Pulau Gili Iyang, Kabupaten Sumenep

Pulau Gili Iyang0001

KEINDAHAN alam Jawa Timur sudah cukup terkenal ke berbagai penjuru dunia, mulai dari Gunung Bromo, Kawah Gunung Ijen, pasir pantai-pantainya yang putih, hingga berbagai air terjun yang tersebar di berbagai dae- rah. Obyek wisata yang belum terlalu kondang, namun layak diperhitungkan adalah Pulau Gili Iyang.
Pulau ini terletak di sebelah timur Kabupaten Sumenep, Madura. Pulau ini memiliki udara dengan kadar oksigen cukup tinggi, mencapai 21%. Angka ini tertinggi setelah sebuah danau di Yordania yang dikenal sebagai Laut Mati. Selain itu Pulau Gili Iyang juga memiliki pantai dengan pasir putih dengan kelembutan menawan.
Keberadaan Pulau Gili Iyang sebenarnya sudah diketa- hui masyarakat Sumenep. Yang belum banyak diketahui adalah keistimewaannya. Bahkan warga dua desa, Desa Banra’as dan Desa Bancamara yang tinggal di pulau itu juga baru belakangan tahu jika pulau yang mereka tinggali memiliki keistimewaan luar biasa.
Pulau Gili Iyang0002Untuk mengunjungi pulau ini, memang butuh “perjuangan” Gambarannya begini: dari Surabaya menuju Sumenep ditempuh perjalanan darat dengan waktu antara 3,5 – 4 jam. Namun bagi mereka yang berduit, bisa “terbang” dengan pesawat kecil menuju Bandara Trunojoyo Sumenep. Sekadar diketahui, sejak Juli 2014, bandara ini sudah resmi dioperasikan untuk penerbangan komer- sil. iVlaskapai yang melayani PT Trigana Air.
Selanjutnya untuk menuju Pulau Gili Iyang harus menyeberang menggunakan perahu yang biasa digunakan para nelayan dari pelabuhan kecil bernama Pelabuhan Dungkek. Untuk sekali penyeberangan yang memakan waktu sekitar 40 menit, biayanya Rp 10.000 per orang. Se- tiap perahu hanya berlayar satu kali perjalanan. Artinya, dari Sumenep jadwal menyeberang sekitar pukul 07.00 dan untuk kembali lagi ke Sumenep penumpang harus sudah siap di dermaga perahu-perahu nelayan berlabuh sekitar pukul 14.00 dengan perahu berbeda. Namun jika berombongan, bisa menyewa satu perahu seharga Rp 500.000 untuk pulang pergi.
Pulau Gili Iyang0003Sejak dalam perjalanan laut menuju pulau seluas ham- pir 9 kilometer persegi itu, pengunjung sudah bisa melihat jelas keindahan pulau. Pengunjung juga bisa menikmati pemandangan para nelayan yang tengah menebar jala dan menjaring ikan sebagai mata pencarian sebagian besar penduduk Gili Iyang yang berjumlah sekitar 394 jiwa. Semakin mendekat ke pulau, kian jelas deretan perahu khas Madura yang bersandar di bibir pantai.
Begitu perahu penumpang sandar di dermaga kecil Desa Banra’as, terasa sekali menghirup udara begitu ri- ngan. Ditambah hempasan angin sepoi yang membelai
halus rambut dan kulit. Suasana ini sangat berbeda dibanding ketika bernapas di wilayah perkotaan yang terasa cukup berat. Bahkan udara perkotaan seperti Surabaya terkadang membuat sesak napas, Kadar oksigen dalam udara perkotaan rata-rata berkisar antara 16-17 % saja, sementara di Gili Iyang bisa mencapai 21%.
Ketika tim liputan Majalah Potensi berjalan menyusuri jalan setapak pedesaan, terasa langkah kaki begitu ringan. Berjalan sepanjang 2-3 km pun seakan tanpa beban, kondisi udara yang cukup bagus itu tak membuat napas tersengal-sengal, meski berjalan jauh.
Pantauan Satelit
Pulau Gili Iyang0004Carik Desa Banraas, Mutawajih, menuturkan, keistimewaan udara di pulau ini diketahui tahun 2006 lalu. Saat itu, peneliti di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mendapati dari pantauan satelit bahwa kandungan oksigen di pulau tersebut cukup tinggi. Akhirnya LAPAN melakukan penelitian selama tiga bulan di tempat itu dengan menebar delapan alat pengukur kandungan oksigen di udara.
