Masjid Agung Bangil

masjid-jami-bangilMasjid Agung Bangil terletak Jl. Alun-Alun Barat No.66 A, Kauman, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Bangunan masjid ini berdiri dengan megah, keberadaab masjid ini persis di sebelah barat Alun-alun Bangil. Konon, menurut cerita masyarakat setempat bangunan masjid ini adalah masjid tiban (tiba-tiba muncul), dalam arti bangunan yang terbuat dari kayu ini tiba-tiba muncul di tengah-tengah kota Bangil. Ada salah seorang Kyai yang menjelaskan bahwa masjid tidak begitu saja muncul dengan tiba-tiba, namun sengaja dibangun oleh seorang yang alim dengan dibantu para pengikutnya dan tidak ada masyarakat sekitar yang mengetahui proses pembangunan masjid tersebut.

Jumlah Pengurus Masjid Agung Bangil 16 orang, Imam 4 orang dan Khatib 12 orang,  masjid ini berdiri Tahun 1278 H. terbukti dengan data yang tertera pada artifak mihrob. Bangunan masjid ini bediri diatas sebidang tanah yang mempunyai keluasan 2.500 meter persegi, adapun status tanah tersebut merupakan tanah wakaf. Sedangkan Luas Bangunan mesjid 2.000 meter persegi. Daya Tampung 5.000 Jamaah. Masjid Agung Bangil adalah sebuah bangunan masjid dengan kontruksi yang terbuat dari kayu jati dengan jumlah tiang penyangga utamanya ada 4 buah,  yang masyarakat menyebutnya sebagai SOKO WOLU, yang masing-masing berukuran keliling 120 centi meter  dan tinggi 15 meter. Dipasak dengan 8 balok kayu jati berukuran 120 centi meter  dengan panjang 7 meter  , di tasnya yang saling memaku. Sekarang ruangan utama masjid telah mengalami renovasi, namun tetap mempertahankan keaslian bangunan masjid tersebut, tanpa menghilangkan bentuk aslinya.

Fasilitas ruang dan peralatan yang tersedia di dalam kompleks Masjid terdiri:

  1. Taman,
  2. Gudang,
  3. Tempat Penitipan Sepatu/Sandal,
  4. Ruang Belajar (TPA/Madrasah),
  5. Ruang Aula Serba Guna,
  6. Ruang Perpustakaan,
  7. Ruang Kantor Sekretariat,
  8. Penyejuk Udara/AC,
  9. Sound System dan Multimedia,
  10. Pembangkit Listrik/Genset,
  11. Ruang Kamar Mandi/WC,
  12. Tempat Wudhu,
  13. Sarana Ibadah ,
  14. Ruang dan peralatan Radio.

Kegiatan dalam kompleks Masjid Agung Bangil ini sudah demikian kompleks, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang cakupannya juga cukup banyak yakni: peribadatan, pendidikan keagamaan serta umum, sosial-keagamaan dan sebagainya, dengan demikian pihak pengurus dirangsang untuk mengusahakan sarana dan prasarana yang layak, adapun kegiatan – kegitan tersebut adalah:

  1. Peribadatan meliputi: Menyelenggarakan Sholat Jumat,  Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu Menyelenggarakan Dakwah Islam, Pengajian Rutin,
  2. Pendidikan umum meliputi: Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat,
  3. Pendidikan keagamaan meliputi: TPA,
  4. sosial-keagamaan: Pemberdayaan Zakat, Pemberdayaan Infaq, Pemberdayaan Shodaqoh dan Wakaf.

Selain itu masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti:

  1. Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam,
  2. Menyelenggarakan /Tabliq Akbar.

Pendirian Masjid ini waktu bangil masih menjadi kabupaten, hal tersebut terbukti dengan keberadaan makam Bupati Bangil yang terakhir yang bernama RT Soenjotoningrat leih dikenal dengan nama panggilannya Kanjeng Soendjoto atau Raden Soenjoto. Makam tersebut berada didalam komplek masjid tepatnya pada sisi bagian barat halaman masjid.  Banyak pengunjung Masjid Agung Bangil ini, biasanya para peziarah ke makam Wali Songo, biasanya mampir di masjid ini.

Makam Bupati Bangil ini dikelilingi sebuah tembok melingkar. Luasnya sekitar 10 x 20 meter persegi. Di makam itu, Kanjeng Soenjoto,panggilan karib lainnya selama jadi Bupati Bangil disandingkan dengan makam ayah dan ibunya. Di dalam makam itu, juga tampak beberapa pusara lainnya. Nama RT Soenjotoningrat masih terlihat meskipun buram. Sehari-harinya, makam keluarga besar Kanjeng Soenjoto ini dirawat Mariyati. Perempuan berusia 63 tahun yang rumahnya dekat dengan makam, namun tidak mau disebut sebagai juru kunci. Hampir setiap hari, Mariyati membersihkan makam. Ia rela mengabdi, sudah berpuluh-puluh tahun memegang kunci makam. Penziarah yang datang memang tidak banyak. Kalau pun ada, itu hanya pada waktu-waktu tertentu. Yakni, setiap Kamis sore atau sehabis hari raya Idul Fitri. Biasanya, cucu kanjeng Soenjoto  setahun sekali ziarah kesini.

——————————————————————————————–oleh: Dian K. Pustakawan Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur

Masjid Jamik Kota Malang

Masjid Jamik Malang keberadaan Masjid ini tepat di pusat kota Malang tepatnya terletak di sebelah Barat Alun-alun kota Malang. Pembangunan masjid ini selama delapan tahun,  diawali tahun 1882 M dan selesai tahun 1890 M. Semula bangunan masjid berdenah bujur sangkar berstruktur baja dengan bentuk atap tajug tumpang dua,  sampai sekarang bangunan ini masih dapat dilihat dan merupakan bagian dari bangunan induk bagian Barat. Perkembangan selanjutnya penambahan bangunan baru di depan bangunan aslinya. Berbeda dengan bangunan aslinya, bangunan tambahan juga berdenah bujursangkar dan berstruktur kayu, namun memiliki bentuk atap tajug tumpang tiga. Sehingga bangunan yang baru inilah yang sekarang terlihat puncak atapnya dari Alun-alun. Tahun 1950 terjadi perluasan lagi yakni dengan dibangunnya tempat wudu yang representatif dan ruang pertemuan serta ruang administrasi masjid di lantai atasnya. Masjid jamik ini dikelola dan menjadi milik Yayasan Masjid Jamik Malang dengan pengawasan dari Pemerintah Kota Malang.  Terdapat dua jalan masuk untuk menuju ke masjid ini bisa dari depan dari arah Alun-alun dan bisa dari belakang dari jalan kampung di belakang. Areal kompleks ini sekarang telah demikian padat dengan bangunan sehingga halaman depan yang semula cukup luas kini menjadi relatif sempit, untung di depannya terdapat alun – alun. Di belakang bangunan induk terdapat halaman belakang yang tidak begitu luas untuk keperluan pelayanan dan ruang transisi ke Unit Radio Pemancar Amatir, Taman Kanak-kanak, Musholla wanita serta serambi Samping.

Selain untuk kegiatan peribadatan, di Masjid Jamik Malang terdapat juga kegiatan – kegiatan sosial yang meliputi:

  • pembagian zakat,
  • pembagian daging korban,
  • remaja masjid,
  • taman kanak-kanak,
  • radio amatir untuk penyiaran dakwah,
  • perpustakaan dan sebagainya.

Dengan demikian maka fungsi masjid ini sudah mulai berkembang tidak hanya sekedar sebagai pusat peribadatan semata akan tetapi juga sudah mengarah sebagai pusat kebudayaan Islam.

Bangunan induk merupakan dua bangunan,  bangunan be­lakang (bangunan lama) yang berdenah bujur sangkar beratap genteng dan berbentuk atap tajug tumpang dua, sedangkan yang depan tumpang tiga. Serambi depan bangunan be­lakang merupa­kan pertemuan tengah depan dan be­lakang berbentuk emperan, sedangkan serambi bagian depan yang menghadap ke halaman merupakan dinding berlisplank pada bagian bawahnya dibuat bentuk-bentuk lengkung yang disangga dengan tiang/kolom beton jaraknya sama.

Pada bangunan induk tidak terdapat menara te­tapi tetap mempertahankan bentuk atap tajug. Bila dilihat dari sistem strukturnya yang tak memiliki balok tumpang (susun) maka bangunan tajug ini mirip sekali dengan bentuk bangunan Wantilan suatu ba­ngunan pertemuan dan bangunan upacara persembahan (sakramen) pada agama Hindu di Bali. Sedangkan menaranya terdapat pada bangunan serambi depan yang jumlahnya ada dua buah dan pada bagian main entrancenya terdapat satu kubah yang terbesar sedangkan empat buah lainnya terda­pat di serambi itu dan satu kubah kecil terdapat lagi di bangunan kantor. Jadi pada kompleks ini meskipun terdapat perluasan namun ternyata keaslian dari bangunan lama masih tetap dipertahankan sedangkan bangunan tambahannya yang baru itu meskipun dengan ben­tuk relung dan kubah yang berasal dari negara-negara Islam Timur Tengah ternyata dapat dipadukan dengan amat manis.

Ragam hias yang dipakai tidak menyolok dan ti­dak menjadikan ruang yang perlu kekhusyukan ini menjadi ramai. Ragam hias yang utama terdapat pa­da ruang Mihrab dan Mimbar. Mihrabnya di bagian pelengkung atasnya terdapat ukiran kayu yang cu­kup halus dengan warna keemasan. Demikian pula mimbarnya yang menyerupai singgasana terbuat da­ri kayu jati penuh dengan ukiran yang keemasan. Sedangkan di atas pintu terdapat lubang ventilasi yang ditutup dengan teralis besi dengan ornamen dari besi cor yang cukup halus. Di samping itu penyelesaian dinding temboknya cukup teliti dan serasi baik dengan hiasan tonjolan tembok maupun yang berbentuk ornamen yang menempel pada tembok. Penyelesaian kolom-kolom pada serambi juga cukup halus dengan memakai pola kepala-badan-kaki.

Proporsi bangunan masjid ini cukup baik se­hingga bangunan ini memiliki tampang yang cantik dan antik. Skala keagungan di ruang luar dicerminkan dengan menjulangnya dua buah menara, kubah dan atap tajug. Pola bentuk yang dipakai juga cukup serasi yakni dengan menggunakan bentuk lengkung di bagian serambi dan segitiga di ruang liwan. De­ngan demikian maka pola ini mencerminkan keanggunan bangunan ini.

