Berpetualang di Kapubaten Jember, Wisata Pilihan

Jember sebagai tempat berpetualang, sebutan ini Rasanya sangat meyakinkan sekali sekali. Sebab di Jember  terdapat  beberapa unsur alam yang sangat menunjang seperti : hutan, laut, gunung, perkebunan.

Bagi yang menyukai kegiatan alam bebas, Jember adalah tempat yang sangat pas. Berpacu dengan sepeda motor trail, kendaraan 4 WD, bersepeda santai, atau bahkan berjalan-jalan (hiking), menjadi pilihan yang bisa dilakukan di kota ini

Bupati Muhammad Zainal Abidin(MZA) Djalal menunjukkan bagaimana menikmati petualangan di Jember. Mengendarai sepeda motor trail, ia menjelajah sejumlah tempat, dan menerabas hutan maupun belukar. Beberapa kali terjatuh. Tapi bukankah itu kenikmatan berpetualang? Naturally Jember. It’s lovely destination. Feel the adventure, guys. (*)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:
HALO JEMBER edisi 7 tahun 2011

 

 

Finna dan Taman Dayu Golf, Kabupaten Pasuruan

Pengembangan wisata Tretes Prigen di kaki Gunung Welirang dan Arjuno semakin lengkap dengan adanya sarana olah raga Golf Finna Golf & Country Club dan menyusul dibangunnya padang golf Taman Dayu kreasi Jack Nicklaus.

Kedua lapangan golf 18 hole ini, dilengkapi dengan berbagai fasilitas olah raga, seperti : kolam renang, lapangan tenis, pusat kebugaran serta restoran.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:

Panjat tebing, Lembah Kera, Kabupaten Malang

Panjat tebing: Olah Raga Penuh Tantangan

Ada sebait lagu dari Iwan fals, terinspirasi dari olah raga yang penuh tantangan ini. Memang dalam memanjat tebing yang tinggi lagi terjal tak hanya dibutuhkan fisik yang kuat, tetapi Juga dlbutuhkan katabahan, endurance (katahanan), balance (keseimbangan) dalam pengaturan, baik tenaga, skilmaupun amosi.

BAGI KALANGAN PETUALANG yang senang dengan petualangan ekstrem di alam bebas, tentunya olah raga ini sudah tidak asing lagi. Apalagi olah raga ini sudah masuk dalam PON sebagai salah satu cabang olah raga yang di perlombakan.

Di Kabupaten Malang, tepatnya di sebuah tebing yang bernama Lembah Kera, Desa Dempok, Kecamatan Pagak, biasa digunakan oleh penggiat olah raga Panjat Thbing untuk menggembleng diri, balk teknik, fisik dan mental.

Tak jarang, para climber, sebutan untuk penggiat olah raga panjat tebing, menginap berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk melatih diri.

Pemanjatan

Dalam melatih kemampuannya mereka terlebih dahulu melakukan pemanasan pemanjatan yang msebut border. Border biasanya dilakukan pada hari pertama pemanjatan, dengan lama dari 1 jam sampai 5 jam sesuai kemampuan. Tujuan dan border ini adalah melatih endurace (daya tahan) dan meningkatkan teknik sebelum melakukan pemanjatan. Biasanya dalam melakukan border. Climber memanjat hanya sampai ketinggian 2 meter. tetapi dilakukan sepanjang lebar tebing.

Tebing Lembah Kera memiliki lebar kurang lebih 200 m dengan ketinggian 7O-an meter. Dalam pemanjatan. dikenal istilah leader (pemanjat pertama atau pembuka jalur) dan belayer (pemanjat yang bertugas mengamankan jalur pemanjatan leader).

Dalam panjat tebing. teknik yang digunakan ada bermacam-macam dengan strateqi pemanjatan yang berlainan. Teknik yang digunakan ada yang artificial ( dengan bantuan alat) atau top rope (tali terpasang dari puncak). Dalam teknik artificial pemanjat harus memasang pengaman mulia dari bawah sambil melakultan pemanjatan keatas. sedangkan top rope pengaman tali sudah terpasang lebih dahulu.