Selama tiga bulan, penelitian dilakukan terus menerus, sampai akhirnya LAPAN benar-benar mendapati bahwa kandungan udara di Gili Iyang cukup tinggi. Bahkan sekali waktu, ketinggian kandungan oksigen di tempat itu mengalahkan Laut Mati di Yordania.
Penelitian itu diperkuat lagi dengan temuan Balai Besar Tekhnik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jawa Timur.
Temuan tim juga mengejutkan, mengingat peneliti mengambil sampel glukosa secara acak di dua desa, yakni Desa Ban. Hasilnya, berdasarkan sunvey sementara, kadar oksigen di pulau itu mencapai 21,5 persen. Hal itu tak jauh berbeda dengan hasil survey Badan Lingkungan Hidup (BLH) jatim 2011 silam.
Munculnya kandungan oksigen yang cukup tinggi itu karena pengaruh perputaran udara dari laut sekitar pulau itu. “Kawasan Pulau Gili Iyang itu masih belum banyak pencemaran udara, kawasannya masih alami dan bersih,” katanya.
Masih menurut Mutawajih, kualitas udara di desanya itu sudah terbukti dan dirasakan masyarakat setempat. Salah satu bukti adalah kualitas kesehatan masyarakatnya yang jarang terserang penyakit. Usia warga juga relatif lebih panjang.
Di Gili Iyang, kebanyakan yang lebih dulu meninggal laki-laki. Sebab mayoritas mereka itu perokok, sedangkan yang perempuan tidak. “Di sini perempuan usianya bahkan bisa sampai 100 tahun lebih,” katanya.
Ya, berdasar pengamatan, di pulau ini memang terlihat banyak perempuan yang usianya sudah sangat lanjut. Namun yang mengherankan, kondisi mereka cukup sehat untuk beraktivitas, seperti bercocok ta nam hingga mencari rumput untuk ternak. Sedangkan kaum laki-laki, terutama yang masih muda dan kuat, lebih memilih bekerja sebagai nelayan.
Satu hal menyenangkan mengunjungi pulau ini adalah masyarakatnya yang ramah menyambut ke- datangan tamu. Warga dengan suka rela bukan saja menyambut, namun juga baramai-ramai mengantar menuju lokasi-lokasi yang menjadi pendukung wisata di Pulau Gili Iyang, seperti Gua Mahakarya yang baru saja ditemukan warga dan sisa-sisa peninggalan Kerajaan Sumenep.
Rumah Tinggal
Pulau Gili Iyang0005Diceritakan oleh Akhya, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Gili Iyang, konon Gili Iyang merupakan pulau tempat diasingkannya salah seorang selir raja Sumenep. Sebab itulah dalam sejarah raja-raja Sumenep cerita tentang selir dan pulau ini tidak pernah ada, karena selir dianggap sesuatu yang tidak baik bagi lingkungan kerajaan. Waktu itu pulau ini dikenal dengan sebutan Pulau Aulia. Konon kemudian ada seorang raden yang mengetahui dan tergila-gila pada selir yang tinggal di pulau ini. Akhirnya mereka pun hidup bersama dan menetap.
Menurut Akhya, karena begitu tergila-gilanya sang raden dengan putri dari pulau Aulia itulah sehingga pulau ini disebut dengan pulau Gili Iyang. Kini jalanan di pulau itu dinamakan Jalan Potre.
Akhya bertutur, saat ini warga Gili Iyang sudah mulai menyadari akan potensi wisata di kawasannya. Warga pun sudah mulai membuat buah karya atau kerajinan yang bisa dijadikan oleh-oleh. Antara lain, berbagai ikan yang diasinkan, mainan khas warga, hingga souvenir gelang, kalung dan kaos bertulis Pu¬lau Gili Iyang.
Setiap bulan, dipastikan selalu ada wisatawan yang berkunjung, antara 5-10 orang, Bahkan, kata Akhya, wisatawan beretnis china dari Jakarta berkunjung dengan tujuan agar kondisi kesehatannya semakin membaik. Pemkab Sumenep kini berminat mengembangkan. Rencana lokasi ini akan dijadikan wisata kesehatan dengan dibangun beberapa rumah tinggal agar ada swadaya dari warga setempat. (sti) •*•
majalah POTENSI, Edisi 44 / Agustus 2014, halaman 42-45