Bangunan – bangunan samping merupakan bangunan baru dengan konstruksi baru, Gedung pertemuan dan administrasi bangunan dua lantai dengan konstruksi beton bertulang dan beratap dasar, pada bagian bawahnya dimanfaatkan untuk tempat wudu pria.  Sedangkan bangunan untuk musholla wanita pada lantai bawahnya sebagai tempat wudu wanita juga berlantai dua berkonstruksi beton tetapi beratap limasan dari genteng. Gedung taman kanak-kanak yang juga untuk unit siaran radio pemancar merupa­kan bangunan satu lantai dengan atap berbentuk limasan. Penambahan – penambahan ba­ngunan samping berlantai dua itu selain sangat fungsional juga padat manfaat.

Dapat dikatakan bahwa pengembangan dan perluasan fisik masjid jamik ini cukup berhasil sebab keaslian bangunan semula tidak dirusak sedangkan bangunan tambahannya dapat menyesuaikan diri dengan yang lama tanpa mengurangi ciri-ciri kemajuannya.

Pembagian ruang pada kompleks Masjid Jamik Malang ini terbagai sesuai kebutuhan sebagai berikut:

  • Ruang penitipan,
  • Serambi,
  • Liwan,
  • Ruang Mihrab, mimbar dan ruang penyimpanan Kitab Suci Al-Quran,
  • Ruang Kantor Takmir Masjid,
  • Ruang Pertemuan,
  • Ruang Jaga,
  • Ruang Unit RADAM,
  • Ruang Taman Kanak-kanak,
  • Ruang wudu pria dan wudu wanita,

Penerangan siang hari di dalam bangunan in­duk menggunakan sinar Matahari melalui pembukaan dinding-dinding luar berupa pintu, jendela dan boventlicht serta penerangan atas melewati sela-sela atap tumpang yang ada. Dengan demikian maka suasana penerangan ini menjadi temaram sehingga suasana sebagai ruang suci yang memerlukan kekhusyukan sangat cocok. Penerangan di Serambi depan dan samping cu­kup optimal karena dinding luarnya transparan de­ngan bentuk relung dan tiang penyangganya. Namun penerangan di tempat wudu pria kurang karena jendela atas hanya dari satu sisi saja. Kantor dan ruang pertemuan mendapat penerangan yang cukup sesuai dengan fungsinya masing-masing. Pada bangunan induk dan Serambinya ventilasinya cukup baik sebab bisa terjadi ventilasi silang. Demikian pula pada ruang pertemu­an. Namun di dalam ruang wudu pria ventilasi ku­rang memadai karena tak dapat terjadi ventilasi si­lang sehingga terjadi kelembapan udara.

Akustik di ruang Liwan juga cukup baik karena hampir semua dinding banyak terdapat pembukaan. Sehingga pemasangan pengeras suara tidak mengalami gangguan yang berarti. Kebersihan bangunan-bangunan sakral dan pelengkapnya cukup memadai. Ruang Liwan dan Se­rambi cukup hygienis. Demikian pula tempat wudu cukup hygienis, baknya memakai kran yang cukup banyak jumlahnya dindingnya dilapisi porselin ukuran 11×11 cm2, sedangkan lantainya dari tegel wafel warna kuning, pembuangan air limbah tersalurkan dengan baik. Penghawaan tertolong oleh keluasan alun – alun, namun penerangannya kurang karena padatnya bangunan. Ketinggian lantai bangunan sakral yang kurang lebih 105 cm dari muka tanah sekitarnya itu ikut menunjang kesucian bangunan ini.

Arah kiblat bangunan masjid ini sudah mengarah ke Makkah. Dengan demikian maka arah saf salat juga menjadi tertib. Hanya suasana dan bentuk ruang Liwan yang terpaksa menjadi memanjang ke depan ini kurang begitu baik ditinjau dari tatakrama salat. Jumlah tiang di bangunan baru yang 20 biji itu cukup mengganggu sedangkan pada bangunan la­ma yang mempunyai luas yang sama justru ha­nya menggunakan empat tiang saja sehingga tidak mengganggu.

Suasana kekhusyukan cukup baik sebab ba­ngunan ini terpisahkan dari tetangga dengan tembok tinggi atau dengan batas bangunan lain. Sedangkan suasana ruang dalamnya di bawah atap tumpang terasa suasana agung karena langit-langitnya langsung menempel pada usuk, sehingga kesan ruang yang memusat dan mengarah ke atas ini cukup terasa.


————————————————————————————–———————————-Dinukil oleh: Dian K. (Pustakawan); 
dari: Koleksi Lokal Konten Deposit  Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur
Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur./Ir. Zein M. Wiryoprawiro/Surabaya: Bina Ilmu,  1986        CB-D13/1986-6[1]

MASJID MUJAHIDIN SURABAYA

Masjid Mujahidin Surabaya

Masjid Mujahidin berlokasi di Jalan Tanjung Perak Barat No. 275 di daerah kawasan pelabuhan berada di Surabaya utara. Letaknya berada di tengah kawasan pemukiman dan daerah penunjang kegiatan pelabuhan. Keberadaan masjid ini seakan ditengah jalan sebab sekeliling masjid merupakan jalan, sebe­lah Timur jalan dua jalur Tan­jung Perak Timur dan Tanjung Perak Barat, samping Selatan dan Barat terdapat jalan masuk ke wilayah pemukiman dan sebelah Selatan berdampingan dengan Jalan Teluk Aru yang menuju ke daerah pemukiman. Jalan masuk utama terdapat di Jalan Perak Barat dan samping Utara.

Kawasan sekitar masjid  kini padat dengan bangunan, namun tetap teratur untuk memenuhi kebutuh­an penghawaan, penerangan alami dan penghijauan agar tetap tercukupi. Di samping kompleks masjid diseberang jalan masih terdapat areal untuk keperluan pendidikan keagamaan dan pemondokan. Halaman depan terdapat taman serta perluasan salat dan sebagian untuk tempat parkir. Hala­man belakang tidak ada namun terdapat dua halaman pada sisi kiri-kanan bangunan induk. Pengaturan ini agar masjid tetap mendapat prioritas utama sedangkan fasilitas pendidikan dan kemasyarakatan diletakkan pada bagian samping dan lantai kedua.

Sejarah Pembangunan Masjid.

Untuk menampung kegiatan peribadatan masyarakat, kawasan pelabuhan Tanjung Perak dan pangkalan Angkatan Laut Rl diperlukan adanya masjid jamik. Tersebutlah, H. Sabran Gazali ketua Panitia Pendiri Masjid Jamik Tanjung Perak Su­rabaya, pada tanggal 25 Agustus 1955 telah mendapat izin dari Direktur Pelabuh­an Surabaya untuk mendirikan kompleks masjid ja­mik itu pada sebidang tanah seluas kurang lebih 5022 m2 di Jalan Tanjung Perak Barat No. 275.  Akhirnya panitia berhasil membangun masjid yang diidamkannya, atap liwan berbentuk piramida dari genteng dengan kubah besar di atasnya, serta 2 buah kubah kecil pada kedua sudut depan.

Disamping kegiatan peribadatan masjid ini juga mengelola lembaga pendidikan yang semakin hari tumbuh dengan pesat, baik yang bersifat keagamaan maupun pendidikan umum. Maka untuk itu diperlukan sarana dan prasarana yang layak sebagai penunjang tercapainya tujuan pendidikan yang baik, maka diperlukan tambahan bangunan yang baru. Pada tahun 1979/1980 mendapatkan sumbangan dana dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sebesar US. $ 100.000-.

Pembangunan perluasan masjid ini dikelola sendiri oleh Yayasan dan tidak diborongkan kepada pihak lain. H. Djakfar Yasman, seorang purnawirawan TNI AL sebagai pimpinan yayasan, mengelola dana tersebut dengan tertib, jujur dan berwibawa, dengan sistem menejemen terbuka. Dibantu dengan dua tenaga dari Institut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) yang menangani bidang arsitektur dan bidang teknik sipil, Ir. Zein dan Ir. Udman Hnf. Selanjutnya mulailah pembangunan perluasan masjid ini. Diawali dari serambi depan yang terbuat dari konstruksi beton dibongkar dan dibuatlah bangunan berlantai dua bagaian bawah sebagai serambi masjid dan kantor serta pengelola masjid, adapun lantai atas digunakan untuk keperluan pendidikan dan pertemuan. Upaya perluasanpun tidak berhenti setapak demi setapak berjalan terus sesuai dengan laju perkembangan dana yang terkumpul. Maka dibangun lagi bagian utara untuk kegiatan pendidikan ba­ngunan dua lantai empat local, tempat wudu dibongkar dan dipindahkan di sebelah Selatan halaman depan.

Kegiatan dalam kompleks masjid jamik ini sudah demikian kompleks, sebab kegiatan di sini melibatkan segala umur dan segala jenis kelamin. Bidang yang dicakup juga cukup banyak yakni: peribadatan, pendidikan keagamaan, pendidikan umum, kesehatan, sosial-keagamaan dan sebagainya, dengan demikian pihak yayasan dirangsang untuk mengusahakan sarana dan prasarana yang layak.

Ketua Yayasan Masjid Mujahidin dibantu langsung oleh sekretaris, pembukuan, keuangan dan urusan material. Ketua membawahi unit-unit usaha yakni:

  • pendi­dikan meliputi, TK, SD, SMP, SMA, MTs, MA, PGA dan Pesantren,
  • BPH masjid memiliki Seksi Ibadah dan Seksi Ceramah,
  • Radio PTDI,
  • Badan Dakwah memiliki Seksi Perpustakaan, Seksi Majalah dan Seksi Wanita,
  • Unit Pramuka dan Kepemudaan mempunyai Seksi Bela Diri dan Gugus Depan Pramuka,
  • Poliklinik meliputi Pengobatan, BKIA. dan pengurus jenazah/ambulan.