Selain itu terdapat juga teknik pemanjatan yang lebih ekstrem yaitu solo climbing: Dalam pemanjatan solo climbing di butuhkan skill yang sangat baik dan keberanian yang ekstra. Sebab dalam teknik ini pemanjat tidak menggunakan pengaman sama sekali Jadi risiko gambling (jatuh) dan cidera lebih besar. Bahkan bisa sampai meninggal

Olah raga mahal

Olah raga yang terkenal mahal ini dalam pengembangannya masih digiatkan oleh kalangan pencinta alam. sebab kendala yang dihadapi adalah mahalnya peralatan. Untuk satu rol tali dengan jenis carmantel dibutuhkan dana sebesar 1-1,5 juta rupiah. Belum lagi peralatan pendukung lainnya yang jika ditotal bisa mencapai 10 juta rupiah lebih untuk satu set peralatan.

Namun mahalnya peralatan tak menyurutkan gaung olah raga ini. bahkan di kalangan anak muda olah raga ini termasuk olahraga yang digemari dan memiliki nilai prestisius.

Saat ini sudah banyak atlet panjat tebing yang ditelorkan dari hasil gemblengan alam tebing Lembah Kera yang berbicara di tingkat intemasional. *dod

 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: KANJURUHAN, MEDIA INFORMASI PEMERINTAH KABUPATEN MALANG, EDISI 04, Tahun I, September  2001. Hlm 10.

Gelora Bung Tomo

Surabaya Punya Gelora Bung Tomo

Warga Surabaya bakal segera bisa melihat wujud mega proyek Surabaya Sport Center (SSC). Proyek besar bernama Gelora Bung Torno di Kecamatan Pakal, Surabaya Barat itu terbilang megah. Dinding tembok tiga bangunan utama berdiri menjulang.

Sudah puluhan tahun Surabaya menanti untuk memiliki sarana olahraga yang memadai. Sebab sebagai kota besar kedua di Indonesia, Kota Pahlawan ini hanya memiliki Stadion Gelora 10 Nopember yang didirikan 1951, dan kini sudah jauh dari status layak.

Gelora Bung Torno senilai Rp 440,2 miliar itu ditarget selesai akhir tahun ini. Kompleks olahraga itu terdiri dari sebuah stadion utama berkapasitas 50 ribu penonton, sebuah stadion indoor berkapasitas 10 ribu penonton, dan masjid. Kompleks itu juga direncanakan memiliki stadion atletik dan sirkuit.

Wali Kota Surabaya, Bambang Dwi Hartono mengatakan, pemerintah kota memang tidak ingin membangun sembarangan. Stadion itu dibangun sangat memadai dan berstandar intemasional. “Jika bisa melihat ke dalam dan berdiri di tengah-tengah stadion, kita sudah bisa membayangkan bagaimana atmosfer pertandingan nanti,” katanya.

Rencananya sse diresmikan ei 201 0 mendatang. Engineering Manager PT Abdi Karya, Dardi Gunawan menuturkan, pembangunan sarana olahraga berupa GOR Indoor dan stadion utama dilaksanakan sejak Agustus 2008 dan ditarget rampung Mei mendatang. “Untuk itu, pad a bulan Mei sekaligus akan dilaksanakan peresmian, kapan tanggalnya belum dipastikan,” katanya.

Dardi mengatakan, saat ini pengejaan stadion utama sudah 80 persen. Penanaman rumput stadion yang dilakukan sejak Januari 2010 kini sudah tumbuh subur. Meski curah hujan yang mengguyur Kota Surabaya cukup tinggi, tidak menjadi kendala terjadinya genangan air di lapangan, genangan air langsung terserap dan kering oleh sistem drainase yang bagus.

Saat ini tahap pengerjaan stadion utama yang harus dikebut pemasangan atap. Sementara untuk lintasan lari yang dibuat dengan standar intemasional (IAAF), pengerjaannya didatangkan langsung dari Malaysia. Untuk GOR Indoor telah memasuki tahap pengerjaan pemasangan sintetis lapangan.

la berharap, pembanguanan kedua sarana olahraga terbesar di Surabaya itu dapat memotivasi para atlet Kota Surabaya dalam meningkatkan prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.