PROVIL OMAH MUNIR

MUNIR 1OMAH MUNIR adalah sebuah agenda kerja yang menjadikan sosok paling beharga dalam sejarah perjuangan penegakkan HAM di Indonesia, yaitu Munir Sid Thalib (1965-2004), menjadi medium pendidikan HAM di Indonesia melalui bentuk Omah. Dalam kaitan ini, ia menjadi Omah pertama di Indonesia yang dalam hal koleksi dan tema mengangkat masalah-masalah Hak Asasi Manusia.
Diresmikan tanggal 8 Desember 2013, berdiri di rumah pribadi Suciwati yang berlokasi di Kota Batu, Jawa Timur, dalam lintasan strategis menuju wilayah wisata kota Batu, Omah ini menyimpan ragam koleksi pribadi almarhum Munir, kisah-ki sah perjuangannya sejak mengawali kari sebagai pengacara di kantor LBH Malanc & Surabaya, sampai dengan masa akhi hidupnya di Jakarta dalam beragam aktivitas kerja yang dilakukannya.
Di luar koleksi pribadi Munir, dan informasi sekitar diri pribadinya, Omah ini juga menyampaikan beragam informasi terkait dengan sejarah perjuangan HAM di Indonesia selama tiga dekade kekuasaan otoriter rezim Orde Baru dan satu setengah dekade periode reformasi, la akan menghimpun isu-isu penting seperti kekerasan negara terhadap individu, persoalan impunitas yang masih berlaku dalam budaya politik Indonesia, dan ter masuk juga kisah-kisah perjuangan para aktivis HAM seperti pernah dicanangkan tokoh-tokoh terdahulu seperti Yap Thian Hiem, HJ.C. Princen dan lainnya.
Selain berbantuk museum, omah munir juga dilengkapi ruang perpustakaan, mini convention, ruang eksibisi, kantin, dan toko souvenir.

VISI MISIMUNIR 2
Visi berfokus pada penciptaan medium populer yang memberikan kepada para audiensnya, tua dan muda, terdidik dan tak terdidik, sebuah gagasan ideal tentang keadilan yang patut menjadi cita- cita perjuangan warga negara yang sadar. Sedangkan Misinya berpijak pada upaya memberikan kelengkapan medium yang menjadi instrumen strategis pendidikan nilai-nilai universal hak asasi manusia kepada para siswa dan pengajar sekolah menengah, mahasiswa perguruan tinggi, dan masyarakat umum. Melalui Omah ini, para pengunjung akan belajar sejarah yang lengkap beragam dimensi persoalan HAM yang ada dalam sejarah Indonesia, dan sekaligus mendapatkan bahan-bahan keleng¬kapan lebih lanjut untuk kegiatan penelitian HAM di Indonesia melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga perguruan tinggi, khususnya dalam bidang hukum dan hakasasi manusia.

MUNIR 3TUJUAN

1. Masyarakat luas dapat mempelajari nilai-nilai HAM universal dalam bahasa yang mudah dipahami melalui sosok Munir sebagai orang yang mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan nilat-nilai kemanusiaan di Indonesia sesuai dengan norma universal HAM;
2. Membangun karakter pribadi yang memiliki sikap anti-kekerasan, toleran terhadap perbedaan, dan menghargai martabat individual yang menjadi ciri vidual yang menjadi ciri dari keteladanan sosok Munir yang ditampilkan dalam Omah.
3. Mengingatkan orang bahwa perjuangan HAM bukan sebuah perjuangan yang final di era multi-partai dalam politik demokratis Indonesia pasca-reformasi. Masih ada sisi gelap di dalam kehidupan masyarakat yang masih membiarkan para pelaku kejahatan HAM hidup bebas tanpa hukuman, atau dengan kata lain impunitas tetap menjadi bagian dari budaya politikdi Indonesia sekarang ini.