Selain itu masih terdapat kepanitiaan yang bersifat temporer seperti PHBI, Panitia Zakat Fitrah dan sebagainya. Pendidikan non formal juga dilaksanakan seperti kuliah subuh, kuliah bakdal isyak, ceramah radio, dan kursus bahasa Arab. Demikian kegiatan periba­datan, kemasyarakatan dan sosial untuk dewasa dan orang tua, pembinaan dan pendidikan bagi anak dan remaja, semua mendapatkan tempat yang luas, tercermin sudah fungsi masjid jamik ini sebagai pusat peribadatan sekaligus merupakan pusat kebudayaan. Namun pemugaran- pemugaran untuk perluasan sarana pendidikan atau sebagai pusat kebudayaan tetap mempertimbangkan kondisi semula bahwa fungsi masjid sebagai pusat peribadatan tidak terganggu, bahkan pengurus mengkondisikan dengan suasana yang saling menunjang. Dari jauh kompleks masjid ini ditandai dengan kubah besar yang menjulang tinggi sedangkan setelah sampai ke pintu gerbang atau halaman ditandai de­ngan bangunan serambi bertingkat yang tertib dan representatif.

Ruang – ruang yang terdapat di dalam kompleks Masjid terdiri:

Pada lantai bawah terdapat ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Liwan pria,
  2. Mimbar dan Mihrab,
  3. Ruang mekanik/monitoring (mezanine),
  4. Liwan wanita,
  5. Serambi,
  6. Ruang Guru,
  7. Ruang Keamanan Masjid,
  8. Kantor Badan Kerjasama Masjid Jawa Timur,
  9. Tata Usaha,
  10. Ruang Ketua Yayasan,
  11. Ruang Kepala SMP,
  12. Show room/Ruang kursus,
  13. Kamar mandi/WC,
  14. Tempat wudu pria,
  15. Tempat wudu wanita,
  16. Taman kanak-kanak/Pra karya,
  17. Kantin,
  18. Ruang Stasiun Radio PTDI,
  19. Ruang Kepala SD,
  20. Ruang kelas SD,
  21. Ruang kelas SMP,
  22. Garasi ambulance,
  23. Poliklinik – BKIA,
  24. Pemondokan pegawai masjid,
  25. Ruang Kepramukaan dan Pemuda,
  26. Telepon umum,
  27. Ruang mekanikal,
  28. Tempat sepeda murid.

Pada lantai dua terdapat ruang-ruang sebagai berikut:

  1. Kelas-kelas untuk SMA
  2. Kelas-kelas untuk SMP
  3. Ruang Tata Usaha SMA
  4. Ruang Kepala SMA
  5. Koridor
  6. Ruang pertemuan Besar/guna ganda
  7. Ruang Osis
  8. Laboratorium Kimia
  9. Bak penampung air atas
  10. Ruang Pengawas.

Penerangan ruang sistem alami kecuali ruang mekanik memanfaatkan ruang bawah tangga yang tak berjendela. Penerangan malam hari, dalam ruangan menggunakan lampu TL untuk bagian luar lampu pijar/baret, aliran udara tak sampai ke dalam ruangan Liwan meskipun ketiga dindingnya terbuka, sehinga dipasang kipas angin beberapa buah pada langit-langit ruang liwan dan mihrab, ruang serambi dan kantor ventilasi cukup memadai. Sistem akustik memakai satu loudspeaker tunggal yang besar diletakkan di pojok depan sebelah Selatan ruang liwan, sehingga semua anggota jamaah dapat mendengarkan.

Lantai masjid tegel teraso ruang liwan ditutup dengan karpet warna hijau, semua tempat wudu hygienis dengan kran mancur dan dindingnya dilapisi porselin ukuran 11×11 cm. Tempat wudu pria dibuat relatif terbuka sedemikian sehingga mendorong secara psychologis agar para anggota jamaah yang bersuci untuk selalu mematuhi norma-norma kebersihan, tempat wudu wanita disediakan ruang wudu tersendiri yang lebih terlindung memegang norma kebersihan dan kesopanan. Kamar mandi dan WC tersedia di bagian de­pan dan samping Utara, dinding dilapisi porselin lantai dari mosaic tile dengan peralatan sanitasi modern.

Kesatuan ruang ibadat cukup terbina hampir dari setiap bagian ruang dapat melihat kearah mihrab dan mimbar, karena liwan dan serambi relatif terbuka dibatasi jendela dan pintu kaca dengan kosen alumunium. Antara liwan wanita dan liwan pria dibatasi oleh jendela dan pintu kaca yang tembus pandang. Koridor atas juga dilengkapi dengan jendela penghubung pandang ke li­wan pria/mihrab sehingga menyatukan kekompakan ruang.

Ruang-ruang kelas di samping atas Selatan yang digunakan untuk perluasan ibadah salat tarawih saat bulan Ramadhan, juga dibuat jendela penghubung pandang ke ruang liwan pria dan  dilengkapi pula de­ngan pengeras suara.

Ruang liwan, mihrab dan mimbar meniadakan ragam hias, warna dinding dan langit-langit didominasi warna putih. Warna lantai/karpet hijau dengan baris saf salat strip kuning kecoklatan.

Masjid ini cenderung sederhana, mimbar untuk berkhotbah dari papan kayu seperti layaknya mimbar untuk berpidato.

Kekhusyukan di dalam ruang liwan cukup terjaga, selain ruang-ruang pendidikan terpisah di luar atau di lantai atas, pada saat salat jamaah semua kegiatan dihentikan dan semua siswa dan guru bersama-sama mengerjakan ibadat.

Untuk memnampakan sebagai ba­ngunan masjid, maka tampak depan masjid jamik ini dibuat bentuk-bentuk lengkung yang sekaligus merupakan kerangka pemegang penyaring sinar matahari/sun screen. Jadi hiasan ini pun bersifat fungsional, bukan sekedar keperluan estetika semata.

————————————————————————————–———————————-Dinukil oleh: Dian K. (Pustakawan); 
dari: Koleksi Lokal Konten Deposit  Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur
Perkembangan arsitektur Masjid di Jawa Timur./Ir. Zein M. Wiryoprawiro/Surabaya: Bina Ilmu,  1986          CB-D13/1986-6[1]

Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto

Masjid-Agung-Al-Fattah

Masjid Agung Al-Fattah di Kota Mojokerto terletak di jalan KH Hasyim As’ary 1, Kauman, Kota Mojokerto ini merupakan tempat ibadah umat Muslim tertua, dperkirakan berusia lebih dari satu abad. Masjid yang terletak persis di sisi barat Alun-alun  kota Mojokerto. Masjid Agung Al-Fattah didirikan oleh pada saat kepemimpinan Bupati Mojokerto RAA Kromojoyo Adinegoro. pembuktian tersebut dikuatkan dari catatan surat almarhum Mohammad Thohar, Panitera Pengadilan Negeri  yang sekaligus Pengurus Kas Masjid. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid ini dilakukan pada Ahad Pon 7 Mei 1877 atau 1294 Hijriyah. Pembangunan masjid ini memakan waktu yang cukup lama, hampir satu tahun. Karena mulai dari peletakan batu pertama seperti tersebut diatas baru bisa dipakai kali pertama salat pada 12 April 1878 M/1295 H.

Arsitektural pada bagian dalam interior Masjid terdapat Empat soko guru atau tiang penyangga setinggi 20 meter tanpa Sambungan sampai sekarang masih kokoh berdiri sebagai saksi sejarah, kayunya didapatkan dari Hutan Jabung. Soko Guru di sebelah barat daya merupakan wakaf dari Mbok Rondo Dadapan yang tinggal di Kecamatan Jetis. Seorang pengusaha perempuan pada waktu itu. Tampilan eksterior berupa kubah Stupa Limasan merupakan ide dari Raden Aeresedan putra dari Raden Bagus Anom Kromojoyo Adinegoro II dalam melakukan syi’ar agama Islam. Saat itu beliau memegang wilayah Kabupaten Lamongan, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang. Sehingga bentukan atap Stupa Limasan masjid pada tiga wilayah tersebut, memiliki bentuk kubah yang serupa. Hali ini dibuktikan dengan peninggalan prasasti yang masih bertahan, terdapat di masjid Baitul Amin yang berada di Perak-Jombang, serta masjid di Gemek Sooko-Mojokerto, berupa papan dengan aksara jawa, arab, latin juga di Masjid Al Mustofa di Losari Terusan-Mojokerto, dan Kubah Masjid Agung Kota Lamongan sampai sekarang masih dipertahankan.

Tanggal 1 Mei 1932, pertama kalinya masjid ini direnovasi oleh panitia pemugaran yang terdiri dari Bupati Kromojoyo Adinegoro dan diresmikan pada 7 Oktober 1934 oleh M.Ng Reksoamiprojo, pada masa bupati IV – V. Tanggal 11 Oktober 1966, masjid ini diperluas oleh R Sudibyo dan diresmikan pada 17 Agustus 1968. Setahun kemudian, tepatnya 15 Juni 1969 Bupati Mojokerto RA Basuni juga melakukan perluasan lagi, peresmian dilakukan bertepatan dengan moment peringatan 17 Agustus 1969. Perjalanan sejarah berdirinya masjid hingga setelah hampir 100 tahun berdiri, ternyata masjid ini masih belum memiliki nama. Kemudian melalui seorang Ulama terkenal ialah KH Achyat Chalimy pengasuh Ponpes Sabilul Muttaqin memberi nama masjid ini dengan nama Masjid Jami’ Al Fattah.

Tanggal 4 April 1986, pada masa jabatan Wali Kota Mojokerto Moh. Samiuddin bangunan masjid Jami’ Al Fattah mengalami pemugaran lagi, pemugaran tahap I. dilanjutkan pemugaran tahap II di lokasi sebelah timur atau depan masjid.  Pada masa pemerintahan walikota ini pulalah istilah Masjid Jami’ diganti dengan Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto.

Masjid Agung Al Fattah yang merupakan Masjid Waqaf  Kota Mojokerto tersebut, di kuatkan dalam Surat Sertifikat Waqaf  No. 559 diserahkan waqaf dari Haji Achmad Rifa’i Kepada Nadzir dengan susunan kepengurusan Haji Achmad Rifai sebagai Ketua Nadzir, Moch. Soeparlin sebagai sekretaris, H. Mas’ud sebagai Bendahara   yang diterbitkan pada 10 Juni 1994, selanjutnya Nadzir menunujuk Ta’mir Masjid Agung Al Fattah sebagai pelaksana kegiatan, dan untuk selanjutnya akan diperbaharui sesuai masa kepengurusan organisasi Takmir Masjid Agung Al Fattah selanjutnya. Selain itu Masjid Agung Al-Fattah Kota Mojokerto mengemban VISI dan MISI sebagai berikut.