Ketua Umum KONI Kota Surabaya, Heru Pumomo Hadi mengatakan, selama ini KONI Surabaya tidak mempunyai sarana olahraga. Semua prasarana milik pemerintah provinsi. Adanya pembangunan dua sarana olahraga ini sangat menguntungkan KONI Surabaya. “Kalau ingin maju olahraganya, ya harus punya kompleks olahraga memadai. Tanpa itu hampir tidak mungkin bisa meningkatkan kualitas olahraga,” ujamya.

FASILITAS

Gelora Bung Tomo merupakan komponen utama SSG. Stadion utama ini disiapkan sebagai stadion yang super komplit. Bukan hanya menampung 50 ribu orang, tetapi juga disiapkan memiliki standar fasilitas yang tinggi. Untuk penonton, disediakan tiga kelas, yakni kelas standar, VIP, dan WIP.

Dardi Gunawan menjelaskan, Gelora ·Bung Tomo memiliki 21 pintu masuk, masing-masing pintu memiliki dua akses menuju ke tribun. “Dengan banyaknya akses itu, penonton bisa lebih leluasa dan nyaman,” ujarnya.

Demi menjaga ketertiban dan keamanan saat masuk, pintu masuk dibuat berkelok-kelok seperti ular. Setiap jalur hanya muat satu baris penonton dengan dibatasi besi kukuh yang mampu menahan desakan penonton. Alur antrean itu melewati sebuah ruangan khusus yang menjadi tempat screening. Oi sana semua penonton diperiksa satu per satu oleh petugas keamanan. “Itu dilakukan untuk menyaring penonton yang membawa benda-benda terlarang, seperti senjata atau minuman keras,” katanya.

Tribun khusus penonton kelas standar, tempat duduknya tidak berbentuk kursi plastik, melainkan dari beton. Meski begitu, penonton tetap dibuat nyaman. Sebab, setiap tangga duduk penonton diraneang selebar 80 em. Oengan demikian, penonton bisa duduk enak karena alas duduknya lebar. Tinggi dudukan dibuat 48 cm.

Menurut Anita, hitungan itu mempertimbangkan faktor kenyamanan dan posisi kaki bisa santai meski dalam posisi duduk. Tempat duduk penonton sengaja tidak dibuat dari plastic karena berdasar pengalaman di beberapa stadion, dudukan yang berbentuk kursi justru mudah rusak. “Malahan sering dipatahkan dan menjadi alat untuk melempar suporter lawan,” katanya.

RESTO

Fasilitas lain, tersedianya toilet yang lokasinya tidak jauh dari tempat duduk penonton. Toilet itu merata di beberapa penjuru stadion, penonton tidak kesulitan menemukannya.

SSC juga menyediakan tempat khusus penjual makanan dan minuman di lantai satu. Penonton bisa leluasa mengakses lantai satu dan tribun selama pertandingan. “Kalau pas nonton lapar, ada resto yang menyajikan aneka makanan dan minuman. Tidak perlu keluar gedung,” ujarnya.

Untuk penonton kelas VIP dan WIP, SSC menyediakan fasilitas plus. Tiket kelas VIP bisa dibeli di lokasi maupun dengan cara online. Penonton disediakan tempat duduk sejenis sofa, menghadap langsung ke arah lapangan. Kapasitas kelas VIP terbatas, hanya 4.370 tiket. Namun pemandangannya istimewa karena berada di lantai 4-7. Kelas ini menyediakan resto serta toilet khusus. “Jadi tidak perlu turun ke lantai 1,” tutur Dardi.

Lain lagi penonton kelas VVIP. Pelayanan penonton kelas ini seperti di hotel. Penonton ditempatkan di ruangan khusus yang terpisah dari penonton lainnya, disediakan khusus untuk tamu-tamu penting. “Seperti pejabat negara,” katanya.

Kelas VVIP hanya tersedia delapan ruangan. Kapasitas masing-masing ruangan beragam, bergantung kepada tipenya, ada yang superior, ada pula yang standar. Secara keseluruhan, kelas VVIP hanya menampung 130 penonton.