Sumber Brosur Omah munir

Puspa Agro Jalin Kerja Sama Bisnis dengan China

Perkuat Jaringan Bisnis, Jajaki Kerja Sama Perdagangan, Alih Teknologi dan Investasi

Pengembangan jaringan bisnis yang dilakukan manajemen Pasar Induk Modern Puspa Agro tidak hanya dalam skala perdagangan antar pulau dalam negeri. Manajemen pasar induk agrobis terbesar dan ter­lengkap di Indone­sia ini juga mengembangkan jaringan bisnis untuk skala in­ternasional atau ekspor.

Hal ini dibuktikan dengan ditandatanganinya naskah kesepahaman (MoU) antara Puspa Agro dan Himalaya In­ternational Trade Co, Ltd, peru­sahaan multinasional asal Tian-jin, China, Kamis (23/2/2012) di Gedung Tani Puspa Agro. Pen­andatanganan MoU masing-masing dilakukan Ketua Badan Pelaksana (Bapel) Puspa Agro, Susono Hadinugroho; Managing Director Himalaya Interna­tional Trade Co. Ltd, Jasper Ho; dan Direktur PT Jatim Grha Uta­ma (JGU) Erlangga Satriagung.

Kerja sama yang disepakati di antaranya meliputi bidang perdagangan agrobis, alih teknologi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan investasi untuk produk olahan agrobis. Himalaya menyatakan minat terhadap beberapa komoditas asal Jatim yang selama ini diperdagangkan di Puspa Agro, khususnya buah dan sayur. Diantaranya, buah pepino, sirsak, manggis, salak, juga sawi.

Dengan kerjasama tersebut, peluang bisnis sektor agro makin terbuka. Dengan demikian, komoditas andalan Puspa Agro nantinya tidak hanya terdistribusi ke berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga akan menembus pasar ekspor, khususnya ke Tianjin, China.

Menurut Jasper Ho, besarnya penduduk Tianjin yang mencapai sekitar 30 juta jiwa merupakan peluang pasar yang bisa dimanfaatkan para pelaku bisnis di Jatim, khususnya Puspa Agro. Karena itu, saling tukar informasi untuk menghasilkan produk berkualitas akan dilaku­kan, di antaranya dengan men­girimkan tenaga ahli ke Jatim.

Tahun 2012 ini, manajemen pasar induk modern Puspa Agro memang fokus mengembang­kan jaringan bisnis, baik untuk skala perdagangan antarpulau maupun ekspor. Beberapa up­aya terus dilakukan, di antaran­ya terus mengembangkan jar­ingan bisnis di sejumlah provin­si di Indonesia.

Saat ini jaringan bisnis Puspa Agro telah terhubung dengan Kalimantan Selatan (Kalsel), Kalimantan Timur (Kaltim), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan (Sulsel), Gorontalo, Ma­nado, Ambon (Maluku), juga So­rong (Papua). Pengembangan jaringan bisnis terus dilakukan, di antaranya ke NTB, Kendari, juga Pontianak, dan berbagai daerah lain di Indonesia.

Untuk informasi-layanan, hubun­gi kantor Puspa Agro, Jl. Sawung-galing 177-183 Klethek (Jemundo), Taman, Sidoarjo. Telepon (031) 7878700 (hunting).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: BHIRAWA, SENIN-27 PEBRUARI 2012

ITC Mangga Dua

ITC Mangga Dua boleh dikatakan pusat grosir yang berada di Surabaya Timur sebagai layaknya Plaza di Surabaya, tawaran menarik berbagai jenis item misalnya Sepatu, Assesories, Tas, Butik, Garment, Kosmetik, Fast Food, diperoleh di ITe Mangga Dua. Biasanya harga barang relatif lebih murah kebanyakan item garment dis;ni dijadikan barang kulakan untuk dijual kembali di daerah lain.