VISI DAN MISI

MASJID AGUNG ‘’AL FATTAH ’’

Visi

Terwujudnya Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto sebagai tempat ibadah, pengembangan berbagai ilmu Pengetahuan  dan Pembangunan sosial keagamaan yang berasaskan Islam ahlus sunnah waljamaah

Misi

  1. Meningkatkan fungsi dan aktifitas masjid sebagai tempat peribadatan, dakwah, pendidikan, pengembangan kebudayaan, tempat musyawarah dan kegiatan sosial.
  2. Membangun suatu system pembinaan keilmuan yang mampu menghasilkan intelektual muslim yang berakhlakul karimah dan sanggup menghadapi tantangan
  3. Menjadikan Masjid sebagai media dakwah serta menjadi filter terhadap munculnya aliran Islam yang mengarah pada faham sekulerisme serta terjadinya pendangkalan agama dariberbagai sudut dan
  4. Menggali dan mengembangkan potensi jamaah masjid, sebagai upaya meningkatkan kwualitas kehidupan sosial ummat Islam serta sebagai upaya memakmurkan
  5. Memberikan pelayanan terbaik bagi ummat atas bernagai problema kehidupan yang mereka hadapai, sehingga mereka mendapat keamanan, kenyamanan, kemudahan serta ketentraman.

Setiap Rabu, diselenggarakan pengajian di tempat ini. Salah satu khotibnya adalah KH Masud Yunus yang lebih dikenal dengan panggilan Yai Ud (menjadi walikota Mojokerto  periode 20..-20..). , beliau sering memberi tauziyah saat pengajian Rebu, Orang nomer satu di Pemkot ini mempunyai jamaah pengajian yang dinamakan Al Umahaj. Hampir 10 ribu jamaah aktif.

Masjid Al-Fattah saat ini telah dilengkapi dengan fasilitas yang meliputi:

  • Perpustakaan,
  • taman pendidikan Al-Quran,
  • poliklinik,
  • koperasi,
  • tempat melaksanakan akad nikah.

Masjid Agung Al Fattah berusia lebih dari satu abad ini mulai 28 Mei 2015 di rehab dan direncanakan rampung akhir tahun 2018 mendatang, dalam rehabilitasi nantinya akan dilengkapi dengan empat kuba. Warna hijau akan mendominasi bangunan peribadatan yang berstatus waqaf,

Dari desain terlihat rehabilitasi akan mengubah drastis penampilan luar, Masjid Agung Al Fattah yang semula hanya memiliki satu menara itu akan dirombak menjadi bangunan baru lengkap dengan dua menara megah di sudut belakang. Nantinya masjid ini berlantai dua dengan empat kuba, dengan satu kuba utama. Rehabilitasi itu melibatkan arsitek yang memahami lanskap sejarah budaya masjid agung agar nilai historisnya tetap terjaga.

Meskipun terhitung rehab berat, namun nilai historis masjid tetap dijaga.  Rehabilitasi masjid agung masjid seluas 2.874 meterpersegi ini, mengembalikan khazanahnya sebagai ikon Kota Mojokerto. Zona inti masjid tetap dipertahankan, soko guru atau tiang penyangga akan tetap dipertahankan.  Panitiaan rehab dikawal 46 anggota kepanitiaan dari berbagai unsur dan elemen masyarakat, antara lain Wakil Gubernur Jawa Timur, Walikota Mojokerto dan unsur Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), para kyai dan tokoh masyarakat proaktif melakukan penggalangan dana. Diantaranya, membuka rekening donasi dan kupon donasi infaq dan sodaqoh.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi Dian K: Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2013

dari:
Profil Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto
Brosur  Panitia Rehab Masjid Agung Al Fattah Kota Mojokerto
Nara sumber:
Bpk. Choirul Anwar / Pertengahan 2015.

Masjid Al Akbar Surabaya

KOMUNITAS - Copy

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masjid bukan hanya tempat ibadah namun juga merupakan pusat kegiatan berdimensi luas, di masjid orang bermusyawarah, mengurus jenazah, melaksanakan manasik haji, menyelenggarakan wisata religi dan bahkan mengatur strategi perang. Maka tidak mengherankan bahwa di zaman modern ini banyak masjid dilengkapi dengan perpustakaan, sarana olah raga, fasilitas penyelenggaraan akad nikah dan sebagainya.

Surabaya ibukota Jawa Timur dan kota terbesar nomor dua di Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 4 juta jiwa dan 90% beragama Islam, Tidaklah berlebihan jika dikatakan disini bahwa perjuangan rakyat Surabaya di tahun 1945 adalah perjuangan umat Islam tercermin dalam pekikan takbir “Allahu Akbar”,  sebagai ajakan berjuang untuk arek-arek Suroboyo. Begitu pula semangat perjuangan rakyat Surabaya dalam menegakkan syi’ar Islam dan mendirikan masjid, terbukti dengan hadirnya 2000-an masjid. Meskipun memiliki cukup banyak masjid, masyarakat Surabaya berkeinginan untuk memiliki masjid berskala nasional baik fisik maupun fungsi ibadahnya.

Masjid Al-Akbar Surabaya merupakan wujud Impian umat Islam di kota ini. Masjid Al-Akbar didirikan di atas tanah seluas 11,2 hektar. Luas bangunan 28.509 m2 dengan kapasitas 36.000 jamaah, berlokasi di kawasan Pagesangan Surabaya Selatan, tepatnya di tepi jalan tol Surabaya-Malang. Masjid Al Akbar dibangun pada tanggal 4 Agustus 1995 atas gagasan Mantan Walikota Surabaya Soenarto Soemoprawiro. Sedang peletakan batu pertama oleh Wapres Try Sutrisno dan diresmikan Presiden KH Abdurrahman Wahid, 10 November 2000.

Salah satu daya tarik Masjid Al-Akbar Surabaya, adalah kubah masjid yang berbeda dari bentuk dan warna kubah masjid umumnya. Keunikan bentuk kubah ini bentuk kubah yang hampir menyerupai setengah telur dengan 1,5 layer memiliki tinggi sekitar 27 meter. Bentuk ini menumpu pada bentuk piramida terpancung dalam 2 layer setinggi kurang lebih 11 meter dengan bentang tumpuan atau diameter 54 m x 54 m.

Salah satu keunggulan corak Masjid Al-Akbar Surabaya, ialah menonjolnya corak ukiran dan kaligrafi yang menghiasi berbagai elemen di Masjid Al-Akbar Surabaya, banyak sekali dimunculkan ornamen ukir dan kaligrafi sebagai pelengkap struktur utama masjid. Secara umum, kondisi ini hampir sama dengan bentuk ornamen interior masjid jaman dahulu. Dimana bentuk ukiran dan kaligrafi banyak sekali menjadi penghias masjid-masjid besar di tanah air. Beberapa bagian yang umumnya dihiasi dengan ukiran dan kaligrafi adalah pintu, hiasan dinding di atas yang sering di ukir dengan kaligrafi, podium, dan beberapa elemen yang sering kali menghiasi masjid-masjid tempo dulu.

Beragam bentuk ukiran dan kaligrafi yang bisa disaksikan di Masjid Al-Akbar Surabaya ini, hendak memasuki masjid pengunjung sudah disambut oleh 45 pintu ukir dari kayu jati. Di serambi depan masjid nampak bedug besar yang berciri khas ukiran khusus, juga terdapat kentongan. Lebih masuk kedalam masjid, pengunjung akan disuguhi oleh ornamen ukir dan kaligrafi yang sangat dominan menguasai dinding-dinding masjid. Di mihrab, di relung imam, dan di dinding-dinding utama, di tempat-tempat rak Al-Qur’an yang tersebar di seluruh penjuru masjid, ukiran-ukiran bernuansa khas indonesia menghiasi dengan cantik dan anggun. Pun di ornamen atas yang penuh dengan kaligrafi Al-Qur’an sepanjang 180 meter dengan lebar 1 meter. Semua elemen ukir dan kaligrafi itu menambah keagungan dan keteduhan Masjid Al-Akbar Surabaya.

Keindahan masjid, adalah salah satu sentuhan yang menjadi perhatian penting, dukungan keindahan dalam hal penerangan Masjid Al-Akbar Surabaya, PT. Philips Ralin Electronics yang menata seluruh kebutuhan penerangan, dari kebutuhan penerangan dalam gedung, halaman, taman, hingga lampu yang menerangi kubah dan menara. Kelengkapan dan kemutakhiran teknologi dalam hal penerangan itulah, yang menjadi salah satu titik keindahan Masjid Al-Akbar Surabaya, pada malam hari jika seluruh tata lampu yang dimiliki dinyalakan secara menyeluruh. Menjadi pemandangan yang indah dan menyejukkan ketika malam hari.

Penunjang keindahan yang lain, adalah elemen interior seperti hiasan kaca patri, kaca ukir seni ini merupakan kekuatan dan keindahan tersendiri di bidang eksterior dan interior. Hiasan kaca patri yang dipergunakan, dibuat dengan sistem pelapisan panel kaca patri atau panel bevel dengan kaca tempered. Sistem ini selain bermanfaat menghemat energi, juga sangat baik untuk keperluan peredam suara bising. Pada jaman dahulu, dalam pembangunan masjid-masjid kuno, hiasan sejenis ini memang telah dipergunakan, dari segi corak, motif dan keindahan, kadang memiliki kekuatan yang sama.

Dalam menjalankan proses Pewarnaan, dipergunakan sentuhan warna elegan yang bisa memberikan suasana kesejukan bagi Masjid Al-Akbar Surabaya. Semua titik diberi warna yang serasi, dengan dominasi warna cerah. Hasilnya, dari segala sudut, Masjid Al-Akbar Surabaya nampak anggun, tenang dan nyaman. Sebuah kondisi yang dibutuhkan untuk menemukan titik konsentrasi ketika menghadap ke Illahi Robbi. Warna-warna cerah yang anggun ini, secara umum sama dengan kondisi pewarnaan pada masjid-masjid jaman dahulu. Kalu toh ada perbedaan, mungkin hanya sekedar pada tataran selera dan kemajuan teknologi.

Tapi yang jelas, walaupun perbedaan yang ada hanya beberapa, namun dengan sentuhan teknologi mutakhir dan dengan penggarapan finishing yang sempurnanya, Masjid Al-Akbar Surabaya nampak lebih agung, tenang dan membuat orang betah untuk tinggal berlama-lama menjalankan aktifitas perjalanan rohani didalamnya.