Stadion Bung Tomo nanti bisa diakses lewat Tol Waru-Juanda. Dari Waru masuk tol ke arah Benowo. Rencananya, arus tol di kawasan Dupak dipotong untuk akses ke SSC. Dengan rute itu dari bandara ke sse diperkirakan hanya butuh sekitar 20 menit dengan mobil.(her,sug)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: POTENSI JAWA TIMUR, EDISI 3 TAHUN X/2010, hlm. 14

Paralayang, Gunung Banyak

Wisata Paralayang Extreme Challenge

DARI Fauzi Very Sandi yang lebih akrab dipanggil Ojie’, kami dapat banyak informasi soal kegiatan paralayang di Batu. Pemilik Boenga Batoe di Jl. Bukit Berbunga No 112 Sidomulyo Batu ini juga sebagai operator wisata paralayang, air soft gun, donut challenge, outbound training, family gathering, motor trail dan jungle trecking. “Kalau ada yang berminat pada salah satu kegiatan wisata yang penuh tantangan ini, kami siap membantunya,” kata Ojie’. Kawasan Gunung Banyak sebenarnya sudah cukup lama dikenal sebagai kawasan yang indah untuk olahraga dirgantara ini. Namun, secara resmi penggunaan kawasan tersebut sebagai kawasan paralayang pada 20 Juni 2000 lalu. Saat itulah kawasan Gunung Banyak ini diresmikan menjadi wanawisata dirgantara. Peresmiannya ditandai dengan pembuatan prasasti yang ditandatangani Ketua Umum Federasi Aero Sport Indonesia saat itu Marsekal TNI Hanafi Asnan.

Kawasan ini sengaja dipilih karena cocok sebagai pusat olahraga paralayang. Para atlet bisa terbang berkeliling sambil mengintip pemandangan alam dari udara. Setelah berputar-putar di udara, mereka mendarat di kawasan Songgoriti, Kota Wisata Batu. Lokasi ini tidak hanya dimanfaatkan para pecinta paralayang di Malang Raya bahkan atlet nasional tetapi juga wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Bahkan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Batu untuk mendorong semangat pemilih Pemilihan Presiden (Pilpres 2009) pernah menggunakan atraksi paralayang untuk menyebarkan 100.000 lembar brosur di atas perumahan di Kota Batu. Isi brosur adalah materi sosialisasi Pilpres. Atraksi berlangsung menarik, dilakukan oleh atlet paralayang. Penyebaran materi sosialisasi berupa brosur dilakukan di tiga titik lokasi, di tiga lokasi kecamatan, yakni Kecamatan Batu, Junrejo dan Bumiaji.

Gunung Banyak tak hanya menjadi obyek wisata yang menarik karena keindahan alamnya. Letaknya di perbatasan wilayah Kota Wisata Batu dan Kabupaten Malang ini juga serasa bisa menjadi tempat untuk menikmati outer journey. Ratusan ribu titik lampu warna-warni menjadi sajian utama Gunung Banyak di malam hari. Pijaran titik lampu yang berjajar membuat semacam garis tak beraturan seolah hanya tampak seperti cahaya lilin. Sebagian besar titik lampu seukuran telur puyuh tampak seakan diam dan sebagian lagi bergerak. Itulah pemandangan yang disajikan Gunung Banyak pada malam hari. Gunung ini terletak di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Wisata Batu, dan berbatasan langsung dengan Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.

Tinggi gunung kurang lebih 1.300 meter di atas permukaan laut (dpl). Keindahan pemandangan di daratan itu tak selalu tampak. Untuk menikmatinya juga terkadang harus menunggu beberapa saat. Karena, tidak jarang di tengah menikmati keindahan, tiba-tiba kabut turun menyelimuti kawasan ini. Jika sudah begini, semuanya kembali menjadi putih, dan sesekali juga gelap. Bagi pengunjung yang ingin menyaksikan atraksi para atlet paralayang baik dari lokasi pendaratan di kawasan Songgoriti maupun dari lokasi pemberangkatan di atas Gunung Banyak tidak perlu khawatir. Di lokasi ini juga tersedia banyak fasilitas pendukung mulai gardu pandang, warung makanan, hingga tempat singgah. Tapi, pernahkah Anda membayangkan bisa terbang membelah udara, melayanglayang bagai burung walet menjelajah langit biru di angkasa? Memang agak sulit membayangkan jika manusia bisa menumbuhkan sayap kemudian terbang seperti yang biasa digambarkan dalam film-film Hollywood.