Kehadiran ITC melengkapi derap bisnis di Surabaya yang merupakan pintu masuk gerbang ekonomi Indonesia Timur. Gedung ber AC dan disediakan lift terdiri dari 5 lantai yang masing – masing menyediakan selain department store ialah makanan dan minuman, Fashion, Perhiasan, Assesories, Tas, Kamera, Mobile Phones, Snack & Juice, Parfum, mainan anak – anak, dan Fast Food.Fasilitas parkir roda empat dan rada dua cukup memadai. Begitu juga bagi pengunjung yang ingin segera belanja ke ITC Mangga Dua dengan mudah dapat menggunakan segala jenis kendaraan umum. Sampai saat ini masih banyak gerai -gerai yang masih dibangun untuk memenuhi pelanggan (tenant). ITC Mangga Dua, JI. Bunguran Sby PT. Surabaya Mega Grosir

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Hiburan & Ketangkasan, Jawa Timur.  PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR, DINAS PARIWISATA,Tahun 2007, hlm. 68

Desa Patoman, Kec. Rogojampi, Kab. Banyuwangi

Desa Pecahan Sarat Potensi

Desa pecahan yang sarat potensi. Ungkapan itu layak diberikan untuk Desa Patoman, Kec. Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Ya, view laut biru yang tenang dan indah di Pantai Blibis maupun Pantai Gringsing layak dijadikan tempat Tekreasi keluarga. Lalu hamparan sawah, pohon kelapa, dan kakao, serta banyaknya ternak, maka tak salah dikembangkan sebagai intergrated farming (pertanian terpadu).

“Desa Patoman sangat memungkinkan dikembangkan sebagai desa wisata. Selain memiliki Pantai Blibis dan Pantai Gringsing yang indah, di salah satu dusun di desa itu dihuni warga keturunan Bali yang hingga kini tetap mempertabankan budaya Bali,”ujar Drs. Toyib Huda, SP, man tan pendamping PAM DKB dan JPES di desa itu.

Pemandangan laut di Pantai Blibis maupun Pantai Gringsing tidak kalah dengan Pantai Blimbingsari. Ombak dipantai itu juga relatif tenang sehingga cocok untuk memancing, berkeliling naik perahu, santai di tepi pantai bersama keluarga. Apalagi sekarang ini juga sudab ada yang buka warung ikan laut bakar di pantai tersebut.

“Selama ini orang hanya tahu Pantai Blimbingsari yang terkenal dengan lesehan ikan bakar, tapi sekarang orang perlu datang ke Pantai Blibis dan Pantai Gringsing,” ujar Toyib Huda.

Apalagi sekarang ini Pantai Blimbingsari saat ini sudah sangat padat dengan warung lesehan ikan bakar, sehingga ruang terbuka untuk arena bermain atau sekedar duduk-duduk relatif terbatas. Namun Pantai Blibis dan Gringsing terkesan alami. Memang terlihat kotor dan belum rapi, harus dibenabi serius jika dijadikan tempat wisata.

Juga banyaknya pohon kelapa, kopi, dan pohon cokelat (kakao) dapat dikembangkan sebagai sentra agrobis, seperti pabrik gula atau minyak kelapa. Namun yang tak kalah penting melestarikan dan mengembangkan budaya warga desa yang keturunan Bali sebagai ‘wisata budaya’.

Pernyataan Toyib dibenarkan Kades Patoman Drs. Suwito (44 tabun). Hanya saja, menurut Suwito, karena desanya masih baru, maka masih banyak yang harus dibenahi. Suwito lantas menyebutkan jalan menunju Pantai Blibis dan Pantai Gringsing masih makadam dan harus diaspal. Demikian juga jalan-jalan di desa banyak yang rusak.

Menurut Suwito, selama ini anggaran desa lebih difokuskan untuk pembangunan kantor desa. Selama ini pemerintahan desa menempati kantor dusun yang kondisinya seadanya dan tidak layak sebagai kantor desa. Ia ingin kantor desa memiliki tempat yang layak untuk melayani masyarakat dan menjalankan pemerintahan desa, seperti adanya ruang pelayanan dan rapat warga atau aparat.