Lantai sebagai salah media yang berhubungan langsung dengan jamaah yang sholat di Masjid Al-Akbar Surabaya, panitia pembangunan proyek masjid mendatangakan langsung marmer dengan kualitas pilihan dari perbukitan di propinsi Lampung. Dipilih marmer yang berasal dari Lampung, karena ternyata kualitas lebih bagus dan harga sangat murah.  Marmer Lampung memiliki jumlah yang relatih banyak untuk bisa memenuhi selera warna sesuai kebutuhan. maka panitia pembangungan bisa leluasa menentukan titik-titik warna sesuai dengan kebutuhan. Dan keinginan untuk bisa menghadirkan warna-warna yang sejuk, damai, tenang dan nyaman di Masjid Al-Akbar Surabaya bisa dengan mudah direalisasikan.

VISI:

“Menjadi Rujukan Nasional dalam Da’wah, Ibadah, Pendidikan dan

Manajemen menuju Masyarakat Madani”
MISI :

Mengembangkan Da’wah dan Ibadah

Mengembangkan Pendidikan Akhlaqul Karimah

Mengembangkan Manajemen Masjid

Mengembangkan Fasilitas dan Arsitektur

MOTTO

“Ikhlas Profesional”
Motto ini mengandung arti bahwa: Pengelolaan MAS berorientasi pada ibadah semata, hanya mencari ridha Allah SWT, ditangani oleh personal yang ahli di bidang masing-masing. Unggul dan berdayaguna

NILAI :

Nilai yang dijadikan pedoman adalah Amanah, Istiqomah, Uswah, Mas’uliah dan Li jami’ il-Ummah

Amanah: Dipercaya dalam mengemban visi dan misi

Istiqamah: Konsisten dalam mengemban visi misi dan terus mengadakan inovasi.

Uswah: Menjadi teladan masjid lain dalam berbagai aspek.

Mas’uliah: Setiap langkah dan keputusan dapat dipertanggung jawabkan di hadapan Allah, umat dan stakeholders.

Li jami’ il-Ummah: Setiap praktek ibadah dapat diterima oleh semua umat Islam, sesuai syara’ dan peraturan perundangan yang berlaku.

PROGRAM UNGGULAN SETIAP DIREKTORAT MAS

  1. Direktorat Idarah : Menyempurnakan Implementasi Manajemen Sistem ISO 2001
    b. Direktorat Imarah/Ijtima’iyyah : Merealisasikan Jama’ah Satisfaction dalam 19 poin layanan
    c. Direktorat Shiyanah : Mewujudkan Kapasitas 80.000 jama’ah
    d. Direktorat Ma’had Aly : Mencetak Sarjana al Qur’an dengan 15 juz hafalan

 

menara

Fasilitas

  1. Masjid bertaraf Nasional,
  2. Dukungan Pemerintah Kuat,
  3. Kapasitas 75.000 orang jama’ah,
  4. Lokasi strategis, memiliki akses tool,
  5. Manajemen handal , memperoleh ISO 9001 – 2008,
  6. Dukungan dana masyarakat kuat,
  7. SDM pendukung sangat kuat,
  8. Area Parkir Luas dan Aman,
  9. Mengakomodasi seluruh faham / aliran,
  10. Imam para qori’ dan huffadz,
  11. Jadwal kegiatan padat terstruktur,
  12. Jejaring dengan masjid sekitar kuat ( 80 masjid pendukung binaan),
  13. fasilitas pendidikan PG/TK / RA , MI dan Ma’had Aly (mulai PG sd Perguruan Tinggi),
  14. Penggunaan IT dalam memasyarakatkan program,
  15. Menjadi tujuan wisata religi regional (masuk dalam paket wisata)
  16. Perpustakaan,
  17. Poliklinik,
  18. Thibbun Nabawi,
  19. Menara,
  20. Radio,
  21. Gedung,
  22. Infaq,
  23. Fasilitas Database Jama’ah,
  24. Konsultasi,
  25. Bimbingan Muallaf,
  26. Ayo Ngaji,
  27. TPQ,
  28. LAZ MAS.

 PROGRAM LAYANAN JAMA’AH MAS 
1. Sholat yang tepat waktu
2. Kebersihan tempat sholat terjaga
3. Imam / Khotib / Penceramah qualified
4. Sound system jelas
5. Pengatur shof yang menata
6. Bulletin yang cukup
7. Muadzin yang nyaman didengar
8. Air wudlu yang cukup dan bersih
9. Tempat wudlu tidak bau dan tidak licin
10. Kamar kecil tidak bau dan tersedia sabun
11. Tempat sepatu/sandal bersih dan aman
12. Kotak saran cukup dan responsif
13. Tempat parkir rapih dan aman
14. Tim pengaman yang melayani
15. Pusat informasi yang menjelaskan
16. Guide yang siap dan mampu
17. Ta’jil ramadlan yang cukup dan layak
18. Pelayan ta’jil yang damai dihati
19. Manajemen yang komit terhadap kepuasan jamaah

MITRA DAKWAH

  1. Remas,
  2. Pengamal,
  3. Hisamal,
  4. Karang Werda,
  5. Club Jantung Sehat,
  6. Forkomas.

————————————————————————————–Dinukil oleh: Dian K.
Sumber: Sekretaeiat Masjid Alakbar

 

Masjid Jamik Sunan Giri

Masjid Jamik Sunan Giri ini berada di wilayah Gresik, 20 km dari kota Surabaya dan terletak di Kampung Sunan Giri, Kelurahan Sunan Giri, Kecamatan Kebomas, Kotamadia Gresik, Provinsi Jawa Timur. Masjid Jamik Sunan Giri berbatasan dengan pabrik PT Semen Gresik sebelah utara, sebelah selatan dengan jalan raya, sebelah timur dengan pemukiman penduduk, dan sebelah barat berbatasan, dengan pemakaman. Masjid berdampingan dengan kompleks makam Sunan Giri di Bukit Giri. Untuk mencapainya harus menaiki tangga sebanyak 105 buah.

Masjid Jamik Sunan Giri merupakan kompleks paling besar diantara masjid-masjid di Gresik. Luas lahan tanah 3.000 m2 dengan luas bangunan 1.750 m2. Kompleks ini terdapat dua buah pintu gerbang yang terbuat dari beton. Pintu gerbang tersebut mempunyai ukuran panjang 95 cm, lebar 1,5 m dan tinggi 3,5 m. Kompleks masjid terdiri atas ruang utama, serambi, dan bangunan lainnya.

Ruang utama
Ruang utama masjid dibentuk oleh empat buah dinding. Keempat buah dinding masjid tersebut terbuat dari tembok dan berdiri di atas pondasi setinggi 0,7 m. Tebal dinding 0,9 m, tinggi 6 m. Dinding utara dan selatan masing-masing tiga buah jendela. Pada dinding barat terdapat dua buah jendela. Pada ruang utama lama terdapat juga tiang-tiang yang berjumlah empat buah dengan empat persegi.

Pada setiap dinding terdapat pintu-pintu dengan susunan sebagai berikut: satu buah ditengah sebagai pintu masuk dengan tiang empat persegi. Pintu utama diapit oleh dua buah tiang kiri-kanan. Pada bagian atas dibuat berlapis-lapis sehingga menyerupai pelipit. Jendela pada ruangan berada pada dinding barat dan utara saja. Jumlahnya ada enam buah dan masing-masing berukuran 1 x 3 m. Sedangkan daun jendela berupa kayu berukir. Jendela dilengkapi pula dengan teralis besi berjumlah enam buah berwama kuning berhias bulatan.

Ruangan ini terdapat tiang sokoguru atau tiang utama dan tiang penopang lainnya. Jumlah tiang secara keseluruhan adalah 16 buah. Sembilan buah merupakan tiang utama sedangkan sisinya merupakan penopang. Tiang utama berbentuk bulat. Bagian tiang penopang maupun tiang utama dilapisi porselin berukuran tinggi 30 cm.

Mihrab
Seperti masjid tua lainnya, Masjid Agung Sunan Giri memiliki mihrab yang merupakan sebuah ruangan yang menonjol keluar disisi barat, berukuran 1,5 x 1,2 x 3,5 m. Berbentuk ruangan kecil yang terbuat dari beton dengan dua buah tiang persegi empat berwama coklat tua tanpa hiasan. Dinding belakang pengimanan terutama pada bagian atas terdapat kuncup teratai. Atapnya terbuat dari semen dan berbentuk limas melengkung. Pada sudut-sudutnya terdapat tonjolan seperti mahkota. Tonjolan ini melengkung ke arah ujungnya seperti tanduk kerbau.

Mimbar
Mimbar mempunyai ukuran 1,3 m x 80 cm x 3,5 m. Menuju ke atas mimbar dijumpai pipi tangga yang yang juga berhias empat persegi panjang. Tangga mimbar terbuat dari kayu dengan empat buah anak tangga. Pada mimbar atas terdapat tiang persegi empat yang menopang puncak mihrab. Pada tiang mimbar ini dilapisi emas.

Serambi dan teras
Serambi terletak di sisi utara dan selatan masjid yang menyatu bangunan ruang utama. Di dalam terdapat ruangan berukuran 25 x 7,5 x 6 m. Tangga menuju ruangan menempel pada dinding barat. Kalau ingin menuju ke serambi dan teras tersebut terlebih dahulu menaiki anak tangga sebanyaklimabuah.

Bangunan lain
-Tempat wudhu dan WC
Tempat untuk mengambil air wudhu berjumlah dua buah yang berada di sebelah sisi timur menyatu dengan masjid berukuran 10x 2 x 6 m dan di sebelah utara tempat untuk mengambil air wudhu terpisah dengan masjid berukuran 5 x 2 x 4 m. Kedua tempat yang terpisah tersebut dapat dibedakan antara tempat pria dan wanita dan juga terdapat WC umum yang berada di sebelah utara.

-Bangunan pendopo
Bangunan ini berada di timur masjid. Tempat tersebut merupakan tempat peristirahatan bagi para peziarah yang berukuran 10,5 x 10,5 x 5 m, mempunyai tiang penyangga sebanyak dua buah yang terbuat dari kayu. Pendopo tersebut berbentuk empat persegi panjang. Pendopo tersebut dihiasi oleh keramik berwama putih polos. Di samping kanan terdapat ruangan untuk menyimpan bedug.