Paralayang adalah olahraga terbang bebas dengan menggunakan sayap kain (parasut) yang lepas landas dengan kaki untuk tujuan rekreasi atau kompetisi. Pilot atau orang yang mengemudikan parasut tersebut duduk di suatu sabuk (homes) yang menggantung di bawah sayap kain yang bentuknya ditentukan oleh ikatan tali dan tekanan udara yang memasuki ventilasi di bagian depan sayap. Olahraga paralayang adalah olahraga di alam bebas. Menikmati udara bebas siapa yang tak suka? Hanya dengan memanfaatkan angin dapat melayang-layang tinggi di angkasa luas dan merasakan desiran angin dalam kesunyian. Bayangkan saja, beberapa saat sebelumnya menginjak bumi namun beberapa saat kemudian sudah memandang bumi dari sisi lain, dari sebuah ketinggian di angkasa raya. Kalau cuaca mendukung maka akan dapat terbang sesuai keinginan. Dalam olahraga ini, keselamatan adalah paling utama yang harus senantiasa diperhatikan. Bagi yang belum menguasai olahraga ini secara mandiri, disediakan partner yang berpengalaman dan memiliki kualifikasi sebagai atlet paralayang untuk melayani tandem. Bebarapa instrumen yang biasa dipakai adalah variometer (untuk mengukur tekanan udara, tingkat akselerasi perubahan ketinggian), HT, dan GPS. Olahraga paralayang memang penuh tantangan, siapa takut?. fathoni/m djupri

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SAREKDA, Jawa Timur, edisi: 012, 2011.

 

Skimboarding, Sampang

Ada Skimboarding di Sampang, menyenangkan: Salah satu pemain skimboardlng saat berselancar di atas laut yang bergelombang. Olahraga skimboarding tidak hanya berada di laut luas dengan ombak yang agak tinggi. Tetapi di Sampang, benih-benih olahraga ini mulai dirintis dan atlet bermain di sisi selatan pantai wiasata Camplong, Sampang.

Untuk diketahui, olahraga ini dinilai menyenangkan dan adiktif. Sekali belajar bagaimana melakukan trik pertama, seseorang memiliki kecendrungan untuk kembali belajar. Olahraga skimboarding menantang dan tidak dilakukan kecuali jika telah menguasai sejumlah langkah yang lebih mendasar.  Karena olahraga ini berbahaya, berhati-hati dan akal sehat skimboarding sementara.

Olahraga ini dilakukan di pantai bahkan dapat dilakukan di selat yang minim ombak. Pola permainan ini bermodalkan papan luncur yang cukup dimainkan di bibir pantai tanpa periu ombak besar. Bahkan, permainan ini dapat di atas laut yang bahkan nyaris tanpa gelombang. Di Sampang, mulai terbentuk komunitas pemain skim boarding. Tidak hanya baru, tapi komunitas itu juga tergolong unik dan menarik. Unik karena permainan itu hanya menggunakan papan seluncur dan menarik lantaran permainan tersebut bermodalkan keberanian berselancar di atas air, di selat Madura sisi selatan pantai ria Camplong.

Sisi lain, permainan tersebut termasuk yang pertama di Sampang. Tidak hanya di Kota Bahari Sampang. Sesuai dengan namanya, Skimboarding memiliki arti papan seluncur. Sehingga untuk memainkan permainaan menarik itu tidak membutuhkan banyak biaya. Caranya, hanya dengan modal papan seluncur. Dengan modal itu, siapapun bisa mencoba untuk bermain Skimboarding. Modalnya cukup memiliki keberanian, seperti dituturkan Moh. Imron Sjaifuddin, perintis permainan ini di Sampang.

Kini, komunitas yang didirikan Imblo (sapaan Imron Sjaifudidn) sudah memiliki puluhan 20 kader yang mahir bermain Skimboarding. Dari para pemain tersebut, kemampuannya bertingkat-tingkat. Skimboarding memiliki 5 tingkat trik permainan. Pertama trik three sixty atau papan berputar 360 derajat. Trik kedua, tumpuan kaki dengan tangan jadi satu atau dikenal dengan fire hydrant. Yang ketiga, memutar papan ala skateboard atau akrab disebut shove it. Sementara trik keempat adalah ollie.Trik dengan meloncat dan papan terbang sekaligus dengan si pemain. Yang terakhir adalah head standing, trik dengan kepala pemain sebagai tumpuan.