“Saya juga ingin kantor desa memiliki tempat untuk merawat orang sakit, seperti pondok kesehatan desa,” ujar Suwito. Suwito lantas menjelaskan, Desa Patoman sebenarnya ‘desa baru’. Dulunya menjadi bagian dari Desa Blimbingsari, namun sejak2002 dipisah dari ‘desa induk’ dan memiliki pemerintahan sendiri. Karena belum banyak dikenal itulah, bantuan program dari pemerintah relatif sedikit.

Meski menjadi desa sejak 2002, namun tidak memiliki pemerintahan sendiri dan tetap mengikuti desa induk. Bam pada 2007 digelar Pilkades yang pertama kali di desa Patoman. Hal itulah yang menjadikan Desa Patomen jarang memperoleh bantuan program, karena lebih banyak dimanfaatkan ‘desa induk’. Baru pada tahun 2006-2007 mendapatkan program PAM DKB yang digunakan untuk perbaikan infrastruktur desa itu, seperti perbaikan jalan.

Pada tahu 2009 Desa Patoman mendapatkan ADD yang cukup besar, Rp 166,759 juta, sehingga dapat dimanfaatkan untuk banyak hal. Namun dana yang paling banyak untuk membenahi infrastruktur dan pembangunan kantor desa. Suwito juga berharap program-program dari pemerintah Provinsi Jatim turun di desanya.

“Tolong sampaikan pada Pakde Karwo agar desa kami juga memperoleh PAM DKB seperti dulu,”ujar pria keturunan Madura ini. (bdb)

Drs Suwito, Kades Patoman Pelihara Kerukunan Warga
MEWARISI nilai-nilai dan tradisi keberagaman menjadi tugas yang penuh tantangan bagi Drs. Suwito (44 tahun), Kades Patoman, Kec. Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Desa ltu memiliki keberagaman adat istiadat maupun agama yang telah berlangsung puluhan tahun. Ya, dari sekitar 4.764 jiwa terdiri dari warga yang memiliki kultur Jawa, Osing, Madura, dan Bali.

Apalagi di salah satu dusun di desa itu, yakni Dusun Patoman Tengah, sepenuhnya dihuni masyarakat keturunan Bali. Mereka masih kuat mempertahankan agama maupun budaya Hindu Bali. Suwito pun dituntut mampu menjaga kerukunan di desanya yang telah bertahan bertahun-tahun.

“Sampai sekarang masyarakat sangat menyadari kondisi seperti ini. Mereka meskipun warga keturunan Bali, tapi sebenarnya juga warga Desa Patoman,”ujar Suwito, yang menjabat kades sejak 2007 lalu.

Menurut Suwito, hal itu sudah menjadi kewajibannya dan seluruh tokoh maupun masyarakat di desanya. Bahkan mereka juga dilibatkan dalam setiap musyawarah maupun kegiatan di desa. Mereka juga memiliki kepala dusun dan perangkat dusun sendiri untuk mengelola wilayah dan lingkungannya.

“Apalagi mereka adalah pendukung saya dalam Pilkades lalu, jadi saya wajib melindungi warga minoritas,”ujar pria lulusan IAIN Sunan Ampel ini, sambil bergurau.

Saat ditanya pengalamannya menjadi kades pertama di desanya, Suwito mengaku banyak tantangan dan harus bekerja keras. Ia harus mengumpulkan segenap tokoh masyarakat untuk membentuk ‘perangkat’ pemerintahannya. Ia juga harus melakukan pendekatan intensif terhadap salah satu tokoh desa yang dikenal sangat disegan.

Sebelum menjabat Kades Patoman, Suwito sempat marantau di Arab Saudi selama 11 tahun, setelah lulus dari IAIN Sunan Ampel Surabaya pada 1994. Pada 2005 ia pulang dan aktif mengajar di beberapa sekolah, termasuk Madrasah Tsanawiyah. Saat ada Pilkades 2007, teman-temannya mendorong agar ia ikut. Singkat kata, Suwito melawan satu calon dan mendapatkan suara 2.500, sedangkan lawannya 1.300 suara. “Saat itu saya sangat aktif dalam kegiatan desa maupun organisasi NU dan Ansor,”ujar Suwito. (bdh)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Derap Desa, Edisi XXX April 2010