-Makam
Di daerah Gresik juga masih terdapat suatu kompleks makam diantaranya yang terkenal ialah makam Sunan Giri. Makamnya terdapat dalam suatu cungkup yang diberi ukiran dengan warna cat-cat asli (sebagian cat baru). Bentuk kubur maupun nisan-nisannya juga masih menunjukkan corak seni pahat klasik. Kita ketahui bahwa makam terutama adalah makam Sunan Giri hanya berdasarkan tradisi. Meskipun, demikian segi ilmu purbakala bentuk nisan dan kubumya masih menunjukkan kekuasaan dari sekitar abad 16. Kecuali itu dimana terdapat masjid kuno yang telah mengalami perubahan-perubahan. Bentuk arsitektumya tetap menunjukkan corak asli. Pintu gerbang pintu gerbang yang dibuat dari batu bata menunjukkan bentuk candi-candi bentar seperti pernah didapatkan pada zaman Majapahit. Tempat ini terkenal terutama sejak Sunan Giri (kemudian Sunan Prapen), sebagai tempat pesatren yang pengaruhnya sampai ke Maluku. Di sebelah barat masjid terdapat makam Muhammad Ainul Yaqin, Raden Paku, Raden Samudra, dan Prabu Satmoko.

– Latar Sejarah
Masjid Jamik Sunan Giri dibangun pada hari Ahad, 14 Muharram 1277 H oleh H. Ya’kub, dan selesai pada hari Ahad Ramadhan 1277 H. Pendiri Masjid Giri ialah Kanjeng Sunan Giri pada tahun yang disebutkan dalam candrasengkala yang berbunyi Lawang Gapura Gunaning Ratu. Bangunan ini berdiri diatas sebuah bukit Kedaton Seda Sidomukti yaitu suatu tempat dimana Kanjeng Sunan Giri berdiam dan memimpin Pesantren. Baru pada tahun 1407 S (menurut Candrasengkala berberbunyi Pendito Nepi Akerti Ayu) secara resmi oleh beliau dijadikan masjid jamik.

Masjid Jamik Sunan Giri didirikan telah lima kali mengalami perombakan dan penambahan serta pengecetan ulang. Terakhir dipugar pada tahun 1950 M oleh Panitia Kesejateraan Makam dan Masjid Sunan Giri, pada tabun 1975 pemah dilakukan pengecetan dan perbaikan atap, tiang-tiang masjid Sunan Giri oleh  PT. Semen Gresik.

——————————————————————————————-Artikel di atas dinukil oleh Dian K dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Masjid Kuno Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1999, Hlm.181-183, Deposit : CB-D13/1999-339.

Masjid Al Arfiyah atau Masjid Mojoduwur, Kabupaten Nganjuk

Desa Mojoduwur. Kec. Berbek Kabupaten Nganjuk, tepatnya lebih kurang 3 Km sebelah selatan Berbek atau lebih kurang 10 Km dari Kota Nganjuk. Desa ini memiliki Masjid yang sudah cukup tua umurnya. Dibuat pada Tahun 1726 oleh Kyai Arfiyah. Untuk mengenang jasa pendirinya, masjid tersebut kemudian diberi nama : Masjid Al Arfiyah. Atau masyarakat lebih mengenal dengan nama Masjid Mojoduwur.

Mengenai asal usul Kyai Arfiyah, menurut penuturan beberapa keluarga, berasal dari Sewulan Madiun. Kyai Arfiyah putra dari Kyai Djumalim, yang asal-usulnya dari Kyai Sambu – Pangeran Benawa – Djoko Tingkir – Ki Ageng Pengging – Maulana Iskak. Setelah menginjak usia dewasa dan sudah waktunya untuk menikah, pemuda Arfiyah diambil menantu oleh Basjarijah, seorang Kyai Pondok Pesantren di Sewulan Madiun. Namun karena wujud fisik Arfiyah yang kurang rupawan dibandingkan dengan ipar dan menantu Basjarijah yang

lain, maka ia tidak disukai oleh ipar-iparnya. Bahkan isterinya sendiri malu mengakui Arfiyah sebagai suaminya. Oleh karena itu, selama menjadi menantu Basjarijah, Arfiyah tidak tidur dirumah mertua, tetapi membuat tempat sendiri ditengah pekarangan (membuat gubuk), sehingga hal itu berlangsung sampai 4 tahun.

Karena merasa ditolak oleh isteri dan selalu diancam akan dibunuh oleh ipar-iparnya, maka Arfiyah kemudian meninggalkan Sewulan menuju ke arah timur. Perjalanannya itu baru berhenti setelah sampai di Kuncir (Dukuh Ngledok). Setelah tinggal beberapa saat di Kuncir, kemudian menuju Mojoduwur. Disini membuka lahan/baru untuk didirikan Masjid. Di Masjid yang didirikan itulah ia tinggal bersama murid- muridnya.

Sementara itu Basjarijah menyuruh mencari menantunya. Untuk keperluan, itu Basjarijah menyuruh muridnya sebanyak 60 Orang untuk menemukan tempat tinggal Arfiyah. serta sekaligus mengajaknya pulang ke Sewulan. Ternyata mereka menemukan Arfiyah di Mojoduwur, namun mereka tidak berhasil membujuknya pulang ke Sewulan. Gagal pada uSaha yang pertama, Basjarijah mengirim murid-muridnya lagi berjumlah 100 Orang. Mereka ditugasi memaksa Arfiyah pulang ke Sewulan. Namun tugas inipun mengalami kegagalan. Bahkan murid-murid yang semula ditugasi mengajak pulang Arfiyah ke Sewulan tidak mau kembali. Mereka menetap dan menjadi murid Arfiyah di Mojoduwur.

Wujud Fisik Bangunan

Masjid Al Arfiyah yang dibangun pada tahun 1726 ini. mula-mula terdiri dari bangunan induk dan serambi seluas : 220 M:, beratap sirap dengan pola atap tumpang. Namun masjid ini sekarang telah mengalami perubahan perbaikan sebanyak 2 kali. Pertama tahun 1920 diadakan penambahan serambi depan- Kedua pada tahun 1986/1987 serambi depan diperluas lag1– sehingga ada serambi tengah dan serambi depan.

Serambi depan ditopang oleh tiang beton yang kokoh sebanyak 8 buah, disebelah kiri serambi ada kentongan dan bedug yang cukup besar (bedug dari Masjid A1 Mubaarok. Berbek). Memasuki halaman tengah (serambi tengah) ada tiga pintu dengan motif lengkung tanpa daun pintu. Memasuki ruang utama lewat pintu tengah. Dikanan dan kiri pintu terdapat cendela.

Bangunan utama tersebut dari kayu, atapnya disangga oleh 4 tiang besar dari kayu jati. Bangunan ini semula beratap sirap, namun sekarang sudah diganti genting dari tanah liat. Mihrap Masjid ini ada 2 yang diberi batas agak lebar. Ternyata batas yang agak lebar antara dua mihrab tersebut terdapat makam Kyai Arfiyah sekalian. Dikanan kiri mihrab terdapat cendela. Sebelah kiri dekat mihrab terdapat mimbar dari kayu berukir dengan motif daun.

Disebelah kiri dan belakang masjid terdapat serambi sederhana yang dipergunakan tempat para santri mondok untuk memperdalam kitab Suci Al Qur’an. Disebelah kanan masjid terdapat tempat wudhu dan mandi, sedangkan dibagian belakang masjid dijadikan tempat makam sanak famili Kyai Arfiyah.

Sejak awal didirikan Masjid ini telah difungsikan sebagai pondok pesantren. Umumnya yang menjadi santri di masjid ini berasal dari Jawa Tengah. Antara lain dari Yogjakarta, Cilacap, Kebumen dan Demak. Tahun ini tercatat tidak kurang dari 100 santri dari daerah tersebut. mulai dari usia 6 tahun – 20 tahun.

15 Maret 1987 atau 15 Rajab 1407 H, dengan nama “Pondok Pesantren Salafiyah : Al Arfiyah”. masjid yang juga berfungsi sebagai Pondok Pesantren ini telah diresmikan oleh Bupati Kepala Daerah Tk. II Nganjuk. Dengan harapan Untuk lebih meningkatkan peranannya sebagai pembangun manusia yang bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan agama.

——————————————————————————————-Artikel di atas dinukil oleh: Wahyu,  dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : Nganjuk dan Sejarahnya, 1994, .

Masjid Cheng Hoo, Surabaya (3)

Apa Dan Bagaimana Masjid Cheng Hoo

Atas gagasan dari HMY Bambang Sujanto dan teman-teman PITI, Pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia dimulai dari tanggal 15 Oktober 2001, diawali dengan upacara peletakan batu pertama yang dihadiri oleh sejumlah tokoh Tionghoa Surabaya dan tokoh masyarakat Jawa Timur.

Rancangan awal Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini dilhami dari bentuk Masjid Niujie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Kemudian pengembangan Desain arsitekturnya dilakukan oleh Ir. Aziz Johan ( Anggota PITI dari Bojonegoro) dan didukung oleh Tim teknis : HS. Willy Pangestu, Dony Assalim, S.H., Ir Toni Hartono Subagyojr. Rachmat Kurnia dari jajaran pengurus PITI Jatim dan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Untuk pertama pembangunan ini diperlukan dana sebesar Rp. 500.000.000,- yang diperoleh jerih payah teman-teman dengan menerbitkan buku “Saudara Baru / Juz Amma” dalam tiga bahasa. Dan sisanya adalah gotong royong dari sumbangan-sumbangan masyarakat hingga terselesainya pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia.

Tahap pertama diselesaikan tanggal 13 Oktober 2002 dengan selesainya tahap pertama ini, Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sudah dapat digunakan untuk beribadah dan selanjutnya tinggal melakukan beberapa penyempurnaan bangunan Masjid. Oleh seluruh anggota Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia dan PITI disepakati tanggal tersebut sebagai hari ulang tahun yayasan dan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia.