Lumrah bagi orang awam untuk lebih mengenal surfing daripada skimboarding ini. Selain karena surfing lebih akrab di telinga kita, skimboarding juga tergolong permainan baru, khususnya di negeri ini. Apalagi permainan ini hanya berkembang massif di pantai-pantai yang bukan merupakan tujuan wisata, seperti Madura ini. Perintis ini mengakui telah banyak merangkul anak muda Sampang untuk menemukan dunianyadi skimboarding. Mencoba untuk membuat sejarah skim board di pulau garam dengan terus bergulat dengan papan luncurnya. Untuk jangka panjang, olahraga yang baru hadir di Sampang ini diharapkan bisa akrab dan lebih mudah memasyarakat di Madura seperti halnya olahraga surfing di daerah lain. (*)

 ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SAREKDA, Jawa Timur, edisi: 012, 2011.

SULUH MHSA, Edisi. VI, Nopember  2 011, hlm. 36

Okolan, Sambikereb, Surabaya

Gending Becek mengalun mengiringi satu persatu pemain okol naik ke arena pertarungan. Irama yang terdengar terasa membakar semangat dan keceriaan yang bersahaja di siang yang terik. Pemandu acara terus berkoar menggiring masyarakat sekitar untuk segera merapat, untuk menyaksikan ajang yang hanya dihelat setahun sekali itu.

Dari semula, ajang okolan mampu menarik perhatian banyak peserta tanding dan penonton dari berbagai daerah, terutama di sekitar kawasan Sambikereb. Di kelurahan, yang kabarnya memiliki area terluas di Kota Madya Surabaya ini, olahraga tradisional yang satu ini masih bisa dinikmati. Walaupun untuk menyaksikannya harus menunggu di rentang antara bulan September-Oktober.

Dengan bertelanjang dada, serta perlengkapan ala kadarnya para petarung ini berdiri menatap lawan. Mencermati setiap jengkal bagian tubuh masing-masing. Seakan membaca titik kelemahan musuh yang ada di hadapannya.

Saling berhadapan, berangkulan menggenggam selendang yang terikat di pinggang lawan. Dengan posisi seperti saling mendorong, menunggu aba-aba untuk mulai. Sebenarnya mereka tidak akan pernah ditarungkan satu sama lain, bila keduanya tidak sepadan.

Pesertanya selama ini adalah masyarakat umum, siapa saja yang berminat ikut tinggal mendaftar. Maka di arena nantinya oleh Pelandang (semacam wasit pertarungan) akan dicarikan lawan yang sebanding. “Sebanding dalam hal ini adalah ukuran besar dan tinggi badan, karena di sini adalah ajang unjuk kekuatan,” papar Sudjiantoko, warga setempat. Yang sering terjadi, biasanya bila lawan tidak sebanding maka lawan yang lain tidak mau bertarung. Dan mereka bisa memilih lawan lainnya yang sepadan dengannya.

Beberapa piranti yang digunakan dalam olahraga tradisional yang cukup ken tal di kalangan masyarakat Sambikereb ini adalah udeng, selendang, dan payung untuk petarung. Udeng harus dikenakan oleh peserta tanding sebagai tanda yang membedakan antara petarung dengan penonton. Selendang dilingkarkan dan diikat pada bagian pinggang petarung. Sementara payung sekedar sebagai simbal untuk menghormati para petarung yang hendak turun ke arena laga.

Bambu, tali (tampar), dan jerami digunakan di arena okol. Bambu sebagai penyangga batas dimana satu sama lain saling dihubungkan dengan tampar. Pembatas arena ini juga berfungsi sebagai pembatas penonton agar tidak masuk ke dalam arena olahraga yang meyerupai gulat itu. Jerami sebagai alas, sekaligus melindungi petarung dari cedera ketika dibanting.

