Universitas Airlangga (Unair) menjadi satu-satunya  Perguruan Tinggi Indonesia yang memiliki koleksi etnografi di dalam kampus. Museum dan Kajian Etnografi Unair yang diresmikan pada 2005 silam, merupakan rentetan perjalanan panjang dalam mengekspresikan ide para tokoh ke dalam bentuk material.

Seperti diketahui Unair pernah memiliki tokoh seperti Prof. Snell dan Dr. Adi Sukadana yang sejak awal benarbenar memahami arti museum untuk sebuah lembaga pendidikan. Museum ini menyimpan beragam koleksi yang berkaitan erat dengan pusaka kebudayaan dan antropologi. Masyarakat umum pun bisa mengunjungi museum ini, baik untuk hanya sekadar menikmati ataupun untuk studio.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SURABAYA City guide,  Suara Surabaya Media, Edisi Mei 2010, hlm.13.

Museum Brawijaya

Merajut Situs Merangkai Objek 

Andai Kopral Buang masih hidup, pastilah pahlawan ini bisa bercerita banyak. isah heroiknya bersama para ‘ pejuang kemerdekaan merebut tank Belanda, menduduki Pos Pantai Oesa Batering di Gresik, kemudian menyeret meriam besar berjuluk Banteng Blorok hingga ke Lamongan, pastilah menarik. Kini meriam besar hasil rampasan dari kolonial Belanda itu bertengger di Musem Brawijaya, Jlljen, Kota Malang. Namanya pun diubah menjadi Meriam Si Buang, mengabadikan nama pejuang tersebut.

Sangat banyak kisah heroik seperti yang dilakoni mendiang Kopral Buang dan para pejuang kemerdekaanIndonesia. Itu berarti sangat banyak pula situs dan benda-benda bersejarah yang punya daya tarik, jika digarap sebagai objek wisata sej arah . Lokasinya tersebar di Jawa Timur. Sebagian memang sudah digarap menjadi objek wisata. Namun, entah mengapa, belum marak seperti yang semestinya.

Meriam Si Buang hanyalah salah satu dari sekian banyak benda bersejarah yang sesungguhnya juga merindukan kehadiran wisatawan. “Dia” tidak sendirian bertengger gagah di tengah kawasan pemukimari” elit, di jantung Kota Malang. Di taman depan museum itu bertengger pula satu unit tank hasil rampasan pejuang kemerdekaan dari kolonial Belanda. Tank itu diapit dua senapan mesin penangkis serangan udara yang lazim disebut. Pam-pam Double Loop.

Senjata be rat itu setelah direbut oleh BKR Surabaya, September 1945, sempat  sukses merontokkan dua pesawat terbang Belanda. Di dalam halaman museum sebelah kiri pintu masuk juga terdapat Tank AM-Traek. Kendaraan tempur  pengunjung bisa menyaksikan gerbong kereta api berjulu Gerbong Maut. Di gerbong itulah, 23 November 1947, dipakai Belanda untuk mengangkut 100 orang tawanan perang dari penjara Bondowoso ke penjara Bubutan melalui Stasiun Wonokromo. Jauh di luar kapasitas gerbong SS buatan tahun 1924 itu.

Dalam perjalanan mulai pukul 02.00 dini hari, pintu Gerbong Maut itu ditutup rapat.Paratawanan berhimpitan bak ikan sarden.Susahbernafas. Saat “Gerbong Maut” itu sampai di Surabaya, 46 orang tawanan meninggal dunia, 11 orang sakit parah, 31 sakit, dan hanyan 12 yang masih sehat. Di sebelah utara gerbong maut itu juga dipamerkan sebuah perahu Segirir. Perahu kayu kecil ini dulu pernah dipakai komandan Pasukan Joko Tole menyelamatkan pasukannya dari pulau Madura menyeberang ke Paiton Probolinggo. Ketika itu Pasukan yang bertugas di Madura mendapat serangan dari pasukan Belanda. Karena kekuatan yang tidak seimbang akhirnya dengan perahu Segigir para pejuang itu menyeberang ke Jatim.

Ada nilai tambah memang jika kita berwisata ke Museum Brawijaya yang diresmikan pad a 16 April 1968 oleh Pangdam Brawijaya, Mayjen TNI M. Yasin. Disamping pengunjung mendapatkan gambaran tentang kegigihan para pejuang, juga bisa memetik nilai-nilai perjuangan. Inilah tugas pokok museum sebenamya.

Seperti halnyaSurabayadanMalang, banyak pula objek wisata sejarah bernuansa heroik-patriotik di kota-kota lain. Di Brangkal, Mojosari, Kabupaten MOjokerto misalnya, ada gedung yang pernah dipakai Bung Tomo membakar semangat para pejuang lewat siaran radio. Ketika ituSurabayadikepung Sekutu.

Bung Tomo dan anak buahnya membawa peralatan radio ke Mojosari.

Rute Bung Tomo (Surabaya-Mojokerto) dan lokasi-Iokasi bernilai heroik lainnya di berbagai daerah di Jatim, sebenarnya bisa dikemas menjadi objek wisata sejarah. Galibnya, merajut situs dan merangkai objek menjadi satu paket perjalanan wisata yang layakjual. Tentu, jika punya niat.    Tio

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Jatim News, Tabloid Wisata Plus, EDISI 21, 7 -21 November 2003, Tahun I