Pada tanggal 28 Mei 2003, bertepatan dengan hari ulang tahun Pembina Imam Tauhid Islam d/h Persatuan Islam Tionghoa Indonesia yang ke 42, Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia i diresmikan oleh Menteri Agama RI, Bapak Prof. Dr. Said Agil Husain Al I Munawar, MA. Selain itu acara peresmian ini dihadiri juga oleh Atase i Kebudayaan Kedutaan Besar RRC di Indonesia yaitu Mao Ji Cong, i VICE konsultan kedutaan besar USA di Indonesia yaitu Craig L. Hall, i GubernurJatim-H. Imam Utomo, S.,Anggota Muspida Jawa Timur, Ketua

NU Jawa Timur – Dr. H. Alimaschan Moesa.Msi., Ketua Muhammadiyah Jawa Timur kala itu Prof. Dr. H. Fasichul Lisan, Apt. Juga oleh mantan Gubernur Jawa Timur yaitu H. R.T. Moch. Noer dan H.M. Basofi Sudirman yang bertindak sebagai penasehat dan pembina Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Acara ini dimeriahkan pula oleh semua Toko-tokoh masyarakat dan organisasi masyarakat di Surabaya.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia berukuran 21 x 11 meter, dengan bangunan utama berukuran 11×9 meter pada sisi kiri dan kanan bangunan utama tersebut terdapat bangunan pendukung yang tempatnya lebih rendah dari bangunan utama. Setiap bagian bangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini memiliki arti tersendiri, Misalnya ukuran bangunan utama. Panjang 11 meter pada bangunan utama Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini menandakan bahwa Ka’bah saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS memiliki panjang dan lebar 11 meter sedangkan lebar 9 meter pada banguna utama ini diambil dari keberadaan Wali Songo dalam melaksanakan syiar Islam di tanah Jawa. Arsitekturnya yang menyerupai model Klenteng itu adalah gagasan untuk menunjukkan identitasnya sebagai muslim Tionghoa (Islam Tiongkok) di Indonesia dan untuk mengenang leluhur warga Tionghoa yang mayoritas beragama budha. Selain itu pada bagian atas bangunan utama yang berbentuk segi 8 (Pat Kwa), angka 8 dalam bahasa Tionghoa disebut fat yang berarti jaya dan keberuntungan.

Dalam risalah, pada saat Rasulullah Muhammad SAW melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah, beliau dikejar-kejar oleh kaum kafir quraish dan bersembunyi di dalam gua Tsur. Pada saat hendak memasuki gua tersebut. Terdapat rumah laba-laba yang bentuknya segi 8, Rasulullah yang dalam keadaan teraniaya tidak mau merusak tumah laba-laba tersebut. Beliau memohon kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari kejaran kaum kafir quraish.

Dengan bantuan Allah SWT, Rasulullah dapat memasuki gua Tsur tanpa harus merusak tumah laba-laba tersebut. Saat situasi aman, beliau keluar dari gua Tsur dan melanjutkan perjalanan menuju Madinah untuk berhijrah guna menyampaikan wahyu yang diberikan Allah SWT kepada umat muslim di Madinah. Saat berada di gua Tsur pada waktu perjalanan hijrah tersebut, Allah memberikan perlindungan (keberuntungan) untuk dapat melalui rumah laba-laba itu dengan damai tanpa harus merusak dan mengganggu makhluk lainnya.

Pada bagian depan bangunan utama terdapat ruangan yang dipergunakan oleh Imam untuk memimpin sholat dan khotbah yang sengaja dibentuk seperti pintu gereja, ini menunjukkan bahwa Islam mengakui dan menghormati keberadaan Nabi Isa AS sebagai utusan Allah yang menerima Kitab Injil bagi umat Nasrani. Juga menunjukkan bahwa Islam mencintai hidup damai, saling menghormati dan tidak mencampuri kepercayaan orang lain.

Pada sisi kanan Masjid terdapat relief Muhammad Cheng Hoo bersama armada kapal yang digunakannya dalam mengarungi Samudera Hindia. Relief ini memiliki pesan kepada muslim Tionghoa di Indonesia pada khususnya agar tidak risih dan sombong sebagai orang Islam.

Orang Tionghoa masuk Islam bukan merupakan hal yang luar biasa, tetapi merupakan hal yang biasa karena pada 600 tahun yang lalu, terdapat seorang Laksamana beragama Islam yang taat bernama Muhammad Cheng Hoo dan beliau telah turut mensyi’arkan agama Islam ditanah Indonesia pada jaman itu. Beliau adalah utusan Raja Dinasti Ming yang menjalani kunjungan ke Asia sebagai utusan atau Duta Perdamaian. Guna mempererat hubungan dengan kerajaan Majapahit diberikanlah Putri Campa untuk di persunting oleh Raja Majapahit. Keturunan putri Campa pertama adalah Raden Patah, kenudian Sunan Ampel dan Sunan Giri (termasuk 9 Sunan atau Wali Songo) yang kemudian melakukan syi’ar agama Islam di Tengah Jawa.

Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia sendiri dikenal sebagai Masjid pertama di Indonesia yang mempergunakan nama muslim Tionghoa, dengan bangunan yang bernuansa etnik dan antik ini cukup menonjol dibanding bentuk Masjid-masjid pada umumnya di Indonesia. Dengan arsitektur khas Tiongkok yang didominasi warna hijau, merah dan kuning menambah khazanah kebudayaan di Indonesia. Ditambah lagi dengan adanya fasilitas yang memadai yang dapatdipergunakan oleh jamaah Masjid  Muhammad Cheng Hoo Indonesia dan masyarakat pada umumnya seperti:
– TK (Taman Kanak-kanak)
-Lapangan olah raga
– Kantor
-Kelas kursus bahasa Mandarin -Kantin

Diharapkan segala fasilitas yang disediakan demi kenyamanan beribadah di Masjid Muhammad Cheng Hoo Indonesia ini benar- benar bermanfaat mempererat tali silaturahmi sesama umat dan meningkatkan hubungan baik umat dengan Allah SWT. Sekarang ini Masjid Muhammad Cheng Hoo, juga merupakan objek Wisata di Surabaya hampir tiap hari ada wisatawan yang berkunjung.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil: Wahyu DP Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Komunitas, Edisi Khusus, No. 40-April 2008.

MASJID JAMI’ PENELEH Surabaya

penelehMasjid Jami’ peneleh surabaya ini merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga (Sunan Ampel), namun keberadaannya kurang dikenal kecuali warga Peneleh sendiri. Masjid ini berdiri di tengah pemukiman padat penduduk, tepatnya terletak di Jalan Peneleh V nomor 41, Surabaya.  Masjid jami’ peneleh surabaya ini berdidiri pada sebidang tanah yang status Wakaf.

Bukti otentik ataupun referensi mengenai Masjid jami’ peneleh ini sangat kurang, namun masyarakat setempat mempercayai bahwa Masjid Jami’ Peneleh dibangun oleh Sunan Ampel pada tahun 1421 lebih tua dari Masjid Ampel. Keyakinan itu diperkuat dalam isi buku ensiklopedia Indonesia disusun oleh Prof. Dr MR TGS Mulia dan Prof. Dr. KAH Hadding, disebutkan bahwa Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) berpindah dari kampung Kembang Kuning ke Peneleh. Selanjutnya beliau mendirikan masjid yang lebih besar dari musala tiban Kembang Kuning. Diperkirakan, Rahmatullah mendirikan masjid di tempat itu karena dulunya merupakan daerah ramai, karena kampung Peneleh berada tepat di sisi timur Kali Mas, yang merupakan sungai yang menjadi urat nadi lalu lintas perairan pada masa itu. Sunan Ampel menyebarkan Agama Islam dari tempat ini benar –benar sangat strategis.

Masjid jami’ peneleh surabaya merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga yang terlupakan, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 950 meter persegi, Sejak abad ke-18, Surau tersebut berubah menjadi masjid bangunannya sungguh kokoh dan bentuknya eksotik, gaya arsiteturnya merupakan  aliran neuw imperial, diperkirakan ini adalah hasil renovasi saat itu.  pada tahun 1970-an serambi masjid ini diperluas tidak mengubah ornamen dalam, kemudian pada 1986 masjid direnovasi kembali juga tidak merubah bentuk aslinya. Masjid ini memiliki menara yang besar kesan kekunoannya semakin nampak jelas jika melihat interior bagian dalam, arsitetur bagian dalam masjid benar-benar menakjubkan. 600 tahun silam, ketika Raden Rahmat mendirikan masjid ini. Seluruh penyangga dan karangkanya terbuat dari bahan kayu jati pilihan, Bahan bangunan yang langka ditemukan saat ini, termasuk rangka Langit-langitnya yang berhiaskan huruf Arab yang memuat nama empat sahabat Nabi Muhammad, yakni Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Tembok masjid dikelilingi 25 ventilasi dan lima daun jendela. Di masing-masing ventilasi tersebut terdapat hiasan aksara Arab berupa nama-nama 25 nabi.

Ada 10 tiang tiang utama penyangga atap menjulang yang saling menyambung di bagian langit langitnya, yang disebut Soko Guru, jarak atap dengan lantai masjid setinggi 9 meter,  Dipadu dengan banyak permainan kayu serta kisi-kisi udara juga menggunakan permainan sirip serta kaca kaca patri menghiasi angin angin di sela-sela atap, kaca ukir yang cantik dan unik di setiap jendela masjid, menambah keindahan bangunan masjid. Tingginya atap serta permainan kisi-kisi inilah yang menjadikan masjid ini terasa sejuk meski cuaca kota Surabaya panas. Bangunan dalam Masjid ini masih dipertahankan keasliannya.

Mihrabnya terbagi tiga tempat. Sebelah kiri untuk menempatkan jam duduk, bagian tengah sebagai tempat salat imam, dan bagian kanan untuk mimbar khutbah. Sayang tidak ada satupun peninggalan prasasti di tempat ini. Uniknya, sampai kini masjid tersebut masih menggunakan jam istiwa untuk pedoman melihat waktu salat, jam istiwa adalah penunjuk waktu berdasarkan arah condong matahari. Tapi tidak setiap hari digunakan, kunci jam istiwa yang berada di bagian depan masjid itu dibuka oleh pengurus masjid dan melihatnya pada saat-saat tertentu, utamanya setiap lima hari sekali, keunikan lain masjid dari masjid jami’ ini bentuk bangunannya menyerupai kapal terbalik.

Pada masa perang kemerdekaan 1945, kubah masjid itu pernah tersambar meriam Belanda yang ditembakkan dari arah Jembatan Merah. Tapi kubah itu tidak hancur dan hanya bagian sisi timur yang sedikit mengalami kerusak. Langit-langit yang jebol kena meriam itu langsung diganti.  Masjid ini juga dijadikan markas oleh Laskar Hizbullah melawan penjajah. Untuk mengelabui musuh, dari luar tampak seperti masjid yang berfungsi untuk beribadah dan sebagaimana mestinya. Padahal, semua dokumen dan tempat diskusi Laskar Hizbullah berada di dalam masjid. Bahkan, jika ada musuh yang melintas, tidak mudah meringkusnya, sebab kawasan terebut dari dulu sudah merupakan daerah padat penduduk. Meski bangunan merupakan peninggalan sejarah, namun pengurus masjid tidak berrencana memasukkannya sebagai cagar budaya. Alasannya, masjid ini dibangun dan direnovasi adalah dari swadaya masyarakat.