Kalau masa dulu okolan ini biasa diselenggarakan di tanah lapang atau di sawah, atau pula di halaman rumah yang cukup luas. Setidaknya di lahan yang bisa menampung orang banyak, yang datang untuk menonton pertarungan gulat tradisional tersebut. Tetapi sekarang karena semakin terbatasnya lahan, dan agar para penonton bisa melihat dengan sempurna setiap pertarungan, maka okolan kini dilakukan di atas panggung yang dibuat membentuk arena.

Dan kelengkapan yang lain, seperti alas yang disiapkan dari bahan jerami. Menurut sumber Mossaik, sempat digunakan alas matras atau kasuran. Tetapi kemudian tidak dipakai lagi karena dianggap kurang pas. Mengingat ini olahraga tradisional, dan lebih pas bila menggunakan bahan yang alami yang mudah didapat di sekitar.

Dari tumpukan jerami tersebut, akan mengepul debu bila kejatuhan badan para petarung. Tak sedikit di antara para penonton harus menutup wajahnya untuk menghindari sergapan debu yang dibawa angin. Belum lagi rasa gatal di badan para pegulat, kala mereka harus berguling-guling di atasnya. Namun semua itu merupakan bagian yang mewarnai keceriaan dalam menyaksikan okolan.

Peralatan lain yang melengkapi adalah gamelan untuk mengiringi pertarungan. Alat musik tradisional ini dimainkan menjelang pertarungan dimulai. Tujuannya adalah untuk memberi semangat. Jenis gending yang dimainkan adalah gending becek.

Sebagai salah satu rangkaian dari upacara adat, okolan mempunyai tujuan umum sebagai ajang silaturahmi dan persahabatan di antara masyarakat. Hanya sekedar hiburan, namun mampu hadirkan kebersamaan.

Dulu & Sekarang
Tak ada yang bisa menceritakan sejak kapan jenis olahraga ini muncul. Pengakuan Sudjiantoko, okolan sudah ada sejak dulu, bahkan di masa jauh sebelum orang tuanya, sudah ada okolan. Jadi sejak kapan okolan itu ada dia sendiri tidak dapat menyebutkan dengan jelas.

Sudjiantoko sendiri tidak pernah ikut bertarung dalam okolan, karena dari kecil dia merasa tidak punya keberanian, selain badanya yang memang kecil masa itu. Namun demikian, kini dia memberikan perhatiannya terhadap setiap kegiatan adat di kampungnya itu. terlebih setelah dia ditunjuk sebagai salah satu pengurus rukun warga, seksi rohani.

“Kalau okolan dulu seperti yang saya ingat, tampak seperti sungguhan. Istilahnya seperti musuhan sungguhan,” tutur bapak dua anak ini lagi. Mereka akan benar-benar seperti menghadapi musuh bila berada di arena. Tapi begitu mereka turun, sudah seperti teman kembali. Berbeda dengan sekarang, yang cenderung lebih menonjol faktor hiburannya. Namun demikian dari awal olahraga ini juga merupakan media hiburan di masyarakat. Menurut kisah Sudjiantoko pada mulanya okolan memang merupakan hiburan di kalangan para petani setempat, setelah mereka mendapat anugerah berlimpah pada hasil panen mereka di suatu musim.

“Prinsipnya okol dulu dan sekarang tidak banyak berubah. Sedikit yang membedakan kalau dulu para pegulatnya besar-besar. Tapi sekarang sudah mulai dikenalkan pada anak-anak dan remaja, sementara yang tua-tua sudah tidak ikut lagi, mungkin karena isin (malu, Red) ,” urainya. Berarti dalam perkembangannya petarung yang tertarik mulai beragam, dengan motivasinya masing-masing.

Kalau dulu, ajang okolan ini bisa menjadi arena untuk saling unjuk kekuatan tubuh dari seseorang. Untuk memberikan kebanggaan pada diri masing-masing, bahwa dirinya kuat. Dan bukan tidak mungkin, kalau jaman dulu akan pula tumbuh dendam untuk saling mengalahkan di kesempatan-kesempatan yang lain.

Pada penyelenggaraan okolan yang sekarang hal-hal demikian mulai dieliminir, pada penyelenggaraannya kini mulai ditetapkan beberapa aturan. Sehingga kemungkinan-kemungkinan negatif bisa dihindari, sekaligus untuk menambah daya tarik dari olahraga tradisi ini sendiri.

“Kalau pada masa silam, biasanya beberapa dusun memiliki pegulat-pegulat andalan,” sergah Sudjiantoko diselai tawa kecil. Mungkin sekarang juga masih, tapi mereka lebih suka membawa nama sendiri-sendiri. Sebab mereka ikut okolan pun biasanya sekedar iseng atau turut meramaikan suasana.

Olahraga tradisional okolan ini dilaksanakan serangkaian dengan penyelenggaraan sedekah bumi, atau istilah masyarakat setempat tegal deso. Acara ini semacam syukuran kepada Tuhan atas karunia yang telah diberikan dalam bentuk hasil bumi. Dan salah satu bentuk hiburannya adalah dengan olahraga tradisional Okolan ini.

Olahraga tradisional ini memang lebih dikenal di sekitar Kecamatan Sambikereb, Kodya Surabaya. Beberapa dusun di daerah tersebut seperti Sambikereb, Bungkal, dan Kalijaran diantaranya yang rutin menggelar sebagai acara adat setiap tahun. Sayangnya okolan hanya bisa dinikmati ketika ada acara sedekah bumi. “Tidak ada sedekah bumi, tidak ada okolan,” tegasnya.

Dalam setiap penyelenggaraan okolan biasanya juga akan disertai pengamanan, biasanya dari Hansip. Hal ini untuk mengantisipasi setiap kemungkinan, mengingat tidak jarang juga memantik emosi dari petarung. Selain itu juga menjaga segala kemungkinan mengingat area tersebut akan dipenuhi orang.

Masyarakat Sambikereb ternyata tidak ingin tradisinya lenyap begitu saja. Oengan terus menyelenggarakan upacara adat sedekah bumi itu, merupakan upaya menjaga kelestariannya. Demikian halnya dengan okolan.

Dengan dilibatkannya anak-anak di olahraga tradisional okolan ini, setidaknya juga merupakan sentuhan pelestarian terhadap olahraga ini. Upaya masyarakat setempat untuk melestarikan ini, salah satunya dalam setiap penyelenggaraan tradisi sedekah bumi, akan ditampilkan pula okolan. Usaha lain seperti mengirimkan duta untuk ajang festival budaya tradisional tingkat Surabaya. “Olahraga okolan kini sudah melibatkan anak-anak,” ujar Sudjiantoko, yaitu mulai usia SD dan SMP.

Warga setempat menganggap olahraga ini harus dilestrarikan, karena merupakan warisan tradisi. “Okolan dulu diselenggarakan setelah panen. Tetapi karena sekarang sawahnya sudah tidak ada, maka dilaksanakan setiap tahun, antara bulan 9 atau 10,” tutur Moch. Djuri, Ketua RW IV, Kelurahan Sambikereb.

Di samping itu juga merupakan luapan rasa sukur, melalui sedekah bumi. Dan hiburannya dengan okolan, ludruk dan tayuban. Okol dulu dan sekarang tidak ada yang berbeda. Ini merupakan tradisi yang sudah kental bagi tak kurang dari 600 kepala keluarga di daerah tersebut.

Okol tidak sekedar berkelahi, seperti makna katanya yang berasal dari bahasa Jawa. Okolan lebih pada sebuah ungkapan kegembiraan, atas segala karunia Tuhan. Karenanya dengan ditampilkan okolan, diharapkan mampu memberikan hiburan bagi masyarakat. Terutama setelah mereka bekerja keras hingga sukses di sawah ladang mereka. Dan kegembiraan itu pun tampak dari wajah para pemenang. Beberapa bocah kecil yang pula sukses menghempaskan lawan tandingnya, berjingkrak gembira. Senyum senang juga terpancar di wajah para penonton.

Di antara hiruk-pikuk kota dan gemerlap sinar lampu Surabaya. Di selanya tersimpan khasanah tradisi yang indah untuk terus dijaga agar lestari. Rangkaian perhelatan adat yang masih ada harus dijaga sebagai kekayaan budaya. Olahraga tradisional yang merupakan embrio dari semua cabang olahraga modem, kenapa tidak pula kita pup uk dan bina. Hingga suatu saat kelak mampu pula mendunia. mi az alim

Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Mossaik, oktober 2005, hlm. 98