Didalam masjid Jami’ peneleh tersebut juga terdapat Bedug yang berdiameter kurang lebih satu meter dan panjang dua meter yang dulu ditemukan hanyut disekitaran Kali Mas, tepat berada di depan kampung Peneleh, bedug tersebut terhenti di aliran Kalimas. Warga mengambilnya dan membawanya ke Masjid Jami’, namun bedug tersebut tidak digunakan karena rencananya akan digunakan di Masjid Sunan Ampel. Selanjutnya bedug tersebut dipindahkan ke Masjid Ampel, namun ketika bedug digunakan suaranya tidak sempurna. Selanjutnya, bedug dipindahkan ke Masjid Kemayoran di kawasan Indrapura, saat digunakan hasilnya sama seperti sebelumnya, bedug tersebut tidak terdengar nyaring. Kemudian, bedug  dikembalikan dan dicoba di Masjid Jami’, saat dicoba di masjid Jami’ sangat berbeda suara  Bedug terdengar keras dn nyaring. Sehingga warga akhirnya memilih mempergunakannya di Masjid Jami’. Keanehan muncul saat Bedug berada di masjid. Puing – puing kecil dari kayu Bedug ini dipunguti oleh warga. Dan mempercayainya dapat menyembuhkan penyakit.  Sehingga beberapa warga tanpa sepengetahuan pengurus masjid sering mengambil secuil – secuil kayu Bedug. Akhirnya pada tahun 1986 saat merenovasi masjid, takmir masjid Jami’ sepakat melapisi Bedug ini dengan kayu biasa yang sudah dihiasi ukiran kaligrafi  untuk menghindari perbuatan yang tidak diinginkan.

Tidak hanya beduk itu saja, Sunan Ampel saat mendirikan juga menggali sumur tepat berada di samping masjid. Tujuannya memudahkan jamaah mencari air wudhu. Sumur buatan Sunan Ampel itu terletak di luar masjid sebelah kiri, sehingga sumur itu umurnya setua umur masjid. Air sumur tersebut banyak diburu orang sampai saat ini,  air sumur yang diyakini banyak orang, memiliki tuah.  Kini, menghindari pengkultusan dan merusak Aqidah, pengurus akhirnya menutup sumur tersebut.


‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi – Wahyu DP : Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2015

MASJID JAMI’ PENELEH Surabaya

penelehMasjid Jami’ peneleh surabaya ini merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga (Sunan Ampel), namun keberadaannya kurang dikenal kecuali warga Peneleh sendiri. Masjid ini berdiri di tengah pemukiman padat penduduk, tepatnya terletak di Jalan Peneleh V nomor 41, Surabaya.  Masjid jami’ peneleh surabaya ini berdidiri pada sebidang tanah yang status Wakaf.

Bukti otentik ataupun referensi mengenai Masjid jami’ peneleh ini sangat kurang, namun masyarakat setempat mempercayai bahwa Masjid Jami’ Peneleh dibangun oleh Sunan Ampel pada tahun 1421 lebih tua dari Masjid Ampel. Keyakinan itu diperkuat dalam isi buku ensiklopedia Indonesia disusun oleh Prof. Dr MR TGS Mulia dan Prof. Dr. KAH Hadding, disebutkan bahwa Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) berpindah dari kampung Kembang Kuning ke Peneleh. Selanjutnya beliau mendirikan masjid yang lebih besar dari musala tiban Kembang Kuning. Diperkirakan, Rahmatullah mendirikan masjid di tempat itu karena dulunya merupakan daerah ramai, karena kampung Peneleh berada tepat di sisi timur Kali Mas, yang merupakan sungai yang menjadi urat nadi lalu lintas perairan pada masa itu. Sunan Ampel menyebarkan Agama Islam dari tempat ini benar –benar sangat strategis.

Masjid jami’ peneleh surabaya merupakan salah satu masjid peninggalan salah seorang Walisanga yang terlupakan, masjid ini berdiri di atas lahan seluas 950 meter persegi, Sejak abad ke-18, Surau tersebut berubah menjadi masjid bangunannya sungguh kokoh dan bentuknya eksotik, gaya arsiteturnya merupakan  aliran neuw imperial, diperkirakan ini adalah hasil renovasi saat itu.  pada tahun 1970-an serambi masjid ini diperluas tidak mengubah ornamen dalam, kemudian pada 1986 masjid direnovasi kembali juga tidak merubah bentuk aslinya. Masjid ini memiliki menara yang besar kesan kekunoannya semakin nampak jelas jika melihat interior bagian dalam, arsitetur bagian dalam masjid benar-benar menakjubkan. 600 tahun silam, ketika Raden Rahmat mendirikan masjid ini. Seluruh penyangga dan karangkanya terbuat dari bahan kayu jati pilihan, Bahan bangunan yang langka ditemukan saat ini, termasuk rangka Langit-langitnya yang berhiaskan huruf Arab yang memuat nama empat sahabat Nabi Muhammad, yakni Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Tembok masjid dikelilingi 25 ventilasi dan lima daun jendela. Di masing-masing ventilasi tersebut terdapat hiasan aksara Arab berupa nama-nama 25 nabi.

Ada 10 tiang tiang utama penyangga atap menjulang yang saling menyambung di bagian langit langitnya, yang disebut Soko Guru, jarak atap dengan lantai masjid setinggi 9 meter,  Dipadu dengan banyak permainan kayu serta kisi-kisi udara juga menggunakan permainan sirip serta kaca kaca patri menghiasi angin angin di sela-sela atap, kaca ukir yang cantik dan unik di setiap jendela masjid, menambah keindahan bangunan masjid. Tingginya atap serta permainan kisi-kisi inilah yang menjadikan masjid ini terasa sejuk meski cuaca kota Surabaya panas. Bangunan dalam Masjid ini masih dipertahankan keasliannya.

Mihrabnya terbagi tiga tempat. Sebelah kiri untuk menempatkan jam duduk, bagian tengah sebagai tempat salat imam, dan bagian kanan untuk mimbar khutbah. Sayang tidak ada satupun peninggalan prasasti di tempat ini. Uniknya, sampai kini masjid tersebut masih menggunakan jam istiwa untuk pedoman melihat waktu salat, jam istiwa adalah penunjuk waktu berdasarkan arah condong matahari. Tapi tidak setiap hari digunakan, kunci jam istiwa yang berada di bagian depan masjid itu dibuka oleh pengurus masjid dan melihatnya pada saat-saat tertentu, utamanya setiap lima hari sekali, keunikan lain masjid dari masjid jami’ ini bentuk bangunannya menyerupai kapal terbalik.

Pada masa perang kemerdekaan 1945, kubah masjid itu pernah tersambar meriam Belanda yang ditembakkan dari arah Jembatan Merah. Tapi kubah itu tidak hancur dan hanya bagian sisi timur yang sedikit mengalami kerusak. Langit-langit yang jebol kena meriam itu langsung diganti.  Masjid ini juga dijadikan markas oleh Laskar Hizbullah melawan penjajah. Untuk mengelabui musuh, dari luar tampak seperti masjid yang berfungsi untuk beribadah dan sebagaimana mestinya. Padahal, semua dokumen dan tempat diskusi Laskar Hizbullah berada di dalam masjid. Bahkan, jika ada musuh yang melintas, tidak mudah meringkusnya, sebab kawasan terebut dari dulu sudah merupakan daerah padat penduduk. Meski bangunan merupakan peninggalan sejarah, namun pengurus masjid tidak berrencana memasukkannya sebagai cagar budaya. Alasannya, masjid ini dibangun dan direnovasi adalah dari swadaya masyarakat.

Didalam masjid Jami’ peneleh tersebut juga terdapat Bedug yang berdiameter kurang lebih satu meter dan panjang dua meter yang dulu ditemukan hanyut disekitaran Kali Mas, tepat berada di depan kampung Peneleh, bedug tersebut terhenti di aliran Kalimas. Warga mengambilnya dan membawanya ke Masjid Jami’, namun bedug tersebut tidak digunakan karena rencananya akan digunakan di Masjid Sunan Ampel. Selanjutnya bedug tersebut dipindahkan ke Masjid Ampel, namun ketika bedug digunakan suaranya tidak sempurna. Selanjutnya, bedug dipindahkan ke Masjid Kemayoran di kawasan Indrapura, saat digunakan hasilnya sama seperti sebelumnya, bedug tersebut tidak terdengar nyaring. Kemudian, bedug  dikembalikan dan dicoba di Masjid Jami’, saat dicoba di masjid Jami’ sangat berbeda suara  Bedug terdengar keras dn nyaring. Sehingga warga akhirnya memilih mempergunakannya di Masjid Jami’. Keanehan muncul saat Bedug berada di masjid. Puing – puing kecil dari kayu Bedug ini dipunguti oleh warga. Dan mempercayainya dapat menyembuhkan penyakit.  Sehingga beberapa warga tanpa sepengetahuan pengurus masjid sering mengambil secuil – secuil kayu Bedug. Akhirnya pada tahun 1986 saat merenovasi masjid, takmir masjid Jami’ sepakat melapisi Bedug ini dengan kayu biasa yang sudah dihiasi ukiran kaligrafi  untuk menghindari perbuatan yang tidak diinginkan.

Tidak hanya beduk itu saja, Sunan Ampel saat mendirikan juga menggali sumur tepat berada di samping masjid. Tujuannya memudahkan jamaah mencari air wudhu. Sumur buatan Sunan Ampel itu terletak di luar masjid sebelah kiri, sehingga sumur itu umurnya setua umur masjid. Air sumur tersebut banyak diburu orang sampai saat ini,  air sumur yang diyakini banyak orang, memiliki tuah.  Kini, menghindari pengkultusan dan merusak Aqidah, pengurus akhirnya menutup sumur tersebut.


‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Dinukil oleh Tim Pustaka Jaw timuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:   Brosur , Museum Rajekwesi – Wahyu DP : Laporan Dinas Luar dalam rangka hanting (pengayaan materi Pusaka Jawatimuran), Agustus 2015